Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kalian tahu waktunya apa!
Grodius Maximus, GWAR!
Kami coli di kamar ibuku.
Lihat dia.
Aku mau coli-coli di sini,
kalau kau paham ocehanku.
Hal paling gila terjadi minggu lalu.
Makanya kupasang kamera ini.
Pasti tak ada yang percaya.
Aku pinjam brondong ibuku.
Ini Frugal Boots,
dia akan merekam.
Persetan, Frugal Boots!
Ayo ke altar ajaib ini.
Kalau kuambil gambar ini
yang kubuat waktu kecil
lalu kucrot di gambarnya,
benda itu jadi hidup!
Akan kucoli gambar-gambar ini sampai jadi nyata!
Hot dog ini? Mau lihat?
Mau!
Lihat ini. Biar kuambil...
Tetek mama. Dan shalamazam!
Ini dia!
Astaga! Ini hot dog betulan!
Dan berlumur pejuku.
Agak jorok. Aku suka.
Ada satu hal yang ingin kucroti.
Wajahku yang tampan.
Tapi badanku tak selentur itu.
Ayo ke altar.
Kita ambil gambar
Goko mini...
Grodius kecil.
Nah, itu dia.
Bersiaplah beraksi.
Entahlah. Biasanya sudah ada hasil.
Entahlah. Mungkin pesonaku hilang, Sayang.
Hah? Astaga!
Itu Grodius jahat!
Lihat itu!
Wah, hot dog, Grodius! Burungmu bagus!
Tunggu. Jangan! Jangan crot!
Tolong! Jangan!
Oh, begitu? Aku juga bisa!
Kalian coli di kamarku tanpa ajak aku lagi?
Halo!
Akulah Sang Berserker Blothar!
Dan kami GWAR!
- Hei! Itu kita! - Ya.
Jadi duduklah, manusia hina,
dan nikmati horor keji yang akan kami tunjukkan.
Halo! Ini Hemlock!
Dan aku Riptide!
Skeeto siap bertugas!
Hai! Aku Botulism. Hi-hi-hi!
Hei, Riptide. Sekarang waktunya apa?
Pertanyaan bagus, Skeeto!
Waktunya menyanyi!
Hore!
Lagu hari ini spesial sekali.
Tentang sesuatu yang terjadi
pada semua orang di seluruh dunia.
Belajar berenang?
Bukan.
Perubahan tubuh!
Yah, semacam itu.
Aku tahu! Sini, sini.
Betul, Botulism!
- Lagu hari ini tentang... - Tunggu!
Tapi kita harus pilih teman dari penonton
untuk bantu kita menyanyi!
Aku!
Kau.
Kau. Betul. Ayo naik.
- Asyik! - Ayo naik ke sini.
Selamat datang di "The Curious Chorus".
Hei. Apa golongan darahmu?
Kau suka menyanyi?
- Ya. - Pasti suka!
Mau ikut menyanyi bersama kami?
- Mau! - Hore!
Dia bilang mau!
- Hai, aku Daisy. - Pagi.
Hei. Apa kabar?
Saya tak tahu ada rekaman.
Ya, cuma sedikit...
"How It's Made" untuk tim pemasaran.
Idenya Sam.
Ma, sudahlah.
Semacam dokumenter promo. Paham itu apa, Sayang?
- Ya, saya tahu. - Tidak apa-apa?
Tentu saja tidak apa-apa.
Sebenarnya, jadwal kami agak padat,
jadi bisa kita mulai?
Oh. Tentu saja.
Jadi, kau pernah nonton "The Curious Chorus"?
Tidak, aku belum setua itu.
Jadi itu acara yang mau kalian reboot?
Reboot? Bukan. Kami tidak me-reboot apa pun.
Tak ada yang suka reboot.
Ini reimajinasi... untuk penonton baru.
Acara itu sangat populer dulu,
jadi pasti akan laris.
Kita cuma perlu desain yang tepat.
Maksudnya?
Kami akan pindai digital boneka aslinya
lalu mengubahnya jadi gambar 3D.
Astaga. George pasti tak suka itu.
Acaranya sangat populer. Kenapa cuma satu musim?
Memang cuma butuh satu musim.
Tak perlu dibangkitkan lagi,
apalagi dengan cara kalian ini.
Semuanya, ini George. Dia yang mengurus boneka.
Hei, George. Sedang mengerjakan apa?
Kalau mau lihat cara kerja pemindaiannya,
bisa kutunjukkan.
Aku cuma butuh tempat.
Ada beberapa meja di ruangan sebelah.
Kutunjukkan.
Daisy, kau tak punya pekerjaan lain?
Ya. Maaf, semuanya.
Oke. Kami bisa urus.
Ayo. Mari bekerja.
Aku tak paham masalahnya.
