All language subtitles for 2 ×1 2023 indocp-hi

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

["Rasa Karsa" oleh Figura Renata bermain]

[Sarah] Tari, aku mau pindah, ke Melbourne.

[Sarah] Mulai dari sekarang aku nggak akan ganggu kamu sama Bian.

Dan aku bakalan selalu doain kalian berdua supaya kalian bahagia.

[Bian] Allahuakbar.

Mas!

- Kamu hamil? Hah? - [Tari tertawa]

Ya Allah. Alhamdulillah.

[Ayah Sarah] Ternyata Salman juga ada di sana.

Jadi Imam di Masjid Raya Melbourne.

Sarah sampe sana, Salman juga yang jemput.

[Bian] Tari, aku cinta kamu.

Dan nggak sedikit pun terpikirkan untuk mengkhianati cinta kita.

Maafin aku ya, Mas.

Aku yang minta maaf, ya.

[suara bayi]

[Tari] Mas, ini rumahnya gede banget. Berlebihan nggak, sih?

Ya nggak, dong.

Ini ruangannya lebih banyak. Kamar juga lebih banyak.

Fatih jadi punya kamar sendiri sekarang.

Masa' mau tidur sama kita terus?

[Bian tertawa kecil]

[Tari tertawa]

[Fatih] Hore, rumah baru!

[Bian] Mau lantai berapa kamarnya? Yuk.

Kamu bisa lari-larian di sini.

- [Tari dan Fatih berseru] - Semua ngumpul jadi satu.

[Tari berseru]

[Bian] Dan inilah kerajaan Btari Hapsari!

[Tari] Gede banget ya, dapurnya.

- Puas ya, kamu? - Puas.

Diliat-liat dulu dapurnya, aku ke kolam renang, ya.

- Dadah! - Siap, ke kolam renang?

- Ayo! - Siap!

[Tari tertawa kecil]

[Bian berseru] Yuk, liat ruangan yang lain.

- Sini, sayang. Ayo. - [Fatih] Ayo, Ummi.

[Bian berseru]

Ini kamar tamu. Luas, ya?

Eh, sayang.

- Biarin aja. Biarin. Kamarnya di sini. - [Fatih] Yay, kamar aku!

Ke kamar dulu.

[berseru]

- [Tari berseru] - [Bian tertawa]

Enak, ya?

[Bian] Eh, di sini anak aku!

- Liatin apa? - Apa ini, sayang?

- Bagus, nggak? - [Fatih] Bagus.

[Bian] Apa ini?

[Fatih] Istana.

- [Tari tertawa] - [Bian] Iya, bener.

["Kontras" oleh Figura Renata bermain] ♪ Netra yang semula ♪

♪ (Netra yang semula) ♪

♪ Mulai tak berima (Mulai tak berima) ♪

♪ Ruas ruang hampa (Ruas ruang hampa) ♪

♪ Di rasuk nestapa (Di rasuk nestapa) ♪

[musik lembut]

Ayah!

Ayah!

[ayah Sarah tertawa]

- Ayah, Sarah kangen banget. - Ayah juga.

Kamu sehat, Nak?

Alhamdulillah, Yah. Ayah sehat?

Iya.

Amin.

[keduanya tertawa]

Eh, Yah.

Assalamualaikum, Om Surya.

Waalaikumsalam.

Salman?

Iya, Om. [Tertawa]

[Surya berseru]

Kamu ganteng sekarang, ya.

Masya Allah. Om, lah, yang awet muda. Nggak berubah, lho, Om.

Ah, nggak.

Ini udah putih semua.

Tapi putihnya keren, Om. Jadi kayak George Clooney, gitu.

[keduanya tertawa]

- Oke, yuk. - Om, saya pamit dulu, ya.

Lho? Kamu naik apa?

Naik taksi, Om.

- Mau ke rumah nenek? - Iya, Om.

Udah, ikut Om aja.

- Ya? - Nggak usah lah, Om. Naik taksi aja.

Nggak apa-apa. Om anter.

Iya, oke. Makasih, Om.

- Ayo, Sar. - Yuk.

- Bisa? - Bisa.

- Bisa? Oke. - Bisa, Ayah.

Kita ke sana.

[jet ski mendesing]

Tante Kinan, ayo!

- Ayo! Ayo! - [bersorak]

Ayo!

[bersorak]

[Tari] Ami, ayo!

[Ami] Turun, berenang.

[Pakde] Maju lagi. Ya.

Gimana, sih? Ragu-ragu, sih. Masa' kalah?

Iya. Maaf, Mi.

Minta maaf? Minta maaf doang lo bisanya. Udah, giliran gue.

