All language subtitles for Choked.Paisa.Bolta.Hai (2020) twitter@ham_hez tumblr@hezbollahhamasaxis

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

MUMBAI, OKTOBER 2016

Hai.

Hei, sudah pulang sekolah?

Dinesh!

Kau membuang daun the di bak cuci piring?

Ibumu tak pernah mengajarimu?

Penjaga!

Panggil tukang leding. Pipanya bocor!

Sushant!

Ayah!

Aku sudah mengalihkan salurannya.

Semua sampah akan masuk ke sini.

Mengerti?

Pipa ini harus diganti.

- Sushant! - Ayah!

Kemarilah.

Dasar pemalas.

Ada apa?

Ayo main karambol.

Baik. Mulai saja duluan.

Kau takkan cetak angka.

Turun saja dulu.

Gantung ini.

Satu...

Dua...

Tiga.

BANK KOPERASI MUMBAI SELATAN

PT BANK

REDDY

Nyonya, ponselmu berdering.

Itulah masalah orang India.

Kami tidak mempercayai mesin.

Mesinnya sudah dua kali bilang, 40.000 rupe.

Tapi, tidak...

Kami harus menghitungnya lagi.

Mesin memeriksanya dua kali. Aku memeriksa untuk ketiga kalinya.

Kuharap kau percaya.

Kenapa kentangnya sangat besar? Stok yang lebih kecil.

Tidak ada cacingnya, 'kan?

Mereka tak izin sebelum masuk ke sana.

REDDY

- Apa kabar, Sarita? - Baik.

- Pulang kerja? - Ya. Kenapa?

Aku pergi bekerja hari ini.

Senang menjadi produktif, 'kan?

Dinesh juga bekerja sangat keras.

Senang bisa sibuk.

Guru kita bilang, "Bekerja berarti hidup."

Bagus bisa mengejar ketinggalan.

Aku mengerti. Aku tak bilang takkan melakukannya.

Tapi dengarkan aku...

Aku sudah memesan katering untuk 200 orang.

Ya?

Tidak, tapi...

Tapi...

Tidak...

Apa harus kunegosiasi ulang seluruh kesepakatan itu?

Ya, tepat sekali.

Kutelepon lagi dalam setengah jam.

Tidak, aku pasti akan melakukannya.

Aku permisi.

Beri aku waktu sebentar!

Wanita ini sudah mengomeliku selama satu jam.

Katakan padaku.

Dia menambahkan kolega pengantin pria ke dalam daftar.

Semua orang memanfaatkan kebaikanku.

Daftar tamu terus bertambah,

seperti semut yang muncul dari dinding.

Kau juga tak membuatnya menjadi lebih mudah.

Aku memberitahumu berhari-hari lalu!

Lihat plafonku...

Tampak sangat jelek.

Aku di depan pintumu sedari siang.

Tapi tidur siang Sushant lebih pulas dari tidur malam kita!

Tak ada ketukan pintu yang mampu membangunkannya!

Aku tak punya waktu untuk selesaikan semua masalah!

Ada pernikahan.

Ada tamu di rumah.

Ini membuatku tampak buruk.

Bukankah itu rumahmu juga?

Perbaiki bak cuci piringmu segera.

- Ini, hubungi tukang ledingku. - Tidak...

- Tukang leding... - Akan kuperbaiki besok.

- Kau berjanji? - Ya.

Bersumpah demi hidupku!

Percayalah, akan kuperbaiki besok.

Aku akan mati jika tidak!

- Apa maksudmu? - Kau sudah berjanji berhari-hari.

- Aku perbaiki. - Baiklah.

Jika bergantung pada Sushant, aku tenggelam.

Jangan merengek. Cukup. Pergilah.

Kau beli bayam hari ini?

Mengapa pintunya terbuka?

Dibuka ayah. Empat.

Hei, Sayang.

Hei, Sayang.

Jangan panggil begitu.

Sudah berapa lama airnya bocor?

Apa ayah melihatnya?

Sudah dari sebelum aku pulang sekolah.

Ayah melihatnya, tapi dia abaikan,

dan melemparkan handuk ke arahku.

Dia biarkan lampu kamar mandi menyala.

Sameer, mengapa potongan permainan papan bertebaran?

Potongan Jed ada di tempat tidur. Nilainya 10 poin!

Ibu, Zed.

Ibu tahu.

Mengapa bidak catur ada di kotak pensil?

Lalu, rautan pensil di atas tempat sampah.

seperti tempat sampah.

- Waktunya makan malam. - Itu yang terakhir!

Kau buang tagihannya?

Ayah tumpahkan teh pada dirinya sendiri.

Pakai tagihan sebagai lap dan membuangnya.

Kawan, kita butuh tujuh poin. Mari kita selesaikan.

Jangan mengejar Ratu untuk poin tambahan.

Dia tahu yang harus dilakukan. Jangan mengguruinya.

Apa masalahmu? Dia ada di timku.

Beberapa orang butuh tuntunan seumur hidupnya, Bibi.

Bukan begitu, Bibi?

Apa maksudmu?

- Kenapa kau bermain amat lambat? - Apa yang lucu?

Jawab aku, Dinesh.

Giliranmu.

- Bermainlah. - Bicaralah!

Tentang apa?

Aku memperhatikan hinaanmu berhari-hari.

Apa masalahnya?

Menurutmu, kau segalanya?

Begitukah?

Kita partner, bukan?

Lantas?

Siapa yang melakukan segalanya?

Aku yang berusaha.

- Aku cari klien. - Benar?

Membuat kesepakatan, menindak lanjuti. Lalu, kau?

Bajingan, aku membawa 19 dari 25 klien.

