All language subtitles for Indonesiaind

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Downloaded from YTS.MX

[lagu kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya"]

Official YIFY movies site: YTS.MX

♪ Indonesia tanah airku ♪

♪ Tanah tumpah darahku ♪

♪ Di sanalah aku berdiri ♪

♪ Jadi pandu ibuku ♪

♪ Indonesia kebangsaanku ♪

♪ Bangsa dan tanah airku ♪

♪ Marilah kita berseru ♪

♪ Indonesia bersatu ♪

♪ Hiduplah tanahku ♪

♪ Hiduplah negeriku ♪

♪ Bangsaku rakyatku semuanya ♪

♪ Bangunlah jiwanya ♪

♪ Bangunlah badannya ♪

♪ Untuk Indonesia Raya ♪

♪ Indonesia Raya ♪

♪ Merdeka, merdeka ♪

♪ Tanahku negeriku yang kucinta ♪

♪ Indonesia Raya ♪

♪ Merdeka, merdeka ♪

♪ Hiduplah Indonesia Raya ♪

♪ Indonesia Raya ♪

♪ Merdeka, merdeka ♪

♪ Tanahku negeriku yang kucinta ♪

♪ Indonesia Raya ♪

♪ Merdeka, merdeka ♪

♪ Hiduplah Indonesia Raya ♪

UNTUK ORANGTUA KAMI, SRI HIROO DAN SRI VINITA BHARWANI

["Kulihat Ibu Pertiwi" oleh Iwan Fals, Once, Fiersa]

♪ Kulihat Ibu Pertiwi ♪

♪ Sedang bersusah hati ♪

♪ Air matanya berlinang ♪

♪ Mas intannya terkenang ♪

[musik instrumental]

[musik nostalgia]

[pria bahasa Indonesia] Tanah Indies. Hindia Belanda.

Tanah moyangku sudah mengenal satu kata.

"Modern".

Kata yang melambungkan anganku ke belahan dunia lain.

Eropa.

Selamat datang kemajuan.

Selamat bersenang-senang atas segala yang baru.

Penemuan teknologi baru yang mempersempit jarak perjalanan.

Beruntung sekali umur beliaku berada di sana.

Terbius bujuk rayu ilmu pengetahuan dan pemikiran Eropa.

Hingga membuatku terlena...

dan lupa pada kenyataan kalau aku seorang pribumi.

Bangsa yang berada di bawah Belanda dan indo.

Sebuah bangsa yang menjadi tamu di negeri moyangnya sendiri.

Dibentuk untuk mengagumi kehebatan bangsa Eropa.

Pendidikan Eropa. Gaya hidup Eropa.

[ketukan pintu]

[pria] Minke.

Minke!

Hei, Minke! Hei!

[bahasa Belanda] Buka pintunya, Minke!

Hei!

Tuan.

- [wanita] Apa yang kau lakukan di sini? - Minke!

[bahasa Indonesia] Yakin dia ada?

[bahasa Belanda] Ke mana lagi dia? Temannya hanya aku.

[bahasa Belanda-Indonesia] Kau sudah cari di rumah Jean Marais?

[tertawa]

Dasar tukang tidur.

Bau apa ini?

Ah... Max Havelaar.

[tertawa]

- Kau menyedihkan! Mata keranjang! - Suurhof!

[tertawa] Kau hanya bisa berkhayal.

Ayo Minke, kita keluar biar matamu lebih sehat.

Orang-orang berkumpul di jalanan.

Kenapa, Suurhof? Ada apa?

Kau lupa ini hari penobatan Ratu?

[meledek]

[musik penobatan]

- [bahasa Belanda] Aku duluan, ya! - Sudah dimulai?

[bahasa Belanda] Berhenti.

[riuh stasiun kereta]

[bahasa Indonesia] Mama!

[riuh stasiun kereta berlanjut]

Raden Mas Mulyo.

[riuh sorakan penumpang kapal]

[suara peluit kapal]

[bahasa Inggris] Siap?

Satu, dua, tiga.

[bahasa Jawa] Ini ke Wonokromo.

Yang ini ke Tanjung Perak.

[bahasa Belanda] Silakan.

[Suurhof bahasa Belanda] Es krim ini penemuan terbesar abad ini, Minke!

Manusia ternyata tak hanya bisa mengubah kapal kayu jadi uap.

Tapi juga membawa hawa dingin Eropa ke daerah Tropis.

[bahasa Indonesia] Ayo. Cepat.

[muntah]

[bahasa Belanda] Rasanya aneh.

[bahasa Belanda] Dasar lidah Jawa.

Ayo ke sana.

Ada yang mau kubicarakan.

Hei!

Itu klub privat Belanda, Suurhof!

Tenang saja, ada aku.

Kau ini indo, bukan Eropa asli.

Ayo.

Suurhof...

[bahasa Indonesia] Berhenti. Mau apa kalian? Ini klub untuk Belanda.

Kami tak bermaksud...

[bahasa Indonesia] Kamu bicara Melayu. Bahasa Belanda bukan untuk monyet.

- Ayo, keluar. - [bahasa Belanda] Ke tempat lain saja.

- [bahasa Belanda] Rusak seleraku. - [bahasa Indonesia] Ayo.

- [bahasa Belanda] Ayo, Suurhof! - [bahasa Belanda] Kenapa di sini?

Aku bilang cari kafe yang lain.

- Kau malah mengajak ke tempat ini. - [bahasa Indonesia] Cerewet.

[Mike bahasa Belanda] Ada apa sampai menggedor kamarku pagi-pagi?

Annelies Mellema.

Siapa itu?

Hidung belang lokal. Payah.

Yang ini ada di Wonokromo. Gadis indo.

Lebih nyata dari gadis di fotomu.

Lalu? Apa urusannya denganku?

Ini yang aku tunggu.

Kalau kau memang laki-laki sejati, aku kenal kakaknya.

Robert Mellema.

Kami suporter tim bola yang sama.

Satu-dua hari lagi, aku ke rumahnya.

Akan kujemput kau.

Tidak. Pekerjaanku banyak.

Cari orang lain.

Pengecut. Belum juga turun ke gelanggang.

[musik dari seruling]

Jadi!

Jadi.

[bahasa Jawa] Keluar sebentar ya, Mbak. Sastro, sebentar ya.

Minke.

[bahasa Indonesia] Kamu yakin mau jalan dengan Suurhof?

Kamu tak mengerti apa yang orang bilang?

[bahasa Indonesia] Soal apa?

Ibunya yang memaksa melahirkan dia di kapal

- supaya dibilang Belanda Totok? - Bukan cuma itu.

Kalau ilmu pengetahuan tahun ini menemukan alat pencuci darah

dia akan menjadi orang nomor satu yang akan mencuci darah pribuminya.

Ya.

[bahasa Jawa] Duluan, ya.

[bahasa Indonesia] Hati-hati.

- [bahasa Belanda] Apa ini? - Hei, Minke.

Buat apa sampai sewa dokar mewah, Suurhof?

Lebih dari mewah. Per-nya saja istimewa.

Dua kali harga dokarnya.

Kereta kencana ini akan membawamu memuja gadis impian pemuda.

Dan aku menyantap daging sapi jantan muda.

- Pedet? - Benar.

Sekaya itu mereka.

Kau akan berterima kasih padaku nanti.

Silakan, Tuan.

[batuk]

[peluit kereta]

Kalau kau mengagumi Annelies kenapa tidak kau dekati?

HARIAN SURABAYA

Indo.

Biar secantik mawar, namun bukan darah murni.

Seleraku hanya Belanda asli.

Seratus persen Eropa.

Kau terlalu naif, Minke.

Dunia itu seperti taman.

Berwarna-warni.

Tapi setangkai Tulip...

lebih mahal dari serumpun Mawar.

- [wajan berdenting] - Aduh!

[bahasa Indonesia] Manggaku!

[bahasa Indonesia] Berhenti! Dasar perempuan goblok!

- [bahasa Belanda] Kenapa dia? - Lihat ini!

- [mengaduh] - [bahasa Belanda] Kemari!

[bahasa Indonesia] Maaf, Tuan.

PERGUNDIKAN DAN PERBUDAKAN

[melengos]

[bahasa Belanda] Aku butuh tulip.

Bukan mawar apalagi Nyai.

Nyai!

- [bahasa Jawa] Ini kepunyaanmu. - [bahasa Jawa] Terima kasih.

[bahasa Belanda] Kau juga, Minke.

Pasti akan jadi Bupati.

Begitu kita jumpa lagi, pertanyaanku hanya satu.

Berapa istri simpananmu?

Menurutmu ras kita serendah itu?

Aku pria Jawa yang tak akan punya istri simpanan, Suurhof.

Dan tak akan jadi Bupati.

[mendengus]

[Suurhof] Omong kosong!

Minke.

Lihat tempat itu?

Nanti juga kutemukan kau di rumah candu...

[tertawa] ...milik Babah Ah Tjong!

Kita sampai, Minke.

[rantai berdenting]

[musik kelam]

[bahasa Indonesia] Aku Robert Suurhof...

[bahasa Jawa] ...tamu majikanmu, Robert Mellema.

RUMAH BUITENZORG

[musik kelam berlanjut]

Mellema.

- [bahasa Belanda] Apa kabar? - [bahasa Belanda] Baik.

Aku bawa kawanku. Tidak apa, 'kan?

Minke, Robert. Robert, Minke.

[bahasa Indonesia] Minke saja?

Tidak punya nama keluarga?

Parjiah!

[bahasa Jawa] Wedangnya dua, air putih satu!

[batuk]

[bahasa Belanda] Suurhof, bagaimana tim sepakbola kita?

Lawannya tidak seimbang.

Kau supporter pesimis. Kita baru menang!

Pekan lalu lawannya lemah.

[musik romantis]

Suurhof, lawan berikutnya peringkat dua klasemen.

Nona Annelies, apa kabar?

Baik.

[bahasa Jawa] Terima kasih.

[musik romantis]

Annelies Mellema.

Minke.

Kapan kita berburu?

[bahasa Indonesia] Minke saja?

[tertawa]

- [Robert bahasa Belanda] Tak punya malu. - [Suurhof bahasa Belanda] Menyedihkan.

[bahasa Indonesia] Aku pribumi.

[Suurhof berbahasa Belanda]

[bahasa Indonesia] Duduk.

Ayo, duduk.

Kenapa dengan pribumi?

Ibuku pribumi.

[bahasa Jawa] Jawa.

[bahasa Belanda] Buat apa dibanggakan, Annelies?

[bahasa Belanda] Aku memberitahu faktanya. Ada masalah?

Tamumu adalah tamuku sekarang.

[bahasa Indonesia] Ayo kita masuk, Minke.

Ayo.

[musik romantis]

[Minke] Fonograf.

[bahasa Indonesia] Edison, dari Amerika.

[bahasa Indonesia] Kereta uap. Penemuan abad modern.

[bahasa Belanda] Kemari, Suurhof. Ganti pakaian.

[Minke] Patung Airlangga.

Kris Nogo Manten, dari Madura.

- Nefertiti. - [Annelies tertawa]

Aku pikir orang sini cuma tahu tentang kincir angin Delft Blue.

[Minke] Kebetulan sejarah mata pelajaran favoritku.

- Sekolahmu di... - Sama dengan Suurhof.

[bahasa Belanda] Suurhof, ayo!

Itu kesukaan mamaku.

[bahasa Jawa] Sie Jin Kwie, 'kan?

[bahasa Indonesia] Ini asli?

[bahasa Indonesia] Itu oleh-oleh dari dr. Martinet. Dokter keluarga kami.

Saat dia berlibur di Tiongkok.

[wanita dalam bahasa Belanda] Apalagi yang kau pahami?

