All language subtitles for Sesat.2018.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese) Download
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik tegang]

[napas terengah-engah]

- [Kasih] Ma? - Hmm.

Kak Mara makan telur kebanyakan, memangnya tidak bisulan?

[mama terkekeh] Kak Mara mau jadi atlet.

[mama] Jadi, dia harus banyak makan protein.

[musik pengiring lembut]

Papa menang lari melawan calon atlet PON.

Enak saja. Amara sudah finis, tapi Papa curang.

[papa tertawa] Alasan.

Pagi, Sayang.

Papa! Papa mandi dahulu.

Enak. Papa mandi, ya.

[Amara] Mama, Amara tidak mau, ya.

Karena Papa sudah janji roti panggang alpukat hari ini.

- Aku mau juga, roti panggang alpukat. - Ya?

Roti panggang alpukatnya minggu depan saja.

Karena hari ini, Papa mau antar brownies. Sudah banyak yang tunggu.

Memangnya tak bisa Mama saja?

Roti panggang alpukatnya harus hari ini?

Tenang!

Kak, nanti roti panggang alpukatnya Kasih buatkan.

[Kasih] Enak, 'kan, Kak?

[suara TV di latar belakang]

[Kasih tertawa kecil]

[Kasih bersenandung]

[Kasih bersenandung]

[mama menghela napas kecewa]

Aduh, Kakak jangan bermuka judes.

[Kasih mendesah marah] Nanti pengikutku akan kabur.

Mamamu dahulu sangat judes.

Banyak cowok yang menggodanya.

Lalu, kok, mau dengan Papa?

Sederhana. Karena Papa paling ganteng.

[Kasih tertawa lepas]

[Kasih] Mungkin dahulu Ibu rabun.

[semua tertawa lepas]

Tadi, sudah Papa berikan, 'kan?

- [Kasih tertawa] Untuk beli BH, Pa. - Hah?

Aduh. Bisa disebut bra saja atau apalah?

Terima kasih.

Hmm.

- [dalam bahasa Inggris] Aku sayang Papa. - Papa sayang kamu.

[dalam bahasa Indonesia] Pa.

Kamu, 'kan, minggu lalu sudah beli…

- Itu. - Bukan untuk beli BH.

Untuk roti panggang alpukat, Papa sudah janji.

Aduh, iya.

[Amara bergumam manja]

Maaf sekali, Amara.

Begini.

Nanti sore Papa jemput kamu, lalu kita beli roti panggang alpukat. Oke?

Santai saja, Pa. Amara tidak marah.

Amara tahu Papa harus ikuti apa kata Mama supaya tidak drama.

[keduanya terkekeh]

Mara.

Amara tunggu Papa, ya?

Pasti Papa jemput.

[musik latar sendu]

[wanita 1] Selamat, Amara! Menang maraton lagi?

[wanita 2] Selamat, ya. Kamu memang hebat.

[dering ponsel]

Halo, Pa?

[musik latar sendu dramatis]

[orang-orang membaca ayat suci]

[Kasih] Opa. Kasih harus, ya, pindah ke desa?

[Opa] Ini bagus untuk mama kalian…

kalau kalian pindah ke desa.

Sepi. Mama kamu bisa menenangkan diri.

- Opa. - Hmm?

Kok, penghuni desa ini semuanya orang tua?

[Kasih berteriak terkejut] Opa!

[rem mobil berdecit]

[Opa] Hai.

[Opa bersenandung] Pindah dahulu ke situ, ya.

[Kasih] Jadi, sudah tiga tahun Opa tinggal di sini sendirian?

[Opa] Ya, agar bisa menyelesaikan novel Opa.

[mama] Senang sekali Papa akhirnya menulis. Pasti bagus.

[Opa] Ya.

[Kasih] Yah.

Tidak ada sinyal.

Ayo, ini rumah kalian.

Hmm.

- [musik tegang] - Ayo.

[Amara] Hutan di sini ada sumurnya?

[Opa] Kenapa?

Itu, Opa.

Itu hutan di sini, 'kan? Ada sumurnya?

[Opa] Di mana-mana, hutan semuanya sama.

[Opa berdeham] Kasih. Kamarmu di sini.

Ini kamar Kasih. Amara, kamu di sebelah sini.

[Opa sedikit terkejut]

[musik gelisah]

[papa] Mara.

Papa punya rahasia…

yang membuat Papa bahagia ketika sedang sedih atau marah.

