All language subtitles for Creature.of.the.Pines.2026.WEB.YTS.indonesian-Indonesian[1]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sekelompok pembuat film dokumenter

dilaporkan hilang di Pine

Barrens, perkemahan mereka

tanpa tanda-tanda

kejahatan.

Ransel dan sepeda gunung pelajar bernama Curtis

Daly ditemukan petang ini

di dekat Ridgewater Creek.

Pihak berwenang meminta yang punya informasi

untuk segera melapor.

Pihak berwenang menyebut rekaman baru

dari kamera yang ditemukan

di kemah pendaki yang hilang,

Olivia Marsh,

memicu lebih banyak pertanyaan

daripada jawaban.

Makhluk Hutan Pinus

Pencarian tiga pria itu

telah dihentikan

setelah empat hari dengan helikopter dan anjing

menyisir Pine Barrens

tanpa hasil.

Selama tiga

dekade terakhir, orang terus menghilang.

Hilangnya mereka

dikaitkan warga dengan Makhluk

Hutan Pinus.

Pusat, saya melihat seorang pria.

Dia berjalan ke arah timur.

Kami di dekat Rute 322, di pintu masuk

jalur pendakian. Sepertinya

dia sedang mabuk.

Diterima.

Perlu bantuan?

Untuk saat ini tidak.

Nanti saya kabari.

Saya akan coba mendekatinya

sekarang.

Permisi, Pak.

Bapak baik-baik saja?

Apa kabar?

Siapa nama Bapak?

Bapak tidak apa-apa?

Kami menjemput Bell

di Rute 322 saat matahari terbit.

Kondisinya kacau.

Tangan gemetar, berantakan,

sepertinya dia tak tidur berhari-hari.

Pandangannya kosong,

dan dia cuma bilang,

"Mereka hilang."

Kami tahu Anda pergi

ke Pine Hollow

bersama dua teman Anda.

Jared Ross dan Luis Campbell.

Anda ditemukan

saat fajar di Rute 322.

Berantakan.

Linglung.

Anda tahu kesannya, kan?

Bukan seperti yang Anda kira.

Jadi, Anda mencurigai

dia terlibat

dalam hilangnya mereka?

Tentu saja.

Begini, saat dua orang hilang

dan hanya satu kembali,

itu memunculkan pertanyaan.

Kami cek forensik semuanya, tapi

tak ada hasil.

Tak ada darah, sidik jari,

tak ada yang berguna.

Masalahnya,

Pine Hollow bukan hal baru bagi kami.

Orang lenyap di sana

setiap beberapa tahun.

Tak pernah ada mayat.

Tak pernah ada jawaban pasti.

Ditambah lagi,

Pine Hollow itu zona mati.

Tak ada sinyal telepon, tak ada GPS.

Begitu masuk ke sana,

sama saja lenyap dari peta.

Jadi, kami tak punya kronologi.

Hanya pengakuannya.

Pertama kali

saya mendengarnya, umur saya mungkin 19.

Paman saya anggota Tim Basarnas.

Katanya ada dua anak yang hilang.

Pendaki, sekitar tahun '84.

Salah satunya anak SMA.

Curtis Daly.

Orang tuanya mengamuk.

Poster di mana-mana.

Dia tak pernah ditemukan.

Ransel dan sepeda gunung pelajar bernama Curtis

Daly ditemukan petang ini

di dekat Ridgewater Creek.

Pihak berwenang meminta siapa pun yang punya informasi

untuk segera melapor.

Apakah Anda yakin

itu hanya kasus

orang hilang biasa?

Ya,

itu yang kami tulis di laporan.

Tentu.

Tersesat,

terpeleset, jatuh.

Memang begitu seharusnya ditulis.

Tapi setelah dua dekade,

kita mulai melihat pola.

Banyak dari mereka,

yang tak pernah kami temukan, terakhir

terlihat di jalur tak bertanda

di sekitar Ridgewater Creek,

melewati papan peringatan.

Seolah ada sesuatu

yang memangsa mereka.

Pada tahun 1978,

pemuda 19 tahun bernama Peter

Lemansky menghilang.

Saudarinya ikut dalam tim pencari.

Dia lalu cerita ke penyidik

dia mendengar Peter

memanggil namanya dari bukit.

Nada yang sama,

tawa gugup yang selalu muncul

saat dia ketakutan.

Dia mengikuti suara itu sekitar 27 meter

sebelum dihentikan jagawana.

Sebelum sempat menjawab.

Dia bersumpah itu Peter, tapi

Peter sudah lama hilang saat itu.

Pada malam pertama

semuanya tampak baik.

Tapi lalu Luis,

dia dengar ketukan

di tengah malam.

Ketukan?

Dari mana?

Dari hutan,

mungkin?

Lalu apa yang kalian lakukan?

Tidak ada.

Namanya juga hutan.

Apa pun bisa menimbulkan

suara dan ketukan.

Kita berada di antah-berantah.

Ceritanya tidak masuk akal.

Bukan soal apa yang saya yakini.

Tapi apa yang bisa saya buktikan.

Saya tak bisa menjelaskannya,

tapi ada sesuatu dalam semua ini

yang terasa mencurigakan.

Baik, ceritakan kepada saya

soal hari kedua.

Kami mendaki.

Hari yang biasa,

kecuali

kami mendengar suara.

Suara?

Ya.

Baik, Raymond,

Anda harus menjelaskan dengan jelas.

Saya tidak tahu.

Kedengarannya seperti orang, tapi sangat

jauh.

Seperti orang yang minta tolong.

Kami berhenti. Mendengarkan. Lalu suaranya berhenti.

Hilang begitu saja.

Anda tahu

kasus Raymond Bell?

Tentu.

Kasus itu memenuhi semua unsur,

ketukan, suara-suara.

Lalu temannya lenyap

tanpa jejak.

Tapi Raymond ditemukan

hidup, kan?

Ya, kalau itu bisa disebut hidup.

Dia ditemukan berjalan di jalan saat fajar.

Bingung, dehidrasi.

