All language subtitles for Saali Mohabbat 2025 Hindi 720p ZEE5 WEBRip AAC 5.1 ESubs x264 - LOKiHD

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Alih bahasa: @Nell.aja https://sociabuzz.com/nell_aja/donate

Kavita.

Chutney-mu emang paling enak.

Tunggu sebentar. Aku ambilkan piring buatmu.

Makasih, Kavita.

Kau baik banget.

- Itu kan perjalanan dinas. - Siapa mau gorengan panas?

Iya, deh. Jangan bohong sama kami.

Kita semua tahu apa yang terjadi dalam kedok perjalanan dinas.

Diam.

Mana Vicky?

Bukannya dia di kamar mandi lama ya?

Kamar mandi?

- Dia lagi memenuhi kebutuhan lain di suatu tempat. - Malini?

Kau kenapa sih?!

- Aku pesan satu sekarang. - Vicky.

- Jangan, jangan di sini. - Harusnya aku pesankan kamar hotel buat kita?

Harus gak?

Udah coba gorengannya?

Ini pakai air fryer.

- Siapa yang beli air fryer itu? - Kau lah, pastinya.

Masak pakai air fryer gak sehat.

Kenapa pada gak ada yang makan?

Kachori-mu lebih enak

daripada yang di Pasar Bengali.

Enak banget.

Iya, Dia, ini lezat sekali.

Ayo gabung sini, Malini.

Kau cantik banget.

Ayo duduk. Gabung sama kita.

- Dia kayak artis film. - Coba lihat, teman-teman.

Lihat kuku-kukunya.

Kayak artis film aja.

Tunggu aja sampai dia nikah.

Begitu dia mulai masak,

kuku yang sama itu akan rusak karena kunyit.

Gak mungkin!

- Dia gak bakal nikah sama sembarangan orang. - Bener juga.

Dia bakal dapatin yang kaya. Itu bener.

Suaminya bakal pekerjain dua pembantu cuma buat jaga kecantikannya.

- Iya. - Ayolah.

Dia gak perlu masuk dapur sama sekali.

Pasti. Kalau kau cantik,

hidupmu jadi kayak di Instagram.

Eh, serius.

Bangun pagi, unggah foto, dapet like.

Pakai lipstik baru, unggah foto, dapet like.

Like ini, like itu. Semuanya serba like.

- Aku setuju. - Iya, iya.

Udah, berhenti muji-muji aku.

Jumlah pengikutnya makin banyak tanpa usaha.

Coba Kachori-nya.

Apa kecantikan seorang wanita adalah aset terbesarnya?

Aku gak tahu.

Tapi Vicky udah di sini.

Dia bisa jawab itu buat kita. Vicky, bisa ke sini gak?

Bilang.

Pendapatmu diperlukan di diskusi ini.

Bisa bantu apa?

- Jadi, ada pertanyaan yang bisa kau bantu. - Deepu!

- Cepetan. - Ayo lah, bang.

Kau mau bikin kita tuli?

Bicara sama dia di luar. Di sini lagi ada pesta.

Tolong pergi.

Maaf, maaf. Cepetan. Kami tunggu lho. Cepetan.

Jadi, Vicky, cerita dong sesuatu.

Aku?

Apa memang perlu bagi wanita

untuk jadi cantik?

Gak ada salahnya kalau mereka gak cantik.

- Tapi kalau mereka cantik, ya lebih baik lagi. - Nah, itu dia!

Dulu, di Fursatgadh,

ada seorang wanita, Smita.

Akhirnya dia memutuskan untuk berbicara.

Fursatgadh itu apa sih?

Aduh kalian! Tolong lanjutin.

Biar dia bicara.

Lanjutkan.

Smita dulu tinggal di rumah ayahnya

bersama suaminya.

Dari kecil, dia selalu diberi tahu bahwa hal terpenting

bagi seorang gadis adalah menikah dan hidup mapan.

