All language subtitles for Sosok Ketiga Lintrik 2025 1080p.WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese Download
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sayur.

- Itu anaknya. - Sayur.

- Hei, awas. - Hati-hati!

- Hati-hati! - Silakan.

Silakan, sayurnya.

- Ayo, Bu. - Silakan, Bu.

- Ayo, Bu. Ayamnya. - Ayo.

Burungnya ini tiga ratus.

Bisa turun tidak?

Tiga ratus.

- Ayolah, bisa. - Belum dapat.

Tidak bisa kalau cuma tiga ratus.

Belum bisa balik modal.

Hei.

Ya. Ini, lo…

Suamiku sekarang ini kok…

Kok sekarang tidak, ya?

Dulu dibuatkan sayur lodeh sudah senang.

Lo, kau tidak tahu?

Jamunya itu manjur sekali.

- Sungguh? - Ya.

Mbah, ada yang bisa bikin ketagihan

dan bikin suami

tidak akan kecantol perempuan lain tidak?

Aku ingin yang bikin suami betah di rumah,

bukan cuma bikin rapat dan wangi, tapi juga kesat.

- Tenang, Mbak. - Mbak, aku yang penting makin cantik.

Ya, biar kesat.

Biar wangi.

Sudah lama tidak ada yang pernah minta sejauh ini.

Lintrik itu pelet Jawa kuno.

Keramat.

Jadi, makin besar pengaruhnya, makin besar juga risikonya.

Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mengurungkan niatnya.

Berapa pun biayanya dan apa pun risikonya, aku sudah siap, Mbah.

Laki-laki ini

hatinya sudah bukan milikmu.

Aku ingin dia segera kembali ke rumah.

Tapi ini biayanya mahal.

Kirto.

Akan kukirimkan ketakutan terbesarnya.

Mbah…

Izin pakai ilmunya, Mbah.

Mana celana dalamnya?

Ini, Mbah.

Niatku adalah mengambil kartu.

Kartu enam puluh seikat buatan Raja Tiongkok.

Aku mohon pertolongan. Jangan sekali-kali kau ingkar.

Biar tunduk, penuh kasih, penuh cinta.

Biar bingung, tergila-gila kepadaku.

Datangkan ia ke kerajaanku ini.

Jika berhasil, kujadikan guru. Jika tidak, kubakar sebagai kayu.

Saudara empat penjuru, aku mohon pertolongan.

Jangan sekali-kali kau ingkar.

Agar jabang bayi Ario tunduk.

Istriku ini tidak hanya cantik.

Tapi juga rumah.

Mas, belum sikat gigi.

Aku cemas lo.

Mas minta maaf ya.

Pulangnya terlalu pagi.

Busnya mogok.

Mas, aku bau.

Aku suka baunya kok.

Ya sudah. Kalau begitu, mandi bareng.

Hei, Mas.

Wah, makanan kesukaanku.

- Ya, semalam dibawakan dari warung. - Ini, silakan.

Kesukaanku.

- Terima kasih, ya, Mas. - Ya.

Ini terlalu berat buat makan pagi.

Cuma aku kangen sama makanan yang bikin aku jatuh cinta sama kau.

Bisa saja.

- Aku coba sedikit ya. - Ya.

Rasanya tidak berubah. Enak.

Kau tidak bisa libur saja, Mas, hari ini?

Kau juga harus buka warung, 'kan?

'Kan ada Lilin sama Yanto.

Aku bisa libur kok, Mas.

Kalau misalnya warung macet kreditnya,

nanti aku kena sanksi,

dan warungmu tutup, bagaimana?

Kita memang berduaan terus.

Tapi miskin. Mau?

Ya.

Mas, kapan aku mau dibawa ke rumah orang tuamu?

Aku sudah menabung lo, Mas, untuk kasih sesuatu ke mertuaku.

Sudah, kau tenang saja. Pasti nanti aku ajak ke rumah.

Bu, topinya jatuh.

Sebentar, Mas.

Ini, Bu.

- Silakan. - Terima kasih.

Sama-sama.

Hati-hati, Mas.

Terima kasih, ya, sudah bikin makanan yang enak buat aku.

Juragan kalian belum datang?

Belum, Mbak Mara.

Yanto, namaku Amara, bukan Mara.

Nanti disangka orang, aku itu suka marah-marah.

Ya, tidak apa-apa. Marah-marah tetap cantik kok.

- Paklik. - Hei, jangan lari-lari.

Paklik.

Paklik, ini kopinya.

Nah, ini yang ditunggu.

- Mari, Paklik. - Silakan, Enduk.

Lagi pula, Yan, sadar diri.

Tidak mungkin Mbak Mara suka sama kau.

Kau 'kan manusia setengah-setengah.

Lo? Setengah apa? Aku cowok tulen.

Tentu saja manusia setengah-setengah.

Namamu saja Yanto Kates. Manusia setengah buah.

- Kurang ajar, dasar pendek! - Kurus!

Mukamu seperti kambing.

Mau ditinggal saja?

Itu, Paklik, sudah datang.

Dik, kok masih di sini?

Kuliah, 'kan?

Ya, Mbak. Ini aku mau pamit Mbak dulu.

Lagi pula, aku tidak akan pernah telat.

Kuliah yang benar biar cepat lulus. Ya?

- Ya. - Ya sudah.

- Enduk. - Paklik.

Paklik.

- Pamit, ya, Mbak, Mas. - Ya.

Paling enak lihat Mbak Mara, jangan lihat ini orang.

Aku juga tidak mau.

