Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
- Jangan di sini. - Kenapa tidak?
"Kenapa tidak?"
Kau menolak permintaan terakhir orang sekarat?
Tidak, tetapi kau akan mati jika katakan itu lagi.
Mengerti?
Sial!
BANDARA BRUSSELS
TAKSI
- Kau tidak harus... - Tidak masalah.
- Jangan parkir di sini, Pak. - Urusan pejabat.
Kau masih di sana? Halo?
Lepas landas masih 30 menit lagi.
Pintunya sudah ditutup.
Ini bukan keputusanku.
Ya! Kau hanya menjalankan tugas.
Bukan aku yang terlambat, Nona.
Kau masih bepergian dengan Tn. Martens?
Tidak.
Dia tidak perlu reservasi baru?
Tidak.
Biasa terjadi, bukan?
Sungguh?
"Biasa terjadi," sungguh?
Kubantu carikan solusinya.
- Bung, ada antrean. - Maaf.
Aku ingin memberi temanku sesuatu sebelum dia terbang.
Hanya penumpang dengan tiket yang bisa melewati titik ini.
Ini urusan NATO.
Mungkin begitu.
Namun, kau harus dikawal petugas bandara.
Jika tidak, hanya penumpang bertiket yang boleh lewat.
Dasar bodoh.
Selamat malam.
Selamat malam.
- Kau Ines? - Ya.
- Aku mengikuti Instagram-mu. - Baiklah.
- Moskow? - Ya.
- Jadi DJ di sana? - Bukan, hanya tampil.
- Selamat jalan. - Terima kasih.
Penerbangan 21 ke Moskow.
Transit di sana, mendarat hari Sabtu pukul 20.20 waktu setempat.
Hanya ada kursi di kelas satu, tapi tanpa biaya tambahan.
Terima kasih.
- Aku ingin ke barat. - Barat?
London, Dublin, New York...
Ke New York berangkat dua jam lagi.
- New York. Baik. - Baiklah.
Kapan rencana pulang?
Tidak, pulang pergi. Hanya satu arah.
Hanya ada kursi di kelas bisnis ke bandara JFK.
- Biayanya 4.235 euro. - Aku ambil.
Apa? Kau katakan itu?
Konyol. Kau tahu itu bodoh.
Baiklah. Tidak!
- Permisi. - Sophie.
Permisi.
Kau baik-baik saja?
Sophie?
Permisi.
Kupikir kelas satu naik lebih dahulu.
Sophie.
- Sophie, bangun! - Ya.
Kita mendarat di waktu yang sama.
Sophie, apa-apaan? Sophie!
- Sophie? - Kau tak apa-apa, nona?
Temanku di New York. Dia kesulitan bernapas dan pingsan.
- Aku tak melihat apa-apa. - Aku tak tahu!
Aku harus menelepon seseorang! Siapa?
Siapa yang kutelepon?
Seseorang yang peduli.
- Kau baik-baik saja? - Ini karena makananku.
Aku akan ke apotek. Di sini bersih.
Baiklah.
Akan kucari seseorang untuk bantu siapkan pesawat.
Jangan minum aspirin.
Tidak bagus untuk bayi.
- Aku tidak hamil. - Tidak.
Anakku tiga.
Kulitmu bersinar. Kau hamil.
Kau mual di pagi hari.
Ini tengah malam.
Mathieu ayahnya?
- Kenapa kau bilang begitu? - Dia keluar dari kamarmu di Helsinki.
Mathieu tahu?
Akan kuberi tahu di Moskow.
- Selamat datang, selamat malam. - Malam.
- Apa kabar? - Baik.
Kami akan ke Moskow untuk operasiku.
Bagus. Ini pesawatmu.
Apa-apaan?
Apa yang terjadi?
Apa mereka mati?
Waktunya habis.
Cek.
- Pemanas aktif. - Cek.
- Instrumen. - Ya, Kapten.
- Altimeter: 2-9-9-2. - Cek.
Dua kali.
Tiga kali.
