All language subtitles for [Dutafilm]-Malik & Elsa (2020)

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

INDOXXI Support dengan like & share :)

๏ปฟ1 Namaku Malik.

Aku sekarang sedang melangkah menuju kota Padang.

Namun dalam kesulitan ini, aku menyatakan ingin kuliah.

Tidak mudah untuk menjadi Malik di titik ini.

Karena aku adalah sosok yang selalu dianggap sebelah mata oleh lingkungan.

Nah, itu dia.

Dialah gadis keberuntunganku.

Hari itu, dia juga menatapku...

...seolah menjadi pertanda sebuah sambutan baik.

Kamu tahu tidak...

...alasan kenapa bangsa asing menjajah Indonesia?

Halo?

Kenapa? Tanya apa tadi?

Ya karena mau menjajah saja.

Aku serius.

- Aku juga. - Oke.

Jadi, menurutmu apa?

Ya karena mereka butuh rempah-rempah.

Mereka butuh cengkih. Mereka butuh lada. Makanya mereka menjajah Indonesia.

Hanya itu?

Ya?

Salah.

Kok salah?

Ada satu hal lagi yang jauh lebih penting.

- Apa? - Jengkol.

Apa? Kenapa Jengkol?

Ya justru itu yang keliru!

Guru di sekolah lupa kasih tahu.

Kamu saja yang salah dengar.

Oke. Gini deh.

Kamu pernah makan nasi pakai rempah-rempah atau dicampur kopi?

Tidak pernah.

Kalau Jengkol?

Ya, pernah lihat.

Nah, itu dia alasan yang lebih sah.

Kenapa penjajah datang ke Indonesia?

Karena mereka lapar, butuh makan.

Makan jengkol itu sangat enak, apa lagi dicampur rempag-rempah.

Sangat enak.

Jadi, jawabannya adalah Jengkol.

Benarkah?

Kenyataannya memang begitu.

Oke, sekarang aku yang menang.

Kamu harus traktir aku makan satu minggu ke depan.

Kenapa aku yang kalah?

Oh, ya. Kenalkan, namaku Malik.

Elsa.

Elsa Marimar.

Jengkol?

Ya, dialah Elsa.

Namanya terdengar lucu, tapi dia cantik.

Dan dia semakin cantik dan lucu...

...karena dia akan mentraktir aku.

Kita mau makan di mana?

Terserah.

Loh, yang laki-laki itu kamu atau aku?

Ya aku lah, tapi kan kamu yang traktir.

Jadi, aku yang menentukan?

Boleh.

Ya sudah.

Kalau makan makanan Eropa, mau?

Seperti steik rasa rendang?

Enak tuh sepertinya, boleh.

Ya pasti enak.

Ditraktir apa yang tidak enak?

Ya udah, nanti aku kasih tahu, ya?

Nanti di sana ada kafe yang lagi populer.

Oke.

Aku tidak makan, minum saja. Susu dingin, ya? Aku lagi diet.

Menu favorit di sini, apa ya?

Semua lima steik di sini favorit.

Tapi yang paling disukai steik rendang dengan sausnya.

Boleh, pesan itu satu.

Minumnya es teh manis dan susu dingin satu. Terima kasih.

- Silakan. - Terima kasih.

Kenapa steiknya tidak dimakan?

Malah melihat orang yang makan?

Aku sedang berpikir.

Doa makan steik itu sama seperti doa makan nasi?

Malik!

Kamu nih! Makan saja!

Permisi, boleh saya angkat?

- Silakan. - Boleh, Mbak.

Terima kasih, Mbak.

Kamu...

...manis juga kalau senyum.

- Telat. - Lebih baik telat daripada ga sama sekali.

Bukan terlambat itu.

Kamu orang yang kesekian kali yang bilang seperti itu ke aku.

Tapi aku berbeda.

Apa bedanya?

Kamu perempuan pertama yang aku bilang manis.

Jadi, kamu beruntung.

Terima kasih, Malik.

Kamu tuh, bener-bener, ya?

Bener-bener rakus.

Yang penting halal.

Kamu harus tahu, aku sangat lapar.

Sejak kapan menang taruhan halal?

Apa? Kamu mau marah?

Ya sudah. Aku tidak jadi traktir.

Nih.

Minta.

Siapa tahu ada junior kita di dalam.

- Bisa ospek lanjutan. - Sip.

Toilet di mana, ya?

Tuh.

Ya sudah, sebentar ya?

Kosong, Bos. Ayo pergi.

Elsa?

Liandra.

Ayo.

Ada apa?

Aku masih tidak menyangka kita satu kampus.

Ya.

Kemarin kamu tidak ikut ospek, ya?

Ya. Kemarin aku demam, jadi aku tidak ikut ospek.

Pantas tidak terlihat.

Tapi, tahun besok kamu ikut, ya?

Ya, Kak.

Sial.

Jangan-jangan Elsa belum bayar.

Apa aku harus cuci piring?

Permisi, ada yang bisa saya bantu?

Tidak ada, Uni.

Ya sudah, salam buat mama. Ya?

Permisi.

Kamu kenapa pucat?

Pucat? Tidak, aku tidak pucat.

Kamu dari mana?

Tadi aku beli tisu di kedai sebelah

Perut kamu gimana? Membaik?

Sudah. Biasa, terlalu kenyang.

Makanya, kalau makan jangan terlalu banyak.

Ayo, kembali ke kampus, Uni?

Kampus?

Terima kasih.

Kamu lupa?

Kita ada kelas Pengantar Linguistik Umum.

Oh, ya. Lupa.

Keberuntunganku berlanjut.

Dari menang tebak-tebakan, sekarang aku bisa mengenal Elsa.

Tapi aku pernah baca, yang menentukan kesuksesan itu bukan bakat.

Tapi kerja keras.

Sayangnya, hidup tidak sesederhana itu, Malik.

