All language subtitles for Matt.and.Mou.2019.NF.WEB-DL

ak Akan
bem Bemba
bh Bihari
br Breton
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[angin berembus]

Namaku Matt. Hari ini, aku akan mati.

Namun, sebelumnya, kalian harus mengetahui ceritaku.

Ceritaku berhubungan dengan Mou. Sebaiknya kalian mengenal Mou dahulu.

[ayah Matt] Matt, kau mau membawa apa?

[ibu Matt] Aku saja.

Lihat itu. Yang di atas itu, kamarmu.

Punya kamar sendiri asyik, bukan?

Ayo.

[lebah berdengung]

Pergi!

[dengung berhenti]

Lebah itu menyukaimu karena kau manis.

Jadi, kau harus berteriak, "Pahit!", agar lebahnya tak menyukaimu lagi.

Terima kasih. Aku Mouretta.

Aku Matthew, tetangga barumu.

Itu akan menjadi kamar baruku.

Kamarmu tepat di depan kamarku. Berarti kita menjadi kakak-beradik.

Memang bisa jadi kakak-beradik karena itu?

Bisa.

[suara teriakan tak jelas]

[teriakan berlanjut]

Mereka bertengkar lagi?

Tidak usah didengarkan.

[Mou kecil] Bernyanyi.

Apa?

[Mou kecil] Bernyanyilah, agar suara mereka tak terdengar.

[bernyanyi]

[ibu Matt] Matt, sebentar lagi kau lulus.

Bagaimana persiapan beasiswa untuk ke Jerman?

Jadi berangkat atau tidak?

Kenapa?

Kau berat hati meninggalkan Mou?

Kenapa Mou?

Siapa tahu, kau berat hati meninggalkannya karena tidak tega, benar?

Tidak.

PROGRAM BEASISWA SEKOLAH DI JERMAN

Mou, kau tak ingin ikut?

Itu untuk orang pintar seperti Matt, hanya dia yang bisa. [tertawa]

- [Dicky] Mou! - Aduh! Aku pergi dahulu.

Dengar aku dahulu, Mou.

- Apa? - Mou!

Mou!

Mou.

Mou, dengar, aku tahu kau di sini. Keluar, dengarkan aku.

Jawab pertanyaanku.

Aku tahu kau di sini, Mou, tolong!

[ponsel berdering]

Mou, ponselmu berdering di sebelah.

Kau tak mau angkat?

Kenapa berisik sekali?

Apa? Mou?

Kau di sini? Kalau begitu, siapa yang di sebelah?

Maaf, salah orang. Aku mencari Mou.

Kau ini kenapa?

- Ini toilet wanita. Keluar! - [menyuruh diam]

[Dicky lewat telepon] Jawab pertanyaanku.

[Mou] Jawab apa? Apa lagi?

- Kenapa kau memutuskanku? - Memang kapan kita berpacaran?

- [Dicky] Kita dekat. - Aku dekat dengan semua.

- Aku paling spesial, bukan? - Tidak, semua spesial.

Kenapa seperti martabak, "Semua spesial"?

- Memang semua spesial. Sudahlah! - Dengar.

Aku malu kalau dilihat orang.

- Diam dahulu! - Aku malu!

Hanya ada kita berdua,

tak ada yang bisa dengar karena ini toilet wanita.

[Matt berdeham]

Mungkin kecuali dia.

Matt, aku sedang studi banding.

Toilet wanita ternyata bersih.

Tidak seperti toilet pria.

Apa yang kau lakukan di sini?

- Studi... - Selain itu.

Dia tak jawab alasannya memutuskanku.

Memang kalian berpacaran?

- Tidak! - Tidak!

[Dicky membuang napas]

[bersuara serak] Baiklah. Kau tak menganggapku pacarmu?

Baiklah, Dicky, sebenarnya...

- Kami berpacaran. - [bahasa Inggris] Tidak!

[bahasa Indonesia] Kalian kakak-beradik, tak mungkin. Paham?

Tidak. Kami baru saja berpacaran. Benar, bukan, Ayah?

- Ya, Bunda. - Ayah dan Bunda!

Kenapa harus memanggil begitu?

Kalian seperti tabloid!

Tidak mungkin. Jadi, kau anggap apa hubungan kita selama ini?

Jadi, kita hanya zona waktu?

- [bersamaan] Zona teman. - Itu maksudku.

[Dicky menghina]

[Mou tertawa]

Ayah Matt. Kenapa datangnya lama?

Kau beruntung, aku datang.

Lantas kenapa mengaku berpacaran? Kau kehabisan ide?

Kenapa kau harus berteman dekat dengan pria seperti itu?

Ronnie, Connie, Mony, Dicky.

Sebenarnya ini aneh, Matt, kau belum pernah berpacaran.

Lalu?

Lalu kenapa harus menasihatiku soal pria?

Karena aku mengenalmu dengan baik.

Apa hubungannya?

Aku tahu pria seperti apa yang cocok untukmu.

- Seperti apa? - Yang sangat berbeda denganmu.

Yang tidak manja, tidak malas, tidak sensitif.

Yang tahu keinginannya dan tidak selalu peduli diri sendiri.

Sepertimu.

Kenapa sepertiku?

Yang tidak manja, tidak egois, dan tahu keinginannya. Itu kau.

Namun, bukan aku.

Memang ada pria seperti itu selain kau?

Ada.

Jika tak ada, aku akan melajang selamanya.

[tertawa pelan] Cari dahulu.

- Di mana? - Benar, bukan? Kau manja.

- Carikan untukku. - Benar, bukan? Kau malas.

- Sombong. - Benar, bukan? Kau sensitif.

Karena mencari pacar saja susah sekali.

Memang.

Pantas kau tidak punya pacar sampai sekarang.

Bagaimana bisa jika selalu mengurusmu?

Masa? Memang kalau ada gadis yang mau denganmu, kau mau?

Kenapa tidak?

[membuang napas lega]

- Syukurlah. Kukira... - Kau kira apa?

Aku kira kau homo.

- [batuk] - [Mou tertawa]

- Kau sedang apa? - Jangan bergerak.

Aku tidak mau ini didokumentasikan olehmu. Tidak!

- Jangan bergerak. - Mou, jangan.

- Mou, hapus. - Tidak!

