Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
DRAMA INI KISAH FIKTIF
SEMUA KARAKTER, ORGANISASI, LOKASI, INSIDEN, DAN AGAMA
DALAM DRAMA INI FIKTIF
ADEGAN YANG MELIBATKAN HEWAN
DIBUAT DENGAN PROPERTI DAN EFEK VISUAL
EPISODE 5
Poster pembunuhan ketiga dipasang.
Guru!
Kau tak boleh melepasnya...
Tak usah terlalu terkejut.
Hanya kau yang marah
saat kulakukan itu.
Rambutku...
Sedang apa kau? Ikuti aku!
- Kau menatapku dengan wajah manis itu? - Tidak!
Kau tak bisa katakan itu kepada pria.
Kusebut manis karena kau memang manis.
Apakah sebaiknya kusebut kau...
Jelek?
Astaga, itu sungguh tidak lucu.
Itu lelucon yang sangat buruk.
Manis.
Permisi, ada orang?
Apakah kau marah?
Kapan aku pernah marah?
- Kasim Go! - Kapan kau tiba?
Aku memanggil dari luar, tetapi tak ada orang, jadi aku masuk.
Ada yang mau kutanyakan kepadamu.
Kenapa menurutmu si pendosa itu yang memecahkan
semua kasus itu, bukan kakaknya?
Kasus pertama yang dipecahkan Min Yun-jae lima tahun lalu
bukanlah sesuatu yang bisa dipecahkannya.
Dia lulus ujian dan penasihat keenam di Akademi Sastra,
jadi bagaimana mungkin dia memecahkan kasus itu?
Jadi, tentu Min Yun-jae tak bisa pecahkan semua kasus lainnya juga.
Keinginanku adalah bertemu dengan Nona Jae-yi
dan memecahkan kasus di seluruh penjuru negeri bersama.
Namun, dia sudah mati!
- Lupakanlah saja. - Dia tak mungkin mati.
Dia masih hidup di suatu tempat. Aku yakin itu.
Tidak, dia sudah mati.
Tidak, belum.
- Kenapa kau ini? - Kenapa kau ini?
Aku tahu aku bukan nona yang kaucintai itu,
tetapi aku mau mengajakmu mengerjakan kasus.
Aku tahu kenapa kau di sini.
Lihatlah ini. Dia menyobek poster lagi.
Kau akan dalam masalah, Guru.
Kalau kau mau masuk penjara, akan kuwujudkan.
- Ini poster Kasus Mata Angin? - Kudengar Kepala Bagian Han
menamainya Kasus Mata Angin.
Dia meyakini akan ada pembunuhan keempat.
Menurutku juga.
Aku juga.
Jika pelaku mengikuti pola, pembunuhan berikutnya empat hari lagi.
Aku harus periksa lagi mayat kedua
untuk melihat apakah pelaku meninggalkan huruf,
dan kau yang terbaik di bidang ini.
Cukup bicaranya.
Kau membutuhkan itu, bukan?
Ya, itu.
Apa itu?
Aku butuh waktu untuk bersiap.
Kau pasti sudah tahu itu.
Aku percaya padamu.
Apa yang akan kalian lakukan?
Kami...
- akan menggali makam. - Apa?
Kalian akan menggali makam?
- Kenapa? - Kami harus dapatkan mayatnya.
Tak pernah kutemui orang yang berpikiran sama!
Ini membuatku senang.
Aku tak bisa melakukan itu.
Tuan.
Kami periksa daftar keluarga area timur
dan kerucutkan ke orang yang seumuran dengan korban.
- Sudah beri tahu petugas keamanan? - Ya.
Kami akan bertemu dengan para prajurit dan memulai patroli.
Baiklah.
Tuan Muda Kim dari Manyeondang menantikanku.
Seperti apa dia?
Dia terlihat konyol di luar, tetapi aku bisa tahu kalau dia genius.
Asisten barunya juga tampak berguna.
Dia cepat dan cerdas.
Kau belum pernah bertemu dengannya, Yang Mulia?
Aku hanya mendengar banyak rumor.
Kupikir bisa percaya dia, maka kukirim panah yang mengenaiku lewat Tae-gang,
dan dia langsung tahu kalau itu dariku.
Kami akan menggali mayatnya saat matahari terbenam besok.
Akan kuutus satu orang untuk menemanimu.
- Satu orang lagi? - Ya.
Siapakah itu, Yang Mulia?
Aku tak tahu
bagaimana menggambarkan dia.
