Afrikaans
Akan
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
UNTUK ORANG TUA KAMI TERSAYANG, SRI HIROO DAN SRI VINITA BHARWANI
Ini kisah sahabatku, Natasha Kay-Loovi.
Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Sekalinya dia jatuh, cintanya sungguh-sungguh.
Ini cinta pertama Acha, tak boleh Acha sia-siakan!
Apa pun yang ada di pikiranmu sekarang, jangan dilakukan, Cha.
- Tapi Acha ingin berpacaran. - Cha, ingat.
Empat bulan lalu, kau mau pindah ke sekolahku karena apa?
Karena SMA Arwana punya tim olimpiade sains yang bagus.
Iya, bukan karena mau cari pacar, 'kan?
Bukan! Motivasi awal memang untuk kepentingan otak.
- Bagus! - Tapi sekarang, motivasinya ditambah.
- Untuk kepentingan hati. - Tak perlu!
Fokus saja di otak.
Manda, otak dan hati itu harus berjalan bersama.
Harus saling melengkapi, bukan saling mendominasi.
Ya, tapi tak harus sekarang juga, 'kan, Cha?
Harus!
Ini hari terakhir kita di sini. Jadi, Acha harus jadi pacar dia.
Cha, kumohon. Jangan buat malu.
Aduh.
Hai, Iqbal.
Boleh minta nomor telepon?
Hai, namaku Natasha Kay-Loovi. Biasa dipanggil Acha.
Enam bulan lagi, ulang tahun ke-17 tahun.
Empat bulan yang lalu, baru pindah ke sekolah ini.
Jadi, sekarang kelas 11 Fisika Tiga.
Acha di rumah cuma tinggal dengan Mama karena Papa Acha tugas di Korea.
Omong-omong, Acha jomlo.
Minta nomor teleponnya.
- Tidak. - Kenapa?
Untuk apa?
Ya, untuk mengobrol, untuk menelepon.
Tak mau.
Kau mau tulis sendiri atau mau menyebutkan saja?
Aku sudah bilang. Tidak.
Ayolah!
Kebanyakan rumus, ya, otakmu?
- Jadi sakit? - Tidak. Alhamdulillah, Acha sehat.
- Lalu kenapa memaksa? - Ya, karena Acha menyukai Iqbal.
Begini.
Dari awal Acha pindah ke sekolah ini…
Satu detik lihat Iqbal di perpustakaan, Acha langsung menyukai Iqbal.
Sudah ditahan selama empat bulan kurang dua hari.
Dan akhirnya, hari ini Acha tak kuat, Iqbal!
Langkah pertama harus bilang, langkah kedua harus minta nomor telepon.
Kosong, delapan, satu, tujuh.
Sebentar.
Empat, tiga, enam, satu, satu.
Terima kasih!
Nanti Acha kirim pesan, ya?
Langsung telepon saja.
Oke.
Makanannya tak dihabiskan, Bal?
Telepon sekarang atau tidak, ya?
Nanti saja setelah selesai tes, Cha.
Ih, Acha mau telepon Iqbal dan bilang,
"Halo, Iqbal. Selamat mengikuti tes, ya. Semoga berhasil."
- Sudah, begitu saja. Tak akan mengganggu. - Percaya padaku.
Percaya padamu itu musyrik. Karena Acha percaya cuma pada Allah.
Iqbal itu orangnya sangat ambisius untuk terpilih jadi tim olimpiade sains.
Jadi, kalau kau telepon, akan ditolak.
Ya, jadi, percuma…
Terpencet. Aduh, terpencet.
Aduh.
Coba, ya?
Halo, Iqbal. Ini Acha, yang tadi minta nomor Iqbal.
Ya?
Iya, jadi,
Acha cuma mau bilang ke Iqbal kalau Iqbal ganteng sekali, Iqbal pintar sekali,
dan Acha sudah menyukai Iqbal semenjak pertama kali lihat Iqbal…
Tadinya mau dipijat kapan?
Kok pijat? Ini Iqbal, 'kan?
Saya Jumali.
Kosong, delapan, satu, tujuh, empat, tiga, enam, satu, satu.
Sudah aku bilang, 'kan?
Iqbal tak mungkin memberi nomornya kepadamu begitu saja.
Iya. Ternyata dia usil, ya? Jadi gemas.
Itu tandanya Iqbal juga menyukai Acha. Maka itu, dia usil seperti itu. Ya, 'kan?
Terserah kau!
Acha?
Natasha!
Kok kamu bukannya mengerjakan soal, malah melamun dari tadi?
Acha sudah selesai, Pak.
Sudah selesai?
Cepat sekali.
Ya sudah. Kalau sudah selesai, kamu boleh keluar.
Berjalan-jalan atau lihat pemandangan.
- Kalau di kelas, tak apa-apa, 'kan, Pak? - Ya, boleh saja. Terserah.
Pemandangannya lebih indah kalau di kelas.
Bapak ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian
karena telah bersedia untuk
ikut di dalam pelatihan dan seleksi tim olimpiade sains SMA Arwana.
Manda.
Ternyata Iqbal itu kalau dari samping, mukanya lucu sekali.
Dan sekarang, Bapak akan mengumumkan tiga nama…
- Serius. Lihat. - …yang terpilih menjadi tim inti
dan akan bertarung di tingkat nasional.
Yang pertama, yang mendapatkan nilai tertinggi untuk matematika adalah
Juna Pratama! Selamat!
Ayo, Juna.
Tepuk tangannya juga lucu sekali. Jarinya panjang, kukunya bersih.
Dan selanjutnya, yang mendapatkan nilai tertinggi untuk kimia
adalah Natasha Kay-Loovi!
- Acha! Ke sini! - Hei!
Maaf, Pak.
Selamat, ya.
Dan anggota terakhir yang mendapatkan nilai tertinggi fisika adalah…
- Iqbal Guanna! - Ya!
Ayo.
- Selamat, ya. - Terima kasih, Pak.
Nah, selamat untuk kalian, tapi jangan senang dahulu.
Karena kalian masih punya tugas
untuk mempersiapkan diri secara intensif.
Siap, Pak.
Terima kasih untuk kalian. Tepuk tangan untuk kalian juga.
Dan sekarang, kita akan pulang ke Jakarta.
Bus sudah menunggu di depan.
Dan kalian tunggu dahulu di sini karena Bapak akan beri pengarahan, ya?
Oke, silakan berkemas untuk yang lain.
Ya ampun, ini seperti takdir, bukan?
Iqbal dan Acha sekarang satu tim.
Omong-omong, kita belum bersalaman.
Iya.
Setuju, Cha. Kita pasti akan jadi tim yang hebat.
Sekalian minta nomor teleponnya.
Tadi sudah, 'kan?
Ya, tadi sudah, tapi nomornya salah.
Jadi, sekarang Acha mau minta nomor yang benar.
Acha minta nomormu.
Semua perempuan di sekolah kita sudah tahu kalau Iqbal orangnya sangat dingin.
Satu badan isinya otak saja, tak ada hatinya.
Masa?
Ya, lagi pula, dia sudah memberi tanda yang jelas, Cha, ke dirimu.
Maaf, ya, aku bicara pahitnya sekarang agar kau tak sakit hati nantinya.
Apa yang pahit, Manda?
Sikapnya jelas.
Dia tak mau berhubungan denganmu. Jadi, lebih baik kau lupakan Iqbal.
Tanggung, Manda. Bagaimana aku bisa melupakan Iqbal?
Acha sudah terlanjur menyukai Iqbal.
Ya sudah. Acha coba lupakan Iqbal.
Lupakan Iqbal.
Tak bisa! Malah makin menempel.
Sekarang, aku malah jadi rindu Iqbal.
Iqbal, ayo. Kamu duduk di sana, ya.
Itu Iqbal!
- Ayo, Acha. Ayo. Manda. - Kok ditinggal?
Ayo!
Acha, duduk sini saja.
Iqbal yakin tak mau membiarkan Acha duduk di samping Iqbal?
Kalau tak mau, Acha duduk dengan Juna.
Apa urusannya denganku?
Acha sudah bilang ke Iqbal kalau Acha menyukai Iqbal.
Jadi, duduk berdua dengan Iqbal di perjalanan dari Bogor ke Jakarta itu
saat-saat yang paling tepat untuk kita berdua saling mengenal.
Tidak tertarik.
Acha, duduk sini saja.
Ada cokelat. Mau, tidak?
Terima kasih, Jun, tapi Acha sebenarnya alergi cokelat.
Jadi, kalau makan cokelat, selalu ingin marah-marah.
Sebentar.
Kalau keripik kentang?
Kalau makan keripik kentang,
selalu ingin menjenggut orang yang ada di dekat Acha.
Terima kasih, Jun.
Bagaimana? Sudah merasakan dinginnya Iqbal itu seperti apa?
Iqbal lagi menguji Acha, seberapa seriusnya Acha menyukai Iqbal.
