Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ini adalah seri fiksi berdasarkan kisah nyata.
Karakter, tempat, lokasi, plot, kejadian yang muncul di seri ini
telah dikonsep secara kreatif untuk tujuan dramatisasi.
Kesamaan karakter, tempat, lokasi, dan kejadian
adalah kebetulan dan tak disengaja.
Pergi, Berengsek!
Tunggu, Pak, namaku Anas Ahmed. Aku reporter. Dengar.
Nanti kami verifikasi, sekarang ikut kami!
Aku reporter. Lihat kartuku. Samay Ujala. Baca namanya.
Kenapa kau lari?
Aku tak lari, Pak, cuma lewat.
Pak, tolong jauhkan ini.
Pak, jika kau lepaskan aku, kumasukkan berita ini di koran besok,
bersama fotomu...
Berita soal kau pertaruhkan nyawa menangkap preman ini.
Akan kuambil gambarnya sekarang.
Ya, begitu.
Begitu, bagus.
Aku dapat gambar yang bagus, akan kumasukkan ini besok.
Sana, pergilah. Pergi.
Saudara Brajesh mengenalku, Pak.
Ayo.
Dia bisa beri uang banyak...
Diam!
UP STF.
Rajeev Ranjan Singh.
- Halo, Pak. - Halo.
Kau mau bawa mereka ke mana?
- Punya surat perintah? - Nanti kukirimkan.
Mana bisa tangkap mereka tanpa surat?
Mereka dituduh pengelabuan dan pencucian uang!
Itu cuma tuduhan. Biar kami yang tangani.
- Apa yang terjadi? - Pak Biswa datang.
- Semua akan baik-baik saja. - Kurasa tidak.
Semua polisi itu berengsek.
Para berengsek ini sama saja.
Apa katamu?
Tidak, Pak!
Apa katamu!
Kami dapat perintah dari atas.
Pak, aku tak peduli.
Hukum tetap hukum.
Kau tahu itu.
Keluar dan pergilah!
Pulanglah ke rumah.
Pergi!
Lain kali, bekerja samalah dengan polisi lokal.
Kami akan senang bekerja sama.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Sunny.
Sunny.
Kau sedang apa? Buka pintunya! Sunny!
- Sunny. - Ya...
- Buka. Ada apa? - Ya, sebentar.
Ada apa? Kau mengkremasi Ibumu?
Kau sudah gila?
Sejak kapan kau merokok?
Aku hampir ditembak Rocky semalam.
Oh, ya? Kenapa kau belum mati?
Aku tak bercanda!
- Polisi datang... - Jangan berteriak.
Dia saudaramu.
Dia masalahmu.
Kau bisa terbunuh karena pekerjaanmu nanti.
Bangun!
Kau sudah bicara dengan ibumu?
Aku tak mau kerja dengan mereka lagi.
- Kau punya uangnya? - Kudapatkan nanti.
Baiklah. Datang ke rumah dan bicaralah dengan ibuku.
Tapi aku butuh uangnya dulu.
Ya, baiklah.
Telah terjadi 15 serangan separatis terhadap polisi dalam dua tahun.
Lima orang meninggal.
Hentikan, Bu!
Tak ada wanita di kantor polisi.
Kenapa kau harus kerja bersama para pria itu?
Itu tampak buruk!
Bu, aku inspektur polisi.
Semua hormat padaku. Aku dipanggil "Bu."
Mereka hormat di depanmu. Tapi mencelamu di belakang.
- Takkan ada pria baik mau menikahimu. - Biarkan saja.
Kau sudah gila?
Apa maksudmu?
Kau takkan menikah?
Ibu bisa mati begini!
SAMAY UJAALA SELALU TERDAHULU
Jadi, Pak Reporter...
Kau tidur nyenyak semalam?
Tidak.
Apa yang kau lakukan semalam?
Kenapa mau tahu? Lebih baik bicara soal kerjaan.
Aku bicara soal pekerjaan!
Ini cetakanmu, 'kan?
Banyak kesalahan konyol.
Dan bicara seperti orang hebat. Baca ini...
Di sini : "tak ilmiah" bukannya "inkonstitusional"
Dan ini... "Inspektur Braj Chutarvedi" (berengsek)
Dia sebut dirinya bodoh!
Seharusnya Chaturvedi.
Dia akan menghajarmu kalau dia baca.
Paham? Lihatlah sendiri.
Karena itu aku tanya apa kau tidur nyenyak semalam, Pak Reporter.
Aku tahu di mana kau semalam.
Kau bersama mereka, 'kan? Kau juga tertangkap, 'kan?
Kalau sudah tahu semuanya, kenapa masih bertanya?
Pernah dengar Daniel Pearl?
Belum...
Kalau begitu jangan sebut dirimu reporter.
Dia jurnalis Amerika.
Taliban menggorok lehernya dan membunuhnya.
- Videonya viral, kau belum lihat? - Kenapa kau ceritakan ini?
