Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Iklankan produk atau merek dagang Anda di sini dengan menghubungi www.OpenSubtitles.org sekarang
SEKOLAH OPERA TIONGKOK
- Saat di sana, jaga sikapmu. - Ya.
Jangan berkelahi dengan teman sekelasmu, ya?
Kau mendengarku, Nak?
Ya!
Lebih tinggi!
Lebih kencang! Bukan begitu caranya bersalto!
Lebih kencang!
- Kalian mencari siapa? - Guru Yu.
- Tunggu sebentar. - Lebih kencang!
Guru.
Awas, nanti terluka!
Berikutnya, Sammo.
Guru.
- Ada apa? - Ada yang mencarimu.
Sammo, bawa mereka berdiri dengan tangan selama dua jam.
Ya. Berbaris!
Cepat!
Kubilang berbaris! Ikuti aku.
Berbaris!
Siap! Satu, dua, tiga!
Ny. Chan? Silakan lewat sini.
Ayo, Nak.
Duduklah.
Terima kasih, Guru Yu.
Sudah tahu prosedur pendaftaran?
Ya.
Berapa lama kau mau anakmu di sini?
Apa setiap hari hanya berlatih pedang dan salto?
Ya.
Tak ada PR?
Tidak.
Bagus! Aku ikut sepuluh tahun!
Apa kita akan sepakat 10 tahun?
Baik! Ayahnya...
- Lihat apa, Hidung Besar? - bekerja di Australia.
Dan aku juga akan ikut serta.
Tak ada yang bisa merawat anakku.
Dia sangat nakal.
Ini kontraknya. Silakan dilihat.
Aku tak bisa membaca.
Akan kubacakan kalau begitu.
"Li Yuk-lan dengan ini setuju
bahwa anaknya, Chan Kong-sang, usia sembilan tahun
menjadi murid Yu Jim-yuan
di Opera Peking selama sepuluh tahun.
Selama periode ini seluruh pendapatan Chan diberikan kepada Yu
yang akan digunakan untuk membiayai akomodasi.
Chan dilarang pergi atau pulang tanpa alasan yang bisa diterima Yu.
Seluruh keadaan kahar atau penyakit merupakan Kuasa Tuhan.
Jika dia membangkang, dia akan dipukuli hingga mati.
Tak akan ada pertanyaan.
Pada berakhirnya masa kontrak, dia akan membayar Guru dengan sewajarnya.
Kontrak ini akan segera berlaku,
pada hari ini, 1 December 1962.
Ditandatangani oleh Li Yuk-lan."
Rindu rumah, Hidung Besar?
Tidurlah. Masih banyak hari yang berat di depan.
Aku sudah lukis satu sisi wajah kalian,
kau lukis sisi sebelahnya.
Paham? Mulai!
Biao! Kenapa tiap sisi berbeda? Ulangi lagi!
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.
Berputar lebih cepat!
Bertahanlah!
Kuda-kuda!
Luruskan kakimu. Duduk yang lurus!
Satu, dua, tiga!
Lagi!
- Hidung Besar, kau baik-baik saja? - Kau tak apa-apa?
Satu, dua, tiga, berputar! Berputar!
Satu, dua, tiga, berputar!
Sammo, kemarilah!
- Tujuh kali salto! - Ya.
Ayo!
Sekarang, angkat kepala dan tunjukkan wajah kalian
Berjalan lebih cepat.
Angkat lebih tinggi.
Permisi! Tolong geser sedikit!
Sial! Lebih cepatlah!
Merepotkan sekali! Cepat!
Pergilah! Cepat!
Cepat pergi!
Berhati-hatilah.
Ayah, aku sudah pulang sekolah.
Beraninya menyenggol anakku.
Aku benci orang yang menyenggol anakku!
Kau tak apa-apa?
Anak sialan! Menjerit seperti hantu setiap pagi!
Terima besi bekas!
Lihat! Kumpulan botak sudah datang!
Jangan berkelahi. Ada Guru!
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam!
Babi botak! Sekumpulan babi botak!
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam!
Babi botak! Sekumpulan babi botak!
TAMAN HIBURAN LAI YUAN
Ibu, cepatlah!
Cepat. Lekas, bersiaplah.
Cepat! Beri aku pertunjukan yang bagus!
- Ya, Guru. - Ya.
Rokok, kacang, kuaci.
Rokok, Guru Yu.
Kacang, kuaci.
Rokok, kacang, kuaci.
- Guru Yu! Silakan handuk hangat. - Ya.
- Penontonnya ramai! - Lumayan.
Kini kau senang.
Hidung besar, saatnya beraksi!
Cepat, Hidung Besar!
Ya.
Hei, celanamu!
Hebat!
Serang!
Bagus!
Bagus!
Bagus!
Ini semua salahmu!
- Celana sialan! - Kau bodoh!
Di mana si mata-mata? Minta dia naik panggung sekarang!
Aku tak bisa menemukannya!
Kenapa si mata-mata belum keluar?
Kenapa belum ada yang keluar?
- Di sini juga tak ada. - Dia sungguh merepotkan.
Sekarang apa, Kakak?
Kali ini kita tamat!
Biar aku yang coba!
Si mata-mata bilang malam ini terlalu dingin,
dan para musuh sudah pulang untuk makan dan tidur.
Dan pertunjukan kami telah usai!
Apa! Begitu saja! Pertunjukan yang buruk!
Ini dia si mata-mata!
Jangan keluar!
Ah Biao! Pertunjukan sudah usai!
Yang Mulia! Kita dikepung musuh!
Kali ini kita akan mati!
Yang pasti kau yang akan mati!
Para musuh sudah pulang untuk acara radio!
Bangun!
Apa yang kau lakukan tadi?
Katakan! Apa yang kau lakukan tadi?
Tidur.
Kau yang paling pintar.
Setidaknya kau tahu yang kau lakukan.
Di mana yang lainnya?
Keluar, kalian semua!
Malam ini kalian tidak dapat makan.
Sungguh prajurit-prajurit yang bodoh! Sialan!
Aku sangat lapar.
- Aku juga. - Kau merepotkan!
Ikut aku! Aku akan carikan makanan.
Lepas bakiakmu agar tak besuara.
Ide bagus!
Ada remah-remah di sana.
Terlalu tinggi!
- Ambil tangga! - Kau benar.
Turunlah! Cepat! Kita akan ketahuan.
Wow! Apa ini?
Remah-remah di air manis.
Rasanya enak!
Tambah lagi gulanya!
Beraninya kau mencuri...
tetapi tak berani tampilkan Opera Peking? Kemari!
Turun dan pelorotkan celanamu! Cepat!
Turun!
Kau turun di situ.
Diam! Jangan bergerak!
Jangan bergerak atau kupukulli sampai pingsan!
Jangan berputar!
Kenapa mencuri?
Kau berani mencuri?
Akan kupukuli kau. Diam!
Jangan menangis!
Jangan menangis!
Aku tak akan menangis!
Aku juga tak akan menangis!
Bernyanyi lebih bagus dan makananmu lebih enak!
Remah di air manis? Tak berguna.
