Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
TAKE CHARGE OF MY HEART
Bu Direktur.
Aku tak ingin lagi mengawalmu.
Apa?
Aku ingin…
memilikimu, Bu Direktur.
Sial, kenapa bergerak lambat?
Sebenarnya kapan dia mau menciumku?
Dasar…
Apa?
Memang begini rasanya bibir manusia?
Jadi, tadi itu aku memimpikan naskahku?
Tunggu.
Bagaimana bisa di mimpi pun aku tidak ada kemajuan?
Setidaknya untuk ciuman saja…
Sial.
Andai aku menjadi tokoh utama di serial drama,
perkenalanku akan dimulai seperti ini.
- Na Bo-bae, cepat siap-siap! - Ya.
Namaku Na Bo-bae.
Sebentar lagi usiaku 30
dan masa depanku masih gelap.
Kak, itu ada di mana, ya?
Jaket kotak-kotak punyaku.
Itu kugantung di depan.
Ini kakak perempuanku, mantan atlet peraih medali emas taekwondo yang akan menikah.
Hei, Yong-gi!
- Ya. - Kak, berikan itu!
- Ini? - Ya.
Tangkap.
Ini kakak laki-lakiku, mantan atlet judo yang punya dojo sendiri.
Dan aku,
anak bungsu di keluarga atlet
yang menjadi satu-satunya penulis.
JUARA NASKAH FTV
Aku tumbuh dengan kasih sayang keluarga meski kondisi fisikku tak biasa. Tapi…
Aku pergi, ya!
- Sudah mau pergi? - Ya.
Sebentar lagi kau 30 tahun, tapi masih telat?
Kak, rotinya!
- Tak mau, perutku sakit. - Apa? Kunyah saja pelan-pelan.
- Makanlah. - Perutku sakit.
- Kunyah perlahan. - Dah.
Ya.
Aku merantau setelah sesumbar akan tinggal bersama orang tuaku
jika sebelum umur 30 belum jadi penulis naskah drama sukses.
Na Bo-bae, semangat!
Kini,
aku sedang meniti tali yang rapuh di ambang jurang kegagalan.
Apa yang salah, ya?
Aduh…
Astaga.
Wah, ketampanan yang langka.
Dia cocok jadi tokoh utama pria untukku.
Oh, maksudku bukan tokoh utama pria untuk hidupku,
tapi untuk naskahku.
Kau baik-baik saja?
Jika ini serial drama,
pasti ini awal dari kisah romantis.
Tapi bagiku, ini adalah…
genre horor.
- Maaf, aku mau turun. - Aduh!
- Karena… - Maaf.
…dalam hidupku tak akan pernah ada genre romantis.
Berbeda dengan naskahku.
HYE-JU BERJALAN DENGAN BERWIBAWA
Bu Direktur.
(DENGAN TATAPAN TAJAM)
Kau mengikutiku naik bus?
Jangan mengawalku saat berangkat kerja.
Bagaimana bisa?
Aku sangat mengkhawatirkanmu.
Kau itu pengawal. Bersikaplah layaknya pengawal.
Kau melewati batas.
I-HYEOK, MENYERGAP LENGAN HYE-JU
I-HYEOK, MENCIUM DENGAN AGRESIF
HYE-JU, HATINYA LULUH MESKI TERKEJUT
Apakah kau mengoles madu di bibirmu?
Manis sekali.
Bibirmu lebih manis lagi.
Penulis Na, kau gila?
Kenapa?
Awalnya bagus, tapi kenapa ciumannya begini?
Madu di bibir… Astaga, bagaimana ini?
Dia beruang? Kenapa bibirnya rasa madu?
Apa pengawal bisa sembarangan mencium bosnya begitu?
Bukankah gagah?
Dalam tulisan mungkin begitu,
tapi ini adalah era global. Apa maksudmu?
Intinya, tokoh ini
baru dua minggu jadi pengawal.
Kenapa tiba-tiba dia jatuh cinta dan mencium wanita?
Bukankah semua orang begitu saat jatuh cinta?
Ya, 'kan? Mata kita terbutakan.
Kita merasa harus memilikinya, lalu terdengar dentingan lonceng…
Penulis Na.
Jawab yang jujur.
Kau tak pernah pacaran, 'kan?
Ya ampun.
Sebentar lagi aku 30 tahun.