- Acha! - Manda!
Acha tidak akan mundur.
Dari semua kisah cinta yang melegenda,
pasti ada yang namanya perjuangan dan pengorbanan.
Kau melamunkan apa?
Acha lagi membayangkan saat sudah besar, menikah dengan Iqbal.
Punya anak.
Punya rumah sendiri. Halamannya luas.
Banyak bunga-bunga, ada kupu-kupu.
Seharusnya nilai kamu juga tertinggi di kimia dan matematika, Iqbal.
Ini kompetisi tim, Pa.
Anaknya Pak Didi baru saja dapat beasiswa.
Studi Dirgantara di Universitas Bristol, Inggris.
Padahal dia baru kelas sepuluh.
Karena dia terbiasa mengejar kesempurnaan untuk semua nilainya
di segala bidang.
Hanya orang dengan bakat istimewa yang mendapat tempat di dunia ini.
Jadi yang terbaik
atau tak jadi apa pun.
Iya, Pa.
Mannaseo banggapseumnida.
Kalau, "Kalian dari mana?"
Neo idereun eodiseo wasseoyo?
- Betul! - Ya!
Apa lagi?
Aku suka nasi goreng.
Jeoneun nasi gorengeul jo…
Josansi hamnida.
Joahamnida.
Masa?
Aduh, bagaimana Mama mau menang kontes ke Korea kalau begini caranya?
Aduh, Mama.
Lagi pula, kenapa Mama repot-repot ikut kontes di kedutaan segala?
Papa maunya kita menyusul saat acara liburan.
Kelamaan, Acha.
Mama mau beri kejutan untuk Papa.
Lagi pula, kalau Mama menang kontes,
Mama bisa bertemu BTS! Mama, 'kan, Army!
Mama bisa bertemu dengan Jin, dengan SUGA, dengan V.
Maka itu, Cha, tak cuma harus fasih bahasanya,
tapi kita juga harus mengerti budayanya.
Ini apa, Ma?
Teh jagung, minuman khas Korea. Enak, 'kan?
BTS juga minum itu.
Pokoknya, Ma, Mama tak usah khawatir.
Mama pintar, seperti yang sering Papa katakan.
Otak Acha juga turunan dari Mama.
Terima kasih.
Sudah, Acha tidur, ya?
Bukankah kita mau menonton Train to Busan?
Acha lagi tak ingin, Ma, menonton yang seram-seram.
Lagi butuh energi positif.
Pasti karena belum dapat nomor ponselnya si dia.
Siapa namanya?
- Iqbal. - Iqbal.
Acha tak usah khawatir.
Otak Acha pintar. Acha pasti bisa.
Ayo! Semangat, ya?
- Cie, yang sudah punya pacar. Cie. - Cie.
Berisik.
Sini.
Apa itu?
PR fisika.
- Memang ada PR? - Memang ada fisika nanti?
Ya Allah, ada!
- Aku dahulu. - Eh, aku! Aku juga!
- Diam, aku dahulu! - Eh!
Jadi, bagaimana?
Acha?
Kok bisa jadian?
Bukannya kau paling takut, ya, terganggu konsentrasi belajarnya?
- Siapa yang bilang? - Anak-anak yang ikut pelatihan.
Sudah heboh gosipnya.
Mulai dari gerbang sampai depan pintu kelas kita.
Mbak Wati saja tahu.
Mbak Wati yang menjual cireng?
Ya, iya. Siapa lagi?
"Glen, Iqbal dan si Acha jadian, ya?"
Sembarangan. Aku tak mau dengan dia.
Kau sudah gila, Bal. Kenapa?
Acha itu cantik, pintar, baik, nyaris sempurna.
Nyaris, 'kan?
- Aku mau yang sempurna. - Memang ada?
Maka itu, aku tak mau berpacaran.
Kok banyak sekali, ya, PR-nya?
Ini PR minggu lalu, Sapi.
- Kau bodoh! - Ini.
Kenapa kau tak bilang, Bal? Aku pikir yang namanya PR sama saja semua.
Kau sudah jelek.
Cie.
Kosong.
Jijik!
- Apa? Malu, tahu? - Apa? Saling suka, 'kan?
Tidak, aku tak mau berpacaran.
Nanti rumit hidupku, seperti kau.
Manda, Manda dan Acha bersahabat.
Rian dan Iqbal bersahabat. Kita bisa kencan ganda nanti.
Tak usah berkhayal. Sudah, mau upacara.
Harus khidmat.
Rian, awas lepas.
Astagfirullah!
Seluruhnya, siap, gerak!
Pembina upacara memasuki lapangan upacara.
Iqbal mana, ya?
Tadi, aku lihat sudah datang. Tapi kok tidak ada, ya?
Iqbal mana?
UKS.
Halo?
Memangnya sesensitif itu kulitnya
sampai tak bisa terkena sinar matahari pagi?
Ini siapa?
Katanya kalau upacara, bisa langsung pingsan, ya?
Ini siapa sebenarnya?
Ini perempuan yang mau menemani Iqbal agar tak bolos upacara sendirian.
Dapat nomorku dari siapa?
Rian? Glen?
Tak penting dapat dari siapa.
- Yang penting untuk apa. - Memang untuk apa?
Untuk berpacaran.
Iqbal mau jadi pacar Acha, 'kan?
Tidak.
- Kok tidak? - Ya, tidak saja.
Kemarikan kuncinya.
Kenapa tidak?
Tidak suka saja.
Kenapa tak menyukai Acha?
Menurutmu kenapa?
Tidak tahu.
Acha juga sebenarnya bingung.
Kalau dipikir-pikir, muka Acha tak terlalu jelek.
Otak juga sebanding.
Bisa diam, tidak?
Bisa, tapi untuk apa?
Acha ke sini mau mengobrol dengan Iqbal.
Kalau diam, namanya semadi.
Butuh pohon, butuh air terjun…
- Parah. - Iya, parah.
Ada, ya, orang semadi sampai sebegitunya?
Tidak mandi, tidak makan, tidak tidur. Aneh.
Seru, ya, mengobrol seperti ini?
Kita sebenarnya cocok, Bal.
Mengobrol itu dua arah.
Ini namanya mencerocos tak tahu arah.
Ya, namanya juga orang.
Punya mulut, fungsinya ada dua.
Untuk makan dan untuk mencerocos.
Kalau benar orang, seharusnya tahu cara mengendalikan mulutnya.
Kapan bicara, kapan diam.
Sebenarnya, Acha itu pendiam, Iqbal.
Tapi semenjak kenal Iqbal, Acha jadi seperti ini.
Jadi tak terkendali. Apalagi jantungnya.
Oke, cukup. Kemarikan kuncinya.
Cepat, kuncinya!
Iqbal, Natasha! Kalian bolos upacara, ya?
- Buka pintunya. Buka! - Iya, Pak.
Iya, Pak.
Sedang apa kalian di sini?
Kita lagi berpacaran, Pak. Baru saja jadian.
Astagfirullah.
Romantis, ya, kita? Seperti di film.
Dihukum bersama-sama.
Iqbal marah, ya?
Kalau Iqbal marah, marah saja, Iqbal.
Acha lebih memilih Iqbal marah daripada didiamkan seperti ini.
Iqbal lelah, ya?
Istirahat saja. Biar Acha yang selesaikan.
Muka Iqbal pucat. Biar Acha yang kerjakan. Acha ikhlas membantu.
- Lepas. - Tidak usah.
- Lepaskan. - Tidak.
- Lepaskan, tidak? - Tidak, Iqbal.
- Istirahat saja. Tidak. - Lepaskan.
- Lepaskan! - Tidak.
Ya sudah, terserah.
Tolong!
Iqbal!
Tidak usah berbohong.
Tolong, Iqbal!
Agar seperti di film? Aku terjun menolongmu?
Tolong, Iqbal!
Basi.
Acha?
Acha!
Acha!
Benar, 'kan? Seperti di film.
Menyebalkan!
Aku tahu kau pasti berbohong.
Tidak lucu.
Iqbal. Tunggu, Iqbal.
Iqbal.
Iqbal, pasti kau bercanda untuk membalas Acha, 'kan?
Iqbal!
Iqbal?
Iqbal!
Iqbal? Bangun, Iqbal.
Iqbal!
Iqbal sungguhan atau berpura-pura?
Iqbal, bangun. Iqbal.
Bagaimana ini?
RJP KOMPRESI - JALAN NAPAS - PERNAPASAN
Oke.
Iqbal.
Aduh, bagaimana ini?
Oke.
Iqbal pingsannya sungguhan atau pura-pura agar Acha cium?
TAK ADA YANG MUSTAHIL, KATA ITU JUGA BISA BERARTI, "SAYA BISA!"
Sekarang, Acha minum obat dahulu, ya?
Pelan-pelan.
Oke.