Bekerja keras dan makananmu cukup!
Ranjang payah! Murid payah!
Nak!
Nak, Ibu datang.
Kemarilah dan mandi!
Nak!
Lepas handukmu! Diam! Jangan bergerak!
Diam! Jangan bergerak! Jongkok!
- Jangan menangis! - Dingin sekali.
Jangan terlalu kencang, Kakak, rasanya sakit!
Diam!
Rasanya dingin.
Ini tidak dingin.
Sabunnya masuk ke mataku!
Jangan menangis atau kumandikan sepanjang pagi!
Apa kau jadi anak baik?
Ya.
Dengarkan gurumu dan jangan nakal.
Ibu, jangan menangis. Ini tidak sakit.
Aku sudah besar. Orang-orang akan menertawakanku.
Bocah konyol!
Setelah mandi, kau akan merasa segar dan bersih lagi.
Siapa yang berikan itu?
Ibuku.
Apa rasanya manis?
Bagaimana rasanya? Maniskah?
Bagaimana rasanya? Maniskah?
Ambillah.
- Apakah segar? - Ya.
Biar kucoba setelah kau selesai.
Bagaimana rasanya?
Segar!
Kau pikir kau bijaksana.
Kau pikir kau bijaksana.
Kupikir aku bijaksana.
Kupikir aku bijaksana.
Bijaksana atau tidak bijaksana.
Bijaksana atau tidak bijaksana.
Bermain lagi, Bandel? Keluar sana!
RAJIN
Jangan kembali sampai kusuruh!
Mari berlatih bagian kedua.
Di manakah kemuliaan rumput, kejayaan bunga?
Ataukah musim terbaik telah usai?
Kutundukkan kepalaku, aku pergi dalam duka.
Selamat jalan kepada yang tetap merenung.
Di manakah kemuliaan rumput, kejayaan bunga?
Ataukah musim terbaik telah usai?
Paman Hua.
Kalian berdua pasti membuat Guru marah lagi.
Turunlah dulu, Nak!
Selamat jalan kepada yang tetap merenung.
Siapa yang menyuruhmu masuk? Keluar!
Ayo makan biskuit!
- Hua. - Kakak.
Kalian berdua keluar! Dengar tidak?
Cepat keluar!
Jangan semarah itu!
- Makanlah biskuit ini. - Paman Hua!
Halo, semuanya!
Kalian sering nakal hingga Guru marah.
Tetapi kalian berdua yang paling nakal.
Sekarang makanlah biskuit.
Terima kasih, Paman Hua.
Bagikan kepada yang lain.
Mari kita pergi minum.
Kau memang pemarah.
Sammo, suruh mereka mengulang kalimat itu.
Lalu ke dermaga untuk ambil beras bantuan.
Kalian berdua keluar!
- Belikan sesuatu untuk semuanya. - Aku tak bisa.
Ambillah.
Guru, apa kau akan pulang larut malam?
Bukan urusanmu!
Diam!
Kalian anak nakal! Duduk yang benar!
Ikut aku.
Kau pikir kau bijaksana.
Kau pikir kau bijaksana.
Kupikir aku bijaksana.
Kupikir aku bijaksana.
Bijaksana atau tidak bijaksana.
Bijaksana atau tidak bijaksana.
Hanya Tuhan yang tahu.
Hanya Tuhan yang tahu.
- Guru sudah pergi! - Ya! Akhirnya bebas!
PEMBAGIAN MAKANAN AMAL
Awas jangan sampai jatuh.
Ayo!
Dah!
Ia sedang tidur.
Lucu sekali, tidak bergerak sama sekali.
Aku suka ikan besar konyol ini.
Bodoh sekali, ikan besar ini.
Aku suka yang kecil, mungil.
- Biao menangkap ikan. - Lari!
Cepat!
- Berikan kepadaku! - Ini.
Ayo ke sana.
Aku pergi ke sekolah naik bus.
Aku pergi ke sekolah naik bus.
Aku pergi ke sekolah naik kereta.
Aku pergi ke sekolah naik kereta.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam!
Babi botak! Kumpulan babi botak!
Pergi dari sekolah kami!
Pergi!
Toples ikanku pecah! Kembalikan ikan masku!
Pukuli mereka!
Cepat lari!
Akan kulaporkan kepada guru kalian!
Laporkan saja! Tikus Kecil!
Tikus Kecil! Tikus Kecil yang rabun!
Sampai jumpa, Guru Chan.
Paman Sun, boleh minta cabai?
Tentu.
Kau mau juga?
Minumlah. Mataharinya terbenam.
Masih ingat jeritan burung nuri Guru?
Bagaimana bisa lupa?
Jangan makan cabai terlalu banyak.
Itu tidak baik untuk suaramu.
Jangan cereweti aku.
Berapa banyak kesempatan yang masih kita punya?
Bagaimana kabarmu?
Seperti biasa.
Menjadi pesuruh sebagai stuntman. Aku beruntung jika disuruh menendang.
Dan rusuk patah jika kurang beruntung.
Lihat, ini dipukul oleh mega bintang kungfu.
Dan ini karya agung ratu film.
Sabarlah dan suatu hari kau akan berhasil.
Ini hidup. Tiga puluh tahun keberuntungan, tiga puluh tahun kesialan.
Dan umur enam puluh tahun kau mati!
Diam! Ayo.
Minumlah
Senang berjumpa denganmu.
Aku selalu ingat masa kecil kita.
Badai atau salju.
Kita bangun pagi dan berlatih keras.
Dan setelah keringat 20 tahun, aku hanya pemain ekstra.
Kau akan mendapat peluang.
Suatu hari, aku yakin
kau akan kembali ke panggung.
Pegang ucapanku.
Kuharap kau juga.
Biarkan aku bernyanyi satu kali. Sekali saja cukup.
Buat apa? Ayo kita bernyanyi sekarang!
Ayo!
Anggap aku Xiang Yu!
Dulu aku lebih kuat
Dan lebih menawan daripada yang lain
Tetapi aku tak beruntung pada peperangan
Ribuan kudaku tak berguna
Tak berdaya
Karena strategi yang buruk
Bahkan selirku
Tak bisa kuselamatkan
RESTORAN-TOKO ROTI
Kita menang! Ayo!
Cepat!
Kakak, kita ke mana sekarang?
Kembali ke sekolah.
Bagaimana caranya? Ini jauh sekali.
Naik bus.
- Tetapi kita tak punya uang! - Benar uangku habis.
Aku juga. Aku membeli balon.
Bagaimana cara kita pulang?
- Busnya datang! - Sekarang bagaimana?
Ikuti aku!
Bagaimana kita bisa masuk tanpa uang?
Kita coba saja! Ikuti ucapanku!
Baiklah. Kami akan ikuti.
Cepat! Naik.
Tiket, Nak.
Aku kerabat.
Siapa saudaramu?
Kondektur 1033.
Tiket.
Kerabat! Kondektur 1033.
1033 lagi?
Apa hubunganmu dengan 1033?
Dia ayahku.
Ayahmu?
Ayah?
Kerabat... 1033!
1033 lagi?