Tidak hanya dari bakat.

Aku ingin jadi guru. Tapi sedih jika diceritakan.

Apa lagi sekarang. Biaya kuliah mahal.

Biaya hidup semakin tinggi.

Satu negara bisa hancur kalau sampai gurunya tidak sejahtera.

Karena tidak bisa maksimal mencerdaskan anak bangsa, benar?

Tapi aku akan tetap jadi guru.

- Suatu saat nanti, gimana pun. - Benar kata pepatah Minang.

"Kita harus pandai jika hidup di rantau."

Aku mendukungmu.

Jadi, kamu sendiri ingin jadi apa?

Ya, yang jelas aku mau sukses, membahagiakan orang tua, dan...

Kamu asli Padang?

Ya, tapi keluargaku lama di rantau.

Kami baru pindah setahun lalu dari Medan.

Bisnis orang tuaku berkembang di sini dan tinggal di sini.

Sekalian menjagaku kuliah.

Kamu?

Aku dari Pasaman Barat.

Merantau ke sini tinggal di indekos.

Sendiri? Tidak ada saudara?

Anak tunggal.

Aku punya saudara laki-laki. Tapi di pesantren.

Oh ya? Jadi, jarang bertemu?

Sekali saja.

Kira-kira, kamu akan betah kuliah di sini?

Belum tahu, baru juga satu hari.

Menurutku, akan betah.

Kenapa begitu?

Kenapa kamu sangat yakin?

Karena ada aku!

Malik! Kenapa kamu sangat percaya diri?

- Jangan gengsi. - Gengsi? Biarin deh.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Lubis.

Bagaimana kuliah pertamamu hari ini?

Kata dosennya, setelah lulus dari sana, aku bisa bekerja di mana pun.

Dan gajinya selemari.

Seperti caleg, banyak janji.

Kau tidak boleh begitu pada dosen.

Mungkin, dia mau memberi motivasi.

Biar begitu, dia memberi ilmu pada kita.

Ya ampun, serius banget bapak satu ini.

Sudahlah!

Ini nasi untuk kamu.

Ini untuk aku.

Kamu sangat baik, Lubis.

Hanya nasi bungkus.

Tidak sebanding dengan semangat yang kau tularkan padaku.

Aku kagum padamu, mau hidup susah seperti ini.

Aku tidak ada pilihan lain, Lubis.

Kalau aku tidak seperti ini...

...aku tidak akan sampai di titik ini.

Ibu sudah berpulang saat aku masih kecil.

Aku hanya tinggal bersama ayah di Pasaman Barat.

Keluargaku kekurangan.

Malik.

Bapak setuju saja jika kamu mau kuliah.

Tapi kamu harus bekerja keras untuk biaya kuliah kamu.

Bapak tidak punya cukup uang.

Lagi pula Bapak tidak ingin masa depan kamu sama seperti Bapak.

Ya, Bapak.

Aku akan bekerja keras untuk kuliahku.

Aku akan buat Bapak dan Ibu bangga.

Agar berhenti hinaan tetangga terhadap kita, Pak.

Ya, Nak.

Malik. Janganlah kuliah.

Orang miskin seperti kamu...

...pikirkan cara cari uang saja.

Kuliah itu buang-buang uang.

Kamu bantulah bapakmu.

Kamu tidak punya uang...

...bagaimana bisa kuliah?

Masa kuliah sebulan atau dua bulan...

...lalu berhenti kuliah?

Kalau miskin, jangan banyak gaya.

- Bu. - Ya, Malik.

- Terima kasih, Malik. - Sama-sama, Bu.

- Malik. - Bang Ali.

Bagaimana kuliahnya?

Alhamdulillah, lancar, Bang.

Sudah dapat perempuan cantik untuk calon istri bapakmu?

Belum, Bang. Aku saja belum dapat.

Payah. Percuma saja tampan...

...jika tidak dapat pacar.

Setoran.

Denger.

Abang walau jelek begini, pernah punya tujuh pacar.

Enam menolak, satu yang mati.

Mati?

Mati penasaran menahan perasaan untuk Abang.

Malik.

Kamu tampan...

...masih betah saja mengangkut sayur.

Tidak mau jadi artis?

- Tidak masalah. - Bukan kamu, tapi Malik.

Perasaan saya, saya saja.

Karena kalau berdiri di dekat orang tampan, terbawa tampan juga saya.

Ayo.

- Terima kasih, Bu. - Ya, Malik.

Tidak kuliah pagi?

Kuliah, Bang.

Kuliah?

Kalau kuliah, bersiaplah berangkat kuliah.

Kenapa masih di sini?

Kamu kan sudah kerja dari minggu lalu.

- Terima kasih, Bang. - Ya.

- Aku pamit. - Ya.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Hai, Malik.

- Hei, sudah sarapan? - Belum. Kenapa?

Kamu mau ditraktir lebih awal?

Bukan, hanya bertanya.

Lagipula kalau sekarang, tidak sempat.

Dosen dasar-dasar filsafat sebentar lagi masuk.

Eh, kamu, anak muda.

- Saya, Pak? - Siapa nama kamu?

- Malik. - Malik, kamu kembali ke posisi.

Ayo.

Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu.

Tanggung jawab apa, Pak?

Masa kamu tinggalin perempuan sendirian?

Tadi sebelum saya masuk kelas, kamu ada di posisi ini, ya kan?

Setelah saya masuk, kok kamu malah pergi.

Seharusnya kamu tetap menjaga perempuan ini pada posisi ini.

Apa pun tantangan yang ada di hadapan kamu.

Jadi, saya seharusnya bagaimana, Pak?

Dia ini pacar kamu, bukan?

Belum, Pak.

Oke.

Ya sudah.

Ayo kita mulai.

Bibi!

Ya, Bu?

Bibi nanti bilang ke Elsa, saya sama bapak pulangnya minggu depan.

