Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Angin sejauh ribuan mil mengantarku ke awan biru♪
♪Menunggang kuda garang sambil bernyanyi lantang, tertawa menghadapi dunia fana♪
♪Tiba-tiba malam dingin menyelimuti bintang♪
♪Jatuh ke jurang, berjalan sendiri♪
♪Sendirian menembus salju di ribuan gunung♪
♪Telapak tangan masih tersisa kehangatan♪
♪Meskipun salju dan embun beku memenuhi jalan di depan♪
♪Cahaya di mata tidak pernah padam♪
♪Aku punya satu pedang yang bisa menembus awan♪
♪Aku punya satu hati yang lebih keras dari batu♪
♪Menjalani berbagai cobaan hidup tanpa penyesalan♪
♪Masih seperti pemuda dulu♪
=Dewa Pedang=
=Episode 17=
Ada apa, Pendekar?
Ini Jubah Xuantian.
Tidak tembus air dan api, untukmu.
Pakai dulu baru pergi.
Ganti di mana?
Di sini saja.
Kalau kau keluar dengan penampilan begini,
orang lain yang melihat akan menertawakan kami.
Baiklah.
Kalau begitu, mohon Pendekar menutup mata.
Menarik.
Kau merasa malu.
Baiklah.
Kelak anak ini
pasti luar biasa.
Senior.
Pemuda tampan itu lumayan, ya?
Kau juga suka?
Kau kira aku sepertimu?
Pokoknya, aku tidak peduli.
Kalau mau jadi tungku kultivasi ganda,
kau harus biarkan aku coba dulu.
Kemudian baru giliranmu.
Kalau bicara sembarangan lagi,
aku akan menyuruh Monyet Emas menggigitmu.
Jangan.
Rasanya itu,
digigit sekali saja sudah tidak tahan.
Bakatnya sangat tinggi.
Katanya,
dia bisa dalam satu napas
menjalankan teknik satu siklus kecil.
Satu napas?
Itu...
Itu terlalu mengerikan.
Namun, sepertinya dia bukan orang yang sombong.
Menurut catatan,
kultivator pertama Benua Shenwu
sudah seratus ribu tahun lalu.
Sekarang Energi Roh Benua Shenwu semakin tipis.
Aku merasa
bencana akan datang.
Kita harus memulai ulang benua ini
agar Energi Roh bisa pulih.
Kalau tidak,
bahkan kita para dewa sejati
sulit menghindari bencana ini.
Siklus Tao, bencana akan datang.
Ini tidak bisa dihindari.
Hanya saja kita tepat berada di zaman ini.
Namun, seolah sudah ditakdirkan,
Tao selalu meninggalkan satu harapan, 'kan?
Satu harapan?
Satu harapan ada di mana?
Satu harapan sangat sulit dicari.
Kita bertiga hidup ribuan tahun
juga belum menemukan pasangan Tao.
Jangan-jangan
akan mati di bencana ini,
menjadi pupuk langit dan bumi?
Sial.
Demi pergi ke pulau,
berlayar sepuluh hari penuh di laut.
Bahkan beberapa kali hampir terbalik.
Entah akan bertemu Zhao Feiyang atau tidak.
Dia ada yang menjemput.
Pergi ke pulau pasti sudah beberapa hari.
Jangan sebut Zhao Feiyang.
Menyebut anak itu, aku langsung kesal.
Kalau aku bertemu dengannya lagi,
aku pasti akan membunuhnya.
Selain itu, Pulau Pendekar ini
juga tidak tahu aturan.
Bagaimanapun juga, kita adalah para genius pilihan langit.
Bahkan tidak ada yang menjemput.
Jiang Cheng, ini Pulau Pendekar.
Jangan bicara sembarangan.
Bicara juga tidak boleh?
Kalau bukan untuk belajar,
siapa mau datang ke tempat jelek ini...
Salam pada Pendekar.
Salam pada Pendekar.
Yang bakatnya paling tinggi sudah pergi.
Apakah kita masih perlu
membuang tenaga mengajari mereka?
Tidak boleh membiarkan mereka datang sia-sia.
Martabat berbagai kekuatan harus dijaga.
Bangunlah.
Terima kasih, Pendekar.
Terima kasih, Pendekar.
Terima kasih, Pendekar.
Kalian berlima datang untuk belajar.
Sayangnya waktu kami bertiga
untuk kalian tidak banyak.
Selanjutnya bagaimana,
tergantung kalian sendiri.
Mohon bimbingan Pendekar.
Tidak disangka bisa bertemu teman lama.
Kalau Pendekar mau mengambil kembali,
aku bersedia menyerahkan.
Karena sudah jatuh ke tanganmu,
berarti berjodoh.
Kau simpan saja.
Terima kasih, Pendekar Canglan.
Ini Batu Penambal Langit.
Benda terkeras di dunia.
Ternyata bisa tergores pedang.
Baiklah.
Kalian berlima renungkanlah.
Pendekar.
Tiga goresan pedang ini apa artinya?
Tao menghasilkan satu.
Satu menghasilkan dua.
Dua menghasilkan tiga.
Tiga menghasilkan segala sesuatu.
Tiga goresan pedang ini
menuangkan niat pedang seumur hidup kami bertiga.
