All language subtitles for Tumbal.Darah.2024.1080p.NF.WEB-DL.DDP5.1.H.26-ATMOS

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik mencekam mengalun]

[bunyi bip berulang]

[perempuan, menangis] Lepasin saya.

[terisak] Jangan.

[lirih] Jangan. Lepasin saya.

[bunyi bip monitor jantung]

Santai, Bos.

[terengah]

[merintih] Ma.

Tolong saya.

[bunyi bip monitor jantung]

Tolong saya, Dok.

[dokter] Maaf.

Saya enggak bisa bantu.

[merintih] Saya bayar, Dok.

Semua uang yang ibu saya kasih, saya janji. [terisak]

Saya bayar semua, Dok. Saya janji. Saya mohon!

[menangis]

Kamu datang ke tempat yang salah.

[musik mencekam berlanjut]

[suara jaringan bergesekan]

[derit ranjang]

[geraman]

[erangan]

[suara kecipak basah]

[suara gemerisik basah]

[suara napas terengah-engah]

[bunyi bip monitor jantung]

[bip semakin kencang]

[jeritan dari jauh]

Citra sudah sama Dokter ya, Pa.

Enggak usah khawatir.

Yang penting karier politik Papa itu aman.

[bunyi bip monitor jantung]

- [desau angin] - [bip monitor jantung]

[desis menyeramkan]

[efek suara mencekam]

[efek dentum seram]

[desau angin]

[suara mencekam]

- [bunyi nging] - [bisik-bisik arwah]

[suara kecipak basah]

[suara kecipak]

[kecipak makin keras]

[musik mencekam makin intens]

[tangis ketakutan Citra]

[bunyi bip monitor jantung]

[jeritan melengking]

[teriakan]

[musik mencekam berlanjut]

[seluruh suara berhenti]

[sirene]

[deru motor]

[pelantang suara] Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Telah berpulang ke Rahmatullah,

bapak kita, saudara kita,

Bapak Suharkamadji,

Bapak Dahlan Surahman,

Saudara Pono Devolo,

Ibu Betty Sukemi,

Ibu Hajah Anna Saragih,

Anak Deta Nur Tsamara,

Rendy dan Novi…

[piring pecah]

- [decit pintu] - [erangan]

[pria tua] Mau apa kamu?

[erangan]

Selamat pagi, Bapak.

Saya datang untuk tagih utang.

- Sana enggak lo pergi! - Jumlah pokok utang Bapak…

- Pergi kamu! - …sepuluh juta.

Saya enggak punya uang!

Cicilan pertama dan kedua Bapak bayar tepat waktu…

- Sana! - …cicilan ketiga Bapak menghilang.

Ya sekarang jumlah bunga utang Bapak itu sampai tiga puluh juta.

[teriakan]

[botol pecah]

Jadi, bagaimana? Utang itu harus dibayar.

Bayar utang!

[mengaduh, tersengal]

Waktu Bapak kemarin ambil pinjaman, ada dari kami paksa?

Lalu kenapa ini sekarang Bapak melihat saya seperti orang yang

ingin mengusir setan?

Hah? Bapak jangan bikin saya susah.

Kalau Bapak bikin saya susah, terpaksa saya harus bikin Bapak

jauh lebih susah daripada saya.

Ampun.

Ampun.

Saya betul-betul enggak ada uang.

Ampun.

Begini saja, Bapak.

Begini, Bapak.

- Ini contoh… - [suara beling]

…apa yang beta lakukan kepada orang yang bikin beta susah.

[desis sakit]

Ampun.

[teriak takut]

Ampun.

Jangan.

- Bayar! - [denting beling]

Iya. Iya.

Cuma ini uang yang saya punya.

Uang yang kemarin Bapak pinjam, sudah habis?

Sudah habis.

Dipakai biaya operasi intususepsi cucu saya.

Sakit apa?

Ada kelainan di ususnya.

Ususnya kejepit.

[debuk kaleng]

Jangan. Jangan. Jangan.

[isak anak kecil]

[tangis tertahan]

[musik sendu mengalun]

Barang barang ini saya ambil untuk tutup cicilan hari ini.

Sekarang itu lagi pandemi, Pak.

Banyak orang sakit.

Ini semua obat-obat, vitamin, pasti laku kalau dijual.

Kalau laku, bayar!

[debuk barang]

Tiga hari lagi, saya datang.

[musik makin sendu]

Anak kecil tuh,

kalau habis operasi harus minum susu banyak.

[pintu dibuka]

[pintu ditutup]

[musik sendu berlanjut]

Halo, Nona.

[bahasa Maluku] Sudah selesai periksa dengan Mak Agnes?

Belum selesai, Kaka.

[bahasa Indonesia] Mak Agnes bilang apa?

Belum tahu.

Ya sudah.

Yang penting Nona dengan Kay bae-bae.

- Aduh, aduh. - E, kenapa?

Pelan-pelan. Pelan-pelan. Pelan-pelan.

[bahasa Maluku] Tenang, tenang.

[bahasa Indonesia] Tadi keram. Nanti sampai rumah, baru beta telepon.

- Sabar dulu, Nona. - Nanti beta kirim pesan.

E, Nona, sabar dulu.

Nona jangan lupa minta obat deng Mak Agnes.

[bahasa Maluku] Nanti Nona bayar pakai uang simpanan katong saja.

[bahasa Maluku] Kaka sudah dapat uang atau belum, Kaka?

Uang untuk biaya lahir saja belum cukup.

[bahasa Indonesia] Sudah, Nona.

Jangan takut.

[bahasa Maluku] Yang paling penting itu, Nona dengan Kay sehat.

Ya sudah, e? Nanti Nona pulang hati-hati. Ini hujan.

Iya, iya. Iya, Kaka.