[Mou] Maka dari itu, jika ada wanita, liriklah dia.

[tidak senang] Ada papaku.

Jika kau pergi, tidak usah kembali lagi!

[pintu mobil ditutup]

[mesin mobil menyala]

[bahasa Inggris] Dah, Ayah. Aku sangat menyayangimu!

[bahasa Indonesia] Mou, kau mau ke rumahku saja?

Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.

[Matt, bahasa Inggris] Hai, Mama.

Hai, Matt.

[mencium]

[bahasa Indonesia] Bau. Tunggu!

Kapan Mou bisa ke sini?

Mama butuh bantuannya untuk memotret semua buket. Mama ingin mengunggahnya.

Siapkan saja makanan, dia akan datang.

Kalau itu, beres. Mama akan siapkan makanan terenak.

- Namun, kau beri tahu dia. - Ya.

Ada paket dari Papa.

[bahasa Inggris] Akhirnya!

[bahasa Indonesia] Baik, Ma.

- Aku naik dahulu. - [bahasa Inggris] Baik.

[bahasa Indonesia] Mandi, ya!

[ayah Matt] "Kepada Matt, Papa mengirimkan...

BUKU PANDUAN UNIVERSITAS JERMAN - 2018

...semua buku yang kau butuhkan.

BELAJAR BISNIS - JERMAN 17-25 MEI 2018

Semoga tes beasiswamu berjalan lancar.

Sebuah buku untuk mamamu sebagai tanda rindu papa kepadanya.

Dan sesuatu yang kau pesan, khusus untuk Mou.

Salam Cinta, Papa."

[lonceng berbunyi]

- [bahasa Inggris] Hei, Mou. - Ya, Matt?

[bahasa Indonesia] Ada paket untukmu dari Jerman.

Mana?

[bahasa Inggris] Berhenti.

Dapat.

[terkesiap]

KADO ULANG TAHUN YANG TERTUNDA SEMOGA MIMPIMU TERWUJUD - CINTA, MATT

[Mou menjerit]

Terima kasih, Matt!

[tertawa]

[bahasa Indonesia] Aku mendapat Humans!

[berteriak]

[Mou tertawa, bahasa Inggris] Ya!

Kesukaanku! [berteriak]

[ibu Mou] Mou.

[tempat tidur berderak]

[lonceng berbunyi]

[bahasa Indonesia] Hei, Mou. Maaf, aku baru membaca pesanmu.

Matt, lihatlah akun Instagramku.

Foto-fotoku disukai dan dikomentari Reza Winata. Dia menyukai foto-fotoku!

- Mou, kau baik-baik saja? - Katanya fotoku keren

dan mataku tajam.

Mou, kau ingin aku ke sana?

Kau sudah melihat unggahan terakhirku? Yang sangat disukai Reza.

Mou!

Kau ingin menginap di sini?

Atau ingin mengobrol? Aku bisa ke sana sekarang. Ya?

Matt.

Reza mengajakku untuk bertemu besok. Boleh atau tidak?

- Mou! - Apa?

Sudahlah jika tak mau mendengarkan. Dah!

Mou!

[membunyikan klakson]

[mengetuk pintu]

- Pagi, Tante. - Hai, Matt.

- Mou sudah siap? - Apa?

Bukankah dia pergi denganmu?

Apa?

Tidak.

[guru] Kita akan menghitung sudut dengan memakai rumus sin dan cos.

Ini ada beberapa soal.

Silakan kerjakan soal ini dengan memakai

- rumus selisih sudut. - [ponsel bergetar]

Ya?

Silakan.

[penghapus dilempar]

Mengerti, Semuanya? Yang lain?

Silakan dikerjakan soal ini. Ada yang bisa?

Maju ke depan. Silakan.

Masa di kelas ini tak ada yang bisa mengerjakannya?

Ayo.

Siapa yang bisa?

- Pak. - Ya?

Saya ingin pergi ke toilet.

[para murid tertawa]

Hei, Mamat. Kau jangan macam-macam denganku.

Jika ingin pergi ke toilet, kerjakan dahulu soal ini.

[bahasa Inggris] Baik.

[guru, bahasa Indonesia] Penghapusnya dibawa.

[tertawa]

Benar.

Boleh pergi?

[menangis]

[Matt] Mou.

Dari awal...

kita sudah tahu bahwa orang tuamu pasti akan bercerai.

Jadi, kau jangan sedih.

[tertawa]

Namun, jangan tertawa juga.

[tertawa]

Jangan menjadi gila karena mereka.

[terkejut]

Matt?

Sejak kapan kau di sini?

Matt, musikalisasi puisinya Reza. Bagus sekali.

Ada sedihnya, ada senangnya. Namun, ada bagian lucunya juga.

Keren. Dengarkan.

Kau memintaku kemari dan membolos sekolah untuk ini?

Bukan hanya untuk ini.

Aku ingin mengenalkanmu kepada Reza.

Reza?

Benar, bukan? Kau tidak mendengarkanku.

Semalam, aku memberitahumu Reza ingin bertemu aku hari ini.

Kau membolos untuk bertemu dia?

Kau...

Aku mengkhawatirkanmu.

[menyuruh diam] Dengarkan dahulu. Reza menyukaiku.

Semuanya dia ungkapkan di sini. Maka dari itu, dengarkan!

- Tidak mau! - Jangan marah. Aku juga belum jawab.

Aku memberitahunya, jika mau mendekatiku, harus dapat persetujuanmu.

Benar, bukan?

[bahasa Inggris] Persetujuan?

[bahasa Indonesia] Aku membolos sekolah hanya untuk menyetujui pacarmu?

Ya.

[Matt kesal]

Kau hendak ke mana?

Sekarang masih jam pelajaran.

Ini. Mama buat untukmu.

Seperti sedang datang bulan saja!

Ini sudah cukup? Atau harus ditambah lagi?

- [Mou] Kuberi pita di sini agar... - [Matt] Aku pulang, Ma.

Kenapa kalian berdua? Bertengkar lagi?

Biasa, Tante, dia marah.

Aku dekat dengan pria, tetapi tidak memberi tahu dia.

Bohong!

Dia membolos karena seorang pria.

- Benar, Mou? - Tidak. Aku bersekolah.

Pada jam ketiga. [tertawa]

Dasar bandel.