Sial.
Ini bukan milikmu.
- Drama. - Tak ada yang "memiliki" mereka.
Oh, ada!
Studio pemiliknya! Dan akulah studionya!
Dan kau, George, punya dua pilihan.
Kau berikan bonekanya,
kami pindai, lalu kami kembalikan...
atau kami bawa ke kantor kami,
dan kau takkan melihatnya lagi!
Baiklah. Kau yakin?
Berikan bonekanya, George!
- Baik. - Sial.
Dasar orang aneh. Itu cuma boneka sialan.
Ada apa sih dengan dia?
Sam, potong ini karena... Maaf.
Aku lepas kendali, jadi jangan dipakai.
Ya. Keren. Makasih, Bung.
Ayo lihat.
Prosesnya keren, sebenarnya.
Pindai saja bonekanya di sini.
Ya, itu mesin yang baru kami beli.
Bagus sekali.
Hei, George, bisa tolong minggir,
agar dia bisa pindai belakangnya?
Terima kasih.
Hasilnya akan muncul di laptopku di sana.
Kau lihat?
Chris, memang harusnya begitu?
Apa? Ada apa?
- Kau yang bilang. Perbaiki! - Tidak apa-apa.
Bisa kita pindai ulang.
Hasilnya akan sama saja.
Kenapa?
Jelas sekali, mereka tak mau dipindai.
Kalian rencanakan ajal mereka,
dan mereka tak terima.
Memangnya kau siapa? Geppetto?
Saya terlalu cepat.
Cuma lima menit.
Oke. Ya. Lakukan. Ulangi lagi.
Oke. Ya. Maaf.
Mungkin cuma gangguan kecil.
- Ya, bukan masalah. - Baiklah.
- Aku percaya kau bisa. - Aku cabut.
Astaga. Hasilnya masih belum benar.
- Ya. - Kalau terlalu
cepat, gambarnya terdistorsi.
Ya. Oke.
Masalahnya, aku harus cepat pergi dari sini.
- Saya tahu. - Aku ada rapat.
Ya, asisten Anda bilang maksimal lima menit.
- Tak apa. - Sebentar.
Astaga. Membosankan.
Terlarang? Kenapa, ya?
Wah!
Astaga!
Hah? Alien!
Wah.
Apa itu...
Sepertinya itu meja kerja George.
Apa kabar, Tuan? Susah ditaklukkan.
Oke. Wah.
Koleksi tengkorak.
Halo, kucing! Halo!
Banyak sekali barang di sini.
Wah. Apa ini?
Si kecil ini.
"Namaku George, dan aku suka mainan!"
Aku melihatmu!
Apa-apaan ini?
Itu... George?
Sial!
Yang benar saja.
Sedang apa kau?
Astaga! Aku sedang apa?
Kau sendiri sedang apa, Bung?
Pindai selesai. Ayo pergi.
Syukurlah.
Sial.
Omong-omong, kalian tak mau lihat lokasi syutingnya?
Dia mau bawa kita ke mana?
Gelap sekali di sini.
Sebaiknya kita pergi.
Hei, bisa tolong nyalakan lampunya?
Dia pindahkan boneka ke sini?
Wah. Semua ini dibiarkan saja?
Kebanyakan dipakai untuk gudang.
Gudang? Ini luar biasa!
Nilai produksinya bagus. Aku suka.
Ayo, semuanya. Ambil satu boneka.
Aku tidak usah.
Aku tidak bertanya.
Kalian mau membangkitkan "The Curious Chorus".
Itu yang akan kita buat.
Ya. Bagus untuk dokumenter promo. Ayo.
"Halo. Apa kabar?
Baik. Kau apa kabar?"
"Hei, Nona. Namamu?"
Vanessa.
Kita cuma bertiga,
jadi tak bisa.
Benar.
Daisy?!
- Astaga. - Daisy!
Hei. Kau ingat hari kau diadopsi?
- Ingat nonton boneka? - Ma, diam!
Apa maksudmu, diam...
Konyol. Untuk apa?
Ini tak konyol. Ini seru.
Daisy, pakaikan Skeeto.
Pasti berhasil. Aku suka.
Pasti hebat. Ayo.
Kalian tunggu apa lagi?
Pakai.
Pakai... boneka... itu.
Astaga. Baiklah.
Kalau kalian mau membuat "The Curious Chorus",
harus tahu lagu terbaiknya.
Tunggu. Sudah kusiapkan di sini.
Ada yang bonekanya bergerak sendiri?!
Ya!
George! Cara hentikannya?!
George!
Aku tak mau lanjut lagi!
Lepaskan!
Lepaskan!
Ooh, O positif!
Astaga! Astaga, sialan!
Apa-apaan ini?!
Bagaimana film kecilmu?
