Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
["Mawar Berduri" mengalun dari organ]
[gemuruh petir]
[suara pria] ♪ Tertulislah kisah ♪
♪ Tentang bunga mawar ♪
♪ Di tengah belukar ♪
♪ Yang penuh dengan duri ♪
Dina! Kok, belum disiapkan mejanya?
Iya, sebentar.
- [nyanyian berlanjut] - [petir menggelegar]
♪ Banyaklah kumbang mati ♪
♪ Karena tertusuk duri ♪
[wanita dan pria] ♪ Aduh, sayang ♪
♪ Kau memberi hati ♪
[wanita bersenandung]
[angin bersemilir, petir menggelegar]
[gelegar petir]
- [wanita terkesiap] - [pria berdesah]
[dengan parau] Sudah, ah. Sudah.
Yang harum gulai ayamnya atau kamu, sih?
- Kamu mengagetkan aku, Mas. - Kaget atau senang, sih?
[percakapan tak jelas]
Astaghfirullahaladzim, Bapak, Ibu. Ingat umur, ah.
[Herman] Lo?
Pokoknya, Dina tidak mau, ya, punya adik.
Dina, ya, tiru ibumu.
Cekatan, terampil, pintar masak.
Seumur Ibu, lihat, masih cantik saja.
[Sri tertawa]
Zaman sekarang itu, laki-laki carinya perempuan yang berwawasan.
- [bergumam] - Oh.
Kalau masalah masak, sih, gampang, beli saja di warung.
Lo? Kok, begitu?
Apa memang wawasannya?
Kalau tiap hari cuma baca buku detektif saja?
Yah, ada, dong, Pak. Hidup itu, 'kan, katanya penuh misteri.
Nah, detektif itu kerjanya memecahkan misteri.
[Bapak Herman dan Ibu Sri tertawa]
Aduh, si Andi ke mana, ya? Pasti kehujanan, nih.
Biarkan saja, namanya juga anak laki.
Sebentar lagi juga pulang.
Bapak, lo.
Bu, bilang Abang,
kalau bawa motor, jangan kencang-kencang. Apalagi, sekarang di luar sering hujan.
[Herman terbatuk-batuk]
Kemarin hampir saja, Bu, keserempet sama motor.
- [tersedak keras] - Mas!
Mas!
- [tersendat-sendat] - [musik mendebarkan]
Din, telepon Pak RT sekarang. Sekarang!
- [Herman tersedak] - Mas!
- [Herman tercekik] - [Sri] Mas, kenapa?
Mas! Mas! Kita ke dokter!
- [tersedak tak karuan] - Mas! Mas!
- [musik mencekam] - Din! Cepat, Din!
- [nada sambung telepon] - Cepat, Nak!
- [nada sambung terputus] - [gemerincing logam berjatuhan]
[menjerit] Mas!
- Bapak! - [menyembur]
- Mas! - [Dina] Bapak!
- [jeritan panik] - [Herman merintih lemah]
- Mas! - [Andi] Bapak!
Bapak! Bapak!
- [musik makin mencekam] - [Andi menjerit] Bapak!
- [jeritan menggema] - [musik memudar]
[gong bergaung]
[musik memilukan mengalun]
- [kerik jangkrik] - [lolongan serigala]
- Terima kasih, Mas. - Terima kasih.
Terima kasih, Bung.
[terisak, berembus]
- [musik berhenti] - [desiran hujan]
Ibu!
Jangan melamun begitu terus, ah, nanti kesambet, lo!
[menyengir]
- Din. - Hem?
Kamu, 'kan, tahu,
kalau orang meninggal belum 40 hari,
arwahnya masih ada di sini.
[musik menyeramkan]
Berarti,
Bapak masih bersama kita.
[musik menegangkan]
[musik berdentum]
Maaf, Bu.
Sabit saya kurang tajam.
Saya mau ambil gantinya dahulu di rumah.
Baik.
[Sri] Oh, iya, Pak.
Langit-langit kamar saya yang bocor sudah rampung, 'kan?
Sudah, dari kemarin.
Ya sudah.
[gemuruh petir]
Bu, kenapa, sih, harus suruh orang buat membereskan rumah kita?
Suruhlah si Abang yang bereskan.
Ibu kelewat memanjakan dia.
Lagi pula, 'kan, seharusnya dia yang gantikan peran Bapak.
Sudahlah, Din.
Kasihan juga, dia datang butuh pekerjaan.
Bantu orang, 'kan, tidak ada salahnya.
[deruman mesin di kejauhan]
[deruman berhenti]
[pintu terbuka]
[Andi] Masuk, yuk. [terkekeh]
Abang bersama siapa, Bu?
Ibu.
Bu, kenalkan, ini Hanum.
Hanum.
Ibu baru saja masak.
Hanum ikut makan saja.
["Mawar Berduri" mengalun dari piringan hitam]
[suara pria] ♪ Tertulislah kisah... ♪
[Sri] Matikan lagunya, Andi!
Ibu tidak mau dengar!
