Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik kelam]
[pria mengucapkan mantra dalam bahasa Sunda]
[suara wanita bernyanyi]
[mantra berlanjut]
- [suara mobil berpacu] - [rem berdecit]
[musik aksi]
Matilah kau!
[rem berdecit]
- Kacau sekali! - Hei!
Kau gila!
- Ada apa? - Kau mengajak balapan pacarmu sendiri?
- Tentu saja. - Kacau!
Hei, kau gila?
Menyebalkan.
[para pria mengejek]
Kau payah!
- Ayo, masuk. - Iya. Ayo.
[wanita] Besok cukur rambutmu jadi pendek. Masuk.
- Pagi. - Pagi.
Permisi, Ibu Tanya?
- Ratu? - Ya, betul. Halo.
Pak Arman, ini Ratu, pustakawan baru, menggantikan Melia.
- Arman. - Saya Ratu.
Saya antar. Ayo.
- [suara seram] - [langkah kaki]
Aku tidak mengerti Davi.
Dia seorang pria, seharusnya membiarkan pacarnya menang.
[tempat sampah jatuh]
Maaf.
[kehabisan nafas] Maaf terlambat.
[musik misteri]
[pintu tertutup]
[suara seram]
- Kenapa? - Oh...
Waktu kerjamu dari Senin hingga Jumat.
- Pukul tujuh pagi hingga empat sore. - Baik.
Info lengkap pekerjaanmu ada di ibu ini.
- Baiklah, Ibu. - Iya.
Uh... Maaf, Ibu Tanya.
Apa itu di dalam loker?
- [suara mengerikan] - Saya tidak menerima pertanyaan
yang tak berhubungan dengan pekerjaan.
Permisi.
Terima kasih, Ibu.
- [suara menakutkan] - [pintu terbuka]
[pintu tertutup]
Sajen?
[bahasa Inggris] Omong kosong.
[bahasa Indoniesia] Aku ingin duduk di sebelahmu.
- Ini. - Ini.
[pintu kamar mandi membuka dan menutup]
Hei! Kau mau apa?
- Cuci tangan. - Tidak, tidak! Keluar!
[mengejek]
Enak saja. Anak baru?
Lihatlah.
[suara menakutkan]
Teman-teman?
- Uh... - Apa?
- Apa? - Dengarkan.
Tidak jelas.
Dah.
[suara tangisan]
[pintu terbuka]
[tangisan berlanjut]
[pintu tertutup]
- [suara mengerikan] - [suara tangisan semakin jelas]
[tangisan berlanjut]
- [terkejut] - Sedang apa? Ayo!
[riuh percakapan]
[tertawa]
[Davi] Alanda.
[Geri] Ingat Bianca.
[tertawa]
[pintu terbuka dan tertutup]
Eh!
Siapkan lembar LJK.
Pastikan tak ada barang lain di atas meja.
Kita ujian.
[siswa mencemooh]
Sudah protesnya?
Tidak apa-apa jika tak ikut. Silakan tunggu di luar.
Bagikan ini.
[bel sekolah berdering]
[siswa berteriak-teriak]
[musik gamelan diputar di kaset]
[musik gamelan berlanjut]
[semua tertawa dan mengejek]
Asik! Goyang!
[Bianca mengejek]
[musik gamelan berhenti]
[gadis-gadis tertawa]
[tertawa]
Goyang terus!
[mengejek dan tertawa]
[Alanda] Aku tahu Bianca cantik, sangat kaya.
Pacarnya kapten bola basket yang paling tampan.
Memiliki banyak pengikut Instagram.
Tetapi tak berarti dia bisa semena-mena.
[perut berbunyi]
Aku mau ke kantin. Mau titip?
Tidak, kita ingin membahas soal ulangan tadi.
Ya.
Ayolah. Ujian sudah selesai. Haruskah membahasnya lagi?
[tertawa]
Eh, tadi itu...
[suara menghantui]
[bisikan]
Kak.
[terkejut]
Hei, kalau takut...
tak usah berlagak memanggil hantu.
Tunggu!
Mau ke mana?
Coba panggil lagi. Aku ingin melihat.
[kamera terbuka]
- [suara kamera menyala] - [Bianca] Cepat.
- Lambat. Cepat masuk! - Ow!
[musik misteri]
Kalau kau tak berhasil memanggilnya,
lihat apa yang akan kulakukan padamu.
[suara menghantui]
Kak.
Ke sinilah.
[suara menghantui]
Kak, kumohon.
[gadis-gadis berteriak]
[gadis-gadis berteriak ketakutan]
Aku mau pulang.
Gol!
[bahasa Inggris campur] Daviku! Semangat! Davi, aku mencintaimu!
[bersorak]
[bahasa Indonesia] Davi!
Hei, kau berhalusinasi?
