Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SEMUA ORANG WAJIB MELINDUNGI KARYA ASLI
Tolong pertimbangkan lagi.
Aku sudah setuju bayar lunas. Aku tidak bisa terus mengalah.
Total 3,98 juta yuan.
Lebih dari itu, aku tidak mau.
Baik. Hati-hati, Pak.
Selisihnya hanya 100.000 yuan.
Bagaimana kalau Kakak mengalah saja?
Keluarga pemilik rumah sampai datang untuk bernegosiasi.
Mereka cukup tulus.
Aku bisa coba menegosiasikannya sampai 4,05 juta yuan.
Pemilik rumah ini terlalu serakah.
Begitu dengar aku setuju bayar lunas, dia langsung menaikkan harga.
Lihat saja, kalau aku setuju, dia pasti akan menaikkan harganya lagi.
Lagi pula, dia sudah membatalkan kontrak daringnya.
Biar saja dia menunggu dua hari.
Aku sering bernegosiasi.
Aku paham pola pikir penjual seperti ini.
Tapi putranya terus membujuknya agar tidak menjual.
Katanya, dalam dua tahun ini, harga rumah turun drastis.
Lebih baik tunggu dua tahun sampai harganya naik lagi.
Kesempatan seperti ini jarang ada, Kak.
Kelihatannya pacarmu cukup royal.
Justru karena pacarku royal, aku tidak boleh ikut sok royal dan boros.
Zhu, mohon bantuanmu
untuk sering meneleponnya dan bantu tekan harganya.
Kalau ada apa-apa, hubungi aku lagi.
- Baik. - Terima kasih atas bantuannya.
Aku pergi dulu.
Sejumlah platform koleksi digital seperti Benyuan dan Yuanzhou
berturut-turut mengalami masalah serius.
Menurut data, ada lebih dari 300 laporan terkait.
Pihak kepolisian menaruh perhatian serius
dan memulai penyelidikan serta penanganan.
KOLEKSI DIGITAL ANJLOK 10%
Halo, aku sudah melihat beritanya.
Apa kalian sudah mulai bergerak?
Bukan aku. Hanya kebetulan.
Bahkan terjadi beberapa bulan lebih awal dari rencanaku dan Du.
Tapi melihat Wen Ruosen yang terus berekspansi habis-habisan,
munculnya masalah keamanan seperti ini hanya soal waktu.
Kalau begitu, seluruh rencana harus dipercepat.
Apa yang bisa kubantu?
Tidak perlu.
Kau sudah cukup sibuk
dengan proyek dan urusan rumahmu.
TIANNA
Tunggu. Ada telepon masuk. Jangan tutup dulu.
Halo, Tianna. Ada apa?
Ya, benar. Itu…
Akan segera kuselesaikan dan kukirim.
Tianna baru saja menelepon.
Sekarang, aku harus menyelesaikan revisi sebuah dokumen
dan mengirimkannya sebelum pesawat lepas landas.
Tadi malam aku terus menawar harga dengan pemilik rumah sampai lupa soal ini.
Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tutup dulu.
Baik.
Tunggu, Chi.
Aku ingatkan lagi, jangan terlalu memaksakan diri.
Aku agak khawatir padamu.
Aku mengerti. Aku baik-baik saja.
Setidaknya beri aku kesempatan untuk belajar darimu.
Bukankah kau jauh lebih sibuk? Tenang saja.
Baik.
Pokoknya, jaga dirimu baik-baik.
Begitu tiba di Shenzhen, jangan lupa kirim pesan.
Sebenarnya ada masalah apa sampai harus datang mencariku sekarang?
Aku sakit.
Kalau ada sesuatu, langsung saja bilang. Setelah itu, cepat pergi.
Aku mengidap penyakit yang cukup serius.
Silakan duduk.
Biar kuceritakan kondisiku pelan-pelan.
Mau tahu seperti apa itu botak pitak?
Ini aku dua tahun lalu.