[jet ski mendesing]

[motor jetski berhenti]

- [Bude] Kenapa itu? - [Tari] Ayo, Ami!

- Ayo! - Biasa itu.

- [bersorak] - [Tari] Ayo, Ami!

[Ami berseru]

[Tari tertawa]

[dialog tak terdengar]

[bersorak dari jauh]

Ami, tapi besok kita harus ulang, oke?

Latihan lagi dulu deh, Om.

[tertawa]

Eh, Kinan, kita latihan, oke? Semangat!

Kita pasti sapi!

Sapi apa sih, Pak?

Sabi?

Sapi, Kinan.

Maksud Papa yang kata gantiin bisa, 'kan?

Itu, betul.

- Iya, sabi. - Sapi!

- Ayo, deh. Cek coba. - Sabi.

- Ngapain ikut olahraga kayak gini? - [tertawa]

Nanti jatuh. Ntar kepelitek lagi!

Nggak. Olahraga gini tuh bagus buat jantung.

Siapa bilang, sih? Bahaya tahu.

- Saya yang bilang. - [tertawa]

Coba tadi kalo Tari nggak ngelarang Pakde and Bude lomba,

sudah pasti kita juaranya.

- [Pakde bergumam] - [tertawa]

- Yakin, Pakde? - Lho, yakin.

- [Bude tertawa kecil] - Lah, Bude ini dulu mantan,

primadona trek-trekan.

- Pak! - Iya, 'kan?

Primadona trek-trekan apaan, Pakde?

Tong setan!

- [tertawa] - Bapak, ih! Jangan ngomong gitu, lho.

[Bude] Jadi malu, aku tuh!

Ih, Bapak!

[Salman] Masya Allah,

jadi Salma sekarang sekolah di Gontor?

Iya.

Alhamdulillah dia keterima.

Itu pesantrennya bagus banget.

Lain kali kamu ikut Om ke sana, ya.

Siap. Siap, Om.

Nggak nyangka, ya, waktu cepat sekali berlalu.

[Surya] Iya. Sar,

kamu tahu nggak, nama Salma itu...

diambil dari Salman.

Emang iya, Yah?

'Kan Salman.

Dipotong N-nya jadi Salma.

[Salman tertawa]

Ibumu dulu itu pengen banget

Salma jadi anak yang shalehah.

Ya, kayak Salman. Anak shaleh.

Nggak juga sih, Om.

Saya jauh dari shaleh.

Dulu, Ayah sama Ibu

itu diajarin ngaji sama Salman.

[musik lembut]

Salman nggak pernah cerita, Yah.

Masih muda banget, dia. Umur berapa tuh, kamu?

Sekitar 14 tahun, Om.

Tuh bayangin,

umur 14 tahun udah jadi guru ngaji

buat kita orang-orang tua yang terlambat belajar Al-qur'an.

- [berseru] - Nggak lah, Om.

Nggak apa-apa.

[musik lembut]

[dialog tak terdengar]

[Surya] Betul 'kan, Sar?

Apanya yang betul, Yah?

Ayah 'kan nggak bohong.

Ibumu mau kamu nikah sama Salman.

Betul 'kan?

Ayah.

Ini baru mendarat, belum juga makan. Kita belum...

Iya, iya, iya.

Santai. Nanti aja ngomongin nikahnya.

Sebentar.

Salman, kamu udah... Udah menikah belum?

- [musik jenaka] - [ragu]

- Ayah! - Iya.

Maaf, maaf. Iya.

Ayah terlalu bersemangat.

[Surya berseru]

[Papa Bian] Mustinya, pas di tikungan, aku gas. Aku pasti menang.

Tapi sayang jet skinya mati. [Tertawa]

Kalo di tikungan di gas tuh yang namanya nyungsep adanya.

[semua tertawa]

Lagian, Papa, udah deh. Kalo kalah ngaku aja. Kak Ami itu lebih jago.

Bagus, Kinan.

[tertawa]

[Papa Bian] Oke, saya mengaku bahwa

kalian lebih beruntung.

- Nah, kok beruntung? - [Ami] Masih, lho.

Eh, nanti kalo ada pertandingan lagi, Pakde dan Bude harus ikut.

[Bude] Takut ah.

Ini dengkulnya gimana?

Dengkul aman.

Dengkul aman, malem pake minyak.

Ya, 'kan cuma sekali.

[semua tertawa]

Ya udah, yuk. Kita makan aja yuk.

Ayo kita makan.

Sebelum kita makan, Mas Bian pimpin doa, ya.

Mas Bian?

[Tari] Mas!

Ya?

Kita mau makan, Mas Bian pimpin doa, ya.

- Silakan Pakde. - Lho, kok Pakde?