Sam Pek Eng Tay?

Legenda Putri Chang E Huang Zu?

[bahasa Indonesia] Mama, itu Minke.

[berbisik] Dia temanku.

Minke, ini mamaku.

[bahasa Indonesia] Lidah orang sini memanggilku Ontosoroh.

Mereka susah menyebut Buitenzorg.

Kau bisa memanggilku Nyai.

Kenapa?

Rupanya pandanganmu tentang Nyai sama dengan kebanyakan orang.

Kau tak usah segan.

Semua orang juga memanggilku begitu.

Kalau kau merasa segan...

kau bisa memanggilku "mama".

Sama seperti Annelies.

Ya, betul. Itu lebih enak.

[pria bahasa Indonesia] Permisi, Nyonya.

- [bahasa Jawa] Sudah selesai? - [bahasa Jawa] Ini hitungannya.

Ini harus diperiksa lagi.

Ya, Nyonya.

Ini masih ada yang salah, belum seimbang.

Baik.

[bahasa Indonesia] Kau, Sinyo...

- anak Bupati? - Aku bukan anak Bupati.

- Kalau begitu pasti anak Patih? - Bukan juga.

Bukan anak Bupati, bukan anak Patih...

[bahasa Jawa] tapi sekolah di HBS?

Ya, terserah kau.

[bahasa Indonesia] Ann, kau layani tamu kita dengan baik.

- Mama masih banyak pekerjaan di kantor. - Iya, Ma.

Heran kamu melihat mama berdiri tegak seperti perempuan Eropa?

Sebelumnya aku sudah dibuat heran di rumah ini.

Kenapa?

Tak sangka, bisa berhadapan dengan dewi secantik ini.

Kau bilang aku cantik?

Tanpa tanding.

Mama!

Mama!

Mama!

- Ada apa, Nak? - Ma!

Kenapa?

Kalian bertengkar?

Dia bilang aku cantik tanpa tanding.

[terkikik]

Kamu memang cantik, Ann.

Sinyo tidak salah, mama sering bilang begitu.

Maafkan Annelies.

Dia memang jarang sekali bergaul dengan HBS dan indo...

[bahasa Jawa] Aku tidak mau jadi indo.

[bahasa Indonesia] Aku ingin seperti Mama. Pribumi.

[bahasa Jawa] Iya, sudah.

[bahasa Belanda] Ayo, Suurhof.

Relakan uang taruhanmu buatku dari sekarang.

[bahasa Indonesia] Minggir!

[bahasa Belanda] Jaga sikapmu!

[bahasa Belanda] Ayo, Suurhof. Buruan kita sudah menunggu.

[Minke] Suurhof!

Suurhof.

Maafkan teman saya, Ma.

Parjiah!

Parjiah!

Saya, Nyonya?

[bahasa Jawa] Tolong siapkan anak sapinya.

[bahasa Jawa] Baik, Nyonya.

[suara sapi]

[bahasa Jawa] Nona Annelies. Mau ke mana?

[bahasa Jawa] Mau ke ladang, Mbak.

Sebentar, sebentar!

[bahasa Indonesia] Itu siapa?

[bahasa Indonesia] Pembantuku dari kecil.

[bahasa Jawa] Sebentar, sebentar.

Ini dipakai dulu, biar tidak gosong.

Nanti tak cantik lagi! Kalah dariku.

[bahasa Jawa] Terima kasih, Mbak.

Ya, sudah. Sana.

Cantik sekali.

[musik romantis]

[bahasa Jawa] Terima kasih, Pak.

[gadis bahasa Indonesia] Nona Annelies! Kapan kita belajar lagi?

[bahasa Jawa] Besok, ya?

- Sudah makan? - [bahasa Indonesia] Sudah.

[bahasa Jawa] Jangan lari-lari!

[bahasa Indonesia] Ann, ini tempat apa?

[Annelies bahasa Indonesia] Rumah dan anak-anak yang kamu lihat tadi

itu rumah dan anak-anak petani yang bekerja di sini.

Mama juga membuat seolah-olah ladang ini milik mereka.

Mereka bebas menentukan kapan bekerja dan kapan libur.

Yang penting target produksi tercapai.

- Ini semua milik keluargamu? - Iya.

Seratus delapan puluh hektar.

Dengan 500 pekerja.

Semuanya mama yang kelola.

Termasuk masalah keuangan dan segala urusan di bank.

[bahasa Jawa] Selamat siang, Nona. Hendak ke mana?

[bahasa Jawa] Berkeliling, Mbak.

- Baik-baik, ya. - Iya.

[bahasa Indonesia] Danau seluas ini dan kuda sebanyak ini punya keluargamu?

[bahasa Indonesia] Iya.

Bawuk.

- [bahasa Jawa] Dia namanya Bawuk? - Ya.

[bahasa Jawa] Aku punya teman, Bawuk.

Orang Jawa.

Tapi pakai nama yang aneh.

[Bawuk meringkik]

Jadi begini, Wuk...

[bahasa Indonesia] Waktu kecil guruku memanggilku begitu.

[ketukan cepat]

[bahasa Belanda] Keluarkan buku kalian.

Kau di sana.

Di mana bukumu?

Bukumu!

[bahasa Inggris] Monyet!

[tertawa mengejek]

[semua anak] Minke!

[bahasa Indonesia] Sewaktu masuk HBS, belajar enam bulan Bahasa Inggris...

baru aku mengerti apa artinya.

Monyet.

[bahasa Jawa] Monyet.

[bahasa Indonesia] Jahat sekali gurumu.

Aku percaya...

kamu bisa bikin nama Minke jadi bagus.

- [bahasa Jawa] Selamat siang, Noni. - [bahasa Jawa] Ya, sehat?

[bahasa Indonesia] Baik, Noni.

[bahasa Indonesia] Kamu tidak pantas dipanggil noni, Ann.

[bahasa Indonesia] Lalu dipanggil apa?

Mbakyu atau Annelies, cukup, 'kan?

Kenapa tidak pantas dipanggil Noni?

Kasihan perempuan-perempuan Belanda itu, Ann.

Malu mereka atas kecantikanmu.

[musik romantis]

[terkejut]

Baik-baik aja, Ann?

[musik dari biola]

Ann!

Ann!

Ann!

[Minke] Yu, Nona Annelies di mana, ya?

Saya kurang tahu, mungkin di kamarnya.

[bahasa Jawa] Terima kasih.

[musik suram]

[Nyai bahasa Indonesia] Dari kecerdasan Sinyo

tampaknya Sinyo tidak hanya tertarik pada sejarah.

- Ma, tadi saya... - Kamu sukanya apa, Nyo?

Kebetulan saya juga tertarik dengan pengelolaan perusahaan.

Tapi sampai sejauh ini masih di tahap coba-coba.

Usaha apa, Nyo?

Mebel.

Dari kelas teratas, Ma.

Mungkin Mama sering lihat di Kerajaan Inggris, Austria, Prancis.

Dari mulai Renaissance, Baroque, Rococo, sampai Victoria saya ada.

Dan biasanya saya tawarkan di kapal.

Untuk orang tua teman-teman sekolah saya.

Berbahagialah dia yang makan dari hasil keringatnya sendiri.

Terima kasih, Ma.

[musik romantis]

Dia bersolek untukmu, Nyo.

Silahkan, Nyo.

[bahasa Belanda] Suurhof, ayo makan.

[Suurhof bahasa Belanda] Ini lezat.

[Annelies bahasa Indonesia] Ini yang spesial.

Sapi muda. Empuk sekali.

[musik jahat]

[bahasa Belanda] Tuan Herman Mellema.

[bahasa Indonesia] Siapa kasih kalian izin datang kemari, monyet?

[bahasa Belanda] Kau kira dengan memakai baju Eropa

bersama dengan orang Eropa. Bisa bicara bahasa Belanda...

lalu kau jadi bangsa Eropa?

Tidak, tidak.

Kau tetaplah monyet!

[Nyai Ontosoroh dalam bahasa Belanda] Tutup mulutmu!

[bahasa Indonesia] Eropa gila sama saja dengan Pribumi gila.

- [bahasa Belanda] Tidak! - [bahasa Belanda] Masuk!

Atau kupanggil Darsam!

Mabukmu membuat malu keluarga!

Ayo ke kamar.

[menangis]

[musik sedih dari biola]

[bahasa Indonesia] Diam, Ann. Itulah papamu.

Jangan anggap aku biadab, Nyo.

Itu semua demi kebaikannya.

Maafkan ayahku, Minke.

Parjiah.

Ya, Nyonya.

[bahasa Jawa] Tolong panggilkan Darsam.

[bahasa Indonesia] Maafkan ya, Nyo.

[bahasa Indonesia] Saya pamit dulu.

Permisi.

Sinyo.

Betul tadi kamu mencium Annelies?

Coba sekarang sekali lagi di depanku.

Ayo.

[bahasa Belanda] Ann, sini.

- Mama... - [bahasa Indonesia] Ayo, sini.

Ayo, Nyo.

Aku perlu tahu apakah anakku berbohong atau tidak.

Ayo.

Nyo.

Aku senang, Nyo.

Kaulah yang mencium anakku.

Sekarang kamu boleh pulang.

[musik sendu dari biola]

[Minke] Praktek kawin campur, sah atau tidak sah

juga pergundikan yang melahirkan anak-anak indo macam Suurhof,

Robert Mellema, dan adiknya, Annelies

bukan barang baru di Tanah Indies.

Tapi, Nyai Ontosoroh...

dia benar-benar membuat pemikiran modernku berhenti berputar.

[bahasa Indonesia] Saya harus mengurus tumpukan keju, roti,

susu yang ada di gelas kamu sekarang itu

dan sepucuk surat dari seorang Nyai kepada pemuda segar seperti kamu.

[bahasa Belanda-Indonesia] Hati-hati!

[bahasa Indonesia] Reputasi para Nyai itu bukan omong kosong!

Mereka itu memang erotis...

[bahasa Belanda-Indonesia] tapi juga mistis!

[bahasa Indonesia] Kamu boleh saja mengincar anak gadisnya.

Tetapi janda kesepian itu mengincar kamu.

Jangan keras kepala.

[bahasa Belanda] Kau paham?

[bahasa Belanda] Hari ini, kita akan membahas pertanyaan selanjutnya.

Apa...

yang terjadi...

di tahun 1648?

[Nyai Ontosoroh bahasa Indonesia] Apa yang kau pikirkan, Nyo?

[guru] Minke.

Minke!

[bahasa Belanda] Pikiranmu ke mana, Minke?

[bahasa Belanda] Di Wonokoromo, Nyai.

[seluruh murid tertawa]

[bahasa Indonesia] Hei, Minke. Biasanya kamu banyak omong.

Kenapa kamu jadi pendiam?

[bahasa Indonesia] Sepertinya aku diguna-guna Nyai Ontosoroh.

Apa?

Aku rasanya diguna-guna Nyai Ontosoroh.

- [bahasa Prancis] Kemari. Bantu aku! - [bahasa Prancis] Kenapa?

- [bahasa Prancis] Apa? - [bahasa Indonesia] Ini.

Isinya masih terpelajar...

[bahasa Prancis] ...di otakmu?

[bahasa Indonesia] Seorang yang terpelajar

harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran.

Apalagi dalam perbuatan.

Kamu harus tahu itu, Minke.

Aku disuruh datang lagi ke Wonokromo.

Surat apa ini?

[Nyai Ontosoroh bahasa Indonesia] Aku terbiasa menghadapi kemurungan Annelies.

Tapi jika kemurungan itu akibat memikirkanmu...

aku hanya bisa mengharap waktumu. Kapan?

Surat ini teramat logis dari seorang Nyai.