Mau tahu?

Begini.

Pertama…

pasang musik.

[papa menghela napas pelan]

Lalu…

cari kaca…

dan lakukan ini.

[papa menghela napas senang]

[Amara terkekeh]

Sesedih apa pun Papa, kalau melihat bayangan pantat sendiri,

Papa langsung bahagia.

[keduanya terkekeh]

[Amara terisak]

[Amara menangis terisak]

[desahan menakutkan]

[musik seram]

[Opa membaca mantra] Salam bagi para makhluk.

Sambutlah, siapa dan apa pun engkau.

Percaya tak percaya. Salam hati, sisipkan keindahan.

Terbentang di semesta membentang.

Sapa dan rasakan sepenuhnya.

Kabulkan dalam heningnya.

Sebab aku kuat,

di sanubari sukma menyapa.

Garam, kemenyan, dan mur.

Hiruplah sepuasnya.

Kembali ke samudramu.

Aku siang-malam di bilik semesta,

Kasihku bagi semua.

[musik tegang meninggi]

- [Kasih] Opa. - Hmm?

Opa tidak punya internet?

Tidak.

Opa harus konsentrasi menulis dan riset untuk menyelesaikan novel.

Memangnya riset tidak pakai internet?

[Opa terkekeh]

Kalau ada internet, aku malah tidak riset.

Lebih baik aku langsung keliling kampung sini. Melihat langsung.

Itu gunanya Opa ada di sini.

Opa menulis tentang desa ini?

[Kasih] Jangan-jangan…

tentang suara aneh saat maghrib tadi.

Suara-suara aneh apa?

[Kasih] Suara-suara mengerikan, Opa.

Kok, mengerikan?

Isi mantra-mantra itu justru bisa menyejukkan hati.

Ya sudah, kalau begitu,

kapan-kapan Kasih promosikan di YouTube Kasih.

Tapi Opa bayar.

[Opa tertawa]

Hebat sekali cucu Opa ini.

Kecil-kecil sudah bisa cari uang.

[semua tertawa kecuali Amara]

Dan kalau Amara?

[Amara tergagap]

[Kasih] Kak Amara itu atlet maraton, Opa.

Jadi, kalau menang, hadiahnya banyak.

Oh, iya.

Kapan kamu bertanding lagi, Amara?

Amara sudah tidak ikut tim, Opa.

Kenapa?

Ya, karena pindah ke sini.

Amara sudah kenyang.

[pintu diketuk]

Kamu kenapa?

Aku boleh tidur dengan Kakak?

Katanya sudah besar, tapi masih takut tidur sendiri.

Aku rindu Papa, Kak.

Ini kalungku, ya?

[Amara menghardik] Enak saja, ini kalungku.

Papa kebiasaan.

Kalau belikan kita, apa saja pasti sama.

Karena Papa tak mau membeda-bedakan kita.

- Kak. - Hmm.

Kakak tidak rindu Papa?

Kalau kamu diberi kesempatan bicara terakhir kalinya dengan Papa…

kamu mau bilang apa?

[musik lembut mengalun]

[Kasih terkekeh] Mau minta uang untuk beli BH.

[keduanya tertawa]

Itu tak pernah gagal, kita minta uang beli BH.

Lagi pula, Papa ada masalah apa dengan BH?

BH, BH…

Mungkin seperti…

Tiap dengar Papa bilang, "Sayang kamu," itu rasanya…

Basi sekali. Seolah tidak ada kata-kata lain. Tidak kreatif.

Kalau Kakak…

diberi satu kesempatan lagi untuk bicara dengan Papa.

Kakak akan bilang apa?

[dalam bahasa Inggris] "Aku sayang Papa."

[benturan logam kecil berulang]

[Amara mengerang kecil] Kasih?

[pintu dibuka]

[musik menyeramkan]

[Amara menghela napas berat]

[seruling ditiup panjang]

[suara pukulan benda tumpul dari jauh]

[gagang pintu dibuka]

[suara kunci membuka pintu]

[desahan mengerikan]

[Amara terengah-engah]

[benturan logam kecil berulang]

Kasih?

[pintu terbuka]

[napas memburu]

[suara pukulan benda tumpul dari jauh]

[pintu dibuka]

[Amara terengah-engah]

[Amara terkesiap ketakutan]

[napas memburu, ketakutan]

[dalam bahasa Indonesia] Sialan, Kasih!

