Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF.
Kamu berharap apa dariku?
Karena tak menunggumu sampai selesai?
Waktu yang kau pakai untuk melukis,
bukan milikmu, tapi milikku.
Kenapa kau yang kecewa?
Apa-apaan ini?
Kau yang merusaknya.
Itu lukisanku.
- Aku pelukisnya. - Pikirmu aku tak tahu?
Kau tak tahu.
Ini milikku.
Sebelum kuberikan kepadamu,
lukisan ini milikku.
- Kau sudah gila? - Kesabaranku ada batasnya.
Siapa kau sebenarnya?
Siapa kau yang berhak memutuskannya?
Siapa kau…
berharap atau kecewa padaku?
Siapa kau yang berani memperlakukanku seperti mesin jual otomat?
Orang yang bisa menyukseskan atau menggagalkanmu.
Itu retorik.
Aku memberitahumu bahwa aku manusia.
Kau memberitahuku? Berani-beraninya! Bicara formal padaku!
Apa jadi sopan jika dikatakan dengan formal?
Meski suasana sudah rusak, aku ingin menjaga kehormatan.
Lagi pula…
kehormatan bisa dijaga jika kau memilikinya.
Kau selalu seperti ini?
Memangnya seberapa jauh kau mengenalku?
Apa ini tata krama di duniamu?
Kau coba kontrol orang yang kau butuhkan dan membuang yang tak bisa dikendalikan.
Aku tak akan begini jika kau tak memulainya.
Bukan karena kau tak mau kalah?
Menyenangkankah hidup begitu?
Apa gunanya jika tak menyenangkan?
Kita hidup untuk bersenang-senang.
Terdengar sangat menyenangkan.
Lebih menyenangkan jika kau jadi miskin.
Karena tak ada yang mengenali lukisanmu sepertiku,
kau tak akan bisa beli kuas dan cat air.
Maka tujuan melukis pun hilang.
Pada akhirnya, kau tak bisa melukis lagi.
Baiklah.
Lebih baik hancur jika tak bisa dimiliki.
Jangan sampai ucapanku kau ambil hati.
Jangan sampai semangat menggeloramu tadi hilang.
Aku tak menyangka jadi seperti ini.
Aku hanya…
ingin bertemu denganmu dan berbicara mengenai lukisan.
Itu saja harapanku.
Bu Seo.
Kau orang terburuk.
Ini yang akan terjadi jika kau berharap banyak saat berbisnis.
Semoga ini jadi pelajaran untukmu.
Wanita jahat.
EPISODE 10
Sialan!
Aku sungguh kesal.
Pak Jeong, ini aku.
Kumpulkan portofolio pelukis amatir yang bukan bagian dari galeri mana pun.
Dan buat kontrak untuk penjualan karya seni
dengan ketentuan tenggat waktu.
Makan tak tepat waktu dan hanya meminum jus
itu masalahnya.
Apa hanya meminum jus adalah masalahnya?
Yeong-hwa, tunggu sebentar.
Halo. Ada masalah apa?
Kenapa belum bayar uang sewa?
Ya, benar.
Pak Jeong, di mana permenku?
Kau menyembunyikannya untuk menyiksaku?
Kau terus memakannya sekaligus, jadi, aku memisahkannya.
Aku akan memberikannya.
Justru enak dimakan sekaligus.
LIMA RATUS RIBU WON
Bisa kembalikan lima ratus ribu won milikku…
Harga diri atau uang sewa?
Harga diri atau uang sewa?
Kenapa kutaruh amplopnya di sana?
Menyebalkan.
APA ITU FOTOMU?
KAPAN KALIAN JADI SAUDARA?
Yang benar saja!
Apa…
AKU PUNYA BANYAK PERTANYAAN
KAU PACAR TAE-WOONG?
Jika ada keluhan, kau bisa menghubungiku.
XW ENTERTAINMENT
Halo, Pak Kim Myung-su?
Kau manajer Seo Tae-woong, ya?
Aku bukan mau menggugat.
Tolong suruh Seo Tae-woong untuk berhenti mengikuti media sosialku.
Kurang ajar sekali.
Ada apa? Telepon iseng?
Bukan. Dia minta aku menyuruhmu untuk batal mengikuti media sosialnya.
Siapa kau? Kenapa menyuruhku?
Aku manajermu.
Siapa yang kau ikuti?
Entahlah.
Daerah ini sungguh aneh.
Astaga. Benar-benar kurang ajar.
Myung-su! Apa maksudnya cukup tua saat ditanya umur?
Apa? Rupanya si Cukup Tua!
Jadi, itu sungguh dia.
Ini Seo Dan-ah.
Kenapa ada foto dia di sini?
"Saat pemandangan kampus terlalu membosankan…"
- Mau pergi? - Ya, benar.
Kita harus kembali dan berkemas.
Untuk apa jika jadwal kerja sudah berakhir?
Aku pemimpin grup. Kita syuting di luar kota mulai besok.
Untuk berapa lama?
Hanya tiga malam.
Sial! Menyebalkan.
Masuklah.
- Terima kasih. - Kau lebih banyak bekerja.
Aku akan mentransfer bayaranmu.
Kirimlah yang banyak.
Baik.
- Masuklah. - Omong-omong…
Dulu kau pernah disponsori Balai Kota Annam.
Bagaimana cara mengurus proses pemberhentiannya?
Agensiku yang mengurusnya.
Aku hanya menerima dokumen,
menandatangani, lalu mengirimnya.
Aku tak mengerti cara mengurusnya.
Apa kata timmu?
Bukankah masa kontrakmu masih lama?
Ya, masih cukup lama.
Pelatih mengajak bertemu jika aku sudah pulih.
Aku harus segera menemuinya.
- Woo-sik. - Ya?
Anggap tempatmu berdiri sekarang adalah trek.