[Andi] Kenapa sih, Bu? 'Kan, enak!
Biar ramai lagi, Bu, rumah ini.
Sudah terlalu lama sepi.
Seperti rumah hantu saja.
[Sri] Andi! Matikan!
[pintu berderik]
[lagu berhenti]
Kok, dimatikan?
Ha? Oh.
Ini lagu kesukaan bapak aku.
Tapi, Ibu masih belum bisa dengar.
Mbak Hanum,
- kenal Bang Andi di mana? - Mau tahu saja, sih.
Tidak usah sok berlagak jadi detektif, deh.
Ih, apaan, sih?
Di kampus.
Aku lagi jual makanan di kantin kampusnya Andi.
Oh, makanan apa?
Macam-macam, Bu.
- Ada ayam kremes, ikan pepes. - [Sri mengiakan]
Kue-kue juga ada. Lapis legit, pastel, semacam itulah, Bu.
- Kamu masak sendiri? - Bersama Mama.
Ibu juga jago sekali masaknya.
Serius?
Nanti kapan-kapan, aku bawakan masakan aku, ya, Bu.
[Andi berdeham]
- Oh, ya, Bu. - Hem?
Hanum baru pindah ke sini, lo. Dua bulan lalu, ya?
Oh, ya?
Oh, anak baru?
- Cepat juga, ya, Bang. - Apa?
Sepertinya memang sudah takdir kita ketemu, ya, Num.
[Dina] Hem, aduh.
- Malang sekali nasibmu. - [benturan kursi]
Mulai lagi, deh.
- Apa? - [Dina] Ih!
Eh, sudah. Masa berantem?
[Andi berdeham, batuk-batuk]
[musik melengking]
[batuk, berdeham]
Kenapa, Bu?
Tidak. Tidak apa-apa.
Ayo, makan lagi.
[musik menenangkan mengalun dari organ]
Aku iri, deh, sama keluarga kamu.
Kenapa?
Pasti berisik sekali, ya?
Hangat.
Dahulu, lebih hangat lagi waktu masih ada Bapak.
Kenapa Bapak?
Bapak…
serangan jantung.
Baru sebulan lalu, sih.
Jadi, kadang aku masih tidak percaya saja.
Yah, berat.
[gemuruh]
Apalagi Ibu.
Sampai sekarang, Ibu masih belum bisa melupakan Bapak.
Sampai-sampai,
Ibu tidak mau lagi membuat gulai ayam favorit Bapak.
Sama pakai baju yang dia pakai waktu kejadian bapak aku meninggal.
[musik perlahan menegangkan]
- [bunyi kaca pecah] - [Sri menjerit]
- Ibu! - Aduh. Din.
[langkah kaki]
- [Sri] Aduh! - [Andi] Bu!
- [Andi] Bu. Bangun, Bu. - [Sri merintih]
- [Andi] Kenapa, Bu? - Tidak tahu.
Tadi tiba-tiba betis Ibu ngilu sekali.
[Andi] Ya Allah. Kena apa tadi, Bu?
[gemuruh petir]
[suara mendesis misterius]
["Mawar Berduri" mengalun dari organ]
Andi.
Andi.
[nada melengking] [musik organ terhenti]
[musik pelan menegangkan dari latar]
[nada melengking] [musik organ berlanjut]
Mas?
[terperanjat]
- [gelegar petir] - [menjerit]
Istirahat, ya, Bu.
Jangan terlalu banyak pikiran.
[ceklik lampu]
[pintu menutup]
[nada statis] [musik memudar]
[Sri] Pak Salim.
Pak Salim!
Ya, Bu!
Ini langit-langit di kamar saya, kok, masih bocor, ya?
'Kan, baru diperbaiki?
Ya, nanti saya perbaiki lagi.
[derum motor dari luar]
- [Andi] Assalamualaikum. - [Sri] Walaikumsalam.
[Andi] Bu.
- Cepat sekali pulangnya, Andi. - Dosennya tidak ada, Bu.
Bu, masakkan gulai ayam lagi, dong, Bu.
Andi pengin.
Kamu, 'kan, tahu, Ibu tidak masak itu lagi, Ndi.
Ndi?
Yuk, makan.
Andi?
[musik berdentum pelan]
[suara dentuman berulang]
[dentuman berlanjut]
[suara logam bergemeletuk]
[menjerit]
- [musik melengking] - [terperanjat]
[menghela napas]
- [aliran listrik] - Oh!
[Andi] Assalamualaikum.
[musik menegangkan]
Bu?
Bu, ini Andi, Bu.
Kamu...
baru datang?
Iya, ini Andi masih di sini.
Kenapa, Bu?
Tadi ada orang datang,
mirip sekali sama kamu.
Terus, masuk kamar.
Tadi dia minta dibuatkan gulai ayam sama Ibu.
Yah, tidak mungkin, lah, Bu. 'Kan, Andi tahu, Ibu tidak mau lagi masak itu.
Sini, Bu.
Sudah, sini.
Ayo, sini, sini.