Ada apa ini? [Amara terengah-engah]

[Kasih] Aku menemukan internet.

[Amara] Di mana?

[Kasih] Di ruang kerja Opa.

[musik menegangkan, seram]

[Kasih] Kak, kenapa, ya, Opa tidak mau berbagi internet?

Pelit sekali.

Apa mungkin kuotanya sedikit, ya?

[suara mengetik]

[Amara panik]

[keduanya panik] Ada Opa!

[terbentur, kesakitan]

Aduh.

Aman.

Aku terbentur, Kak.

- [Amara] Sakit, tidak? - Sakitlah!

[musik akustik lembut]

[suara burung bernyanyi]

[Amara terengah-engah]

[musik tegang]

Nak?

Jangan ke dalam.

Nanti sesat.

[gemeresik dedaunan]

[terkesiap]

- Ayo. - [mama] Ayo, cepat.

Sekolah kalian jauh di kota.

Masalahnya, banyak yang harus Mama poskan.

Ayo.

Takut?

Kasih tidak usah takut.

Anak kota kecil itu baik-baik.

Pasti banyak yang mau berteman dengan Kasih.

Kalau pakai ini, takkan takut lagi. Jadi keren.

Kakak?

- Aku sudah keren. - [Kasih terkekeh]

[dalam bahasa Inggris] Aku sayang Mama.

[dalam bahasa Indonesia] Nama saya Amara.

Nama panjang?

Amara saja, Pak.

Seperti Adel, ya?

[semua tertawa]

Saya tidak tahu Adel, Pak.

Ya, tidak apa-apa.

Kamu duduk saja, ya.

Minggu depan, kita akan ada ujian.

Bapak ingin, bagi perempuan, rambut panjang seperti ini

diikat.

Jadi, pada saat ujian, Bapak tidak ingin melihat ada yang rambutnya terurai.

Saya juga tidak kenal Adel.

Bohong.

Dia hafal semua lagu Adele.

Oh, maksudnya Adele.

Perkenalkan, Sri Mutya Ekawati Putri Dewi.

- Panggil saja Mutya. - Amara.

Kalau saya, terserah kamu panggil apa.

"Sayang" juga boleh.

- Pulang ke mana? - Beremanyan.

Dahulu, desa itu menyembah Beremanyan, penunggu sumur.

Maka dari itu, disebut Desa Beremanyan.

Kok, sesat?

Itu dahulu, sebelum agama masuk ke sini.

Kenapa mereka menyembah Beremanyan?

Beremanyan itu…

bisa mengabulkan permintaan.

- Permintaan apa? - Apa saja bisa, sepertinya.

Kalau minta mengobrol dengan orang yang sudah meninggal, bisa tidak?

Kalau menjadi kaya saja bisa…

masa mengobrol dengan arwah tidak bisa?

Saya juga ingin…

minta punya pacar.

Tapi sudah lama tidak ada yang ritual di situ.

Mungkin karena sudah tak ada yang tahu lagi caranya.

Karena kalau berkaitan dengan setan,

tidak ada yang gratisan.

Kepala desa terakhir harus bayar.

[musik tegang]

Desanya tidak punya keturunan.

Anaknya meninggal.

Dan istrinya…

jadi gila.

Berarti aku bisa meminta ke Beremanyan.

Karena aku tak ingin punya anak.

Aku

tidak ingin punya anak juga.

[klakson mobil]

[Kasih] Jadi, Ma…

kalau sudah menjadi partner,

bisa dapat sepuluh juta per bulan.

[mama] Ya.

Tapi kamu jangan lupa, sebentar lagi ujian nasional, ya?

Tapi, nanti Kasih tidak perlu masuk SMA, ya?

Fokus saja di YouTube.

[mama] Kamu tak sekolah, mau kerja apa nanti?

[Kasih] Bisa, Ma. Gampang. Nanti Kasih ambil Kejar Paket C.

Beres. Tetap bisa kuliah.

Kok, tidak dimakan, Amara?

- Tidak suka masakan desa? - Amara tak ingin makan, Opa.

Amara.

Habiskan makananmu.

Amara tidak mau, Ma.

[menarik napas dalam] Amara.

Kamu butuh makan.

Sudah beberapa hari ini Mama lihat, kamu tidak pernah makan.

Amara tidak mau, Ma.

Jadi, apa yang kamu mau, Amara?

Apa yang kamu mau, Amara?

