Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
MEMPERSEMBAHKAN
FILM KARYA JOSE POERNOMO
Wak Di?
Wak Di!
Wak Di!
Ini aku, Panji, Wak Di.
Wak Di!
Wak Di!
Wak Di!
Wak Di!
Wak Di!
Gonjang-ganjing…
- Gonjang-ganjing… - Bu?
- Gonjang-ganjing… - Bu?
Gonjang-ganjing!
Sudah tuntas…
janjiku.
Wak Di mati.
Bangun!
Ini dia. Permisi.
Ayah.
Devlin tidak bisa dihubungi.
Hari Jumat, dia mendaki Gunung Merapi.
Sabtu sore, dia masih ada kabar.
Tapi malamnya, ponselnya mati.
Banyak yang bisa terjadi dengan ponselnya.
Bisa jatuh, kena hujan,
atau dia sedang ada di daerah yang tak ada sinyalnya.
Namanya juga naik gunung.
Seharusnya dia sudah pulang hari Minggu.
Tapi kini hari Senin masih belum sampai di rumah.
Jangan mudah sakit hati saat tertimpa musibah.
Jangan sedih berlarut-larut…
Saat kehilangan sesuatu.
Peribahasa siapa itu?
Sunan Kalijaga.
Tabah menghadapi semua persoalan, ya, Nak.
Hidup itu terus berjalan
bersamaan dengan waktu
yang bisa mengarahkan tingkah lakumu
agar nasibmu baik.
Ingat, ya.
Ya. Terima kasih, Ayah.
Jangan cemberut terus.
Apa sudah minum madu hari ini?
Belum?
Harus diminum setiap hari.
Oke?
Majapahit merupakan kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Wilayahnya meliputi Indonesia, mulai dari bagian barat…
sampai dengan bagian timur.
Kemudian Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam,
dan Filipina.
- Dalam buku Negarakertagama… - Panggil Awindya. Cepat.
- Awindya. - …tahun 1293,
- Majapahit belum berkembang. - Dya.
- Tapi karena usaha… - Dya!
…dalam upayanya untuk melanjutkan mimpi tersebut,
maka dia membangun Amukti Palapa.
Awindya! Kalau mau bermain medsos, keluar saja dari kelas.
Di sini tempat orang yang mau belajar.
Maaf, Pak, tapi ini belum dijawab.
Selesaikan di luar.
Jadi orang Indonesia kok tidak mau belajar sejarah?
Siapa yang tahu isi Amukti Palapa?
"Lamun huwus kalah Nusantara isun Amukti Palapa.
Lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru,
ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda,
Palembang Tumasik, samana isun Amukti Palapa."
Siapa raja pertama Majapahit?
Kertarajasa Jayawardana, dari 1293 sampai 1309.
- Raja kedua? - Prabu Jayanegara, 1309 sampai 1328.
- Raja ketiga? - Tribhuwana Tunggadewi, 1328 sampai 1350.
Lalu, yang keempat, Prabu Hayam Wuruk, 1350 sampai 1389.
Kelima, Kusumawardhani Wikramawardhana, 1389 sampai 1399.
Lalu, yang keenam, Suhita…
- Hei! - Damai!
Devlin sudah ada kabar?
Dya, kau harus lihat ini!
Teman-Teman, aku baru sampai desa, tapi dilarang naik ke atas.
Katanya, para pendaki yang berangkat kemarin sampai kini belum ditemukan.
Jadi, sepertinya aku akan pindah ke Gunung Merbabu saja.
Warga sini bilang, ini akibat hujan mati karena ilmu hitam.
Ilmu hitam?
Memangnya ilmu ada warnanya?
Ilmumu warna apa, Jo?
Bukankah Devlin dan yang lain sedang naik gunung ke sana?
Devlin pergi ke tempat itu?
Dya, kau tak apa?
Dya.
Aku harus menyusul Devlin.
Jo, antar aku, ya?
Nes.
Dya,
kalau boleh kuberi saran,
sebaiknya kita jangan…
♪ Harummu terasa sampai sini ♪
♪ Seperti pertama kali berjumpa ♪
Di dunia ini,
tidak ada yang memisahkanku dan kau.
Kecuali kalau kuotaku habis.
Kau ini!
♪ Berbohong jika kurasa biasa ♪
♪ Jauh di sini kuinginkanmu ♪
Kau…
sempurna.
♪ Ada yang belum bisa terbiasa ♪
♪ Itu aku ♪
Kata Google, masih berapa lama lagi?
Pantatku sudah keram.
Kita sudah jalan lima jam.
Kuhitung, kita sudah melewati 1.247 Indomaret,
814 Alfamart, dan 1.476 ATM BCA.
Masih tiga jam lagi.
Kalau belum tahu cita-citamu jadi apa,
kusarankan kau menjadi petugas sensus.
Dedikasimu dalam menghitung patut diapresiasi.
Pertamina 112.
♪ Gugur sudah kita yang kudamba ♪
Dya!
Stop!
Kaki kanan dulu yang masuk.
Memang kenapa kaki kanan?
Kalau bersalaman, pakai kanan atau kiri?
- Tentu saja kanan! - Nah…
Tapi pakai tangan kanan, bukan kaki kanan.
Eror kau!
Hei, tunggu!
Dya.
Penduduknya pada ke mana, ya?