Posisi bayi kamu ini sungsang, Ella.

Di usia kehamilanmu ini

sangat sulit kembali lagi ke posisinya.

[desah]

Mama bisa bantu?

Kita coba observasi dulu, ya.

Kalau selama dua minggu ini posisinya masih seperti ini,

kamu harus melakukan operasi sesar.

[desah]

[lolong anjing]

[musik sendu meredup]

[gonggong anjing dari jauh]

Saya datang untuk tagih utang.

Kalau uang tidak ada,

surat bisa saya bawa.

Nanti begitu utang lunas…

surat bisa ambil.

[gemerincing kunci]

Karena kalau Nona berani utang…

[kunci diputar]

…Nona harus bayar.

[derit pintu]

[pintu berderit]

[perempuan] Saya enggak punya uang buat bayar utang.

Enggak ada surat berharga.

Enggak punya barang buat dijual.

Saya cuma punya badan.

Kalau Bapak mau…

Bapak bisa masuk.

[terisak perlahan]

E, Nona, jangan sembarang.

Omongan juga dijaga.

Saya ini punya istri.

Saya punya anak.

Siapkan saja itu uang.

Nanti saya datang lagi.

[musik sendu mengalun]

[musik sendu meredup]

Nona.

Ya, Kaka?

Berapa katong butuh buat sesar?

Mak Agnes bilang sekarang lima belas juta.

Atau katong jual itu motor?

Nona, itu motor tua.

Katong juga mesti cicil ke Ko Alung, to?

Masih lama, to?

[deru motor di luar]

[bahasa Maluku] Atau beta ojek lagi saja?

[bahasa Indonesia] Masih lama, Kaka.

Masih lagi tiga minggu.

Masih bisa.

[bahasa Maluku] Enggak apa-apa.

Lu punya laki ni memang bodoh.

Tapi selama beta masih punya napas…

beta masih punya

tangan.

Selama beta masih punya

kaki,

beta masih punya tenaga.

Beta pasti jaga.

Pasti jaga Nona dan Kay.

Beta janji,

beta jaga.

Jadi, Nona buat sayang Mak Agnes bilang.

Jalan pagi,

olahraga kecil.

[bahasa Maluku] Santai saja.

Ya, to?

[bahasa Maluku] Besok beta pergi lebih pagi, to.

Supaya tagih lebih banyak. Pulang bawa uang, to.

[bahasa Maluku] E, seharusnya perempuan tadi beta paksa, ya.

[bahasa Maluku] Ya Tuhan. Kalau paksa perempuan hamil, beta minta cerai saja.

[bahasa Indonesia] Tuhan tidak kasih kita hidup untuk injak orang lemah.

Iya, Nona.

Beta ni ada buat Nona.

Buat Aly.

Dan sekarang, buat Kay.

Cukup satu kali sa.

Beta dipenjara. Jauh dari Nona.

Saat katong

kehilangan Aly.

[bahasa Maluku] Tidak apa-apa.

[bahasa Indonesia] Beta percaya kalau Aly tetap selalu temani beta.

[musik sendu mengalun]

Kaka su janji, to?

Katong harus temani ini anak sama-sama.

Papa deng Mama janji,

selalu ada buat Kay.

Aly juga, to?

Iyo, Aly juga.

[bahasa Maluku] Dia pasti sayang adiknya ini.

E?

[bahasa Indonesia] Dia bergerak.

[bahasa Maluku] Dia pasti setuju dengan bapaknya.

Tapi katong ni orang percaya

semua orang yang su meninggal…

pasti pi surga, to?

Terus kalau Aly sekarang masih di sini…

[bahasa Maluku] dia tidak di surga?

- Ella. - Dia penasaran atau kenapa, Kaka?

[bahasa Maluku] Aly pasti marah sama katong karena tidak tolong dia.

Ella, jangan bawa omong sembarang.

[bahasa Maluku] Aly itu anak katong.

[bahasa Indonesia] Hidup, mati, itu punya Tuhan.

Begitu, ko?

Terus kenapa Kaka masih sering mimpi Aly? [lirih]

[musik berubah suram, meredup]

[suara anak kecil] Mama!

Mama!

Mama!

Mama!

Mama!

Aly takut!

Mama!

Bapak! [menangis]

Mama!

Mama!

[derak api]

[riuh samar suara di luar]

[desau angin]

[klakson kereta]

[riuh samar warga]

[bahasa Maluku] Pergi, ya.

- Hati-hati. - Iya, Nona.

[riuh warga berbisik]

[warga] Mana Pak Lurah ini?

[Jefri] Eh, Abang. Ya.

- [warga] Bau banget ini udah. - [Jefri] Ini ada apaan?

[warga] Ini si Nur. Udah tiga hari mati enggak ada yang tahu. Bau busuk!

[musik mencekam]

[sirene di kejauhan]

[hela napas]

[kesah]

[riuh samar warga]

[perempuan] E, Ella!

[bahasa Maluku] Kau mau ngojek?

Tidak salah?

[bahasa Indonesia] Kau ini tidak sayang dengan kau punya anak?

Kau punya suami tahu? Orang omong kepala batu kau…

[petugas] Bu, bisa diam enggak?

- Mana maskernya? - Enggak ada, Pak.

Ya sudah sana, pulang.

Kita enggak butuh masker, butuhnya beras.

Bodoh!

Buta huruf?

[bahasa Maluku] Kamu mesti bayar semua kerugian beta!

Mau itu bunga, sanksi, denda-denda, semua!

[bahasa Maluku] Kalau beta bayar nanti, Bos, bisa tidak?

[bahasa Indonesia] Sebenarnya,

beta datang ke sini, mau pinjam duit.

[tawa terkekeh]

[bahasa Maluku] Coba ulang biar saya dengar. Bagaimana? Bagaimana?