Nggak enak mimpin doa kalo ada Pakde.

Ya sudah, nggak apa-apa.

[Pakde] Untuk cucu Eyang yang paling cakep yang ulang tahun.

- Semoga jadi anak yang baik, ya. - [Semua] Amin.

Kita doakan bersama dengan membaca Al-Fatihah. Ayo mulai.

[Pakde membaca Al-Fatihah]

Amin.

- Mari makan. - Ayo.

[Kinan] Selamat makan.

- Selamat makan. - [Pakde] Ayo, silakan.

- Fatih mau apa, Nak? Ikan atau udang? - [Bian menghela napas]

- [Fatih] Ikan aja. - [Tari] Ikan ya.

Pah,

Bian boleh pinjam ponsel, nggak?

[Papa Bian] Ponsel kamu kenapa?

Tadi jatuh. Nggak sengaja.

Makasih, Pah.

Fatih, makannya yang banyak, ya.

Biar tingginya nanti lebih dari Abi.

Oke, Abi.

Mas Bian, mau ke mana?

Mau telepon dulu sebentar.

- Nggak makan dulu? - Iya, kamu duluan aja.

[musik lembut]

[musik lembut memudar]

[Ami] Sendirian aja.

Mikirin berat badan, nggak turun-turun?

Udah, lo cakep begini. Nggak usah dipikirin.

Masa, sih?

Iya, dong. Nggak, sih. Gue basa-basi aja.

[Tari menggerutu]

Beneran.

Lagi berantem sama Bian, ya?

Jangan bilang mau ada perjanjian nikah bagian ketiga.

Aduh. Pusing deh, gue.

Jangan deh, ya. Jangan sampe.

Amit-amit, ya.

Soalnya gue waktu baru dateng ke sini,

udah ngeliat mukanya dia ditekuk mulu, sih.

Kayak empet banget bawaannya.

Mas Bian lagi sibuk banget, Mi.

Bebannya banyak banget.

- Perusahaan warisan bokapnya? - Hm-mm.

Semenjak jadi CEO di perusahaan bapaknya,

dia tuh kayak susah banget diajak ngobrol.

[menggumam]

[musik menegangkan]

Terus kayak, ibadahnya jadi bolong-bolong.

Salat di masjid juga udah jarang banget.

Ikut pengajian juga nyaris nggak pernah.

Terus uring-uringan terus.

[Bian] Gimana, sih?

Kamu yang gimana!

'Kan aku udah bilang kalo aku nggak bisa jemput Fatih.

Kamu mau ke mana?

Aku ada kerjaan lain, Mas!

Lagian semalem kamu udah janji juga, 'kan?

Prioritas kamu apa sih sebenernya? Ngurus anak apa kerjaan?

Salah satu dari kita itu udah harus fokus ngurus Fatih!

Dan itu kewajiban kamu!

[Ami] Dia nyuruh lo berhenti kerja?

Dia nggak langsung ngomong kayak gitu, sih.

Cuma, dia kasih pilihan prioritas.

Antara ngurusin keluarga atau bisnis.

Tapi gue paham sih, maksudnya dia itu apa.

Ya, begitu deh, cowok kadang-kadang.

Omongannya halus banget kayak tepung terigu.

Padahal pemaksaan kehendak.

[Ami tertawa]

Mi, apa nggak sebaiknya kita ke kamar? Udah mau Ashar, nih.

Iya, duluan Gung. Nanti gue nyusul.

Oh ya.

Itu artinya, "Ami, lo harus ikut gue sekarang", gitu.

[musik jenaka]

[keduanya tertawa]

Oh, gitu ya.

[Tari tertawa kecil]

Kayaknya

gue bakal ikutin kemauannya Mas Bian, deh,

untuk prioritasin keluarga.

Maksudnya gimana, tuh?

Jadi gini, lo 'kan udah lama sama gue.

Udah bangun bisnis dari kecil-kecilan,

sampe kita punya restoran namanya Queens.

Jadi, kalo gue mundur, nih...

lo gantiin gue.

Apa nih maksudnya?

Jangan mengada-ngada, lo, perempuan.

- Sepakat? Oh, udah sepakat. Oke, sip. - Sepakat apa?

Gue nggak ada ngomong kayak gitu.

- Parah lo, Tar. Udah sama-sama, dari dulu. - Lo lupa, kali?

Masa lo tega ninggalin gue kayak gitu?

- Oke! - Ummi!

- Nggak. - Iya, sayang?

Ayo main pasir lagi, Ummi.

Bosnya udah ngajakin main pasir.

- Ayo, sayang. Boleh. - Eh, tapi nanti ngobrol lagi dulu.