Ibu lagi rindu Andi saja. Maka dari itu, seperti ini.
Yuk.
Itu. Tidak ada apa-apa, 'kan?
Ibu istirahat dahulu saja, ya, Bu.
Nanti Hanum mau ke sini.
Mau bawakan makanan.
Jadi, Ibu tidak perlu masak lagi.
- Ada apa? - [Sri terperanjat]
Biasa saja, tahu, lihatnya.
Tahu-tahu, nanti mengiler.
Lagi serius menatap calon istri, nih.
[Dina] Ih.
Ini khusus untuk Ibu.
Hanum lagi coba-coba membuat sup ayam,
tapi selalu gagal.
- Ibu tidak suka? - [Andi] Hem! Bukan.
Tadi Ibu juga masak sup ayam.
Tapi, tumpah.
Oh, pas sekali, Bu.
Coba, ya.
[Sri mendesah]
Suka, tidak, Bu?
Enak sekali.
Pintar sekali masaknya.
- Wah! Sah, lah, ini jadi calon istri. - [Hanum terkekeh]
Dapat restu dari Ibu.
Ayo, coba.
- [musik bahagia dari organ] - [Andi bersenandung]
"Layu Sebelum Berkembang"?
Betul. Pintar sekali, sih.
Ih, Abang, lagunya jadul-jadul sekali, sih. Ganti!
Apaan, sih?
Kalau kamu tidak tahu, tidak tahu saja. Marah-marah.
Lagu kedua, ya.
[Sri berbisik meracau]
- "Widuri"? - Benar lagi.
- [petir menggelegar] - [Dina] Ih!
- [musik berdentum keras] - Ah!
Ibu?
Sepertinya, di luar mau banjir, deh?
Hanum biar tidur di sini dahulu saja, ya, Bu, malam ini?
Iya, Mbak. Bahaya, tahu, kalau pulang cuaca lagi badai begini.
Ya.
Hanum sebaiknya menginap di sini malam ini.
Tapi, jangan lupa kasih tahu mamamu.
Biar nanti Hanum tidur di kamar Andi.
Iya, Mbak. Biar si Abang tidur di sofa.
[musik menegangkan berlanjut]
[Sri merintih]
Kaki Ibu masih sakit?
Ada apa, Bu?
Tidak.
Ibu hanya merasa, sejak Bapak tidak ada…
ada banyak kejadian aneh.
Kejadian aneh bagaimana?
Sepertinya, ada…
- [petir menggelegar] - [sekring putus]
Dina ambil semprong dahulu, ya, Bu.
Ih, Ibu. Kayak anak kecil saja.
Bang?
[pintu terbuka lalu tertutup]
- [lolongan makhluk] - [Dina menjerit]
[suara pria tertawa]
[mendesah] Ih, Abang. Tidak lucu!
[Hanum] Ada apa?
[Andi] Tidak apa-apa.
Anak kecil cari perhatian, biasa.
[Sri] Dina!
Ibu.
Pakai ini saja dahulu buat Ibu.
[Sri tersengal-sengal]
- [Sri terperanjat] Ha! - [Hanum] Ah.
[Sri tersengal-sengal]
[terperanjat] Ha!
[musik mencekam mengalun]
[merintih pelan]
[suara mendesis dengan parau]
[petir menggelegar]
- [musik mencekam] - [Sri menahan suara]
[perlahan melengking] Ha!
Ibu!
[dokter] Ini saya buatkan resep
untuk obat penenang.
[Andi] Ha, masih ada saja yang percaya sama dukun.
[musik menegangkan memudar]
Diminum, Bu.
Din.
[Hanum berbisik] Apa kata dokter?
[musik pelan menegangkan]
Sudah saya periksa lagi, Bu.
Langit-langitnya
juga masih bagus.
Gentingnya juga tidak ada yang bocor.
Seharusnya kalau hujan, air tidak akan tembus.
Bu.
Hari ini terakhir saya bekerja di sini.
Saya mau bersihkan kebun dahulu.
[musik menegangkan]
["Renjana" mengalun dari radio]
[suara pria] ♪ Yang kujaga ♪
♪ Hanyalah semua ♪
♪ Rasa cinta ♪
♪ Yang kau semat dalam dada ♪
♪ Yang kupinta ♪
♪ Hanyalah semua ♪
♪ Senyumanmu membawaku ♪
♪ Dalam surga ♪
♪ Romansa cahaya ♪
♪ Di mata yang mencinta ♪
♪ Oh renjana ♪
[Hanum tergelak]
♪ Bergelora... ♪
Ibu sepertinya belum bisa melupakan Bapak, ya?
Yah,
pasti berat sekali buat Ibu untuk kehilangan Bapak.
Iya.
Ibu itu cinta matinya Bapak.
Perhatian Bapak ke Ibu itu luar biasa.
Berarti Ibu istimewa sekali, ya, di mata bapak kamu.
Beruntung sekali,
Ibu memiliki suami seperti Bapak.