[Mou] Aku lupa.

Ada titipan untuk Tante.

Tanda tangani, ya? Besok, akan kukembalikan.

[bahasa Inggris] Baik.

[bahasa Indonesia] Itu aplikasi beasiswa ke Jerman.

[bahasa Inggris] Baik.

[bahasa Indonesia] Jangan beri tahu Matt.

Karena kata Bu Winda, Matt tak semangat ke Jerman.

Mungkin karena dia berat hati untuk meninggalkanmu.

Benar?

Ini. Kembalikan kepada Bu Winda. Sudah kutandatangani.

[Mou] Baik.

- Ini dia. - Lucu!

- Matt. - Apa?

- Mama sedih. - Kenapa?

- Kau tahu kenapa? - Kenapa?

Kemarin, mama Mou memberi tahu

bahwa mereka akan bercerai.

Ya, aku sudah tahu.

Tunggu dahulu, Mama belum selesai.

Mama merasa tidak enak mendengarnya.

Ternyata mama Mou adalah istri kedua, Matt.

[bahasa Inggris] Baiklah.

[membuang napas, bahasa Indonesia] Mama sedih mendengarnya,

karena selama ini, dia dibohongi.

Jadi, jika papanya ke luar kota, katanya untuk bekerja...

padahal dia pergi ke rumah istri pertama.

Sudah. Aku tidak mau membicarakannya.

[bahasa Inggris] Baiklah.

[ponsel bergetar]

- Halo? - [Mou menelepon] Halo, Matt.

[bahasa Indonesia] Aduh! Nona, jalannya yang wajar saja,

mentang-mentang tinggi! Dia tadi menyenggolku.

Matt, aku sedang di tempat Reza tampil.

- Lalu? - Aku ingin kau kemari untuk bertemu dia.

Mou, aku sedang makan. Sebentar lagi, aku akan tidur.

Matt, kumohon.

Aku berjanji, jika kau tak menyukainya, aku tak akan menemuinya lagi.

[garpu diketuk]

Baiklah.

Namun, jika tidak suka, jujur saja, ya?

Suka atau tidak, jujur saja. Jangan berbohong, paham?

[bahasa Inggris] Ya, baiklah.

Ma, aku harus pergi.

- Apa? - Ya.

- [bahasa Indonesia] Sekarang? - Ya.

- Harus menjemput Mou. - Menjemput Mou?

Ya.

- Makananmu? - Nanti saja.

- Bawa ini. - [bahasa Inggris] Baik.

- Terima kasih makanannya, Ma. - Hei.

[mencium]

Dah.

Dah.

[percakapan tidak jelas]

[bahasa Indonesia] Matt, dia akan segera tampil.

- Mou. - Apa?

- Bukannya kau ingin berbicara denganku? - Soal?

Soal orang tuamu.

Kata Reza, apa pun yang terjadi, mereka masih orang tuaku.

Entah istri kedua, ketiga, atau keempat...

[bahasa Inggris] Masa bodoh. Aku harus menjalani hidupku, bukan?

[bahasa Indonesia] Reza berkata begitu?

[kesal] Sudahlah, lagi pula aku juga sudah tak mempermasalahkannya.

Biasa saja.

[tertawa] Itu dia!

- Selamat malam, Semuanya. - [penonton] Malam.

Dia tampan, bukan? Akui saja.

Ini sebuah lagu persembahan dari kami.

[musik riang dimainkan]

[tertawa] Aku akan memotretnya.

โ™ช Rasa yang indah โ™ช

โ™ช Dan bahagia โ™ช

โ™ช Mewarnai dunia โ™ช

โ™ช Dengan rasa cinta โ™ช

โ™ช Layaknya indah pelangi โ™ช

โ™ช Bukan hanya sekadar mimpi โ™ช

โ™ช Kuingin dunia penuh cinta โ™ช

โ™ช Cinta itu tertawa Cinta itu bahagia โ™ช

โ™ช Cinta itu anugerah Yang Kuasa โ™ช

โ™ช Mengisi relung jiwa โ™ช

[Mou] Bagaimana Reza? Baik, bukan?

- Ya, dia baik. - Ya!

- Namun, itu masih aneh. - Aneh kenapa?

Masa benar, mendadak ada orang sesempurna itu untukmu?

Maksudmu apa? Tidak ada pria yang menyukaiku?

Bukan begitu maksudku.

Aneh saja.

Kau yakin dia tak punya niat yang aneh?

โ™ช Kuingin dunia penuh cinta โ™ช

Menurutku kita harus mengujinya.

[merengek]

Menguji bagaimana?

[terus bernyanyi]

[Mou terus merengek]

[menangis]

Kau ini kenapa?

Kau tahu.

Tentu. Kau menyuruhku kemari, untuk menilainya, bukan?

Berarti aku harus mengujinya, untuk mengetahui apakah dia cocok untukmu.

Agar tidak seperti Dicky, menangis tak jelas sampai keluar ingusnya.

[musik berhenti]

[bersorak dan bertepuk tangan]

[Reza] Kita rehat sebentar, ya?

Matt, perkenalkan ini Reza. Reza, ini Matt.

[Reza] Jadi, ini Matt.

[Mou tertawa]

Reza.

[membuang napas]

Lagumu bagus.

[bahasa Inggris] Terima kasih.

[bahasa Indonesia] Aku akan pesan minum. Yang biasa?

Ya. Minumanku seperti biasa.

[Mou tertawa] Kau ingin minum apa?

- [bahasa Inggris] Jus jeruk. - Jus jeruk. Baik.

- [bahasa Indonesia] Silakan duduk. - [Reza] Baik.

[Matt membuang napas, tertawa]

Dia cantik, bukan?

Lucu?

Sampai menyuruhnya membolos?

Tidak.

Aku tidak menyuruhnya membolos.

Namun, dia sedang sedih.

Tidak mungkin kubiarkan dia masuk sekolah seperti itu.

Karena orang tuanya?

Kau tahu itu.

Kau harus tahu, aku tak menyuruhnya membolos.

Aku hanya menemaninya saat kondisinya seperti itu.

Begini, Matt. Dia sering bercerita tentangmu.

Aku tahu kalian dekat.

Namun, satu hal harus kau tahu...

Aku tak bermaksud jahat dengannya.

Aku menyukainya.