Maaf, Bi.
Bi, sudah. Mari kita...
Ada apa denganmu?
Dengar, ya? Pertama, yang boleh dukung Davi hanya aku.
Kedua, lihatlah dirimu di cermin!
Lihatlah!
[suara kamera merekam]
Al, sudah, jangan rekam.
Bianca tak bisa dibiarkan.
Apa yang kau lakukan?
- Alanda! - Bianca!
- Riza, lari! - Ayo!
[Alanda] Shadaqallahul adzim.
- [musik lembut] - [jangkrik berderik]
[suara kamera menyala]
- [musik lembut berlanjut] - [mengklik kamera]
- Lihatlah dirimu di cermin! Lihat! - [notifikasi ponsel]
[suara mengetik]
[suara kaca pecah]
[suara menakutkan]
[suara-suara dari televisi]
Ibu. Astagfirullahaladzim.
Ibu. Ayo duduk.
[Alanda dan Ibu bernyanyi di televisi]
[suara tawa dan percakapan di televisi]
[musik sedih]
[Alanda] ♪ Cing ciripit tulang bajing kacapit ♪
♪ Kacapit bulu pare ♪
♪ Bulu pare seuseukeutna ♪
[bernyanyi serempak] ♪ Jo pa dalang mawa wayang ♪
[bernyanyi serempak] ♪ Jrek jrek nong ♪
[musik sedih berlanjut]
[Ibu Tanya] Sebagai sesama penerima beasiswa prestasi sejak kelas sepuluh
kalian punya kesempatan untuk menerima beasiswa penuh di sini.
Universitas Winthrop.
Beasiswa penuh hingga lulus.
Termasuk kamar asrama dan uang saku.
Plus, mendapat kesempatan rekomendasi bekerja di perusahaan yang bergengsi.
Di antara kalian,
hanya satu lulusan terbaik yang akan dipilih.
[Alanda] Pasti kau yang dipilih.
[mencemooh] Tentu saja tidak. Pasti kau terpilih.
Al, kau baik-baik saja?
Um... aku mau ke perpustakaan.
Mau ikut?
Ah. Mau banyak buku, ya? Supaya jadi lulusan terbaik?
[tertawa]
Bukan begitu.
Tidak, kau saja. Aku langsung ke kelas.
Baiklah, sampai jumpa di kelas, ya?
[pintu tertutup]
Al.
Kenapa kau dan Riza pagi-pagi ke ruang Ibu Tanya?
Bianca! Bianca!
Bianca, kembalikan, itu kamera almarhum ayahku!
Kau mau apa merekamku kemarin?
Berlagak jadi papparazi?
- Bianca, kembalikan! - Pinjam.
- Berikan... - Diam!
Mau kamera ini kembali? Iya?
Ambil di rumahku.
Nanti malam saat pesta.
Pukul...
Pukul sembilan.
Jangan terlambat.
Al.
[bahasa Inggris] Kau baik-baik saja?
[suara mengetik]
[berbicara pelan] Kenapa?
Pulang jalan saja sana.
[Geri berbisik] Itu apa?
[suara mengerikan]
[suara mengerikan]
[suara seram]
[hening]
Eh... Izin untuk ke toilet, Pak.
Ya, silakan.
[semua tertawa]
Apa yang kau lakukan?
[pintu tertutup]
[air mengalir]
[suara mengerikan]
[wanita menangis di kejauhan]
[bisikan menakutkan]
[logam berdebam]
[suara tangisan lembut]
[isak tangis perempuan]
[suara wanita aneh] Jangan datang.
[dentuman keras]
[pintu terbuka dan tertutup]
[suara menakutkan]
[bisikan menakutkan dan isak perempuan]
[suara seram]
[jam beker berdetak]
[dering telepon]
- [Ibu bernyanyi] - [pria bernyanyi di televisi]
- Ibu. - Hai.
Alanda senang melihat Ibu bahagia seperti ini.
[tertawa]
Kamu mau ke mana, Nda?
Mau ke rumah Keyra.
Hati-hati, ya?
Ya, Ibu.
- Assalamualaikum. - Waalaikumussalam.
- [Davi] Sekali lagi! - [Geri] Aku putar!
[semua bersorak]
- Putar lagi, Van. - Hei, apa?
- Dav, berikan. - Siapa, ya?
- Dia asyik. Cium Andien. - [Andien] Kenapa aku?
- Apa? Tidak! - Cobalah! Payah!
- Hei, hanya mencium bibir. - Sudah, sudah!
Aku tidak mau!
[semua memberi semangat dan bersorak]
[semua bersorak]
Aku ingin mencoba!
- Siapa yang mau menciummu? - [Leo] Ah, dia ngambek.
Hai!
Nda, apa yang kau lakukan di sini?
- Di mana kameraku? - Ayo, duduk dulu.