Ini pesawat ke Bora Bora? Hei, Semua.
Dia teknisi dan kurir!
- Terima kasih. - Makanlah. Aku akan keliling.
- Berapa harganya? - Tak usah. Aku tahu gaji kopilot.
Mungkin teleponmu diputus, dan dia bercanda.
Selera humornya memang aneh.
- Permisi. - Apa?
Kau kepanasan? Karena...
Kau ini kenapa?
Tidak apa-apa.
Kau terlihat kegerahan, jadi...
Aku tak suka terbang.
- Nyonya, boleh minta sampanye? - Tentu. Sebentar.
Kelas satu apanya?
Kau pulang bersama kami?
Ada anak mencoret-coret kursi. Dua menit.
Minggir! Awas!
Sial.
Minggir!
Menyingkir!
Cepat!
Minggir!
Hei!
Tidak, berhenti. Jangan!
Apa yang terjadi?
Buka pintunya!
- Aku ingin menolong! - Dia bawa senjata.
Tutup pintunya!
Tutup!
Atau kau mati. Tutup pintunya!
Duduk.
- Terbangkan pesawatnya. - Tenang. Baiklah.
Dengar.
Jika kita tak terbang, mentari pagi akan membunuh kita semua.
Mengerti?
Kami panggil polisi.
Suara apa itu?
Tembakan.
Kita harus keluar!
Keparat! Sial...
- Keluar! Cepat. - Cepat.
Kita harus pergi. Mengerti?
- Kita harus pergi sebelum pagi. - Tak bisa.
- Kau serius? - Aku tak bisa terbang sendiri.
- Satu pilot bisa. - Tongkat kendalinya.
Itu yang kendalikan pesawat.
Aku tak bisa tanpa tangan kiriku!
- Di mana pilot satunya? - Aku tidak tahu.
Berengsek!
Dengar! Ada pilot di sini?
Kita butuh pilot. Ini masalah hidup dan mati!
Jika tak lepas landas, kita semua mati!
- Bukan pesawat. Helikopter. - Baik. Ayo.
Jangan.
Ayo!
Cepat!
Di mana polisi?
Entah, mereka tak ada jika dibutuhkan.
- Apa yang mereka lakukan? - Aku tak tahu.
- Pesawat bergerak. Sabuk pengaman! - Ada apa?
Kita berangkat?
Entah. Pesawat bergerak. Pakai sabuk.
- Sabuk pengaman. - Di mana polisi?
- Pakai sabuk. - Terbang?
Entahlah. Tolong, duduklah.
Sabuk pengaman, Pak.
Tak apa-apa. Pakai sabuk pengaman.
Kita masih bisa membatalkannya.
Aku bisa parkir di sana.
Jangan dibatalkan! Bilang ke menara kita terbang.
Tak bisa terbang begitu saja.
Jika tidak, kutembak dia.
Jangan pikirkan aku. Persetan dia!
Aku serius, lakukan saja.
Sampaikan!
Menara Kendali, BE Airways 21.
Minta izin terbang dari landasan 2-5-kanan.
Menara Kendali, kau dengar?
Kau dengar?
- Tak ada jawaban. - Siapa peduli? Jalan.
Awak kabin, bersiap untuk lepas landas.
Semuanya tetap duduk.
Terima kasih.
Naikkan kecepatan.
Sampai ke atas.
Ke mana tujuan kita?
Barat. Kita akan ke barat.
Kau tahu kenapa ini tidak masuk akal?
Ya, aku mengerti.
"Matahari berarti mati."
Aku tahu ini terdengar gila, tetapi aku bukan orang gila.
Aku perwira NATO!
Aku mengerti, Mayor. Aku juga pernah di militer.
Namaku Sylvie.
Ini adalah...
Perwira Pertama Douek. Panggil aku Mathieu.
Mathieu. Baik.
Kau sendiri? Siap namamu?
Mayor Gallo. Terenzio Gallo.
- Dua yang terakhir. - Ya.
- Tak ada Internet. - Mungkin teroris itu mematikannya.