Tak pernah pacaran? Yang benar saja.
Benarkah? Kau pernah punya pacar?
Jadi, kau pernah ciuman, kencan di Sungai Han dan taman hiburan?
Tentu saja… pernah!
Jelas pernah. Itu standar pacaran.
Dulu pria-pria mengantre mendapatkanku.
Oh, begitu?
Lalu, mana instingmu?
Coba lihat pria ini.
Sisi romantisnya mati dan terkubur.
Tak bisa bangun lagi.
Tentu saja.
Aku jomlo dari lahir. Semua pria kabur saat mau pegang tanganku.
Sisanya sudah bagus. Tahu?
Aku kagum dengan bakatmu saat debut dan membanggakanmu ke semua orang.
Dialog dan ceritanya bagus. Karakternya kompleks.
Tapi setiap adegan romantis, kenapa mereka selalu begini?
Kenapa mengecewakan penonton?
Kenapa kau mengkhianati mereka?
Aku juga tak berniat mengkhianati orang…
Kontrak kita selesai tiga bulan lagi.
Kau harus perpanjang kontrak, 'kan?
Benar?
Ya.
Waktumu tiga bulan.
Dalam tiga bulan,
buatlah kisah romantis yang bergairah.
Buatlah kisah romantis dewasa,
sekalipun kau harus berpacaran
dengan sembarang pria.
Baik.
TS RESORT JEJU
Tidak! Luar biasa. Bagaimana ini?
Aku sulit bernapas!
Airnya masuk mulutku!
Ke mana…
Ke sana!
Kumohon, angkatlah teleponnya!
Halo. Sudah sampai?
Langsung naik saja…
dan sergap mereka.
Siapa yang akan melapor isu di Jeju?
Seharusnya Tim SDM. Manajer Umum yang meminta.
Ini soal pembatalan reservasi. Seharusnya Tim Operasional.
Apa maksudmu?
Dasar…
Astaga, jika membayangkan bocah itu
menyanggah setiap ucapanku sambil tersenyum…
Itu apa?
Obat lambung.
Oh, beliau sudah datang.
Selamat datang, Pak.
Ayo masuk.
Begini, Pak Baek.
Apa sudah tahu soal angin topan besar
yang melanda Jeju, Pak?
Ya, tentu saja.
Akibat angin topan itu,
kerugian di cabang Jeju tidak main-main.
Berkat arahanmu, resor tersebut dibangun sangat kokoh
sehingga tak ada kerusakan fasilitas.
Namun, akibat pembatalan penerbangan dan kerusakan jalan,
banyak tamu yang membatalkan reservasi.
Rincian kerugiannya masih terus kami pastikan lagi.
Dua menu ini. Jadikan sebagai menu andalan musim ini.
Sisanya, buat ulang.
Kami masih menghitung jumlah pasti pembatalannya.
- Akan kami laporkan hari ini. - Baiklah. Jadi?
Oh, jadi…
Menurut hasil analisis, kemungkinan kita tak bisa mencapai
target pendapatan HUT ke-30 TS Resort…
Lampu itu mati.
Baik, Pak. Itu akan segera diganti.
Namun, kami sudah menerima semua denda pembatalannya.
Tamu yang masih menginap pun mendadak memperpanjang masa tinggal,
jadi ditarik biaya tambahan.
Tak perlu khawatir, Pak.
- Begitu? - Ya.
Tamu yang menolak membayar biaya tambahan telah dipaksa keluar.
Siapa orang yang menanganinya
seperti itu?
Manajer Umum, Heo Ji-hwan.
Oh, begitu.
Manajer Umum Heo.
- Sekretaris Yoon. - Ya.
- Kita baru mengganti kontraktor lanskap? - Benar.
Ganti lagi.
Semua bentuknya berbeda.
Baik, Pak.
Pak Jang.
Ya, Pak Baek.
Bisa tolong hubungi Manajer Umum Heo?
Baik.
MANAJER UMUM HEO JI-HWAN
Halo, Pak.
Halo, Pak Jang.
Apa kabar, Pak?
Meski cabang Jeju menghadapi situasi darurat akibat angin topan,
kau menanganinya dengan sangat baik.
Dan ini aku meneleponmu atas perintah langsung dari Pak Baek.
Itu bukan hal besar.
Sebagai Manajer Umum TS Resort Jeju, tentu aku harus bertindak tegas.
