Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sekelompok pembuat film dokumenter
dilaporkan hilang di Pine
Barrens, perkemahan mereka
tanpa tanda-tanda
kejahatan.
Ransel dan sepeda gunung pelajar bernama Curtis
Daly ditemukan petang ini
di dekat Ridgewater Creek.
Pihak berwenang meminta yang punya informasi
untuk segera melapor.
Pihak berwenang menyebut rekaman baru
dari kamera yang ditemukan
di kemah pendaki yang hilang,
Olivia Marsh,
memicu lebih banyak pertanyaan
daripada jawaban.
Makhluk Hutan Pinus
Pencarian tiga pria itu
telah dihentikan
setelah empat hari dengan helikopter dan anjing
menyisir Pine Barrens
tanpa hasil.
Selama tiga
dekade terakhir, orang terus menghilang.
Hilangnya mereka
dikaitkan warga dengan Makhluk
Hutan Pinus.
Pusat, saya melihat seorang pria.
Dia berjalan ke arah timur.
Kami di dekat Rute 322, di pintu masuk
jalur pendakian. Sepertinya
dia sedang mabuk.
Diterima.
Perlu bantuan?
Untuk saat ini tidak.
Nanti saya kabari.
Saya akan coba mendekatinya
sekarang.
Permisi, Pak.
Bapak baik-baik saja?
Apa kabar?
Siapa nama Bapak?
Bapak tidak apa-apa?
Kami menjemput Bell
di Rute 322 saat matahari terbit.
Kondisinya kacau.
Tangan gemetar, berantakan,
sepertinya dia tak tidur berhari-hari.
Pandangannya kosong,
dan dia cuma bilang,
"Mereka hilang."
Kami tahu Anda pergi
ke Pine Hollow
bersama dua teman Anda.
Jared Ross dan Luis Campbell.
Anda ditemukan
saat fajar di Rute 322.
Berantakan.
Linglung.
Anda tahu kesannya, kan?
Bukan seperti yang Anda kira.
Jadi, Anda mencurigai
dia terlibat
dalam hilangnya mereka?
Tentu saja.
Begini, saat dua orang hilang
dan hanya satu kembali,
itu memunculkan pertanyaan.
Kami cek forensik semuanya, tapi
tak ada hasil.
Tak ada darah, sidik jari,
tak ada yang berguna.
Masalahnya,
Pine Hollow bukan hal baru bagi kami.
Orang lenyap di sana
setiap beberapa tahun.
Tak pernah ada mayat.
Tak pernah ada jawaban pasti.
Ditambah lagi,
Pine Hollow itu zona mati.
Tak ada sinyal telepon, tak ada GPS.
Begitu masuk ke sana,
sama saja lenyap dari peta.
Jadi, kami tak punya kronologi.
Hanya pengakuannya.
Pertama kali
saya mendengarnya, umur saya mungkin 19.
Paman saya anggota Tim Basarnas.
Katanya ada dua anak yang hilang.
Pendaki, sekitar tahun '84.
Salah satunya anak SMA.
Curtis Daly.
Orang tuanya mengamuk.
Poster di mana-mana.
Dia tak pernah ditemukan.
Ransel dan sepeda gunung pelajar bernama Curtis
Daly ditemukan petang ini
di dekat Ridgewater Creek.
Pihak berwenang meminta siapa pun yang punya informasi
untuk segera melapor.
Apakah Anda yakin
itu hanya kasus
orang hilang biasa?
Ya,
itu yang kami tulis di laporan.
Tentu.
Tersesat,
terpeleset, jatuh.
Memang begitu seharusnya ditulis.
Tapi setelah dua dekade,
kita mulai melihat pola.
Banyak dari mereka,
yang tak pernah kami temukan, terakhir
terlihat di jalur tak bertanda
di sekitar Ridgewater Creek,
melewati papan peringatan.
Seolah ada sesuatu
yang memangsa mereka.
Pada tahun 1978,
pemuda 19 tahun bernama Peter
Lemansky menghilang.
Saudarinya ikut dalam tim pencari.
Dia lalu cerita ke penyidik
dia mendengar Peter
memanggil namanya dari bukit.
Nada yang sama,
tawa gugup yang selalu muncul
saat dia ketakutan.
Dia mengikuti suara itu sekitar 27 meter
sebelum dihentikan jagawana.
Sebelum sempat menjawab.
Dia bersumpah itu Peter, tapi
Peter sudah lama hilang saat itu.
Pada malam pertama
semuanya tampak baik.
Tapi lalu Luis,
dia dengar ketukan
di tengah malam.
Ketukan?
Dari mana?
Dari hutan,
mungkin?
Lalu apa yang kalian lakukan?
Tidak ada.
Namanya juga hutan.
Apa pun bisa menimbulkan
suara dan ketukan.
Kita berada di antah-berantah.
Ceritanya tidak masuk akal.
Bukan soal apa yang saya yakini.
Tapi apa yang bisa saya buktikan.
Saya tak bisa menjelaskannya,
tapi ada sesuatu dalam semua ini
yang terasa mencurigakan.
Baik, ceritakan kepada saya
soal hari kedua.
Kami mendaki.
Hari yang biasa,
kecuali
kami mendengar suara.
Suara?
Ya.
Baik, Raymond,
Anda harus menjelaskan dengan jelas.
Saya tidak tahu.
Kedengarannya seperti orang, tapi sangat
jauh.
Seperti orang yang minta tolong.
Kami berhenti. Mendengarkan. Lalu suaranya berhenti.
Hilang begitu saja.
Anda tahu
kasus Raymond Bell?
Tentu.
Kasus itu memenuhi semua unsur,
ketukan, suara-suara.
Lalu temannya lenyap
tanpa jejak.
Tapi Raymond ditemukan
hidup, kan?
Ya, kalau itu bisa disebut hidup.
Dia ditemukan berjalan di jalan saat fajar.
Bingung, dehidrasi.
Tak ada luka.
Teman-temannya hilang begitu saja.
Tak ada perlawanan.
