All language subtitles for Ajian Ratu Laut Kidul 1991 ¦ Suzzanna full movie (360p_24fps_H264-128kbit_AAC).Indonesian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik]

[tertawa]

Aku bakal lebih muda, lebih sehat, dan

lebih segar. [tertawa]

Dukun keparat.

[menangis]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Lurah perempuan itu harus kita

singkirkan.

Kau Banjar.

dan Kohar. Kalian bertiga adalah

orang-orangku yang akan menjadi

pelaksananya. Andai kata usaha ini

berhasil, kita pasti akan hidup senang.

[tertawa]

Kenapa tidak?

Ini angkin tali Wongso dan bedak mangir

yang harus dilulurkan pada lurah

perempuan itu.

Apa khasiatnya itu, Ki?

Jasadnya akan dijangkiti penyakit.

Setiap tahun kalian harus kemari.

Untuk apa, Ki?

Bawa Perawan Baru kalau kalian ingin

hidup langgeng.

Baiklah, Ki.

[musik]

Pembuatan tambak ikan milik koperasi

desa ini harus selesai tepat pada

waktunya.

Apa perlu kita minta bantuan dana pada

kecamatan atau kabupaten, Bu?

Untuk apa? Maaf, Bu. Bukankah biayanya

cukup besar?

Pemerintah tidak usah diganggu. Saya

yakin berkat swadaya masyarakat di sini,

usaha ini pasti selesai dan sukses.

Insyaallah keberhasilan desa kita ini

akan menjadi contoh bagi desa-desa lain.

[musik]

Simpati masyarakat desa terhadap lurah

perempuan itu harus segera dihentikan.

Eh, Mbok Reso ya?

Iya, Den.

Mau ke mana?

Mau ke rumah anak Lestari.

Oh, ke Bu Lurah sana ya?

Iya.

Mari saya antar,

Mbok. Kerjanya bukan cuma ngurus saja

kan? Wah, macam-macam, Den.

Ini saya bawa parem dan mangir

pesanannya.

Oh, iya, Mbok. Bagaimana kalau

barang-barang ini? Biar kami saja yang

bawa.

Mbok enggak usah capek-capek ke sana.

Lantas yang melulurnya siapa?

Gampang. Saya sendiri juga bisa.

Wah, jangan, Den. Nanti saya tidak enak

sama Bu Lurah.

Seret yang sawah.

Terima kasih ya, Sugeng. Besok jemputnya

jangan terlambat ya.

Giih bareng.

Monggo.

Mbak, kok pulangnya terlambat sih, Mbak?

Loh, kan ada kerja bakti. Hm.

Yang lain malah pulangnya nanti sore.

Hari ini saya masak sayur lodeh kesukaan

Mbak.

Pasti keasinan deh.

Uh, masa kok keasinan terus?

Kalau keasinan lagi itu tandanya kau

minta cepat-cepat dikawinin.

Loh, kok Yati Mbak itu? Loh, sudah

berapa banyak pemuda-pemuda ganteng?

kaya dan punya kedudukan yang melamar

Mbak. Enggak seorang pun yang Mbak

terima. Kenapa sih, Mbak?

Yati,

Mbak sudah janji kepada mendiang kedua

orang tua kita. Mbak akan menikah kalau

kau benar-benar sudah dewasa.

Tamat SMA dan bisa mandiri.

Selamat siang.

Cari siapa, Mbak? Bu Lurah. Ada,

Mbak. Ada tamu. [musik]

Selamat siang, Bu. Silakan. [musik]

Saya cucunya Mbok Reso,

tukang pijit lang kanan Ibu.

Saya justru mengantarkan bedak mangir

yang Ibu pesan ini.

Sekarang Mbok Resonya di mana?

Di rumah. Sakit.

Oh,

kecapekan barangkali.

Sudah ya, Bu. Permisi.

Eh, maaf.

Adik ini namanya siapa?

Marni.

Marni. Kok simbok tidak pernah cerita

punya cucu? Mungkin simbok lupa. Maklum

sudah sepuh.

Saya memang jarang datang ke desa ini.

Sudah ya, Bu. Permisi.

Mari.

Mbok pakai sakit-sakitan segala.

