Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Gladiator
Di puncak kekuasaannya kerajaan Roma sangat luas meliputi gurun di afrika hingga di perbatasan Inggris utara
Lebih dari 1/4 populasi dunia hidup dan mati di bawah kuasa kaisar.
Dalam musim dingin tahun 180 M serangan yang di pimpin oleh raja Marcus Aurelius selama 12 tahun melawan suku Barbar di Germania hampir berakhir.
Hanya tinggal 1 benteng lagi yang menghalangi kemenangan Roma dan juga harapan kedamaian di seluruh kerajaan.
Pak.
Jenderal.
Pak.
Mereka kurus dan kelaparan.
Masih belum ada kabar ? Belum.
Sudah berapa lama dia pergi ? Hampir dua jam.
Apakah mereka akan bertarung ?
Kita akan segera tahu.
Prajurit, kuperintahkan kau untuk menggerakkan ketapelnya.
Mereka di luar jangkauan. Jaraknya bagus.
Bahaya pada kavaleri. Bisa diterima. Setuju ?
Mereka menolak.
Mereka harusnya sadar kalo sudah ditaklukkan.
Apakah kau akan begitu, Quintus ?
Apakah aku akan begitu ?
Kekuatan dan martabat.
Pada perintahku, maju pasukan.
Isi ketapelnya.
Infanteri bersiap untuk maju.
Pemanah siap. Pemanah!
Pada posisi! Pada posisi!
Patres!
Maximus!
Tiga minggu dari sekarang, aku akan memanen ladangku.
Bayangkan kau akan di mana, dan maka itulah yang akan terjadi.
Pertahankan barisan ! Tetap bersamaku !
Ketika kau sadari. Kau sedang sendirian,
Berada di ladang hijau dengan sinar matahari yang menerpa wajahmu,
Tak perlu gelisah.
Artinya kau di Elysium, dan kau sudah mati !
Saudaraku,
Apa yang kita lakukan ketika hidup...
...bergema selamanya.
Tarik!
Katapel ! Siap, pak!
Pemanah, Siapkan api!
Siapkan api! Siapkan api!
Pemanah, bersiap!
Tembak!
Baiklah pasukan, bersiap!
Pertahankan barisan!
Siap! Tembak!
Isi ulang!
Pertahankan barisan!
Tarik! Tembak!
Tetaplah bersamaku!
Kemenangan untuk Roma!
Apakah menurutmu dia benar-benar sekarat ?
Dia sudah sekarat selama sepuluh tahun.
Jika ia tak sekarat, ia takkan memanggil kita.
Mungkin ia hanya merindukan kita.
Dan senator ? Dia takkan memanggil mereka jika damai, Commodus.
Setelah perjalanan dua minggu...
...kepalaku pusing mendengarkan rencanamu.
Dia telah mengambil keputusan. Dia akan mengumumkannya.
Jika dia menunjuk aku.
Hal pertama yang akan kulakukan...
...adalah menciptakan permainan yang pantas untuk agungkan namanya.
Untuk sekarang, hal yang pertama yang kulakukan adalah mandi air panas.
Yang Mulia ?
Kita hampir tiba, Tuan.
Tuan, di mana Baginda ?
Dia di baris depan. Mereka sudah pergi selama 19 hari.
Prajurit yang terluka terus berdatangan.
Kudaku.
Tuanku.
Berikan aku Cium ?
Kau kembali membuktikan keberanianmu, Maximus.
Mari kita berharap ini untuk yang terakhir kalinya.
Tak ada lagi yang harus kita lawan, tuan.
Pastinya selalu ada yang harus kita lawan.
Hadiah apa yang pantas untuk jenderal terhebat dari Roma ?
Izinkan aku pulang.
Rumah.
Mereka memujamu, Caesar.
Ini untukmu, Maximus. Mereka memujamu.
Apa aku telah ketinggalan ? Ketinggalan pertempurannya ?
Kau telah Ketinggalan perang.
Ayah, selamat.
Aku akan korbankan seratus banteng untuk menghormati kemenanganmu.
Jangan bunuh banteng itu.
Hormati Maximus. Dia memenangkan perang.
- Jenderal. - Paduka.
Roma menghormatimu dan aku menganggapmu sebagai saudaraku.
Sudah lama tak bertemu teman lamaku.
Paduka.
Ini, ayah. Pegang tanganku.
Kupikir ini waktuku untuk pergi.
Begitulah keagungan Roma.
Pertempuran yang luar biasa.
Jenderal. Masih hidup ?
Masih hidup.
Dewa pastinya punya selera humor.
Dewa pasti mencintaimu. Valerius.
Kembali ke barak, Jenderal ? Atau ke Roma ?
Rumah, istriku, Putraku, dan panen.
Maximus sang petani. Aku masih sulit mempercayainya.
Tahukah kau, debu lebih mudah dibersihkan daripada darah, Quintus.
Ini dia orangnya, paduka.
Senator Gayus, Senator Falco.
Hati-hati dengan Gayus. Dia akan tuangkan ramuan madu pada telingamu...
Lalu kau akan bangun pada suatu hari dan teriak "Republik, republik, republik."
Kenapa tidak ? Roma pertama dibangun.
Ya, dalam republik senat punya kekuasaan.
Tapi senator Gayus tak terpengaruh oleh kekuasaan itu, tentu saja.
Apa yang kau dukung, Jenderal ? Kerajaan atau majelis tinggi ?
Prajurit memiliki kelebihan...
...untuk menatap langsung musuhnya, Senator.
Dengan tentara yang mendukungmu, kau bisa sangat politis.
Sudah kuingatkan kau. Kini akan kuselamatkan kau, Senator.
Maximus.
Aku akan membutuhkan orang dengan potensi sepertimu.
Apa yang bisa kubantu, paduka ?
Kaulah orang yang tahu cara memerintah.
Kau berikan perintah, itu akan dipatuhi dan kita akan menang perang.
Tapi para senator ini berencana bertengkar, merayu dan menipu.
Maximus, kita harus selamatkan Roma dari para politikus.
Bisakah kau kuandalkan ketika waktunya tiba ?
Paduka, ketika aku dibebastugaskan oleh ayahku, aku berencana untuk pulang.
Pulang ? Kau berhak atas itu.
Jangan terlalu betah disana. Mungkin memanggilmu lagi.
Lucilla ada di sini. Kau tahu itu ?
Dia takkan pernah lupakan dirimu.
Kini kau orang yang hebat.
Jika saja kau dilahirkan sebagai seorang pria.
Pastinya kau menjadi Caesar yang luar biasa.
Ayah.
Kau akan menjadi sangat kuat.
Aku ingin tahu, apa akan jadi adil ?
Aku akan jadi apa yang telah kau ajarkan padaku.
Bagaimana perjalananmu ?
Panjang dan Tak nyaman. Mengapa aku harus datang ?
Aku butuh bantuanmu. Untuk kakakmu.
Tentu saja.
Dia mengasihimu selalu begitu.
Juga...
Dia akan membutuhkanmu sekarang lebih dari sebelumnya.
Cukup bicara politik.
Mari kita berpura-pura bahwa kau itu putri yang penyayang...
dan aku adalah seorang ayah yang bijak.
Ini adalah khayalan yang menyenangkan, bukan ?
Selamat pagi.
Aku butuh tiga ekor kuda lagi.
Satu! Dua! Tiga!
Empat!
Satu! Dua!
Anda memanggilku, Caesar ?
Caesar ? Katakan padaku lagi, Maximus.
Mengapa kita di sini ?
Untuk keagungan kerajaan kita, Tuan.
Benar juga.
Benar juga, aku ingat.
Kau melihat peta itu, Maximus ?
Itulah dunia adalah yang kuciptakan.
Selama 25 tahun...