Bagaimana Mama bisa beri yang kamu mau kalau kamu sendiri tidak tahu maunya apa?

- Amara! - Amara mau Papa yang hidup, bukan Mama.

[musik lembut mengalun]

[mama menghela napas kecewa]

Ma?

[Nyai berteriak, mengerang]

- [Nyai] Astaga! - [Amara] Maaf.

- [Nyai merintih, menangis] Anakku! - Maaf.

- Maaf, saya tidak sengaja. - Anakku.

Anakku.

[musik sedih]

[meraung] Oh, anakku.

[mama] Aku tak mengerti, Pa. Kenapa Amara sangat membenciku?

Aku memang salah pindah ke sini, tapi mau bagaimana lagi?

Sejak Amara lahir, aku tak pernah bekerja.

Aku memang tidak ada gunanya, Pa.

[Opa] Besok, kamu Papa antar ke teman Papa.

Dia bisa bantu kamu cari kerja.

[musik tegang]

Salam bagi para makhluk.

Sambutlah, siapa pun engkau, apa pun engkau.

Percaya tak percaya.

Salam hati, sisipkan keindahan.

Terbentang di semesta membentang.

Sapa dan rasakan sepenuhnya.

[Amara menghela napas]

Kabulkan dalam heningnya.

Aku ingin mengobrol dengan Papa untuk terakhir kali.

[Kasih] Sudah? Ayo.

[Kasih mengendus, merasa jijik]

- Sudah mandi, Kak? - Mandi, lah.

Bau sekali.

- Masa? - Ini.

- Apa-apaan kamu? - Ini.

[Kasih] Masih kurang.

[musik tegang pelan]

[Kasih] Ma, kenapa orang-orang melihat Kasih terbengong begitu?

Mama?

[suara bel sekolah]

[suara goresan pena]

[suara pintu terbuka]

Pa?

[mengerang, terkejut]

[bernapas berat]

[berteriak ketakutan]

Papa!

[berteriak ketakutan] Papa!

[suara tubuh jatuh berdebam]

[Amara menahan mual]

[Amara menahan mual, muntah]

[Amara muntah]

Ra, kenapa?

[Amara muntah]

Ra?

Kamu kenapa?

[Amara tergagap, ketakutan] Pergi.

- Ini. - Tidak. Pergi.

[musik tegang, seram]

[terisak]

Belum dijemput lagi?

Boleh tolong pesankan ojek?

Ponselku hilang.

Saya antar. Mau?

[musik tegang]

[Amara] Berhenti.

Tidak apa-apa, sampai di sini saja.

Kok, tidak sampai rumah?

Takut khilaf, ya?

[Rian terkekeh]

Ya sudah. Saya pamit, sudah hampir gelap.

Ya. Terima kasih sudah diantar sejauh ini. [terkekeh]

Tidak apa-apa.

Karena saya menaksir kamu.

- Mari. - Hati-hati.

Apa yang kamu mau?

[Nyai marah] Kamu seharusnya tidak panggil!

[Nyai tertawa]

[Opa bergumam]

Opa.

Mama tidak jemput Amara tadi.

Semoga Kasih tetap dijemput, ya.

Kalau Mama marah,

tidak mau jemput lagi, seharusnya bilang.

Kasih sudah dijemput. Kamu yang tak bisa ditelepon.

Ponsel Amara hilang.

Sudah, lebih baik kamu cepat lihat mamamu. Mamamu kecelakaan, kakinya patah.

- Mama? - [Kasih menyuruh diam]

[Amara berbisik] Mama?

Amara?

- Ya, Opa. - Kamu bisa menyetir, 'kan?

Bisa, tapi canggung. Sudah lama tidak.

Besok bawa mobil ke sekolah dan antar adikmu.

Apa tidak bisa Opa saja?

Opa ini sedang dapat inspirasi. Opa harus terus tulis novelnya.

Kasih?

Mama di mana?

[Kasih] Mungkin di toilet, Kak.

Mama?

[musik seram]

[Amara berteriak terkejut]

[Erangan mengerikan]

- [gelas terjatuh] - Kenapa, Kak?

[Amara terengah-engah]

[gemercik air]

[Amara menarik napas berat]

[kaca pecah]

[Amara menarik napas berat]

[menghela napas]

[suara geraman]

[Amara berteriak ketakutan]

- [suara langkah kaki menginjak air] - [Amara terengah-engah]

[pintu terbuka]

[Amara tercekat]

[erangan mengerikan]

[pintu tertutup]

[Amara tercekat]

[terengah-engah]

[pintu diketuk]

[Kasih] Kak! Kalau terlambat lagi, aku tak sempat mengerjakan PR di kelas.