Jangan cemaskan hal lain.
Halo, Sekretaris Go. Sudah siap?
Ya, kami sudah masuk, Pak.
Ada apa ini?
Permisi.
Ayo lihat ke sini. Senyum!
Apa ini? Singkirkan!
Kenapa kau merekam?
- Apa-apaan? - Pak Baek.
Saat ini, seperti katamu,
Manajer Umum Heo memakai kamar yang dibatalkan
untuk pertemuan golf.
Oke.
Video tadi sudah kukirim ke Pak Baek.
TKP pun sudah kufoto.
- Apa ini? - Pak Heo, apa-apaan ini?
Kalian dari divisi apa?
Sudah dengar, 'kan?
Itu artinya,
Pak Heo telah menggunakan kamar suite
untuk keperluan pribadi dan bahkan secara gratis.
- Dia gila? - Kau tak tahu itu?
Malah bertanya…
Segera pecat dia dan ajukan tuntutan.
Baik.
Suruh Tim Sekretariat meminta maaf kepada tamu yang dipaksa keluar.
Segera, Pak.
Dan untuk para korban angin topan,
sediakan semua kamar yang masih kosong di cabang Jeju
tanpa dipungut biaya.
Apa?
Pak, soal itu…
Oh, ya.
Tadi katamu, kita tak bisa mencapai target pendapatan
HUT ke-30 TS Resort?
Menurutku,
itu bisa tercapai.
Ini bukan reservasi umum, tapi khusus korban topan…
Lift tak beroperasi untuk antisipasi. Tak masalah memakai tangga?
Ya, saat ini lobi sudah penuh.
Tolong diarahkan ke aula rapat.
TS Resort Jeju memutuskan untuk membuka seluruh resornya
untuk warga sekitar yang terdampak angin topan
tanpa dipungut biaya sama sekali.
Direktur Eksekutif TS Resort, Baek Ho-rang,
saat ini tengah mengubah kamar dan lobi resor
menjadi penampungan darurat,
serta berencana membantu upaya pemulihan.
Bagaimana resor Jeju?
Keluarga dengan ibu hamil, difabel, atau anak-anak masuk kamar suite.
Vila dialokasikan untuk keluarga dan perorangan,
yang dipisah sesuai jenis kelamin.
Apa bantuannya?
Warga dapat akomodasi gratis selama sebulan.
Bantuan sudah disalurkan langsung
dan donasi pun akan disumbangkan lewat Balai Kota Jeju.
Media juga menyoroti kepedulian sosial TS Resort.
Ini disambut positif. Saham ikut naik.
Kalau begitu, saatnya kita mencari wajah baru.
Sudah cari modelnya?
Soal itu…
Pilihan utama, aktor Ji Eun-ho.
Dia terus memuncaki peringkat reputasi merek dan popularitas.
Bintang naik daun yang kebanjiran tawaran drama, film, dan acara varietas.
Tenar bak idola.
JI EUN-HO TIBA DI KOREA
SAAT BEL SEKOLAH BERBUNYI
"KETENARAN INI MASIH SULIT KUPERCAYA"
JI EUN-HO MELEJIT JADI BINTANG GLOBAL
Belum lama ini, dia menjadi Aktor Terbaik di Heuksang Arts Awards.
Dramanya sukses, hingga menarik banyak penggemar global
dan ditawari membintangi film Hollywood.
Itu bagus. Jadi?
Jadi, karena semua alasan yang tadi kusebutkan…
jangankan kerja sama, mengontaknya pun sulit.
Sekretaris Yoon.
Kau bercanda?
Aduh, ini membuatku stres.
Kepalaku mau pecah memikirkan rencana dan solusi
untuk masalah resor Jeju.
Kau menambah pusing!
Kuminta menjalin kerja sama, tapi kau tak bisa mengontaknya?
Laporan macam apa itu?
Apa cuma aku yang kerja? Aku sekarang ini…
Pak Baek.
Pak Baek.
Mengagetkan saja.
Jantungku ini rentan.
Mohon tenang.
Tarik napas yang dalam.
Detak jantungmu
melebihi angka 100.
Asal gerak saja melebihi 100.
Tarik napas dalam. Embuskan.
Kosongkan kepalamu
dari pikiran negatif dan kekhawatiran.
Singkirkanlah obsesimu yang percaya bahwa kau
bisa mengendalikan
segalanya.