Dulu dia hidup di dunianya sendiri yang kecil

dengan mimpi-mimpinya yang sederhana.

Dia dibesarkan di tengah alam.

Mungkin karena itulah dia gak tahu seluk-beluk dunia.

Bagi dia, suaminya, rumahnya,

dan tanamannya adalah segalanya.

Dia sangat menyukai alam.

Tunggu. Minum air biji karmin dulu sebelum pergi.

Nanti dia sakit perut lagi.

Cepetan, Tante.

Biarkan inspektur duluan.

Dia gak bisa bersihkan kota kalau dirinya sendiri gak bersih dulu.

Pasti dong, petugas penegak hukum harus tetap bersih.

Kenapa sih gak mau pasang pompa air aja?

Angkat-angkat air bikin punggungku pegal.

Kau gak mau pasang. Kau gak izinkan aku pasangin juga.

Nanti kalau udah punya rumah sendiri,

baru kau bisa pasang apa aja yang kau mau.

Kau mau pasang pancuran di kamar mandi pun gak papa.

Begitulah cara semua orang di India bertahan hidup.

Tapi kau maunya terbang sebelum bisa jalan.

Dia polisi, tapi gak bisa angkat dua ember air.

Makanya aku jadi polisi.

Biar bisa bangun pagi-pagi setiap hari

cuma buat angkut air.

Kau telat lagi.

Dia gak mau lepasin aku tadi pagi, Bu.

Laki-laki cuma bisa buat beberapa hal.

Iyalah. Tapi tetap ajaโ€ฆ

Jangan cuma ngeluh.

Kau juga nikmatin, terus ngeluh lagi.

Aduh!

Tadi ada pasar tani.

Jadi aku bawa jamur ini buatmu.

- Tutup tas itu dan bawa ke luar. - Tapi...

Bawa ke luar sekarang juga. Dia alergi berat sama itu.

- Halo, sayang. - Halo, Tante.

- Lagi sibuk? - Gak, cuma lagi masak.

- Gimana kabarmu? - Baik. Gimana yang lain?

- Apa? - Gimana Pankaj? - Dia baik-baik aja.

Ada kabar bagus, Shalu dapet kerja.

- Serius? - Iya.

- Wah, keren. - Coba tebak di mana?

- Di mana? - Di Fursatgadh!

- Apa? - Iya!

Denger, bisa gak kau cariin dia tempat tinggal?

Aduh, Tante. Kau bilang apa sih?

Pasti dia bakal tinggal sama kami.

Udah! Lagi ngapain sih?

Udah dulu. Lagi ngapain kau?

- Ikut aku. - Aku harus anterin makan siang buat Ayahmu.

Kenapa?

Wi-Fi buatmu udah aku siapin.

Oke, sekarang. Cepat cari online,

cari resep dan bikinkan aku avocado toast.

Apa 'cado?

Avocado, Bu.

Itu buah.

Jadi, kau mau taruh buah di atas roti panggang?

Kalian cari istri aja buat urusan kayak ginian.

Aku gak bakal bisa belajar gaya modernmu.

Sekarang biarin aku anterin makan siang buat Ayahmu

sebelum dia mulai berteriak.

Lagi apa dia? Ada di mejanya?

Halo.

Mau coba?

Ini teh bunga telang.

Dibuat dari bunga telang.

Rasanya enak.

Gak usah, kau aja yang minum.

- Makasih. - Coba dong.

Warnanya mulai berubah. Nanti bakal jadi biru.

Ayo, coba.

Oke.

Kuberitahu ya.

Sekarang orang bikin teh dari apa aja.

Bahan-bahan paling aneh pun udah dicoba.

Kau bilang gitu karena belum jalan-jalan keliling dunia.

Ini dari Bangkok.

Pasti buat ngecilin perut juga ya?

Bekerja di bagian ini.

Pasti cukup manjur.

Jadi, kiriman barangnya udah sampe?

Montu!

Maaf.

Aku lupa.

Aku udah pastiin kirimanmu aman.