Kau sudah lupa?

Mantan kolegaku, kontakku di Uber, kontak perdagangan sahamku.

Kau nyaris tak bisa menanganinya.

Karena aku punya satu pekerjaan stabil selama beberapa tahun terakhir.

Tak sepertimu, aku tak kehilangan pekerjaan setiap beberapa bulan.

Jika pekerjaanmu hebat, kenapa bisnis denganku?

Main saja!

Cukup. Mari main.

Anju harusnya memberi dia telinga, Bibi.

- Dia melampiaskan padaku. - Ayo.

Persetan dengan permainan. Ayo pergi.

Tunggu. Kenapa dia membawa-bawa Anju?

- Lantas? - Apa kubawa-bawa istrimu?

- Hati-hati, Dinesh. - Maaf aku lupa.

Dialah istrinya.

Sarita kepala rumah tangganya.

- Kau pikir kau lucu? - Itu fakta...

Kau pikir kau lucu?

Jangan sentuh aku.

- Maka, hentikan aku! - Kau...

Hentikan aku!

Kau keterlaluan, Sushant.

- Kau istrinya. - Keterlaluan.

- Kau kelewatan. - Kenapa sembunyi saat dia pulang?

Bajingan!

Ayah!

- Ayah! - Apa?

Ada apa?

Ibu memanggilmu.

Aku akan ke sana.

Pergilah.

Pergi.

Ini bukan apa-apa.

Pergilah.

Pergilah.

Pergi! Suamimu sudah pulang.

Diam!

- Kau sudah gila? - Ya!

Ayah!

Sudah kubilang, pulang pukul 21.00.

Makanannya dingin.

Itu sebabnya ada kompor.

Jadilah seperti Modi.

Ya, kau benar. Makan jamur dan...

Reddy meneleponku seharian.

...rahasia kesehatan dan kelincahan Modi yang baik.

Kenapa?

Kapan kau akan bayar?

Dari mana kau tahu?

Temanmu hanya meneleponku saat kau berutang uang.

Itu bukan utang.

Hanya sedikit. Akan kukembalikan.

Komisimu dari Dinesh?

Makan jamur seperti Modi.

Ayolah, Sarita.

Ini kentang ketiga minggu ini.

Makan jamur, seperti Modi.

Apa tak ada sayuran lain?

Atau keju, mungkin?

Kentang untuk pemalas.

Usaha, dan dapat lebih.

Seperti kentang.

Hadirin, peserta kami selanjutnya

Sarita Sahastrabuddhe.

Aromanya sangat lezat.

Cepat. Aku kelaparan.

Sushant!

Ya, Tai.

Jangan masak hari ini.

Akan kubawakan kari.

Permisi.

Tn. Govardan?

Tentu, duduklah.

Tidak apa. Aku akan berdiri.

Pak, ada...

- Siapa? - Sushant.

Partner Dinesh.

Pak, Sushant di sini. Partner bisnis Dinesh.

Ada apa kemari?

- Untuk meminta komisi. - Untuk komisi, Pak.

Baik.

Sudah diambil kemarin.

Berkoordinasilah dengannya.

Bagaimana bisa?

Kami partner yang setara!

Setengahnya komisiku.

Kenapa kau serahkan?

Aku harus bicara sendiri.

Ada rapat lain. Tak bisa bertemu...

Dia di sana. Bisa kulihat.

Aku mau bertemu.

Aku bukan mengemis.

Aku menginginkan hakku.

Biarkan aku!

D.N PAWAR

Dinesh!

Kenapa menggedor pintu, Sushant?

- Mana Dinesh? - Belnya bekerja.

- Di mana dia? - Dia tak di rumah.

Begitukah?

- Di mana dia bersembunyi? - Dia tak ada.

- Kau pikir aku sebodoh itu? - Apa?

Apa kau baru saja mengumpatku? Dasar bodoh.

Dia tak di rumah.

Di mana dia bersembunyi?

Dia tidak di sini!

- Benarkah? - Apa?

- Apa ini? - Apa?

Apa ini?

Harusnya kau sembunyikan.

Motornya di luar.

Bodoh!

Dia naik becak.

- Benarkah? - Ya.

Dia bawa tas lain.

Apa kau mendengarkan aku?

- Apa? - Hentikan.

- Kembali nanti malam. - Baiklah.

Baik.

- Cari alasan lebih baik. - Ya, tentu!

Sampai nanti.

Kau baik-baik saja?

- Dia sudah pergi? - Ya.

Minta ayah panggil tukang.

"Minta ayah panggil tukang leding."

Teman-temanku datang besok.

"Teman-temanku datang besok."

Minta dia berbenah dan pulang larut.

- "Minta dia berbenah..." - Minta ibu untuk enyah.

"Minta ibu untuk enyah."

Selalu memberi perintah!

"Selalu memberi perintah!"

Cukup, Sameer.

Baik, Ibu.

Bingo itu permainanmu. Angka keberuntungan berikutnya adalah dua!

Ini bukan hariku!

Aku belum menemukan satu nomor pun.

Ini dia tehnya.

Pria mencurigakan di lantai atas selalu menyelinap masuk dan keluar.

Tak ada yang tahu.

Siapa? Tn. Rajendra?

Ya. Ada apa dengannya?

Nona, angka berikutnya adalah tiga!

Masih belum berhasil.

Dia asisten pribadi seorang politisi.

Asisten pribadi?

Urusan apa yang membuatnya pergi berhari-hari?

Hei!

Nomor berikutnya adalah 16!

Bagus, Nak!

Pilih nomorku juga!

Tukang leding.

Daun teh, nasi. Kau membuang semua di sini?