- Cendekiawan Park dari Namsangol? - Matahari akan terbenam. Di mana dia?
Siapa dia?
Kau akan tahu begitu bertemu dia. Dia selalu menarik perhatian.
Dia tinggi dan tampan sampai-sampai orang tak bisa berhenti memandanginya.
Yang Mulia bilang dia tampan.
Kenapa butuh orang tampan untuk menggali mayat?
Aku benci cendekiawan yang berpikir bisa selalu lolos
karena ketampanannya.
Bagaimana dengan kemampuannya?
Dia mahir dalam sastra dan bela diri.
Dia juga talenta terbaik di Joseon yang bisa segala hal.
Kita bilang saja,
dia pria yang sempurna.
Yang Mulia bilang dia akan sangat membantu dalam penyelidikan.
Dia pasti cendekiawan yang hebat.
Aku penasaran sehebat apa dia
sampai berpikir tidak apa-apa terlambat.
Apakah itu dia?
- Itu Cendekiawan Park. - Jelas Cendekiawan Park.
Wajahnya berbinar.
Aku bisa tahu dari jauh.
Aku bisa tahu dengan mata tertutup!
Senang bertemu denganmu.
Aku Kim Myeong-jin, pemilik Manyeondang, laboratorium itu.
Aku banyak mendengar tentangmu.
Orang-orang di Namsangol tahu tentangku?
Ternyata ketenaranku tak mengenal batasan.
Apakah kau bersama orang lain?
Kau sungguh sendirian?
Yang benar saja, Kasim Go?
Dia jelas Cendekiawan Park.
Dia seperti yang digambarkan Yang Mulia.
Aku murid magang...
Guru Kim.
Senang bertemu denganmu.
Maka kau pasti Go Sun-dol, kasim Istana Timur.
Senang bertemu dirimu. Aku Cendekiawan Park dari Namsangol.
Ya, Tuan.
Aku Kasim Go Sun-dol.
KASIM GO SUN-DOL ISTANA TIMUR
ADALAH PRAJURIT YANG DIBAWA PANGERAN HWAN KE AREA BERBURU
DIA BUKAN KASIM
Apa maksudmu Yang Mulia tak ada di sini?
Aku datang karena dia juga tak menghadiri kelas hari ini.
Dia bilang ada di perpustakaan untuk membaca.
Saat ke perpustakaan, dia biasanya mengunci pintu dan membaca semalaman.
Dia memerintahkan kami tetap di sini.
- Bagaimana dengan Kasim Go? - Di perpustakaan bersama Yang Mulia.
Dia mengajak Kasim Go karena Kasus Mata Angin.
Sepertinya banyak yang dipikirkannya karena itu.
Jagalah dia dengan baik.
Tentu, Ratu.
Itu sungguh menyebalkan.
Tak kupercaya Ratu pun tahu Go Sun-dol.
Kami pasti akan menemukan pembunuhmu...
jadi kau bisa beristirahat tenang.
Bertahanlah di sana.
Sedang apa kau?
Galilah. Kita sudah tuang alkohol, jadi galilah makamnya.
- Aku? - Lalu apakah harus aku
padahal punya murid magang?
Namun...
Ya, ampun.
Guru yang dahulu kulayani sama sekali tak sepertimu.
Dia kerjakan semua pekerjaan kotor bersama dan banyak yang bisa dipelajari darinya.
Saat punya banyak guru, kau akan belajar banyak hal.
Jika sanggup untuk bicara, mulailah menggali.
Dan sekop satunya...
Cendekiawan Park, apakah kau tak punya pelayan atau murid magang?
Kau akan menggali?
- Siapa? Aku? - Ya.
Kenapa kau melihatku?
Aku bahkan belum pernah menyentuh itu.
Itu namanya sekop.
Tentu saja, aku tahu itu.
Kau belum pernah menggunakan sekop?
Ambil saja sekopnya dan mulai menggali. Tak ada lagi yang bisa.
Banyak yang harus kukerjakan begitu mayatnya sudah digali
dan dia dari istana.
Dia melayani Putra Mahkota, calon raja Joseon.
Jadi, hanya tersisa kau.
Bagaimana menurutmu, Kasim Go?
Yang Mulia bilang
kau orang yang punya banyak bakat dan sangat ahli.
Jadi, kau juga pasti mahir menggali.
Tidakkah itu benar?
Ayolah, Cendekiawan Park.
Ini, ambil sekopnya.
Mulailah menggali. Ayo.
Astaga.
Astaga, pakai tenagamu!
Memang!
