Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Eh,
pengantin lakinya enggak tahu diri ya?
Sudah kakek-kakek masih doyan kawin.
Makan ya, manis.
Saudara,
kata orang,
kalau seorang perjaka tua ingin
mendapatkan seorang gadis ingusan,
ibarat kambing bandot mencintai kelinci.
Luar biasa seleramu.
Kau siapa?
Apa kau tahu perbuatanmu itu tidak
sopan?
Aku tertarik melihat cara makanmu.
Memangnya kau belum pernah melihat orang
makan? Oh, sudah. Sudah.
Tapi di Eropa aku tidak pernah melihat
orang makan pakai tangan.
Kecuali baru di sini.
Kau siapa? Aku tidak kenal kau.
Aku juga tidak kenal kau.
Kalau aku tidak kenal kau, tentu kau
juga tidak mengenalku. Eh, belum tentu.
Ratu Elizabeth tidak mengenal aku,
tapi aku mengenal dia.
Ratu Inggris.
Aku bukan Ratu Elizabeth. Itu jelas.
Kau bukan Ratu.
Tapi,
eh.
Kau cukup menarik.
Kau tamu yang tidak sopan.
Apa kau merasa dirimu sopan?
Hah.
Boleh merokok?
Hah, tidak boleh.
Aku senang sekali.
Pada gadis yang mau berterus terang. Itu
urusanmu. Hani.
Jangan hubungkan dengan diriku. Hani,
ada telepon untukmu. Ya, Bu. Ini, ada
tamu yang tidak sopan.
Kau?
Saya Hendra.
Kau Hendra? Ya. Astaghfirullah.
Pak. Pak.
Mari silakan. Baik, Bu.
Pak, Pak.
Putranya Pak Hidayat datang.
Oh.
Mari Nak Hendra.
Baik, Bu.
Wah, wah. Di luar dugaan.
Lulusan luar negeri. Hampir Bapak tidak
mengenalmu.
Bagaimana? Enak di sana?
Biasa-biasa saja.
Kalau tidak salah, semenjak Nak Hendra
berumur 13 tahun, kita sudah berpisah.
Eee, benar, Bu.
Waktu cepat sekali berlalu.
Eee,
ya, aku di rumah saja.
Enggak ada acara?
Paling-paling belajar sendiri.
Oh, itu Hani, anakku.
Hani, sini, Nak. Besok malam saja deh.
Dah.
Hani.
Perkenalkan, ini Kak Hendra yang pernah
gendongmu semasa kau kecil.
Nah, Hendra akan cerita banyak sekali
tentang pengalamannya di luar negeri.
Eee, hebat ya.
Apa termasuk juga pengalaman dengan
cewek-cewek bule? Hani.
Tidak, tidak.
Cewek-cewek bule tidak bisa diharapkan.
Mereka terlalu bebas. Wah.
Lebih sip dong. Daripada cewek-cewek
sini, malu-malu tapi meyakinkan.
Eh.
Ngomong-ngomong, sudah berapa banyak
cewek-cewek bule yang ditaklukan?
Eee, enggak,
tidak.
Hani.
Eee.
Yuk.
Oh.
Maafkan Nak Hendra.
Pembicaraan Hani terlalu blak-blakan.
Tidak apa-apa. Saya senang dengan gadis
yang berterus terang.
Dan berani.
Hani adatnya keras.
Dan selalu menantang tradisi.
Bapak terlalu memastikan.
Hani tidak menantang tradisi.
Soalnya.
Tradisi ada yang baik dan ada pula yang
buruk.
Yang baik kita pertahankan.
Dan.
Yang buruk kita rubah.
Soalnya manusia selalu berubah. Menuju
pembaharuan.
Itu namanya bermaju, Pak.
Bagus, bagus.
Teori yang luar biasa.
Mendengar kata-katamu. Seolah-olah
melebihi pengalaman baca buku 10 tahun.
Dan juga, Pak.
Kalau kita terlalu beretika.
Ada kalanya akan menjurus pada
kepalsuan.
Hebat, hebat sekali.
Tidak sia-sia didikan luar negeri.
Eee, sebenarnya
Hani anak yang luar biasa. Oh.