- Ayo, Paklik. - Dek.

Oke.

- Sudah siap? - Sudah.

- Dah. - Dah.

Maafkan, ya, Mas.

Sudah biasa.

Aku harus menjelaskan apa lagi?

Orang tuaku sudah tua.

Tidak ada uang, makanya tidak bisa datang ke pernikahan kita.

Ya.

Aku 'kan mengerti, mas.

Tapi butuh waktu untuk membuat paklikku mengerti.

Sudah enam bulan.

Sejak awal kita menikah.

Sudah, tidak apa-apa.

- Aku ke kantor dulu ya. - Ya, Mas.

Nanti sampai kantor, aku kabari.

- Ya. - Ya.

- Hati-hati ya, Mas. - Ya.

Mbak

Lin, To…

Ya, Mbak.

Mbak…

Nyaman, ya, To.

Tidak ada kerjanya sama sekali dia, Mbak.

Tidak, Mbak ini aku lagi… Rapikan ini, Mbak.

Dari tadi kau tiduran saja.

Mbak, ini tolong piring. Terima kasih.

- Meja enam yang mana, Mbak? - Ini.

To, Jangan keliru, ya. Es degan, bukan es dawet.

Kalau salah, potong gaji saja, Mbak.

Ini meja delapan sudah siap. Bisa diantar. To…

- Tempat ini baru. - Tapi ramai sekali, Mbak.

- Tempat ini katanya enak lo, Mbak. - Ya, 'kan?

Ya, enak masakannya. Kita ke sini terus.

Enak banget kepala kambingmu, Mbak.

Terima kasih, Pak. Silakan.

Silakan.

- Terima kasih, Mbak. - Sama-sama.

Ya.

Ayo dicoba. Dicoba dulu, Dik.

Bocah kok begini? Dari kemarin, lo, anak ini Mbak…

- Ada apa? - Apa?

Jangan terlalu banyak bermain ponsel. Sudah, ayo makan.

Simpan dulu ponselnya. Lanjut nanti lagi, ya?

Kalau tidak mau, sudah…

Yuk, kita makan saja.

'Kan aku yang minta.

- Enak kok ya, Mbak. - Ya, enak.

- Makanannya nikmat, ya. - Ya.

Aduh, ada apa, Dik?

Ada kambing!

Ada kambing? Memang jualnya kambing.

Masa biawak?

Sebentar, coba kulihat dulu.

Lihat sini.

Kambing, 'kan?

Lihat, ini kambing.

Sayang?

Hei, Sayang. Kenapa?

Ini aku.

Kenapa?

Aku lama pulangnya?

Tadi kau lupa mematikan kompor.

Kok jarang pulang?

Aku ingin punya waktu lebih bersamamu.

Ya, ini risikonya punya suami yang suka dinas keluar kota.

Mas…

Mas tidak akan meninggalkanku, 'kan?

Kau tidak sendirian.

Lalu, aku tidak akan ke mana-mana.

Aku tidak tahu, Mas, hidupku bagaimana kalau tidak ada kau.

Permisi, Bu.

Ada yang mau dikerjakan lagi?

Tidak.

Ya sudah. Kalau tidak ada, aku pamit pulang, ya, Bu.

- Ya sudah. - Terima kasih, Bu.

Halo?

Ya, kenapa?

Ada apa menelepon jam segini?

Kau ini…

Kalau sudah di sana, lupa terus sama yang di sini.

Aku itu kerja seharian.

Lelah.

Di sini ada yang butuh kau lo, Mas.

Aku sudah tidur barusan.

Ya sudah.

Besok aku kabari lagi, ya.

Kok bangun?

Aku mau ambil minum.

Pakai stoples?

Siapa yang tadi menelepon, Mas?

Pak Nawir.

Jam segini?

Entahlah, kebiasaan.

Sudahlah, tidur lagi. Kau haus? Mau aku ambilkan minum?

Aku tidak jadi haus.

Kau sudah mengantuk sampai kebingungan.

Ayo, tidur lagi.

Besok aku harus ke Semarang.

Cepat banget, Mas? Sudah dinas lagi.

Namanya kerjaan.

Kau mau miskin?

Pak Nawir.

Hai, Andin.

Wah, tumben datangnya pagi. Biasanya 'kan terlambat.

Pas banget ini, Pak. Camilan untuk di jalan.

- Camilan di jalan? - Semarang.

Rapat.

- Semarang. - Semarang…

Pak Nawir ini suka lupa.

Ketemu Pak Artadana. Rapat.

- Rapat atau seminar ya? - Rapat mempersiapkan seminar.

Pak, sudah ya. Aku mau pamit sama istriku.

- Ya, namanya pasangan, wajib dipamitin. - Ya.

Pasangan itu seperti nyawa. Belahan jiwa.

- Ini apa? - Camilan, Pak.

Buat apa?

- Sudah, masuk duluan. - Keripik, Pak.

Ya. Terima kasih ya, Ndin.

- Ya, Pak. - Ya. Sama-sama, Pak.

Biasa memang Pak Nawir suka lupa.

Malam menelepon, paginya sudah lupa.

Begitulah kalau kecilnya tidak sarapan.

Mas, benar 'kan cintanya cuma sama aku?

Dik… Aku ini punyamu.

Meskipun nanti malam kita hanya bertemu lewat suara atau mimpi. Ya?

Sudah. Berangkatlah, hati-hati. Helmnya dipakai.

Ya, nanti.

Tidak bisa menyala, Mas.

Apa?

- Hati-hati, ya. - Ya.

Pintar, ya, menulisnya.

