Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SEMUA ORANG WAJIB MELINDUNGI KARYA ASLI
Pagi.
Aku ingin memberitahumu sesuatu.
Kemarin, mereka bilang kau tiba-tiba pergi keluar.
Aku tidak berani meneleponmu dan kau hanya diam.
Jadi,
saat pagi ini aku bertemu Zhao Heng,
aku bertanya tentang keadaanmu.
Kenapa kau tidak berani meneleponku?
Karena aku takut kau berpikir berlebihan.
Bagaimanapun, sebelum masuk tim proyek Asuransi Tianjian,
aku seharusnya sudah memberitahumu.
Tapi aku khawatir tidak bisa menjelaskannya di telepon.
Aku ingin bicara langsung.
Tidak disangka Ma Ke sudah memberitahumu lebih awal.
Bagaimana mungkin aku berpikir berlebihan?
Proyek itu bukan milikku seorang.
Kau jangan berbicara begitu.
Kalau begitu, kita bahas pekerjaan.
Ma Ke memintaku membantumu memahami proyek.
Kau tahu kondisi keluargaku.
Ayahku selalu menganggap
proyek Energi Ande kudapatkan dengan mengandalkan relasinya.
Hari itu, saat kau bilang,
keuangan digital barulah peluang di masa depan,
aku juga ingin mencobanya.
Tidak disangka begitu Pak Pi buka mulut,
aku langsung diminta masuk ke tim proyek Asuransi Tianjian.
Katanya hubungan kita sangat baik, kebetulan bisa bekerja sama.
Jadi,
aku bukan sengaja mau merebut proyekmu.
Tapi kau juga tidak menolak.
Benar. Aku tidak menolak.
Karena aku melihat ini bisa menjadi kesempatan bersaing adil denganmu.
Aku tidak ingin menyerah.
Aku ingin memakai kesempatan ini agar ayahku melihat kemampuanku.
Kau benar.
Aku bahkan bisa pindah tim di pertengahan.
Kau masuk di pertengahan juga tidak masalah.
Kau tidak marah lagi?
Ini hanya hal kecil.
Tadi aku menyindirmu sedikit, kita impas.
Kalau begitu, persahabatan nomor satu, kompetisi nomor kedua.
ASURANSI TIANJIAN
HIDUP NYAMAN, BEKERJA SEJAHTERA, KOMITMEN TIANJIAN
ASURANSI TIANJIAN
Akhirnya selesai.
Ayo, kita makan bersama.
Kau sudah selesai?
Aku tidak ikut. Aku ada janji olahraga pukul 21.30.
Dengan si Pria Pencitraan itu.
Setelah mengobrol dengannya, aku malah bisa lebih santai berteman.
Cukup bagus.
Kau makan saja yang banyak, tapi jangan sampai bertambah gemuk.
Ya, sudah. Kalau tidak mau makan, aku makan sendiri.
Bos, satu orang!
Seporsi mi daging sapi.
Kalau kau tidak senang aku berada di sini, aku bisa langsung pergi.
Restoran ini bukan milikku.
Benar. Tambah satu bir tanpa alkohol.
Baik.
Ada apa? Suasana hatimu buruk?
Tidak.
Baik, terima kasih.
Kenapa kali ini kau tidak lanjut bertanya?
Aku tidak akan bertanya lagi.
Biar kau tidak merasa aku selalu mengganggumu.
Aku mengajak Xu Chi makan, tapi dia bilang mau olahraga.
Tapi barusan aku lihat dia berjalan ke arah rumahnya.
Dia tidak pergi olahraga.
Kau…
Maksudnya olahraga itu lari bersama Ye Xinzhi, 'kan?
Mereka bertetangga. Satu arah itu wajar.
Bagaimana kau tahu?
Aku
pernah lihat mereka lari pagi.
Tapi aku tetap merasa ada yang tidak beres.
Apa yang tidak beres?
Sekarang aku satu tim dengan Xu Chi.
Seharusnya, kerja sama kami lebih banyak dari sebelumnya.
Hal-hal yang seharusnya dia bagikan dan kerja sama,
semuanya dia lakukan dengan sempurna.
Tapi…
Misalnya tadi,
aku mengajaknya makan, tapi dia menolakku.
Lalu, dia menjelaskan waktu, tempat, dan orangnya
dengan sangat jelas.
Tapi aku tetap merasa ada yang tidak beres.
Terlalu formal, ya?
Nona Bu.
Sungguh suatu kehormatan
bisa duduk dan berbincang di sini denganmu.
Semoga ke depannya ada kesempatan bagiku untuk menjamumu.
Rasanya seperti ini, 'kan?
Kenapa?