Mari Nak Hendra.
Hutangku pada ayahmu. Belum dapat
kulunasi.
Itu soal kecil, Pak.
Tidak usah dipikirkan.
Saya datang kemari bukan untuk
membicarakan soal hutang-hutang itu.
Malahan saya mau akan membicarakan soal
hubungan kerja sama usaha di antara
kita.
Bagus, kau anak muda yang berpandangan
luas.
Kau pasti akan sukses di kemudian hari.
Terima kasih.
Terima kasih.
Inilah tujuanku.
Memanggil kau dari luar negeri.
Dan pertemuanmu dengan Hani.
Sudah kuatur bersama Pak Rustam
sebelumnya.
Kuharap kau memahami.
Dan dapat menyelami isi hatinya. Dan
lebih menyayangi lagi.
Baik, Ayah.
Hani memang luar biasa.
Dibandingkan dengan gadis-gadis yang
lain.
Selama aku di luar negeri.
Belum pernah aku menjumpai gadis seperti
dia.
Mengingat Ayah sudah tua.
Sudah banyak makan asam garam dalam
bidang usaha.
Ayah ingin istirahat.
Dan kalau kau kawin dengan Hani.
Semua usaha kuserahkan padamu.
Eee. Dan kau dapat memimpin
bersama-sama.
Dan Hani merupakan istri yang tepat.
Sebagai pendamping usahamu.
Pendapatku. Hendra dengan Hani merupakan
pasangan yang serasi.
Benar, Pak. Aku juga sependapat.
Apalagi Hendra berpendidikan luar
negeri.
Tapi.
Kita jangan terlampau mengharapkan.
Kita tidak bisa mendikte anak kita.
Zaman sudah berubah.
Hubungan Hani dengan Nurdin sudah begitu
akrab.
Apa Hani bisa meninggalkan Nurdin begitu
saja?
Harus bisa.
Ini demi masa depannya juga masa depan
kita.
Eee.
Aku tidak mau dia kawin dengan Nurdin
yang tidak mempunyai masa depan.
Mungkin orang tuamu sudah tidur.
Selamat malam, Pak.
Masih ingat pulang?
Masih menganggap ini rumahmu?
Pak,
permisi pulang dulu. Eee.
Ayah, kan? Eee.
Hani.
Ayo masuk.
Keluyuran saja.
Eee.
Mentang-mentang diberi kebebasan sampai
kau lupa diri.
Apa kau tidak sadar? Yang kau gagal
masuki perguruan tinggi.
Kau mau jadi apa kau begini terus, hah?
Ayah, jangan salah paham.
Meskipun aku keluyuran.
Tapi pikiranku jalan terus.
Aku punya cara sendiri menentukan masa
depanku.
Apa?
Ayah. Sudah, Hani.
Jangan kau pancing kemarahan ayahmu.
Nanti darah tingginya kambuh lagi. Yuk.
Yang kau lamunkan sudah ada di sisimu,
Hani.
Aku tidak memikirkan kau.
Yang kupikirkan adalah diriku sendiri.
Oh, begitu.
Boleh duduk?
Eee.
Mungkin aku dapat membantu memecahkan
persoalanmu.
Tidak mungkin.
Apa sih yang kau pikirkan, eee?
Eee,
aku gagal masuk ke perguruan tinggi. Oh,
ya?
Itu kehendak ayahmu?
Ya. Eee,
Hani.
Ilmu pengetahuan bukan hanya didapat di
perguruan tinggi.
Sebaliknya.
Kau bisa banyak belajar pada kehidupan
sehari-hari.
Dan yang penting.
Kau bisa hidup enak. Tenang. Dan
gembira.
Dari mana kau dapat teori-teori itu?
Ya, dari kehidupan sehari-hari selama di
luar negeri.
Hani.
Sebenarnya kita senasib.
Tapi aku lain.
Ayahku selalu memaksakan aku belajar
setiap hari.
Agar aku menjadi orang yang luar biasa.
Padahal.
Bagiku semua itu sama.
Punya titel sarjana atau tidak.
Toh, paling-paling kawin.
Menjadi ibu rumah tangga.
Dan melahirkan anak.
Betul.
Selembar ijazah sarjana.