Bukan aku yang membuat teh.

Pindahkan piring ini. Aku perlu memeriksanya.

- Akan kulakukan. - Minggir!

Pergilah bersama temanmu.

Kau memperburuknya.

Minggir!

Aku berusaha...

Tergelincir.

Manis.

Apa kau sudah gila?

Bisa mengenai kepalanya.

Jangan berpura-pura. Tak ada yang melihat.

Kini mau jadi orangtua!

Akan kuperjelas.

Kembali setelah temanku pergi,

berbenah, tak ada tukang leding.

Kau tak bilang apa pun tentang tukang leding.

- Tunggu... - Kau menyuruhku...

Kau hanya bilang soal berbenah, dan sudah.

Kau sangat pandai berbohong.

Mengapa aku berbohong?

- Haruskah aku? - Aku berbohong?

Haruskah aku?

Sameer.

- Anakku. - Biarkan dia tidur.

Apa kau takut ketahuan?

Sayang.

- Samaer. - Samaer. Bangun.

- Dengarkan ibu... - Tidak, dengarkan ayah!

- Tunggu sebentar! - Kau yang tunggu!

Ingat kemarin ibu beri tahu ayah soal teman yang akan datang?

Berbenah, jangan ada tukang leding.

- Tak ada tukang leding, 'kan? - Ya, 'kan?

- Tak ada tukang leding, 'kan? - Sudah.

- Coba ingat! - Dia beri tahu soal temannya.

- Itu saja, 'kan? - Tunggu!

- Biar aku bicara padanya. - Dengarkan dia.

Kenapa berteriak?

Ingat-ingatlah, Sameer!

- Kau mengulang yang kami katakan. - Ya, dia mengulangnya. Tepat sekali.

Ya, dia ingat.

Apa itu? Soal teman-temannya, rumah...

- Tidak. - Selalu main Candy Crush.

Apa kau mendengarkanku?

Kenapa membawa-bawa itu?

Kau tak pernah mendengarkanku!

Aku dengar. Karenanya tahu kau bohong.

Tapi apa kau memerhatikan?

- Tentu saja. - Tidak.

- Kau tak menyebut tukang leding! - Sudah!

- Akui itu salahmu! - Tunggu sebentar.

Berhenti berteriak! Sameer!

Sarita.

Apa kalian baik-baik saja?

Maksudku...

Neeta membahasnya.

Itu bukan gosip. Dia khawatir.

Bukan masalah.

Semua bicara. Semuanya tahu.

Kalian bahagia saat pertama kali pindah.

Sushant akan bermain gitar pada hari ulang tahun kita.

Kau akan bernyanyi. Sangat indah.

Ya, 'kan?

Kemudian sesuatu terjadi karena acara realitas.

Hal ini terjadi.

Sesuatu berubah setelah itu.

Ya, 'kan?

Kalian tak melakukannya lagi.

Mengapa?

Uang, Tai.

Di rumah kami, itu dimulai dan berakhir di sana.

Tapi kau PNS.

Itu bank pemerintah.

Gajimu pasti besar.

Stabil, 25-30.000.

Itu penghasilan tetap.

Stabil tidaklah cukup.

Muak pada ketidakpeduliannya.

Tak bisa mempertahankan pekerjaan.

Kadang menjadi sopir Uber, dan jual asuransi dengan Dinesh.

Menyerah pada musiknya.

Kubuang impianku agar dia bisa penuhi impiannya.

Ya.

Aku bekerja keras di bank agar dia bisa mengarang lagu.

Tapi dia tak berusaha.

Dia tak memiliki siapa pun di Bangalore. Dia pindah ke Mumbai karena aku.

Dia bergantung padaku untuk audisi, rapat, dan lainnya.

Waktu itu, di acara Shining Star...

Lampu menyala dan...

penonton menatapku.

Aku seakan tersedak.

Aku kehilangan suaraku.

Itu terjadi...

Dia sudah menghukumku sejak itu.

Menaruh fotoku di panggung di seluruh rumah.

Aku merasa itu semua mengejekku.

Mengingatkanku pada hari itu.

Kau sudah bicara soal itu?

Tak ada gunanya.

Sarita...

Kau harus melakukannya.

Ekspresikan perasaanmu.

Sepertiku.

Terlalu malu untuk mengekspresikan diri.

Kini aku sendirian.

- Tolong ambilkan teh. - Baik.

SARITA PILLAI

DILARANG MASUK

Saat mengedit video pernikahan,

jangan gunakan lagu-lagu Bollywood payah.

Apa yang kau sukai? EDM?

Diam. Akan kuurus.

- Bagaimana? - Hentikan, Niru.

Kau saja tak bisa memilih warna cat kuku.

Abaikan dia.

Dia hanya ingin pamer.

Ini upahmu.

Dia bahkan pilih pengantin pria yang tampan pakai setelan.

Pernah kau memikirkan tagar pernikahan?

Tagar? Ya!

Kami pakai "Jana" dari namaku, dan "Gana" dari namanya.

Tagar JanaGana.

Itu sempurna!

- Itu keren. - Lagu kebangsaan. Sangat patriotik.

- Ayo. - Tehku...

- Tai? - Ya.

Jangan khawatir.

- Videonya akan jadi yang terbaik. - Ayo.

- Aku berjanji. - Baiklah.

Jangan stres!

Ini mata uang asli.

Kenapa kau curiga?

Pria yang menyetorkannya tampak mencurigakan.

Dia tidak terlihat seperti orang kaya.

Tak bisa menilai dari penampilannya.

Pengantar susuku memiliki iPhone.

Dia menertawakan ponsel lamaku.