Tak ada luka.

Teman-temannya hilang begitu saja.

Tak ada perlawanan.

Tak ada darah, tak ada

jejak kaki keluar kemah.

Tak ada apa-apa.

Itu yang membuat kasus ini berbeda.

Dia bukan cuma lenyap.

Dia kembali.

Kalau Anda menelusuri

sejarah lisan Lacuna,

Anda akan menemukan kisah

tentang legenda di daerah ini.

Roh yang tidak berburu

dengan kekuatan, tapi dengan keakraban.

Mereka menyebutnya Sang Pembisik.

Ia bicara dengan suara yang dikenal.

Anda bilang pernah mendengar

rekaman dari Pine Hollow?

Ya.

Ada satu yang masih

menghantui saya.

Seorang pendaki mengunggahnya

beberapa tahun lalu,

katanya mikrofonnya di jalur

terus menyala malam-malam

saat tak ada apa-apa.

Saat diputar,

awalnya terdengar angin.

Jangkrik, suara hutan

yang biasa.

Lalu terdengar seseorang

membisikkan sebuah nama dengan pelan,

seolah dia berdiri tepat

dekat mikrofon.

Saya sudah ajukan FOIA (UU Keterbukaan Informasi AS)

bicara dengan jagawana,

menggali arsip.

Membaca laporan jagawana tersensor

yang jumlahnya tak terhitung.

GPS hilang sinyal di hampir seluruh Pine Hollow.

Mereka bilang datanya rusak,

padahal tidak.

Ada yang tidak ingin

orang menyelidik terlalu dalam.

Anda kenal

Olivia Marsh?

Tidak.

Olivia Marsh?

Tidak, saya tak kenal.

Saat menginterogasi,

Anda tanya Raymond soal

Olivia Marsh?

Ya.

Olivia adalah pendaki

yang hilang tahun 2020.

Dia seorang YouTuber

kecil-kecilan yang syuting di hutan.

Meski dia tak pernah ditemukan,

kami berhasil menemukan kameranya.

Dalam rekamannya,

ada banyak kemiripan

dengan cerita Raymond.

Hutan yang sama, pola yang sama.

Ketukan,

suara-suara di kejauhan.

Korban pun hilang.

Kemiripannya

terlalu besar diabaikan

antara kasus Olivia

dan kasus Raymond.

Pihak berwenang menyebut

rekaman baru

dari kamera yang ditemukan

di kemah pendaki yang hilang,

Olivia Marsh,

memicu lebih banyak pertanyaan

daripada jawaban.

Oke, Pine Hollow, percobaan kedua.

Iya, Emily, kali ini aku bawa

obat nyamuk.

Camilan juga. Dan

iya, kaus kaki cadangan.

Jangan mulai.

Jalur tak bertanda.

Asyik buatku.

Oke, jujur saja.

Aku baca banyak komentar

di video terakhirku,

dan katanya

tempat ini terkutuk.

Orang-orang bilang,

"Jangan lewati bukit.

Ada yang dengar suara.

Bla bla bla."

Jujur saja, kedengarannya kayak clickbait

yang harusnya kupikirkan duluan.

Pokoknya, kita jalan.

Selamat datang di Pine Hollow.

Oke, kita resmi sudah masuk

lebih jauh dari saran

kebanyakan jagawana.

Tak ada GPS, tak ada sinyal.

Cuma aku, kameraku, dan mungkin

tiga jam sisa cahaya siang.

Sebelum ada yang komentar,

iya, aku tahu yang kulakukan.

Aku sering mendaki sendirian

dalam kondisi

yang jauh lebih buruk.

Tapi tempat ini agak seram.

Jadi, aku akan berkemah dekat punggung bukit malam ini.

Mungkin ambil beberapa gambar

jalan tua itu besok pagi,

dan kalau lancar,

mungkin ini jadi bagian

satu dari serial kecil

"di luar peta".

Kalau kalian baru di sini, hai.

Aku Olivia, dan

aku buat keputusan buruk di hutan sendirian

agar kalian tak perlu.

Burung pelatuk, kan?

Burung pelatuk.

Normal banget.

ASMR dari alam.

Suka.

Olivia adik saya.

Kami dekat sejak kecil.

Benar-benar tak terpisahkan.

Dialah yang

selalu mengajak saya keluar, memanjat pohon,

berkemah di halaman belakang, dan lainnya.

Kapan terakhir kali

Anda bicara dengannya?

Dua malam sebelum dia menghilang.

Dia menelepon saya

saat masih di perjalanan.

Katanya dia

hampir tiba di Pine Hollow.

Dia mau mengabari sebelum

hilang sinyal.

Suaranya ceria. Bersemangat.

Katanya perjalanannya indah,

hutannya terlihat

seperti di alam mimpi.

Jadi, dia tahu tak akan ada sinyal?

Ya, dia bilang jangan khawatir

kalau tak ada kabar darinya beberapa hari.

Katanya dia akan mendaki,

merekam segmen untuk

kanalnya, lalu pulang Minggu.

Itu terakhir kalinya

saya dengar suaranya.

Oke.

Aneh sekali.

Saya tahu ini agak pribadi,

tapi beberapa foto

dari ponselnya...

Anda sudah melihatnya?

Ya,

polisi menunjukkan beberapa.

Dia selalu

memotret untuk thumbnail

atau sekadar momen-momen kecil

untuk diunggah nanti.

Awalnya

tampak normal,

lalu mereka tunjukkan satu

yang ada seseorang, atau

sesuatu.

Fotonya tidak fokus.

Mungkin saja itu bayangan,

tapi bagi saya

itu tampak seperti orang.

Oke, semua sudah siap.

Di sini bagus.

Tunggu.

Oke, sebelum

aku jalan-jalan sebentar,

aku mau tunjukkan camilan

favoritku untuk perjalanan

seperti ini.

Tinggal cari dulu.

Di mana?

Kutaruh di mana, ya?

Kayaknya di belakang sini.

Bukan.

Di mana, sih?

Nah, ini dia.