Kita bisa membuat pilihan saat berdiri di garis awal.
Aku tak membahasnya karena tahu kau akan begini.
Kau lebih berani daripada yang dipikirkan orang lain.
Baiklah. Hati-hati di jalan.
Aku pamit.
MANAJER UTAMA JEONG JI-HYUN
Pak Jeong, ini Ki Seon-gyeom.
Apa aku bisa bertemu Bu Seo besok?
Baik. Aku akan datang tepat waktu.
Ya.
LEE YEONG-HWA
Halo.
Aku tak sibuk.
Sekarang?
Kau memanggilku untuk minum miras?
Karena aku depresi.
Bagaimana tempat ini?
Bagus, bukan?
Dingin.
Aku sangat suka tempat ini. Pemandangan malamnya bagus.
Uang sewa murah, tapi berkualitas.
Mungkin ini bulan terakhirku di sini.
Aku tak bisa bayar uang sewa bulan ini.
Jika pinjam uang ke ibuku,
aku pasti disuruh pindah ke asrama.
Tak terpikirkan olehku
cara cepat mendapatkan uang 300 ribu won.
Aku tak bisa tiba-tiba mencari teman sekamar.
Ini, sudah kubeli sejak lama.
Kau memanggilku untuk meminjam uang?
Seon-gyeom. Kau mau tinggal bersamaku sebulan?
Jika kau bersedia, aku akan melakukan segalanya untukmu.
- Gratis? - Itu…
Jika kau membayar sisa uang sewaku,
yang lainnya gratis selama sebulan.
Bagaimana? Semuanya gratis.
Beri tahu nomor rekeningmu.
Kau mau meminjamkan uang? Semudah ini?
Ya.
Seon-gyeom, kau sungguh…
Terima kasih banyak.
Nomor rekening.
Semua temanku pun kesulitan uang,
entah ke mana kuminta bantuan.
Namun, kau begitu cepat menolak tinggal bersamaku.
Nona Seo pernah semena-mena terhadapmu?
Aku tak pernah merasa dia menyalahgunakan wewenangnya.
Kenapa aku tak merasa begitu?
- Apa karena aku payah? - Aku pulang.
Kau ada di rumah?
Kau sudah pulang. Aku ada di rumah.
- Kau tak ada. - Ada.
Kita harus belanja.
Kita kehabisan lauk. Kau makan apa tadi?
Itu…
Bangun.
- Ayo pergi. - Mau ajak aku jalan-jalan?
Kuajak kau jalan-jalan dan mengizinkanmu membantuku memasak.
Kau yang terbaik.
Ambil biji wijen di lemari.
Apa? Baik.
Tumben kau menganggur.
Aku baru sampai Seoul.
Itu kerja paruh waktu. Bagaimana pekerjaan utamamu?
Ada satu tawaran,
tapi kutolak karena melibatkan transkripsi.
Aku sangat ingin mendapatkan film horor.
Meski ditulis oleh Aaron Sorkin?
Jangan mengatakan hal yang mengerikan.
Omong-omong, apa itu? Madu?
Dia meninggalkannya.
Dia meninggalkannya untuk kita?
- Ambil daun bawang di kulkas… - Biar aku iris.
Astaga.
May.
Aku merasa seperti pecundang.
Padahal aku sendiri tak bisa mengutarakan perasaanku.
Padahal aku sendiri takut ditolak
dan tak bisa bertemu dia lagi.
Namun, aku menunggu dia mengatakannya lebih dulu.
Hambar.
Kupikir semua masalah di antara kami
bisa diselesaikan jika kami pacaran.
Maka nantinya akan jadi wajar, tapi aku takut hubungan kami berakhir.
- Karena itu aku tak berani bersikap. - Coba cicipi.
Tak mau.
- Apa asin? - Tidak. Enak sekali.
May, ayolah. Dengarkan ceritaku.
Aku sangat serius sekarang!
Kenapa membicarakan masalah itu denganku? Kau harus menemui pria itu.
Hentikan mengakuinya padaku dan hubungi dia.
Katanya dia meninggalkan madu?
Pakai alasan itu.
Astaga. Kenapa tak terpikirkan?
Astaga.
Haruskah aku ke sana dan memberitahunya perasaanku?
"Aku, kau… Kita berpacaran mulai hari ini."
- Bagaimana jika ditolak? - Kau akan mundur jika ditolak?
- Tidak. Aku berjuang mati-matian. - Jangan sampai mati.
Tunggu sebentar.
Beri tahu dia perasaanmu. Jika tidak, bagaimana caramu maju?
Benar.
Jadi…
Jika kau minum ini,
kita pacaran.
Jika tidak?
Kita berakhir…
selamanya.
Kenapa naskahnya pesimistis?
Kurasa ini refleks alam bawah sadarku.
Kalau begitu, ulang dari awal.
Kau menyatakan perasaanmu kepadaku?
Setelah sekian lama?
Setelah…
kau melukaiku?
Kenapa kau menangis?
Kau tak boleh menangis.
Kenapa kau melakukan ini?
Katakan padaku.
Kenapa kau melakukan ini?
Apa salahku? Kenapa kau jadi dingin sekali?
Aku juga terluka.
Kenapa selalu di malam hari dan di bar?
Tak bisa terucap saat tak mabuk?
Benar juga.
Kami harus bertemu di siang hari saat kami sadar.
Apa dia pasti datang
jika kuhubungi?
Mana aku tak tahu.
Kesempatanku hilang jika dia tak mau mengambil madu.
Hai, aku pria yang menulis soal gadis yang kusukai.
Jika tak tahu kisah lengkapnya, bacalah unggahan sebelumnya.
Aku tak akan berbasa-basi.
Kalian tahu aku pernah tinggal bersamanya.
Dia mau bertemu untuk mengembalikan madu.
