Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik muram]
[ponsel bergetar]
[Malik] Ya, Pak, aku paham.
Tolong beri waktu sedikit lagi, Pak.
Aku belum bisa bayar cicilannya.
Ya, Pak. Aku tahu memang sudah tiga bulan,
tapi sekarang ini, dananya masih belum ada, Pak.
Tolong beri sedikit waktu.
Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak.
Terima kasih.
Mau sampai kapan kita dikejar utang begini?
Sekarang, bukan hanya pinjol dan utang bank saja,
penagih utang juga terus mengejar kita.
Ya, aku juga sedang terus berusaha.
Nanti aku ada wawancara kerja.
Wawancara tidak menghasilkan uang.
Kalau kau tidak bisa selesaikan masalah ini,
aku pulang saja ke tempat Ibu.
Sayang.
[musik muram berlanjut]
Sebenarnya kelebihanku adalah aku pekerja keras,
selalu ingin mencoba hal yang baru,
cepat menyesuaikan diri,
dan tidak cepat menyerah meski dalam keadaan yang penuh tekanan.
Tapi kalau aku lihat pengalamanmu di CV,
kau itu lebih banyak pengalaman di bidang akuntansi dan keuangan.
Suatu hal yang baru biasanya jadi tantangan untukku,
dan potensi terbaikku bisa terlihat meski dalam keadaan yang penuh tekanan.
[musik muram]
[menghela napas]
[mengerang]
[wanita] Mas!
Boleh tolong mundurkan mobil ini juga?
Mobilku tidak bisa keluar.
[mengerang]
Terima kasih, ya.
[ponsel bergetar]
Aku tahu keadaanmu sulit,
tapi pinjam uang dari orang lain setiap bulan bukan solusinya.
Kau justru terkubur dalam utangmu.
Mau gimana lagi?
Sudah setahun lebih, aku ke mana-mana, tidak dapat pekerjaan.
Tidak bisa instan juga, Malik.
Lagi pula, segala sesuatu yang instan pasti berujung tidak baik.
Aku merasa gagal sebagai suami
karena menganggur.
[berdeham] Begini,
aku berikan uang, tidak perlu dikembalikan.
Aku ingin kau pulang lewat Jalan Surabaya,
banyak pegadaian di sana.
Jual jam tanganmu, gadai ponselmu, cincin kawinmu.
Kalau perlu, jual mobilmu.
[musik muram]
- Permisi, Pak. - Selamat malam, Pak.
Aku ingin gadaikan jam dan cincin.
Boleh, Pak.
- Tunggu sebentar ya, Pak. - Ya.
[ponsel bergetar]
[ledakan samar]
[pria] Pak! Ada yang bisa aku bantu?
Ban mobil aku bocor, Pak. Sedang coba diganti.
Sepertinya tidak mungkin ganti ban dalam kondisi hujan begini.
Justru jadi bahaya kalau tidak diganti sempurna.
Tapi tidak mungkin aku tinggalkan di sini!
Kunci saja mobilnya. Ini sudah di pinggir jalan.
Biar aku antar Bapak. Mobilnya pasti aman.
Ayo, Pak.
- Sudah dikunci? - Sudah.
- Aku Arief. - Malik.
[Arief] Taruh tasnya di belakang.
Ya, Pak.
Maaf, jadi merepotkan.
Tidak apa-apa, aku juga pernah mengalami masalah seperti itu.
Tapi dulu tidak ada yang menolong,
jadi, aku selalu teringat momen itu.
Aku turun di tempat yang bisa cari taksi saja.
Tidak usah, nanti aku antar sampai tujuan.
Jadi tidak enak.
Kasih tahu saja arahnya, aku tidak hafal daerah sini.
Ya, Pak, nanti aku arahkan jalannya.
[suara bip tombol]
Mobil kau mana?
Banku bocor di pinggir jalan.
Tadi, coba ganti ban, tapi sulit sekali. Hujannya deras.
Tidak apa-apa.
Sayang, aku tidak enak sama dia. Kita ajak masuk dulu, ya?
Kita tidak punya apa-apa, mau suguhkan apa?
[pewarta] Tersangka pengedaran narkoba di Surabaya, Diaz Hartono,
masuk persidangan minggu ini.
Diaz Hartono, pengusaha yang dikenal sebagai "Macan Surabaya",
adalah sosok yang disegani di Kota Surabaya
karena kedekatannya dengan beberapa ormas dan pejabat tinggi Kota Surabaya.
[gaduh]
[cerek berdenging]
- Permisi, ya. - Nanti gulanya jangan banyak-banyak.
- Sedikit saja. - Oke.
- Ini, Pak. - Terima kasih.
Sudah lama, aku tidak lihat TV seperti ini.
TV lama, Pak. Tapi masih bagus.
Sebenarnya, sudah lama aku minta ganti, tapi masih belum juga.
Bagiku, selama masih bisa menyala, itu cukup.
Istriku kalau masak mi instan enak banget, Pak.
Dia olah lagi. Jadi, rasanya beda.
Suamimu benar. Mi instan buatanmu benar-benar enak.
Tidak kalah dengan rawon nguling Surabaya.
Dari dulu kami ingin mencoba rawon nguling, tapi belum terwujud.
Harus coba. Itu khas Surabaya.
Dari dulu sampai sekarang, aku tidak bosan.
Istriku memang hobi kuliner.