Oke.

Silakan menghakimiku

sepuas kalian, tapi ini bahan bakar kelas atas.

Ada Keripik Funyuns, Fritos,

ada Cheetos.

Semua yang dibenci

ahli gizimu.

Oke, aku berangkat dulu.

Mau ambil foto sebelum gelap.

Sampai nanti.

Anda menyebut sebuah pola.

Orang mendengar suara yang dikenal.

Bisa dijelaskan?

Polanya sangat konsisten.

Dari petroglif,

kisah lisan pribumi, jurnal,

dan berbagai rekaman

dari orang-orang hilang,

semuanya mengaku mendengar

seseorang yang mereka kenal,

pasangan, saudara, sahabat,

memanggil mereka dari hutan.

Suaranya selalu jelas,

selalu tenang,

nyaris menenangkan.

Jadi, terus terang,

aku jelas mendengar

ada yang memanggil namaku

sejelas-jelasnya.

Anehnya,

aku berani sumpah itu suara kakakku.

Tidur malam ini pasti seru.

Saya tahu ini tidak

mudah bagi Anda,

tapi ada satu bagian

video terakhir adik Anda

yang masih dibicarakan orang.

Momen tepat sebelum videonya terputus.

Anda sudah melihatnya?

Ya, sudah.

Menurut Anda, itu apa?

Saya bahkan tak tahu

harus percaya apa lagi.

Apa pun itu,

itu bukan manusia.

Oke. Itu lagi. Kurasa ada orang di luar.

Kurasa ada orang di luar tendaku.

Ada orang di luar sana.

Liv.

Itu kakakku.

Pasti ada orang di luar tendaku.

Liv.

Liv.

Kumohon, pergilah.

Pergi saja.

Raymond, semua ini akan jauh

lebih baik jika kau jujur saja.

- Anda melukai mereka? - Tidak.

Anda pingsan?

Tidak.

Ceritakan nasib Jared dan Luis.

Saya bicara jujur.

Yang sebenarnya?

Yang sebenarnya adalah

teman-teman Anda hilang

tanpa jejak,

dan Anda orang terakhir

yang melihat mereka.

Kenapa cuma Anda

yang kembali?

Mungkin Anda akan paham

kalau Anda ada di sana

dan melihat yang saya lihat.

Anda melepaskannya?

Bukti kami tak cukup

untuk menahannya.

Beberapa hari kemudian, kemahnya ditemukan.

Tak ada tanda tindak kejahatan.

Memang agak janggal.

Tenda masih terbuka.

Barang berserakan.

Tapi tak ada darah,

tak ada tanda perlawanan.

Seolah mereka bangun

di tengah malam lalu pergi begitu saja.

Dan Raymond?

Ada yang terasa

janggal.

Tapi Pine Hollow itu berbeda.

Orang masuk ke sana.

Mereka tak keluar.

Semua cerita itu.

Pasti ada asal-usulnya.

Setiap kasus lain berakhir

dengan cara yang sama.

Lenyap tanpa jejak.

Tak ada jejak kaki, tak ada jasad.

Nihil.

Tapi Raymond kembali.

Dan dia menggambarkan hal yang sama

dengan korban sebelum lenyap.

Ketukan, panggilan.

Apa pun yang dia temui di sana

tak sekadar melepasnya.

Ia biarkan dia hidup karena suatu alasan.

Ray, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk kami.

Ada yang Anda perlukan

sebelum kita mulai?

Ya.

Boleh saya menggambar

sambil kita bicara?

Membantu menjernihkan pikiran.

Saya tak masalah. Chris?

Ya, tak apa.

Sudah hampir setahun

sejak penyelidikan.

Bagaimana keadaan Anda?

Baik.

Hanya berusaha hidup normal.

Seperti orang lain.

Orang terus melangkah.

Atau seharusnya begitu.

Apa Anda masih memikirkan

teman Anda, Luis Campbell

dan Jared Ross?

Saya memikirkan apa yang terjadi.

Ya.

Tidak setiap hari.

Itu tak ada gunanya

siapa pun.

Karena yang lalu biarlah berlalu.

Dan tak bisa diubah.

Begitulah adanya.

Suku Lacuna punya satu ungkapan,

"Mah wikanen."

Terjemahan terdekatnya

adalah "Menjadi yang ditandai."

Menurut kisah mereka, begitu

kita dengar suara di sana,

kita sudah ditandai.

Dan sejak saat itu,

ia akan memburu kita.

Anda orang terakhir

yang melihat mereka hidup.

Itu membebani Anda?

Seperti tubuh dari timah.

Menyesakkan.

Itu bukan sesuatu

yang bisa saya atur.

Hutan mengambil yang ia mau.

Saya berhasil keluar.

Mereka tidak.

Jadi, apa yang berubah

dalam kasus Raymond?

Saat kami menemukan perkemahan mereka,

semuanya tampak normal.

Lalu kamera ditemukan.

Isi rekaman itu...

Terlihat jelas di wajahnya.

Dia ketakutan.

Bukan lari dari perbuatannya,

tapi dari sesuatu yang dia lihat.

Kita bisa bahas itu seharian.

Efek spesialnya,

riasannya.

Teknik penyiksaan

yang harus dia jalani.

Lensa kontaknya kelihatan gila.

Masih berapa jauh lagi?

Luis, serius?

Kau kayak anak kecil.

Santai.

Kira-kira 45 menit lagi.

Astaga. Ray!

Bro, maaf. Menepi dulu.

Aku mau kencing.

Tidak.

Baru berhenti.

Aku tak mau menepi.

Tahan.

Hei, itu mainan barumu?

Tentu saja.

4K, stabilisasi, lengkap.

Oke.

Aku mau latihan dulu sebelum musim pernikahan.

Ya.

Mau lihat?

Ya, boleh.

Wih.

Bagus juga, Bung.

Kita sudah sering merekam pernikahan bareng.

Tak usah rekam bokong kami

saat mendaki.

Jared,

ini tradisi, Bro.

