All language subtitles for Fiksi..WEBRip.Netflix.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American) Download
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Mbak Alisha, Bapak mengajak menyarap.

Sebentar lagi.

Katanya, Bapak tidak bisa berlama-lama.

Yuk.

Saya mau mencari pekerjaan.

Kamu perlu uang tambahan? Berapa?

Saya cuma ingin punya kesibukan.

Kalau di rumah saja menunggu Bapak yang sekali-sekali datang,

saya bisa mati karena bosan.

Atau izinkan saya ikut ke luar dengan Bapak.

Saya ini bekerja

Saya bisa di hotel, atau berjalan-jalan sendiri.

Kecuali mungkin perempuan itu sudah meminta ikut lebih dahulu.

Saya cuma bercanda. Tidak perlu menjadi drama.

Mau melamar pekerjaan di mana?

Ini alamatnya, Pak.

Sudah pernah membuat ini untuk siapa?

Belum pernah, Pak. Saya baru lulus.

Ada yang lain?

Mungkin lebih serius, dengan gaya yang berbeda?

Saya cuma punya itu, Pak.

Tapi memang gaya saya seperti ini.

Dua puluh tahun.

Muda sekali, ya.

Halo?

Ha?

Ya, saya terima di luar.

Oh, iya?

Iya, Pak. Saya.

Oh, iya.

Bagaimana, Pak?

Mmm-hmm.

Oh. Begitu, ya?

Oke, Pak.

Oke.

Ya. Selamat siang, Pak.

Kapan kamu mulai bisa bekerja?

Saya diterima?

Ya.

Kenapa?

Maksudnya?

Beberapa saat yang lalu, sepertinya Bapak tidak yakin dengan kemampuan saya.

Saya tidak pernah bicara seperti itu.

Tadi, siapa yang menelepon?

Ha?

Saya lagi membutuhkan desainer, secepatnya.

Saya suka dengan portofolio kamu.

Jadi, saya tidak peduli dengan sikap kamu yang kurang sopan,

bertanya-tanya saya berbicara dengan siapa di telepon.

Bagaimana, Alisha?

Baik, Pak. Baik.

Pinjam sebentar.

Multizonamedia, selamat siang.

Kita pulang.

Sekarang.

Kamu cantik sekali, Alisha.

Tidak ada yang percaya padaku.

Tapi aku tahu rencana bapak kamu.

REFERENSI OBAT UNTUK DOKTER

Kamu lihat, Alisha.

Pistol ini yang akan dipakai bapak kamu untuk membunuh Ibu.

Dahulu, kami sempat bingung mau memberi nama apa padamu.

Apakah Ajeng? Atau Kirana?

Atau Alisha.

Tapi akhirnya, bapak kamu menuruti pendapat Ibu.

Tapi sejak Bapak kamu bertemu perempuan itu, dia jadi anjing perempuan itu.

Dia menyuruh Bapak kamu untuk membunuh Ibu. Nanti, setelah adik kamu lahir.

Tapi Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi.

Adik kamu tidak akan pernah lahir.

Ibu tidak akan mengizinkan kalian dimiliki oleh perempuan itu.

Hanya ada satu cara, Alisha. Anakku.

Kamu…

Adik kamu…

Dan Ibu…

Kita bersatu lagi di surga.

Ibu tidak sanggup, Alisha.

Ibu tidak sanggup!

Kamu harus melakukannya sendiri, ya?

Nanti, setelah Ibu.

Semua kejadian ada tujuannya, Alisha.

Yang lagi membersihkan kolam itu siapa, Bu Tuti?

Untuk sementara, dia yang menggantikan Pak Pono yang lagi mudik.

Orang mana?

Katanya, kadang-kadang dia suka membantu dan bekerja di tempat istrinya Pak Pono.

Istrinya Pak Pono punya warung di Blok S.

Blok S?

Ya. Di sana, banyak warung-warung makanan dan jajanan keliling.

Ada siomai, satai, nasi goreng…

Nah, Blok S itu nama daerahnya.

Bu Tuti! Saya pulang dahulu, ya?

Ya, sebentar!

Besok, jam berapa kemari?

- Pagi, ya? Terima kasih, ya, Bu! - Ya.

Bu Tuti! Saya pulang, ya?

Ya!

Terima kasih, ya, Bu.

Yang membersihkan kolam ke mana, Bu?

Sudah tidak bekerja lagi. Besok, Pak Pono masuk.

Kenapa?

Tidak apa-apa.

Pak Bambang, saya mau pergi.