Kamu harus kembali ke sana.

Minke, Minke...

Apa indahnya itu, Jean?

Jean?

Saya mencintai seorang tawanan.

Itu kesalahan terbesar hidupku.

Di mana dia sekarang?

[bahasa Prancis] Ia sudah mati.

[bahasa Indonesia] Mati.

- Kau yang... - [bahasa Prancis] Bukan.

[bahasa Indonesia] Dia mati di ujung rencong adiknya sendiri.

Karena dianggap pengkhianat.

Meski bayi kami selamat.

Bayi?

May?

[Jean menghela napas]

Kapan kau tahu kalau...

ibu May adalah cinta sejatimu, Jean?

[bahasa Prancis] Begini, Minke.

[bahasa Indonesia] Cinta itu indah.

Juga kebinasaan yang membuntutinya.

Jadi harus berani menghadapi akibatnya.

[bahasa Prancis] Papa, ayo kita jalan-jalan!

[bahasa Prancis] Satu. Dua. Tiga! Main ke mana kita?

[bahasa Indonesia] Ke mana? Ke sana? Ayo.

[bahasa Prancis] Terima kasih.

[bahasa Indonesia] Sama-sama.

[bahasa Indonesia] Mari sini. Ayo.

[musik dramatis]

[bahasa Indonesia] Buka!

[Nyai Ontosoroh bahasa Indonesia] Parjiah. Bawakan tasnya.

Annelies ada di kamar.

[bahasa Indonesia] Sepertinya orang-orang di kotamu mencarimu, Mas.

Ini mejamu.

Ini lemarimu.

- Biar aku saja, Ann. - Sudah. Kamu tamu di sini, Mas.

[bahasa Jawa] Terima kasih.

[bahasa Indonesia] Robert mana?

Di kamar, mungkin.

Dari mana mamamu mempelajari semua ini? Dia lulusan mana?

Mana ada perempuan, pribumi, bukan bangsawan

bisa sekolah, Nyo?

- Ayo diminum dulu. - Iya, Ma.

Jadi Mama belajar semua ini sendiri?

Kenapa tidak?

Hidup bisa memberi segala kepada semua yang mau mencari tahu.

Dan pandai menerima.

Robert.

[bahasa Indonesia] Robert! Mau ke mana kau?

Robert!

[bahasa Belanda] Apa?

[bahasa Indonesia] Oh, rupanya kau masih belum sadar juga

kalau kau tidak bisa bermalas-malasan di rumah ini.

[bahasa Belanda] Lalu?

[bahasa Indonesia] Kau itu bukan Belanda Totok seperti papamu.

Kau tidak punya hak istimewa.

[Annelies] Robert!

[bahasa Belanda] Pergi!

[bahasa Belanda] Pergi!

[Robert tertawa]

[bahasa Belanda] Pergi?

Aku pergi.

[bahasa Indonesia] Mungkin sebaiknya saya pulang terlebih dahulu, Ma.

[bahasa Indonesia] Tinggallah di sini, Nyo.

Jadilah teman, sekaligus kakak buat Annelies.

SIAPAKAH NYAI?

[kuda meringkik, kereta kuda mendekat]

[Minke bahasa Indonesia] Bagaimana orang seperti mamamu

bisa bertemu orang macam papamu, Ann?

Mereka pernah bahagia.

Bagaimana mereka bertemu?

[bahasa Jawa] Jangan, Pak! Mohon! Coba dipikir lagi Pak...

Sanikem itu anak perempuan satu-satunya, Pak!

Mohon, Pak... Mohon...

- Dipikir lagi, Pak. - Dipikir lagi apa?

Pak, jangan, Pak... Ampun, Pak...

[Annelies bahasa Indonesia] Orang Jawa itu namanya Sastrotomo.

Ayahnya mama.

[Sastrotomo bahasa Jawa] Ini satu-satunya jalan.

Demi uang atau jabatan, semua akan dia lakukan.

Kata orang, dukun pun akan dia datangi untuk mengabulkan keinginannya.

[bahasa Jawa] Itu adikmu mau dijual ke orang.

Kenapa kamu diam saja?

Sanikem! Berhenti!

Sanikem!

Pak!

[Annelies bahasa Indonesia] Mama dibawa ke rumah papa.

Yang saat itu masih bekerja sebagai kepala juru bayar sebuah pabrik.

Umur mama saat itu masih 14 tahun.

[Herman bahasa Indonesia] Kamu mau jadi asisten juru bayar, 'kan?

[bahasa Jawa] Ya, Tuan.

[bahasa Indonesia] Bagus. Magang dulu, ya.

[Annelies] 25 Gulden.

Angka yang tidak pernah Mama lupakan sepanjang hidupnya.

Itulah harga dirinya.

[menangis]

[bahasa Belanda] Jangan takut.

Tidak apa. Kau aman.

[bahasa Belanda] Milk.

[bahasa Belanda] Susu. S-U-S-U. Benar?

Bagus. Ingatlah.

[bahasa Indonesia] Pribumi gila sama saja dengan Eropa gila.

[Annelies] Sebenarnya papa orang yang baik.

Papa mengajari mama banyak hal.

Memberikan semuanya. Kecuali satu.

Menikahi mama secara sah.

[bahasa Belanda] Ini rumah baru kita.

[Annelies bahasa Indonesia] Mama terlihat sangat bahagia untuk pertama kalinya.

Di rumah ini, aku dan kakakku lahir.

Turut menjadi saksi kebahagiaan mama dan papa.

[bahasa Jawa] Berapa kilo ini?

[bahasa Jawa] Ini sudah dicek benar ini, ya?

[Annelies bahasa Indonesia] Hingga tiba suatu masa...

[kuda meringkik]

[musik jahat]

[Annelies] Maurits Mellema.

Putra papa dari istri pertama di Belanda.

Seseorang yang ditakuti Mama sepanjang hidupnya.

[bahasa Belanda] Insinyur Maurits Mellema.

Aku menemukanmu melalui perusahaan susu Anda.

Dengarkan, Tuan Mellema.

Ibuku, Nyonya Amelia Mellema-Hammers...

setelah Tuan tinggalkan secara pengecut

harus membanting-tulang untuk menghidupi saya.

Namun, Tuan menuduh ibu saya, telah selingkuh.

Dia bisa datang ke pengadilan, kalau ingin cerai.

Kenapa harus ibu? Anda yang menuduh selingkuh!

Kalau aku yang mengajukan perkara,

ibumu akan kehilangan haknya atas perusahaan susuku di sana.

Herman...

Tuan secara hukum masih suami ibuku.

Tapi Tuan...

mengambil seorang wanita pribumi sebagai teman tidur.

Tanpa perkawinan!

[bahasa Belanda] Ucapan yang hanya patut didengarkan di jalanan.

[bahasa Indonesia] Aku tidak punya urusan denganmu, Nyai.

[Annelies] Mulai detik itu...

tidak ada lagi kebahagiaan di rumah ini.

Papa hidup dalam jerat candu di rumah Babah Ah Tjong.

Tenggelam dalam pelukan perempuan pendosa.

Maiko!

[menghela napas]

[bergumam dalam bahasa Belanda]

[bahasa Indonesia] Itulah kenapa ada dia.

Dr. Martinet. Dokter keluargamu, 'kan?

Itu semua terjadi lima tahun yang lalu.

Tahu kenapa Mama menceritakan itu padaku, Mas?

Supaya aku menikah dengan pilihanku sendiri.

Supaya tak ada lagi air mata derita yang tumpah.

[musik romantis]

[Minke] Menjadi beradab

tidak melulu lahir dari rahim manusia beradab pula.

Begitu setidaknya ibunda pernah menasehatiku.

Dan Sanikem sudah membuktikan itu.

Tinggal sekarang

apakah dunia perlu tahu keberadaannya?

GUNDIK LUAR BIASA YANG AKU KENAL OLEH MAX TOLLENAAR

[musik dramatis]

[Robert bahasa Indonesia] Kamar ini sudah bau binatang.

[bahasa Jawa] Kau suka dengan adikku?

[bahasa Indonesia] Dasar mental pribumi.

[bahasa Jawa] Pribumi seperti kau selalu berusaha mendekati gadis-gadis Eropa

[bahasa Indonesia] agar derajatmu naik kelas.

Monyet!

Robert!

[bahasa Belanda] Apa yang kau lakukan di sini?

[bahasa Jawa] Cuma ingin istirahat. Mau bersantai.

[bahasa Belanda] Keluar!

Atau kupanggil Darsam.

- Darsam! - [bahasa Belanda] Tunggu, tunggu...

[bahasa Indonesia] Baik, saya akan pergi.

Tapi ingat...

[bahasa Jawa] aku yang paling tua di rumah ini.

[musik tegang]

[bahasa Indonesia] Sinyo!

Sinyo? Nyo!

- Ya, Ma? - Ada yang mencarimu, Nyo.

- Siapa? - Cepat.

SURAT PERINTAH PENANGKAPAN

- [bahasa Belanda] Mau apa kepolisian? - [bahasa Indonesia] Ayo, ikut aku.

[bahasa Indonesia] Anda tak bisa begini. Saya seorang Raden Mas

dan punya Forum Privilegiatum. Mengerti?

[bahasa Jawa] Sekarang.

Parjiah!

Tolong itu, kopernya Sinyo.

Ma.

Minke salah apa, Ma?

Doakan saja dia, Ann.

[pria] Ayo, jalan!

[musik dramatis]

[peluit kereta membahana]

Robert.

Robert!

Robert.

[bahasa Indonesia] Pergi ke Surabaya sekarang. Cari tahu tentang Minke.

[bahasa Belanda] Tidak.

[bahasa Belanda] Pergi sekarang ke Surabaya!

[bahasa Belanda] Tidak.

[bahasa Indonesia] Kamu yang kemarin mengadukan Minke ke kantor polisi?

[bahasa Belanda] Aku tidak ada urusan dengan pribumi.

[bahasa Jawa] Kamu ini, ya... Kamu separuhnya darah pribumi.

[bahasa Indonesia] Kamu tidak pantas menghina pribumi!

[bahasa Belanda] Lantas buat apa darah Eropa di tubuhku?

[bahasa Indonesia] Kalau begitu kau dengar, ya.

Aku mamamu. Pribumi!

Dan aku minta darah pribumi yang ada di tubuhmu, bukan darah Eropamu.

Sekarang pergi ke kantor polisi.

[bahasa Belanda] Cepat!

[berteriak]

[bahasa Indonesia] Kurang ajar anak ini!

[pria bahasa Indonesia] Tugasku selesai.

Silakan masuk. Pak Bupati sudah menunggu.

- [bahasa Jawa] Ada apa? - [bahasa Indonesia] Masuk.

- [bahasa Jawa] Maaf, Gus. - [bahasa Jawa] Apa lagi?

- Apa? - Jalan jongkok.

Gus.

[bahasa Jawa] Kamu.

Kenapa kamu baru datang?

Sial!

Apa harus seperti ini biar kamu datang? Ya?

[bahasa Indonesia] Kamu nyaris mangkrak di ELS gara-gara perempuan.

Sekarang di HBS sama saja!

- [bahasa Jawa] Malah lebih parah! - [mengaduh kesakitan]

[bahasa Indonesia] Apa kalau sudah di Nyai-mu, terus kamu lupa?

Sampai bapakmu diangkat jadi Bupati

pindah ke rumah ini, kamu tidak tahu?

[bahasa Jawa] Dasar bocah gila!

Apa Nyai-mu tidak baca koran?

- [Minke mengaduh] - [suara cambuk]

[bahasa Jawa] Maafkan saya, Ayah. Saya...

[bahasa Jawa] Apa?

Kenapa surat dari bu dan ramamu tak pernah kamu balas?