Setiap perjalanan aku merekam,

dan tiap kali kau protes.

Lagi pula,

kita butuh bahan baru buat reels.

Yang lama sudah basi.

Kita dapat klien

waktu itu, ingat?

Berkat aku.

Iya, iya.

Jadi, kalian

tahu tempat ini dari mana?

Semoga sepadan.

Tunggu.

Belum dengar soal Pine Hollow?

Belum. Kenapa?

Apa?

Bukan apa-apa. Cuma...

cerita konyol.

Ya. Cuma soal orang-orang

yang masuk.

Lalu?

Cuma, tak semuanya

keluar lagi.

Kalian omong kosong.

Nanti kau tahu sendiri.

Ya, kan?

- Ayolah. - Sialan kau.

Aku gampang mimpi buruk.

Kau tahu aku sensitif.

Lihat pemandangan itu.

Itulah alam bebas.

Selalu bisa diandalkan.

Mau obat nyamuk atau tidak?

Mau, Pak.

Bawa saja.

Bro, singkirkan benda ini dari mukaku.

Kau bakal suka penampilanmu.

Kujamin.

Ya. Terima kasih. Nih.

Ambil sisi terbaikku.

Bagus. Ya.

Baiklah. Ayo.

Perjalanan kita masih jauh.

Jadi, ayo berangkat.

Baik.

Wow. Ini

tempat yang hebat, Ray.

Betul sekali.

Pilihan yang bagus.

Tempat sempurna untuk

film pembunuhan.

Ayo foto.

Sini.

Mau lihat Pine Hollow-ku?

Ada di dalam celanaku.

- Astaga. - Bikin ibu bangga.

- Baik. - Cis!

Sempurna.

Baik, ayo jalan.

Ayo.

Lewat sini.

Ya,

saya pernah dengar beberapa cerita lama

di pos jagawana.

Atau dari warga setempat.

Suku Lacuna punya sebutan

untuk daerah ini.

Saya tak tahu ejaannya,

tapi artinya kira-kira

tentang suara atau ditandai.

Waktu awal bekerja,

kami suka bercanda soal itu.

Jangan masuk terlalu dalam, nanti hutannya

mulai bicara.

Cuma iseng-iseng,

tapi lama-lama,

setelah orang-orang menghilang,

kami berhenti tertawa.

Kubilang, tempat ini

sempurna.

Ya, sampai nyamuk pertama menggigit.

Diam kau!

Sudah digigit dua kali.

Lihat ini.

Baik.

Api di sana, tenda di sana,

lalu nanti,

bourbon di sini.

Kau benar-benar bawa yang bagus?

Ayolah.

Luis, kau pikir kita mendaki sejauh ini

tanpa imbalan yang layak? Ayolah.

Sinyal sialan.

Ya, justru itu intinya.

Kita di sini saja.

Tanpa pesan, telepon,

urusan kerja.

Kasihan.

Tak bisa SMS semua pacarnya.

Jerry.

Kasihan Jerry.

Kenapa kau masih merekam?

Aku harus merekamnya.

Kalau tidak, cuma tiga pria

minum-minum di hutan.

Memang itu yang kita lakukan, kan?

Ya, memang begitu.

Ya.

Justru itu, generasi mendatang butuh

bukti.

Kau bodoh.

Tapi sejarah akan mengingatku, Jared.

Kau terganggu?

Itu menyiksamu?

Kau iri?

Yang bisa kami buktikan hanyalah

adalah Bell

satu-satunya yang selamat.

Dan tak ada tanda

dia melukai siapa pun.

Terus terang, saya rasa

dia bisa merekayasa

isi rekaman itu.

Serius?

Kalian kesepian di sini atau apa?

Aku tak percaya

kau pikir kau dengar Bigfoot tadi.

Aku tak bilang Bigfoot, kubilang sesuatu.

Kita bisa pakai kau sebagai umpan supaya bertemu dia.

Ya.

Oke. Kalian pasti dengar itu.

Ya, ssst. Aku dengar.

Dekat sekali.

Jared.

Bukan aku.

Lepaskan aku.

Maaf.

Itu tidak lucu,

aku hampir ngompol.

Maaf. Aku tak tahan.

Kau tahu aku beser.

Sialan kau.

Aku mau tidur.

Ayolah, Kawan-kawan.

- Jangan kerjai aku! - Waktunya bobo.

Selamat tidur, Kawan-kawan.

Dan Jared, mampus kau.

Bobo, bobo, bobo.

Begini, predator berevolusi

untuk memanfaatkan celah,

kan?

Serigala mengincar rusa terlemah.

Laba-laba meniru getaran mangsa.

Jadi ini bukan hal baru.

Apa pun yang di luar sana,

ia tidak mengejar kita.

Ia mempelajari kita.

Ia menunggu, ia mendengarkan.

Ia memakai naluri

kita untuk melawan kita.

Kau dengar itu?

Jared.

Raymond.

Ini sempurna sekali.

Persis yang kubutuhkan.

Makasih banyak, Kawan.

Aku masih agak syok soal semalam.

Jadi mulai sekarang, aku tak mau ambil risiko lagi.

Aku merekam semuanya.

Semua mengejekku

karena aku beser.

Tapi setidaknya ususku kuat.

Luis.

Apa-apaan?

Itu tengkorak?

Luis!

Sekali saja aku ingin berak dengan tenang.

Ayo, Luis, tenangkan dirimu.

Kau bisa.

Kau cuma berhalusinasi.

Saya yakin sesuatu sedang terjadi di sana.

Dan saya yakin orang-orang yang

hilang itu bukan sekadar tersesat.

Kalau kita jajarkan

laporannya, ketukannya,

suara-suaranya,

kemah kosong, itu tak lagi tampak

seperti kebetulan.

Itu pola.

Hari kedua berkeliaran

tanpa arah di alam liar.

Pemimpin pemberani kita, Ray,

membuat kita berputar-putar.

- Brilian. - Persetan! Luis!

Bawa ranselku, keledai beban.