Nanti,
kamu juga seberuntung Ibu aku, kok.
'Kan, punya suami sepertiku.
Mau apa?
[musik perlahan berhenti]
Dina besok tidak usah sekolah dahulu, ya, Bu?
Jangan, kalian tidak boleh bolos.
Ibu tidak suka.
Ibu baik-baik saja, kok.
Bu.
Kita semua juga kehilangan Bapak, kok, Bu.
Tapi, kalau kita tidak ikhlas, Bapak tidak bakal tenang, Bu, di atas sana.
Apalagi kalau Ibu sakit, Bapak pasti sedih, Bu.
[terbatuk]
Iya, Bu, ya? Bu?
[menahan batuk]
Bu. Ibu.
[Sri terbatuk-batuk]
- [Hanum] Ibu! Bu! - [Andi] Bu! Bu!
[Sri batuk tersedak]
- [mengerang] - [Dina] Ibu!
[dokter] Organ dalamnya,
tenggorokan, paru-paru, lambung,
semuanya baik-baik saja.
Tapi, kenapa ibu saya batuk berdarah, Dok?
Bisa jadi karena gesekan dengan makanan.
Lalu tenggorokan Ibu terluka, dan akhirnya tersedak.
Tapi, Dok, bagaimana dengan ini?
Benda yang keluar dari mulut ibu saya, ini.
[musik mendebarkan]
[dokter] Ibu kalian mungkin sedang mengalami hal-hal yang berat.
Dan terkadang, orang bisa bertindak dengan tidak masuk akal.
Saya ada kenalan psikolog.
[Dina] Maksud Dokter, ibu saya gila? Mau bunuh diri?
[gemuruh hujan]
[musik menyeramkan]
- Kamu lagi apa, Dina? - [terperanjat]
Lagi memasukkan baju-baju Ibu yang baru disetrika.
Besok, kamu dan abangmu masuk sekolah.
- Tapi, Bu… - Tidak ada tapi-tapi.
[Dina] Ini beling yang sama dengan yang ada di Ibu.
Dan ini pasti beling yang ada di Bapak, terus disembunyikan sama Ibu.
Din, kamu suka baca buku detektif, 'kan?
Bukan berarti kamu detektif.
Kejadian sama Bapak itu sama persis dengan Ibu.
- Tapi, Ibu masih selamat. - [Andi menghela napas]
Berarti, Ibu tahu ada yang tidak beres sama kematian Bapak.
Maka dari itu, Ibu jadi bersikap aneh.
Ada apa sama keluarga kita? Ini bukan penyakit biasa, Bang.
Tapi kamu dengar sendiri, 'kan, penjelasan dokter apa?
Dokter saja tidak bisa jelaskan kenapa beling itu bisa keluar dari mulut Ibu!
Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti ini.
Kalau kita tidak percaya sama dokter, kita percaya sama siapa?
Terus, mau tunggu percaya sampai kapan?
Sampai Ibu mati?
[musik lemah bernada pilu]
Kembalikan ini semua ke kamar Ibu sekarang.
Sebelum Ibu tahu.
Nanti Abang pikirkan lagi kita harus apa.
[kicauan burung]
[musik cempreng berirama mendebarkan]
[musik berdebar makin keras]
[kotekan ayam]
[dukun] Sudah 20 tahun.
Sekarang kamu datang lagi.
Ada apa, Sri?
Ada yang aneh terjadi sama saya.
Tidak ada yang aneh
untuk perempuan semenarik kamu, Sri.
[Sri menghardik]
[dukun menyengir] Jangan tersinggung.
Ini kenyataan.
Semua orang ingin terlihat sempurna.
Dan selalu iri
sama orang yang sempurna.
Tanganmu.
[bergumam]
[dukun bergumam]
[bergumam]
[mulai merapal mantra dengan suara parau]
- [musik menyeramkan] - [Sri terperangah]
Santet!
Siapa?
Ini harus cepat diambil.
Hal-hal seperti ini
tidak bisa dianggap main-main.
- Ambil? - [bergumam]
- [musik datar mencekam] - [suara-suara aneh merapalkan mantra]
[suara-suara aneh mengencang dari latar]
[suara bapak tersedak]
[rapalan mantra berlanjut]
[suara pria berceracau dari latar]
[suara wanita bergumam dari latar]
[suara-suara aneh makin kencang]
[rapalan mantra berhenti]
[musik berangsur mencekam]
[angin berembus, berdesir kencang]
[suara wanita merapal mantra bergema]
[menyentak]
- [mengerang] - [mantra pria dan wanita mengencang]
[mengerang]
[rapalan mantra berlanjut]
[menjerit lalu menggertak]
- [Sri terperanjat] - [suara parau meraung-raung]
- [Sri mengerang kesakitan] - [suara parau merapal mantra]
- [Sri meregang kesakitan] - [rapalan mantra berlanjut]
[suara mendadak berhenti]
- [Sri merintih] - [dukun] Diam!