[bahasa Inggris] Tahan.

[membuang napas, bahasa Indonesia] Kau baru kenal, bukan?

Jangan memberinya harapan tinggi. Aku tidak ingin dia kecewa.

[Reza] Penampilannya lumayan, bukan?

[Mou] Lumayan? Bagus sekali!

- [Reza] Serius? - Ya. Fotomu banyak sekali di sini.

- Nanti kukirimkan. - Kirimkan, ya?

[Mou] Baik.

Aku kembali dahulu. Silakan dilanjutkan, aku harus membereskan peralatan.

[Mou, bahasa Inggris] Baik.

[keduanya, bahasa Indonesia] Dah.

- Dah. Hati-hati, Matt. - Ya.

Hei!

- [Matt] Hei, apa? - Reza, baik tidak?

Jadi, ini persyaratan menjadi pacarmu?

[tertawa pelan]

Ya.

Bisa dibacakan dahulu persyaratannya? Aku lupa.

[heran]

Kubaca lagi?

"Kepada Reza...

Jika ingin menjadi pacarku,

temani aku membaca novel tebal sampai selesai

berjudul Roro Mendut karya Romo Mangunwijaya."

Apa?

"Ajari aku matematika sampai nilaiku sembilan."

Apa?

"Terakhir, ajari aku naik motor."

Apa?

[kesal]

Persyaratanmu itu aneh!

- Apa yang aneh? - Persyaratan itu menyiksaku.

Kau tahu aku tak suka baca, bodoh matematika

dan aku tidak tertarik untuk naik motor.

Justru itu tantangannya untuk Reza.

Jika dia bisa melakukan semua itu dan tak merasa tersiksa,

berarti dia layak menjadi pacarmu.

Aku naik sepeda saja tidak bisa, apalagi naik motor?

- Belajar dahulu. - Tidak mau!

Ada kau. Kenapa aku harus belajar naik motor?

Aku ingin membonceng selamanya!

[membuang napas, bahasa Inggris] Baik.

[bahasa Indonesia] Mungkin motor terlalu berat untukmu.

Bagaimana jika kita mulai dengan belajar naik sepeda?

Tiga roda, dua roda, lalu kita tambahkan mesinnya.

[bahasa Inggris] Paham, Mou?

[Reza, bahasa Indonesia] Pakai rumusnya. Ini 3K, cari nilai K.

[Mou] Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.

Tangannya tidak cukup. Pinjam tanganmu.

10, 11, 12, 13, 14, 15, 16...

21, 22, 23, 24, 25...

- [membuang napas] Ini dia. - Apa?

[tertawa dengan gugup]

- Tebal, ya? - Berat, bukan?

Bisa dipakai untuk olahraga.

[keduanya tertawa]

[Reza] Kau bisa. Ya.

[Reza] Terus.

- [Mou] Bagaimana ini? - Ini seimbang. Terus.

Jangan dilepas! Tak bisa berhenti!

Mou!

- Reza, remnya yang mana? [berteriak] - Remnya di depan! Tarik saja!

[sepeda tertabrak]

- Mou! - [Mou menangis]

Astaga! Ayo, bangun.

- Kenapa kau tak menarik remnya? - Remnya yang mana?

[Reza] Ini! Ayo, bangun.

[suara gitar]

[tertawa] Masuklah.

Ada apa?

[Mou] Lihatlah.

Bagus ada perkembangan.

Jika begini, kita tak akan mendapat restu sampai tua.

Restu dari siapa?

[bergumam]

Matt.

Matt?

Matt yang membuat persyaratannya, bukan aku.

Matt belum pernah berpacaran, bukan?

Bagaimana jika...

kita carikan pacar untuknya?

Jika dia punya pacar, dia akan lebih sibuk dengan pacarnya.

Dengan begitu, dia tak akan sering mengganggu kita lagi.

Bolamu?

Terima kasih.

[tertawa]

- Bukan. - Aku hanya bercanda.

Jangan marah.

- Matthew. - Retha, sepupu Reza.

Reza? Untuk apa kau kemari?

Reza dan Mou menyuruhku menjemputmu.

Mereka ingin mengajak makan nanti sore.

Karena Mou meneleponmu, tetapi tidak kau angkat.

Aku bermain bola basket.

Biasanya sesudah bermain bola basket, kau lapar atau tidak?

- Biasanya, ya. - Kalau begitu, ayo kita makan.

- Semuanya? - Ya. Ajak saja semua temanmu.

Namun, kau yang bayar.

- Tidak mau. - Kalau begitu, berempat saja. Keberatan?

Berempat?

[Retha] Ya.

[bahasa Inggris] Baiklah.

[bahasa Indonesia] Ya, sudah.

[bahasa Inggris] Akan kutunggu, di sini.

Baik.

[Matt mendribel bola]

- [Matt, bahasa Indonesia] Terima kasih. - [pria] Ya.

[ponsel berdering]

Mou tidak datang.

Katanya dia terlalu lelah belajar naik sepeda.

[Retha kesal]

Kau tak keberatan kalau kita hanya berdua saja?

Tidak.

Buku apa itu?

Roro Mendut.

Kenapa?

[terkejut]

Bukan begitu. Hanya kebetulan.

Kebetulan apa?

Tidak apa-apa. Lupakan saja.

Kau pernah membacanya?

Buku ini adalah sastra roman klasik yang terbaik.

Ya. Cerita cinta Roro Mendut dan Pronocitro itu...

- indah. - Indah.

[Mou] Bagaimana Retha?

Tidak ada apa-apa. [mengecapkan lidah]

Menurutku dia baik.

Dia langsung cocok denganmu.

Memangnya aku ini adalah kau?

[Mou mengecapkan lidah]

Yang baru satu hari, langsung bisa jatuh cinta. Tidak, bukan?

[bersungut]

[ponsel bergetar dan berbunyi]

- Retha. - Berikan!

- Nyalakan pengeras suaranya. - Tidak! Mou!

- Nyalakan. - [Matt menyuruh diam]

- [kesal] Nyalakan pengeras suaranya. - Halo, Retha. Ya?

- [tertawa pelan] Tidak. - [berbisik] Nyalakan.

Aku tidak sakit.

- Nyalakan pengeras suaranya. - Lalu?

Mou!

[bahasa Inggris] Hai.