Bukan, dia cuma mendokumentasikan mulutmu.

Demi generasi mendatang.

Begitu katamu, kan?

Betul, bab di buku sejarah nanti berjudul

"Raymond Bell, Si Paling Cemen"

Setidaknya aku tak perlu kencing tiap 20 menit

karena beser kayak bayi.

Kau ngompol.

Itu tidak lucu.

Jared tertawa.

LUIS!

Kau dengar itu?

Seperti suara orang.

Mungkin ada yang tersesat?

Halo?

Bigfoot.

Ada orang di sana?

Ibunya Luis?

Bukan, aku tak dengar ibuku di sana.

Bro, jaga mulutmu.

Nanti dia memukul pantatmu.

Itu yang kuharapkan.

Omong-omong,

Raymond, kau tadi bilang apa?

Soal Si Paling Cemen Sedunia?

Yang kupikirkan cuma ibumu memukul pantatku.

Kau keterlaluan.

Kapan keadaannya memburuk?

Malam itu.

Luis terus merekam.

Dia bercanda-canda,

kami semua agak

mabuk,

di dekat api,

lalu dia pergi

untuk kencing.

Lalu?

Dia tak pernah kembali.

Lihat orang ini.

Jared Michael Ross,

calon pemabuk Amerika.

Bro, tahu tidak?

Sialan kau.

Tahu apa julukanmu?

Kau Si Paling Cemen Sedunia.

Itulah dirimu, Bro.

Apa yang lucu?

Kurasa itu julukanku.

Atau tadinya begitu.

Persetan kalian berdua.

Hari kedua di alam liar.

Suasana hati:

Dikelilingi para kampret.

Kenapa kameranya tak kau balik

supaya bisa lihat kampret sejati?

Tahu tidak?

Cukup sudah, Bung.

- Kau mau apa? - Tak akan kubiarkan

cuma kau yang punya rekaman di perjalanan ini.

Bagaimana kalau begini?

Dokumenter baru.

Dua jenius.

Hei.

Dan teman mereka yang tolol.

Bagaimana?

Sialan kau, Bro.

Tunggu. Tolong.

Sebentar saja.

Hati-hati dengan kamera itu.

- Itu baru. - Oh, maaf sekali, Luis,

aku tak sadar cuma kau

yang boleh main mainan baru.

Baiklah.

Permisi.

Mau ke mana?

Mau kencing.

Kok bisa?

Dia kan beser.

Orang ini memang...

Tak ada yang mau lihat kau kencing.

Tenang. Nanti kusensor.

Tak apa.

Aku perlu cahaya, lagi pula

aku butuh bukti.

Kalau kalian membunuhku,

aku akan menghantui kalian.

Diam dan kencing saja sana.

Bukan bokong kalian.

Aku tak akan menghantui bokong kalian, tapi...

Kencing saja sana.

Oke.

Aku akan menghantui kalian, bajingan.

Bukan bokong kalian.

Anda menyusulnya?

Kami mencoba.

Kami mencari, tapi gelap.

Jared mengira mungkin dia sedang mengerjai kami.

Luis memang sering begitu.

Kok bisa kau dengar musik begini?

Bro,

ini seni, Saudaraku.

Sesuatu yang tak akan kau pahami. Oke?

Ya, tentu. Musik begini,

lalu Beethoven.

Luis lagi apa, sih?

Mungkin dia di luar

sedang ngocok.

LUIS!

Berhenti ngocok!

Bro, ini pasti

sama kayak waktu itu,

dia mau mengerjai kita

dan menyembunyikan kantong tidurku

selama tiga jam.

Di Shenandoah.

Bajingan bodoh.

Luis.

Si Paling Cemen Sedunia.

Kau di mana, sih?

Sumpah, kalau kutemukan kau...

Di luar gelap.

Siapa peduli?

Menurutmu dia jatuh?

Entahlah, Bung.

Awas kalau dia mengerjai kita.

Sumpah.

Kita harus menjemput...

Apa?

Kita harus menjemputnya.

Sudah cukup lama.

Baiklah.

Kau yang pimpin jalan, Bro.

Aku?

Kau pegang senter.

Sialan.

Gelap sekali, tak kelihatan apa-apa.

Luis, kau di mana, Bung?

Jangan berengsek, Bung.

Ini sudah kejauhan.

Ya, aku tak bisa lihat apa-apa.

Sial.

Kita harus bagaimana?

Ini tidak lucu, Bung.

Sial, gelap sekali.

Kita tak akan menemukannya.

Ayo kembali ke api unggun.

Luis, kalau ini cuma lelucon,

sumpah...

Tuhan, tolong aku!

Astaga.

Bisa ceritakan sedikit lagi

soal Pine Hollow?

Seperti apa tempatnya. Rasanya di sana.

Kosong.

Dan sunyi.

Nyaris damai, dalam satu sisi.

Kau dengar itu, kan?

Ray.

Ya.

Sepertinya dari

arah sana.

Entahlah.

Mungkin itu dia.

Ya, terus kenapa dia tak menjawab?

Luis?

Luis!

Sialan.

Ayo.

Kenapa dia sampai sejauh ini?

Entahlah. Mungkin dia jatuh.

Atau...

Sial.

Apa itu?

Kameranya.

Gawat.

Baterainya habis.

Kok bisa

sampai di sini?

Itu dari belakang kita, kan?

Bukan, lebih dekat.

Dan ketukannya?

Selalu tiga kali.

Bunyinya hampa seperti

batang pohon mati.

Kadang terdengar dari jauh.

Kadang cukup dekat

sampai terasa di dada.

Orang-orang tua dulu bilang

itu hutan yang menjawab.

Legenda Lacuna bercerita tentang roh

yang menggemakan jiwa kita sendiri.

Seolah hutan sedang mempelajari kita.

Saya ingat paman saya bilang,

kalau kau ada di sana dan mendengarnya

memanggil namamu,

jangan dijawab.

Jadi, tak pernah saya jawab.

Sumpah, Ray, aku dengar dia. Oke?

Luis.