Kurasa dia akan mengajakku kencan. Aku harus pakai baju apa?
Aku ingin dia tak tertarik padaku.
Setelah kupikirkan, aku enggan pergi.
Hei!
Hentikan. Berhenti berkhayal.
Cukup. Cepat telepon dia.
Kurasa aku tak bisa.
Cepat lakukan dan potong ini kotak-kotak. Aku mau buat kkakdugi.
Baik.
Halo. Hei, kenapa kau meninggalkan madu?
Semua barang dibawa kecuali itu.
Ayo bertemu agar bisa kukembalikan. Itu terlihat penting.
Bagaimana ini?
Tanganku bau daun bawang. Bagaimana cara menghilangkannya?
- Cuci pakai pasta gigi. - Nanti bau pasta gigi.
Kalau begitu, iris daun bawang lagi untuk kkakdugi.
Baik.
Siapa itu? Penipuan?
Dia mengajak bertemu.
Sekarang? Siapa? Penipu?
Nona Oh Mi-joo.
Dia tak bilang kapan.
- Lantas kapan? - Aku tak tahu.
Percakapan macam apa ini?
Berhenti menatap ponselmu. Coba telepon lagi.
Bukankah kalian akrab?
Benarkah?
Mana kutahu.
Astaga. May, dia meneleponku.
Dia sudah akan menolakku? Bagaimana? Aku belum lakukan apa pun.
Dia pasti mau menanyakan waktu bertemu.
Kau hanya mengajaknya bertemu.
Benar. Pasti begitu, bukan?
Belakangan ini, kau tak pernah waras.
Wajar begitu jika berumur 29 tahun.
Kau tak bisa berpikir waras.
Terima kasih sudah diingatkan.
Astaga. Kau membuatku gila.
Cepat angkat, lalu potong lobak.
Sudah kubilang berkali-kali.
Aku tak bisa.
Apa?
KI SEON-GYEOM
Mati.
Kita bertemu lusa di taman pukul 14.00.
Tolong balas dengan titik jika kau melihat pesan ini.
Dia tak angkat telepon, tapi kirim pesan.
Astaga, kukira Mi-joo tak begitu. Pengecut sekali.
Aku sangat menyukai Mi-joo.
Aku memberanikan diri untuk memihakmu.
"Memberanikan diri"?
Apa kali ini aku membuatnya memberanikan diri lebih dulu?
Kenapa? Kau perlu keberanian?
Mau kuberikan? Kurasa aku tak membutuhkannya untuk sementara waktu.
Tidak perlu.
Jika dulu, aku pasti iri melihatmu membuat janji untuk bertemu.
Karena tak akan bertemu lagi, aku tak begitu iri.
Namun, apa ada sesuatu di antara kalian?
Sebagian besar karenaku.
Seon-gyeom yang sebagian besar karenamu.
Memang apa sebagian besar masalahnya?
Karena aku membosankan.
Menurutku kau kocak.
Aku tak tahu cara berbagi,
atau apa yang harus diberikan pada orang lain.
Yakin?
Namun, apa itu?
Menurutmu apa?
Seni.
Baik.
Jika begitu, itu seni.
Semudah itu?
Karyaku termasuk seni jika orang lain menyebutnya seni.
Kau bisa berbicara santai padaku.
Ya. Aku sedang santai.
Rupanya kau memang enggan berbagi.
Hei, Seon-gyeom.
Kau datang lebih awal. Bu Seo masih rapat.
Aku akan menunggunya.
Seon-gyeom. Apa yang kau lakukan di sini?
Menemui Bu Seo.
Apa kau bisa membantuku?
Ini sampel pamflet untuk lari amal.
Yang selalu dilakukan Bu Seo setiap tahun?
Mana yang lebih bagus?
Pilihanmu pun kupertimbangkan.
Aku tak terlalu paham seni.
Artinya kau malah akan pilih yang bagus.
Ini.
Kau pandai menilai.
Pak Jeong. Coba lihat sampel pamflet untuk acara lari amal ini.
- Mana yang lebih bagus? - Aku pilih…
yang dipilih Bu Seo.
Baiklah.
Kenapa menemui Bu Seo?
Kau dipanggil ke sini?
Bukankah dia tak berhak menyuruhmu lagi?
Aku yang meminta bertemu dengannya.
Kau memiliki bakat alami, tapi kau pasti tak mengetahuinya.
Kau memotivasi orang lain.
Mengenai bakatku yang kau katakan waktu itu… Apa kau serius?
Apa?
Oh, soal itu.
Aku mengatakannya karena kau pun memotivasiku,
selama dua tahun kau berfokus pada kariermu.
Aku tak tahu.
Sekarang kau tahu. Kau harus menerapkannya.
Kenapa mengajak bertemu di tempat baca komik.
Katanya ini selera Pak Seo.
Aku tak bisa memilih tempat.
Pak Seo datang.
Kau datang lebih awal.
Ya.
Aku sedang lihat-lihat karena tak pernah datang ke tempat ini.
Bagaimana jika kau merekomendasikanku buku?
Aku tak tahu apa seleraku serupa denganmu.
Kuperlihatkan buku terpopuler lebih dulu.
Ada banyak di sebelah sana.
Aku penasaran dengan seleramu.
Orang ini bermasalah.
Dia selalu membuat masalah.
Astaga. Dia punya empat orang putri.
Aku iri.
Setelah teringat,
kau tak memberi balasan mengenai perjodohan putrimu.
Aku penasaran apa aktivitas Seon-gyeom belakangan ini.
Dia sedang beristirahat.
Istirahat penting untuk atlet.
"Istirahat."
Putriku sibuk bekerja setiap hari,
dan Seon-gyeom istirahat.
Meski aku ingin menikahkan putriku,
aku jadi menahan diri karena ini.