Agar cepat sembuh, Mama perlihatkan koreografi tari, ya?
Satu, dua, tiga!
Keren, 'kan?
Lihat? Langsung tersenyum. Langsung sembuh.
Tapi hati Acha belum sembuh, Ma.
Masih pedih rasanya dicampakkan Iqbal begitu saja tadi.
Mungkin
Iqbal belum yakin dengan perasaannya, Acha.
Semua itu butuh proses, butuh waktu. Begitu juga dengan cinta.
Kata siapa?
Kata Bae Yong-joon di Winter Sonata.
Acha sayang Mama.
Ibu juga sayang kamu.
Cepat sembuh, ya?
Kemarikan ponsel kamu.
- Kenapa, Pa? - Kamu kelelahan.
Terlalu banyak bermain-main sampai lupa makan.
Ini, baca buku saja.
Papa pergi dahulu. Ada janji makan malam dengan Om Henry.
Dia dosen tamu di Bristol.
Nah, Om Hendi itu yang bantu anaknya Pak Didi untuk dapat beasiswa di sana.
Halo, Iqbal?
Iqbal tidak apa-apa?
Acha khawatir, tahu?
Maafkan Acha, ya, sudah menuduh Iqbal pura-pura pingsan di kolam renang tadi.
- Halo, ini siapa, ya? - Ini Acha, Iqbal.
Iqbal lagi sakit, ya? Kok suaranya berubah?
Acha juga sakit, Iqbal. Acha demam.
Mungkin karena rindu Iqbal.
Jadi, obatnya cuma satu. Harus bertemu Iqbal.
Kamu ini sebenarnya siapa? Pacarnya Iqbal?
Iya, Iqbal. Iqbal amnesia, ya?
Tolong jangan ganggu anak saya, ya.
Dia belum saatnya berpacaran.
Dia harus konsentrasi pada sekolahnya.
Jadi, gara-gara ini Iqbal tak mau berpacaran dengan Acha.
Ya! Mama!
Ya!
Mama!
Ada apa, Cha?
Mama benar. Ternyata, prosesnya sudah terjadi.
Iqbal juga menyukai Acha.
Alhamdulillah!
Lalu kapan Mama bisa bertemu dengan orang tuanya?
Secepatnya.
Kau sakit apa?
Cuma maag saja.
Besok juga keluar.
- Kami bawa sesuatu untukmu. - Oh, ya?
Ini.
Apa ini?
Bukalah.
Ta-da!
Kau gila?
Untuk apa bawa cireng ke rumah sakit?
Ya, kau sangat suka cireng Mbak Wati. Kami bawakan.
Aku lagi sakit. Masa cireng?
Makan saja cirengnya agar Mbak Wati senang dan tidak merasa dikhianati.
Bawa pulang saja, ya?
Belum boleh makan yang aneh-aneh.
Alhamdulillah.
Dasar sapi.
Memang sebegitu dahsyatnya, ya, ciuman si Acha sampai kau langsung seperti ini?
Ciuman apa?
Beri tahu!
Yang di kolam. Kau tidak tahu?
Sudah viral di grup sekolah kita, Bal.
Viral.
Iya, Rian!
- Ini serius? - Ini. Lihat sendiri saja.
Acha harus bilang ke Iqbal kalau Iqbal tak harus mundur
cuma karena ayahnya melarang kami berdua berpacaran.
Cha, agar tak kejauhan, aku beri tahu kau dahulu, ya?
Kau dan Iqbal belum berpacaran.
Iya, karena ayahnya Iqbal melarang.
Iqbal anak baik. Dia pasti patuh pada ayahnya.
Tapi kalau ini?
Masalah perasaan. Harus diperjuangkan. Ya, 'kan?
Sumpah, ya? Bicara denganmu membuatku cepat haus, tahu?
Aku ambil minum dahulu.
Asalamualaikum, Acha.
- Wa alaikum salam. - Ini.
Kue keju Belanda untuk Acha.
Acha pernah bilang ke Juna kalau Acha itu alergi keju.
Eh, bukannya waktu itu bilangnya cokelat, ya?
Keju juga.
Ya sudah, tak apa-apa.
Acha ambil saja kue keju Belandanya.
Kue keju Belanda ini bisa tahan dua minggu.
Semoga saja kalau Acha lihat kue keju ini, Acha jadi ingat Juna.
Terima kasih, Juna.
Asalamualaikum.
Wa alaikum salam.
Cha, mau ke mana? Minumannya bagaimana?
Acha mencari Iqbal di kantin tadi.
Memang buku bisa membuat Iqbal kenyang, ya?
Nanti sakit lagi.
Agar Iqbal tak sakit lagi, Acha bawakan kue keju Belanda untuk Iqbal.
Katanya, bisa tahan dua bulan.
Ya sudah. Dimakan, ya, kuenya.
Agar Iqbal tidak sakit lagi dan agar Iqbal kuat
menghadapi segala cobaan terhadap hubungan kita.
Dengarkan baik-baik.
Kita tak ada hubungan apa pun.
- Kita bukan pacar… - Acha mengerti.
Iqbal begini karena Iqbal takut dengan ayah Iqbal, 'kan?
- Kita tak boleh menyerah. Kita… - Acha!
Aku tak mengerti.
Aku tak tahu kau lagi berkhayal atau lagi bermimpi.
Tapi berpacaran itu
butuh dua orang yang saling suka.
Saling cinta. Dan kenyataannya, aku tidak menyukaimu, apalagi cinta.
Kalau sekarang Iqbal belum mencintai Acha,
kapan Iqbal mau menyukai Acha?
Ya, tak akan pernah.
Jadi, tak usah memaksa.
Aku tak menyukaimu.
Sesederhana itu.
Yang sederhana itu nitrogen bertemu hidrogen jadi amonia.
Hidrogen bertemu oksigen jadi molekul air.
Logam natrium bertemu asam klorida jadi natrium klorida atau garam dapur.
Sama seperti Iqbal bertemu Acha. Jadi, kita itu baru sederhana.
Ada yang lebih sederhana.
Aku air,
kau minyak.
Tak akan pernah bersatu.
Bisa. Kalau pakai sabun?
Kalau Iqbal mencuci piring, menghilangkan minyak dengan air tak akan bisa.
- Tapi kalau dengan sabun… - Sudah!
- Ya? - Mau mengembalikan buku.
Jangan dekati aku lagi.
Aku tidak suka. Mengerti?
- Mengerti. - Bagus.
Mengerti kalau Iqbal seperti ini karena Iqbal masih marah pada Acha.
Aku marah padamu karena kau tak mengerti maksudku!
Cinta itu memang butuh pengertian.
Acha mengerti. Ya sudah.
Acha ke sini cuma takut Iqbal sakit lagi.
Dimakan, ya, kuenya.
Menyukai seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kehadiran kita itu
memang sangat menyakitkan.
Ada apa lagi denganmu dan Acha?
Berpacaran belum sebulan, sudah ribut melulu.
Aku tidak…
Percuma. Ini, ya?
Untukmu.
Kue keju Belanda.
Tahan setahun.
Terima kasih, Iqbal.
Sebenarnya sederhana, Manda. Acha menyukai Iqbal, Iqbal menyukai Acha.
Acha senang bersama Iqbal,
Iqbal juga senang bersama Acha. Ya sudah, itu cukup.
Menyukai seseorang lebih dahulu memang begini, Cha. Harus siap sakit hati.
Maka itu, aku melarang. Khawatir kau tak siap.
Berarti hatinya Iqbal lebih keras dari balok kolintang.
Acha!
Hatinya Iqbal itu bukan minyak,
bukan kayu, tapi batu.
Batu sekeras apa pun bisa ditembus air yang terus-menerus menetes, Man.
Tapi masalahnya, batu ini tak mau ditetesi olehmu!
Tapi batu diam. Tak mungkin dia berpindah-pindah sendiri.
- Atau Acha, ya, masalahnya? - Memang kau masalahnya.
Dari awal, aku juga sudah bilang.
Bukan itu maksudnya.
Acha bisa atau tidak jadi air
yang menembus batu yang sama sekali tak mau ditetesi?
- Kalau air yang masa bodoh, bagaimana? - Maksudnya?
Ya, masa bodoh. Air yang tak memedulikan batu itu.
Biar batunya sendiri yang kehilangan.
Nanti dia sendiri yang minta ditetesi olehmu.
- Bisa atau tidak jadi air seperti itu? - Pura-pura saja.
Kalau batunya malah menjauh, bagaimana?
Kau jangan berpikiran negatif dahulu. Coba saja dahulu.
Sumpah, ya. Bicara denganmu menghabiskan energi, tahu?
Aku langsung lapar.
Mau mencamil, tidak?
Rian yang memberi ini padaku tadi.
Manda, ini kue keju Belanda.
Bisa tahan selama dua tahun.
Tapi aku yakin, cinta aku padamu bisa tahan lebih lama daripada kue ini.