Embuskan.
Embuskan.
Ji Eun-ho di mana?
Ya?
Akan kubuat dia
menandatangani kontrak.
- Na Bo-bae. - Hei.
Seo-jeong.
Dari wajahmu, pasti gagal lagi.
Apa lagi? Adegan romantis? Sentuhan?
- Ciuman. - Astaga.
Pak Yeom berharap apa dari jomlo sepertimu?
Hei, nanti ada yang dengar.
Ya ampun.
Ini berulah lagi.
Apa ini?
Ini tak bisa?
Astaga. Kenapa semuanya kacau begini?
Kau benar.
Semuanya memang kacau.
Kenapa?
- Bo-bae. - Tidak, aku tak mau.
- Aku tak suka melakukannya di luar. - Cuma ada kita.
Ada CCTV di sini.
- Tak mau. - Ayolah, aku mohon.
Pak Yeom akan mengoceh kalau aku lama.
Tolong bantu aku, Kawan.
Jika kau membantuku,
akan kuceritakan kencanku dengan gebetan baru.
Termasuk cerita ciuman dengan sangat detail.
Sial…
Wah!
Wah, gila.
Kau memang Manusia Pikachu.
Jangan panggil aku begitu.
Aku minta maaf, serius.
Terima kasih, Bo-bae.
Maaf.
Sebenarnya,
aku punya satu rahasia yang tak boleh kuungkap.
- Kita makan apa, ya? - Aku mau sundae.
Aku mau tokpoki.
Aku mau dua porsi.
- Kalau aku, mau tiga porsi. - Aku empat porsi.
Semenjak disambar petir,
aku tiba-tiba punya kekuatan listrik.
Bo-bae.
Saat di luar,
jangan bersentuhan dengan siapa pun.
Arus listrik mulai mengalir di tubuhku.
Kecoak!
- Kak! - Kenapa? Ada apa?
Ada kecoak!
Kak, cepat tangkap!
Kak!
Kekuatan listrikku makin kuat saat emosiku memuncak.
Bo-bae.
Katamu kau menyukaiku. Kau memintaku jadi pacarmu.
Tapi kalian belum resmi berpacaran.
Kudengar, kau melarangnya memegang tangan atau menyentuhmu.
Kau menceritakan itu?
Itu faktanya.
Kau lama menerimaku dan aku dilarang menyentuhmu.
Pria mana yang mau denganmu?
Aku benar-benar berakhir sendirian
karena kekuatan terkutuk ini.
Jangan tekuk wajahmu.
Wah, kenapa ramai sekali?
Tampaknya ada artis. Pakai sarung tanganmu.
Aku pergi, ya.
Nanti kutelepon. Untuk cerita ciuman.
Terima kasih. Dasar menyebalkan.
Perutku kenapa begini, ya?
Apakah kedatanganku
diketahui wartawan?
Tampaknya mereka
bukan wartawan.
Ayo pergi.
Hei, itu Eun-ho!
- Syutingnya selesai. - Ayo!
Pak… Pak Baek.
Pak Baek, ini…
Hei…
Pak Baek!
Pak… Pak Baek!
Pak Baek!
Terima kasih.
Pak Baek!
Terima kasih.
Itu tadi…
Itu…
- Kau tak apa-apa? - Aku… Ya.
Kau lihat, tadi aku didorong.
Aku tahu itu tak sengaja.
- Kalau begitu, permisi. - Baik.
Aduh…
Tunggu. Permisi.
Tunggu!
Tunggu sebentar.
Sebentar…
Mohon izin sebentar.
Sungguh tak tersetrum.
Apa yang kau lakukan?
Tadi…
Tadi saat bibir kita bersentuhan,
apakah kau
tidak merasakan sesuatu? Mungkin getaran atau setruman?
Sama sekali tidak.
Permisi.
Tunggu. Sebentar saja.
Kenapa begini?
- Tunggu. - Kau kenapa?
- Sebentar saja. - Kenapa begini?
- Sekali saja. - Hei…
- Apa-apaan? - Sekali saja.
Hanya sekali.
Oh, Sekretaris Yoon!
Sekretaris Yoon!
Pak Baek!
Tidak muncul juga.
Jangan-jangan dia tak bisa menghantarkan listrik
seperti sarung tangan karet
yang hidup?
Permisi.