Ger, minggir.
- Di mana? - Sebentar. Kuambil.
Di sini, duduk dulu. Santai. Minumlah.
Ayo! Kemari. Duduk.
Apa yang kau lakukan di sini?
Kau seharusnya tidak datang. Mau apa?
Dan kau seharusnya tidak mengambil kameraku.
[musik dansa elektronik]
[batuk]
Hei, ini.
Ini.
Tunggu!
- Minum dulu. - Aku tidak minum miras.
Kau mau ini atau tidak? Minum.
- Kau mau? Minumlah dulu. - Lambat. Minum.
- [Davi] Minum. - Minumlah!
[Davi] Aku membuat minuman ini, itu akan membuatmu terbang!
Apakah kau ingin kameramu atau tidak? Selesaikan itu.
- [Davi] Ayo, Van! - [Ivan] Ayo, diminum!
Kau diamlah!
Van, Van!
[bersorak]
Begitu!
[Davi] Ayo tambah lagi.
Mau ke mana, Sayang? Mau ke mana?
Dia sudah mabuk.
[semua mengejek dan tertawa]
- Ayo. - Sini.
- Ayo, aku bantu. - Hei!
Hei!
- [Leo] Sudah! - [Davi] Dia milikku!
Dia jatahku! Pergi!
Dia punyaku sekarang!
Davi.
Davi.
Lanjutkan, sampai puas.
Oke.
- Aku pergi dahulu, semuanya! - Oke.
[musik instrumental lembut]
Key.
[merintih]
[kicau burung]
Key, tadi malam...
- Ibu! - Tenang.
Semuanya baik-baik saja. Tadi malam, kau masuk menggunakan kuncimu.
[musik misteri]
[para siswa mengejek]
SMA Pelita Bangsa. SMA terbaik!
[tertawa]
- SMA terbaik, tetapi muridnya mabuk. - [notifikasi ponsel]
SMA terbaik tidak akan membiarkan muridnya dirundung.
[Alanda di ponsel] Tapi SMA ini?
[Ibu Tanya] Karena videomu, nama baik sekolah tercoreng.
Apa yang kamu lakukan tidak bisa ditoleransi!
Pihak komite sepakat untuk mencabut beasiswa kamu.
Nama kamu juga akan saya coret
dari daftar kandidat penerima beasiswa Universitas Sunway.
Tapi, Bu...
Kau puas? Hanya karena kau kaya, bukan berarti kau bisa merundungku!
Kenapa kau? Berlebihan.
Aku di sini untuk sekolah, ya? Bukan untuk dirundung!
Lalu? Gara-gara kau semalam mabuk dan meracau...
Tapi karena video itu kau sebar, semuanya berantakan!
Hei, aku punya hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada mengurusmu!
- Bi! - Apa?
Al! Sudah, ya. Al.
- Sudah. - Apa kau?
Al!
Al!
Sudah, Al!
Sudah!
Aku kecewa padamu.
[menangis] Aku lebih kecewa padamu, Za.
[terisak-isak]
Kita sudah lama berteman.
Dan sekarang kau menghakimiku?
Kenapa kau tidak bisa bertanya padaku apa yang sebenarnya terjadi, Za?
[terisak-isak]
Hidupku berantakan sekarang.
Namaku baru saja dicoret dari daftar beasiswa di Sunway.
Kau mau beasiswa itu, bukan?
Kau dapat.
[musik sedih]
[notifikasi ponsel]
[Bianca di ponsel] Dav, kau sudah puas memakai dia?
Dav, kita perlu bicara.
[musik sedih berlanjut]
[perempuan 1] Kalian tahu, video tentang Alanda?
[perempuan 2] Oh ya, aku tahu. Video Alanda mabuk-mabukkan?
- Ya. - Ya, aku sudah menontonnya berkali-kali.
Dan aku tidak bisa mengerti. Dia cantik, dia pintar.
Mendapat beasiswa. Tapi di luar berperilaku seperti itu.
[suara mengerikan]
[suara seram]
[toilet dibilas]
- Bagaimana yang semalam? - Sudah.
[Bianca dari ponsel] Mau tambah minum?
[Alanda] Sore, Pak.
Maksud kamu apa, membuat video seperti itu?
Memalukan sekolah.
Pak, sebenarnya, kamera almarhum ayah saya diambil oleh Bianca.
Dan saya datang ke sana untuk mengambilnya kamera itu, Pak. Tetapi...
Tetapi kamu malah mabuk?
Saya dijebak, Pak.
Kamu bisa sekolah di sini karena dapat subsidi dari komite.
Harusnya kamu tahu diri!
Akibat dari video kamu viral, saya, Bu Tanya, komite...
Semua jadi repot.
Nama baik sekolah jadi hancur. Paham kamu?