[bahasa Jawa] Saya pecut lagi kamu!

Gila!

Tirto. Dengarkan.

[bahasa Indonesia] Besok siang, pesta pengangkatan ramamu menjadi Bupati.

Kamu yang menjadi penerjemahku.

[bahasa Jawa] Mengerti?

[bahasa Jawa] Ya.

Ya sudah, sana.

Min!

Kamarnya ada di sebelah sana, Tuan.

- Silakan. - Terima kasih.

Mas!

- [bahasa Jawa] Mau apa kamu? Minggir! - Mas!

Saya akan adukan ke ayah! Mau apa kamu ini?

- Hakmu apa buka buku catatanku, Mas? - Kenapa? Kamu sudah bukan Jawa lagi!

Buat apa jadi Jawa kalau dilanggar haknya?

Seperti ini tingkah calon Bupati?

- Berengsek! - Ini yang dimaksud abad modern?

Menghina! Berani lawan kakakmu?

Kamu sendiri, bakal jadi Bupati!

- Mengerti tidak? - Tidak akan, Mas!

Mulutmu! Bicara sendiri di hadapan ayah!

- Bicara sendiri! Ayo! - [wanita] Cukup!

[bahasa Jawa] Ada apa ini?

Ini, Bu, semua kejelekan Tirto ada di buku ini.

Saya lapor ayah.

Kamu belum jadi Bupati, sudah menjual adikmu

untuk mendapat pujian?

- Kemarikan bukunya! - Bukan begitu, Bu.

- Berikan bukunya! Sini! Bukunya! - Perilakunya...

- Sana ke kamarmu! - Tapi, Bu...

Kamarmu! Sana!

[berbisik] Awas, kamu!

Kamu sudah bukan Jawa lagi.

Sudah jadi Belanda cokelat.

Apakah seperti ini yang disebut Priyayi terpelajar?

[bahasa Indonesia] Lama-lama mungkin kamu lupa sama ibumu.

Mohon maaf, Bu...

Saya mohon ampun, Bu...

[menangis terisak]

Kumismu sudah semakin tebal.

Pantas Nyai-Nyai menyukaimu.

Mohon maaf, Bu.

Ibu menyekolahkan saya di sekolah Belanda.

Supaya saya tahu apa yang orang Jawa tidak tahu, Bu.

Kamu memang pintar...

tapi jangan merendahkan orang

yang kamu anggap tidak mengerti semua perkara.

Kalau berani mengalah itu besar balasannya.

[bahasa Indonesia] Maafkan saya, Bu.

Saya hanya ingin jadi manusia bebas, Bu.

Manusia bebas.

Tidak diperintah, dan tidak juga memerintah, Bu.

Dan dunia saya bukan upah, jabatan, pangkat, atau kecurangan, Bu.

Dunia saya, Bumi Manusia, dengan segala persoalannya.

Maafkan saya, Bu.

[bahasa Indonesia] Kalau ada zaman seperti itu, ibu senang.

Hanya satu pesan ibu...

tanggung jawab.

Jangan jadi pengecut.

[bahasa Jawa] Baik.

[menghela napas]

[bahasa Jawa] Jangan bermalasan.

[bahasa Indonesia] Kenapa, Ann?

Minke?

Sebegitunya kamu mengkhawatirkan dia?

Sayang kamu sama dia?

Minke tidak sayang aku, ya, Ma?

Sudah tidak usah dipikirkan, Ann.

Ann. Ann!

[musik gamelan]

[sinden bernyanyi]

[bahasa Belanda] Miriam, lihat.

Itu Minke.

Dia pikir dia lebih baik karena bersekolah di HBS.

- Jangan berbicara! - Ayah, lihat!

[tepukan tangan]

[bahasa Jawa] Para hadirin yang terhormat.

Yang terhormat kami haturkan pada Tuan Asisten Residen

dan putri-putrinya.

Peradaban dan tata krama kaum pribumi

terangkat karena kedatangan bangsa asing.

Oleh karena itu, saya merasa bangga

derajat saudara-saudara di sini

bisa terangkat.

Terima kasih.

[bahasa Indonesia] Saya akan minta anak saya menerjemahkan.

[bahasa Jawa] Tirto, tolong terjemahkan.

[bahasa Belanda] Sejak Majapahit berdiri...

negeri ini disatukan dalam sumpah yang ambisius.

Meski pada akhirnya runtuh.

Tapi semangat Majapahit itu menjadi api...

bagi masyarakat Hindia hingga hari ini.

Peradaban kami adalah peradaban

dengan kebijakannya sendiri.

Melebihi sumber alam yang luar biasa

yang merayu bangsa-bangsa lain.

Hakikatnya,

harkat dan martabat kami sedari awal sudahlah tinggi.

[bahasa Belanda] Pidato yang hebat dari Bupati dan anaknya.

Bersulang!

[musik dramatis]

Kau mendidik anakmu dengan baik.

Aku undang dia besok sore ke rumah.

Kukirim kereta kuda untuk menjemputnya.

[bahasa Belanda] Ya, ya, ya.

[peluit kereta]

[bahasa Jawa] Dengar.

Tidak ada lagi Nyai-Nyai lainnya.

Janji ya?

- Janji, Ayah. - Janji apa?

Tidak ada Nyai-Nyai lagi, Ayah.

[bahasa Indonesia] Kopernya Raden Mas.

[bahasa Jawa] Gila.

[bahasa Jawa] Izin pamit, Ayah.

[bahasa Indonesia] Hati-hati.

[musik dramatis]

[peluit kereta membahana]

[bahasa Belanda] Bisa pindah?

[musik dramatis berlanjut]

[bahasa Indonesia] Aku memikirkan kamu setiap hari, Mas.

Mama meminta Robert untuk mencari tahu tentang kamu di kepolisian Surabaya.

Tapi sudah satu minggu ini, Robert tidak pulang.

Berhenti.

[Minke bahasa Jawa] Ada apa?

[bahasa Madura] Maaf, Non. Saya ke depan dulu, ada urusan.

[bahasa Indonesia] Aku haus. Kamu mau sesuatu?

Sebentar, ya.

Nyo...

[bahasa Madura] Tuan lebih baik pulang ke Kranggan.

Si Gendut dari tadi mengikuti Tuan dari stasiun itu.

[bahasa Indonesia] Darsam tahu dari mana?

[bahasa Madura] Tuan Robert minta saya membunuh Tuan Minke.

Santai. Tenang.

Percaya saya.

Saya cuma taat perintah Nyai.

[bahasa Indonesia] Aku ke Kranggan dulu.

Kenapa begitu?

Tugas sekolahku ada yang ketinggalan.

Dan aku butuh bantuan Jean Marais untuk menyelesaikannya.

- Aku ikut kamu. Kenapa? - Ann, tidak.

Kenapa, Mas?

- Selama ini aku mengganggumu, ya? - Tidak. Sama sekali tidak, Ann.

- Kalau begitu aku ikut, Mas. - Ann, tidak.

Seminggu. Hanya seminggu.

Aku janji.

- [bahasa Jawa] Iya, Darsam? - [bahasa Madura] Noni, ikut saya saja.

[bahasa Indonesia] Janji.

[musik romantis]

Cak, andong, Cak!

TINGGAL DI HINDIA OLEH MAX TOLLENAAR

- [riuh murid] - [bahasa Belanda] Tenang!

[bahasa Belanda] Nona Peters.

[bahasa Belanda] Tollenaar tak pantas dibahas di forum ini.

Apalagi saya tahu itu hanya nama pena.

Tidak.

Ini tulisan tentang kehidupan di Hindia.

Jarang sekali ada yang menulis ini.

[tepuk tangan]

Kau tahu nama aslinya?

Aku bisa mengenali gaya diksinya.

Mengaku sajalah, Pribumi!

[sorakan mengejek]

Jadi, Max Tollenaar adalah murid di kelas ini?

Bagus!

Pribumi atau bukan, bukan ukuran.

Tulisan-pemikiran bagus adalah tulisan-pemikiran yang bagus.

[tepuk tangan dan sorakan]

Lagi pula, bisa kita pelajari.

Nona. Tanpa orang-orang Eropa

peradaban pribumi rendah.

[riuh persetujuan]

Eropa tidak memiliki kebajikan tradisi pribumi.

Pribumi tetap saja cacing.

Jangan berlebihan, Suurhof.

Berhenti merendahkan bangsa lain.

Lihat!

Seorang indo yang membela pribumi sama rendahnya dengan pribumi.

Aku hanya anak pungut Pastor Dapperste.

Darahku pribumi! Sama seperti Minke!

Kau kotor seperti cacing!

Berhenti! Cukup! Berhenti!

Cukup!

Diskusi hari ini mengenai sastra.

Cukup sudah.

Tanpa cinta terhadap sastra...

diskusi kalian tidak lebih dari dengungan lebah.

Suurhof, Jan, dan kau...

ke kantor saya. Sekarang.

[bahasa Jawa] Cabainya sudah diseleksi?

[bahasa Jawa] Sudah, Non.

[bahasa Indonesia] Ya Allah, ya Allah, ya Allah!

[pria] Tolong!

[musik suram]

Ann?

[bahasa Belanda] Annelies. Ini saya Dokter Martinet.

Sinyo, duduklah di sini.

Pegang tangannya.

- Apa? - Pegang tangannya.

[bahasa Indonesia] Gadis yang saya rawat itu bukan cuma sakit fisik.

Annelies butuh kamu.

Lebih dari dia membutuhkan ibunya.

[bahasa Indonesia] Saya rasa tidak, Dokter.

Dokter pun tahu bagaimana Annelies sangat mengagumi ibunya.

Tapi tidak ada jaminan

ibunya akan bersamanya, selamanya.

Apalagi, Annelies sangat ingin jadi pribumi.

Apa yang membuat Dokter begitu yakin?

Kamu lihat tadi bagaimana dia menolak saat saya menyentuh tangannya?

Dia menolak tangan Eropa ini.

Padahal tangan ini sudah selamatkan keluarganya.

Tapi dia pegang erat tanganmu.

Kau paham apa itu artinya?

Annelies butuh keseriusanmu

sampai pada titik, kau siap melamarnya.

Saya belum berpikir sampai sejauh itu.

Minke, kalau perlu, saya yang melamar kamu.

Tapi kau tidak boleh poligami.

[bahasa Belanda] Kamu berjanji?

[bahasa Indonesia] Kini, Annelies bukan lagi pasien saya.

Tapi pasienmu.

[bahasa Belanda] Kamu siap?

Kamu yang jadi dokternya.

[tertawa]

[musik pelan]

[bahasa Indonesia] Boleh masuk?

Sudah membaik?

Mas.

Cerita.

Cerita apa?

Mama punya lebih banyak cerita.

Ceritamu selalu lebih bagus, Mas.

[bahasa Jawa] Baiklah.

- [bahasa Indonesia] Jawa atau Belanda? - Mas.

- Binatang, manusia? - Mas.

- Atau hantu-hantuan? - Mas!

Sebentar dulu, aku harus cari cerita yang bagus.

Uh...

Oh!

Pada suatu hari...

ada seorang gadis, cantik, secantik dewi.

- Namanya? - Belum tahu.

Tempatnya pun belum jelas, bisa di Eropa, India, Tiongkok.

Annelies.

Annelies. Mellema?

[tertawa]

Um...

Annelies terlahir dari tempaan tekanan bertubi-tubi.

Tetapi justru itu yang membuatnya menjadi kekuatan untuknya,

pesona untuknya.

Lalu suatu hari, ada pria yang datang ke rumahnya.

Dan langsung jatuh cinta.

Lalu mencium gadis itu.

Dan gadisnya marah.

Paniklah pria ini.

