Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ya, aku tahu itu penting.
Aku tak rencanakan trip ini.
Tenanglah.
Kita sudah dapatkan mereka.
BERHENTI - PERLINTASAN KERETA
Tuhan adalah gembalaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar
oleh karena nama-Nya. Sebab Engkau besertaku,
dengan gada-Mu dan tongkat-Mu.
Aku tidak takut bahaya.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku.
Kini pemakaman ayahku dan aku terlambat.
Tapi aku tak pernah melanggar lalu lintas.
Demi roh ayahku, semoga dia tenang, bantulah aku.
Baik, sebentar.
Aku tahu sedikit trik, kita lihat.
Kau memang beruntung.
Bisa jadi sudah lewat atau hari ini takkan lewat.
Bagus! Ayo!
Ayo.
Lihat, Tuan?
Kereta lewat.
MÓNICA ZAVALA DE ANDA JUNI 1995
Ayahku suka bilang,
baginya upacara pemakaman membosankan.
Dan entah kenapa
dia punya ide aku yang harus berpidato.
Jika sudah menetapkan sesuatu,
dia tak akan berubah pikiran.
Di sinilah aku.
Meskipun begitu, dia itu...
Berengsek!
Saat pemakaman Ayah pun kau tak bisa tepat waktu.
Ini Meksiko! Ada kereta lewat, jangan salahkan aku.
Kau ini kenapa?
Saudaraku!
Yesus berkata,
"Siapa pun menampar pipi kananmu, beri pipi kiri."
Gabo!
Lukas 6:29.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Satu, dua, tiga!
Bagaimana?
Kau pasti tak mengira.
- Hati-hati, jangan jatuh. - Nanti aku menabrak!
- Ya! - Oper!
Oper, Gabi!
Fer! Bagus, kosong!
- Ya! - Bolamu!
Gol!
Menggerakkan infusinya secara otomatis.
Hebat! Dari mana dia dapat kecerdasannya?
- Selamat. - Terima kasih.
- Kami menang, Ayah! - Selamat, Juara!
Kita menang!
Hebat!
Ini apa?
- Paham? - Ya.
Ini gambar eksklusif.
Tunggu sampai PR selesai. Jangan diganggu.
Inilah dua calon peraih Nobel sedang mengerjakan PR.
Satu, dua, tiga!
Bagaimana? Kalian pasti tak mengira.
Aku mau yang itu.
Ya sudah. Berikan padanya.
Kau memang anak baik!
Bilang ayahmu.
Kau suka?
Ya.
Kita berhasil!
Ya, Sayang, kita berhasil.
MÓNICA ZAVALA DE ANDA (1949-1995)
Baik, Anak-anak.
Kini kita bertiga. Kita harus lanjutkan hidup.
Jangan di dalam sini terus! Matikan!
Fer, perhatikan!
Fer! Konyol! Bisa-bisanya kau terpikir itu.
- Jangan cemberut, Fer! - Aku bosan.
Kau sendiri yang mau ikut.
Dan kau, Sayang?
Sedang apa?
Memperbaiki knalpot.
Apa sulitnya memasukkan abu Ayah ke dalam guci?
Kita bisa lakukan di akhir pekan.
Turun.
Baik.
Kau sempat berpamitan?
Gabo!
Ini seperti museum!
Museum kelas menengah di San Miguel era 1980-an.
Juallah tiket.
Cari keuntungan.
Gabo?
Tak mungkin!
Ini kulkas yang dulu?
Seharusnya diganti.
Pintu belum kau tutup.
Santai saja!
Sial!
Keren sekali.
Aku juga lihat lampu-lampu kecilnya, keren.
Masih jual itu?
Kau sungguh tak mau menjawab?
Bukan salahku, Gabo!
Penerbangannya tertunda.
Bandara di Meksiko memang kacau.
Di Singapura, jika terbang tak tepat waktu, pilot dihukum.
"Tenang saja, Kak.
Yang penting kau sudah di sini.
Mau bir?" "Terima kasih, Dik. Bersulang."
Kapan kau pergi?
Besok pagi.
Jadi, untuk malam ini kita akur saja.
Besok saja marah padaku.
Ayolah, Gabo.
Aku tak suka kau panggil Gabo.
Hei.
- Beto tak ada di pemakaman. - Dia tak datang.
Tapi dia kirim bunga.
Ke mana pemanggang roti dariku?
Kau tak bilang terima kasih, tak apa.
Ya.
Awet lebih lama, dibanding pernikahanku.
Tapi dia tak bisa diandalkan.
Tiap dia gagal, aku teringat padamu.
Dasar Beto.
Selingkuh dengan Alicia Plancarte.
Berengsek.
Ya.
Kau sendiri?
Berapa wanita yang sudah kau selingkuhi?
Kapan? Mana sempat!
Aku selalu di kantor.
Aku pun baru tahu apartemenku ada balkon setelah sebulan.
Jangan menyebalkan.
Tidak, aku serius!
Pekerjaanku sungguh padat.
Kami ada klien yang sangat penting,
aku diminta cepat kembali, tapi...
Kau bagaimana?
Masih di bengkel?
- Kenapa tanya? Kau tahu aku. - Hei.
Mungkin saja pekerjaanmu berbeda.
Kubayangkan pasti berat, ya?
Pada akhirnya, aku tersiksa.
Sial, gudang itu.
Kita lihat.
ROBOT INFUSI
Lihat ini!
PINGPONG - JUARA SATU
TURNAMEN PINGPONG JUNIOR BERAKHIR
Gabriela!
Gabo! Ke sini!
Astaga!
Apa?
Nanti diprotes tetangga.
Biar saja, kita sedang berduka. Ini...
Tidak. Aku tak mau main.
- Kita main. - Sudah malam.
Lalu kenapa? Ayo bertaruh, supaya seru.
Kau selalu kalah taruhan.
Aku pertaruhkan arlojiku.
- Itu? - Ya.
Jam plastik yang kau beli di pasar loak.
Ini edisi terbatas.
- Kapan kau terakhir main? - Sejak kau pergi.
Benarkah?
Ayo main.
Bantu aku.
Siap?
Kau payah!
Tunggu, aku sudah lama tak main.
Orang Tionghoa sering main, 'kan?
Singapura bukan Tiongkok.
Baik, bersiaplah.
Yang dapat 20 poin lebih dahulu, menang.
Mulai.
Siap?
Baik.
Mulai.
Minum lagi.
Berapa skornya?
Bersulang.
Bolanya keluar!
Ayo.
Berengsek.
Terima ini.
Sini.
Bersulang!
Tak ada bola lagi.
Mustahil.
Mustahil, Gabo!
- Sedang apa? - Lihat!
Ingat ini?