Kiriman Badri ketangkep, kan?

Iya.

Kau apain mayat-mayatnya?

Mayat gak bertahan selamanya.

Dari tanah, kembali ke tanah.

Beberapa mayat lagi kayak mereka

dan aku harus kasih makan Brahmana.

Aku juga Brahmana.

Ini, ambil.

Oke.

Ini cukup.

Dah.

Iya, Pak Montu.

Kau kan mau lencana polisi?

Bagus. Cocok sama kau.

Dah.

Makanya kata orang, daripada jadi polisi,

mending pekerjain aja polisinya.

Bangsat korup.

Kalau harganya pas,

bapaknya sendiri pun dia jual.

Halo.

Mari, silakan duduk.

Katanya lagi sial terus nih.

Tunjukkan berapa hutangnya sama kita.

Ayo, minum teh dulu.

2,755,000!

Waktunya bayar.

Aku bakal bayar.

Percaya deh. Aku bakal bayar.

Mau bayar pakai apa?

Rencanamu apa?

Santai aja.

Waktunya bayar sedikit.

Mau nunda-nunda sampai kapan?

Aku punya rumah di Moradabad.

Seperti yang kau tahu.

Rumahnya di Moradabad, sementara kita tinggal di sini.

Mau aku pindah ke Moradabad?

Montu, kau mau biryani spesial

dari Moradabad?

Mau dapet uang dari mana

kalau tempatnya gak dijual?

Biar aku permudah buatmu.

Jual aja tempatnya ke aku.

Montu suka banget punya properti.

Aku kasih harga bagus buat itu.

Pikirin dulu.

- Halo? - Iya, Pak.

Semua baik-baik aja di sana?

Iya, semuanya baik.

Bos udah nanya-nanya.

- Iya. - Udah setahun nih.

Selesaikan urusan tanah Moradabad itu.

Iya, aku udah urus.

Kau tau sendiri kalau

Bos gak suka ditungguin.

Cepetan!

Iya, pasti.

Denger.

Kita harus betulin kawat nyamuk di pintu itu.

Kenapa cuma kawat nyamuk?

Ayo perbaiki sekalian seluruh rumahnya!

Tapi apa makanan bakal seenak ini kalau

gak ada cat yang rontok

masuk ke makanan lewat retakan?

Kita mau nyimpan air di mana

kalau gak ada lubang di lantai kamar mandi?

Semuanya bakal kita perbaiki.

Terus siapa yang bayar perbaikannya?

Ayahmu tercinta?

Masa iya? Dia kan udah meninggal.

Kita hidup dari warisannya sampai sekarang.

Kita juga perlu nabung buat keadaan darurat.

Darurat apa lagi yang kau tunggu?

Udah aku bilang, jual aja tanah di Moradabad itu.

Tapi kau tetap aja gak mau.

Kau emang gak ngerti.

Kita bisa dapet 5-6 juta dengan mudah.

Uang dari Ayahku aja udah kau habisin semua.

Sekarang rumahnya juga mau kau jual?

Rumah itu satu-satunya peninggalan Ayahku yang tersisa.

Yaudah bikin aja museum buat dia di situ.

Kita jual tiket dan jalanin rumah kita pake uang itu.

Oke?

Pergi aja dari hadapanku.

Udah, jangan ganggu aku.

Pemimpin para bodoh

Apaan nih?

Shalu mau pindah ke sini.

Siapa?

Anak bibiku dari Bijnor.

Dia dapet kerja di sini.

Aku bilang ke bibiku, dia bisa tinggal sama kita.

Kenapa kita gak sekalian

pasang papan "Penginapan Smita" aja?

Ayo, datanglah semuanya.

Tanah itu gak dijual-jual, tapi pengeluaran kita makin nambah.

Kenapa kasih dia kamar ini?

Kasih aja kamar yang di lantai atas.

Udah pikirin buat jual rumah itu?

Kalian udah sampe?