Tapi untungnya, Ibunya tidak menggubris.

Salah.

Ibunya marah.

Marah? Benar?

[tertawa]

Ini kan dongeng, Mas!

Ibunya bilang...

"Kenapa mengadu, Ann?

'Kan kau sendiri yang menunggu ciumannya?"

Betul.

Sang gadis pun memang menanti ciuman itu.

Bohong.

Pria itu yang tahu-tahunya mencium.

Dan sang putri tidak berkenan.

Bohong.

Kamu bohong terus dari tadi, Mas.

Sepertinya sang gadis suka dengan ceritaku.

[musik romantis]

[bahasa Jawa] Kalian berdua ini sudah seperti kepiting saja.

- Iyem? - [bahasa Jawa] Ya?

[bahasa Indonesia] Tasku tolong dibawa ke bawah.

- [bahasa Jawa] Ya. - Cepat, ya?

[bahasa Belanda] Tekanan darahnya bagus.

Parjiah!

Ia sudah tidak butuh dokter lagi.

[bahasa Indonesia] Saya pamit sekolah dulu.

[bahasa Belanda] Saya pamit sebentar.

Ann?

Sinyo.

[bahasa Belanda] Sinyo! Aku mau bicara.

- [bahasa Belanda] Aku telat, Dokter. - [bahasa Indonesia] Ini penting.

- Kau sudah tidur dengan Annelies? - Dokter!

Jawab saja, Minke.

Saya rasa pembicaraan ini tidak perlu kita lanjutkan.

[bahasa Belanda] Kamu laki-laki yang memanfaatkan kerapuhan Annelies.

[bahasa Indonesia] Apa urusannya saya jawab ini?

[bahasa Indonesia] Karena akan menentukan hidup Annelies ke depan.

Tapi tidak ada hubungannya dengan pertanyaan di awal, Dokter.

[bahasa Belanda] Mari bicara di tempat lain.

Ann?

[bahasa Jawa] Ada apa, Ann?

[Dr. Martinet bahasa Indonesia] Kau harus tahu, Minke.

Trauma dalam dirinya harus hilang.

Apa kau betul, kau bukan laki-laki pertama?

[bahasa Belanda] Saya tidak ingin jawab, Dokter.

- [bahasa Belanda] Jawab saja. - Hentikan.

[bahasa Indonesia] Apa kau betul, kamu bukan laki-laki pertama?

Ann?

Ann?

[menangis]

[bahasa Indonesia] Tidak ada gunanya, Mas.

Tidak ada gunanya.

Semua derita ini aku yang simpan.

[Dr. Martinet] Apa betul, kamu bukan laki-laki pertama?

Mereka atau dia?

Dia.

Orang baik atau buruk?

Saya tidak punya hak menilainya.

Baiklah. Siapa?

[sapi melenguh]

[bel berdenting]

[sapi melenguh]

[terengah]

[berteriak]

[bahasa Belanda] Siapa?

- [bahasa Belanda] Tidak. - Siapa dia?

[sapi melenguh]

[napas terengah]

- [bahasa Belanda] Siapa, Minke? - Hentikan.

- Katakan saja. - Hentikan.

[terisak]

- Katakan saja. - Tidak mau.

Siapa dia?

[sapi melenguh]

Tidak mau, Dokter!

Siapa itu, Minke?

Katakan saja.

[teriakan tertahan]

[erangan]

[sapi melenguh]

Robert.

[Annelies] Robert!

[bahasa Belanda] Jangan! Robert!

Robert!

[bahasa Belanda] Jangan! Robert!

[berteriak]

[Annelies berteriak]

Robert Mellema.

Celaka keluarga ini.

Celaka...

[kuda meringkik]

[bahasa Jawa] Sam! Sebentar, Sam! Darsam! Berhenti dulu, Sam.

[musik dramatis]

[musik romantis]

[Minke bahasa Indonesia] Untuk kesekian kalinya, sahabatku Jean benar.

Cinta dan tragedi memang tidak bisa dipisahkan.

Bahkan jika kelak...

aku harus berhadapan dengan tembok adipati Ramaku sendiri.

[musik romantis berlanjut]

Dari mana saja kalian?

Minke sudah bisa naik kuda, Ma. Aku yang mengajari.

[musik tegang]

[bahasa Jawa] Hei! Siapa kau?

[bahasa Indonesia] Darsam! Orang itu! Gendut!

[bahasa Jawa] Ada apa, Sam?

[bahasa Madura] Tidak ada apa-apa, Nyai. Tenang saja.

[pria] Si Gendut kelihatan!

Mas!

Mas!

[musik tegang memuncak]

Hei!

Mas!

- [bahasa Madura] Jaga pintu! - Dia ke sana!

Mas!

[bahasa Jawa] Ann, ada apa ini?

- [bahasa Madura] Saya mau cari ke dalam. - Sam! Sam! Sam!

Mas, Mas, Mas!

- [bahasa Jawa] Tunggu Ann, tunggu! - Mas!

[bahasa Jawa] Darsam! Tidak usah dikejar!

Sinyo mundur.

[bahasa Jawa] Pulang!

Darsam!

[bahasa Jawa] Ada apa, Ann?

[musik tegang]

[wanita berteriak]

[wanita tertawa]

[berbisik] Darsam. Darsam!

[Darsam] Tuan Mellema?

Ma. Ann.

[bahasa Madura] Tuan Mellema, Nyai. Dia mati, Nyai.

Ma...

[berteriak]

Papa!

Ah Tjong!

[bahasa Indonesia] Ah Tjong! Di mana kau?

[bahasa Jawa] Ada ribut-ribut apa ini?

- Robert! - [bahasa Indonesia] Kejar dia, Darsam!

[bahasa Jawa] Bapak dan anak sama saja!

[bahasa Jepang] Untuk apa dikejar?

[tertawa]

[bahasa Indonesia] Dia bakal mati juga.

Sifilis dariku sudah masuk ke badannya. [tertawa]

[bahasa Jawa] Setan kau ini!

Ayo pulang.

[tertawa]

Tuan Robert!

[bahasa Madura] Ayo pulang!

[bahasa Jawa] Berengsek!

[mengaduh]

Jangan macam-macam, Tuan muda!

[keduanya mengaduh dan berteriak]

[bahasa Indonesia] Jahanam kau!

- [berteriak] - [letusan pistol]

[berteriak]

[merintih]

[merintih]

- [bahasa Belanda] Ayo. - Baik.

- [bahasa Belanda] Pegang ini. - [bahasa Madura] Aku kejar Robert.

Lalu dia menembakku.

Dasar Robert. Lukanya bengkak.

[bahasa Indonesia] Bagaimana bisa ada satu keluarga

di rumah bordil yang terkenal begini?

Kalian semua ikut saya.

[bahasa Belanda] Kau. Kawal mereka.

[bahasa Belanda] Baik, Tuan.

Ayo, jalan!

Kamu periksa semua saksi-saksi.

[pria bahasa Indonesia] Raden Mas!

Raden Mas, mau tanya!

[suara kamera]

- Kamu Darsam, 'kan? - Ya.

Kau siapanya Nyai? Siapanya Herman?

Kusirnya Nyai.

Visum sementara, Herman mati keracunan.

[musik tegang]

[pria berbahasa Madura]

Sekarang satu Surabaya akan tahu berita ini, Ma.

[riuh pemrotes]

PEMILIK BUITENZORG MATI DI DEPAN ANAKNYA DI RUMAH PELACURAN

[suara mesin tik]

PEMBUNUHAN MELLEMA

[musik tegang]

DITEMUKAN TEWAS DI RUMAH BORDIL

ANAK BUPATI TERLIBAT KASUS PEMBUNUHAN HERMAN MELLEMA

[bahasa Jawa] Memalukan!

Anakku sudah memilih jalan hidupnya sendiri.

Antarkan suratku untuk Tuan Direktur HBS.

[bahasa Jawa] Baik, Kanjeng.

HBS ADA HUBUNGANNYA DENGAN SKANDAL PEMBUNUHAN MELLEMA

[mesin tik berdenting]

[bahasa Belanda] Ini!

Ayo! Steve, ayo, cepat!

Pembunuhan Mellema.

[tertawa]

Ini teman pribumimu.

[pemrotes berteriak marah]

[bahasa Belanda] Semua berita menyerang Nyai.

Pidatomu di pemakaman siang tadi...

dianggap membela Nyai.

Itu bisa dijadikan senjata oleh mereka.

APAKAH NYAI ONTOSOROH TERLIBAT?

[napas gemetar]

[bahasa Indonesia] Kita menghadapi situasi yang lebih sulit lagi, Nak.

Parjiah?

[bahasa Indonesia] Mas. Apa kau akan lari dari kami?

Selama matahari masih ada

aku akan tetap ada di sini, Ann.

Aku akan cuti dari sekolah.

Membelamu, mama.

[musik harapan]

[pria berteriak]

PENGADILAN PRIBUMI

[musik kelam]

[riuh wartawan]

[bahasa Indonesia] Lepas sandal.

[bahasa Belanda] Pakai sepatumu!

[bahasa Belanda] Jika ibuku diharuskan melepaskan sepatunya...

maka aku juga.

Jika kau bisa membuktikan di pengadilan dia ibumu

maka kau boleh melepaskan sepatumu.

[bahasa Indonesia] Jongkok.

Celuritmu.

Kau.

Duduk di situ.

[bahasa Belanda] Ayo, Nona.

[bahasa Indonesia] Nyai.

[ketokan palu]

[bahasa Indonesia] Ah Tjong, kamu terdakwa pembunuhan Herman Mellema.

[meremehkan]

Racun ini milikmu?

[bahasa Indonesia] Bapak Hakim.

Herman Mellema lebih sering ada di rumah saya itu

dibanding saya sendiri.

Bagaimana bisa saya membunuh pelanggan terbaik saya?

Ya? Ya? Ya?

Pengadilan ini akan mencari siapa saja yang terlibat bersamamu.

[mencemooh]

[riuh wartawan]

[musik tegang]

[bahasa Belanda] Tuan, sejujurnya kasusmu kali ini sangat rumit.

Tapi penting untuk diungkapkan ke masyarakat.

Koranku, Harian Surabaya,

pasti akan membantu memuat tulisan-tulisanmu.

SEORANG NYAI, JUGA MANUSIA, TETAP HARUS DILINDUNGI HUKUM

[bahasa Jawa] Ini yang punya rumah Buitenzorg besar itu?

[bahasa Jawa] Beruntung dapat warisan besar sekali.

Nyai.

Belum diam mulutku ini... Ramai ini! Coba lihat.

[riuh pengadilan]

[ketokan palu]

[bahasa Indonesia] Apakah Nyai pernah berhubungan langsung dengan Ah Tjong?

- [bahasa Belanda] Saya hanya... - [bahasa Indonesia] Pakai bahasamu.

[bahasa Indonesia] Saya hanya bertemu tagihannya setiap bulan.

Atas nama Herman dan Robert Mellema.

Saya punya buktinya.

[bahasa Belanda] Ini bukti pendukungnya.

Terima kasih.

[riuh teriakan pemrotes]

SIAPA SEBENARNYA PEMBUNUH HERMAN MELLEMA?

[riuh pemrotes]

[bahasa Indonesia] Raden Mas. Anda siapa sebenarnya di sini?

Saya tamu, Tuan.

Tamu?

Di kamar mana Anda tidur?

Dengan siapa Nona Annelies Mellema tidur?

Saya menolak menjawab pertanyaan jahat ini.

Dan bagaimana bisa Nyai membiarkan perlakuan tidak pantas

terjadi antara Nyai punya tamu dengan Nyai punya anak?

[pengunjung terkejut]

Tuan Hakim Yang Terhormat.