Cobalah. Enak.
Enak sekali, 'kan?
Enak?
Jadilah air yang masa bodoh selama tujuh hari, Cha.
- Tiga hari. - Tidak, tujuh hari.
Itu lama sekali, Manda.
Ya, justru itu ujiannya.
Eh, ini apa?
Tadi, Mama yang buat. Ini namanya kimci.
Kimcinya sudah dicoba, belum?
- Sudah, Tante. - Enak, tidak?
Enak sekali, Tante.
Terima kasih.
Kita lihat reaksinya.
Kalau selama tujuh hari dia juga masa bodoh, sudahlah.
Lupakan Iqbal.
Jangan sedih.
Bagaimana tidak sedih, Man?
Menyukai Iqbal saja
sudah sakit seperti ini, apalagi disuruh melupakan Iqbal?
Pasti makin sakit.
Tapi bisa saja terjadi sebaliknya.
Karena kau mengabaikan dia, dia jadi jatuh cinta padamu.
- Bahagianya. - Benar, 'kan?
Maka itu, kau harus tahan selama tujuh hari. Oke?
Oke, siap.
- Bisa atau tidak, ya? - Bisa. Acha bisa.
Kimci datang.
Yang tadi sawi, ini lobak dan timun.
- Dicoba, yuk. - Iya, Tante.
Enak sekali.
Jangan menyapa lebih dahulu. Melirik juga jangan.
- Ada air lagi, tidak? - Habis.
Habis.
Jangan beri perhatian apa pun ke dia. Apa pun.
Ini yang paling berat. Kau harus tahan.
Jadi air yang sungguh dingin saat diajak berinteraksi.
Harus tidak ramah, jangan tersenyum.
Dingin.
Bu, saya mau meminjam tiga buku.
TUTUP
Bu?
Kalau Acha tidak tahan, bagaimana?
Kau harus tahan, Cha.
Acha harus tahan.
Harus bisa jadi air yang masa bodoh, dingin, tak peduli. Acha harus bisa.
FOKUS
Waktu persiapan kita hanya tinggal dua minggu lagi.
Jadi, ada dua hal yang Bapak perlukan dari kalian.
Kerja keras, fokus, dan kekompakan.
Pak, itu bukannya tiga, ya?
Empat. Ketelitian.
Bagus itu, Juna. Pertahankan, ya?
Masing-masing dari kalian memiliki keistimewaan
di tiga bidang sains yang akan diuji.
- Matematika, Juna. - Siap, Pak.
Kimia, Acha.
Dan Iqbal, fisika.
Jadi, kalian tidak perlu untuk saling menonjolkan diri.
Ingat, ini bukan persaingan, tapi ini sebuah tim.
Jadi, kalian harus saling mengisi dan saling melengkapi.
- Juna melengkapi Acha. - Siap, Pak.
Acha melengkapi Iqbal.
Dan Iqbal melengkapi Juna, ya?
- Ada yang kurang, Pak. - Apa?
Acha juga harus melengkapi Juna.
Oke, bagus.
Jangan sampai terlihat kalau kau masih memedulikan dia.
Tapi melihat Iqbal di kelas sering buat hati Acha jadi damai, Manda.
Tahan!
Acha?
Kamu malah bengong? Kamu melihat apa?
- Pemandangan, Pak. - Pemandangan apa?
Tembok? Jendela?
Kaca, tembok. Gordennya juga lucu, Pak. Biru. Membuat hati tenang.
Ada yang ingin ditanyakan pada Acha? Silakan.
Ya, Juna.
Acha, angka 400 itu dari mana, ya?
Ini? Diketahui massa pelarut sama dengan 400 gram.
Jadi, di sini ditulisnya 400.
Ada lagi yang ingin ditanyakan pada Acha? Silakan.
Ya, Juna? Apa lagi?
Ayo, Cha. Tiga hari lagi. Kau harus tahan!
Tapi berat sekali, Manda.
Karena Iqbal sudah mulai memberi perhatian lebih dahulu ke Acha.
- Perhatian? Kau serius? - Iya.
Kok bangun? Ayo, jangan bergerak dahulu. Berbaring lagi.
Ini, ya. Jadi, waktu itu…
Acha.
Ya?
Pinjam kalkulator.
Alah, itu namanya aktivitas pinjam-meminjam.
Ada lagi.
Ini.
Kok hasilnya sebegini? Kamu cek lagi. Ayo, cek lagi.
- Lihat. - Bukan salah saya, Pak.
Tapi Acha yang salah memasukkan rumus.
Acha senang namanya disebut oleh Iqbal.
Acha, kau itu dituduh.
Nama baikmu dibuat jelek.
Masa?
Tapi kok rasanya damai-damai saja, ya, saat Iqbal menyebut nama Acha?
Ya, berarti sudah jelas. Dia tak pernah memberi perhatian kalau begitu.
Tunggu. Kalau ini, bagaimana?
Acha.
Kenapa, Iqbal?
Pipimu berlepotan, terkena spidol.
Pakai tisu basah saja.
Terima kasih, ya, Iqbal.
Itu perhatian! Berhasil, Cha!
Benar, 'kan? Baru empat hari saja sudah seperti itu.
Ya ampun, ini berarti ada harapan baik.
Berarti misi kita sudah selesai?
Belum! Tahan sampai tiga hari lagi.
Kita buat dia makin kelojot.
- Oke? - Oke.
Oke, selesai riasannya.
Cantik alami khas perempuan Korea.
Coba lihat.
Cantik.
- Mau lihat, tidak? - Mau lihat.
Ini dia. Lihatlah.
Mama!
Baik, 30 menit dimulai dari sekarang.
Tak akan cukup 20 soal 30 menit. Kita bagi.
Kau satu sampai tujuh.
Kau delapan sampai 13.
Aku 14 sampai 20, ya? Kita mulai sekarang.
Tahan, Acha. Jangan beri perhatian.
Juna.
Iqbal belum makan sepertinya. Nanti maag-nya kambuh lagi.
Tolong berikan roti ini ke dia, ya?
Bal.
Makan dahulu itu. Nanti maag-nya kambuh lagi.
- Terima kasih, Jun. - Sama-sama.
Banyak tim-tim hebat yang gagal di babak ini.
Karena jawaban yang tepat hanya bisa didapat apabila ada kekompakan
dan saling percaya antara sesama anggota tim.
Masing-masing akan mendapatkan materi berbeda.
Juna, mendapatkan materi soal.
Acha, rumus.
Dan Iqbal jawabannya.
Cocokkan ketiga elemen tersebut. Ya?
Kalian harus menentukan yang mana pasangan soal,
rumus, dan jawaban yang paling tepat.
Ingat. Tanpa ada kepercayaan di antara kalian, kalian akan gagal.
- Mengerti? Oke. - Mengerti, Pak.
Kita mulai 30 menit dari sekarang.
Nanti Bapak kembali. Ayo.
Bagaimana ini, Cha? Kau salah memilih rumus.
Kalau soal yang Juna pilih menyangkut atom, ini rumusnya.
Rumus yang ada padamu sekarang, tak akan ditemukan jawabannya olehku.
Iqbal salah hitung.
Tak mungkin salah hitung. Rumusnya saja salah.
Coba dicek ulang.
- Ini rumusnya, Iqbal. - Tidak, rumus yang kau berikan salah.
- Benar, Iqbal. Ini rumusnya. - Bagaimana bisa benar?
Waktunya habis.
Kalian malah ribut? Coba lihat.
Kalian gagal.
Untung masih uji coba.
Bapak sudah bilang, kalian harus lebih kompak.
Acha?
Kamu kenapa, Cha? Hidung kamu.
Eh, kamu mimisan?
Jangan! Jangan dongak!
Minta tisu.
Sebentar.
Cha, ini tisu.
Kamu tak apa-apa?
Tak apa-apa.
Acha!
Acha!
Acha!
Acha!
Kasihan. Ditinggal Juna?
- Tidak. - Maka itu, jangan lambat.
- Acha tidak… - Mau ditolong, malah merepotkan.
Iqbal, bagaimana kalau Acha diantar pulang oleh kamu, ya?
Bapak khawatir nanti mimisannya semakin parah.
Iya, Pak. Iya.
Kalau darahnya makin banyak keluar, itu bahaya. Ya, 'kan?
Iya, 'kan, Pak?
- Bisa, 'kan? - Bisa, Pak.
Tapi helm saya cuma satu, Pak.
Nanti malah makin berbahaya kalau Acha sampai jatuh.
Helm bisa pakai punya Bapak.
- Bau sedikit. Tak apa-apa, ya? - Tidak masalah.
Antarkan, ya? Cepat, nanti hujan. Ya? Ayo.
- Terima kasih, ya, Pak. - Iya.
Kau serius? Berjalannya harus mepet?
Iqbal itu seperti kupu-kupu, tahu?
Bagaimana?