Dia bekerja di kantor pusat dan agensi,
bahkan acara amal tahunan.
Dia bahkan berlari demi mendonasikan uang.
Sepertinya aku harus minta Seon-gyeom mengajak timnya untuk ikut serta.
Dia pelatihnya?
Ada tim yang dilatihnya selama tahunan sebagai kegiatan amal.
Kusuruh dia untuk melatih tim yang bisa menjadi atlet nasional.
Membuat tim tingkat daerah tak sulit bagiku.
Aku iri padamu untuk hal itu.
Kedua anakmu sungguh terhormat.
Astaga. Aku…
lebih iri denganmu karena kedua anakmu cerdas dan sukses.
Ini nasi goreng kimci pesananmu. Ditaruh di mana?
Itu pesanannya.
Kemarikan.
- Selamat menikmati. - Ramyeon masih lama?
Astaga. Kau terlihat baik.
Waktuku hanya sepuluh menit.
Tak apa-apa.
Kau mau sidik jarimu didaftarkan lagi? Katanya kau mengeluhkannya.
Aku mengeluh?
Kau datang karena itu, bukan?
Kurasa aku akhirnya sadar kenapa orang-orang mengatakan
bahwa aku angkuh.
Kau baru sadar?
Terima kasih.
Kurasa kini aku paham
apa perbuatanmu untukku selagi aku sibuk terhadap diriku sendiri.
Dulu aku tak sadar mendapatkan banyak dukungan.
Itu pekerjaan kami. Kami melakukan pekerjaan dengan baik.
Kau ingin menemuiku hanya untuk membicarakan itu?
Aku sedikit frustrasi
dan ingin berbincang.
Kau memang buat orang frustrasi.
Aku ingin membicarakan Woo-sik.
- Siapa Woo-sik? - Atlet yang pernah kau bantu.
Dia rupanya.
Katanya dia ke luar pusat pelatihan?
Jadi, dia bukan atlet nasional lagi.
Apa dia pergi ke tim asalnya?
Entah dia diminta pindah,
atau dipertahankan.
Bagaimana menurutmu?
Dia peka, memusingkan,
dan membebankan. Dia kehilangan kepercayaan kepala pelatih.
Kepala pelatih bertanggung jawab atas kelalaian tim nasional.
Mereka memang tak ingin ini terungkap.
Meski dia pelapornya,
dia tak bisa disingkirkan karena dia korbannya.
Mereka harus menjaga citra publik.
Menurutmu, dia bisa pindah ke tim lain?
Tidak. Meski diterima, pasti hanya untuk kuantitas dan dia akan diabaikan.
Bukankah tugas agensi
adalah mencarikan atlet tim baru?
Kau tak menganggap atlet lain sama sepertimu, bukan?
Kenapa tidak?
Aku memahami rasa keadilanmu. Coba berpikir rasional. Sungguh tak tahu?
Karena latar belakangku?
Tak semua orang memiliki itu.
Keluargamu berpengaruh, wajahmu tampan,
dan selalu juara dua. Tak semua bisa begitu.
Lihatlah Woo-sik.
Apa kelebihannya?
Tentu saja kemampuannya.
Pada akhirnya, tim menginginkan rekor dan medali.
Namun, dia cedera.
Apa ada jaminan dia bisa sembuh total?
Mungkin malah lebih membaik.
Dia melewati kesulitan dengan baik.
Sekarang bisa fokus berlatih.
Bagaimana jika berganti cabang olahraga?
Seomyung bisa mensponsori jika dia berbakat lari maraton.
Kau mau dia lari maraton? Karena maraton disiarkan,
kau mau dia berlari dengan baju berlogo perusahaanmu?
Itulah tujuan perusahaan pemberi sponsor.
Jarak pendek hanya 100 meter.
Benar.
Pertandingan hanya 10 detik,
tapi ada kemungkinan tak bisa lari
jika melakukan kesalahan saat di garis awal.
Sungguh tak ada harapan. Lantas siapa yang menghasilkan uang?
Tentu saja atletnya.
Kau hanya memikirkan atlet dan tak memikirkanku.
Menurutmu bagaimana bisa meyakinkan tim lain untuk menerimanya?
"Korban yang disingkirkan."
Kau suka menjadi peran yang terlihat baik.
Kau memberi peluang kedua pada atlet yang tak bisa kembali olahraga
karena kedermawanan.
Aku suka idemu,
tapi apa gunanya melakukan ini sementara dia rela mengorbankan segalanya?
Bukankah ini maumu?
Benar.
Itulah alasanku kemari.
Masalah ini tak bisa diatasi dengan terburu-buru.
Kalau begitu, harus diatasi dengan hati-hati.
Terima kasih.
Aku pamit.
Apa kau kesal?
Tidak.
Bukan hanya kita berdua.
Seon-gyeom juga akan lari bersama anak-anak tim sekolah
yang dia bimbing selama ini.
Berhenti mengganggu dia.
Ini acara berbagi kepada masyarakat.
Apa kau tak bisa pergi tanpaku?
Tentu tak bisa.
Tak ada gunanya jika aku hadir tanpamu.
Kalau begitu, kau tak perlu hadir.
Seo Dan-ah yang mengadakan acara itu.
Tak bisa kosongkan jadwalmu?
Aku tak mau karena itu demi kau.
Ji-woo, syuting akan segera dimulai.
Aku segera ke sana.
Dah. Aku harus kerja.
Kapan kemampuan aktingmu akan meningkat?
Aku merasa bersalah setiap kali melakukan ini.
Mulai besok tinggalkan rasa bersalahmu di rumah.
Apa lagi yang sedang dia rencanakan?
Anggota Majelis Ki?
Belakangan ini, dia terus menjodohkan putraku dengan putri konglomerat.
Putramu sudah putus dengan Choi Tae-ri?