Tidak, Pak. Suka mencoba saja, lebih tepatnya.
Kalau keluar kota begini,
keluarga bagaimana, Pak?
Ditinggal?
Aku tidak punya keluarga.
[menggumam]
[musik sendu]
Kalian sudah berapa lama menikahnya?
Masuk tahun ketiga, ya?
Sebentar lagi hari jadi kami.
Selamat.
Belum, Pak. Beberapa hari lagi.
[terkekeh]
Aku pinjam asbak.
Ya, Pak.
[musik sendu berlanjut]
Maaf.
Tidak apa-apa, Pak. Lanjutkan.
Aku biasanya tidak pernah, Pak.
Tenang, aku tidak akan bilang ke istrimu.
[terbatuk]
[berdeham]
Semua akan baik-baik saja.
Hidup terkadang di atas, di bawah.
Sekarang, tinggal belajar cara menikmati hidup saat di atas
dan berani hadapi kehidupan saat di bawah.
[terbatuk]
Jangan, Pak. Harga mi tidak seberapa.
Aku mau bantu kau.
Tidak apa-apa, Pak.
Aman.
[mengembuskan napas]
[suara starter mesin]
Sayang,
hujannya tidak berhenti.
Apa tidak kita tawarkan dia menginap malam ini?
Yang benar saja. Kita tidak tahu siapa dia.
Tadi dia mau memberiku uang.
Jumlahnya tidak kecil. Dia orang baik, kok.
Baik dari mana? Kau baru bertemu sekali dengannya.
Bagaimana kalau kita ada di posisinya?
Kau bantu nyalakan mobil saja. Jangan suruh menginap.
[mengetuk]
Mobilnya tidak bisa menyala, Pak?
Ya, mendadak tidak bisa.
[suara starter mesin]
Coba sambil digas mungkin, Pak.
[suara starter mesin]
[musik sendu]
[Arief] Bensinnya tidak naik, mungkin pompanya?
[Alya] Sayang, hujan makin deras!
Pak Arief, menginap dulu saja, Pak.
- Biar aku bantu, Pak. - Jangan!
Aku sudah banyak merepotkan.
Aku percaya, Pak. Setiap pertemuan pasti ada maknanya.
Aku juga percaya.
Tapi aku makin tidak enak kalau tidak bantu kalian.
[tertawa kecil]
[Alya] Pak Arief.
Kami mau coba rawon nguling.
Nanti kalau Bapak pulang ke Surabaya,
kirimkan ke sini, ya?
Ini alamatnya.
Aku janji.
- Aku ke kamar dulu. - [tertawa kecil] Oke.
- Mari. - Mari, Pak.
Kau yakin, tidak butuh bantuan dari orang tuaku?
Kita terlalu sering dibantu oleh orang tuamu.
Kalau terus begitu, aku malu.
Ya, tapi kita harus gimana lagi?
Tidak gimana-gimana.
Aku cuma mau kau percaya sama aku.
[musik muram]
[menghela napas]
Bu, telurnya empat butir, ya.
Tumben bukan istrinya yang belanja.
- [dalam bahasa Jawa] Sebentar. - Ya.
Butuh sekardus mi instan?
Tidak, Bu. Masih ada.
Berapa, Bu?
Sekalian bon-bon yang lalu?
- Maksudnya? - Istrimu juga utang untuk belanjaan.
Ini, totalnya Rp735.000.
Lupa, Bu.
Bawa saja dulu telurnya.
Dompet tertinggal di rumah.
- Maaf. - Tidak apa.
Kalau bisa, minggu ini dibereskan.
Ibu butuh modal untuk dagang.
Ya, pasti, Bu.
- Terima kasih, Bu. - Ya.
[berdesis]
- [mengetuk] - Pak Arief.
Aku sedang siapkan sarapan. Bapak ingin disiapkan kopi atau teh?
- [mengetuk] - Pak Arief.
Ini, Sayang.
Aku ketuk pintunya, tapi dia tidak bangun.
Dia terlalu nyenyak.
Semalam, kehujanan, kelelahan.
Mengisap agak banyak.
Jangan marah dulu.
Yang kulihat hanya selinting.
Coba bangunkan saja.
Pagi, Pak Arief.
Pak Arief.
Pak?
Kuncinya tersangkut di dalam. Tidak bisa dibuka.
Masih tidur.
Bangunkan!
Masa aku membangunkan orang yang tidur pulas?
[berbisik] Jangan.
Biar dia bangun.
Biarkan saja dia tidur.
[berdecak]
[musik meresahkan]
Kita mau menunggu sampai kapan?
Sudah, tidak apa-apa, Sayang.
Kau saja sering marah jika kubangunkan saat sedang tidur.
Tapi sudah terlalu lama.
Dia harus lanjutkan perjalanan, bukan?
Yang jelas, aku tidak nyaman ada orang tidur di rumah kita.
Ya sudah.
Kita dobrak saja pintunya?
Dia kaget, tidak?
Pasti kaget.
Tapi 'kan itu yang kau mau.
Ya.
Sudah, dobrak, ya?
Jangan sampai pintunya rusak, ya.
Kalau didobrak, pasti rusak, Sayang.
Ya sudah, dobrak saja.
- [mengerang] - [terkekeh]
[tertawa kecil] Sakit, ya? Kau kesakitan?
Mundur, lebih jauh sedikit.