Kalian punya waktu selama tujuh hari.
Apa yang bisa kalian renungkan
dari tiga goresan ini,
tergantung takdir kalian.
Sepertinya tiga goresan ini
mengandung niat pedang tertinggi.
Ternyata begitu.
Terima kasih, Pendekar.
Terima kasih atas bimbingan Pendekar.
Terima kasih, Pendekar.
Kita jangan menganggur.
Ayo kultivasi tertutup.
Kultivasi tertutup lagi?
Membosankan sekali.
Pertama untuk mencegah siluman menyerang lagi.
Kedua untuk
memikirkan cara menghadapi bencana.
Bencana besar Tao.
Segala sesuatu hanyalah anjing rumput.
Meski kultivasi kita luar biasa,
tapi bagaimana bisa melawannya?
Lebih baik sekarang jalan-jalan.
Melihat gunung dan sungai.
Kau mau melihat gunung
atau pemuda tampan?
Senior.
Tahu tapi tidak bilang.
Kau tidak mengerti?
Bahkan di hadapan bencana,
kekuatan kita seperti semut yang menggoyang pohon.
Namun, tidak bisa hanya menunggu mati.
Senior benar.
Ayo.
Akhirnya pergi dari pulau.
Saatnya mengusir para penghisap darah itu
dari rumah.
Sungguh terbiasa miskin.
Ternyata masih berpikir untuk jalan kaki.
Sekarang aku sudah Tahap Yuanman Kecil.
Namun, setidaknya butuh 20
sampai 30 hari.
Lebih baik pakai Batu Roh untuk naik perahu awan.
Sial.
Entah iblis mana yang merancang formasi jejak hilang.
Aku tidak sengaja masuk.
Mohon Tuan beri jalan.
Kalau begitu...
Ini mudah.
Sungguh arak yang enak.
Jubah Xuantian.
Apakah harus begini?
Kalau tidak?
Dasar bocah.
Menyerap habis jalur energiku lalu mau pergi begitu saja?
Kalau aku tidak kabur,
apakah menunggu kau datang menyalahkanku?
Benar juga.
Namun, kau tidak mengukur kemampuanmu sendiri,
apakah kau sungguh bisa kabur?
Jadi, tidak bisa bernegosiasi?
Bisa.
Tentu bisa bernegosiasi.
Kau tinggalkan saja
dua juta Batu Roh,
maka bisa pergi.
Dua juta Batu Roh?
Kenapa kau tidak merampok saja?
Lagi pula,
kau sudah memeras banyak uang
dari lima orang itu.
Kenapa masih minta padaku?
Ini...
Kau ini tidak tahu malu.
Lima orang itu
jelas menanggung kesalahan untukmu saja.
Bukankah utangmu harus dihitung terpisah?
(Kultivasi orang tua ini pasti luar biasa.)
(Tidak bisa mencari keuntungan.)
Senior.
Dua juta Batu Roh terlalu banyak.
Aku tidak punya sebanyak itu sekarang.
Seratus ribu.
Seratus ribu Batu Roh.
Aku bisa mengusahakan memberimu.
Ah.
Sungguh?
Ya.
Aku ingat
di cincin ruangmu
ada banyak Batu Roh.
Selain itu, ada banyak senjata dan kotak sihir.
Kalau dikumpulkan
setidaknya lebih dari dua juta, 'kan?
Jangan-jangan kau menghilangkannya?
Tebakanku benar, 'kan?
Cepat.
Keluarkan.
(Orang ini kesadaran spiritualnya sangat kuat.)
(Tidak disangka bisa menembus)
(masuk dengan kesadarannya ke dalam cincin ruang milikku.)
(Apakah aku harus menyerahkannya begitu saja?)
Kalau aku bilang tidak bisa kuberikan?
Apa maksudnya tidak bisa diberikan?
Tidak mau memberi, 'kan?
Kalau begitu, aku ambil sendiri.
♪Pernah berdiri di puncak, menarik energi roh ke dalam pedang♪
♪Tertawa menunjuk bintang, betapa muda dulu♪
♪Sekali angin berubah, salju dan embun menimpa bahu♪
♪Meskipun Landasan Tao rusak, Hati Tao tidak berkurang♪
♪Menjelajahi ribuan gunung, mencari jawabanku♪
♪Setelah melewati ribuan cobaan, inti jiwa baru muncul♪
♪Langit dan bumi sebagai tungku, mengolah satu kelahiran kembali♪
♪Tangan tanpa pedang, hati mengendalikan ribuan pedang♪
♪Aku bertanya tentang Tao pada awan biru♪
♪Tidak takut ribuan rintangan♪
♪Dengan daging, darah dan jiwa ini♪
♪Membuka zaman baru♪
♪Guntur dan api memahkotaiku♪
♪Angin dan awan mendengar ucapanku♪
♪Puncak kultivasi, hanyalah♪
♪Niat awal tidak pernah berubah♪
♪Lihat matahari dan bulan berganti♪
♪Dengar Senar Tao agung♪
♪Tubuhku adalah lentera yang tidak pernah padam♪
♪Saat debu mereda, kembali menatap dunia♪
♪Baru sadar, keabadian ini♪
♪Adalah senyuman kalian♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.