Lama-lama aku bisa keterusan jadi tukang

urut Mbak. Aduh, Suyati baru sekali

dimintain tolong sudah ngedumel.

Iya, Yati kan ingin buru-buru nunjukin

model baju tari ini pada teman-teman.

Baru 0.30

Hm.

Leksono juga belum datang. Ojo kesusu,

Nduk. Nduk, tak bilangin ya, model

pakaianmu itu mbok yang sopan toh. Semua

serba sempit, serba terbuka.

Memangnya kenapa sih, Mbak? Loh,

Mbak Yumu kan lurah di desa ini, Cahayu.

Kita harus memberikan contoh yang baik

pada masyarakat.

Lama-lama kamu jadi guncingan orang loh.

Walah, kalau dengerin omongannya orang

kampung, Mbak, enggak bakalan maju.

Biarin aja.

Waduh, Hati disuruh ngelulur malah

mecahin piring segala.

Maaf Nyati enggak sengaja, Mbak kerja

kalau pikirannya ngelantur ya gitu.

Badah,

Mbak. Mas Lono datang

pada.

Eh, malam Ti.

Selamat malam.

Sudah beres?

Lihat aja sendiri. Cantik kan?

Penampilan yang bisa membuat mata lelaki

pada melotot.

Wus bisa. [tertawa]

Eh, D Leksono.

Malam, Mbak.

Selamat malam. Ah, ini dipakai supaya

enggak kedinginan. [tertawa]

Terima kasih, Mbak.

Heeh.

Hati-hati di jalan, ya.

I, permisi, Mbak.

Ayo, Mbak. Yuk,

pulangnya jangan malam-malam, ya.

Beres, Mbak. Paling-paling juga sampai

pagi. W pites loh

si Mbak.

Bu, Bu Lurah.

Bu Lurah. Bu, Bu Lurah. Bu,

Bu. Bu Lurah. Iya,

Mbok Reso tewas.

Hah? Mbok Ro tukang pijit itu? Hah?

Tadi mayatnya ditemukan di tengah sawah.

Ya sudah, cepat kamu ke sana. Saya ganti

baju dulu, ya.

Iya, ya. Ya.

Heeh.

[musik]

Kepada katal ya. Gatal semua.

Eh, aduh

aduh

eh eh.

Biar aku lihat dulu, Mas.

Ini pasti perbuatan orang-orang iseng.

[musik]

[musik]

hah

[musik]

Masuk.

Eh, [musik]

hei, jangan lari

kau. Jaga dia.

[musik]

[musik]

Ke mana itu perempuan?

Kang Banjar. H. Kau ke sana, aku kemari.

I

[musik]

hei, Koher, itu dia.

Mana dia?

Jangan jangan berkosa saya jangan

katanmu.

Begitu selesai berita aku. H

[musik]

[musik]

[musik]

Ah.

[musik]

[musik]

[musik]

Gandian

sudah, Pak. Sudahkan

Ayah

[musik]

Sekarang giliranmu nih.

Enggak, aku gak minat,

Kang. Kalau begitu kau bantu Toha

mengangkat laki-laki itu, ya.

Ayo, Kang. Angkat.

Tinggalkan tempat ini. Ayo kita melapor.

Tunggu apaagi? Kumpulkan penduduk dan

laksanakan seperti rencana. Kerjakan.

Baik, Pak.

[tertawa]

Mas,

jantung saya dari tadi kok deg-degan

terus. Ada apa, ya? [tertawa]

Kalian tenang-tenang saja. Sebentar lagi

orang-orang akan memanggilmu. Pulurah.

[tertawa]

Harta peninggalan almarhum suami saya

habis. Asal Mas Angkoro benar-benar bisa

menjadi kepala desa ini. [tertawa]

Terima kasih istriku.

Segalanya pasti akan kanti.

Sekarang tidurlah yang nyenyak.

Yuk. Selamat malam, Pak. He

saya telah hancur, Mas.

Saya sudah tidak punya masa depan lagi.

Sebaiknya saya bunuh diri saja.

Tidak, kau tidak boleh melakukan itu,

Yati.

Cobaan ini terlalu berat.

Apa kata Mbak Lestari dan apa kata

orang-orang kampung seandainya saya

hamil?