Kamu lengkapi semua keperluan Elsa.

Kalau ada apa-apa, telepon saya, ya?

Baik, Bu.

- Bapak, ayo. - Ayo, Mah.

Pak Anto, Pak Benny mana?

Pak Benny lagi ke bengkel, servis mobil yang satu lagi.

Bilang sama Pak Benny kalau Elsa butuh mobil...

...suruh pakai mobil yang satunya.

- Ya, Bu. - Pak Anto, bisa bantu?

Ayo, Pah.

- Ayo duduk. - Capek banget.

Seru kan, bisa ospek maba-maba?

Pasti seru, kita bisa berkuasa di situ.

Tapi kalian masih ingat sama junior yang gayanya tengil banget?

- Yang mana? - Itu.

Yang pas sosialisasi UKM malah tidur terus.

Pas gue tegur, malah terlihat tidak suka.

Yang mukanya kaya bule dan kulitnya putih?

- Itu. - Benar.

Kalau ga salah, namanya Malik.

- Malik. - Ya, Malik.

- Gue tahu. - Lo kenal, Andra?

- Tidak juga. - Sudahlah.

Kalian tenang saja. Biar gue yang cari tahu dia anak kelas mana.

Nanti kalau sudah tahu, kita sikat saja ramai-ramai.

Mantap.

Tapi lo ikut kita, 'kan, Andra?

Tapi dianya saja, ya?

- Maksudnya gimana? - Ya...

...kalau dia lagi sama teman-temannya, jangan dibawa-bawa temannya.

Beres itu.

Eh, gue pergi dulu, ya?

- Ya. - Yah ga asik.

Kembaliannya Rp. 2.000 nanti, ya?

- Oke, terima kasih. - Ya.

Nanti kembaliannya aku ambil, ya?

Tidak perlu, anggap saja amal.

- Selamat makan. - Makan.

Setelah ini, enaknya ke mana, ya?

Tenang saja, aku akan mengajak kamu ke tempat yang kamu suka.

Malik, jalan sekarang saja, yuk?

Sudah tidak sabar?

Ayo.

Ke mana nih anak?

Sudah sampai.

Ayo.

Malik!

Aku tidak bisa menyeberang!

Aduh, dasar anak rumahan.

Ya, lagian kamu tidak bertanggung jawab? Aku ditinggalin begitu saja.

Jangan begitu mukanya, serem banget.

Aku lagi marah.

Lagian, kamu tidak mengingatkanku.

Bilang saja, kamu tidak bisa menyeberang.

Tidak! Aku mau pulang saja!

Kok jadi ga jelas ngomongnya?

Ya karena kamu menyebalkan.

Jadi laki-laki kok tidak peka? Jagain aku dong.

Aku sudah jagain kamu. Jagain sebatasnya teman.

Aku bukan pacar kamu.

Kalau aku pacar kamu, sudah aku pegang tangan kamu dari tadi.

Benar juga.

Aneh.

Kamu juga aneh!

Makanya kita nyambung.

Kamu menyimpan kabel di tas kamu?

Biar nyambung.

Sudah, jangan tertawa.

Bantuin aku menyeberang.

Ayo.

Untuk menyeberang saja. Nanti kalau sudah sampai sana, kulepas lagi, ya?

Ayo.

Elsa ke mana, ya Pah? Tidak mengangkat telepon dari tadi.

Mungkin dia tidur.

- Atau aku telepon Liandra saja, ya?. - Coba saja.

Kenapa tanganku masih dipegang?

Ya, lupa. Soalnya nyaman rasanya.

Lepasin.

Yakin?

- Dasar modus! - Dasar anak rumahan!

Biarin, daripada anak durhaka.

Ya, halo, Tante?

Halo. Assalamualaikum, Liandra.

Ya, ini mamanya Elsa.

Kamu bisa ke rumah Elsa?

Bisa. Ada apa, Tante?

Tante mau minta tolong, kamu ambilkan berkas Tante yang ada di ruang tengah, ya?

Berkas apa, Tante?

Nanti kalau sampai rumah, kamu bilang sama Bibi kalau Tante nyuruh kamu ambil berkas...

...di ruang tengah yang harus ditanda tangani mama kamu siang ini.

Nanti Tante yang telepon Bibi, ya?

Ya, Tante. Nanti aku ke sana.

Tapi aku tidak punya pacar.

Dan satu hal yang perlu kamu tahu.

Apa?

Sebelumnya, aku tidak pernah membawa perempuan ke sini.

Ini pertama kali juga untukku.

Membawa perempuan lainnya ke pantai yang lain?

Sayangnya, temanku laki-laki semua.

Jadi, kalau kamu sama teman perempuan ke sini...

...tidak kamu anggap teman?

Bisa saja.

Bukan begitu juga.

Aku bercanda.

Serius juga tidak masalah.

Kalau aku serius, artinya kamu menang banyak.

Aku haus.

Minum kelapa, yuk?

Ayo.

Pegangin dong.

Jangan manja.

Ini pesanan es kelapanya.

Terima kasih.

- Silakan. - Terima kasih.

Dengarkan kubernyanyi...

Berduaan? Kasih Rp. 2.000 dong buat ngerokok.

- Tidak ada, Bang. - Tidak ada?

Kalau tidak ada, pacar lo aja buat gue.

- Kurang ajar lo. - Malik!

Malik, berhenti!

Malik, berhenti!

Malik!

Malik, berhenti. Sudah. Come on.

- Kurang ajar lo. - Malik, berhenti!

Ayo!

Tidak ada pilihan lain, Elsa.

Aku tidak suka laki-laki kurang ajar terhadap perempuan.

Apa lagi sama kamu.

Sudah sampai.

Kmau tinggal di sini?

Ya, di sana.

- Sendirian? - Tidak.

Aku sama temanku. Namanya Lubis. Nanti aku kenalin, ya?