[suara tertekan]
[musik kelam]
[pintu tertutup]
[suara misteri]
[menangis]
[batuk]
[suara muntah]
[batuk]
[dering ponsel]
[terisak] Ibu.
Nda, Sayang. Kamu baik-baik saja?
Nda? Kamu kenapa?
[menangis] Maafkan Alanda, Ibu.
[terisak-isak]
Nda?
Alanda? Halo?
[barang-barang beradu di ransel]
[meluapkan kesal]
[Alanda] Ibu.
[Alanda] Maafkan Alanda telah mengecewakan Ibu.
[Ibu Tanya] Pihak komite sepakat untuk mencabut beasiswa kamu.
Karena videomu, nama baik sekolah tercoreng.
[suara menakutkan]
[Ibu Tanya] Namamu juga akan saya coret
dari penerima beasiswa Universitas Sunway.
[musik sedih]
[Riza] Aku kecewa padamu.
[Pak Arman] Memalukan sekolah.
Nama baik sekolah jadi hancur. Paham kamu?
[Bianca] Dav, sudah puas kau memakainya?
[menangis pilu]
[musik tegang]
[lift berbunyi]
[terengah-engah]
[lift berbunyi]
[musik etnis berirama dari angklung]
[pelayat berdoa] Laa ilaaha illallah...
[musik sedih]
[pria berdoa] Bismillahirrahmanirrahim...
[semua] Astagfirullahaladzim!
- Taruh pelan-pelan. - Ya, Pak.
[suara mengerikan]
Bapak, Ibu dan Riza.
Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih, ya.
- Ya. Sama-sama. Yang tabah, ya. - Sama-sama.
Terima kasih.
[musik muram]
Saya, jajaran guru beserta komite
turut berduka cita.
Saya paham kalau Ibu masih berkabung.
Tetapi ada hal penting yang perlu saya sampaikan kepada Ibu.
Sekolah sudah sepakat untuk tidak memperbesar masalah ini.
Dan harapan kami Ibu juga memikirkan hal yang sama.
Apa yang Alanda lakukan efeknya akan sangat besar.
Ini musibah, dan sekolah...
Ibu mau pulang.
Bu, Pak.
[musik sedih]
[suara seram]
[pelayat berdoa bersama]
[pelayat terus berdoa]
[suara menakutkan]
[suara gemuruh]
[nyanyian di video] ♪ Cing ciripit tulang bajing kacapit ♪
♪ Kacapitku bulu pare ♪
♪ Bulu pare seuseukeutna ♪
[jendela terbuka]
- [suara mengerikan] - [angin bertiup]
[suara menakutkan]
[Alanda bernyanyi] ♪ Cing ciripit ♪
♪ Tulang bajing kacapit ♪
♪ Kacapitku bulu pare ♪
♪ Bulu pare seuseukeutna ♪
♪ Jo pa dalang mawa wayang ♪
♪ Jrek jrek nong ♪
[Ibu bernyanyi bersama] ♪ Cing ciripit ♪
♪ Tulang bajing kacapit ♪
[televisi mati]
[musik sedih]
[menangis]
[suara mengejutkan]
Ada korban lagi.
[Ibu Tanya] Salah satu kunci keberhasilan
adalah berorientasi ke depan.
Dan selalu punya pikiran untuk maju ke depan.
Kepergian Alanda, itu adalah masa lalu.
Jadi harusnya tidak ada alasan lagi
untuk kalian tidak belajar dengan sebaik-baiknya menghadapi ujian.
[lift berbunyi dan terbuka]
[suara menakutkan]
[terengah-engah]
Permisi.
[suara mengerikan]
[suara mengetik]
[pintu terbuka dan tertutup]
- Permisi, Bu. - Ya? Oh.
- Saya mengembalikan buku. - Iya.
- [suara seram] - [terkejut]
- Riza. - Ya, Bu?
Maaf, saya mau bertanya.
Apakah kamu tahu mengapa loker ini dibuka terus?
Ini loker senior angkatan, Bu.
Tetapi saya lupa angkatan berapa.
Dia anak anggota komite yang sering datang ke perpustakaan.
Dia stres karena tak kuat memenuhi standar nilai yang terlalu tinggi.
Tetapi ada yang mengatakan...
Dia depresi karena dirundung.
Dia bunuh diri.
- Bunuh diri? - Minum racun di sini.
Dia bukan satu-satunya, Bu.
- Saya permisi, Bu. - Baik.
[suara seram]
Ternyata Alanda tak sepintar yang kupikir.
Hanya karena video mabuknya tersebar langsung bunuh diri?
[mencemooh] Lemah.
Alanda tak sepertimu, Bi.
Bahkan setelah Alanda meninggal, kamu masih merindukannya?
Kamu ingat tidak?
Aku mengizinkanmu dengan Alanda. Aku membiarkanmu.