Kau tidak usah cemas, adikku.

Aku rela mengawinimu.

Tangkap laki-laki dan perempuan yang

telah berbuat zina di kampung kita ini.

Ayo bangunang.

Jangan.

Tidak. Kami tidak melakukan apa-apa.

Saya dipukul dan dia diperkosa oleh

orang-orang berkhong.

Kalian tidak usah mungkir. Ngapain

berduaan di sini kalau tidak berbuat

besum?

Tidak.

Saya telah dicemari dan kami tidak

berbuat apa-apa.

Percayakah kalian

dengan ucapan adik lurah yang selalu

berpakaian seksi ini?

Tidak. Mereka harus ditangkap dan

diadili di muka kakaknya sendiri.

Jangan, jangan lakukan itu.

Ya, kasihannyaalah dia. Berlakulah adil

terhadap kami.

Kita tidak usah buang-buang waktu.

Gunduli mereka

dan kita arah ke liling desa.

Jangan

tolong jangan.

Aduh.

Bu Lurah,

kau dan adikmu Yati

telah menjadi korban perbuatan Angkoro.

Apa maksudmu?

Dan siapa kau sebenarnya?

calon istri Angkoro

yang sebentar lagi akan menggantikan

kedudukanmu sebagai lurah di desa ini.

Kau dengar itu

saja.

Tolong, Mbak, kami tidak berbuat zina.

Kami dituduh yang bukan-bukan.

Tolong saya, Mbak.

Hukum dia.

Kami difitnah, Mbak.

Sebagai,

kau harus bertanggung jawab atas

perbuatan busuk adikmu.

Karena itu kau pun harus dipecat dari

kedudukanmu yang sekarang.

Lurah telah gagal. Keluarganya sendiri

pun telah mencemarkan baik desa.

Bagaimana saudara-saudara? Pecat dia.

Ganti saja dengan lulah yang baru.

Setuju? Setuju.

Ketahuilah saudara-saudara,

apapun tuduhan itu, dia sudah tidak

sanggup untuk menjawabnya lagi. Kenapa?

Dia harus bicara jujur. Dia harus dapat

mempertanggungjawabkan aib ini. Buka

kerudungmu.

Bicaralah.

Mbak,

[menangis]

Mbak,

dia telah kena kutub.

Jasadnya telah dijangkit penyakit kotor

yang menular.

Sebaiknya perempuan itu cepat-cepat

diusir

sebelum desa kita terkena wabahnya.

Beri dia jalan.

Hati-hati Nak.

Jangan lihat

[musik]

bau. Ih,

Mas. Bukankah tadi pagi kita masih kerja

bakti membuat kolam bersamanya?

Iya, ini pasti ada yang tidak beres.

Nah, Saudara-saudara.

sebagai penggantinya. Bagaimana kalau

Pak Angkoro kita angkat jadi lurah di

desa ini.

Setuju?

Setuju?

Setuju.

Terima kasih. Terima kasih.

Dan tugas pertama yang akan saya

instruksikan pada masyarakat adalah

usir pemuda-pemudi jadah itu keluar dari

desa ini. Bila perlu siksa dia. Iya.

Ayo, ayo

cepat

[musik]

eh tunggu mas

aku letih. Eh,

tidak. Kita harus terus. Ayo.

Yati, kenapa kau?

Tinggalkan saja [musik] saya di sini,

Mas.

Saya sudah tidak kuat lagi.

Pergilah, Mas.

Tidak, kau harus tetap bersamaku.

[menangis]

Kebenaranmu semakin parah.

Biar aku gendong saja.

Mm.

kita ikutin terus

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Ki Jag satru, kau kuperintahkan untuk

menolong seorang wanita yang bernama

Lestari.

Apa yang harus hamba lakukan, Ibu Ratu?

Sembuhkan dia dan bantulah usahanya.

Segala titah ibu ratu siap hamba

laksanakan.

Han

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Ya Allah, ya Tuhanku,

kupasrahkan hidup ini kepada aku.

Bunuh diri adalah perbuatan yang

sia-sia.

Anda ini siapa dan kenapa saya ini

ditolong? Biarkan saya mati.