Mungkin.
Apa ada kaitannya dengan temanku?
Di New York?
Entahlah. Pembajakan di sini. Serangan gas di sana.
Aku mungkin butuh kau nanti.
- Nyonya. - Tolong, duduklah.
KEAMANAN ADA TERORIS DI SEBELAHKU!
Aku tak dengar apa pun.
Ada penumpang mengira ada teroris lain di sini.
- Kita harus bagaimana? - Kita harus melawan.
- NATO memberitahumu? - Aku tak sengaja dengar, ya.
Mereka mengatakan penyebab kematian matahari ini?
Hanya bahwa itu dimulai saat matahari terbit.
Sudah terjadi, di Asia dan Amerika, sebelum kita terbang.
Di sanalah awalnya.
Sekarang?
Saat matahari mengelilingi Bumi, semua yang dilintasi akan mati.
Mayor, dia butuh dokter.
Atau kita takkan ke mana-mana.
Kita takkan ke mana-mana.
Cepat kembali.
Aku akan melindungimu.
- Kopi? - Kita akan siram matanya.
Baik, saat ini Mathieu butuh dokter.
- Dia ditembak? - Ya, tangannya.
Ayo cari dokter.
Mereka beri tahu penyebabnya?
Tidak, tetapi percayalah, jika kau bicara dengan seseorang di bawah,
mereka mau tukar tempat dengan kita.
Andai radio berfungsi.
Peluru pasti mengenai ruang Avionik di bawah.
Perbaiki. Kau akan tahu kebenarannya.
Tidak bisa.
Avionik hanya bisa dijangkau dari luar pesawat.
Mungkin kita bisa mendarat, lalu memperbaikinya.
- Ada teknisi di pesawat. - Kau tidak dengar?
Jika tak segera terbang, kita mati!
Kau tak mengerti?
Ini penting. Apa ada dokter?
Aku bukan dokter, tetapi perawat panggilan.
- Kemarilah. - Ada yang bisa kubantu?
Ceritakan apa yang terjadi.
- Kami berhak tahu. - Benar.
Pilot akan segera menjelaskan.
Bahan bakar cukup ke Moskow?
Berapa jaraknya dari Brussels?
1.216 mil laut.
Sampai sejauh mana itu bisa membawa kita ke barat?
Aku harus menghitungnya.
- Hitunglah. - Baik.
Akan kuhitung. Janji.
Itu tujuan kita. Sejauh mungkin ke barat.
Duduk di sana.
Kau, di sana.
Perlihatkan tanganmu.
Kita punya rencana, bukan?
Ya, kita punya rencana.
Jangan macam-macam.
Jika aku melihat kota,
bukan lautan, berarti kita ke timur.
Baik.
Kau harus lakukan sesuatu untukku, Terenzio.
Apa?
Jangan beri tahu penumpang tentang matahari.
Mereka akan panik.
Kita harus bekerja sama, Terenzio.
Kau dan aku.
- Baik. Aku bilang apa ke mereka? - Tak usah...
Biar kuurus.
Bagaimana?
Tuan dan Nyonya, aku pilot kalian.
Ketahuilah bahwa semua terkendali dan akan baik-baik saja.
Tuan di kokpit meminta penerbangan dialihkan ke bandara lain...
Kita seharusnya ke Moskow.
Setelah mendarat,
kita akan lanjutkan penerbangan ke Moskow.
Aku minta maaf...
atas ketidaknyamanan ini.
"Tuan" bukan kata yang akan kugunakan.
Yang penting mengoperasikan pesawat ini dengan selamat.
Berikan tanganmu.
Aku tak bisa melakukannya jika dia panik atau penumpang marah.
Bagaimana dengan BIKF?
Islandia?
Jaraknya sekitar 1.770 km.
- Bagus. - Kuobati lukanya.
Berarti sisa bahan bakar cukup untuk 965 km
dan memberi waktu pihak berwenang mengirim jet pengawal.
Kita tak kirim pesan darurat.