Saat itu, perusahaan kehabisan dana dan hampir tidak sanggup bertahan.
Setiap hari aku mencari investor model ventura.
Suatu hari, saat dalam perjalanan menemui seorang manajer modal ventura,
aku baru sadar rambutku rontok pitak.
Pukul 07.00,
aku mendatangi salon demi salon
memohon agar mereka mau mencukur kepalaku sampai botak.
Apa hubungannya semua ini dengan penyakitmu?
Dengarkan dulu sampai selesai.
REKAM MEDIS RAWAT JALAN
Ini hasil diagnosis medisku.
Aku mengidap tukak lambung yang cukup parah.
Pencernaanku juga bermasalah.
Rasanya aku ingin mengurung diri di toilet selama 24 jam sehari.
Terkadang sampai tiga atau lima hari aku tidak bisa keluar rumah.
Ini kartu identitasku,
kartu keluarga, dan ijazahku.
Ini keluargaku.
Ayah dan ibuku bercerai saat aku masih kecil.
Ayahku kabur bersama wanita lain.
Belakangan, hubunganku dengan ayah tiriku tidak baik.
Ini dua teman baikku.
Sahabat terbaik.
Masih ada lagi.
Terakhir,
aku mau memperkenalkan sesuatu yang penting.
Sun Wukong kesayanganku.
Sejak kelas tiga SD,
aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi.
Aku sudah selesai.
Aku sudah dengar semua ceritamu, tapi tetap tidak mengerti.
Apa hubungannya semua yang kau katakan ini denganku?
Tentu ada hubungannya denganmu.
Dulu kau bilang tidak mau menerimaku
karena ingin menjaga harga dirimu.
Sekarang aku mengerti.
Sebenarnya karena saat kita baru saling kenal,
pekerjaanmu sedang tidak berjalan baik.
Setiap hari kalau bukan sibuk mengurus perceraian,
kau bolak-balik ke rumah sakit.
Semua sisi terburukmu sudah kau tunjukkan padaku.
Jadi, hatimu merasa canggung.
Sekarang aku sudah menunjukkan diriku yang sebenarnya.
Aku memberitahumu kalau hidupku penuh masalah.
Sekarang kita impas.
Sebenarnya aku sama sekali tidak sehebat yang kau bayangkan.
Aku juga pernah terpuruk dan terlihat menyedihkan.
Setiap kali bangun tidur, aku punya segudang masalah.
Aku akan jujur padamu.
Demi Bolo,
rumahku sampai sekarang masih dijaminkan ke bank.
Kalau suatu hari Bolo mengalami masalah
seperti platform koleksi digital itu,
mungkin
uang untuk transplantasi rambut pun akan lenyap.
Aku berbicara begitu banyak
karena ingin memberitahumu…
Aku sungguh menyukaimu.
Dulu, yang kusukai adalah
dirimu yang berpura-pura tegar di hadapanku.
Sekarang, yang kusukai adalah
dirimu yang meski dihantam seratus kali,
tetap mencari segala cara
untuk menjalani hidup sebaik mungkin.
Bisakah kau memberi kesempatan padaku
dan dirimu sendiri?
Kau bawa lipstikmu, aku bawa mainanku.
Kita minum bersama, makan hotpot,
lalu berlibur bersama. Bukankah itu jauh lebih menyenangkan?
Sudahlah, jangan bicara lagi.
Baik.
Aku tidak bicara lagi.
Aku langsung bertindak.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
PESAN
BARU KALI INI AKU BERTERIMA KASIH ATAS KENCAN BUTA YANG DIATUR IBU SURI
Zaman sekarang masih ada yang kirim MMS?
Baru kali ini aku berterima kasih atas kencan buta yang diatur Ibu Suri.
Tianna yang cantik, senang berkenalan denganmu.
Kencan buta?
Sebenarnya ada apa? Dari pagi sikapmu aneh sekali.
Tadi malam aku kurang tidur.