Davi tidak puas, ya?
Kalau kamu lebih memilih Alanda dari pada aku, cari dia sana!
Cari arwahnya yang masih gentayangan karena bunuh diri.
Pacarin sekalian!
[musik sedih]
[musik sedih]
[layar kamera dibuka]
Aku akan menamparmu! Apa yang lakukan dengan Davi, hah?
[Bianca di kamera] Ganjen sekali kau! Kau mengerti tidak?
Jangan seperti itu! Davi itu pacarku!
[Bianca di kamera] Berani lawan kita?
Mau apa berlagak cantik? Kenapa?
Mau apa pakai bulu mata? Dengar itu!
[kamera menutup]
[musik depresi]
[terisak]
Kau berani melawan kita?
Mau apa berlagak cantik? Kenapa?
[Bianca di kamera] Mau apa pakai bulu mata?
[video berhenti]
[kamera menutup]
Sama seperti anak-anak di video itu
anak saya menjadi korban.
Alanda menjadi korban perundungan di sekolah ini.
[menghela napas] Bu, video...
Saya tahu betul Alanda tak mungkin berbuat macam-macam.
Dari pertama kali saya melihat video itu, saya yakin bahwa ini ada yang tidak beres.
Tetapi Bu, video Alanda ini direkam di luar sekolah.
- Dan saya sebagai guru... - Saya mau sekolah bertanggung jawab.
- Tetapi Ibu, saya... - Perlu berapa banyak bukti lagi?
Supaya sekolah mau mengusut kasus ini?
Permisi.
[air mengalir]
[pintu terbuka dan tertutup]
Bu?
Terima kasih.
Kamu di sini mengajar apa?
Saya tidak mengajar, saya bekerja di perpustakaan.
Oh.
[mendesah]
Alanda pernah cerita.
Dia sering dipaksa Riza untuk belajar di perpustakaan.
Alanda?
Anak saya.
Ini barang bukti.
Di sini banyak video rekaman
tentang perundungan yang terjadi pada anak-anak di sekolah ini.
Itu semua Alanda yang merekam.
Saya tahu persis Alanda ingin sekali
menyelesaikan kasus perundungan di sekolah ini.
Dan saya yang akan meneruskan semua itu.
[dentingan logam]
[suara perempuan menangis]
[tangisan berlanjut]
[tangisan semakin jelas]
Astagfirullahaladzim.
- [suara seram] - [terengah]
[suara menakutkan]
[suara menakutkan]
[terengah-engah]
Davi!
- [nada panggil berdering] - [terengah-engah]
Aduh. Tidak diangkat.
[kesal] Davi, angkat dong!
Tidak diangkat lagi. Davi...
[semakin terengah-engah]
- [ketukan pintu] - [suara menakutkan]
[ketukan semakin kencang]
[suara menakutkan]
[ketukan pintu]
[ketukan pintu]
[suara menakutkan]
- [Alanda berteriak] - [Bianca menjerit]
[musik etnis berirama dari angklung]
[berteriak terkejut]
[ponsel berbunyi]
Kalau Bianca benar-benar dibunuh oleh Alanda, bagaimana?
[suara menakutkan]
[musik muram]
Riza.
[musik sendu]
[langkah kaki mendekat]
Aku takut dia datang kepadaku.
Setelah Bianca...
pasti Alanda mengincarku.
Kita harus mengatakan, kitalah yang membuat Alanda mabuk.
Kita ada, ketika video dibuat.
Lalu kita dikeluarkan?
Kau takut pada Alanda...
atau kau takut dikeluarkan dari sekolah?
[suara nyanyian berbisik]
[suara perempuan bernyanyi]
[dering telepon]
PANGGILAN VIDEO WHATSAPP ALANDA
[suara berirama menakutkan]
[Alanda berteriak]
Key.
Kau kenapa dari tadi?
Bagaimana kalau Lula benar?
Alanda gentayangan membalas dendam?
Daripada berpikir macam-macam...
Lebih baik mendoakan Alanda.
Salat jangan ditinggal...
Zikir dan doa jangan sampai lupa.
Key.
Kau salat, 'kan?
[Ayah Riza berdoa]
[lanjut berdoa]
- Za. - Ya, Pak?
Bagaimana sekolahmu? Lancar?
Kamu setiap zuhur dan asar, masih salat di UKS?
Masih, Pak.
Katanya sekolah keren, sekolah hebat.
Musala saja tak punya?
Setidaknya Riza masih bisa salat, Pak.
Bagaimana agamanya mau bagus kalau tempat salat saja tak ada?
Yang penting Riza bisa sekolah di sekolah nomor satu.
Pendidikannya bagus, pergaulannya juga bagus.
Kurang apa lagi?