- Ya usdah, aku pamit, ya? - Ya.

Semoga kamu tidak bertengkar lagi.

Ya, aku janji.

Hati-hati, Elsa.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Ada Bapak Kos.

Baru pulang, kau Malik?

Ya, Pak.

Gimana kuliahmu hari ini?

- Alhamdulillah, lancar. - Syukurlah.

Ya. Pak, saya mandi dulu, ya? Bau asam.

- Jangan lupa sholat, ya? - Ya, Pak.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Hebat sekali kau, Malik, jam segini baru pulang.

Jangan-jangan, kau pakai ilmu hitam, ya?

Diantar perempuan cantik pulang.

Seharusnya kau yang antar perempuan itu, bukan dia yang antar kau.

Kalau kenapa-kenapa perempuan itu di jalan, kau bisa kena pasal.

Hujan, 'kan?

Aduh, kasihan kehujanan.

- Elsa? - Liandra?

Kak, tidak perlu. Aku mau langsung masuk saja.

Kak Liandra kenapa di sini?

Berkas mama kamu tertinggal, besok mau dipaketin.

Maaf, Kak, merepotkan, sini biar aku saja.

Tidak perlu, kamu istirahat saja. Nanti kamu bisa sakit.

- Terima kasih banyak, Kak. - Sama-sama.

Aku pamit dulu, ya?

Berkasnya, Kak.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Hati-hati, Kak!

Terima kasih banyak, Bi.

Air panas sudah dinyalakan, ya Non.

Kamu kelihatan kurang sehat.

Tidak, aku baik-baik saja. Kemarin kehujanan sedikit.

Tuh? Suaranya saja beda.

Aku sudah minum obat.

Kamu sendiri gimana?

Punggungnya masih sakit?

Tidak. Kemarin hanya memerah.

Ini nih yang kami cari dari kemarin.

Mau diurus di sini atau keluar?

Hei! Jawab! Lo mau digulung di sini atau di luar?

Diam saja dia.

Malik, ayo.

Ayo.

Hei! Pengecut!

Kenapa kamu menahanku?

Kalau aku tidak menahan kamu, kamu bisa berurusan sama kampus.

Kamu kan anak rantau. Pikirinlah orang tua kamu.

Jangan macam-macam.

Ya sudah, sekarang kita mau ke mana?

Ke pantai yang belum pernah kita datangi.

Malik, ini di mana?

Pantai.

Ya tahu, ini pantai.

Tapi kenapa banyak yang pacaran?

Cinta?

Pasti, aku juga tahu orang pacaran karena cinta.

Maksudnya, ini pantai apa?

Pantai Cinta.

Namanya memang Pantai Cinta, Elsa.

Mungkin karena banyak orang yang pacaran.

Kenapa orang harus pacaran?

Lihat itu. Mesra-mesraan.

Karena manusia itu butuh perhatian.

Manusia itu makhluk sosial.

Ada makhluk sosial yang jenisnya manja, makanya pacaran.

Apa hubungannya pacaran dan manja?

Kamu pernah bermanja-manja pada laki-laki tapi tidak pacaran?

Tidak.

Nah, orang yang manja itu haus perhatian.

Tidak diperhatikan sedikit, merajuk.

Tidak diberi kabar, marah.

Lebih enak lajang, bebas.

Daripada kamu.

Bilang saja tidak pacaran...

...karena tidak punya uang untuk pacaran.

Takut uangnya habis, 'kan?

Aku memang tidak punya uang untuk pacaran.

Tapi aku punya rasa percaya diri yang bikin aku bisa menghasilkan uang.

Kamu bekerja?

Aku bekerja serabutan di pasar.

Aku bukan hidup dari keluarga yang berada.

Makanya aku harus kerja keras untuk hidupku.

Bapakku hanya pedagang kecil.

Makanya aku harus sukses dengan kerja keras.

Bukan hanya pacaran demi status.

Terkadang...

...kita harus mengikhlaskan waktu senang-senang kita.

Demi mengejar apa yang menjadi mimpi kita.

Maju terus, pantang mundur!

Pantang mundur, kali!

Ya, itu maksudnya.

Gitu dong, semangat, biar nular ke aku semangatnya.

Kalau nularin hati aku ke kamu, boleh?

Tidak boleh!

Tunggu!

Elsa, ada pesawat.

Dari kecil, aku mimpi, aku sangat ingin bisa naik pesawat.

Makanya kalau aku ada di sini, mimpiku terasa jadi lebih dekat.

Pesawat, minta uang!

Malik, ngapain?

- Buruan, minta uang, ayo! - Tidak mau.

- Ayo, minta uang! - Tidak mau!

Itu pesawatnya! Pesawat, minta uang!

Pesawat, minta uang!

Pesawat, minta uang!

- Hei! Dari mana kau dapat naskahku? - Hei, Malik!

Aku belum selesai baca. Kau tidak boleh seperti itu.

Kau yang tidak boleh begitu.

Dari mana kau dapat naskahku ini?

Jawab, dari mana kau dapat?

Aku dapat dari rak buku. Aku sudah baca isi naskah ini. Isinya sangat bagus, aku suka.

Kau marah karena aku baca naskah ini?

Bukan begitu, Lubis.

Aku kan temanmu, jadi wajarlah aku baca.

Kau kan tahu, setiap hari aku baca teori setebal dosamu itu.

Aku butuh hiburan.

Malik, kamu habis jalan sama perempuan cantik itu, ya?

Sok tahu kamu.

Halah.

Dari wajah mesummu itu, sudah terlihat.

Malik, perempuan itu harus tahu siapa kau yang sebenarnya.

Sudah tahu, Lubis.

Iya kah?

Dia tidak lapor polisi?

Merajuk dia.

Mau dibawa ke kios yang mana?

Elsa?

Kamu ngapain?

Bantuin kamu.

Kamu tahu dari mana aku di sini?