Dengar...

Kudengar kau penyanyi.

Hadirin,

mari sambut peserta kami berikutnya,

Sarita Sahastrabuddhe, ke atas panggung.

Lampu menyala!

Penonton terlihat.

Bukan aku.

Bisa kau matikan?

Ayo...

Sarita, lanjutkan.

Apa yang kau mau? Kenapa mengikutiku?

Kopi?

Halo, Ibu.

Kereta penuh sesak.

Aku melewatkannya dua kali.

Sayang!

Hei, Sayang!

Sushant...

Dia baru saja keluar untuk membeli sapu baru.

Ini, bicara dengan nenekmu.

Halo, Nenek.

Ya. Ayah selalu di rumah!

Tak punya tempat lain.

Tugasku lebih banyak.

- Kita pergi? - Ya.

- Apa kau ikut? - Ya.

Halo?

Halo, Nyonya. Ini Reddy.

- Jangan... - Dengar...

Kami sudah tak bisa berlaku sopan sekarang.

Kau bilang suamimu akan menelpon.

Kenapa kau meneleponku?

Aku tak mau mengemis untuk uangku sendiri.

Aku khawatir kesedihanku akan berubah jadi kemarahan.

Bisakah kau memperbaiki sepatuku?

Biarku kulihat.

Lima dolar.

Jika rusak lagi, aku akan minta kembali uangku.

Tidak akan, Nenek.

Bajingan! Siapa yang kau panggil "nenek"?

- Aku 61 tahun. - Maaf.

Akan kuperbaiki.

Perbaiki! Aku akan kembali.

Reddy kirim pesan.

Untuk berterima kasih padaku.

Pesannya,...

"Terima kasih.

Sarita membayar 8.000 rupe."

Kau sudah memakai lipstik.

Harusnya tak bilang.

Itu sebabnya dia kirim SMS.

Menghinaku karena istriku yang membayar utangku.

Kau membantu dia melakukannya.

Mari bertengkar nanti. Ya?

Ambilkan aku sindoor di kamar mandi.

Terkutuk kau jika tak membantu.

Tidak ada di sini.

Kau simpan di atas kloset?

Bukankah itu cocok?

Sarita, jangan bercanda. Aku serius.

Baiklah, jangan marah.

Aku bawa kunci. Kita bicarakan nanti.

Taruh lagi di sana.

Tai.

Aku mendengar seseorang berbicara tentang tumpukan uang tunai.

Apa kau tahu?

Benarkah?

Lupakan. Aku pasti salah dengar.

Mungkin.

Akan kubawa.

Cukup. Aku harus pergi sekarang.

- Tidak. Belum. - Kuselesaikan nanti.

Tak boleh. Kau harus bernyanyi.

Ayo, kita mulai.

Sharvari bilang, kau pandai bernyanyi.

- Ayo, bernyanyi. - Cukup. Aku pergi.

Tunggu, Sarita...

Tunggu, Sarita.

Tunggu, Sarita.

Sarita...

Kau mau pulang?

Sudah larut, Tai.

- Belum selesai. - Tak apa.

Tunggu. Kenapa buru-buru?

- Lihatlah ulahnya. - Sarita.

Hentikan ini!

Bibi?

- Kenapa tak bisa menahannya? - Ayolah.

Kubilang jangan memaksanya bernyanyi.

Dia tidak membuat ulah.

Dia mengalami demam panggung.

Ini semua pura-pura.

Matanya tertuju pada jam.

Ada hal lain yang terjadi padanya.

Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Lihat.

Aku mengirimnya ke Ny. Joshi dan Anju.

- Ya Tuhan! - Apa itu?

Apa kau akan membelanya sekarang?

Omong kosong.

Sayuran mudah dicerna. Keripik membuatmu sembelit.

Kucari di Google.

Diam, Sameer! Terus-menerus mengatakan hal-hal sepele!

Terus saja berselancar, bahkan saat harusnya mengerjakan PR.

Tidak ada air di kamar mandi.

Keran membuat suara aneh.

Terserah mau panggil tukang ledingmu atau tukangku.

Kemas makan siangmu dan keluar.

Sudah kubilang, perhatikan sekelilingmu.

Mandilah.

Minggir.

Dengar...

Dari mana kau dapat uang untuk bayar utang?

Ibu mengembalikan sejumlah uang yang dipinjamnya tahun lalu.

Cepatlah, Sameer. Cepat.

Cepat dan ambil tas kita.

Dinesh!

Dinesh!

Apa hadiah pernikahan Niru?

Sedikit uang tunai dalam amplop. Itu cukup.

Jangan pelit. Aku selalu meminjam barang dari Tai.

Sushant, dia melakukan banyak hal untuk kita.

Dia adalah keluarga.

Itu tak cukup.

Beri dia setidaknya 2.000 rupe.

Dua ribu rupe?

Ya. Kenapa?

Hadiah?

Itu pernikahan.

Lantas?

Apa kau banyak uang?

Kau punya sisa uang, bahkan setelah melunasi utangku?

Ibu memberiku 15.000 rupe.

Aku menang 3.000 rupe saat main bingo.

Reddy 8.000, masih ada 10.000 lagi.

Kau masih memiliki 10.000 lagi?

Ya. Kenapa?

Kau biarkan aku kelaparan, saat kau kaya raya?

Aku bisa melunasi utangku pada Reddy!

Sarita!

Sarita!

Bisa-bisanya dia?

Ada apa?

Aku telah kehilangan segalanya!

- Apa? - Ada apa?

Kau...

Kau tidak tahu?

Kau tidak tahu?

- Ya, 'kan? - Tidak.

Uang 500 rupe...