Enduk, sudah siang ini.

Ambil makan di tempat mbakmu.

Ya, Paklik.

Enduk!

Bangun, hei!

Enduk?

Rogo Sukmo kok dipakai main-main?

Enduk, bangun, hei!

Nah!

Ada-ada saja bocah ini.

Kok Paklik tahu?

'Kan aku yang mengajarkan.

- Aku itu lagi latihan. - Ya.

Tapi jangan dipakai main-main.

Mirip kau, Kang.

Lin…

Ini, Mbak.

- Terima kasih. - Sama-sama, Mbak.

Warung sepi, Lin?

Tidak tahu, ya, Mbak…

Sudah berapa hari ini, warung tiba-tiba sepi.

Lalu, Mas Ario dinas keluar kota.

- Kasihan Mbak Andin. - Sudah, Lin.

Bilang sama Mbak Andin, nanti malam aku temani dia.

Ya, Mbak.

- Aku bawa rantangnya. - Ya.

- Aku pamit, ya, Lin. - Ya, hati-hati

Mau pesan apa, Mbak?

Menunya di sini ada apa saja, ya?

Menunya banyak, Mbak, tapi yang paling spesial…

kepala kambing.

Karena kepala kambingnya ini benar-benar spesial, Mbak.

Diseleksi, diaudisi dari kecamatan, kabupaten, dan provinsi.

Lalu, kambingnya tidak pernah kerja keras, Mbak,

karena sudah kita vaksin secara teratur dan…

Aku mau yang spesial.

Itu saja, Mbak?

- Aku bikin dulu ya, Mbak. - Terima kasih, ya.

- Sama-sama. Silakan duduk, Mbak. - Ya.

Silakan, ya, Mbak.

Mbak?

Ada yang kurang, Mbak?

Sudah berapa lama Mbak jualan ini?

Alhamdulillah, warungnya sudah hampir enam bulan.

Tapi biasanya sepi kayak gini?

Tidak.

Biasanya ramai.

Mbak datangnya pas lagi sepi saja.

- Begitu, ya? - Ya sudah, silakan dinikmati.

Mbak.

Lagi sepi, 'kan?

Duduk dulu.

Aku tidak suka sendirian.

Oke.

Mbak bukan orang sini, ya?

Ya. Tadi aku lagi lewat, lalu penasaran sama yang spesial di sini.

Makannya pakai tangan saja, Mbak.

Biar lebih nikmat.

Begitu, ya?

Ya.

Wah, bagus banget kukunya, Mbak.

Terima kasih.

Pakai juga, Mbak.

Biar lebih enak dilihatnya.

Atau mau pakai punyaku? Aku kebetulan bawa.

Ini, sebentar.

Ambil saja kalau mau.

Tidak usah, Mbak.

Aku tidak pernah terima pemberian orang.

Nanti aku bisa beli lagi.

Terima kasih, Mbak.

Jangan, Mbak, tidak usah.

Aku harus pergi lagi.

Ambil saja, Mbak.

Wah, ini kebanyakan, Mbak.

Sebentar, kusiapkan kembaliannya dulu, ya.

Ekonomi 'kan lagi sulit.

Terima kasih ya, Mbak.

Ini dibungkus saja ya, Mbak? Aku siapkan.

Sebentar saja, Mbak, tunggu.

- Mari. - Dibungkus saja ya, Mbak.

Mbak…

Ini, Dik.

Malas banget ambil minum sendiri.

Lo, 'kan ada kakaknya.

Malu deh kalau dilihat sama Mbak yang tadi.

Kelihatan murah tidak ya?

- Mbak yang tadi siang di warung itu, ya? - Ya.

Kuteksnya bagus banget.

Ini juga cantik lo, Mbak, bagus.

- Sungguh? - Ya.

Sekarang itu, ya, banyak banget kasus perselingkuhan.

Bicara apa kau, Dik?

Ini.

Orang jelek kayak gini selingkuh saja kerjaannya.

Ini, Mbak.

Muka kayak begini berani selingkuh.

Kalau Mas Ario berani macam-macam sama Mbak,

aku garda terdepanmu, Mbak.

Kucincang kemaluannya.

Hei!

Seram.

Kucing kali, ya?

Aduh…

Gelap, Dik.

Sebentar.

Ambilkan senter di lemari sana.

Ya.

Ini, Mbak.

Nah. Bisa, Mbak.

- Mbak naik dulu. - Ya.

Sini, Dik.

Ada apa, Mbak?

Tidak ada apa-apa.

Pegang dulu, Dik.

Dik, tadi apa ya?

Sudahlah, Mbak.

Tidak usah dipikirkan.

Tidur.

Ya sudah.

Dik, kakinya jangan bergerak-gerak.

Geli.

Dik!

Mbak!

Ada apa, Mbak?

- Ada ular. - Ular?

Ular.

Ular? Di mana, Mbak.

Di kolong kasur.

Di kolong kasur.

Tidak ada apa-apa, Mbak.

Makanya, jangan berpikir yang aneh-aneh.

Mbak…

Alah!

- Jangan mengarang kau, Yan. - Mengarang bagaimana? Benar kok, Lin.

Kalau Mbak Andin dengar,

lalu jadi kepikiran, tapi ternyata fitnah, bagaimana?

Tidak fitnah…

Ingat Surah Al-Baqarah ayat 191, Yan.

- Lin… - Mengaji, 'kan, waktu kecil?

Diajari, 'kan?

- Ingat tidak? - Aku non-Muslim, Lin.

Aku non-Muslim. Kau ini bagaimana?