Oke.
Bisa, 'kan?
Aku dobrak, Pak!
- Satu. - Satu…
Dua, tiga!
[musik menegangkan]
Malik.
Ini ada berapa miliar?
- Aku telepon polisi. - Jangan!
Kita tidak bisa panggil polisi.
Ada orang mati di rumah kita, Malik!
Aku tahu, tapi kita tidak bisa panggil polisi.
Kenapa tidak bisa?
Kalau polisi datang ke sini,
mereka tidak hanya periksa mayatnya.
Mereka akan geledah sampai ada bukti dan memeriksa kita.
Periksa saja.
Kita hanya menerima tamu!
Semalam, saat dia bakar ganja,
aku juga ikut mengisap.
Jika urineku dites, aku juga pasti akan kena.
[musik menegangkan berlanjut]
[mual]
Hei!
[Alya] Tutup pintunya!
[pintu ditutup]
Kita harus bagaimana?
Aku juga belum tahu.
Ini semua gara-gara kau. Siapa suruh kau…
Niatku baik. Dia menolongku semalam!
Tapi jadi menyusahkan kita, Malik!
Bisakah tidak menyalahkan aku terus?
Biar aku berpikir dulu!
Ini bukan salah kita.
Bukan salah kita, tapi kejadiannya di rumah kita.
Tapi itu perbuatan dia, bukan kita yang bunuh, Malik.
Biar aku berpikir dulu!
Sementara ini, jangan buka pintu.
[pintu digedor]
Siapa itu?
[pintu digedor]
- Cari siapa? - [geram]
[napas berat] Bang!
Di mana uang kita?
Aku belum bisa bayar sekarang, Bang.
- Belum bisa? - Ya.
[mengerang]
Aku belum ada uangnya, Bang.
Tapi secepat mungkin, aku akan lunasi utang-utangku.
Sudah lewat setahun.
Keadaan keuangan kami masih sulit, Bang.
Itu bukan urusanku.
Kalau tidak sanggup bayar, tidak usah berutang.
Dompet. Dompet di vas.
Ini "tidak punya uang"?
Hanya ada itu.
Lunasi utangmu segera.
Kalau tidak lunas juga, kami kembali ke sini. Paham?
Aku usahakan.
[terengah-engah]
Kau selama ini punya uang, kenapa tidak bilang sama aku?
Aku tidak punya uang, Sayang.
Itu hasil gadai barang.
Aku sengaja tidak bilang, takut kau marah aku gadai jam tangan dan cincin kawin.
[musik muram]
Kejadian ini mungkin ada artinya untuk kita.
[Alya] Maksudnya?
Orang yang tidak kita kenal sama sekali
datang ke sini, tiba-tiba mati, dan meninggalkan banyak uang.
Mungkin musibah ini kesempatan kita.
[Alya] Aku tidak paham. Bagaimana maksudnya?
Kita butuh uangnya.
Dia sendiri yang bilang, dia tidak punya keluarga.
Kalau kita kubur jenazahnya,
uangnya untuk hidup kita.
Uangnya bukan punya kita.
Uangnya bukan punya siapa pun.
Sama seperti merampok orang mati.
Merampok apa? Dia sudah mati!
Dia bilang sendiri, dia sudah tidak punya keluarga.
Terus, kita harus gimana?
["Dance, Habibi" oleh Ali diputar]
[mengerang]
[mengerang, terengah-engah]
[Malik mengerang]
[terengah-engah]
[mengerang]
[Alya mengerang]
Sayang, tolong nyalakan mobil.
Oke.
[pemilik kontrakan] Asalamualaikum.
Alaikum salam.
- Selamat malam. - Malam, Pak.
Ada apa malam-malam?
Biasanya kalau mampir di pagi, Pak.
Ya, kalau aku mampir pagi, 'kan lagi kerja, tidak ada di rumah.
Ya. Ada apa, Pak?
Ini…
Gimana uang kontrakan tiga bulan terakhir?
Oh.
Sudah ada, Pak.
Hanya saja, belum sempat diberikan sejak kemarin.
Ya. Hei.
- Halo, Pak. - Ada Bu Malik. Baru lihat, ada di sini.
Pak Naryo menagih uang kontrakan.
Ambilkan uang di kamar tamu.
Oh.
Yang…
- Di koper? - Ya.
- Sebentar ya, Pak. - Ya, tidak apa.
["Dance, Habibi" oleh Ali berlanjut]
- Mobilnya bagus sekali. - Ya, Pak. Ini sudah tua.
[mengobrol]
[Naryo] Mau ke luar kota?
[Malik] Tidak, Pak. Kenapa?
Tidak. Tadi, aku lihat sedang memasukkan barang.
Barang-barang lama saja, Pak.
Oh, ya.
Ini, Pak. Terima kasih.
Maaf, sering terlambat.
Tidak apa-apa.
Lain kali, ke depannya, jangan begini lagi, ya?
[Malik] Ya.
Kalau tidak, nanti, aku masukkan penghuni baru.
Banyak peminat yang ingin mengontrak.
[Malik] Ya. Tidak akan telat lagi, Pak.
Ya sudah.
- Terima kasih, ya. - [Malik tertawa] Ya.
- Mari, Pak, Ibu. - Mari.
Mari.
- Terima kasih, Pak. - Terima kasih.