Bos.

[bahasa Maluku] Beta dengan istri

tak tahu bagaimana lagi.

[bahasa Maluku] Utangmu saja minus.

Masih berani kau pinjam uang di beta?

[bahasa Indonesia] Hebat.

[bahasa Maluku] Coba pintar sedikit.

Sori, Jef.

[menggeram]

Ya sudah.

[klakson kencang]

[penumpang] Woy! Biasa aja, napa?

- Apa? - [Ella] Udah, Mbak, udah.

Lo yang benar! Lagi hamil bawa motor!

- Apa? - [Ella] Udah, udah! Maaf!

Pake masker, tuh!

[musik mendebarkan mengalun]

[decit ban]

[debuk kencang]

[erangan]

[dering ponsel]

Sabar dulu.

[teriakan berulang]

[dering ponsel]

[suara kaget kerumunan]

[Jefri] Aih.

Nona, Nona.

Nona! E, Nona?

Nona, Nona.

Nona.

[lirih] Aduh.

[pria] Saya lihat Pak, tadi kecelakaannya. Dipepet truk.

Parah banget, Pak.

Truknya lari dan…

kami enggak ada yang bisa mengejar.

Tolong. Tolong, Ibu.

Bapak. Bapak, tolong.

Saya harus bawa istri saya ini ke rumah sakit. Tolong!

- Ayo dong, tolongin! - Gak mau.

E, tolong!

[perempuan] Gak, ah. Takut, ah.

Tidak ada yang punya belas kasih, ka?

[deru mobil]

[klakson berulang]

- [debuk] - [klakson]

[musik mendebarkan berlanjut]

[klakson makin kencang]

[ban berdecit]

[suara denging]

[pria, samar] Aduh!

[perempuan, samar] Tolongin.

[pria, samar] Ditolong, gitu?

[keriuhan samar]

[suara denging makin kencang]

[riuh samar orang-orang]

[efek suara tegang]

[decit ban]

[musik menegangkan]

Sabar ya, Nona.

Sabar.

[Jefri] Bapak, tolong.

Mohon maaf, Pak. Tutup, Pak.

Bapak!

[musik makin cepat]

Suster. Suster mengerti kaki…

Saya itu butuh pertolongan sekarang. Bukan besok, bukan lusa.

- Bapak… - Sekarang!

Kalau Bapak tidak mau PCR, Bapak boleh keluar. Silakan!

- [Jefri] E, ini siapa? - Minggir kamu.

Ini Bapak ini siapa?

- Kami tidak bisa bantu Bapak… - Kenapa dikasih masuk?

Bapak PCR dulu, kami baru bisa tolong.

Penjahat kamu tolong! Saya tidak kamu tolong!

- Apa? - Jangan berisik di sini!

Bagi yang tidak memakai masker sekarang keluar!

- Pakai masker. - Keluar!

- Kalian pakai otak! - Silakan.

[musik makin cepat]

[klakson]

[jerit kesakitan]

[rintihan]

[musik menegangkan memudar]

[efek suara mencekam]

[pintu mobil dibuka]

[musik mencekam]

[musik mencekam meredup]

[suara starter mobil]

[suara mesin gagal menyala]

Sialan.

Pakai mati, lah.

Dinamo?

Busi?

Aduh.

- [kap mobil dibanting] - Bangsat!

[musik mencekam]

[Jefri] Bapak.

Bapak orang sini?

Bapak tahu ada rumah sakit dekat sini?

[musik mencekam makin intens]

[debuk pintu]

[mesin mobil menyala]

Puji Tuhan.

[decit ban]

[rem tangan ditarik]

Permisi!

Permisi!

Saya punya istri itu harus dapat tolong!

Ada yang bisa bantu kah?

Tolong!

Hei!

[dentang besi]

[derit pagar]

[rem tangan ditarik]

[mesin mobil dimatikan]

[debuk pintu]

Nona, sebentar ya.

[derik jangkrik samar]

[derit pintu]

[pria] Heh!

Lo ngirim gembel bunting gede kemari, pakai otak enggak?

Terakhir yang umur tujuh bulan aja gue lepeh, kan?

Eh, Bos, bangsat lo, ya.

Ini biar pandemi, lo tetap gue bayar!

Apa lo udah enggak butuh duit?

Ini gue ingetin, ya.

Sekali lagi lo ngirim begituan kemari, urusan bisnis gua sama lu, kelar!

[bahasa Inggris] Bagus.

[bahasa Inggris] Sial.

[bahasa Inggris] Yo! Kembali lagi di Bakar Channel!

[bahasa Indonesia] Gue lagi buru-buru di klinik gue yang tercinta.

Tapi gua tetap mau nunjukin lo apa yang baru diantar ke rumah gue…

[efek suara mencekam]

Lo periksa saya punya istri sekarang.

[Bakar] Harusnya tadi enggak usah ngancam-ngancam, Bos.

Kalau ada perempuan hamil di sini…

pasti kita urusin dengan baik.

Sudah jangan banyak bicara. Periksa sudah.

[tepukan berulang]

E, itu bikin apa? Hei?

- Hei. - [teriak]

- Hei! - Hei, hei, hei.

Sabar, sabar. Dilihat dulu.

Sadar 'kan, dia?

- Ella? - [getar ponsel]

[lirih] Sakit.

[getar ponsel]

Eh, lo mau ke mana?

Ini dokternya manggil saya. Ini yang harusnya urusin tindakan dia.

Tidak bisa. Lo bawa dokter itu ke sini sekarang.

Ya susah, heh. Lo kalau minta tolong, enggak usah songong.

Lo jangan main-main, ya.

Saya setiap hari paksa orang bayar utang.

Jadi, lo, jangan main gila.