Katanya temanku, tapi tidak tahu kalau temannya non-Muslim

- Sudah… Aku itu… - Sejak kapan, Yan?

Serius lo…

Ini, aku ada buktinya kalau kau tidak percaya.

Bukti apa?

Surah Al-Baqarah.

Aku ketemu Mas Ario, di dalam mobil sama cewek.

Nah, ini dia.

Tahi!

Kalau foto yang jelas, Yan. Jangan mukamu saja!

Lo, tapi ini fungsinya ada mukaku biar ini dipercaya kalau aku yang foto.

Biar tidak dibilang hoaks.

Kau salah, To.

Mas Ario lagi dinas di luar kota.

Ya, Mbak, aku percaya sama Mbak.

Tapi…

Bodoh!

Bikin orang cemas.

Banyak-banyak istigfar.

Mas Ario.

- Main ular tangga! - Ya!

Paklik untuk apa malam-malam ke sini?

Daripada sendirian, mending ikut anak-anak ini.

- Ayo. - Ayo masuk, Mbak.

- Ayo, Mbak, masuk. - Ayo.

- Anggap saja rumah sendiri ya, Mbak. - Ayo, Mbak.

Empat.

Jalan.

Satu, dua, tiga…

- Wah. - Pas.

- Naik lo aku. - Jadi berapa?

- Jadi berapa itu? - Aku naik ke sini, ya?

- Aku, ya? - Ya, Mbak.

Yah…

Mbak. Giliran Mbak.

Mbak, kau tahu tidak?

Kenapa Yanto namanya Yanto Kates? Ada ceritanya, Mbak.

- Mau dengar? - Kenapa?

Yah, bagaimana ya, Mbak…

Hidupku sebenarnya tidak terlalu seru buat diceritakan.

- Cuma… - Cerita!

Jadi, alkisah

- pada zaman dahulu… - Alah!

Tidak usah pakai "alkisah", Yan. Kau bukan dalang.

Jaga rumahku…

dari gaib dan celaka.

Dulu itu, ibuku suka jaga warung di proyek pembangunan bandara.

Bertemulah sama bapakku. Bapakku insinyur dari Korea Selatan.

Aku menang ini.

Empat.

Dua, tiga, empat…

- Naik tangga. - Mbak…

Mbak, aku lanjut ceritanya.

Aman.

Maaf, ya, To.

- Ya ampun, Paklik! - Paklik.

- Paklik… - Ya ampun, kok bisa?

Tinggi banget lagi.

- Aduh, punggungku! - Bagaimana ini, Paklik?

- Kok jatuh? Aneh-aneh ini. - Duduk dulu bisa tidak?

- Awas nanti tulangnya geser ini. - Ini bahaya.

Ya.

Diangkatnya pelan-pelan.

Ada apa ramai-ramai?

Minum, Mas.

Mas, kau ke mana saja?

Berhari-hari tidak ada kabar.

Kau ingat tidak kalau punya istri?

Bicara apa kau?

Aku pulang maunya disambut.

Istriku cantik, wangi.

Ini apa? Rumah berantakan.

Mukamu itu lo, kusut.

Kau pikir enak?

- Ke mana saja? - Aku ini kerja lo.

Kerjaku itu di pelosok.

Tidak ada sinyal.

Kau pikir enak?

Aku tidak bisa mengabarimu, dicurigai seperti ini.

Heran aku.

Yang lain kau kasih sirop, ya? Aku ini?

Mas, ini air panasnya

Ya.

Besok ketemu lagi ya.

Aku masih ada urusan dulu di luar kota.

Aku harus tidur.

- Nanti aku hubungi lagi ya. - Mas?

Sedang apa kau?

Menguping?

Kok tumben pintu kamar mandinya dikunci?

Lo kenapa?

Siapa yang menelepon, Mas?

Nasabah.

Nasabah kok ramah banget.

Terus aku harus marah-marah?

Nanti pada kabur.

Mau hidup miskin?

Nanti salah lagi.

Mending kau mandi.

Bau.

Hei, norak.

Halo?

Halo?

Halo.

Ini siapa?

Halo.

Tidak sopan.

Ganggu orang tidur saja kau.

Nanti jangan bangunkan aku.

Mas?

Mas?

Ini apa?

Aku sudah bilang jangan dibangunkan.

Ini punya siapa, Mas?

Punya siapa?

Kenapa barang ini ada di tasmu, Mas?

Kalau ini lip balm, aku masih percaya kau yang pakai.

Lihat.

Kuteks.

Punya siapa, Mas?

Kenapa ada di tasmu, Mas?

Jawab, Mas!

Kenapa barang ini ada di tasmu?

Entah.

- Punya siapa? - Kau ini kenapa?

Menuduhku?

Kau aneh.

Takut sama kambing…

Kemarin kompor kau tidak matikan, untung rumah tidak meledak.

Mencopot kuku.

Dengar suara aneh di plafon.

Kau mau bikin aku ikut gila?

Aku tidak gila, ya!

Aku benar-benar merasakan itu semua. Aku melihat itu semua.

Hei.

Kalau kau percaya sama halusinasimu…

panggil paklikmu, suruh bersihkan.

Paling hebat, 'kan?

- Jangan bawa-bawa paklikku, Mas. - Kenapa?

Jangan-jangan selama ini

apa yang Paklik curigai tentangmu itu benar.

Hei, kalau kau percaya sama paklikmu,

ya ke sana saja!

Suamimu siapa?

Aku atau paklikmu?

Tidak usah mengalihkan, Mas. Jawab!