Apa yang aneh dengan itu?
Kau tidak menganggapnya sebagai teman. Kenapa dia harus menganggapmu teman?
Kau asal bicara. Aku…
Kapan aku tidak menganggapnya sebagai teman?
Sikapmu sekarang ini mudah membuat orang salah paham.
Sebelum aku masuk tim, semua sebab-akibat yang perlu kujelaskan
sudah kusampaikan dengan sangat jelas padanya.
Jadi, maksudmu,
kalau kau sudah menjelaskan sesuatu,
orang itu harus menerimanya begitu saja, benar?
Kau benar-benar menganggap dirimu nona besar?
Salah. Kau memang nona besar.
Kau mau apa?
Kau benar-benar mau menanyakannya?
Aku harus tahu alasannya, 'kan?
Dia satu-satunya temanku. Aku tidak tahan. Kembalikan!
Kau mau tahu jawabannya?
Kuberi tahu kau.
EQ-mu terlalu rendah.
Apa katamu?
- Ulangi sekali lagi! - Apa perkataanku salah?
Lihatlah dirimu yang biasanya.
Kau terlihat sangat bangga seperti angsa yang tegap.
Begitu ada masalah, langsung meledak. Apa lagi kalau bukan EQ-mu rendah?
Wajar kalau ayahmu selama ini makin tidak menyukaimu.
Bukankah kalian suka makan kue renyah Keluarga Zhang?
Semuanya rusak karena anak nakal ini.
Anak nakal apa?
Dia adik kandungmu.
Apa begini sikap seorang kakak?
Kakak jahat!
Pantas saja sudah berusia 20-an tahun, selain Xu Chi,
kau tidak punya satu pun teman sejati.
Lanjutkan.
Kau bilang dia sahabatmu, 'kan?
Dia tahu kau tinggal di Apartemen Bairui.
Dia tahu tujuan hidupmu adalah mendapatkan pengakuan ayahmu
dan mewarisi Grup Siwei.
Dia rela meninggalkan semua pekerjaannya
saat kau sedang sedih dan begadang menemanimu minum.
Lalu, bagaimana denganmu? Kau tahu dia tinggal di mana?
Kau tahu apa tujuan hidupnya?
Di mana kau saat dia sedang sedih?
Dia tinggal di Hotel 9 Hari.
Di dalam kamar 20-an meter persegi.
Kenapa dia masuk ke Maxmise?
Demi mendapatkan gaji untuk membeli kembali rumah lama ibunya.
Uang muka lebih dari satu juta yuan. Itu sama dengan harga mobilmu.
Bagaimana kau tahu?
Dia yang bilang?
Dia tidak bilang.
Itu ada di mejanya.
Brosur rumah lama dari pialang itu berada di sana.
Kenapa aku merasa
aku yang jadi rekan kerja biasa ini
bahkan jauh lebih memahaminya
daripada sahabat sejati sepertimu?
Mobil ini baru kubeli dua hari lalu.
Cepat sekali kau menghafal pelat nomor mobilku.
Bukankah kau bilang kau sangat miskin?
- Kalau miskin, kenapa beli mobil? - Pelan-pelan.
Seorang pria tetap perlu punya mobil sendiri.
Ini mobil bekas.
Meskipun keluarga asalku miskin,
sekarang aku berkecukupan.
Lagi pula, gaji Maxmise lumayan tinggi.
Ternyata
kau begitu perhatian padaku.
Siapa yang perhatian padamu? Kenapa kau mengikutiku?
Aku mengawalimu pulang.
Bukankah suasana hatimu sedang buruk? Langit pun sudah gelap.
Jika terjadi sesuatu di jalan,
aku bisa langsung jadi pahlawan yang menyelamatkanmu.
Kalau tidak terjadi apa-apa,
itu tentu yang terbaik.
Tapi kau juga akan sama seperti sekarang,
diam-diam menyadari aku menjagamu dari belakang.
Bagaimana jika kau tersentuh dan akhirnya mau menerimaku?
Kau jujur sekali.
Bukankah selama ini aku selalu
terus terang soal sifat licikku di depanmu?
Aku tahu persis apa yang kau pikirkan.
Bukankah kau berpikir dengan uang sebanyak itu
cukup bagi pria licik sepertimu untuk mengubah nasib seluruh keluargamu?
Aku tidak punya nilai guna sebesar itu. Kau sadarlah!
Ayolah! Kuberi kau kesempatan.
Jangan. Mobilku ini terlalu jelek
untuk dijadikan tempat terjadinya adegan panas.
Ini merendahkan martabat.
Bagaimana kalau kita pindah tempat?
Kau jelas tidak berani.