Mustahil! Kita lihat.
Ayo buka!
- Mau buka? - Ayo!
Ayo.
- Buka. - Ya.
Lihatlah!
Yang benar saja.
- Peraturannya. - Ya.
"Peraturan".
"Peraturan nomor satu.
Medina bersaudara berikrar untuk melakukan perjalanan
saat menginjak usia 18 tahun."
Astaga!
Tenggatnya sudah lewat.
- Kau lebih lewat dari aku. - Hei.
"Peraturan nomor dua.
Perjalanan dimulai dari pusat sejarah San Miguel de Allende
dan akan dianggap berakhir
setelah mereka mencapai Acapulco dan pipis di laut untuk pertama kalinya."
- Jorok! - Apa?
Itu tindakan simbolis.
Yang kumau itu Veracruz sebab lebih dekat, tapi kau...
Acapulco keren!
Hanya karena Luismi.
Ya, karena video Luismi.
Entah, semua syuting opera sabun Meksiko di sana, 'kan?
100 KM/JAM
Tak mungkin, Gabo.
Kapan kita buat ini?
Sebelum Ibu wafat.
Kita lumayan jago.
Karena aku yang buat.
Yang benar saja!
"Peraturan nomor tiga.
Selama perjalanan,
mereka harus bergantian
melakukan permintaan masing-masing,
tanpa terkecuali.
Yang termuda dapat giliran pertama."
Ya, kau yang tulis ini.
"Satu-satunya kegiatan yang mereka janji untuk ikuti bersama
adalah menyantap semua menu layanan kamar hotel."
Rakus. Pastinya!
Ayah tak mengizinkan kita membuka kulkas kecilnya.
Sembilan puluh peso hanya untuk air botol kecil. Tak mau!
Benar, itu mahal.
"Peraturan nomor empat.
Perjalanan dilakukan naik motor."
Lihat.
Ke mana motor-motornya?
BENGKEL OTOMOTIF
Lihat!
Benda kuno lagi.
Dalam hidup tak semua bisa dibuang, Nak.
Mustahil.
Tidak mungkin!
Aku ingat saat Ayah berikan pada kita.
Dulu aku mau trek balap.
Dia memberi yang diperlukan, bukan yang diinginkan.
Ini masih berfungsi?
Tentu saja!
Tidak mau.
Mau jadi apa aku?
Lehermu bisa patah jika terus-menerus bersikap konyol.
Polisi tidur!
Ini terasa...
Tunggu!
Astaga!
Kau memang gila.
Gabo,
lihat kita di mana?
Pusat sejarah ini memang indah, tapi ayo pulang saja.
Tidak. Di sinilah perjalanannya dimulai.
Ya, benar.
Kau dan aku, ke Acapulco.
- Kau mabuk. - Tapi ide bagus, 'kan?
Tidak!
Kau besok pergi, dan aku banyak pekerjaan.
- Tak bisa. - Gabo.
Kita berjanji 20 tahun lalu.
Benar.
Kau tak bisa menghapus 15 tahun,
kembali, lalu membuat kekacauan.
Beri satu alasan.
Aku lupa apa sudah mematikan lampu.
Aku serius.
Beri satu alasan untuk aku tinggal.
Acapulco!
Kami datang!
Ayo!
Sial!
Fernando!
- Kau tak apa? - Apa yang terjadi?
Apa yang terjadi?
Aku cuma terpejam sebentar.
Kau juga mabuk, Sayang.
Kau masih utuh?
Sepertinya.
- Semua aman? - Ya.
HOTEL JURICA HACIENDA OLEH BRISAS
Pagi, selamat datang.
Selamat pagi, ini.
- Ya - Terima kasih.
- Mari. - Terima kasih.
Selamat datang.
- Mobil Anda, Tuan? - Ya.
Segera kami bawakan.
Kau tak memesan yang lain?
Sepertinya itu tak cukup.
Aku harus jaga makanan.
Apa? Perutku tidak terbiasa.
Kata orang yang melahap dua kantong Cazares dan Miguelito.
Itu dulu.
Sekarang di Singapura, sarapanku cuma ikan dan nasi.
- Astaga! - Apa?
Singapura negara kedelapan tersehat di dunia.
Apa pengaruhnya?
Kau sepertiku, bisa makan apa pun dan tidak gemuk.
Aku harus olahraga kardio dua jam setiap hari.
Bagaimana kau bisa makan semua itu dan tetap sehat?
Aku seperti lobster.
Semua daging ada di ekorku.
Tapi jujur, pria lebih mudah.
Saat wanita berusia 35 tahun, semua jadi kendur.
- Sudahlah. - Anak-anak jadi alarmku.
Mereka memanggilku "nyonya".
Tak pernah "nona", tak sengaja pun tidak.
Kau membuat stres dirimu sendiri...
Tunggu.
Halo?
Maaf tak menelepon. Kumohon, jangan kesal.
Ya, aku tahu itu penting.
Ayahku wafat.
Minta mereka menunggu!
Maaf.
Ya.
Baik. Beri aku waktu untuk mengurusnya.
Halo?
Halo?
Keparat kau!
Maaf.
Semua baik saja?
Klien marah dan para keparat itu tak bisa menunggu.
Sial.
Setelah makananmu habis, kita kembali ke San Miguel.
Apa?
Apa?
Perjalanannya?
Gabriela, aku tak bisa berlibur sesukaku.
Mereka butuh aku.
Ini idemu.
Aku mabuk, larut dalam nostalgia.
Gabo.
Sumpah kita akan lakukan perjalanannya nanti.
Baik.
Lima belas tahun lagi?
Gabriela, cobalah realistis.
Tak ada pakaian,
aku tak bawa vitamin, maksudku...
Aku pergi sendiri saja.
- Apa? - Jika tak sekarang, takkan pernah.
Tidak. Dengar, Gabo...
Tunggu dulu!
Gabriela!
Tunggu dulu.
Kau tak bisa pergi sendiri.
- Tak bisa? - Tidak.
Kau yang bilang, aku menganggur di San Miguel.
Berbahaya sendirian di jalanan.
Yang benar saja!
Apa?
Sudah kuduga kau takut.
Maksudku...
Seperti kata Ayah, "Sampaikan apa adanya."
Omong kosong.
Kau tak berubah.
Selalu meninggalkanku sendiri.
Gabo.
Gabo!
PUNCAK BERNAL
Menjijikkan.
Kenapa toiletnya menjijikkan?
Di Singapura, lantai toilet pun bisa dimakan.
Untuk apa memakan lantai toilet?
Itu cuma ungkapan.
Hei,
bokongmu tak sakit?
Tidak, jokku lebih empuk.
Bokongku jadi merah muda.