- [Sri mengerang kesakitan] - [dukun meracau]
[terengah-engah] Dia sekarang ingin
kamu mati...
lah.
[musik perlahan menegangkan]
Balas.
[dentingan lonceng]
- Ada apa, Num? - [musik melengking]
[Hanum terperanjat] Ibu?
Masuk, Num.
Ibu makan bubur, ya.
Ibu istirahat saja.
Biar pekerjaan rumah, Hanum yang bereskan.
[musik pelan]
Jarwo.
Apakah dia orangnya?
[Jarwo berdeham]
[Jarwo menggertak]
[mengaum kecil]
[Jarwo berteriak]
- [Jarwo merapal mantra] - [suara rintihan misterius]
- [Sri terperanjat] - [suara misterius berceracau cepat]
- [Jarwo meraung nyaring] - [suara misterius mengeras]
- [desis misterius] - [suara misterius tersedu-sedu]
- [Jarwo tersedak] - [Sri tertegun]
- [musik melengking] - [suara wanita melantunkan mantra]
- [Jarwo tercekik] - Jarwo!
[lantunan mantra berlanjut]
- [muntah darah] - [Sri] Ah!
- [musik makin mencekam] - [Jarwo tersengal-sengal]
- [Sri berteriak] - [Jarwo menjerit histeris]
- [Jarwo berteriak panjang] - [Sri gelagapan, menjerit]
[Sri mengerang kecil]
Bu?
[musik berdentum kencang]
[tergopoh-gopoh]
[gedoran pintu]
[Sri menjerit]
[Sri terengah-engah]
Kenapa, Bu?
[Sri bernapas pelan]
Cerita sama Dina.
[Sri merengek-rengek]
[tersedu-sedu]
[kerik jangkrik di kejauhan]
Ibu, istirahat, ya.
[deruman motor]
[musik menegangkan]
Eh, Ibu bagaimana?
Tadi, Ibu pulang menangis-nangis.
Bajunya sobek-sobek, ada bekas darah di mana-mana. Di mukanya, di bajunya.
Aku tanya dari mana, tapi Ibu tidak mau jawab.
Aku takut, Bang.
Apaan, nih?
Aku curiga Ibu disantet oleh orang.
Apaan, sih, kamu percaya dengan yang seperti itu?
Bang, Bang, Bang. Dengarkan Dina dahulu. Ibu itu seharusnya kita bawa ke…
Ke mana, Din? Ke mana?
Ha?
Ke rumah si Dukun Jarwo? Iya? Hem?
Ke rumah dukun Jarwo?
Abang kasih tahu, ya, Jarwo itu sudah mati, Din.
Rumahnya sudah terbakar.
Kamu itu kenapa, sih?
[musik pelan menegangkan]
[gaok burung gagak]
[musik mendebarkan]
Terima kasih, ya, sudah mau menemani ibuku.
Tidak apa-apa. Kalau butuh bantuan apa-apa, kasih tahu saja.
[warga ricuh] Buang! Buang!
Buang!
Tenang! Tenang!
Saya bisa memahami kekhawatiran Bapak Ibu semua, sangat bisa memahami.
Hanya, kita semua harus berpikir jernih.
Si Jarwo ini,
sudah lebih sehari belum dikubur!
Dosa kita! Dosa!
Hei, Pak Kades.
Itu dukun waktu hidup, dosa semua yang dia buat.
Sekarang sudah mati, mau kita pula yang tanggung dosanya?
Kami, warga, tidak mau si kafir itu dikubur di kampung kami! Haram!
- Haram! - Haram!
Pak Kades.
Ini mayat, bau busuk menyengat!
- Eh, tenang. - Pak Kades.
Dia itu tukang santet, Pak!
Yang disembahnya saja setan.
Ibarat kepercayaan orang-orang kampung kita ini,
dikubur pun, mayatnya tidak bakalan diterima bumi.
Dia akan bangkit kembali.
Jadi, kalian mau, si Jarwo mayatnya tetap di sini? Mau?
- Kubur jauh-jauh di hutan! - [semua] Buang! Buang!
[musik menegangkan]
- Pak? - Ya, Dik?
[Dina] Tahu alamat rumah ini?
[pria] Mohon maaf, saya tidak tahu.
Mas, tahu alamat rumah ini?
[tukang bersih-bersih bergumam]
[bergumam]
[musik mendebarkan]
[Sri tersedak]
[Sri terkejang-kejang]
[Sri termengap-mengap]
- Bu? - [termengap] Dia sudah mengambil suamiku.
[Sri terisak-isak]
Ibu tidak apa-apa?
[Sri sambil termengap] Dia harus mati.
[Sri] Bunuh dia!
[musik makin mencekam]
[pintu terbuka dari dalam]
[musik pelan]
Ibu haus.
[musik mendebarkan]
Maaf, mengganggu. Saya lagi cari teman ibu saya.
Apakah beliau tinggal di sini?
Ini.
[musik mencekam]
Mas, Mas, Mas! Ibu saya lagi sakit. Dia ingin sekali ketemu sama temannya ini.