Ibu Ratu Nyi Roro Kidul telah mengutusku

untuk menolongmu,

Ibu Ratu.

Iya, sekarang kau ikut aku.

Tunggu, Bu. Tunggu Bu.

Sabar, sabar, [menghela napas]

sabar.

Masa aku mau ketemu lurah sama suamiku

sendiri susah.

Iya, tapi beliau masih tamu.

Nama saya Sumi, Pak. Umur 16 tahun,

janda dan punya tiga anak.

Kamu

Dasih, Pak.

Dase Handiani

dari Kampung Jero bilang

kalau kamu itu sudah lima kali janda.

Iya, Pak. Laki saya enggak ada yang

kuat. Semua anunya pada soak.

Kamu

saya, Pak.

Duduk.

Kamu cantik, kenapa bercerai?

Dia kawin lagi, Pak.

Sabar, Bu Marni, sabar. Pak Lurah masih

ada tamu.

Tu, tamu siapa sih? Sampai kapan saya

harus nunggu? Sudah 2 jam saya di sini.

Oh, rupanya ini yang membuat kakak tidak

boleh diganggu. Hm. Semua pergi,

tinggalkan tempat ini.

Marni,

bisakah persoalanmu diselesaikan setelah

ini? Tidak. Aku sudah tidak tahan untuk

mengatakan bahwa kau adalah seorang

penipu.

Tutup mulut kamu,

Banjar

Kohar,

ajak mereka keluar dulu.

Ayo, ayo, ayo.

Sekarang katakan apa maum?

Kapan aku kau nikahi?

Rumah bekas lurah itu telah aku sita

untukmu.

Tentunya kau tidak perlu lagi menuntut

jadi Nyonya Angkoro, bukan?

Kau bukan lurah pilihan warga. Akulah

yang mempengaruhi mereka agar

menunjukmu. Inikah balasanmu setelah kau

jadi lurah?

Hm.

Tidak ada seorang pun yang berjasa dalam

hidup ini

kecuali diriku sendiri.

Laknat, kau benar-benar manusia tidak

berbudi. Saat ini juga aku akan buka

rahasia busukmu pada masyarakat.

Umar ini naunya gede.

Sial. Hm.

Banjar kohar.

Ya.

Ya.

Perempuan itu mulai berbahaya.

Heeh.

Singkirkan.

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Ah.

Koher, kenapa kau berada di kamarku? Pak

Angkoro ingin ketemu. Aku disuruh

menjemputmu.

Kenapa bukan Pak Angkoro sendiri yang

datang kemari?

Dia menunggu di bangunan tua

malam-malam begini.

I

untuk apa?

Kau jangan banyak [musik] bertanya.

Ayo cepat.

Aku ganti pakaian dulu.

Tidak. Kita sudah terlambat. Ayo.

Ah. Ah.

Mana dia kangkoro?

Aku di sini. Cepatlah kemari.

Itu bukan suara Kang Angkoro.

Lepaskan

bandingan.

Lepaskan.

Kurang ajar. Kau telah berani menginap

calon istri majikanmu sendiri.

Justru Angkorolah yang menyuruh kami

untuk menutup matamu yang kotor dan

membungkamkan mulutmu yang busuk.

Sial.

Mana dia si Angkuro?

Biar persoalan ini aku selesaikan

sendiri.

Tidak.

Persoalanmu telah ia limpahkan pada

kami.

Mau lari ke Mana kau manis?

[musik]

Tarik [musik] dan lemparkan dia.

Lepaskan. Lepaskan.

Lepaskan.

[berteriak] Ah ah. Ah.

[musik]

[musik]

Tanggalkan bajumu dan berendamlah.

atas nama kesembuhan

lakukan bukan

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Lestari,

berdirilah.

[musik]

[musik]

Teluki Brojo telah kutaklukkan.

Terima kasih, Ki. Terima kasih.

[musik]

Tahan.

[musik]

Biar ular itu tetap di dalam jasadmu

sebagai pamungkas.

[musik]

Kenakan kainmu.

Bagaimana? Ha.

Aman, Pak.

Enggak

usah malu-malu.

Ayo masuk saja. Ayo.

Hah.

Pak Anggoro sudah menunggu di dalam.