Aku sudah menaklukkan, membunuh, untuk mengembangkan kerajaan ini.
Selama aku menjadi caesar, aku hanya tahu empat tahun tanpa perang.
Empat tahun damai selama 20 tahun.
Untuk apa itu ?
Aku membawa pedang tak lebih dari itu.
Caesar, hidupmu...
...kumohon jangan panggil aku begitu.
Kemarilah kumohon.
Duduklah.
Mari kita bicara bersama...
...antar sesama pria.
Maximus, bicaralah.
Lima ribu pasukanku ada di luar sana bermandikan lumpur.
Tiga ribu orang terluka.
Dua ribu orang takkan meninggalkan tempat ini.
Aku takkan percaya kalo mereka berjuang dan mati tanpa aku.
Apa yang kau percaya, Maximus ?
Mereka berjuang untukmu dan Roma.
Apa itu Roma, Maximus ?
Aku sudah melihat dunia lain.
Dunia itu brutal dan kejam dan gelap. Roma adalah cahayanya.
Tapi kau tak pernah ke sana.
Kau tak pernah melihat sudah jadi apa kota itu.
Aku sedang sekarat, Maximus.
Ketika manusia melihat ajalnya,
Dia ingin tahu, apakah hidupnya berguna.
Bagaimanakah dunia menyebutkan namaku beberapa tahun ke depan ?
Apakah aku akan dikenal sebagai filsafat ?
Pejuang ?
Raja yang lalim ?
Atau raja yang mengembalikan Roma pada bentuknya yang semula ?
Pernah ada impian yang bernama Roma.
Kau hanya bisa bisikan itu.
Apapun yang lebih dari bisikan itu akan lenyap.
Karena itu sangat rapuh.
Dan aku takut kalo itu takkan kuat menghadapi cobaan.
Maximus,
Mari kita berbisik,
bersama kau dan aku.
Kau punya seorang putra.
Ceritakan tentang rumahmu.
Rumahku ada di perbukitan di atas Tiujillo. Sebuah tempat yang sangat sederhana.
Bebatuan merah yang hangat oleh sinar matahari.
Dapur di halaman yang penuh dengan...
...aroma rempah ketika siang,
dan aroma jasmine di petang.
Dibalik gerbang ada pohon poplar besar.
Pohon ara, apel, dan pir.
Tanahnya hitam. Bagai rambut istriku.
Anggur di landasan selatan, zaitun di utara.
Kuda Poni Liar bermain di dekat rumahku. Mereka menggoda anakku.
Dia ingin menjadi salah satu dari mereka.
Kau ingat terakhir kali kau pulang ?
Dua tahun, 264 hari, dan pagi ini.
Aku iri padamu, Maximus. Itu rumah yang indah.
Patut diperjuangkan.
Ada satu lagi tugas untukmu...
...kuperintahkan padamu sebelum kau pulang.
Apa yang akan kau perintahkan padaku, Caesar ?
Aku ingin kau menjadi pelindung Roma setelah kematianku.
Aku akan berikan kuasa mutlak padamu.
Untuk memberikan kuasa kembali kepada rakyat Roma ...
...dan akhiri korupsi yang telah merusak Roma.
Maukah kau menerima kehormatan yang telah kutawarkan padamu ini ?
Dengan sepenuh hatiku, tidak.
Maximus,
Karena itu kau harus lakukan ini.
Pastinya ada Prefek, senator,
Seseorang yang mengerti Roma yang mengerti politiknya.
Tapi kau belum dikotori oleh politiknya.
Dan Commodus ? Commodus bukanlah orang yang bermoral.
Kau sudah tahu itu sejak kau masih muda.
Commodus tak bisa berkuasa.
Dia tak boleh berkuasa.
Kaulah harusnya putra yang kumiliki.
Commodus akan menerima keputusanku.
Dia tahu kau bisa menjaga di loyalitas tentara.
Aku butuh waktu, tuan.
Tentunya.
Ketika matahari terbenam, aku harap kau akan setuju.
Kini peluklah aku seperti putraku sendiri.
Dan bawakan selimut lagi untuk orang tua ini.
Ayahku kini mendukungmu.
Sebelumnya tak begitu. Banyak yang berubah.
Banyak tapi tak semuanya.
Maximus, berhentilah.
Tunjukkan wajahmu.
Kau terlihat sedih. Aku kehilangan banyak prajurit.
Apa yang ayahku inginkan darimu ?
Dia mendo'akan kesehatanku sebelum aku pulang.
Kau bohong.
Aku selalu tahu kalo kau bohong karena kau tak mahir berbohong.
Aku tak pernah peduli dengan pendapatmu.
Benar juga.
Tapi kau juga tak butuh itu.
Hidup lebih sederhana untuk seorang prajurit.
Atau kau pikir aku tak punya perasaan ?
Ku pikir kau punya bakat untuk bertahan hidup.
Maximus, berhentilah.
Apakah aku terlihat serius ?
Tidak, aku keletihan karena peperangan.
Kau tersiksa melihat ayahku sangat rapuh.
Commodus berharap ayahku akan mengumumkan penerusnya dalam waktu dekat.
Maukah kau berbakti kepada kakakku seperti kau berbakti kepada ayahku ?
Aku akan selalu berbakti pada Roma.
Tahukah kau,
Aku masih mengingatmu dalam doa aku.
Benar, aku berdoa.
Aku sedih mendengar tewasnya suamimu. Aku berduka.
Terima kasih, kudengar kau punya putra.
Ya. Lucius.
Sebentar lagi umurnya delapan tahun.
Putraku juga mendekati delapan tahun.
Aku bersyukur atas doa-doamu.
Leluhur, aku harapkan petunjukmu.
Ibu yang diberkati tolong tunjukkan masa depan yang ditetapkan oleh dewa.
Ayah yang diberkati, jagalah istriku dan anakku dengan penjagaanmu.
Bisikan padanya aku masih hidup hanya untuk memeluk mereka lagi.
Leluhur, aku menghormatimu,
dan mencoba untuk hidup dengan martabat yang kau ajarkan padaku.
Cicero.
Pak.
Kau pernah merasa enggan melaksanakan tugasmu ?
Kadang-kadang aku lakukan apa yang ingin kulakukan.
Selebihnya aku lakukan apa yang harus kulakukan.
Mungkin saja kita tak bisa pulang.
Apakah kau siap untuk jalankan tugasmu untuk Roma?
Ya, Ayah
Kau takkan menjadi raja.
Orang mana yang lebih bijak sehingga bisa menggantikan diriku ?
Kuasaku akan kuturunkan pada Maximus,
Untuk dia jaga dengan keyakinan,
hingga Senat siap untuk memerintah lagi.
Roma akan menjadi republik lagi.
Maximus. Ya.
Apa keputusanku mengecewakan bagimu ?
Kau pernah menuliskan padaku,
Empat poin kebajikan utama.
Kearifan, keadilan,
keuletan dan kesederhanaan.
Ketika kubaca catatan itu, aku sadar tak memiliki sifat itu.
Tapi aku punya kebajikan lain, ayah.
Ambisi.
Itu bisa jadi satu hal yang mendorong kita untuk maju.
Penuh akal dan berani.
Mungkin tak pada medan perang tapi ada banyak bentuk keberanian.
Rasa bakti pada keluargaku ...
...juga padamu.
Tapi tak ada kebajikanku ini yang kau terima.
Walaupun ada kau seakan tak inginkanku sebagai putramu.
Oh, Commodus.
Kau kelewatan.
Aku berusaha sekuat tenaga...
...untuk menyenangkanmu, untuk membuatmu bangga.
Satu perkataan baik,
satu pelukkan penuh...
Dimana kau menekan tubuhku di dadamu dan memelukku erat-erat,
pasti itu akan menjadi seperti matahari di dalam hatiku selama ribuan tahun.