Tak apa. Pertama merah muda, melepuh, lalu terasa panas.
Bagus.
Ke mana sekarang?
Berulang kali kubilang,
"Pipis sebelum pergi supaya tak perlu berhenti."
Tadi belum terasa.
Sekarang terasa. Cepatlah.
Sudahlah. Kita takkan dapat medali meski tiba pertama.
Bukan itu intinya, Marisol. Anak-anak tak paham tanggung jawab, sial.
Astaga, usia mereka baru 11 tahun.
Hei! Kami tinggal kalau kalian lama!
- Aku bersama klub pipis... - Mirip Ayah.
- Kita sudah matikan lampu? - Kau yang bayar tagihan.
Jadi, ke mana?
Entahlah.
Bagaimana kalau Pameran Tequisquiapan?
Pameran?
Kau bisa katakan apa pun dan kau memilih pameran?
Pameran keju dan anggur.
Harus mulai dengan anggurnya. Itu mengubah semua.
Aku selalu ingin ke sana tapi tak pernah sempat.
Kenapa?
Entah, tak cukup waktu.
Kalau begitu, ayo.
Kita lihat Waze dulu.
Apa? Waze?
Waktu kita kecil, itu tak ada.
Lagi pula, itu tak ada di peraturan.
Tinggal ke kanan, beres. Ayo.
Baik.
- Siap? - Ya.
Wah.
Aku sangat menikmati
pamerannya.
Lihat Waze, tak ada ruginya.
Lihat.
Coba lihat.
Aku beli semua.
Coba lihat.
- Perlengkapan kebersihan lengkap. - Bagus.
Sweter Tequisquiapan untuk cuaca dingin.
Dan juga kaus.
Kita akan pakai itu? Tak dapat yang lebih bagus?
Aku tadi tanya apa ada
koleksi musim dingin-musim gugur, kata mereka tak ada.
Sial, sayang sekali.
Harus cermat dengan uang tunai. Di sini tak terima kartu.
Benarkah?
- Halo. - Hai.
- Minta Sala Vivé. - Baik.
- Terima kasih. Berapa? - Tiga ratus.
Ya.
Kukira aku punya...
Terima kartu?
Tidak terima kartu kredit.
- Halo. - Hai.
Kukira aku ada uang tunai, tapi...
Jangan cemas.
Maksudku, kutraktir jika kau mau.
Tidak. Kau gila? Terima kasih, tak usah.
Bisa terjadi pada siapa pun, 'kan?
Baik, aku minta tiga. Aku bercanda.
Ini aneh sekali.
Memang aneh, tapi tak apa. Ini uang kakakku.
Dia bekerja di bank di Singapura.
- Bank? - Ya.
- Sesekali bagus bank yang bayar. - Tentu!
Anggap saja aksi pemberontakan kaum pekerja.
Benar, bagus.
Lumayan.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Terima kasih, dan banknya di... - Singapura.
Singapura, benar.
Kubilang mereka kau terima kasih.
- Dia yang bayar. - Ya.
Baik, permisi. Terima kasih.
Dah.
Jadi, berapa?
Sudah dibuka.
Mereka masih marah?
Mereka bahkan tak kirim pesan. Mungkin mereka pikir aku di perjalanan.
Kau tak menghubungi mereka?
Lalu bilang apa?
"Aku di sini menikmati keju dan anggur dengan adikku"? Maksudku...
Sedang apa?
Tidak apa-apa.
Jangan menoleh.
- Siapa dia? Kau kenal? - Tidak. Jangan lihat ke sana!
Kau jelas sekali, jangan melihat.
Kenapa kau melihatnya?
Kau suka dia?
Dia tampan.
Jangan menoleh, jangan jelas begitu!
Dia bersama siapa?
- Dia... - Aku paham soal begini.
- Kurasa dia suka kau. - Sudahlah.
Pria terakhir yang kukencani itu Beto.
Di acara ultah Marianita Villareal yang ke-15.
Benarkah?
Kau pernah kencan dengan pria lain selain Beto, 'kan?
Maaf, aku tak mau jawab.
Aku khawatir padamu!
Sudah dua tahun kau bercerai. Atau tiga tahun?
Tiga tahun tak melakukan itu?
Rumahku di San Miguel, Fernando.
Sekali genit, esoknya muncul di koran.
Tak bisa langsung bercinta jika baru bertemu.
- Begini saja. Ayo. - Tidak! Kau ini kenapa?
- Akan terlihat jelas. - Giliranku. Lakukan perkataanku.
Tak mau sekarang.
Peraturannya jelas.
Peraturan harus ditaati.
Mau jadi apa kita?
Tunggu.
Cepat!
- Hai. - Apa kabar?
Maaf mengganggu.
Adikku dan aku bukan orang sini, kami mau minta saran.
Ya, mereka bersaudara.
Ya.
Sepupuku penasaran.
- Sepupu? - Ya, sepupu.
- Mau duduk? - Kami tak mengganggu?
Tidak. Silakan saja duduk di sini. Aku di sana.
- Sungguh? - Ya.
Baik. Lagi pula, kau yang bayar minuman ini.
- Dan bank di Singapura. - Ya.
- Mari. - Terima kasih.
Astaga!
Bukan apa-apa.
Adikku bisa saja belikan lagi,
tapi kami harus cermat dengan uang tunai. Benar, Gabo?
Ya, benar.
- Gabo? - Bukan, Gabriela.
Gabriela. Lalo.
- Terima kasih, Lalo. - Sama-sama.
Baik, aku ingin...
- Waktunya makan! - Coba lihat.
Luar biasa!
- Ini? - Bersulang!
- Bersulang! - Bersulang!
Bersulang.
Lagu kami.
Bagus!
Tidak, kau!
Ayo menari!
Fernando.
Aku jagonya belanja daring.
- Hebat! - Beli semuanya.
Aku...
Aku hebat memakai lipstik tanpa cermin sambil ketik obrolan.
Bakat yang luar biasa.
Bagus, Sepupu!
Aku ahlinya
minum gratis.
Lalo, kami tahu.
Bakat hebat.
Aku ahli...
Katakan saja yang terpikirkan.
Membayar pajak!
Tidak, Gabo.
Uang penggantian tahunanku luar biasa.
Kakakku ahli menyimpan barang yang orang lain akan buang.
- Apa? - Maksudku dia hebat dalam penemuan.
Sejak kecil, dia juara banyak lomba.
Dan kau membantuku. Ingat yang motor itu?
- Ya. - Tapi tak begitu sering.
Hebat kalian bisa akur.
Ya, kami tim yang hebat.
Kami bahkan juara pingpong regional.
Juara dua tari ketuk.
Ya. Kenapa?
Kenapa?
- Ketuk? - Ya, tari ketuk.