Dari Lubis.

Tidak masalah kan kalau aku bantuin kamu?

Jangan, nanti kamu kotor, bau.

Tidak masalah.

- Jangan, ya? - Tidak masalah.

Tidak, jangan.

Kamu tidak menghargaiku datang kemari?

Bukan begitu, Elsa...

Ya sudah, aku bantu.

Ini yang enteng. Ini saja.

- Ya sudah, dua. - Satu saja.

Malik, tidak masalah. Sini, aku bantu. Oke? Ayo.

Bu. Maaf, Bu.

Lama sekali kamu mengantarnya, Malik.

Maaf ya, Bu. Ini, ke sini.

- Bu, saya letakkan di sini. - Terima kasih, Malik.

Ya ampun, Malik membawa pacarnya.

Siapa itu, Malik?

Cantik sekali.

Kapan kamu nikahin dia?

Ini teman saya, Bu. Elsa namanya.

Ibu tidak percaya.

Ini uangnya, Malik.

Terima kasih, Bu.

Malik. Aku haus.

Sebentar.

- Bu, minta teh manis, dua, ya? - Ya.

Capek?

Ya, kakiku mau lepas rasanya.

Kalau lagi banyak yang diangkut, mungkin kamu bisa kena gejala tifus.

Terima kasih.

Ya.

Omong-omong, aku jadi tahu...

...bagaimana susahnya mencari uang.

Pantas saja kamu minta kembalian Rp. 2.000 waktu di kantin.

Oh ya, hari ini kita ada satu mata kuliah.

- Ya. - Aku pulang dulu, ya kalo gitu.

Tidak mungkin aku ke kampus lepek seperti ini.

Ya sudah.

Terima kasih, Bi.

- Elsa? - Mama?

Mama kapan datang?

Tadi pagi. Kamu dari mana? Kok lusuh.

Tadi aku olahraga.

Hari ini ada kuliah?

Ada. Elsa masuk dulu, ya?

Sebentar, Elsa.

Kamu akhir-akhir ini Mama perhatikan sering pulang larut malam, ya?

Tidak baik dibiasakan gitu, ya Sayang?

Ya, Ma. Elsa mandi dulu, ya?

Apa tema seminar yang akan kita adakan nanti?

Kita akan berusaha di pengembangan kurikulum berbasih ekonomi kreatif.

Jadi, nanti biar mahasiswanya lebih kreatif.

Teman-teman, dosen Linguistik Umum tidak masuk.

Pergi!

Malik, dosennya kan tidak masuk...

...kita pergi saja, yuk?

- Mau ke mana? - Ke mana saja yang seru.

Itu tidak menjawab pertanyaanku.

Kalau gitu, ke mana saja yang menurut kamu seru.

Oke, tapi jangan protes kalau tidak hany satu tempat.

Oke.

Saya sangat setuju sekali.

Karena memang mahasiswa sekarang...

...harus menghadirkan inovasi dan mereka harus kreatif.

Kenapa kalian keluar kelas? Ada apa?

Dosennya tidak masuk, Pak.

- Siapa dosen yang mengajar kalian hari ini? - Pak Desko.

Ya, dia memang saya tugaskan menggantikan saya di luar daerah.

Jangan sering-sering, ya Pak.

Luar biasa.

Kenapa kamu berani ngomong begitu sama Pak Rektor?

Aku tidak salah, 'kan?

Mahal-mahal bayar kuliah, dosennya tidak masuk.

Malik!

Satu, dua, tiga.

Ya!

- Tidak boleh, ini giliranku! - Tidak bisa. Kamu kalah.

Tidak bisa.

Ya, gantian.

Hati-hati.

Gesika Band Festival - Nanti Malam

- Terima kasih, Uda. - Terima kasih.

Malik, kamu tahu The Kura-Kura?

Tahu.

Kalau Rizal Putra?

Dengerin lagunya.

Aku belum pernah nonton mereka langsung.

Aku ingin nonton.

Di mana?

Di kampus.

Mau tidak? Aku pengin banget nonton mereka.

Mereka nyanyi malam ini.

Kamu tidak capek?

Ya aku capek, tapi aku belum pernah menonton mereka langsung.

Mau tidak? Ayolah?

Ya sudah, ayo.

Ramai banget.

Ke sana, yuk?

Elsa, tunggu!

Permisi.

- Elsa, pelan-pelan! - Permisi.

Elsa, ini masih lurus?

Berhenti, Malik.

Sampai sini saja.

Kenapa tidak sampai depan rumah?

Tidak masalah, sampai sini saja.

Memangnya rumah kamu di mana?

Belok kiri, lurus, terus nanti masuk.

Nanti juga kamu tahu, tapi tidak sekarang, ya.

Bisa kan pulang sendiri?

Bisa.

Selamat istirahat, Elsa.

Selamat istirahat juga, Malik.

- Dah. - Dah.

Elsa.

Terima kasih buat hari ini.

Aku juga ya, buat hari ini.

Terima kasih, Bi.

Elsa, Papa dengar kamu sering pulang malam.

Kamu itu anak perempuan Papa satu-satunya.

Papa dan Mama hanya khawatir ada hal buruk terjadi sama kamu...

...kalau kamu sering pulang malam.

Malik itu teman kamu?

Jawab!

Ma.

Ya, Ma.

Laki-laki macam apa...

...membawa anak perempuan orang pulang malam-malam?

Ingat, kamu itu gadis Minang.

Mama tidak suka itu, Elsa.

Mulai sekarang...

...tolong kamu jauhi dia.

Mengerti kamu?

Maaf, Ma.

Tidak ada gunanya minta maaf.

Kalau kamu tetap saja berbohong.

Ma, sabar. Ingat Allah.

Mungkin Elsa pulang malam...

...karena ada urusan sama temannya.

Menurut Papa, tidak mungkin Elsa akan melakukan hal buruk seperti itu.