- Apa? - Apa?

Uang 500 rupe hilang.

- Ke mana? - Uang 1.000 rupe juga.

- Apa? - Dia tak melanjutkannya.

- Siapa? - Hei...

Modi.

Modi siapa? Apa yang kau katakan?

Kami sudah memutuskan

bahwa mata uang 500 rupe

dan 1.000 rupe

yang kini digunakan

takkan bisa dipakai lagi mulai tengah malam ini.

Cemerlang!

Sekarang semua uang kotor akan dibuang.

...dari 500 atau 1.000 rupe.

Dia pemimpin hebat!

...di bank...

Hari baik akan datang!

MEREKA PUNYA UANG KOTOR?

Buka.

Berbarislah!

Tak bisa lebih banyak?

Ini mata uang asli?

Ini asli.

Apa ada cip mikronya?

Selanjutnya!

Kau tak bisa menarik 80.000. Hanya bisa 4.000.

Tunjukan KTP.

Tetap mengantre. Keamanan!

- Tak ada. - Keamanan!

- Mengantrelah! - Jaga sikapmu!

Tetap mengantre!

- Nyonya! -Aku akan kembali.

- Pak. - Ya?

Kami kehabisan uang kertas baru.

Bagaimana?

Minggir, tolong.

Permisi.

Keamanan, tutup pintunya.

Sebentar.

Sebentar.

Tolong tetap tenang. Jangan panik.

Orang-orang di sini dapat menarik uang.

Semua akan mendapatkan uang.

Silakan pergi melalui pintu belakang.

Ya?

Mohon kerjasamanya.

Silakan...

Hei!

- Ikut denganku. - Baik, Pak.

Permisi.

Tetap di sini.

Biarkan mereka keluar satu per satu.

Halo, Tn. Patil.

Ini Sahni, Manajer Cabang.

Ada masalah besar di sini.

Kirim pasukan tambahan.

Ada gerombolan besar di sini. Mereka menjadi brutal.

Sepuluh hari sejak demonetisasi.

Orang berbaris di jalanan. Mereka kekurangan uang.

Kehidupan normal terhenti.

Tapi ada hikmahnya...

- Kita sangat beruntung, Bibi. - Ya.

Saksikan sihir Modi langsung.

Menyerahkan kehidupannya dan hidup seperti pertapa di Himalaya,

demi bawa hari baik untuk kita.

...dana untuk kelompok teroris telah mengering.

Larangan mata uang 500 dan 1.000 rupe

telah menggagalkan rencana licik mereka.

...operasi dari Delhi...

Teroris dan naxalite

menghadapi masa sulit.

Catatan larangan telah memengaruhi teroris...

Kau tahu, Modi jadi pertapa di Himalaya?

Ya.

Dia juga membuat teh dan menyapu lantai.

Aku senang jika kau melakukannya juga.

Dia tinggalkan istri, demi bangsa.

Kau pun bisa. Itu memberiku ketenangan pikiran.

Apa masalahmu dengan Modi?

Modi bukan masalahku. Tapi kau, Sushant!

Huru-hara di bank membunuhku.

Teriakan, tangisan...

Bekerja berjam-jam dan pulang ke kekacauan ini.

Tak ada waktu memikirkan Perdana Menteri!

Kau hanya punya waktu.

Ini, bersihkan! Jadilah Perdana Menteri!

Sushant!

Sushant!

Sushant!

Sushant!

Sushant!

Sushant!

Bergegaslah.

Tunggu di gerbang.

Jika bus tiba?

Baik dan pergi, seperti biasa.

Jadilah sedikit mandiri!

Tai?

Tai...

Sarita!

Perencana pernikahan menelepon. Pembayaran dengan uang baru.

Sama dengan katering dan orkes.

- Aku berusaha cari uang tunai. Tolong! - Tai...

Sameer ada di halte.

- Harus terjadi. - Hubungi pukul 16.00.

Aku akan kehilangan muka jika pernikahan dibatalkan!

Sarita!

Kutelepon pukul 16.00.

Matikan kompornya.

Singkirkan uang kotormu?

Kawan.

Aku tak cukup kaya untuk itu.

Itu untuk bajingan korup yang merebut bagian kita.

Kini mereka takut,

antre di luar bank, mengemis uang.

Kau tak apa?

Apa maksudmu?

Maksudku, kau dan istrimu?

Kenapa tidak?

Ada apa?

Itu pura-pura.

- Dia melihat jam. - Apa yang mereka bicarakan?

- Hal lain terjadi padanya. - Soal pekerjaan.

Akan kutunjukkan padamu yang dia pikirkan.

- Kutunjukkan. - Apa?

Sudah kukirim pada Ny. Joshi dan Anju.

- Lihat. - Apa itu?

Tonton. Kau tidak akan percaya.

Video apa yang diperlihatkan Bibi?

Tak bisa melihatnya.

Ingat yang kubilang?

Tanyakan pada Bibi.

Bibi pergi. Dia akan kembali dalam seminggu.

Minggir.

Akan kutunjukkan padamu yang dia pikirkan.

Apa?

Apa itu?

Sudah kukirim pada Ny. Joshi dan Anju.

- Lihat. - Apa itu?

Bibi Neeta!

- Apa kau memanggilku "bibi"? - Maaf.

- Aku ingin bertanya. - Silakan.

Pada upacara pacar Niru, kau ditunjukkan sebuah video, 'kan?

Apa?

Setelah Sarita pergi.

Aku tidak melihat apa-apa.

Aku tidak ikut campur dalam urusan orang lain.

Tolong, Nyonya. Aku tinggal sendirian.

Aku tak bisa ke bank setiap hari.