Entah, aku tidak tahu!

- Punya siapa? - Punyaku!

Bohong!

Kenapa ada di tasmu barang kayak gini?

Sejak kapan?

Mas Ario…

Sehat?

Kok tegang?

Kayak lihat setan.

Mas.

Duduk.

Ada tamu kok berdiri?

Duduk, Mas.

Jadi, ada apa, Mbak?

Jauh-jauh datang ke rumahku.

Jadi…

selama ini…

aku punya hubungan…

sama Mas Ario.

Hubungan kami sudah lama.

Lama sekali.

Mungkin…

kalau tidak ada Mas Ario…

hidupku sudah berantakan sekarang.

Hubungan bisnis.

Bisnis.

Berkat bantuan Pak Ario,

bisnisku sekarang sudah lancar.

Tadinya…

waktu aku belum dapat kredit…

bisnisku lesu.

Sama 'kan kayak warungnya Mbak Andin?

Tapi sekarang, alhamdulillah,

sudah berkembang.

Makanya aku mau mengucapkan terima kasih.

Aku tahu…

nasabah Mas Ario…

banyak.

Ya.

Ini kuteksnya…

jadinya beli juga, Mbak?

Aku tidak beli.

Mas Ario ya yang beli?

Mas Ario memang baik, ya?

Sama nasabah saja baik banget.

Apalagi sama istri.

Mbak beruntung.

Mas.

Maaf ya.

Mungkin memang pikiranku saja yang lagi tidak benar.

Terus dengar gosip.

Gosip itu bisikan setan.

Aku ini kerja.

Banting tulang. Pagi ketemu pagi lagi, buat siapa?

Buat kau.

Pernahkah aku dihargai olehmu?

Terutama paklikmu.

Kayak tidak ada harga dirinya aku di rumah.

Maaf, ya, Mas.

Aku seharusnya bersyukur punya suami kayak kau.

Ya.

Jangan diulangi lagi.

Kerja, sok rajin.

Lihat ini!

Mbak Andin sakit gara-gara omonganmu kemarin.

Tahu tidak? Penyakit pikiran itu berbahaya.

- To. - Ya, Mbak.

Warungnya ditutup?

Ya, ditutup. Mbak pucat begitu.

Jangan, kambingnya masih banyak.

- Aduh, Mbak, tapi aku tidak enak. - Kau?

Merasa bersalah…

Kepala kambingnya masih?

Masih, Mas, ada.

- Mau, ya. - Disiapkan dulu ya, Mas.

Nak Ario.

- Kok di sini? - Paklik.

Ya.

- Aku gabung, ya? - Silakan.

Tumben lo…

Biasanya kau dinas saat akhir pekan.

Justru mumpung tidak dinas, Paklik.

Lagi ingin kepala kambing.

Ada Paklik.

Hai, Enduk.

Ini, Mas, kesukaanmu.

- Asbak - Ya.

Paklik, aku buatkan kopi, ya?

Nah, cocok.

- Terima kasih, Enduk. - Sama-sama.

Rasanya sudah beda?

Apa kabarmu?

Baik, Paklik.

Cuma…

kerjaan ini lagi…

Sulit menagih nasabahnya, Paklik.

Pantas…

Bisnis Paklik…

Peti matinya laris, banyak yang mati, ya, 'kan?

Ya…

Kantorku niatnya cuma bantu.

Maksudku begini lo, Nak Ario…

Wah…

Ada apa, Paklik?

Lik, ini kopinya.

Enduk, Paklik pamit ya.

Entah.

Paklik, sebentar…

Lintriknya belum bekerja maksimal sesuai keinginanku.

Aku ingin dia betah di rumah.

Ini ada orang yang berusaha menghalangi usaha kita.

Lalu, bukan orang biasa.

Supaya lintriknya makin kuat kau harus melakukan ritual sendiri.

Berani?

Biar tunduk, penuh kasih, penuh cinta.

Biar bingung, tergila-gila kepadaku.

Datangkan ia ke kerajaanku ini.

Ini sudah kubayar dengan nasi harum.

Putarkan gilingan, putarkan bumi.

Berputar tujuh bumi, tujuh penjaga.

Roh, jantung…

Ario.

Mas?

Mas?

Mas Ario?

Mas?

Mas… Mas Ario.

Mas Ario?

Mas Ario?

Mas Ario, stop! Untuk apa kau seperti itu?

Mas Ario, stop! Mas!

Mas Ario?

Mas Ario?

Mas Ario?

Mas Ario!

Mas Ario!

Mas Ario!

Kalau menagih yang galak, tidak lembek seperti itu.

Apa ini?

Ancaman ini ya?

Ini daganganku, Pak.

Kotor.

Aku ke sini cari Mas Ario.

Tidak ada.

Lihat sendiri, kosong.

Ya, 'kan?

Barangkali, ke istrinya yang lain.

Bercanda.

Bapak benar tidak tahu Mas Ario ke mana?

Aku tidak tahu, Din.

Tidak mengabari Bapak?

Ora. Tidak.

Tidak, Mbak. Mukanya penipu.

Kepalamu!

Mending kita hampiri saja Mas Ario.

Mbak tahu, 'kan? Rumahnya ada alamatnya di KTP.

- Ada kok. - Ada, ya?

Ya sudah, ayo, kita hampiri.

Ya sudah, kita ke Semarang.

- Ya, Mbak. - Ayo.

Masalah mbakmu ini bukan masalah rumah tangga biasa, Enduk.

Paklik harus cari buktinya…

dan tahu siapa yang kirim.