Jangan bohong. Kau tidak pernah bersikap begini padaku.
Sungguh, tidak ada apa-apa.
Kau mau terus begini, ya?
Kalau masih tidak mau terus terang, kita putus saja.
Baik.
Apa kita pernah pacaran?
Kalau begitu, mau putus dari apa?
Sebenarnya ada apa denganmu?
TIANNA YANG CANTIK, SENANG BERKENALAN DENGANMU
Dengarkan dulu penjelasanku. Sebenarnya begini.
Aku memang pernah makan bersama Shen Jin.
Aku sempat bercanda dengannya soal Kak Lin.
- Lalu… - Kalian dijodohkan?
Kau sedang menyalahkanku?
Kau tahu,
keluargaku punya banyak acara sosial yang tidak bisa kuhindari.
Jangan bersikap begini, ya?
Aku jadi teringat sesuatu.
Aku punya dua sahabat
yang sama-sama menarik.
Yang satu pria licik yang penuh siasat.
Dia tahu pacarnya dijodohkan dengan pria lain.
Dia masih berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa,
lalu tetap bersikap lembut padanya.
Dia bahkan memanfaatkan rasa bersalah pacarnya
untuk meniduri, menghamili, lalu menikahinya.
Setelah itu, misinya pun berhasil.
Temanku yang satu lagi lebih biasa.
Dia bisa merasa kesal, tidak senang, bahkan marah.
Dia akan bertanya-tanya, selama ini,
sebenarnya hubungan seperti apa yang dia jalani
sampai-sampai pacarnya tidak pernah mengakui keberadaannya
di depan rekan kerja dan teman-temannya.
Bahkan, dia menganggap kencan buta hanya sebagai pergaulan biasa.
Dua temanku ini menarik, 'kan?
Kalau disuruh memilih, kau akan pilih yang mana?
Dua temanmu ini cukup menarik.
Benar, 'kan?
Jadi, kau mau bertengkar denganku?
Kalau begitu, aku tanya.
Bukankah Xu Chi teman kita?
Bukankah Xu Chi tahu tentang hubungan kita?
- Begitu juga Ye Xinzhi… - Aku tidak ingin bertengkar.
Aku hanya ingin kau memberitahuku,
dari dua Zhao Heng ini,
kau lebih suka yang mana?
Kau…
Shen Jin, jelaskan! Sebenarnya apa maksudmu?
Jangan marah dulu.
Nanti kau akan berterima kasih padaku.
BU TIANNA - MAXMISE
Halo.
Belakangan ini, Wen Ruosen sedang banyak masalah.
Ada apa?
Wen Ruosen sepertinya akan terjerat kasus pidana.
- Benarkah? - Benar. Lihat ini.
Setelah digugat, dia kembali terseret
ke kasus beberapa platform yang bermasalah.
Benar. Selain itu, para pembeli beramai-ramai
mendatangi galerinya untuk menuntut hak mereka.
Mereka bilang, dia dan platform itu
bekerja sama melakukan transaksi berdasarkan informasi orang dalam.
Maaf, boleh kulihat sebentar?
Terima kasih.
Terima kasih.
Xinzhi, ini aku. Soal Yuanzhou…
Ya, kali ini kami yang melakukannya.
Du memantau opini publik
dan melihat ada orang yang datang ke galeri untuk menuntut hak mereka.
Jadi, dia membantu menaikkan beberapa topik itu ke pencarian panas.
Aku ingin memberitahumu.
Pagi ini aku ikut menyimak rapat biro pengawas perbankan dan asuransi.
Ada bank yang menyebut mereka sedang menarik pinjaman
dari beberapa perusahaan koleksi yang reputasinya buruk.
Yuanzhou termasuk salah satunya.
Baik. Dengan informasi ini,
aku bisa mulai membocorkan sedikit informasi
pada bank pemberi pinjaman untuk Wen Ruosen di Beijing.
