Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF.
Kau sungguh berhenti menyukaiku?
Katamu sudah?
- Siapa yang mengizinkan? - Aku bisa pilih sesukaku.
Jangan dihentikan.
Apa kamu anak-anak?
Kenapa kekanak-kanakan?
Kau jadi menyukaiku?
Sepertinya begitu.
Sepertinya ada kau
di balik lukisan.
Apa ini? Kau menangis?
Kenapa…
Bukankah kau melarangku…
untuk tak memikirkanku, berharap, kecewa,
dan apa pun itu.
Namun, kenapa kau begini padaku?
Jangan mengganggu jika tak bisa membantu.
Kau menyuruhku untuk tak berhenti menyukaimu sesuka hatiku, bukan?
Kau bukan menyukaiku, tapi terganggu karena aku berhenti sesukaku.
Apa benar begitu?
Kenapa kau malah tak menyangkalnya?
Perkataanmu terlalu logis untuk disangkal.
Benar.
Beginilah kau adanya.
Ini sudah salah sejak awal.
Kau suruh orang untuk menyeretku ke sini.
Aku tak menyeretmu.
Aku dikurung dan disiksa. Disuruh tersenyum, lalu dilarang.
Apa pintu itu bahkan bisa dibuka?
Apa Pak Jeong berjaga di balik pintu?
Aku gila karena baru merasakan ketakutan ini.
Aku bahkan takut saat mengatakan kalimat ini.
- Kau menggila. - Aku sudah lama menggila karenamu.
Kau menyalahkanku karena hatimu lemah?
Pintu tak terkunci dan tak ada yang berjaga.
Aku pergi.
Kau tak bisa pergi seperti ini.
Lepaskan.
- Hei, Nak. - Berhenti mengacaukan hatiku!
Kau mau melihatku benar-benar menggila?
Tidak.
Kenapa kau begini setelah bilang sudah berakhir?
Aku jadi menginginkanmu lagi.
Itu…
Baiklah.
Kalau begitu…
Aku akan mengantarkanmu pulang. Tak apa-apa, bukan?
Kau tak boleh pulang sendirian sekarang.
Kau sudah makan? Apa kau lapar?
EPISODE 12
Selamat menikmati.
Terima kasih.
Kau tak makan?
Aku?
Aku tak makan. Kau saja.
- Aku boleh makan paha yang tersisa? - Paha?
Maksudmu, paha ayam.
Ya. Makan semuanya.
Aku akan membayar ini,
jadi, kau harus menjawabku.
Menjawab apa?
Mengenai berhenti menyukai…
Bahkan anjing tak diganggu saat makan.
Baiklah. Makanlah semuanya. Makan sayapnya juga.
Aku tak suka sayap.
Apa bisa pesan paha saja?
Terima kasih.
Jangan berani pergi.
Aku tak bisa tidur jika begini.
Baguslah.
Sial, jalannya cepat sekali.
Di mana rumahmu? Biar kuantar.
Pak Jeong bisa menemukannya sendiri.
Aku sangat takut saat itu.
Apa karena Pak Jeong terlihat menakutkan?
Takut karena dia tahu rumahku tanpa diberi tahu.
Baik, tak akan kusuruh dia melakukannya lagi.
Bagaimana jika aku diculik dan disiksa olehnya?
Kau yang menyetir, ya?
- SIM-ku hanya pajangan. - Lantas, kenapa buat SIM?
Mau naik taksi saja?
Aku mau jalan-jalan dengan mobilmu.
Baik.
- Apa? - Kau tak mau?
Aku pamit.
Ayo kita jalan-jalan.
Bukankah bawa mobil untuk jalan-jalan?
Denganmu? Sadarlah.
Dia pasti sangat kesal.
Kau terus berbuat dosa dengan perkataan.
Perkataan tak bisa ditarik kembali,
aku hanya bisa menebusnya.
Terima kasih sudah datang lebih awal.
Kau akan melakukannya, bukan? Cepat bilang begitu.
Ada apa denganmu?
Astaga. Kau menggemaskan saat memohon.
Hei.
Kau terlalu lucu. Aku akan melakukannya.
Bukannya pria itu yang lucu?
Dia memang lucu, tapi apa hubungannya dengan ini?
Kalian menonton film bersama,
dan dia mentraktirmu makan malam.
- Astaga. - Aku menikmati filmnya.
Lain kali, kutraktir makan malam.
Kupikir ini dari pencuri yang jujur karena dia tak meninggalkan nama.
Astaga. Tulisan tangannya rapi sekali.
Boleh ini untukku?
Tulisannya rapi?
Memohonlah dengan menggemaskan.
May, tolong berikan ini untukku.
Dia bak memamerkan hubungan kami kepada semua orang.
- Kau tak keberatan? - Tidak.
Bukan perbuatanmu tadi, tapi soal hubungan percintaanmu.
Ayahnya pernah menyogokmu.
Aku menyukainya, bukan ayahnya.
Karena dia anak anggota majelis? Aku pemberi suara.
Masalah itu membuat hatiku tak tenang.
Ayahnya bahkan membantu kita mendapatkan insentif.
Kau pikir dia tak bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan?
Ya.
Terserah. Aku tak mau pesimistis karena dia keluarganya Seon-gyeom.
Baiklah. Bagaimana kabarnya?
Dia sangat sibuk belakangan ini. Aku jadi tak terbiasa.
Kau harus membiasakan diri. Kau juga akan sangat sibuk sekarang.
Aku sebenarnya enggan.