Apa hubunganmu dengan 1033?
Dia ayahku.
1033 sungguh ayahmu?
Ya! Dia ayahku! Ayah mereka juga.
- 1033 ayahku. - 1033 ayahku.
- 1033 ayahku. - 1033 ayahku.
Berandal kecil!
Hebat!
Kita berhasil!
Nak, kalian sungguh berani!
Apa?
Sejak kapan 1033 punya begitu banyak anak botak?
Ayahku seorang biksu.
Ya! Ayah kami biksu.
Sangat lucu, ya?
Coba melucu kepada polisi!
Hei, langsung ke kantor polisi!
Ada sekelompok berandalan di sini!
Baiklah!
Kakak, sekarang bagaimana?
Bawa berasmu! Bersiap kabur!
Yang Mulia! Mohon lepaskan kami!
Tidak, anak berandalan!
- Kembali ke kursimu! - Aku mohon.
Kembali ke kursimu! Kalian pantas menerima ini!
Tolong!
Hati-hati menyetirnya! Bedebah!
Lompat! Cepat!
Kalian berdua lompat dari belakang!
FERI HONG HOU 38
Tunggu sampai kutangkap kalian!
Kakak, tolong!
Lompat! Cepat!
Aku tak bisa.
Kembali, anak berandal!
Masuk!
Kutangkap kau! Berandalan botak!
Kau pikir kau bijaksana, kupikir aku bijaksana.
Bijaksana atau tidak. Hanya Tuhan yang tahu.
Jangan bergerak! Kenapa kau selalu keluyuran?
Kau mau merayap ke mana?
Tempat tidur payah!
Sudah!
Coba merayap! Coba!
Bagus! Tempat tidurnya kokoh.
Kura-kuranya juga diam.
Orang Shanghai, keluar!
Tak ada orang Shanghai di sini! Hanya orang Peking!
Berat 104 kg dan hampir 40 tahun!
Kau mau apa?
Lihat, anak-anak botakmu
membuat kepala anakku bocor!
Anakku harus belajar
dan masuk Universitas Hong Kong nanti!
Bagaimana jika otaknya rusak?
Muridku tak pernah gunakan kekerasan.
Anakmu pasti memancing mereka!
Aku tak memancing mereka, mereka memancingku!
Dengar itu, Orang Shanghai?
Anak-anakmu memancing putraku!
Bagaimana muridku
memancing dia, Orang Rabun?
Bagaimana? Beri tahu aku!
Mereka memanggilku tikus rabun!
Tikus rabun apa?
Anakku rabun karena bejajar tekun.
Tidak seperti anak-anak botakmu,
yang tidak dibesarkan oleh ayah dan ibu!
Apa katamu?
Murid-muridku dibesarkan oleh aku!
Semuanya bersikap baik.
Aku ayahnya dan aku ibunya! Lalu?
Aku tak mau berdebat dengan kelas bawah!
Nak, ayo pulang.
Pelacur tak punya cinta sejati, aktor tak punya perasaan sejati.
Ayah pelacur itu apa?
Sundal!
Bukan begitu cara mengajari anak!
Bukan urusanmu!
Pembual! Aktor adalah yang terburuk!
Kau yang terburuk!
Apa pendidikanmu menjadikan mulutmu kotor?
Apa gunanya gelar
jika kau jahat!
Sarjana terlalu lemah untuk ambil risiko dan terlalu bermartabat untuk mengemis.
Aku tak paham apa yang kau bicarakan!
Anakku akan belajar untuk jadi pengacara,
arsitek, atau akuntan. Hidupnya akan mapan.
Tidak seperti anak-anak botakmu
yang harus terus bersalto dan tak bisa hidup mapan.
Kami punya cita-cita yang tinggi!
Bahkan jika kami jatuh itu berarti kami pernah lompat ke sana.
Butuh tiga tahun untuk melatih sarjana, tetapi sepuluh tahun untuk aktor.
Saat babi bisa terbang
baru anak-anak botak itu bisa jadi aktor!
Apa katamu?
Nak, teruskan belajarmu!
Ayo masuk. Jangan ikut campur.
Lihat jika Guru sudah pulang.
Dia sudah tidur.
Jangan ribut.
Kupikir kalian tak akan kembali!
Jangan rendah diri
bahkan jika orang merendahkanmu!
Kemarilah!
Ayo kita mulai lagi!
Letakkan berasmu. Peregangan kepala di kaki 30 kali!
Ayo!
Satu!
Dua!
Tiga!
Empat!
Lima! Enam!
Sembilan!
Sepuluh! Sebelas! luruskan kakimu!
Dua belas!
Empat belas!
Tiga belas!
Dua belas!
Lima belas! Dua puluh!
- Lihat betapa menderitanya mereka, Nak! - Dua puluh lima!
Belajar yang giat atau kau kujadikan murid Guru Yu!
Dua puluh sembilan!
Tiga puluh!
Tiga puluh satu!
Tiga puluh tahun keberuntungan, tiga puluh tahun kesialan.
Butuh tiga tahun mengajar sarjana, dan sepuluh tahun seorang aktor.
Sepuluh tahun. Sebelas.
Dua belas. Delapan belas. Enam belas.
Kalian semua sudah besar.
Potongan rambut baru untuk Tahun Baru.
Sudah, Guru Yu!
Ayo, cepat! Matahari terbenam!
- Berhenti membaca. - Lekas.
- Ayo. - Letakkan itu.
Tunggu aku.
Berapa?
Harga 4,50 dolar, diskon khusus untukmu.
Ini amat menyenangkan!
Apa itu? Boleh aku minta?
- Tidak! - Beri aku satu!
Aku juga!
Hati-hati!
Aku juga!
Guru Wong.
JASA SEMIR DAN REPARASI SEPATU ISTIMEWA
Berikanlah tali sepatu gratis.
Baiklah, ini Tahun Baru!
Kalian sedang apa?
Hati-hati!
Jangan sampai melukai orang lain.
Pegang seperti ini.
Kalian anak-anak botak!
Hati-hati, Hidung Besar!
Ada apa di sana?
Siapa yang beri kembang api?
Lebih tinggi!
Hati-hati tanganmu. Ini Tahun Baru. Jangan sampai ada yang terbakar.
Kalian anak-anak botak membuatku pusing.
Selamat Tahun Baru!
Guru Yu, Selamat Tahun Baru!
Semoga tahunmu makmur!
Kau juga!
Kau juga!
Cukup, ayo!
Matahari terbenam! Bawa barang-barangmu. Ayo.
Nak, mari pulang
untuk makan Tahun Baru!
Lekas!
- Ayo. Cepatlah. - Cepat!
Jangan sampai telat untuk pertunjukan.
Hebat!
Hebat!
Guru Yu, murid-muridmu hebat.
Terima kasih!
SEMOGA SEMUA AMAN
Lepaskan topik...
Baiklah!
Kakak, aku hari ini bagaimana?
Pertunjukanmu bagus!
Kakak, penonton masih tepuk tangan.
Kau sudah pernah lihat orang tepuk tangan. Masuklah!