Rukia, keberadaanmu di sini masih dalam

keadaan uji coba. Mengerti

maksud Bapak?

untuk mengetahui sejauh mana kehebatanmu

melayani aku.

juga.

Hm.

[musik]

kau Akan kujadikan salah satu selirku.

Andai kata lulus, kau berhak tinggal di

rumah ini. Kau akan kupelihara. Mau kan?

Bagaimana kalau Ibu tahu, Pak?

Ah, itu bukan urusanmu.

Sekarang [musik] kau mandi dulu. Aku

tunggu kau di tempat tidur. Hm.

[tertawa]

Pak,

Pak Jaya cepat keluar.

Saya, Den. Saya

kenapa belum pindah juga?

Habis mau pindah ke mana, Den? Uang

ganti ruginya aja ngespadan.

Mana cukup untuk beli tanah lagi. Semua

orang sudah pada pindah. Cuma kamu

sendiri yang belum. Kamu tahu resiko

orang yang bandel.

Kami orang kecil, Den. Kasihanilah kami.

Ah, peduli setan. Tanah ini harus jadi

milik Pangkoro, lurah desa ini. Kami

cuma melaksanakan tugas.

Ampun, Den. Ampun.

Kasihanilah kami, Den. Kami rakyat

kecil. Ampun.

Ayo bangun.

Ampun, Pak.

Kurang ajar.

Aduh. Aduh.

Jangan deh. Jangan dipukulin. Jangan

deh. Jangan dipukulin. Jangan.

Ampun saya. [berteriak]

[menangis]

Pak bangun Pak. Karena kita masih kecil.

[menangis]

Kalau besok masih di sini

nyawa kalian akan kami habisi semua.

Kau benar-benar mabuk kekuasaan, Mas.

Berapa banyak selir yang akan kupelihara

di rumah itu?

[tertawa]

[menghela napas]

Aku tidak mengerti maksudmu, Bu.

Kau tidak usah mungkir.

Mata kepalaku sendiri melihat

perbuatanmu yang najis itu.

Lantas apa maumu?

Ceraikan aku dan kembalikan seluruh

harta peninggalan suamiku yang telah kau

pinjam sekarang juga.

Ingat Ratu,

kau dan aku adalah sama-sama

pembunuhnya.

Itu berarti warisannya bukan milikmu

sendiri.

juga milikku

manusia rakus.

Kau yang rakus serong. Bisa-bisa kau pun

buunuh.

[musik]

[musik]

H

Loh,

kok Kakang Banjar sudah pulang?

Eh,

Kakang lagi enggak enak badan.

Kakakmu mana?

Urusan koperasi di rumah Pak RT.

Eh,

eh, Sung, Kakang capek. Pijitin, ya.

Loh, enggak ah. Minta pijitin saja sama

kakakku. Dia kan istrimu.

Ini uang jajan untuk kamu,

Kakak ngerayu ya.

Terimalah. Tapi kapan-kapan kamu harus

mau menjidin aku.

Nanti ku beliin baju baru.

Wah, Gombal enggak usah.

Dasar tua-tua kelapa.

Awas ya, kapan-kapan kamu pasti tak

Haji Bakri baru jual tanah. Bereskan.

[musik]

Pak, Pak. Kata rumah kita ada yang

memecahkan.

[musik]

Angkat.

[tertawa]

Di mana uang itu kau simpan?

Uang apa?

Kami tidak punya uang.

Kami orang miskin.

Uang penjualan tanahmu. Hah?

Sumpah, Pak. Benar, Pak. Benar.

Pak kalau tidak istrinya itu berkosa.

Tolong Pak.

Baik baik

bebaskan istri saya.

Kami jangan kalian bunuh

[musik] ini, Pak.

[tertawa]

Lepas

kurang ajar,

Pak.

Istri saya itu diapakan?

Tolong, Pak.

Bu, Bu, Bu.

Dapat Bu, C berhasil. Ayo,

Mbak.

Balik garik.

Nama asliku Indra Laksana.

Semenjak Ibu Ratu mengangkat aku jadi

danyangnya di kawasan ini,

beliau memberi nama Ki Jaga Satru.

Sebenarnya Ki itu siapa dan dari mana?