Dia pacaran dengan Tae-ri?
Kenapa dengan Tae-ri?
SENI, PENDIDIKAN OLAHRAGA
PERPUSTAKAAN
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
- Ini. - Baik.
Aku akan memeriksa kursi yang tersedia.
Tolong isi ini.
JERRY MAGUIRE
Besok hari besarnya.
Aku mau mengembalikan ini.
Ya.
Kemarin aku menonton Jerry Maguire.
Apa bagus?
Tidak.
Begitu.
Namun, film itu membuat hatiku hangat.
Aku coba memikirkan alasannya.
Itu berkat Oh Mi-joo yang menceritakannya.
Bagaimana filmnya?
Pemeran utama di film itu
tak bisa menghadapi kegagalannya.
Dia malah melukai orang di sekitarnya,
dan baru menyadari betapa mereka berharga setelahnya.
Namun, tiba-tiba terpikir bahwa dia sama sepertiku.
Semakin akrab denganmu,
aku semakin takut…
hubungan kita akan berakhir.
Aku merasa berarti dan berharga saat kau menyukaiku.
Namun, aku tak yakin kau punya perasaan padaku
seperti perasaanku kepadamu.
Apa kau juga ingin memegang tanganku,
memelukku,
dan menciumku?
Aku tak tahu sama sekali.
Karena aku punya perasaan itu.
Tolong jangan benci aku.
- Topikmu tak menentu. - Begitukah?
Maaf.
Itu jawabanku.
Jadi, aku bisa terus melakukannya?
Melakukan apa? Menyukaiku?
Tak hanya menyukai.
Kau tak akan melakukannya jika dilarang?
Tak akan?
Tidak.
Aku akan terus melakukannya.
Itu mauku.
Lakukanlah. Aku mengizinkannya.
Sungguh?
Syukurlah.
Sejujurnya aku sangat khawatir.
Aku takut kau terluka hari itu.
Aku tak mau hubungan kita hanya sebulan.
Bantu aku. Aku tak bisa melakukannya sendiri.
Kau suka membantu tanpa alasan, bukan?
Apalagi jika ada alasan.
Aku akan berusaha.
Kau pasti lapar.
Ya. Aku harus lapar.
Ya.
Sepertinya sudah bisa dimakan.
Sepertinya begitu.
Cuaca hari ini cerah.
Benar.
Bagaimana kabarmu setelah kembali ke Seoul?
Aku baik-baik saja.
Aku juga.
Aku bertemu Bu Seo dan Woo-sik.
Woo-sik sedang menyiapkan ujian pegawai negeri.
Bagaimana kau tahu?
Aku pernah bertemu dengannya.
Dia sungguh akan menjadi pegawai negeri? Itu sulit.
Dia masih memikirkannya.
Aku mengundurkan diri,
tapi sepertinya Woo-sik akan diminta mengundurkan diri.
Kau membuatnya terdengar seperti kerja kantoran.
Memang begitu adanya. Begitulah saat kau jadi bagian tim.
Benar.
Kurasa sulit hidup sebagai profesional.
Dulu kupikir bisa menonton film sepuasnya dan menghasilkan uang
jika jadi penerjemah.
Setelah jadi penerjemah,
adakalanya aku menyesalinya karena tak semua film menyenangkan.
Aku tak pernah bisa menikmati film.
Meski begitu, aku beruntung memulai pekerjaan ini karena menyukainya.
Hanya itu positifnya.
Satu lagi. Aku belum membencinya.
Namun, terkadang ada hari saat semua tak berjalan lancar.
Aku harus mencari arti kata yang aku tahu di kamus.
Meski diputar sepuluh kali, dialog tak terdengar sama sekali.
Sepertinya aku berprasangka. Kau terlihat bahagia.
Aku juga begitu.
Karena terlihat bersemangat, kupikir atlet selalu bergairah.
Seperti termotivasi impian.
Seringnya tak begitu.
Karena biaya untuk berpartisipasi dalam pertandingan tak murah.
Kadang kala aku tak lari karena biaya pertandingan.
Kupikir waktu itu kau tak lari karena ada masalah.
Kau boleh tak lari saat pertandingan?
Pemenang medali sudah ditentukan dari awal.
Saat babak penyisihan,
tak perlu berlari jika merasa tak ada harapan.
Momen saat kau memutuskan tak berlari
bak adegan film bagiku.
Tidakkah hal ini jadi mengingatkan pada Yeong-hwa?
Tidak sama sekali.
Aku tak teringat soal dia.
Siapa Lee Yeong-hwa? Aku sudah lupa.
Kau mau ke mana? Biar aku antar.
Tak perlu. Aku mau mengantarmu hari ini.
- Biar aku yang antar. - Tidak. Ayo pergi.
Kita sudah sampai.
Kau pindah ke daerah kami?
- Kau sungguh penuh kejutan. - Ini tempat tinggal Yeong-hwa.
Kali ini kau menumpang di rumahnya?
- Kau pengembara? - Bukan.
Aku senang kita berdekatan.
Kau suka?
Ya. Karena tempat tinggal kita berdekatan…
Karena berdekatan, jadi…
Kau pasti mengerti, bukan?
Haruskah kulakukan itu?
Terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati.
Aku tak pernah memandangimu sampai masuk ke rumah dengan selamat.
- Itu membuatku sangat sedih. - Tak perlu.
Aku akan memperlakukanmu dengan baik.
Karena menurutku kau menyenangkan.
- Hati-hati di jalan. - Ya.
Jangan lupa mengabariku dan sesekali meneleponku.
Dah.
Aku akan memperlakukanmu dengan baik.
Aku akan memanjakanmu.
Kita bicara santai sekarang?
- Haruskah begitu? - Tidak.
Baiklah.
Bicara formal saja seperti ini.