- [terengah-engah] - [musik menegangkan]
[napas terengah-engah]
[suara starter mesin]
Kau yakin namanya Arief?
Berkas-berkas ini bukan atas namanya.
[mesin menderu]
Kita kenapa ke sini?
Ada yang perlu dibeli.
Apa?
Kau tenang dulu, jangan panik.
Kalau kau bicara begitu, aku jadi panik.
Sebisa mungkin, kita harus hilangkan jejak ini.
Saat menguburnya,
kita hilangkan identitas Pak Arief.
Kau punya ide apa?
[musik rock diputar]
Ingat, Pak Arief sudah mati dan bukan kita yang bunuh.
Bisa berhenti sebut namanya?
Kesannya dia seperti orang baik.
Terus kita sebut dia apa?
Apa pun. "Mayat" juga boleh.
Totalnya 1,7 juta rupiah, Pak. Pembayaran tunai atau debit?
- Tunai. - Aku hitung dulu, Pak.
Uangnya pas, Pak. Mohon tunggu bonnya.
Tidak usah.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Kau sudah tahu, kita harus apa?
- Malik. - Sepertinya tahu.
Harus yakin. Tahu atau tidak?
Tahu, Sayang.
Apa pun yang terjadi malam ini,
kau harus janji kalau kita akan terus bersama.
Aku janji.
Putar balik saja.
Kita tidak bisa putar balik. Mereka pasti curiga.
Terus, gimana?
Mereka tidak akan periksa bagasi.
Biasanya cuma cek surat-surat saja.
[petugas] Pemeriksaan mobil L 2031 DAF.
Selamat malam, Pak. Boleh dibantu surat-suratnya?
Ya. Sebentar, Pak.
STNK.
- Ini, Pak. - Terima kasih.
Sedang menuju ke mana, Pak?
Mau ambil mobil, Pak.
Mobil siapa?
Mobil aku.
Aku ada dua mobil. Biasanya satu dipakai oleh istri.
Pemiliknya bukan atas nama Bapak, ya?
Ya, belum balik nama.
Oke. Sebentar.
[petugas] STNK dan SIM tidak sama.
Mereka tahu?
[petugas] Katanya, belum balik nama.
- Mereka tidak tahu. - Tapi mereka curiga.
Gimana kalau mereka buka bagasi?
Sudah, kau tenang dulu saja.
Biar aku yang bicara sama mereka.
Silakan.
- Terima kasih, Pak. - Tapi segera urus balik namanya.
Agar tidak jadi masalah saat razia seperti ini. Mengerti?
- Ya, terima kasih, Pak. - Ya.
- Selamat malam. Silakan. - Malam.
[petugas] Oke, mobil L 2031 DAF… Sebentar!
- Kenapa? - Bagasinya!
Bagasinya!
- [mual] - Bu?
[petugas] Tidak apa-apa, Bu?
- [mual] - Maaf, Pak.
Istriku hamil muda, sering mual.
Aduh, seperti istriku.
Lewat tiga bulan, seharusnya membaik.
Sekarang, pulang. Minum teh pahit hangat.
Kau bawa istrimu masuk sekarang, pulang.
- Ya, Pak. - Masuk!
Ayo, Sayang.
[musik menegangkan berlanjut]
[tertawa gugup]
[terengah-engah, tertawa kecil]
Oke.
Kau sebenarnya bisa ganti ban mobil tidak? Sini.
- Ayo. - Oke.
Ayo, Sayang.
[musik menegangkan berlanjut]
- Kenapa berhenti di sini? - Tinggalkan mobilnya di sini.
Bagasi.
[terengah-engah]
[mengerang]
Ayo.
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[mengerang]
[mengerang, terengah-engah]
Kau ke sana dulu saja, Sayang.
[musik muram]
[napas terengah-engah]
[gergaji memotong perlahan]
[merintih]
- [mengerang] - [memotong]
[terisak-isak]
[lanjut memotong]
[terengah-engah]
[musik muram berlanjut]
[mengerang]
- Berhenti! - Ada apa?
Berhenti!
[mual]
[meludah]
["Anything You Want" oleh Reality Club diputar]
[suara bip]
[tersentak]
[menghela napas]
Kita apakan uangnya?
Uangnya tidak bisa simpan di rumah ini.
Ya sudah, taruh saja di bank.
Tidak bisa langsung semuanya.
Uang ada serinya. Jadi, mudah terdeteksi.
Harus diacak-acak dulu.
Masukkan sedikit-sedikit.
Aku tidak mau uang ini di rumah.
Terserah taruh di mana, asal aku tidak tahu.
Ya sudah.
Kita ambil dulu yang kita butuh.
Sisanya, aku cari tempat di luar rumah ini.
Kebutuhan kita banyak.
Utang kita juga banyak.
["everything u are" oleh Hindia diputar]
♪ Wajahmu, kuingat selalu ♪
♪ Lupakan ♪
♪ Hal-hal yang menggangguku ♪
♪ Karena hari ini, mata kita beradu ♪
♪ Kita saling bantu melepas perasaan ♪
♪ Tinggi ke angkasa ♪
♪ Menantang dunia ♪
♪ Merayakan muda tuk satu jam saja ♪
♪ Kita hampir mati Dan kau selamatkan aku ♪
♪ Dan ku menyelamatkanmu ♪
♪ Dan sekarang, aku tahu ♪
Ini usia kandungannya sudah masuk delapan minggu, Pak, Bu.