Sangat populer di San Miguel.
Kau tak serius, 'kan?
Baiklah.
Itu benar.
Aneh, 'kan?
Kita perlihatkan.
- Apa? Tidak, tunggu. - Maaf.
Aku lupa koreografinya.
- Lupa? - Ya.
Dua tahun kita berlatih setiap hari.
Tutup botol untuk di sepatu.
Dengan tutup botol.
- Pasti seru. - Caranya?
Bisa bantu? Tempelkan di lekukannya.
Kau akan lihat aku keren di panggung.
Aku tak sabar!
Di lekukannya, di...
- Lihat, pas di lekukan. - Sedikit lagi.
Bagus.
Hai. Tahu lagu "I Run, I Fly, I Accelerate"?
- Bisa mainkan? - Tentu.
- Bagus. - Mereka akan menari.
Baik, bersiaplah.
Lihatlah Medina Bersaudara tampil keren di panggung.
Dampak minuman yang luar biasa!
Ayo!
Gara-gara kau aku jadi begini, Cebol!
- Sudah lama tak bicara begitu. - Kematian ego.
Apakah aku main hati Untuk pertama kalinya?
Untukmu
Untukku, untuk berdua
Aku berlari, aku terbang, aku bergegas Demi bersamamu
Dan memulai permainan
Dan menyalakan api asmara
Aku berlari demi bersamamu
Aku berlari, aku terbang, aku bergegas Demi bersamamu
Dan memulai permainan
Dan menyalakan api asmara
Aku berlari demi bersamamu
Hebat!
Ya!
Malu sekali!
Aku sudah lama tak lakukan ini.
Ya.
Aku tak mengira akan begini.
Jadi, aku tak bercukur.
Entah apa yang akan membuatmu kaget.
Kuberi tahu agar kau tak kaget.
Kau sempurna.
- Sungguh? - Ya.
Ya.
Tunggu.
Ada apa?
Semua baik saja.
Tapi aku suka
perlahan saja.
Benar.
Perlahan, tentu.
- Ya. - Ya.
Ya.
Perlahan.
Pernah dengar seks tantra?
- Belum? - Belum.
Tidak, tunggu.
Kemarilah.
Duduklah.
Buka pakaianmu.
Ya.
Kau tak tinggal di sini?
Tidak, ini rumah kakek-nenekku.
Tapi tak ada yang ke sini lagi, kecuali kami saat ada pameran.
Begitu, ya?
Indah.
Nyaman.
Ya, bagus sekali.
Penuh kenangan.
Aku pun merasakan hal yang sama saat ke rumah orang tuaku.
Sa!
Itu mantra.
Untuk merangsang seksual pria.
Astaga!
Bagaimana cara pakainya?
Kristal ini berisi banyak energi seksual.
Berbulan-bulan aku mengumpulkannya.
Menarik sekali.
Aku tak munafik, tapi jika mau melakukan hal yang aneh...
Entahlah, setidaknya aku harus tahu
taruh di mana.
Berbaringlah.
Tak disterilkan dulu?
Sa!
Bisa kau rasakan getarannya?
Rupanya memakai baterai.
Bisa kau rasakan?
Entahlah, mungkin perlu waktu,
tapi aku akan fokus dan mencoba yang terbaik.
Fer, kita takkan berbuat apa pun.
Kenapa?
Tidak, aku mau tidur saja.
Tidak! Tunggu, ini lebih baik.
Kenapa?
Aku tak mau tahu akan jadi bagaimana.
Tahan orgasmemu.
Tahan.
- Ya, aku akan... - Sa!
Aku akan tahan, tenang saja. Tak akan lepas.
Bagusnya! Sa!
Kau suka?
Sudah?
Semua begitu suram tanpamu
Lautan menjauh dari pantai
Bagaimana?
Malam yang luar biasa?
Begitu?
Kenapa kau matikan?
Aku tak suka José José.
Tapi tadi kau nyanyikan.
Benarkah?
Tidak.
Itu lagu kesukaan Ayah.
Benarkah?
Aku tak ingat.
Dia memutar lagu itu setiap hari.
Menyanyikannya di kamar mandi.
Akhirnya, sisi menyebalkannya lenyap.
Sumpah.
Kanker memperbaiki kepribadiannya.
Bahkan dia jadi lucu.
Kau tak tahu apa yang pernah menimpa Bibi Enriqueta.
Dia bilang ke Ayah,
"Francisco, jangan takut, kau akan ke tempat yang lebih baik."
Tahu jawaban Ayah?
"Semua tempat lebih baik dibandingkan di sini di sisimu."
Tak apa jika sedih karena dia wafat, 'kan?
Kau tahu dia selalu menanyakanmu?
- Dia begitu bangga. - Dia tak pernah bangga padaku.
Aku tahu dia sosok yang rumit.
Tapi dia sayang kita dengan caranya.
Dia tak tahan tanpa Ibu.
Dan dia tak paham cara mengasuh kita,
tapi kebiasaan lama sulit hilang.
Awalnya, aku benci ungkapannya. Kini aku begitu merindukannya.
Aku tak paham kenapa kau tetap di San Miguel.
Aku tak bisa meninggalkannya.
Tidak. Maksudku sebelum dia sakit.
Itu maksudku.
Baterainya penuh!
Permisi.
- Sudah? - Ya.
Makin luar biasa.
- Sungguh? - Ya.
Giliranku?
Ya.
Aku sangat menyukainya.
Malam terbaik di hidup kita.
Sa!
Sa!
Terima kasih untuk semuanya.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
- Terima kasih, Sepupu! - Baik.
- Kami senang. - Jaga diri.
Cepat kembali.
- Pasti. - Ya.
Semua aman?
- Tentu, kau? - Mantap.
- Siap? - Ayo!
- Sudah? - Ya.
Nyaris tak sempat.
PEMANDIAN AIR PANAS
Tak satu pun pesan?
Sungguh?
Bagaimana jika sesuatu menimpaku?
Awalnya mereka memaksaku kembali, kini sama sekali tak peduli padaku.
Semalam menyenangkan, ya?
Sebuah pengalaman
yang benar-benar takkan terulang lagi.
Bahkan di hidupku.
Ya, tangan pria itu besar.
Energinya besar.
Tak usah cerita.
Pasti.
Bagaimana dengan sepupunya?
Menyenangkan.
Dia menggodaku,
tapi aku sedang tak mau.
Tangannya tak besar?
Kau gila, Gabo.
Tidak.
Berhenti.
Tidak. Kenapa?
Kumohon!
Ada apa?
Kurasa kita harus ajak mereka.
Ini bukan Singapura. Berbahaya mengajak orang di jalan.
Benar, mereka seperti penjahat.