Kenapa ada orang yang melakukan perbuatan jahat, Paklik?

Karena ada orang yang tega melakukan perbuatan…

yang orang baik tidak tega melakukannya, Enduk.

Enduk…

Tutup semua pintu dan gorden.

Ya, Paklik.

Para leluhur…

Para leluhur…

Niat diriku…

Niat diriku…

Rogo Sukmo.

Rogo Sukmo.

Paklik!

Amara!

Paklik!

Amara!

Paklik!

- Amara! - Paklik!

- Enduk! - Paklik.

- Amara! - Paklik!

- Enduk! - Paklik!

Paklik, tidak apa-apa?

Tidak apa-apa. Terima kasih, Enduk

Di atas ada anu, Lik.

Di situ?

Ya, Paklik.

Tidak ada apa-apa, Enduk.

- Ada sesuatu, Paklik. - Ya sudah, tenang.

Ayo.

Enduk.

Telepon mbakmu, jangan kembali ke sini.

Bahaya.

Kau pulang. Paklik ke pasar, cari teman-teman.

- Ya, Paklik. - Telepon mbakmu.

- Hati-hati, Paklik. - Hati-hati, ya.

- Sudah mau sampai ini, Mbak. - Sudah mau sampai.

Jangan-jangan KTP Mas Ario palsu.

- Tidak, Mbak. - Tidak mungkin.

- Sudah mau sampai. - Tidak mungkin.

Dari tadi memang malas bapaknya. Mobilnya bau jeruk.

Yang penting 'kan jeruk bali!

- Mana ada jeruk bali? - Bau bangkai apa ini?

Baunya peternakan ayam.

- Ini titiknya di sini. - Ya sudah…

Kalau titiknya di sini, berarti di bawah sini ada jalan lagi, Pak.

Maksudnya itu lihat sekeliling, tidak ada apa-apa.

Matanya dibuka.

Mana keluargamu? Bangunkan yang mana.

- Sudah, Lin. - Aku tidak mau!

Ini jadinya bagaimana, Pak? Sudah salah begini.

Kau merendahkan profesiku?

20 tahun lo dedikasiku di sini.

Kalau di kota, model bajunya memang beragam ya?

Ada baju bolong. Itu!

Baju bolong?

- Itu sun… - Sundari?

Bukan.

Itu sun…

- Sun Tae-yong. - Bukan! Itu "Shin".

Hantunya jelek banget…

Ini mobilnya siapa?

Mohon maaf, Pak, tapi Bapak sudah tanda tangan.

Tolong, Mbak, jangan sita tanahku.

Mohon maaf sekali, Pak, karena bapak sudah menyetujui semuanya.

- Mohon maaf sekali. - Tolong, Mbak.

Mari, Pak.

Ada yang perlu kubantu, Bu?

Aku ke sini mau mencari Ario Setiawan.

Pak Ario bukan dinas di sini, tapi di Jogja.

Aku nasabahnya Pak Ario.

Besok itu terakhir bayar cicilan, Mbak.

- Aku butuh ketemu sama Pak Ario - Mohon maaf, Mbak.

Kalau mau transaksi, bisa langsung ke teller atau transfer.

Mohon maaf, untuk alamat rumah, kita tidak bisa memberikan.

Mari, Kak, silakan.

Kita lagi ada promo diskon 10%. Spesial.

Menurutku fotonya sama.

- Sama, ya? - Ya, Mbak.

Terima kasih, ya, Pak.

- Benar, Lin? - Ini.

- Oh, ya. - Lumpia Samimawon.

Mari, Kak, silakan.

- Gratis? - Ya.

Maaf.

- Mbak. - Ya?

Maaf.

Mbak, kenal orang ini tidak ya?

Aduh, Mbak, aku tidak tahu.

- Aku suka dibelikan… - Permisi, ada yang bisa kubantu?

Oh ya, Mas. Kenal sama orang ini tidak?

Sebentar, aku tanya manajer dulu ya.

Kenal semua ya, Mbak?

Sabar, Mbak.

Mas Ario.

Sama siapa itu?

Cincang kemaluannya, Mbak.

Mas Ario!

Tega!

Mas Ario!

Mas… Mas…

Mas Ario!

Mas Ario!

Rekam, Yan!

Hei! Pelakor!

Mas, masuk mobil. Cepat, jangan bikin malu.

- Ini tempat usahaku. - Pelakor!

Jangan pergi!

Jangan pergi!

Mas Ario, keluar, Mas!

Hei, kenapa itu?

Mas Ario!

Mas Ario!

Mas Ario!

Sudah, nanti kita cari ya.

Kita cari sama-sama.

Lihat. Luka, Mbak.

- Terima kasih, ya, Pak. - To…

Mbak.

- Hati-hati kalian. - Ya, Mbak.

Silakan, Mas.

Saranku, makannya pakai tangan, Mas. Biar nikmat.

Enak banget, Mbak.

Aku belum pernah merasakan rasa ini sebelumnya.

Tapi, mohon maaf. Kok sepi ya, Mbak?

Atau begini, Mbak.

Bagaimana kalau misalnya kubantu?

Jadi, nanti warungnya jadi lebih besar, terus ramai.

Ini jadi menu utamanya.

Kayaknya aku tidak cuma mau bangun warung ini dari nol bersamamu, Dik.

Aku mau bangun rumah tangga…

kita.

Ini bukti Ario itu dipelet pakai lintrik.

Perempuan itu mau merebut suamimu

dan dia berhasil.

Paklik…

anakku butuh bapaknya.