Lihat, kondisinya juga baik.
[resepsionis] Bapak pembayarannya mau menggunakan tunai atau kartu?
Maaf, Pak. Bagaimana?
Tunai.
Baik.
Aku terima uangnya, ya.
[Alya] Makanan sudah siap, Sayang.
Ya, sebentar, Sayang.
Aku lagi catat pengeluaran kita hari ini.
Untuk apa?
Tidak apa-apa, dicatat saja.
Lagi pula, ini bukan uang kita.
Tidak ada yang cari uangnya, Sayang.
Jangan berpikir berlebihan.
Aku tidak berpikir berlebihan.
Aku tahu, setiap malam, kau mencari di internet tentang orang hilang.
Tidak akan ada juga. Tidak ada yang cari orangnya.
Ya, untuk jaga-jaga saja.
'Kan kau sendiri yang bilang, uangnya bukan punya siapa-siapa lagi.
Ya, Sayang.
Lagi pula, ini pertama kalinya kita dapat rezeki sebanyak ini.
Kalau memang ini rezeki kita,
sebaiknya dikelola baik-baik.
- [tertawa kecil] - [mengecup]
["everything u are" oleh Hindia berlanjut]
♪ Namun suratmu 'kan kuceritakan Ke anak-anakku nanti ♪
♪ Bahwa aku pernah dicintai ♪
Sayang, jatah uangmu masih ada?
- Masih, kau? - Masih.
Dipakai untuk apa?
Belum tahu.
Kita prioritaskan untuk bayar utang-utang dulu saja, ya?
Jadi, aku tidak boleh pakai uangnya?
- Maksudnya? - Untuk belanja.
'Kan kemarin kau sudah belanja.
Tapi itu untuk kebutuhan, untuk makan.
Kau tahan dulu saja, Sayang.
Suamiku aneh.
Giliran punya uang, belanja masih ditahan-tahan juga.
[musik muram]
Bu Ami, boleh cepat asal selamat.
[wanita] Pak Malik? Silakan masuk.
Kalau lihat dari CV, pengalamanmu lumayan,
tapi waktu kerjanya pendek-pendek.
Loyalitas penting di perusahaan kami.
Kami berani beri kompensasi besar untuk pengembangan karyawan.
Ya, Pak. Pengalaman kerjaku mungkin belum cukup ideal,
tapi kalau diberi kepercayaan, aku pasti loyal dengan perusahaan ini.
Biasanya, perlu waktu 14 hari untuk memutuskan,
tapi aku coba putuskan sekarang.
Bawa ke HRD. Kau bisa mulai minggu ini.
- Terima kasih banyak, Pak. - Selamat bergabung.
[musik bersemangat]
[gaduh]
- Cari apa, Kak? - Boleh, silakan mampir, Kakak.
Boleh, Bu. Tiga ini.
Halo, Kak. Silakan.
Lama sekali, Mas!
Bagaimana ini? Mau jemput anak sekolah.
Bagaimana kau ini?
Dihitung dulu.
[pria] Borong, Mbak?
Paling asyik, belanja begini, apalagi dengan uang tunai.
- Terima kasih. - Sama-sama.
[dialog samar]
- Terima kasih, Bu. - Ya.
Permisi, Bu. Mau bayar bon-bon kemarin.
Aku lebihkan.
Terima kasih selalu bantu kami.
Alhamdulillah.
Aku doakan, rezekinya selalu ada dan selalu dilindungi.
- Amin. Mari, Bu. - Ya.
- Pak. - Ya, Bu?
Sudah bertemu dengan tamunya?
Tamu apa, Bu?
Tadi ada orang menanyakan rumah Bapak. Aku tunjukkan arahnya.
Orangnya kayak gimana, Bu?
Agak besar, lalu…
Ibu juga bingung menjelaskannya.
Sepertinya dari luar kota.
Pelat nomornya bukan dari Jakarta.
- Terima kasih, Ibu. - Ya.
[musik menegangkan]
Sayang, aku diterima kerja!
[Alya] Yang benar, Sayang?
Ya.
Mulai minggu ini.
Gajinya tidak seberapa, tapi lumayan untuk awal.
Itu apa?
Aku belanja tadi.
Aku belikan kau juga.
Aku tidak minta dibelikan.
Aku ingin belanjakan kau.
Jangan. Uangnya bukan untuk belanja.
[Alya] Kau ini bagaimana?
Katanya ini rezeki kita. Tapi uangnya tidak boleh dipakai.
Kalau gitu, uangnya dibuang saja.
Kenapa harus dibuang?
Daripada tidak bisa dipakai?
Semua utang sudah lunas, 'kan?
[pintu dibanting]
[musik muram]
Sayang.
Aku minta maaf, ya.
Kita harus sama-sama dalam urusan ini.
Kita ambil keputusan berdasarkan kesepakatan kita berdua.
Jadi, segala sesuatu menyangkut uang ini,
harus bersama juga.
[mengetuk]
Sayang.
Selamat hari jadi, Sayang.
[musik lembut]
[gelas berdenting]
- Pagi. - Pagi.
- Pagi, Mas. - Pagi.
[dialog samar]
[musik menegangkan]
[pria] Hei. Kau kenapa?
Tidak apa-apa.
- Ya sudah. Mau pesan apa? - Aku sudah pesan.