Dya!
Pantas saja sepi.
Namanya saja Desa "Selo".
Kulo nuwun. Permisi.
- Nes! - Dya!
Ada apa dia?
Pak! Tunggu, Pak!
Dengan meninggalnya kuncen kita, Wak Di,
kita perlu mencari orang yang bisa meneruskan tugasnya.
Dengan begitu, tatanan alam akan dipulihkan.
Saat ini, kita belum menemukan orang itu.
Mengenai penutupan jalan menuju gunung,
yang sudah direncanakan sejak hari Sabtu,
saat ini telah ditinjau dan dievaluasi ulang.
Kondisi ini akan berlanjut hingga kita memiliki kuncen yang baru
demi keselamatan semua orang.
Jadi, sampai kuncen yang baru dipilih,
tidak ada yang boleh naik ke gunung.
Maaf, Pak.
Teman-teman kami sebanyak empat orang saat ini posisinya ada di atas gunung.
Seharusnya sejak kemarin mereka sudah turun.
Tapi sampai saat ini tak bisa dihubungi.
Aku berupaya melakukan pertolongan,
tapi dilarang naik dan disuruh menunggu SAR.
Maaf, akulah yang melarang Tim SAR untuk naik ke gunung.
Tega banget kalian.
- Aku ditinggalkan! - Pokoknya…
tidak ada yang boleh naik ke gunung
sebelum ada kuncen yang baru.
Apa itu "kuncen"?
Adiknya Jackie Chan mungkin?
Lalu, apa solusi untuk menyelamatkan teman-temanku?
Siapa yang bertanggung jawab untuk mencari pengganti kuncen?
Ini salahnya Bude Lakah.
Wak Di tak bisa mempersiapkan penggantinya.
Itu karena Bude tak bisa memberikan anak laki-laki.
- Benar! - Kau harus tanggung jawab.
Tidak bisa disalahkan seperti itu.
Zaman sekarang masih ada saja yang menyalahkan perempuan
ketika tak bisa melahirkan anak laki-laki.
Ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa itu bukan ketidakmampuan perempuan.
Justru kalau mau disalahkan, salahkan laki-lakinya.
Karena kromosom yang menjadi penentu anak laki-laki, justru ada di…
Hai.
Aku Awindya.
Aku Yoga.
Diska.
Jadi, teman-temanmu masih di atas?
Kami berenam naik pada hari Jumat.
Lalu, di Pos Tiga, Diska badannya panas.
Jadi, aku dan Diska turun untuk ke dokter.
Hari Sabtu, kami kembali naik.
Tapi dalam perjalanan ke Pos Satu, ternyata ditutup oleh warga.
Kalian baru sampai?
Aku Agnes.
Pacar kesayangannya juga naik hari Jumat.
Sampai sekarang belum ada kabar.
Dia sayang banget sama pacarnya,
makanya kami menyusul kemari.
Bisa tidak bikin malu aku?
Biasanya cowok kalau kenalan denganmu pasti terpincut.
Pacarnya juga sayang banget dengannya. Dia juga cakep banget.
Mereka berdua sangat cocok.
Mojo.
Kalau aku belum punya pacar.
Wajar.
Kalian berencana mau tinggal di mana?
Kalau belum tahu, bersama kami saja.
Di penginapan untuk pendaki.
Nes.
Bisa hitung jumlah jangkriknya?
Tapi kuhitung gantungan di rumah-rumah tadi ada 28.
Itu apa, ya?
Itu namanya sajen.
Sudah beberapa hari ini, dedemit di gunung cari korban di sini.
Warga percaya supaya rumah mereka tidak diserang, harus ada sajen.
Isinya makanan dan bagian tubuh orang yang punya rumah.
Bisa kuku, rambut, kulit.
Bahkan ada yang memotong jarinya.
Selama tidak ada kuncen,
mereka cari cara untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Memang apa tugas kuncen?
Dia bisa berkomunikasi dengan makhluk halus yang ada di gunung.
Sekaligus memenuhi kebutuhan mereka.
Supaya semuanya jadi aman.
"Kuncen" itu arti katanya dari "kunci".
Jadi, dia pemegang kunci alam gaib di sini.
Sepertinya kini pintunya sedang terbuka dan tak ada yang bisa menutupnya.
Gerbang alam gaib terbuka?
Lalu, kenapa tak ada penggantinya?
Memangnya tak ada yang mau jadi kuncen?
Kalau dilihat dari pentingnya jabatan itu, pasti gajinya gede.
Wah, tidak tahu digaji atau tidak.
Tapi yang kutanya kemarin…
ternyata banyak pantangannya.
Syaratnya juga berat.
Tidak ada yang mau jadi kuncen.
Memangnya kenapa?
Coba saja kau bayangkan bertemu macam-macam dedemit setiap hari.
Lama-lama stres, 'kan?
Itu kalau rupanya benar.
Kalau matanya besar dan giginya tajam?
Tetap cantik.
Apa itu?
Kata orang sini, itu namanya ketempelan.
Penginapannya masih jauh?
Apa tidak sebaiknya kita di dalam rumah saja?
Dedemit di gunung bukannya masih banyak banget?
Lalu, berapa banyak lagi yang ketempelan?
Hei!
Sial, mulai lagi!
Awindya! Agnes!
Mojo!