Berdasarkan kecepatanmu,
butuh tiga bulan dan sepuluh hari menggali makamnya.
Sudahlah.
Biar kulakukan sendiri.
Kasim Go.
Kukira kau cuma mahir mendeduksi, ternyata juga menggali.
Selain bagi para korban,
memecahkan kasus ini mungkin paling penting bagiku.
Akan kupecahkan tak peduli apa pun.
Menggali makamnya? Mereka sungguh pergi menggali mayatnya?
Orang-orang melihatnya pergi bersama beberapa orang mencurigakan.
Bawakan kuda. Aku harus menuju ke timur.
Kabar baik.
Berkat udara dingin, mayatnya tak terlalu membusuk.
Luka di dada jelas penyebab kematiannya.
Pasti ada huruf di tubuhnya.
Lihatlah baik-baik.
Aku tak melihat huruf apa pun.
Itu mustahil.
- Aneh. - Ada apa?
Aku yakin dia tewas karena luka di dadanya...
Ada apa?
Saat tertusuk, kulit serta daging cenderung menyusut dan darah menyembur.
Seperti dada sebelah sini.
Namun, saat kau ditusuk setelah mati, tak ada darah atau penyusutan.
Karena tak ada darah,
lukanya seperti yang satu ini.
Jadi, dia ditusuk di dada
dan ditusuk lagi setelah meninggal?
Aneh, bukan?
Kenapa dia ditusuk lagi...
padahal sudah tewas?
Bisakah kau membuka tangannya?
GA
Kudengar ini dianggap kasus perampokan. Itu kenapa tak diselidiki dengan baik.
- Apa yang tertulis? - "Ga", berarti "keluarga".
Huruf dalam kasus pertama adalah "song".
Huruf ketiga adalah "myeol".
Jadi, jika diurutkan...
Song...
Ga...
- Myeol. - Kehancuran bagi Keluarga Song.
Pelaku mau menghancurkan Keluarga Song.
Siapa di dalam Keluarga Song?
Kenapa mau dihancurkan? Apa salah mereka?
Bisa berarti satu orang dari keluarga itu atau seluruh keluarga.
Dendamnya pasti besar melihat bagaimana dia
membunuh tiga orang untuk mengutuknya.
Namun, kita tak tahu apa huruf berikutnya.
Jadi, arti huruf-huruf ini bisa berubah tergantung pada yang berikutnya?
Bukankah begitu? Harus tahu akhirnya untuk tahu artinya.
Apakah kau tahu kira-kira apa huruf berikutnya?
- Astaga, Guru! - Aku...
Sekarang bukan saatnya.
Kami belum mengetahui apa pun.
Astaga, tak perlu menyalahkan perutmu.
Kurasa kita semua lapar setelah bekerja keras tadi.
Saat kita kembali ke ibu kota,
sudah lewat jam malam. Apakah akan tak apa-apa?
Aku punya caranya.
Jangan khawatir.
- Ini pesanannya! - Permisi!
Makanlah.
Aku datang!
Tuan Muda!
Selamat datang!
- Ada meja untuk empat orang? - Tentu saja.
Halo.
Kudengar suara gongnya. Bukankah sudah lewat jam malam?
Ayolah, apa artinya hidup tanpa risiko?
Membuka kedai pada jam ini melanggar hukum.
Bagaimana kita bisa ikuti semua hukum?
- Itu menyesakkan. - Sungguh arogan.
- Hukum untuk ditaati. - Kau besar di keluarga bangsawan?
Ayahku hanyalah perdana menteri.
Jadi, muridmu mirip denganmu.
Lalu apa yang mau kaulakukan? Kelaparan karena hukum?
Ini sup kalian.
Tampak sangat enak!
Para tuan muda, selamat menikmati.
Terima kasih.
Yang mau kelaparan silakan saja.
Aku akan menikmati ini.
Enak sekali.
Makanlah.
Orang-orang di Joseon banyak memakan ini.
Lezat.
Mereka tak berikan pisau.
- Apa yang... - Dia tak akan lakukan itu
kalau tak mengindahkanmu.
Mengindahkan? Apa itu?
Peduli atau perhatian terhadap seseorang.
Astaga, aku iri padamu, Cendekiawan Park.
Boleh aku minta?
Tentu.
Kau melihatnya?
Dia tak mengindahkanku.
Benar.
Aku tak memberikan kimchi ke sembarang orang.
Itu dari hatiku.
Bagaimana rasanya?
Enak.
Dengarkan!
Ini bukan minuman beralkohol biasa.