- Aku pesan dulu, ya. - Sudah kupesankan juga.
Aman.
Ada apa ini?
Kau menelepon, mengajakku makan.
Ini, aku ingin bayar utang.
Aku belum menagih.
Aku cuma meminjamkanmu 300.000.
Sekaligus utang-utangku dulu.
Aku tertimpa rezeki.
Rezeki apa sampai memberiku sebanyak ini?
Aku belum bisa cerita.
Yang pasti, aku dan Alya sudah aman.
Sudah, jangan melihatiku begitu. Aku sungguh baik-baik saja.
Ini untukmu, oke?
Sebagai tanda terima kasihku karena kau selalu membantuku.
Jujur, aku lega kau dan Alya baik-baik saja.
Tapi segala hal yang instan akan tidak baik nantinya.
Ini tidak begitu, 'kan?
Tidak. Aman.
Bang, sudah jadi, belum?
[musik menegangkan]
[musik menegangkan berlanjut]
Siapa, ya, orang itu?
Jangan terlalu khawatir.
Belum tentu apa-apa juga.
Aku pernah bertemu dia di mal.
Dia berbasa-basi. Pasti orang yang sama.
- Jangan berlebihan, Sayang. - Tidak.
Terus kau mau apa?
Lapor polisi? Melaporkan apa?
Apa sebaiknya pergi dari sini?
Uangnya cukup untuk memulai lagi.
- Kita tidak bisa pergi, Sayang. - Kenapa tidak bisa?
Kau tahu aku baru diterima kerja.
Uang kita lebih dari cukup. Kita tidak perlu pekerjaan itu.
Aku yang perlu pekerjaan itu!
Kau tahu sulitnya aku cari pekerjaan.
Kita tidak tahu berapa lama uang itu bertahan.
Sudah lama, aku merasa gagal menafkahimu di depan orang tuamu.
Sekarang, aku sungguh bisa menafkahimu.
Kira-kira, ada yang menemukan mayat itu tidak, ya?
[musik menegangkan]
[musik menegangkan berlanjut]
Tadi sebelum pergi, lampu depan menyala, 'kan?
Ya, aku nyalakan.
[musik menegangkan makin intens]
[Naryo] Bohlamnya pecah, Pak.
[Malik] Oh. Ya, Pak.
Ada apa mampir malam-malam?
Sebenarnya,
tidak begitu penting, tapi…
Mengganggu pikiranku.
Ada apa, Pak?
Di malam aku ke sini untuk menagih uang kontrakan,
Bapak, Ibu bersiap pergi, 'kan?
[Naryo] Kalau aku tidak salah lihat, waktu itu,
mobilnya bukan yang itu, 'kan, Pak?
Maksudnya, Pak?
Ya, seingat aku,
pelatnya itu
Surabaya, bukan?
Memang kenapa, Pak?
Aku hanya ingin bertanya…
Mobilnya dijual tidak, Pak?
Ya, maklum, setiap hari, aku jual beli mobil tua seperti itu.
Kalau tidak salah lihat, mobilnya sangat bagus saat itu.
Banyak peminatnya.
Ya, itu milik saudaraku, Pak.
Setahuku, belum ingin dijual.
Oh, ya.
Mudah-mudahan, saudara Bapak berubah pikiran.
Kalau mobilnya mau dijual, hubungi aku saja, Pak.
Pasti.
- Mari, Pak Malik. - Terima kasih.
Bu Malik.
Mari, Pak.
- Aku sudah tidak bisa tinggal di sini. - Maksudnya?
Kita pindah, terserah ke mana. Kita punya uang kok uangnya.
Pindah ke mana?
Memangnya kau masih bisa tinggal di sini setelah kejadian itu?
Oke! Aku akan cari rumah yang lain.
Kita pindah kota!
Aku janji kita akan pindah secepatnya.
Aku paham kau tidak nyaman di sini. Aku juga. Oke?
[pintu dibanting]
[musik mencekam]
[musik mencekam makin intens]
[kucing mengeong]
Aku ingatkan kembali kepada kalian semua,
penting untuk berkolaborasi
agar tercipta ruang kerja baik dan kondusif.
Ingat, disiplin adalah integritas.
Jati diri perusahaan bergantung kepada kalian…
[musik menegangkan]
[pewarta] Dari sumber informasi anonim,
sebuah mayat tanpa identitas ditemukan dan belum dapat diidentifikasi.
Sementara, tim forensik menemukan kandungan heroin
dan bekas suntikan di salah satu tangan mayat tersebut.
[karyawan] Mengerikan.
Kenapa, Mas?
Aku dengar berita yang Mas Soni tonton.
Ya, mengerikan.
Kalau urusannya dengan mayat, narkoba,
berarti di balik semua ini, ada gangster besarnya.
Nah, itu urusannya lebih gawat lagi, Mas.
Nyawa pasti melayang.
[muntah]
[meludah]
[terkesiap]
Bapak siapa?
Maaf, Mbak. Pintunya tidak dikunci.
Ini rumahku. Bapak tidak bisa sembarang masuk.
Ada perlu apa?
Maaf, aku mengganggu.
Aku…
[menghela napas]
[merintih]
[musik menegangkan]
Pak Malik.
Ini dari Pak Ruli. Dia minta data-data 2023 diaudit semua.
Untuk hari ini.