Mojo! Tenang!
Tenang, ya?
Dengarkan aku. Berlututlah pelan- pelan.
Berlutut pelan-pelan!
Sekarang menunduk!
Jo!
Kau tidak apa-apa, 'kan, Jo? Tenang.
Lagi pula, kenapa kau menari di kuburan?
Lihat ini.
Pohon ini katanya sudah seribu tahun.
Lalu, di sini juga ada kuburan keramat.
Dari mana kau?
Pacarku juga menginap di sini. Tadi aku lihat mobilnya di sana.
Ya sudah, aku mau menyalakan lampu. Sekalian menunjukkan kamarmu. Ayo.
Apa di sini ada makanan? Aku lapar banget.
Tapi aku tak bisa makan mi instan.
Hei, apa ini?
Itu jalur pendakian.
Kalau mau naik ke atas,
harus lewat Pos Satu, Pos Dua, dan seterusnya.
Yuk.
Aku mau tanya.
Tadi jika kuperhatikan, kau lihat sesuatu, ya, saat di kuburan?
Kenapa kau tanya begitu?
Yah, terlihat beda saja. Kau tidak tampak bingung.
Jujur, aku tak pernah bicarakan ini kepada siapa pun.
Tapi terkadang, aku bisa melihat atau merasakan hal seperti itu.
Diska tidak tahu?
Ada hal yang membuatku tak bisa terbuka jika bicarakan hal seperti ini.
Aneh juga, ya?
Aku bisa membicarakan ini denganmu.
Naik.
Dis, kau sudah naik gunung sini? Di atas ada apa?
Pemandangannya itu. Indah, luar biasa.
Kebahagiaan yang tak bisa digantikan.
Maksudmu Yoga?
"Pemandangan indah"?
Hei, apa kau pernah dengar yang namanya pasar setan?
Wah, apa itu?
Tempat jual beli setan?
Katanya, di atas ada yang namanya pasar setan.
Di atas ada lapangan.
Lalu, kalau pasang tenda di sana,
malam-malam akan terdengar keramaian seperti di pasar.
Tapi pas kita keluar tenda, tak ada apa-apa?
Itu sungguhan?
Seram sekali.
Semoga Awindya tak memaksaku naik ke gunung.
Kebanyakan orang bilang kalau pasar setan adalah tempat beli barang-barang gaib.
Kayak mustika, keris, mahkota
untuk mendapatkan kekayaan dan kecantikan.
Tapi mungkin kau benar.
Bisa buat beli jin.
Kalau pasarnya saja tidak kelihatan, bagaimana belanjanya?
Biasanya, mereka minta tolong sama orang yang mengerti soal hal-hal gaib.
Lewat perantara jasa orang pintar.
Aduh, jangan pintar-pintar jadi orang. Suka saja mengerjakan hal aneh.
Tidak ada belanja online saja?
Ada orang kirim WA dan minta dikirimkan kode OTP.
Kode OTP lihat di mana, ya?
Ini penipuan. Jangan dikasih, ya.
Kalau ada orang yang minta data pribadi,
kayak kode OTP, kata sandi, PIN…
Tapi sepertinya ini benar. Dia bilang dia dari bank.
Aduh, kau tahu apa itu penipuan?
Orang itu bohong dan mengaku dari bank.
Sekarang kalau aku minta kode PIN bankmu,
tapi aku bilangnya dari Bank BCA.
Kau kerja di bank?
Apa itu?
Ayo masuk.
Kita mau di sini berapa lama, Dya?
Lalu, apa rencana kalian?
Kami sudah tak bisa berbuat apa-apa.
Jadi, besok kita pulang, kabari keluarga teman-temanku,
dan cari pertolongan di Jakarta.
Aku harus naik gunung besok pagi.
Mojo, bangunkan aku besok pagi.
Bukankah tadi dilarang naik semuanya?
Dilarang naik bukan berarti tidak bisa naik, Jo.
Devlin dan anak-anak lain masih di atas.
Kalau tak ada yang bisa menolong, biar kulakukan sendiri.
Kau sudah pernah naik?
Kau tahu jalannya?
Ya sudah. Besok kutemani kau naik.
Supaya aku juga tahu nasib teman-temanku.
Yoga!
Aku mau pulang besok.
Aku tak mau di sini lama-lama.
Kumohon, tidak usah melibatkan kami atas apa yang mau kau lakukan.
Lagi pula, kau tak usah pergi ke atas!
Tim SAR saja yang berpengalaman tidak…
Diska! Tenang dulu.
Aku hanya mau memastikan bahwa mereka tahu…
Sekarang kuncennya tidak ada.
Jadi, aku bisa…
bebas melakukan apa saja.
Aku yakin
kalau Wak Di
sudah mempersiapkan penggantinya.
Tapi sampai terakhir,
masih dirahasiakan.
Kita harus mencaritahunya.
Jika tak ada kuncen yang menjaga,
lalu kau memanggil dedemit dari gunung,
bukankah desa ini akan menjadi kacau?
Nah, kau mengerti, 'kan?
Tempat angker ramai dikunjungi orang.
Jadi, desa ini harus menjadi desa angker.
Jika semua orang dengar soal desa ini, mereka pasti mau datang kemari.
Mereka akan meminta kekuasaan, jabatan, dan kekayaan.