Gak, aku gak bisa ikut.

Aku lagi di stasiun jemput adik iparku.

Oke, aku harus pergi dulu.

Kau di mana?

Aku di peron.

- Tunggu di sana, aku datang. - Makasih.

Iya.

Shalu!

Aku gak nyangka itu kamu.

Tapi aku langsung tahu itu kamu.

Kau masih tampan kayak pas hari pernikahanmu dulu.

Ah, masa sih.

Bu.

Kalau tunggu lebih lama, aku tambah tarif lho.

Pergi sana.

- Biar aku bawa. - Gak usah, gak apa-apa.

Maaf.

Gak apa-apa.

Adikmu udah dateng.

- Kak! - Golu!

Biar aku lihat kau baik-baik!

Golu, kau jadi kurus banget!

Mana ada! Di mana?!

Kau tau kan dulu pipinya tembem banget pas masih kecil.

Gede banget sampai keliatan dari belakang kepalanya.

Beneran?

Aku mana tau?

Ini baru pertama kali aku perhatiin dia.

Kau pasti capek.

Ayo, aku tunjukin kamarmu.

- Iya, ayo. - Ayo.

- Berat. - Gak apa-apa.

Kenapa suruh dia tinggal di atas?

Kasih aja kamar ini.

Lebih gampang buat dia.

Oke.

Kamarnya belum siap. Tapi santai aja, aku yang urus.

Gak papa, aku bisa atur sendiri.

Gimana perjalanannya?

Jangan tanya, Kak. Sekarang susah banget cari kerja.

- Beneran? - Iya.

Kau tau ada 20 orang yang melamar kerjaan ini?

- Apa? - Iya.

Tapi pas aku wawancara, aku langsung tahu

kalau kerjaan ini udah di tangan.

Pasti dong, kau kan adikku.

Nangka!

Kau ingat!

Pastilah.

- Ayo, ambil. - Enak.

Keren.

- Udah cukup. - Gak, kau harus makan.

Kau beneran jadi kurus.

Udah cukup.

Kamu juga makan.

Iya, aku juga ambil.

Dia dulu suka banget sama acar cabe.

Kau masih suka, kan?

Dari kecil emang suka.

Satu atau dua?

- Dua? - Dua aja.

Mantap.

- Aku masakin makanan favoritmu hari ini. - Enak banget.

- Ayo, mulai makan. - Ambil saladnya.

Aku ambil nanti. Kau aja yang mulai.

Gulab Jamun panas fresh.

Kau di sini aja, aku cuci tangan dulu.

Kau gak mau?

Gak, aku gak sanggup lagi.

Masa sih?

Ayolah.

Satu suap aja.

Segitu doang?

Ngapain juga badan segini bagusnya

kalau gak mau nikmatin hidup sedikit?

Makasih.

Kesempatan kayak gini jangan pernah disia-siakan.

Kau ingat kan kejadian itu?

- Yang mana? - Yang di danau?

Ya ampun!

Kau dan obsesimu sama baju pink itu!

Gak mau lepas-lepas padahal udah basah kuyup.

- Ambilkan aku segelas teh! - Oke!

Bajaj! Bajaj!

Mau pergi ke? Bisa berhentiin becak gak?

Kurang ajar!

Ada masalah apa, Nona? Kelihatan stress.

Udah lama aku coba panggil bajaj, tapi gak ada yang berhenti.

Iya, mungkin mereka takut.

Kau bukan tipe yang bisa ditangani sembarang orang.

Apa?

Aku belum pernah lihat kau di sini.

Aku baru pindah ke sini.

Oh, pantas.

Mau ke mana? Aku bisa anterin.

Kau gak ada urusan lain?

Ini bagian tugasku buat pastikan keindahan kota ini terjaga.

Makasih.

Ayo?

Aku Ratan.

Aku Shalini.

Shalini.

- Mundurin becakmu! - Mundur!

Antingnya bagus.

Kayaknya model vintage.