Ingat, Elsa.

Sekali lagi kamu seperti ini...

...Mama suruh Pak Anto yang antar jemput kamu.

Mengerti kamu?

Kamu kenapa?

Sejak di kelas tadi tidak semangat.

Kurang darah?

Tidak.

Atau kurang perhatian?

Tinggal pilih paket perhatian apa.

Kalau paket hemat, ucapan selamat sehari tiga kali.

Tapi kalau pakai "Sayang", beda lagi harganya.

Besok, kita masih bisa makan bersama?

Jadi, karena itu kamu lesu?

Ya, sebenarnya hari ini terakhir kamu traktir aku.

Jadi, kamu mau pergi sama aku hanya karena aku traktir kamu?

Bukan begitu. Jahat banget aku kalau begitu.

Lagian, mana ada perempuan yang mau jalan...

...kalau tahu dia hanya dipalak.

Tolong ya, jangan samakan aku dengan perempuan lain yang kamu kenal.

Aku tidak suka.

Elsa, maksud aku bukan begitu.

Ya memang hari ini kamu terakhir traktir aku.

Tapi kita masih bisa jalan, masih bisa makan. Ya, 'kan?

Ikut aku yuk.

Aku mau ajak kamu ke suatu tempat biar kamu tidak lesu lagi.

Ayo.

Ini yang kedua kali.

- Apa? - Kalau kamu bertanya...

...berapa kali aku ke sini.

Sebelumnya sama siapa?

Lubis.

Kamu tuh kasihan sekali. Ke pantai selalu sama laki-laki.

Tapi sekarang sudah tidak kasihan, karena aku ke sini sama kamu.

Dan karena kamu pertama kali ke sini...

...jadi kalau kamu mau ke sini lagi, kamu ingatnya sama aku.

Malik?

Kalau lapar bilang saja.

Jangan kasih kode seperti ABG labil.

Mentang-mentang hari ini hari terakhir aku traktir kamu.

Uda, sate satu porsi, ya?

Keranya banyak sekali, ya.

Ya.

Cantik.

Ya.

Tapi...

...kamu lebih cantik dari yang itu.

Kok jadi aku sama kera?

Ya iya dong.

Kalau misalnya keranya aku pakaikan wig...

...terus aku melihat kamu, jadinya mirip!

Apaan sih? Aku kan masih kesal.

Masih?

- Ini satenya. - Ya.

Terima kasih.

- Makan. - Selamat makan.

Terima kasih.

- Terima kasih, Elsa. - Sama-sama, Malik.

Kamu menulis apa?

Menulis harapanku.

Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mengajakmu terbang naik pesawat.

Yakin?

- Mau membantuku? - Bantu apa?

Bantu aku menerbangkan semua harapanku.

Kamu juga bisa menitipkan harapanmu. Tapi ada syaratnya.

Kamu harus kasih foto kamu ke aku.

Kenapa begitu?

Ya tidak apa-apa, namanya juga syarat.

Oke.

Ikut aku, yuk?

Kenapa berhenti?

Mau ngapain?

Tulis harapan kamu di sini.

- Untuk apa? - Tulis saja.

- Terus? - Kamu robek.

Terus kamu bikin jadi pesawat.

Pesawat ini akan menerbangkan harapan kita, Elsa.

Harapan kamu apa?

Harapanku...

Harapanku masih sama.

Tapi bertambah satu.

Semoga kamu tidak bertengkar lagi.

Kalau yang satunya lagi, rahasia!

Kamu tidak boleh tahu.

Jangan lupa bilang, "Aamiin".

Terbangkan pesawatnya, Elsa.

Terebangkan semua harapan kita!

Terima kasih.

Kamu suka senja?

Sangat suka. Kamu?

Biasa saja.

Yang lebih penting buat aku, bersama siapa saat menikmati senja.

Karena senja itu hanya sementara.

Sok romantis deh kamu.

Aku bukan tipe itu.

Dan sepertinya kamu tidak puitis, apa lagi romantis.

Tapi kenapa suka senja?

Karena...

Karena aku suka saja.

- Aku juga suka. - Suka apa?

Suka kalau melihat kamu senang.

Senyum kamu itu, membuatku ikut senang, Elsa.

Ayo.

Terima kasih, Uda.

Salam untuk Bang Ali.

Oke, Malik. Nanti disampaika ke Bang Ali.

- Assalamualaikum. - Terima kasih.

Hari ini aku harus pulang cepat.

Tumben. Biar bisa tidur cepat, ya? Biar dilanjutkan di mimpi.

Bukan selalu tentang kamu.

Tidak perlu gengsi.

Kalau perempuan tidak gengsi, bukan perempuan namanya.

Lagian, percuma kamu gengsi.

Aku punya radar untuk membaca apa maksud perempuan.

Walaupun dia tidak bilang.

Bagus dong. Berarti kamu laki-laki peka.

Tapi kalau seandainya kamu memang punya radar, kenapa masih sendiri?

Radarnya sudah aktif sejak hari pertama kuliah.

Kamu tuh orang atau scanner?

Bisa dua-duanya untuk kamu.

- Ayo jalan. - Ayo.

Hati-hati, ya? Jangan mengebut.

Kamu yang suka mengebut. Mana tidak punya SIM.

Tidak mampir dulu?

Ini dia Lubis, teman aku.

Halo, Bang Lubis. Akhirnya kita bisa bertemu.

Aku mau bertanya.

Bang Lubis tuh sadar saat pertama kali ketemu aku?

Aku juga bingung.

Kenapa kamu bisa suka sama Malik?

Jangan-jangan kamu di bawah pengaruh ilmu hitam, ya?

Sembarangan kalau bicara.

Bercanda.

Elsa sangat cantik!

- Tidak, biasa saja. Tapi terima kasih. - Sama-sama.

Maaf aku belum bisa mampir. Jadi, pamit duluan, ya?