- Eh, ngobrol lagi dulu. Lo nggak bisa... - Udah sepakat, 'kan?

- Sip. - Eh, Cetar!

- Sepakat! - Apa-apaan, lo?

Udah sepakat!

Ih, gila.

[musik lembut]

[Surya] Oke.

[Salman] Udah, ya.

Nek!

Salman...

Alhamdulillah.

Akhirnya kamu pulang.

Nenek kangen sekali sama kamu.

[Surya] Assalamualaikum, Mbak.

Waalaikumsalam.

Om Surya, Nek.

Surya?

Iya, Mbak.

Saya Surya.

Kebetulan, pas jemput anak saya tadi. Jadi, ya, antar Salman.

Sekaligus mau silaturahmi sama Mbak.

'Kan udah lama saya nggak ke sini.

Ini...

Ini Sarah, Nek.

Kamu mirip sekali sama ibu kamu.

[Surya tertawa]

Nasi kebuli sudah siap di meja makan.

Ayo kita makan.

- [Salman] Iya. - Iya, Mbak. [Tertawa]

- [Nenek] Ayo. - [Surya] Iya, iya.

[Surya] Iya, saya ingat...

[Surya] Di pengajian kita itu, cuma si Bambang

yang paling susah bilang Al-Fatihah...

Kayanya seru, ya. Ceritanya.

Iya, tapi Bambang

kalau lebaran itu selalu datang ke sini.

Kamu aja, Sur, yang nggak pernah ke sini lagi

semenjak Susi meninggal.

Iya, nggak enak lah, Mbak.

Apalagi Salman 'kan masih di Melbourne.

- Maaf, ya. - Om, Nek, ini tehnya.

Makasih, Salman.

- Makasih, ya. - Sama-sama.

Kalo mau ngaca pake hp aja, Sar.

Ini artistik, sih.

Tapi fotonya banyak banget, ya.

Kalo orang mau ngaca gimana?

Ya, di rumah ini siapa yang mau ngaca?

[musik sendu]

[menghela napas]

[berteriak]

[menghela napas]

[Pakde] Kalau sedang stres,

yang paling enak teriak-teriak sekerasnya di pinggir laut.

Malam-malam belum tidur, Pakde?

Ya, belum.

[musik sendu memudar]

Abis seruput kopi,

sambil baca-baca buku.

Keliatannya lagi banyak masalah, ya?

Eh, maaf.

Pakde kok jadi kepo?

Ini tabiat buruk. Jangan ditiru.

Nggak apa-apa, Pakde.

Memang belakangan lagi...

banyak yang bikin pusing dan banyak masalah.

Bian.

Hidup itu memang tempatnya masalah.

Kalau mau terbebas dari masalah, ya mati.

Terus masuk surga.

Itu pun kalau bisa masuk surga.

- Insya Allah. [Tertawa] - Iya, Pakde.

Pakde...

cuma berharap aja, kalau kalian sedang ada masalah,

- jangan sampai... - Nggak, Pakde.

Kalau soal itu, Pakde nggak usah khawatir.

Ya, Pakde dulu juga sama seperti kalian.

Masa' sih, Pakde?

Saya nggak pernah liat. Kayaknya rukun-rukun aja sela...

Itu sekarang, rukun-rukun.

Kalau dulu, wah ancur-ancuran.

- Tiada hari tanpa bertengkar. - Oh ya?

Budemu itu orangnya keras.

Pakde selalu menuruti apa yang dia inginkan. Kecuali satu hal.

Apa itu?

Bercerai.

[musik sendu]

Itu nggak mungkin terjadi sama saya dan Tari, Pakde.

Kamu tahu kan

kalau Iblis itu bertakhta di tengah laut?

[Bian bergumam]

Dalam hadist Rasulullah, sesungguhnya,

Iblis meletakkan singgasananya di atas air.

Lalu dia mengutus bala tentaranya.

Dan pasukan yang paling dekat sama dia

adalah yang paling banyak fitnahnya.

Lalu ada yang datang dan berkata,

"Aku sudah berbuat sesuatu, sudah melakukan ini dan itu."

Lalu Iblis menjawab,

"Engkau belum berbuat apa-apa."

Lalu, ada lagi yang datang dan berkata,

"Aku tidak akan pernah meninggalkan seorang pun,

kecuali, orang yang telah aku pisahkan

antara dia dan istrinya."

Lalu sang Iblis mendekat dan berkata,

"Engkaulah sebaik-baiknya pasukanku."

Ya?

Kamu tahu artinya apa?

Perceraian itu

adalah hal yang sangat dicintai Iblis, Bian.

Pakde nggak usah khawatir. Kalau soal itu,

saya nggak akan mungkin bercerai sama Tari, Pakde.