Sekarang susah cari kerajinan sebagus ini.

Makasih.

Jadi, kalian mau minggir atau mau kubantu?

Cepetan jalan sana.

Stop, stop, stop.

- Di sini? - Iya.

Oke. Makasih, Ratan.

Dah.

Nona Shalini.

Sebaiknya kau ambil nomorku atau kasih nomormu ke aku.

Aku siap bantu kalau kau terjebak lagi

di situasi serupa.

9137884

Tambahin +91 kalau nelpon dari luar India, oke?

Dah.

Emang gak ada yang bikin sambal tomat seenak ibumu, deh.

Kau tau kan dia warnain rambutnya hitam legam setiap Minggu.

Apa?

Aku gak tau itu bantu apa gak.

Lututnya lagi sakit-sakit.

Itu mah efek tua.

Dia udah mau 60 tahun.

60? Beneran?

Lihat tuh.

Dia belum maksa kau buat nikah?

Apa?

Kau gak mau dinikahkan?

Oalah. Kau punya pacar?

Pernah punya sih, waktu di Bijnor.

Terus gimana?

Dia balik ke istrinya.

Lupakan saja.

Aku di sini bareng kau sekarang.

Kau selalu disambut baik di sini.

Ayo, cabut satu.

Mana bisa. Tanganku bakal kotor.

Kuku-kuku aku baru dirawat.

Tanah bikin tanganmu kotor?

Tanah itu gak kotor, dasar bego.

- Wanginya segar banget. - Kan?

Luar panas nih. Ayo masuk.

- Oke, yuk. - Kok kau gak pake sunblock?

Ngapain halangi matahari? Matahari itu baik buat kita.

Iya. Makanya kulitmu keliatan kasar.

Coba raba kulitku, lembut kan?

Beneran deh, kau harus mulai pake sunblock.

- Itu tuh! - Hai!

Dildar Tikki.

Dia jualan patty bentuk hati.

Beneran?

Keren banget.

Aku ajak kau kesana buat cobain.

Ini nih tempat Kulfi terkenal se-dunia.

Iyakah?

Kulfi kalian gak bisa ngalahin yang di Bijnor.

- Serius? - Iya.

Mau taruhan gak?

Siapa takut!

Jadi, mau pesan apa?

Kopi.

Mau kopinya kayak gimana?

Kuat dan Panas!

Gimana penampilanku?

Bagus.

Ambil ini.

- Berapa harganya? - 2500.

Gak papa, ini kartuku.

Raju, bungkus ini.

Yuk beliin Smita sesuatu juga.

Yang ini gimana?

Yuk beli.

Bungkus sari itu juga.

Raju, bungkus sari-nya.

Halo!

Nona Shalini!

Gimana kabarmu?

Kau gak telepon sejak dua hari lalu.

Aku hampir lapor orang hilang.

Gadisku hilang.

Gimana, kabarmu baik?

Aku baik. Kau gimana?

Aku baik-baik aja, kayaknya.

Aku kangen kau.

Denger.

Kau kan bilang suka Poori Sabji.

Ibuku mau buat itu hari Minggu.

Dia juga mau ketemu kau.

Oke, oke.

Denger, aku lagi sibuk nih.

- Bisa aku telepon balik nanti? - Baiklah.

Dadah.

Halo?

Gak nonton pertandingan hari ini, Pak Pandit?

Gak mood hari ini.

Hai!

Butuh bantuan gak?

Shalu!

Datang!

Adikmu tuh...

Ada yang aneh sama dia.

Dasar kau bodoh banget.

Kau gak liat ya?

Gimana penampilanku pake lipstik merah.

Kalau kalian mau bibir secekat aku,

aku kasih dua tips.

- Halo! - Iya, Bu.

- Masih belum tidur? - Aku baru mau tidur.

- Di sana baik-baik aja? - Iya.

- Smita jagain kau baik-baik kan? - Iya, dia baik banget.

Suaminya juga baik.