Desaku adalah desamu juga.

Angkorolah yang membuat hancurnya

kehidupan kami.

Angkoro, orang yang memusuhi saya.

Istriku berbuat serong dengannya.

Bahkan mereka berdualah yang membunuhku.

Maukah Ki menceritakan?

Tadinya aku adalah seorang pedagang

yang acap ke luar desa.

[musik]

Hidup kami sangat bahagia.

Terlebih-lebih setelah kami dikaruniai

[musik] seorang putri bernama Darmi.

Namun malam itu terjadi peristiwa yang

tak disangka-sangka.

Bu,

Ibu kok kelihatan gelisah?

Ayah kapan pulang sih, Bu?

Kau tidak usah memikirkan ayahmu.

Pulang boleh enggak? Ya enggak apa-apa.

Loh, Ibu kok gitu?

Mentang-mentang ayah jarang di rumah,

tapi dia kan cari uang buat kita.

Hei, [musik] Darmi, hidup ini bukan

sekedar untuk uang, tapi ada hal-hal

lain yang belum terpikirkan olehmu.

Apa sih, Bu?

Ah, sudah. Kau tidak [musik] perlu tahu.

Sudah malam, tidur sana. Besok pagi kau

harus sekolah. Malam, Bu.

Siapa sih?

Masango ya? [tertawa]

Melamun ya?

Kok lama sih, Mas datangnya?

Anakmu saja baru tidur. Sudah enggak

sabar ya?

Nih sayain

[musik]

ah

[musik]

lampunya.

Iya.

Mas, [berdehem]

sampai kapan perbuatan seperti ini akan

berakhir?

Sampai kau puas,

Mas Indra Laksana hanya mementingkan

dagangannya.

Aku rela dicerai [musik] dan kawin

denganmu, Mas.

Kau sungguh-sungguh, Ratmi.

Heeh.

Saat-saat seperti inilah yang selalu aku

intikan bila bersamamu, Mas

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Hah

[musik]

sudah pulang? Apa yang kalian lakukan di

tempat ini?

Kau curang rapi.

Hei laki-laki jahanam, kemari kau.

[musik]

Kau telah merusak keutuhan keluarga

kami.

Ah.

[musik]

Untuk menghilangkan jejak,

jasadku telah dicincang,

lalu dibawa dan dilempar ke laut kidul

ini.

Lalu ibu ratu menolong Anda.

Iya,

Ki punya kekuatan. Kenapa tidak membalas

dendam?

Meskipun berwujud,

sesungguhnya diriku tidaklah berjasad.

Ibu Ratu melarangku berbuat demikian.

Aku cuma bisa mengabdi padanya.

Sementara aku yang masih hidup ingin

mengabdi dan membebaskan desaku dari

penindasan.

Jadi kau ingin pulang? Iya, Ki.

Untuk melengkapi ajian, kau akan

kusembadani.

Bila aku sirna, berarti ilmumu telah

penuh.

Diriku ada dalam jasadmu.

Bila tugasmu selesai, kembalilah ke Laut

Kidul dan taburkan bunga tujuh rupa di

pantainya. Apa

maksudnya itu, Ki?

Artinya ragaku yang kau pinjam telah

dikembalikan ke tempatnya lagi.

Mengerti, Gi?

Lakukan Oke.

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Allah

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

e

Eh

[musik]

[berdehem]

Eh, Kang Banjar

Sumi.

Dari tadi kambing kita ngbek terus. Coba

lihat.

Baik, Kang.

Lapar ya?

Kok ngembek terus nih? Makan biar

kenyang.

Sumi Cahayu,

maaf kupinjam ragamu.

e

[musik]

Kang, Kang Banjar,

sini, Kang.

Ayo, Kang.

[menghela napas]

Ayo, Kang. Tunggu apaagi?

Cepat, Kang.

[menghela napas]

[musik]

Sekali ini benar-benar kau beri

kesempatan padaku.

Iya, sepuasmu.

Kau tidak takut kakakmu,

Kang. Kang Banjar.

Ke mana sih,

Kang?

[musik]

[musik]

Ayo, Kang, cepat.

Aku sudah tidak tahan lagi.

Tunggu, aku buka celana dulu.