Tunggu lanjutannya.
Apa-apaan ini?
Hai!
Dadah, matilah!
Tampan, cium posum!
Kau mati malam ini.
Malam ini, kau mati. Malam ini, kau mati.
Sini! Kugigit!
Apa-apaan ini? Astaga!
Kita bersenang-senang.
- Menjauh dariku! - Hei, aku sedang kerja!
Kau berikutnya!
Pintu keluar. Pasti ada...
Oke.
Berhenti! Kumohon!
Akan kulakukan apa pun. Oke?
Jangan!
Lari!
Aku datang!
Ha ha ha! Kena dia!
Astaga!
- Berdiri! - Senyummu manis!
- Astaga! - Kami akan
memotong sedikit bagian atasnya!
Ini dia!
Apa-apaan ini?
- Mama! - Pegangi dia!
Mama!
Muka... copot.
Hei, semuanya! Lihat ini!
"Menari, menari, menari."
Oh, ya! Kalian semua akan mati!
Ayo kita disalaminisasi.
Salum... mineh...
Minimisasi. Mini...
Slim. Slim. Slim?
- "Salaminizer"! - Diam kau, Stubs!
Lidahmu digondol kucing?
Jangan!
Pita VHS?
Mana ada pita begini? Tidak bisa menempel!
Aku tak mengerti cara benda ini bisa jadi film.
Tunjukkan filmnya!
Entahlah. Mungkin masuk ke sini?
Oh, masuknya... ke situ?
Ya! Lihat? Bagaimana cara memutarnya?
Ini film ganda.
Oh, tidak!
- Mulai. - Oke, Tim, kabar baru.
Kita tinggal 30 menit dari lokasi.
- Percayalah. Yang ini gila. - Tiga bulan lalu,
subscriber kirim foto layar,
katanya ada yang aneh
di hutan dekat batas Bulgaria.
Lihat angka itu?
Itu kode militer Soviet.
Kami menggali. Peta militer lama.
Arsip citra satelit.
Forum yang tak dikunjungi sejak 2007.
Tak ada foto online. Tak ada jalan ke sana. Nihil.
Biasanya artinya kami bakal ditangkap.
Kalau kami pertama masuk, pasti,
video ini akan meledak bak bom nuklir...
Tekan subscribe, hajar tombol like,
dan ikuti kami!
Lihat bokong ini.
- Suka? - Seksi sekali.
Kenapa kau merekamku terus?
Aku mau ambil gambar bagus.
- Karena aku mencintaimu. - Oh. Indah sekali.
Ini bukan pintu masuk utama.
Mungkin ini pintu masuk kedua.
Mungkin pintu darurat.
Pelan-pelan. Pelan-pelan, sialan!
Ayo!
- Ya. Ayo. - Kita hampir sampai.
Kenapa aku pacaran sama sersan galak?
Karena kau suka menderita.
Apa itu? Lihat ini.
Kamerad!
Sepertinya kita dekat.
Bodoh.
Aku pasti sudah dapat Emmy.
Benar, kan?
Lihat itu.
Astaga...
Oke, Maya, berlututlah...
dan berlagak kau yang menemukannya, ya?
Oke. Siap? Temukan itu.
Ya.
8-5-4, Sayang!
Wah.
Bagaimana kita turun ke sana?
Tak apa-apa.
- Oke. - Ya!
Giliranmu.
Oke. Ulang lagi intronya.
Ini jauh lebih seram.
Ayo.
Baiklah, para burung hantu cantik.
Selamat datang di episode
"Wes and Maya's Midnight Misadventure".
Spesial malam ini, kami bawa kalian
masuk ke instalasi militer Perang Dingin
yang tak dikunjungi minimal 40 tahun.
Ya, Kawan-kawan, dengar ini.
Kalau tak ada minimal satu
eksperimen pemerintah seram yang tertinggal, salah kalian.
- Wah. - Sudah kuduga.
Ayolah. Jangan pura-pura bisa bahasa Rusia.
Tentu saja bisa. Tulisannya...
"Wes, sebaiknya kau ajak Maya makan malam nanti."
Akan kucoba buka.
Sial!
Ya!
- Bagus. - Oke.
Baik. Masuk.
Sayang. Lihat ini.
Aku benci lihat yang begini.
Seram.
Hai, Sayang.
Ini bagian terburuk.
Maya. Sini.
Berhenti.
Ya.
Sama sekali tidak menyeramkan.
Sekitar 18 meter.
Gampang. Oke. Ayo.
Aduh.
Keren.
Ya. 1967?
Sepertinya ini bukan bunker.
- Mungkin lebih ke... - Infrastruktur.
Ya. Infrastruktur.
Pusat komando? Pusat komunikasi?
Mungkin stasiun penyadap.