Beraninya kau mencuri makan, Hidung Besar!
Jangan sampai Guru tahu!
Kau lagi, Hidung Besar! Berani sekali kau!
Kau sudah besar masih saja mencuri makanan.
Ayo semuanya keluar untuk berfoto!
Baik, Guru!
Mari keluar untuk berfoto!
Cepat! Guru menunggu di luar.
Lekas!
Cepat! Matahari terbenam!
Cepat!
Siap berpose!
Siap? Satu, dua, tiga.
Guru, kau bergerak.
Ya, kau bergerak.
- Aku tidak bergerak. - Kau bergerak.
Guru, kau bergerak.
Kau bergerak.
Tak mungkin! Aku sudah memotret bertahun-tahun.
Tak mungkin! Diam dulu!
Ayo ambil lagi!
Baik! Guru tidak bergerak tetapi kita.
Kita yang bergerak.
Siap? Satu, dua, tiga.
Lihat? Aku tak bergerak, kan?
Lihatlah si bodoh itu. Lucu, ya?
Pasti itu ditempelkan ke kepalanya.
Bagaimana jika menempel sungguhan?
Hidung Besar, jangan bermain-main!
Kembalilah! Guru mencari kita! Cepat!
SULAP
Guru, apa kau mencari kami?
KELOMPOK PHOENIX KANTON
Kelompok Phoenix Kanton butuh orang untuk prajurit.
Akan kubawa kalian ke sana menambah pengalaman.
Apa di teater Nomor Enam sudah tak ada sulap?
Orang sudah bosan melihat
trik yang sama setiap malam!
Bukankah mereka punya prajurit sendiri?
Dalam hal keahlian,
kelompok Peking Opera kita adalah yang terbaik.
Tim kita dilatih sejak kecil...
BAND KLUB HATI YANG KESEPIAN BEATLES
Jangan ribut, ayo jalan!
Berjalan lebih cepat.
Diam! Kalian menyanyi apa?
Biar kuberi tahu.
Kalian harus jaga sikap!
Jangan sampai aku malu!
Ini salahmu!
Dia sudah lama tak menulis untukku.
Jaga sikap kalian.
Apa Guru Cheng ada?
Dia di dalam sana.
Terima kasih.
Apa kau Guru Yu?
Ya, Guru Cheng.
Terima kasih untuk membantu kami, Guru Cheng.
Sama-sama.
Begini, kami akan adakan pertunjukan pekan depan.
Dan kami masih butuh beberapa prajurit.
Tak masalah. Mereka di sini.
Anak-anak muda ini?
Mari latihan saat kau ada waktu.
Besok boleh saja.
Guru Yu, kau orang sibuk,
biarkan mereka datang sendiri.
Tak apa. Lebih baik bila aku ikut mereka.
- Itu lebih baik. - Baiklah.
Kapan pertunjukannya.
Sabtu depan di dermaga.
Begitu... pertunjukan luar ruangan.
Bagaimana jika hujan di hari Sabtu?
Hujan?
Aneh sekali aku!
Jika Sabtu hujan, kita akan ubah hari Jumat!
Ya, ubah hari Jumat.
Kalau begitu, kita jumpa besok.
Aku harus kembali latihan.
Tentu.
Dah.
Sekak!
Hei, sekak!
Sekak?
Gajah, maju tiga langkah!
Hei! Gajah tak bisa melintang!
Gajah, tujuh langkah mundur.
Makan gajah dan sekak lagi.
Mari coba lagi. Satu, dua, tiga!
Semuanya dengarkan.
Pengaturan waktunya kurang bagus tadi.
Mari coba lagi.
Babak ini adalah pertarungan.
Saat kutendang mukamu, Hidung Besar,
kau harus bersalto ke samping.
Lalu segera bangkit.
Hidung besar, kau paham?
Ya.
Mari coba lagi.
Siap? Satu, dua, tiga!
Kau tak apa-apa? Maafkan aku.
Hsiao-hsien, bawakan obat luka.
Tak perlu diobati. Aku tak apa-apa.
Yakin? Kalau begitu, makanlah anggurnya.
Ayo.
Hsiao-hsien, bawakan juga untuk Guru Yu.
Apa itu sakit, Nak?
Tidak.
Begini saja? Aku mengadakan jamuan makan malam ini.
Kalian semua datang saja.
Kami harus meminta izin Guru dulu.
Aku akan selesaikan ini!
Guru Yu.
Apa kau kosong malam ini? Mari makan malam bersama.
Tidak, terima kasih.
Datanglah.
Tidak, terima kasih.
Ayolah.
Tidak.
Ayo! Punyamu hanya tersisa marsekal!
Dia akan datang! Dia kalah banyak!
Kau datang atau tidak?
Guru Yu, silakan anggurnya.
Terima kasih.
Ambilah serenceng.
Terima kasih.
Guru Yu, datanglah malam ini.
Ini hari ulang tahun Guru kami.
- Sungguh? - Ya.
Apa aku harus bawa hadiah?
Ya, bawakan saja kue ulang tahun.
Kue ulang tahun?
Apa kau akan datang?
Akan kuusahakan.
Sammo, Hidung Besar, kalian pergi saja duluan.
Aku akan datang sendiri.
Aku akan datang jika bisa. Jangan ditunggu.
Kukalahkan kau nanti!
Kau bercanda!
Guru Yu, rapi sekali hari ini!
- Kau punya kue ulang tahun? - Tidak,
tetapi kami punya banyak kue Tiongkok.
Semuanya enak. Kau mau?
Maaf, aku mencari kue ulang tahun.
Kau bisa ambil kue teratai ini.
Apa ini bisa untuk kue ulang tahun?
Itu tidak cocok.
Aku akan cari di tempat lain.
Ada anak lelaki yang menatapmu.
Berhenti menatap para gadis.
Hidung Besar, jangan menatap!
Itu bukan urusanmu.
Lihat, dia pergi!
- Pergilah. Dekati dia. - Kenapa?
Bilang saja, aku Hidung Besar,
dan aku mau jadi temanmu.
Pergilah!
Itu terdengar kurang keren.
Itu tidak penting. Pergilah.
Cepat.
Pergilah, sana!
Seperti itu.
Pergi sana!
Lihatlah mereka.
Apa kau Hsiao-hsien?
Ya, dan kau?
Aku... Teman. Aku mau jadi Hidung Besarmu.
Ya.
Apa kau punya hobi?
Musik.
Benarkah? Aku juga. Musik macam apa yang paling kau suka?
Opera Kanton.
Kadang juga musik Barat populer. Kau?
Aku juga!
Sungguh? Kau bisa bermain gitar?
Tidak.
Bagaimana drum?
Tidak.
Lalu kau bermain alat musik apa?
Radio. Aku pandai memindah seluran.
Kau punya kue ulang tahun di tokomu?
Kue ulang tahun?
Hal semewah itu butuh waktu lama untuk membuatnya.
Memanggang, menghias,
menaruh nama...
Kau harus memesan dua hari sebelumnya!
Aku tak bisa menunggu selama itu.
Cobalah kau pergi ke toko roti di tepi sungai.