Kau pikir kau siapa?
Kau tahu kau bersikap begitu pada siapa?
Dekati para kriminal ini. Cari informasi
atau berita.
Kita butuh itu.
Atau kau terbunuh sia-sia. Takkan ada yang tanya tentangmu.
Reporter gadungan!
- Pagi, Bu. - Halo.
Selamat pagi.
- Mau kubuatkan teh? - Terima kasih.
Kau dari mana, Pak Biswa?
Keluargaku berasal dari Sambalpur, Odisha.
Aku lulus sekolah dan kuliah di Ranchi.
Kalau keluargamu?
Ada siapa saja?
Istri...
dan dua anak.
Mereka tinggal di sini?
Tidak, mereka tinggal di Ranchi.
Tempat ini tak aman.
Juga tak ada sekolah yang bagus. Ranchi jauh lebih baik.
Mereka pasti merindukanmu, 'kan?
Ya, benar.
Kunjungilah mereka selama dua minggu.
Tidak, Bu...
bagaimana...
Ini surat penangguhanmu. Silakan ambil.
Ambillah.
Bu?
Apa-apaan ini?
Aku salah apa?
Bu, apa ini?
Aku tak salah apa-apa.
Kau menghentikan satuan UP STF di jalan raya semalam.
Mereka tak ada surat. Mereka bisa semena-mena.
Kenapa kau tak memberitahuku?
Tak sempat, Bu.
Jika tak dihentikan,
mereka akan ajukan kasus palsu dan bunuh bocah-bocah itu.
Kau tahu bagaimana STF itu.
- Mereka cuma bocah lokal... - Apa maksudmu?
Mereka kriminal.
Jika suka mereka, maka kau tak layak di sini!
Bu, mereka...
Aku diutus ke Jamtara untuk hentikan kejahatan mereka.
Akan kulakukan apa pun untuk hentikan mereka.
Ya, Bu.
Ini peringatan terakhir.
Terima kasih.
Biswa...
Kunjungilah mereka seminggu saja.
Halo, saya Swati Mishra dari kantor utama SDI.
3081-2523-1376-3705.
Nomor CVV-ku adalah 626.
Kartuku sudah diperbarui?
Kau butuh detail lain?
Terima kasih.
Ya, aku siap.
Kembali lagi.
Wajahku kau oles apa? Panas sekali.
- Apa? - Panas sekali.
Krim cokelat dengan aloe vera dan jo jo... jojobaba.
Jojoba.
Ya, itu.
Ayo, bangun.
Kita harus menelepon.
Ada tiga daftar nomor telepon baru.
Sunny menelepon tadi pagi.
Istirahatlah.
Jamtara sedang kacau sekarang.
Kau lihat orang sejak pagi?
Kenapa kita harus peduli pada mereka?
Mereka pasti akan mati juga.
Rocky akan membunuh Sunny suatu hari nanti...
Setelah itu, yang tersisa
akan saling membunuh. Setelah itu, kita akan menguasai tempat ini.
Si berengsek tiba.
Di sini.
Minggir...
Paman, aku pesan teh.
Di mana Sunny?
Ponselnya tak aktif.
Sunny pergi beli pistol.
Kau serba tahu ya?
Ya, aku tahu semuanya.
Siapa yang ajak dua orang ini?
Kami dewa Jamtara. Kami muncul di mana pun kami mau.
Pergilah, Berengsek!
Diam dan duduk saja dan...
Kenapa kalian begitu menjengkelkan?
Kita akan dipenjara kalau Sunny tertembak.
- Aku tahu yang kulakukan. - Tidak.
Didukung menteri tak berarti kau hebat.
- Jangan ajari yang salah dan benar. - Hei...
jika menurutmu kau bisa lakukan ini tanpa Sunny,
maka kau bodoh. Paham?
Kita hampir tertangkap karenamu.
Dengar...
Kalian tak perlu beri tahu aku harus apa dan caranya.
Memang ada apa dengan Sunny? Dia tak sepadan denganku!
Silakan kalau dia mau berhenti.
Dan masalah polisi itu terjadi karena kalian bodoh.
Ya, benar, kami yang bodoh!
- Pergilah, Berengsek! - Berengsek!
Minggir, Berengsek!
Habiskan tehmu...
Sialan kau.
Ayo.
Kau pergilah.
Gudiya dan aku mau menikah. Kami sudah membicarakannya.
Baiklah.
Berapa usiamu?
Tujuh belas.
Gudiya akan berusia 20 tahun ini.
Dia lebih tua?
Secara umur, dan kasta.
Kasta kami lebih tinggi.
Jika saja ayah Gudiya tak diracuni,
kami takkan hidup seperti ini.
Bukannya paman meninggal karena miras oplos?
Kenapa kau bicara soal kematian di saat seperti ini?
Bicarakan pernikahan.
Kau ke sini untuk bicara atau melamar?
Ini bukan salahmu.