Kakak sedang takut, ya?

Supaya Kakak keren lagi.

Memang Kakak tidak keren?

Sedang tidak.

Sudah?

Amara!

[Mutya kagum]

Pakai mobil bergaya lama?

Berlagak sekali. Mentang-mentang cantik.

Saya sudah beli ini.

Untuk antar kamu pulang.

Aku bawa mobil.

Sesekali bisa tidak bawa mobil?

Atau kita makan? Kamu makan, 'kan?

- Mut, jalan, yuk! Saya sudah beli ini. - Najis.

Nanti dahulu, ya.

[Teman Rian tertawa]

[Rian] Kenapa, ya?

Semua cewek cantik jahat kepada kita.

[Teman Rian] Karena mereka cantik dan bahagia.

Coba saja kalau sedang susah atau sedih,

baru mereka butuh kita.

Tahi.

[bel sekolah]

[suara bola memantul di lantai]

- Kalau berani, bicara langsung. - Apa-apaan ini?

- [Amara] Apa-apaan ini? - [Teman Mutya] Ayo ikut!

- Apa-apaan ini? - Sudah, cepat masuk!

[Amara terkesiap]

[Teman Mutya] Mut, papa kamu dibeginikan, kamu diam saja?

[Amara terisak]

Dari awal, saya sudah berbaik hati padamu.

Sekarang kenapa kamu menjelek-jelekkan saya?

- Bawa-bawa papa saya pula. - Bukan aku!

Anak di sini mana ada yang bilang "tajir"? Itu bahasa anak Jakarta.

Sudah, tidak usah bohong.

Rian sudah bilang semuanya pada saya.

Jadi, cuma karena Rian tidak mau sama kamu?

Iya? Rendah sekali kamu jadi cewek.

Cantik.

[terisak]

[musik tegang]

[langkah kaki menginjak air]

[Pak Guru] Hei.

Belnya sudah bunyi dari tadi.

Kamu ikut kelas berikutnya saja!

Tapi sekarang sedang ulangan, Pak.

Maka dari itu, jangan terlambat!

Ayo, sana.

[musik tegang]

[erangan mengerikan]

[langkah kaki menginjak air]

[menghela napas gelisah]

[menggigil ketakutan]

[suara pensil mengetuk meja]

[Mutya berteriak]

[Teman Mutya] Mutya!

[bel sekolah]

- [Pak Guru] Ada apa? - [teman Mutya 1] Mutya!

- [teman Mutya 1] Mutya! - [teman Mutya 2] Aduh, Mutya!

[teman Mutya 1] Aduh, Sar. Itu Mutya!

[Mutya mengerang kesakitan]

[Teman Mutya] Mutya!

- Rian! - Mut!

[menggumam ketakutan]

[pintu diketuk]

[Amara] Rian!

Rian!

Buka!

[pintu diketuk keras]

Kamu memfitnahku apa pada Mutya?

Rian! Buka!

Amara? Kamu mengunci saya?

Kamu yang mengunci sendiri. Pengecut!

Amara!

Buka!

Rian!

Buka!

[pintu diketuk keras]

Rian!

Buka!

[terkesiap]

Rian?

Rian?

[suara benda dibenturkan ke kaca]

Rian?

[Rian mengerang] Tolong.

[Amara menahan mual]

[Amara terengah-engah]

[siswa] Itu apa?

[menangis]

[Amara menangis] Mama.

[musik sendu mengalun]

Mama!

Ma, maafkan Amara.

Mama begini karena Amara.

Maafkan Amara, Ma.

Kamu tak perlu minta maaf.

Kalau boleh memilih…

Mama juga ingin Papa yang masih hidup.

Tapi, itu tak mungkin.

[Amara menangis]

Ritual Beremanyan.

[Opa] Kamu melakukannya?

[gemerincing piring]

Dan karena ritual itu, Mama jadi terluka.

Bagaimana caranya agar berhenti?

Opa.

Opa.

Bagaimana caranya agar berhenti?

Bertahun-tahun, Opa riset di sini.

Tidak ada yang bisa menghentikannya.

Sudah lama tidak ada yang melakukan ritual itu.

Opa bayar pun mereka tidak mau.

Opa ingin melakukannya sendiri…

tapi Opa takut.