Makanan asing yang keren begitu sulit dicari.
Pergilah ke sana. Naiki kapal
dan seberangi pelabuhan. Jalan hingga ujung Castle Peak Road
Lalu belok ke kiri.
Kau akan melihat toko kue di bundaran.
Di situ mungkin ada kue ulang tahun.
Seberangi pelabuhan, belok kanan.
Lalu ke kiri, sampai bertemu bundaran.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Guru Yu masih belum tiba?
Mungkin dia tidak datang.
Duduklah.
Mari makan dulu.
Kalian pasti lapar. Duduklah. Minumlah limunnya.
Ayo, Anak-anak! Jangan malu-malu.
Anggap saja rumah sendiri.
Kau mau campakkan aku demi seorang gadis?
Makanlah. Kalian pasti lapar.
Anggap saja rumah sendiri.
Aku datang!
Ini dia kue ulang tahun!
Guru Cheng, kuenya sudah tiba!
Kenapa kau begitu lama?
Maaf aku terlambat.
Silakan duduk.
Tentu.
Kupikir kau tak akan datang.
Maaf.
Aku belum pernah makan kue ulang tahun.
Butuh sepanjang petang mencarinya.
Mari kita lihat!
Nanti saja.
Mari kita lihat!
Nanti saja.
ULANG TAHUN PAMAN KAKEK KE-70
Selamat Ulang Tahun ke-70 Paman Kakek?
Kenapa tulisannya seperti ini, Guru Yu?
Aku baru tahu ulang tahunmu siang ini.
Aku mencari kue ulang tahun untukmu tetapi tidak dapat.
Aku pergi dari Shaukiwan ke Central dan dari Central ke North Point.
Dan akhirnya, aku dapatkan ini.
Pesanan batal.
Tak apa-apa. Mari makan.
Guru, kenapa pesanan Paman Kakek batal?
Ya, Kenapa, Guru Yu?
Si Pemilik Toko bilang si Paman Kakek wafat pagi ini.
Tak apa, Guru Yu, kami tak percaya takhayul.
Ayo, bersulang!
Guru Cheng.
Semoga kau selalu bahagia!
Kau suka minum juga?
Ya. Aku juga suka orang yang minum.
Orang yang minum lebih terbuka dan bisa diandalkan.
Aku setuju!
Guru Yu tinggal di bawah.
Terima kasih.
Sama-sama.
Ayo makanlah.
Guru ada kencan malam ini.
Aku tak bisa memberimu makan malam ini.
Guru Yu.
Kau datang cepat?
Silakan masuk.
Terima kasih.
Kenapa ada kura-kura di bawah ranjangmu?
Ya.
Ranjangku satu kakinya timpang,
dan kura-kuraku terus keluyuran.
Jadi kutaruh kura-kuranya di sana
agar ranjangku seimbang.
Kasihan.
Tak apa. Dia sudah di sana
selama tujuh tahun terakhir.
Kini ranjangku satu kakinya lebih tinggi.
Ia sudah di sana selama tujuh tahun?
Ya, usianya tujuh tahun.
Ia lahir di tahun kelinci.
Kau luar biasa.
Mari kita ke teras.
Lebih sejuk di sana.
Tentu.
Guru Yu, aku buatkan sesuatu untukmu.
Apa itu?
Bukan sesuatu yang mewah.
Kupikir
kau suka masakan rumah.
Manisan buah ini sangat pas untukmu.
Cobalah.
Terima kasih.
Terlalu manis?
Ini cabai untuk mengurangi manisnya!
Aku tak terbiasa makan makanan manis.
Biar kulihat.
Kau lebih tinggi 5 cm.
- Lebih tinggi 5 cm! - Hebat!
Luar biasa!
Hebat!
Mari lihat.
Jas putih dengan kancing hitam! Sangat keren.
Kerahnya terlalu sempit.
Bisakah kau buat kerahnya lebih lebar, Paman Ming?
Kerah lebar sedang tren sekarang.
Kenapa dilebarkan?
Itu sudah sempurna.
Kepalamu botak, hidungmu panjang.
Jika kerahmu lebar, kau akan seperti gajah.
Aku akan terlihat keren jika lebih lebar.
Lebarkan 2,5 cm, kumohon.
Tidak! Itu sudah sempurna.
Jika dilebarkan itu tidak logis!
Tanya putraku!
Ayah, mereka tidak logis,
tetapi kau tidak trendi.
Kau tak akan paham.
Itu sebabnya kubilang tren itu tidak logis.
Lihat betapa jeleknya celana kaki lebar itu.
Tampak menjijikkan!
Aku tak mau membuatnya
jika bukan karena uang!
Ayah, aku mau jalan-jalan.
Kau mau ke mana?
Aku akan kembali!
Cepat! Ada yang menunggumu.
Pulanglah pukul 22.30!
Aku tahu 22.30! Jangan cerewet!
Guru akan membunuhku
jika tahu aku menggantikanmu.
Tak akan bisa tahu dengan wajah terlukis.
Kau tak pernah dengarkan saran ayahmu.
Selalu bermain-main di saat kau harusnya belajar.
Pikirmu mudah
untuk bisa masuk universitas?
Satu, dua, tiga, empat.
Dua, dua, tiga, empat.
Tiga, dua, tiga, empat. Lagi!
Maaf, kau tak apa-apa?
- Mari coba lagi. - Tak apa. Lagi. Siap.
Sat, dua, tiga, empat, dua, dua...
Maaf!
Apa kau sengaja?
Kenapa akrobat sepertimu ceroboh saat menari?
Sudahi saja menarinya. Mari main gitar.
Buku ini cocok untukmu. Lihat?
Tari Pasangan.
Aku tak butuh itu.
Jangan cemas, ini sangat sederhana.
Ambillah.
Tak perlu.
Isinya hanya gambar, tak ada tulisan. Pelajarilah.
Mari main gitar! Kemari!
Ayo!
Hidung Besar, ikutlah!
- Ayo. - Kalian saja. Lagi pula aku tak bisa.
Kita akan belajar.
Ayo!
Aku tak ikut.
Jika kau tak mau main gitar,
kau mau main pingpong denganku?
Kau sungguh tak ikut?
Mainlah pingpong dengan adikku.
Bagus! Ayo main pingpong denganku.
Ayo cepat! Permainan 21 angka.
Aku servis duluan.
Apa dia sungguh tak ikut?
Biarkan saja. Ayo kita naik duluan.
Ayo.
Awas!
Ini dia bolanya!
Hei, ayo naik.
Ayo! Ada apa denganmu?
Aku tak ikut.
Biar kuberi tahu rahasia. Kemarilah!
Dia seperti gurunya.
Dia akan muncul sendiri nanti.
Anak aneh! Biarkan saja.
Satu-kosong!
Dua-kosong!
Tiga-kosong!
Kau payah, Botak!
Baiklah, mari main pingpong sungguhan.
Tiga-satu!
Tak soal! Lagi.
Tiga-dua, tiga-tiga, empat-tiga!
- Kau salah! - Apa?
Harusnya tiga-tiga.
Kau tak bisa hitung?
