Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
di mimpi dan kenyataan.
Semua membuatku jadi gila.
Rasanya ingin minggat saja dari rumah ini.
Namun aku tidak bisa pergi begitu saja.
Ini rumahku, dan aku bekerja keras untuk mendapatkannya.
Aku ingin mengakhirinya. Hantu itu ingin aku pergi dari sini.
Tapi tak ada yang boleh mempermainkanku. Tidak satu hal pun.
Siapapun, termasuk Hantu Hellen.
Meski dia mencoba menyakitiku.
Sudahi ini sekarang juga!
Demi Tuhan di surga!
Hei.
Hei!
Kau pikir kau bisa menyentuhku?
Semoga kau terbakar di neraka!
KISAH DARI HELLEN VAN STOLCH, 1834
Sampailah Hansel dan Gretel di sebuah rumah.
Yang terbuat dari cokelat
permen
dan manisan.
Lalu mereka diam-diam masuk ke dalam rumah itu.
Dan ternyata
rumah itu
adalah rumah seorang Nenek Sihir jahat.
Hansel dan Gretel ditangkap.
Mereka dimasukkan ke dalam sangkar besi yang mengerikan.
Dikasih makan, makanannya enak-enak.
Supaya badan mereka cepet gemuk.
Tapi, karena untuk jadi santapan Nenek itu.
Setiap nenek itu mau megang tubuh keduanya
mereka dengan pintarnya menyodorkan tulang.
Sehingga Nenek yang rabun itu
berpikir
Ih, tubuh dua anak ini masih terlalu kurus untuk saya makan.
Lalu
Di dalamnya ada surat yang sudah di translate.
Itu akan menjadi ide tulisan kamu.
Berikut surat kontrak dan DP untuk kamu, Sarah.
Kalo kamu setuju, silakan kamu tanda tangani.
Nah, ini fasilitas yang dikasih Pak Kasman.
Emily, Emily tunggu!
Emily.
Emily.
Ma, amel main dulu ya?
Ya udah, tapi jangan jauh-jauh.
- Ma. - Emily!
Kok ngagetin mama aja sih.
Kenapa, Sayang?
Ma, amel mau main piano ya?
Liat kamar kamu aja yuk.
Ini kamar kamu, Emily.
- Bagus ya? - Iya Ma, bagus.
Emily, ini buku-buku mau taruh di mana?
Emily?
Emily.
Emily?
Emily?
- Ma. - Kamu ngeliatin apa sih?
Nggak, Ma.
Ayo gowes lagi, ayo gowes lagi ya, Sayang.
Ayo lagi ya. Ayo gowes, Emily. Ayo.
Hei, dia pembunuhnya.
Sialan! Tangkap dan gantung dia sekarang!
Tolong saya! Tuan Jacob!
Tolong saya!
Tuan Jacob!
Tolong!
Hai.
- Ngapain sih kamu? - Nggak, ini lagi ngeliatin foto.
Kemarin kan beres-beres gudang, terus nemuin foto-foto ini.
Fotonya sih seusia nenek kita ini. Tua banget.
Iya.
Ini lagi?
Yang, aku ada rapat mendadak hari ini.
Kalo misalnya rapatnya lancar, aku berangkat ke Bali, sore.
- Berapa lama? - Belum tau sih.
Doain aja semoga lancar.
- Yaudah aku berangkat ya. - Iya.
Hati-hati ya Pa, ya.
- Bye. - Aku berangkat ya Sayang, ya.
- Dadah. Hati-hati. - Assalamualaikum.
- Bye. Dadah dong. - Wa alaikum salam.
Dadah.
Mama!
Mama!
Emily!
Nak!
- Emily! - Mama!
Kenapa, Nak? Ini mama, Nak.
Kenapa kamu nangis? Emily?
Mama!
Mama!
- Selamat pagi, Tuan Jacob. - Selamat pagi, Tuan Johan.
Cuacanya cerah sekali hari ini.
Ya, Tuan Johan. Ini hadiah Tuhan.
- Silakan duduk, Tuan Johan. - Terima kasih.
Badriyah.
- Satu gelas kopi untuk Tuan Johan. - Baik, Tuan.
Badriyah, biar Hellen yang mengantar kopinya.
Baik, Tuan.
Cara mereka masuk ruangan sangat berbeda dengan kita, ya?
Iya aku tau, Tuan Jacob.
Mereka punya jalan masuk sendiri.
