All language subtitles for Dota.Dragons.Blood.S01E04.The.Monster.at.the.End.of.This.Book.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

SERIAL ANIME NETFLIX ORIGINAL

Dewi.

- Luna, ketakutanmu memanggilku. - Hanya amarahku, Dewi.

- Teratainya hilang. - Kau takut pada kisah itu.

- Itu membuatmu marah. - Tapi jika itu lebih dari sekadar kisah…

- Ramalan. - Aku ada di sana, Luna.

Sejarah menjadi mitos karena disampaikan berulang kali.

Arti diberikan untuk peristiwa yang tidak ada.

Janji dari para bapa yang gagal menjadi ramalan.

Semua lahir dari kisah pengantar tidur untuk anak-anak.

Putri Mirana diasingkan karena kegagalannya.

Aku pulang dari pencarianku dengan tangan kosong.

Mirana tidak diasingkan. Dia membuat pilihan.

Perjalanannya bukan urusanmu.

Pencurian teratai adalah kejahatan berat.

Harganya sangat mahal. Tapi kau harus percaya.

MONSTER DI AKHIR BUKU

Astaga. Menyenangkan bisa lepas dari angin.

Lenganmu.

- Aku tak sadar. - Biar kubalut.

Ada kandang dengan karpet kuda yang pas untuk Sagan.

Ini dia.

Wiski Api Naga.

Ini bukan Icewrack putih, tapi akan menghangatkanmu.

Ya, karena itulah disebut Api Naga.

Sudah kuduga.

Dengar. Jika kau ingin bicara, aku di sini.

Makanan panas yang enak. Tidur. Kau akan segera siap untuk pergi.

Sangat cepat.

Ada yang datang.

Kaden. Kau menemukannya di sini. Dalam udara dingin.

Merah tua dan emas bertingkah aneh.

- Lebih mudah berburu, sulit dibunuh. - Kau tidak membuatnya terlihat sulit.

Zirahnya. Tiap bagiannya, ditempa dari naga.

Makin tua makin baik. Dewasa. Aku mengambil kekuatannya.

Dewasa?

Butuh separuh ordo untuk menumbangkan naga dewasa.

Aku sendiri.

Aku tak menduga bertemu siapa pun di sini. Kurasa kau dengar dari Bram, pengawalku.

- Kuutus dia ke Benteng Naga. - Dari mana?

Barrowhaven. Membersihkan sarang anak naga.

- Kukira aku menemukan Eldwyrm. - Kau berpikir atau sudah menemukannya?

Kami tidak menemukannya.

- Wanita itu tidak setuju. - Apa?

Aku tahu ekspresi itu. Mata itu.

Berpikir, "Hewan malang ini."

Kau tahu yang akan dia lakukan padamu di alam liar?

Gigitannya melelehkan daging. Memasak darah di nadimu.

Membuatmu tetap hidup dan berteriak. Pria kuat memohon untuk mati.

Kesatria Naga menghargai musuhnya.

Kita tidak pernah bisa melupakan siapa mereka.

Mesin pembunuh.

Aku akan memeriksa keadaan Marci.

- Davion, tunggu! - Jangan sekarang.

- Kau berbohong kepadanya. - Lebih buruk dari itu.

- Aku ingin melawannya. - Melawannya?

Itu gila, aku tahu.

Melihatnya dengan anak naga di tangannya.

Pada pengait itu.

Kau ingin kembali ke Benteng Naga untuk bicara dengan orang seperti dia.

Ini kesempatanmu.

- Dia tidak akan mengerti semua ini. - Maksudmu kau takut dia tak mengerti.

Kukira Davon sang Kesatria Naga tidak takut pada apa pun.

Berapa usiamu saat belajar melangkah antar bayangan?

Saat beranjak dewasa.

Ada variasi dalam kekuatan kemampuan ini?

Malam.

Bulan purnama.

Bersama keluargaku.

Menarik. Apakah musim…

Mengetahui ini membantu kembalikan Mene?