Laku berapa duit sih?
Eee.
Dan nanti akan tiba saatnya.
Akan timbul inflasi gelar
sarjana-sarjana.
Kehidupan manusia ini tidak luput dari
kepalsuan.
Sampai-sampai uang pun palsu sifatnya.
Saat uang itu dapat membeli kegembiraan.
Baru berarti nilainya.
Pernahkah kau membeli kegembiraan?
Ada kalanya.
Kapan?
Sekarang. Eee.
Aku gembira di sisimu.
Ah, sudahlah.
Jangan pusingkan teori-teori itu.
Nanti kau akan mengerti sendiri.
Sekarang.
Mari kita lakukan suatu permainan yang
sangat populer di luar negeri.
Apa yang kau risaukan?
Akan terungkapkan semua.
Kosongkan jiwamu.
Tataplah dengan tenang.
Hah, hah. Kosongkan.
Tataplah.
Tenang.
Kosongkan.
Jiwamu.
Tatap.
Tenang.
Tenang.
Pusatkan.
Perhatian mu.
Tenang.
Tenang.
Tetap.
Tenang.
Tatapan.
Tatapan.
Tatapan.
Kau bersedia jadi istri ku?
Aku bersedia.
Tapi.
Aku bukan seorang istri yang pandai.
Aku tidak bisa melakukan pekerjaan rumah
tangga.
Juga tidak bisa masak.
Aku tidak memerlukan pengurus rumah
tangga.
Juga tak butuh tukang masak.
Aku tidak mengerti cara bergaul.
Aku tak perlu seorang diplomat.
Aku pun tidak bisa membantu usaha mu.
Aku tidak perlu seorang direktris.
Jadi.
Apa yang kau inginkan?
Hanya kau Hani.
Ah.
Tapi.
Aku suka menangis.
Mendekatlah di dada ku.
Menangislah.
Sampai kau puas.
Aku orang yang keras kepala.
Aku akan selalu mengalah.
Aku orang yang tidak mengerti apa-apa.
Aku tidak peduli.
Aku mampu menyayangi mu.
Batin ku selalu tertekan oleh ayah ku.
Seolah aku diletakkan dalam sumur yang
kering.
Aku akan menemani mu di dalam sumur itu.
Siapa tahu.
Kita dapat menggali sumber air yang
jernih.
Hani.
Bagi ku kau adalah gadis yang cantik.
Pintar dan hangat.
Aku cinta padamu. Hani.
Nurdin.
Siapa kau?
Aku Nurdin.
Hani pacar ku.
Tak ku sangka.
Tampang keren.
Perlente.
Berpendidikan.
Heh.
Rupanya teori-teori keji yang kau
dapatkan dari luar negeri.
Pergi.
Siapa dia?
Hendra partner usaha ayah ku.
Heh.
Hebat sekali permainan hipnotis nya.
Heh.
Mana ayah mu?
Silahkan duduk.
Aku bapaknya Hani.
Aku ayahnya Nurdin. Ada urusan apa?
Hani putri ku satu-satunya.
Sebab itu aku datang kemari.
Nurdin juga putra ku satu-satunya.
Kita sama-sama punya anak tunggal. Heh.
Aku kira saudara sependapat dengan aku.
Menginginkan anak kita hidup bahagia.
Itu pasti. Karena itu aku tak inginkan
anak ku bergaul dengan anak mu.
Heh.
Dan kau Nurdin.
Kau jangan coba-coba mengganggu anak ku.
Apa maksud saudara?
Gara-gara mereka berhubungan anak ku
gagal sekolahnya. Apa hubungan sekolah
dengan percintaan mereka?
Sekolah adalah masalah menuntut ilmu.
Tetapi percintaan mereka adalah satu
cita-cita untuk mencapai jenjang rumah
tangga.
Justru karena itu aku tidak mau Hani
terhambat sekolahnya.
Dia akan ku didik menjadi orang yang
terhormat. Terhormat atau tidak bukan
tergantung pada tingginya sekolah.
Tapi pribadi mereka masing-masing yang
menentukan.
Selama Hani masih mencintai ku.
Aku akan tetap mencintai nya.
Selama itu pula aku tidak setuju.