Tamat sudah riwayatmu. [musik]

Mata keranjang.

Hah. Lestari.

[musik]

[musik]

[berteriak]

Suara.

Ayo.

Ah, Kang. Kang Banjar.

Mbah Sumi. Kang Banjar.

[terkesiap]

Mustahil

apa? Iya, Kang Banjar tewas di patuk

ular.

Begitulah laporan istri dan adiknya

barusan.

Dan anehnya, ular itu berada di atas

kepala seorang perempuan.

Hah? Perempuan?

[menghela napas][terkesiap]

Jangan-jangan ini utusannya Kiibrojo.

Ki Brojo, apa maksudmu?

Tidakkah perjanjian kita dengan dukun

itu telah lewat satu minggu?

Justru itu, aku telah menyuruh Toha

mencari gadis untuk tumbal, tapi belum

ada kabarnya.

Bagaimana kalau besok malam aku ikut

cari?

Bagus.

Ini kutitipkan sedikit uang.

Kekurangannya menyusul.

Baik, Bang. Permisi,

ya.

Siapa

saya, Pak? Banjar.

Banjar.

[tertawa]

Mau apa kau kemari?

Setan

baik-baik di rumah ya.

Iya, Mas.

[musik]

Mana bisa, Pak. Sekarang kan perawan

susah.

[musik]

Mana waktunya minta buru-buru lagi.

Ini baru perkotnya. Iya. Iya.

Berapa saja kau minta pasti aku bayar.

Tapi stoknya terbatas. Saya mesti cari

dulu ke desa-desa.

Berapa [musik] lama itu?

Seminggu lah. Paling cepat.

Baik, ambillah.

Aid. Tapi [musik] aku minta komisi.

Baik.

Kau boleh tidur dengan anak buahku

gratis.

[musik]

Saya.

Iya. Oke,

kau layani Om ini baik-baik. Beres, Mi.

Selamat malam, Om.

Malam. [musik]

Apa istimewa permainanmu?

Terserah, Pak.

69.

Ayam panggang, [musik]

mandi kucing, eh monyet gendong

atau [musik]

babi kecap. [tertawa]

Model baru ya, Om?

Ya, bergumul bersama dalam bakman.

Selamat mendarat. [tertawa]

Eh, Dek Toha.

Malam, Mbak.

Malam,

Mas Kada. Belum pulang.

Oh,

mari masuk. Silakan.

Permisi, Mbak.

Biar saya buatkan kopi dulu, ya.

Enggak usah repot-repot, Mbak.

Uang cuma kopi aja kok. Apa repotnya?

Sebentar ya.

Iya, Mbak.

Sugeng dalu,

Karsih. Bantu aku ya,

Bu Lektari.

Betul. Ha, tolong bantuin saya.

Ada apa, Mbak? Let's go. Dek

[musik]

sini.

Eh, kenapa nih, Mbak?

Ayo satu pada saya.

Ah,

jangan, Mbak.

Ayo deh. Kenapa?

Takut.

Jangan, Mbak. Aduh, Mbak.

Ayo. Enggak.

Sudah lama saya nak kamu. Kamu tahu

enggak? Ah, lakukan. Tapi bagaimana

dengan Mas Pahar?

Dia sahabatku.

Dia kan tidak ada di rumah. Lakukanlah

sesuatu pada saya. Ayo,

ayo, Dek. Ayo. Kenapa kamu takut?

Jangan, Mbak.

Tidak apa-apa kok.

Jangan.

Ayo, ayo, Dek.

Jangan, Mbak.

Dek, T, jangan pergi. Layani aku.

Jangan.

Ayo, Dek. Ayo. Lakukanlah.

Jangan, Mbak.

Lakukan.

Sudah, Mbak. Ayo, tidak apa

layani aku. Ayo, Dek, lakukanlah. Kenapa

kamu takut? Ah, baik. Aku siap

melayanimu.

Tapi jangan di sini. Di mana?

Malam, Bu. Bapak ada?

Belum pulang. Mungkin di rumah

selir-selirnya.

Loh, siapa yang Ibu maksud? Hei, Dek

Kohar. Memangnya selir Bapak itu ada

berapa dan disimpan di mana saja?