Apa kau selalu emosional?

Aku bermimpi semalam.

Kau mau menuliskannya?

- Katakan. - Saat itu gelap.

Aku mendengar nama Mene berulang kali.

Pondokku. Keluargaku. Kami menyembah. Kami mencintai.

Aku melihat wajah mereka.

Dyfed, Idwal, Adara.

Mereka tersenyum.

Lalu aku bangun.

Sendirian di menara.

Semua buku ini. Semua sihir ini. Kau tidak memahami apa pun.

Aku harus apa dengan ini?

Pahami semuanya.

Karena makanannya, atau orang di dekatmu?

- Apa? - Kau tidak makan.

Perjalanan di gunung sangat berat.

Kalau begitu, untukmu. Sedikit sisik naga. Ini akan meringankan perjalanan.

Terima kasih.

Kurasa kau tak datang jauh-jauh kemari untuk berburu anak naga.

- Melunasi utang. Utang nagaku. - Utang naga?

- Utang dengan naga. - Bukan naga. Manusia.

Hampir 20 tahun lalu. Tiga puluh orang dari kami ke kota Leathsham.

Kota yang bagus. Terlihat banyak anak naga.

Khawatir nantinya menjadi naga dewasa, kami tak mengambil risiko.

Menulis jurnal saat itu, mengkhawatirkan seorang gadis.

Atau omong kosong.

Lalu langit terbuka. Serangan api. Seperti siang hari.

Seperti neraka.

Kekhawatiran akan para gadis hilang dalam api itu.

Keberanian dan latihan membuat kami maju,

ke dalam kematian.

Kami tidak tahu sampai melihatnya

dalam cahaya apinya sendiri.

Sisik merah bersinar di bawah sinar bulan.

Ukuran tubuhnya.

Aku tak paham kenapa dia bisa bergerak.

Lalu mulutnya terbuka.

Penderitaan muncul dari sana.

Kematian muncul dari sana.

Asap dari daging yang terbakar menyelubungi udara.

Merasakan tangan kapten di kakiku.

Aku tersandung dan melihat separuh tubuhnya habis.

Pria itu mengajariku bertarung, sekarang hancur.

Tiga puluh orang pergi ke Leathsham.

Satu orang kembali.

Aku kembali.

Jadi, ya. Aku berburu sesuatu yang lebih besar daripada anak naga.

Aku memburu Slyrak.

Setelah hampir 20 tahun, akhirnya kutemukan sarangnya.

Kosong. Binatang buas itu sudah tidak ada.

Aku mengikuti jejaknya ke seluruh dunia.

Menuntunku ke gunung di luar Barrowhaven.

Kota yang bagus.

Aku tak menemukan Slyrak. Ada naga mati. Aku menemukan orang mati.

Dan aku menemukan ini. Kalungmu.

Kau masuk ke gua itu dan belum siap dengan apa yang kau lihat.

Kau kabur dan malu.

Tidak perlu.

Aku sudah melihat kemampuan satu Eldwyrm

kepada satu kelompok Kesatria Naga.

Seorang pria tidak siap, tidak punya harapan untuk menang.

Tapi untuk membunuh Slyrak, aku perlu tahu apa yang kau lihat.

Saat bangun, aku telanjang. Semuanya hilang. Bahkan ini.

Hanya itu yang kuingat. Aku butuh bantuanmu.

Kita membuat sumpah keramat.

- Kesatria Naga. - Saudaraku. Aku akan membantumu.

Aku berjanji.

Sudah kuduga dia akan membantumu. Kau berada di tangan yang tepat.

- Aku terus berada di tangan yang tepat. - Kita berdua.

Masih punya wiski itu? Kita harus merayakannya.

Kurasa masih ada. Dan ternyata kau benar.

Benar sekali. Lagi pula, besok hari penting.

Membunuh naga, kemungkinan menjadi naga, dan dibunuh.

Jadi, ayo minum.

- Apa? - Jadi, itu masalahnya?