Betul. Ini stasiun penyadap!
"Kemhan. Sektor 3."
Oke. Keren.
Terima kasih.
Wah.
Oke. Pintu berikutnya.
Mau kubukakan?
Biar aku saja. Coba kulihat.
- Jangan. - "Ruang uji."
Aku percaya padamu.
Oke. Berikutnya... generator.
- Oke. Siap? - Entahlah.
Sim salabim.
Mulai.
Aku mencintaimu.
Satu, dua, tiga.
Astaga.
Apa?
Gila.
Astaga. Sudah kuduga.
Mau tepuk tangan.
Dengar itu, Wes? Tak ada gema. Hening total.
Belum pernah kudengar suaraku begini!
Luar biasa. Astaga. Ini yang terbaik.
Oke. Biar aku...
"Jangan berada di area ini lebih dari 15 menit."
Oke. Sebaiknya kita bergegas.
Ya.
Kawan-kawan, kita di ruang anekoik,
teknisi pakai ruangan begini
untuk menguji antena di sistem.
Apa pun yang butuh isolasi akustik total.
Sekarang, lewat mikrofon kecil,
kalian dengar yang kami dengar.
Mantap.
Oke. Cek suara.
Cek suara. Satu. Dua.
Oke.
Wes dan Maya hadir di sini.
Kalian bisa dengar jantungku.
Bisa?
Gila.
Oke, Kawan-kawan. Kita nyalakan.
Pasti gampang karena pintunya sudah kita buka.
Oke.
Kuning dengan kuning harusnya bisa.
- Sial! Astaga! - Wah. Gila.
Oke.
Apa itu?! Sial!
Sial.
Kau sentuh sesuatu?
Tidak. Aku tidak menyentuh apa pun.
Ayolah. Tunggu.
Tak mungkin. Ini pintu tua.
Ini pintu... Tunggu.
Ayo berpikir.
Ayo berpikir.
Sial.
Tak ada sinyal.
Oke...
Bagaimana kita keluar?
Bantu aku. Ayo. Tarik.
Sial!
Pasti ada caranya.
Kau buka pintu dengan kabel.
Pasti bisa dibalikkan!
Entahlah. Semacam solusi!
Aku tak tahu harus berbuat apa!
Ssst!
Oke.
Kau bisa dengar?
Dengar apa?
Aku bisa dengar semuanya.
Wes?
Ayo tentukan lokasi kita.
Ssst!
Wes?
Ssst! Kumohon!
Wes...
Wes, tolong bilang...
Ini bising.
Bilang kau sudah kirim koordinat...
Tidak. Tidak, tidak!
Jangan! Hentikan!
Tolong berhenti! Ini harus berhenti!
Apa-apaan?!
Berhenti!
Sial! Sial!
Sial!
Tidak!
Tidak. Sayang. Aku di sini.
Sial!
Sial!
Sayang.
Jangan ganggu aku!
Hai, semuanya! Apa kabar kalian?
Sudah...
Aku tak tahu!
Mungkin sudah 16 atau 17 hari, entahlah.
Yang kutahu hanyalah aku terjebak.
Aku benar-benar terjebak!
Ada suara di mana-mana.
Aku bisa dengar darahku.
Aku bisa dengar saat mataku begini.
Ini... bisa kudengar.
Ada hal lain yang kudengar.
Kalian mau dengar?
Kutunjukkan.
Oke. Aku cukup ambil mikrofon kecil ini.
Lalu kutaruh di perutku.
Keren, kan?
Aku tak punya apa-apa untuk bayiku.
Aku tak punya makanan.
Bagaimana caraku menjalani ini?
Bagaimana?
Wes!
Wes! Kenapa kau tak menjawabku, Wes?!
Aku mencintaimu.
Maafkan aku.
Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!
Hei! Taruh kokain di meja katering!
Dan bukan cola!
Waktunya berakting.
Aku berlagak peduli dengan semua omong kosong ini.
Akulah Sang Berserk... Dialog!
Entahlah. Ada apa ini?
Namaku... Dialog! Entahlah.
Aku tak ingat apa-apa.
Aku belum lihat naskah. Dialog!
Ya! Kita akan mabuk berat malam ini!
Hei.
Baunya seperti glory hole di sini!
Amonia di mana-mana.
Baunya seperti Lysol,
penis nongol dari lubang.
Apa lagi namanya
kalau bukan glory hole, Maury?!
Halo, sampah. Ini aku, Sawborg Destructo.
Betul. Aku tahu.
Aku scumdog paling seksi di luar sana.
Tapi cukup soal aku.
Ini soal tamu kita. Kau kupanggil apa?
Para Dewa Purba? Para Kuno?
Kupanggil apa? Bagaimana menyapamu?