[wanita] Nak.
Kira-kira 20 tahun yang lalu,
pemilik rumah ini diusir oleh orang-orang di kampung ini.
Diusir kenapa, Nek?
Di masa lalu,
semua masalah pasti berhubungan dengan norma dan moral.
Nenek tahu siapa pemilik rumah ini?
Namanya Laila.
Nenek tahu ke mana dia pergi?
[musik menegangkan]
Nek.
Tolong.
Saya butuh sekali bantuan Nenek.
["Sang Penikam" mengalun dari kaset]
[suara pria] ♪ Dalam terang malam ♪
♪ Kucari semua yang telah padam ♪
[kaset terhenti]
[musik mencekam]
♪ Dan 'ku melayang ♪
♪ Terhempas kenyataan yang membunuhku ♪
♪ Dalam jiwaku ♪
[musik menegangkan dari latar]
♪ Yang memimpikan rindu ♪
♪ Namun 'ku tersadar ♪
- [lagu tak terdengar] - [musik menegangkan berlanjut]
[terengah]
- [Sri terperanjat] - [musik cempreng]
[hantu bersuara parau] Apa lagi yang kau tunggu, Sri?
[Sri tersengal-sengal]
[merapalkan mantra panjang]
- [hantu mengerang] - [Sri melanjutkan mantra, gemetar]
- [tersedu-sedu] - [musik berhenti]
[bernapas waspada]
- [petir menggelegar] - [menjerit]
[suara pria dari kaset] ♪ Harkat pilu yang menyintai rejam ♪
[kaset terhenti]
[musik mencekam dari latar]
[Sri merapalkan mantra]
[hantu merapalkan mantra panjang]
[Sri menjerit panjang] Ah!
- [musik melengking tinggi] - [dentuman berat]
Ibu?
Bu!
Bu?
Ibu?
[Dina] Ibu?
[Sri] Jarwo.
Jarwo. Jarwo.
[suara wanita] Yang disembahnya saja setan.
Dikubur pun, mayatnya tidak akan diterima bumi.
Dia akan bangkit kembali!
[musik perlahan berhenti]
Aku titip Ibu, ya.
Ya.
[Dina] Halo?
Saya Dina, Bu.
Saya dapat nomor Ibu dari rumah di Terusan Agam.
Saya mau tanya-tanya soal rumahnya, Bu.
Saya bicara dengan Ibu…
[musik mendebarkan]
Jendelanya kenapa ditutup palang, Bu?
[suara ceklek]
Hei! Hei! Bu! Bu! Tunggu, tunggu, tunggu, Bu!
Saya cuma mau tanya saja.
Ya?
Kuburan dukunnya di mana?
Ibu saya diganggu, Bu.
Gara-gara ibu kau, Jarwo mati!
Ibu saya butuh bantuannya sekarang, Bu.
Saya mau Jarwo berhenti mengganggu ibu saya.
Gila kau!
Dia sudah mati!
Di mana kuburannya, Bu?
Cari saja sendiri!
Di hutan!
[musik menegangkan]
[musik berdentum]
Tuhan!
Ibu.
Bu?
Bu?
[musik berdentum makin keras]
Bu?
Bu!
Bu!
Ibu!
Ibu?
Bu? Ibu!
Ibu!
Jangan.
Jangan!
[merintih]
[musik menegangkan]
[kursi berderit]
[musik melengking keras]
[suara auman]
[Jarwo] Ini karmamu, Sri.
[musik makin melengking]
[Jarwo] Lakukan sekarang!
Bu?
- [petir menggelegar] - Num, Ibu mana?
Ada di kamar.
[Andi menggedor pintu] Bu!
Ibu! Buka, Bu! Ini Andi, Bu!
Ada apa, Ndi?
Bu, buka Bu!
Andi, Dina...
[musik mencekam]
- [menggedor pintu] - Kenapa, Ndi?
- [musik makin melengking] - [gedoran keras]
[Jarwo] Lakukan sekarang!
- [menggertak] - [pintu terdobrak]
[angin berderau kencang]
Ibu!
- Ibu! - Ibu mana, Ndi?
Ada apa sama keluargaku?
Sementara, kalian jangan tinggal di sini dahulu.
Di sini terlalu mengerikan.
Kalian bisa tinggal di rumahku dahulu.
Tapi aku tidak bisa tinggalkan rumah tanpa Ibu.
Dina kita bawa dahulu ke rumahku,
sembari kita cari Ibu.
- [musik menegangkan] - [kertak ban mobil]
Ma?
Malam sekali, Num.
- Masuk, masuk. - Permisi, Bu.
Ya.
Besok kita bawa Dina ke rumah sakit, ya.
Kamu makan dahulu, jangan sampai sakit juga.
Iya,
terima kasih.
[jam berdentang delapan kali]
Nah, supnya sudah siap.
Mari makan.
- Nak Andi jangan malu-malu, ya. - Iya, Bu.
Terima kasih, Bu.
Nak Andi yakin tidak mau lapor polisi?