Apa dalam diriku ada yang sangat kau benci ?
Commodus.
Apa yang kuinginkan...
...adalah menyenangkan dirimu, Caesar.
Ayah. Commodus,
Kesalahanmu sebagai putraku...
...adalah kegagalanku sebagai ayah.
Kemarilah.
Ayah.
Aku akan bunuh seluruh dunia...
...jika saja kau mau menyayangiku!
Maximus, Kaisar membutuhkanmu. Ini penting sekali.
Bersedihlah denganku, kakak.
Ayah kita sudah meninggal.
Bagaimana dia bisa meninggal ?
Kata dokter dia tak rasakan sakit.
Napasnya terputus ketika ia tertidur.
Ayah.
Rajamu meminta kesetiaanmu, Maximus.
Peganglah tanganku.
Aku hanya akan tawarkan sekali saja.
Quintus.
Salam, Caesar.
Aku harus bicara dengan senator. Aku butuh nasihat mereka.
Bangunkan Gayus dan Falco.
Pedangku. Pedang.
Maximus, tolong hati-hati. Perbuatanmu itu tidak bijaksana.
Bijaksana ? Kaisar telah dibunuh.
Kaisar meninggal karena sebab alami.
Mengapa kau bersenjata, Quintus ? Penjaga !
Jangan melawan, Maximus.
Maafkan aku. Caesar telah berikan perintah.
Pergilah hingga sore lalu bunuh dia.
Quintus, lihatlah aku.
Janjilah kalo kau akan menjaga keluargaku.
Keluargamu akan menemuiku di kehidupan berikutnya.
Berlututlah.
Ayah yang diberkati jagalah istri dan anakku.
Bisikkan kepadanya kalo aku masih hidup hanya untuk memeluk mereka.
Setidaknya berikan aku kematian yang lancar.
Kematian prajurit.
Embun beku terkadang membuat pedang lengket.
Praetorian (semacam polisi zaman Roma kuno) !
Ingat terakhir kali kau pulang ?
Dua tahun, 264 hari, dan pagi ini.
Ayah yang diberkati, jagalah istri dan putraku.
Bisikkan kepada mereka aku masih hidup untuk memeluk mereka lagi.
Yang lain hanyalah debu dan udara, dan aku masih hidup untuk memeluk mereka lagi.
Yang lain hanyalah debu dan udara.
Ayah pulang !
Jangan mati.
Kau akan temui mereka lagi.
Belum.
Jangan! Mereka akan bersihkan itu. Lihat saja.
Jangan mati.
Jika kau mati akan di umpankan pada singa.
Mereka lebih berharga daripada kita.
Lebih baik sekarang ?
Bersih. Lihatkah kau ?
Proximo! Teman lamaku.
Setiap hari terasa luar biasa ketika kau di sini.
Tapi hari ini adalah hari keberuntunganmu.
Jerapah yang kau jual padaku mereka tak mau kawin.
Mereka hanya berjalan-jalan, makan dan tak mau kawin.
Kau jual jerapah banci padaku.
Kembalikan uangku ! Tidak bisa.
Tapi akan kuberikan harga khusus untukmu. Untuk apa ?
Kau sudah melihat persediaan baruku ? Mari dan lihatlah.
Ada yang bisa bertarung ? Ada pertarungan dalam waktu dekat.
Beberapa bagus untuk petarungan, beberapa untuk mati.
Kau butuh dua-duanya, bukan.
Bangunlah !
Apa pekerjaanmu ?
Aku dulu pemburu.
Oh, tidak. Aku beli orang itu dari tambang garam di Carthage.
Duduklah !
Tanda Belgiun Roma.
Pelarian. Mungkin saja. Siapa yang peduli ?
Dia orang Spaniard.
Aku akan ambil enam dengan harga 1000.
1000 ? Orang Numidian itu saja harganya 2.000 !
Budak-budak ini sudah busuk.
Ini menambahkan aroma. Tidak, Tunggu.
Aku bisa negoisasi.
Aku berikan 2.000 dan 4.000 untuk binatang buas.
Artinya 5.000 untuk teman lama.
Minggir! Berapa lama lagi aku bisa tiba ke rumahku sendiri ?
Namaku Proximo!
Aku akan lebih dekat denganmu dalam beberapa hari ini,
yang merupakan hari terakhir dalam kehidupanmu,
yang menyedihkan yang telah di anugerahkan oleh ibumu ketika dia melahirkanmu!
Aku tak membelimu agar kau bisa menemaniku !
Aku membelimu agar bisa dapat keuntungan dari kematianmu.
Sebagaimana ibumu ada disisimu,
ketika kau lahir.
Aku akan ada disisimu ketika kau mati, dan kau pasti mati,
Kau akan bertransisi ketika kau dengarkan suara.
Para Gladiator, aku menghormatimu.
Merah! Merah.
Kuning!
Bagus.
Merah. Merah!
Spaniard !
Cukup untuk sekarang !
Saatnya akan tiba.
Berikutnya !
Spaniard, mengapa kau tak mau bertarung ?
Kita harus bertarung.
Aku tak mau bertarung.
Seharusnya aku tak berada di sini, aku seorang juru tulis, Aku Seorang penerjemah,
dan bisa berbicara dalam tujuh bahasa.
Bagus.
Besok kau bisa berseru dengan tujuh bahasa.
Mungkin kau akan menjadi salah satu budak yang mendapatkan kebebasan.
Kebebasan ?
Apa yang harus kulakukan ?
Kau masuk ke arena dan bertarung.
Dan dia,
dan Numidian itu,
dan para petarung tersebut.
Dan 100 petarung lainnya.
Dan jika kau bisa memenangkan pertarungan ini hingga tak ada lawan lagi, kau bebas.
Aku tak bisa melakukan itu.
Tidak ?
Tapi aku bisa.
Apakah itu simbol dari dewamu ?
Apakah itu tidak membuatnya murka ?
Dewa memnyukaimu.
Merah adalah warna dewa.
Kau akan butuh bantuannya hari ini.
Proximo!
Masih komandoi Jerman ?
Rakyat menyukai suku barbar.
Selain itu, dia telah membuatku kaya.
Apakah suku Numidian pernah berperang ?
Tidak, pada awalnya.
Apa dia salah satu dari buruh, prajurit ?
Dia seorang Spaniard.
Dia mungkin juga salah satu calon petarung yang akan dibawa ke arena.
500 taruhan antara tim Numidian dan Spanyol.
Aku berani bertaruh 1.000 untuk Numidian.
Apa kau yakin dengan taruhanmu ?
Ini tidak adil.
Bagaimana jika aku bertaruh 2.000 ?
Berapa darimu akan memilih untuk tidak bertarung.
Berapa tak bisa bertarung.
Mereka berpendapat begitu hingga mereka ke luar.
Dengar seruan itu !
Bunuh!
Tusukkan pedang ini menembus tubuh orang lain,
Mereka akan bertepuk tangan dan menyukaimu karena itu.
Dan kau
Kau bisa mulai menyukai mereka ...
...untuk hal yang sama.
Akhirnya kita semua akan mati.
Sayangnya, kita tak bisa memilih caranya, akan tetapi...
...kita bisa putuskan bagaimana kita akan hadapi akhir dari hidup kita...
...agar kita bisa diingat ...
...sebagai manusia.
Ayo!
Dengan tangan kiri, ambil tamengmu !
Dengan tangan kanan, ambil pedangmu !
Bunuh!
Siapkan mereka dalam pasangan merah dengan kuning.
Berikutnya !
Berikutnya !
Pergilah Kau takkan kuasai kami, Commodus!
Dia memasuki Roma bagaikan pahlawan penakluk tapi apa yang ditaklukkannya ?
Berikan waktu padanya, Gracchus. Dia masih muda.
Kupikir dia punya potensi.