[Ayah Riza melanjutkan berdoa]
[riuh orang-orang berbincang]
Seingat aku kamu sudah menyusun tulisan.
Soal praktik perundungan di sekolah.
Dan efeknya ke kondisi psikologi remaja.
Tetapi...
Ini malah setan-setanan sih?
Arka, ini adalah dampak terbesarnya.
Kamu bayangkan, mereka dirundung di sekolah.
Mereka depresi, dan akhirnya bunuh diri.
- Bunuh diri? - Ya, bunuh diri.
Lalu, katanya arwah mereka tak tenang.
Maka sekarang gentayangan.
Gentayangan?
[tertawa]
Kamu percaya?
[musik misterius]
[dentingan sendok garpu]
Ayo makan, Nda.
[musik sedih]
[Alanda berbisik] Ibu?
[suara mengerikan]
Nda?
[suara sakelar lampu]
[Alanda bernyanyi] ♪ Cing ciripit ♪
♪ Tulang bajing kacapit ♪
Dua minggu lagi Ujian Nasional.
Dan saya harap semua siswa
betul-betul menyiapkan diri dengan maksimal.
Dengan memprioritas, utamakan belajar.
Sekolah sangat berkabung
akan kepergian Bianca dan juga Alanda.
Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan
sekolah memberikan kesempatan
bimbingan dan konseling untuk seluruh siswa.
Semua, tanpa terkecuali.
[suara seram]
[suara menakutkan]
[suara menakutkan]
[suara mengerikan]
- Dav. - Dia datang, Ger.
Aku melihat Alanda.
Di mejanya.
Aku juga.
Kita harus melakukan sesuatu.
Biar Alanda tak datang lagi.
Kau ingin memberi tahu Ibu Tanya?
Kalau kita yang memabukkan Alanda malam itu?
Kalau kita dikeluarkan dari sekolah?
Kalau orang tua kita tahu bagaimana? Kau gila!
[Geri] Kita minta Ibu Tanya.
- Untuk memberikan sajen. - Sesajen?
Setiap orang yang bunuh diri di sini
pasti diberi sajen.
Jangan.
Alanda seharusnya didoakan.
Bukan diberi sesajen.
Terserah kalian.
Aku akan menemui Ibu Tanya.
[pintu terbuka dan tertutup]
Sebentar lagi anak-anak akan UN.
Jadi, Pak Arman harus fokus ke situ, bukan ke hal lain.
Bu, saya khawatir.
Ibu Alanda itu serius dengan kata-katanya.
Kasus Alanda bukan yang pertama.
Tidak perlu panik seperti itu.
- Ibu, ada waktu sebentar? - Iya?
Tentang Alanda, Bu. Ibu harus buat sajen untuk Alanda.
Dav.
Ya, Bu. Sehingga Alanda tidak akan datang ke kita lagi.
- Ibu, mungkin... - Maaf, Ibu, Pak.
Em... Mungkin lebih baik kalau kita mengadakan pengajian.
[terengah]
[musik etnis berirama dari angklung]
[Ayah Riza berdoa]
- [lanjut berdoa] - [suara mengerikan]
- [hantu berteriak] - [berteriak]
[doa berlanjut]
[lift berbunyi]
Semoga Ibu bisa menerima anak saya, Riza
sebagai penerima beasiswa di Universitas Sunway.
Sudah aman?
Sudah tak ada hantu gentayangan?
Yang sekarang kita lakukan adalah menghambat, Bu.
Bukan menghilangkan.
Kita jangan berdoa sesekali, Bu.
Tetapi setiap hari.
Akan lebih baik jika Ibu mendengarkan aspirasi orang tua murid.
Yang sejak dahulu mengusulkan kepada sekolah.
Membangun musala.
- Pak. - Iya.
Baik.
[menahan napas]
[suara menakutkan]
[musik etnis berirama dari angklung]
[suara mengerikan]
Nda?
Nda?
[Arman] Saya menemukan lembar jawaban lebih, dan bernama Alanda.
Selamat pagi.
Pagi. Saya mau bicara.
Lihatlah cermin! Lihatlah!
Kemari. Kemari kau!
Aku akan menamparmu! Apa yang lakukan dengan Davi?
Kau ganjen sekali! Kau mengerti tidak?
Kau tak bisa begitu! Davi...
[video dimatikan]
Sudah hampir sebulan, saya belum mendapat kabar dari pihak sekolah.
Saya merasa tak ada itikad baik dari Ibu maupun Bapak
untuk mengusut kematian anak saya.
Dan juga tak mau menyelesaikan kasus perundungan di sekolah ini.
- Ibu... - Saya belum selesai berbicara.
[suara barang-barang di tas]
Kalau dari pihak sekolah tak ada itikad baik menyelesaikan ini semua,
saya tak akan tinggal diam.