Tidak, Bu.
Saya juga bingung mau bilang apa ke polisi.
[Andi berdeham]
Maaf.
Oh, tidak apa-apa.
Saya mengerti. Hal-hal seperti ini memang di luar pemikiran manusia.
Tapi, manusia zaman sekarang juga
sombong.
Suka takabur
dan menyangsikan kalau hal-hal gaib itu memang ada.
[musik pelan menegangkan]
Nak Andi?
- Andi? - Hem?
- Kenapa? - Nak Andi kenapa?
JASA BOGA RATNA
[musik berdentum]
[Dina meracau]
- Din. Din. - [meracau]
- [meracau] - [Andi] Hei. Sut, sut.
Din. Din.
[musik mendebarkan]
[musik melengking]
JASA BOGA RATNA
[musik mendebarkan mengalun]
- [muntah] - [air keran mengalir]
[pintu berderit]
[musik melengking pelan]
[jam berdentang satu kali]
[pintu terbuka]
[pintu berderit menutup]
[musik menegangkan]
- [mengetuk pintu] - Hanum?
[mengetuk pintu]
- Hanum? - [ceklik pintu]
[pintu terbuka]
Eh, Andi.
Ada apa?
Ndi,
- kamu kenapa? - Num.
Num. Dengarkan aku.
Aku harus bawa Dina keluar sekarang.
Ha?
- Kenapa? - Num.
- Dina kenapa? - Aku harus pergi sekarang. Ya?
Ya?
Num, tolong dengarkan aku. Tolong percaya sama aku.
- Ya sudah, aku tanya mama dahulu, ya. - Tolong, jangan.
- Jangan. - Ha?
Ada apa, sih, Ndi?
Pokoknya, ikuti saja kata-kata aku, ya?
[Andi memutar gagang] Kunci?
Kunci tidak ada.
Kamu ada kunci serep?
- Tunggu sebentar. - Sana.
Num! Cepat, Num!
[dentingan kunci]
[kunci terbuka]
[suara wanita dari kaset] ♪ Tertulislah kisah ♪
♪ Tentang bunga mawar... ♪
Mau ke mana malam-malam begini?
Hem?
♪ Yang penuh dengan duri... ♪
Hanum. Sini.
[musik menegangkan di latar]
Kamu mau ke mana?
Tidak. Tidak ke mana-mana, Ma.
[Hanum menjerit dan menangis]
Hanum.
Hei!
Mana ibuku, Laila?
- [nada tinggi berdengung] - [Laila dan Hanum tertawa]
[mengerang]
[terbatuk-batuk]
[tertawa]
Mau apa kalian?
Kalian apakan adik aku?
[Hanum tergelak] Kenapa?
[Andi menggertak]
Mana ibuku?
Kalian apakan ibuku?
Laila, apa salah ibuku, ha?
[Laila berembus] Sayang!
Kamu pikir, ibumu itu perempuan baik-baik? Ha?
[Laila tertawa]
Kamu tidak tahu apa yang telah dia perbuat kepadaku!
Kepada keluargaku!
Saat itu, aku sedang hamil muda.
[musik menegangkan]
[Laila] Aku buang semua harga diriku untuk menemui ibumu
karena dia sahabatku.
Aku hanya ingin meminta hakku.
Karena rasa cinta dia terhadap Herman
telah membutakan matanya.
Ibumu telah merampas Herman dari aku.
Dan kamu tahu?
Pada saat itu, seorang perempuan yang hamil
dan tidak punya suami dianggap hina dan kutukan di kampung ini.
[Laila tertawa terbahak-bahak]
Orang-orang munafik itu mengusirku dari kampung ini!
[Laila tertawa terbahak-bahak]
Mereka menganggap aku ini lebih hina
daripada dukun santet seperti Jarwo!
Orang yang telah membantu ibumu untuk mengguna-guna Herman-ku.
Dan Hanum?
Hanum ini adalah anaknya Herman.
Anak bapakmu.
Cantik, 'kan?
Jadi, selama ini, kamu.
Iya, sayang.
Kamu, dengan bodohnya,
telah mempercayakan ibu tercintamu itu padaku.
[Hanum menyengir]
Sehingga, aku bisa dengan leluasa melakukan apa pun
untuk membuatnya menderita!
Tapi, kenapa harus menyakiti Dina?
Dina lebih pintar daripada kamu.
Dia hampir saja membongkar semua rahasiaku.
Kalian berdua berengsek! Kalian apakan adikku, ha?
Mana ibuku, Laila?
[musik menegangkan]
Ibu?
Ibu?
Bu?
- Ibu! - Andi?
Dina?
Sri...
kamu di rumah aku sekarang.
Laila?
Kamu masih ingat?
Dan ini Hanum, anakku.
Apa kabar, Bu?
Ibu mau makan?
Atau mau aku suapkan?
Sayang sekali, Herman sudah mati, ya?
Jadi, tidak bisa menyaksikan keluarga besarnya berkumpul sekarang.