- Aku pulang, ya? - Oke.

Hati-hati.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Hebat, Malik.

Hebat? Kau kalau bicara jangan sembarangan.

Bercanda, oh iya.

Tadi Bang Ali telepon.

Katanya dia mau pesan bersih-bersih kapal.

- Oh ya? - Ya.

Katanya dia mau memberi bonus.

Karena sudah lama tidak bertemu kamu.

Alhamdulillah.

Malik!

Bang Ali.

Apa kabar?

Alhamdulillah baik, Bang.

Bagaimana kuliahnya, lancar?

Lancar, Bang.

Sudah dapat calon istri?

Bisa saja, Bang.

Abang juga dulu pernah punya pacar.

Ya, singat ceritanya, waktu Abang mau pergi ke rumahnya.

Pas Abang sampai di depan rumahnya...

...ditutup pintunya kencang sama ibunya.

Abang kaget. Mamanya teriak di dalam.

"Aku mau mencari menantu, bukan cari kuli!" Katanya.

Sakit hati Abang.

Seram sekali, Bang.

Tapi jangan jadikan masa lalu itu untuk kita berhenti melangkah, Malik.

Boleh kita bersedih, itu tandanya karena kita punya hati.

Tapi kita harus tetap tegar.

Dunia ini keras. Kita harus kuat menghadapinya.

Ambil saja pelajarannya. Begitulah laki-laki.

Ya, Bang.

Bagaimana kabar pacarmu, Elsa?

Bukan pacar, Bang.

Beda jauh levelnya.

Bisa dekat saja aku sudah senang. Cukuplah sampai itu.

Tidak masalah.

Kau bilang saja sama Elsa kalau kau cinta dia.

Jangan gagal seperti Abang.

Kalau pun kau gagal, setidaknya kau sudah berjuang, Malik.

Ini bayaranmu.

Terima kasih banyak, Bang Ali.

Gunakan baik-baik. Jangan lupa kirimkan ke bapakmu di kampung, ya?

Ya, Bang.

Ya sudah, Abang balik dulu.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Malik!

- Ya? - Ada tamu.

Gue Liandra, senior lo di kampus.

- Ada apa ya Bang? - Gue ke sini.

...mau menyampaikan pesan dari mamanya Elsa.

Dia bilang, lo harus jauhin Elsa.

Sejak Elsa kenal sama lo, Elsa jadi sering pulang malam.

Dan mamanya tidak suka.

Mau di bawa ke kios yang mana?

Elsa, kamu ngapain?

Seharusnya kamu yang mengantar dia, bukan perempuan itu yang mengantar kau.

Kemarin pas hujan-hujan dia pulang...

...Elsa harus periksa ke dokter, karena kondisinya menurun.

Itu saja yang mau gue sampaikan. Gue harap lo mengerti.

Itu semua demi kebaikan Elsa.

Satu lagi.

Lo jangan kebanyakan tingkah di kampus.

Selama ini gue masih menahan temen-temen gue agar tidak menyentuh lo.

Lo tau itu kenapa?

Karena Elsa. Ingat itu.

Semoga kamu tidak bertengkar lagi.

Ya, aku janji.

Siapa tadi?

Tidak biasanya kau seperti ini.

Ada dua tokoh penting dalam filsafat.

Pertama, Plato. Kedua, Aristoteles.

Hari ini, kita akan berkenalan dengan dua tokoh ini.

Yang pertama Plato dan Aristoteles...

Masuk.

Kenapa kamu terlambat?

Karena saya tidak tepat waktu, Pak.

Saya ini sudah mengajar puluhan tahun.

Baru sekarang saya dengar jawaban seperti itu.

Ya sudah, itu jawaban yang jujur. Sana.

Kita lanjutkan.

Dasar pengajaran Plato adalah...

...pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.

Yang kedua, Aristoteles. Ilmu yang mengikuti kebenaran...

Malik! Makan, yuk? Aku traktir deh.

Malik?

Aku tidak bisa. Ada kerjaan tambahan.

Duluan ya, Elsa.

Kamu kenapa sih?

Terima kasih, Bu.

Hei, Malik!

Banyak tingkah nih anak!

Jangan bertingkah!

Ayo, sini, ayo!

Teman-teman, Malik bertengkar di kantin.

- Siapa? - Malik.

Malik?

Ayo!

Malik!

Elsa! Kamu mau ke mana?

Malik, jangan bertengkar!

Lepaskan!

Tenang. Kamu tenang, Elsa.

- Halo, Elsa? - Halo?

Papa anfal, kita harus ke rumah sakit sekarang juga.

Kamu kuliah saja.

Tidak apa-apa. Elsa kan jarang menemani Papa.

Maaf, ya Pah.

Maaf untuk apa?

Elsa sudah membuat mama dan Papa khawatir.

Sampai darah tinggi Papa kambuh lagi.

Elsa, kamu duduk sebentar. Papa mau bicara.

Ya, Pah.

Elsa, asal kamu tahu, mamamu sangat sayang padamu.

Dia hanya ingin kamu kuliah yang benar, jadi orang sukses.

Elsa, bergaul itu boleh, asal kamu tahu batasnya.

Kamu itu anak perempuan Papa dan mama satu-satunya.

Ya, Pah.

Elsa minta maaf.

Papa hanya berharap, kalau kamu punya kesempatan, kunjungi adikmu, Chandra.

Dia pasti sangat kangen sama kamu.

Ya, Pah.

Chandra, berhenti! Chandra!

Chandra, stop! Chandra!

Chandra, berhenti!

Chandra!

- Lubis! - Ya?

Ini apa?

Kau sudah membacanya?

Ini apa?

Maaf. Aku sudah mengirim tulisanmu di ajang kompetisi.

Ternyata kau menang!

Malik, hidupmu itu sulit.

Mungkin ini cara Tuhan untuk mengubah hidupmu.