Aku akan mengirim naskahnya lewat surel, Penerjemah Oh.
Astaga. Tatapanmu langsung berubah.
Baiklah. Aku akan pergi.
Aku pamit untuk bekerja.
Jaga tumit bagian depan tetap terangkat. Tahan.
Baik.
Tetap begitu sampai kakimu terasa sakit.
Baik. Tunggu aku.
- Omong-omong… - Jangan terlalu menekuk lututmu.
- Aku berniat berlatih setelah… - Jangan terlalu cepat.
Aku tahu ini bisa dilakukan sambil kerja.
Terlalu cepat. Kenapa kehilangan napas?
Aku bisa…
melakukannya sendiri.
Kau mulai banyak bicara.
Kau tak datang untuk mengawasi gerak-gerikku, bukan?
Bagian sana harus dilap lagi.
Tolong semprotkan air.
Cepat kemari.
Jangan dipijat terlalu keras.
Baik.
- Pegang ini. - Baik.
Aku merasa bersyukur, tapi terbebani.
- Mengenai apa? - Kau menjemput dan mengikuti jadwalku.
Lalu, kau merawatku setelah selesai berlatih.
Kau tak seharusnya melakukan ini padaku.
Ini pekerjaanku.
Siapa yang urus atletku jika bukan aku?
Fokuslah dengan pekerjaanmu.
Berapa rekor terbaikmu?
Aku?
Saat berlatih, rekorku sepuluh detik jika lakukan start berdiri.
Saat kompetisi resmi, rekorku 10,31 detik.
Rekor terbaru Yeong-il adalah 10,08 detik.
Rata-ratanya sekitar 10,17 detik.
Apa jangan-jangan Yeong-il adalah citah?
Dia manusia.
Rekormu harus dipercepat 0,20 detik.
Tiba-tiba harus begitu?
Bukankah kau memikirkan jangka panjang?
Percaya dirilah. Elastisitas ototmu lebih baik daripada yang lain.
Awal startmu juga yang tercepat.
Kita lakukan pemeriksaan fisik pekan depan.
Kau bilang akan melakukannya perlahan?
Kalau begitu, aku harus jalan perlahan saat pulang.
Itu tidak lucu.
Aku tak berniat melucu.
- Mana mungkin tak tertawa? - Maka tertawalah.
Itu tidak lucu.
Aku tak berniat melucu.
Mana mungkin tak tertawa?
Hati-hati di jalan.
Aku sudah beri cukup waktu untuk berpikir.
Beri aku jawaban sekarang.
Aku tak terbiasa memohon begini.
Kau tak akan pernah terbiasa. Aku pernah mengalaminya.
Itu sebabnya aku berhenti suka.
Karena tak mau memohon padamu.
Aku bertekad untuk hanya membuat lukisan.
Selama ini aku menyukaimu sepihak,
dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Kenapa kau begini kepadaku?
Kenapa jika aku ada di balik lukisan?
Bagaimana jika aku menolak melanjutkan?
Hubungi aku jika tahu jawabannya.
Aku tak akan menunggu lama.
Kau tahu?
Apa pun perbuatanmu, aku tetap menyukaimu.
Itulah yang paling kubenci.
Aku juga benci.
Perasaan tak bisa memutuskan.
Waktuku jadi terbuang percuma.
Bu Seo.
Seon-gyeom?
Kenapa kau ada di sini?
Aku juga tak tahu.
Kau sakit?
Bukankah kau sudah pindah? Kenapa masih ada di daerah sini?
Aku sudah bayar uang sewa.
Yeong-hwa mengiakan.
Bagaimana kau bisa tahu aku pindah?
Dia menyukaimu?
Kuharap kalian hidup bahagia.
Seharusnya aku pergi ke rumah Mi-joo.
Rumah mereka berdekatan.
Dan-ah.
Satu menit saja.
Kurasa Pak Jeong lebih menyukaimu daripada aku.
- Kenapa kemari? - Kudengar Myeong-min merebut milikmu.
Apa hanya dia yang merebut?
Terlalu banyak yang dia rebut. Yang mana?
Acara lari amal.
Lantas? Sukseskah?
Kau mau museum seni?
Kudengar Myeong-min memasang lukisan di sana.
Aku mencoba berpikir…
cara membuatmu senang.
Kau tahu cara berpikir?
Aku tahu cara berpikir. Aku hanya tak melakukannya.
Kau mau memberikan milikmu untuk membuatku senang?
Sukarela dan tanpa syarat?
- Tak mau? - Tak kau beri jika tak mau?
Apa yang harus kau berikan supaya kakakmu kesal?
Lain kali, memihakku sekali saja.
Aku selalu di pihakmu.
Kau mungkin tak bisa melakukannya karena alasan tertentu.
Kakakku?
Aku hanya dengar ceritamu. Ini kali pertama kita bertemu.
Kau sungguh kakakku?
Inikah adikku?
Hentikan. Kau mengerikan.
Kau bilang "adikku".
Kau datang jauh-jauh dari Korea untuk menjengukku?
Aku tak datang untukmu.
Aku mau mempekerjakan Jeong Ji-hyun, tapi menjenguk karena kau sekarat.
Kau tak tahu Jeong Ji-hyun? Guru privatmu.
Apa kau tak mengerti? Dia tutormu.
Aku tahu. Apa pun alasannya, kau kemari menemuiku.
Jadilah adikku…
saat kuminta suatu saat nanti.
Jangan mati sebelum hari itu datang.