Tak ada darah, tak ada
jejak kaki keluar kemah.
Tak ada apa-apa.
Itu yang membuat kasus ini berbeda.
Dia bukan cuma lenyap.
Dia kembali.
Kalau Anda menelusuri
sejarah lisan Lacuna,
Anda akan menemukan kisah
tentang legenda di daerah ini.
Roh yang tidak berburu
dengan kekuatan, tapi dengan keakraban.
Mereka menyebutnya Sang Pembisik.
Ia bicara dengan suara yang dikenal.
Anda bilang pernah mendengar
rekaman dari Pine Hollow?
Ya.
Ada satu yang masih
menghantui saya.
Seorang pendaki mengunggahnya
beberapa tahun lalu,
katanya mikrofonnya di jalur
terus menyala malam-malam
saat tak ada apa-apa.
Saat diputar,
awalnya terdengar angin.
Jangkrik, suara hutan
yang biasa.
Lalu terdengar seseorang
membisikkan sebuah nama dengan pelan,
seolah dia berdiri tepat
dekat mikrofon.
Saya sudah ajukan FOIA (UU Keterbukaan Informasi AS)
bicara dengan jagawana,
menggali arsip.
Membaca laporan jagawana tersensor
yang jumlahnya tak terhitung.
GPS hilang sinyal di hampir seluruh Pine Hollow.
Mereka bilang datanya rusak,
padahal tidak.
Ada yang tidak ingin
orang menyelidik terlalu dalam.
Anda kenal
Olivia Marsh?
Tidak.
Olivia Marsh?
Tidak, saya tak kenal.
Saat menginterogasi,
Anda tanya Raymond soal
Olivia Marsh?
Ya.
Olivia adalah pendaki
yang hilang tahun 2020.
Dia seorang YouTuber
kecil-kecilan yang syuting di hutan.
Meski dia tak pernah ditemukan,
kami berhasil menemukan kameranya.
Dalam rekamannya,
ada banyak kemiripan
dengan cerita Raymond.
Hutan yang sama, pola yang sama.
Ketukan,
suara-suara di kejauhan.
Korban pun hilang.
Kemiripannya
terlalu besar diabaikan
antara kasus Olivia
dan kasus Raymond.
Pihak berwenang menyebut
rekaman baru
dari kamera yang ditemukan
di kemah pendaki yang hilang,
Olivia Marsh,
memicu lebih banyak pertanyaan
daripada jawaban.
Oke, Pine Hollow, percobaan kedua.
Iya, Emily, kali ini aku bawa
obat nyamuk.
Camilan juga. Dan
iya, kaus kaki cadangan.
Jangan mulai.
Jalur tak bertanda.
Asyik buatku.
Oke, jujur saja.
Aku baca banyak komentar
di video terakhirku,
dan katanya
tempat ini terkutuk.
Orang-orang bilang,
"Jangan lewati bukit.
Ada yang dengar suara.
Bla bla bla."
Jujur saja, kedengarannya kayak clickbait
yang harusnya kupikirkan duluan.
Pokoknya, kita jalan.
Selamat datang di Pine Hollow.
Oke, kita resmi sudah masuk
lebih jauh dari saran
kebanyakan jagawana.
Tak ada GPS, tak ada sinyal.
Cuma aku, kameraku, dan mungkin
tiga jam sisa cahaya siang.
Sebelum ada yang komentar,
iya, aku tahu yang kulakukan.
Aku sering mendaki sendirian
dalam kondisi
yang jauh lebih buruk.
Tapi tempat ini agak seram.
Jadi, aku akan berkemah dekat punggung bukit malam ini.
Mungkin ambil beberapa gambar
jalan tua itu besok pagi,
dan kalau lancar,
mungkin ini jadi bagian
satu dari serial kecil
"di luar peta".
Kalau kalian baru di sini, hai.
Aku Olivia, dan
aku buat keputusan buruk di hutan sendirian
agar kalian tak perlu.
Burung pelatuk, kan?
Burung pelatuk.
Normal banget.
ASMR dari alam.
Suka.
Olivia adik saya.
Kami dekat sejak kecil.
Benar-benar tak terpisahkan.
Dialah yang
selalu mengajak saya keluar, memanjat pohon,
berkemah di halaman belakang, dan lainnya.
Kapan terakhir kali
Anda bicara dengannya?
Dua malam sebelum dia menghilang.
Dia menelepon saya
saat masih di perjalanan.
Katanya dia
hampir tiba di Pine Hollow.
Dia mau mengabari sebelum
hilang sinyal.
Suaranya ceria. Bersemangat.
Katanya perjalanannya indah,
hutannya terlihat
seperti di alam mimpi.
Jadi, dia tahu tak akan ada sinyal?
Ya, dia bilang jangan khawatir
kalau tak ada kabar darinya beberapa hari.
Katanya dia akan mendaki,
merekam segmen untuk
kanalnya, lalu pulang Minggu.
Itu terakhir kalinya
saya dengar suaranya.
Oke.
Aneh sekali.
Saya tahu ini agak pribadi,
tapi beberapa foto
dari ponselnya...
Anda sudah melihatnya?
Ya,
polisi menunjukkan beberapa.
Dia selalu
memotret untuk thumbnail
atau sekadar momen-momen kecil
untuk diunggah nanti.
Awalnya
tampak normal,
lalu mereka tunjukkan satu
yang ada seseorang, atau
sesuatu.
Fotonya tidak fokus.
Mungkin saja itu bayangan,
tapi bagi saya
itu tampak seperti orang.
Oke, semua sudah siap.
Di sini bagus.
Tunggu.
Oke, sebelum
aku jalan-jalan sebentar,
aku mau tunjukkan camilan
favoritku untuk perjalanan
seperti ini.
Tinggal cari dulu.
Di mana?
Kutaruh di mana, ya?
Kayaknya di belakang sini.
Bukan.
Di mana, sih?
Nah, ini dia.
Oke.
Silakan menghakimiku
sepuas kalian, tapi ini bahan bakar kelas atas.