Kau main curang! Pikirmu aku tak tahu?
Kau mau dekati kakakku!
Apa? Siapa yang dekati kakakmu?
Kakakku akan sekolah lagi. Dia akan tinggalkan Opera Tiongkok!
Kau tak punya peluang, Botak!
Bilang lagi, dan kubunuh kau!
Jangan membual!
Ibuku bilang penyanyi opera itu tak ada gunanya!
Apa sarjana begitu hebat?
Tentu! Seperti temanmu di atas itu.
Dia bermain gitar dan menyanyikan Beatles.
Memang kau bisa?
Apa dia bisa bernyanyi Opera Peking?
Kalian berdua sedang apa?
Tak ada yang mau melihat Opera Pekingmu!
Kau terlihat konyol dengan celana kaki lebarmu.
Pulanglah dan bernyanyi, Botak!
Adik, naiklah!
Hidung Besar, kau juga! Naiklah!
- Bagus! - Kemarilah.
Duduk dan dengarkan aku bermain.
- Bagus, bukan? - Ya. Aku juga mau belajar!
Tanganmu kurang besar.
Ini cukup besar.
Sungguh?
Baiklah, ini.
Hebat!
Kakak, apa seperti ini cara mainnya?
Mana Hidung Besar?
Siapa yang peduli?
Menyerah!
Menyerah!
Hebat!
Mau juga, Guru Yu?
Tidak, terima kasih.
Penghitungan bulan lalu sudah selesai.
Maaf, tak ada bagi hasil untukmu.
Kau yang menghitung.
Tentu kau bisa berkata semaumu.
Lihatlah jumlah penontonnya.
Aku sudah periksa dengan cermat.
Lihat, ini hitungannya.
Terserah katamu! Aku tak peduli!
Kita teman lama! Aku tak akan menipumu!
Papan tanda bodoh!
Kupikir kau tak akan kembali?
Apa sudah giliranku?
Tidak, sudah selesai!
Bukankah katamu 22.30?
Kau tahu pukul berapa ini? Aku menggantikanmu!
Guru terus menatapku! Dia pasti menyadarinya!
Lalu kenapa? Aku tak peduli!
Kenapa kau tak bilang lebih awal?
Kau pikir aku tak mau kembali?
Apa kau gila? Kau mau apa?
Beraninya kau membantah Kakakmu! Aku akan pukuli kau!
Silakan! Kau juga tak pernah menyukaiku!
Aku sudah tahu itu!
Pukuli saja aku jika berani! Silakan!
Kau kupukuli saat kecil, aku bisa pukuli juga saat dewasa.
Silakan! Buktikan!
Sialan!
Kau berani memukulku?
- Hentikan! - Minggir!
Siapa tadi yang di panggung?
Kalian berkelahi?
Guru datang! Berhenti!
Kalian sudah berkelahi sejak kecil! Apa belum cukup?
Hidung Besar, kenapa kau berpakaian
seperti pemain band?
Siapa yang mengizinkanmu keluar?
Apa kau izinkan dia keluar? Kenapa kau biarkan dia keluar?
Kau tak melakukan tugasmu sebagai Kakak.
Beraninya kau biarkan dia keluar!
Kakak macam apa kau?
Jangan lari!
Jangan lari!
Jangan bergerak!
Jangan lari!
Guru Yu, jangan memukulnya.
Dia sudah dewasa.
Lari! Beraninya kau lari?
Kuajari kau salto dan kini kau bersalto menjauh dariku!
Pergi saja, aku tak peduli!
Aku tak peduli lagi!
Kau tipu gurumu. Kau tak pantas jadi Kakak!
Kelompokku tak akan tutup tanpa satu tiket,
atau satu murid!
Guru.
Pagi sekali?
Aku tak bisa tidur.
Ajak adik-adikmu berlatih saat mereka bangun.
Kakak...
Lipat kasurnya dan simpan di gudang.
Ya.
Anak-anak ini hebat.
Guru mereka melatihnya dengan baik.
Mau, Guru Yu?
Kau tak perlu datang lagi mulai pekan depan.
Lebih tinggi! Kau terlalu lemah!
Bos sudah membuat keputusan itu.
Kau harus cari cara lain.
Cukup. Tak usah bicara.
Beri aku penampilan yang lebih baik nanti! Terus berlatih!
PERTUNJUKAN WAJAH BERLUKIS
TARI MODERN BARU
Aku tampil bersama anak-anak ini sudah lama,
Tetapi aku belum pernah melihat-lihat tempatnya.
Mari jalan-jalan sebelum kau pergi.
Mari kunjungi Museum Lilin.
Kenapa tidak?
DILARANG MEMOTRET
Hidup hanyalah panggung sandiwara,
dan semua orang hanyalah aktor.
Dan aktor terbaik terjebak di sini sebagai patung lilin.
Aku tak percaya mereka membubarkan teater tradisional.
Tetapi tak ada yang bisa disalahkan.
Tak ada penonton.
Kata siapa tak ada penonton?
Para pria-pria tua di Restoran Peking,
para Guru di Rumah Sauna Shanghai,
mereka datang tiap malam.
Mereka tidak cukup
untuk mendukung kelompok.
Kelompok kehabisan uang,
dan kami juga kehilangan hasrat.
Tidak! Aku selalu berhasrat kuat.
Aku merasa cemas
bila tak ada pertunjukan.
Kau juga kehilangan hasratmu?
Aku mau membubarkan kelompokku
dan biarkan anak-anak coba bidang lain,
atau kembali sekolah.
Sungguh?
Ya! Hong Kong kini terlalu kebaratan.
Siapa yang peduli opera tradisional?
Ini seni yang sekarat!
Bahkan kau juga harus pikirkan juga.
Tak perlu.
Butuh sepuluh tahun untuk melatih aktor.
Aku tak mau menyerah di tengah jalan!
Tidak, pertunjukan harus berlanjut.
Aku mendapat tawaran dari pecinan di New York.
Aku mau lihat keadaannya di sana.
Ada banyak orang Tiongkok tinggal di sana. Mungkin kami bisa tampil di sana.
Kau mau ke sana?
Aku tak mau meninggalkan sekolah yang kudirikan.
Mungkin lebih baik bagi muridmu.
Tetapi artinya latihan selama ini jadi sia-sia.
Kau yang putuskan sendiri.
Tetapi kau bisa datangi aku jika sudah lelah tampil.
Baiklah.
Datanglah dan kita bisa minum bersama.
Aku akan buatkan manisan cabai.
Terdengar menyenangkan.
Lalu kita bisa bernyanyi bersama.
Opera Peking dan Kanton,
tampil bersama.
Ide yang bagus!
Kau akan datang kalau begitu?
Aku akan datang jika bisa. Jangan ditunggu.
Baiklah.
Datanglah jika bisa.
Sekolah Opera Tiongkok.
Minumlah, Kakak.
Kadang aku berpikir minum itu menyia-nyiakan waktu.
Tetapi tidak minum itu menyia-nyiakan hidup.
Hidung Besar!
Ya, Guru?
Keluarkan ranjang Sammo.
Cepat.