[bahasa Indonesia] Ya, aku tahu. Perpustakaan. Ya.

Ya.

[bahasa Inggris] Ya, baik.

[bahasa Indonesia] Retha, sebentar.

Mou.

Maaf. Tidak ada masalah.

Itu tadi hanya Mou.

[ayah Mou] Aku tak mau menceraikanmu. Aku sanggup menghidupi kalian.

Selama ini, aku tak pernah lepas tanggung jawab denganmu.

[ibu Mou] Aku bodoh!

Aku selalu percaya jika kau pergi keluar kota selama ini!

Tanggung jawab apa jika kau membohongiku dan Mou?

[ayah Mou] Apa kau memikirkan Mou?

Bagaimana perasaannya jika kita bercerai?

[ibu Mou] Menurutmu aku tak memikirkan Mou?

Kasihan. Selama ini kau membohonginya.

Kau ini ayahnya. Cukup!

[ayah Mou] Aku tak pernah dianggap sebagai ayah. Tolong, pahamilah.

[ibu Mou] Aku harus memahamimu, yang berbohong kepadaku?

Aku hanya berdoa semoga Mou tak pernah dibohongi laki-laki!

- [wanita, bahasa Inggris] Hai, Mou. - [Mou] Hai.

[Matt, bahasa Indonesia] Mou. Sarapan.

- Tidak mau. - [bahasa Inggris] Roti lapis tuna.

[bahasa Indonesia] Tidak mau.

[mengecapkan lidah] Kenapa? Suasana hatimu buruk?

- Semua ini karenamu. Kau jahat. - "Jahat"?

Ya! Reza sudah lakukan yang kau suruh untuk membuktikan dia cocok untukku.

- Namun, masih saja tak kau restui. - Mana buktinya?

Ini buktinya!

Sampai kapan pun, aku tak akan bisa dapat sembilan!

Aku juga tak akan selesai membaca buku Roro Mendut yang tebal itu!

Aku juga tak akan bisa naik sepeda apalagi motor!

Namun, itu bukan salah Reza, memang aku yang bodoh!

[Bu Winda] Matthew?

Ya, Bu?

Kau sudah siap, bukan?

Siap untuk apa?

Hari ini tes tertulis untuk beasiswamu pergi ke Jerman.

Bukankah tidak jadi?

Tidak jadi bagaimana? Ibumu sudah menandatangani aplikasinya.

[Matt] Ibu saya?

- [Bu Winda] Sekarang masuk kelas dahulu. - [Matt] Ya, Bu.

- [Mou] Semua ini karenamu. Kau jahat. - [Matt] "Jahat"?

[Mou] Ya! Reza sudah lakukan yang kau suruh

untuk membuktikan dia cocok untukku.

- Namun, masih saja tak kau restui. - Mana buktinya?

[Mou] Ini buktinya!

Matthew?

Kerjakan soalnya. Waktunya tinggal 30 menit lagi.

[ibu Matt] Kenapa? Kau berat hati meninggalkan Mou?

[Matt] Maaf selama ini, aku sudah mengujimu.

Kenapa kau berubah pikiran? Padahal aku belum lulus ujianmu.

Mou benar. Aku keterlaluan dan itu tidak adil untuknya.

Namun, kau harus berjanji...

bahwa kau bisa menjaganya.

Matt, Mou sudah besar. Dia bisa menjaga diri sendiri.

Kau tak mengenalnya sepertiku.

Dia terlihat tangguh, tetapi tidak begitu.

- Ya, aku tahu. - Kau juga tahu

dia pernah kabur dari rumah dua kali?

Pergi begitu saja, sampai kami harus melapor polisi.

Begini.

Mou sering sedih karena masalah keluarganya.

Dia tak pernah bisa mengungkapkan isi hatinya kepada mereka.

Itu terlalu susah untuknya.

Karena itu, dia butuh seseorang yang bisa membangkitkan kepercayaan dirinya.

Kau bisa menjadi orang itu?

Reza, kau mau ke mana lagi?

Billy menunggumu dari tadi.

Tunggu sebentar.

[pria] Bulan ini agak turun, Bos.

Bagaimana bisa?

[pria] Karena pengunjungnya sedikit.

Kau masih ingin bekerja atau tidak?

- [pria] Ya. - Billy, ini dia orangnya.

Hei, Rez.

[pria] Permisi, Bos.

[Billy] Bagaimana, Rez? Duduklah.

[mengecapkan lidah] Sudah tak usah ragu, duduk saja. Santai.

Mou bagaimana? Kau sudah memacarinya?

[meletakkan ponsel di atas meja]

[Billy tertawa]

Bagus.

Berarti, tinggal langkah selanjutnya.

Rez...

Kau masih ingin berkuliah musik, bukan?

Bagus.

- Aku pergi, Bill. - Yakin?

Aku pergi, Gra.

[pria tertawa]

[Reza] Aku suka fotomu yang ini.

- [Mou tertawa] Sungguh? - Ya. Pencahayaannya pas sekali.

- Yang ini juga. - [Mou dan Reza tertawa]

- Teleponku ditolak. - Serius?

Coba kau yang menelepon. Siapa tahu diangkat.

Biar kucoba.

Ponselnya mati.

[mengecapkan lidah]

Kenapa Matt? Apa dia sedang tak mau diganggu?

Sebenarnya dia serius berpacaran atau tidak?

Kami belum berpacaran.

Apa?

Jadi, kalian belum berpacaran?

[pria 1] Pacarku sudah banyak.

[pria 2] Kau berlagak sekali.

Mou? Tumben. Biasanya, kakak yang menjemput adik.

Kenapa sekarang kebalikannya?

[tertawa]

Kami pergi dahulu.

- Baik. - [pria 3] Dah, Matt.

Kenapa telepon Retha tidak diangkat? Teleponku juga.

Aku sedang bermain bola basket. Memang bisa bergosip sambil bermain?

Aku hanya bertanya,

- tidak usah miris. - [para pria berteriak]

Mungkin maksudmu "sinis"? Miris artinya berbeda.

Ya, aku tahu, kau lebih pintar dariku. Semua orang juga tahu.

- Kenapa marah? - Karena kau tidak jelas.

Tidak jelas apa?

Suka dengan Retha atau tidak?

Sepertinya dia menyukaimu, tetapi kau mengabaikannya.