Ada Keripik Funyuns, Fritos,
ada Cheetos.
Semua yang dibenci
ahli gizimu.
Oke, aku berangkat dulu.
Mau ambil foto sebelum gelap.
Sampai nanti.
Anda menyebut sebuah pola.
Orang mendengar suara yang dikenal.
Bisa dijelaskan?
Polanya sangat konsisten.
Dari petroglif,
kisah lisan pribumi, jurnal,
dan berbagai rekaman
dari orang-orang hilang,
semuanya mengaku mendengar
seseorang yang mereka kenal,
pasangan, saudara, sahabat,
memanggil mereka dari hutan.
Suaranya selalu jelas,
selalu tenang,
nyaris menenangkan.
Jadi, terus terang,
aku jelas mendengar
ada yang memanggil namaku
sejelas-jelasnya.
Anehnya,
aku berani sumpah itu suara kakakku.
Tidur malam ini pasti seru.
Saya tahu ini tidak
mudah bagi Anda,
tapi ada satu bagian
video terakhir adik Anda
yang masih dibicarakan orang.
Momen tepat sebelum videonya terputus.
Anda sudah melihatnya?
Ya, sudah.
Menurut Anda, itu apa?
Saya bahkan tak tahu
harus percaya apa lagi.
Apa pun itu,
itu bukan manusia.
Oke. Itu lagi. Kurasa ada orang di luar.
Kurasa ada orang di luar tendaku.
Ada orang di luar sana.
Liv.
Itu kakakku.
Pasti ada orang di luar tendaku.
Liv.
Liv.
Kumohon, pergilah.
Pergi saja.
Raymond, semua ini akan jauh
lebih baik jika kau jujur saja.
- Anda melukai mereka? - Tidak.
Anda pingsan?
Tidak.
Ceritakan nasib Jared dan Luis.
Saya bicara jujur.
Yang sebenarnya?
Yang sebenarnya adalah
teman-teman Anda hilang
tanpa jejak,
dan Anda orang terakhir
yang melihat mereka.
Kenapa cuma Anda
yang kembali?
Mungkin Anda akan paham
kalau Anda ada di sana
dan melihat yang saya lihat.
Anda melepaskannya?
Bukti kami tak cukup
untuk menahannya.
Beberapa hari kemudian, kemahnya ditemukan.
Tak ada tanda tindak kejahatan.
Memang agak janggal.
Tenda masih terbuka.
Barang berserakan.
Tapi tak ada darah,
tak ada tanda perlawanan.
Seolah mereka bangun
di tengah malam lalu pergi begitu saja.
Dan Raymond?
Ada yang terasa
janggal.
Tapi Pine Hollow itu berbeda.
Orang masuk ke sana.
Mereka tak keluar.
Semua cerita itu.
Pasti ada asal-usulnya.
Setiap kasus lain berakhir
dengan cara yang sama.
Lenyap tanpa jejak.
Tak ada jejak kaki, tak ada jasad.
Nihil.
Tapi Raymond kembali.
Dan dia menggambarkan hal yang sama
dengan korban sebelum lenyap.
Ketukan, panggilan.
Apa pun yang dia temui di sana
tak sekadar melepasnya.
Ia biarkan dia hidup karena suatu alasan.
Ray, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk kami.
Ada yang Anda perlukan
sebelum kita mulai?
Ya.
Boleh saya menggambar
sambil kita bicara?
Membantu menjernihkan pikiran.
Saya tak masalah. Chris?
Ya, tak apa.
Sudah hampir setahun
sejak penyelidikan.
Bagaimana keadaan Anda?
Baik.
Hanya berusaha hidup normal.
Seperti orang lain.
Orang terus melangkah.
Atau seharusnya begitu.
Apa Anda masih memikirkan
teman Anda, Luis Campbell
dan Jared Ross?
Saya memikirkan apa yang terjadi.
Ya.
Tidak setiap hari.
Itu tak ada gunanya
siapa pun.
Karena yang lalu biarlah berlalu.
Dan tak bisa diubah.
Begitulah adanya.
Suku Lacuna punya satu ungkapan,
"Mah wikanen."
Terjemahan terdekatnya
adalah "Menjadi yang ditandai."
Menurut kisah mereka, begitu
kita dengar suara di sana,
kita sudah ditandai.
Dan sejak saat itu,
ia akan memburu kita.
Anda orang terakhir
yang melihat mereka hidup.
Itu membebani Anda?
Seperti tubuh dari timah.
Menyesakkan.
Itu bukan sesuatu
yang bisa saya atur.
Hutan mengambil yang ia mau.
Saya berhasil keluar.
Mereka tidak.
Jadi, apa yang berubah
dalam kasus Raymond?
Saat kami menemukan perkemahan mereka,
semuanya tampak normal.
Lalu kamera ditemukan.
Isi rekaman itu...
Terlihat jelas di wajahnya.
Dia ketakutan.
Bukan lari dari perbuatannya,
tapi dari sesuatu yang dia lihat.
Kita bisa bahas itu seharian.
Efek spesialnya,
riasannya.
Teknik penyiksaan
yang harus dia jalani.
Lensa kontaknya kelihatan gila.
Masih berapa jauh lagi?
Luis, serius?
Kau kayak anak kecil.
Santai.
Kira-kira 45 menit lagi.
Astaga. Ray!
Bro, maaf. Menepi dulu.
Aku mau kencing.
Tidak.
Baru berhenti.
Aku tak mau menepi.
Tahan.
Hei, itu mainan barumu?
Tentu saja.
4K, stabilisasi, lengkap.
Oke.
Aku mau latihan dulu sebelum musim pernikahan.
Ya.
Mau lihat?
Ya, boleh.
Wih.
Bagus juga, Bung.
Kita sudah sering merekam pernikahan bareng.
Tak usah rekam bokong kami
saat mendaki.
Jared,
ini tradisi, Bro.
Setiap perjalanan aku merekam,
dan tiap kali kau protes.