Mereka anak-anak.
Mereka cari tumpangan. Bagaimana jika sesuatu menimpa mereka?
Mereka ke sini.
- Mereka mau merampok kita? - Tidak.
- Sayang... - Tenang, sepertinya mereka baik.
- Hai. - Terima kasih.
Hai. Mau ke mana?
Menemui teman di Tlaxcala.
Ayo kami antar.
- Kita beda arah. - Kau mau ke pemandian air panas.
- Kau yang suka. - Tapi ini giliranku.
Terima saja.
Kami senang mengantar kalian.
- Kalian yakin? - Tentu.
Baik, terima kasih.
Tapi lihat dulu KTP kalian.
Ya, tentu.
- Astaga! - Terima kasih.
Maaf, demi keamanan.
Tak apa-apa.
Aku senang...
Kami akan foto KTP kalian dan kirim ke teman kami.
- Dan swafoto, ya? - Bagus, untuk kenang-kenangan.
- Apa kabar? Hai. - Apa kabar?
Halo!
- Apa kabar? - Sobat.
Teman-teman!
Hai, selamat datang!
Terima kasih.
Halo, apa kabar?
Boleh sentuh?
Ya, Saudariku.
Hai!
Untuk apa kambing itu?
Dia bagian keluarga.
Kalian tak memakannya.
Tentu saja tidak.
Jadi, apa semua ini?
Intinya, kami di sini untuk merasakan pengalaman bersama.
Baik.
Kami berbagi waktu dan ruang dengan alam.
Dengan diri kami.
Kami kembali ke asal.
Bersama-sama, sebagai komunitas.
Aku paham, ini sekte.
Apa?
- Bukan. - Bukan.
Ini pengalaman spiritual.
Kami percaya kita semua terhubung.
Roh kita hadir ke dunia ini untuk saling menemukan.
Untuk membentuk keluarga sebangsa.
- Apa? - Tangan kalian.
Seperti kalian.
Kalian terhubung melalui sesuatu yang lebih dari hubungan darah.
Tepat.
Roh kalian memilih
tempat dan momen ini karena mereka ingin bersama.
Aku paham.
Itu persis perkataan orang-orang sekte.
Jangan dengarkan dia.
Aku dulu begini seusia kalian.
Waktu jadi anak simpanan.
Tapi saat harus membayar tagihan,
keadaan berubah.
Aku tak mau hidup untuk bekerja.
Aku ingin lebih.
Kau pun ingin lebih.
Jika tidak, kalian takkan di sini, bepergian naik motor,
berpakaian aneh di usia 50 tahun.
Tidak, tunggu. 40 tahun.
Hei!
Usia tergambar di jiwa. Maaf.
Tunggu, aku di sini bukan demi aku.
- Bukan? - Untuk adikku.
Apa? Ini idemu.
Kau perlu perubahan.
Aku baik-baik saja.
Sudahlah, kau tak begitu.
Boleh tanya sesuatu?
Kau seorang diri atau punya anak, keluarga?
Aku dulu berusaha punya anak.
Selama beberapa waktu.
Setelah menemui banyak dokter dan mengeluarkan banyak uang,
pada akhirnya mereka bilang
aku tak bisa punya anak.
Aku tak tahu.
Itu bukan hal yang dibagikan di grup obrolan.
Tapi tak apa.
Jika bercerai saja buruk, bayangkan jika ada anak.
Ini sudah buruk, titik.
Lihat?
Mungkin itu sebabnya kita bertemu.
Agar kalian bisa ceritakan soal ini.
Di hidup ini, semua ada alasannya.
Selalu, semua hal.
Sajian penutup?
- Ya! - Terima kasih!
- Lezat! - Aku butuh ini.
Aku ambil dua.
Satu lagi. Terima kasih.
- Lezat. - Astaga!
- Apa ini? - Entah, tapi lezat.
Sial. Hati-hati, ada jamurnya.
Makan berapa banyak?
Hai, Cantik.
Kurasa kita punya hubungan kosmik.
Ya.
Terima kasih sudah menawarkan.
Belum pernah ada yang separah ini.
Belum.
Hei.
Terima kasih.
Terima kasih membawaku ke sini...
dan bersama denganku.
Meski, jujur, akan luar biasa
jika kau datang tepat waktu.
Tak sekadar mengirim uang.
Aku punya putra.
Apa?
Keceplosan.
Bagaimana bisa? Seorang putra?
Aku punya putra.
Maksudmu aku punya keponakan?
Ini berat!
Aku punya keponakan? Serius?
Aku punya keponakan.
Luar biasa.
Matikan lampu, Saudaraku!
Apa itu?
Kunang-kunang.
Fernando?
Fernando.
Fernando, kau tak apa-apa?
Apa yang terjadi?
Kau baik saja?
Sepertinya aku mencium kambing.
Kau lihat kunang-kunang juga, 'kan?
Kau bahkan bilang punya anak.
Benarkah?
Berarti jamurnya berpengaruh.
Kau tak punya anak, ya?
Kau pasti sudah cerita.
Punya pun tak apa.
- Sungguh? - Itu hidupmu, 'kan?
Kini kau terbuka dan pengertian?
Sejak aku tahu kau tak punya anak.
Tidak.
Jika benar punya?
Fernando sial!
Kenapa?
Hei...
Sudah kuduga!
Semalam kau santai menerimanya.
Aku teler!
Aku tak mau bahas lapar begini.
- Kita sarapan dulu. - Tak bisa alasan.
Aku mau sarapan.
- Tak bisa bicara jika perut kosong. - Tidak! Bisa-bisanya kau berucap begitu?
Berhenti cemberut.
Maaf, tak bisa. Aku masih mencerna.
Apa yang harus dicerna?
Aku punya kekasih, bercinta, dia hamil.
Dia ingin mempertahankan kandungan dan aku ingin kuliah S2 di London.
Seperti itulah. Dia pertahankan bayi dan aku pergi.
Mirip kisah Women, Real Life Crisis.
Begitu saja.
Seolah masalah remeh.
Bicara tanpa berpikir.
Sudah kuduga kau akan marah soal ini.
Itu sebabnya aku tak cerita.
Apa yang kau harapkan?
Saat itu aku remaja bodoh. Tak siap menjadi ayah.
Berapa usia anakmu?
Lima belas.
Siapa namanya?
Ricardo.
Ibunya pilih nama itu.
Aku suka.
Dia tahu soal aku, kakek-neneknya, dan lainnya?
Entahlah.
Kami tak pernah bicara.
Ibunya dan aku sepakat jika aku tak akan ada di hidupnya,
aku tak boleh menghubunginya.
Dia tinggal di mana?
Mexico City, dengan ibunya.
- Bagus. - Apa?