Tenangkan dirimu, Enduk.

Biar Paklik yang menanganinya, ya?

Paklik sudah dipasrahkan oleh takdir…

untuk merawat kalian berdua.

Percaya sama Paklik, ya, Mbak.

Bayangkan.

Kalau saja, video yang kemarin itu,

yang melabrak itu,

diposting ke media sosial.

- Apa? - Bayangkan saja.

Kita pasti kaya raya.

Masyaallah tabarakallah, Yan.

Kalau misalnya viral ceritanya,

semua orang kasihan sama, Mbak Andin.

Terus warung Mbak Andin ramai…

- Ada produser film datang. - Wow.

- Dengarkan cerita kita. - Wow.

- Cerita kita jadi film. - Wah. Itu bonus, Lin.

Aduh.

Nanti kalau misalnya, filmnya jadi,

aku mau karakterku ini diperankan sama Jefri Nichol.

Sebelas dua belas, 'kan, sama aku?

Kupikir Opick Kumis.

- Kalau kau siapa? - Kau mau tanya?

- Ya. - Kenalan dulu.

- Dian Sastro. - Oke, Mbak Dian. Salam kenal ya.

Dian mau buang kepala kambing.

Aduh! Matahari!

Mbak Dian, tidak bisa kena matahari.

Panas sekali!

Dian lelah.

Aduh.

Hari ini makan siang apa, ya?

Jef…

Aduh, begini rasanya dipanggil sama Dian Sastro.

Walaupun kw, tidak apa-apa.

Jef, Dian takut.

- Kok takut? - Jefri.

Lagi akting ini.

- Lagi akting, menjiwai. - Jef!

Jefri!

- Jefri, lihat! - Dian!

Ada apa, Dian?

- Jef. - Ada apa?

Jefri. Lihat.

Tadi kepala kambingnya sudah kubuang.

- Terus? - Tapi keluar lagi.

Paling juga jatuh, kau tidak lihat.

Percaya sama aku, Jef.

Ya sudah, kau diam di sini. Biar aku yang cek.

- Hati-hati, Jef. - Ya. Aman ini.

- Hati-hati, Jef. - Ya.

- Aman? - Aman.

Tidak ada apa-apa.

- Serius? - Ya.

Sudah tenang saja.

Dian!

- Jef, ayo pegang! - Dian!

Bisa!

- Ayo, ke sini! - Apa itu?

- Kok bisa? - Kok bisa?

Cepat lari!

- Cepat, To! - Dian!

Tolong, To!

- Aku harus apa? - Pintu!

Maafkan aku, Jef.

Dian!

Dian!

Jef!

- Buka, Jef! Aku takut! - Dian!

Jef, tolong aku!

Dian!

Ya, sabar.

Jangan didorong!

Sakit!

Sakit…

Tolong!

Tolong!

Ada apa ini?

Ada kambing, Pak.

Kau 'kan jualnya kambing, goblok!

Dik…

Hati-hati, ya…

Titip keponakanku, ya.

Ya, Mbak.

Sudah, Mbak yang tenang.

Aku sudah diajarkan banyak oleh Paklik.

Doakan aku, ya, Mbak.

Enduk.

Hati-hati, Kang.

Rogo sukmo kali ini lebih berbahaya.

Kau turuti perintah Paklik, ya.

Ya, Paklik.

- Bisa, ya? - Bisa.

Para leluhur…

Para leluhur…

Niat diriku…

Niat diriku…

Rogo Sukmo.

Rogo Sukmo.

Masih muda, perempuan secantikmu kok butuh lintrik?

Sudah pada buta apa laki-laki di luar sana?

Yang aku mau…

suami orang, Mbah.

Pintar…

Siapa namanya?

Yanto Kates, Mbah.

Sekaya apa dia?

Mana fotonya?

Aku lupa bawa fotonya, Mbah.

Sudah, ceritakan seperti apa orangnya.

Yanto Kates orang yang baik, Mbah.

Dia orangnya lucu, jadi, nyaman sama orang orang yang lucu.

'Kan sudah kuperingatkan.

Ilmumu

belum cukup untuk melawanku.

Tunjukkan!

Di mana kau tanam foto Ario?

Kalau aku tidak mau,

kau mau apa?

Paklik!

Paklik!

Paklik!

Paklik!

Maafkan aku.

Paklik!

Paklik!

Paklik!

Mbak! Mbak, tolong!

Mbak!

Mbak Andin!

Adik…

Amara!

Amara!

Dik!

Amara!

Adik!

Adik…

Adik!

Amara!

Amara!

Amara!

Kang…

Wasiatmu yang kupegang…

kuberikan kepada keponakanmu, ya.

Ini dari Paklik.

Paklik memberi tahu

bagaimana caranya mengakhiri ini.

Kalian hati-hati ya.

Ingat, tunggu gelap tiba.

Mbak itu cuma ingin dicintai.

Tapi malah jadi habis-habisan.

Kata ibuku…

kita dibesarkan untuk percaya

kalau bahagia itu bentuknya laki-laki.

Padahal kadang, yang bikin kita hancur ya mereka.

- Lompat. - Lompat.

Coba cek.

Benar, 'kan, dia dukunnya.

Kata orang pasar, dia dukun paling sakti di sini.

Tidak ada lagi yang lain.

Lihat, Mbak. Loncat, hilang.

Hilang, ya.

Mau apa kalian?

Tidak ada gunanya kau kemari.

Kau membunuh paklik dan adikku.

Itu risikonya

ikut campur urusan orang.

Kenapa…

paklik dan adikku yang harus mati?