Jangan main gila?

Sekali lagi gue ngomong, ya. Lo minta tolong, enggak usah songong.

Lo yang butuh bantuan di sini.

Enggak usah lah pakai ngancam-ngancam gue pakai ginian, nih.

Enggak usah.

Kalau lo enggak percaya, ya terserah.

Atau lo mau cari tempat lain yang bisa bantuin lo?

Silakan. Silakan dibawa.

Silakan.

Makanya lo enggak usah ngatur-ngatur gue.

Nurut. Tunggu di sini.

Santai, Bos.

[musik mencekam]

[musik mencekam meredup]

[gemerincing kunci]

[derit pintu]

Nih.

[bunyi bip monitor]

[samar gema jeritan banyak orang]

[bunyi bip monitor]

[Ella, lemah] Kaka.

Ya, Nona?

Hei.

Hei, Nona.

Kenapa?

[bergetar] Kalau harus pilih…

tolong Kay yang harus selamat.

[bahasa Maluku] E, tidak Nona. Tidak.

Beta ikhlas.

[bahasa Maluku] Tidak, Nona. Tidak.

[bahasa Indonesia] Katong semua harus selamat.

Mesti selamat.

Nona?

E, Nona?

Nona, Nona, bangun, Nona! Nona, bangun!

Nona, pegang ini.

Dokter!

[suara lampu menyala]

[bunyi bip monitor jantung]

[bunyi cairan]

[samar bip monitor]

[batuk]

[samar bip monitor]

[musik menegangkan mengalun]

[samar bip monitor]

[suara mencekam]

[bip monitor terdengar jelas]

[dokter, Inggris] Kasa.

[suara gunting]

[suara kecipak jaringan]

[bahasa Inggris] Sedot.

[cairan disedot]

[suara kecipak jaringan]

San.

Tadi gembel ini sudah kamu periksa?

[bunyi bip jadi cepat]

Komplikasi ini.

[bunyi bip sangat cepat]

[suara kecipak]

Laki, lagi.

[bunyi bip cepat]

[bunyi bip panjang]

Lengkap. Gembelnya juga mati sekarang.

Ya enggak usah dibahas kalau sudah mati.

[dokter] Mending sekarang lo cariin kita tumbal baru.

[teriak]

[bunyi bip panjang]

[suara gunting]

Kamu ngapain?

[dokter] San!

Percuma, San. Dia enggak mau kalau bayinya udah mati!

[bunyi bip panjang]

[batuk]

[batuk]

[dokter] Kar.

Masih sempat cari tumbal yang lain?

[dengkus] Mana mungkin?

[samar pembicaraan ruang operasi]

[berbisik] Nona? Nona!

[Bakar] Lo sekarang nyalahin gue?

- Iya! - Heh!

Lima tahun kalian sudah kerja kayak gini tiap bulan.

Sekalinya bayinya mati…

- Gak usah ngomong. - …lo nyalahin gue?

Suami lo aja nih, dia enggak bisa kerja di mana-mana gara-gara malpraktek!

Dan kita semua akan mati malam ini gara-gara lo!

[pekik menyeramkan]

[musik mencekam mengalun]

[suara-suara menyeramkan]

[Bakar] Gue masih punya tumbal.

- Lo dari mana tiba-tiba punya cadangan? - Ah, emangnya penting? Yang penting ada.

[bisik] Bangun! Nona, bangun!

Nona, kita harus jalan dari sini.

Nona!

Nona!

Minta lo buat nyelametin istri sama bayinya.

[bahasa Inggris] Siapa peduli?

Eh, eh, eh. Tunggu!

Lo dengar, ya.

- Gue enggak pernah ngambil anak orang. - Sok suci, lo!

[derit roda]

[menggeram]

Woy, jangan lari!

[musik mendebarkan mengalun]

[Bakar] Bos, Bos. Tunggu, Bos.

[dokter] Tunggu dulu.

- Lepas! - Sabar!

[dokter] Klinik ada aturannya, Pak. Kalau sudah masuk,

Bapak enggak bisa semaunya keluar begitu aja.

- Beta bilang lepas! - Eh, Pak…

Mundur! Lepas!

[suara kecipak menjalar]

[dokter] Bangsat!

[erangan]

[suara seram] Kalau mereka sampai lepas,

kalian tumbalnya.

[erangan]

[terengah-engah]

- [dokter] Eh! - [erangan Jefri]

Eh, Puki!

[geraman]

Lepas!

[teriakan]

[raungan]

[teriakan]

[erangan]

[musik mendebarkan meredup]

Ayo, maju. Hmm. Maju.

Gue potong lo! Maju!

[musik mencekam]

[tercekat]

[suara logam jatuh]

[desis menyeramkan]

Tenang.

Kita ambil bayinya sekarang.

[gemerisik]

[suara kecipak air]

[musik melantang lalu memudar]

[derit pintu]

[deham]

[derit roda menjauh]

[dengkus]

Miskin kok berani-beraninya punya anak?

Saya yang mampu, sehat,

enggak dikasih.

Khusus buat kamu.

Di sini aja, ya? Enggak usah pulang.

[pintu terbuka]

[langkah kaki]

[dokter] Siap?

[derit pintu]

[Bakar] Enggak mungkin. Masa dia kebal?

[desah, decak kecewa]

[teriakan]

[musik menegangkan mengalun]

[rintihan]

[suara menyeramkan]

[desah parau]

[gemerisik]

[musik menegangkan makin intens]

[erang ketakutan]

- [erangan ketiganya] - [kertak tulang]

[lengkingan iblis kembar]

[erangan]

[tersengal-sengal]

[rintihan]

- [rintihan] - [tercekat]

- [batuk] - [erangan]

[semua terengah-engah]

[desah]

[erangan, napas memburu]

[geraman]

[erang ketakutan]

[geraman]

[teriakan]

[suara desing]

[jeritan panik, erangan]

[geraman]

[teriakan]

[suara tersetrum]

[pekikan]

[jeritan tertahan]

[musik makin intens, lalu memudar]

[teriakan]

[erangan]

[logam jatuh]

[menangis] Ampun.