Kakak, rupanya sungguh kau.
Apa benar teater kita dibubarkan?
Sammo!
Paman Hua.
Kau sudah makan? Masukkan barang-barangmu dulu.
Kenapa kau pulang begitu telat?
Lihat betapa kurusnya dirimu! Bahkan jika ada pertunjukan,
kau tak akan bisa tampil.
Masuk dan istirahatlah.
Ya, Guru.
Anak itu pasti menderita.
Dia butuh sup herbal.
Baiklah, tambahkan lagi herba dan kurmanya.
Ada di mana?
- Di atas! Ambil tangga! - Baiklah.
Ini?
Lekas turun! Itu punya si Tukang Jahit!
Sekalian banyak saja.
Dia akan memarahimu jika tahu!
Sabarlah, Kakak. Manajer unit sedang sibuk.
Lihat, ini dia. Daftarlah dulu.
Kau bawa foto?
Tidak.
Kau tak bisa daftar tanpa foto.
Aku punya satu.
Di ambil saat pertunjukan Tahun Baru.
Bagaimana aku tahu
orangnya yang mana dari kumpulan botak ini?
Yang kedua Sammo, yang keempat Hidung Besar,
dan yang keenam Biao.
Yang kedua Sammo, yang keempat Hidung Besar,
yang keenam Biao, ya?
Benar.
Biao, Hidung Besar, Sammo.
Ambil sisanya.
LINGKARAN KEMAKMURAN BERSAMA ASIA TIMUR RAYA
Siap?
Tembak!
Selesai.
Hei, acaranya selesai.
Kameranya sudah pergi, Bodoh!
Cut!
Kalian sudah selesai?
Guru bilang
jangan berhenti sampai sutradara bilang "cut".
Ini etika profesional aktor.
Etika, ya. Kebijaksanaan, bukan!
Pak, bagaimana adegannya?
Yang di kanan matinya bagus,
yang di kiri matinya jelek.
Tetapi sudahlah, adegannya hanya sekejap.
- Makanan sudah siap? - Ya, Pak.
- Kini istirahat makan malam! - Ya, Pak.
Adegan yang bagus. Sekarang istirahat makan.
Ini, makanan kalian.
Ayo, mari makan ke sana.
Sumpit.
Terima kasih. Ayo, makan di sana.
Baiklah.
Kita berjongkok sepanjang hari. Kakiku mati rasa.
Terima kasih.
Hanya dua potong babi, sialan!
Kakak, bukankah ini benteng di One-Armed Swordsman?
Ya!
Dan itu lembah di The Fourteen Amazons?
Lily Ho si ratu film dengan anggun terbang melewatinya.
Paman Hua bilang dia pemeran penggantinya.
Kuharap aku bisa jadi pemeran pengganti ratu film.
Itu akan hebat!
Jangan berkhayal! Makanlah!
Cepat. Lompat!
Tak berguna.
- Cepat. - Pakailah sepatumu.
Kaus kakiku jadi basah.
Bodoh sekali. Ayo, cepat!
Ming di atas sana.
Ming!
Kuno sekali.
Dia di dalam.
Terima kasih.
Maaf.
QI SU QIAN QIU
Diam! Hati-hati! Jangan ditarik.
Biarkan dia turun.
Cut! Biarkan dia turun. Kau cari dia di mana?
Bagaimana dia bisa jadi pemeran penggantiku?
- Asisten sutradara. - Hadir, Pak!
Sutradara.
Pecat dia.
Cari orang yang sanggup!
Maaf, aku akan urus.
Maaf.
Terima kasih.
Benahi dulu kabelnya, cepat!
Paman Hua, pulang dan istirahatlah. Kami akan hubungi lagi nanti.
Biar kucoba sekali lagi.
Sekali lagi. Aku bisa.
Kuharap aku bisa, tetapi sutradara mengamuk.
Bantulah aku.
Biar kucoba lagi.
Tidak.
Sekali lagi, kumohon! Aku tak akan meleset kali ini.
Sekali lagi, tolonglah!
Baiklah, sekali lagi.
Dan sebaiknya kali ini berhasil.
Terima kasih.
Sutradara.
Biarkan dia coba lagi. Pecat saja jika gagal.
Kakak, kapan kau datang?
Aku baru tiba.
Ada apa?
Hanya kebetulan lewat.
Ayolah, kita bersaudara. Ada apa?
Aku baru mendapat surat dari pemerintah.
Gedung sekolah akan segera digusur.
Datanglah ketempatku jika tak ada tempat.
Aku bisa ke mana saja.
Tetapi bagaimana dengan anak-anak?
Aku bisa atur supaya mereka jadi stuntman di sini.
Aku bisa bimbing mereka.
80 dolar perhari,
hanya beberapa kali salto. Uang mudah!
Apa semudah itu?
Ya, semua aksinya palsu.
Guru berkata, "Hanya orang gila beraksi, hanya orang bodoh menonton.
Kini aku tak tahu mana yang gila dan yang bodoh.
Ya!
Diam! Lepas sepatumu.
Cepat.
Cepat.
Jaga aku. Jangan sampai aku jatuh!
Ini giliranmu! Cepat!
Tokonya akan segera tutup.
Di rumahmu...
Bagaimana kita hidup setelahnya?
Jangan cemas.
Ini buruk.
Kalian akhirnya pulang juga!
Apa? Beraninya memakai bajuku!
Memang pemberontak!
Lepas semua!
Aku akan minta bayaran jika ada kerusakan.
Lepas sekarang! Guru mencari-cari kalian!
Kenapa? Ada apa?
Ini ada surat. Baca saja sendiri!
Kakak, apa isinya?
Apa isinya?
Surat dari pemerintah? Bacalah!
Ada apa?
Sekolah kita akan digusur bulan depan.
Sungguh?
Kenapa mereka bisa semaunya?
Apa guru tahu soal ini?
Kurasa begitu. Kami menunggu dia pulang.
Dia pergi ke studio film menemui Paman Hua.
Sementara kalian bersenang-senang.
Kakak, kita bagaimana?
Kakak, kita bagaimana?
Kita bagaimana sekarang?
Ayo ke studio temui Guru.
Tunggu!
Lepas dulu baju kalian!
Baiklah.
Sekumpulan pelaut menunggu jas mereka.
Ini ambillah.
- Kau tak perlu berteriak. - Ayo ambil adegannya lagi!
Hua, hati-hati.
Paman Hua, kau siap?
Ya.
Ayo ambil lagi adegannya!
Semuanya siap! Semua sudah di posisi!
Semuanya siap!
Tutup pintunya.
Wayang siap?
Siap!
Unit kabel dan aksi siap?
Siap!
Semuanya siap! Putar kamera! Action! Satu, dua, tiga.
BERUNTUNG
Panggil ambulans!
Cepat!
Hua, kau baik-baik saja?
Kau dalam masalah. Kau rusakkan boneka.
Boneka kecil ini baik-baik saja.
Boneka kecil baik-baik saja.
Hua, pulanglah dan istirahat.
Paman Hua, pulanglah dan istirahat.
Kami akan hubungi lagi.