Aku akan melakukannya jika itu membuatmu senang.
Sudah lebih dari semenit.
Lebih baik kau mengusirku. Aku akan pergi.
Apa dia sudah lebih dewasa?
Aku mau soda.
Baik.
Kau sudah dewasa sekarang. Kau bahkan memanggilku untuk minum.
Kenapa datang jika hanya minum soda?
Aku datang untuk membawamu pulang.
Kau begitu menyukaiku?
Kau menangis?
Astaga. Kau gila?
Tak lakukan apa pun, dia sudah membenciku.
Akan lebih parah jika aku menangis.
Kau sungguh sudah dewasa.
Waktu kecil, kau selalu menangis di depan Bu Seo.
Anehnya, aku tak bisa menangis di depan Dan-ah belakangan ini.
Namun, aku menangis di depan penggemarku.
Kurasa aku selalu menangis saat mendengar mereka menyukaimu.
Apa karena aku belum kebal terhadap cinta?
Kau pernah menangis di depan seseorang?
Soal itu…
Belum lama ini kucingku sakit,
dan aku menangis di depan…
dokter hewan.
Dokter itu pasti ketakutan.
Apa Dan-ah masih menemui mahasiswa itu?
Halangilah mereka bertemu.
Itu di luar kemampuanku.
Jika bisa, kau akan menghalanginya?
Tak ada gunanya menambah masalah.
Bu Seo sudah cukup diremehkan karena gender dan penyakitnya.
- Tak perlu menambah mahasiswa itu. - Benar juga.
Ayah mau aku ke Korea hanya untuk jadi cadangan.
Jika Dan-ah atau Myeong-min sakit,
aku yang harus menjaga warisan Ayah.
Namun, kurasa aku yang akan mati lebih dulu.
Hidup memang…
sulit.
Kupikir pekerjaanku selesai setelah mengantar Bu Seo pulang.
Undurkanlah dirimu dari perusahaan,
dan mabuk denganku malam ini.
Menggiurkan.
Koktail Godfather satu.
Baik.
WAKTUNYA PERGI SEKARANG
Ayo tidur. Aku janji tidur pada pukul 02.00.
Bekerja saja sampai pukul 03.00.
Aku bersumpah.
Tidak boleh begini.
Awal baik itu separuh perjuangan.
Aku sudah terjaga.
Apa awal baik baru separuh perjuangan?
Astaga.
Aku berlari?
Tak kupercaya aku melakukan ini.
PROGRAM LARI
PROGRAM LARI 30 MENIT
MULAI
Lemaskan badanmu dan berlarilah tanpa beban.
Mohon bantuannya, Pak.
Astaga, tolong aku.
Ini masih terlalu awal untuk kelelahan.
Kenapa begitu?
Karena set selanjutnya lebih melelahkan.
Kau tak apa-apa?
Ya, tak apa.
- Jangan dipaksakan. - Baik.
Sakitkah, atau kau merasa nyeri?
Mungkin kau belum siap.
Gunakan satu tangan saja hari ini.
Tidak.
Aku mau mencoba.
Ini hari pertama kita berlatih.
Jangan memaksakan.
Baik.
Bersiap.
Yeong-il! Astaga.
Anggap Yeong-il garis finis. Bersedia!
Baik.
Siap.
Ya.
Berhenti!
Astaga.
- Aku merindukanmu. - Kabarmu baik?
- Bagaimana kakimu? - Baik.
Woo-sik, kau harus menegapkan badanmu supaya bisa berlari lebih kencang.
Apa-apaan kau?
Kau tak menegapkan badan karena memikirkan kakimu, ya?
Meski begitu, tetap bagus. Jauh lebih baik.
Apa-apaan…
Apa kau agennya?
Kau bisa menyebutku begitu jika itu maumu.
Jika bisa sesukaku, apa aku boleh menghujatmu?
Tidak boleh.
- Sekali saja. - Tidak boleh.
Kau mau menyebutku apa?
Si… Apa?
Hentikan. Dasar berandal.
- Apa kelanjutan dari "si"? - Ayo.
- Ya. - Minggir.
KI SEON-GYEOM
Kau berlatih hari ini? Kau sudah makan?
Aku sudah bangun.
Aku selalu bangun pagi. Jangan asal bicara.
Katamu aku harus bergerak untuk bertahan hidup?
Bantulah aku bertahan.
Jika ingin diselamatkan,
aku harus tampil cantik.
Seon-gyeom!
Apa-apaan itu?
Kau sudah datang.
Kau mengerutkan dahi saat melihatku?
- Kita sudah lama tak bertemu. - Aku tak yakin itu kau.
Tak terlihat jelas.
Kau tak ingin melihatku?
Kau sengaja membuatku kesal?
Sepertinya penglihatanku memburuk.
- Aku tak tahu saat menjadi atlet. - Kau membiarkan penglihatanmu memburuk?
Setelah makan, kita periksa matamu.
Kenapa kau agresif sekali?
Aku akan salah paham dan marah jika kau mengerutkan dahi lagi.
Ini untuk kebaikan kita berdua.
Ayo pergi.
Stabilkan posisi dagumu.
Jangan bergerak.
Hanya dua detik.
Baiklah.
Kau bisa melihat dengan jelas?
- Kau tak merasa pusing? - Ya.
Dia harus berkacamata karenanya?
Apa?
Bukan apa-apa.
Penglihatanku sungguh memburuk.
Ya.
Bagaimana dengan ini?
Bagaimana dengan ini?