Lalu, siapa yang memberikannya? Siapa yang akan membantu mereka?
Wak Har.
Pertama,
aku harus mengusir bocah-bocah pendatang itu.
Awindya.
Devlin?
Devlin?
Dev?
Dev?
Devlin?
Dev?
Dev?
Devlin?
Devlin, kaukah itu?
Win! Awindya! Kau tidur sambil berjalan!
Awindya! Win, sadar!
Awindya!
Awindya, kau harus lawan!
- Awindya! - Win! Sadar!
Awindya! Awindya, sadar!
Awindya!
- Win. - Dya…
Win…
Dya.
Kau tidur sambil berjalan?
Aku… Aku tidak tidur sambil berjalan.
Apa kau sadar apa yang kau lakukan tadi?
Sebaiknya kau lihat sendiri.
Jo! Itu siapa?
Awindya.
Apa? Dia kenapa?
Awindya! Sadar!
Awindya, sadar!
Ada apa lagi ini?
Yoga!
Awindya, sadar!
Awindya, kau harus lawan! Awindya, sadar!
- Dya… - Awindya!
Win, sadar!
Jo! Itu siapa?
Awindya.
Apa? Dia kenapa?
Awindya! Sadar!
- Suara apa itu? - Awindya!
Suaramu di video.
Ada apa lagi ini?
Sebentar, matikan dulu.
Ada yang sedang diserang.
Kita harus segera menolong!
Bukan ide bagus!
Hei, tunggu.
Gila kau, ya?
Memangnya kau bisa apa?
Gayamu mau sok menolong orang yang diserang dedemit.
Tadi jika kau tidak dibantu oleh Mojo dan Yoga,
mungkin kau sudah mati!
Sekarang kau malah mau pergi?
Yang ada, kau hanya menyusahkan orang-orang di sekelilingmu!
Apakah kau bertanya kepada teman-temanmu apakah mereka mau ikut ke sini?
Pasti tidak, 'kan?
Karena semua harus mengikuti kemauanmu!
Agnes sebenarnya tak mau ikut ke sini.
Lalu, kini kau mau memaksa Mojo dan Yoga untuk ikut denganmu?
Mungkin kau bisa bilang kau tak memaksa mereka untuk ikut,
tapi justru mereka perhatian kepadamu, mereka tak bisa membiarkanmu sendiri
karena mereka takut terjadi sesuatu kepadamu akibat kebodohanmu!
Tapi jika kau masih tidak sadar,
artinya memang benar kau egois!
Maaf.
Tapi aku tak bisa tinggal diam.
Aku harus selalu mencoba untuk menolong.
Yoga.
Yoga!
Ya sudah.
Ikut saja, yuk.
Daripada sendirian di rumah.
Mending kita pergi ramai-ramai.
Kau suka sama Diska, ya?
Pak?
Pak?
Pak?
Apa Bapak…
Pak…
Awindya!
Awindya!
- Lepas! - Mojo! Bantu, Mojo!
- Mojo! - Nes, bantu!
Ya.
Diska! Tolong cari sesuatu untuk mengikat!
Dya.
Sudah lama asmamu tidak kambuh.
Diska! Tolong cari sesuatu untuk mengikat!
Di mana?
Kok kalian tak bangunkan aku?
Aku sudah minta tolong kemarin, bangunkan aku besok pagi!
Kemarin kau kelelahan.
Lalu, asmamu kambuh.
Kita di sini bukan lagi liburan.
Bagaimana nasib mereka di atas sana yang hanya mengandalkan bantuan kita?
Yoga, aku sudah mau pulang.
Aku tidak mengerti kenapa kau masih berharap sama mereka.
Sudah jelas mereka baru datang dan tak mengerti apa-apa.
Yoga, Tim SAR saja gagal menolong.
Maaf kalau aku masih berharap bisa menolong teman-teman kita.
Begini saja.
Kita naik dulu.
Kalau memang di atas sana tidak ada petunjuk,
aku janji, kita akan pulang hari ini. Oke?
Yah, dia pergi.
Ayo.
Yuk.
Awindya,
sepertinya kita dilarang naik oleh penunggu gunung ini.
Win!
Dya, dengar.
Kita dilarang naik oleh penunggu gunung ini!
Tapi kita harus naik, Yoga!
Kalau ini jalan satu-satunya, aku harus berusaha untuk bisa naik!
Gila kau, ya!
Kita semua sudah mengikuti maumu!
Kenapa kau tidak sadar?
Sudahlah! Jangan memaksa kami harus mengikutimu!
Jangan egois!
Katamu, kau mau pulang.
Aku tak menahanmu atau Yoga untuk pulang.
Kau bertahan di sini karena kau menyukainya, 'kan?
Bayangkan jika dia yang hilang di atas gunung.
Apa kau juga tidak mati-matian untuk naik ke atas?
Masalahnya, kau tak tahu ada bahaya apa di depan!
Aku hanya tak mau kau mencelakai Yoga dan teman-temanmu!
Nes!
- Nes! - Agnes!
Agnes!
Agnes!
Nes!
Agnes paling tidak suka dengan rumah sakit.
Waktu adiknya sakit, dia hanya menjenguk sampai parkiran.
Bagaimana kalau kita coba bertemu Tim SAR lagi?
Minta bantuan sama mereka.