Karena telah dibongkar rahasia rumah tanggaku

maka aku harus bicara, Tuan.

Herman Mellema, Eropa totok itu, memintaku menjadi gundik.

Tidak ada satu pun diantara kalian yang mempersalahkan, Tuan.

- Ma, cukup. - Duduk, Nyo.

Antara aku dan Tuan Mellema...

ada ikatan perbudakan yang tidak pernah sedikitpun diganggu gugat oleh hukum.

Antara anakku dan Tuan Minke...

ada ikatan cinta yang tulus, Tuan.

Apakah perbudakan Eropa jauh lebih benar dari ikatan cinta yang tulus?

Annelies Mellema itu indo! Lebih tinggi dari pribumi dan Nyai.

Saya ibunya.

Saya yang membesarkan tanpa bantuan sepeser pun dari Tuan-tuan sekalian.

Semua uang memang kamu yang atur?

Benar, Tuan.

Berarti, tanpa ikatan perkawinan yang sah

kamu orang yang paling diuntungkan dalam kasus kematian Herman Mellema.

Benar, 'kan?

[bahasa Jawa] Sudah! Ini tidak benar! Dasar gundik!

[penonton bersorak]

[bahasa Jawa] Dasar gundik!

[bahasa Indonesia] Tertib!

[bahasa Indonesia] Siapa yang menjadikan saya gundik, Tuan? Siapa!

- Siapa yang menjadikan saya Nyai? - [bahasa Belanda] Tertib!

Mengapa di forum resmi seperti ini kami ditertawakan dan dihina?

Apakah Anda semua mau, anak Anda menjadi gundik seperti aku?

Biadab kalian semua!

[bahasa Belanda] Tolong segera hentikan pertunjukan konyol ini!

SAMPAI SAAT INI KASUS MASIH BELUM TERBONGKAR

[bahasa Jawa] Ini apa?

Pengadilan ini tidak mencari bukti siapa yang membunuh Herman Mellema.

Malah berputar membahas perkara Nyai dan anaknya Bupati.

[bahasa Jawa] Sudah. Tidak benar ini.

Aku kenal Robert Suurhof. Kayaknya dia memang dendam ke anak Bupati itu.

[musik sedih]

DARI MARTIN NIJMAN HARIAN SURABAYA

[bahasa Jawa] Tidak ada yang bisa lepas dari masalah, Anakku.

Baik dan buruknya manusia...

tergantung caranya menyelesaikan masalah.

PRIBUMI BERUTANG BUDI PADA EROPA OLEH ROBERT SUURHOF

[bahasa Indonesia] Suurhof menggesernya dari perkara yang

bukan lagi menyerangku tapi Eropa kontra pribumi.

Mereka terus mengeroyok kita. Bahkan ludahku belum sempat kering

di pengadilan kemarin.

[bahasa Belanda] Itu dia!

Dia penulis lepas saya, Kommers.

Sangat berbakat.

Dia bersimpati dengan kalian.

Kabar baiknya adalah dia pandai berbicara dan menulis

bahasa Melayu.

[bahasa Indonesia] Peradilan kalian sangat berat ke Eropa.

[bahasa Belanda] Dan itu sangat menyedihkan.

[Minke bahasa Indonesia] Eropa menciptakan hukum.

Eropa pula yang memainkannya.

Pribumi hanya penonton.

Tukang sorak. Sekaligus pesakitan atas pertunjukkan yang mereka buat.

Tapi bagaimana pun, mereka tidak akan melecehkan hukum mereka sendiri.

Aku harus menghadirkan saksi kunci.

PENGADILAN HARUS MENGHADIRKAN SAKSI MAIKO

[bahasa Indonesia] Robert membayar lebih mahal dari Herman.

Karena cuma main dengan kamu saja?

Jawab!

[bahasa Jepang] Geisha hanya melayani majikannya yang membayar mahal.

[bahasa Indonesia] Saya melayani banyak orang.

Betul kamu memberi sifilis kepada Robert Mellema?

[tertawa]

Jawab!

[riuh penonton]

Bukan cuma sifilis yang aku berikan pada anaknya.

Bapaknya pun aku beri racun.

- [tertawa] - [sorakan penonton]

Tertib!

[riuh penonton]

Siapa yang memberi racun padamu?

[musik tegang]

[berbisik] Siapa lagi?

[memaki dalam bahasa Hokkien]

[penonton berteriak dan bersorak]

[bahasa Belanda-Indonesia] Tertib!

[berteriak dalam bahasa Belanda]

Tertib!

[bahasa Belanda] Tertib!

[berteriak dalam bahasa Belanda]

[memaki dalam bahasa Hokkien]

[bahasa Belanda-Indonesia] Tertib! Tenang!

- [memaki dalam bahasa Hokkien] - [tertawa]

[bahasa Indonesia] Dengan ini juga, saya putuskan...

Sanikem, alias Nyai Ontosoroh, dan yang lainnya...

bebas dari tuduhan.

[riuh penonton]

[musik kemenangan]

[bahasa Indonesia] Selesai.

Semua sudah selesai, Ma.

Ini masih baru permulaan, Nyo.

Saatnya kamu kembali ke sekolah, Mas.

Dengan orang-orang seperti itu, Ann? Tidak.

Justru karena itu Mas, kita tidak bisa diam terlalu lama.

Kematian papa membuka mataku.

Ini semua bisa dipatahkan.

Dan menjadi lulusan HBS...

adalah salah satu ujung tombaknya, Mas.

[bahasa Jawa] Lihat! Itu orangnya.

Apa tidak punya malu? Pulang bersama seperti itu.

Dasarnya gundik! Tidak punya muka.

Punya muka. Tapi muka tembok!

Benar.

[Minke bahasa Indonesia] Eropa. Pribumi.

Indo atau pun asli.

Bukan jaminan untuk bisa berlaku adil.

Baik dalam pikiran maupun perbuatan.

[bahasa Belanda] Hei, simpanan Nyai.

[Minke bahasa Indonesia] Begitu pun mereka...

yang mengaku terpelajar, berpendidikan

bergaya dan berbahasa Eropa.

[riuh perbincangan]

[bahasa Belanda] Selamat, ya. Persoalan besarmu selesai.

Saya menghargai ketekunanmu...

berhasil menyelesaikan kasusmu di persidangan.

Namun...

sebagai Direktur Sekolah...

saya tetap harus mengeluarkanmu.

Hubunganmu dengan Annelies jadi contoh yang tidak baik bagi siswa-siswi di sini.

Ayahmu bahkan memintamu dikeluarkan.

Maaf, Minke.

[musik dramatis]

[bahasa Indonesia] Minke. HBS terlalu kecil buat kamu.

Saatnya kamu menunjukkan kepada dunia...

kalau kamu bukan pengecut.

Dan nikahi Annelies.

[musik semangat]

[bahasa Belanda] Gagah, Minke!

[bahasa Indonesia] Ini namanya laki-laki sejati.

Tapi ingat, waspada dan jaga hati baik-baik, ya?

- [bahasa Belanda] Selamat, Minke. - [bahasa Belanda] Terima kasih.

- Kau pemberani. - Terima kasih.

[siulan Jean]

[bahasa Indonesia] Hei, Minke, cepat turun! Cepat!

[bahasa Belanda] Terima kasih.

- [bahasa Indonesia] Minke! - [bahasa Indonesia] Ya?

- Kau lupa topimu. - Terima kasih, Nyonya.

[bahasa Belanda] Sampai jumpa!

[bahasa Prancis] Sampai jumpa!

[bahasa Indonesia] Ma... di hadapan sahabatku ini...

aku berjanji akan menikahi Annelies.

[musik emosional]

[tertawa]

[wanita] Minke.

[bahasa Indonesia] Itu siapa, Mas?

Guruku.

Bu Peters.

[bahasa Belanda] Maaf aku mengganggu. Tuan Direktur memanggilmu, Minke.

PADA SIAPA MASA DEPAN HINDIA BELANDA?

Saya tak mau lagi tersangkut paut dengan sekolah.

[bahasa Indonesia] Dewan Alumni menulis surat ke kepala sekolah.

Memprotes keputusannya, mengeluarkan siswa brilian seperti kamu.

Kamu sudah menang, Mas.

Annelies benar, Nyo.

Sudah saatnya kau merayakan kemenangan.

UNTUK RM TIRTO ADHIE DI BUITENZORG

Mereka yang memulai menabuh gamelan.

Tapi gongnya ada di kamu.

[wanita dalam bahasa Belanda] Minke. Sejak pertemuan kita di rumah

ayah menyatakan kekaguman atas kecerdasanmu.

Begitu pun aku dan Sarah.

Kamu adalah jawaban kegelisahan ayah atas kondisi masyarakat pribumi.

[bahasa Belanda] Tahun ini, kita mulai mengenal kata baru.

Modern.

Apa arti "modern" menurut gurumu yang jagoan itu?

Semangat.

- Semangat? - Ya.

Pandangan yang mensyaratkan pada ilmu pengetahuan

estetika, dan efisiensi dalam waktu.

Kamu tahu siapa Doktor Snouck Hurgronje?

Orang sepertimu.

Jawa tapi berpikiran modern adalah jawaban atas negerimu.

Seperti gong dalam gamelan.

Ketika dipukul, seluruh irama gamelan berhenti.

Doktor Snouck menawarkan konsep Asosiasi.

Bahwa bangsa pribumi modern...

Harus bisa duduk setara dengan bangsa Eropa.

Memecahkan persoalan bersama dalam satu organisasi.

Apakah seperti itu?

[wanita] Kau akan jadi gong itu, Minke.

Anak itu brilian.

[tepuk tangan]

Selamat datang kembali!

Sebentar lagi ujian akhir.

Apa kau bisa mengejar pelajaranmu, Minke?

Ya.

[Minke bahasa Indonesia] Dari seluruh manusia di bumi moyangku ini

selain Ibunda dan Mama...

Asisten Residen de la Croix dan putri-putrinya

telah membuktikan bahwa masih ada jenis orang beradab

tanpa perlu menunjukkan dari mana dia berasal

berwarna kulit apa, berbahasa apa.

[bahasa Indonesia] Sudah saatnya mereka melihat dewiku.

[musik tegang]

- Minke! - Jan!

[bahasa Belanda] Ikut aku, ada berita bagus.

[bahasa Belanda] Apa?

- Ayo. Sini. Ayo. - Kenapa?

Minke. Senang sekali melihatmu.

Mari sini.

Lihat nilaimu.

Permisi.

Satu.

Aku nomor satu, Ann.

Kau hebat, Minke.

Terima kasih, Jan.

Selamat, Minke.

Minke, kamu peringkat satu di Surabaya.

Kedua di seluruh Hindia-Belanda!

Luar biasa!

Terima kasih.

Aku tak melihat Suurhof. Ini pesta kelulusan.

Biasanya saat ada pesta dan makan, dia pasti hadir.

Menempati posisi nomor lima sangat memalukan buat ambisinya.

[tertawa]

Perhatian semuanya!

Ayo.

Di hari bahagia ini... saya akan menyampaikan sebuah undangan.

Annelies dan saya akan mengundang seluruh siswa HBS

untuk hadir dalam pernikahan kami di bulan depan.

[sorakan dan tepuk tangan]

[bahasa Jawa] Ibumu sudah datang.

[bahasa Indonesia] Ibu.

[bahasa Jawa] Selamat datang, Ibu.

Silakan.

Minke.

Jan?

[bahasa Indonesia] Apa ini? Kamu kenapa?

[bahasa Indonesia] Maaf. Aku datang dalam kondisi buruk.

Aku terjun dari kapalku.

Mau ke mana, Jan?

Orang tuaku ingin ke Eropa. Mereka ingin membawaku.