Aku tidak izinkan anak ku kawin dengan
seorang guru musik yang masa depannya
suram.
Suram atau tidak.
Itu adalah urusan ku.
Tanggung jawab ku. Saudara tidak usah
ikut campur.
Saudara boleh kaya. Boleh terpandang.
Tapi bukan berarti. Saudara boleh
seenaknya menghina orang. Mengerti.
Pergi.
Ayo pergi.
Hani.
Bagaimana kelanjutan sekolah mu?
Walaupun tahun ini aku gagal.
Tahun depan toh masih ada kesempatan.
Kalau kau bersungguh-sungguh rajin
belajar pasti akan berhasil.
Oh ya. Sudah sejauh mana hubungan mu
dengan Nurdin?
Heh.
Tetap berjalan baik.
Kami saling punya pengertian.
Dan mengharap bisa berlanjut sampai
berumah tangga.
Bagaimana penilaian mu terhadap Hendra?
Dia ku anggap hanya kenalan biasa.
Sama sekali tidak terlintas di pikiran
ku untuk mencintai nya.
Hani.
Jangan kau terima lagi kedatangan Nurdin
di sini.
Bapak yang telah berani menghina aku.
Secepatnya harus kau putuskan hubungan
dengan dia.
Kenapa ayah?
Kelanjutan sekolah mu dulu yang harus
dipikirkan.
Aku ingin engkau mencapai titel sarjana.
Dan senanglah hidup mu.
Apa dengan aku mempunyai titel bisa
menjamin senang?
Buktinya.
Ayah lulusan fakultas pertanian.
Toh hanya jadi pengusaha biasa.
Dan ibu tamatan fakultas. Filsafat.
Sekarang juga hanya seorang ibu rumah
tangga.
Baik. Baik. Kau tak usah sekolah.
Terserah mau jadi apa.
Yang jelas kau jauhi Nurdin. Ayah.
Sebetulnya apa kemauan ayah?
Mau aku sekolah terus atau Hani.
Ayah ingin menjodohkan mu dengan Hendra.
Tidak.
Tidak mungkin.
Tentang Hendra yang ayah
bangga-banggakan didikan luar negeri.
Padahal bagi ku dia hanya sebagai
petualang. Hani.
Berani kau menghina orang yang baik.
Aku sudah tahu tentang dirinya.
Kemarin dia mempengaruhi diri ku. Dengan
cara yang keji.
Ah.
Ayah.
Aku sudah dewasa.
Biarlah aku menentukan pilihan ku
sendiri.
Tidak.
Jangan karena ayah berhutang budi sama
pak Hidayat.
Aku dijadikan sandra.
Dengan paksa dijodohkan sama Hendra.
Kau.
Pak. Aduh jatuh Bu.
Ibu maafkan.
Aku tidak sengaja menyakiti hati ayah.
Tidak apa-apa.
Darah tinggi ayah mu sedikit kambuh.
Ini pak obatnya.
Heh.
Anak mu betul-betul keras kepala.
Heh.
Seseorang yang berpendirian.
Dan bertanggung jawab harus keras
kepala.
Kata-kata inilah.
Yang pernah diucapkan.
Oleh seorang laki-laki. 25 tahun yang
lalu.
Laki-laki itu sendiri.
Juga keras kepala.
Namun. Selama 25 tahun itu.
Aku merasa hidup bahagia. Di sampingnya.
Bu.
Hani anak kita satu-satunya.
Aku tahu pak. Karena itu.
Aku tidak mau dia kawin.
Dengan seorang laki-laki yang hidupnya
sederhana.
Bapak juga bukan orang yang kaya. Waktu
kawin dengan ku.
Tapi buktinya.