Bagaimana? Inspektur Kelinci hebat, 'kan?
Hebat.
Waktu kau memborgolku dulu, aku benar-benar ketakutan.
Menyebalkan. Aku tidak mau bicara lagi denganmu.
Aku harus lanjut bekerja.
- Nanti kita bertemu setelah aku pulang. - Omong-omong,
bagaimana kau bisa ikut mendengar rapat sektor keuangan?
Kau pergi ke Tianjian lagi?
Mau bagaimana lagi? Proyeknya sudah memasuki tahap akhir.
Minggu depan penyerahan terakhir.
Jadi, aku harus terus bekerja tanpa jeda.
Dua hari ini, aku mungkin hanya tidur sekitar enam jam.
Setengah jam lagi,
aku harus bergegas ke bandara untuk terbang ke Chengdu.
Tapi tetap terasa memuaskan.
Dalam satu rangkaian perjalanan dinas ini, aku menyelesaikan penyerahan
untuk dua kantor cabang.
Tapi di pihak Tianna,
hari ini tidak berjalan lancar.
Salah satu dokumen yang dia serahkan ditolak lagi oleh Tianjian.
Meski di luar dia terlihat tegar,
aku tahu dia pasti terpukul.
Kalau begitu, kirimkan lokasimu.
Untuk apa?
Rubah Tua ingin memesankan mobil premium
yang nyaman untuk kelinci kecilnya
supaya dia bisa tidur nyenyak
di kursi gravitasi nol. Boleh?
Terima kasih.
Pak Ye memintaku membelinya secepat mungkin.
Kebetulan, ada toko bunga di dekat sini.
Silakan, Nona Xu.
Ini ada cokelat panas.
Tuan Ye berpesan agar Nona meminumnya.
Terima kasih.
Ini mubazir.
Aku tidak bisa membawanya ke pesawat.
Justru itu menunjukkan betapa romantisnya Tuan Ye.
Walau hanya setengah jam,
Tuan Ye tetap ingin Nona menikmatinya.
Baik.
Akan kukonfirmasikan dengan mereka.
Baik.
- Kak Xu, kau sibuk? - Ada urusan mendesak. Tolong balas.
Kak Xu, kau sibuk?
- Kak Xu? - Pemilik rumah sudah setuju?
Baik, aku catat dulu.
Kak Xu, akhirnya kau balas juga.
Pemilik rumah belum memberi kabar, tapi ada masalah mendesak lain.
Ini tidak bisa kujelaskan lewat WeChat. Bisa telepon sekarang?
Tidak bisa, aku sedang sibuk. Nanti kuhubungi.
Aku di sini, Pak Zheng. Silakan, Pak.
PAK ZHENG
ZHU - AGEN
Maaf, seluruh perusahaan atau seluruh divisi?
Bukankah sudah kubilang aku sedang sibuk?
Kak, jangan tutup dulu. Ada masalah.
Zhu, aku tidak punya waktu.
Kalau pemilik rumah setuju, baru telepon aku lagi. Aku tutup dulu.
Maaf, Pak Zheng. Tadi ada telepon masuk. Silakan lanjut, Pak.
Berdasarkan pengelolaan cabang Tianjian di Jiangxi…
- Jiangxi? - Ada apa ini?
ASURANSI TIANJIAN
PELATIHAN TRANSFORMASI DIGITAL CABANG JIANGSU TIANJIAN ASURANSI UMUM
Maaf, Jiangsu.
Beberapa hari ini aku terus dinas
sampai kehilangan orientasi.
Maaf.
Selanjutnya, aku akan menjelaskan rekonstruksi sistem penilaian pintar.
Nona, mohon kenakan sabuk pengaman.
Pak, mohon lipat meja kecilnya.
Pak, mohon buka penutup jendela.
Nona, mohon tegakkan sandaran kursi.
Nona, mohon lipat meja kecilnya.
Kak, beritanya sudah keluar. Sekarang bisa kujelaskan.