Jangan katakan tidak mungkin.

Maksud saya insya Allah, Pakde.

Insya Allah saya nggak akan

bercerai dengan Tari.

Bian.

Kita sebagai laki-laki itu

harus betul-betul bisa menjaga setiap ucapan kita.

Karena di dalam Islam,

apabila seorang suami mengucapkan kata cerai sebanyak tiga kali kepada istrinya,

itu tidak akan mungkin ada jalan kembali.

Kecuali,

sang istri harus menikah terlebih dahulu dengan laki-laki lain.

- Iya, Pakde. - Ngeri.

- Iya, 'kan? - Iya.

Pakde nggak usah khawatir, ya Pakde.

- Pakde sembahyang dulu. - Ya, Pakde.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

[Bian menghela napas]

[musik sendu memudar]

[Sarah terisak]

[pintu diketuk]

Iya, masuk, Yah!

Kamu kok belum tidur?

Mungkin masih jet lag, Yah.

Oh.

Oke, um...

Sar, maaf, Ayah mau nanya.

Kamu...

kenapa nggak menikah...

dengan Salman aja?

Kayaknya kalian udah deket, tuh.

Sarah sama Salman cuma temen aja, Yah.

Tapi, kalian keliatan cocok banget.

Salman itu selain ganteng, shaleh,

dan yang paling utama,

dia orang pilihan almarhumah ibu kamu.

Ya, untuk jadi suami kamu.

[musik sendu]

[dialog tak terdengar]

Maaf, Yah.

Tapi, Sarah nggak bisa nikah sama Salman.

Lho, kenapa?

Banyak hal yang terjadi di Melbourne, Yah.

Kapan-kapan Sarah cerita, ya.

Kelihatannya kamu masih capek.

Istirahat, deh.

Selamat malam, Sarah.

Selamat malam, Ayah.

[Surya tertawa]

[musik lembut]

[mengerang]

[menarik napas]

[menghela napas]

[musik lembut memudar]

[Tari] Assalamualaikum.

[Bian] Waalaikumsalam.

Udah sholat subuh, Mas?

Udah.

Aku jamaah sama karyawan sini.

Udah lama banget nggak salat jamaah.

[musik lembut]

- Mas Bian. - Hm?

Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.

Aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu.

Ya udah, Mas Bian duluan.

Sayang.

Misalnya aku berbuat kesalahan...

tolong kamu tegur aku, ya.

Kamu jangan pernah benci sama aku.

Dan jangan pernah berhenti untuk cinta sama aku.

Percaya sama aku.

Aku pasti akan perbaiki semua kesalahan aku.

Aku akan berusaha

untuk jadi suami yang lebih baik lagi.

Dan kembali sama kamu.

Ya? Kumohon. Aku mohon kamu inget itu.

[Bian] Satu hal lagi.

Di dunia ini...

yang aku cinta itu cuma kamu.

Cuma kamu yang aku mau sampe akhir hayat.

Sampai surganya Allah.

- Amin. - Amin.

Amin.

Aku juga cinta sama kamu, Mas.

Kamu itu separuh hati aku.

Bagaimana caranya aku bisa hidup dengan hati yang separuh?

Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Mas.

Bener?

[Bian tertawa kecil]

Tapi...

- [musik berhenti] - Tapi? Kok ada tapinya?

Aku pengen minta dua hal sama kamu.

- [musik ceria] - Apa tuh?

Pertama.

Kamu jangan pernah selingkuh, ya.

[tertawa]

- Serius. - Mau selingkuh sama siapa, sayang?

Ya pokoknya jangan selingkuh.

Ya nggak, lah.

Jangan pernah mencintai perempuan lain selain aku.

Mama sama Kinan gimana? Boleh?

Kok ngambek, sih?

Jangan ngambek, dong. Aku 'kan cuma nanya. Mama sama Kinan nggak boleh?

Nggak, kok. Nggak bakalan.

Di dunia ini yang aku cinta cuma kamu.

Satu-satunya.

Nggak ada lagi yang lain.

[Tertawa kecil]

Yang kedua apa?

Yang kedua...

Jangan pernah mencegah aku untuk mandiri.

Oke.

- Oke? - Oke.

[tertawa kecil]

Makasih, Mas.

Sama-sama, Sayang.

[Sarah] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Semua] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan, nama saya Sarah Renata.

Saya bendahara sekaligus wakil ketua acara Hijrah Expo.

Dalam beberapa bulan kita akan bekerja sama

supaya acara kita ini berjalan dengan baik. Amin.

Amin.

Perkenalkan, Ketua Umum kita,

sahabat saya,

Imam Masjid Raya Melbourne,

Salman Al-Farisi.