Aku tak suka.
Begitukah?
Ya. Ini?
Kau tampan berkacamata, tapi…
Aku harus berkacamata karena kau tak suka melihatku mengerutkan dahi.
Aku salah lakukan sesuatu?
Aku tak mau wajahmu ditutupi kacamata.
Bagaimana dengan lensa kontak?
Ada lensa sekali pakai juga.
Aku tak pernah memakai lensa.
Tak ada orang yang memakai lensa sejak lahir. Bukan begitu, Pak?
- Pakai lensa kontak saja. - Ya, itu tak mungkin.
Baguslah. Pilihan baik.
Aku merasa senang.
Tak sulit memasangnya, bukan?
Tak sulit. Mudah.
Kalau begitu, aku pergi kerja dulu.
Aku juga harus pergi sekarang.
Aku ke arah sini.
Aku ke arah sini.
- Pergilah. - Pergilah dahulu.
Aku pergi setelah melihatmu pergi.
- Kau lebih dahulu. Aku tak apa-apa. - Pergilah.
Mau temani aku sampai sana?
Anggota Majelis Ki langsung ke lapangan golf.
Kita disuruh pergi lebih dahulu karena tamu sudah menunggu.
Dia membuatku menunggu lama dengan percuma.
Ayah sangat sibuk belakangan ini?
Dia selalu sibuk.
Ditambah persiapan membuat tim.
Begitu, ya? Rupanya Ayah pikir aku sedang bersenang-senang.
Dia memanggilku padahal aku sibuk berlatih
dan syuting iklan.
Harus berapa kali lagi mendampingi teman-temannya bermain?
Bukan "mendampingi," hanya bermain golf.
Jaga perkataanmu.
Aku bahkan tak bisa lagi berbicara lugas.
Hidupku sungguh membosankan dan memuakkan.
Kurasa kau terlalu sibuk. Jangan memaksakan diri.
Pak.
Kesenangan apa yang membuatmu bertahan hidup?
Beri tahu aku jika ada.
Aku? Bermain golf.
Astaga.
Kau mengolok-olokku?
Astaga.
Kau Ki Eun-bi, bukan?
Akhirnya aku bisa bertemu denganmu.
Hatiku berdebar kencang. Aku terus mengganggu ayahmu.
Karena ingin bermain golf bersamamu.
Aku No Geun-seong.
Kuharap kau menjaga jarak.
Aku tak suka terlihat akrab.
Bukankah lebih baik terlihat akrab daripada mencurigakan?
Aku tak suka berbincang dengan pria beristri.
Aku sangat menyukai golf.
Putriku mengikuti kejuaraan golf junior.
Ayahku menyuruhku datang, tapi malah membuatku menunggu.
Aku ingin putriku menjadi atlet kelas dunia sepertimu.
Apa putrimu menginginkannya juga?
Dia terlalu muda untuk mengetahui hal seperti itu.
Namun, mereka tahu keinginan mereka.
Lebih baik mendukung apa yang diinginkannya.
Kau tahu Tae-oh, pemeran pria yang keras kepala?
Cara bicaranya perlahan berubah
saat sedang emosional.
Benar. Jika kau lihat pemilihan katanya,
dia banyak menggunakan kata-kata sulit seperti William Shakespeare.
Namun, dalam adegan ini,
tak bisa diterjemahkan secara harfiah dan menghilangkan unsur religiusnya.
Tae-oh memang banyak mengutip perkataan Shakespeare.
Namun, perkataan ini sangat terkenal.
Bahkan sudah diterjemahkan dan digunakan sebagai idiom.
Bagaimana jika penonton membenciku karena terjemahan bebasku?
Kita tak selalu bisa menerjemahkan semua dialog secara harfiah.
Harus memperhatikan alur cerita.
Ada saatnya kita tak menerjemahkan mengikuti konteks.
Tak mungkin bisa disampaikan dengan sempurna.
Konon, menerjemahkan adalah tindakan pengkhianatan.
Rupanya aku seorang pengkhianat.
Bersyukurlah tak menerjemahkan film yang ditonton jutaan orang.
Benar juga. Itu sama saja seperti kita dihujat sepuluh juta penonton.
Kuharap aku tak salah menerjemahkan.
Aku hanya ingin mencari nafkah dan hidup makmur.
Ini untukmu, Mi-joo.
Terima kasih banyak, Bu.
Kudengar film Sutradara Han dapat penghargaan lagi.
Selamat.
Ya. Film itu bisa mendapatkan penghargaan film terbaik
berkat terjemahanku.
Ya.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
Bagaimana jika aku dapat tawaran proyek besar?
Kuharap bisa menerjemahkan film Ji-woo.
Candy? Film itu sangat dinantikan.
Film yang disutradarai Kim Sang-ho dan dibintangi Yook Ji-woo
pasti akan sukses.
Aku ingin menerjemahkan film itu.
Dulu, aku hampir menerjemahkan salah satu film Ji-woo.
Ada banyak penerjemah sepertimu.
Kau hanya salah satunya.
Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan berkhayal.
Semua orang bebas untuk bermimpi.
Biarkan aku bermimpi sesukaku.
Aku tak boleh bermimpi?
- Penerjemah Oh. - Nona Ki Eun-bi.
Kau habis dari mana?
Aku beli bahan-bahan untuk membuat japchae.
Begitu, ya? Kau pasti pandai masak.
Aku tak pernah membuatnya, jadi, ingin mencobanya.
- Rupanya begitu. - Kenapa kau kemari?