Kau sengaja mengatakan semua
kata-kata yang menakuti orang
untuk menarik perhatianku seperti sebelumnya. Benar, 'kan?
Dengar,
aku tidak akan percaya sepatah kata pun.
Xu Chi berbeda darimu.
Ke depannya, jangan asal bilang pria tidak berani.
Percaya tidak, sekarang aku bisa melakukan sesuatu?
Aku tidak percaya. Percaya.
Satu hal lagi.
Saat berada di mobilku,
jangan mengungkit nama orang lain.
Pria atau wanita juga tidak boleh.
Aku akan merasa cemburu.
Baiklah.
Pakai sabuk pengaman. Aku akan pulang setelah mengantarmu.
Baik.
Tunggu.
Apa aku benar-benar orang yang begitu buruk?
Tidak juga.
Hanya saja, kau terbiasa berada di atas,
jadi tidak tahu cara bergaul dengan orang seperti kami.
Orang seperti kalian?
Ya.
Orang biasa seperti aku dan Xu Chi.
Aku adalah anak kampung yang pindah ke kota kecil.
Dia setengah yatim piatu.
Dari luar,
kami terlihat rapi dan profesional di pusat bisnis,
menjadi pekerja kantoran dengan gaji pas-pasan.
Tapi kenyataannya, kami harus berjuang lebih dari belasan tahun
baru bisa mencapai titik awal yang kau capai dengan mudah.
Contohnya, soal pindah tim proyek.
Dia harus berusaha meminta izin pada Sha Sha.
Sedangkan kau, bisa langsung memintanya dari partner.
Bukan begitu.
Tapi Xu Chi pernah bilang padaku, dia percaya diri
dan tidak mempermasalahkan keunggulan sumber dayaku.
Aku bahkan bisa pindah tim di pertengahan.
Kau masuk di pertengahan juga tidak masalah.
Lagi pula, kita semua bersaing dengan kemampuan masing-masing.
Aku juga mau memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat
siapa di antara kita yang jadi karyawan baru terbaik di Maxmise tahun ini.
Kau yang sudah dewasa masih percaya dengan kata-kata ini?
Nona Besar.
Baik itu pertemanan maupun cinta,
jika kondisi kedua pihak berbeda jauh, itu akan sangat melelahkan.
Kami harus berjuang lebih dari sepuluh tahun
agar tidak merasa iri terhadap keluargamu.
Tapi bukan berarti kami tidak mengaguminya.
Tidak peduli betapa buruknya sikap dan emosimu sehari-hari,
tapi begitu menyentuh batas kesabaran, tidak akan bisa kembali lagi.
Apa yang kulakukan sampai melewati batas kesabaran Xu Chi?
Apa karena aku merebut sumber dayanya
atau karena aku langsung meminta data pada Pak Pi?
Soal rebut sumber daya hanya hal kecil.
Kalau itu terjadi padaku,
aku hanya akan merasa sedih karena satu hal.
Yaitu sebelum melakukan hal ini, kau tidak memberitahunya dulu.
- Aku tutup dulu, ya. - Tunggu.
Ada apa?
Sudahlah. Nanti saja kuberi tahu.
Bukan lupa,
tapi kau tidak pernah memikirkannya.
Bukan karena tidak percaya padanya,
tapi secara tidak sadar,
kau tidak pernah mempertimbangkan perasaannya.
Ini juga hal paling menyedihkan yang sejak awal kukatakan.
Kau tidak menganggapnya sebagai teman.
Kalau begitu, tidak perlu kembali seperti dulu lagi.
Tidak mau pulang?
Orang yang hatinya mudah terluka seperti dia
tidak pantas menjadi temanku.
Jangan ikuti aku.
Kenapa kau tertawa sendiri?
Kemarin…
Xu Chi.
Kau… Kenapa kau…
Kenapa kau berlagak sungkan padaku?
Benar.
Xu Chi.
Nanti kau bertengkar seperti ini dengannya.
Katakan…
Hari ini,
aku datang minta maaf padamu untuk kedua kali.
A,
aku tidak mendiskusikannya denganmu sebelum meminta masuk ke tim ini.
B,
kau tidak senang begitu lama,
tapi aku tidak pernah mencari tahu apa penyebabnya.
Itu salahku.
- Sebenarnya, kau tidak perlu… - Jangan bicara dulu.
Menurutku, selain soal itu, aku tidak punya kesalahan lain terhadapmu.
Kalau kau tidak senang, kenapa tidak memberitahuku?
Meski ada perbuatanku yang tidak cocok,
itu bukan alasanmu untuk berlagak sungkan denganku, 'kan?
Baik.
Zhao Heng bilang aku tidak perhatian padamu.