Cari seseorang yang sepantaran dan berkeluarga.

Bikin keluarga!

Berhenti nyerocos hal yang sama.

Atur nada bicaramu!

Jadi kalau aku gak ketemu seseorang,

apa aku gak berhak menjalani hidup?

Kau rencananya mau jomblo selamanya apa gimana?

- Aku cuma perhatian sama kau. - Bu, oke, dadah, selamat malam.

- Aku ada kerja besok. - Jangan, Shalu, denger.

- Selamat malam. - Shalu, masih di sana?

Mau sesuatu?

Gak, cuma butuh air.

Kantor Shalu jauh dari sini.

Poonam bilang Anil punya kamar kosong.

Lokasinya dekat kantor Shalu.

Kita harus pindahkan dia kesana.

Kenapa?

Bukannya nanti bibi tersinggung?

Ini buat kebaikan Shalu sendiri.

Lakukan apa yang kau mau.

Lagipula dia kan adikmu.

Biar aku liat.

Sempurna.

Aku tadi ke pasar.

Begitu aku liat ini,

langsung tahu bakal cocok banget di kulitmu.

Jadi kubeli.

Cocok banget kan?

Aku udah punya warna yang sama.

Aku gak nyangka mereka punya

pilihan selebar ini di Fursatgadh.

Iya, Pak.

Aku mau beli sepatu baru.

- Mau ikut gak? - Iya, aku ikut.

Gajendra kasih penawaran ke Pankaj

sampe bikin ngiler.

Gajendra bilang dia bakal bayar harga bagus

untuk rumah mereka di Moradabad

dan hapus hutangnya juga.

Kalau dulu, Smita pasti setuju.

Gak.

Keras kepala banget sih!

Kalau dia emang mau kau jual,

kenapa gak kau jual aja?

Ayahmu yang jaga area ini.

Kalau gak, pasti udah diambil alih

sama proyek pembangunan besar juga.

Ayahmu mempercayakan aku

tanggung jawab atas tempat ini

serta menjaga kau.

Kau ini pintar.

Karena kau peduli sama tanaman.

Tanaman tetap berakar di tempatnya.

Sementara tindakan manusia selalu dipertanyakan.

Manusia udah mengeksploitasi dan mengonsumsi tanaman

selama berapa banyak generasi.

Tapi, tanaman

gak pernah minta apa- apa sebagai balasannya.

Tanaman punya kesabaran yang melimpah.

Mereka tahu bahwa segalanya

pada akhirnya akan jadi nutrisi mereka.

Informasi yang akan kubagi ke kau

butuh kesabaran

dan pengertianmu.

Orang terdekatmu justru berpotensi

mengancam kesejahteraanmu.

Aku menyarankan kau untuk waspada dan siaga besok sore.

Tanaman terkecil pun bisa menembus batu

untuk bikin ruang bagi dirinya sendiri jika perlu.

Setiap orang punya hak

untuk melindungi dirinya sendiri.

Karena hukum alam

adalah makan atau dimakan.

Denger.

Aku mau ke Bareilly.

Pulangnya bakal malem.

Anak buah Mathur bakal dateng jam 6:30 sore

bawa sejumlah uang.

Pastikan kau di rumah buat nerimanya.

Kau gak bakal lupa kan?

Jam 6:30 sore.

- Aku telat banget! - Sarapan?

- Gak, aku buru-buru. - Tunggu, tunggu, tunggu.

Ada apa?

Aku bikin gulai nangka buat kau.

Makasih.

Sayang kamu. Dadah.

- Pastikan dimakan ya? - Iya.

Lapar banget aku!

Jangan, jangan ambil itu. Ambil gulai kol aja.

Hasil Meenu udah keluar belum?

Udah, dia lulus ujian.

Dia yang pertama di keluarga selesai SMA.

Ini, beliin dia sesuatu atas nama aku.

Oke, Bu.

Ambil juga manisan dari kulkas.

Oke, Bu.