Aku juga tak tahu.
Kenapa aku kemari?
Aku di sini karena melihat hal aneh
dan tak bisa mengabaikannya.
Apa kau melihatku dan Seon-gyeom bergandengan tangan?
Bagaimana mungkin?
Benar juga.
Kalau begitu, kenapa kau ke sini?
Aku ragu untuk mengatakannya.
Awalnya, kupikir lebih baik jika kau tak tahu apa pun.
Namun, kurasa kau harus mengetahuinya.
Sejak dahulu, ayahku mendapat laporan
mengenai Seon-gyeom saat berlatih.
Ayahku selalu memeriksa, dia giat berlatih atau tidak.
Ayahku pikir dia bisa juara satu jika berlatih mati-matian.
Jika pekerjaannya bermasalah atau ingin melampiaskan emosi,
dia mengawasi rutinitas Seon-gyeom untuk mencari kambing hitam.
- Jangan berbohong. Itu pedas. - Kau tak tahan pedas.
Serius?
Aku bercanda.
Aku cemas akan ada orang yang terjebak di antara mereka.
INFORMASI PRIBADI OH MI-JOO
Aku tak tertarik dengan apa yang kalian lakukan.
Kurasa ayahku tahu kalian bergandengan tangan.
- Luar biasa. - Ya.
Dia tak akan menghampiriku dan menyiramku dengan air, bukan?
Hanya karena kami pacaran.
Itu yang kucemaskan.
Tak ada salahnya berhati-hati.
Cuacanya dingin.
Benar. Jika disiram di cuaca seperti ini, bisa terkena demam.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Matahari sudah terbit.
Aku terlalu semangat bekerja tanpa kusadari.
Sial. Aku tak akan pergi berlari.
Aku akan mandi, lalu tidur.
Lee Yeong-hwa menanyakan kapan kau akan mengonfirmasi lukisannya.
Jadi, dia memutuskan menjaga jarak?
Panggil dia…
Lupakan. Biar aku saja.
Lebih baik bertemu di luar,
atau bertemu diam-diam?
Lebih baik tak bertemu.
Tak bisa begitu. Dia yang membuat lukisanku.
Tujuanmu menemuinya bukan karena lukisan.
Aku jadi merepotkan.
Padahal aku tak suka direpotkan.
Kurasa aku menyiksa diriku sendiri.
Bu Seo.
Kau tak perlu melakukannya.
- Kau tak akan menyemangatiku? - Ya. Aku tak bisa.
Aku juga.
Tak bisa menyemangati diriku.
Kuharap aku bisa mempertahankan perasaan ini.
Perasaan tak bisa dikontrol.
Aku bisa.
Aku harus bisa.
Tidak.
Pasti bisa.
Siapa ini?
"Siapa ini"?
Aku yang tanya lebih dulu.
Aku tak tanya siapa kau. Kau tanya siapa aku?
Ya. Aku tak mengenal nomor ini.
Dahulu, kau merengek meminta nomorku, tapi tak disimpan?
Biar kukoreksi. Nomormu kuhapus.
Sudah tahu jawabannya?
Tak ada pilihan ganda? Biar aku bisa kira-kira.
Bukankah kau pembuat keputusan?
Kenapa tak bisa buat keputusan?
Sial.
Mari bertemu dan bicara.
Kau diuntungkan jika kita bicara langsung.
Cari waktu lain.
Kutahu waktu itu hal terpenting bagimu. Akan kutentukan tempatnya.
Kuhubungi nanti. Dah.
Dia benar-benar kurang ajar.
Terima kasih minumannya.
Kau terlihat menderita sebelumnya, kini malah tersenyum.
- Kau begitu menyukai kopi? - Ya.
- Kau sudah gila? - Aku sudah lama gila.
Cepat berikan padaku. Aku ingin segera meminumnya.
- Terima kasih. - Segera enyah dari sini.
Hangat sekali.
Aku bermain kartu,
lalu mendapatkan kartu as, raja, dan hati.
- Aku langsung memasang semua taruhan. - Kenapa bersemangat sekali? Pergilah.
- Aku dapat hati dan jadi senang. - Lihatlah senyumannya.
Pergilah saja.
- Sudahlah. Dah. - Aku harus…
Aku jadi belajar untuk bersabar. Dia membuatku menjadi sabar.
Kenapa tatapanmu begitu?
Selamat datang,
Atasan ibuku.
Kau putranya, bukan?
Itu yang lebih utama.
Kau bekerja di sini? Kenapa aku tak pernah melihatmu?
Aku bekerja paruh waktu di sini.
Kau mau pesan apa?
Amerikano untuk dibawa pulang.
Baik.
Aku harus beristirahat.
- Apa kau sibuk? - Kenapa? Ada apa?
Ayo makan malam di luar. Kau minta diselamatkan, bukan?
Di luar?
Ada banyak yang harus kukerjakan sekarang.
Kita bertemu lain kali saja.
Ya. Dah.
Aku sudah pernah disogok dan disiram dengan air.
Kenapa dia kirim orang untuk mengawasiku? Itu pun secara acak.
Astaga. Apa yang kulakukan? Aku pasti sudah gila.
AKU SUDAH PERNAH DISOGOK DAN DISIRAM DENGAN AIR
Bu May, aku sudah selesai menerjemahkan.
Mohon diperiksa.
Aku tak bisa berbohong.
- Sepertinya sibuk sekali belakangan ini. - Ya.
Begitu sibuknya sampai tak bisa makan.