[terisak] Kami enggak tahu kenapa bisa sampai begini.

[Sandra, menangis] Perempuan itu…

[Bakar] Ada lakinya!

Dia pasti tahu.

[terengah-engah] Kenapa perempuan ini enggak bisa dibelek perutnya?

[menangis, terengah-engah]

[dokter] Tolong,

kasih kami kesempatan.

- [tangis ketakutan Sandra] - [terengah-engah]

[tangis makin menjadi]

[menangis]

[Bakar, berteriak kesal]

[erangan]

[Bakar mengerang]

[kesah]

[mengerang]

[desis kesal]

[bahasa Inggris] Ayo coba.

[mengaduh]

[meringis]

[rintihan]

[gigi terjatuh]

[suara gunting]

Sudah.

[bahasa Inggris] Terima kasih, Wan.

Kamu sakit?

[langkah kaki]

[Iwan] Ya.

[Bakar berdeham]

Sudah lima tahun lebih, nih.

Kita rutin ngasih tumbal sama Bos.

Tapi sekalinya telat, masa kita diginiin banget, ya 'kan?

Kar.

Kita 'kan sudah tahu konsekuensinya,

terus lo mau apa?

[deham tanya] Mau ngelawan?

Ya kan, memang ada caranya 'kan buat ngelawan?

Iya.

Dengan cara ngorbanin diri?

Lo aja yang mati, Kar.

Eh. Enggak ada orang yang mau ngorbanin dirinya untuk orang lain, Kar.

Dan semua orang yang datang ke sini

itu lebih milih ngorbanin bayinya demi ketenangan hidup mereka, Kar.

Iya, ya?

Tapi, kayaknya mending kalian aja yang mati.

[erangan]

- Bakar! Mau ngapain kamu? - [teriakan]

[musik mendebarkan]

[geraman Bakar]

Bukan kebetulan tuh

perempuan yang enggak bisa dibelek perutnya datang ke sini.

Itu udah jadi maksud buat gue jalan keluar.

[Bakar tertawa]

Kamu sinting, Bakar!

[bunyi debuk]

Gue emang gila.

[napas memburu, ketakutan]

[musik berubah mencekam]

[rintihan Sandra]

[musik berhenti]

[Aly] ♪ Bapa kami ♪

♪ Yang ada ♪

[terisak]

♪ Di surga ♪

[terisak]

♪ Dimuliakanlah nama-Mu ♪

Aly?

♪ Datanglah ♪

[terbata-bata] Aly!

♪ Kerajaan-Mu ♪

♪ Jadilah ♪

Aly!

♪ Kehendak-Mu ♪

♪ Di atas Bumi ♪

♪ Se… ♪

Aly!

♪ …perti ♪

Aly!

♪ Di ♪

[jeritan]

♪ Dalam ♪

♪ Surga ♪

[efek suara seram]

[dengung lalat]

[derak pintu]

[geraman]

[derak pintu]

[suara gerendel besi]

[suara elektrik lampu]

[musik mencekam mengalun]

- [erangan] - [suara gerendel besi]

Terbukalah, nih.

[suara gerendel besi]

[decak kesal]

[efek suara seram]

[suara tetesan]

[desah parau]

[teriakan Jefri]

[lengkingan iblis]

[jeritan iblis]

[erangan Jefri]

[pekikan iblis]

[teriakan iblis]

[gertakan iblis]

[teriakan iblis]

[musik mencekam makin cepat]

[erangan iblis]

[geraman Jefri]

[teriakan iblis]

[geraman iblis]

[geraman Jefri]

[erangan iblis]

[geraman Jefri]

[pekikan iblis]

[gerutu Jefri]

[Jefri terbatuk-batuk]

[erangan Jefri]

Ssh!

Kalau lo nurut, lo sama bini lo masih mungkin selamat.

Heh!

Lo tadi bilang, lo debt collector?

Hah?

Berarti pasti lo punya pegangan, 'kan?

Oke. Lo bantuin gue keluar sekarang.

Kenapa?

Karena gue enggak mau dimakan sama setan, Goblok!

Ini tempat itu sebenarnya tempat apa?

Ini tempat pesugihan. Oke?

Klinik ini tiap bulan harus numbalin janin atau bayi.

Imbalannya, kekayaan yang luar biasa, Bos!

E, Pukimai.

Di mana saya punya istri?

[suara mencekam]

[desau angin]

Istri lo, Bos.

Nona. Nona!

Nona.

[menggumam]

Ya, sabar, Nona. Sabar.

Kita pigi.

Bagaimana dia punya keadaan?

Istri lo sekarat.

Makanya lu pakai ilmu lo. Kita keluar dari sini bareng-bareng. Oke?

Karena itu satu satunya jalan biar lo bisa keluar hidup-hidup.

Ilmu apa? Saya tidak ada ilmu!

Saya tidak ada urusan dengan lo, dengan tempat ini!

Ada! Lo ada urusan sama tempat ini.

Karena lo datang kemari dan bawa sial.

[musik mencekam mengalun]

Belum pernah ada dalam sejarah,

orang datang ke sini minta dilahirin bayinya dengan selamat.

Dan ilmu yang lo bawa

sudah bikin dia marah.

[musik mencekam berlanjut]

[rintihan parau iblis kembar]

[gemerisik]

[lengkingan iblis]

[teriakan di kejauhan]

[teriakan bersahut-sahutan]

[rintihan Iwan]

Ayo, Bos. Ayo. Kita keluar, Bos. Ayo.