Sampai saat ini aku bisa hidup senang di
sampingmu
pokoknya
aku tetap tidak setuju
Pak
sekarang zaman sudah berubah
biarlah Hani menentukan pilihannya
walau zaman sudah berubah
generasi tua pun ikut berubah
namun aku tidak
biar aku disebut kuno
itu lebih baik
calon suami Hani
tetap aku yang menentukan
aku merasa senang dengan kekerasan
hatimu Pak
tapi sekarang bukan zamannya lagi
orang tua menentukan jodoh anak
pandanglah lebih jauh
kita tidak bisa memaksanya Pak
kalau
kau anggap pendapatmu itu benar
terserahlah
Ibu yang menentukan semua
halo
Pak Hidayat ada
ada sebentar Pak telepon
halo
ya saya sendiri
Pak Hidayat
sebelumnya saya minta maaf
tentang perkawinan Hani dengan Hendra
ternyata kita sebagai orang tua
tidak bisa memaksanya
untuk pembayaran utangku
kuserahkan surat-surat saham pabrik
sebagai gantinya
Nurdin bin Sofyan
kunikahkan kamu dengan seorang gadis
bernama Hani binti Rustam
kuterima nikahnya dengan mas kawin
sebuah kitab suci Alquran dibayar tunai
sekarang kamu berdua sudah sah sebagai
suami istri
semoga hidup berbahagia dan selalu rukun
selamanya
jangan takut
mereka adalah piaraanku untuk membantumu
membalas dendam
kau lihat kenyataannya
Naga Hasi
Kadi Tosi
Gajah Mada Ga
Oho
Gaha Kara
Sandali Si Bang
buktikan
dahsyat sekali
nasibnya akan seperti itu
Mbah
jangan dibinasakan sekaligus
saya khawatir nanti keluarganya curiga
pada saya
baiklah
aku akan binasakan mereka secara
pelan-pelan
bagi siapapun
yang kena gigitan anak lintah ini
bisa mempengaruhi nafsunya
dan bisa pula menjadi mangsanya
seperti kena gejala penyakit anjing gila
tapi setelah Nurdin kena
apakah nyawanya masih bisa ditolong oleh
dukun lain lagi Mbah
dukun manapun
yang ingin coba-coba menolongnya
dia sendiri akan binasa
tapi
tapi ingat
kalau kau melupakan budi baikku
kau akan seperti dia
tolong
tolong
tolong
tolong
tak seorang pun yang bisa menolongmu
ampun
ya
saya pasti ingat
budi baik Mbah
Ing Wilahing
Sangkala Gumalanting
Buana Guncang Ganjing
Hai Gumalanta
Mangkana
Ajeng Ipun
Amangeti Wijosan Sang Lintah
Sura
lakukan tugas kalian
cepat pergi
Nurdin enggak mengajar hari ini?
Mengajar, Bu.
Kok belum bangun?
Kak Nurdin!
Kak Nur!
Kak!
Ah!
Ah.
Tenanglah, Pak.
Duduk saja.
Bagaimana, Dokter?
Berdasarkan pemeriksaan dan diagnosa
kami,
tidak terdapat gejala apa-apa pada diri
Nurdin.
Kami anjurkan
untuk pemeriksaan lebih lanjut,
sebaiknya Nurdin tinggal di sini dulu.
Berilah kami waktu untuk menganalisa
penyakitnya.
Bagaimana?
Eh, permisi.
Pak.
Mungkin ini penyakit aneh.
Bagaimana kalau kita usahakan
pengobatannya secara tradisional di
kampung kita?
Dek,
apa kau yakin?
Namanya saja kita berusaha, Bang.
Bagaimanapun juga, harus kita cari jalan
keluarnya.
Sebaiknya jangan ditunda lagi.
Iya.
Kalau itu cara yang baik, lekas
kerjakan.
Hm?
Bang,
kenapa malam-malam baru sampai?
Ah, penyakitnya gawat. Nari, cepat
panggil Mak Ondong, Nari.
Baik, Bang.
Yang Dasaloka,
Drapati Sanapatra,
Nurdin eling
di ilahi mijantara.
Kamantara,
dan asintapatra.
Duh.
Berani melawan ilmu
Kasihan Mak Ondong, sudah janda, mana
enggak punya keluarga lagi. Iya.
Keturunan saja tidak punya.
Tapi untung
ada kita
tetangga dekat yang bisa menolongnya.
Ijah. Ya. Ambil kain kafan. Baik.
Dikira ada apa.
Bikin deg-degkan saja.
Apa sih? Mukaku. Mukaku kena apa?
Ada bin, bin, binatang
aneh
dari
matanya.
Binatang aneh.