Untuk Roma atau untukmu ?
Temui ibumu, Lucius. Pasti dia inginkan itu.
Lucius ! Ibu !
Salam, Caesar.
Senator.
Roma menyambut penguasanya yang baru.
Warga negara yang setia menyambut kepulanganmu, Yang Mulia.
Terima kasih, Falco...
...dan untuk warga negara yang setia, ku yakin mereka tak terlalu mahal.
Caesar. Gracchus.
Gracchus. Seluruh rakyat Roma bergembira atas kepulanganmu, Caesar.
Banyak hal yang membutuhkan perhatianmu.
Terbitlah kumohon! Terbitlah !
Untuk petunjukmu, Senat...
...sudah siapkan beberapa protokol...
...untuk menyampaikan masalah dalam kota ini.
Dimulai dengan pembersihan pada bagian Yunani...
...untuk memerangi penyakit yang mulai mewabah di sana.
Jadi, jika kaisar...
Tidakkah kau melihat, Gracchus ?
Itulah masalahnya, bukan ?
Ayahku menghabiskan waktunya mempelajari...
...buku dan dia belajar dan berfilsafat.
Dia menghabiskan waktunnya membaca perkamen dari Senat.
Sementara itu, rakyat di abaikan olehnya-
Tapi Senat adalah rakyat, Tuan.
Dipilih dari rakyat untuk menyampaikan maksud rakyat.
Aku tak yakin banyak anggota rakyat makan sebanyak kau, Gracchus.
Atau memiliki banyak selir sepertimu, Gayus.
Kupikir aku mengerti dengan rakyatmu sendiri.
Mungkin Caesar mau berbaik hati untuk ajarkan kami...
Berdasarkan pengalaman pribadinya.
Aku sebut itu cinta.
Aku adalah ayah bagi mereka. Rakyat adalah anak-anakku.
Akan kupeluk mereka di dadaku dan kupeluk erat.
Anda Pernah memeluk orang yang sekarat karena sakit, Tuan ?
Tidak, tetapi jika kau menyela perkataanku lagi,
ku jamin padamu kalo kau akan sekarat.
Senator, kakakku sangat letih.
Berikan saja catatanmu padaku. Caesar akan melakukan apa yang dibutuhkan oleh Roma.
Tuan putri, seperti biasa sentuhanmu yang halus membangkitkan kepatuhan.
Siapa yang suruh mereka untuk mengajariku ?
Commodus, Senat ada fungsinnya.
Fungsi apa ? Mereka hanya bisa bicara.
Harusnya hanya ada kau dan aku juga Roma.
Jangan berani pikirkan itu ! Akan selalu ada Senat.
Roma sudah berubah.
Butuh raja untuk memerintah kerajaan.
Tentu saja, tapi biarkan rakyat dapatkan...
...ilusinya,
...tradisinya.
Ayahkku berperang melawan suku barbar.
Dia sendiri yang mengakui tak ada kesuksesan yang ia dapat dari itu.
Tapi rakyat menyukainya. Rakyat selalu suka kemenangan.
Kenapa ? Mereka tak melihat peperangannya.
Peduli apa mereka dengan Germania ?
Mereka peduli dengan kehebatan Roma.
"Kehebatan Roma."
Apa itu ?
Itu hanya satu ide kehebatan.
Kehebatan adalah satu visi. Tepat sekali. Satu Visi.
Tidakkah kau mengerti, Lucilla ?
Akan kuberikan rakyat kehebatan Roma, dan mereka akan menyukaiku.
Mereka akan segera lupa dengan khotbah dari beberapa orang tua.
Aku akan berikan pada rakyat visi terhebat dalam hidup mereka.
Anggur merah dan putih untuk kalian minum sepuasnya !
Permainan.
Permainan selama 115 hari.
Dia lebih cerdik dari yang kukira.
Cerdik. Penduduk Roma akan akan menertawakan dia...
...jika tak takut dengan Pasukannya.
Rasa takut dan takjub kombinasi yang kuat.
Menurutmu rakyat bisa dirayu dengan itu ?
Ku pikir ia tahu apa itu Roma. Roma itu bagaikan penonton.
Tunjukkan sihir pada mereka, dan mereka akan bingung.
Rebutlah kebebasan mereka dan mereka akan terus berteriak.
Jantung Roma yang berdetak bukanlah marmer di kantor Senat.
Melainkan pasir di Colosseum.
Dia akan berikan kematian pada mereka,
dan rakyat akan menyukainya untuk itu.
Yang kau lakukan adalah membunuh.
Rakyat tak mau tukang daging, tapi mereka ingin seorang pahlawan.
Kami inginkan mereka terus datang kemari.
Kami tak mau membuat mereka kecewa, dan kuberharap kau dapat menghibur mereka.
Spaniard.
Buatlah mereka terhibur !
Apakah kalian tak terhibur ?
Bukankah untuk itu kalian datang kemari ?
Spaniard!
Apa yang kau inginkan ?
Wanita ?
Pria ?
Kau memanggilku benar ? Ya.
Kau mahir, Spaniard tapi tak semahir yang kuduga.
Kau bisa menjadi luar biasa.
Kau inginkan aku membunuh jadi aku membunuh. Sudah cukup.
Itu cukup untuk daerah tetapi tidak cukup untuk Roma.
Raja muda itu...
...untuk menghormati ayahnya Marcus Aurelius.
Menurutku itu lucu...
...karena Marcus Aurelius...
...yang bijak dan tahu segalanya yang menutup usaha kami.
Akhirnya, setelah lima tahun mencari nafkah...
...di desa penuh kutu,
kami akhirnya kembali ke tempat yang semestinya...
...Colosseum.
Oh, kau harus melihat Colosseum, Spaniard.
Lima puluh ribu warga Roma...
...menonton pergerakan pedangmu,
menginginkan dirimu untuk melakukan serangan mematikan itu.
Kesunyian sebelum kau menyerang lalu suara gemuruh setelah itu,
semakin bergemuruh seperti...
...badai.
Kau akan merasa seakan dirimu adalah dewa petir.
Kau pernah jadi Gladiator ? Ya.
Kau dapatkan kebebasanmu ?
Dahulu kala sang raja...
...memberikan hadiah untukku...
...tapi hanya sebilah pedang kayu.
Simbol dari kebebasan kami.
Beliau sentuh pundakku dan aku bebas.
Kau kenal Marcus Aurelius ? Bukan begitu maksudku.
Maksudku dia pernah menyentuh pundakku.
Kau menanyakan apa yang kuinginkan.
Aku juga ingin berdiri di hadapan raja...
...seperti halnya dirimu.
Maka dengarkan nasehatku. Belajarlah dariku.
Aku bukanlah yang terbaik karena aku membunuh dengan cepat.
Aku yang terbaik karena penonton menyukaiku.
Memenangkan perhatian penonton maka kau akan mendapatkan kebebasanmu.
Aku akan menangkan perhatian penonton.
Aku akan tunjukkan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
Jadi Spaniard, kita akan pergi ke Roma bersama...
...untuk mengalami petualangan yang menyenangkan!
Kita akan dapatkan banyak keuntungan...
...hingga kita tak bisa dapatkan lebih.
Lalu setelah itu,
ketika jumlah orang yang mati sudah cukup banyak,
mungkin ketika itu kau akan dapatkan kebebasanmu.
Ini Gunakan ini.
Negaraku ada di suatu tempat di luar sana.
Rumahku.
Istriku sedang menyiapkan makanan.
Putriku membawa air dari sungai.
Apakah aku bisa menemui mereka lagi ?
Sepertinya tidak.
Kau percaya kau akan temui mereka kembali ketika kau mati ?
Mungkin saja.
Tapi aku akan segera mati.
Mereka takkan mati dalam beberapa tahun lagi.