[musik mendebarkan berirama cepat]
Hanum.
Tolong, lepaskan anak-anakku.
[Sri tersedu-sedu]
[Sri merengek] Jangan lakukan itu, Laila!
[Sri terisak]
Jangan anakku!
[Sri terisak-isak]
Jangan sakiti adik aku, Num.
[musik berdentang]
[musik mendebarkan berlanjut]
Abang?
Ibu?
[Sri terperanjat]
[musik berdentum keras]
- [Hanum menggertak] - [Dina mejerit]
- Dina! - [hantaman keras]
- [Sri termengap-mengap] - [Dina merintih]
[musik perlahan memekakkan]
[daging bergeretak, menjerit]
Hentikan!
Tolong, jangan!
[Sri tersengal-sengal]
- [Sri terisak] - [Andi tersedu]
[Sri] Jangan!
- [Sri meregang] Oh, tidak! - [Andi termengap-mengap]
Hentikan, Laila! Hentikan!
[Dina mengerang lemah]
- [daging bergeretak] - [merintih]
- [Sri terisak] - [Dina meregang]
[desahan tersengal]
[besi berdenyit]
Tolong, jangan, Laila.
Tidak!
- [sayatan daging] - [Andi] Jangan!
[menjerit]
[Andi] Jangan sakiti adik aku!
Jangan sakiti adik aku!
Jangan sakiti adik aku!
[mencibir] Cuh!
Sayang, penderitaan yang dia alami
tidak sebanding
dengan penderitaan yang aku dan anakku alami selama ini.
- [musik makin memekak] - [Dina tersengal-sengal]
- [Sri menjerit] - [Dina mengerang lemah]
Dina!
Dina.
[Laila tertawa]
Aku minta maaf.
Ma?
[musik mencekam]
- [bunyi geretak] - [Dina mengerang lemah]
[tersedak]
Hentikan, Laila!
Ha?
- [Laila] Hem... - [Hanum cekikikan]
Lepaskan anak-anakku!
[tercekik]
[Sri] Jangan siksa dia!
Aku minta maaf, Laila.
Aku benar-benar minta maaf.
Sudah terlambat, Sri.
Bahkan, sekarang giliran kamu.
[Laila] Hem.
Sebentar lagi kamu akan pergi bersama dukun keparat itu ke kuburannya.
Dan kamu akan merasakan nikmatnya dikubur hidup-hidup.
Tapi lepaskan anak-anakku.
Kamu sudah tidak bisa memerintah aku lagi!
Sekarang, aku yang berkuasa!
Bukan begitu, Sayang?
[terkekeh pelan]
[desau angin]
Bu?
Ibu?
[Dina merintih lemah]
Ibu?
Ibu? Bu.
[Andi] Bu?
Ibu?
Ibu.
Ibu!
Ibu.
Ibu.
Ibu!
[menangis]
[suara mendesis]
[suara wanita membaca mantra]
[Dina mengerang lemah]
Andi-ku sayang.
Tidak usah bersedih seperti ini.
[menendang]
Sayang! Kamu tidak apa-apa, Nak?
Bangun, Nak! Nak!
[musik berdentum mengeras]
- [Laila meraung] - [Andi meraung]
- [Laila menjerit] - Mama!
[musik menegangkan]
Andi! Jangan!
[Laila dan Hanum menjerit]
[Laila dan Hanum terus menjerit]
[musik memekak nyaring]
[lonceng berdentang]
Ada apa, sih, ini?
[menjerit]
Kamu tunggu di sini, ya.
Bawa Ibu pulang.
[dentingan nada di musik latar]
Ibu!
Bu! Ibu!
Bu!
Ibu!
[Andi terisak]
Ibu! Bu!
Ibu!
[merengek] Ibu! Bu.
[menjerit]
- [Andi tersengal] - [Sri terbatuk]
Ibu! [tersedu-sedu]
[musik misterius berdenting]
[siulan nada lagu "Mawar Berduri"]
- [musik mencekam] - [mayat meraung]
[jeritan menggema]
["Mawar Berduri" mengalun]
♪ Tertulislah kisah ♪
♪ Tentang bunga mawar ♪
♪ Di tengah belukar ♪
♪ Yang penuh dengan duri ♪
♪ Semerbak harumnya ♪
♪ Yang tiada tara ♪
♪ Siapa pun ingin ♪
♪ Memetik bunga itu ♪
♪ Banyaklah kumbang datang Ingin mengisap madunya ♪
♪ Aduh sayang ♪
♪ Banyak kumbang yang mati ♪
♪ Karena tertusuk duri ♪
♪ Aduh sayang ♪
♪ Kau memberi hati ♪
♪ Kepada diriku ♪
♪ Seluruh hidupku ♪
♪ Kudambakan padamu ♪
♪ Mawar berduri ♪
♪ Kini 'ku pergi ♪
♪ Dengan membawa ♪
♪ Luka di hati ♪
♪ Mawar berduri ♪
♪ Cukup sekali ♪
♪ Kau melukai ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.