Lalu, bagaimana dengan perkebunanmu, Tuan?
Berjalan dengan baik?
Kadang baik, kadang tidak.
Namun semuanya baik, Tuan Johan.
Menurutku perkebunanmu seharusnya berjalan dengan baik.
Gubernur Van Den Bosch baru saja menegakkan suatu sistem.
Yang disebut Kultuur Stelsel di Jawa.
Semua orang di Jawa harus membayar pajak
dalam bentuk rempah kepada Pemerintah Hindia Belanda.
Lalu, mereka akan mengirim rempah-rempahnya ke Belanda
dan menjualnya ke Amerika dan Eropa.
Ini kopimu, Tuan Johan.
Terima kasih.
Ma.
Ma, amel nggak bisa tidur.
Ya udah malam ini Emily bobo sama mama ya.
- Semuanya baik, Tuan? - Semuanya baik-baik saja.
- Silakan duduk. - Terima kasih.
Kau ke sini untuk membicarakan Kultuur Stelsel lagi?
Tidak, Tuan Jacob.
Maafkan aku.
Aku ingin menikahi anak perempuanmu.
Hellen. Hellen Van Stolch.
Aku ingin dia menjadi istriku
dan tinggal denganku di sini, di Batavia.
Sebenarnya, aku ingin dia menikah secepatnya.
Lebih cepat, lebih baik.
Siapa kamu sebenarnya?
Tante.
Emily.
Emily?
Ma.
Emily main sama siapa?
Nggak Ma, amel nggak main, nggak main sama siapa-siapa kok.
Tadi ketawa-ketawa.
Nggak.
Yaudah mama tunggu Emily di bawah ya.
Tante?
Ma.
Ma, Mama kenapa?
Ma.
- Mama kenapa sih? - Mama nggak pa-pa, yuk.
Aku ingin dia menjadi istriku
dan tinggal denganku di sini, di Batavia.
- Ma. - Emily.
- Ma, amel tidur sama Mama ya? - Kamu ngagetin mama aja.
Ayuk.
- Tapi Mama nanti dongengin amel ya. - Udah malam Nak, bobo.
- Dongengin ya? - Emily, udah malem, bobo.
Ayo Emily pinter sini, ayo.
Good night.
- Ma. - Iya?
Mama kok nggak nulis lagi sih?
Kan Amel lagi sakit.
Jadi mama jagain Amel dulu.
Amel sehat kok, Ma.
- Ma. - Iya?
Apakah kita boleh masuk ke rumah orang
tapi tanpa seizin pemilik rumahnya?
Ya nggak boleh dong.
Kita harus minta izin dulu sama pemilik rumah.
Baru deh kita masuk.
Itupun kalo boleh masuk.
Kalo gitu pantes aja dong,
Hansel sama Gretel dikurung sama nenek sihir.
Karena mereka masuk ke rumah Nenek Sihir
tapi tanpa seizin Nenek Sihir.
Penyusup harus dihukum.
Kok Amel bisa ngomong kayak gitu?
Denger dari mana?
Kata Tante.
Mama masuk rumah ini
udah dapet izin belum dari pemilik rumah ini?
Kita bukan Hansel dan Gretel, 'kan Ma?
Selamat siang, Tuan Johan.
Hellen.
Tuan Johan?
Bagaimana jika kita duduk?
Terima kasih.
Tuan Johan.
Apa ada yang bisa aku bantu?
Ya, Hellen.
Aku dengar dari ayahmu
Emily.
Kamu bukannya lagi bobo?
Tadi Tante ngajak Amel main piano.
- Tante? - Iya, Ma.
Tante siapa?
Tante, Ma.
Hei ini aku, hei!
Ini aku.
Semenjak kamu pergi
banyak kejadian aneh.
Rasanya ada yang nggak beres dengan rumah ini.
Aku dan Emily sering diganggu
suara aneh.
Aku mimpi, mimpi aneh.
Ma.
Aku ngga percaya takhayul.
Hal mistik apapun itu.
Apalagi kamu sedang menulis cerita horor.
Pikiran dan perasaan kamu terkontaminasi dengan khayalan.
Tapi kamu percaya dengan adanya setan?
Aku percaya dengan adanya setan.
Apalagi di semua kitab suci, menyatakan keberadaannya.
Terbukti dengan banyaknya kejahatan di dunia ini.
Perbuatan dan sifat manusia yang seperti setan.