Ini melambangkan keramahan Joseon.
Astaga, kau tak perlu melakukannya.
Bagaimana tikusnya? Sudah lakukan yang kubilang?
Tikus di langit-langit...
sudah sangat tenang, Tuan Muda.
Bagus. Terima kasih minumannya.
Beri tahu aku kalau mulai mendengar tikus lagi.
Ya, Tuan Muda.
Terima kasih.
Ini, minumlah.
- Minumlah. - Terima kasih.
Ini.
Dan segelas untuk Myeong-jin.
Baiklah, untuk persahabatan!
Untuk keluarga!
Untuk cinta!
Apa?
Aku harus bilang sesuatu?
Persahabatan, keluarga, dan cinta. Menurutmu berikutnya apa?
Apa? Beri tahukanlah, akan kulakukan.
Kalau begitu, kau lebih dahulu.
- Persahabatan. - Keluarga.
Untuk cinta!
Bersulang!
Kau benar-benar minum? Tak berpura-pura?
- Kau tahu cara minum-minum? - Itu untuk orang, kenapa tidak?
Namun, kau...
- Kau... - Seorang kasim.
Seorang kasim yang suka minum-minum.
- Ini, minumlah lagi. - Dengan senang hati.
Aku mau segelas.
Minumlah.
- Bersulang! - Bersulang!
- Makanlah. - Terima kasih.
Siapa yang mengajarimu minum?
Tak ada yang mengajariku.
Joseon tak pernah mengajari wanita apa pun.
Tunggu, ada. Kami diajari cara menjahit dan memasak.
Lalu bagaimana kau tahu cara minum-minum tanpa diajari?
Kau hanya perlu menuangnya, mengangkat gelas,
putar pergelangan tangan, tuangkan ke mulutmu,
dan menelannya.
Kenapa orang harus mengajarimu itu?
Pernah dengar tentang etiket minum?
Ada aturan dan hukum tertentu...
Apa gunanya semua itu?
Saat minum-minum, alih-alih mengikuti aturan,
mengobrollah saja dan habiskan waktu dengan orang.
Itulah kesenangannya.
Aku mengajari diriku sendiri.
Semenyenangkan apa pun minum-minum,
itu bukan seluruh hidupmu.
Begitu selesai minum-minum,
hidupmu masih menanti.
Kau memikirkan pembunuhan keempatnya.
Aku tak bisa berhenti pikirkan huruf terakhir.
Bagaimana kau bisa menghafal seluruh almanak?
Almanak adalah dasar pertanian.
Orang menganggapnya sebagai pedoman hidup, jadi tentu saja harus kubaca.
Menurutku almanak memang penting,
tetapi tanggal baik dan tidak baik itu seperti mitos bagiku.
Kau bisa berpikir begitu kalau tak tahu.
Namun, jika kau mempelajari almanak, kau akan melihat itu mencakup
pemeliharaan alam dan empat tingkatan kehidupan.
Empat tingkatan kehidupan…
Meski itu dipakai untuk kejahatan...
- Apa yang kau… - Diamlah!
Mereka prajurit yang berpatroli.
Namun, apa harus sembunyi begini?
Jika tertangkap, kita dicambuk. Tahu betapa sakitnya itu?
Apakah aku harus tahu?
Kaupikir aku akan dicambuk?
- Apakah kau tahu apa itu petak umpet? - Aku mungkin tak tahu kehidupan di luar,
tetapi aku tahu apa itu.
Kita main petak umpet, tak boleh ketahuan.
Yang ketahuan akan disentil.
- Kau akan menyentil putra mahkota? - Maka jangan ketahuan.
Tidakkah jantungmu berdebar-debar?
Memangnya kenapa jantungku berdebar-debar? Tidak.
Jantungku berdebar-debar.
Saat ketakutan, jantungku berdebar-debar,
tetapi biasanya setengah takut dan setengah antusias.
Aku suka saat jantungku berdebar-debar.
Jantungku berdebar sangat cepat saat ini.
Guru.
Guru, bangunlah.
- Sudah sampai. Jangan tidur di sini. - Jangan ganggu aku.
Kau akan ditangkap di depan rumahmu.
Guru.
Myeong-jin.
- Myeong-jin. - Tidak!
Aku tak mau pergi.
Permisi.
Tuan Muda Kim ada di sini.
Bisakah seseorang keluar?
Permisi!
Jangan berisik!
Tuan Kim belum tidur!
Kau membawa Tuan Muda Kim kemari?
Tuan Muda Kim!