Pak Bambang, tahu tempat makan di Blok S?

Mau ke sana?

Oke, selamat sore. Berjumpa lagi

dengan kami di jalanan, untuk para tamu warung tenda.

Semoga dapat mendengarkan sebuah lagu dari kami.

Bu, es jeruk satu.

Dari hidup sampai mati

Bukannya sombong, tapi aku bohong

Bicara dengan lampu mati

Lampu hidup, aku…

- Ini, Mbak. -Terima kasih.

Pengalaman di bangun tidur

Iya?

Masih lama?

Masih, Pak. Pak Bambang pulang saja lebih dahulu.

Biar saya tunggu.

Hei, Bar!

Hei, bagaimana?

- Kau ke mana saja? - Ibu!

Kalau saat seperti ini, kau baru muncul.

- Pantas, karena ada amplop. Asyik. - Norak!

- Kau mau apa? Berbagilah. - Traktir kami.

Bu, terima kasih, ya. Aku pergi dahulu, ya?

- Ya. - Malah pergi.

Blok M! Kiri! Kaki kiri, Bu.

TUTUP

Kamu itu, ya. Dari aku pergi, masih saja membaca buku.

Tanggung, Sayang. Sebentar lagi juga selesai.

Makan, yuk!

Kamu membawa apa?

Membawa ini.

Gado-gado lagi?

Nanti, ya, kalau aku punya banyak uang,

aku akan mengajak kamu ke restoran mahal tiap malam.

Becanda, Sayang. Tidak makan juga tidak apa-apa, asal bersama kamu.

Alah. Seperti lagu dangdut.

Mbak Alisha. Bu Tuti ketakutan setengah mati.

Kamu dari mana?

Ingin berjalan-jalan sendiri saja.

Jangan begitu, Mbak.

Nanti, Bu Tuti dimarahi oleh Bapak!

Kalau dia marah, bilang saja salah saya.

Lain kali, kalau mau pergi ke mana pun, tinggal bilang. Pasti saya antar.

Saya bosan pergi bersama Bapak.

Bosan atau tidak bosan, itu sudah menjadi tugas saya.

Kenapa Bapak jadi marah-marah?

Yang majikan siapa?

Hei, dengar, ya. Yang membayar saya adalah Bapak kamu, bukan kamu.

Tugas saya mengawasi kamu. Mengerti?

Aduh.

Ya sudah. Sudah.

Mbak, kalau mau pergi ke mana-mana dan tidak mau

ditemani Pak Bambang, ya, tidak apa-apa.

Nanti Bu Tuti yang menemani, ya?

Kamu mau menemani dia? Baru satu menit, sudah kabur.

Lagi pula, masa mengikuti perempuan saja tidak bisa?

Katanya dahulu bekas apa? Intel?

Untuk Pak Bambang.

Saya minta maaf.

Ini mahal, 'kan?

Tidak apa-apa. Sekali-sekali.

Masih mau mengantar saya, 'kan, Pak?

Saya berjanji tidak akan pergi sendiri lagi.

Hari ini, berapa lama di studio?

Cuma sampai siang, Pak.

Nanti, Pak Bambang ikut saja ke dalam, melihat saya berlatih.

Tolong dibawa, ya, Pak? Sudah ditunggu anak-anak. Kasihan.

Nanti, tolong turun lagi, ya, untuk membawakan selo saya.

KELAS MUSIK PIAWAI

Silakan.

Terima kasih.

Jadi, kamu bilang pada orang tua kamu bahwa kamu tinggal dengan siapa?

Ya, tinggal sendiri.

Memang aku gila?

Pasti gara-gara samenleven diartikan sebagai kumpul kebo.

Padahal arti samenleven adalah hidup bersama

dan tidak terbatas hanya untuk pasangan yang hidup bersama tanpa menikah.

Ras-ras berbeda yang hidup dalam satu negara juga disebut samenleven.

Dan intinya adalah?

Dan intinya adalah

orang Indonesia punya banyak cara untuk memberikan konotasi negatif

terhadap banyak hal.

Contoh?

Ya, contohnya kita yang hidup bersama karena cinta, Renta.

Siapa yang cinta?

Kenapa kamu lama-lama menjadi menyebalkan?

Hmm?

Oh.

Hai.

Kenapa?

Oh, ya. Teman saya lagi belajar. Besok mau ikut ujian.

Ya, saya datang ke sini.

Saya takut dia marah. Kalau dia marah…

Maksudnya?

Oh, iya. Maaf.

Lagi melakukan apa?