Tapi kau juga tidak pernah menceritakan masalahmu.
Sifatku memang begini. Kau tidak bilang, aku tidak bertanya.
Aku sedang memberimu ruang. Apa ini juga tidak boleh?
- Tianna. - Jangan mendekat.
Kau sangat terharu dengan permintaan maafku, 'kan?
Sebenarnya aku bisa saja menirumu,
memanfaatkan rasa harumu
untuk pura-pura berbaikan denganmu,
lalu terus menjadi sahabatmu dengan sikap sungkan.
Tapi aku tidak bisa.
Di dalam hatiku ada duri yang tidak bisa dicabut.
Aku, Bu Tianna, menginginkan teman yang 100% memercayaiku
dan juga bisa kupercayai.
Aku kira kau berbeda dari yang lain.
Kalau begitu, untuk apa kau datang?
Aku… Untuk apa aku datang?
Aku datang untuk memberitahumu,
mulai sekarang, dalam proyek Asuransi Tianjian,
aku tidak akan sungkan lagi.
Aku akan membuktikan dengan hasil nyata
bahwa aku lebih unggul darimu.
Lihat saja, tingkahnya yang begini sangat mirip anak TK, 'kan?
Begitu tidak senang, langsung datang dan bilang,
aku tidak mau bermain denganmu lagi.
Sebenarnya, waktu itu kau menyuruhku bicara dengannya, itu benar-benar tepat.
Dulu, aku selalu mengira
dia adalah wanita utama yang dingin dan berkelas.
Jadi, di depannya, aku memang agak menjaga sikap.
Tapi sekarang aku tahu,
dia hanya seekor anak kucing yang suka memamerkan taring dan cakar.
Jadi, kau sengaja menggodanya?
Benar.
Tapi kau memang selalu lebih hebat dariku.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita juga tidak terlalu dekat.
Kita baru enam bulan menjadi rekan kerja.
Dulu, aku memang pernah membantumu saat kau sedang terpuruk,
tapi itu hanya hubungan sebatas sebotol minuman.
Hanya karena selama ini kau kekurangan teman,
jadi karena rasa terima kasih,
kau membayangkan semua bayangan indahmu tentang persahabatan.
Yang kau katakan benar. Aku
memang tidak pantas menjadi temanmu.
Sebenarnya, terus menutupi rasa rendah diriku
di depanmu juga melelahkan.
Jadi, kalau mau menyatakan perang juga tidak masalah.
Kita kembali saja seperti awal. Hanya jadi rekan kerja
dan bersaing sepuasnya tanpa menahan diri.
Dengan begitu, kita tidak perlu tersiksa.
Bagaimana menurutmu?
Bagaimana?
Baik.
Mulai sekarang, aku benar-benar tidak akan beri pengampunan.
Aku benar-benar akan…
- Aku tidak akan… - Tidak akan mengampuni!
Menyebalkan sekali.
Dia sudah menyatakan perang.
Kalau aku tidak menerimanya secara langsung,
nanti dia malah mengira aku tidak menghargai kemarahannya
dan akan mengamuk lagi.
Jadi, seperti sekarang ini, biarkan saja dia marah-marah tanpa hasil.
Bukankah itu lebih seru?
Kalau begitu, sekarang kau sudah tidak takut kalah darinya?
Bar poin kepercayaan diriku sudah kembali penuh sejak awal.
Bagaimanapun, aku tidak boleh menyia-nyiakan
semua nasihat pedas yang kau berikan.
Lagi pula, proyek Asuransi Tianjian ini diurus oleh Ma Ke.
Aku dan BuTianna sama-sama
analis junior yang bergabung di tengah jalan.
Sekalipun kami bersaing sampai mengguncang dunia,
ditambah lagi mengerjakan proyek dengan sempurna,
perusahaan tidak mungkin menaikkan pemenangnya
untuk menjadi manajer konsultasi.
Benar, 'kan?
Bicara terbuka denganmu memang bagus,
akhirnya tidak perlu lagi bekerja di kafe.
Bisa istirahat sebentar
dan menikmati pemandangan indah ini.
Juga tidak perlu takut bertemu orang Maxmise di luar.
Bagus sekali.
Omong-omong, Du nanti akan datang.
Bagaimana analisismu tentang data Koleksi Digital Benyuan?
Masih kurang satu berkas. Yang lain sudah kukirimkan.
Boleh aku bergosip sebentar?
Apa kau dan Du mau mengacaukan kerja sama Wen Ruosen
dan Koleksi Digital Benyuan?
Kenapa kau bertanya begitu?
Berkas yang kau suruh aku rapikan terlalu detail.