Sedang apa? Bantu aku!
Tuan Muda!
- Naikkan ke punggungku. - Apa?
Berat sekali.
Bagaimana cara menaikkannya?
Hati-hati.
Sepatunya!
Dia mabuk lagi?
Sebanyak apa dia minum-minum?
Tidak banyak. Hanya sedikit, Tuan.
Siapa kau?
Aku belajar di bawah bimbingan Tuan Muda Kim.
Dan kaubiarkan dia minum sebanyak itu?
Maaf.
Astaga...
Kubilang jangan biarkan dia masuk kalau datang mabuk.
Kenapa membawanya kemari?
Sudahlah, Kak.
Dia mungkin payah, tetapi dia adik kita.
Kalau kita biarkan dia di luar, itu membuat malu keluarga.
- Baringkan dia. - Ya, Tuan.
Dan kunci pintunya agar dia tak bisa pergi!
Awas kepalanya.
Bukankah mereka keluarganya?
Kenapa mereka semua menganggap dia payah?
Kau tak tahu siapa ayahnya?
Dia hanya melayani satu orang. Dia perdana menteri.
Anak pertamanya bekerja di Kantor Sensor, anak keduanya di Akademi Nasional.
Namun, anak bungsunya hampir tak masuk Akademi Nasional
dan akhirnya dikeluarkan.
Pantas saja dia marah.
Tolong buatkan
sup pengar untuk Guru Kim.
Sup pengar? Dia akan sudah beruntung mendapatkan nasi.
Apakah kau tahu semengerikan apa ibunya?
Untunglah dia tidur cepat hari ini.
Besok, Tuan Muda Kim
akan bangun dengan dipukul sapu.
Apa?
Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku.
Guru Kim
orang yang luar biasa. Mereka hanya belum tahu.
Tidakkah tak nyaman melawan Seong-on?
Akan menyenangkan tak bertemu seperti ini,
tetapi aku tak punya pilihan.
Tak kuanggap ini sebagai kompetisi.
Semua berusaha dengan caranya
untuk mencegah orang tak bersalah dibunuh dan menangkap pelakunya.
Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, Yang Mulia.
Bagaimana menurutmu Kepala Bagian Han?
Aku merasa ini bukan sekadar menguji kemampuanku.
Rasanya kau
seperti menguji kesetiaannya juga.
Bukan begitu.
Aku mengagumi kemampuan, kecakapan, dan kesetiaannya.
Apakah karena surat hantu itu?
Bung-ja-bae-do, woo-ja-hyang-geom.
Man-eok-dang-eon, yin-yeo-ji-woo.
"Sahabatmu akan menikammu dari belakang
dan banyak orang akan tewas karena kebodohanmu."
Itukah kenapa kau menjaga jarak?
Kau khawatir dia mungkin menikammu dari belakang
dan dia bisa terbunuh...
karena dirimu?
Utusan itu dibunuh.
Itu salahku.
Kalau tak kuutus, dia tak akan tewas.
Dan...
kau juga menyalahkanku membuat keluargamu tewas.
Aku tak tahu kau terus mengingat itu.
Aku hanya mengatakannya karena takut...
kau akan mengusirku.
Itu bukan salahmu.
Kurasa Seong-on belum pulang.
Tidakkah menurutmu tanggalnya aneh, Kepala Bagian Han?
Alasan pelaku menorehkan huruf itu dengan mengambil risiko
adalah motif pembunuhan ini.
Masuklah.
Apa? Kenapa aku mau masuk ke sana?
Dia mungkin kesal karena
aku membuatnya bersaing dengan kasim.
Dan mungkin banyak yang dipikirkannya karena kau, tunangannya.
Apa yang bisa kukatakan kepadanya?
- Kau seharusnya masuk dan menghibur. - Apa?
Bukankah kau juga mengkhawatirkan dia?
Pergilah menghiburnya.
Apa yang kau...
Yang Mulia.
- Apakah kau bepergian dengan menyamar? - Ya.
Sedang apa kau di Departemen Perang semalam ini?
Apakah karena Kasus Mata Angin?
Aku...
Aku hendak mengunjungimu esok pagi.
Ini adalah kompas.
Itu salah satu barang yang dijual orang
dari Kantor Taoisme.
Lalu kenapa kaubilang tak temukan apa-apa?
Kau tahu pemilik ini?
Ini pasti milik ayahmu.
Perdana Menteri Han Jung-eon.
Itu bukan milik ayahku. Ada orang lain yang...
Diberikan kepada yang lain saat utusan Dinasti Ming berkunjung dua tahun lalu.