Lagi pula,
kita butuh bahan baru buat reels.
Yang lama sudah basi.
Kita dapat klien
waktu itu, ingat?
Berkat aku.
Iya, iya.
Jadi, kalian
tahu tempat ini dari mana?
Semoga sepadan.
Tunggu.
Belum dengar soal Pine Hollow?
Belum. Kenapa?
Apa?
Bukan apa-apa. Cuma...
cerita konyol.
Ya. Cuma soal orang-orang
yang masuk.
Lalu?
Cuma, tak semuanya
keluar lagi.
Kalian omong kosong.
Nanti kau tahu sendiri.
Ya, kan?
- Ayolah. - Sialan kau.
Aku gampang mimpi buruk.
Kau tahu aku sensitif.
Lihat pemandangan itu.
Itulah alam bebas.
Selalu bisa diandalkan.
Mau obat nyamuk atau tidak?
Mau, Pak.
Bawa saja.
Bro, singkirkan benda ini dari mukaku.
Kau bakal suka penampilanmu.
Kujamin.
Ya. Terima kasih. Nih.
Ambil sisi terbaikku.
Bagus. Ya.
Baiklah. Ayo.
Perjalanan kita masih jauh.
Jadi, ayo berangkat.
Baik.
Wow. Ini
tempat yang hebat, Ray.
Betul sekali.
Pilihan yang bagus.
Tempat sempurna untuk
film pembunuhan.
Ayo foto.
Sini.
Mau lihat Pine Hollow-ku?
Ada di dalam celanaku.
- Astaga. - Bikin ibu bangga.
- Baik. - Cis!
Sempurna.
Baik, ayo jalan.
Ayo.
Lewat sini.
Ya,
saya pernah dengar beberapa cerita lama
di pos jagawana.
Atau dari warga setempat.
Suku Lacuna punya sebutan
untuk daerah ini.
Saya tak tahu ejaannya,
tapi artinya kira-kira
tentang suara atau ditandai.
Waktu awal bekerja,
kami suka bercanda soal itu.
Jangan masuk terlalu dalam, nanti hutannya
mulai bicara.
Cuma iseng-iseng,
tapi lama-lama,
setelah orang-orang menghilang,
kami berhenti tertawa.
Kubilang, tempat ini
sempurna.
Ya, sampai nyamuk pertama menggigit.
Diam kau!
Sudah digigit dua kali.
Lihat ini.
Baik.
Api di sana, tenda di sana,
lalu nanti,
bourbon di sini.
Kau benar-benar bawa yang bagus?
Ayolah.
Luis, kau pikir kita mendaki sejauh ini
tanpa imbalan yang layak? Ayolah.
Sinyal sialan.
Ya, justru itu intinya.
Kita di sini saja.
Tanpa pesan, telepon,
urusan kerja.
Kasihan.
Tak bisa SMS semua pacarnya.
Jerry.
Kasihan Jerry.
Kenapa kau masih merekam?
Aku harus merekamnya.
Kalau tidak, cuma tiga pria
minum-minum di hutan.
Memang itu yang kita lakukan, kan?
Ya, memang begitu.
Ya.
Justru itu, generasi mendatang butuh
bukti.
Kau bodoh.
Tapi sejarah akan mengingatku, Jared.
Kau terganggu?
Itu menyiksamu?
Kau iri?
Yang bisa kami buktikan hanyalah
adalah Bell
satu-satunya yang selamat.
Dan tak ada tanda
dia melukai siapa pun.
Terus terang, saya rasa
dia bisa merekayasa
isi rekaman itu.
Serius?
Kalian kesepian di sini atau apa?
Aku tak percaya
kau pikir kau dengar Bigfoot tadi.
Aku tak bilang Bigfoot, kubilang sesuatu.
Kita bisa pakai kau sebagai umpan supaya bertemu dia.
Ya.
Oke. Kalian pasti dengar itu.
Ya, ssst. Aku dengar.
Dekat sekali.
Jared.
Bukan aku.
Lepaskan aku.
Maaf.
Itu tidak lucu,
aku hampir ngompol.
Maaf. Aku tak tahan.
Kau tahu aku beser.
Sialan kau.
Aku mau tidur.
Ayolah, Kawan-kawan.
- Jangan kerjai aku! - Waktunya bobo.
Selamat tidur, Kawan-kawan.
Dan Jared, mampus kau.
Bobo, bobo, bobo.
Begini, predator berevolusi
untuk memanfaatkan celah,
kan?
Serigala mengincar rusa terlemah.
Laba-laba meniru getaran mangsa.
Jadi ini bukan hal baru.
Apa pun yang di luar sana,
ia tidak mengejar kita.
Ia mempelajari kita.
Ia menunggu, ia mendengarkan.
Ia memakai naluri
kita untuk melawan kita.
Kau dengar itu?
Jared.
Raymond.
Ini sempurna sekali.
Persis yang kubutuhkan.
Makasih banyak, Kawan.
Aku masih agak syok soal semalam.
Jadi mulai sekarang, aku tak mau ambil risiko lagi.
Aku merekam semuanya.
Semua mengejekku
karena aku beser.
Tapi setidaknya ususku kuat.
Luis.
Apa-apaan?
Itu tengkorak?
Luis!
Sekali saja aku ingin berak dengan tenang.
Ayo, Luis, tenangkan dirimu.
Kau bisa.
Kau cuma berhalusinasi.
Saya yakin sesuatu sedang terjadi di sana.
Dan saya yakin orang-orang yang
hilang itu bukan sekadar tersesat.
Kalau kita jajarkan
laporannya, ketukannya,
suara-suaranya,
kemah kosong, itu tak lagi tampak
seperti kebetulan.
Itu pola.
Hari kedua berkeliaran
tanpa arah di alam liar.
Pemimpin pemberani kita, Ray,
membuat kita berputar-putar.
- Brilian. - Persetan! Luis!
Bawa ranselku, keledai beban.
Bukan, dia cuma mendokumentasikan mulutmu.
Demi generasi mendatang.