Tentu sa…
Tidak. Aku akan makan nanti.
Aku jadi cemas. Tak bisa sering bertemu belakangan ini.
Kau sedang bicara dengan siapa?
- Kau tahu cara memakainya? - Lensa kontak?
Aku pakai lensa sebelum melakukan lasik.
Aku hanya bisa pasang sebelah sini.
Memasang lensa sangat sulit.
Kau tak merasa aneh?
- Kenapa? Lensanya aneh? - Bukan lensanya,
tapi jarak di antara kita.
- Coba kedipkan matamu. - Kenapa?
Aku bisa merasakan cinta…
dari matamu.
- Jangan dirasakan! - Coba lebih mendekat.
- Pasang dari jauh. - Aku harus pasang dari dekat.
Biar kupasang. Sini.
- Pasang dengan mata tertutup. - Ya.
Sedang apa di depan rumahku?
Aku hanya lewat.
Di mana Seon-gyeom?
Seharusnya kau datang lebih awal. Dia pergi sepuluh menit yang lalu.
Apa kau pernah melihat
orang mencurigakan di sekitar rumahmu?
Aku?
Aku hanya sedikit cemas.
Kau juga suka berlari?
Pakaianmu seperti pelari.
Hanya untuk sementara waktu. Aku sedang bersiap ikut maraton.
Kudengar itu acara amal. Aku suka melakukan kegiatan sosial.
Kurasa Seon-gyeom pernah mengatakannya.
Rupanya kau ikut juga.
Seon-gyeom sangat khawatir kau tak makan dengan teratur.
Dia malah mengatakannya padaku.
Seon-gyeom makan dengan teratur?
Selalu.
Jangan beri tahu dia aku berlatih lari.
Juga, pertemuan kita di sini.
Kau mau menyarap?
Tak disangka kau suka sarapan.
Kau lebih sehat daripada perkiraanku.
Kenapa kau membelikanku ini?
Mi-joo.
Apa kau mengajar juga?
Aku sedang mengajar dua pekan sekali.
- Kenapa? - Aku pandai dalam segala hal,
kecuali bahasa Inggris.
Kurasa aku tak bisa menambah murid karena pekerjaan utamaku.
- Seberapa buruk kemampuan bahasamu? - Buruk sekali.
Itu sebabnya kau mengajakku makan?
Aku akan memberimu tes sederhana untuk mengganti biaya roti lapis.
Mari kita cek kemampuanmu.
Kuberi waktu tiga menit.
Sudah selesai.
Kemampuan mendengarku baik,
tapi kemampuan membacaku payah.
Benar-benar sangat payah. Bagaimana bisa masuk kuliah?
Mungkin kemampuan menggambarku sangat bagus.
Aku ahli dalam mata pelajaran lain.
Aku akan mengirimkan rekomendasi buku
untuk memperbaiki kemampuanmu.
Skormu pasti naik drastis.
Mustahil lebih jelek daripada ini.
Kau terlihat terburu-buru. Benar?
Untuk syarat kelulusan?
Aku mau ikut acara pertukaran pelajar.
Aku harus lakukan kerja sukarela juga.
Apa acara maraton itu membutuhkan sukarelawan?
Kurasa begitu. Wanita itu suka memanfaatkan orang.
Apa?
Beri tahu aku jika lihat orang yang mencurigakan
saat kau sedang bersama Seon-gyeom.
Baik.
Apa ada orang yang mengikuti Seon-gyeom?
Seperti penguntit?
Konyol sekali. Bukan begitu.
Aku hanya terlalu cemas.
Rupanya begitu.
Berikan rapor ujianmu.
- Ibu tak sibuk, bukan? - Sibuk.
Ibu hanya mampir sebentar.
- Kau pakai koyok? - Apa?
Aku terlalu bersemangat belajar sampai bahuku kaku.
Kenapa tanganmu memar?
Aku tak sengaja memukul meja saat belajar.
Kau tak dikucilkan dan dirundung oleh teman-temanmu, bukan?
- Temanku banyak. - Kau bukan perundung?
Astaga. Aku tak begitu…
Kau tak bertinju lagi, bukan?
Bukankah Ibu sibuk? Cepat pergi.
Bu Dong.
Ibu benci aku dirundung, atau bertinju lagi?
- Tinju. - Kenapa?
Karena kau sengaja memilihnya.
Apa harus kerja di tempat lain?
Apa harus jadi korban perundungan?
Jangan menghela napas. Aku sedang belajar.
Lakukan di kamarmu. Ini kamarku, dan itu meja belajarku.
Tak ada ruang di meja belajarku.
Rapikanlah mejamu.
Murid kelas 3 SMA tak punya waktu untuk itu.
Selalu menggunakan alasan itu.
- Kau punya hati nurani? - Berisik. Bantu kerjakan soal ini…
Lupakan. Kau tak tahu apa-apa.
Tampaknya Yeong-hwa menyukai seseorang.
Aku tahu.
Rupanya kau tahu.
Menyebalkan.
Aku?
Aku sebal karena menyempatkan waktu dalam kesibukanku
dan terlambat sepuluh menit.
Apa salahnya terlambat?
Bagaimana mungkin hidup sempurna tiap detiknya?
Begitulah hidupku.
Aku tiba-tiba senang seperti orang bodoh.
Aku tiba-tiba senang karena kau menyempatkan waktu bertemu denganku.
Seharusnya aku tak kemari.
Aku terlalu berlagak.
Apa?
Aku tak baik-baik saja.