Jangan kau tanya aku.

Tanya kepada perempuan yang membayarku.

Rumahnya besar. Di atas bukit Ambarawa.

Kalau kau bisa selamat.

Kirto!

Bunuh!

Kalian cari lintrik Mas Ario sampai ketemu.

Mbak mau ke rumah besar itu.

- Kalian ikat dia. - Ya, Mbak.

Hati-hati, ya, Mbak.

Kalian juga hati-hati.

Ayo, Yan.

Benar ini jalannya?

Benar.

- Apa? - Benar.

Setelah pasar…

ada kebun, belok kiri.

Tahi!

- Kiri! - Oh ya, kiri.

Aduh, bingung aku.

Bodoh.

Yan!

- Aduh. - Ayo!

Yang bodoh itu aku atau kau?

- Untuk apa kita kayak gini? - Tidak tahu.

Tidak ada orang, pakai kayak gini.

Mas.

Mas Ario.

Mas, aku tahu apa yang terjadi sama kau.

Mas.

Mas Ario!

Mas Ario!

Stop. Mas Ario, stop!

Mas, aku sudah tahu kau dilintrik, Mas.

- Mas, stop! - Hei, Pelakor! Keluar kau!

Untuk apa kau ke sini?

Cari suamimu?

Aduh…

Mukanya jelek begini kok dilintrik?

Kayak tidak ada orang lain saja.

Kalau ini ganteng. Pantas di Lintrik.

Hentikan semua perbuatan jahatmu.

Aku jahat?

Aku?

Gitu, ya?

Kau yang jahat.

Lalu, aku benci sekali sama laki-laki ini.

Aku sudah kasih semuanya,

tapi tetap saja…

yang dipilih kau.

Dijanjikan apa kau dengannya?

Lumpia?

Kau tahu?

Bisnis lumpia itu punyaku.

Rumah ini, semua kekayaan ini, milikku!

Hei.

Dipanggil apa kau sama dia?

Dibilang "rumah"-nya?

Ya?

Rumah apa?

- Rumah susun? - Kau…

bukan cuma merusak rumah tanggaku.

Paklikku…

Adikku.

Mati.

Kau menghancurkan semuanya.

Aku menghancurkan?

Aku?

Kau yang hancurkan semuanya.

Lebih baik semuanya kita hancurkan saja sekarang.

Jahat! Kau jahat tahu tidak?

Mas Ario. Jangan gini, Mas. Aku istrimu!

Sadar, Mas. Mas.

Aku istrimu, Mas.

Berlutut.

Mbah.

Lepaskan Mas Ario.

Bunuh suamimu.

Jangan. Aku suamimu.

- Yan. - Ya?

Jangan. Kau jangan mendekat dulu, jangan.

Ini pasti bosnya.

Jangan, kau bisa kerasukan, Lin.

- Sudah. - Jangan.

Ingat, kita mau bantu Mbak Andin biar cepat.

Ya, tapi kalau kerasukan bagaimana?

Izin dulu, minta baik-baik.

Aku menemukannya.

Mas Ario, Lin.

- Mas Ario. - Mbak Andin!

Apa ini?

Bau.

Bau kambing.

- Bakar? - Bakar.

Bagaimana ini?

- Cepat! Koreknya mana? - Oke, ini dia.

Nyalakan!

Hei, terbakar!

Sudah.

Mbah… Ini kenapa, Mbah?

Tidak…

Mas…

Bangun!

Bangun!

Aku hamil.

Ini anaknya Mas Ario.

Ini anaknya Mas Ario.

Kasih aku kesempatan untuk menyelamatkan keluargaku.

Dasar laki-laki berengsek!

Stop!

Papa.

Papa kenapa, Ma?

Pa…

Papa.

Bangun, Pa.

Bangun, Pa.

Bangun, Pa…

Aku sudah menikahi laki-laki ini dari tujuh tahun yang lalu.

Papa…

Aku lakukan ini semua.

Semua demi anakku.

Papa…

Aku tidak mau anakku tumbuh tanpa bapak.

Pa…

Jadi, kau pelakornya.

Tapi aku tahu…

kita berdua hanya korban dari laki-laki berengsek ini.

Papa…

- Mas Ario jahat. - Bangun, Pa…

Mas Ario jahat.

Mas Ario jahat.

Papa.

- Warungku lagi sepi ini. - Maaf, Pak.

Ini sudah kebijakan dari bank.

- Permisi, Mbak. - Aku sudah berusaha, Mbak Sundari.

Segala usahaku buntu, Mbak.

Aku hanya punya segini, Mbak.

Aku minta tolong, Mbak

Ayo dong…

Kau nakal…

- Kau kangen aku tidak? - Banget. Makanya sudah tidak tahan.

Sayang…

Kok lama?

Kenapa tidak sabar banget?

Aku sudah tidak tahan.

Aduh.

- Tidak ada matahari, Dian. - Tidak ada, ya?

- Auranya itu lo. - Apa?

Auranya.

Auranya apa?

Awur-awuran.

- Rafa… - Jefri.

Dik Rafa…

Ya, Rafa.

Rafa pasti nama panjangnya Rafatar.

- Adik Rafa. - Aduh…

Begini ya rasanya berada di antara dua wanita cantik ini.

Apa?

Budek! Tidak jadi.

Apa ini? Hai, Rafa.

Kalau bisa, nanti dikasih kepala kambing.

- Aduh, tendang. - Tidak mau kalau begitu.

- Apa? - Aku juga tidak mau…

Menyebalkan sekali, Jefri.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.