Yah. Itu bodoh.
Maksudku, misterius. Misterius. Ya.
Jadi, bagaimana rasanya jadi entitas mahatahu?
Persembahan minuman, katamu?
Aku tak suka itu.
Kalau ada yang kubenci, itu pembohong.
Pembohong! Blblblb!
Ini awal proyek dokumenter kuliahku,
hidupku sehari-hari.
Tugasnya merekam kegiatanku
lalu menyusunnya jadi cerita.
Alatku adalah kamera butut andalan,
Sony compact vlog, yang sedang merekamku.
Dan ini, tabuh genderang,
senjata rahasia baruku yang mahal.
Kacamata kamera baruku dengan kamera 4K.
Agar orang tak tahu aku merekam mereka.
Jadi... mari mulai.
Ini kamarku.
Perabotannya agak... kuno,
tapi, hei, sudah termasuk.
Kamar tanpa pemandangan.
Tapi setidaknya ruangannya luas.
Kamar mandinya di sana.
Aku ogah difoto!
Oke. Mari kita coba.
Kedengarannya ada yang berlatih.
Halo.
Saya Philip.
Saya Philip.
Saya baru di kamar sudut,
jadi kita bertetangga.
Siapa yang main biola?
Anda tahu?
Itu dia!
Bagaimana apartemen barunya, Pak Howard?
Bagus, Bu Blandi.
Bagus! Aku tak tahu kau berkacamata.
Bingkainya bagus!
Kau sudah betah?
Ya. Tapi boleh saya tanya?
Siapa yang memainkan biola gila itu?
Itu pria bernama Pak Sze.
Dia tinggal di lantai atas.
Agak aneh, tapi nanti kau terbiasa.
Kenapa aneh?
Dia bekerja hampir tiap malam
di orkestra sebuah klub murahan.
Lalu dia pulang dan memainkan musik gila itu!
Makanya dia tinggal di sana sendiri,
supaya bisa main malam hari.
Dia tidak main semalaman, kan?
Yah, kadang iya, kadang tidak.
Nah! Dia berhenti. Lihat? Dia orang tua aneh.
Tapi tahu tidak?
Dia menyendiri dan tak mengganggu.
Di atas cuma satu kamar?
Ya. Loteng. Itu miliknya.
Dia seolah sepaket dengan gedung ini.
Terima kasih. Selamat malam.
Malam, Sayang!
Selamat malam.
Dengar.
Dengar itu?
Ini jam 03.15 pagi,
dan dia di atas sana main habis-habisan.
Musik ini luar biasa.
Aneh... sangat... hebat.
Yah. Pertunjukan selesai.
Ups. Sial!
Permisi. Pak Sze?
Maaf. Saya tak bermaksud kaget.
Saya Philip Howard, penggemar berat musik Anda!
Permainan biola Anda luar biasa!
Kau... Kau dengar musikku?
Ya, Pak.
Saya pernah dengar. Menurut saya brilian.
- Terima kasih. - Pak Sze.
Maukah Anda memainkan musik Anda untuk saya?
Kau musisi?
Bukan, Pak. Saya mahasiswa. Mahasiswa film.
- Apa? - Mahasiswa film, Pak.
Saya ingin sekali merekam Anda bermain.
Merekamku?
Ya, Pak, tapi dengan kamera. Kamera video.
Tapi, Pak Sze, ini cara bagus
untuk berbagi seni ke dunia.
Musik Anda terekam selamanya.
Saya membuat dokumenter, dan ingin Anda tampil!
Oke. Sepertinya... tidak.
Permisi. Tuan...
Howard.
Pak Howard.
Katamu kau bisa merekam musikku
dan menyimpannya untuk generasi mendatang?
Ya, Pak.
Bukan hanya rekaman musik,
tapi juga video Anda bermain.
Tampil.
Kapan kita bisa melakukannya?
Kapan pun, Pak. Anda yang tentukan.
Bisa kita lakukan sekarang?
Sekarang? Ya, bisa.
Beri saya waktu sebentar untuk ambil peralatan?
Ya.
Oke. Saya segera kembali.
Masuklah.
Minggir.
Harus... Harus menutup...
Tutup jendelanya.
Duduk.
Bravo, Pak Sze! Itu indah sekali!
Anda tahu, yang sangat ingin saya dengar
adalah lagu lain yang Anda mainkan.
Kira-kira begini.
Berhenti! Hentikan sekarang juga!
Dengar! Jangan pernah ulangi musik itu!
Jangan mainkan! Jangan menirunya!
Jangan pernah mendengarnya!
Katakan. Kapan kau mendengarnya?
Semalam. Saya dengar dari plafon.
Apartemen saya tepat di bawah Anda.
Kau mendengarku?