Aku harus menunggu.
Tapi kau mau menunggu.
Tentu saja.
Tahukah kau,
istri dan anakku...
Mereka sedang menungguku.
Kau akan menemui mereka lagi.
Tetapi bukan sekarang.
Belum. Hingga
Belum.
Itu dia.
Keluar!
Cepat keluar!
Senang bertemu denganmu lagi, teman lama.
Berikan aku keberuntungan.
Pernahkah kau melihat sesuatu yang semegah ini ?
Aku tak tahu manusia bisa membangun benda seperti ini.
Menangkan perhatian penonton.
Masuk ke dalam! Cepat.
ke dalam.
Dia tidur dengan nyenyak karena dia dikasihi.
Mari kakak. Sudah larut.
Akan kubuat Roma menjadi keajaiban dunia.
Itulah yang tak dimengerti oleh Gracchus dan teman-temannya.
Seluruh keinginanku mencabik-cabik kepalaku.
Commodus, minumlah obat kuat ini.
Ku pikir waktunya sudah hampir tiba.
Aku bisa mengumumkan pembubaran Senat...
...pada perayaan untuk menghormati ayah kita.
Bagaimana menurutmu ?
Apa rakyat sudah siap ?
Ku pikir sekarang kau harus istirahat.
Maukah kau menemaniku ?
Kau masih takut dengan kegelapan, kakak ?
Masih. Selalu.
Temani aku malam ini ? Kau tahu aku akan menolak.
Kalo begitu ciumlah aku.
Tidurlah kakak.
Setelah Sekian lama tak berjumpa denganmu.
Setidaknya aku bisa tinggal lebih lama denganmu lagi.
Kini mereka memecat para pakar.
Siapa pun yang berani berbicara. Bahkan satiris dan penulis sejarah.
Dan matematikawan.
Semuanya itu untuk membiayai makanan di arena.
Senat tidak menyetujui darurat militer.
Ini teror sepenuhnya dari Praetorians.
Aku harus waspada ketika pergi keluar dalam kegegelapan.
Kau harus lebih waspada terhadap aktivitasmu sepanjang hari.
Karena Senat memiliki mata-mata yang dipimpin oleh senat Falco.
Apa yang telah ia pikirkan ? Karena itulah aku sulit memahami dirinya.
Dia menghabiskan hari-harinya untuk ambisinya yang kuat,
Dengan perencanaan festival untuk menghormati ayahmu.
Dia mengabaikan para penasehat bahkan yang paling parah tugas pemerintah.
Jadi, apa yang dia rencanakan ?
Apa dia membiayai permainan itu ?
Permainan itu tiap harinya menghasilkan keuntungan, tapi tidak dikenakan pajak.
untuk masa depan.
Masa depan membayar untuk itu.
Dia mulai menjual cadangan gandum.
Ini sulit dipercaya.
Dia menjual cadangan biji-bijian Roma.
Rakyat akan kelaparan selama dua tahun.
Ku rasa jika mereka terlalu menikmati permainan itu,
Maka mereka tak lama lagi akan mati.
Roma harus tahu ini. Lalu bagaimana ?
Dia akan membubarkan Senat.
Dan siapa yang akan memberitahu mereka sebelum terlambat? Kau, Gracchus?
Kau, Gayus.
Apakah kau yang membuat pidato di lantai Senat...
...dengan mencela Kakakku ?
Dan lalu kau menemui keluargamu di Colosseum itu ?
Siapa yang berani ?
Sejak saat itu aku bagaikan tinggal dipenjara penuh ketakutan,
Karena putraku adalah pewaris kerajaan.
Dia harus mati.
Quintus dan Praetorians hanya merebut kendali untuk diri mereka sendiri.
Tidak memenggal kepala dan ular tidak bisa menyerang.
Lucilla, Gayus benar.
Jika kita menghentikan Praetorians, kita takkan meraih apa-apa.
Jadi kita tidak melakukan apapun ?
Tidak, anakku. Kami harus punya penasihat.
Untuk mempersiapkan diri kami.
Selama rakyat mendukungnya, kita akan dapatkan suaranya.
Kami adalah udara.
Dengan berlalunya hari ia selalu membuat permusuhan.
Suatu hari, ia akan memiliki lebih banyak musuh dari teman-teman.
Dan pada hari itu, kami akan bertindak.
Kemudian kita akan menyerang.
Tapi sebelum itu,
Kita taat.
Kita patuh.
Lalu kita mengkhianatinya.
Ayo!
Baiklah, itu sudah cukup.
Raja inginkan pertarungan,
dan aku tak ingin korbankan petarung terbaikku.
Penonton inginkan pertarungan, jadi raja berikan itu pada mereka.
Kau dapatkan pertarungan di Carthage. Pembantaian di Carthage.
Oh, mengapa kau tak ke penjara saja...
...dan kumpulkan pengemis dan pencuri.
Sudah.
Jika kau inginkan gladiator terbaik ...
...di seluruh kerajaan,
Maka inginkan bayaran ganda.
Kontrakmu takkan berubah atau kontrakmu akan dibatalkan.
kau tak suka itu ?
Kau boleh kembali ke tempat asalmu yang nista itu.
Cassius, Tolonglah ! Aku dapat membebaskan mereka!
Gladiator, apa mereka yang menjulukimu sebagai Spaniard ?
Ya.
Kata orang kau itu besar.
Kata orang kau bisa menghancurkan tengkorak pria dengan satu tangan.
Seorang pria ? Tidak.
Mungkin anak kecil.
Apa spanyol memiliki kuda yang bagus ? Beberapa yang terbaik.
Yang ini Argento dan ini Scarto.
Mereka adalah kudaku.
Tapi kudaku di ambil dariku.
Aku menyukaimu, Spaniard. Aku akan bersorak untukmu.
Kau diizinkan untuk menonton ? Pamanku bilang itu jadikan aku kuat.
Apa kata ayahmu ? Ayahku sudah tiada.
Tuan Lucius, sudah waktunya.
Aku harus pergi.
Namamu Lucius ?
Lucius Verus seperti nama ayahku.
Turunkan!
Claudius!
Berikan tameng ! Ya, Tuan.
Ketika baginda datang, angkat senjatamu hormati dia...
...lalu bicaralah bersama-sama !
Menghadap ke baginda dan jangan belakangi dia !
Pergi dan matilah dengan kehormatan!
Menyambut, Caesar yang agung !
Caesar!
Kami yang akan mati menghormatimu!
Pada hari ini,
kita kembali ke masa lalu...
...untuk menunjukkan pada kalian kejatuhan kedua dari...
...bangsa Carthage!
Di dataran tandus Zama,
Berdiri tentara barbar hannibal yang tak terkalahkan.
Prajurit dan pembunuh ganas...
...dari seluruh negara yang kejam.
Negara yang berdasarkan kehancuran tanpa ampun, dan penaklukkan.
Raja kalian dengan bangga mempersembahkan...
...gerombolan barbar!
Apa ada yang pernah bergabung dengan tentara ?
Ya. Aku mengabdi denganmu di Vindobona.
Kau bisa membantuku.
Apa pun yang keluar dari gerbang itu,
Kita lebih banyak punya kesempatan hidup bila kita bekerja sama.
Kalian mengerti ?
Jika kita terus bersama, kita akan selamat.
Mempersembahkan legiuner dari Africanus Scipio !
Hingga mati !
Bunuh!
Tetap berdekatan !
Berkumpullah !
Kolom beraturan !
Kau tak punya kesempatan.
Dekatkan perisai kalian ! Berkumpul menjadi satu !
Tahan!
Tahan! Jadi satu !
Bagus !
Tahan. Turunkan perisai !
Ya !
Hagen !
Kolom yang ini serang kereta kuda! Kolom yang ini tetap bersamaku!
Cepatlah !
