Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Jawab aku.
Aku dengar obrolan kalian. Jangan membohongiku.
- Bukan kau yang dimaksud. - Lalu siapa?
- Temannya Arturo. - Dia kenalanku.
Iker tak mengenalnya.
- Aku tak kenal. - Oh, ya?
Bilang padanya jangan terlalu berharap.
- Iker sudah ada yang punya. - Lebih baik aku tutup mulut.
Aku mau kerja.
Dan kau?
- Cantik sekali. - Terima kasih.
- Kenapa kau berdandan? - Lupa, ya?
Kau mengajakku ke rumah, 'kan?
Álvaro.
Bikin kaget saja.
Aku tidak suka kau pergi sendirian,
apalagi pagi-pagi.
Aku sudah besar.
Terima kasih perhatiannya, tapi aku tak terbiasa diatur.
Bukannya mengatur.
Aku khawatir.
Baunya sudah hilang.
- Maksudmu? - Eukaliptus.
Baunya mengingatkanku pada pedesaan.
Mungkin karena itu aku ingat Iker.
Aku habis lari.
Mungkin ada pohon eukaliptus di rutenya.
Ada apa?
Kenapa kau ngotot masuk ke kamar Fernanda?
Jangan berkelit. Leo sudah cerita.
- Aku ingin mengerti. - Mengerti apa?
Ada yang kau rahasiakan tentangnya?
- Tidak. - Kenapa begitu misterius?
Tidak misterius.
Tidak ada yang boleh masuk ke kamarnya. Titik.
Jangan membentakku.
Aku tak suka dengan nada bicaramu akhir-akhir ini.
Maaf.
BETWEEN FATHER AND SON
Dulu La Perla begitu hidup dan ceria.
Semoga kalian menyegerakan untuk meramaikan rumah ini.
Tidak usah buru-buru, Bu.
Jangan salah, Nak.
Kau cantik, tapi tak akan selamanya muda.
Wanita selalu dikejar waktu.
Ibu, tolonglah.
Ibu memang blak-blakan. Ibu mau cucu lagi.
Tak apa, Margarita. Aku juga blak-blakan.
Sejujurnya, aku tidak bisa janji.
Aku kurang suka anak-anak.
Kurang suka anak-anak?
Kau tipe yang mau punya kucing saja?
Ibu, sudahlah.
Menurutku, keputusan punya anak itu
urusan pribadi yang tak boleh dicampuri.
Maksudmu aku ikut campur?
- Tidak. - Nenek dibilang ikut campur.
- Hai, semuanya. - Hai. Selamat datang.
Kami tak tahu kau membawa teman.
Luna bukan temanku.
- Luna pacarku. - Hai. Senang berkenalan.
Silakan duduk.
Tinggal Bibi Gaby yang belum bawa cowok ke rumah.
- Atau cewek. Entah. - Diam, Leo. Jangan mulai lagi.
Aku ingat kau. Kau pernah ke kantor mencari Iker.
- Ternyata kau keluarganya. - Kau tak bilang kau ke sana.
Saat joging di jalan utama, kebetulan aku lewat kantor pariwisata.
- Aku ingin menyapa. - Dia tunangan ayahku.
Tunjukkan cincinmu, Ibu Tiri.
Ya, aku mau lihat.
- Tolong tunjukkan. - Oke.
Selamat, ya.
Terima kasih.
Lihat sendiri perlakuannya pada Ibu.
Ibu, nanti sakit kalau marah-marah terus.
Ibu dibilang ikut campur!
Ucapannya memang kurang ajar.
Ibu tidak sudi dihina di depan keluarga lagi.
Kita harus bertindak.
Jika tidak, itu akan terulang lagi, Gaby.
Tidak akan, Bu. Bárbara bukan Fernanda.
Fernanda tampak lembek dibandingkan dia.
Bárbara itu culas.
Fernanda jauh dari kata lembek.
Kau mudah termakan omongan orang karena tak punya pendirian.
Semoga kejadian yang dulu tak terulang pada Bárbara.
Aku jamin Álvaro takkan menikahinya.
Leo, Iker sering cerita tentangmu, tapi tak bilang kau secantik ini.
Terima kasih.
Iker tak pernah cerita tentangmu, tapi kau juga cantik.
- Leo. - Santai.
Kau terlihat kasmaran.
Coba kulihat. Benar juga.
Maaf.
- Ibu mana? - Ibu ingin sendirian.
Ibu tersinggung disanggah Bárbara.
Ibu juga perlu belajar menjaga ucapannya.
Belum juga menikah, tapi sudah banyak masalah.
Gaby, tolong bantu aku melewati semua ini.
Kau tahu aku selalu siap membantumu.
Ayah,
Iker dan Luna kuajak ke Kota Meksiko bersama kita.
Boleh. Itu ide bagus.
- Nanti kita makan bersama. - Boleh.
- Memang dia harus diajak terus? - Leonora!
Kami mau ikut. Ya, 'kan?
Aku kurang suka pergi ke ibu kota, tapi bisa kita usahakan.
Kau baik-baik saja?
Kenapa?
Gara-gara ayahku? Leo?
Nenekku?
Keluargaku tak bermaksud menyakitimu.
Kau tahu alasanku menangis?
- Kau mau tahu? - Ya.
Aku bukan menangisi cercaan nenekmu
atau perlakuan Leo padaku.
- Ya. - Aku menangisi kita.
- Tidak. - Itu sebabnya.
Jangan menangis.
- Entah ada apa denganku. - Tenang, ya.
Aku tak mengerti.
Sebelum ke La Perla, aku yakin dengan perasaanku pada Álvaro,
dengan cintaku.
Sempat terbayang masa depan bersamanya, tapi kini,
semua tak lagi sama.
Makanya kita harus ambil keputusan.
- Kita sudahi kegilaan ini… - Atau apa?
Atau kita terus bermain api.
Pilihlah.
- Aku tidak bisa. - Bisa.
- Kau bisa. - Tidak bisa.
Kau bisa.
Tidak!
Dia kubunuh. Tidak!
Aku membunuhnya.
Aku membunuhnya.
Kenapa kau tega, Fernanda?
Aku membunuhnya.
Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.