Kalau begitu kau harus segera pindah
ke apartemen lain di lantai bawah!
Apa? Kenapa?
Kuatur dengan Bu Blandi.
Dan akan kubayar. Sekarang pergi!
Matikan kameramu dan tolong pergi!
Apa-apaan tadi itu?!
Kalian lihat wajah Pak Sze. Dia benar-benar ketakutan.
Kenapa? Dan jendelanya.
Jendela baja itu berguncang
seperti ada yang mau mendobrak masuk.
Tapi dia di lantai tiga, jadi itu tidak masuk akal.
Tidak. Percayalah.
Ada yang aneh di atas sana.
Oke, aku sedang pindah ke apartemen bawah.
Hentikan. Sudah kubilang. Aku ogah difoto!
Tenang. Tidak ada foto.
Kenapa? Kau pindah?
Sudah tak suka dengan kami?
Bukan, aku cuma pindah ke lantai satu.
Tapi, coba bilang.
Apa yang kau tahu soal pak tua di atas?
Pak Sze.
Tidak ada. Aku tak tahu apa-apa.
Kalau kau?
Ya. Oke.
Itu dia, Sayang!
Kami baru membersihkan tempatmu.
Josh baru mengepel lantaimu.
Makasih, Bu B. Makasih, Josh.
Dan sesuai syarat Pak Sze, sewamu sudah dibayar...
selama kau tinggal di sini.
Pernah dengar ada orang berbuat begitu?
Tidak.
Aneh sekali, kalau menurutku.
Nikmati tempat barumu!
Pak Sze.
Pak Sze, tunggu, Pak. Maaf soal tadi.
Saya tak berniat bikin Anda kesal
dengan dokumenter itu.
Tapi, Pak, saya masih membuatnya.
Dan sudah hampir selesai.
Mungkin kalau kita bisa satu wawancara lagi,
kita bisa bicara lebih banyak soal musik Anda.
Dan tak harus lagu yang itu.
Lagu yang bikin Anda kesal.
Walau lagunya bagus.
Tapi saya cuma penggemar,
dan mungkin Anda bisa jadi inspirasi
bagi seniman lain seperti Anda... Pak, tunggu!
Sial.
Astaga!
Ya. Mulai lagi.
Wah.
Apa...
Ada apa ini?
Apa-apaan?
Halo, Pak Sze. Saya mau tahu kabar Anda.
- Astaga! Rambut Anda! - Permisi!
Ya, Pak Sze. Tentu. Maaf.
Astaga. Rambutnya.
Wah.
Menarik.
Wah.
Wah. Apa-apaan?
Apa-apaan ini?
Menjauh dari situ!
Tidak, tidak!
- Apa itu? - Ia melihatmu sekarang!
Ia datang! Ia mengenalmu sekarang!
Apa itu?!
Apa itu?
Pak Sze? Apa yang terjadi?!
Pak Sze! Pak Sze!
Pak Sze, apa yang terjadi?
Pak Sze!
Astaga!
Astaga! Apa-apaan ini?!
- Ada apa ini?! - Lari! Keluar sekarang!
Sudah kubilang! Ada yang datang!
Tidak!
Makhluk apa kau?
Bajingan!
Apa-apaan?!
Jangan!
Jangan!
Astaga.
Pukul matanya!
Tidak. Mundur!
Josh! Jangan!
Sial.
- Itu tadi keren! - Mantap!
- Ya. - Ya, itu keren.
Aku suka film-film found footage itu.
Ya! Aku tahu itu.
Keren. Tapi bagaimana cara menemukan footage-nya?
Entahlah. Suruh orang cari footage.
Tunggu. Testiclees!
Hei, carikan kami footage yang perlu kita temukan!
Yah, sial!
Tidak!
Suara penderitaan manusia!
Adakah musik yang lebih indah di seluruh semesta?
Eufoni rasa sakit.
Penderitaan merdu dari jiwa tersiksa.
Horor dan suara...
menikah tak terpisahkan,
berkelindan bagai sepasang kekasih...
saling memangsa penderitaan satu sama lain...
mengisi mimpi buruk kita dengan bising kengerian.
Suara. Getaran sederhana.
Tapi suara punya kekuatan.
Kekuatan untuk membuat pria dewasa
bertekuk lutut
gemetar ketakutan...
putus asa ingin lari dari siksaan
yang menyerang liang telinga mereka.
Mengebor makin dalam
ke jiwa mereka.
Bising yang tak terbendung...
dan tak berbelas kasih!
Wow! Klip terakhir dari...
...luar biasa!
Jadi...
Hei. Kalian pasti suka klip berikutnya dari...
Waktu aku kecil, ayahku seorang legenda.
Dia produser terhebat yang pernah kudengar.
Dia menggarap ratusan lagu.