Terkejar, tapi tak tergapai.
Aku tak mengerti.
Bahasamu terlalu tinggi.
Maksud Acha itu, Iqbal dan Acha berjalan bersama, tapi tak bergandengan.
Serius?
Minta digandeng?
Serius.
Tangan Acha menunggu, Iqbal.
Ini. Pegang tasku.
Peluk agar tidak dingin.
Peluk?
Iya, peluk.
Kak, kipas?
Ada semprotan airnya, Kak? Kipas, Kak?
Kipas. Kak, beli kipas?
Gratis angin selamanya.
Ya sudah, tak apa-apa. Yang penting diberi senyum.
Tapi senyum tak bisa untuk beli beras. Pak, kipas?
Sapi lucu. Ayo, Adik. Yang mana? Pilih.
Iqbal, ada boneka sapi. Belikan untuk Acha. Acha sangat suka boneka sapi.
Tidak.
Ya sudah, tak apa-apa. Iqbal belikan Acha boneka sapi saja agar kalau Acha rindu,
bisa memeluk boneka sapinya, ya?
Abang Sapi!
Neng, boneka sapinya.
Boneka sapi! Eh, hijau?
Tante, kalau misalnya nanti Tante jadi ke Korea,
Tante tak usah khawatir meninggalkan Acha. Ada Manda.
Lagi pula, ya, Tante, Acha itu tangguh, tahu?
Kalau yang ini, bagaimana?
- Kurang. - Kurang?
Buktinya, Tante, sudah lima hari Acha bisa jaga jarak dari Iqbal.
- Masa? - Iya, Tante.
Eh, ini lucu. Bagus.
Benar?
Ini. Coba Manda foto.
Satu, dua, tiga!
- Manda. - Tidak…
Acha diantar siapa?
Terima kasih, Iqbal, sudah mengantar Acha pulang.
Biarpun Iqbal tak membelikan Acha boneka sapi, tapi…
Sudah, 'kan?
Pasti Iqbal mau menyampaikan sesuatu, ya, ke Acha?
Helmnya.
- Mau mampir dahulu, tidak? - Helmnya. Cepat.
Mamanya Acha pasti sangat senang berkenalan dengan lelaki yang Acha suka.
Masih?
Bukannya dari kemarin kau mengabaikanku?
Itu disuruh Amanda.
Seharusnya tujuh hari,
tapi baru hari kelima, Acha sudah diantar pulang oleh Iqbal.
Sayang.
Padahal lima hari kemarin
adalah lima hari yang paling menyenangkan dalam hidupku.
Iqbal pasti rindu, ya, diperhatikan Acha?
Acha tahu rindu itu memang menyenangkan, Iqbal.
Helmnya.
Ya sudah, Acha berjanji.
Acha tak akan mengabaikan Iqbal lagi.
Hati-hati, ya, Iqbal!
Kok bisa, ya?
Iqbal disuruh mengantar Acha pulang oleh Pak Bambang, Manda.
Ya, Acha tak bisa menolak, 'kan?
Maaf, ya?
Kok rambutmu bau tengik?
Seperti baunya Pak Bambang.
Ini tidak benar, Iqbal.
Kamu tak bisa menggantungkan nilai kamu pada mereka.
Tapi kami satu tim, Pa.
Kamu mau jadi pemenang, atau tim yang kompak, tapi gagal?
Menang.
Berarti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!
Siapa ini?
Iqbal masih belum menyimpan nomor Acha, ya?
- Ada apa? - Kok galak sekali?
Mengantuk. Mau tidur.
Kok cepat sekali tidurnya?
Ya sudah, cepat bicara. Kalau tidak, aku matikan.
Iya.
Acha cuma mau memastikan ke Iqbal.
Iqbal tadi mengantar Acha karena tulus atau terpaksa?
Kalau tulus, kenapa?
Kalau tulus,
artinya Iqbal perhatian pada Acha.
Kalau terpaksa?
Ya, kalau terpaksa, Acha tanya pada Iqbal. Kenapa Iqbal tak tulus mengantar Acha?
Jadi, kalau jawabannya tulus, kau tak akan menggangguku lagi?
Tidak.
Ya sudah, tulus.
Benar tulus?
Ya.
Mama!
Mama!
Ada apa, Cha?
Ternyata dugaannya Manda salah.
Iqbal tulus mengantar Acha.
Anak dan ibu sama saja.
Iqbal!
Sedang apa kamu?
Kemarikan ponsel kamu.
Kemarikan!
Selamat tidur, ya, Iqbal. Terima kasih sudah membuat Acha bahagia malam ini.
Kalau Acha memejamkan mata, yang muncul wajah Iqbal.
Kalau kata orang-orang, itu cinta.
Besok, antarkan Acha pulang lagi, ya? Kumohon.
Pantas kamu tak konsentrasi selama ini.
Pacar kamu. Mengirim pesan puluhan kali tadi malam.
Dia bukan pacar Iqbal…
Saat olimpiade sains nanti, Om Henry Kusuma akan datang.
Tunjukkan kemampuan kamu, Bal.
Jadi yang terbaik atau tidak jadi apa pun.
- Bi, buka pagar. - Ya, Pak?
- Papa tak sarapan? - Papa sarapan di kantor.
Hati-hati, Den. Jangan mengebut.
- Ya sudah, tulus. - Benar tulus?
Ya.
- Percaya sekarang? - Sebenarnya, itu…
Jadi, tadi malam, Acha berjanji ke Iqbal untuk membuatkan sarapan.
Tapi Acha mau Iqbal sendiri yang ambil.
Agar Amanda lihat bahwa Iqbal menyukai Acha.
Selamat pagi, Acha.
Acha, Pak Bambang minta kita berkumpul lebih awal hari ini.
Itu tandanya kita bisa pulang cepat.
Nah, kalau pulang cepat, Acha mau atau tidak menonton film bersama Juna?
Cie.
Ya.
Acha mau, ya?
Acha sudah siapkan sarapan untuk Iqbal.
Untuk kesekian kalinya,
aku minta kau berhenti mengganggu hidupku.
Kita tak ada hubungan apa pun.
Jadi, berhenti bertingkah seakan-akan kau pacarku.
- Tapi Acha menyukai Iqbal. - Aku tak menyukaimu!
Acha yakin suatu saat, Iqbal akan menyukai Acha juga.
Kau sadar atau tidak…
bahwa semua kelakuan dan omonganmu itu…
murahan.
- Kok Iqbal berkata begitu? - Ya, memang kenyataannya begitu.
Aku sudah menolakmu berkali-kali, tapi kau tetap mengejarku.
Itu artinya kau murahan.
Acha mengejar Iqbal karena Acha menyukai Iqbal.
Ini namanya perjuangan, bukan murahan.
Punya harga diri, tidak?
Sebagai perempuan,
kau tidak tahu malu.
Tak ada laki-laki yang menghargaimu.
Hei! Manusia berhati batu!
Kau punya hati atau tidak sebagai laki-laki?
Seenaknya bicara kasar begitu pada Acha di depan semua orang.
Apa salahnya Acha padamu?
Dia tulus menyukaimu.
Kalau kau memang tak suka, ya, jauhi saja.
- Tak usah memberikan harapan. - Aku tak pernah memberi harapan.
Kau mengantar dia pulang dan bilang kau tulus melakukannya.
Kau memberi harapan ke Acha.
- Itu karena… - Apa?
Terserah kau!
Kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara denganmu!
Kok kau diam saja, Cha? Marah atau tampar saja.
Acha tak mungkin marah pada Iqbal.
Dia laki-laki yang tak punya otak. Tak ada hati sampai bicara seperti itu padamu.
- Ini bukan salah Iqbal. Ini salah Acha. - Lupakan Iqbal.
Masih banyak di sini laki-laki yang menyukaimu.
Lihat. Si Juna.
Acha.
Makanannya biar aku yang makan saja, ya? Daripada mubazir.
Terima kasih, ya, Cha.
Tak semua rasa cinta berakhir seperti apa yang kita inginkan, Cha.
Karena setiap orang, hati dan keinginannya itu berbeda-beda.
Sepertinya Acha harus mengikuti apa kata Manda.
Mungkin susah untuk melupakan Iqbal,
tapi Acha bisa coba melupakan harapan Acha ke Iqbal.
Acha mana? Kok belum datang?
Ini semua gara-gara Iqbal, Pak.
Iqbal tadi habis memarahi Acha di depan semua orang.
Mengatakan macam-macam. Acha pasti sedih, Pak.
Kita cari penggantinya saja, Pak.
Kalau Acha memang mau mundur.
Tak ada yang lebih jago kimia daripada Acha.
Ada dia, malah mengacaukan tim kita.
Bukannya kau, ya, yang mengacau?
- Bagaimana? - Eh!
Ada apa dengan kalian berdua? Aduh.
Kalian satu tim. Harus kompak.
Jadi begini.