Cepat jalan ! Cepat!
Maximus!
Kolom Tunggal! Kolom Tunggal!
Kita menang!
Pengetahuanku tentang sejarah agak payah, Cassius.
Tapi bukankah suku barbar kalah di perang Carthage ?
Ya, Tuan.
Maafkan aku, Tuan.
Tak apa, aku agak suka dengan kejutan.
Siapa orang itu ?
Orang menjulukinya Spaniard, Tuan.
Aku ingin menemuinya.
Ya, Tuan.
Sambutlah suku barbar!
Maju! Siapkan senjata !
Letakkan senjata kalian !
Gladiator, raja ingin menemuimu.
Aku melayani raja.
Bangun. Bangun.
Ketenaranmu pantas atasmu, Spaniard.
Sepertinya tak ada Gladiator yang bisa menandingimu.
Bagi pemuda ini, dia yakin kau adalah reinkarnasi Hector.
Atau Hercules ?
Mengapa pahlawan kita tak tunjukkan saja dirinya dan sebutkan namanya ?
Kau punya nama, bukan ?
Namaku adalah Gladiator.
Berani sekali kau belakangi aku ?
Lepaskan helmmu dan sebutkan namamu.
Namaku Maximus Decimus Meridius,
Komandan pasukan utara,
Jenderal Legions Felix,
Abdi setia kepada raja yang sah, Marcus Aurelius,
Ayah dari anak yang terbunuh,
suami dari istri yang terbunuh...
...dan aku akan membalas dendam dalam kehidupan ini atau selanjutnya.
Siap!
Biarkan hidup!
Penjaga, tahan senjata!
Maximus!
Ayah.
Mengapa ia masih hidup ?
Aku tak tahu.
Dia harusnya tak boleh hidup.
Ini membuatku jengkel.
Aku sangat jengkel.
Sudah kulakukan apa yang harus kulakukan.
Jika ayah lanjutkan rencananya, kerajaan akan tercerai berai.
Kau mengerti itu ?
Ya.
Apa yang kau rasakan ketika kau melihatnya ?
Aku tak merasakan apapun.
Dia melukai hatimu, bukan ?
Tak seperti ketika aku melukai hatinya.
Mereka bohong padaku di Germania.
Mereka bilang ia sudah mati.
Jika mereka berbohong, artinya mereka tak menghormatiku.
Jika mereka tidak menghormatiku, bagaimana mereka bisa mencintaiku?
Kalo begitu kau harus sampaikan pada legiun...
...pengkhianatan mereka akan dihukum semestinya.
Adikku yang malang,
aku tak ingin menjadi musuhmu.
Lalu apa yang akan kau lakukan ?
Ikutlah denganku !
Istri kaya akan bayar mahal agar ditemani suara paling berani.
Sudah kuduga kakakmu akan mengirim pembunuh.
Aku tak tahu kalo dia akan kirimkan yang terbaik.
Maximus, ia tak tahu.
Kalo Keluargaku dibakar dan disalib ketika mereka masih hidup.
Aku tak tahu soal itu.
Jangan bohong padaku !
Aku menangisi mereka seperti kau tangisi ayahmu ?
Sejak saat itu aku bagaikan tinggal di penjara penuh ketakutan.
Tak bisa berduka atas ayahku karena takut dengan kakakku.
Hidup dalam ketakutan setiap saat dalam setiap hari...
...karena putramu pewaris kerajaan.
Oh, aku menangisi ini.
Putraku tak bersalah.
Begitu juga dengan putraku.
Haruskah putraku juga ikut tewas, sebelum kau percaya denganku ?
Apa pedulimu jika aku percaya padamu atau tidak ?
Dewa telah menyelamatkanmu. Tidakkah kau mengerti ?
Hari ini aku saksikan budak lebih berkuasa dari raja Roma.
Dewa telah selamatkan aku ?
Aku dalam murah hatinya dengan kuasa untuk memuaskan penonton !
Tetap itu kuasa. Penonton itu Roma.
Penonton itu Roma.
Ketika Commodus kendalikan ini, ia mengendalikan segalanya.
Dengarkan aku.
Kakakku memiliki musuh, semuanya ada dalam senat.
Tapi selama rakyat tunduk padanya,
tak ada yang berani menantangnya kecuali kau.
Mereka menentangnya tapi tak melakukan apa-apa.
Ada beberapa politikus yang membaktikan hidupnya untuk Roma.
Satu orang di atas segalanya.
Jika aku bisa mengaturnya, Maukah kau temui dia ?
Tidakkah kau mengerti ?
Aku bisa saja mati di penjara malam ini, atau di arena besok. Aku ini budak !
Perubahan apa yang bisa kulakukan ?
Orang ini inginkan apa yang kau inginkan.
Suruh dia bunuh Commodus !
Aku dulu mengenal seorang pria,
Pria yang terhormat, Pria penuh prinsip...
...yang menyayangi ayahku.
Dan ayahku juga menyayanginya.
Orang ini berbakti pada Roma dengan baik.
Orang itu sudah tiada.
Kakakmu melakukan tugasnya dengan baik.
Izinkan aku membantumu.
Ya, kau bisa membantuku.
Lupakan kau pernah mengenaliku jangan pernah kembali lagi kemari.
Penjaga! Wanita ini sudah tak ada lagi urusan denganku.
Siapa namamu ?
Julian Crassus.
Nama ?
Marcus, pak.
Seperti nama ayahku.
Mereka seharusnya tahu Maximus melarikan diri,
ketika mereka menemukan mayat dari empat orang.
Mereka pikir itu adalah serangan barbar.
Dia orang baik, pak. Setia kepada raja.
Siapkan panah !
Bersiaplah untuk tembak !
Mungkin kau mengetahuinya,
dan tak pernah mengatakannya kepadaku.
Aku tidak tahu. Kau tak tahu ?
Tapi jenderal selalu memegang kendali.
Dapat memberi perintah, bukan ?
Ya, Caesar.
Berikan perintah dan lakukanlah.
Tembak.
Maximus.
Ketika kau komandoi legiun itu ? Kau banyak meraih kemenangan ?
Ya. Di Germania ?
Di banyak negara.
Jenderal.
Kau memiliki nama yang hebat.
Dia harus membunuh namamu sebelum dia membunuhmu.
Ya, hingga di ujung.
Senator Gayus. Halo.
Senator Gracchus.
Jarang melihatmu menikmati bersenang- senang dengan keramaian.
Aku tak pura-pura menjadi wakil rakyat, Senator.
Tapi aku berusaha menjadi wakil untuk rakyat.
Caesar!
Rakyat Roma!
Pada hari keempat Antiokhia,
kita bisa rayakan hari ke 64 permainan ini.
Dengan kemurahan hatinya,
Baginda mempersembahkan untuk penduduk Roma...
...dengan pertandingan final yang bersejarah pada hari ini.
Kembali bertarung di Colosseum setelah pensiun selama lima tahun, Caesar...
...dengan bangga mempersembahkan satu-satunya...
...juara tak terkalahkan ...
...dalam sejarah Romawi,
Tigris dari Gaul perancis yang legendaris!
Dia sangat tahu cara memanipulasi penonton.
Marcus Aurelius memiliki impian atas Roma, Proximo.
Ini bukan impian itu!
Marcus Aurelius sudah mangkat, Maximus.
Kita manusia hanyalah bayangan dan debu belaka.
Bayangan dan debu belaka, Maximus!
Mewakili akademi pelatihan Antonius Proximo,
Caesar dengan bangga mempersembahkan...
Aelius Maximus!
Mereka meng elu-elukannya seakan dia keluarga mereka.
Penonton itu plin-plan, kakakku. Dia akan dilupakan dalam satu bulan.
Tidak, lebih cepat dari itu.
Sudah ku atur.