Ya, sudah. Lalu apa masalahnya?

Siapa yang kau suka?

Retha? Atau yang lain?

Kenapa penting sekali bagimu?

Karena kau penting bagiku.

Bukankah sebentar lagi kau akan pergi ke Jerman?

Kata siapa?

Sudah tak usah dipikirkan.

[menghirup udara]

[membuang napas] Tidak bisa untuk tidak dipikirkan.

Jika kau pergi, aku dengan siapa?

Reza.

[menangis]

Kenapa menangis?

Kau menangis?

Kau naik apa ke sini?

Ayo pulang.

Aku antar.

Mau? Ayo.

[bernapas dengan berat]

Baksonya enak sekali.

Pantas saja, kau dan Mou sering ke sini.

[tertawa] Sering sekali, sejak penjualnya masih memakai gerobak.

Pangkalannya saja di pinggir jalan.

Jadi, jika kau kemari, hanya berdua dengan Mou...

Seperti kita sekarang?

[bahasa Inggris] Ya. [tertawa] Ya.

[bahasa Indonesia] Mou juga selalu duduk di sini, seperti ini?

Ya. Persis seperti itu.

[Matt berdeham]

Kau ingin mencoba punyaku?

Maksudku, baksoku.

Maksudku, makanan yang ada di dalam mangkukku.

- Kau ingin coba? - [keduanya tertawa]

Baiklah.

[bahasa Inggris] Baik.

[Matt berdeham]

[bahasa Indonesia] Enak.

[suara petikan gitar]

[Mou] Reza!

- Kenapa kau kemari? - Memotretmu.

Duduk dahulu.

Kenapa tidak memberitahuku bahwa kau akan kemari?

Apa kau sibuk?

- Tidak, tetapi... Aku bisa bersiap... - Spontan itu bagus. Seperti ini.

[kamera memotret]

[Billy] Rez.

[bahasa Inggris, perlahan] Sial.

- Billy. - [Billy, bahasa Indonesia] Ada tamu?

- Ini Billy, Mou. - [bahasa Inggris] Halo.

- Halo. - [bahasa Indonesia] Jadi, ini Mou. Billy.

- Reza sering menceritakanmu. - Cerita apa?

Katanya semua lagu-lagunya terinspirasi darimu.

Sungguh?

Ya. [tertawa dengan gugup]

[bahasa Inggris] Mari rayakan! Sebentar.

- Rayakan? - [bahasa Indonesia] Merayakan apa, Bill?

[Billy] Gra!

- [Mou] Merayakan apa? - Entahlah. Dia aneh.

Gra! Fin!

Yang waktu itu, siapkan sekarang. Orangnya sudah datang.

- Baik. - Baik, Bill.

[bahasa Inggris] Baiklah.

[Reza, bahasa Indonesia] Merayakan apa?

Kariermu, masa depanmu. Persahabatan, atau siapa tahu bisa lebih.

[Mou tertawa]

- Kau tadi dari mana? - Dari rumah.

- Aku ingin memotret Reza. - Begitu.

Dia datang mendadak.

Ini dia.

Apa ini? Menu spesial?

[bahasa Inggris] Sangat spesial.

Bersulang untuk masa depan kita.

[bersulang dengan gelas]

- [bahasa Indonesia] Enak? - [mengecap bibir]

- Enak. - Habiskan saja.

Tenang, tidak mengandung alkohol.

[mengecap bibir]

Rez, pakai ini.

Tidak ada yang perlu tahu bahwa kau pelakunya.

Ambillah.

[bahasa Inggris] Bergembiralah!

[kamera merekam]

Sudah berapa lama dia berada di dalam?

Sepertinya 30 menit.

[Billy] Rez!

Bagaimana? Sudah?

- Itunya di mana? - Masih di dalam.

- Aku akan mengantarnya pulang dahulu. - Baik.

Hei!

Setelah videonya viral...

putuskan dia.

Fin.

Jangan menonton sendiri.

[Billy tertawa]

Cepat naik.

Ya, begitu.

[suara motor menyala]

Apa yang dia lakukan?

Kejar dia.

[ban berdecit]

[motor bertabrakan]

- Mundur, Bill! - Mundur, Bill!

[bunyi sirene dari kejauhan]

- Nona. - Ada yang bisa dibantu?

Tadi ada kecelakaan di daerah Kebayoran. Di mana pasiennya?

Mayatnya sudah dipindahkan ke kamar jenazah.

- Mayat? - Ya.

[Matt terkesiap]

[gemetar]

[menangis]

[Retha menangis] Matt, Reza sudah meninggal.

[bernapas lega]

Di mana Reza?

Dia baik-baik saja, bukan?

Ya.

Tadi dia kemari.

Dia membawa bunga itu.

Katanya dia harus rekaman.

- Jadi, dia harus langsung pergi. - [pintu dibuka]

[pintu ditutup]

[ibu Mou] Matt.

Ya?

Ya?

[perlahan] Tolong, pergilah ke rumah papa Mou.

Beri tahu kondisinya Mou.

[bahasa Inggris] Baik.

- [bahasa Indonesia] Selamat sore. - Ya, selamat sore.

- Pak Wisnu ada? - Pak Wisnu? Ada, silakan masuk.

Terima kasih.

Silakan duduk dahulu. Biar saya panggilkan Bapak.

[Billy] Mama itu kenapa?

- Billy, kau mau ke mana lagi? - [Billy] Itu tugasnya Papa!

[pintu dibuka]

- Paman. - Matthew.

Ada apa, Matt? Apa yang terjadi?

Jadi, Mou belum tahu soal Reza?

Belum.

Waktunya belum tepat.

Benar.

Mou pasti sangat terpukul jika tahu.

Ya.

[Retha membuang napas]

Lebih baik kau yang membawa ponsel Reza.

Untuk berjaga-jaga jika Mou menelepon.

[Mou tertawa]

[Matt] Ini makan lebih banyak.

- Sebentar, masih ada di mulut. - Tidak apa-apa.

- Belum habis. [mengunyah] - Hanya apel. Tunggu.

- Ini. - [Mou kesal]

[Mou dan Matt tertawa]

[Matt] Kasihan.

Kasihan.

- [Mou] Salah! - Maaf.