Bukan bentuknya, apalagi fisiknya.
I believe in evil, not devil.
Ada satu hal lagi yang pengen aku bilang.
Apa?
Emily selalu menyebut
Pa.
Emily sekarang cerita ke mama, sama Papa.
Siapa yang suka Emily sebut Tante itu?
Nah, ini.
Cerita ya Sayang, ya.
Kata Tante, teman yang baik itu harus saling jaga rahasia.
Emily.
Sayang.
Kalo Emily nggak mau cerita sekarang, Emily harus janji.
Nanti Emily akan cerita ke mama sama Papa.
Ya?
Benar kan kataku, Pa?
Sayang, Amel itu kan masih kecil.
Dia punya teman khayalan sendiri.
Ntar juga lama-lama hilang.
Lupain.
- Emily! - Amel!
Emily!
- Amel! - Emily!
- Emily! - Amel!
Emily!
- Pa. - Nggak ada, Ma.
Pergi!
Emily!
Pergi dari sini!
Ma?
Ma?
Ma!
Ma!
Papa?
- Sarah, kamu harus tenang Sarah. - Gimana aku bisa tenang, Ran?
Hantu Wanita Belanda itu terus ganggu.
Aku takut, Ran.
Aku harus gimana?
Aku takut terjadi sesuatu sama keluarga aku.
Ran!
- Rani! - Sarah
kamu harus tinggalkan rumah itu sekarang juga.
Iya Sayang, itu.
- Emily! - Amel!
- Amel! - Emily!
- Emily, buka! - Amel buka, Mel!
- Emily, buka! - Amel!
- Mama! Papa. - Emily!
Emily?
Sayang.
Jangan berisik, Tante lagi marah-marah.
Tinggalkan rumah ini!
Dan tinggalkan anakmu!
- Amel! - Emily!
Pa angkat, Pa.
Pergi dari rumahku!
Pergi dari rumahku!
Pergi dari rumahku!
- Emily? - Sarah, tunggu!
Tidak ada yang bisa mengusirku dari sini!
Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!
Sekarang putrimu bersamaku.
Aku akan berhenti mengganggumu
jika kau menulis yang sesungguhnya!
- Amel! - Emily!
Sarah, tunggu!
Kita harus bicara.
Emily, Emily, bangun Nak.
Nak.
Emily.
Pejamkan mata kamu Sarah, dan kamu harus konsentrasi.
Aku akan membuka mata batin kamu.
Dan kamu jangan takut, jika kamu melihat sesuatu.
Sekarang buka mata kamu pelan-pelan, dan kamu jangan takut, Sarah.
Sekarang katakan apa keinginanmu
agar kamu tidak menganggu keluarga ini.
Sebarkan kebenarannya.
Semua tulisanmu sudah diputar.
Aku ingin semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Namaku Hellen Van Stolch.
Aku meninggal ketika aku berusia 22 tahun.
Nama Ayahku Jacob Van Stolch.
Dia dan keluarganya tinggal di sini, di rumah ini sejak 1784,
50 tahun sebelum kematianku.
Hobiku melukis.
Ayahku, Jacob, memiliki perkebunan yang luas.
Ayahku sangat baik kepada para pekerjanya.
Itu sebabnya semua orang menghormatinya.
Aku juga memiliki pelayan yang baik dan tepercaya.
Namanya Badriyah.
Ayahku dan aku hidup dalam kehidupan yang sangat baik.
Terkadang kami berpikir hidup tidak bisa lebih baik.
Tetapi suatu hari, tamu tak terduga datang ke rumah kami.
Terima kasih.
Hellen adalah putri dan harapanku satu-satunya, Tuan Johan.
- Silakan minum kopimu. - Terima kasih.
Tuan Johan, apa yang membawamu ke sini?
Ya.
Aku mendengar berita.
Bahwa
kau tidak mendukung
sistem Kultuur Stelsel.
Apa itu benar, Tuan Jacob?
Itu benar.
Sistem ini terlalu berat untuk pekerjaku.
Sulit diterima.
Dan suatu hari, aku akan memberikan semuanya untuk putriku.
Suatu hari
Hellen yang akan mengurus semuanya di sini.
Baiklah, apa yang bisa aku katakan.
Maafkan aku, Tuan Jacob,
Jika aku membuatmu kepikiran.
Tidak sama sekali, Tuan Johan.
Kau sangat diterima di sini.
Dan pintu kami akan selalu terbuka untukmu.