Ini pesawat penumpang
yang terbang tanpa izin dan tak merespons panggilan radio.
Mereka pasti datang. Percayalah.
Tak ada benang untuk menjahit lukamu.
Kalau kauterisasi?
Kauterisasi?
Bakar jaringan untuk hentikan pendarahan.
Aku butuh logam yang dipanaskan.
Ada pisau di kelas satu, bukan? Pisau sungguhan.
Kita harus coba sesuatu.
- Kami mau bicara dengan kapten. - Ke mana kita?
Semua tetap tenang, ya?
Ada apa dengan matahari?
Kau bicara apa?
Kudengar kau berteriak soal matahari.
Kau pasti salah paham.
Dengan aba-abaku. Satu, dua, tiga.
Bagus, tarik napas.
Berikan pisaunya.
Pegang tangannya.
Jika aku jadi kau, kututup mataku rapat-rapat.
Dengar.
Kami membeli tiket ke Moskow.
Anakku harus dioperasi besok.
Aku tak takut pada senjatamu atau ancamanmu...
- Duduklah, Bu. - Pak.
- Jangan, Ibu, kumohon. - Tunggu, Sayang.
Pelurumu tak cukup untuk semua orang.
Peluruku cukup untukmu dan anak cacat itu.
Jangan dengarkan dia, Nyonya.
Keparat kau! Kemarilah!
Mathieu.
Ini bisa mencegah infeksi,
setidaknya beberapa jam.
Terima kasih.
Bagaimana rasanya?
Lebih baik.
Ini lidokain. Sayangnya, sudah habis.
Kau harus minum alkohol sedikit.
Aku harus berpikir jernih.
Aku minum sebotol vodka sebelum naik.
Penerbangan ini akan tetap menjernihkan pikiranmu.
Entah harus mulai dari mana. Aku dalam situasi sangat absurd.
Pesawat kami dibajak oleh semacam gerilyawan Italia.
Aneh sekali.
Begini...
Aku tak siaran langsung karena Internetnya mati.
Mereka mengacaukan tiketku dan aku di kelas ekonomi.
- Maaf? - Ya.
Sudah berapa lama Wi-Fi mati?
Sepekan. Seharusnya diperbaiki saat kami kembali dari Moskow.
Permisi.
- Semua baik-baik saja? - Ya.
Aku tahu tentang matahari itu.
Sungguh?
- Pilotnya tahu? - Ya. Namun, dia tak percaya.
Itu tidak benar, bukan?
Entahlah. Kau sendiri?
Kau pilot helikopter?
Dahulu.
Aku pernah bertugas di AU. Aku dipecat.
Aku akan butuh bantuan untuk pendaratan.
Kita bisa melakukannya?
Tanpa radio dan izin?
Menara akan bantu dengan sinyal lampu. Kami dilatih untuk itu.
- Baiklah. - Kita bisa melatihnya.
- Apa yang terjadi? - Akan kuperiksa.
Jangan, tunggu.
Tolong aku.
- Kenapa? - Sudah kuduga.
Ini perang biologis.
- Bawa dia ke toilet. - Jangan sentuh!
Bantu aku.
- Ayo. - Hei.
Baiklah.
- Seorang penumpang merebut senjata. - Mundur!
Panggil aku jika indikator menyala.
Kembalikan senjatanya.
- Aku menyelamatkanmu. - Kau tak katakan yang sebenarnya.
Kunci dia di kamar mandi.
- Sekarang. - Keparat.
- Baiklah. - Kuhitung sampai satu.
Baiklah. Pikirkan keselamatanmu.
Kumohon. Baiklah.
- Lakukan. - Cepat.
Kemari, Pak.
Kumohon.
Kau juga tak katakan yang sebenarnya.
Itu benar, tetapi aku punya alasan.
Pria itu sakit. Dia labil.
Itu tidak benar!
Ke mana tujuan kita?
Dia meminta ke barat, jadi kita menuju Islandia.
Kenapa tidak putar balik saja?