[Mou dan Matt tertawa lagi]

[membuang napas]

[ponsel berbunyi]

[ponsel berbunyi]

[ponsel berbunyi]

[Matt] Hei!

[Billy marah]

- [Matt] Dasar berengsek! - [marah]

Aku tahu niat jahatmu!

Kau memanfaatkan Reza untuk mengganggu Mou.

[marah]

Apa salah Mou kepadamu?

Mou dan ibunya sudah menghancurkan keluargaku!

Dia tidak tahu apa-apa!

[mengerang kesakitan]

[Billy] Dia memang tidak tahu apa-apa.

Dia juga tidak tahu bagaimana rasanya harus menyelamatkan ibunya sendiri...

berkali-kali, berusaha untuk bunuh diri. Apakah dia tahu?

Jauhi Mou!

Urusan kita belum selesai!

Aku sangat merindukanmu.

[mengetuk pintu]

Masuk, Ma.

- Ret! - [bahasa Inggris] Hei, Mou.

Hai.

- [bahasa Indonesia] Kau sedang apa? - Sedang melihat hasil foto.

- Kau sudah sembuh? - Sudah.

Namun, jangan terlalu aktif dahulu.

Apalagi baru keluar dari rumah sakit tadi pagi.

[tertawa] Memang, aku tidak bisa diam.

[ponsel berbunyi]

Sebentar.

[bahasa Inggris] Ya!

[bahasa Indonesia] Reza pulang seminggu lagi.

Ayo kita susul saja ke Bandung.

Dengan Matt! Jadi kita berempat lagi seperti dahulu.

Ayo!

Kenapa wajahmu begitu?

- [ponsel berbunyi] - [mengeluh]

[ponsel berbunyi]

[ponsel berbunyi]

Namamu sudah diganti jadi Reza sekarang?

Kenapa selama ini kau yang membalas pesanku?

Di mana Reza?

Mou.

Dengarkan dahulu penjelasanku.

Kau berbohong kepadaku! Selama ini, aku berkirim pesan denganmu, bukan Reza?

Kau berlagak tidak tahu, dan aku seperti orang bodoh.

Aku ingin berkirim pesan dengan Reza, bukan kau! Kenapa kau membohongiku?

- Reza sudah pergi. - Pergi ke mana? Dengan siapa?

Kenapa dia tak memberitahuku?

Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau ikut berbohong?

- Itu sudah tidak penting. - Kenapa tak penting?

- Dengarkan aku. - Kenapa tak penting?

- Katakan di mana Reza! - Dia sudah meninggal!

Reza sudah meninggal.

Aku...

[Mou menangis]

[bahasa Inggris] Ya, Tuhan!

[Mou menangis]

[Mou meratap]

- Mou. - Jangan menyentuhku!

Mou.

Mou.

[bahasa Indonesia] Mou. Maaf. Kumohon.

[bahasa Inggris] Jangan menyentuhku!

[bahasa Indonesia] Mou, dengarkan aku dahulu.

Kenapa kau tak bilang bahwa dia sudah tiada?

[Mou terus menangis]

Kau sudah berbohong!

Kau sudah membohongiku!

Bukan begitu, Mou.

- Kau sudah membohongiku! - Mou.

- Kau sudah membohongiku! - Mou.

- Mou! - [Mou berteriak]

Baik, sekarang dengarkan aku.

Dengarkan aku.

- Tak usah menangisi dia. - [bahasa Inggris] Hentikan!

[bahasa Indonesia] Bukan aku yang bohong, tetapi dia.

- [bahasa Inggris] Hentikan! - [bahasa Indonesia] Dia penipu.

[Mou berteriak]

Pergi! Pergi dari hidupku!

Mou.

Jangan ganggu aku lagi.

Mou!

[membuka gorden]

[musik sedih]

[suara gunting]

Retha, kita harus berhenti.

[membuang napas]

Berhenti apa?

Berhenti berbohong.

Aku tahu.

Reza yang menyuruhmu mendekatiku, bukan?

Kau suka membaca Roro Mendut karena dia menikah dengan Pronocitro...

dan bahagia selamanya?

Ya, Matt, karena itu aku suka sekali dengan kisahnya.

Cerita Roro Mendut itu tragis.

Dan...

mereka berdua meninggal.

[bernapas dengan berat]

[bahasa Inggris] Baiklah.

[bahasa Indonesia] Aku bohong soal membacanya, tetapi...

Namun...

aku tidak berbohong soal perasaanku terhadapmu.

[membuang napas]

[bahasa Inggris] Kami akan memberikan satu menit untuk mempersiapkan diri

lalu kita mulai.

Baik.

[ponsel bergetar]

[musik menegangkan]

Sa.

Jika hari ini sesuatu menimpaku...

aku minta kalian jaga Mou.

- Kau hendak ke mana? - [Matt] Atap gedung Morris.

[Billy] Sudah kukatakan...

urusan kita belum selesai.

Mana videonya?

[tertawa]

Kau mabuk atau bodoh?

Tidak mungkin kuserahkan ini secara cuma-cuma.

Lalu kenapa memanggilku?

[bahasa Inggris] Pertanyaan bagus.

[bahasa Indonesia] Meski aku tak bisa menyakiti Mou secara langsung...

setidaknya aku menyakiti orang yang paling dia sayangi.

[Matt] Sekarang, kita kembali lagi di sini.

Sekarang sudah paham ceritaku, bukan?

Untuk kalian yang menyukai pesan moral, ini pesan moral dariku.

Jangan bodoh sepertiku, jangan nekat berkelahi,

jika sudah tahu akan kalah.

[para pria berkelahi]

Lihatlah wajahku!

Akan kubuat wajahmu lebih bengkak dariku!

[Mou berteriak]

Lawan aku kalau berani!

[suara kayu jatuh]

[Mou] Matt!

- [Mou berteriak] - [Billy] Kemari!

[Mou berteriak]

[Mou] Sakit!

[para siswa berteriak]

[pria] Billy!

- Matt. - [Matt mengerang]

- Matt. - [siswa 1] Matt!

- [siswa 2] Matt! - [Mou] Matt.

[Matt mengerang]

Kenapa kau berbaring di sini?

Apa?

Bukankah ada wawancara untuk ke Jerman?

Gila. Aku baru saja dipukuli!