Kita tak boleh bicara informal.
Aku pamit. Kau harus menghubungiku.
Dah.
Persetan cinta. Persetan asmara.
Besok aku harus mengumpulkan tugasku.
- Seon-gyeom! Kenapa ke sini? - Aku cemas sekali.
Kenapa kau membawa-bawa ini? Ini tak bisa dikembalikan.
Benar-benar mengkhawatirkan.
Mengenai ini?
Lebih baik aku yang antar.
Kenapa dia bersikeras mengantarku?
Padahal dia tak tahu seberapa jauh tujuanku.
Jika jauh, dia harus naik taksi.
Naik taksi juga mencemaskan.
Karena dunia ini sangat berbahaya.
Aku ke sini karena paling dekat rumahnya.
Kenapa kau begitu cemas?
Kau tak pernah bicara sebanyak ini.
Tentu saja aku cemas. Cuaca sudah mulai dingin.
Apa tawaran tinggal bersama selama sebulan masih berlaku?
Bukankah kau meminjamiku uang untuk menolak tawaran itu?
Anggap saja itu uang sewaku.
Aku senang tak perlu mengembalikan uangmu, tapi kenapa tiba-tiba?
Supaya aku tenang saat dia mengantarku dan aku bisa mengantarnya juga.
Ya, begitu saja.
Di sini.
Aku tak paham perkataanmu.
Namun, baiklah.
- Di sini, tak ada perampok, bukan? - Tidak.
Kenapa hari cepat berlalu.
Mengenai pistol…
Apa gunanya memiliki barang palsu?
Karena sudah ada yang asli, kau tak dibutuhkan lagi.
Kenapa aku tak sesenang perkiraanku?
Apa kau tak suka?
Tidak.
Kurasa aku yang bermasalah, bukan foto ini.
Gawat. Aku akan bertemu Eun-bi sebentar lagi.
Aku harus senang. Aku harus ceria. Aku senang sekali.
KI SEON-GYEOM
Foto yang kupilih bagus, bukan? Aku mau menunjukkan ini.
Kau benar-benar membuatku muak.
Jangan lihat ke sana. Lihat aku.
Kenapa kau kurus sekali?
- Kau makan teratur? - Tak usah pura-pura perhatian.
Tentu harus perhatian. Kau atletku.
Kau langsung membuangnya setelah teken kontrak denganku? Dia bukan barang.
- Apa kau bilang? "Atletku"? - Dia sendiri tak peduli.
Dia memang tak peduli dirinya sendiri, makanya aku…
Seon-gyeom melihat ini?
Rupanya ada kakak seperti ini. Apa memang begitu jika seibu?
Astaga. Rupanya ada orang yang menyindir seperti ini.
Aku serius. Aku kaget kita sangat berbeda.
Aku dan Seon-gyeom berhati baik,
sedangkan kau jahat.
Jika aku jahat,
aku tak akan mengadakan acara lari amal setiap tahun.
Aku orang baik.
Kau beramal, tapi dipublikasikan.
Kau tak mau mencoba jadi orang baik?
Itu setengah maraton.
Bagaimana aku bisa lari 21 km? Aku sangat sibuk.
Benar. Kau masih harus syuting iklan.
Aku sudah muak menjadi juara pertama.
Padahal aku ingin pensiun dan istirahat,
tapi terlalu sibuk.
Apa? Kau tak boleh pensiun. Kita baru teken kontrak.
Tak ada salahnya melindungi adikku untuk beberapa tahun lagi.
Aku akan mempertahankan gelar juara pertamaku.
Seon-gyeom sudah lama melindungiku.
Kalau begitu, kau harus mau dipakaikan baju yang bagus olehku.
Padahal dulu kau mau memakai baju yang lebih jelek.
Jangan! Hentikan!
Kau harus memilih salah satu baju yang baru kupilih.
Aku sudah mencari tahu apa yang kau pakai di masa lalu.
Aku sungguh membencimu.
Tak apa-apa. Biar aku yang menyukaimu.
Apa-apaan ini?
Kau yang merusaknya.
Sial.
Aku senang sudah lihat foto Eun-bi. Kenapa terpikirkan dirinya lagi?
Tidak.
Aku senang hari ini.
Aku sangat senang.
Benar. Aku sangat senang.
Tidak.
Aku pura-pura senang karena harus senang.
Ini semua karenamu.
Bu Seo. Kau yakin mau pergi ke sana?
Lebih baik pergi ke bar langgananmu.
Insomnia hari ini tak bisa diatasi dengan buku.
Buku tak bisa berbicara.
Kau ada janji dengan pemilik rumah ini?
Aku hanya kurir.
Ya, May. Makanannya baru datang.
Aku bisa makan sendiri.
Kau tak cium aroma ayam?
Kenapa ada padamu? Berikan padaku dan pergilah.
Hari ini aku akan makan ayam goreng untuk kali pertama.
Berikan padaku dan beli sendiri.
Kenapa kau bisa tahu rumahku? Kenapa berpakaian seperti ini?
Aku tak berpakaian begini saat keluar ke depan rumah.
Bukankah seharusnya aku dipersilakan masuk?
Itu jika tamu yang datang.
Ambil saja.
Aku sudah cukup kesal hari ini. Kau mau membuatku lebih kesal?
Rupanya begitu. Cerialah. Semangat.
Aku tak pernah ditolak seperti ini.
Kau tak membiarkanku masuk.
- Kau sangat… - Memesona?
Aku hampir menjadi orang istimewa bagimu.
Lucu sekali.
Di mana Seon-gyeom?
Kenapa kau ke sini?
Untuk minum miras.
Kau tak punya teman?
Apa kau sedang berlagak akrab?
Kau berniat minum miras sendiri? Kau ada masalah?
- Karena ada hal baik. - Seharusnya minum wiski.