Wastafel saya pampat.

Boleh lihat atau tidak?

Coba buka kerannya.

Cuma harus diputar.

Kalau dipukul-pukul, airnya tidak akan keluar.

Air di sini agak kotor.

Tapi saya punya filter keran cadangan di rumah.

Mau?

Saya ambil dahulu, ya?

Boleh ikut atau tidak? Saya juga mau tahu kamar lain seperti apa.

Oke.

Renta, kita punya tetangga baru, Ta.

Oh, hai. Saya Renta.

Mia.

Oh, iya. Kita juga belum berkenalan, ya?

Bari.

Katanya, lagi belajar untuk ujian, ya? Saya pulang dahulu. Nanti mengganggu.

Eh, tidak. Kalau Bari melihat orang yang sedang membaca,

pasti dia berpikir orang itu mau ikut ujian.

Sedang membaca apa?

Cuma buku pelajaran dari kampus.

Renta ini calon psikolog.

Buku psikologi yang aku belikan tidak pernah kamu baca, ya?

Itu psikologi populer, Bari. Ya, tidak ada hubungannya dengan kuliah.

Buku apa?

Entahlah. Pengembangan diri.

Ya, mana aku tahu? Yang penting dipajang di rak psikologi.

Bacalah isinya.

Malas.

Masa penulis tidak suka membaca?

Aku suka membaca.

Ya, tapi tidak pernah selesai.

Setiap kali aku membaca buku bagus, Ta, aku jadi merasa iri terhadap buku itu,

dan ujung-ujungnya, aku jadi ingin menulis.

Kamu penulis?

Sama seperti dia membaca buku. Menulis pun dia tidak pernah selesai.

Suatu saat nanti, ya, Ta, buku aku akan keluar

dengan judul di sampulnya, Buku Terlaris New York Times.

Jadi, kamu tunggu saja, ya? Ya, Bu Psikolog?

Kau masih berkuliah?

Hmm, tidak.

Siapa yang suka kelinci?

Aku.

Oh, iya.

Kamu mencuri dari mana lagi?

Ada, rumah orang kaya.

Mereka juga bisa beli lagi.

Lucu juga.

Bukankah psikolog seharusnya tidak menyukai hal kekanak-kanakan begini?

Lucu.

Terima kasih.

Ya.

Ya.

Kalian berteman atau bersaudara?

Kami teman hidup.

Aduh, aku sudah telat!

Kamu bisa tenang saja, Ren? Jam sebegini sudah tidak macet.

Omong-omong, uang kita sudah hampir habis, Bar.

Iya! Ya sudah, pergilah!

Hai.

Suaranya enak sekali.

Apa? Selo, ya?

Iya.

Kamu pemusik, ya?

Bukan, ini cuma hobi.

Susah atau tidak memainkannya?

Ini. Coba saja.

Maaf.

Tangannya begini.

- Ya. - Oke?

Kenapa suaranya tidak enak?

Tadi, kamu memakai kaset, ya?

Ih.

Huh!

Kenapa kau pindah ke sini?

Bapak dan ibu saya sudah lama meninggal. Saya tinggal bersama bibi saya.

Sudah waktunya saja tinggal sendiri.

Kalau pekerjaan?

Masih mencari pekerjaan. Kamu?

Kalau aku, apa saja aku kerjakan.

Mengecat rumah bisa. Jadi sopir juga bisa.

Kenapa kamu memilih untuk tinggal di sini?

Kata temanku, kalau misalnya kau mau jadi penulis dan butuh inspirasi,

ya, tinggal saja di rumah susun.

Dan memang benar.

Rumah susun itu seperti sirkus. Orangnya bermacam-macam. Aneh-aneh.

Sudah dapat bahan cerita?

Kalau bahan, banyak, ya.

Tapi tidak tahu.

Untuk setiap cerita yang aku buat, aku tidak tahu bagaimana mengakhirinya.

Mungkin,

karena aku memakai orang-orang di sini sebagai karakter di ceritaku, ya?

Ya, sementara mereka masih menjalani hidup mereka.

Coba kau pikirkan. Mungkin itu perbedaan antara fiksi dan realitas, ya?

Di fiksi, ada akhirnya. Di realitas, ya, kehidupan terus berjalan.

Kau sudah mengeksplorasi semua tingkat?

Belum.

Lalu, kau sudah melihat apa?

Lihat apa?

Jadi, semenjak kau pindah ke sini, kau belum pernah keluar?

- Yuk. - Ke mana?

Aku ingin memberimu tur gratis.