Wah, soal itu saya tidak tahu. Kalau

Bapak pulang, tolong sampaikan

pesanannya. Minggu depan baru ada.

Permisi.

Uh, kaki tangannya. Mana ada yang mau

ngomong.

[tertawa]

[tertawa]

di sini saja, Do. H

ayo Mbak masuk

cepat itu.

Iya, Mbak. Sabar.

Nafsunya besar sekali, Mbak. [musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Ah. [berteriak]

Kang Gohar,

Kang Gohar,

binatang. Kalian berdua benar-benar

manusia terkutuk.

Maafkan saya.

Jangan [tertawa]

istri jahanam.

Maafkan. Saya betul-betul tidak sadar,

Mas. Istri Mas Kor

[berteriak]

[terengah-engah]

Hah. Sekarang kau pun harus kubuh.

Istrimu tidak bersalah, Kohar. Aku hanya

meminjam raganya.

[musik]

Apa

[musik]

yang telah kalian lakukan terhadap

adikku di tempat ini?

Jati maksudmu.

H. [tertawa]

Aku dan Banjar telah memperkosanya di

sana.

Kemudian

kami menggantungnya di hutan bersama

Laksono.

Siapa yang menyuruh kalian?

Angkoro.

[musik]

[musik]

Perbuatan kalian benar-benar tidak bisa

kumaafkan.

[musik]

[berteriak]

[berteriak]

Jadi semua ini perbuatan lestari.

Saya kira dia bukan manusia biasa lagi,

Pak.

Keparat perempuan itu. Kalau begitu dia

sudah menjadi wanita sakti,

satu-satunya makhluk hidup yang bisa

menolongku. Cuma Kibrojo.

Tapi

mana Darmi?

Darmi?

Darmi

ada apa dengan Darmi, Mas? Ada apa?

Darmi,

Mas.

Darmi bangun.

Ada apa, ya?

Gak usah banyak tanya. Ayo, ikut. Ikut.

Mau ke mana? Mau ke mana? Jangan

jangan bawa dia. Dia anakku tidak

anakaskan ayah.

Dia akan bisa tumbang. Ibu. [tertawa]

Ibu lepaskan. Lepaskan

Ibu lepaskan.

Naik.

Lepaskan. Tidak mau. [tertawa]

Ibu

ibu. [terkesiap]

Ibu

Darmi mau dibawa ke mana? Diam kamu.

[musik]

[musik]

Turun. Saya tidak mau ya.

Ayo turun.

Ayo Dut

ikut. Ayo

kami mau dibawa ke mana, ya? NMI takut.

Ayo

N ke mana? Nm takut.

Nm takut. Sayang. Nm takut. Ayo.

[musik]

[menangis]

Tidak, Ki.

Bebaskan saya.

Saya mau pulang.

[tertawa]

Ayahmu telah menyerahkan dirimu sebagai

persembahan.

Tidak, Ki. Saya takut.

Saya tidak mau mati.

Darah gadismu akan menyegarkan [musik]

dan menambah kesaktianku.

[musik]

Darmi

Darmi

keluar kau.

Bebaskan anakku

keluar.

Bebaskan.

Tidak dia telah kujadikan korban. Hah?

Keluar kau. Kau

apakan anakku? [tertawa]

Keluar.

Siapa yang menyuruh kau kemari?

Wah, hadam.

Hah?

Ibu,

keluar atau kuuduh kau.

Jangan

bu

[musik]

kau benar-benar laki biadab.

Darmi

[musik]

brojo,

manusia binatang.

[berdehem]

Ular ini datang mencari tuannya.

[musik]

Ah. [berteriak][erangan]

[musik]

[musik]

[musik]

Angkoro, mau lari ke mana kamu?

Dukun [musik] andalanmu sudah kuhabisi.

Sekarang giliranmu.

[musik]

Perempuan kepalat. Perlihatkan dirimu.

[musik]

[musik]

Angkoro yang serakah dan rakus. Kamu

harus cepat-cepat dimusnahkan.

[berteriak]

W.

Kamu tentu masih [musik] ingat aku.

Indra Laksana,

orang yang pernah kau bunuh.

Ah.

Penguasa desa yang batil telah berakhir.

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.