Kita harus melakukan apa?
Sekarang kau bertanya kepadaku.
Kau berani berbohong kepadaku
dan kini bertanya harus apa setelah tahu ini bukan milik ayahmu?
Aku hendak menemuimu begitu menemukan kompas itu.
Namun, kau tak memberitahuku.
Kupikir harus periksakan dahulu dengan ayahku sebagai anak.
Namun, sekalipun itu milik ayahku, akan kuberi tahu yang sebenarnya.
Kau sungguh berpikir begitu?
Sungguh?
Kalau ayahmu macam-macam dengan doa itu, apa yang akan terjadi kepada keluargamu?
Apakah menurutmu akan kututupi? Itukah yang kaukhawatirkan?
Yang Mulia, bagiku...
sebelum menjadi Putra Mahkota...
kau adalah temanku.
Kalau kita teman...
Kalau aku memang temanmu,
apa yang seharusnya kaulakukan?
Tak bisakah kau memahami kesedihan
yang kurasakan saat mengetahui ayahku sendiri...
mungkin terlibat? Kenapa aku enggan?
Sekalipun aku ragu-ragu...
Sekalipun itu milik ayahku,
aku akan selalu di pihakmu.
Kau sungguh tak memercayaiku?
Aku...
Apakah karena surat hantu itu?
Kau khawatir dia mungkin menikammu dari belakang
dan dia bisa terbunuh karena dirimu?
Saat menjadi Putra Mahkota,
kuputuskan melepas semua persahabatan.
Namun, aku akan mengingat ucapanmu malam ini.
Kaubilang akan berada di pihakku
sekalipun kompas ini milik ayahmu.
Jangan lupakan itu.
Siapa itu?
- Kepala Bagian Han, kau masih di sini. - Ada apa?
Dia berada di luar setelah jam malam, bahkan mengintai,
jadi kami tangkap.
Hentikan sekarang juga!
Kau...
Ya, Tuan, aku Kasim Go.
Kami tahu siapa dia. Kalian boleh meninggalkannya.
Kau bepergian menyamar bersamanya, bukan bersama Tae-gang?
Ada yang harus kami tangani. Aku harus pergi.
Kau boleh menyentilku.
Siapa pun yang ketahuan disentil. Ingat?
Aku tak suka
menyentil orang.
Jangan menyesalinya.
Para menteri keenam biro dan tiga badan sensor...
Siapakah pemilik kompas ini?
Pangeran Myeong-ahn selalu meminta camilan malam di istana Ratu.
Benar, bukan?
Dia selalu makan camilan sekalipun sedang belajar.
Andai dia banyak belajar.
Lihatlah Yang Mulia. Dia mahir dalam sastra dan bela diri.
Kau tak lihat dia bermain kayu? Bagaimana dia bisa payah dalam semua?
Bahkan Pangeran Ui-hyeon yang sudah meninggal pun sangat pintar.
Pangeran Myeong-ahn lahir dua bulan sebelum waktunya.
Mungkin dia kurang cerdas
- karena dua bulan itu. - Yang benar saja?
Berani-beraninya kalian?
Beraninya kalian membicarakannya dengan mulut kotor kalian?
Ampunilah kami.
Kalian berani
menghina Yang Mulia?
Ada apa di luar sana?
Itu Tuan Cho...
Paman?
Ampunilah kami.
Kalian sungguh berpikir akan kuampuni setelah itu?
Kami sangat bersalah.
Paman, ada apa? Kumohon tenanglah.
Hajar dan usir mereka!
Ya, Tuan.
Pastikan mereka tak menginjakkan kaki di istana!
Apakah kau terkejut, Yang Mulia?
Paman, kenapa kau sangat keras terhadap mereka?
Mereka mungkin dayang, tetapi mereka baru berusia 14 tahun.
Mereka harus dihukum kalau berbuat salah.
Dengan begitu, mereka tahu cara menghormati kita.
Yang Mulia,
hingga sekarang, aku selalu menganggap diriku kakekmu.
Ya, aku tahu.
Dan aku tak menganggapmu keponakanku.
Aku menganggapmu putriku.
Aku tahu, dan aku amat berterima kasih.
Kalau ada yang menjelekkanmu, aku tak akan membiarkannya.
Sekalipun orang bilang kau bodoh,
jangan biarkan itu memengaruhimu.
Kau mengerti?
Ya, Kakek.
Sudah malam.
Dayang Han, kau di sana?
Ya, Yang Mulia.