Lantai satu merupakan pusat bisnis dari rumah susun ini.

Kau mau apa saja, pasti ada di sini.

Warung makan, wartel, tempat fotokopi, salon,

toko peralatan kamar mandi. Lengkap!

Lantai dua kebanyakan dihuni oleh keluarga biasa. Halo, Bu.

Yang paling ribut adalah lantai 2. Biasa. Banyak anak-anak di sini.

Lantai tiga. Ini yang menarik. Dihuni oleh para waria. Transeksual.

Senin sampai Kamis, mereka jadi laki-laki. Saat akhir pekan, mereka jadi perempuan.

Mereka tinggal beramai-ramai dalam satu kamar.

Biasanya, mereka bekerja di Taman Lawang atau beberapa tempat lainnya.

Lantai empat kebanyakan dihuni pelacur. Maafkan mulutku, tapi memang iya.

Kebanyakan dari mereka berkelas tinggi. Jadi, tidak kelihatan seperti pelacur.

Mereka tinggal di rumah susun yang murah.

Sisa uangnya ditabung, atau dikirim ke kampung.

Masih banyak di antara mereka yang punya keluarga di kampung.

Lantai lima sarangnya bandar narkoba. Kau mau apa saja, ada di sini.

Kalau kau butuh ganja, kau tinggal turun satu lantai.

Atau kau menitip saja padaku.

Lantai enam, lantai kita. Kebanyakan dihuni oleh pegawai kantor dan mahasiswa.

Ya, wajar kalau lebih bersih dan lebih sepi dari yang lain.

Lantai tujuh ini, kau boleh percaya atau tidak,

tapi kebanyakan dihuni oleh pria homoseksual.

Saat Jumat malam, biasanya ada pesta di atas.

Mereka orangnya asyik. Sangat ramah dengan orang lain.

Nah, yang terakhir, lantai delapan. Dihuni oleh istri simpanan.

Mereka tinggal di lantai paling atas supaya tidak dilewati orang lain.

Bar, bukankah rumah susun ini punya sembilan lantai?

Lantai sembilan kosong. Setan yang menempati.

Setan sungguhan?

Kata orang, yang menempati lantai sembilan adalah orang-orang yang mati gentayangan

waktu rumah mereka terbakar.

LANTAI ATAS

Atau lebih tepatnya dibakar, ya.

Lalu, tanahnya dipakai untuk membangun rumah susun ini.

Lalu, kita mau ke mana?

Aku mau menunjukkan cerita-ceritaku.

Dia tidak pernah masuk dalam unitnya

semenjak rumah susun ini dibangun lima tahun yang lalu.

Kenapa?

Dalam ceritaku, kalau dia masuk, dia merasa kalah dan mereka akan menang.

Siapa mereka?

Orang-orang yang membakar rumahnya

supaya di atas tanahnya bisa dibangun rumah susun ini.

Dan sebagai ganti ruginya, dia dan keluarganya diberi satu unit.

Tidak pernah masuk sekalipun?

Kamar yang di ujung itu. Pintunya tidak pernah dibuka.

Yang tinggal situ adalah perempuan berumur 65 tahun bernama Bu Dirah.

Dia sudah tinggal di situ semenjak rumah susun ini dibangun.

Dahulu, dia tinggal di rumah yang tanahnya sekarang menjadi rumah susun ini.

Kenapa tidak pernah dibuka?

Di dalam kamarnya, banyak kucing.

Dan kata orang, Bu Dirah masih perawan.

Dan dia tidak pernah bergaul dengan orang lain.

Dia sangat menyayangi kucing-kucingnya.

Dahulu, kucingnya cuma satu, lalu dua.

Kucingnya kawin, lalu jadi banyak.

Dan menurutku, orang itu rada-rada gila.

Dia cuma keluar kamar kalau mau membuang sampah.

Ayo.

Apa menariknya cerita orang yang menyayangi kucing?

Dalam ceritaku, suatu waktu, Bu Dirah pernah punya tunangan.

Dan dia sangat menyayangi tunangannya.

Tapi tunangannya mati dibunuh.

Nah, di samping mayat tunangannya, ada kucing

Dan Bu Dirah sangat yakin kalau kucing itu adalah penjelmaan arwah tunangannya.

Dan kucing-kucingnya adalah anak mereka.

Kedengarannya tidak bermutu, ya?

Tapi di tulisanku tidak. Dibuat seperti dongeng.

Nah, yang di luar Rudi. Yang di dalam Dani.