Sebentar lagi kita mendarat dan setelah itu,
polisi akan menangkapnya, dan ini akan berakhir.
Soal matahari membunuh orang.
- Matahari? - Sepertinya kau percaya.
Untuk ikuti kemauannya.
Jika tak kuikuti permainannya, entah apa yang akan dia lakukan.
Keparat! Aku bicara jujur.
Itu yang sebenarnya.
Semuanya.
Atas nama BE Airways,
aku meminta maaf kepada kalian semua.
Jangan bohong lagi, ya?
Mengerti?
Baik.
Terima kasih.
Terima kasih telah mengatasi ini dengan baik.
- Lanjutkan. - Apa-apaan?
Aku akan segera kabari.
Menara Reykjavik, BE Airways 21. Meminta petunjuk pendaratan.
Radio tak berfungsi.
Tak ada tanda-tanda jet pengawal.
Rem otomatis.
Sirip ke satu.
Sirip ke satu.
- Sirip ke dua. - Sirip ke dua.
Turunkan roda.
Roda turun.
Kunci.
Kunci.
Lampu.
Menara Reykjavik.
Bisa dengar?
Jika tak ada jawaban juga, kita akan memutar dahulu.
Tarik napas. Apa yang sakit?
- Di sana? - Ya.
- Dia bisa duduk? - Kurasa tidak.
Sudah tahu sakitnya?
Belum. Kurasa perutnya, aku tidak yakin.
Tenang. Sebentar lagi kita mendarat.
Cari orang yang bisa bahasa Arab. Kurasa itu bahasanya.
Ada yang bisa bahasa Arab?
Ada yang bisa bahasa Arab?
- Aku. - Bisa tolong kemari, Pak?
Kami butuh penerjemah.
- Lampu! - Itu Islandia!
Akan kukirim sinyal darurat dengan miringkan sayap saat lewat menara.
Menara Reykjavik, BE Airways 21.
Memutar untuk sinyal bahaya. Kami...
Suara apa itu?
Orang-orang itu mau keluar.
Ini tak akan berhasil. Landasan ditutup. Tak bisa mendarat.
Kita harus memutar.
Kau lihat itu?
Apa-apaan...
Mungkinkah ucapan Mayor itu benar?
Bahan bakar kita tersisa untuk 957 km.
Carilah bandara alternatif terdekat.
Panjang landasan minimal 1.500 meter.
Baik.
Apa yang kau lakukan?
Kau menipuku, Arab keparat!
Turki keparat.
Apa yang terjadi di sana, Mayor?
Apa yang kau lihat?
Pesawat terbakar, orang-orang panik.
Seperti kiamat.
Kembalikan senjataku, lalu aku bicara.
- Apa? - Bagaimana...
Mustahil...
Sial...
Berikan senjatanya.
- Tunggu, kita bahas dahulu. - Tidak.
Tunggu...
Jelas, bukan? Orang-orang itu menyadari perkataanku selama ini.
Jika menunggu matahari terbit, kita mati.
Matahari?
- Itu terjadi di New York. - Maksudnya?
- Kita akan mati. - Kita harus...
Kita harus tetap ke barat.
Tak bisa. Setelah Islandia, Greenland, bahan bakar tak cukup.
Bahan bakar habis?
Bukan itu yang kukatakan.
Itu benar.
Tak ada apa-apa di barat.
Bandara terdekat di timur, Kinloss di utara Skotlandia.
AU Kinloss? Aku pernah ke sana.
Pesawat UE menjalankan misi cuaca di sana...
Kita tak bisa menjangkaunya juga.
Kurang untuk itu juga?
Kurang 80 km.
Apa orang-orang di Brussels dalam bahaya?
- Tunggu. - Mereka mati?
Urus satu masalah dahulu.
Itu 80 kilometer.
Kita bisa terbang rendah dengan kecepatan rendah...
- dan jika beruntung... - Beruntung?
Tak bisa terbang rendah ke timur. Kau pikir matahari akan melambat?
- Masih gelap saat mendarat. - Berapa lama?