Aku tak tahu rasa miras mahal.
Rasanya mahal. Kau punya gelas kaca untuk wiski?
Tak ada. Minum pakai ini.
Apa tak ada yang transparan?
Tak perlu kaca. Plastik tak masalah.
Lain kali bawa gelas sendiri.
Rupanya ada lain kali.
Kau sadar bahwa kau seperti psikopat, bukan?
Katanya kemampuan simpatiku seperti sampah.
Itu benar. Aku lebih nyaman begitu.
Kenapa aku harus bersimpati?
Karena ada yang mengganjal perasaan dan pikiranmu.
Apa perasaanmu bermasalah?
Simpati adalah kecerdasan emosi.
Apa otakmu juga bermasalah?
Perkataanmu keterlaluan.
Aku benar-benar tersinggung.
Aku baik, tapi kenapa orang-orang menggangguku.
Bukan itu maksudku, Sosiopat.
Makanya. Padahal aku sering mendengarnya,
tapi kenapa terusik saat dia mengatakannya?
Bukan itu juga maksudku. Aku pusing.
Tolong pahami konteks perkataanku.
Kau mau ini?
Tak pernah minum soju. Aku menjaga pola makanku.
Baiklah.
Berikan segelas. Biar aku coba.
Kau selalu minum dan tak sakit. Berarti ini aman.
Aku selalu sakit tiap minum miras.
Harus diminum sekaligus.
Kenapa Seon-gyeom disingkirkan?
Bukan begitu. Dia keluar karena sudah waktunya.
Kau ke sini untuk menanyakan itu?
Aku datang untuk minum miras.
Kau pasti punya alasan kenapa minum miras di sini.
Kukira kau bisa paham.
- Apa maksudmu? - Karena kau orang desa sepertinya.
Keluar.
- Enak. Gurih sekali. - Keluar dari sini.
Jadi…
dia…
merusak lukisanku, tapi menyalahkanku. Jelas-jelas dia yang merusaknya.
Dia pasti sangat kesal.
- Kau terus berbuat dosa dengan perkataan. - Bagaimana bisa?
Kau akan terkejut akan kekuatan perkataan.
Kita abaikan fakta bahwa dia merusak barangku.
Anggap kau menitipkan sesuatu padaku.
Kapan kau akan merasa kesal saat menerimanya?
Kau mau berbuat dosa lagi? Kenapa harus dikembalikan begitu?
- Karena dia membuatku kesal. - Balas dendam?
- Tidak. Artinya aku memikirkannya. - Kau sedang melakukannya sekarang.
Siapa ini?
Aku tidur. Tidur nyenyak.
Apa ini? Dia sungguh melakukannya.
Menggemaskan sekali.
Kalau begitu, aku balas "tidur nyenyak".
- Aku sungguh… - "Tidur nyenyak" terdengar tak tulus.
- Padahal aku sangat menyukainya. - Kalau begitu, balas "mimpi indah."
Tidak.
- Tidur tak nyenyak jika mimpi. - Aku sulit membuka hati,
karena tak ada yang membuatku senang.
"Semoga besok
- menyenangkan." - Jika membuka hatiku,
- aku berjuang sampai akhir. - Kirim.
Begitu juga dengan sepak bola.
"Semoga besok menyenangkan." Bagus. Alami sekali.
Pada akhirnya, membekas menjadi penyesalan.
Padahal bisa dilupakan, tapi jadi terobsesi.
- Apa yang harus aku lakukan? - Kau harus pulang.
Astaga.
Astaga, wanita ini.
Kau harus pulang. Hei.
Sial.
Yang benar saja.
Astaga.
Dia tidur dengan cantik.
Apa ini?
Kapan dia pergi?
Meja makan jadi sepi tanpa Myeong-min.
Aku malah senang karena sunyi.
Bagaimana pekerjaan? Baik?
- Ya. - Persiapan acara lari amal?
Berjalan lancar karena kuurus.
Bukankah Ayah tak tertarik?
Kau akan lari lagi kali ini?
Terlihat tak tulus jika aku mengadakannya, tapi tak lari.
Jaga kondisimu dengan baik. Jangan dipaksakan.
Ayah mencemaskanmu.
Jangan memperlakukanku seperti orang sakit. Aku sudah sehat.
Sial.
Aku tak boleh minum soju lagi.
Aku hanya akan minum sedikit.
Ini air madu. Sepertinya kemarin kau terlalu banyak minum.
Buanglah jika kau pakai madu itu.
Kau sudah mengumpulkan portofolio?
Aku selesaikan pekan ini.
Cari dengan saksama. Kuyakin banyak yang lebih hebat dari mahasiswa itu.
Harus banyak yang hebat.
Orang yang kita temui selanjutnya harus dibuat terikat secara tertulis.
Apa lebih baik dilegalisasi?
Bu Seo.
Kau membutuhkan Lee Yeong-hwa untuk mengganti lukisan
yang dipajang oleh Myeong-min, bukan?
- Benar. - Dulu begitu,
tapi sekarang kau mencari lukisan karena Lee Yeong-hwa.
Jadi, aku cari berdasarkan standar Lee Yeong-hwa?
Tidak.
Berikan ini pada dia.
Beri tahu dia tak perlu ganti rugi dan jangan menggangguku lagi.
Baik.
Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?
Meski tahu, tak seharusnya kau ke sini.
Aku datang ke sini karena kau tak bisa dihubungi.
Benar. Aku memblokir nomormu.
Bu Seo mengembalikan ini.
Katanya tak perlu ganti rugi
dan jangan mengganggunya lagi.
Kau simpan nomor Bu Seo, bukan?
Tolong hapus di depan mataku.
Dia bahkan mengirimmu untuk memutus hubungan denganku?
Ini tak akan terjadi jika kau melukis.