Mereka pasangan homoseksual.

Yang menariknya, aku menduga mereka adalah bapak dan anak.

Jadi, bukan pria homoseksual?

Penyuka sesama jenis, tapi bapak dan anak.

Kamu tahu dari mana?

Dahulu, aku dekat dengan si Dani.

Suatu malam, aku bermain ke tempat dia.

Dan waktu itu, Rudi tidak pulang selama tiga hari.

Si Dani panik, 'kan? Lalu, dia menangis selagi mabuk.

Ya sudah, aku mendengarkan dia saja.

Dia berkata bahwa Rudi itu bapaknya?

Tidak secara langsung, ya.

Tapi waktu itu, ibunya menelepon

dan bertanya Dani ada di mana.

Dan si Dani tidak memberi tahu.

Dari mana kamu tahu mereka pasangan homoseksual?

Semua orang di sini tahu kalau mereka homoseksual.

Aku juga tidak tahu.

Apa aku saja yang sakit, ya?

Aku sakit atau tidak?

Yuk.

Kamu sudah menulis semua cerita ini?

Sudah.

Tapi seperti yang aku bilang, aku belum menemukan akhirnya.

Kenapa tidak membuat bagian akhirnya sendiri saja?

Belum ada yang tepat.

Lagi pula, yang aku tulis adalah cerpen

yang menceritakan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di sini.

Jadi, harus nyata.

Kalau dramatisasi, pasti. Tapi plotnya harus benar-benar nyata.

Boleh atau tidak saya melihat cerita-cerita yang sudah kamu tulis?

Tidak. Aku malu.

Alah, ayolah.

Ayo.

Oke.

Tapi cuma untukmu, ya?

Lagi pula, saya mau memperlihatkannya ke siapa di sini?

Ya, mungkin saja kau bercerita ke orang-orang yang aku tulis.

Bisa mati aku.

Alisha.

Alisha.

Semua kejadian ada tujuannya, Alisha.

Hai.

Halo. Baru?

Sudah seminggu, tapi di lantai enam. Tempat sampahnya tidak bisa dibuka.

Oh. Kenapa malah naik? Kenapa tidak turun?

Ke bawah sudah sering. Ingin lihat di atas seperti apa.

Ya, seperti ini.

Sama saja.

Kuliah?

Iya.

Mengambil apa?

Desain produk.

Lagi tidak kuliah?

Nanti siang.

Sekarang masih mengerjakan tugas presentasi. Masih repot.

Eh, sebenarnya, aku mau mengundangmu masuk,

tapi seperti yang aku bilang, aku masih harus menyelesaikan tugas. Maaf, ya?

Boleh lihat tugasnya seperti apa?

Saya penasaran. Desain produk itu seperti apa?

Ya sudah, boleh. Tapi tidak lama, ya? Yuk.

Aku lagi mengerjakan desain. Logo produk baru.

Masalah konsep sudah ada di kepalaku, tapi susah menuangkannya di kertas.

Kenapa tidak dibeginikan saja?

Wah, kau sangat mahir.

Karena saya pernah belajar desain.

Boleh saya bantu?

Hmm, biasanya kalau mengerjakan tugas, aku selalu sendirian.

Tapi karena sudah mepet, boleh.

Selesai.

Coba lihat.

Wah, bagus sekali!

Kalau begini caranya, setiap mengerjakan tugas, aku minta bantuanmu, ya?

Kalau tidak, bisa jomplang.

Kapan saja.

Sekarang, tinggal dicetak.

Omong-omong, mau dibayar dengan apa? Mau teh?

Sebentar, ya.

BUKA

Halo?

Bisa bicara dengan dengan ibunya Dani?

Saya sendiri.

Benar ini ibunya Dani?

Iya, betul. Ini siapa, ya?

Suami ibu bernama Rudi?

Betul.

Ini siapa?

Saya tahu mereka ada di mana.

- Hai! - Papa Beruang! Anak Beruang!

Terima kasih.

Mia!

Kemari.

Perkenalkan, ini temanku, Mia. Kemarin, dia membantuku mengerjakan tugas.

Minum dahulu, Mi.

Omong-omong, kamu tidak merasa janggal di sini?

Saya temannya Dani.

Temannya Dani?

Kalau begitu, kamu punya masalah, Sayang.

Kamu lesbiola?

Apa?

Kamu lesbian atau bukan?

Oh, tidak.

Kamu pria homoseksual?

Pria homoseksual?

Tidak.

Tapi penisku begitu.

Kamu masih perawan atau tidak?