[tepuk tangan]

Assalamualaikum.

[Semua] Waalaikumsalam.

Karena kita akan bekerja sama berbulan-bulan

untuk menyiapkan Hijrah Expo ini,

ada baiknya kita memperkenalkan diri satu per satu, silakan dimulai.

Assalamualaikum.

- Waalaikumsalam. - Perkenalkan, nama saya Aisyah.

[Wanita 1] Perkenalkan, nama saya Sabrina.

[Wanita 2] Perkenalkan, nama saya Wiwi.

[Wanita] Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

[Dalam bahasa inggris] Kamu Sarah Renata dari Indonesia?

- [Dalam bahasa inggris] Ya, aku Sarah. - Oke.

Aku Aisyah.

Aku temannya Salman.

Ponsel Salman mati. Dia menyesal.

Dia akan datang, tapi dia mengirimku kemari.

Ya, aku tak apa.

Baiklah.

[Dalam bahasa Indonesia] [Wanita 4] Perkenalkan, nama saya Lulu.

[Wanita 5] Assalamualaikum, perkenalkan, nama saya Fifi.

[Tari] Yay!

[Tari] Sudah pulang.

Pelan-pelan.

- [Tari] Assalamualaikum. - [Fatih] Assalamualaikum.

- Bu Darmi. - [Bu Darmi] Waalaikumsalam!

Aduh, alhamdulillah, Mas sama Mbak bos sudah pulang.

Ini bos kecil capek nggak habis jalan-jalan?

- [Fatih] Capek! - [Bu Darmi berseru]

- Oh, laper, nggak? - Iya.

Laper, ya?

[Darmi] Bu Darmi udah bikin telor dadar, ayo, sekalian makan.

Mas bos nggak laper? Ini udah sekalian Bu Darmi siapin, lho.

[musik menegangkan]

[Bian mendengus]

- [notifikasi ponsel berdering] - [berdecak]

[notifikasi ponsel lanjut berdering]

Tari.

Iya, Mas?

Aku jalan dulu, ya.

Kok pergi lagi?

'Kan baru nyampe. Makan dulu, yuk.

Ada urusan penting di kantor.

Ya? Nggak sempet. Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

[musik lembut]

[Pria dalam video] Wahai para suami,

Hati-hati kalian. Jangan sampai mudah sekali mengucapkan kalimat talak.

Karena jika kalian sudah mengucapkan kalimat talak sebanyak tiga kali

kepada istri kalian,

maka, tidak ada jalan untuk kembali.

- Bu Darmi. - Ya?

Mas Bian udah jalan, ya?

Udah, Mbak bos. Terburu-buru.

Sampe sarapan lupa dimakan.

Ya udah kalau gitu. Saya jalan dulu, ya.

Iya.

Eh, Mbak! Mbak bos!

Fatih badannya agak hangat.

Hah?

[musik menegangkan]

Iya, bener, Bu.

Ya Allah, panas.

Gimana, ya? Saya ada miting juga di kafe.

Ya Allah.

Udah, Mbak bos pergi aja kerja.

Biar Bu Darmi yang rawat Fatih, ya?

Iya, paling dikompres dulu aja kali ya, Bu?

- Siap. - Nanti habis pulang dari kafe,

- kita ke rumah sakit. - Iya.

Jangan sakit dong, sayang.

- Titip dulu ya, Bu. - Iya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

[musik bersemangat]

[lift berbunyi]

- Pagi Mas Bian. - Pagi.

- Pagi Mas Bian. - Pagi.

Mas Bian, ini ada titipan berkas dari lantai 20.

Oh, iya. Makasih.

Sama-sama.

- Mas Bian. - Ya?

- Bisa minta tanda tangannya di sini? - Oke.

Terima kasih.

[Bu Yaya] Mas Bian!

Penjualan kita menurun.

Perputaran barang tersendat dan banyak sekali produk yang kadaluarsa.

[Bian] Oke.

Ini juga yang menyebabkan

kita jadi nggak bisa komitmen bayar pemasok, Mas Bian.

[bunyi notifikasi ponsel]

- Mas Bian? - Iya, Pak?

Saya udah ada janji makan sama Pak Bayu.

Dari situ bakal menjadwal ulang tentang pembayaran setelah didiskusikan.

Saya akan disku... Maaf.

Saya akan diskusikan, Pak.

- Semoga lancar ya, Mas. - Ya.

Karena Pak Bayu adalah pemasok potensial kita.

Oke, Pak.

- Pagi semua. - Pagi.

Bisa kita mulai?

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam, Bu.

Kok ditolak, sih?