Rumah Kakak yang nomor 92 dinyatakan berbahaya oleh para ahli.
Sekarang para penghuni sedang dievakuasi.
PENGGALIAN RUANG BAWAH TANAH ILEGAL MENYEBABKAN RUMAH AMBRUK
LUBANG AMBLES TIBA-TIBA MUNCUL DI KAWASAN PERMUKIMAN
BEBERAPA BANGUNAN MENGALAMI KERETAKAN
Para penumpang,
pesawat sedang menembus awan saat menurun
dan mungkin akan mengalami turbulensi. Mohon tidak perlu khawatir.
SEBUAH RUMAH DI JALAN YONG'AN AMBRUK KARENA PENGGALIAN ILEGAL
HINGGA AIR SUNGAI MASUK DAN MENYEBABKAN KERUNTUHAN
SEBUAH LUBANG BESAR MUNCUL DI PERMUKAAN TANAH
DAN SEPULUH BANGUNAN DI SEKITARNYA TERDAMPAK
XU CHI
Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
CA7622, PUKUL 16.35, MENDARAT
XU CHI
Chen, aku tidak jadi ke lokasi rapat.
Pergi ke Jalan Yong'an No.92.
Ada urusan mendadak. Aku tidak bisa datang.
YE XINZHI
- Halo. - Ada apa?
Banyak orang menunggumu untuk rapat, Kak.
Du, tolong pimpin rapatnya dulu.
Aku ada urusan di sini.
Lagi pula, kau lebih paham soal media dan humas.
Apa maksudmu?
Hei, ini pada dasarnya adalah urusanmu.
Akhirnya kita menunggu sampai Yuanzhou meledak.
Aku bahkan mencari orang terbaik di industri
untuk membantumu menggiring opini publik.
Sekarang kau malah bilang tidak datang.
Coba katakan, siapa yang akan menentukan fokus pemberitaan?
Siapa yang akan menyusun strategi selanjutnya?
Strategi dan rencananya hampir selesai kutulis.
Nanti kukirim lewat sur-el.
Jangan! Aku tidak mau baca!
Jangan emosi begitu.
Memangnya ada urusan sebesar apa
sampai kau batalkan janjimu di saat seperti ini?
Tunggu.
Jangan-jangan sesuatu terjadi pada Xu Chi?
Rumah yang hendak dibeli Xu Chi bermasalah.
Apa hubungan rumahnya denganmu?
Kak, bukankah kau membenci Wen Ruosen?
Bukankah kau sampai bermimpi ingin membuatnya
menerima ganjaran atas perbuatannya pada semua korban Jingshang?
Bagaimana mungkin hanya karena masalah rumah seorang gadis, kau malah…
Kau mau menyia-nyiakan segalanya karena masalah sepele itu?
Du,
urusan kita dengan Wen Ruosen
sudah direncanakan selama bertahun-tahun.
Sekalipun saat pemberitaan nanti ada sedikit masalah,
itu tidak akan memengaruhi rencana besar.
Aku menyerahkannya karena percaya padamu.
Anggap saja aku tiba-tiba sakit atau ketinggalan pesawat.
Tolong bantu aku sekali ini, ya?
Apa dia sepenting itu bagimu?
Lebih penting daripada kesempatan balas dendam
yang bertahun-tahun kau tunggu?
Ya.
Karena kebencianku pada Wen Ruosen adalah masa lalu.
Sedangkan dia adalah
masa depanku.
- Semuanya, tenang. - Barangku masih di dalam.
- Kami sedang melakukan inspeksi. - Biarkan kami masuk!
- Mundur sedikit. - Kami harus bagaimana?
- Mundur. Jangan berdesakan! - Biarkan kami masuk!
Kami akan memberikan solusi. Semuanya, harap tenang.
Mundur! Ini demi keselamatan. Di dalam sangat berbahaya!
Kenapa semuanya diambil?
Jangan berdesakan!