Tapi tidak akan, Minke.

Darahku di sini.

Jan Dapperste...

harus menjadi Panji Darman.

Mati juga aku mau demi itu.

Sayangnya, nyawaku tidak laku di catatan sipil.

[tertawa]

Nyai...

Mama ingin usaha rempah.

Dia pasti butuh pegawai.

Dan kau tetap bisa punya nama Panji Darman.

Terima kasih.

[bahasa Jawa] Sudah.

[bahasa Indonesia] Ayo masuk. Biar Parjiah atau Pono yang mengurusmu.

[bahasa Jawa] Badanmu bau sekali.

- Pelan-pelan. - [bahasa Indonesia] Maaf.

Jalan lumayan jauh tadi.

[bahasa Indonesia] Saya hanya bisa bawa ini, biar kembaran kita.

[bahasa Jawa] Terima kasih, Ibu.

[bahasa Jawa] Panggil Mbakyu saja.

Mari coba.

[tertawa]

[musik emosional]

[Minke] Ibu.

[bahasa Jawa] Mohon ampun untuk semua kesalahan saya, Bu.

Saya memohon restu.

[Ibu Minke dalam bahasa Jawa] Saya restui, Gus.

Restui anak ini, anak darahmu anak kesayanganmu.

Lindungi dia dari malapetaka.

Dari aniaya, fitnah, dan dengki.

Karena dia anak kesayanganku.

Kulahirkan dia dengan pertaruhan darah.

Meski pikiranmu sudah maju, tetaplah jadi Jawa yang fasih.

Pasrahkan jiwa dan ragamu pada Tuhan yang Maha Esa.

Saya terima nikah dan kawinnya

Annelies Mellema putri dari Alm. Herman Mellema

dengan mahar cincin kawin

dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.

[bahasa Indonesia] Sah.

[bahasa Indonesia] Sah.

Alhamdulillahirobbilalamin.

[pria memimpin doa]

[musik romantis]

[bahasa Belanda] Kalian sudah bahagia.

Jangan sampai hal remeh seperti dendam jadi penghalang.

Pada dasarnya, aku selalu menghargaimu Minke.

Apalagi sekarang ini.

Doakan perjalananku ke Eropa.

[musik romantis berlanjut]

[gelas berdenting]

[bahasa Belanda] Tuan dan Nyonya sekalian aku ingin meminta perhatian kalian.

Untuk Annelies dan Doktor Minke.

[hadirin tertawa]

Saya adalah saksi dari cinta dua insan

yang teramat indah...

yang hanya bisa tumbuh setelah badai besar melanda.

Saya ingin semua yang hadir sore ini

untuk menjadi saksi

dari cinta yang tumbuh

dari hati yang mulia.

[tepuk tangan]

Untuk Minke dan Annelies.

- Bersulang. - Bersulang.

[musik dari gendang]

[riuh pesta resepsi]

[musik romantis]

Mas!

[wanita bahasa Indonesia] Hati-hati.

[wanita bahasa Jawa] Mesin ketiknya di tengah meja.

Bukunya di sini.

Pindakan buku saja lama sekali.

[bahasa Indonesia] Kenapa, Mas?

[bahasa Indonesia] Ternyata selama ini dia menyukaimu, Ann.

[bahasa Belanda] "Tulip, Minke."

Suurhof.

[bahasa Indonesia] Dia tidak rela kamu dekat denganku.

Itu sebabnya dia selalu berlaku tidak adil padaku.

Iya, 'kan?

[tertawa]

Dari dulu suratnya tidak pernah kubalas.

Iya?

Lalu dia datang bersamamu.

Aku tahu dia mau menyombongkan dirinya dengan merendahkanmu di hadapanku.

Tapi, dia tidak tahu, Mas,

aku tidak seperti perempuan indo kebanyakan.

- Masa sih? - Iya!

Iya?

[tertawa]

Mas!

- Mas! - Iya?

[bahasa Jawa] Masih siang membuatku ingin saja.

[bahasa Indonesia] Mas Pono...

Tuan.

[bahasa Jawa] Sini, sini. Taruh sini.

Panji. Pukul berapa ini?

[bahasa Indonesia] Mama dan Annelies sudah pulang?

[bahasa Indonesia] Kurang tahu. Dari tadi aku di sini.

Sudah tiga jam lebih.

[bahasa Jawa] Tenang.

[bahasa Indonesia] Paling panggilan dari Pengadilan Eropa itu

hanya urusan administratif.

- Nyo! - Itu Darsam.

- [bahasa Jawa] Mama dan Annelies di mana? - Ayo, ikut saya ke Pengadilan.

[bahasa Jawa] Ada apa lagi?

Siapa yang mati kali ini? Robert?

[bahasa Madura] Ikut! Ayo!

[bahasa Indonesia] Jadi Maurits mau merampas semuanya?

Itu keputusannya, Nyai.

Tanpa menginjakkan kaki di sini, dia bisa seperti itu?

Berhenti.

PENGADILAN EROPA SURABAYA

Tuan, mengapa Anda diam saja?

Boleh saya minta waktu sebentar untuk bicara?

Tidak perlu, Tuan.

[musik suram]

[Nyai Ontosoroh] Mama akan bereskan semua. Sudah.

- [menenangkan] - [isak tangis]

Ma? Ann? Ma?

Apa, Ma?

Habis semua. Habis semua, Nyo.

Habis apa, apa yang habis Ma? Ma?

Karena Robert hilang dan Annelies dianggap di bawah umur

maka harta semuanya akan diambil Maurits biadab itu.

Maurits.

[bahasa Belanda] Tidak, tidak. Tidak mungkin.

[bahasa Indonesia] Annelies sudah menikah dengan saya, Ma.

Pernikahannya dianggap tidak sah.

Dan aku dianggap bersekutu dalam pemerkosaan sama biadab itu.

Mama tidak protes?

Apa yang kamu pikir aku lakukan tadi di dalam, Nak?

Hanya dengan surat-surat ini dia bisa menghancurkan hidup kita.

Ayo, Ann.

Ann?

- Ann! - Ann!

Darsam!

[musik dramatis]

KANTOR POS

[riuh kantor]

[bahasa Belanda] Asisten Residen de la Croix.

Dan ini untuk Martin Nijman, redaktur Harian Surabaya.

Terima kasih.

[Nyai Ontosoroh bahasa Belanda] Disuntik obat penenang lagi, Dokter?

[bahasa Belanda] Keadaan yang menekan membuat tensi darahnya naik.

Setidaknya obat ini membuatnya tenang.

[bahasa Indonesia] Ma...

Tuan Asisten Residen mengirimkan

pengacara terkenal dari Semarang.

Akan diantar oleh Miriam dan lusa aku jemput di stasiun.

- [bahasa Belanda] Saya pamit dahulu. - [bahasa Belanda] Terima kasih.

[bahasa Belanda] Dalam catatan pengadilan Amsterdam, tertulis Nyai

tidak pernah menikah secara sah dengan Herman.

Dan Herman tak pernah menceraikan istri pertamanya.

Apa itu maksudnya?

Artinya menurut hukum

Herman tidak bisa mengakui secara hukum

Annelies dan Robert sebagai anak.

Dengan begitu...

Maurits tidak bisa punya hak atas Annelies.

- Bukan begitu? - Ya. Benar.

Tapi, aku mendapat kabar dari Amsterdam.

Istri pertama Herman mengajukan cerai ke pengadilan.

Dan Herman mengabulkan permohonan itu.

Jadi saat Maurits datang untuk menuntut suamiku lima tahun lalu

semuanya hanya dusta.

Dia bilang ibunya tidak mengajukan cerai padahal sebenarnya sudah dikabulkan.

Belanda-Belanda itu kurang ajar semuanya!

Ann? Ann. Ann. Ann!

[bahasa Indonesia] Sekarang tinggal pena yang tersisa.

Dan akan kuisi dengan darah!

[musik dramatis]

BUMI MANUSIA DAN PERMASALAHANNYA OLEH RM TIRTO ADHIE

Menghargai dan menghormati manusia lain.

Tidak menertawakan manusia lain...

[bahasa Jawa] Ini Belanda. Tidak akan menang.

[bahasa Jawa] Yang penting berani.

[musik dramatis]

[bahasa Jawa] Anak Nyai itu, 'kan, Cak?

- [bahasa Jawa] Yang pestanya besar. - [bahasa Jawa] Ya, benar.

Ibunya gundik. Pernikahannya tidak sah.

[musik romantis]

[Minke bahasa Belanda] Saya ingin artikel yang saya tulis

[bahasa Belanda] diterjemahkan ke Bahasa Melayu.

- [bahasa Belanda] Pasti! - [bahasa Belanda] Terima kasih.

Hukum Eropa Dimata Hukum Pribumi.

Ini tulisan yang kontroversial, Minke.

Artikel ini akan diperdebatkan di publik.

Kau mengadu antara hukum Eropa melawan hukum Islam.

Itu sangat berani.

Satu, dua, tiga!

[Kommers bahasa Indonesia] Sudah berantakan dunia ini.

Hukum menjadi semena-mena.

Hukum melihatkan siapa yang kuat dan siapa yang lemah.

Siapa yang dimakan dan siapa yang memakan.

[bahasa Jawa] Ini harus disebarkan.

Apa ini? Ini menginjak-injak hukum Islam!

Ini harus dilawan!

[bahasa Indonesia] Itulah hukum Eropa. Seperti itulah mereka.

Bandingkan dengan hukum Muslim.

Lihat keseimbangan yang hukum ini ciptakan.

Manusia semua sama rata.

[teriakan pemrotes]

Adillah!

Karena keadilan membuatmu dekat dengan takwa!

Allah Maha Besar!

Pergi dari sini!

[letusan senapan]

Ma!

Ann sudah bangun?

- Masih demam. Kenapa? - Ann harus lihat ini, Ma!

- Kenapa, Nyo? - Surat dari Kantor Hukum Agama, Ma.

Ini obatnya, Ma. Ann bisa sembuh dengan ini.

Ann.

Pernikahan kita sah, Ann. Kamu jangan khawatir.

Ini buktinya. Ini suratnya.

Ann. Pernikahan kita sah, Ann.

Ann. Pernikahan kita sah, Ann.

Ini suratnya.

Ann? Sembuh, Ann.

[Nyai Ontosoroh] Eropa.

Yang diagung-agungkan sebagai pusat ilmu pengetahuan, peradaban

dengan mudahnya merampas hak kita.

Malu sudah bukan lagi peradaban Eropa.

Mereka hanya bisa tahu apa yang mereka mau.

Mamamu ini tidak pernah sekolah, Nyo.

Aku tidak pernah diajar untuk menghormati

apalagi mengagumi bangsa Eropa.

Kita akan menjadi pribumi pertama yang melawan pengadilan kulit putih

tanpa pengacara.

Dengan melawan, kita tidak sepenuhnya kalah.

Kau siap?

[musik dramatis]

[Darsam dalam bahasa Madura] Anak-anak campuran saja tak dihargai.

Apa jadinya anak-anak kita?

Kalau kita diam saja, kita akan semakin diinjak.

Lebih baik mati berperang daripada mati tersiksa!

Lawan!

[semua] Lawan!

PENGADILAN EROPA SURABAYA

Maju serentak! Ayo!

[bahasa Jawa] Sebentar. Dengarkan omonganku dulu.

Dengarkan aku.

Orang-orang di dalam itu, rombongannya Nyai, itu orang baik.

Aku saksinya!

Ini bukan soal Nyai!

Ini bukan soal Islam atau Kafir!

Ini penindasan! Ini tidak adil!

[teriakan pemrotes]

[letusan senapan]

[ketukan palu]

[hening]

[bahasa Belanda] Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan

pernikahan antara Sanikem dan Herman Mellema

tidak sah secara hukum.