Pasti masih.

Nanti, coba dahulu dengan pere, ya. Cobalah dua-duanya.

- Tanti! - Sebelum memutuskan…

mau belok ke mana.

- Apa itu? - Hei!

- Hei! - Apa, sih? Kabur!

Mia!

Ternyata, dugaan aku benar. Si Rudi dan Dani benar-benar bapak dan anak.

Bapak tiri lebih tepatnya.

Tadi, ibunya datang, lalu menembak mati si Rudi.

Gila, ya?

Kamu kenapa, Mi?

Tadi, saya di sana waktu kejadian.

Mia!

Mi?

Dari mana, Bar?

Dari bawah.

Iya, tadi aku juga dengar dari orang-orang di bawah.

Gila, ya?

Sadis sekali.

Aku masih terkejut.

Eh, Tetangga. Tidak pernah kelihatan.

Saya membawakan ini.

Repot sekali, Mi.

Punya saya. Sudah lama.

Hai, Bar.

Halo, Mi.

Lagi membuat cerita?

Sinting sekali, tahu?

Begitu ada kejadian tragis, dia langsung dapat ide.

Begitu kalau sudah menulis. Seperti penderita autisme.

Saya balik, ya?

Eh, buru-buru sekali, Mi?

Tidak apa-apa. Cuma mau memberikan itu saja.

Yuk, Bar.

Yuk.

Bari!

Kamu melihat buku yang tadi malam aku baca atau tidak?

Yang mana?

Yang sampulnya berwarna putih.

Tidak tahu.

Ih, ini dia.

Bangunlah.

Bukankah minta dibangunkan pagi-pagi? Ada pekerjaan mengecat rumah?

Halo, Mi.

Ha? Mahal sekali.

Tidak usah.

Iya, tidak usah.

Terima kasih, Mi.

Mia sedang apa?

Katanya, dia lagi berada di sebuah toko,

lalu dia melihat patung kelinci.

Dia menawarkan untuk membayarnya dahulu,

tapi mahal sekali.

Mandilah!

Dari mana, Mi?

Dari tempat teman, sekalian berbelanja. Ada apa?

Pergi dari kapan?

Dari tadi pagi. Saya menelepon Renta tadi pagi, 'kan?

Ada apa?

Ada yang meninggal.

Ha? Siapa?

Namanya Bu Dirah. Mungkin kamu belum pernah lihat.

Yang punya banyak kucing itu?

Bari sudah cerita. Meninggal karena apa?

Dia melompat dari lantai tujuh. Kucing-kucingnya lepas.

Ada yang menemukan kucing-kucingnya, sudah mati

di tempat sampah lantai dasar.

Sepertinya ada yang sengaja.

Kenapa dia tega sekali, ya?

Makin banyak orang sakit di sini.

Mi.

Kamu dari mana saja?

Tadi, saya sudah bilang. Dari tempat teman, sekalian berbelanja.

Kamu kenapa? Seperti menginterogasi.

Bar, kalau kamu menyangka saya yang membuang kucing-kucing itu,

kamu gila. Kamu termakan cerita fiksi kamu sendiri.

Ya, tidak.

Tapi sepertinya, semuanya serba kebetulan saja.

Kemarin, Rudi mati.

Sekarang, Bu Dirah.

Dan semua itu terjadi setelah aku menunjukkan cerita-ceritaku padamu.

Hai, Mi.

Saya membawakan ini. Menemukan satu lagi.

Wah, terima kasih, Mi.

Tapi sebentar lagi, aku juga sudah tak mau menyimpan patung dan boneka kelinciku.

Kenapa?

Ingin melepaskan saja.

Maksudnya?

Tidak baik kalau terlalu terikat dengan sesuatu.

Harus ada pemisahan agar tidak ketergantungan.

Lagi pula, cuma patung dan boneka kelinci.

Halo, Bar.

Hai, Mi.

Ya sudah. Balik, ya? Saya cuma mau memberikan itu saja.

Ada apa?

Ha?

Ada apa denganmu dan Mia?

Ada apa?

Paling tidak, kau tidak perlu menghina kecerdasanku, Bar.

Aku tahu kalau ada apa-apa.

Sumpah?

Aku cuma tidak menyukai perempuan itu.

Tidak suka kenapa?

Ya, memangnya kau tidak merasa kalau dia aneh?

Maksud dia memberi boneka padamu itu apa?

Seperti sedang mencoba mencari simpati darimu, 'kan?

Mungkin kamu saja yang lagi sensitif. Pikirannya sedang buntu?