Jangan berdesakan!
Mundur sedikit!
Chi.
Ada apa denganmu?
Chi.
Chi, kau tidak apa-apa?
Chi, di sini terlalu ramai.
Kita pulang dulu, ya?
Kita pulang dulu, ya?
Apa katamu?
Aku tidak bisa dengar.
Tidak bisa dengar?
Ada apa denganmu? Chi.
Chi!
Chi!
Bagaimana rapatnya?
Tenang saja. Aku tidak keberatan.
Lain kali, aku pasti hadir.
Bagaimana kondisi gadis kecilmu?
Baru dipasang infus. Dia masih belum sadar.
Pasiennya sudah sadar, tapi emosinya belum stabil.
- Cepat lihat kondisinya. - Tunggu sebentar.
Apa kau lihat laptopku?
- Laptopku… - Kau sudah sadar.
Kau mengalami barotrauma telinga.
Dokter bilang sudah ditangani.
Apa katamu? Aku tidak bisa dengar.
Belum bisa dengar?
- Ya, masih perlu dipantau. - Ada apa denganku?
Ada apa dengan telingaku? Aku tidak bisa dengar.
- Aku tidak apa-apa, 'kan? - Tidak apa-apa. Tenang.
KAU MENGALAMI BAROTRAUMA TELINGA, DOKTER BILANG SUDAH DITANGANI
TAPI KAU HARUS BANYAK ISTIRAHAT. AKU DI SINI, JANGAN TAKUT
Tidak apa-apa, aku tidak takut.
Aku sehat.
Aku pasti akan baik-baik saja setelah tidur.
Ya.
Mana laptopku? Di dalamnya ada dokumen yang baru saja kurevisi.
- Laptopmu ada di sini. - Besok aku harus ke kantor.
- Iya. - Biarkan aku pulang, ya?
Jangan takut. Istirahat dulu yang baik.
Aku akan menemanimu. Dengarkan aku, ya?
AKU AKAN MENEMANIMU
AKU DI SINI
YA?
IGD
Kutemani kau.
Tidurlah.
BAROTRAUMA TELINGA
OTITIS MEDIA AKIBAT BAROTRAUMA
DISFUNGSI TUBA EUSTACHIUS AKIBAT PERUBAHAN TEKANAN LUAR YANG CEPAT
Dasar berengsek.
Sialan.
Aku tidak punya apa-apa lagi.
Ibu masih ada aku.
Chi, aku tidak punya apa-apa lagi.
Sekarang aku tidak bisa mendengar sama sepertimu.
Menangislah dengan keras.
Kutemani kau.
BOLING
Kau sudah lihat?
Tadi kau benar-benar keren sekali.
Benar, 'kan?
Tahu kenapa lemparanku akurat?
Kenapa?
Ternyata boling ada gunanya juga.
Tahu kenapa aku jago bermain bola?
Kenapa?
Coba raba.
Sudah pernah kuraba.
Kita keluar untuk bersenang-senang.
Tidak bagiku.
Aku keluar untuk bekerja. Kau yang memaksa ikut.
Kalau bukan karena aku sengaja memindahkan konferensi telepon ke siang hari,
barulah aku bisa mencuri waktu untuk menemanimu.
Kita baru saja mulai pacaran.
Harus ada sedikit momen spesial, 'kan?
Kalau menurutku,
bagaimana kalau kau keluar saja dari Maxmise?
Bergabunglah dengan perusahaanku.
Shen Jin, kukira
kau berbeda dari mantan suamiku.
Bukan begitu. Aku hanya asal bicara.
Kau tahu sendiri kemampuan Bolo.
Aku hanya takut kau terlalu kelelahan.
Tapi aku tidak suka orang lain mengatur hidupku.
Boleh?
Boleh.
Ya.
Xinzhi.
Xinzhi, tas laptopku mana?
- Aku harus ke kantor. - Tidak perlu pikirkan itu.