Memangnya di sini tidak ada yang mau menjadi kuncen?
Di mana Mojo?
Ke warung lama banget.
Jo, banyak banget jajannya.
- Ada uang tunai untuk bayar? - Apa?
- Bayarnya pakai uang tunai? - Tentu saja.
Bisa pakai QRIS kok.
Nah! Itu bisa!
- Kau ada, 'kan? - Apa?
Ada.
Siapa itu?
Pak, senternya.
- Maaf, aku tak bisa lihat apa-apa. - Oh, maafkan aku, Enduk.
Siapa kau?
Mereka semua ini siapa?
Mereka warga yang ketempelan dedemit.
Ternyata banyak sekali, ya, Pak.
Padahal baru tiga hari kuncennya meninggal.
Masalahnya, sebagian penduduk tidak mau mengungsi.
Tapi kenapa harus diikat, Pak?
Menjelang senja, saat matahari terbenam, mereka bangun.
Lalu, menyerang orang-orang yang ada di dekatnya.
Tenaganya luar biasa. Satu atau dua orang tak sanggup untuk menahannya.
Memang kelihatannya dia bangun,
tapi dia hanya mengerang saja.
Tunggu sebentar lagi.
Saat surut, suasana akan berubah.
Maksudnya?
Keadaan Agnes bagaimana?
Belum ada kabar.
Di mana Awindya?
Dia tadi jalan ke sana.
Yoga.
Kau baik-baik saja, 'kan?
Ya.
Hei.
Kenapa kau?
Aku tak pernah merasa tertekan seperti ini.
Aku sama sekali tak punya solusi untuk masalah kita saat ini, Dis.
Teman-teman kita di atas butuh pertolongan,
tapi aku tak tahu caranya.
Apa sebaiknya kita kembali saja ke Jakarta?
Di sana kita bisa minta pertolongan.
Mungkin kita bisa mendapatkan banyak solusi di sana.
Hai!
Lihat ini.
Muka-muka orang kenyang.
Tidak tahu bisa naik atau tidak.
Ini hari Jumat, Dis.
Sekarang sudah hari Selasa.
Teman-teman kita di atas tidak bisa menunggu.
Makin kita buang-buang waktu,
makin kecil kemungkinan mereka untuk selamat.
Kita harus cari solusinya di sini.
Ini…
Mereka semua kemasukan setan?
- Jadi, yang tidur ini sebenarnya… - Benar.
Mereka akan bangun sebentar lagi dan menjadi liar.
Dua apa, Pak? Dua menit lagi?
Dua menit lagi ada apa, Pak? Mereka semua akan bangun?
Talinya kuat untuk menahan mereka tidak?
Apakah mereka akan menyerang kita?
Aku tidak mau dimakan dedemit.
Yoga, lihat itu.
Seram banget.
Semuanya ketempelan.
Lihat, 'kan? Mereka menjadi liar.
Tapi tenang. Semua aman terkendali di bawah pengawasanku.
Dya!
Sudah, jangan macam-macam!
Ada yang menarikku!
Tasmu tersangkut, Bodoh!
Sudah. Sana!
Semuanya tidak perlu kabur. Sudah aku amankan.
Permisi, Mas, Mbak. Temannya sudah sadar.
- Terima kasih, Sus. - Terima kasih, Sus.
Keris itu bisa membuatmu mendapatkan jabatan.
Simpan di dalam meja kerjamu.
Siap.
Terima kasih banyak, Mbah.
Jangan sungkan untuk mengabariku
jika ada hal lain yang kau butuhkan.
Temanmu ini sangat beruntung.
Tinggal menunggu lukanya sembuh.
Seharusnya temanmu dirawat di sini satu sampai dua hari.
Tapi karena kondisi rumah sakitnya tidak memungkinkan,
jadi, sebaiknya temanmu pulang.
- Permisi. - Ya. Terima kasih, Dokter.
Ya.
Aduh, jangan lebai.
Kau tidak lihat orang-orang yang ketempelan tadi.
Kalau kau lihat, pasti kau bersyukur karena tak harus menginap di sini.
Ketempelan itu tidak seram. Mereka masih orang.
Memang benar, tapi kau tahu di dalamnya ada setan.
Ya sudah, ayo kita pergi.
Ya sudah. Gantilah bajumu dulu.
Di mana behaku?
Pakai peluk-peluk. Dasar modus!
Aku memperkirakan teman-teman kita yang ada di atas…
hanya bisa bertahan sampai besok.
Itu pun dengan catatan kalau mereka tidak ketempelan dedemit.
Sori.
Kalau aku lebih pesimis.
Melihat di rumah sakit tadi membuatku makin yakin
kalau mereka semua sudah pada ketempelan.
Jadi, menurutku, upaya kita sekarang adalah
bicara kepada tetua adat dan berharap ada yang menjadi kuncen.
Kuncen bukan solusinya.
Ini masalah supernatural, Ga.
Semua tempat keramat harus ada kuncennya.
Gunung, danau, kuburan.
Lazimnya ada kuncen yang menjaga.
Selama tidak ada kuncen, yah seperti ini.
Kaos.
Dya! Dya, jangan!
Dya,
di sana ada sosok hitam berambut panjang
yang sedang melihat kita.
Sepertinya ada yang memanfaatkan kematian kuncen.
Apa memang benar dibunuh?