[karyawan] Terima kasih.
[nada sambung]
Boleh kita bicara sebentar?
Kalau Bapak tidak keluar dari rumahku, aku panggil polisi.
[terkekeh] Sudahlah, Mbak.
Aku tahu, kok,
Mbak juga tidak mau repot-repot berurusan dengan polisi, 'kan?
Pasangan muda baru menikah, nama suaminya Malik, istrinya Alya,
belum lama pindah ke sini,
dan ada desas-desus terjerat utang.
Oh ya, selamat.
Katanya, kau sedang hamil.
Kau tahu siapa aku?
[musik menegangkan]
Aku orang kepercayaan Diaz Hartono.
Pernah dengar nama itu?
- Gangster Surabaya? - [pria terkekeh]
Pengusaha Surabaya, Mbak.
Apa urusannya denganku?
Jadi, beberapa waktu yang lalu,
Pak Hartono kehilangan uang dengan jumlah yang cukup besar.
Aku ditugaskan untuk mencari pencurinya
agar uang itu kembali kepadanya. Selesai.
Oh, ya.
Mbak pernah dengar nama Arief Saifullah?
Tidak. Aku tidak pernah dengar nama itu.
[merintih]
[napas berat]
Aku tahu kok
di mana posisi mobil itu sekarang.
Aku tidak paham dari tadi Bapak bicara apa.
[ponsel bergetar]
Halo, Sayang.
[gangster] Aku mau uangnya dikembalikan sekarang.
[terkesiap]
Siapa ini?
Di mana istriku?
Kau pikir kau bisa mengambil sesuatu yang bukan hakmu,
lalu semua urusanmu akan beres?
Aku tidak paham. Apa maksudnya?
Uang apa?
Masih mau pura-pura tidak tahu?
Sayang, tolong!
[Alya] Kembalikan uangnya!
Jangan sentuh istriku.
Oke,
aku hanya perlu uangnya kok.
Kutunggu kau di sini.
- Halo? - [telepon putus]
Sebenarnya, urusan ini bisa beres.
Asal kalian kembalikan uangnya kepada kami.
[musik meresahkan]
Di mana uangnya?
Kalaupun aku tahu di mana,
aku takkan bilang.
[Alya] Aku tahu siapa Diaz Hartono.
Jika kukembalikan uangnya,
pasti akan digunakan untuk hal yang merugikan banyak orang.
[terkekeh]
[merintih]
[mengerang]
[musik mendebarkan]
Maaf! Maaf, ya.
Malik? Malik!
[terengah-engah]
[musik mendebarkan makin intens]
[ban berdecit]
Sayang?
Sayang!
Sayang!
[musik mendebarkan berlanjut]
[mengerang]
[mengerang]
[ponsel bergetar]
Halo?
[gangster] Kontainer 0017, Tanjung Priok.
[telepon putus]
[ketukan]
Selamat sore. Dengan Bapak Malik?
Ya.
Boleh masuk sebentar?
Ada apa, Pak?
Ini alamat Bapak bukan?
Kami menemukannya di saku celana korban.
- Di mana? - Di TKP, di Cibubur.
Cibubur?
Bapak kenal dengan seorang pria bernama Arief Saifullah?
[menghela napas]
Arief Saifullah.
- Tidak kenal, Pak. Kenapa? - [menggumam]
Jadi, ini investigasi pembunuhan.
Tapi kami masih membuka semua kesempatan
seluas-luasnya untuk hal-hal lain.
[musik tegang]
Ada apa, Pak?
Saat aku bilang "pembunuhan",
ekspresi Bapak Malik…
Tidak terlihat kaget.
Biasanya, jika orang mendengar "pembunuhan",
ekspresinya beda, Pak.
[menelan ludah]
Tadi, di awal, Bapak bilang menemukan alamatku di saku celana korban,
aku asumsikan sebagai pembunuhan.
Apa aku salah?
Tidak, Pak.
Bapak tidak salah.
Korban memang tidak berdomisili di Jakarta,
dan sosoknya sudah banyak terlibat
dengan kasus-kasus berat lainnya.
Mungkin memang tidak ada hubungannya dengan Bapak Malik.
Begini saja, Pak.
Tampaknya, aku perlu bicara lagi dengan Bapak.
Jadi, jika ada hal-hal penting,
aku hubungi langsung? Bagaimana, Pak?
Boleh, Pak.
Kalau misalnya, aku bisa bantu sesuatu,
atau ada informasi apa pun, aku akan kabari Bapak.
Informasi apa, Pak?
Kalau aku ingat sesuatu.
Ingat sesuatu apa, Pak?
Siapa pun orang yang mencatat alamatku.
Itu akan sangat membantu.
[musik menegangkan]
[musik menegangkan berlanjut]
[deru mobil mendekat]
[terkesiap]
Sayang?
Sayang!
[gangster] Masih berpura-pura tidak kenal dengan yang namanya Arief?
Jika ingin jadi orang kaya, bukan begini caranya.
Kejadiannya tidak begitu.
Aku tidak peduli bagaimana kejadiannya.
Arief masih hidup atau sudah mati,
bukan lagi urusan aku.
Aku hanya ditugaskan mengembalikan uang Diaz Hartono karena dia pemiliknya.
Sekarang…
di mana uangnya?
Aku tidak bawa.