Kenapa?
Apakah bisa
lakukan itu bersamaku sekali…
Pak Baek!
Kau baik-baik saja?
- Kenal dengannya, Pak? - Tidak.
Aku tak kenal.
Aku tak tertarik denganmu. Hentikan.
Tidak, bukan begitu…
Permisi, mari kita bicara sebentar…
Sebentar saja. Bisa kita…
Bicaralah denganku sebentar saja. Hanya sebentar.
- Jika mengganggunya… - Itu…
Maafkan aku!
Kenapa cuma dengannya listrikku tidak…
Kenapa?
- Ada apa? - Perutku…
Maafkan aku!
Aduh, perutku!
Tunggu dulu…
Aku harus bertemu lagi dengan pria barusan.
Sarung tangan hidupku…
Apa ini sakit?
Kita akan ke rumah sakit.
Tidak!
Astaga, apa yang terjadi?
Wanita yang dibawa itu
mirip Kak Bo-bae, ya?
Penulis Na Bo-bae?
Kenapa dia di sini?
Mungkin saja
hari ini dia ada rapat di sini.
Coba kutelepon.
Eun-ho, aku khawatir.
Rapat hari ini penting.
Aku tahu.
Jika kau menghilang, tamat riwayatku. Oke?
Telepon nanti setelah rapat.
- Ini jatuh terus. - Tak diangkat.
- Firasatku buruk. - Hei.
Hei, Ji Eun-ho!
Ya ampun.
Eun-ho, mau ke mana? Pak Yeom sudah menunggu.
Apa dia ada masalah? Biasanya tak begini.
Katamu kau bisa mempertemukanku dengan Ji Eun-ho kapan pun aku mau.
Ji Eun-ho entah ke mana,
sedangkan kita sudah berkencan selama 30 menit.
Benar juga.
Bagiku, waktu yang kuhabiskan bersamamu sangat berharga.
- Sekretaris Yoon. - Ho-rang. Tidak…
Pak Baek! Tunggu sebentar.
Akan kujadwalkan lagi, apa pun caranya.
Tapi tolong bantu komunikasikan dengan pihak TS Resort.
Mereka mau menyediakan tempat, tapi semua lokasi dilarang.
Sudah ajukan proposal berikut rencana cadangan?
- Cadangan? - Buatlah rencana efisien.
Ajukan dengan rencana B, bahkan C. Pasti mereka akan lihat.
Ho-rang, aku senior kuliahmu.
Aku sudah berlutut begini.
Kalau cuma urusan dokumen, aku tak akan minta bantuanmu.
Di dalam rencanaku untuk membantumu,
syaratnya aku harus bertemu Ji Eun-ho.
Namun,
sekarang dia tak datang.
Ho-rang.
Dasar tak punya hati.
Rencana, katamu?
Rencana apa? A, B, C, D, E, F, G. Pakai saja semua alfabet!
Dasar gila rencana.
Bayar kalau mau memotretku, Berengsek!
"Hotel TS, Choi Do-yoon.
Mabuk dan mengumpat di kelab. Bilang, 'B*rengsek!'"
Luar biasa.
"Citra Hotel TS tercoreng akibat insiden ini.
Hotel TS pun tak lagi masuk dalam daftar perusahaan perhotelan utama
pada tahun ini.
TS Resort, anak perusahaannya,
juga turun peringkat dalam segi pendapatan."
Aku mengangkat resor dan Choi Do-yoon menjatuhkan hotel.
Memangnya ini permainan bendera?
Cari tahu Ji Eun-ho di mana.
Harus kutemui langsung.
Maksudmu, hari ini?
Pak Baek.
Setelah ini, kau harus ke rumah sakit.
Rencana A.
Seharusnya kontrak selesai, tapi kau gagal.
Rencana B.
Seharusnya kita meyakinkan dia hari ini, tapi itu berantakan.
Lalu, harus apa?
Lakukan rencana C.
Rencana C, jika dia tak datang, aku akan menemuinya langsung.
Harus hari ini, jadi operasinya besok.
- Tapi… - Ada rencana D.
Jika tak bertemu hari ini,
operasiku akan diundur.
Baik, aku mengerti.
Akan kutemukan dia.
Hubungi agensi iklan yang bagus.
Sebelum itu,
sapalah adikmu.
Sudah datang?
Kau datang menemui orang tuamu?