Dua bulan lalu, saat dia meninggal, semuanya berubah.
Aku buntu meracik beat ini untuknya.
Jadi aku kembali ke kaset demo lamanya untuk inspirasi.
Lalu aku menemukan ini.
Lydia, kalau kau menemukan rekaman ini,
wujud ragaku mungkin sudah tamat...
tapi beat-nya abadi.
Buatlah lagu dengan langkah-langkah ini,
dan aku akan bersamamu selamanya.
Ingatlah untuk merekam prosesnya.
Inilah lima pelajarannya.
Pertama, mulai dengan drum dan bas.
Ritme adalah fondasinya.
Rahasianya adalah mencari suara yang unik, orisinal.
Tahu berapa banyak orang pakai preset hambar yang sama?
Membuat musiknya terdengar pasaran?
Aku tak bisa menemukan suara yang kucari, sialan.
Tapi aku tak akan menyerah demi Ayah.
Kau tahu, beberapa musisi hebat...
Hendrix, Peppers, Lil Wayne...
mereka memakai hal lain untuk mencapai level lebih tinggi.
Kurasa ayahku tidak.
Tapi mungkin...
Suksesku datang karena aku memasukkan suara organik baru
ke dalam produksiku,
suara yang tiada duanya,
segar di telinga manusia.
Aku merekam semua sesuai kata Ayah,
dan lagunya berkembang.
Aku cuma butuh inspirasi lagi untuk bahan sumbernya.
Itu dia!
Makasih sudah datang mendadak.
Kukira kau tak akan datang.
Tidak, aku juga butuh ini sepertimu.
Aku terkurung di studio seharian.
- Kenapa ada kamera? - Ini untuk
proyek dokumenter yang kugarap.
Oke.
Kalau aku minum beberapa lagi,
aku yakin aku tak keberatan apa pun.
Jadi rekam saja, Cantik.
Bersulang. Untuk proyekmu.
Aku menggarap album konsep.
Wah, sungguh? Musik apa?
Black metal. Banyak perkusi organik.
Direkam langsung.
Jangan tertawa.
Aku tidak. Cuma mengejutkan.
Kau terlihat terlalu manis untuk bikin musik keras.
Banyak yang bilang begitu sampai kenal aku.
Lalu?
Lalu semuanya sudah terlambat.
Kau bisa taruh sepatumu di pintu.
Piringan emas? Aku tak tahu kau seterkenal itu.
Bukan, itu milik ayahku.
Tapi aku sedang menggarap
yang kuharap bisa sebesar itu.
Baiklah. Tempatnya bagus.
Makasih. Ini kamarku.
Kita mulai?
Ya.
Kamera lagi.
Apa ini? "Boogie Nights"?
Kalau iya, kenapa?
Katamu kau mau apa saja.
Kau benar-benar binal, ya?
Kau tak tahu saja.
Ada yang ingin sekali kucoba denganmu.
Kau mau?
Wah. Kaki juga?
Aku mau kau benar-benar tak berdaya.
Aku butuh isolasi total bahan sumbernya.
- Hei. - Biar kubantu.
Hei!
Ini terlalu kencang! Hentikan.
Maaf. Aku perlu menentukan frekuensi dasarnya.
Hei. Ini tidak lucu lagi.
Hei. Jangan.
Maaf. Akan kucoba lebih lembut.
Pelajaran kedua. Buat lapisan vokal.
Hai!
Hei. Aku lihat penampilanmu di bar.
Sungguh istimewa.
Makasih. Kau benar-benar mendengarkan?
Lebih dari itu. Aku cuma fokus padamu.
Nada alamimu luar biasa.
Pernah terpikir rekam demo yang layak?
Itu semua kau sendiri?
Aku sendiri.
Jadi katamu ini studio rekaman?
Ya, biliknya di belakang sini.
Keren.
Kau langsung masuk saja ke sana.
Dan buat dirimu nyaman.
Kedengarannya... bagus.
Oke. Siap? Merasa enak?
Sebaik mungkin. Ya.
Ya, kau bisa menyetelnya sesukamu.
Sudah cukup bagus.
Aku mau menyiapkan semuanya di sini.
Oke. Semua siap.
Di sinilah keajaiban terjadi.
Begitu.
Plastik apa di lantai ini?
Semua disiapkan untuk suara istimewa.
Paham. Lucu juga.
Apa itu yang biasa kau pakai saat sesi rekaman?
Cuma untuk menambah feng shui-nya.
Feng shui, jelas.
Jadi, aku masih belum tahu kita mau apa.
Aku menyanyi apa? Genre apa?
- Musik soul. - Aku tak biasa nyanyi soul.
Aku lebih ke penulis lirik klasik.
Hei, kau mau apa...
Aku oke soal narkoba.