Kembalilah ke kamarmu, Pangeran Myeong-ahn.
- Dayang Kwon, tolong tinggalkan kami. - Ya, Tuan.
Paman, mengenai kejadian tadi...
Apakah para gadis itu membicarakan Pangeran Myeong-ahn...
Bukan begitu.
Jangan hiraukan ucapan para gadis rendahan.
Aku khawatir dadamu akan sakit lagi.
Kau hanya perlu memercayaiku.
Entah bagaimana aku bisa tahan hidup di istana
kalau bukan karena Paman.
Jangan bertahan menjalaninya.
Kau harus merasa nyaman di rumahmu sendiri.
Istana ini adalah rumahmu, Yang Mulia.
Dan bukan hanya kau.
Mulai sekarang,
anak-anak Pangeran Myeong-ahn kelak
akan makan, tidur, dan tinggal di sini.
Saat Pangeran Myeong-ahn menikah, dia harus pindah ke rumah pribadi.
Itu tak bisa terjadi, Paman.
Jika Pangeran Myeong-ahn pergi, aku akan di sini sendirian.
Itu tak akan terjadi.
Yang Mulia, sejak Joseon didirikan, putra mahkota sudah berkali-kali berganti.
Namun, tak semuanya menaiki takhta.
Mereka dibunuh, digulingkan, atau meninggal karena sakit.
Kau melihat kenapa ada banyak bunga
yang layu sebelum mekar.
Yang kumaksud Pangeran Ui-hyeon.
Yang terjadi kepadanya bisa terjadi kepada Pangeran Hwan.
Paman.
Dan yang lebih lucu lagi, negeri ini disebut Joseon.
Keluarga kerajaan dilarang berpolitik, kerabat pihak ibu boleh.
Karena kau menjadi ratu,
keluarga kita menjadi kerabat pihak ibu dan keluarga paling berkuasa di Joseon.
Karenanya...
tidakkah tepat Pangeran Myeong-ahn
naik takhta dan menjadi raja?
Yang Mulia, kau harus menjadi Ibu Suri.
Paman.
Jadilah nenek kerajaan dan Baginda Ibu Suri.
Jadilah wanita yang paling berkuasa di Joseon.
Aku akan memastikan itu terjadi.
Putra Mahkota...
akan digulingkan.
Bagaimana Paman bisa mengatakan itu?
Itu tidak boleh.
Aku akan pura-pura tak dengar. Tolong jangan berkata begitu.
Tidakkah Paman tahu istana mengerikan?
Kalau ada yang mengetahuinya,
kita akan dalam masalah.
Setelah mendengar ucapan Paman tadi…
Jangan mendengarkanku...
dengan setengah-setengah.
Begitu kuputuskan melakukan sesuatu,
tak akan bisa kembali.
"Song, keluarga, kehancuran."
Berikutnya apa?
Ayo, Jae-yi, kau bisa melakukan ini.
Kau bisa memecahkannya.
Pasti ada sesuatu yang kaulewatkan.
Orang menganggapnya sebagai pedoman hidup,
jadi tentu saja harus kubaca.
Namun, jika pelajari almanak, kau akan lihat itu mencakup
pemeliharaan alam dan empat tingkatan kehidupan.
Dia bahkan membaca buku ini demi orang-orang.
Mencakup empat tingkatan kehidupan?
Seolah dia tahu tentang hidup padahal tumbuh nyaman di istana.
Empat tingkatan kehidupan.
Saeng-ro-byeong-sa.
Saeng-ro-byeong-sa!
Jadi, dia ditusuk di dada dan ditusuk lagi
setelah meninggal?
Lansia tanpa ciri khas. "Ro" yang berati "tua".
Orang sakit. "Byeong" berarti "penyakit".
Ditusuk lagi setelah tewas.
Dia dibunuh lagi. "Sa", berarti "mati".
Kalau begitu, tersisa...
"Saeng", "kehidupan".
Seseorang yang hidup.
Seseorang yang baru mendapat hidup.
Orang yang akan lahir. Ibu yang mengandung!
Ada apa?
Ini aku, Kasim Go.
Apakah Kasim Soh di dalam?
- Boleh aku… - Tidak.
Kumohon, ini penting.
Ada apa ini?
Maaf, tetapi waktu sangat penting.
Yang Mulia baru saja tidur setelah membaca.
Itu...
Kita tak bisa membangunkannya, ya?
Apakah kau mau dihukum? Pergilah!
Kalau begitu, saat dia bangun, tolong katakan kepadanya
aku sudah mengetahui pola Kasus Mata Angin.