- Sampai akhirnya kamu melakukan… -[Kasih] Kakak?

Kakak tak apa-apa, 'kan?

Tidak, aku tak apa-apa.

Maaf, ya, aku lupa jemput.

Lupa?

Ya, aku benar-benar lupa.

Kamu mau apa? Aku traktir, ya. Aku belikan apa saja.

Tidak usah, Kak.

[musik sendu mengalun]

Seharusnya aku tak berharap banyak padamu.

Maksudnya?

Kamu selalu minta diperhatikan oleh semua orang.

Kamu selalu merasa bahwa semua orang tak pernah memperhatikanmu.

Kasih.

Tapi apa pernah kamu memperhatikan orang lain?

- Kasih. - Memperhatikan Mama, memperhatikan Kasih.

- Memperhatikan Papa? - Opa tahu kamu marah…

…tapi kamu tak boleh begitu dengan kakakmu.

- Sekarang baru terasa, 'kan, Kak? - Kasih, kamu jangan marah sekarang!

Kenapa, Opa? Apa tak boleh sesekali Kasih yang marah?

[musik menegangkan]

[Amara berteriak] Kasih!

-[Opa] Amara! -Jangan marah seperti ini, Kasih.

[Opa] Amara!

Kak.

[mengerang kesakitan]

Aku tak apa-apa.

[Opa] Amara!

Aku tak apa-apa. Titip Ibu dan Kasih.

[Amara] Nek!

Nek!

Nenek, tolong saya! Bagaimana caranya agar ini berhenti?

Nek, tolong saya!

Nek!

[Amara berteriak]

[Amara terengah-engah]

Nyai.

Ya ampun, Nyai.

Tolong, bagaimana caranya menghentikan Beremanyan, Nyai?

- [musik gelisah] - Kamu seharusnya tak membangunkannya.

Kamu seharusnya tak membangunkannya!

Nyai!

Nyai, tolong.

[Nyai berteriak]

[Amara menggeram kesakitan]

Berpuluh-puluh tahun,

semuanya takut.

Tak ada lagi yang memanggil Beremanyan.

Kenapa?

Bukankah Beremanyan yang membuat desa ini jadi makmur?

Kami tidak bisa meminta makmur!

Kami…

hanya bisa…

minta yang lain celaka.

Beremanyan…

bukan mengabulkan permintaan.

Beremanyan…

melukai orang-orang yang kita tidak sukai.

Saat kami

minta berhenti,

kami dipaksa membayar.

Anak-anak kami…

dilemparkan oleh Beremanyan ke dalam sumur.

[Amara terisak]

Saya mohon.

Bagaimana caranya supaya berhenti, Nyai?

Tolong saya, Nyai. Beri tahu saya.

Beremanyan tidak bisa diakhiri…

kecuali…

kamu merelakan diri.

[Amara menangis]

[Nyai] Semuanya mau meminta.

- [Amara menangis] - Tak ada yang mau merelakan diri.

- Aku tak mau ada yang celaka lagi! - [Nyai] Jangan!

Jika kalung yang direlakan…

Beremanyan akan menghukum kamu!

Yang kamu sayangi yang dia incar.

[Amara berteriak panik]

Harus panggil yang lain.

[Amara terengah-engah]

[Opa menahan sakit]

- [Amara] Kasih! - [jendela diketuk]

Kasih!

[Amara berteriak kesakitan]

Kasih!

Kasih!

[terengah-engah] Kasih, jangan gila! Kamu diam di situ saja!

Kasih, jangan!

Kamu terluka, Kasih?

[Amara] Kamu tak apa-apa, 'kan?

- Sakit, Kak. - Sini, aku bantu.

[Amara mengerang menahan sakit]

- [Kasih berteriak kesakitan] - Maafkan aku.

- [Kasih] Maaf. - [Amara] Ayo.

Pelan-pelan.

[berdua] Opa!

Tunggu, Kakak ambil perban dahulu di atas, sebentar.

[napas memburu]

[desahan mengerikan]

Sini.

[mama berteriak keras]

[Opa] Kamu teruskan. Opa akan temui mamamu.

[Opa] Amara! Cepat!

Amara!

- Ayo, cepat. - [Amara] Opa.

- [Amara] Opa! - [Opa] Amara!

[Amara] Opa!

Bawa Mama ke…

[erangan mengerikan]

[Amara berteriak]

- [Amara] Opa! - [mama] Amara! Tolong!