Kami yang akan mati menghormatimu.
Kami bersamamu, Maximus!
Lawan dia dan akhiri !
Tarik! Tarik!
Lepaskan !
Potong dia! Bunuh dia!
Bunuh!
Maximus! Maximus sang pemurah!
Maximus!
Maju, penjaga! bentuk barisan!
Apa yang harus kulakukan denganmu ?
Kau tak mau juga mati.
Apakah kita berdua sangat berbeda ?
Kau merengut nyawa ketika harus seperti halnya aku.
Aku hanya akan merengut satu nyawa lagi lalu semua akan selesai.
Merengutlah sekarang.
Mereka katakan kalo putramu...
...menjerit bagaikan gadis ketika mereka memaku dirinya di salib itu.
Sedangkan istrimu merenguh seperti pramuria...
...ketika diperkosanya berulang-ulang.
Masa untuk menghormatimu kelak akan berakhir.
Yang Mulia.
Jenderal! Jenderal!
Jenderal! Cicero!
Jenderal. Di mana kau berkemah ?
Ostia.
Kami menyayangimu, Maximus! Terpujilah sang juara!
Katakan pada pasukan jenderal bahwa mereka masih hidup. Temukan aku.
Jalan! Temukan aku!
Bisakah mereka mendengarmu ?
Siapa ? Keluargamu di kehidupan berikutnya.
Oh, tentu. Apa yang kau katakan kepada mereka ?
Untuk putraku,
Aku katakan aku akan segera berjumpa dengannya.
Untuk tetap menurunkan tumitnya ketika dia menungganggi kudanya.
Untuk istriku.
Itu bukan urusanmu.
Kini mereka mencintai Maximus karena kemurahan hatinya.
Jadi aku tak bisa membunuhnya atau itu akan membuatku tak murah hati !
Semua ini bagaikan mimpi buruk yang luar biasa.
Dia menentangmu.
Setiap kemenangan adalah pertentangan.
Penonton melihat ini dan juga anggota senat.
Setiap hari ia bertahan hidup, mereka makin berani.
Bunuh dia. Tidak.
Aku takkan bunuh dia dalam kegemilangan.
Ketika aku menemui Senat hari ini,
dengan sengaja aku memberitahu mereka mengenai penggunaan gandum cadangan untuk membayar permainan.
Lalu apa yang terjadi ?
Tidak ada. Tepat. Tidak ada.
Tak satu kata protes.
Bahkan Senator Gracchus diam seperti tikus.
Mengapa ?
Aku pernah diberitahu sejenis ular laut...
...punya cara aneh menarik mangsanya.
Ular itu akan berbaring di dasar laut seakan terluka.
Meskipun musuhnya mendekat,
ular itu masih diam berbaring.
Meskipun musuhnya menggigitnya ular...
...itu masih diam berbaring,
Jadi kita akan diam berbaring...
...lalu biarkan musuh kita mendekat dan menggigit kita.
Perintahkan mata-mata untuk setiap senator.
Cicero, teman lamaku.
Kupikir itu terakhir kalinya aku bertemu denganmu.
Aku pikir anda sudah mati. Nyaris.
Sudah berapa lama pasukan berada di Ostia ?
Sepanjang musim dingin.
Bagaimana kabar mereka ? Gendut dan bosan.
Siapa yang dalam komando ? Orang bodoh dari Roma.
Berapa lama hingga mereka siap bertempur ?
Untuk anda, besok.
Aku ingin kau lakukan sesuatu untukku.
Saksikanlah.
Jika kau belum pernah ke arena, kau bisa saksikan di sini.
Maximus raksasa mengalahkan raja kita yaitu Commodus.
Kita harus bagaimana ? Dia menentang semua orang.
Apa yang akan kita lakukan ?
Paduka!
Raja kita kalah! Dia kalah! Minggir!
Tuan putri ? Aku melayani ayahmu di Vindobona.
Kembalilah. Tuan putri ?
Aku melayani ayahmu di Vindobona.
Kembalilah!
Kembalilah ! Dan aku melayani jenderal Maximus. Aku masih melayaninya.
Berhenti.
Mundurlah.
Jenderal setuju untuk menemui politikusmu.
Ini untuk kesetianmu, prajurit. Terima kasih, Tuan Putri.
Tinggalkan kami.
Senator Gracchus.
Jenderal.
Kuharap kedatanganku ini cukup membuktikan kalo...
...kau bisa percaya padaku.
Apa Senat ini mendukungmu ? Senat ?
Ya, aku bisa berbicara dengan mereka.
Kau bisa bebaskan aku dan keluarkan aku dari Roma ?
Sampai dimana ?
Bawa aku ke luar dari tembok kota.
Siapkan kuda sehat untuk membawaku ke Ostia. Kemah tentaraku ada di sana.
Pada malam hari kedua, aku akan kembali dengan 5.000 orang pasukan.
Tapi tiap legiun memiliki komandan baru.
Setia kepada Commodus.
Biarkan pasukanku melihatku hidup, dan kita melihat di mana kesetiaan mereka.
Ini gila.
Tak ada tentara Roma yang pernah masuk ke ibu kota selama ratusan tahun.
Aku tak mau menukarkan satu diktator dengan yang lain !
Saat untuk memikirkan dan berbicara sudah usai, Senator.
Setelah serangan tiba-tibamu itu, selanjutnya bagaimana ?
Kau akan membawa 5.000 pasukanmu dan pergi dari sini ?
Aku yang akan pergi.
Prajurit akan tetap melindungimu...
...di bawah komando senat.
Jadi, begitu Roma jadi milikmu, kau akan kembalikan pada rakyatnya ?
Katakan alasannya.
Karena itu adalah permintaan terakhir dari pria yang sekarat.
Aku akan membunuh Commodus.
Nasib Roma kuserahkan padamu.
Marcus Aurelius percaya padamu.
Putrinya percaya padamu.
Aku akan percaya padamu.
Tapi waktu kita sedikit.
Berikan aku dua hari...
...dan aku akan membebaskanmu.
Sedangkan kau...
Kau harus tetap hidup.
atau aku yang akan mati.
Kini kita harus pergi.
Dia akan menunggumu. Berdiri di kaki raksasa tersebut.
Dia akan menemukanmu.
Itu takkan berhasil.
Raja terlalu banyak tahu.
Sedangkan aku,
Ini semakin menjadi berbahaya.
Kau akan dibayar ketika aku kembali.
Kuberikan kau janjiku.
Janjimu ? Bagaimana jika kau tak kembali ?
Tidakkah kau ingat ketika kau punya rasa percaya, Proximus ?
Rasa percaya ?
Siapalah diriku untuk percaya ?
Akan kubunuh kau Commodus. Apa untungnya bagiku ?
Dia menjadikan aku kaya raya.
Aku tahu kau pria yang menepati janjimu, jenderal.
Aku tahu bahwa kau rela mati untuk kehormatan.
Kau rela mati untuk Roma.
Kau rela mati untuk ingatan terhadap leluhurmu.
Sedangkan aku adalah penghibur.
Aku seorang penghibur.
Penjaga!
Dia membunuh orang yang membebaskanmu.
Praetorians, tuan.
Tahan!
Dari mana saja kau ?
Aku memanggilmu.
Aku mohon, kakak.
Apa yang membuatmu gusar ?
Apakah Gracchus punya kekasih baru ?
Aku tak tahu.
Kukira kau baru saja menemuinya.
Dia menulari orang bagaikan demam.
Untuk kesehatan Roma, senat mesti dibunuh.
Dan dia juga akan dibunuh.
Segera.
Tapi tidak malam ini.
Kau ingat apa yang pernah dikatakan oleh ayah kita ?
Ini adalah mimpi.
Mimpi yang menakutkan.
Itulah kehidupan.
Menurutmu itu benar ?