Searah dengan kita.
- Kita temui dia. - Kau gila.
Tinggal dia keluarga yang kita punya, Fernando.
Lagi pula, ini giliranku. Aku pilih, kau turuti.
- Tunggu... - Semua perkataanku, tanpa kecuali!
Taati peraturan, atau mau jadi apa kita?
Lihat itu, Rekan?
Ya.
Menepi.
Pasti ada yang mereka mau.
Tolong biar aku yang urus. Kau diam saja.
Kenapa?
Kau bermasalah dengan aparat, kau tahu itu.
Yang benar saja!
Lihat mereka.
Di Singapura, polisi persis seperti di film Bruce Lee.
- Diam. - Lihat mereka!
Hai, Pirang.
Apa kabar, Pak? Semua baik saja?
Pagi.
- Dari mana? - San Miguel, mau ke Mexico City.
Kalian tak pakai helm, Pirang.
Kami tahu. Ada urusan darurat.
Harus cepat berangkat. Kalian lihat, dia pun nyaris tak berpakaian.
Bayangkan, apa lagi mengambil helm.
Helm menyelamatkan nyawa, Nona.
Aku tahu, tapi keluarga kami sedang mengalami tragedi.
Ayah kami wafat.
Kenapa dia?
Kanker.
Menyebalkan, itu juga penyebab nenekku wafat.
Aku ikut berduka.
- Terima kasih. - Semua kena kanker.
Semuanya.
Tapi tak berarti boleh tak pakai helm.
Aku tahu, maaf. Tak akan terulang.
Sumpah, Pak.
Begini saja.
Berapa agar kami bebas?
Ayolah!
Kita tahu suap menyelesaikan semua hal di kota kecil ini. Apa?
Tlaxcala bukan kota kecil.
Di Negara Bagian Tlaxcala yang Bebas dan Berdaulat,
helm bersifat wajib.
Ya, kami tahu.
Karena sudah begini, lalu harus bagaimana?
NEGARA BAGIAN MEKSIKO BERAKHIR DI SINI TLAXCALA DIMULAI DARI SINI
Gaya pakaiannya mirip penari meja.
- Aku akan buat dia lompat. - Ya.
Hentikan! Berengsek!
Hentikan!
Tunggu!
Enyahlah, Pirang Sial!
Manusia hina!
Jayalah Tlaxcala, Keparat!
Bajingan!
Hotel ini bagus.
Benar, 'kan? Bagus.
Kakiku memar.
Benarkah?
Punggungku sakit sekali.
Masuk!
Wah!
Mau kututup pintunya?
Ya, tak akan ada tamu. Tolong tutup pintunya.
Kenapa buru-buru? Kau buat aku mengakhiri mandiku.
Aku memikirkan sesuatu dan aku ingin bicara.
Di sini lengkap ada ruang santainya?
Kau tidak ada?
Tidak!
Aneh, harganya sama untuk tipe kamar yang sama.
Ini ide buruk.
Jujur, ya.
Mengeluarkan uang untuk kamar hotel memang bodoh.
- Bukan itu. - Apa?
Menemui anak itu.
Seperti ucapan gadis itu, semua hal pasti ada alasannya.
Hujan, polisi. Kurasa semesta tak ingin kita datang.
Jangan bilang kau tak mau bertemu dengannya.
Bukannya tidak mau.
Kurasa terlambat.
Dia tak mau bertemu ayahnya yang berengsek.
Kau tak seberengsek itu!
Jika bandingkan aku dengan pembunuh berantai, aku keren.
Kau suka jika dianggap sadis,
karena kau lembek.
Tapi lihat dirimu, kau di sini.
Kau bisa saja di Singapura, tapi kau bersamaku.
Tidak.
Apa?
Aku tahu tujuanmu.
Kau mau meyakinkanku temui anak itu.
- Maaf, tapi tidak. - Mau ke mana?
- Asal bukan di sini! - Tidak.
- Lepaskan! - Tak boleh pergi!
Dia putraku!
Terserah aku jika aku tak mau menemuinya.
- Kau mau menemuinya! - Membuatku kesal.
Melihat kau tak bisa punya anak...
Maaf.
Maaf, aku tak bermaksud.
Berengsek, Gabo!
Mulutku tergigit.
Kau benar, kau berengsek.
Aku yakinkan diriku kau tak berengsek, kau selalu mengecewakan.
Gabo, maaf.
Aku tak percaya kau tak menyesal menelantarkannya.
Aku menyesal.
Aku menyesal meninggalkannya,
meninggalkanmu dan Ayah.
Itu hal yang belum kuatasi.
Jika kau mau menyalahkanku, aku butuh tequila.
Kau mau apa?
- Dua ratus peso. - Bajingan.
Ya.
Layanan kamar?
Peraturan nomor tiga.
Potongan terakhir, atau mau jadi apa kita?
Coba creme brulee.
Sini.
Aku tak bisa bernapas.
Aku mau muntah di kamar mandi.
Selamat malam.
Dah.
Aku minta.
Hei.
Jaket ini berlebihan? Bagaimana penampilanku?
Coba lihat.
Tak masalah.
Seperti orang tua sok muda keren.
Seharusnya kau juga beli celana jin. Cuma sepatu tenis?
Aku beli celana jin juga. Semua sangat mahal.
Jika aku lama, kau pasti sudah takut.
Tidak.
Boleh tanya?
Asal bukan pertanyaan bodoh.
Ada hal yang kau sesali?
Ternyata memang bodoh.
Hei, kuanggap semalam bagianku. Kini giliranmu.
Saat aku lihat hidupmu,
aku merasa
aku mungkin kelak bisa jadi sepertimu.
Tentu saja kau bisa jadi sepertiku.
Terlebih, kukira kau akan bekerja untuk NASA atau semacamnya.
Pastinya. Percuma meratapi hal yang sudah berlalu.
Apa itu?
Maksudku...
Kau percaya pasporku valid?
Selalu kuperbarui, tapi tak pernah dipakai.
Tapi itu memberiku harapan aku kelak akan bepergian.
- Mau? - Tidak.
Tahu dari mana mereka tinggal di sini?
Ini apartemen dulu bersama ibunya. Mereka tak pernah pindah.
Tahu dari mana tak pernah pindah?
Jaringan sosial.
Kau memantau mereka diam-diam?
- Itu mereka? - Ya.
Sampaikan salam Ibu.
Pasti.
Makanlah.
Terkadang sudah pukul delapan malam dan kau belum makan.
Sayang Ibu.
Syukurlah dia mirip ibunya.
Kita sudah lihat, ayo pergi.
Tolong bonnya, Nona.
Tunggu. Kau mau apa? Ini uangnya, Nona.
Tunggu!