[derit pintu]

[debak pintu]

[Jefri] Hei, Uti!

Kenapa berhenti?

[desah parau]

[suara mencekam]

[desah parau]

[musik menegangkan]

[desah parau]

[desah parau]

[parau] Ini balasannya.

[tercekat] Bagi yang melawan.

[teriakan]

[suara patah]

[erangan Bakar]

[teriakan kesakitan]

[jeritan iblis kembar]

[teriakan berlanjut]

[teriakan]

[pekikan iblis]

[suara remuk]

[dengkusan]

[desisan berulang]

[tersengal-sengal]

[geraman]

[desisan]

[gemerisik iblis]

[geraman iblis]

[dengkusan iblis]

[geraman iblis]

[desisan berulang]

[geraman iblis]

[dengkusan, geraman iblis]

[Sandra] Ini semua salah Bakar.

[bergetar] Dia yang bawa perempuan sial ini dan suaminya ke sini.

Dia juga yang bawa gembel penyakitan itu kemari.

[Iwan] Biar kami ambil alih.

Kami akan cari cara untuk ambil bayi ini.

[iblis kembar, parau] Gagal, maka kalian tumbalnya.

[musik menegangkan mengalun]

[desisan iblis]

[gertakan iblis]

[desisan iblis]

[geraman iblis]

[suara mencekam]

[musik menegangkan makin intens]

[musik menegangkan meredup]

Buka!

[suara gerendel pintu]

[Jefri] Beta bilang, stop!

Mau bikin apa kalian?

Buang dulu parangnya.

[suara logam jatuh]

Kami cuma perlu bayinya.

Setelah itu, kamu bisa pulang bawa istri kamu.

- Bayi? - [Iwan, berbisik] Ya.

[Iwan, lantang] Iya. Cuma bayinya.

Bayi yang ada di perut istri kamu.

Laki-laki tadi?

Kamu perlu apa?

Uang?

Kami bisa kasih banyak uang.

- Mau berapa? - Tadi ditusuk…

- Bilang aja. - Ini sebenarnya tempat apa?

Klinik setan?

Cabut ilmu kebal istri kamu sekarang.

Kalian ini dari tadi ngomong bicara soal ilmu ini, ilmu itu!

Saya tidak tahu ini ada ilmu apa!

[jeritan Ella]

- [Sandra] Lihat! - [Ella merintih]

Perempuan normal pasti luka kena sayatan pisau.

- [desing pisau] - [jeritan Ella]

[rintihan Ella]

- [desing pisau] - [jeritan Ella]

[teriakan, tangisan]

[Sandra] Berarti perempuan ini cuma kebal di perut aja, ya?

[menangis]

Kita bongkar dadanya, belah tulangnya,

kita ambil bayinya dari atas.

[Iwan] Gak bisa! Kalau ibunya mati, bayinya mati, San.

Terus kamu lebih pilih kita yang mati?

- Gak ada ruginya dicoba! - Eh, San, enggak bisa begitu, San!

[Sandra terisak]

[kelontang logam]

[rintihan Ella]

Saya memang ada ilmu.

Dan ilmu itu saya taruh di…

saya punya anak.

Kalau begitu lepas ilmunya atau istri kamu akan mati di sini.

Tidak bisa. Ilmu itu akan hilang sendiri setelah anak saya lahir dengan normal.

[kelontang logam]

Kalau sampai anak saya atau istri saya kenapa-kenapa,

kalian akan menanggung akibatnya.

Sama aja, Wan.

Kita enggak kasih tumbal hari ini, kita juga mati.

[rintihan Ella]

[lirih] Pengecut.

- [teriakan Ella] - Stop, San.

E, sudah, e!

Kalian perlu bayi. Saya kasih bayi. Berapa waktunya?

- Gak akan sempat! - Saya bawa.

Saya janji, saya bawa gantinya.

Saya cuma minta waktu. Berapa?

Satu jam? Satu jam cukupkah?

[Sandra] Wan!

Wan! Iwan!

[rintihan Ella]

Nona, Nona tenang.

Beta pasti balik.

[musik mendebarkan]

[Sandra] Wan!

[Sandra di kejauhan] Kenapa?

[teriakan kesal Sandra]

[teriak kesal]

[musik mendebarkan berlanjut]

[mesin mobil menyala]

[musik mendebarkan memudar]

[Sandra] Kamu salah, Wan.

Kenapa kamu biarin dia pergi?

Dia akan balik lagi, San. Aku yakin.

Kalau dia enggak baik dan enggak bawa janin buat kita, gimana Wan?

Istrinya di sini!

Bayinya di sini!

Dia akan balik lagi, San!

Kamu kan paling tahu manusia tuh bisa berbuat apa saja

untuk nyelamatin diri dia sendiri, Wan!

San, kita enggak mungkin ngambil bayinya dengan cara gila kamu!

Enggak mungkin!

Aku enggak mau mati konyol, Iwan!

- Aku enggak mau mati konyol! - Iya. San, San!

- Tenang! - Aku enggak mau mati konyol, Iwan!

[terisak]

[lirih] Iya. Iya.

[musik sendu mengalun]

Aku belum punya anak, Wan.

[bergetar] Aku belum punya anak.

Iya.

Iya.

[merintih]

Wan?

Wan?

Wan?

[terkesiap]

[pekik tertahan]

[tangisan Sandra]

[panik] Iwan!

Iwan! Iwan!

Iwan! Wan!

[tersedu-sedu]

[klakson kereta]

[musik sendu meredup]

[bunyi klik]

[musik mendebarkan mengalun]

[tempo musik melambat]

[musik berubah melankolis]

[berkesah]

[geraman frustrasi]

[warga 1] Siapa kamu?