Halo, Pak.
Ini Acha.
- Maaf telat, ya, Pak. - Iya.
Ayo duduk. Kita sudah mau mulai.
Sebelum kita mulai, Bapak ingin bertanya dahulu, ya.
Acha, betulkah kamu akan mengundurkan diri?
Tidak, Pak.
Jadi, persoalan kalian sudah selesai?
Sudah, Pak. Acha yang salah, Pak.
Acha memang sering mengganggu Iqbal. Maka itu, Iqbal marah.
Tapi Acha berjanji. Mulai sekarang, Acha tak akan mengganggu hidup Iqbal lagi.
Karena Acha mau tim kita tetap kuat sampai pertandingan nanti.
Bagus kalau begitu. Ya, kita mulai sekarang.
Juna.
Nanti kita jadi menonton, 'kan?
Jadi.
Selamat datang di Olimpiade Sains Antar SMA Tingkat Nasional!
Dan di babak awal ini, kita akan memilih sepuluh tim
untuk lolos ke babak selanjutnya.
- Semua sudah siap? - Siap!
Silakan dibagikan soalnya.
Dan tes ini terdiri dari 150 soal
yang terdiri dari pilihan ganda dan juga esai.
Waktu yang diberikan 180 menit.
Dan dimulai dari sekarang.
Oke, ini ada 15 lembar soal.
Masing-masing dari kita mengerjakan lima lembar soal.
Dan jangan lupa, ingat kata Pak Bambang. Jangan panik, kerjakan dengan tenang.
Kalau ada yang tidak tahu, lewati saja dahulu.
Dan kalau bisa, selesaikan dalam waktu dua jam.
Jadi, sisa waktunya bisa kita pakai untuk saling memeriksa. Ingat, kerja tim.
Kita mulai dengan berdoa dahulu.
Amin. Iqbal, Acha, kita tos dahulu.
Acha?
- SMA Arwana… - Juara!
Lima puluh menit telah berlalu.
Acha.
Kamu mimisan.
Ini, sebentar.
Ini. Kamu pakai tisu.
- Terima kasih, Juna. - Itu kenapa, ya?
Iqbal.
Acha.
- Tak apa-apa? - Tak apa-apa. Acha bisa sendiri.
Kenapa itu, Pak?
Semoga tak apa-apa, Pak.
Apa mau berhenti dahulu saja? Agar Acha istirahat.
Tak usah. Acha bisa menyelesaikannya.
- Tapi kau lagi mimisan. - Tidak usah, Iqbal.
Acha bisa.
Iqbal kerjakan punya Iqbal.
Hampir 120 menit.
Menyisakan 60 menit lagi untuk kalian mengerjakan semua soal.
Sudah selesai, Cha?
Ya sudah, masih ada waktu.
Minta tolong cek, ya?
Jun, kau gila?
Biarkan Acha istirahat.
- Kau tak lihat dia habis mimisan? - Tak apa-apa.
Tak apa-apa.
- Mana, Jun? - Ini.
Terima kasih, ya, Acha.
Oh, ya. Hasil kamu mana? Biar aku cek juga.
Waktu menunjukkan sudah 150 menit.
Tinggal 30 menit lagi.
Dilihat lagi dengan teliti. Lihat dengan saksama.
Jangan sampai ada yang salah.
Jun.
Sudah?
Terima kasih, ya.
- Ini. - Sudah?
- Iqbal, sudah atau belum? - Sebentar.
Dua puluh menit menuju 180 menit.
Waktunya 20 menit lagi.
- Sini, biar kami cek dahulu. - Sebentar.
Baik, waktunya sudah habis!
Silakan bagi para pengawas untuk mengumpulkan soal ujiannya.
Ya, dan pengumuman untuk ke babak berikutnya
akan kami beri tahu melalui telepon.
Tadi pekerjaan saya dan Acha sempat saling diperiksa, Pak.
Tapi Iqbal tidak mau.
Bukannya tidak mau,
tapi memang belum selesai, Pak.
Tapi saya yakin dengan pekerjaan saya.
Dari mana kau tahu? Soal-soal jebakan banyak tadi, Bal.
Punyaku saja banyak yang dikoreksi Acha. Iya, 'kan, Cha?
Sudah.
Sebentar.
Asalamualaikum.
Ya, betul.
Terima kasih, Pak. Terima kasih. Asalamualaikum.
- Ya! Kita masuk sepuluh besar! - Ya!
Selamat, ya.
Acha?
- Kenapa, Cha? Natasha? - Cha?
- Acha? - Cha?
Pak, Acha bagaimana?
Kata dokter, dia cuma kelelahan.
Jadi, dia perlu istirahat.
Kompetisi besok bagaimana, Pak?
Kesehatan Acha dahulu, Bal.
Kita mundur cuma karena Acha sakit?
Ya, kalau kondisinya Acha masih belum pulih, tak bisa dipaksakan.
Tapi seingat Bapak, dalam peraturan itu,
tim dengan dua orang anggota masih diperbolehkan maju. Tenang saja.
- Tapi tanpa Acha, kita tak mungkin… - Menang?
Sudah.
Juna, kita bertemu dahulu dengan panitia. Kita bicarakan kemungkinan itu.
Dan Iqbal, kamu temani Acha, ya?
- Pak, biar saya saja yang menjaga Acha. - Kau kaptennya, Jun.
Ayo.
Iya, Pak.
Jaga Acha yang benar.
Iqbal.
Papa?
Pak Bambang bilang kamu ada di sini.
- Berpacaran ternyata. - Iqbal tak berpacaran, Pa. Ini…
Besok, Om Henry Kusuma pasti akan datang.
Kamu harus tunjukkan kemampuan kamu pada dia.
Pa, Iqbal sudah bilang. Ini kompetisi tim…
Kamu mau dapat beasiswa, tidak?
Mau, tidak?
Mau, Pa.
Tinggalkan pacar kamu,
balik ke penginapan, belajar.
Permisi.
Belum bangun juga pacarnya?
Dia bukan…
- Belum, Sus. - Sudah, bangunkan pacarnya.
Lalu suruh makan. Suruh makan sampai kenyang.
Agar cepat pulih.
Agar bisa berpacaran lagi.
- Saya tinggal, ya? - Terima kasih, Suster.
Ya, sama-sama.
Acha.
Acha.
Acha.
Acha, bangun.
Acha!
Acha, bangun.
Acha!
Acha!
Acha!
Sus?
Sus?
Suster.
Bisa tolong teman saya?
Pacarnya mungkin?
Sus, tadi saya sudah coba bangunkan, tapi dia tak kunjung sadar.
- Bisa tolong cek kondisinya sekarang? - Kok begitu?
- Sudah berapa lama? - Lumayan.
Hai, Suster.
Tadi waktu saya bangunkan…
Membuat kaget saja.
Dia lagi makan.
Malah dibiarkan makan sendiri pacarnya.
Ayo, disuapi.
Tak perlu, Suster. Saya bisa sendiri.
Jangan.
Kalau lagi sakit, waktunya kita dimanja.
Terutama oleh pacar sendiri.
Disuapi.
Ayo, duduk sini.
Ayo duduk. Jangan malu-malu. Dengan saya santai saja.
Saya juga mengerti. Pernah muda.
Dua hari yang lalu.
Eh! Aduh!
Memangnya mau menyuapi saya?
Dikurangi sedikit. Nanti tersedak pacarnya.
Ayo.
Pintar.
Pasti cepat sembuh.
Ayo lagi.
Ayo lagi. Masa menyuapi cuma sekali? Lagi.
Kenapa kaku sekali? Tersenyumlah.
Senyumnya mana?
Lagi.
Begitu. Bagus. Ayo.
Senyumnya hilang lagi. Mana senyumnya?
Nah, begitu.
Itu terlalu besar.
Makanannya lancar tertelan. Langsung masuk ke lambung.
Sudah, ya? Makanannya dihabiskan. Saya tinggal dahulu, ya?
Anggap saja lagi di rumah sakit.
- Terima kasih, Sus. - Iya, sama-sama.
Tak perlu. Acha bisa sendiri.
- Tapi kau lagi… - Iqbal harus belajar.
Agar papanya Iqbal tak marah-marah lagi.
Acha tak mau disalahkan kalau Iqbal kalah besok.
- Jadi, tadi kau sudah… - Sudah.
Sudah, Iqbal pulang saja.
Acha tak mau ada Iqbal di sini.
Kalau Iqbal di sini, Acha tak mau makan.
Oke.
Oh, iya.
Bilang juga ke Juna tak perlu ke sini.
Kalian belajar saja untuk besok.
Iqbal juga tak perlu sok perhatian lagi pada Acha.
Acha tak mau jadi ada salah paham, bahkan berharap lagi pada Iqbal.
Kau benar-benar egois, ya, Bal? Kau tak menjaga Acha di rumah sakit?
Acha tidak mau.