Ya.
Mereka pasti senang jika kukabarkan bahwa ini
akan jadi operasi terakhirku.
Sudah lihat skandal Do-yoon, 'kan?
Berandal itu tak tertolong lagi.
Setelah operasi, kau akan normal lagi?
Sekarang pun aku normal.
Pastikan kesehatanmu baik dan datanglah.
Jika mereka tahu kelemahanmu, proses suksesi bisa terhambat.
Kau harus jadi sosok pemimpin sempurna, seperti ayah dan ibumu.
Presdir Baek.
Presdir Baek!
Presdir Baek.
Ada apa?
- Hari ini Pak Baek tak ada. - Dia ke mana?
Jadwalnya bersifat rahasia, bahkan bagi keluarganya. Jadi…
- Mohon maaf, Bu. - Hei.
Kau kira aku datang sebagai keluarganya?
Aku datang sebagai Presdir Hotel TS!
Tak ada namaku di jadwal hari ini?
Mohon maaf.
Siapa suruh minta maaf?
Cek jadwalku!
- Tolong! - Ibu!
- Kenapa meneriaki gadis semanis ini? - Astaga…
Kaget, ya? Maaf.
Ibuku ini sedang menopause.
Jadi,
di mana sepupuku satu-satunya itu?
Baik.
Kuhubungi segera.
Ya, baik.
Pak Baek.
Presdir Baek dan Direktur Choi
datang ke kantor.
Mereka selalu datang di hari seperti ini.
Sepupu dan bibiku.
Apa kau sudah menyapa adikmu?
Ya, aku sudah menyapanya,
berkat pengertianmu.
Selain itu,
aku menemukan Ji Eun-ho.
Dia di Rumah Sakit Taesung.
RS Taesung?
Tampaknya sedang membesuk, bukan sakit.
Setelah menemuinya…
kita langsung bertemu Dokter Jang.
Itu bagus.
Tidak muncul juga.
Bintang terpopuler saat ini.
- Astaga, Ji Eun-ho. - Inilah Ji Eun-ho.
Dia mirip dengan cucuku.
Astaga. Selama punya mata, hidung, mulut,
juga tangan dan kaki, tentu mirip.
Dasar. Serius, mereka mirip.
Kau selalu bilang begitu.
- Salam kenal. - Salam kenal.
Sudah lama aku ingin bertemu.
Benar,
aku juga sangat ingin bertemu denganmu, Jaejae.
- Aku merasa terhormat. - Ya ampun.
Kau ahlinya genre romantis,
jadi kata-katamu pun luar biasa manis.
Namun, meski dikenal ahli di genre romantis,
karya pertamamu ternyata kisah masa remaja.
Ya, benar.
Kau debut dalam FTV, Masa Muda Sendu.
Kau memilih itu sebagai karya favoritmu.
Ya, benar.
Aku menontonnya karena tahu kau akan hadir.
Kutonton sampai habis.
Itu adalah mahakarya, sampai aku menangis tersedu-sedu.
Wah, terima kasih.
Bagiku, itu adalah karya
yang memulai karierku sebagai aktor.
Penulis Na, kau melihat ini?
Dia kenapa begitu?
Kak.
Kau tanpa ragu mengungkapkan cinta…
Dia itu…
Eun-ho… Hei.
Dia tinggi seperti model.
Tahu dari mana aku di sini?
Aku tahu semua hal tentangmu.
Kau selalu bergadang dan asal makan. Wajar dibawa ambulans.
Aku sakit bukan karena itu.
Usus buntuku…
Usus buntu? Pecah?
Iya.
Harus segera dioperasi?
- Biar kupanggil dokter. - Eun-ho, tunggu…
- Permisi. - Ya.
Ji Eun…
Kau Ji Eun-ho, 'kan?
Pasien yang baru masuk bernama Na Bo-bae…
Na Bo-bae.
Ya.
Ji Eun-ho.
DIREKTUR EKSEKUTIF
Pertemuan dengan Pak Yeom hari ini untuk memperkenalkanmu?
Benar.
Kuminta tak memberitahumu karena takut kau sungkan.
Maaf, aku tak menepati janji hari ini.
Kenalanku sakit.
Aku harus segera pergi.
Jangan cemas.
Rumah sakit ini bagian dari TS Group. Beri tahu saja nama pasiennya.
Aku akan minta pelayanan khusus.