Yoga?
Yoga?
Diska!
Diska!
Diska, oke. Tenang dulu.
Mulai sekarang, kita jangan ada yang terpisah.
Oke.
Sekarang kita berkumpul di kamar Agnes saja. Ya?
Nes!
Jo!
Tolong aku! Sepertinya Agnes sudah berubah!
Lihat bajuku!
Jo! Jaga Agnes, jangan sampai kabur! Aku akan coba mencari tali!
Hei! Aku yang mau kabur!
Hei, Diska! Angkat kakinya!
Dis, aku tak mau bertengkar lagi denganmu.
Tapi tolong jangan halangi aku melakukan apa pun semampuku
untuk menyelamatkan pacar dan teman-temanku
yang mungkin peluang selamatnya sudah tipis.
- Sebenarnya aku… - Boleh aku bicara sebentar?
Oke, begini, harapan teman-teman kita tinggal sampai hari ini
karena mereka sudah hilang empat hari.
Jika sampai malam masih belum ada upaya apa pun yang tak bisa kita lakukan,
aku akan pulang.
Dengan atau tanpa Yoga.
Jadi, aku akan tinggal di sini untuk menjaga Agnes, temanmu.
Lalu, kau…
Kuharap kau bisa melakukan hal efektif untuk menyelamatkan semua orang di atas.
Bukan cuma pacarmu.
- Sebenarnya, aku… - Kita harus ke rumah istri kuncen.
Dia yang lebih paham persoalan ini.
- Ayo, Mojo. - Rencananya…
aku mau menemani Dis…
Agnes!
Ya, terima kasih.
Hati-hati, licin.
Jo.
Permisi, Bu.
Aku Awindya. Ini teman-temanku, Yoga dan Mojo.
Kami mau tanya sesuatu…
Apa kau tahu
arti namamu?
Aku masih ingat.
Kau yang menolongku di balai desa, 'kan?
Terima kasih, ya.
Mari masuk.
Memangnya apa arti namamu?
Apa yang mau kau tanyakan? Monggo.
Soal kuncen, Bude.
Untuk menolong teman-teman kami di atas gunung, tak ada cara lain,
selain memilih kuncen baru.
Kuncen itu tidak dipilih oleh kami,
tapi ditunjuk.
Kami hanya bisa mempersiapkan
semoga nanti bisa ditunjuk.
- Apa syaratnya? - Bagaimana mempersiapkannya?
Yang menunjuk adalah penunggu sini.
Dulu dikabarkan melalui raja.
Mempersiapkan dengan cara membekali pengetahuan adat istiadat dan budaya.
Pemahaman tentang alam gaib.
Syaratnya apa, Bude?
Penunggu sini akan melihat calon kuncenya,
lalu akan menentukan ritual apa yang diperlukan.
Kalau Wak Di, mendiang suamiku,
disuruh bertapa dan berpuasa
selama 40 hari dan 40 malam
di bawah pohon besar di kuburan tua.
Ini yang membuat hampir semua orang tidak mau menjadi kuncen.
Apalagi, harus selalu berurusan dengan dedemit.
Apa Wak Di tidak mempersiapkan seseorang untuk menjadi penggantinya?
Ada!
Yang selama ini dipersiapkan
memang selalu dirahasiakan oleh Wak Di
karena firasat akan hal buruk yang terjadi kepadanya.
Setelah Wak Di meninggal secara tidak wajar,
anak itu sekarang selalu bersembunyi.
Kuncen itu sebagian besar kerjanya
tidak hanya menenteramkan alam sana saja.
Tapi kebanyakan malah menutup orang-orang yang berkeinginan buruk,
memanfaatkan penguasa gunung.
Bude Lakah pengetahuannya luar biasa, ya?
Aku bersyukur bisa mengobrol dengannya.
Ya.
- Peta yang dibuat Bude mana? - Sepertinya masih jauh.
Tak apa, yang penting kita ada harapan.
Mas Panji?
Mas Panji?
Anjay!
- Mau apa? - Tidak. Tidak mau apa-apa.
Seram saja.
Mau apa?
Mas Panji benar murid Wadi?
Wak Di!
Ya, Wak Di!
Mas! Mas Panji!
Mas Panji tahu Wak Di sudah wafat.
Kini posisi kuncen tak ada penggantinya, dan ada banyak orang yang celaka.
Bukan satu atau dua orang,
tapi mungkin ada lebih dari seratus orang yang mengalami masalah.
Teman-teman kami yang hilang di gunung…
Tak ada yang bisa menolong mereka.
Mas Panji sebagai orang yang telah dipersiapkan Wak Di
pasti sudah siap untuk menjadi pengganti.
Mas…
Banyak orang yang menggantungkan nasibnya pada keberanian Mas Panji.
Aku takut bernasib sama seperti Wak Di
yang dibunuh oleh ilmu hitam oleh seorang dukun.
Dia sudah lama mengincar Wak Di.
Lalu, menunggu hari-hari nahas untuk memanfaatkan penguasa gunung.
Itu sebabnya, aku melumuri tubuhku dengan lumpur untuk menolak bala.
Maafkan aku, Wak Di.
Aku tak bisa menjagamu.
Mas Panji tidak perlu minta maaf
karena ini bukan salahmu.