Ini. Bukti-bukti ini akan saya sebar ke media
biar semua orang tahu kalau sekolah ini bobrok!
[tertawa]
Jangan tertawa, Bu!
Saya tak ikhlas, Bu. Anak saya satu-satunya
anak kesayangan saya, diperlakukan seperti ini!
[Alanda berteriak]
Alanda.
[Alanda berteriak]
[menangis]
[musik tenang]
Bu?
Kamu setiap bertemu saya, pasti kamu memberi saya tisu.
[tertawa]
Ibu apa kabar?
[Ibu Alanda] Alanda tak pernah bercerita soal sekolah.
Mungkin karena dia berpikir
dia tidak perlu cerita pada saya.
Karena sejak kepergian ayahnya
saya yang sangat banyak bergantung sama dia.
Dia selalu menguatkan saya.
[menangis]
Tetapi saya tidak tahu...
kalau sebenarnya yang butuh dikuatkan adalah dia.
[menangis]
Di sekolah, dia melihat...
bahkan menjadi korban perundungan.
Bukan hanya menyerang fisik, tetapi juga psikisnya dia.
Tetapi hebatnya...
diam-diam dia berusaha menghentikan kasus perundungan di sekolahnya.
[Ratu] Bu, saya akan membantu Ibu melanjutkan proyek Alanda.
Kita selesaikan ini bersama, Bu.
[musik sedih]
♪ Cing ciripit ♪
♪ Tulang bajing kacapit ♪
♪ Kacapitku bulu pare ♪
♪ Bulu pare seuseukeutna ♪
[Alanda bernyanyi bersama] ♪ Jo pa dalang mawa wayang ♪
[Alanda bernyanyi bersama] ♪ Jrek jrek nong ♪
[suara mengerikan]
[Geri] UN selesai.
Sekolah sebentar lagi selesai.
[Geri] Masa SMA-ku tak akan asyik kalau tidak bersamamu.
Dav, ada apa denganmu?
Kau masih memikirkan Alanda?
Ayah Riza sudah membuat pengajian.
Dan Alanda tak mungkin datang lagi, 'kan?
[jangkrik berderik]
[musik etnis berirama dari angklung]
[suara menakutkan]
Dav!
Dav!
[terengah-engah]
[musik muram]
Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
[terengah-engah]
Astagfirullahaladzim.
Al?
Aku tahu kamu marah.
Kamu sedih, kamu kecewa.
Tetapi tidak harus seperti ini, Al.
Ikhlas, Al.
- [suara seram] - [Alanda berteriak]
Audzubillah himinasyaitonirrajim.
Bismillahirrahmanirrahim.
- [terus berdoa] - [Alanda berteriak]
[Alanda berteriak]
[musik etnis berirama dari angklung]
[Alanda berteriak]
Alhamdulillahirabbilalamin.
[Riza terengah-engah]
- [suara seram] - [Alanda berteriak]
[Ibu Tanya] Dengan bangga saya umumkan
SMA Pelita Bangsa lulus 100%.
[siswa bertepuk tangan dan bersorak]
[Ibu Tanya] Dan mempertahankan prestasi sebagai SMA swasta terbaik
dengan nilai kelulusan tertinggi.
[riuh sorakan dan tepuk tangan]
Dan nilai tertinggi diraih oleh siswa genius...
Riza Alif Ramadhan.
[bertepuk tangan tidak antusias]
- Selamat. - Selamat.
Harusnya bukan saya yang menerima piala ini.
Piala ini seharusnya milik Alanda.
Alanda yang punya cita-cita besar.
Yang ingin membuat ibunya bahagia.
Yang diam-diam punya proyek untuk menghapus perundungan di sekolah ini.
Yang langkahnya berhenti
karena tak mendapat dukungan dari teman-teman di sini.
Kematian Alanda...
[bahasa Inggris campur] seharusnya jadi panggilan untuk kita semua.
[bahasa Indonesia] Untuk membuat kita sadar
kalau perundungan bukanlah hal yang keren.
Dan membuat siapa pun yang masih suka merundung untuk berhenti.
Dan kematian Alanda seharusnya membuat sekolah sadar
untuk melakukan tindakan.
Bukan hanya diam dan menganggap ini wajar.
- [musik sedih] - [satu orang bertepuk tangan]
Piala ini untuk Alanda.
[tepuk tangan pelan diikuti oleh murid lain]
[lift berbunyi]
[musik berlanjut]
Hei.
Hei, Dav.
Kau ke prom, 'kan?
Kamu mau ke prom bersamaku?
[pria] Halo teman-teman!
[penonton bersorak dan bertepuk tangan]
[bahasa Inggris campur] Sebelum kita ke sesi penganugerahan, yang luar biasa,
[bahasa Indonesia] kita saksikan film pendek dari
teman-teman klub film untuk kita semua.