Pindahkan ke kamar naratama.
Sebagai gantinya, kuharap kau bisa meluangkan waktu.
Direktur Eksekutif Baek.
Urusan pekerjaan, lewat agensiku saja.
Kami bersedia memenuhi apa pun
yang kau inginkan.
Begini…
Silakan kirim nama dan tanggal lahirnya
ke nomor yang ada di kartu namaku.
Akan kutunjukkan seperti apa rasanya
bekerja sama dengan TS Group.
Wah, sungguh menyebalkan.
Astaga, dia pergi ke mana?
- Hei! - Astaga!
- Ayo! - Lima menit lagi.
- Apa? - Cuma lima menit.
- Kau sakit? Kenapa di rumah sakit? - Tidak.
Kak Bo-bae.
Maaf, tiba-tiba aku ada urusan mendadak.
Kapan operasinya?
Astaga.
Lagi-lagi dia. Terobsesi sekali.
Ya, baiklah.
Aku akan membesukmu besok.
Oke. Istirahatlah.
Dah.
Mau membesuk?
Besok jadwalmu penuh.
Kenapa tadi kau kabur? Aku sampai harus memelas kepada Pak Yeom.
Kak.
Kau tahu hari ini aku akan bertemu Pak Baek itu, 'kan?
Apa katamu? Baek Ho?
Itu harimau? Apa maksudmu?
Sudah kubilang, aku mau jika mempromosikan film atau drama,
tapi aku tak suka citraku dijual demi komersial.
- Katamu mau menghalau itu. - Benar, aku bilang begitu.
Tapi aku tak punya kuasa.
Jangan membuat pertemuan begitu lagi.
Cari tahu pasien yang dibesuk Ji Eun-ho.
Baik, Pak.
Per… Permisi.
Yang tadi!
Sejak tadi aku terus memikirkanmu.
- Kau datang menemuiku? - Jangan seperti ini.
Apa kau baru merasakan setrumannya sekarang?
- Kubilang, aku tak merasakan apa-apa. - Serius?
- Ternyata benar. - Beri jalan.
Tolong bergeser…
Aduh, maaf. Aku minta maaf.
Tunggu dulu.
Tunggu. Sebentar saja.
Begini…
Aku tahu ini akan terdengar aneh.
Tapi kau adalah orang pertama dalam hidupku
yang seperti sarung tangan karet.
Bisa bicara sebentar…
Aku ada urusan.
Nomormu saja!
Bisakah berikan nomor teleponmu?
Jika kau tak ada waktu, akan kujelaskan lewat pesan.
Kumohon.
Sungguh, sekali ini saja.
Maukah kau mendengarkanku?
Baiklah.
Kalau begitu,
siapa namamu?
Na Bo-bae.
Nona Na Bo-bae.
Dari semua gombalan yang pernah kudengar,
ini adalah yang paling menyedihkan.
Gombalan?
Tak sengaja mencium pria yang terlihat tampan dan kaya,
kau anggap takdir.
Bukankah itu terlalu klise?
Aku tak merasakan apa pun meski menyentuhmu.
Tak ada getaran, setruman, ataupun gairah.
Maka dari itu, berhentilah!
Dia bilang apa?
Yang benar saja…
Bagus, Pak.
Kau tak bisa menghalau wanita yang sedang sakit?
Dia…
Setiap kupegang, ada listrik…
Maaf, Pak.
- Omong-omong… - Apa?
Tidak.
Aku tak pernah melihatmu bicara kasar kepada orang asing.
Apa? Menurutmu tadi aku bicara kasar?
Kau berbicara jujur dan apa adanya. Seperti bicara denganku.
Benar-benar kasar.
Itu karena…
Ucapan wanita itu tak masuk akal.
"Orang pertama di hidupku yang seperti takdir."
Bukan takdir.
- Takdir. - Bukan.
Dia bilang, seperti sarung tangan karet.
- Kau pun dengarnya begitu? - Ya.
Pasti salah ucap!
Takdir itu lebih masuk akal.
Kenapa sarung tangan karet?
Ya, itu benar.
Masuklah.
- Halo, Ho-rang. - Pak.
Halo.
Menggemaskan, ya?
Itu gurami pencium.
Lihat itu.
Mereka benar-benar berciuman.
Cuma begitu dianggap berciuman?
Akal-akalan dia saja.