Begitu katamu, kan?
Betul, bab di buku sejarah nanti berjudul
"Raymond Bell, Si Paling Cemen"
Setidaknya aku tak perlu kencing tiap 20 menit
karena beser kayak bayi.
Kau ngompol.
Itu tidak lucu.
Jared tertawa.
LUIS!
Kau dengar itu?
Seperti suara orang.
Mungkin ada yang tersesat?
Halo?
Bigfoot.
Ada orang di sana?
Ibunya Luis?
Bukan, aku tak dengar ibuku di sana.
Bro, jaga mulutmu.
Nanti dia memukul pantatmu.
Itu yang kuharapkan.
Omong-omong,
Raymond, kau tadi bilang apa?
Soal Si Paling Cemen Sedunia?
Yang kupikirkan cuma ibumu memukul pantatku.
Kau keterlaluan.
Kapan keadaannya memburuk?
Malam itu.
Luis terus merekam.
Dia bercanda-canda,
kami semua agak
mabuk,
di dekat api,
lalu dia pergi
untuk kencing.
Lalu?
Dia tak pernah kembali.
Lihat orang ini.
Jared Michael Ross,
calon pemabuk Amerika.
Bro, tahu tidak?
Sialan kau.
Tahu apa julukanmu?
Kau Si Paling Cemen Sedunia.
Itulah dirimu, Bro.
Apa yang lucu?
Kurasa itu julukanku.
Atau tadinya begitu.
Persetan kalian berdua.
Hari kedua di alam liar.
Suasana hati:
Dikelilingi para kampret.
Kenapa kameranya tak kau balik
supaya bisa lihat kampret sejati?
Tahu tidak?
Cukup sudah, Bung.
- Kau mau apa? - Tak akan kubiarkan
cuma kau yang punya rekaman di perjalanan ini.
Bagaimana kalau begini?
Dokumenter baru.
Dua jenius.
Hei.
Dan teman mereka yang tolol.
Bagaimana?
Sialan kau, Bro.
Tunggu. Tolong.
Sebentar saja.
Hati-hati dengan kamera itu.
- Itu baru. - Oh, maaf sekali, Luis,
aku tak sadar cuma kau
yang boleh main mainan baru.
Baiklah.
Permisi.
Mau ke mana?
Mau kencing.
Kok bisa?
Dia kan beser.
Orang ini memang...
Tak ada yang mau lihat kau kencing.
Tenang. Nanti kusensor.
Tak apa.
Aku perlu cahaya, lagi pula
aku butuh bukti.
Kalau kalian membunuhku,
aku akan menghantui kalian.
Diam dan kencing saja sana.
Bukan bokong kalian.
Aku tak akan menghantui bokong kalian, tapi...
Kencing saja sana.
Oke.
Aku akan menghantui kalian, bajingan.
Bukan bokong kalian.
Anda menyusulnya?
Kami mencoba.
Kami mencari, tapi gelap.
Jared mengira mungkin dia sedang mengerjai kami.
Luis memang sering begitu.
Kok bisa kau dengar musik begini?
Bro,
ini seni, Saudaraku.
Sesuatu yang tak akan kau pahami. Oke?
Ya, tentu. Musik begini,
lalu Beethoven.
Luis lagi apa, sih?
Mungkin dia di luar
sedang ngocok.
LUIS!
Berhenti ngocok!
Bro, ini pasti
sama kayak waktu itu,
dia mau mengerjai kita
dan menyembunyikan kantong tidurku
selama tiga jam.
Di Shenandoah.
Bajingan bodoh.
Luis.
Si Paling Cemen Sedunia.
Kau di mana, sih?
Sumpah, kalau kutemukan kau...
Di luar gelap.
Siapa peduli?
Menurutmu dia jatuh?
Entahlah, Bung.
Awas kalau dia mengerjai kita.
Sumpah.
Kita harus menjemput...
Apa?
Kita harus menjemputnya.
Sudah cukup lama.
Baiklah.
Kau yang pimpin jalan, Bro.
Aku?
Kau pegang senter.
Sialan.
Gelap sekali, tak kelihatan apa-apa.
Luis, kau di mana, Bung?
Jangan berengsek, Bung.
Ini sudah kejauhan.
Ya, aku tak bisa lihat apa-apa.
Sial.
Kita harus bagaimana?
Ini tidak lucu, Bung.
Sial, gelap sekali.
Kita tak akan menemukannya.
Ayo kembali ke api unggun.
Luis, kalau ini cuma lelucon,
sumpah...
Tuhan, tolong aku!
Astaga.
Bisa ceritakan sedikit lagi
soal Pine Hollow?
Seperti apa tempatnya. Rasanya di sana.
Kosong.
Dan sunyi.
Nyaris damai, dalam satu sisi.
Kau dengar itu, kan?
Ray.
Ya.
Sepertinya dari
arah sana.
Entahlah.
Mungkin itu dia.
Ya, terus kenapa dia tak menjawab?
Luis?
Luis!
Sialan.
Ayo.
Kenapa dia sampai sejauh ini?
Entahlah. Mungkin dia jatuh.
Atau...
Sial.
Apa itu?
Kameranya.
Gawat.
Baterainya habis.
Kok bisa
sampai di sini?
Itu dari belakang kita, kan?
Bukan, lebih dekat.
Dan ketukannya?
Selalu tiga kali.
Bunyinya hampa seperti
batang pohon mati.
Kadang terdengar dari jauh.
Kadang cukup dekat
sampai terasa di dada.
Orang-orang tua dulu bilang
itu hutan yang menjawab.
Legenda Lacuna bercerita tentang roh
yang menggemakan jiwa kita sendiri.
Seolah hutan sedang mempelajari kita.
Saya ingat paman saya bilang,
kalau kau ada di sana dan mendengarnya
memanggil namamu,
jangan dijawab.
Jadi, tak pernah saya jawab.
Sumpah, Ray, aku dengar dia. Oke?
Luis.
Kedengarannya seperti Luis.