Tidak tahu.

Aku cuma merasa kejam karena menulis soal kejadian-kejadian ini.

Ya, tunggu sebentar.

Siapa, Bar?

Tidak tahu. Ada anak iseng.

Kalau tertangkap, dijentik saja kupingnya.

Iya.

Ren, aku membeli rokok dahulu, ya.

Hai, Mi.

Bari, bisa bicara sebentar?

Bari, ada apa?

Masuklah lebih dahulu.

Kamu mau bicara tentang apa?

Saya mau minta maaf soal kemarin.

Saya tidak tahu apa yang ada di kepala saya.

Mau kamu apa?

Saya menyayangimu.

Tidak, saya tidak mau apa-apa. Saya tidak menuntut apa-apa.

Saya cuma ingin bilang agar kamu tahu.

Bari, tunggu. Temani saya sebentar.

Tidak bisa. Aku mau masuk.

Aku mau bicara dengan Renta.

Bicara tentang apa?

Aku mau berkata jujur padanya.

Dia tidak perlu tahu.

Justru dia perlu tahu, Mi!

Kenapa?

Kenapa? Aku menyayangi Renta!

Aku berharap ada keajaiban dan dia mau memaafkan aku.

Seharusnya prioritas kamu bukan Renta, tapi cerita-cerita kamu.

Aku membenci ceritaku, Mi.

Semua berakhir secara klise.

Yang paling klise adalah ceritaku sendiri.

Laki-laki yang sudah punya pacar,

masih saja melibatkan diri dengan perempuan yang…

Perempuan apa?

Psikopat?

Saya bukan psikopat, Bar.

Mulai sekarang, saya tidak akan mengganggu kamu lagi.

Kamu tidak perlu mengatakannya ke Renta.

Semuanya akan kembali seperti semula.

Renta!

Boleh kamu tinggalkan aku dahulu ?

Ta, aku akan melakukan apa saja.

Apa saja, Ta.

Supaya kamu bisa memaafkan aku.

Aku tidak tahu soal itu.

Tapi tolong, tinggalkan aku sendiri.

Tolong, Bar.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah…

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Aku duduk di atas tikar.

Tikar yang sama, yang telah aku duduki selama lima tahun.

Di sini, di depan kamar rumah susunku.

Bukan. Bukan kamarku.

Kalau aku mengakui bahwa ini adalah kamarku,

berarti aku kalah dan mereka menang.

Mereka membakar rumahku lima tahun yang lalu.

Mereka mengambil tanah kami untuk membangun rumah susun ini.

Mereka tidak memberi ganti rugi.

Mereka hanya memberiku sebuah kamar di lantai tujuh,

yang tidak akan pernah bisa mengantikan rumah yang lama.

Bukan karena rumahku dahulu adalah rumah yang besar,

tapi aku membangunnya dengan tanganku sendiri.

Adikaryaku.

Satu-satunya adikarya yang pernah aku punya.

Pernikahanku jelas sekali bukan sebuah adikarya.

Istriku bodoh.

Aku bodoh.

Kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi.

Kami tidak pernah bersekolah.

Mungkin karena itu…

ketiga anakku juga bukan adikarya.

Anak laki-lakiku yang paling besar kini menghilang.

Dia menikam orang sampai mati ketika berumur 14 tahun, dan dipenjara.

Aku tidak tahu apakah dia sudah dibebaskan atau belum.

Anakku yang kedua tinggal di rumah. Selalu di rumah.

Tidak pernah pergi keluar, atau melakukan apa-apa.

Dia tidak bekerja, tidak bersekolah.

Tidak ada satu pun anakku yang pernah bersekolah.

Mungkin karena itu.

Anakku yang ketiga. Perempuan.

Mungkin dia yang bisa mendekati sebuah adikarya.

Senyumya manis, kulitnya bersih,

sekalipun tidak pernah melakukan perawatan muka.

Perawatan muka apa? Keluargaku saja sulit mencari makan.

Sebentar lagi, anak perempuanku akan pulang.

Dia telah menemukan jodohnya.

Seorang tukang ojek yang juga punya gerobak untuk menjual gorengan.

Anakku akan jadi seseorang.

Hidupnya akan lebih baik.

Hari ini, pacarnya dan keluarganya akan datang untuk meminang anakku.

Dari pagi, istriku berusaha untuk membuatku masuk.

Bisa masuk dahulu, 'kan? Ini untuk anakmu!

Nanti, kalau keluarga pacarnya sudah pulang, kau boleh duduk di situ lagi!