[warga 2] Woi! Ngapain malam-malam di situ? Woi!

[terbata] Ini saya mau balik.

Misi, Pak.

- Woi! - Woi!

Woi! Ugh!

Hei! Tangkap!

[erangan]

[suara debam]

[geraman]

Tarik! Tarik tangkap!

[erangan]

[samar keributan]

[musik berubah menegangkan]

[geraman]

[rintih kesakitan]

[perempuan] Pak! Tunggu, Pak! Stop! Jangan dipukulin!

Saya kenal dia, Pak!

Jangan, Pak!

Saya kenal Bapak ini.

[warga] Warga mana dia?

Saya enggak tahu rumahnya, Pak, tapi saya kenal.

- Ngapain pakai namu malam-malam gini? - Segala bawa golok!

Saya punya utang.

Bapak ini datang buat nagih.

Saya tinggal nih, Neng. Aman?

- Hayok. - Ayo.

[gertakan]

Kenapa bantu saya?

Karena Bapak pernah baik sama saya.

Masuk Pak, biar lukanya diobatin.

[kucing mengeong]

[jeritan teredam]

[tangis tertahan]

[gemerisik angin]

[desah ketakutan]

[desir angin]

[suara gerisik]

[rintihan Ella]

[rintihan berulang]

[musik menegangkan mengalun]

[erangan]

[rintihan takut]

Orang jahat kamu!

Kalau sampai benar kamu punya keluarga, saya sumpahin

istri sama anak kamu enggak selamat.

- [decit rem] - [pekikan]

[musik menegangkan berhenti]

[rintihan]

[lengkingan iblis kembar]

[musik menegangkan berlanjut]

[lengkingan iblis berlanjut]

[lengkingan terus berlanjut]

[jeritan iblis]

[desah]

[isak ketakutan]

[jeritan iblis kembar]

[rintihan]

[teriakan]

[geraman]

[napas memburu]

[musik menegangkan masih berlanjut]

[suara mencekam]

[erangan kecil]

[terisak]

[rintihan]

[teriakan sakit]

[tersedu-sedu]

[terisak]

[menangis]

[terisak]

[tangis ketakutan]

[Sandra] Mau ke mana?

Lari?

[menangis] Jangan. Jangan. Jangan. Jangan.

Mau lari ke mana?

Jangan.

[teriakan iblis]

[menangis tersedu]

[jerit ketakutan]

[menangis tersedu]

[terisak]

Kamu di sini aja, ya?

[menangis takut]

Sayang.

Sini. Sini.

[teriakan Ella]

[raungan Ella]

[teriakan]

[jerit kesakitan]

[jerit kesakitan]

[rintihan]

[teriakan]

[rintihan]

[jeritan kencang Ella]

[erangan]

[gemetar]

[erangan Ella]

[teriakan]

[Ella terengah-engah]

Gue setuju sama Bakar.

Lo emang beda.

Buat Bakar, lo adalah jalan keluar dari sini.

Tapi, sayangnya gue enggak mau keluar.

[teriakan Sandra]

[geraman]

[rintih kesakitan]

[musik mencekam mengalun]

[rintihan]

[erangan Ella]

[rintih tertahan]

[kelontang logam]

[rintihan Ella]

[musik mencekam berlanjut]

[erangan]

[teriakan Ella]

[jerit ketakutan]

[teriakan marah]

[pekikan]

[teriakan Jefri, Ella]

[geraman]

[teriakan Jefri, Sandra]

[musik mencekam berlanjut]

[musik mencekam makin intens]

[teriakan]

[tercekat]

[rintihan Sandra]

[napas terputus-putus]

[teriakan]

[jerit panik]

[teriakan]

[terisak]

[erangan]

San.

San!

San.

San!

[terisak] San.

San.

Lepasin saya, Pak.

[rintihan]

Saya mau diapain?

[rintihan]

Jangan.

Lepas! Lepasin saya, Pak!

[tangisan Bella]

Kalau kalian mau pergi, kalian pergi sekarang.

Pergi sekarang!

[tangis tersedu]

[bergetar] Jangan tinggalin saya. Tolong!

Tolong!

[terisak] Mau ke mana?

Kaka itu siapa? Kaka jawab, Kaka!

- Kaka, itu siapa? - Sudah.

Itu perempuan yang kemarin Kaka cerita, to?

Sudah katong keluar dulu.

Kaka bawa dia untuk ganti beta?

[teriak]

[bahasa Maluku] Katong tidak boleh tinggalkan dia!

Tidak mau.

- Beta tidak mau! - Beta yang mau!

[Jefri, bahasa Indonesia] Beta mau menang sekali ini sa!

[musik sendu mengalun]

[isak tangis Ella]

Seumur hidup katong hidup susah! Miskin!

[bahasa Maluku] Tidak ada yang anggap!

[Ella] Terus Kaka mau apa?

- Kaka mau katong jadi orang jahat? - [Jefri] Katong bukan orang jahat!

[Ella terisak]

[bahasa Maluku] Beta sudah bunuh orang.

[bahasa Maluku] Kalau lu tidak bunuh dia, beta yang mati!

[terisak]

Beta su kehilangan Aly!

[bahasa Maluku] Beta tidak mau kehilangan kau dan Kay!

[bahasa Indonesia] Salah?

[terisak]

Salah.

Salah?

[bahasa Maluku] Kalau sampai korbankan orang lain.

[bahasa Indonesia] Kaka sendiri yang ajar, hidup dan mati Tuhan yang punya!

[teriak]

[Jefri] Sudah biar dong yang mati.

- Ini hidup yang selalu… - Terserah!

Berarti Kaka su bukanlah laki-laki yang beta doa setiap hari

untuk jadi bapak yang baik.