Aku sudah meminta izin pada Sha Sha.
Tidak bisa. Pukul 09.10, aku harus menghadiri rapat.
Kau sudah bisa mendengar?
Dia masih merasa berdenging dan tersumbat.
Tapi bisa berkomunikasi.
Suhunya 37,9 derajat.
Dia masih muda, akan cepat pulih.
Baik, Dokter Liu. Tenang saja.
Nanti akan kubawa dia ke sana untuk infus.
Tidak boleh bekerja.
Aku tidak apa-apa. Rapat ini benar-benar penting.
Dokter Liu bilang, turbulensi biasa tidak akan menyebabkan barotrauma.
Masalah pada telingamu
pasti berkaitan dengan kelelahan atau tekanan yang kau alami.
Sekarang aku sudah sembuh.
Hari ini aku ada rapat,
tapi aku bisa berhenti sehari. Kenapa kau tidak mencobanya?
Berhenti sebentar. Dunia tidak akan berhenti berputar.
Mari.
Nikmati dengan baik.
Chi.
Kurasa aku benar-benar harus bicara serius denganmu.
Aku tahu apa yang ingin kau katakan.
Sebenarnya aku sudah mengevaluasinya.
Masalah terbesarku kali ini adalah aku terlalu percaya diri.
Sebelumnya kau terus menyuruhku
memanfaatkan kesempatan dan segera bertindak.
Tapi aku tidak terima pemilik rumah tiba-tiba menaikkan harga.
Aku ingin memamerkan kemampuan negosiasiku.
Lalu, aku lupa memperhatikan situasi di luar.
Karena itulah semua ini bisa terjadi.
Chi.
Aku ini pacarmu,
bukan atasanmu.
Kau tidak perlu melaporkan kesalahanmu.
Aku tahu. Aku tidak bermaksud begitu.
Untung saja rumah itu belum kubeli.
Kalau tidak, begitu rumah itu dinyatakan berbahaya,
semua uangmu pasti akan ikut hangus.
Uang sama sekali tidak penting.
Kesehatanmu jauh lebih penting.
Telingamu bermasalah.
Itu seperti peringatan dari Langit.
Kau tidak boleh terus begini.
Tubuhmu benar-benar bisa ambruk.
Tapi aku sudah berjanji kalau hari ini aku tidak akan bekerja.
Bukan hanya hari ini.
Kau biasanya terlalu memaksakan diri.
Kau selalu ingin menang dalam segala hal.
Diam-diam kau juga bersaing dengan Bu Tianna.
Dia lebih dulu menjadi manajer proyek.
Kau benar-benar sulit menerimanya?
Tidak ada orang yang tidak pernah gagal.
Konsultan yang belum terbiasa dikalahkan atau dilampaui orang lain
belum bisa disebut berpengalaman.
Tapi aku gagal.
Agen bilang rumah berbahaya tidak bisa diperjualbelikan.
Rumah ibuku itu tidak akan pernah bisa kubeli kembali.
Kenapa kau bilang kau gagal?
Apa rumah itu sungguh sepenting itu bagimu?
Tentu saja.
Itu rumah yang diinginkan ibuku semasa hidupnya.
Itulah seluruh rasa amanku.
Kalau dilihat dari sudut pandang orang luar,
sekarang rumah itu tidak lagi bisa memberimu rasa aman.
Dulu, setiap kali terjadi sesuatu padamu,
kau selalu pergi ke rumah kecil itu.
Tapi belakangan ini, selama cuti,
kau bahkan tidak pernah ke sana.
Kalau sedang sibuk,
kau bahkan sampai lupa membalas telepon agen.
Chi.
Apa rumah itu benar-benar tidak tergantikan?
Sebenarnya apa keinginan terakhir ibumu?
Apa dia benar-benar ingin kau membeli rumah itu?
Sebelum ibuku meninggal,
dia hanya berharap aku hidup dengan baik.