[bahasa Inggris] kalian sudah siap?
[semuanya] Siap!
Nikmati filmnya.
[bahasa Indonesia] Kamu mau menjadi pacar aku?
Mau.
Iya!
[penonton tertawa]
[perempuan di film] Selamat.
Besok rambutnya sudah dicukur pendek.
- Ya, Ibu. - Baju dirapihkan.
MALAM PERPISAHAN
[penonton tertawa]
Ini. Coba kerjakan soal ini.
Aku sudah tahu jawabannya, hanya ingin memastikan.
[Riza di film] Baik. Sebentar. Sepertinya pembahasannya ada di sini.
[bahasa Inggris] Aku punya tiga P kehidupan.
Pilihan, peluang, dan perubahan.
[bahasa Indonesia] Hidup berarti memilih untuk mendapat kesempatan.
Atau hidupmu tak pernah berubah.
[musik sedih]
SMA Pelita Bangsa.
SMA terbaik. SMA terbaik dari mana?
SMA terbaik membiarkan murid-muridnya dirundung.
Ger, mau apa kau? Mau apa?
Oh, benar. Aku beri tahu Davi sekarang. Aku beri tahu Davi sekarang.
Kau membuat Bianca mabuk dan mencoba menciumnya?
Kau ingin mengambilnya dari Davi, 'kan?
Perlu kuberi tahu sekarang? Hapus ini. Ger!
Hapus ini!
Hapus!
- Arka, Arka! Kunci mobil! - Itu.
Aku harus ke sekolah sekarang. Pinjam mobilmu.
Sekolah? Kenapa? Aku antar, ya?
Tidak. Kamu harus kerja di sini. Aku sendiri saja.
- Ya, sudah. Hati-hati, ya? - Ya.
[musik tegang]
[musik tarian tradisional]
[musik etnis berirama dari angklung]
[suara mengerikan]
[Alanda berteriak]
Assalamualaikum?
Waalaikumussalam.
Ayo!
[musik etnis berirama dari angklung berlanjut]
[Alanda berteriak]
Key? Key!
- [Alanda berteriak] - [berteriak]
[Key berteriak]
[suara tulang retak]
[suara seram]
Maafkan aku, Al.
Aku iri padamu.
Kau cantik, baik, pintar, genius.
Semua orang menyukaimu, Davi menyukaimu, Riza menyukaimu.
Semua orang memandangmu, dan tak ada satu, satu pun...
Memandangku.
[bersuara serak]
Aku tahu aku salah, Al.
Aku membiarkan Davi melakukan itu padamu.
Aku menyebarkan video itu.
- [Alanda berteriak] - [Key] Aduh!
[Key merengek]
Maafkan aku.
[berdoa]
[Alanda berteriak]
[terus berdoa]
[Alanda berteriak]
Allahu Akbar!
[terengah-engah]
- [suara seram] - [menjerit]
[rem mobil berdecit]
Nda?
Ini ibu, Nda.
[musik sedih]
Maafkan ibu, Nda.
Karena ibu...
[menangis]
Nda jadi seperti ini.
Ibu sayang Nda. Ibu sayang sekali.
Nda pergi, ya?
Pergi ke tempat yang tenang.
Nanti Nda di sana bertemu ayah.
Ibu ikhlas.
Ibu ikhlas Nda bertemu dengan ayah.
[Ibu bernyanyi] ♪ Cing ciripit ♪
♪ Tulang bajing kacapit ♪
♪ Kacapitku bulu pare ♪
[Alanda ikut bernyanyi] ♪ Bulu pare seuseukeutna ♪
[Ibu Alanda menangis]
Ibu ikhlas.
[musik sedih]
Nda! [menangis]
Nda! [menangis]
[terisak-isak]
Nda!
[reporter] Mengenai praktik perundungan yang terjadi bertahun-tahun,
bahkan hingga menimbulkan korban jiwa
SMA Pelita Bangsa, yang termasuk dalam salah satu SMA sekolah berprestasi
kini dinyatakan tidak lagi beroperasi.
[reporter] Kepolisian terus mengembangkan kasus ini dengan melakukan penyelidikan.
[reporter] Dan terus menginterogasi pihak-pihak terkait.
[musik lembut]
[suara seram]
[suara seram]
[lift berbunyi]
- Pagi, Tante. - Ya, pagi.
Ini barang milik Alanda, Tante.
Saya bangga dengan Alanda, Tante.
Dan saya minta maaf, Tante.
[suara mengerikan]
- [suara mengerikan] - [berteriak]
- [hantu tertawa] - [Davi berteriak]
- [hantu tertawa] - [Davi berteriak]
- [suara seram] - [Key menjerit]
[suara seram]
[Alanda bernyanyi] ♪ Cing ciripit ♪
♪ Tulang bajing kacapit ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.