Diam. Berhenti bicara.
- Berjalanlah biasa. - Mau apa? Tunggu.
Ikut saja!
Hai, Bu Lourdes, apa kabar? Selamat menikmati hari.
Itu sarang, ya? Ada burung.
Caramu menguntit payah.
Kelihatannya dia bodoh.
Kenapa bilang begitu?
Beri dia kesempatan.
Bagaimana jika seperti ibunya?
Yang benar saja.
Kita membuntuti dia dan dia tak tahu.
Tiga, dua, satu, berhenti!
- Tendang ke arahku! - Oper!
Rebut!
- Gol! - Bagus!
Waspada!
Tendang!
Dia hebat.
Sehebat Hugo Sanchez di Real Madrid.
Wah!
Gol!
Lihat?
Dia lebih baik darimu.
Bolanya!
Hei, bolanya!
Kau bisa lempar.
Oper padaku.
Apa?
- Boleh ikut main? - Serius?
- Gabo, tunggu. - Kau butuh pengalaman.
- Hei, Gabo. - Ayo.
Tidak, tunggu. Kami cuma bertiga.
Benar, kami pasti kalah telak.
Aku ikut tim kalian saja.
Baiklah.
- Mulai. - Ayo.
Tempel dia.
Ayo, Gabo!
Sini, Gabo!
Gol!
Kalian luar biasa.
Pastinya, dia hebat.
Di sekolah, dia mempecundangi anak-anak laki.
Gabo!
Tempel dia!
Sini, Nak!
Ya.
- Tendang! - Gabo!
Gol!
Sial.
Tadi seru, 'kan?
Kau sangat hebat.
Terima kasih.
Yang benar saja!
Lihat itu. Mereka manis sekali, ya?
Di taman ini mereka terkenal.
- Benarkah? - Ya.
Mereka menikah sudah 50 tahun.
Lalu, si kakek mengidap Alzheimer.
Si nenek harus merawatnya.
Tapi karena berat, si kakek ditempatkan di sebuah rumah.
Lalu si nenek juga kena Alzheimer,
ditempatkan di rumah yang sama.
Dan mereka saling tak ingat.
Bagian terbaiknya,
setiap hari, setiap bertemu, seolah itu pertama kalinya.
Dan setiap hari, mereka jatuh cinta lagi.
Kau pasti mengarang.
Itu benar!
- Seperti di film? - Kenapa bohong?
Sungguh?
Sudah kuduga. Lihat?
Tapi pasti keren jika sungguhan.
Kami pergi dulu.
Tadi hebat.
- Dah. - Dah.
- Dah. - Tadi hebat.
Kau juga.
Tak perlu tes paternitas, 'kan?
Anak itu keren.
Dan mirip denganmu.
Tapi lebih tampan.
Dan lebih baik.
Dan lebih tinggi.
Kau sudah bicara dengannya. Semoga kau puas.
Yang sulit nanti saat kau bilang kau ayahnya.
Kita bisa pakai cara klasik...
"Ricardo,
aku ayahmu."
Aku tak mau bilang.
Kita baru bertemu dia.
Dia baik saja, dan bahagia.
Dia bisa melanjutkan hidup, aku juga.
Jadi, tindakan kita ini sia-sia?
Dia lebih baik tanpa aku.
Fer.
Kulihat kau berseri.
Kau tak pernah sebahagia ini.
Jangan bilang kau takkan berbuat apa-apa.
Meski,
tak heran.
- Tidak, tidak heran. - Maksudku...
Maksudku...
Setiap datang tanggung jawab, kau kabur.
Kau memang luar biasa.
Menyesali sesuatu itu lumrah,
tapi kau juga harus memperbaiki kesalahan, dasar pengecut.
Sebentar. Yang pengecut itu kau.
Kau bilang aku meninggalkanmu. Baik, kuakui. Memang begitu.
Tapi bukan aku atau Ayah penyebab kau tetap di San Miguel.
Jangan membalikkan.
Aku tak membalikkan.
Tapi kau selalu jadikan kami alasan.
Kau takut keluar dan membuat kesalahan.
Ketahuilah. Begitu perjalanan ini selesai,
kau akan kembali ke kehidupan lamamu yang membosankan.
Ya. Baik, bagus.
Ya, aku yang selalu beralasan.
Bagus. Kau sendiri?
Apanya?
Apa yang kau lakukan?
Kau menjauh. Tak mau pedulikan siapa pun.
Saat hidupmu sendiri pun kacau.
Kau ada pekerjaan yang tak peduli padamu, balkon yang tak kau pakai.
Setidaknya itu balkonku.
Aku selalu mengira kau dan Ayah mirip.
Tapi kau yang paling berengsek.
Kau gila, Gabo.
Cukup, kudoakan dan masa bodoh.
- Aku pergi. - Ya.
Kau menyebalkan.
Sayang, kuncinya.
Halo?
Hai, Daniela.
Siapa ini?
Fer.
Fernando Medina.
Apa kabar?
Bukannya tak sopan,
tapi aku sedang makan malam bersama teman-teman.
Bisa kutelepon nanti?
Ya, maaf.
Halo?
Aku bohong. Aku tak bersama siapa-siapa.
Aku cuma tak mau bicara padamu.
Aku paham.
Sudah kuduga.
Kau di Singapura?
Ya, aku di sini.
Pukul berapa di sana?
Sekitar pukul...
Tidak, maaf.
Aku tak mau bohong.
Aku di sini, di Mexico City.
Ya, aku tahu.
Aku bisa melihatmu.
Sedang apa di sini?
Ayahku wafat.
Aku ikut berduka.
Aku ingin tahu kabarmu. Kau terlihat baik saja.
Kau terlihat kacau.
Hei.
Kuliah S3-mu selesai?
Sejak lama sekali.
Ricardo?
Apa yang mau kau tahu?
Dia perlu sesuatu?
Bagaimana sekolahnya?
Kau sudah membawanya vaksin?
Aku cemas.
Kini yang dipakai vaksin nanoteknologi, jadi...
Kau mau apa, Fernando?
Entahlah.
Sejak ayahku wafat, aku terus memikirkan Ricardo.
Kurasa penyesalan menyiksamu
dan kau mau bicara padanya agar merasa kau sudah berperan.
Kembali ke Singapura dan melupakannya lagi.
Jika mau bertemu dengannya, harus serius.
Menurutmu bisa?
Selamat tinggal, Fernando.
SELAMAT DATANG DI MORELOS
ACAPULCO - MEKSIKO
Terima kasih.
MEKSIKO - CUERNAVACA
Gabo!
Persetan kau!
Apa?
Kubilang persetan kau!
Tak dengar, harus lebih keras!
Persetan kau.
Ayolah, maaf.