Kedengarannya seperti Luis.

Aku serius, di luar sana.

Aku tak dengar apa-apa, Bung.

Tapi aku dengar.

Dia memanggil namaku.

Lalu kenapa dia tak menjawab

waktu kau memanggilnya?

Entahlah, Bung.

Oke, tapi ini pasti salah satu leluconnya.

Sumpah, akan kuhajar dia.

Tidak.

Dia tak akan di luar semalaman tanpa ranselnya.

- Oke. - Jadi, menurut kita bagaimana?

Dia terluka?

Bisa jadi.

Dengar, kita tak bisa terus berkeliaran di sini.

Baiklah, kita tunggu satu malam lagi.

Kalau pagi dia belum kembali,

kita berkemas dan kembali

ke pos jagawana.

Baiklah.

Satu malam lagi.

Kau masih merekam?

Ya.

Ada yang tidak beres, Bung.

Ray?

Luis.

Kau sedang apa, Bro?

Ayolah, Luis.

Cuma mau lihat aku kencing?

- Tak apa. - Sebentar.

Kalau kau mau lihat aku

kencing, kenapa

bilang saja, Ray?

Kau ke mana?

Ray.

Bro.

Ray, kenapa kau mengajakku

main cari harta karun?

Kau di mana?

Luis.

Kemari.

Ray, kau sedang apa?

Luis.

Jared?

Bro, ini tidak lucu.

Ini tidak lucu.

Apa itu?

Apa itu tadi?

Jareeed.

Luis.

Sialan.

Luis? Jangan main-main, Bung.

Luis, apa-apaan ini, Bro?

Luis?

Sial!

Luis, berhenti main-main, Bung.

Sial.

Jareeed.

Apa Anda pribadi yakin

Raymond berkata jujur?

Ya,

dia tidak berbohong.

Saya kenal pembohong. Mata gelisah, detail berlebihan.

Dia hanya hancur.

Apa yang terjadi di Pine Hollow,

saya tak benar-benar tahu.

Pine Hollow punya reputasi.

Ada berbagai macam cerita dan sejarah

sejak zaman penduduk asli Amerika.

Saya tak tahu mana yang benar,

tapi saya tahu

orang menghilang di hutan itu

setiap tahun.

Sebagian salah ambil jalur,

dehidrasi,

linglung, mayatnya

ditemukan jauh dari perkemahan.

Kebanyakan tak pernah ditemukan.

Seolah mereka lenyap begitu saja.

Hanya Bell yang pernah saya lihat

berhasil keluar.

Apa pun yang terjadi di sana,

apa pun yang dia lihat

atau dengar,

itu berat untuk ditanggung seumur hidup.

Oke.

Lampu merah menyala,

kurasa sedang merekam.

Baik, Jared

dia, entahlah,

dia lari ke dalam hutan begitu saja.

Aku mencoba menyusulnya, tapi ada sesuatu.

Ada sesuatu di luar sana.

Sesuatu yang...

Aku tak tahu.

Apa yang terjadi?

Ray.

Sial.

Jangan.

Sial!

Ayo.

Apa-apaan ini?

Sampai jumpa nanti, Ray.

Ada perkembangan malam ini terkait tiga

pendaki yang hilang di Pine Hollow.

Salah satu dari mereka

ditemukan hidup

setelah beberapa hari

di hutan dekat Rute 322.

Info lebih lanjut menyusul

seiring penyelidikan.

Apa yang terjadi saat fajar?

Saya kemasi apa yang bisa saya

bawa, lalu pergi.

Teman-teman Anda?

Tak ada.

Tak ada tanda keberadaan mereka.

Seolah mereka

lenyap begitu saja.

Saya sudah tidak bertugas

di sana saat kejadian itu.

Tapi saya masih kenal beberapa orang lama

di tim pencari.

Kata mereka itu buruk.

Sangat buruk.

Tiga sahabat pergi.

Hanya satu yang kembali.

Tak ada perlawanan,

tak ada jejak kaki, tak ada darah.

Hanya kemah kosong.

Raymond.

Yang berhasil keluar.

Dia bilang sesuatu

mengambil teman-temannya, tapi tak ada yang paham maksudnya.

Saya rasa ada seseorang,

atau sesuatu di hutan ini

yang tak semestinya ada.

Dan ia cerdas.

Lebih cerdas dari dugaan orang.

Mungkin ia tak membunuh untuk makan.

Mungkin ia membunuh agar orang menjauh.

Bisa ceritakan bagaimana

legenda Lacuna ini bermula?

Ya. Ini salah satu kisah

paling kelam yang beredar

di wilayah New Jersey ini,

meski usianya jauh

lebih tua dari pendatang.

Suku Lacuna,

yang dulu tinggal di sini,

bercerita soal anak yang dituduh

mencuri kalung pirus

milik keluarga kepala suku.

Dia tak bersalah,

dan salah satu tetua melihat pencuri sebenarnya,

anak kepala suku, tapi dia diam.

Saat mereka membakar

anak itu hidup-hidup,

matanya tak lepas

dari tetua itu.

Konon matanya

tak berkedip saat dia mengutuk

tanah ini.

Dia bersumpah kembali sebagai apa saja

dan segalanya.

Kata-katanya sulit diterjemahkan,

tapi maknanya

menghantui,

gagasan bahwa rohnya tak lagi

terikat pada satu tubuh,

bahwa dia bisa jadi banyak wujud.

Dalam legenda itu,

rohnya meniru suara

dan wajah orang lain,

sebuah pantulan, peniru.

Ia tidak mengejar korbannya.

Ia memanggil dengan suara orang yang dicintai

sampai mereka berjalan

ke hutan dengan sukarela.

Dalam beberapa versi cerita,

kata-kata terakhirnya adalah

"Mah wikanen taku sni,"

yang artinya

"Yang ditandai takkan pernah pergi."

Apa Anda mau kembali ke sana?

Sudah pernah, sudah merasakannya.

Ada kaus sebagai bukti.

Tapi saya tak melihat

alasan untuk kembali.