Apa? Kau bilang apa?
Oh, tidak ada.
- Bagaimana baterainya? - Oh, iya!
Ini dia.
Ini jantung buatan terbaru
yang baru dikembangkan di AS.
Teknologinya jauh berbeda dari jantung buatan selama ini.
Karena seluruh perangkatnya akan diganti,
dadamu memang harus dibedah lebih lebar,
tapi tak perlu operasi lagi selama 100 tahun.
Jika sampai 100 tahun, meski aku sudah mati,
baterainya belum habis.
Artinya kau tak perlu ganti baterai lagi.
Aku janji.
Operasi yang kulakukan besok akan jadi yang terakhir.
Begitu operasi ini selesai,
aku akan bersiap mengambil alih TS Group.
Mohon bantuannya, Dokter Jang.
Besok operasinya dini hari,
jadi tidurlah yang nyenyak.
Bersulang!
Kudengar Hanlim Advertising akan menangani iklan TS Resort?
Hanlim memang keren.
Sejak Seol-hee jadi kepala divisi, Hanlim makin melesat.
Hei, itu semua karena Seol-hee memang kompeten.
Seol-hee,
bagaimana anggurnya?
Ini adalah Romanée-Conti…
Kak Si-hun!
Tuangkan lagi.
Lebih banyak.
Tidak.
Lebih banyak.
Hei, anggur itu biasanya…
Sebesar rasa cintamu!
Aneh sekali.
Cinta Si-hun cuma sebegini?
Ini tinggal sedikit lagi.
Jika kulihat lagi, bukan cintanya yang kurang,
tapi wadahnya kecil.
Bahkan gelasnya tak penuh.
Sial. Hei!
Si-hun.
Untuk merayu wanita, keluarkan uang yang besar.
Usaha yang besar juga.
Jangan terlalu pelit.
Seol-hee, biar aku yang antar.
Aku pamit dulu.
Seol-hee!
Naiklah.
Jika sopirnya mabuk, tak mau.
Hati-hati di jalan.
Tidak, aku akan panggil sopir.
Kenapa?
Mau memujiku?
Begitu?
Tadi aku hebat, 'kan?
Jangan mengganggu Si-hun terus.
Dia tak tahu diri. Berani-beraninya mendekatimu.
Kau pun begitu.
Ucapanmu kejam.
Apakah seorang koki dan direktur Hotel TS itu sama?
Hei.
Bagiku penjual makanan dan penjual kamar itu sama.
Jika mau bicara soal tahu diri, jadilah pewaris TS Group dulu.
Hei, Han Seol-hee.
Baek Ho-rang itu
tak ada niat untuk menikahimu.
Dia tak peduli kepadamu.
Kak Do-yoon, panggillah sopir.
Jangan sampai kau dihujat lagi karena berita menyetir saat mabuk.
RUMAH SAKIT TAESUNG
Jika sudah siap, mari mulai operasinya.
Pisau bedah.
Aduh, sakit!
Jangan menyentuhku dengan tangan kosong.
Kau harus selalu memakai sarung tangan.
Apa ini? Pemadaman listrik?
UPS-nya?
Sepertinya ada masalah. Daya cadangannya tak menyala.
Genset butuh dua atau tiga menit. Bagaimana?
Cepat putar engkol tangan!
Pelan-pelan.
Ners, tunggu sebentar.
Apa bisa operasi kalau gelap begini?
Bukankah rumah sakit punya daya cadangan saat mati listrik?
Aku agak takut.
Aku tak akan mati karena operasi usus buntu, 'kan?
Bu, listrik daruratnya akan menyala.
Kurasa lampunya menyala karenaku.
OPERASI BERLANGSUNG
Sepertinya lampunya menyala karena aku.
Pasien henti jantung!
Epinefrina satu mililiter lagi!
Tanda vitalnya stabil.
Tekanan darah bagus, 120 per 80.
Oke.
Turunkan aliran.
Mari tutup.
Apa?
Apa?
Apa ini?
Kenapa dia ada di sana?
Permisi.
Permisi.
Aduh…
Permisi.
Wah, ini aneh.
Kenapa dia tak tersetrum?
Jika dia benar sarung tangan hidup untukku,
artinya aku bisa bersentuhan
dan berpacaran dengan pria ini?
Terjemahan subtitle oleh Maharani Djenial
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.