Aku serius, di luar sana.
Aku tak dengar apa-apa, Bung.
Tapi aku dengar.
Dia memanggil namaku.
Lalu kenapa dia tak menjawab
waktu kau memanggilnya?
Entahlah, Bung.
Oke, tapi ini pasti salah satu leluconnya.
Sumpah, akan kuhajar dia.
Tidak.
Dia tak akan di luar semalaman tanpa ranselnya.
- Oke. - Jadi, menurut kita bagaimana?
Dia terluka?
Bisa jadi.
Dengar, kita tak bisa terus berkeliaran di sini.
Baiklah, kita tunggu satu malam lagi.
Kalau pagi dia belum kembali,
kita berkemas dan kembali
ke pos jagawana.
Baiklah.
Satu malam lagi.
Kau masih merekam?
Ya.
Ada yang tidak beres, Bung.
Ray?
Luis.
Kau sedang apa, Bro?
Ayolah, Luis.
Cuma mau lihat aku kencing?
- Tak apa. - Sebentar.
Kalau kau mau lihat aku
kencing, kenapa
bilang saja, Ray?
Kau ke mana?
Ray.
Bro.
Ray, kenapa kau mengajakku
main cari harta karun?
Kau di mana?
Luis.
Kemari.
Ray, kau sedang apa?
Luis.
Jared?
Bro, ini tidak lucu.
Ini tidak lucu.
Apa itu?
Apa itu tadi?
Jareeed.
Luis.
Sialan.
Luis? Jangan main-main, Bung.
Luis, apa-apaan ini, Bro?
Luis?
Sial!
Luis, berhenti main-main, Bung.
Sial.
Jareeed.
Apa Anda pribadi yakin
Raymond berkata jujur?
Ya,
dia tidak berbohong.
Saya kenal pembohong. Mata gelisah, detail berlebihan.
Dia hanya hancur.
Apa yang terjadi di Pine Hollow,
saya tak benar-benar tahu.
Pine Hollow punya reputasi.
Ada berbagai macam cerita dan sejarah
sejak zaman penduduk asli Amerika.
Saya tak tahu mana yang benar,
tapi saya tahu
orang menghilang di hutan itu
setiap tahun.
Sebagian salah ambil jalur,
dehidrasi,
linglung, mayatnya
ditemukan jauh dari perkemahan.
Kebanyakan tak pernah ditemukan.
Seolah mereka lenyap begitu saja.
Hanya Bell yang pernah saya lihat
berhasil keluar.
Apa pun yang terjadi di sana,
apa pun yang dia lihat
atau dengar,
itu berat untuk ditanggung seumur hidup.
Oke.
Lampu merah menyala,
kurasa sedang merekam.
Baik, Jared
dia, entahlah,
dia lari ke dalam hutan begitu saja.
Aku mencoba menyusulnya, tapi ada sesuatu.
Ada sesuatu di luar sana.
Sesuatu yang...
Aku tak tahu.
Apa yang terjadi?
Ray.
Sial.
Jangan.
Sial!
Ayo.
Apa-apaan ini?
Sampai jumpa nanti, Ray.
Ada perkembangan malam ini terkait tiga
pendaki yang hilang di Pine Hollow.
Salah satu dari mereka
ditemukan hidup
setelah beberapa hari
di hutan dekat Rute 322.
Info lebih lanjut menyusul
seiring penyelidikan.
Apa yang terjadi saat fajar?
Saya kemasi apa yang bisa saya
bawa, lalu pergi.
Teman-teman Anda?
Tak ada.
Tak ada tanda keberadaan mereka.
Seolah mereka
lenyap begitu saja.
Saya sudah tidak bertugas
di sana saat kejadian itu.
Tapi saya masih kenal beberapa orang lama
di tim pencari.
Kata mereka itu buruk.
Sangat buruk.
Tiga sahabat pergi.
Hanya satu yang kembali.
Tak ada perlawanan,
tak ada jejak kaki, tak ada darah.
Hanya kemah kosong.
Raymond.
Yang berhasil keluar.
Dia bilang sesuatu
mengambil teman-temannya, tapi tak ada yang paham maksudnya.
Saya rasa ada seseorang,
atau sesuatu di hutan ini
yang tak semestinya ada.
Dan ia cerdas.
Lebih cerdas dari dugaan orang.
Mungkin ia tak membunuh untuk makan.
Mungkin ia membunuh agar orang menjauh.
Bisa ceritakan bagaimana
legenda Lacuna ini bermula?
Ya. Ini salah satu kisah
paling kelam yang beredar
di wilayah New Jersey ini,
meski usianya jauh
lebih tua dari pendatang.
Suku Lacuna,
yang dulu tinggal di sini,
bercerita soal anak yang dituduh
mencuri kalung pirus
milik keluarga kepala suku.
Dia tak bersalah,
dan salah satu tetua melihat pencuri sebenarnya,
anak kepala suku, tapi dia diam.
Saat mereka membakar
anak itu hidup-hidup,
matanya tak lepas
dari tetua itu.
Konon matanya
tak berkedip saat dia mengutuk
tanah ini.
Dia bersumpah kembali sebagai apa saja
dan segalanya.
Kata-katanya sulit diterjemahkan,
tapi maknanya
menghantui,
gagasan bahwa rohnya tak lagi
terikat pada satu tubuh,
bahwa dia bisa jadi banyak wujud.
Dalam legenda itu,
rohnya meniru suara
dan wajah orang lain,
sebuah pantulan, peniru.
Ia tidak mengejar korbannya.
Ia memanggil dengan suara orang yang dicintai
sampai mereka berjalan
ke hutan dengan sukarela.
Dalam beberapa versi cerita,
kata-kata terakhirnya adalah
"Mah wikanen taku sni,"
yang artinya
"Yang ditandai takkan pernah pergi."
Apa Anda mau kembali ke sana?
Sudah pernah, sudah merasakannya.
Ada kaus sebagai bukti.
Tapi saya tak melihat
alasan untuk kembali.