Maka Sanikem tidak berhak

atas seluruh kekayaan Herman Mellema.

Termasuk hak asuh Annelies Mellema dan Robert Mellema.

[bahasa Belanda] Saya menolak, Yang Mulia.

[riuh persidangan]

[bahasa Indonesia] Pakai bahasamu!

[ketukan palu]

[riuh persidangan]

[bahasa Indonesia] Saya menolak.

Saya Sanikem. Saya yang melahirkannya.

Saya menolak!

[ketukan palu]

[bahasa Belanda] Annelies Mellema akan diangkut

dengan kapal dari Surabaya ke Amsterdam dalam tempo waktu lima hari.

[bahasa Belanda] Tidak! Saya tidak setuju dengan putusan ini!

[bahasa Indonesia] Saya adalah suami Annelies yang sah di Mahkamah Agama.

- [bahasa Indonesia] Itu sah! - [bahasa Indonesia] Itu sah!

[bahasa Belanda] Lihat ini! Lihat ini!

[bahasa Indonesia] Silahkan bicara di majelis itu, tidak di sini.

Di sini Annelies masih gadis, tidak punya suami.

- [bahasa Belanda] Omong kosong! - Annelies punya wali di Amsterdam.

Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat.

[bahasa Belanda] Lihat!

Secara hukum, kalian berdua tidak punya lagi hubungan ke Annelies.

[ketukan palu]

- Ma! - [bahasa Belanda] Semua, berdiri.

[bahasa Indonesia] Bajingan!

[riuh pengadilan dan teriakan]

Kalian semua monyet!

PENGADILAN EROPA SURABAYA

[pemrotes berteriak marah]

[pria bahasa Indonesia] Awas!

[teriakan marah]

[bahasa Indonesia] Beri jalan!

HUKUM AGAMA TIDAK BERLAKU

[bahasa Jawa] Beri jalan!

NYAI ADALAH NYAI, TIDAK ADA HUKUM UNTUKNYA

[musik dramatis]

[musik sedih]

[musik jahat]

[teriakan]

[bahasa Indonesia] Kolonel ada di sini.

[musik dramatis dan tragis]

[bahasa Belanda] Buka gerbangmu.

[bahasa Belanda] Beri jalan!

[bahasa Indonesia] Siapkan barang-barangmu.

Kita berdua yang akan mengawal Annelies ke Belanda.

[teriakan marah]

[bahasa Madura] Mundur! Mau apa kalian?

- Buka gerbang! - Mau cari mati?

[bahasa Jawa] Hukum apa yang memisahkan anak dengan ibunya?

[bahasa Indonesia] Hukum setan!

[bahasa Belanda] Buka gerbangnya! Minggir!

[bahasa Belanda] Ada apa?

- Berhenti. - [bahasa Belanda] Aku harus masuk.

[bahasa Belanda] Aku harus masuk.

[bahasa Indonesia] Berhenti.

[bahasa Belanda] Kau mau apa?

Saya dokter keluarga Mellema.

Kami tak ada urusan denganmu, Dokter.

Aku mau lewat. Aku harus masuk.

Kami tak ada urusan denganmu, Dokter.

Kau dan kau bawa Tuan ini keluar dari sini.

Cepat! Berputar!

[bahasa Indonesia] Mundur!

[bahasa Indonesia] Mama janji, Ann.

Mama akan mengawalmu ke mana kau pergi.

[bahasa Jawa]

- [letusan senapan] - [musik tragis]

[bahasa Indonesia] Maju!

[teriakan penuh amarah]

[bahasa Belanda] Tangkap!

Tanpa terkecuali.

[desingan peluru]

[bilah pisau berdenting]

[bahasa Belanda] Tangkap mereka semua! Tanpa terkecuali!

Maju!

[mengerang]

Maju!

- [mengerang] - [letusan senapan]

Maju!

Maju!

Maju!

Maju!

[bahasa Jawa] Ini apa lagi? Tuhan!

Tolong!

Tolong!

Nyo!

Astaga!

Parjiah!

Iyem!

[letusan senapan berlanjut]

[Nyai Ontosoroh] Iyem!

Pono!

[bahasa Jawa] Pono! Ada apa ini?

Darsam di mana?

Kunci pintunya!

Ma! Ma!

[bahasa Indonesia] Mereka masuk. Jaga Annelies. Aku yang turun.

- Ma... - Ini rumahku.

Kau jaga istrimu. Biar kuhadapi binatang-binatang itu.

Buka pintunya!

- Mau apa kamu? - Saya mau masuk!

Keluar dari rumahku!

- Saya mau masuk! - Dasar biadab!

Hentikan!

Selama rumah ini engselnya aku minyaki sendiri

hukum kalian tak ada artinya di sini.

Terserah Anda. Kami bisa berkemah sampai kapan pun.

Tidak akan aku izinkan.

Kalian bisa tinggal di sini

asal aku bisa diizinkan untuk mengantar anakku.

Tidak akan bisa.

Aku ibunya!

Kalian memang benar-benar biadab!

Hak mengasuhku sudah kalian bunuh, sekarang hak mengantarku kalian rampas?

Silahkan Anda berbicara di hadapan Majelis Hakim.

Saya kemari mengantarkan dokter resmi dari pengadilan untuk putri Anda.

- Dokter? Dengan cara membantai? - Cukup.

Masuk.

[bahasa Belanda] Berengsek.

[bahasa Indonesia] Berhenti.

[bahasa Belanda] Biarkan lewat.

Nyo.

Ma? Siapa, Ma?

Waktu kita tidak banyak, Nyo.

Kita tidak bisa lagi mengantar Annelies. Kamu yang tabah, ya?

[bahasa Indonesia] Cepat! Cepat! Ayo!

[bahasa Belanda] Dokter, Nona Mellema ada di atas.

[dokter] Terima kasih.

- Ma? - Masuk, Nyo!

[bahasa Belanda] Siapa kau?

[bahasa Belanda] Saya dokter resmi pengadilan.

Saya ditunjuk pengadilan untuk memeriksa Nona Annelies.

- Nyonya. - Nona.

Annelies masih seorang gadis.

- Siapa kau? - Aku suaminya.

Pergi!

Aku ingin memeriksa dia. Minggir.

Apa ini?

Bagaimana bisa kau membiusnya dengan dosis yang begitu tinggi?

Kalian semua bisa dituntut.

[bahasa Jawa] Tuntutlah di rumahmu sendiri!

[bahasa Belanda] Bukan di rumahku!

Perbuatan kalian kriminal!

Kalian semua bisa masuk penjara!

Keluar!

- Aku memperingatkanmu... - Keluar!

[bahasa Indonesia] Apapun keadaannya, Nyo.

Harus ada yang mengawal Annelies.

[menangis]

[bahasa Indonesia] Kenapa harus saya?

Karena kami butuh bantuanmu.

Sebagai Jan Dapperste, bukan Panji Darman.

Hanya dengan nama itu, kamu bisa satu tempat bersama Annelies.

Tapi saya tidak pantas, Minke.

Tolong...

bantu orang yang sudah banyak membantumu.

[musik sedih]

[kicauan burung]

[menggumam]

Ann?

Ann?

Kamu dari mana?

Demammu hilang.

Kamu sudah baik, Ann?

Mama! Ann sudah sehat!

- Mas... - Kamu sudah sehat.

Sarapannya sudah siap.

Ann...

- Aku bisa sendiri. - Mas.

Aku bisa sendiri. Kamu yang harus aku suapi, Ann.

- Mas. - Ann, aku bisa sendiri.

Biarkan aku suapi suamiku.

Untuk yang terakhir kali.

[menghela napas]

Dongengi aku, Mas.

Ann...

Dongeng apa lagi?

Dongengi aku tentang negeri Belanda.

Tapi kamu yang aku suapi.

Apa?

Bagaimana aku bisa cerita kalau mulutku penuh makanan?

- [terisak] - Iya, 'kan?

[bahasa Belanda] Belanda.

[bahasa Indonesia] Negeri dongeng di bawah air laut.

Dengan sungai-sungai melintasi.

Dan kapal-kapal kecil ikut serta mengiringi.

Indah.

Kincir angin, bendungan.

Rumah-rumah yang indah dan ratu yang cantik.

Tapi tetap tidak secantik kamu, Ann.

[bahasa Belanda] Semua siap?

[bahasa Belanda] Apa yang kau lakukan di sini?

Di mana Nona Mellema?

Keluar! Pergi!

Saya mohon, jangan persulit tugas saya.

Di mana Nona Mellema?

[bahasa Belanda] Nyonya Mellema.

Bukan Nona Mellema.

[bahasa Indonesia] Mama.

Aku minta koper coklat yang dulu Mama pakai keluar dari rumah Mama.

[terisak, bahasa Indonesia] Tidak pantas, Ann.

Aku mau melihatnya, Ma.

[bahasa Belanda] Mulai saat ini, saya akan mengasuh Nona Mellema.

[bahasa Belanda] Tidak.

[bahasa Belanda] Silakan masuk.

Bantu aku bersiap.

[musik tragis]

[bahasa Indonesia] Aku pergi dengan koper Mama, ya?

Kenangan ini harus dibawa jauh.

Tidak boleh lagi memberati Mama.

Sama seperti Mama.

Aku tidak akan kembali lagi ke rumah ini.

Aku tidak pernah berhenti membelamu, Nak.

Sudah, Mama.

[menangis]

Ma, jangan menangis.

Ma...

Ma.

Aku punya satu permintaan.

Menikahlah lagi, Ma.

Dan berikan aku seorang adik yang manis.

Begitu manisnya

tidak menyusahkan seperti anakmu yang indo ini.

[menangis]

Sudah jangan menangis.

[bahasa Belanda] Waktunya sebentar lagi.

[terisak]

Mas.

Kita pernah bahagia.

Kenang yang itu saja.

Jangan yang lain.

[menghela napas]

[Annelies terisak]

[musik romantis]

[bahasa Belanda] Mari, Sayang.

Nona.

♪ Kulihat Ibu Pertiwi ♪

♪ Sedang bersusah hati ♪

♪ Air matanya... ♪

Kalian berdua, tetap di sana!

[bahasa Belanda] Kalian berdua, jaga mereka!

Baik, Tuan!

♪ ...intannya terkenang ♪

♪ Hutan gunung sawah lautan ♪

Ann!

♪ Simpanan kekayaan ♪

[berteriak] Ann!

♪ Kini Ibu sedang lara ♪

♪ Merintih dan berdoa ♪

[bahasa Belanda] Ayo! Kita berangkat!

Ann!

♪ Kulihat Ibu Pertiwi ♪

[bahasa Indonesia] Masuk.

Ann...

♪ Kami datang berbakti ♪

♪ Lihatlah putra putrimu ♪

[semua bersorak] Ann! Ann!

♪ Ibu ♪

♪ Ibu kami tetap cinta ♪

♪ Putramu yang setia ♪

[bahasa Indonesia] Kalah.

Kita sudah kalah, Ma!

Kita telah melawan...

sebaik-baiknya...

sehormat-hormatnya.

[menangis]

♪ Kulihat Ibu Pertiwi ♪

♪ Sedang bersusah hati ♪

♪ Air matanya berlinang ♪

♪ Mas intannya terkenang ♪

[Minke bahasa Indonesia] Eropa boleh memisahkan kita, Ann.

Tapi tak kubiarkan merenggut jiwa kita.

Cintaku padamu akan memantik cita-citaku.

Kau adalah alasanku untuk menyudahi nasib bangsaku

yang selama ini menjadi budak di negerinya sendiri.

♪ Untuk nusa ♪

♪ Dan bangsa ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.