Jadi,
kau sendiri yang menjadikan itu sebagai tujuan,
sekaligus belenggu yang mengurung dirimu sendiri.
Bibi pasti berharap kau menjalani setiap harimu dengan bahagia dan sehat.
Bukan kelelahan seperti sekarang.
Tapi kalau rumah itu tidak kujadikan sebagai tujuan,
aku tidak tahu apa arti hidupku.
Kau memintaku tidak memaksakan diri,
tapi kalau tidak lembur, aku bahkan tidak tahu harus ke mana.
Ikut denganku.
Tahu kenapa aku menyewa rumah di sini?
Karena dari sini,
kita bisa melihat hiruk-pikuk kawasan bisnis pusat kota,
sekaligus merasakan hangatnya kehidupan sehari-hari.
Lihat ke sana. Pohon-pohon tua itu.
Begitu musim semi tiba,
ada bunga persik, bunga pir, dan begonia.
Cukup dipotret,
hasilnya bagus sekali.
Di gang sebelah sana, ada salon rambut favoritku.
Penata rambut di sana
cerewet sekali,
tapi ahli memotong rambut.
Lalu, ada taman hijau di sana.
Di sampingnya ada kedai bakpao yang enak sekali.
Isinya berkuah.
Begitu digigit, panas sekali,
tapi lezatnya bukan main.
Chi. Pernahkah kau menikmati semua ini?
Hidupku
sepertinya hanya
kantor, hotel,
gedung perkantoran, dan bandara.
Ke depannya, kubawa kau ikut merasakannya.
Sebenarnya dalam hidup,
ada banyak hal biasa dan sederhana
yang perlu kita rasakan dengan sepenuh hati.
Lupakan saja rumah tua itu.
Biar aku yang memberimu rasa aman, ya?
Aku sudah membelinya sejak lama. Di toko perhiasan di sebelah P&J,
tempat kita pertama kali bertemu.
Maukah kau menikah denganku?
Kuharap
kau jangan merasa aku memanfaatkan keadaanmu yang sedang terpuruk.
Aku…
Aku sungguh senang.
Tapi menurutku, aku belum siap.
Sudah kuduga kau akan bilang begitu.
Ini bisa dipakai dengan dua cara.
Kau bisa memakainya dulu.
Kalau suatu hari kau sudah siap,
baru beri tahu aku.
Sudah dipakai.
Kau suka?
Terima kasih.
Aku harus berterima kasih pada diriku.
Waktu wawancara dulu,
aku tampil luar biasa sampai berhasil menyentuh hati Langit
sehingga aku bisa bertemu denganmu.
Demikianlah hasil penyerahan yang kuselesaikan
untuk empat cabang Tianjian dalam bentuk pelatihan dan lokakarya. Terima kasih.
TERIMA KASIH
Kalau tidak ada masalah, rapat kita akhiri sampai di sini.
Nona Xu. Terima kasih atas kerja kerasnya.
Tidak masalah.
Tianna.
Semoga penyerahan berikutnya bisa berjalan lancar dan efisien seperti hari ini.
Tenang saja, tugasnya pasti kami selesaikan.
Omong-omong,
untuk jamuan perayaan setelah proyek selesai minggu depan,
aku sudah memesannya.
Setelah sekian lama makan di kantin Tianjian,
kalian pasti ingin ganti suasana, 'kan?
Kalau begitu, aku akan bawa dua botol minuman bagus.
Bagaimana? Tubuhmu masih sanggup?
Aku sehat sekali.
Ya ampun.
Ayo.
Tunggu sebentar.
Ini sup tonik herbal lengkap buatan pengasuh di rumahku.
Aku sengaja pulang mengambilnya.
Kau harus menghabiskannya. Jangan sisakan setetes pun.
Kau sengaja pulang untuk mengambilnya?
Sampai segitunya?
Lihat, aku sekarang baik-baik saja. Tidak apa-apa.
Kelihatannya memang cukup sehat.
Ayo.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.