Tapi salah Gudiya.
Dia tak peduli soal umur atau kasta.
Berhenti bicara soal kasta dan diam...
Yang punya uang adalah yang berkasta lebih tinggi.
Ambil uangnya dan siapkan pernikahannya.
Mulai sekarang, bicara lebih hormat.
Permisi, terima kasih.
Uang!
"There" menyatakan tempat.
Dan "their" menyatakan kepemilikan.
Ya, keduanya memang terdengar sama,
tapi arti dan ejaannya berbeda. Paham?
Silakan tulis lalu diingat.
Kursus kalian berakhir dua minggu lagi.
Apa rencana kalian setelahnya?
Kami mau ke Delhi, dan coba melamar ke perusahaan alih daya.
Ujian pegawai negeri juga di sana.
Ya, saat ini...
Kurasa aku bisa mengadakan pelatihan untuk cari kerja.
Ya, Bu, bagus sekali.
Baiklah, ada pelatihan pegawai bank.
Cuma perlu daftar melalui daring.
Tapi kalian butuh...
Kuberi tahu nanti. Silakan pergi.
Halo? Ya, halo?
Sudah bicara dengan ibuku?
Baiklah.
Lalu uangnya?
Baiklah.
Boleh aku bertanya?
Bicaralah.
Kakak, ini...
Bisa ambil kembali pistolnya? Lebih baik aku pakai tinju dan tendangan saja.
Kau serius mau mengembalikannya? Apa yang terjadi? Kau takut?
Tidak, Kakak. Bukan begitu. Semalam, kami berkelahi.
Kutodongkan senjata pada seseorang.
- Kau tak menembaknya, 'kan? - Tidak.
Apa masalahnya?
Itu gunanya punya senjata. Kau harus tahu kapan dan bagaimana memakainya.
Ya, jika bukan karena razia polisi, aku pasti sudah bunuh seseorang.
- Aku tak berpikir dan... - Aku tahu...
Aku dapat telepon.
Aku bisa hentikan razianya kalau mau.
Tapi kalian jadi semakin sombong.
Jadi kuputuskan bersenang-senang.
- Tapi... - Aku belum selesai.
Aku yang membuatmu tak dipenjara.
Dan siapa yang bisa hukum dan kabulkan permintaanmu?
Dia disebut apa?
Dia disebut apa?
Dia disebut Tuhan, Berengsek.
Kau tahu apa yang Tuhan lakukan pada orang yang membangkang?
Saudaraku, aku paham maksudmu.
Tapi kelompokku bekerja sendiri.
Sunny, si Bereng..
Kau todongkan senjata padanya semalam, 'kan?
Menurut Mahabharata,
Arjuna harus membunuh saudaranya supaya jadi raja, 'kan?
Bilang kalau tak sanggup. Akan kucari orang lain...
Jangan.
Kalau begitu jadilah Arjuna.
Dalam politik, kebersamaan itu penting.
Siapa yang tak setuju...
Kau punya pistol.
Lain kali tariklah pelatuknya.
Paham?
Ya, Kakak.
Caramu mencuri hatiku...
Sunny datang.
Hei! Ayo ikut minum.
- Hei, Sunny, kemari. - Panggil dia.
Kemarilah, Kawan.
Kenapa... Dengar.
Tunggu...
- Mau ke mana kau? - Berikan kuncinya.
Tidak.
- Kembalikan. - Tak mau.
- Masukkan ke pantatmu kalau begitu. - Kenapa kau begitu menjengkelkan?
Todongkan senjatanya padaku! Ayo!
Ayo!
Kau sudah memukulku, puas?
Kau lebih muda dariku. Kita sudah bersama sejak kecil.
Persetan! Tak benar.
Urusi saja urusanmu. Mengerti?
- Apa maumu? - Lakukan semauku.
Silakan kalau mau jadi antek politisi, aku tak peduli.
Kenapa kau menyebalkan?
Kenapa memerintahku?
Jangan pikir aku takut pada benda dalam kantongmu.
Aku juga tahu cara pakainya.
Oh, ya? Ambil. Tembak aku!
Ayo tembak aku!
Bagus, sekarang tembak aku! Ayolah...
Ayo, tarik pelatuknya!
Aku tak mau, bukan berarti tak bisa.
Kapan kubilang kau tak bisa, Saudaraku? Kau bisa.
Kita selamat dari polisi semalam berkat Brajesh.
- Dia panggil kita. - Tak mau.
Aku tak mau kerja lagi denganmu.
Aku dan Gudiya akan menikah besok. Setelah itu, aku berhenti.
Kau sudah gila? Kau berpikir jernih?
Aku baik-baik saja.
Tak perlu ikut campur. Semua sudah kuputuskan.
Kenapa kau putuskan semuanya tanpa bertanya padaku?
Karena opinimu tak penting.
Opini saudaramu tak penting?
Saudara takkan saling menodongkan senjata.
Saudaraku mati semalam.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.