Jujur, saya rasa tak sanggup.
Apa pun yang terjadi di sana,
saya takkan pernah sama lagi.
Kenapa Anda bilang begitu?
Karena di sanalah semuanya bermula.
Dan berakhir.
Bisa dijelaskan?
Sebenarnya, tidak.
Kita selesai di sini.
Kalian bisa keluar sendiri.
Saya lepas mikrofonnya.
Ray, terima kasih atas waktunya.
Terima kasih.
Apa ini?
Ia masih di luar sana.
Dia bilang apa?
Katanya ia masih di luar sana.
Apa itu?
Peta.
Ya, Minggu aku sudah pulang.
Aku menyayangimu. Dah.
Atau lebih cepat kalau Tyler kami bunuh.
Aku dengar itu.
Baik, log keberangkatan hari pertama.
Kami berangkat dari jalur
Pine Hollow.
Kami mulai dari sini karena
sejauh inilah orang
boleh masuk naik mobil.
Bekas perkemahan Raymond Bell
sekitar 3 km dari jalan, dekat punggung bukit,
lewat jalan tua.
Bro, kau merekam ini?
Bukannya kita harus hemat baterai?
Chris, kita mendokumentasikan prosesnya, bukan cuma temuannya.
Ayo. SRT.
SRT?
Selalu Rekam Terus!
Iya.
Asal jangan rekam bokongku
saat aku mengangkut 14 kg peralatan.
Ian, kalau butuh pendapatmu,
nanti kuminta.
Baik.
Kalian siap?
Ya.
- Bingkainya pas? - Ya.
Taruh rokoknya.
Tapi, ya.
Aku tak akan buang puntung,
kutaruh di saku belakang.
Kami berada di pintu masuk jalur Pine
Hollow. Bekas perkemahan Raymond Bell,
tempat Jared dan Luis beristirahat terakhir,
ada beberapa kilometer di belakang.
Jadi, Kawan-kawan,
ada kata terakhir sebelum masuk?
Ya, ayo jalan sebelum
aku berubah pikiran.
Dan kami berangkat.
Untuk mencari Makhluk Hutan Pinus.
Bagaimana?
Tempat ini bagus.
Rata.
- Pasang tenda? - Ya, aku capek sekali,
jadi ini pas.
Pendakian berat.
Selalu mengeluh.
Aduh, punggungku.
Hei, ambil ini. Aku mau pasang di tripod.
Chris,
tolong pasang
GoPro-nya?
- Oke. - Pasang satu
di pohon itu.
Yang itu?
Ya, kurasa sudut lebar mengarah ke bawah.
- Oke. - Mungkin bagus.
Lalu ini
pakai sensor gerak.
Jadi kalau ada gerakan,
otomatis mulai
merekam.
Kedengarannya kau ingin sesuatu terjadi.
Ian, aku tak ingin apa pun terjadi.
Aku berharap dapat bukti.
Itu beda jauh.
Kau pikir sesuatu bakal masuk ke perkemahan?
Chris, entahlah,
tapi kalau malam nanti kita dengar sesuatu,
aku ingin bisa memutar ulang
dan lihat apa itu.
Masuk akal.
Kau juga bilang mau GoPro di setiap
tenda, kan?
Ya. Satu di tiap tenda.
Oke.
Taruh di belakang,
menghadap ke pintu.
- Oke. - Bagaimana?
- Ya. - Dan suaranya?
Biarkan merekam.
Sepanjang malam?
Ya.
Ian, Selalu Rekam Terus.
Bro, kita bikin dokumenter,
kita tak tahu apa yang bakal dipakai.
Biarkan saja menyala.
Bakal boros baterai.
Aku mau pergi sebentar,
merekam sedikit transisi.
Kau mau bantu?
Tidak usah. Cuma...
Begini saja.
Bantu Chris menyalakan api
setelah urusan GoPro.
Bagaimana?
- Ya. Boleh. - Baik, nanti kita ketemu lagi.
Kau bawa tenda besar?
Meski kata mantan istrimu,
ukuran tak penting, Chris.
Aku tak mau berada
di tempat lain dengan orang lain.
Ralat.
Kuharap putraku di sini.
Tapi Chris dan Ian
pengganti yang hebat,
meski sedikit lebih banyak mulut.
Ya.
Bekerja dengan Tyler sungguh menyenangkan.
Tak ada yang lebih kusukai.
Rasanya melaju 106.000 km/jam
menembus Negeri Dongeng.
Aku menganggap diriku
agnostik dalam urusan
hal-hal gaib.
Bisa saja nyata.
Aku cuma belum pernah melihat sendiri
yang bikin aku percaya.
Kami berada di Hutan Negara
Pine Hollow,
tempat Raymond Bell
dan teman-temannya...
Terlalu kaku.
Ayo.
Mustahil, Bro.
Bilang kita dapat itu.
Tidak mungkin.
Hei, Bro, kau dengar itu?
Bro, kita dapat itu.
Kita pasti merekamnya.
Apa-apaan...
Oke. Ada yang lagi sensi berat
pagi ini.
Ketukan tadi gila.
Kau dengar?
Dengar?
Bro, aku merekamnya.
Tiga kali. Jelas sekali.
Dan polanya khas.
Bilang, Chris.
Ya.
Seram sekali.
Angker sekali.
Persetan kau dan kudamu
sama nenek moyangmu.
Kayaknya kita butuh kayu lagi.
Baik,
Ian, ambil ini.
Lakukan sesuatu.
Cobalah berguna, tolong.
Makan roti sosis tak dihitung?
Makin sedikit "sosis" makin bagus.
Kita sedang bikin dokumenter.
Kurasa kau tak paham
internet.
Dia pasti dengar ketukannya.
Dia cuma 15 meter dariku.
Tak mungkin dia tak dengar.
Sungguh, akrobat logika
yang dia lakukan untuk membantah sesuatu
luar biasa.
Baik. Kita putar musik.
Ambil rekaman yang berguna.
Semoga berguna buatmu, Tyler.