Apa yang kau lakukan jika bakatmu diakui?
Baik. Aku tak membutuhkan nomor yang tak bisa dihubungi.
Lihat ini. Ini kontaknya.
Aku hapus. Puas? Aku sudah menghapusnya.
Jangan ganggu aku lagi.
Kau merusak suasana hatiku.
Susah sekali mencari uang.
Ada keperluan apa?
Aku berpikir untuk berkunjung.
- Di mana Nona Seo? - Dia sedang berenang.
Lebih baik tak diganggu saat dia berenang.
Aku datang untuk menyapanya.
Putriku pindah agensi.
Aku dulu tak ada di sekitarnya,
jadi, kini aku ingin mendukungnya.
- Apa sudah terlambat? - Tak apa-apa.
Mereka tetap anak kecil di mata kita.
Benar.
Aku tak ada waktu untuk menunggu.
Bertemu denganmu sudah cukup. Aku pergi dulu. Ini camilan.
Tunggu sebentar, Bu Yook.
Kau membuangnya padaku.
Aku tak memberikannya untuk membuatmu kesal.
Kenapa harus kesal?
Aku tak akan mengatakan apa-apa jika Seon-gyeom menerimanya.
Fotonya bagus.
Belum lama ini Seon-gyeom ke sini. Dia terlihat baik-baik saja.
Ya. Aku juga bertemu dengannya.
Penampilan luar mungkin baik, entah bagaimana dalamnya?
Hubungan kalian makin akrab?
Terkadang aku ingin menjadi seorang ibu seperti hari ini.
TIM TREK DAN LAPANGAN BALAI KOTA YEONCHEON
Duduklah.
Aku akan coba mencegahmu kena penalti. Pilih salah satu.
Pembatalan kontrak hanya perlu diteken.
Isi pernyataan pindah jika ingin pindah ke tim lain.
Aku akan menyetujuinya jika sudah diisi semua.
PERNYATAAN PINDAH
Apa ada tim yang akan menerimaku?
Kau harus cari tim?
Aku tahu ini masalah gaji. Kau bisa berlatih sendiri.
Untuk apa melakukannya jika hanya sendiri?
Semua bisa dilakukan jika suka.
Apa ada atlet Korea
yang berprestasi karena benar-benar menyukainya?
Seharusnya kau bungkam.
Bukankah kau pandai melakukannya?
"Bungkam"?
Jika aku bungkam lagi,
aku tak akan ada di sini hari ini.
Kau sedang mengancamku?
Aku juga sangat menyayangkan bakat dan usiamu.
Kau masih muda. Kau bisa memulai apa pun dari awal.
Aku selalu teringat kesalahanku setiap melihatmu.
Kau tak memikirkan betapa menderitanya aku?
Maaf.
Semuanya sudah berlalu. Lupakanlah.
Woo-sik.
Kau harus memulai awal baru.
Kau sudah bertemu Kepala Pelatih?
Nek, haruskah aku jadi pegawai negeri saja?
Baiklah.
Atau jadi selebritas karena aku tampan?
Baiklah.
Nenek harus panjang umur, ya?
Nenek sudah hidup cukup lama.
Kau yang harus jaga kesehatan.
KONSEP DASAR SOSIOLOGI OLAHRAGA ILMU OLAHRAGA DAN JASMANI
Selamat pagi. Kau sedang apa? Sudah makan?
Datanglah di saat kau lapar.
Baiklah.
Aku sudah menyerahkan dokumen ke tim.
Aku bisa membatalkan kontrak tanpa membayar biaya penalti.
Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku.
Jangan cemas. Sampai jumpa lagi.
Woo-sik.
Kim Woo-sik!
- Kau tak apa-apa? - Seon-gyeom.
Kita bicara lain kali. Jangan hari ini.
Hei, Woo-sik.
Kumohon. Berhenti mendekat.
Aku…
tak ingin goyah.
Jangan ikuti aku.
Aku memutuskan…
berhenti berlari.
Aku bisa menghubungimu…
karena sudah memutuskan untuk berhenti.
Makanya…
aku bisa melakukannya.
Bagaimana rasanya berlari lagi?
Benar-benar…
menyakitkan dan melelahkan.
Aku tak bisa melakukannya lagi.
Sejujurnya…
trek bukan satu-satunya masalah.
Banyak hal mengganjal.
Aku tak hanya atlet yang cedera.
Hatiku terluka seperti badanku.
Akulah masalahnya.
Selama sepuluh tahun…
aku hanya berlari.
Aku takut rekorku tak bisa seperti dulu.
Aku harus berbuat apa?
Bagaimana ini?
Itu yang paling aku takuti.
Aku takut.
Kenapa berkata begitu di sini?
Lakukanlah di trek.
Jika sudah dicoba dan tak bisa,
kau bisa menyerah.
Woo-sik.
Aku akan menjadi orang itu.
Jika kau memercayaiku,
aku akan membantumu.
Namun, hari ini…
mari mulai membangkitkanmu.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Kenapa dia terus tersenyum begitu padaku. Aku bisa mati.
Kau menyukaiku?
Itu mengubah apa? Ini sudah berakhir untukku.
Itu 21 km!
Apa? Katamu mau berlari denganku.
Kataku ingin berpartisipasi denganmu.
Kau terlihat hebat. Itu momen yang menyentuh.
Menggemaskan. Astaga.
- Kau memikirkanku? - Kau mau bergandengan?
Kenapa kau terus bicarakan hal ini denganku?
Hentikanlah. Aku jadi merasa kita akrab.
Apa ini?
Melukislah, Nak.
Serius? Kau ikut kelas bersikap angkuh?
Itu pasti bakatku.
Lupakan lukisannya. Aku harus melihatmu melukis.
- Jangan menghilang. - Tidak akan.
Aku akan di sini selamanya.
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.