Jujur, saya rasa tak sanggup.

Apa pun yang terjadi di sana,

saya takkan pernah sama lagi.

Kenapa Anda bilang begitu?

Karena di sanalah semuanya bermula.

Dan berakhir.

Bisa dijelaskan?

Sebenarnya, tidak.

Kita selesai di sini.

Kalian bisa keluar sendiri.

Saya lepas mikrofonnya.

Ray, terima kasih atas waktunya.

Terima kasih.

Apa ini?

Ia masih di luar sana.

Dia bilang apa?

Katanya ia masih di luar sana.

Apa itu?

Peta.

Ya, Minggu aku sudah pulang.

Aku menyayangimu. Dah.

Atau lebih cepat kalau Tyler kami bunuh.

Aku dengar itu.

Baik, log keberangkatan hari pertama.

Kami berangkat dari jalur

Pine Hollow.

Kami mulai dari sini karena

sejauh inilah orang

boleh masuk naik mobil.

Bekas perkemahan Raymond Bell

sekitar 3 km dari jalan, dekat punggung bukit,

lewat jalan tua.

Bro, kau merekam ini?

Bukannya kita harus hemat baterai?

Chris, kita mendokumentasikan prosesnya, bukan cuma temuannya.

Ayo. SRT.

SRT?

Selalu Rekam Terus!

Iya.

Asal jangan rekam bokongku

saat aku mengangkut 14 kg peralatan.

Ian, kalau butuh pendapatmu,

nanti kuminta.

Baik.

Kalian siap?

Ya.

- Bingkainya pas? - Ya.

Taruh rokoknya.

Tapi, ya.

Aku tak akan buang puntung,

kutaruh di saku belakang.

Kami berada di pintu masuk jalur Pine

Hollow. Bekas perkemahan Raymond Bell,

tempat Jared dan Luis beristirahat terakhir,

ada beberapa kilometer di belakang.

Jadi, Kawan-kawan,

ada kata terakhir sebelum masuk?

Ya, ayo jalan sebelum

aku berubah pikiran.

Dan kami berangkat.

Untuk mencari Makhluk Hutan Pinus.

Bagaimana?

Tempat ini bagus.

Rata.

- Pasang tenda? - Ya, aku capek sekali,

jadi ini pas.

Pendakian berat.

Selalu mengeluh.

Aduh, punggungku.

Hei, ambil ini. Aku mau pasang di tripod.

Chris,

tolong pasang

GoPro-nya?

- Oke. - Pasang satu

di pohon itu.

Yang itu?

Ya, kurasa sudut lebar mengarah ke bawah.

- Oke. - Mungkin bagus.

Lalu ini

pakai sensor gerak.

Jadi kalau ada gerakan,

otomatis mulai

merekam.

Kedengarannya kau ingin sesuatu terjadi.

Ian, aku tak ingin apa pun terjadi.

Aku berharap dapat bukti.

Itu beda jauh.

Kau pikir sesuatu bakal masuk ke perkemahan?

Chris, entahlah,

tapi kalau malam nanti kita dengar sesuatu,

aku ingin bisa memutar ulang

dan lihat apa itu.

Masuk akal.

Kau juga bilang mau GoPro di setiap

tenda, kan?

Ya. Satu di tiap tenda.

Oke.

Taruh di belakang,

menghadap ke pintu.

- Oke. - Bagaimana?

- Ya. - Dan suaranya?

Biarkan merekam.

Sepanjang malam?

Ya.

Ian, Selalu Rekam Terus.

Bro, kita bikin dokumenter,

kita tak tahu apa yang bakal dipakai.

Biarkan saja menyala.

Bakal boros baterai.

Aku mau pergi sebentar,

merekam sedikit transisi.

Kau mau bantu?

Tidak usah. Cuma...

Begini saja.

Bantu Chris menyalakan api

setelah urusan GoPro.

Bagaimana?

- Ya. Boleh. - Baik, nanti kita ketemu lagi.

Kau bawa tenda besar?

Meski kata mantan istrimu,

ukuran tak penting, Chris.

Aku tak mau berada

di tempat lain dengan orang lain.

Ralat.

Kuharap putraku di sini.

Tapi Chris dan Ian

pengganti yang hebat,

meski sedikit lebih banyak mulut.

Ya.

Bekerja dengan Tyler sungguh menyenangkan.

Tak ada yang lebih kusukai.

Rasanya melaju 106.000 km/jam

menembus Negeri Dongeng.

Aku menganggap diriku

agnostik dalam urusan

hal-hal gaib.

Bisa saja nyata.

Aku cuma belum pernah melihat sendiri

yang bikin aku percaya.

Kami berada di Hutan Negara

Pine Hollow,

tempat Raymond Bell

dan teman-temannya...

Terlalu kaku.

Ayo.

Mustahil, Bro.

Bilang kita dapat itu.

Tidak mungkin.

Hei, Bro, kau dengar itu?

Bro, kita dapat itu.

Kita pasti merekamnya.

Apa-apaan...

Oke. Ada yang lagi sensi berat

pagi ini.

Ketukan tadi gila.

Kau dengar?

Dengar?

Bro, aku merekamnya.

Tiga kali. Jelas sekali.

Dan polanya khas.

Bilang, Chris.

Ya.

Seram sekali.

Angker sekali.

Persetan kau dan kudamu

sama nenek moyangmu.

Kayaknya kita butuh kayu lagi.

Baik,

Ian, ambil ini.

Lakukan sesuatu.

Cobalah berguna, tolong.

Makan roti sosis tak dihitung?

Makin sedikit "sosis" makin bagus.

Kita sedang bikin dokumenter.

Kurasa kau tak paham

internet.

Dia pasti dengar ketukannya.

Dia cuma 15 meter dariku.

Tak mungkin dia tak dengar.

Sungguh, akrobat logika

yang dia lakukan untuk membantah sesuatu

luar biasa.

Baik. Kita putar musik.

Ambil rekaman yang berguna.

Semoga berguna buatmu, Tyler.