Bibi, batas hariannya 4.000 rupe.

Tontonlah berita.

Semua bank sama.

Tolong, jangan lakukan ini padaku.

Bagaimana?

Kembalilah besok.

Bank bagikan uang, bukan simpati.

Minta pada orang yang kau pilih.

Selanjutnya.

Waktu makan siang.

Biarkan aku makan.

- Ayo. - Ya.

Apa yang kau cari?

Apa?

Makan siangku tertinggal.

Aku pasti sudah lupa.

- Jangan khawatir, kita bisa berbagi. - Baik.

Sari ini terus berlipat.

Sushant?

Kau lupa makan siangmu.

Suamiku takkan mengantarnya. Dia akan memakannya sendiri.

Dia takkan mengantarnya.

Dia pasti ada urusan di sekitar sini, dan mengantarnya.

- Setidaknya dia mengantarnya. - Ya.

Para istri tak pernah menghargai suami.

Tn. Sahni, ini Sushant.

- Hai. - Halo.

Jadi, kau pria beruntun.

Bagaimana kau mendapatkan karyawan bintang emas kami?

Aku hendak menjemput tukang leding rekomendasi Gopal.

Aku hendak menjemputnya.

Tapi dia menutup toko untuk mengantre di bank.

Aku berbicara dengan Tn. Joshi.

Aku menemukan tukang leding yang lebih murah.

Aku berusaha membantu. Biarkan aku...

- Apa kau membenciku? - Tidak.

Kau pulang larut nanti?

Ya.

Mau kubuatkan makan?

Ada yang mau kau sampaikan?

Misalnya?

Apa pun...

Mari kita selesaikan.

Ada antrean panjang di luar bank.

Kau bisa membahasnya.

Ada yang mau kau sampaikan?

Kenapa bicaramu begitu padaku?

Aku terima, tapi...

Itu pekerjaanmu, tukang ledingmu, bankmu, dan uangmu.

- Semuanya soal dirimu. - Baik.

Jangan salahkan aku nantinya.

Baik.

Takkan ada pria sepertiku.

Ada masalah?

Ya, ayo.

Aku akan terlambat.

Kau tak apa?

Tenggorokanku sakit.

- Tenggorokanku... - Tampaknya kau tak sehat.

Ada apa?

Pergilah. Aku susul.

RESTORAN KING

Antrean di bank tak masuk menggila.

Temanku menunggu empat hari untuk masuk.

Kau bekerja di bank.

Jadi, kita bisa saling membantu.

Aku akan melunaskan utang Sushant.

Apa yang kau mau dariku?

Kuberi tahu.

Skema pertukaran di hotel.

Kubebankan komisi 40% untuk menukar mata uang lama.

Uang 300 untuk 500 rupe, 600 untuk 1.000 rupe.

Aku dapat sumber uang baru. Tidak masalah.

Aku butuh cara untuk menyetor mata uang lama.

Kita bisa berbagi keuntungan, 60-40.

Aku akan memberimu 40% dari keuntunganku.

- Itu dia. - Itu dia.

- Buka pintu. Kutunggu di dalam. - Baik.

Sarita?

Ya?

Tai...

Ada apa?

- Sarita. - Ya?

Aku meneleponmu. Kau tidak menjawab.

Keluarga mempelai laki-laki ingin menunda pernikahan.

Undangan disebar,

kontrak...

Aku tak tahu bagaimana aku bisa menunda.

Kau lihat apa?

Batas harian terus berubah.

Aku tidak mengerti.

Aku harus bagaimana?

Haruskah aku menentang dekorator,

menenangkan mertua,

atau mengantre di bank, berharap melawan harapan?

Aku punya 80.000 rupe, tunai.

Bantu aku mendapat 50.000 rupe,

agar aku bisa melakukan pembayaran.

Aku kenal seseorang...

Dia akan memberimu 300 untuk 500 rupe,

dan 600 untuk 1.000 rupe.

Tak masalah.

Dinesh!

Buka! Aku tahu kau ada di sana.

Dinesh!

Mana uangnya?

Uang?

Di mana uangku? Kupikir bisa kabur?

Kaulah yang kabur membawa uang orang.

Uangmu ada padaku. Itu aman.

Lepaskan aku!

Berikan padaku.

Semua ada di sana. Hitunglah.

Di mana Anju?

Dia tinggal di Nasik. Dia tidak sehat.

Aku perlu bicara.

Tentang apa?

Rahasia.

Anju dan aku tidak punya rahasia.

- Jangan mengejekku lagi! - Lepaskan aku.

Anju memiliki video Sarita.

Video apa?

Sarita, dengan pria lain...

Kau gila?

Begini caramu membicarakannya?

Suruh kirim...

Jangan biarkan setan memperdayamu.

- Cari pekerjaan. - Aku harus melihatnya.

- Kau gila. Hitung saja uangnya. - Itu uang lama.

Sarita.

Dinesh memberikan uangku.

Tapi itu mata uang lama. Aku harus menukarnya.

Baik.

Terima kasih.

Aku ada wawancara kerja di studio besok.

Pekerjaan apa?

Apa pun.

Itu maumu, 'kan?

Yang kumau tak relevan.

Membuat teh, mengepel lantai, akan kulakukan.

Tenang. Semua orang akan dilayani.

Aku menghormati wanita.

Aku tak bisa membantumu.

Itu bukan permintaan.

Aku memberitahu tugasmu.

Kau tak punya pilihan.

Untuk sekarang...

depositkan 50.000 rupe di rekeningmu.

Aku tak punya rekening di sini.

Kubilang, setor uang ke rekeningmu, bukan di sini.