Kalau begitu
secepat
Ya Allah.
Terimalah hamba-Mu ini kembali di
sisi-Mu.
Amin. Ya rabbal alamin.
Hai sang lintah.
Kakarara.
Agawisanguta.
Hani.
Penyakit Nurdin gawat sekali.
Kami akan mencari
orang yang ahli untuk mengobatinya.
Karena tempatnya belum pasti diketahui.
Mungkin agak lama
kami baru pulang. Sepeninggal kami
baik-baiklah jaga suamimu.
Baik, Bi.
Kak Nurdin, jangan bangun dulu.
Jangan, jangan, Kak. Kakak masih sakit.
Kak Nurdin, jangan, jangan dulu. Kakak
masih sakit.
Bang.
Diam.
Sudah berulang kali aku peringatkan.
Ternyata kau mengabaikan nasihatku.
Sebagai abangmu
aku turut berdosa
karena membiarkan perbuatan kejimu.
Hai anak muda.
Siapa namamu?
Hendra.
Hentikan niat jahatmu.
Kalau perbuatan ini kau teruskan
Tuhan akan menghukummu.
Tidakkah kau terpikir
akibat lepasnya lintah beracun itu
berapa banyak orang-orang yang menjadi
korban?
Padahal mereka itu tidak berdosa.
Mana cucianmu?
Mina.
Kenapa kau?
Apa tadi?
Kenapa?
Mina.
Jangan,
jangan, Mina.
Jangan Minah, ah.
Aduh.
Hei, Min.
Kamu ke mana?
Sengaja mau kemari ya?
Ayo masuk dulu. Lu kangen sama gue ya?
Dari dulu gue udah bilang, kawin aja
sama gue. Dan lu, lu enggak usah lihat
tampang. Nih lihat emas gue, pasti lu
hidup senang.
Tidak seperti sekarang,
kawin sama Minah.
Apa yang lu dapat? Iya kan?
Min, lu kena apa sih?
Jangan bengong aja dong, ayam bengong
mati. Eh, ribut sama bini lu ya?
Oh jantung hatiku, kembalilah kepadaku
sayang.
Cere indeh bini lu,
aku bersedia menerimanya.
Belum terlambat, Min.
Kalau enggak percaya,
belah dah dadaku.
Belokan rumah Ijah.
Jah.
Ijah.
Ke mana dia ya?
Ke mana si gendut ya?
Apa dia ngumpet?
Gua datang menagih utang lagi.
Ah, gua pergokin dia entar.
Ah,
mau ngumpet ke mana ente?
Ane panggil-panggil enggak mau nyaut.
Monyong.
Kalau ente enggak bisa bayar bunganya,
ane tarik lagi tuh kalung.
Ah, nih nih ente lihat bon ente nih,
nih.
Nah, nih bonnya.
Hah?
Jangan suka nakut-nakutin, Jah.
Hah?
Kenapa lu?
Hah?
Kenapa jadi begitu lu, Jah?
Hah? Gatal ya?
Hah?
Yang sebelah mana yang gatal?
Mari, Jah. Ane bantu garukin ya.
Jangan Jah, jangan Jah, jangan Jah,
jangan Jah, jangan kurang ajar. Ane cuma
menagih utang.
Jangan Jah, jangan.
Tolong Alimeh, tolong.
Eh, jangan.
Jangan Jah, jangan Jah, jangan.
Jangan Jah, jangan Jah, jangan gue, gue.
Jangan gue dorong-dorong, gue
dorong-dorong, aduh.
Eh, jangan lu ayun-ayun, ngilu gue.
Jangan Jah, jangan.
Tuh jatuh lagi, jatuh, jatuh lu, jangan
kasihanin gue. Itu pakaian gue
satu-satunya. Jah, jangan. Gue bangkrut,
gue bangkrut,
aduh.
Gue enggak berani lagi pulang ke
gerubug.
Eh, Alimeh,
Alimeh, kita enggak bisa jadi beli rumah
baru.
Alimeh, tolong bayar.
Jangan Jah, jangan Jah, jangan.
Nih, lu pakai helm lagi lu, Ijah.
Nih, lu pakai helm.
Kena keler gue.
Kena keler gue, eh, jangan.