- [Malik] Sayang! - [terisak-isak]
Dalam hitungan ketiga, peluru ini akan menembus kepala istrimu.
Tiga.
- Dua… - Sebentar!
Aku tidak bawa uangnya karena uangnya terlalu banyak!
Aku mau pastikan keadaan istri aku dulu. Uangnya ada di rumah.
Aku punya buktinya.
[tersedu-sedu]
Tadi aku foto dulu sebelum ke sini.
Bisa lihat sendiri, 'kan? Ada uangnya. Bajuku juga sama.
Uangnya aman, ada di rumah. Aku sungguh memfotonya sebelum berangkat.
Sudah berapa banyak uang yang kalian gunakan?
Tidak banyak.
Kebanyakan untuk bayar utang.
[gangster menghela napas]
Di satu sisi, aku tidak tega dengan kalian.
Tapi di sisi lain,
uang itu bukan uangmu.
Uangnya Arief.
Itu yang dia bilang kepadamu?
Seberapa kenal kau sama Arief?
Aku tidak kenal.
Lalu?
Kebetulan, dia datang bertamu.
Keesokannya, kami menemukan dia sudah mati,
dan ada tas berisi uang di kamar.
[tertawa]
Artinya, kau tertimpa rezeki dan sial di waktu yang bersamaan.
[terkekeh]
[musik muram]
Sekarang, kita turun dari mobil,
kalian kembalikan uangnya kepadaku,
urusan kita selesai.
Kunci mobilku mana?
Di mana?
[menggeram]
[musik menegangkan]
[mengerang]
[meringis]
[mengerang]
[tembakan]
- [tembakan] - [merintih kesakitan]
- [tembakan] - [merintih kesakitan]
[Malik merintih]
- [tembakan] - [Malik mengerang]
Tidak!
[gangster menjerit]
- [tembakan] - [mengerang]
[tembakan]
[terengah-engah]
[terisak-isak]
[musik muram]
[musik muram berlanjut]
[Malik] Malam itu hujan.
Kami didatangi dua orang yang tidak kami kenal.
Mereka mengaku
mobil mereka mogok.
Biar aku antar Bapak. Mobilnya pasti aman.
Lalu, mereka perlu tempat berteduh.
Kami…
Terima mereka baik-baik.
Kami sama sekali tidak tahu soal uang.
Kejadian itu hanya antara mereka berdua.
Ternyata, tanpa sepengetahuan kami,
uangnya ditinggalkan di sini.
Lalu, salah satu dari mereka kembali untuk mengambilnya
dan menghabisi kami.
Ini
semua uang yang mereka tinggalkan.
Jangan ada yang tertinggal ya, Sayang.
Kuncinya ditaruh di mana?
Tinggalkan saja. Aku sudah beri tahu Pak Naryo.
Ayo, Sayang.
[pintu ditutup]
Sayang. Itu siapa?
Aku juga tidak tahu
Keluar.
Bang, sebentar!
- Sudah kubilang, aku akan kembali. - Aku jelaskan dulu!
- Lepaskan suamiku! - Jelaskan apa? Kau selalu berbohong.
Ya, aku mau bayar sekarang!
Jangan berjanji dan beralasan!
Aku lunasi sekarang!
- Di mana uangnya? - Aku lunasi sekarang!
Ini.
Tidak perlu dihitung,
sudah dilebihkan.
- [pintu mobil ditutup] - [mesin menyala]
Katanya kau tidak mau tahu di mana kutaruh uangnya.
["everything u are" oleh Hindia diputar]
Kita mau ke mana sekarang?
Terserah. Aku percaya kok sama kau.
[tertawa]
Sehat selalu ya, Nak.
♪ Melepas perasaan ♪
♪ Tinggi ke angkasa ♪
♪ Menantang dunia ♪
♪ Merayakan muda tuk satu jam saja ♪
♪ Kita hampir mati Dan kau selamatkan aku ♪
♪ Dan ku menyelamatkanmu Dan sekarang aku tahu ♪
♪ Cerita kita tak jauh berbeda ♪
♪ Namun suratmu 'kan kuceritakan Ke anak-anakku nanti ♪
♪ Bahwa aku pernah dicintai ♪
♪ Wajahmu ♪
♪ Yang beragam rupa ♪
♪ Pastikan ku tak sendirian ♪
♪ Jalani derita ♪
♪ Kau bawakan kisahmu ♪
♪ Aku mendengarkan ♪
♪ Kita bergantian, bertukar nestapa ♪
♪ Menawar trauma ♪
♪ Datang seadanya, terasku terbuka ♪
♪ Kita hampir mati Dan kau sеlamatkan aku ♪
♪ Dan ku menyelamatkanmu Dan sekarang aku tahu ♪
♪ Cеrita kita tak jauh berbeda ♪
♪ Namun suratmu kan kuceritakan Ke anak-anakku nanti ♪
♪ Bahwa aku pernah dicintai ♪
♪ Seada-adanya ♪
♪ Sekurang-kurangnya ♪
♪ Walau sulit utarakan hatiku Dengan indah ♪
♪ Walau jarang ku bernyanyi Dengan cara yang indah ♪
♪ Tapi tak sekali pun Kisahku pernah kau bantah ♪
♪ Cerita kita tak jauh berbeda ♪
♪ Namun suratmu kan kuceritakan Ke anak-anakku nanti ♪
♪ Bahwa aku pernah dicintai ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.