Niatku baik. Kau jangan marah padaku.

Bagaimana aku bisa marah?

Kau sudah membantuku sampai seperti ini.

Ini impianku, Lubis.

Ambil, Malik. Jangan kau sia-siakan.

Aku harus pulang. Aku harus mengabari ayahku.

Ya.

Sekarang ini bahan-bahan serba mahal.

- Bu? - Ya.

Maaf, melihat Malik hari ini?

Tidak lihat.

Ya sudah, terima kasih, Bu.

- Bu? - Ya?

Maaf mau bertanya, hari ini Malik datang ke pasar?

Dari tadi saya belum melihatnya.

- Terima kasih, Bu. - Ya.

Maaf ya, saya buru-buru.

Malik.

Mana calon kamu?

Mana calon kamu?

Permisi, Pak?

Numpang tanya, Bapak tahu rumahnya Elsa?

Kamu yang namanya Malik?

- Ya, Pak. - Bapaknya Elsa kemarin kambuh sakitnya.

Harus dirawat di rumah sakit.

- Terima kasih informasinya. - Ya.

- Saya pamit dulu, ya Pak - Oke.

Assalamualaikum.

Elsa.

- Lubis. - Ya?

Maaf Elsa mau tanya, Maliknya ada?

Malik sudah pulang kampung.

- Terima kasih, Lubis. - Ya.

- Elsa boleh minta tolong lagi? - Boleh.

Kalau Malik sudah kembali, kabari Elsa, ya?

Ya, nanti dikabari.

- Maaf Bang, merepotkan. - Ya, tidak apa-apa.

Permisi.

Assalamualaikum. Bapak?

Waalaikum salam.

- Bapak? - Malik? Kamu pulang, Nak.

Bapak kangen sama kamu.

Ayo masuk.

- Kamu dapat beasiswa? - Alhamdulillah, Pak.

Sudah adzan Subuh.

Ayo, kita sholat Subuh dulu.

Ya.

Allah Mahabesar.

Siap ke Belanda?

Siap.

Sebentar ya.

Bang Rizal.

Saya suka banget sama Bang Rizal.

Saya boleh minta kenang-kenangan?

Kenang-kenangan, ya?

Pick gitar, mau?

Boleh.

- Ini. - Terima kasih.

Sama-sama.

Kapan datang?

Hei, Lubis. Tadi jam 12.

Kau tumben pulang jam segini.

- Dari mana kau? - Tadi aku dari kampus.

Mulai hari ini aku sudah sibuk di aktifitas kampusku.

Oh, ya. Tadi siang aku ditelepon sama orang imigrasi.

Katanya dia mau mengantar paspormu besok pagi.

Kenapa sangat cepat? Jangan-jangan kau pakai ilmu hitam, ya?

Kalau soal visaku diurus sama pihak penerbit.

Jadi bisa cepat.

Kamu sudah bertemu mereka? Bagaimana orang-orangnya?

Awalnya kukira mereka kaku.

Ternyata sangat asyik orangnya.

Oh ya.

Sempat aku membahas soal menulis novel.

- Tiba-tiba... - Apa?

Coba kau lihat di bangku ada apa.

Aku penasaran. Aku lihat dulu, ya?

Piza!

Kamu traktir aku?

- Iya dong. - Keren. Hebat ya.

Ini boleh aku coba?

Ya makanlah, habiskan.

Aku jarang makan yang seperti ini.

Keren.

Terima kasih, Pak.

Hati-hati di jalan. Belajarlah yang baik dan jangan lupa berdoa.

Ya, Pak.

- Kau antar dia, Lubis. - Ya, Pak.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Lubis.

Lubis, terima kasih atas bantuanmu selama ini.

Aku bersyukur jadi temanmu.

Aku tidak.

Awas kau ya. Nanti aku tidak pulang lagi, baru tahu rasa kau.

Bercanda. Pokoknya, jangan sampai tidak ada kabar.

Siap.

Oh, ya Lubis.

Ada apa?

Aku titip ini untuk Elsa.

Kalau kamu bertemu.

Ya, nanti kalau bertemu Elsa, nanti aku kasih.

Aku pamit, ya.

Elsa, sini.

- Sebenta ya. - Oke.

Akhirnya kita bertemu juga. Aku mau memberi kabar.

- Soal Malik? - Ya.

Itu, pesawatnya berangkat jam 8 malam.

Ada titipan untukmu.

Ini.

Ya, terima kasih Bang, tapi Malik mau terbang?

Ya, aku lupa kasih tahu kalau Malik jam 8 ini berangkat ke Amsterdam.

- Amsterdam? - Ya.

Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mengajakmu terbang naik pesawat.

- Yakin? - Kalau tidak yakin...

...aku tidak akan ada di sini sekarang.

Terbangkan pesawatnya.

Mama tidak suka, Elsa.

Mulai sekarang...

...tolong kamu jauhi dia.

Kamu paham?

Malik! Makan yuk?

Aku tidak bisa.

Namaku Malik.

Elsa.

Aku mau sukses...

...membahagiakan orang tua, dan traktir kamu.

Aku ingin jadi guru.

Satu negara bisa hancur kalau gurunya tidak sejahtera.

Karena tidak bisa maksimal mencerdaskan anak bangsa.

Terima kasih atas pelajaran hidupnya.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalananku meraih mimpi.

Elsa, maaf aku belum sempat menemuimu.

Dan meminta maaf atas kesalahanku.

Aku akan pergi ke Amsterdam untuk kuliah dari program beasiswa di sana.

Aku berjanji akan pulang.

Karena aku harus menepati janjiku untuk mentraktir dan mengajakmu naik pesawat.

Di Amsterdam, aku pasti akan suka senja dan menantinya setiap hari.

Karena dengan begitu, kamu menjadi terasa dekat.

Aku akan selalu merindukanmu, Elsa.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.