Aku terus menyempatkan waktu padahal sibuk.
Aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu.
Aku tak tahu jawaban yang kau inginkan.
Bagiku, kau adalah…
kenyamanan, penghiburan,
dan keputusasaanku.
Keputusasaan?
Dahulu, melihat lukisanmu sudah lebih daripada cukup.
Namun, aku semakin merindukanmu.
Waktu terbuang sia-sia…
saat tak bisa melihatmu.
Biarkan…
waktu itu mengalir.
Jangan melakukan hal yang tak bisa kau lakukan.
Lakukan yang bisa dilakukan. Seperti memelukku dengan erat.
Beraninya mengajariku? Tak sopan.
Percuma mengatakan itu. Kau tetap menggemaskan.
Aku tak bisa bernapas.
Tunggu, Nak. Kau mengatakan aku menggemaskan lagi.
Kenapa masih memanggilku dengan sebutan "Nak"?
Lantas, mau kupanggil apa, Nak?
Sudah kuberi tahu sebelumnya.
Haruskah cuti? Apa panggilanku akan berubah?
- Bocah pelajar yang cuti. - Jika berhenti kuliah?
Mantan bocah pelajar.
- Sampai kapan kau memanggilku begitu? - Sampai lulus.
Aku harus lulus lebih awal.
Meski bocah, aku tetap suka.
Kau tak menyukaiku karena aku seorang mahasiswa, bukan?
Yang kusuka bukan identitasmu, tapi dirimu.
Apa ini? Kenapa berterus terang sekali?
- Tak suka? - Kau akan menarik perkataanmu?
Tidak. Meski kau tak suka, tahanlah.
Sekarang, kau milik siapa?
- Milikku. - Kalau begitu, aku milikmu.
- Miliki dirimu sendiri. - Meski tak suka, tahanlah.
Lepaskan. Aku harus pergi. Waktuku habis.
Aku juga harus pergi. Aku harus ke kelas.
Semoga sukses belajar, Nak. Jangan memikirkanku.
Mimpi saja.
Ada hal aneh di kontrak iklan Eun-bi yang akan syuting pekan depan.
- Apa itu? - Ada hal mengenai diet.
Kurasa dia jadi kurus karena itu.
Tak bisa dipercaya.
Jadwal Eun-bi tak ada yang berubah, bukan?
Ya.
Eun-bi, ini aku. Kita berapat besok siang.
Aku punya jadwal lain.
Kau punya jadwal berbeda dengan yang agensimu miliki?
Kenapa bisa begitu?
Kau pikir aku hanya membantu Seon-gyeom.
Kenapa?
Aku bermain golf bersama teman-teman ayahku besok.
Kenapa?
Karena aku teken kontrak denganmu. Dah.
- Kenapa? - Hentikanlah.
Kenapa?
Alat pijat. Koyok.
- Ya, Bu Seo? - Kau sudah tahu?
Mengenai apa?
Eun-bi menyia-nyiakan energinya di tempat yang tak masuk akal.
Apa maksudmu?
Apa?
- Pukulan bagus! - Pukulan bagus!
Kau sungguh luar biasa.
Tersenyumlah.
- Sudah bagus aku tak menangis. - Eun-bi.
Tolong bantu aku. Aku selalu salah pukul.
Astaga. Ini kesempatan langka.
Ayo.
Terima kasih.
- Posisikan kepalamu. - Baik.
Bagus. Fokus.
- Baik. - Setelah itu,
- pegang tongkat sedikit lebih bawah. - Baik.
- Pegang dengan erat. - Ayo pergi.
Hei, Seon-gyeom!
Lepaskan! Ada apa denganmu?
Apa yang kau lakukan?
Kau tak lihat ada banyak teman-teman ayah di sini?
Apa kau tak mengajari putramu untuk memberi salam?
Beri salam pada Pimpinan Grup Seomyung.
Ayahnya Seo Dan-ah.
Salam? Apa itu penting sekarang?
Ayah memanfaatkan keluarga seperti ini…
benar-benar membuatku jijik.
Ayah hanya bermain golf dengan teman-teman ayah.
Jaga ucapanmu.
Kenapa butuh atlet golf profesional untuk bermain dengan teman?
Ayah melakukan ini karena ada alasan.
Berhentilah memanfaatkan kami!
Perbuatan Ayah sangat memalukan.
Ada apa denganmu?
Lepaskan.
Yang benar saja!
Hei. Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?
Apa itu begitu penting?
Bu Seo mengadu?
"Mengadu"? Rupanya kau sadar tak seharusnya melakukan ini.
- Kenapa melakukan ini? - Bagaimana lagi? Aku telanjur tahu.
Bukankah sudah jelas? Seharusnya kau diam saja.
Sejak kapan kau melakukan ini?
Itu tak penting.
Aku tak bisa melihatmu dimanfaatkan begini.
Kau melakukan ini demi aku?
Tak begitu, bukan?
Kenapa kau melakukan ini?
Aku kasihan karena kau terlahir sebagai kakakku.
Kau sudah sering menyelamatkanku.
Aku bisa melakukan ini berkali-kali.
Kau tahu cara menyelamatkanku?
Itu membanggakan.
- Kau tinggal di mana? - Di mana lagi? Hotel.
Biar kuantar. Ayo pergi.
Ikuti aku.
Aku tak akan pergi sampai melihatmu tertidur.
- Kau menyebalkan. - Aku tahu.
Kurasa kau dan putramu kurang berkomunikasi.