Selain itu, kau juga menyuruhku membuat
rencana pengembangan investasi galeri koleksi digital,
serta simulasi berbagai data dan survei.
Hanya pesaing
yang mau memahami lawan secara menyeluruh seperti ini.
Justru sebaliknya.
Kami ingin mendorong kerja sama ini.
Baik.
Bagaimana kalau aku kembali ke hotel untuk mengerjakan file?
Aku tidak mengganggumu dan Du.
Kau tidak bertanya alasannya?
Saat ingin cerita, kau akan menceritakannya.
Bisakah kau lihat ponselmu sebentar? Lihat ponselmu…
Nona Xu juga ada di sini.
Kenapa kau tidak bilang lebih awal?
Aku tidak akan cari tempat parkir secepat ini.
Aku akan putar-putar lagi.
Tidak. Aku sudah mau pergi. Aku tidak ingin mengganggu kalian.
Data itu akan kukirimkan sekitar setengah jam lagi.
- Pergilah. - Aku pergi dulu.
Jangan pergi, kembali.
Data apa?
Ye, ada apa denganmu?
Lihatlah, matahari begitu terik.
Kau suruh gadis kecil untuk membuat data di luar sana.
Apa kau masih berperikemanusiaan?
- Aku tidak apa-apa. - Tidak, tidak perlu.
Kerjakan saja di sini, ya?
Kami akan bicara di sini. Bukan urusan penting.
Tidak akan terganggu. Kerjakan saja di sini.
Sudah diputuskan.
Di sini lebih tenang. Kerjakan di sini saja.
Baik.
Di zaman sekarang, masih ada orang yang mencetak foto.
Apa ini?
Lihat apa?
Apa di dalam kamar
ada barang kotor dan mesum yang tidak kau sembunyikan
sampai membuatmu khawatir dan merasa bersalah?
Bisakah kau jangan berbicara sembarangan?
Dia adalah gadis kecil.
Gadis kecil sudah masuk ke rumahmu. Gadis kecil? Kau punya banyak.
Aku selalu bilang begitu pada semuanya.
Hanya dia yang paling kau lindungi. Kau terus melindunginya.
Awas, akan kubunuh kau.
Ini sudah rusak karena jatuh.
Laptopmu baik-baik saja.
- Sudah longgar. - Ada rangka pengaman.
Longgar karena terjatuh.
Tunggu dulu.
Tunggu dulu.
Tidak ada respons.
Ada apa?
Tidak apa-apa, sepertinya cakram kerasku…
Ini… Tidak ada respons.
Pusat layanan pelanggan?
Apa kalian bisa perbaiki cakram keras eksternal?
- Astaga. - Tidak ada respons?
Gawat. Ya, tadi terbentur.
Boleh aku coba?
Porta diska lepas di laptopmu tidak bermasalah.
Sepertinya masalahnya di cakram keras.
Pusat layanan pelanggan tidak bisa memperbaikinya.
Bawa ke toko saja.
Tapi aku…
Besok pagi aku terbang ke Shenzhen.
Aku seharian ada presentasi keliling. Semua materi ada di dalam sini.
Aku tidak punya waktu. Bagaimana ini?
Mana cadangannya?
Hanya ini yang tidak kucadangkan.
Kalau masalahnya di porta ini,
mungkin cukup ganti porta di wadah cakram keras eksternalnya
atau mungkin coba memulihkan data.
Di tempat tinggalku ada peralatan lengkap.
Bagaimana kalau aku coba?
Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari sini.
Kau bisa memperbaiki cakram keras?
Kau menyelamatkan hidupku!
Adik, bantulah aku. Terima kasih.
- Tunggu kabar dariku. - Terima kasih.
Gadis kecil yang bisa memperbaiki cakram keras
sudah kau datangkan.
Kau sungguh… Kau…
Gawat.
Kenapa?
Data di dalam cakram keras itu
ada perjanjian kerahasiaannya.
Bukan aku tidak percaya pada Xu Chi, tapi menurutku aku harus mengawasinya.
- Aku temani kau. - Aku…
Kau pergi saja. Kau yang pergi.
Aku tidak akrab dengannya.
Tapi ini cakram kerasmu. Kenapa aku?
Aku panik. Apa yang kau…
Siapa?
Itu…
Du bilang cakram kerasnya
sepertinya…
Itu…
Dia tidak tenang dengan data di dalamnya, 'kan?
- Bukan. - Ini salahku.
Seharusnya kubawa peralatannya ke sana.
- Ini salahku. - Tidak. Kalau begitu…
- Bagaimana kalau kau masuk? - Boleh?
Boleh saja, tapi agak berantakan.