Berikan kepadaku bonekanya.
Kenapa kau merebut bonekaku? Pergi!
Aku butuh untuk aksiku!
- Kau tak perlu beraksi hari ini! - Lepaskan aku!
Sialan kau! Aku mau beraksi! Pergi!
Hua!
Pergi!
Lepaskan aku!
Apa yang terjadi?
Pergi!
Turun!
Dari gunung aku menyelamatkan Putra Mahkota!
Guru!
Dengan darah, aku akan mencetak namaku!
Bawa Paman Hua turun.
Paman Hua!
Zhao Yun membantai musuhnya lagi!
Giliranku.
Saatnya beraksi!
Lari!
Ambil uangnya dulu!
Ayo!
Tunggu aku!
Hua, kau sedang apa?
Siapa kau, berani menghentikan pertunjukanku?
Hua, aku kakakmu!
Hua!
Hua!
Paman Hua, hati-hati!
Salju sudah turun! Bangun semuanya!
Bangun! Saatnya berlatih! Cepat!
Yang Mulia!
Selirku,
aku Xiang Yu.
Ya, Yang Mulia!
Aku lebih kuat
Dan lebih menawan dari yang lain
Tetapi, tak beruntung dalam perang
Ribuan kudaku tak ada gunanya
Tak berdaya
Karena strategi yang buruk
Kakak!
Hua!
Kakak! Tolong aku!
Pegang yang erat!
Kakak!
Dia di atas! Ikut aku.
Kakak! Tolong bantu aku!
Aku jatuh dari panggung lagi!
Kali ini Guru akan membunuhku!
Jangan cemas, aku akan membantumu!
Bertahanlah!
Kakak, tarik aku!
Aku masih harus beraksi!
Kau sudah di panggung lagi.
Kau baik-baik saja sekarang.
Mari selesaikan lagunya bersama.
Sang Pahlawan sudah tamat
Kudanya sudah mati dan sirna
Tak ada lagi yang tersisa wahai Ratuku
Hanya ada kau dan aku
Kakak, bagaimana penampilanku?
Bagus! Kau hebat!
Lihat? Penontonnya banyak di bawah sana.
- Ya, banyak sekali. - Benar.
Apa penampilanku bagus?
Ya.
Guru akan amat senang denganmu.
Aku akan turun dengan Paman Hua.
Penampilannya sungguh bagus,
kalian harus bertepuk tangan!
Ayo, tepuk tangan kalian!
Terima kasih!
Ayo turun.
Pelan-pelan. Hati-hati.
Terima kasih.
Terima kasih semuanya.
Terima kasih sudah datang ke pertujukanku.
Terima kasih.
Ini biskuit untukmu.
Terima kasih biskuitnya.
Datanglah ke pertunjukanku berikutnya.
Kau hebat!
Pak, ikutlah dengan kami. Acaranya selesai.
Jangan cemas. Kami akan mengurusnya.
Silakan ikut kami.
Semuanya akan baik-baik saja.
Silakan ikut kami.
Istirahatlah di belakang panggung dulu.
Paman Hua, istirahatlah. Kau hebat.
Hua, kami akan mengunjungimu.
Sampai jumpa!
Aku belajar Opera Peking di Ibukota
selama sepuluh tahun,
dan berkeliling Tiongkok bersama sanggar
selama 15 tahun.
Lalu habiskan 15 tahun berikutnya
mengelola sekolah ini di Hong Kong.
Untuk menghabiskan 40 tahun hidup
pada hal yang sama
butuh keyakinan yang kuat.
Betapa aku menderita
karena keyakinanku.
Hanya Tuhan yang tahu. Hanya aku yang tahu.
Sukses atau tidak, aku sudah memberikan diriku kesempatan.
Aku tak tahu jika aku memberikan kalian kesempatan yang sama.
Sekolah ini...
akan digusur bulan depan.
Aku tak bisa meneruskan lagi.
Aku memutuskan untuk pensiun di luar negeri.
Sebelum aku pergi, aku akan berusaha mencarikan jalan baru untuk kalian.
Masa depan kalian diputuskan oleh kalian sendiri.
SEKOLAH OPERA TIONGKOK
Sammo, Hidung Besar, masuk!
Ya, Guru?
Aku lelah. Angkat ranjangku
dan lepaskan kura-kura.
Guru, ranjangnya akan timpang.
Berapa lama lagi aku akan tidur di sana?
Lagi pula, dia harus merayap sedikit.
Apa kau sudah menulis alamatku?
Ya, Guru.
Surati aku jika sempat.
Tetapi kalian tak bisa menulis.
Guru, jangan cemas,
kami memutuskan untuk bekerja di studio film.
Film? Apa ada masa depan berakting di film?
Kami mau mencoba.
Untuk berapa lama? Aku sudah mencoba sepanjang hidupku.
Kami akan coba selama 40 tahun seperti dirimu.
Dan lihat bagaimana nanti.
Baiklah, kalian yang putuskan sendiri.
Guru, kami punya sesuatu untukmu.
Ingatlah, jangan rendah diri
walaupun orang merendahkanmu.
Baik, pulanglah.
Ayo.
Pergilah. Matahari terbenam.
Guru, kami pergi.
Selamat jalan, Guru.
Selamat jalan, Guru.
Jaga dirimu, Guru.
Selamat jalan, Guru.
Guru.
Jaga dirimu, Guru.
Selamat jalan, Guru.
Baiklah.
Jaga dirimu, Guru!
Selamat jalan, Guru!
Jaga sikapmu di studio film!
Ingat jangan berhenti sebelum sutradara bilang "cut".
Sammo, jaga adik-adikmu!
Kau harus jaga sikap kalian, dengar?
TUJUH KEBAHAGIAAN
Kau pikir kau bijaksana.
Kupikir aku bijaksana.
Bijaksana atau tidak.
Hanya Tuhan yang tahu.
Di manakah kemuliaan rumput, kejayaan bunga?
Ataukah musim terbaik telah usai?
Kutundukkan kepalaku, aku pergi dalam duka.
Selamat jalan kepada yang tetap merenung!
PADA 1970-AN, YU JIM-YUEN BERIMIGRASI
KE AS DAN MENETAP DI LOS ANGELES
DI SANA DIA TERUS MENGAJAR OPERA PEKING
DENGAN AMAT KETAT.
DIA WAFAT PADA TAHUN 1997 DI UMUR 92
BERTAHUN-TAHUN, PARA MURIDNYA
BERJUANG DI INDUSTRI FILM
BEKERJA SEBAGAI STUNTMAN DAN PEMERAN PENGGANTI BAGI PARA BINTANG.
SELAMA BERTAHUN-TAHUN BERUSAHA KERAS, MEREKA AKHIRNYA MENJADI BINTANG
ATAS USAHA SENDIRI, KEBERANIAN AKSINYA TAK BISA DITANDINGI PEMERAN PENGGANTI.
TAMAT
Terjemahan subtitle oleh Rio Wibowo
Dukung kami dan jadilah anggota VIP supaya semua iklan tidak ditampilkan di www.OpenSubtitles.org
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.