Atau pergi ke mana dahulu. Nanti, kalau mereka sudah pulang, baru balik lagi.

Mereka tidak akan pernah mengerti.

Tidak ada orang yang bisa mengerti,

kecuali anak perempuanku.

Cuma dia yang memahami aku.

Aku yakin dia tidak akan menyuruhku masuk.

Aku yakin dia tidak akan malu.

Waktunya semakin dekat. Sebentar lagi, anak perempuanku akan datang.

Aku tidak sabar untuk melihatnya.

Tadi, dia pergi ke salon. Kunjungannya yang pertama.

Itu dia.

Dia cantik sekali.

Jauh lebih cantik dari biasanya.

Dia memang adikaryaku.

Yang paling memahami aku.

Aku yakin dia tidak akan keberatan aku terus duduk di tikarku.

Pak, masih di sini saja?

Mau membuatku malu?

Mau membuat calon mertuaku kabur?

Orang tua itu bisa dipaksa masuk atau tidak?

Aku yakin dia begitu karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupnya.

Aku tidak boleh egois.

Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa ?

Kalau aku masuk, berarti aku kalah

dan mereka menang.

Apa yang harus aku lakukan?

Apa?

Badanku terasa lemah.

Aku tidak sanggup lagi berjalan jauh.

Kalau aku masih di sekitar sini, mereka akan melihatku

dan anak perempuanku akan malu.

Apa yang harus aku lakukan?

Apa?

Pembatas ini tidak terlalu tinggi.

Mungkin aku bisa memanjatnya.

Lagi pula, badanku kini sangat ringan.

Hup. Kini, aku sudah berada di atasnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Segalanya terasa seperti dalam gerakan lambat.

Aku melayang.

Mungkin karena badanku terlalu ringan.

Apakah aku kalah?

Apakah aku menang?

Yang aku tahu, tidak ada seorang pun yang akan kehilangan diriku.

Saluran 101.4 Trax FM, kita adalah generasi sekarang.

- Ya! - Hai!

Apa kabar, Sayang? Kembali lagi bersama kami.

Ada Melaney Ricardo.

Berdua dengan Ichsan Akbar. Bagaimana aktivitasnya? Macet.

- Ini Jakarta, Cinta. Macet sudah biasa. - Kecil!

Yang penting ada kita berdua di sini yang menghibur, 'kan?

Itu dia. Kalau mau mengajukan lagu, apa pun lagunya…

- Ke Trax FM, ya! - Pastinya!

Nomornya 0811971014. Mainkan.

Kamu dari mana saja?

Kamu tahu ada apa, 'kan?

Katakan padaku kalau kamu tidak ada hubungannya.

Saya pergi dari tadi siang, Bar.

Saya mau bicara.

- Tidak ada yang perlu dibicarakan. - Ada.

Ya sudah. Bicara saja.

Tidak bisa di sini.

Ada hal penting yang perlu saya tunjukkan ke kamu.

Mohon ikut dengan saya sebentar.

Setelah ini, kamu akan mengerti kenapa.

Tolong ikut dengan saya sebentar.

Percayalah. Saya berjanji semuanya akan baik-baik saja.

Semuanya akan kembali seperti semula.

Percayalah pada saya, Renta.

Bagaimana kamu bisa masuk?

Menarik sekali membaca deskripsi kamu tentang saya, Bar.

Ini kuncinya Renta, 'kan?

Kamu dapat dari mana?

Kamu melakukan apa kepada Renta ?

Renta di mana, Mi?

Renta di mana, Mi?

Ternyata cerita yang paling menarik adalah cerita tentang kamu sendiri, Bar.

Kamu melakukan apa kepada Renta, Mi?

Renta di mana, Mi?

Bukankah rumah susun ini punya sembilan lantai?

Lantai sembilan kosong.

Setan yang menempati.

Setan sungguhan?

Katanya, yang menempatilantai sembilan adalah orang-orang yang mati gentayangan

waktu rumah mereka terbakar.

Lalu, tanahnya dipakai untuk membangun rumah susun ini.

Renta!

Renta.

Tolong!

Pak, tolong!

Bagaimana cerita ini akan berakhir, Bar?

Semua kejadian ada tujuannya.

KEJADIAN DAN KARAKTER FILM INI FIKSI

JIKA ADA KESAMAAN DENGAN TOKOH DAN PERISTIWA ASLI, ITU HANYALAH KEBETULAN

Kisah ini akan terus berlanjut seumur hidup kita. Terima kasih!

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.