Kenapa nih?

Kenapa nih?

Aku gak tahu. Perutku lagi gak beres aja.

Sejak pagi udah bolak-balik ke kamar mandi tiga kali.

Tunggu, aku ambilin pisang sama yogurt.

Itu bakal bikin kau baikan.

Seseorang keliatan cantik banget nih.

- Beneran? - Iya, cakep banget.

Ini sari yang kau beliin buat aku.

Mau kemana?

Kan ulang tahun Poonam.

- Mau ikut gak? - Gak, aku gak bisa.

Aku udah bikin dal-nya. Tinggal motong-motong sayurnya aja.

Aku aja yang motong.

- Yakin? - Iya.

Oke kalau gitu. Nanti aku pulang lanjutin masaknya.

Oke.

Denger.

Pankaj nunggu seseorang

bawa sejumlah uang jam 6:30 sore.

Kau bakal di rumah kan?

Mau kemana lagi coba?

Pergi aja dan bersenang-senang.

Pastikan kau di sini buat nerima uang itu.

Pergi aja sana.

Gak sabaran banget sih.

- Oke, aku pergi dulu. - Oke.

Dadah.

Dadah.

- Iya? - Lagi dimana?

Di rumah.

Oke.

Nenekku meninggal ngeluh hal yang sama.

Adik laki-laki Bapakku,

anak perempuan pamanku, Pinky

baru aja nikah.

Mereka cetak undangan pernikahan

dan tiap undangan harganya 8 rebu.

Buka kartunya langsung keluar boneka perak.

- Beneran? - Nah itu baru namanya?

Mereka punya rumah peristirahatan 15 hektar.

- 15 hektar! - Mereka punya dua anjing penjaga galak.

Anjing-anjing itu juga tinggal di ruangan ber-AC.

- Masa sih. - Pernah denger anjing

tinggal di ruangan ber-AC?

Sementara aku di sini, cuma bisa nyambung hidup.

Gak ada kemewahan dalam hidupku.

Tapi aku tetep merasa bangga.

Entah kenapa sih.

Aku kayak anjing goyang- goyangin ekor buat Gajju

cuma buat tiga rebu aja.

Dia udah bikin aku jadi pelayan pribadinya.

Buru-buru amat sih?

Santai aja.

Ini kan kerjaan pemerintah. Bakal bisa menghidupimu bertahun-tahun.

Intinya punya duit

selagi aku masih cukup muda buat menikmatinya.

Gunanya sisir buat orang botak apa?

Itu kayak mau punya anak

dalam 2 bulan, bukan 9 bulan.

Aku gak peduli caranya gimana.

Kalau itu bayi, ya aku mau sekarang.

Aku mau perempuan cantik sama bayi.

Kau harus bantu aku dapetin itu.

Sebaiknya ada yang mati

- Mereka gak bakal biarin orang minum dengan tenang. - Ini kantor SP.

Halo?

Gak apa-apa, tenang.

Ini, minum air dulu.

Dia cantik, tapi apa gunanya sekarang?

Bawa dia pergi.

Ajju, siapkan pernyataannya

dan catat semuanya.

Aku mau cek ke dalam.

Menurutmu gimana?

Pembobolan, pembunuhan, dan perampokan.

Panggil dia.

Petugas mau bicara sama kamu.

Ada apa lagi ini?

Silakan duduk.

Kasih itu ke aku.

Dia bisa baca gak?

Kau harus tanda tangan di sini, sini, dan sini.

Kasih aku pulpen.

Ini laporan kejadiannya

sama pernyataanmu.

Kau harus perbaiki kawat nyamuk pintunya.

Telepon aku kalau butuh apa-apa.

- Ajju? - Iya, Pak?

- Suruh dua orang jagain rumahnya. - Baik, Pak.

- Sudah selesai? - Iya, hampir.

Urus sampai selesai.

Ayo pergi.

Iya, ayo pergi.

Kau kenal dia?

Pengen kenal.