Acha yang tidak mau atau kau yang menolak?
Aku sudah bilang, Acha yang tak mau. Dia mau sendiri di sana.
Dia minta kita belajar yang benar untuk kompetisi besok.
Aku tak yakin kita bisa menang besok kalau tak ada Acha.
Kau masih meragukan kemampuanku?
Kau lihat. Pekerjaanmu yang paling banyak salahnya, Bal.
Pekerjaan Acha justru yang menyelamatkan nilai kita tadi.
Akhirnya, sampailah kita di babak sepuluh besar
Olimpiade Sains Antar SMA Tingkat Nasional!
Dari sepuluh tim yang sudah lolos saat ini,
kita akan seleksi lagi menjadi tiga tim yang lolos ke babak final.
Dan untuk babak sepuluh besar ini, kami memberikan waktu dua jam.
Yang dimulai saat sirene berbunyi.
Itu anak saya, Iqbal.
Iqbal. Ayo kita lakukan yang terbaik.
Acha?
Acha!
Kamu sudah bisa keluar?
Mereka yang menjamin.
Acha, semangat!
- Oke. SMA Arwana… - Juara.
Dimulai dari sekarang!
Pokoknya, ingat yang Pak Bambang bilang, ya.
Tenang, jangan panik, dan kerjakan yang gampang dahulu saja.
Oke.
Cha, minum dahulu.
Terima kasih, Juna.
Asalamualaikum.
Ya, Pak?
Terima kasih, Pak.
Bagaimana, Pak?
Mati aku.
Bapak bercanda?
Kita masuk final! Masuk tiga besar!
Bapak membuat saya tegang saja.
Bercandanya tak lucu, Pak.
Ah, kamu itu.
Iqbal, tim kita berhasil masuk ke final. Kau tidak senang?
Kau menangis?
Kita sudah memilih tiga peserta terbaik tingkat nasional untuk olimpiade sains!
Sudah siap, Para Peserta?
Soal nomor satu.
Jenis reaksi yang paling tepat untuk reaksi
C6H6 plus CL2
sama dengan C6H5CL plus HCL?
Ya, SMA Global?
- Subtitusi elektrofilik aromatik. - Juri?
- Benar. - Ya, betul!
Skor sementara SMA Global mendapatkan poin 100.
SMA Arwana nol dan SMA Nizamia masih nol juga.
Setiap sel dari suatu tabel berukuran dua kali dua
dapat diisi dengan bilangan satu, dua, atau tiga.
Misalkan N adalah banyaknya tabel yang memenuhi kedua sifat berikut sekaligus
untuk setiap baris, hasil penjumlahannya adalah genap.
Untuk setiap kolom, hasil penjumlahannya adalah genap.
Nilai N adalah?
Ya, SMA Arwana?
- Tujuh belas. - Dewan juri?
- Benar. - Betul!
- Sembilan puluh lima. - Betul!
- Tekanan parsial. - Dewan juri?
- Benar. - Betul!
SMA Arwana kalah cepat lagi.
Pertanyaan berikutnya.
- Sepuluh koma nol lima. - Benar.
Nol koma tiga puluh enam.
- Ya, SMA Arwana? - Dua puluh enam kilometer.
- Ya. SMA Global? - Osmotik.
- Ya, silakan. - Tekanan uap larutan.
- Salah. - Salah.
- Tiga juta lima ratus libu. - Benar.
Untuk para peserta, kita akan lihat dahulu skor sementara.
SMA Global dengan 1.900 poin.
SMA Arwana dengan 1.900 poin.
Dan SMA Nizamia, mohon maaf tidak bisa lagi mengejar ketertinggalan.
Jadi, kita harus pastikan ada satu pertanyaan tambahan.
Pertanyaannya adalah…
Rumus molekul suatu garam adalah XCL2.
Ion X dalam garam ini mempunyai 27 elektron.
Maka, logam X adalah?
Ya, SMA Arwana?
Silakan.
SMA Arwana?
Waktu semakin sedikit. Silakan.
SMA Arwana? Silakan menjawab pertanyaannya.
Tembaga, CU, atau Cuprum.
Dewan juri?
- Ya, benar. - Ya, jawabannya benar!
Karena berhasil menjawab pertanyaan tersebut,
SMA Arwana menjadi
juara untuk Olimpiade Sains Antar SMA Tingkat Nasional!
- Acha! - Mama!
Itu baru kebanggaan Papa.
Jawabanmu tadi menyelamatkan tim kamu dari kekalahan.
- Sebenarnya, bukan… - Iqbal, selamat, ya.
Perlu ketelitian tingkat tinggi untuk menjawabnya dengan tepat.
Papamu bilang, kamu mau kuliah di jurusan dirgantara Universitas Bristol?
Maaf, Om.
Bukan saya sebenarnya yang memberikan jawaban terakhir tadi.
Maksud kamu bagaimana?
Jawaban Iqbal salah, Pa.
Untung tadi ada yang mengingatkan dan memberikan jawaban yang tepat.
Acha.
Acha ini yang memberikan jawaban yang tepat ke Iqbal, Pa.
- Dia pacar kamu, 'kan? - Halo, Om.
Nama saya Natasha Kay-Loovi.
Panggilannya Acha.
Seminggu lagi, Acha ulang tahun ke-17 tahun.
Itu mama Acha.
Oh, iya. Acha bukan pacar Iqbal, Om.
- Itu mamamu? - Iya.
Kirana?
Henry?
- Apa kabar? Baik. - Henry? Ya ampun, apa kabar?
Perkenalkan, ini Bov.
Oh, ini ayahnya Iqbal?
Halo, saya Kirana. Mamanya Acha.
Bov.
Mamanya Iqbal tidak ikut?
Istri saya sudah meninggal.
Maaf, turut berduka cita.
Bov, Kirana ini istrinya Teddy Loovi.
Itu, anak ITB yang mengalahkan tim kita di Olimpiade Fisika Nasional.
Ingat?
Papa dahulu masuk tim olimpiade sains juga?
Iya, satu tim dengan almarhumah mama kamu.
Jadiannya pun di final.
Ih, kok bisa kebetulan…
Pantas anakmu ini pintar.
Turunan papanya ternyata.
- Mama juga pintar. - Iya!
- Kalau Teddy, apa kabar? - Baik.
Masih di… Apa? Lembaga penelitian?
Masih, tapi sekarang dia lagi tugas di Korea Selatan.
Sudah delapan bulan di sana.
- Kamu masih di Bristol? - Ya, bolak-balik.
Karena saya mencari anak-anak berbakat untuk diberikan beasiswa.
Kamu mau? Masih ada tempat untuk jurusan sains.
Tidak perlu, Om.
Acha sebenarnya tak berminat, Om.
Karena tak ingin jadi ilmuwan. Inginnya jadi psikolog anak saja.
Acha memang begitu, Henry.
Kalau dia tak mau, ya, tak akan dia kerjakan.
Tapi kalau dia mau, dia kejar sampai dapat!
- Ya, 'kan? - Harus!
Jadi, sebentar lagi aku berulang tahun dan akan ada acara ulang tahun di rumahku.
Dan akan undang kalian semua.
- Terima kasih, ya! - Kita makan!
Datang, ya? Tidak ada yang tak datang.
Masa, Bal? Kau tidak diundang?
Kalaupun diundang, belum tentu aku datang.
Pesta!
- Mau ke mana? - Mau ke kelas.
- Sudah, duduk. - Duduk lagi.
- Kalian datang, 'kan? Asyik. - Datang. Makan gratis.
Alhamdulillah.
Tapi lihat Iqbal. Tak diundang oleh pacarnya sendiri.
Serius, Bal? Tidak diundang?
Berarti dia sudah benar-benar melupakanmu, ya, Bal?
Baguslah. Seharusnya dari dahulu.
Kenapa?
Sumpah, aku menangkap ada kegalauan dalam kalimatmu tadi.
Seperti ada perasaan sedih yang ditutupi.
Kau bicara apa?
Otakku memang tak secerdas otakmu, Bal.
Tapi kalau soal hati, aku cukup peka.
Kau sebenarnya sedih tak diundang.
Ya, 'kan?
Iya, aku juga merasakan hal yang sama.
Ada semacam penyesalan.
Dan penyesalan adalah awal
terbentuknya puing-puing dari kesadaran yang terlambat.
Glen Anggara, 2020.
- Wah, keren! - Terima kasih.
Oke, aku ke kelas, ya? Pergi dahulu.
Maaf, ya. Kalian semua tidak jelas.
- Jangan lupa datang, ya? - Sama-sama.
Manda, undangan untuk Iqbal di mana, ya?
Sudah aku titipkan ke Juna.
Kau tak berniat untuk memberikannya secara langsung, 'kan?
Yang lain Acha berikan secara langsung, masa…
Nanti, kalau misalnya kau berikan secara langsung, ditolak, malah kesal.
Oke.