Itu kelihatan gila.
Oke.
Apa-apaan ini?
Apa-apaan kau ini? Persetan kau.
Sial!
Pelajaran ketiga. Beri lagu itu keluasan.
Buat ghost note di kunci lagunya
untuk memberi nuansa lapang dan melamun.
Hei. Maaf mengganggu!
Ya. Mau apa?
Aku pindahkan alat
dari studio dekat sini,
dan punggungku sakit sekali.
Aku cuma perlu bantuan angkat dua peti.
Paling lama 20 menit.
Kuberi 50 dolar tunai dan kutraktir makan?
Ini.
50 dolar tunai?
Dan sebungkus rokok.
Masuklah. Biar kau tak kedinginan.
Omong-omong, kenapa kau merekam semua ini?
Agar bisa kuputar saat aku sedih.
Astaga.
Tolong!
Tolong aku!
Siapa pun, tolong!
Tolong!
Siapa pun! Tolong aku!
Hei, Cantik.
Siap?
- Nona Van Horn? - Sial.
Nona Van Horn? Detektif Sharpe.
- Maaf mengganggu. - Oh. Tak apa.
- Ada masalah? - Kenapa ada kamera?
Saya merekam proses kreatif saya.
Anda tak boleh merekam
percakapan ini, Nona.
- Tapi Anda merekam saya. - Touchรฉ.
Mari tukar rekaman.
Oke. Tak akan lama.
Sayangnya, ada serangkaian
laporan orang hilang dua minggu ini
di radius sepuluh blok.
- Oh, sayang sekali. - Jadi saya ke sini
untuk tanya apa Anda lihat sesuatu.
Aduh. Saya tak tahu.
Banyak hal aneh di daerah sini, kan?
- Ya... - Ini kota besar.
Tapi, tidak, tak ada yang menurut saya
terlalu... berbau pembunuhan.
- Pembunuhan? - Ya.
Jika hilang lebih dari 48 jam,
saya yakin peluang pembunuhan
naik 70%.
- Anda tinggal sendirian? - Ya.
Hanya saya dan alat rekam saya.
Keren.
Tahu tidak, suara Anda lapang sekali.
Pernah rekam demo?
Lucu. Lucu sekali.
Saya pernah coba. Sedikit waktu SMA.
Tapi panggilan saya bukan meracik beat.
Melainkan berpatroli.
Saya sedang menggarap lagu.
Saya rasa suara Anda pelengkap yang saya butuhkan.
Saya tersanjung, tapi tidak. Saya masih bertugas.
Tapi tolong kabari saya kalau melihat atau mendengar sesuatu.
Tentu.
Semoga lancar, Nona Van Horn.
Semoga sukses dengan lagunya.
Pelajaran keempat.
Jangan bersembunyi di balik mesin.
Turun langsung dan bereksperimen.
Bongkar. Rakit ulang.
Bangun melodimu.
Gitar keren! Boleh kumainkan?
Silakan.
Ingat, lindungi lehermu!
Sebagian prosesnya kotor.
Itulah yang menciptakan suara autentik dan mentah.
Ingat. Boleh mencampur genre.
Tambahkan sentuhan klasik.
Oke, Sayang. Aku cuma butuh C mayor.
Nona Van Horn!
Nona Van Horn, ini serius.
Ada rekaman CCTV Anda bicara dengan pria
di luar minimarket sekitar seminggu lalu.
Pak Mark Stephenson.
Yang sejak itu tak pernah terlihat lagi.
Dan Anda pikir dia di sini?
Boleh saya lihat-lihat?
Sebenarnya, ya, keberatan.
Anda anggap saya gadis macam apa,
tapi Anda membuat saya malu.
Nona Van Horn,
saya terpaksa membuat Anda sangat malu
kalau saya kembali bawa surat perintah.
Sepertinya memang begitu.
Pelajaran kelima. Masukkan dirimu ke dalam karya.
Nona Van Horn! Saya kembali bawa surat perintah!
Keadaan tak berpihak pada Anda.
Nona Van Horn?
Sial.
Ya Tuhan.
Entah aku sanggup yang satu ini, Ayah.
Jangan bergerak! Anda ditahan!
Tak apa.
Musik membuatnya sepadan.
Ada beberapa pembunuhan. Setidaknya empat.
Harus kuhitung potongannya dulu.
Tangan. Kaki.
Banyak hal kacau di sini.
Kita berhasil, Ayah.
Sempurna.
Nada kematian.
Alih Bahasa: Syahroel
DUKUNG TERUS SAYA DI: https://trakteer.id/syahr0el
Menarilah!
Baiklah.
Kau mau lihat boneka-bonekaku? Ayo.
Mereka terlihat damai sekali.
Aku harus cari anak magang baru.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.