Tuan Johan.
- Tuan Jacob, selamat siang. - Selamat siang, Tuan Johan.
Aku ingin menikahi anak perempuanmu.
Hellen. Hellen Van Stolch.
Aku ingin dia menjadi istriku
dan tinggal denganku di sini, di Batavia.
Sebenarnya, aku ingin dia menikah secepatnya.
Tetapi, dia selalu menolak.
Maafkan aku, kita butuh lebih banyak waktu untuk membahasnya.
Tidak masalah, Tuan. Aku akan menunggunya dengan sabar.
Tuan Jacob.
Lebih cepat, lebih baik.
Dia bebas memilih
siapa pasangan hidupnya.
Aku tidak mau menikah dulu, Papi!
Hellen.
Dengarkan papi.
Papi semakin tua.
Dan dia adalah Tuan Willem Van Den Beck.
Orang yang terhormat.
Salah satu yang terkaya di Batavia.
Karena itu?
Jika Papi melihat status dan kekayaan saja
kenapa tidak Papi saja yang menikah dengannya?
Sayang, tolong pikirkan kata-katamu. Berhati-hatilah saat berbicara.
Tetapi Papi memaksaku!
Papi tidak ingat janji Papi, di makam Ibu?
Papi berjanji tidak akan memaksaku untuk menikah.
Kau selalu menolak pria yang melamarmu.
Benarkan, Hellen?
Sebagai orang tuamu, aku ingin menggendong cucuku.
Berapa lama papi harus menunggu? Coba katakan?
Kau mau papi meninggal dulu?
Papi.
Aku tidak sejahat itu, Papi.
Setelah Papi meninggalkan perkebunan dan rumah ini
aku akan menikah.
- Benarkah? - Iya, Papi.
Kemari, Sayang.
Papi sangat senang.
Hellen, siapa yang kau pilih?
Tuan Johan, ada yang bisa aku bantu?
Hellen, aku dengar dari ayahmu.
Bahwa
kau menolakku.
Apa itu benar, Hellen?
Aku ingin mendengarnya darimu.
- Kenapa, Hellen? - Apa aku harus menjelaskannya?
Ya, tolong jelaskan padaku.
Alasannya sederhana.
Aku belum mau menikah.
Jadi itu benar. Kau menolakku!
Maafkan aku, Tuan Johan.
Jawabannya tidak.
Tidak pernah.
Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita.
Aku tidak pernah dipermalukan dalam situasi seperti ini.
Hellen, tunggu saja. Kau akan mendapatkan konsekuensinya.
Bajingan itu merusak kebahagiaan kita!
Lihat ini.
Diam!
Kalian berdua, pergi!
Tuan Jacob.
Kami telah menemukan pelakunya.
Aku memiliki surat perintah penangkapan.
Dia pembunuhnya!
Tuan.
Diam!
Dia pembunuhnya!
Dia akan dihukum gantung.
Saya tidak bersalah!
Jangan Papi, jangan!
Jangan!
Jangan! Tolong jangan, Papi!
Jangan, Papi!
Jangan!
Jangan!
Jangan! Jangan Papi!
Jangan! Jangan Papi!
Jangan!
Jangan Papi! Jangan!
Itu sebabnya rohku tidak tenang!
Dendamku terhadap Johan Van Beck membuatku menghantui rumah ini.
Dan itu yang harus kau tahu.
Sebelum kematiannya
Johan menulis surat palsu.
Kau sudah mati! Hentikan ini sekarang!
Demi tuhan!
Hei.
Hei!
Kau pikir kau bisa menyentuhku?
Semoga kau terbakar di neraka!
Itu semua adalah ceritaku.
Sekarang, kami akan menulis semua kisahmu.
Sesuai keinginanmu.
Pergilah, Hellen. Jangan ganggu keluarga ini.
Tidak.
Tidak!
Tidak!
Emily?
Emily!
Pa?
Papa! Pa!
Papa!
Papa! Pa!
Pa!
Papa!
Papa!
Papa, bangun.
Pa, bangun Pa.
Papa.
Emily!
Emily!
Emily!
Emily!
Emily
Kita harus tinggalkan rumah ini! Ayo, Sarah!
Ngga!
- Ayo Sarah, kita harus pergi! - Emily!
Sarah, ayo!
Pergilah kau!
Tinggalkan rumahku, tempatku!
Tidak boleh ada yang menggangguku di sini!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.