- Cepat, berdiri! Angkat dia. - Apa-apaan?

[Matt mengerang kesakitan]

Salah sendiri berkelahi. Pergi!

- Serius? - Ya!

[mengecapkan lidah]

- Kenapa melihatku? - [siswa 1] Ayo!

- Pergi! - [siswa 2] Ayo!

[siswa 3] Matt!

Mou, ada yang mencarimu.

Bagaimana tes beasiswanya?

Lancar.

Bagus.

Aku sudah melihat rekamannya.

Ternyata tidak ada apa-apa. Reza tidak berbohong.

Sudah tidak usah dibahas. Aku sudah tidak peduli.

Walau ada apa-apa, aku tak peduli.

Kau tak usah memikirkan atau menjagaku lagi.

Aku sudah selesai baca buku Roro Mendut.

Bagus, bukan?

Kisah cintanya tragis. Pantas saja kau suka.

Berarti setelah ini, naik sepeda?

Untuk apa? Bukankah sudah ada ojek daring?

- Jangan marah lagi. - Siapa yang marah?

Sekarang kau marah.

Marah...

karena semua laki-laki dalam hidupku sudah membohongiku.

Papa.

Reza.

Matt.

Maaf.

Sebelum meminta maaf, kau sudah kumaafkan.

Namun, sudah tidak bisa sama lagi.

Aku mengantuk, aku ingin tidur.

Semoga berhasil di Jerman.

[membuka pintu lalu menutupnya]

[menangis]

- Hai. Semua sudah siap? - Ya, Ma.

Mama akan buat roti lapis untuk bekalmu.

[bahasa Inggris] Baik.

[bahasa Indonesia] Mou tidak kemari?

[menutup tas]

Tidak.

Kenapa?

[menutup tas]

Matt, bawa kemari tas ranselnya.

[Matt] Baik.

[mengetuk pintu]

- [Retha, bahasa Inggris] Hei, Mou. - Hai.

- [bahasa Indonesia] Matt akan berangkat. - Aku tahu.

Kau tak ingin mengantarnya?

Diwakilkan kau saja.

Ini.

Tadinya ingin kuberikan kepada Matt, tetapi lebih baik kau yang berikan.

Sepertinya dibuat Reza sebelum kecelakaan, tetapi tidak sempat.

[membuang napas]

Ya, sudah. Aku kembali menemui Matt dahulu.

- [bahasa Inggris] Dah, Mou. - Dah. Terima kasih, Ret.

Ya.

[ibu Matt, bahasa Indonesia] Pak, jangan mengebut.

[mesin mobil menyala]

- Baik-baik, ya? - Ya, Ma.

- Aku menyayangimu. - Aku juga, Ma.

[ibu Matt, bahasa Inggris] Dah.

[Matt, bahasa Indonesia] Aku menyayangimu.

[ibu Matt, bahasa Inggris] Ya, dah.

[bahasa Indonesia] Mou? Kau terlambat, Sayang.

Matt!

Matthew!

Matt!

Matthew!

Berhenti! Matt!

Ya! Lampu merah! Terima kasih, Tuhan!

Matt!

Ya, Tuhan. Kenapa hidupku begini?

[menangis]

Matt!

Pak, jika ada yang jual minuman, berhenti dahulu. Aku haus.

[Mou berteriak] Matt!

[tertabrak]

Biar aku saja yang mengurusnya.

Hei! Apa yang kau lakukan?

Sedang berkomunikasi dengan Tuhan.

Maaf, bisa bantu aku berdiri dahulu?

Ya. Ayo.

[Mou] Harus tanya dahulu?

Aduh, pelan-pelan.

Dari rumah? Naik sepeda?

Menurutmu?

Aku ke sini...

Ini.

Aku ingin mengantarkan surat dari Reza untukmu.

[Matt] "Hai, Matt. Aku minta maaf.

Saat kau membaca surat ini, kau pasti sudah tahu apa yang terjadi.

Siapa diriku sebenarnya dan apa yang sudah kuperbuat kepada Mou."

[keduanya membuang napas]

"Aku menyesal, Matt.

Katamu Mou butuh seseorang yang bisa membangkitkan kepercayaan dirinya.

Dan kujawab itu adalah aku. Sebenarnya itu kau, Matt.

Mou jadi kuat di tengah kekacauan keluarganya karena ada dirimu.

[bahasa Inggris] Hanya kau, Matt.

[bahasa Indonesia] Sekali lagi, aku hanya bisa meminta maaf.

Reza."

Kau menyuruh Reza untuk menjagaku?

Ya.

[membuang napas]

Aku sudah dewasa. Buktinya aku bisa naik sepeda.

Lantas tadi yang menabrak?

[Mou tertawa]

- [Matt kesal] - Benar juga.

Namun, aku sudah dewasa.

Kau juga harus menjadi dewasa di Jerman.

Selama kau masih di sini, kau tidak akan dewasa...

karena kau pasti sibuk mengurusku. Benar, bukan?

[Mou membuang napas]

Karena itu aku berlagak marah selamanya.

- Jadi, kau sudah tidak marah lagi? - Tidak.

Terima kasih.

- Pergilah atau kau akan terlambat. - Ya.

- Namun, tidak secepat itu! - Sebentar!

Pak, tunggu.

Apa yang kau lakukan?

[Mou tertawa]

[lonceng berbunyi]

Angkat.

[tertawa]

- [bahasa Inggris] Halo? - Halo, Mou.

[Mou tertawa]

Halo.

[bahasa Indonesia] Jadi, kau sudah bisa naik sepeda?

Sudah.

Sebenarnya...

Aku ingin menyampaikan sesuatu.

- Lihat ke sana. - Kenapa harus begitu?

Aku tak bisa katakan jika kau melihatku. Lihat ke sana.

Lihat ke sana. Jauh.

Aku...

Aku mencintaimu.

[tertawa]

Jangan tertawa. Aku malu. Serius, jangan tertawa.

- Kenapa tertawa? - Apa? Katakan sekali lagi.

- Kenapa? - Aku tidak dengar.

Aku mencintaimu.

Kalau kau bagaimana?

- Lihat ke sana. - Apa?

- Jawabannya sama, bukan? - Lihat ke sana.

Aku juga mencintaimu. [tertawa]

[keduanya tertawa]

[bernyanyi]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.