Sangat berguna.

Hai, kalian.

Dapat sesuatu?

Kawan-kawan?

Kalian mengerjaiku?

Hentikan. Mataku bisa rusak.

Apa-apaan?

Itu tak masuk akal.

Kau bicara seperti orang yang gampang mewek.

- Apa? - Lebih masuk akal?

Oke.

Kalian mengerjaiku tadi?

Apa?

Aku sedang mencari itu.

Kalian mengerjaiku?

Kau bicara apa?

Lupakan.

Oke.

Kau dapat rekaman yang berguna?

Ya, banyak sekali rekaman berguna.

Bro, kurasa maksudnya bukan

rekaman semacam itu.

Kita bisa sekalian cari uang di Pornhub.

Nah, sekarang dia paham

internet.

Tyler?

Chris?

Coba rekam ini.

Kalian mengerjaiku

semalam?

Kau bicara apa?

Ada yang buka risleting tendaku.

Kukira kalian mengerjaiku.

Tapi saat aku keluar, tak ada siapa-siapa.

Aku tak berbuat apa-apa. Kau?

Tidak, aku tak ada hubungannya.

Aku di tendaku.

GoPro-mu masih menyala?

Ya, seharusnya.

Baik, ambil sana, Bro.

Itu jelas sesuatu.

Agak menyeramkan.

Tapi bisa jadi ada orang

yang mengerjai kita.

Inilah yang kita cari, Kawan-kawan.

Ayo.

Baik,

aku mau terbangkan drone.

Ambil rekaman dari atas. Oke?

Tunggu, kau mau pergi sendirian?

Ya. Tak akan jauh.

Masih terjangkau.

Biarkan kamera merekam.

- Oke? - Oke.

Ya, benar.

Dan soal GoPro itu,

kami benar-benar nyaris.

Aku tak percaya

makhluk itu menjatuhkannya.

Maksudku, Chris,

Ian, mereka pasti bilang

itu angin.

Pasti angin.

Itu angin.

Itu jelas angin.

Tapi itu jelas

tindakan cerdas dari makhluk cerdas.

Kami makin dekat.

Entahlah, Bung,

soal tenda itu.

Aku terus memikirkannya.

Kenapa, kau takut?

Sedikit.

Ya, aku tahu.

Kita bisa saja berkemas,

bilang kita sudah dapat yang perlu.

Lalu kabur dari sini!

Kita tak bisa pergi.

Kalau kita pergi, dia bakal kembali ke sini sendirian.

Memangnya kenapa?

Ayolah. Kita tunggu satu malam lagi,

lalu kita

kabur dari sini.

Satu malam lagi.

Cuma itu jatahnya.

Hei, Kawan-kawan!

Dia kembali.

Apa?

Aku dapat sesuatu, Sayang.

Apa? Maksudmu sesuatu apa?

Lihat saja nanti, Kawan.

Chris, kau mau apa?

Bro?

Aku mau mendaki keluar lewat jalur sampai

dapat sinyal, lalu minta bantuan.

Kau bercanda?

Bro, di luar gelap gulita.

Lehermu bisa

patah.

Lebih baik leherku patah di sana

daripada di sini menunggu nasib seperti dia.

Ayolah, Bro,

kita tunggu sampai fajar.

Kita bisa cari dia bersama.

Bro, kau tak mengerti,

dia tidak sekadar bangun

lalu keluar dari tenda.

Sesuatu mengambilnya.

Kau tak tahu itu.

Ayolah. Berpikir positif.

Aku tahu.

Tempat ini terkutuk.

Harusnya kita tak pernah ke sini.

Sialan! Chris, kalau kau pergi sekarang,

aku tak akan menyusulmu.

Baik.

Semoga beruntung.

Bajingan.

Bro, terus rekam saja.

Oke?

Kita ketemu di mobil besok pagi.

Jangan pergi.

Paham?

Kau harus ada.

Ian?

Bro, kau di mana?

Ian, kau di mana? Ayolah.

Ian, bilang sesuatu.

Ayolah, Bung.

Serius, Ian.

Ian!

Bro. Tunggu, Bung.

Bro, Ian.

Bro, kau mau ke mana?

Ayolah, Ian!

Ikuti punggung bukit.

Ambil ponselmu.

Lalu kabur dari sini.

Chris.

Sial.

Terus bergerak.

Sial.

Apa-apaan?

Ya Tuhan. Apa-apaan ini?

Astaga.

Apa ini?

Ray?

Lalu siapa yang kami wawancarai?

Siapa di sana?

Sial.

Apa?

Kudengar kau.

Siapa itu?

Tyler?

Siapa di sana?

Siapa itu?

Sial!

Sial.

Mah wikanen

taku

sni.

Dalam legenda itu,

rohnya meniru

suara dan wajah orang lain,

sebuah pantulan, peniru.

Ia tidak mengejar korbannya.

Ia memanggil dengan suara orang yang dicintai

sampai mereka berjalan

ke hutan dengan sukarela.

Dalam beberapa versi cerita,

kata-kata terakhirnya adalah "Mah wikanen taku sni,"

yang artinya

"Yang ditandai takkan pernah pergi."

Apa pun yang terjadi di sana,

saya takkan pernah sama lagi.

Sekelompok pembuat dokumenter dilaporkan

hilang di Pine Barrens, perkemahan mereka

tanpa tanda-tanda

kejahatan.

Kamera dan alat audio

ditemukan di dekat sana

dan diserahkan ke pihak berwajib.

Pine Hollow tak peduli

Anda percaya atau tidak.

Ia mendengarkan.

Ia belajar.

Dan saat ia memanggil nama Anda,

jangan dijawab.

Rumor beredar di internet

bahwa Netflix dan Paramount

terlibat perang tawaran

untuk hak atas kisah ini

dan rekamannya.

Dan kini ke John di meja olahraga, Devils

mengalahkan Flyers 6-1.

Alih Bahasa: Syahroel

DUKUNG TERUS SAYA DI: https://trakteer.id/syahr0el

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.