Alimeh.
Bayar utang.
Gue bayar.
Stop. Hei.
Stop.
Astaghfirullah.
Kepingin mati apa?
Eh, ayune.
Ndak pun dijem.
Yuk, saya anter.
Ora usah bayar wis.
Bayare ambung wis.
Ya.
Ayo.
Sendirian mawon. Jeng.
Enak ya, Jeng.
Rondo ya?
Aku ya dudo.
Podho.
Cocok kalau begitu.
Cocok.
Dudo ketemu rondo.
Dasar jodoh.
Jalan seenaknya saja kau menubruk barang
orang.
Bangsak, buta mata lu. Awas, minggir.
Eh, Mas. Ya ampun, hancur semua barang
dagangan gue.
Jangan lari, hei.
Hei, woi.
Habis deh barang dagangan gue kalau
begini.
Hei.
Kau harus ganti kerugianku ini ya.
Maksudku tukang becak yang ti-tidak
punya otak itu.
Hei, hei.
Hei.
Orang tuh.
Kau orang kemari.
Ngapain malam-malam? Hei, jangan.
Jangan.
Lailahaillallah,
lailahaillallah,
lailahaillallah.
Ani.
Pak, anak kita kenapa?
Ani.
Kenapa, Ko?
Eh, masuk masuk. Ke kas dulu. Kan, waduh
ada lagi tuh. Aduh, ayo balik balik
balik. Ayo kita balik.
Enggak ada lagi tuh, balik balik.
Aduh, tungguin tungguin tunggu. Ke kas
dulu. Stop stop dulu. Pak Pak tolong Pak
Pak tolong.
Wan, ada kita, Wan.
Ke kas dulu. Eh eh masuk dulu. Masuk aja
bayar. Iya masuk masuk.
bayar. Ke kas dong. Yang ngutang aja
belum pada bayar.
Tolongin. Iya kita bayar jangan takut,
ada jalan ada jalan. Ayo duluan ke kas.
Ada apaan nih? Ke kas dulu. Pak Pak.
Ayo ke kas dulu ke kas dulu.
Ke kas dulu.
Dorong
Ke kas dulu si tukang becak ngomong
lagi.
Gue salah bukan masukin dia.
Ke kas dulu Wan.
Hei, ke kas dulu.
Hei, keluar keluar. Ke kas dulu si
tukang becak. Ke kas dulu ke kas. Ebo
ebo keluar ke kas. Hei, ayo Pak. Jangan
lari. Hei hei.
Hei jangan jangan. Jangan jangan
diapa-apain dia gerobak ini satu-satunya
ya
hilang habis deh.
Astaghfirullah.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Pak.
Kami mohon pertolongan.
Suami dari keponakanku. Dihinggapi
penyakit aneh.
Benar, Pak.
Dia kena ilmu jahat. Bikinan orang.
Bukan hanya dia saja.
Bahkan. Sudah menyebar pada orang-orang
kampung. Hah?
Mari kita berangkat.
Hei, jalan.
Bismillahirrahmanirrahim.
Inna nahnu nazalna zikra wa inna lahu
lahafidzun.
Berani melawan ilmuku.
Allahumma lakal hamdu wa ilaikal mustaka
wa antal musta'an wala haula wala
quwwata illa billah.
Allahu Akbar.
Subhanallah.
Bismillahirrahmanirrahim.
Kak Nurdin.
Rani.
Pak.
Terima kasih atas keluhuran hati Bapak.
Bersyukurlah pada Tuhan.
Bapak hanya perantara saja.
Siapa yang melakukan itu, Pak?
Adikku sendiri.
Hmm?
Dia telah menempuh jalan yang sesat.
Ini juga atas suruhan seorang pemuda
yang bernama Hendra.
Hah?
Maafkan aku, Nak.
Untung Tuhan masih melindungi kita.
Kau tidak salah pilih, Rani.
Sekarang Bapak baru sadar.
Yang penting manusia itu berbudi luhur.
Kekayaan gampang dicari.
Benar.
Tidak kusangka perbuatan Hendra begitu
keji. Ilmu apa yang dituntutnya di luar
negeri?
Ilmu perdukunan kali.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.