Bagaimana makanannya?
Enak? Lagi.
Bagaimana makanannya? Enak?
Hai, Kawan-Kawan.
Terima kasih sudah datang.
Acha, masih ada yang ditunggu, ya?
Ya sudah. Mulai saja, ya?
Ya sudah. Titip, ya, Man.
SELAMAT ULANG TAHUN
Sudah siap, Iqbal?
- Siap, Pa. - Surat rekomendasi kamu?
Sekarang, Pa? Bukannya kita cuma mau diajak minum kopi oleh Om Henry?
Ya, harus sekarang.
Om Henry kembali ke Inggris besok.
Papa tunggu di mobil.
Acha, Papa mau melakukan panggilan video.
Mana?
- Selamat ulang tahun, ya, Sayang. - Terima kasih, Pa.
Pah, terima kasih.
Kostum kupu-kupunya lucu sekali!
Papa benar-benar tahu apa yang Acha suka.
Waktu masuk SD,
kamu maunya kostum ulat.
Masuk SMP, kamu maunya kostum kepompong.
Sekarang sudah SMA. Sudah 17 tahun.
Saatnya kamu jadi kupu-kupu.
Iya. Lucu, 'kan?
Hai, Semuanya. Ada persembahan spesial dari Tante Mama Kirana!
Tepuk tangannya!
Astaga. Mamamu mau tampil lagi, ya?
Ya, bahkan sekarang teman-teman Acha jadi korbannya, Pa.
Ibumu tak ada matinya, Cha.
- Rian juga menari untukmu. - Apa?
Ayo, Mama! Semangat!
Maaf, Om.
Iqbal tak mau kuliah di Inggris.
Iqbal mau kuliah di Indonesia.
Ini yang saya takutkan.
Kalau anak muda sudah kenal cinta, pasti mudah goyah tujuan hidupnya.
Selamat ulang tahun, Acha
Selamat ulang tahun, Acha
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Acha
Pasti karena pacar kamu itu.
Karena Iqbal tak pernah suka sains, Pa.
Kamu baru saja jadi juara olimpiade sains, Bal.
- Itu prestasi… - Yang juara itu tim, Pa.
Ada Acha, ada Juna.
Mereka yang hebat.
Aku stres selama kompetisi itu, Pa.
Aku juga stres selama ini, membaca buku sains yang Papa berikan.
Aku tak bisa.
Mana mungkin kamu tak suka? Kamu selama ini…
Bov.
Sabar, Bov.
Maaf, bukannya saya bermaksud untuk ikut campur.
Kalau melihat olimpiade kemarin, saya melihat Iqbal ini
hatinya bukan di sains.
Percuma, Bov, kamu paksakan anakmu ini untuk melakukan hal yang tidak dia cintai.
Karena suatu saat nanti, pastinya dia tak akan bertahan,
apalagi berkembang.
Buat permohonan dahulu, Cha.
Bismillah.
Selamat ulang tahun, Acha Sayang.
Selamat ulang tahun.
Almarhum istriku…
Dia selalu khawatir kalau aku tak bisa mendidik Iqbal dengan benar.
Aku pikir ini cara yang tepat.
Belum terlambat, Bov.
Buktinya, dia masih bisa bicara secara terbuka pada kamu.
Maafkan Iqbal, ya, Pa.
Apa yang kamu suka sebenarnya, Iqbal?
Untuk Mama.
Terima kasih. Semoga apa yang Acha inginkan jadi kenyataan, ya, Sayang.
- Amin! - Terima kasih, Ma.
Kue pertama untuk mama,
sekarang kue kedua untuk laki-laki kesayangan Acha.
Sebelum Acha memberikan kue ini ke Juna, Acha mau tanya sesuatu pada Juna.
Juna sudah terima titipan undangan untuk Iqbal, belum?
Titipan?
Tidak.
Ya sudah. Ini untuk Juna.
Sebagai kapten tim olimpiade sains.
Terima kasih, Acha.
Kenapa Manda berbohong pada Acha?
Kenapa Manda berbohong soal undangan untuk Iqbal?
Kenapa, Man?
Karena aku tak mau kau sakit hati lagi, Cha.
Kau sudah melangkah maju. Kau sudah bisa melupakan dia!
Yang Acha lupakan itu harapan Acha untuk Iqbal.
Acha tak pernah melupakan Iqbal.
Bahkan sampai saat ini pun Acha masih menyayangi Iqbal.
Aku pikir selama ini…
Acha…
sudah berusaha melupakan harapan Acha untuk Iqbal.
Karena Acha tak mau mengganggu hidup Iqbal lagi.
Mau kau undang pun, dia tak akan datang.
Tak peduli.
Acha tak peduli kalaupun dia menolak.
Ataupun Iqbal tak datang sekarang.
Itu pilihan Iqbal.
Tapi pilihan Acha…
Acha mau…
undang laki-laki yang Acha sayang ke sini.
Untuk merayakan ulang tahun Acha hari ini.
Aku menyayangimu, Acha. Aku cuma ingin melindungimu.
Acha tahu niat Amanda baik,
tapi bukan begini, Man.
Di saat kau menyuruhku membuat permohonan tadi…
Untuk terakhir kalinya, semoga Iqbal datang ke sini untuk memberi Acha kejutan.
Bismillah.
Kalau undangan saja Iqbal tak dapat, mana mungkin harapan itu masih ada?
Tak mungkin ada kejutan, 'kan?
Acha, kejutan!
Iya, Cha. Kami tak pernah memaksa.
Dia mau sendiri, padahal tak diundang.
Ayo.
Maaf.
Aku lancang datang ke sini padahal tak diundang.
- Tidak, sebenarnya… - Iya.
Aku mengerti, Cha.
Aku sudah jahat padamu selama ini.
Aku minta maaf, ya?
Ini kado untukmu.
Maaf, tak sempat dibungkus kadonya.
Karena tadi buru-buru.
Walau tak ada sapi,
jika Iqbal datang, Acha sudah senang.
Itu sebagai tanda terima kasihku juga kepadamu, Cha.
Kau sudah menunjukkan kepadaku
bahwa aku harus lebih jujur dengan apa yang sebenarnya aku suka
dan apa yang tak aku suka.
Aku tak mau pergi ke Inggris.
Aku tak berminat kuliah jurusan dirgantara.
Aku juga tak suka sains.
Iqbal suka apa?
Suka pada orang yang bilang kalau aku seperti kupu-kupu.
Terkejar, tapi tak tergapai.
Dia berhasil membuatku jatuh cinta pada dia.
Dan sekarang,
dia sudah jadi kupu-kupu…
yang harus aku kejar
dan ingin aku gapai.
Sudah, Cha.
Jangan menangis, ya?
Aku tak mau lihat kamu menangis.
Aku tak mau lagi menyia-nyiakan orang
yang sudah memberi cintanya kepadaku.
Acha…
mau jadi pacar Iqbal?
Mau?
Ya!
Iqbal!
Keren!
Aku salut padamu, Bal.
Kau menangis?
Tidak. Kelilipan kunang-kunang.
Bal, selamat, ya?
Terima kasih.
Acha.
Aku minta maaf, ya? Sudah…
Terima kasih, ya, Manda.
Sudah jadi sahabat Acha yang baik.
Selamat, ya, Iqbal.
Kau sudah mendapatkan perempuan yang tulus dan gigih memperjuangkan cintamu.
Jadi, jangan kau sakiti perasaannya.
Siap.
Iqbal.
Ini kue dari Acha. Belum aku makan.
Dan sepertinya, kau lebih berhak.
Serius? Kau rela?
Ya, sebenarnya tidak rela. Ingin aku lempar ke mukamu.
Bercanda.
Aku bahagia kalau orang yang aku sayang juga bahagia.
- Ini. - Terima kasih, Juna.
Sama-sama.
Kenapa kalian tidak memakan kuenya bersama-sama saja?
- Oke. - Oke.
Pakai tangan saja, ya?
Tidak!
Acha.
Ini ulang tahun kamu.
- Sebentar, ya, Tante. - Oke.
Boleh cium keningnya, tidak?
Apa? Memang harus minta izin?
Acha jadi malu.
Boleh, tidak?
Kenapa bertanya lagi?
Sengaja menbuat Acha malu, ya?
Iqbal jahat!
- Iqbal! - Kenapa?
- Punya aku! - Tidak. Untukku saja.
Kamu kapan menyusul Acha, Manda?
Tak tahu, Tante.
Sepertinya tak ada yang menyayangi Manda seperti Acha menyayangi Iqbal.
Masa?
Kalau yang itu?
Tadi, waktu Tante bilang kamu lagi bantu beres-beres,
dia langsung ikut beres-beres juga.
Oh, ya?
Cinta itu memang rumit.
Tapi yang rumit itu yang membuat hidup kita seru.
Manda ke sana dahulu, ya, Tante.
Oke.
Cinta.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.