- Mama? - [mama] Tolong!

[Kasih] Kak, ini ada senter.

[Amara panik] Mama. Ayo.

[mama] Amara!

Opa?

[mama menjerit]

Mama!

- Tunggu di sini. - Kak, kumohon.

Tunggu di sini. Nanti, pasti Kakak jemput.

Ma?

[mama] Amara?

Ada apa ini?

Ma?

[mama] Amara!

Amara?

Suara siapa itu?

[mama] Amara! Itu bukan Mama!

Mama?

Mama?

Ma?

Ma?

[berteriak terkejut]

[mama] Amara!

- [Amara] Kasih! - [mama] Amara!

[Amara] Ma?

[Amara dan Kasih berteriak ketakutan]

[Kasih] Ma!

[Kasih mengerang kesakitan]

[Amara] Kaki Kasih patah, Ma.

[mama] Kamu bisa, Kasih.

[berteriak terkejut]

[Amara] Kita ke jendela saja.

[Amara] Ma!

[Kasih berteriak]

- Kasih! - [Kasih berteriak]

- [Amara terengah-engah] Mama! - [mama] Amara!

Kasih?

Mama?

Mama!

Kasih!

Ma!

Waktu kami minta berhenti…

anak-anak kami

dilemparkan oleh Beremanyan ke dalam sumur.

[Amara panik]

Kasih! Mama!

[desahan mengerikan]

Aku tak mau ada yang celaka lagi!

[musik sedih]

- [warga 1] Angkat! Alhamdulillah. - [mama] Amara.

[warga 1] Tangannya. Ayo, angkat.

- [warga 1] Permisi. Buka. - [mama] Amara!

- [warga 2] Rebahkan dia. - [warga 1] Sakit.

[Amara tercekat, batuk]

- [Kasih] Kak! - [mama] Amara.

- [Amara] Pelan-pelan, Ma. - [mama] Ya.

[Amara] Kasih?

Kenapa? Sudah, biar Kakak saja. Kamu ke mobil saja.

[musik sendu mengalun]

[Opa] Matahari belum sepenuhnya terbit.

Amara melemparkan kalung pemberian Papa ke dalam sumur.

Berharap Beremanyan mengabulkan permintaannya.

Amara tidak sadar

kalau Beremanyan hanya bisa melukai orang yang membuatnya marah.

Tidak bisa mengabulkan permintaan.

Tapi marah dan sedih

seringkali datang bersamaan.

Satu per satu, mereka yang Amara sayang diserang.

Beremanyan hanya bisa diakhiri jika Amara merelakan dirinya sendiri.

Opa.

Semua sudah siap.

Kalian saja dahulu.

Mobil kita, 'kan, berbeda.

Opa selesaikan dahulu saja ini, ya.

Opa yakin mau pindah?

Tak perlu riset lagi?

Ya, tidak perlu.

Karena akhirnya novel Opa sudah selesai?

Kebetulan sekali, ya.

[musik tegang meninggi]

Berkat Amara?

Mama.

Kasih.

Semua terluka, hampir mati karena ini.

[Opa terisak]

[musik instrumen lembut]

[desahan mengerikan]

[musik menegangkan]

[pintu dibuka]

- [erangan mengerikan] - [Opa berteriak]

["Sesat" mengalun]

♪ Di kala senja masih bernyawa ♪

♪ Ku tak percaya gerakan mata ♪

♪ Kerap berujar separuh jiwa ♪

♪ Ku mendengar namun tak sadar ♪

♪ Terkadang lupa waktu berjalan ♪

♪ Lalu usia termakan zaman ♪

♪ Terus melangkah tanpa tujuan ♪

♪ Hilang arah, abaikan masa ♪

♪ Dan perlahan gelap pun datang ♪

♪ Ku telah lupa indahnya terang ♪

♪ Terbang melayang ♪

♪ Aku pun hilang ♪

♪ Sesat ♪

♪ Sesat ♪

♪ Di kala senja telah tak bernyawa ♪

♪ Ku mengabarkan, ku lelah jiwa ♪

♪ Akankah khayal kembali nyata ♪

♪ Rasa sesalku tak akan padam ♪

♪ Sesat ♪

♪ Sesat ♪

♪ Sesat ♪

♪ Ku telah lupa indahnya terang ♪

♪ Sesat ♪

♪ Angkara… kara… kara… ♪

[musik instrumental]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.