Entahlah.
Menurutku begitu.
Dan aku hanya memilikimu untuk berbagi hal itu.
Buka mulutmu.
Kau tahu aku mencintaimu.
Dan aku mencintaimu.
Keluarlah. cepat !
Bergerak !
Selamat, jenderal.
Kau memiliki teman yang sangat meyakinkan.
Kakakku menahan Gracchus.
Kita tak bisa tunggu lama lagi. Kita harus pergi malam ini.
Proximus akan tiba pada tengah malam dan membawa kau ke gerbang.
Pesuruhmu, Cicero, akan menunggumu di sana dengan kuda.
Kau yang melakukan semua ini ? Ya.
Ya, kau terlalu banyak berkorban.
Banyak yang kutebus.
Tak yang perlu kau tebus.
Kau mencintai anakmu. kau tabah untuknya.
Aku sudah bosan untuk tabah.
Kakakku membenci seluruh dunia dan lebih lagi kau.
Karena ayahmu memilih aku. Bukan.
Karena ayahku menyayangimu.
Dan juga aku mencintaimu.
Dulu.
Apakah kini aku jauh berbeda ?
Kau lebih sering tertawa.
Aku merasa kesepian sepanjang hidupku,
Kecuali ketika bersamamu.
Aku harus pergi.
Ya.
Disana.
Lalu aku mengenaimu.
Bukankah terlalu larut untuk bermain perang-perangan, legiun ?
Aku bukan prajurit.
Bukan prajurit ? Aku Gladiator.
Gladiator ?
Gladiator hanya bertarung di permainan.
Tidakkah kau mau menjadi Prajurit Roma seperti Julius Caesar ?
Aku Maximus, penyelamat Roma!
Penyelamat Roma ?
Siapa yang bilang begitu ?
Di mana Lucius ?
Dia bersama raja, tuan Putri.
Tak mungkin. Itu benar.
Dia ambil itu dari keranjang...
...dan meletakkannya di atas dadanya, Tepat di atas jantungnya.
Mengenai dadanya ? Ya.
Lucius, kadang wanita kerajaan...
...bertindak aneh dan juga lakukan hal-hal aneh atas nama cinta.
Menurutku itu aneh.
Begitu juga denganku.
Adik, temani kami.
Aku membacakan cerita untuk Lucius.
Aku sudah juga membaca. Ya.
Dia Bocah yang pintar. Dia akan menjadi raja yang bijak suatu saat nanti.
Kami membaca petualangan Mark Antony di Mesir.
Lalu Ratu bunuh diri dengan seekor ular.
Lalu Ratu bunuh diri dengan seekor ular.
Tunggu hingga kau dengar apa yang terjadi pada leluhur kita.
Jika kau tak bandel,
Besok malam akan kuceritakan tentang raja Claudius.
Dia telah dikhianati...
...oleh orang-orang paling dekat dengannya.
...oleh saudaranya sendiri.
Mereka berbisik-bisik di sudut-sudut gelap ...
dan serta keluar di tengah malam ...
serta bersekongkol dan berkomplot.
Tapi Claudius tahu kalo mereka merencanakan sesuatu.
Dia tahu kalo mereka sibuk bagai lebah.
Pada suatu malam dia duduk dengan salah seorang dari mereka...
...dan ia menatapnya...
Lalu dia berkata,
Katakan apa yang kalian lakukan,
Lebah-lebah sibuk,
atau akan kubunuh orang yang kau sayangi.
Kau akan saksikan ketika aku bermandikan darah mereka.
Hati raja kemudian itu terluka.
Lebah kecil itu sudah melukai hatinya lebih...
...dari orang lain pernah lakukan.
Apa menurutmu yang terjadi selanjutnya, Lucius ?
Aku tak tahu, Paman.
Lebah kecil itu menceritakan semuanya.
Buka, atas nama raja!
Proximus!
Buka gerbang ini atas nama raja !
Proximus !
Buka gerbang ini !
Buka gerbang ini, Proximus!
Kau ingin mati, orang tua ?
Ambillah.
Semua telah disiapkan.
Sepertinya kau telah bebas.
Apakah kau dalam bahaya karena menjadi orang baik ?
Juba. Semua raja akan mati !
Buka gerbang ini ! Ini perintah raja !
Tarik!
Jalan! Bentuk kolom di kiri!
Aku hanya butuh waktu jadi jangan sia-siakan nyawamu.
Jika kau tak mau ambil resiko, kembalilah ke selmu.
Kita akan menunggumu di sini, Maximus.
Kekuatan dan martabat. Pergilah!
Pergilah!
Kekuatan dan martabat.
Bidik! Siapkan busurmu!
Bayangan and debu.
Maximus!
Maafkan aku.
Selesailah sudah.
Bagaimana dengan keponakanku ?
Dan bagaimana dengan ibunya ?
Haruskah mereka akan merasakan nasib yang sama dengan cinta ibunya ?
Atau haruskah aku bermurah hati ?
Commodus sang pemurah.
Lucius akan tinggal bersamaku mulai sekarang.
Sedangkan ibunya...
Jika dia melihat ke arahku...
...dengan cara yang tak kusuka,
Anaknya akan mati.
Jika dia memutuskan ...
untuk menjadi orang yang mulia...
...anaknya akan mati.
Sedangkan kau,
Kau akan mencintaiku ...
...sebagaimana aku mencintaimu.
Kau akan berikan pewaris untukku. Turunan darah sejati...
...agar Commodus dan keturunannya...
...berkuasa selama ribuan tahun.
Apakah aku tak bermurah hati ?
Maximus!
Aku seorang prajurit. Aku selalu setia.
Belum pernah ada prajurit seperti dia.
Maximus.
Mereka memanggilmu.
Jenderal yang menjadi budak.
Budak yang kemudian menjadi Gladiator.
Gladiator yang menentang raja.
Cerita yang hebat.
Kini rakyat ingin tahu bagaimana akhir dari cerita ini.
Hanya kematian terkenal yang bisa diterima.
Kematian apa yang lebih hebat...
...daripada menentang raja di arena yang hebat ini ?
Kau akan melawan aku ? Mengapa tidak ?
Kau pikir aku takut ?
Kupikir kau sudah ketakutan seumur hidupmu.
Tak seperti Maximus yang tak terkalahkan, Yang tak kenal takut ?
Aku kenal orang yang pernah bilang, "Kematian tersenyum pada tiap orang.
Yang bisa dilakukan adalah membalas senyumannya. "
Aku ingin tahu.
Apakah temanmu tersenyum ketika kematiannya ?
Kau harusnya tahu.
Dia adalah ayahmu.
Kau menyayangi ayahku, Aku tahu itu.
Tapi begitu juga aku.
Artinya kita saudara, bukan ?
Tersenyumlah untukku, saudara.
Pasangkan pelindungnya. Tutupi lukanya.
Formasi cincin!
Quintus, pedang!
Berikan pedangmu!
Pedang! Berikan aku pedang!
Sarungkan pedangmu !
Maximus.
Quintus.
Bebaskan teman-temanku.
Senator Gracchus harus dibebaskan.
Ada satu impian yang tadinya Roma.
Impian itu akan diwujudkan.
Ini adalah keinginan Marcus Aurelius.
Lepaskan para tahanan! Cepat!
Maximus!
Lucius sudah aman.
Pergi ke tempat mereka.
Kau sudah pulang.
Apakah Roma cukup bernilai untuk nyawa satu pria yang baik ?
Kami pernah meyakini itu.
Jadikan kami yakin lagi.
Dia adalah prajurit Roma.
Hormati dia.
Siapa yang akan membantuku membawanya ?
Kini kami sudah bebas.
Aku akan bertemu lagi denganmu.
Tetapi bukan sekarang.
Belum.
Alih Bahasa: Muh Irfan
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.