Sampaikan aku akan mencegah kejahatan lainnya!
Tolong sampaikan kepadanya!
Kepala Bagian Han!
Apakah itu Kasim Go dari Istana Timur?
Sedang apa dia di sini?
Kepala Bagian Han, ada yang harus kuberitahukan!
Aku sudah mengetahui polanya!
Dia hanya seorang kasim.
Jangan hiraukan dia.
Ini soal selamatkan nyawa.
Jika dia mau bicara, akan kudengarkan.
Apa pola yang kautemukan?
Sudah kuduga kau akan mendengarkanku.
Sekalipun aku hanya seorang kasim, aku tahu kau akan mendengarkan.
Katakan kepadaku.
Kalau bisa selamatkan nyawa, harus dilakukan.
Biarkan para prajurit di timur.
Kumpulkan selebihnya dan cari bidan untuk mencari tahu siapa akan melahirkan.
- Kalian harus bergegas. - Ya, Tuan!
Beri tahu petugas keamanan lalu ikut kami.
- Aku akan ke lokasi kejadian. - Ya.
Ayo pergi!
Aku akan ikut juga.
Menangkap pelaku dan menyelidiki sangatlah berbeda.
Kau sudah lakukan bagianmu, kembalilah ke istana.
Aku tahu ini berbahaya, tetapi aku bersikeras.
Kumohon jangan khawatir. Aku tak akan menjadi beban.
Berpencar. Satu kelompok ikut perwira pasukan, lainnya ikut aku.
Siap!
Kau tahu orang yang mau melahirkan?
Ada seseorang yang tinggal di sana.
Kau tahu orang yang mau melahirkan?
Entahlah.
- Ada yang hamil di rumah ini? - Tidak, Tuan.
Ada apa?
- Kepung rumah ini! - Siap!
Kita sampai di ujung barat ibu kota.
Tak ada jaminan kejahatannya akan di sini.
Ketiga pembunuhan sebelumnya
terjadi di ujung utara, timur, dan barat ibu kota.
Kemungkinan akan terjadi di sini.
- Di mana kaupelajari semua itu? - Apa?
Cara menyelidiki.
Itu bukan kemampuan yang biasa dimiliki kasim.
Kau juga tahu cara berkuda.
Kudengar ada wanita yang akan melahirkan di sini.
Dorong!
Hampir. Sedikit lagi.
Dorong!
Anak laki-laki.
Tidak!
Kenapa kau melakukan ini?
Harus kubunuh bayi itu...
untuk membalaskan dendamku...
Jawab aku!
Kau...
Bukankah kau syaman dari Kantor Syamanisme?
Kenapa seorang syaman...
Sun-dol.
Sun-dol, bangunlah.
Kau bisa mendengarku?
Buka matamu.
Bawa dia ke penahanan.
Apakah kau tahu siapa aku?
Yang Mulia.
Aku menyelamatkan seseorang.
Namun, kau terluka.
Kau seharusnya hati-hati.
Bagaimana kau bisa terluka?
Kau membuatku sangat ketakutan.
Keluargaku...
ataupun utusan itu tidak mati karenamu.
Jadi, bukanlah salahmu
aku terluka.
Tae-gang, di mana kau?
Tak perlu. Aku sendiri yang akan membawanya.
Yang Mulia, aku akan membawanya.
Yang Mulia, kenapa kau membawanya?
- Jangan. Berikan kepadaku. - Hentikan.
Dia kasim dari Istana Timur.
Aku percaya padanya,
jadi hanya aku yang boleh menyentuhnya.
Tidak bisakah kau melihat kalau Yang Mulia bahkan tak memercayaimu, sahabatnya?
Saat menjadi Putra Mahkota,
kuputuskan lepas semua persahabatan.
- Jangan. Berikan kepadaku. - Hentikan.
Aku percaya padanya...
Aku percaya padanya,
jadi hanya aku yang boleh menyentuhnya.
MASA MUDA KITA YANG MEREKAH
Bukan pembunuhan sederhana.
Ada hubungan dengan kematian Master Min?
Harus temukan pelaku sebenarnya.
Satu-satunya cara menyucikan seseorang dari semua kejahatan itu adalah kematian.
Kau pasti ketakutan.
Tentu saja Go Sun-dol tidak nyata.
Tak ada yang tahu?
Aku akan di sisimu, Yang Mulia.
Apakah semua yang dikatakannya kepadaku adalah bohong?
Ripped and resynced by YoungJedi
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.