Ini kesempatan seumur hidup.

Demonetisasi...

hanya sekali setiap 50 tahun.

Orang meluncurkan perusahaan baru.

Begitu banyak perusahaan baru.

Aku mungkin tak punya banyak pengaruh,

tapi aku tak berdiri dalam antrean panjang seperti siapa pun.

Hanya transaksi kecil. Ambil.

Ini, ambil.

Untuk hari ini, 50.000 rupe.

Sampai jumpa besok.

Waktu dan tempat yang sama.

Ini cukup tersembunyi.

Ya?

Terima kasih banyak, Semuanya.

SELAMAT PENSIUN

Tapi khususnya...

Sarita.

Sarita, kau seharusnya ada di sini.

Denganku. Ayo.

Ayolah.

Sarita, kau harus bernyanyi denganku.

Siapa kau?

Ayah!

Ibu mau Ayah pulang.

Mereka tamu Tai.

Dari Kolhapur.

Aku setuju saat Tai meminta.

Mereka di ruang tamu. Itu bukan masalah.

Biar aku saja.

Kau baik-baik saja?

Dia kelelahan.

Mungkin berusaha punya anak lagi.

Ada apa?

Tak enak badan lagi?

Kenapa tidur di dapur?

Kipasnya kencang sekali.

Aku tak tahan.

Aku akan pergi.

Sebentar.

Kenapa kipasnya kau matikan?

Sarita!

Aku mau teh.

Teh.

Apa?

Teh.

Tetap di sana.

Makan siang Sameer. Makananmu.

Teh. Tamu Tai bisa makan di rumahnya.

Ini camilanmu. Minggir.

Kenapa dikunci?

SELAMAT SARITA DAN SUSHANT

HARGA PEMROSES MAKANAN: 5.599 RUPE

Kenapa duduk dalam gelap?

Sameer semakin berat. Sulit untuk menggendongnya.

Kau bisa menggendongnya.

Di sini tak disebut uang ibumu,

atau uang bingo.

Kau memeriksa dompetku?

Uang mengalir seperti air.

Banyak barang baru di rumah.

Pot bunga baru, sarung bantal, gorden...

Dari mana uang ini berasal?

Dari mana?

Pemroses makanan Phillips yang kau beri hari ini...

Harganya 5.599 rupe!

Kenapa tak ada di sini?

- Aku sibuk. Jangan berlebihan! - Benarkah?

Jadi, kau sesibuk itu?

Ya, aku sibuk.

Beban kerja naik sejak demonetisasi.

Ini dari kemarin.

Catatan pembelian sebungkus garam!

Lusa, ongkos becak, 25 rupe.

Cokelat untuk Sameer, 10 rupe.

Tunggu. Masih ada lagi...

Kau telah menulis...

Lemon, 5 rupe, dan toko berutang 2 rupe.

Wanita yang mencatat 2 rupe,

tak mungkin lupa mencatat hadiah seharga 5.599 rupe!

Angkat. Aku tidak bisa.

- Jawab aku. - Minggir!

Hadiah senilai 5.599 rupe!

Dari mana uangnya berasal?

Apa kau bermain-main?

Kau takkan mengerti, Sushant.

Tong sampah ini akhirnya seperti rumah.

Baiklah. Tapi jelaskan sesuatu padaku.

Saat kau tahu aku punya utang,

kau menghabiskan 5,599 rupe untuk hadiah?

Aku lebih suka melakukannya!

Jika aku melunasi semua utangmu, kita akan kelaparan.

Saat berkontribusi pada rumah tangga,

kau punya hak menanyaiku.

Jadi, hanya kau yang peduli?

Bukankah aku khawatir?

Orangtuaku mungkin tak kaya sepertimu,

tapi aku memberimu jatah untuk pengeluaran setiap bulan.

Itu bukan apa-apa. Kau memberiku 2.000 rupe.

Selama 10 tahun terakhir!

Sameer lebih tua dan sewa naik dua kali lipat!

Itu bahkan tak cukup untuk makan.

Dasar bodoh!

- Jangan bawa orang tuaku! - Apa katamu?

Berbeda dengan orangtuamu, mereka tak minta ongkos kereta.

Mereka meminjamnya!

- Mereka miskin, tapi jujur. - Minggir!

Tidak seperti ayahmu!

Perwira junior di AU,

yang mampu mengendarai mobil mewah.

Dia menerima suap dari bawah dan di atas meja!

Lantas? Kenapa kau cemburu?

Dia tak salahkan orang atas kegagalannya.

Bodoh!

Buka pintunya!

Jika masih meragukanku, telepon saja ibu!

Tanyakan semua pertanyaanmu.

Setidaknya kau bicara dengannya.

Dia takkan menggigit!

Kau bangun?

Tidur! Kami sedang berbicara!

Pemerintah mengumumkan

mata uang demonetisasi harus ditukar besok.

Tenggat waktunya takkan diperpanjang setelah tengah malam.

Tidak ada pengecualian untuk tagihan medis, air...

Rutu bilang, kau pulang lebih awal.

Aku menelepon bank.

Kau tak ada.

Dari mana kau?

Harus ada yang membeli makananmu.

Kenapa kau selalu membentakku?

Kau bohong.

Aku tahu.

Ya!

Pergi dan selesaikan PR, Sameer.

- Ibu... - Cepat. Besok kau sekolah.

Kerjakan PR-mu di luar.

Sarita, petugas binatu ada di sini.

Tumpukan cuciannya di kursi.

Sepuluh rupe kita masih ada pada mereka.

Baik, Nyonya. Aku harus bayar.

Ya, bayar dia.

Bayar Reddy sesegera mungkin.