Sangat berguna.
Hai, kalian.
Dapat sesuatu?
Kawan-kawan?
Kalian mengerjaiku?
Hentikan. Mataku bisa rusak.
Apa-apaan?
Itu tak masuk akal.
Kau bicara seperti orang yang gampang mewek.
- Apa? - Lebih masuk akal?
Oke.
Kalian mengerjaiku tadi?
Apa?
Aku sedang mencari itu.
Kalian mengerjaiku?
Kau bicara apa?
Lupakan.
Oke.
Kau dapat rekaman yang berguna?
Ya, banyak sekali rekaman berguna.
Bro, kurasa maksudnya bukan
rekaman semacam itu.
Kita bisa sekalian cari uang di Pornhub.
Nah, sekarang dia paham
internet.
Tyler?
Chris?
Coba rekam ini.
Kalian mengerjaiku
semalam?
Kau bicara apa?
Ada yang buka risleting tendaku.
Kukira kalian mengerjaiku.
Tapi saat aku keluar, tak ada siapa-siapa.
Aku tak berbuat apa-apa. Kau?
Tidak, aku tak ada hubungannya.
Aku di tendaku.
GoPro-mu masih menyala?
Ya, seharusnya.
Baik, ambil sana, Bro.
Itu jelas sesuatu.
Agak menyeramkan.
Tapi bisa jadi ada orang
yang mengerjai kita.
Inilah yang kita cari, Kawan-kawan.
Ayo.
Baik,
aku mau terbangkan drone.
Ambil rekaman dari atas. Oke?
Tunggu, kau mau pergi sendirian?
Ya. Tak akan jauh.
Masih terjangkau.
Biarkan kamera merekam.
- Oke? - Oke.
Ya, benar.
Dan soal GoPro itu,
kami benar-benar nyaris.
Aku tak percaya
makhluk itu menjatuhkannya.
Maksudku, Chris,
Ian, mereka pasti bilang
itu angin.
Pasti angin.
Itu angin.
Itu jelas angin.
Tapi itu jelas
tindakan cerdas dari makhluk cerdas.
Kami makin dekat.
Entahlah, Bung,
soal tenda itu.
Aku terus memikirkannya.
Kenapa, kau takut?
Sedikit.
Ya, aku tahu.
Kita bisa saja berkemas,
bilang kita sudah dapat yang perlu.
Lalu kabur dari sini!
Kita tak bisa pergi.
Kalau kita pergi, dia bakal kembali ke sini sendirian.
Memangnya kenapa?
Ayolah. Kita tunggu satu malam lagi,
lalu kita
kabur dari sini.
Satu malam lagi.
Cuma itu jatahnya.
Hei, Kawan-kawan!
Dia kembali.
Apa?
Aku dapat sesuatu, Sayang.
Apa? Maksudmu sesuatu apa?
Lihat saja nanti, Kawan.
Chris, kau mau apa?
Bro?
Aku mau mendaki keluar lewat jalur sampai
dapat sinyal, lalu minta bantuan.
Kau bercanda?
Bro, di luar gelap gulita.
Lehermu bisa
patah.
Lebih baik leherku patah di sana
daripada di sini menunggu nasib seperti dia.
Ayolah, Bro,
kita tunggu sampai fajar.
Kita bisa cari dia bersama.
Bro, kau tak mengerti,
dia tidak sekadar bangun
lalu keluar dari tenda.
Sesuatu mengambilnya.
Kau tak tahu itu.
Ayolah. Berpikir positif.
Aku tahu.
Tempat ini terkutuk.
Harusnya kita tak pernah ke sini.
Sialan! Chris, kalau kau pergi sekarang,
aku tak akan menyusulmu.
Baik.
Semoga beruntung.
Bajingan.
Bro, terus rekam saja.
Oke?
Kita ketemu di mobil besok pagi.
Jangan pergi.
Paham?
Kau harus ada.
Ian?
Bro, kau di mana?
Ian, kau di mana? Ayolah.
Ian, bilang sesuatu.
Ayolah, Bung.
Serius, Ian.
Ian!
Bro. Tunggu, Bung.
Bro, Ian.
Bro, kau mau ke mana?
Ayolah, Ian!
Ikuti punggung bukit.
Ambil ponselmu.
Lalu kabur dari sini.
Chris.
Sial.
Terus bergerak.
Sial.
Apa-apaan?
Ya Tuhan. Apa-apaan ini?
Astaga.
Apa ini?
Ray?
Lalu siapa yang kami wawancarai?
Siapa di sana?
Sial.
Apa?
Kudengar kau.
Siapa itu?
Tyler?
Siapa di sana?
Siapa itu?
Sial!
Sial.
Mah wikanen
taku
sni.
Dalam legenda itu,
rohnya meniru
suara dan wajah orang lain,
sebuah pantulan, peniru.
Ia tidak mengejar korbannya.
Ia memanggil dengan suara orang yang dicintai
sampai mereka berjalan
ke hutan dengan sukarela.
Dalam beberapa versi cerita,
kata-kata terakhirnya adalah "Mah wikanen taku sni,"
yang artinya
"Yang ditandai takkan pernah pergi."
Apa pun yang terjadi di sana,
saya takkan pernah sama lagi.
Sekelompok pembuat dokumenter dilaporkan
hilang di Pine Barrens, perkemahan mereka
tanpa tanda-tanda
kejahatan.
Kamera dan alat audio
ditemukan di dekat sana
dan diserahkan ke pihak berwajib.
Pine Hollow tak peduli
Anda percaya atau tidak.
Ia mendengarkan.
Ia belajar.
Dan saat ia memanggil nama Anda,
jangan dijawab.
Rumor beredar di internet
bahwa Netflix dan Paramount
terlibat perang tawaran
untuk hak atas kisah ini
dan rekamannya.
Dan kini ke John di meja olahraga, Devils
mengalahkan Flyers 6-1.
Alih Bahasa: Syahroel
DUKUNG TERUS SAYA DI: https://trakteer.id/syahr0el
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.