- [Tari] Assalamualaikum. - [Ami]Waalaikumsalam.

[Tari] Aduh, maaf telat.

[Tari] Gimana, gimana?

[musik jazz pelan dari kafe]

Mas Bian! Mari.

Bian?

Sarah?

Kamu bukannya di Melbourne?

Udah pulang, dong.

Masa aku mau di Melbourne terus?

Aku 'kan orang Indonesia.

Apa kabar?

Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?

Alhamdulillah, baik. Lagi sibuk aja.

Iya, lah. 'Kan bos besar.

Apaan, sih?

- Apaan? - Maaf.

[Bian, teman Sarah tertawa]

Aku rapat dulu. Udah ditungguin.

[Dalam bahasa inggris] Oke. Senang bertemu denganmu.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

[musik lembut]

[Dalam bahasa inggris] Senang bertemu denganmu.

Itu buat Bian!

- Siapa namanya? - Ayo.

Bentar, dong. Ganteng banget, itu.

Silakan duduk.

[Dalam bahasa inggris] Senang bertemu denganmu.

[musik lembut berlanjut]

[dering ponsel]

Baik, kalau begitu, rapat ini kita tutup dengan doa.

Dimulai.

Amin.

Terima kasih, ya, Temen-Temen.

Terima kasih, Bu.

- Makasih, ya. Waalaikumsalam. - Waalaikumsalam.

Jam berapa, Tar?

Lho? Harus balik gue.

Agung udah kelaperan. Balik, ya.

- Assalamualaikum. - Hati-hati, ya. Waalaikumsalam.

Halo, Bu Darmi, tadi telepon, ya?

[Darmi] Fatih panasnya makin tinggi, Mbak bos.

Tapi Bu Darmi ukur pakai termometer, 40.

Mas Bian udah nyampe belum? Katanya dia mau nganterin.

Belum, Mbak bos.

Makanya Bu Darmi bingung.

[musik menegangkan]

Halo, Mas Bian!

[Bude] Eh, kok Mas Bian? Ini Bude, lho.

Maaf, Bude.

Tari lagi panik soalnya Fatih lagi sakit. Dia panas tinggi 40 derajat.

Terus udah dibawa ke dokter?

Iya ini aku langsung pulang terus langsung ke rumah sakit.

Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut ya, Nduk.

Iya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

- [menghela napas] - Pak.

Fatih panas lho, Pak.

40 tinggi, ya.

Lho, 40 tinggi, Bu.

- Iya, memang tinggi. - Ayo.

- Ke mana? - Ke sana.

- [Bude merengek] - Kasihan Tari sendirian. Ayo.

Nggak boleh gitu. Ada suaminya.

Suaminya itu nggak pernah pulang cepet. Selalu terlambat. Sibuk sama kerjaan.

Nggak boleh gitu, Bapak. Bapak emang tahu rumah sakitnya di mana?

[Pakde] Yang biasa Fatih berobat.

Saya rasa udah semuanya. Rapat selesai.

Baik. Kami duluan, ya.

Mas Bian!

- Mas, gawat, Mas. - Kenapa, Pak?

Supermarket kita yang di Karawaci kebakaran, Mas!

[musik menegangkan]

- Astaghfirullah. Ya udah, jalan! - Ayo!

[Darmi] Mbak bos.

Badan Fatih tambah panas.

- Kita ke rumah sakit aja, Bu. - Iya.

Yuk.

- Bismillah. - Ayo, cepet.

[orang terbatuk-batuk]

Tunggu sebentar, Mas Bian. Vio!

- [musik menegangkan berlanjut] - Ke mana sih, Mas Bian?

[Bu Darmi] Mbak bos!

- Mbak bos! - Kenapa, Bu?

- Mbak bos, Fatih! - [Fatih merintih]

Ya Allah, Fatih.

- Mbak bos. - Fatih. Fatih kenapa, Bu?

Sabar. Sabar ya, Nak.

[Klakson truk]

- [Tari teriak] - [Rem mobil derit]

[Klakson truk]

- [Klakson mobil] - Nyaris Mbak bos!

[Bu Darmi tersedu]

- Bu Darmi nggak apa-apa? - Ya.

Udah, Nak. Udah.

Vio.

Tolong kabarin Pak Hendra sekarang juga.

Ini tolong diatasin, ya.

Siap. Iya.

- Saya harus pergi. - Iya.

Saya urus semuanya.

[Orang batuk]

Ayo kita ke sana.

Sayang.

[musik menegangkan]

[menghela napas]

Ya Allah, Tari kenapa nggak diangkat, sih?

Halo. Halo Bu Darmi.

Fatih harus dirawat. Tadi dia kejang-kejang.

Kejang-kejang?