- Aku tidak mengerti. - Senyuman itu. Minumannya.

Kau dan aku. Saling menutupi.

Kau menjadi "Davion sang Kesatria Naga

yang membunuh naga itu."

- Hentikan. - Aku Davion…

Berhenti. Lepaskan zirahnya.

- Tidak apa-apa menjadi manusia. - Aku selalu menjadi manusia.

Lihat? Manusia.

Benar. Kau tahu, tidak perlu.

Kau ingin dengar apa dariku?

Mulai dengan yang bisa kulihat.

Kau tidak makan. Kau bingung. Kacau.

Kau di rumah bersama pahlawanmu, seharusnya merasa aman.

Seharusnya merasa lebih baik, tapi malah lebih buruk.

Jadi, kau bersembunyi.

Kau, Putri Mirana, akan menceramahiku soal bersembunyi.

Setiap malam saat aku tidur dan setiap pagi saat bangun,

aku mempertanyakan diriku.

Dahulu aku tahu. Dahulu aku masuk akal. Aku…

Tidak.

Gua itu. Aku melihat kengerian. Memuja batu merah yang aneh.

Dunia lain.

Kuat. Aku merasakannya. Aku mendengarnya.

Menjanjikan untuk mengisi lubang dalam diriku. Itu gila.

Tapi itu juga sebuah jawaban.

Dan aku siap membiarkan itu menjadi jawabannya.

Lalu aku sadar. Itu hanya tempat bersembunyi.

Dan sekarang, aku ingin minum. Seorang teman.

Dan jawaban yang lebih baik daripada kegilaan.

Aku bukan jawaban yang lebih baik. Bahkan bukan jawaban yang berbeda.

Kau tidak berhak memutuskan itu untukku.

Tidur yang nyenyak, Kesatria Naga. Sampai jumpa saat kau bangun.

Selemene.

- Bulan sabit menyinarimu. - Semoga bulanmu selalu penuh.

Apa kau mencintaiku?

Kau cahaya yang bersinar di belakang mataku.

- Pujalah aku. - Tidak ada yang akan lebih memujamu.

Apa kau mencintaiku?

- Tolong aku! Kumohon, Dewi! - Apa kau mencintaiku?

Dewi, kumohon!

Aku mencintaimu!

Kumohon!

Seribu tahun dan mereka masih belum tahu siapa kau sebenarnya.

Jiwanya sudah kembali ke Alam Materi.

Dia tidak akan ingat hal ini dan hanya tahu cintanya

diperbarui dan intens padaku.

- Aku tidak melihat bahaya. - Kau tidak pernah melihatnya.

Aku tahu kau punya teratainya. Aku tahu begitulah caramu datang.

Aku hanya tidak tahu alasannya.

Untuk mengakhiri ini. Kau bisa mengambil teratainya.

- Aku hanya ingin satu hal. - Apa pun itu.

Biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Untuk memaafkanmu.

- Untuk berpamitan. - Berpamitan?

Kepada siapa aku harus berpamitan?

- Kau bahkan tidak punya nama lagi. - Yang tak dinamai, tak diketahui.

- Yang tak diketahui, tak boleh disakiti. - Atau dicintai.

Sayang sekali.

Tidak mengetahui satu-satunya makhluk yang pernah melihatku apa adanya.

- Aku dahulu mencintaimu. - Dahulu.

Aku bisa mencintaimu lagi.

Selemene. Itu bukan…

Apa kau mencintaiku?

Bukan apa-apa…

Bukan apa-apa.

Aku bukan apa-apa.

Kaden?

Davion?

Davion!

Kaden! Apa yang kau lakukan?

Kaden!

Kaden?

Naga ionik. Mereka tidak bisa berbohong. Sekarang kau juga tidak bisa.

Di mana kau?

- Tunjukkan dirimu. - Aku tidak mengerti!

Bukan kau, Saudaraku. Dia.

- Slyrak. - Dia sudah tiada! Dia sudah mati!

Tidak!