PESANAN MAKANAN HARAP DILETAKKAN DI MEJA SEBELAH KIRI DEKAT PINTU
Di sini hanya ada satu kursi. Kau terima saja keadaan seadanya.
Portanya sudah kuganti.
Tapi komputer menunjukkan bahwa perlu diformat.
Jadi, sekarang aku mencoba memakai DiskGenius.
Kenapa di rumahmu ada peralatan ini?
Mantan pacarku suka melakukan semuanya sendiri.
Aku pikir itu menarik, jadi aku belajar sedikit.
Awalnya peralatan ini mau kuhadiahkan untuknya.
Tidak disangka putus, jadi barang ini tinggal di sini.
MEMULIHKAN DATA, INFORMASI DATA, SEDANG MENCARI FILE…
Hampir selesai.
Kurasa kemungkinan besar tidak masalah.
Menurutku, tadi kau dan Du begitu panik,
aku merasa sangat lucu.
Tokoh bisnis hebat
seperti kalian
biasanya sudah terbiasa
menjadi elite yang bekerja dengan efisiensi tinggi.
Begitu ada masalah,
langsung kehilangan akal dan jatuh dari singgasana.
Benar. Perkataanmu benar.
Tapi bisakah kau jangan mempermalukan kami?
Baik.
Aku janji tidak akan bilang di hadapan Du.
Selesai.
Kau ke sini dulu.
Duduk di sini.
- Benar. - Aku…
Aku akan memindahkan datanya ke cakram keras eksternal.
Lalu, kau awasi dulu,
pastikan aku tidak menyimpan datanya di komputerku sendiri.
PROGRES: 94%
Bisa. Sudah aman.
Bagus sekali!
Ingatkan Du, ke depannya harus punya cadangan
cakram keras eksternal SSD.
Itu lebih tahan benturan.
Selain itu, untuk data penting,
lebih aman kalau dicadangkan di banyak tempat.
Bagaimanapun, aku bukan ahlinya.
Kali ini bisa kuperbaiki murni karena keberuntungan.
Bukan. Bukan karena keberuntungan.
Kau memang secara alami
bersinar terang.
Pandai sekali bicara.
Kalau begitu, biaya servisnya aku gratiskan.
Kau cepatlah pergi. Du pasti panik.
- Cepat pergi. - Terima kasih.
Terima kasih.
Sudah ada.
Bagus sekali.
Gadis kecil ini hebat sekali.
Katakan. Dari mana kau menemukan pusaka besar yang serba bisa seperti ini?
Saat mewawancarai karyawan magang.
Bagaimana? Penilaianku bagus, 'kan?
Bagus. Kau hebat. Kau luar biasa.
Kenapa kau tidak mengajaknya keluar?
Kutraktir dia makan untuk berterima kasih
atas bantuan besarnya.
Orang sendiri,
kelak masih ada kesempatan.
Orang sendiri yang seperti apa?
Seperti orang
yang ingin kuikutsertakan dalam rencana Wen Ruosen.
Dengar,
ke depannya, berhati-hatilah saat berbicara dengannya.
Aku punya harapan besar padanya.
Baik. Kau begitu menghargainya.
Kenapa?
Kau mau melatihnya menjadi wakilmu?
Mungkin.
Kau tidak tahu
seberapa cepat dia berkembang.
Beberapa hari yang lalu,
dia masih gadis kecil yang menangis karena proyeknya direbut.
Di tempat kerja,
dikhianati oleh orang yang paling dipercaya,
siapa pun pasti akan sedih.
Kalau sering terjadi, nanti kau juga terbiasa.
Besok saat di kantor, jangan terlalu dipikirkan.
Bersainglah baik-baik dengannya.
Sedikit petunjuk dariku, dia langsung berubah total.
Selain bisa menganalisis lingkungan persaingan dengan tenang,
juga bisa mengurus relasi dengan mahir.
Bisa membodohi putri orang kaya seangkatannya dengan mudah.
Tadi aku pergi ke rumahnya.
Rumahnya jelas-jelas sangat sempit,
tapi dia tetap bisa bersikap terbuka melayaniku.
Di sini hanya ada satu kursi. Kau terima saja keadaan seadanya.
Kesan yang dia berikan padaku,
selain tidak merasa rendah diri,
rasa percaya dirinya juga tidak terlalu mencolok.
Saat berada di usianya itu, aku bahkan tidak setenang dia.
Itu memang cukup bagus.
Untuk bakat bagus seperti ini,
kau harus mempertahankannya.
Bawa dia langsung ke Hezong.
Kau sendiri yang turun tangan dan mengajarinya.
Itu lebih baik daripada masih terpisah perusahaan. Benar?
Tidak perlu buru-buru.