Tuhan lindungilah kami.
Tunggu.
Aku janji, kita akan atasi semua.
Kita harus ke tempat lebih aman.
Untuk sekarang...
kembalilah ke tempat duduk kalian dan tetap tenang.
Tenang?
Kau... jangan bertindak bodoh.
Astaga.
Kau tertidur.
Semoga Allah mengampuni semua dosaku dan kumohon...
Aku yakin ini akan jadi video terakhirku.
Aku hanya ingin sampaikan...
Jika bandara ini seperti di Islandia?
Maka kita akan menghadapinya.
Jika Kinloss ditutup, kita tak bisa ke mana-mana lagi.
Aku tahu!
Maaf.
Jakub, setelah mendarat, cari bahan bakar.
Matahari akan terbit kurang dari sejam.
Tidak, Mathieu. Setelah isi bahan bakar, kita langsung kembali ke Brussels.
- Kita lihat nanti. - Tidak.
- Kau punya keluarga, 'kan? - Ya, tapi...
Entah bagaimana denganmu, tapi jika dunia kiamat beberapa jam lagi,
aku ingin menyelamatkan istriku.
Tenanglah, Kalian.
Satu per satu. Kita mendarat dahulu.
Mengerti?
Suruh Gabrielle menyiapkan kabin.
- Tidak profesional. - Dia manusia biasa.
Tidak profesional.
Apa pun caranya, naik pesawat ke barat.
Lakukan, nanti kujelaskan.
Ayolah, Berengsek.
Harap duduk dan pasang sabuk pengaman.
Kita segera mendarat. Cepatlah.
Ada yang bisa kubantu?
Andai aku tahu masalahnya...
Aku yakin perutnya.
Kubawa saja ke toilet agar dia bisa muntah?
Dia menolak kuangkat.
Apa katanya?
- Apa katanya? - Entahlah. Dia bergumam.
Kurasa dia menelan berlian.
Berlian?
Itu yang dia katakan.
Mesinnya mati.
Matikan keduanya.
Tuas itu.
- Mau matikan mesin? - Ya, sekarang.
- Kita buat melayang. - Apa?
Kucoba menyamping.
Apa? Bukankah itu untuk pesawat kecil?
Pesawat kecil.
Sama saja.
Bersiap untuk pendaratan darurat. Sekarang!
Aku akan mati di Skotlandia...
- bersama orang Belgia... - Bisa diam?
Tekan penuh. Dengan kakimu!
- Sudah! - Rem tangan.
Sekarang. Tarik penuh.
Tarik! Lagi.
- Di kiri. - Kita akan menabraknya.
- Kita akan menabraknya! - Tidak!
Aku tak akan menabraknya.
Kau berhasil.
Para penumpang, tetaplah di kursi dengan sabuk terpasang
sampai lampu sabuk pengaman mati. Terima kasih atas pengertiannya.
Semua tetap di kursi masing-masing.
Terima kasih.
Semua tetap duduk. Terima kasih.
Kau dengar kata kapten!
- Minggir! - Tetap duduk.
Belum aman.
Semua tetap duduk, kumohon.
- Di mana semua orang? - Ayo.
Mereka keluar.
Meluruskan kaki itu wajar.
Kau baik-baik saja? Tarik napas saja.
Sial. Ya.
Astaga.
Orang Italia itu benar. Mereka juga berpikir...
Aku bermimpi...
Ya, Tuhan...
Cepat ke bandara...
Kapan ini berakhir?
Aku masih mencari.
Itu bantuan atau masalah baru?
Jika ini masalah?
Harus bagaimana, suruh naik seluncuran lagi?
- Dari mana kalian? - Brussels.
- Apa yang kalian dengar? - Sedikit.
Dunia kiamat.
- Kalian hanya bertiga? - Ya.
Kami jelaskan nanti, waktu kita sempit.
Kita harus pergi dari sini. Sekarang.
Ke mana?
Menuju malam.
Terjemahan subtitle oleh Ardee Prananta
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.