Di mana kau, Pengecut?

Di sini.

- Bersembunyi dalam anak ini. - Bepergian.

- Bepergian ke mana? Katakan. - Tikus kecil. Bau ketakutan.

Aku melihat pegunungan tenggelam di lautan.

- Ke mana pun itu, tidak bisa dijamah. - Keluarlah dan ikuti aku sampai mati.

Kau mencari kehancuranku. Dendammu tidak akan terpuaskan,

atau kejayaanmu akan dinyanyikan karena tidak ada yang menyanyikannya.

Setelah dibebaskan dari belenggu fisik,

waktu, ruang, Berbagai Bentuk,

tiang ketertiban dan kekacauan lenyap.

Yang ditunggu alam semesta tanpa akhir adalah kehancuran

tanpa harapan bangkit kembali.

Absennya ketiadaan. Kau tidak tahu apa yang kau hadapi.

Sudah 20 tahun aku mempersiapkan ini. Untukmu.

Kerajaan terbakar oleh napasku, Tikus Kecil.

- Tentara menjadi abu. - Tentara menentangmu mati menjerit.

Aku tak butuh pasukan atau naga dewasa.

Makin besar tubuhmu, makin keras tebasannya.

Aku ingat kau.

Aku ingat seperti apa rasa teman-temanmu.

Aku ingat bau ketakutan mereka.

Tikus kecil mujur itu kabur, dan itu yang sebenarnya.

Aku juga ingat baunya.

Tidak bisa lupa. Tidak akan. Aku kehabisan pertanyaan.

- Dua puluh tahun. - Bukan apa-apa bagiku.

Dua puluh tahun dan 29 jiwa.

Kau pikir aku tidak bersiap untuk ini?

Kau juga tak bisa menyerang naga Kekacauan.

Astaga.

Di sana kau rupanya, Bajingan.

Marci! Sagan!

Dia sudah tiada.

Bagaimana semuanya bisa menjadi begitu kacau?

Kau meninggalkanku.

- Aku meninggalkanmu. - Tapi aku dewi yang baik.

Aku memaafkanmu.

Dan dia?

- Kau memaafkannya? - Jangan.

Aku melihatnya, tidak berdaya.

- Saat masih kecil, anak kita layu. - Kumohon. Itu sudah berlalu.

- Kembalilah kepadaku. - Sebutkan namanya. Dan aku milikmu.

Dia putrimu.

Lenyap.

Semua anak-anakmu yang terlupakan membencimu.

Para peri bangkit. Pasukan rahasia, Legiun Peri,

muncul dari tiap enklave di dunia.

- Dan aku punya teratainya. - Jangan.

- Tidak boleh. - Kau tidak akan menyelamatkannya.

Kau tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri.

Gadis itu. Apa yang terjadi padanya? Apa yang terjadi…

Benarkah itu?

Dewi.

Aku sudah mengampuninya selama seribu tahun!

Memberinya kedamaian!

Sebagai ganti, mereka biarkan perselisihan dan kebencian membara di pasukan mereka!

Aku bisa menjadi segalanya bagi mereka, tapi mereka tidak memilih yang abadi!

- Siapa? - Para peri! Mereka di enklave!

Mimpi mengigau Kiamat Bulan Gelap mereka!

Kau bilang itu hanyalah kisah.

Niat mereka nyata, begitu juga ancaman itu.

Terang bulan lama menyinari mereka,

mereka lupa bahwa itu milikku.

Kau akan menjadi pengingat amukanku. Siapkan Ordo Bulan Gelap.

Bakar sampah-sampah penyintas di enklave itu.

Kembalikan mereka ke pelukanku.

Para Ordo belum meninggalkan Hutan Nightsilver

selama seribu tahun.

Dan mereka pergi dengan tujuan yang sama seperti dahulu.

Dewi Bulan akan berperang.

BERDASARKAN GIM VIDEO DOTA 2 OLEH VALVE

Terjemahan subtitle oleh Judith Aulia

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.