[Darmi] Rumah sakit yang biasa, Mas.

Iya, saya ke sana sekarang.

Iya, oke, Bu.

Fatih. Tari.

Fatih gimana keadaannya?

[menghela napas]

Aku salah. Aku minta maaf.

Supermarket di Karawaci kebakaran.

Jadi supermarket lebih penting daripada anak kamu sendiri?

Kamu kok ngomongnya kayak gitu, sih?

Kamu tuh terlalu sibuk, Mas.

Kamu ngelupain Fatih, kamu ngelupain aku.

Situasi yang bikin aku nggak bisa nganterin Fatih.

Aku minta maaf.

Maaf nggak bikin Fatih sembuh!

Kamu ini nggak peduli ya, sama kita?

Aku nggak peduli?

Bukannya aku nggak peduli, Tar. Aku kepala keluarga. Aku cari nafkah.

Tanggung jawab aku besar di perusahaan. Lagi kolaps!

Semenjak Papa sakit, semua kerjaan aku yang ambil alih.

Tapi masa' sedikit waktu aja nggak ada, gitu?

Ya kamu ngertiin aku, dong!

Aku cuma pengen kamu ngerti!

Kalo kamu nggak kegiatan di luar juga seharusnya kamu bisa jemput Fatih, 'kan?

Jadi ini sekarang salah aku?

Ya bukan salah kamu. Tapi gimana? Aku bener, 'kan?

Kalo aja kamu nggak rapat hari ini, kamu bisa nganter Fatih.

Kalo aja kamu nggak sibuk di kantor,

Fatih nggak akan kejang-kejang dan demam sampe sekarang!

Oh, kamu nyalahin aku sekarang?

Ini juga semua ada salah kamu.

Kamu harus introspeksi diri! Harusnya kamu berhenti dari Queens Sandwich.

[musik menegangkan]

- Makasih, Mbak. - Makasih.

Kamu udah janji nggak akan mencegah aku untuk mandiri.

Aku kepala keluarganya 'kan, di sini?

Prioritas aku itu nyari nafkah. Apa prioritas kamu sebagai istri?

Bisnis aku... aku bina dari kecil, Mas.

Selama ini aku adil kok untuk membagi waktu.

Aku berusaha menjadi istri yang baik buat kamu.

Aku berusaha menjadi ibu yang baik juga buat Fatih.

Walaupun aku capek, aku ngelakuin semuanya, Mas!

Oke, kamu capek ngurus aku, 'kan?

Dan kamu pengen lebih banyak berkegiatan di luar daripada ngurus aku sama Fatih.

Nggak kayak gitu,

cuma aku pengen kamu paham posisi aku! Ngerti ga sih...

Iya aku paham kalo kamu pengen bebas ngelakuin apa yang kamu mau.

Ya udah. Sekarang kita pisah!

Astaghfirullah aladzim! Mas, kamu ngomong apa, sih?

Ya bener, 'kan? Kamu capek ngurus aku, kamu capek ngurus Fatih.

Biar kamu nggak capek lagi, sekarang kita pisah!

- Mas... - Itu 'kan yang kamu mau?

Iya, 'kan? Masing-masing! Pisah!

Astaghfirullah aladzim.

[Pakde] Bian!

["Jawab Cinta" oleh dUA]

[Pakde] Ini adalah syariat agama. Bukan permainan.

[Pakde] Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri,

kalau Bian sudah mentalak Tari.

[Bian] Sebentar aku kuliah dulu.

[Tari] Senin sampe Sabtu kamu kerja,

[Tari] terus sekarang mau kuliah lagi? Ini hari Minggu, lho, Mas!

[Bian] Ya gimana?

Jangan kamu hancurin hati anak kamu, seperti dia menghancurkan istana itu.

[Bian] Ini penyesalan terberat dalam hidup aku. Kamu harus tahu itu.

[Tari] Aku udah maafin kamu kok, Mas.

Tapi hukum agama harus dipatuhi.

[Sarah] Nggak cocok, ya?

[Bian] Cocok. Aku malah lebih suka Sarah yang sekarang.

Kalo aku lebih suka Bian yang dulu.

♪ Cinta itu pasti nyata ♪

♪ Yang nyata itu rasa cinta ♪

♪ Mengertilah, oh, arti cinta ♪

♪ Berbagilah rasa cinta ♪

♪ Oh-uh ♪

♪ Uh-uh-uh ♪

♪ Oh-uh ♪

♪ Uh-uh-uh ♪

♪ Ooh ♪

♪ Cinta itu pasti nyata ♪

♪ Yang nyata itu rasa cinta ♪

♪ Mengertilah, oh, arti cinta ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.