Yang penting sekarang, Mas Panji mau melanjutkan usaha
dan tidak menyerah untuk menjadi kuncen.
Waspada itu perlu, Mas.
Tapi teruslah berjuang dengan waspada.
- Demi kepentingan orang banyak. - Tapi ini terlalu cepat.
Aku merasa belum siap untuk menggantikan Wak Di.
Delapan tahun bukan waktu yang singkat.
Jangan sia-siakan waktu dan tenaga Wak Di dalam mendidik Mas.
Ya Tuhan, tempatkan Wak Di di tempat yang baik dan mulia di sisi-Mu.
Nanti, sebelum matahari terbenam, temui aku di kuburan tua.
Tolong bantu jaga aku.
Ya.
Semoga persoalan kita cepat selesai.
Ya.
Yang ini sepertinya tua sekali.
Santai, Jo. Nanti saat ritual, kau jangan mengemis minta pulang, ya.
Apa kau tahu sejarahnya minta uang disebut "ngemis"?
Dulu, pada masa Pakubuwono X,
dia sangat kaya dan dermawan.
Jadi, dia sering membagikan uang kepada rakyatnya.
Lalu, itu selalu dilakukan setiap hari Kamis.
Itu sebabnya, rakyatnya selalu bilang…
"Ayo, kita ngemis."
Jadi, berlanjut dipakai sampai sekarang kalau minta uang itu disebut ngemis.
Menarik.
Aku sudah tahu kau yang membuat Wak Di meninggal!
Oh.
Jadi, kau adalah penggantinya Wak Di?
Begitukah?
Mas Panji katanya mau datang sebelum matahari terbenam.
Ini sudah lewat, 'kan?
Aku yakin dia pasti berubah pikiran.
Seperti aku.
Jangan-jangan ada apa-apa sama dia.
Benar juga.
Teman-Teman!
Kalian ke mana?
Hanya Mas Panji harapan kita untuk menjadi kuncen.
Mas Panji!
Awindya, cepat potong talinya!
- Awindya, cepat! - Ya!
Mas! Bertahan, Mas!
Kenapa aku selalu di…
Ya Tuhan!
Mojo! Cepat cari pertolongan!
Mojo!
Cepat, Mojo, sekarang!
Awindya, cepat!
Awindya, potong!
Kita harus bagaimana lagi, Ga?
Harapan kita satu-satunya sudah meninggal.
Aku tak tahu lagi caranya menyelamatkan teman-teman kita yang di atas.
Aku menggantungkan nasib mereka kepada Mas Panji,
tapi sekarang jadi begini.
Aku sudah tak sanggup berpikir.
Aku benar-benar sudah tak sanggup untuk berpikir. Bantu aku, Ga!
Ya, halo, Dis?
Dis, tenang dulu. Aku tak bisa dengar.
Tidak, kau tenang dulu. Oke?
Apa?
Agnes… Terjadi sesuatu sama Agnes.
Kurang ajar!
Aku ingin bersihkan desa ini
dari orang-orang yang ingin melawanku.
Ya.
Biar kuambilkan tumbalnya dulu!
Diska!
Dia ketempelan. Dari tadi dia bicara bahasa yang tak kupahami.
Dari tadi dia juga menulis ini berulang-ulang.
Aku tak paham artinya apa.
Ini aksara Jawa.
Ada yang bisa baca?
Nes… Sadarlah, ini Awindya.
Teman sekolahmu, Nes.
Kau paham tadi dia bilang apa?
Awalnya isinya petuah hidup, lalu akhirnya seperti ada petunjuk.
Petunjuk dari siapa?
"Ketuk pintu kubur,
semedi dari tengah malam hingga matahari gunung.
Kunci gapura jatuh di pangkuan."
Disuruh semedi di kuburan pukul 00.00?
- Sepertinya lebih dari itu. - Aduh…
Soalnya disuruh semedi di dalam kubur.
Jangan-jangan ini jebakan dari penunggu gunung saja?
"Bisa membedakan makhluk halus yang ingin membantu dan mencelakakan."
- Perasaanku, ini mau menolong. - Sudahlah!
Aku tak mau mengikuti pemikiranmu lagi!
Aku mau pulang sekarang!
Malam ini akan ada serangan, dan aku tak mau menjadi korban!
Menurutku, Awindya benar! Rencana kita pulang ditunda dulu!
Sekarang terlalu berbahaya!
Teman-Teman!
Ada yang datang!
Kuncen itu tidak dipilih oleh kami,
tapi ditunjuk.
Jadi, sampai kuncen yang baru dipilih,
tidak ada yang boleh naik ke gunung.
Apa kau tahu arti namamu?
Teman-Teman!
Aku tahu kita harus apa!
Diska!
Aku janji kita akan pulang jika tak ada upaya yang jelas
untuk menyelamatkan teman-teman kita,
tapi kini aku punya solusinya.
Ayo, bantu aku!
- Kita mau ke mana? - Ikuti aku!
Ayo!
Ya. Daripada di sini.
Halo, Inda?
Bagaimana kabarmu?
Ayah…
Tabah, ya.
Apa yang ingin kau capai…
butuh perjuangan.
Kuatkan hatimu.
Semua persoalan ada jalan keluarnya.
Tapi ini berat sekali, Ayah.
Entah apa aku bisa melewatinya.