DINESH

Kulaporkan kau ke polisi.

Tidak apa-apa, Nyonya.

Takkan kulakukan maumu.

Aku tak menyetor uang yang kau berikan dulu.

Sarita,

kurasa

kau tak mencintai suamimu.

Kau benar.

Urus saja dengannya.

Kau tak tahu yang mampu kulakukan.

Hei! Tunggu. Lepaskan aku!

Jauhi dia!

Kau tak tahu kemampuanku.

Kau mau uangmu, bukan?

Ini...

Dua, empat, enam, delapan, sepuluh!

Dengan bunga!

Aku tak mau bekerja untukmu dan aku tidak mau uangmu!

Pak, dia melewati antrean.

Mengancam karyawan bank. Sarita, masuklah.

Akan kuurus. Pergilah.

Apa yang terjadi di sana?

Apa itu perkelahian? Apa yang terjadi?

Kenapa tak menjawabku?

Saru, katakan sesuatu.

Tidak bukan itu.

Kenapa menangis?

Ada apa?

Aku tidak bisa menang.

Kenapa?

Aku tak bisa menjadi penyanyi.

Aku tersedak di panggung.

Aku kalah dalam kompetisi.

Lalu, uangnya.

Kenapa aku selalu kalah?

Anggap saja sebagai latihan.

Ya?

Jika sudah waktunya, kau akan menang.

Dengar.

Sarita.

Kau akan menang. Kau pemenang.

Kumohon jangan menangis.

Aku berjanji...

Tak apa.

Asisten pribadi politisi ini telah ditangkap.

Mereka menemukan koper penuh dengan uang baru di rumahnya.

Apa ini ada di berita?

Tidak di TV. Ada sumber.

Polisi mengejar politisi.

Baca beritanya.

Dia punya enam asisten pribadi!

Pikirkan semua uang tunai yang dia simpan!

Sarita Pillai?

Kupikir dia panik dan tertangkap.

Aku senang kau memberitahuku. Aku menarik uang ekstra.

Untung saja.

Tai.

- Dinesh? - Ya.

- Anju? - Buka!

Ada apa?

- Ke balkon, kutunjukkan. - Apa?

Polisi di sini!

Pelan-pelan.

Mereka menemui Sushant dan Sarita.

- Mengapa? - Apa...

Menurutmu dari mana Sarita mendapatkan semua uang itu?

Itu dicuri dari rekeningnya...

Ya Tuhan!

Apa kau yakin?

Pelan-pelan.

Aku tak tahu itu uang yang sama.

Perampok bank tertangkap.

Mereka unggah swafoto yang menjadi viral di WhatsApp.

Polisi melacak mereka.

Itu menjadi viral. Benar.

Ya.

Uang yang dicuri darimu...

dari cetakan pertama.

Menurut Bank Persediaan,

mereka dikirim ke daerah pemilihan politisi lokal.

Mungkin ada yang menyetornyake cabangku.

Dengar, kau aman.

Kami takkan menangkapmu.

Beberapa politisi dan rekan mereka ada dalam radar kami.

Mereka tahu, akan ada pengumuman demonetisasi.

Mereka berkolusi dengan bankir dan menukar uang mereka sebelumnya.

Apa yang kau cari?

Tai...

Kami telah menangkap bankir di Kolhapur.

Kami punya nomor serinya.

Kami hanya perlu tahu apa dia menyetor uang sendiri,

atau mengirim anak buahnya.

Bagaimana kau mendapatkan uang ini?

- Pak... - Aku menemukannya.

Apa?

Di kantong ini.

Sudah semuanya atau masih ada lagi?

Hanya itu yang kupunya.

Di mana kau menemukannya?

Di bawah.

Apa maksudmu?

Ada saluran pembuangan. Mungkin ada lebih banyak.

Bisa kau tunjukkan?

Ada satu kantong lagi.

Taruh di sana.

Jangan serakah. Kita akan ketahuan.

Kita membutuhkannya.

Mereka serakah!

- Ya, tapi... - Ini, ambil ini...

Apa itu rumahmu?

Bukan. Itu rumah Nn. Sharvari Tai.

Aku tinggal di atasnya.

Dinesh dan Anju di lantai dasar.

Tn. Rajendra di lantai paling atas.

Dia politisi P.A.

Baik.

Bawa kami ke rumahnya.

Tentu.

Sarita.

Hei!

Lewat sini.

Apa kabar?

Hei!

Ini rumahnya.

Terakhir kali melihatnya?

- Sebelum demonetisasi. - Baik.

Baik, kau boleh pergi.

Catat.

Sushant,

dari mana kau?

- Kami pergi sekarang. - Sampai jumpa.

Ada siapa?

Mereka dari departemen pajak.

Ada apa?

Mereka mencari di rumah Rajendra.

Jadi, begitu.

Pokoknya, jaga Sarita.

Jika butuh bantuan, kabari.

Itulah yang dilakukan tetangga yang baik.

Aku juga ada untukmu, ya?

Ya?

- Ayo. - Baik.

Tadinya itu kejutan.

Sameer, hati-hati.

Sarita!

Sarita!

Kau menang!

Apa maksudmu?

Departemen pajak mengirim surat.

Kita bantu mereka lacak uang kotor itu, ingat?

- Kita menerima hadiah! - Sungguh?

- Baca. - Biar kubaca.

"Sepuluh persen dari jumlah yang disita diberikan pada Sushant Pillai."

Sushant!

- Mereka mencatat kesaksianku. - Ya.

Dikatakan aku harus mengambill uangnya.

Berapa jumlahnya?

Diterjemahkan Oleh: Riana

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.