[Ella terisak]

[Iwan] Tidak ada yang akan datang

buat mengorbankan darahnya.

untuk orang lain.

[teriak]

[musik sendu berlanjut]

Berarti sekarang…

Kay yang jaga Mama.

[musik sendu meredup]

[suara getaran]

[teriak kaget]

Kaka!

Kaka! Katong harus sama-sama!

Kaka!

Kaka su janji katong harus sama-sama!

Kaka!

[suara mencekam]

[jerit ketakutan]

[musik mencekam mengalun]

[terengah-engah]

[rintih ketakutan]

[jeritan]

[terengah-engah]

[rintihan]

Mau apa kamu?

Mau apa kamu?

Sebentar, Nona. Diam dulu. Diam.

[rintihan]

[tamparan kencang]

Baik. Saya memang pantas dapat ini, tapi sekarang kita harus pergi dari sini.

- [teriak] - Tenang, tenang, tenang!

[teriak]

[terisak]

Pergi keluar!

[jeritan iblis]

[terengah-engah]

[suara mencekam]

[pintu terkunci]

[erangan]

[geraman]

[terengah-engah]

[terisak]

Ayo kita pergi.

Kenapa?

[terkesiap]

[erangan]

[jeritan iblis]

[dengus parau]

[geraman]

Lagi. Lagi, Kak.

[terengah-engah, mengejan]

[terengah-engah]

Sekali lagi.

Dorong lagi.

[mengejan]

[erangan]

[geraman iblis]

[teriakan]

[bunyi pukulan berulang]

[teriakan]

[gemeretak]

[geraman]

[geraman]

[teriakan]

[geraman iblis]

[raungan]

[teriakan iblis]

[gemeretak]

[teriakan iblis]

[tawa iblis]

[jeritan] Mati!

[tawa iblis]

[musik mencekam makin intens]

[geraman iblis]

[bahasa Maluku] Tidak bisa ke mana-mana.

[parau] Kamu

mau mati sia-sia?

[erangan]

Masih percaya hidup dan matimu

hanya milik Dia?

[teriak kesakitan]

[tawa iblis]

[parau] Manusia…

[suara daging tertusuk]

[terengah] Lo mesti belajar soal manusia lagi.

[erangan]

[tercekat]

[geraman]

[jeritan]

[lengking kesakitan iblis kembar]

[terengah-engah]

[teriakan]

[teriakan memudar]

[musik mencekam memudar]

[terengah-engah]

[napas memburu]

[desah kaget]

[desah]

[napas lega]

[musik melankolis mengalun]

[Ella] Kaka.

[terisak]

Kaka.

Kaka.

[terengah-engah]

[rintihan]

[erangan]

Kaka.

[terisak]

Kaka.

Heh.

Bangun.

Kaka, bangun.

Kaka, bangun! Katong harus keluar sama sama!

[bahasa Maluku] Tidak.

Kaka?

[terisak] Kenapa diam?

[menangis]

Ini. Ini ada Kay di sini, nih.

Ada Kay di sini.

Lihat. Lihat. Dia su lahir.

[terisak] E, kenapa diam?

[menangis]

Jawab!

[tersedu-sedu]

Ayo.

Dia butuh kamu buat jaga bayi ini.

[suara benda runtuh]

[rengekan bayi]

[rengekan bayi]

Jef.

Titip salam buat Aly.

[rengekan bayi]

[suara benda runtuh]

[tersedu-sedu]

[suara keramik pecah]

Bilang beta rindu.

[musik melankolis berlanjut]

[tersedu-sedu]

[rengekan bayi]

[tangis kencang bayi]

[tangis bayi makin menjauh]

[suara benda jatuh]

[derak api]

["Benar Benar" mengalun]

♪ Sepanjang malam aku berfikir Benarkah keputusan ♪

♪ Untuk melepas dan membiarkan Semua ini terjadi ♪

♪ Aku tak bisa mengerti semua Tapi aku belajar ♪

♪ Cinta itu membebaskan ♪

♪ Bila benar-benar kau mencintai ♪

♪ Lepaskan dia ♪

♪ Relakan dia… ♪

[Kay] Mama!

[fotografer] Adiknya boleh duduk.

Sekarang lihatnya kemari.

Ah, senyumnya manis.

♪ Yang membuatnya terbang… ♪

[fotografer] Kita mulai, ya. Bu, siap, ya.

Dua, satu.

[klik kamera]

♪ Bila ternyata badai mengusik Menggoyahkan kenangan ♪

♪ Mau bertahan atau menyerah Itu semua pilihan ♪

UNTUK SEMUA YANG KAMI RINDUKAN…

♪ Aku tak bisa… ♪

DALAM KENANGAN

♪ Tapi aku belajar ♪

DALAM KENANGAN

♪ Cinta itu merelakan ♪

DALAM KENANGAN

♪ Bila benar-benar kau mencintai ♪

♪ Lepaskan dia ♪

♪ Relakan dia pergi ♪

♪ Berikan sayap agar dia mengerti ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

♪ Bila benar-benar kau mencintai ♪

♪ Lepaskan dia ♪

♪ Relakan dia pergi ♪

♪ Berikan sayap agar dia mengerti ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

♪ Lepaskan dia ♪

♪ Relakan dia pergi ♪

♪ Berikan sayap agar dia mengerti ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

♪ Bila benar-benar kau mencintai ♪

♪ Lepaskan dia ♪

♪ Relakan dia pergi ♪

♪ Berikan sayap agar dia mengerti ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

♪ Lepaskan dia ♪

♪ Relakan dia pergi ♪

♪ Berikan sayap agar dia mengerti ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

♪ Bahwa cintamu ♪

♪ Yang membuatnya terbang tinggi ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.