Biarkan dulu dia menghadapi ujian di Maxmise.
Semuanya.
Aku baru saja berkomunikasi dengan orang dari Asuransi Tianjian.
Mereka belum menerima proposal awal kita.
Aku berpikir, kalau terus dipaksakan, tidak ada gunanya.
Jadi, lebih baik
kita mulai dari awal lagi.
Yang benar saja.
Tidak ada waktu untuk tidur lagi.
Tapi Ma Ke,
laporan riset Tianjian banyak dan berantakan.
Otak kita sudah diperas habis. Kau yakin mau mulai dari awal lagi?
Yang Rui.
Kau tahu saran siapa ini?
Bu Tianna.
Dia dan Xu Chi sama-sama pendatang baru. Kalian yang senior malah takut?
Ayo.
Kita minta pendatang baru menyatakan sikap dulu.
Aku suka bersaing.
Karena aku tidak pernah kalah.
Kebetulan. Aku juga.
Baik.
Bagaimana? Semua setuju?
Sebenarnya, konsultan di tim mereka sudah membuat proposal baru.
Tapi pada akhirnya,
Bu Tianna dan Xu Chi yang bersaing paling sengit.
Mereka masing-masing pakai strategi apa?
Bu Tianna mengambil jalur atas.
Dia terus mengunjungi para petinggi berbagai perusahaan asuransi.
Kenalan paman dan bibi juga banyak.
Dia juga sangat memahami pesaing Tianjian.
Berdiri di atas bahu raksasa, tentu bisa melihat lebih jauh.
Xu Chi fokus menjalin hubungan baik dengan banyak orang.
Dia banyak berkumpul dengan karyawan Tianjian,
ingin mencari tahu alasan utama penyebab
proposal sebelumnya ditolak.
Kalau begitu, kau lebih mendukung siapa?
Bu Tianna.
Apa kau lebih yakin pada Xu Chi?
Bisa dibilang begitu.
Bu Tianna memang punya koneksi,
tapi dukungan untuk Xu Chi juga tidak kalah.
Dukungan?
Menurutmu, apa masalahnya?
Mungkin
masalahnya di cabang India.
Cabang India?
Cabang luar negeri Tianjian tidak ada di India, 'kan?
Bukan salahmu.
Ini salahku.
Perusahaanku baru saja kedatangan partner dari India.
Mungkin karena sering rapat dengannya,
dia sedikit memengaruhiku.
Aku selalu menganggap anggukan sebagai tanda tidak setuju
dan gelengan sebagai tanda setuju.
Kau sengaja mempermainkanku?
Baiklah. Bahas yang serius.
Meskipun kita pesaing,
aku kurang cocok untuk menilai proyek Maxmise.
Tapi di salinan yang kau berikan tadi,
informasi pentingnya sudah kau sembunyikan.
Itu sangat baik.
Ke depannya, dalam komunikasi pribadi kita,
hanya bahas pemikiran, jangan bahas detail spesifiknya.
Karena itu bisa menyebabkan kebocoran rahasia dagang.
Aku mengerti.
Lagi pula, menurutku, ide proposal yang kau tunjukkan tadi cukup jelas.
Sebagai draf awal dari seorang analis, ini sangat bagus.
Hanya sebagai draf awal analis yang cukup bagus.
Lalu, apa lagi yang kau inginkan?
Pengalaman ini didapat dari kegagalan demi kegagalan.
Kau baru masuk proyek ini kurang dari sebulan.
Kalau sekarang kau sudah bisa membuat proposal yang sempurna,
menurutmu itu realistis?
Tapi kau pakai proposal ini untuk bersaing dengan Bu Tianna,
pasti ada peluang untuk menang.
Tapi tujuanku bukan cuma mengalahkannya.
Aku ingin klien benar-benar puas dengan proposalku.
Membuat klien puas hanya sebuah konsep yang relatif.
Mendapatkan persetujuan dan penerimaan klien barulah hal biasa.
Tapi aku…
XI
SEDANG MENYAMBUNGKAN PANGGILAN
Xinzhi. Lusa aku akan sampai di Beijing.
- Malamnya kita… - Bu Liu, tunggu sebentar.
Tunggu sebentar.
Chi, kerjakan riset sebaik mungkin.
Klien akan menyukainya.
Baik.
JALAN TENGAH LINGKAR TIGA TIMUR
Xu Chi.
Bukankah siang tadi kau sudah pergi ke proyek?
Kenapa kembali ke kantor?
Menurutku, proposalnya masih ada kekurangan.
Jadi, aku ingin kembali mencari data, melihat apa ada inspirasi.
Baiklah. Aku masih punya waktu. Kubantu kau lihat.