Aku juga pamit. Sampai jumpa lain kali.
Nona Oh.
Kau berpacaran dengan putraku?
Kau harus menjawab dengan benar.
Apa aku harus menjawab?
Apa yang akan kau lakukan?
Kau yang mengacaukan anakku, bukan?
Anak baik itu tak mematuhi perkataanku lagi.
Terlebih lagi, karena kau menodai putraku,
putriku juga ikut tercoreng.
Reputasiku dipermalukan karena orang sepertimu.
Kau tetap tak mau menjawab?
Baiklah. Hanya itu yang bisa kau lakukan untuk melawanku. Tak perlu dijawab!
Bicaralah secara terhormat.
Hei.
Kau pikir aku membesarkan putraku untuk diberikan kepadamu?
Anggota Majelis Ki.
Seon-gyeom bukan benda.
Kenapa terus menganggapnya milikmu?
Anak kurang ajar. Berani-beraninya kau melawanku?
Putraku adalah milikku.
Jadi, kau akan membuangnya jika sudah tak berguna?
Apa?
Aku akan melaporkanmu ke polisi jika menghampiriku lagi.
Pergilah.
Sialan. Aku ingin memukulnya, tapi tak bisa.
Kenapa ke sini?
Kau takut setelah menyadari perbuatanmu?
Bukankah Ayah yang seharusnya takut?
- Bagaimana jika Eun-bi mengabaikan Ayah? - Dia tak akan begitu.
Dia anak baik, tak seperti kau.
Itu sebabnya Ayah memanfaatkan Eun-bi?
Rupanya kau tak datang untuk minta maaf.
Kau tak menyesalinya.
Tak akan kulakukan jika akan menyesalinya.
Begitukah?
Trek dan lapangan, Kim Woo-sik,
dan Oh Mi-joo.
Di antara tiga kelemahanmu itu,
mana yang akan ayah incar?
Ayah tak akan menghukummu karena menyayangimu.
Namun, jika kau terus membangkang seperti ini…
Ayah terpaksa membuat wanita itu menderita.
Ayah salah.
Dia itu…
kekuatanku, bukan kelemahanku.
Jadi, lakukanlah semau Ayah.
Akulah kelemahan Ayah.
Seperti Ayah lihat, aku masih belum tahu sampai mana kemampuanku.
Jangan membuatku ingin menghancurkan Ayah.
Oh Mi-joo.
Oh Mi-joo.
Tolong keluar sebentar.
Oh Mi-joo, ayo kita bicara.
Nomor yang Anda tuju…
Oh Mi-joo.
Oh Mi-joo.
KIta bicara sebentar.
Oh Mi-joo.
Kenapa sulit sekali menghubungimu?
Pergilah. Jangan terus menungguku.
Aku ingin bicara denganmu. Hanya sebentar.
Kumohon.
Kau menangis?
Aku datang untuk minta maaf.
Maafkan aku.
Untuk apa?
Kudengar ayahku ke sini.
Hanya itu?
Kita bicara nanti.
Kurasa aku akan melakukan kesalahan
- jika bicara denganmu sekarang, - Kau boleh melakukannya.
Seharusnya kau langsung beri tahu aku.
Sudah kubilang, kau bisa memanggilku saat sakit dan kesulitan.
Panggil aku.
Jika begitu, aku bisa langsung ke sini daripada membuang waktu.
Melihatmu sekarang…
membuatku lebih sulit.
Jika langsung memanggilmu,
tak akan mengubah apa pun.
Ini perasaanku. Hanya aku yang bisa membuat perasaanku lebih baik.
Bagaimana aku bisa menyuruhmu untuk mengubah perasaanku?
Itu penyalahgunaan.
Aku memikirkan banyak hal.
"Apa aku harus mengorbankan diriku untuk berpacaran?"
Meski begitu, aku ingin melakukan hal…
yang dilakukan orang-orang.
Kenapa aku harus terus memaksakan diri untuk menjadi orang lain?
Kau boleh kecewa padaku.
Jangan menahannya.
Lagi-lagi, aku malu dengan diriku.
Aku sangat sulit memandangmu sekarang.
Aku tak mau begitu.
Apa?
Kecewa.
Lagi pula ini bukan salahmu.
Aku tak ingin menghujat keluargamu.
Aku hanya…
Hanya…
Apa yang salah denganku?
Padahal aku hidup dengan baik.
Apa kekuranganku?
Diriku adalah…
yang paling berharga bagiku.
Jadi, aku ingin menyerah.
Katamu, aku boleh
melakukan kesalahan.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Dia sungguh ingin putus?
Kau pikir aku keterlaluan karena mau bersama dengan Seon-gyeom?
Ulang tahun Nona Seo sebentar lagi.
Untuk apa balon ini?
Mengadakan pesta untuk Nona Seo.
Ini kali pertama ada yang mengajakku kencan.
Mau ke mana kau berpakaian rapi begitu?
Aku harus terlihat bisa diandalkan.
Kenapa kau mendukung seorang pelapor dengan sumber daya yang kau punya?
Yeong-hwa bukan sekadar benda.
- Kau harus minta maaf dulu padanya. - Bagaimana caranya?
Pesanan untuk film Yook Ji-woo datang. Ini untuk festival film.
Aku ingin bekerja dengan baik.
Kau akan baik-baik saja? Dia ibunya.
Lebih daripada segalanya, aku enggan kehilangan pekerjaanku.
Jika dipikirkan lagi, aku berharap kau ikut denganku.
Jangan pergi.
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.