Yang ikhlas
dalam mengerjakan
dan tenang.
Ayah tak tahu apa yang sedang kau hadapi di sana.
Tapi ada satu hal yang selalu Ayah percaya.
Anak Ayah adalah gadis yang luar biasa. Instingmu kuat, Nak.
Lalu, kau selalu berjuang mendapatkan apa yang kau inginkan.
Terima kasih, Ayah.
Ayah tunggu kau pulang.
Ayah,
apa arti namaku?
Yoga.
Oke.
Tolong dengarkan aku.
Kalau aku sudah masuk, tolong tutup pakai tanah.
Gali lagi saat matahari terbit.
Kau gila! Jangan melakukan hal yang tak masuk akal!
Aku juga tidak setuju. Kau bisa mati karena tidak bernapas!
Ini yang kau bilang upaya jelas untuk menyelamatkan orang-orang?
Hei, kalian tak merasa bodoh mengikutinya?
Aku mengerti tulisan Agnes di tembok.
Jadi, aku sangat yakin semua itu ditujukan kepadaku.
Lagi pula, ini masih masuk akal.
Ini bukan ritual kuncen 40 hari dan 40 malam.
Ini hanya dilakukan dari malam sampai pagi.
Kau mau menjadi kuncen?
Tidak mungkin ujiannya merupakan sesuatu yang mudah.
Kumohon, Yoga. Diska.
Mojo.
Cepat tutup pakai tanah.
Tinggal sepuluh menit lagi.
- Ayo, Yoga. - Cepat
Ayo.
Ayo.
Sepuluh menit lagi, Teman-Teman. Cepat tutup tanahnya.
Baterai ponselmu masih ada?
Kalau ada apa-apa, segera kabari.
Yoga, cepat! Orang-orang pada datang!
Cepat!
Nyalakan obor di sana dan usir mereka pakai itu.
- Dis, cepat! - Oke!
Yoga! Diska diserang!
Mojo! Kau Diska sekarang!
Aku hanya punya sedikit waktu untuk menimbun. Cepat, Jo!
Yoga!
Yoga, sekopku diambil!
Diska!
Mojo!
- Mojo! - Diska!
- Mojo! - Dis!
- Diska! - Mojo! Tolong!
Mojo!
Mojo!
Diska!
Dua menit lagi!
Mojo! Yoga!
Ini. Beberapa kumasukkan ke kantong jaketmu, ya?
Agnes?
Nes?
Diska!
Hutan bambu!
Tempatnya kuntilanak.
Mojo! Diska!
Mojo!
Diska! Mojo!
Ayah.
Terima kasih atas semua ilmu yang Ayah berikan kepadaku.
Semua ilmu sangat berharga di dalam hidupku.
Devlin.
Aku tidak tahu bagaimana nasibmu sekarang.
Tapi aku berharap kau selamat dan semoga kau lihat video ini…
Awindya.
Awindya!
Awindya!
Awindya!
Awindya!
Awindya!
Awindya, sadarlah. Awindya!
Awindya. Hei.
Yoga!
Kau mau dikubur hidup-hidup, 'kan?
Biar aku bantu.
Lo? Kok kau ada di sini?
Katanya ada acara, makanya tidak bisa ikut?
Awindya.
Baca buku ini. Bagus.
Terima kasih, Ayah.
- Halo? - Hai, Awindya.
Yoga?
Hei. Lagi apa?
Dya…
Aku mau bicara. Singkat saja.
Aku sangat menyukaimu.
Jadi, aku mau kasih tahu
kalau aku akan mendekatimu secara resmi.
Tapi…
Oke, lalu…
Non.
Ada tamu yang mencari Non di luar.
Tapi aku sudah suruh menunggu di depan.
Yoga, aku lagi ada tamu.
Teleponnya nanti lagi, ya?
Oke, aku hanya mau bilang itu saja.
Supaya kau tidak salah paham dan ambigu.
Hari ini aku ulang tahun.
Kalau boleh, nanti malam aku jemput, ya?
Selamat ulang tahun, ya!
Bagikan lokasimu, ya. Sampai jumpa.
Yoga…
Selamat pagi.
Selamat, sejahtera, tenteram, damai, dan terhindar dari musibah.
Bersyukurlah kita bisa bertemu di sini.
Mohon maaf.
Perkenalkan, aku mewakili…
Paguyuban Pencinta Pusaka Satrio Pinayungan
akan melakukan Jamas 1 Sura.
Jika Bu Kuncen memperkenankan,
kami akan ke Gunung Merapi untuk melakukan upacara persembahan.
Mohon maaf.
♪ Ku terbang melayang ♪
♪ Tinggi di awan ♪
♪ Tinggalkan semua kebisingan ♪
♪ Terpesona gaunmu ♪
♪ Sibakkan rambutku Ku 'kan terus melayang ♪
♪ Ikuti burung Ku bermimpi ♪
♪ Ku terbang melayang Dan terjatuh di pelukannya ♪
♪ Ku terbang melayang ♪
♪ Tinggi di awan ♪
♪ Tinggalkan semua kebisingan ♪
♪ Terpesona gaunmu ♪
♪ Sibakkan rambutku Ku 'kan terus melayang ♪
♪ Ikuti burung Ku bermimpi ♪
♪ Ku terbang melayang Dan terjatuh di pelukannya ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.