Ayolah.
Aku sayang kau!
Kita lihat.
Koplingnya kendur.
- Benar, itu yang terjadi. - Kita lihat.
Kau tak perlu bantuan, Kak?
Tidak.
Kau benar.
Ya, aku tahu.
Tentang apa?
Aku pengecut.
Jangan dengarkan aku.
Aku serius.
Aku tetap di San Miguel karena itu zona nyamanku.
Kau lebih berani dari aku.
Kita di sini, dan itu berkat kau. Tadinya aku sudah mau pulang.
Dengar.
Sepekan bersama,
kita bepergian, bertengkar, ada polisi, dan keponakan.
Bahkan ada seks tantra!
- Apa? - Tidak apa.
Aku melakukan hal-hal yang mungkin takkan kulakukan.
Baik. Jelaskan seks tantra.
Kau menginspirasiku lakukan hal yang tak mungkin.
Baik.
Bisa kembali ke seks tantra?
Aku mencoba memberitahumu sesuatu yang baik.
Aku butuh kau juga.
Tanpamu,
aku berengsek.
Jujur, memang.
Gadis itu mungkin benar.
Jiwa kita terhubung dan saling mencari di saat membutuhkan.
Bisa kulihat kau cocok di sekte itu.
- Mau main? - Tidak.
Tidak. Ayolah.
- Ayo, taruh sendoknya. - Terima kasih.
- Boleh main lawan kalian? - Tidak.
Sayang sekali! Ayo, makan lagi.
- Ayo. - Kita bertaruh.
Agar seru.
- Lima ratus? - Kau pikir aku tertarik?
Aku tahu. Arlojiku.
Sial, itu barang pasar loak.
Apanya pasar loak? Ini edisi terbatas...
Aku tahu. Motor kami.
- Ambil jika kalian menang. - Apa? Tunggu.
- Kau gila? - Itu?
Ya.
- Motor butut. - Tidak butut. Kau ini kenapa?
Itu motor Carabela tahun 1980-an. Klasik.
Onderdil orisinil, rem baru. Aku sendiri yang pasang.
Begitulah, ada nilainya.
- Kalian tak ada ruginya. - Tidak?
Tidak.
- Sepakat? - Sepakat.
Baiklah.
Baik, sepakat. Ayo.
- Ayo. - Maaf, itu bodoh.
Kita mulai perjalanan sebagai permainan, ayo kita akhiri.
Simbolisme yang indah, tapi tidak. Jangan motor.
Tenang saja.
Aku takkan mau pertaruhkan motor.
Lihat, pria itu sepertinya tua.
Dan anak itu...
Mereka takkan menang.
Jika menang?
Tak akan! Aku lihat mereka, tidak jago. Ayo.
Kita habisi mereka. Ayo.
- Mulai. - Siap?
Poin sampai sebelas.
- Baik. - Ya.
- Ya! Bagus! - Hebat!
1-0
Satu-kosong, ya.
- Sial. Kau menghalangiku! - Dua-kosong.
- Tepat! - Bagus.
3-0
4-0
5-0
- Kita habisi mereka? - Mainmu santai.
Aku baru makan!
Lalu beserdawa.
Baik, cukup.
Ya.
- Gadis-gadis, main yang benar. - Ya.
- Kami menunggu, Tuan. - Sini.
Masuk!
5-1
Pindah posisi.
Itu dia!
5-3
5-4
6-4
6-7
Keren!
10-9
Terus!
Itu dia!
Bagus!
Sepuluh sama, match point.
Kubilang, fokus!
- Baik. - Ayah.
Biar aku yang servis.
Baik.
Tapi jangan mengacau.
Tidak, Pak.
Giliranmu.
Ayo!
- Bagus! - Kita menang!
- Kita kalahkan mereka! - Kita menang!
- Itu dia! - Ya!
Hebat!
Apa yang lucu?
Tidak ada.
- Kemarikan. - Apanya?
Kuncinya.
Tidak, tunggu. Kita bisa negosiasi?
Negosiasi apa, Berengsek! Kunci!
Tidak, maaf. Tak perlu agresif begitu.
- Enyah kau. - Jangan ikut campur, Wanita Gila.
- Kau tak apa? - Tidak.
- Apa sakit sekali? - Beri sabun.
Sabun.
Sudah?
Hidungmu patah?
Tidak tahu.
Benar, 'kan? Kau tak begitu berengsek.
- Kau main mengalah. - Kau juga.
Kau benar.
Ayah beri kita motor karena dia tahu kita akan butuh.
Bagaimana ini?
Kunci duplikat.
Ayo.
Ayo! Cepat!
Ayo! Lekas!
Lari!
Tapi saat aku lihat dia...
Sial.
Kami menang dengan jujur.
- Kau pikir aku akan pukul wanitanya? - Kau takkan begitu.
- Tak menyala. - Apa?
- Tak mau menyala. - Punyaku bagaimana?
Motornya!
Berengsek!
Naik!
Tunggu!
Jalan!
Tangkap!
Sial, motorku!
Hei!
Hei!
Acapulco!
Tak pernah terlambat! Tak pernah!
Selamat datang, Dik.
- Kita berhasil! - Kita berhasil!
Berpose.
Tunggu.
Siap?
KAMI PERLU KAU KEMBALI SEGERA!
Kita berhasil!
Menyenangkan sekali!
Rasanya menyenangkan?
Terasa ada yang hangat?
Kau pipis?
Peraturan tetap peraturan, harus ditaati.
Baik.
Tidak! Jangan jorok! Tidak!
Mengalirnya ke sini.
Mau jadi apa kita?
Ada apa?
Sudah sampai.
- Sampai rumah? - Ya.
Tunggu.
- Misi selesai. - Kita berhasil.
Semua baik saja?
Jariku terkilir.
Apa?
Aku bodoh! Sudah kubilang aku belum matikan lampu.
Itu...
Terima kasih.
Lihat.
Agar kau tak lupa perjalanan ini.
Aku akan simpan kausnya agar aku tak lupa.
Aku sayang kau, Cebol.
Sayang kau.
Aku akan rindu padamu.
Aku juga akan sangat rindu.
Jaga dirimu baik-baik.
Penumpang yang terhormat,
kami ingatkan agar menjaga barang bawaan Anda
setiap saat.
Jika menemukan kopor mencurigakan,
harap melapor ke...
Hai, pagi. Tujuan ke mana?
Ke mana-mana.
Fer?
Hai, Ricardo.
MENGENANG HÉCTOR SUÁREZ (1954-2020)
Hewan di film ini tidak mengalami penganiayaan.
Ditangani dan diawasi langsung oleh pawang.
Terjemahan subtitle oleh Adit Satjawidjaya
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.