- Baik. - Mari. Ceritakan idemu.
Baik.
Arah proposal baruku adalah melalui penguraian pohon nilai Tianjian.
POHON NILAI ASURANSI TIANJIAN (STRUKTUR UTAMA)
TOTAL NILAI PERUSAHAAN PENDAPATAN - BIAYA
Xu Chi. Proposal ini terlalu rumit.
Aku sarankan kau mulai dari skenario bisnis data besar
dan peningkatan pengalaman pelanggan. Buat ulang dari sana.
Buat ulang?
Tapi bukankah itu terlalu spesifik?
Selain itu, sebenarnya aku belum pernah menyentuh
soal skenario bisnis.
Proposal kita sebelumnya ditolak karena terlalu abstrak.
Aku percaya padamu.
Sudahlah. Jangan terlalu malam.
Istirahatlah lebih awal.
Buat ulang.
Kau kurang tidur.
Ma Ke tiba-tiba menyuruhku mengubah arah menjadi skenario bisnis data besar.
Kenapa tidak bilang padaku lebih awal? Aku bisa bantu kau ubah.
Terima kasih, semuanya.
Dalam rapat mingguan kita hari ini, kita akan merangkum
perkembangan dan kebutuhan masing-masing proyek.
Ayo mulai.
- Ma Ke. - Kalian semua di sini.
- Pak Pi, kau sudah kembali. - Baru pulang dari Amerika.
Awalnya mau ke kantorku sendiri untuk menghilangkan jetlag.
Kebetulan melihat kalian sedang rapat rutin.
Aku mampir untuk mendengarkan.
Lanjutkan saja, jangan pedulikan aku. Terima kasih.
Duduk.
Ada apa ini?
Begitu serius.
Kalau begitu, biar aku bertanya. Ma Ke.
Apa pengembangan proyek tidak berjalan lancar saat ini?
Riset dan kerangka kerja sudah kami selesaikan.
Klien memang cukup puas.
Hanya merasa proposal perlu direvisi.
Sekarang kami sedang memperbarui proposal.
Aku sudah melihat versi pertama proposalnya.
Apa sekarang sudah ada proposal baru?
Sekarang kami punya lima proposal.
Setiap proposal memiliki arah yang berbeda.
Pak Pi. Karena Bapak sudah di sini,
- kami laporkan saja sekalian. - Baik.
Xu Chi.
Kau bertanggung jawab atas skenario bisnis data besar, 'kan?
Pak Pi. Xu Chi selalu bilang
dia sangat percaya diri dengan proposalnya.
Kita biarkan dia presentasi dulu.
- Bukan. Aku bukan… - Xu Chi.
Jika punya ide yang bagus, katakan saja.
Agar Pak Pi bantu kita menilainya.
Ma Ke benar. Xu Chi.
Bukankah terakhir kali kau sangat percaya diri dalam menangani
proyek Budaya Bolo?
Coba sampaikan.
Aku jelaskan secara garis besar.
STRATEGI PENINGKATAN PENGALAMAN PELANGGAN DAN SOLUSI UNDERWRITING BERBASIS AI
RENCANA BERIKUTNYA (PENDING)
Xu Chi, tunggu dulu.
Aku ada pertanyaan.
Soal kustomisasi situasi asuransi kesehatan hewan peliharaan
yang kau sebutkan, berapa total premi per tahunnya?
MENGUMPULKAN LEBIH BANYAK DATA, MEMBANGUN PUSAT DATA
Maaf.
Sekitar lebih dari 100 juta per tahun.
Skala Asuransi Huayuan hampir sama dengan Asuransi Tianjian.
Tahun lalu, premi asuransi kesehatan hewan peliharaan sekitar 50 juta yuan.
Pendapatan premi tahunan Asuransi Tianjian hampir mencapai 100 miliar.
Skenario aplikasi asuransi kesehatan hewan peliharaan yang kau sebutkan
paling-paling hanya menghasilkan premi beberapa miliar.
Apa dampaknya bagi bisnis Tianjian yang mencapai ratusan miliar?
Data yang kukumpulkan masih belum lengkap.
Kalau belum lengkap,
kenapa kau bilang ke Ma Ke
bahwa kau sangat percaya diri dengan proposalmu?
Ma Ke.
Kau manajer proyeknya, coba berikan pendapatmu.
Baik.
Pak Pi.
Pendapatku adalah
berangkat dari pendorong nilai utama bisnis yang sudah ada.
Aku sudah membuat pohon nilai Asuransi Tianjian.
Silakan Bapak lihat.
ANALISIS POHON NILAI FAKTOR PENDORONG NILAI UTAMA BISNIS
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.