Kau rasa kau bisa tangani ini?

Iya.

- Mau keluar? - Iya, sebaiknya aku pergi.

Kapan kau mau sampai sana?

Begitu aku selesaiin ini.

Aku gak bakal pergi kalau bukan karena pernikahan adikku.

Ini.

Sampai di sana tepat waktu ya?

Kau tahu kan adikku kayak gimana.

Oke.

Sampai di sana secepat mungkin ya?

- Oke, siapa yang tangani di sini? - Inspektur?

Ada yang bisa dibantu, Pak?

Halo.

Pankaj Tiwari biasa ke sini main kartu kan?

Aku mau liat catatannya.

Kami gak bagi rincian catatan siapa-siapa.

Pak.

Ajju, pegang ini.

Halo.

Gimana kabarmu?

Kau lagi kerja keras akhir-akhir ini.

Montu!

Kelihatan bagus.

Pasti kau udah denger soal kasus pembunuhan di Geeta Colony itu.

Pankaj Tiwari, Shalini Saxena.

Kau ke sini buat nanya-nanya aku atau ngasih info ke aku?

Aku cuma mau nyampein kekhawatiranku.

Ini kan kasus pembunuhan ganda.

Markas terus-terusan ngejar-ngejar aku soal ini.

Pankaj juga punya utang sama kau kan?

2,755,000?

Kalau penyelidikan dilakukan,

aku khawatir ada yang nunjuk ke arahmu.

Jari siapa yang bakal nunjuk?

Jarimu?

Jalan bareng aku.

Ayo.

Bilang ke ibumu, aku bakal telat makan malam.

Ini mesin cappuccino baruku.

Impor langsung dari St. Lucia.

Mau berapa sendok gula?

Tiga sendok.

Aku gak khawatir soal duit yang Pankaj utang ke aku.

Istrinya punya rumah di Moradabad.

Aku bilang ke dia, jual aja ke aku kalau gak bisa bayar utangnya.

Kau gak gendut, bagus.

Itu masalah India, tuh.

Pankaj dateng ke aku.

Dia bilang istrinya gak mau jual rumahnya.

Dia terlalu sentimental soal itu.

Itu cuma satu-satunya yang tersisa dari Ayahnya.

Waktu suaminya suruh aku singkirin dia, siapa aku buat nolak?

Aku bilang bakal urusin dia.

Kelihatannya bagus buat contoh.

Tapi ironisnya, yang mati malah adiknya.

- Terus gimana? - Terus apa?

Ini bukan acara TV kriminal yang semua jawaban ada di sini.

Aku udah pusing mikirin gimana caranya aku bakal dapet duitku kembali.

Tunggu sebentar.

Aku paham apa yang terjadi sama adiknya.

Tapi terus siapa yang bunuh Pankaj?

Mana aku tahu siapa yang bunuh Pankaj?

Aku bakal kasih tahu kalau aku tahu.

Kau kan polisi?

Coba sekali-sekali kerja dan cari tahu siapa yang bunuh Pankaj.

Aku baru tahu kapan dan gimana aku bakal dapet duitku kembali.

Denger.

Kenapa kau gak atur sesuatu

dan dapetin dokumen untuk tempat di Moradabad itu buat aku?

Aku?

Aku bakal kasih kau yang aku janjiin ke Pankaj.

2,755,000?

Ngapain aku kasih kau jumlah yang sama kayak orang random?

Kau spesial.

Tiga juta.

Tiga juta satu rupiah. Satu buat hoki.

Kau gak bisa hidup cuma dari tiga rebu selamanya kan?

Tentu.

Bagaikan kucing, aku berburu dengan sembunyi.

Akal licikmu cuma bawa kau ke penjara, bukan kekayaan.

Gak ada yang berpihak padamu, sekeras apapun kau berusaha.

Sikapmu menjanjikan masalah dan perangkapku sudah siap hari ini.

Kau sasaranku dengan wajah putih dan hati hitam di tangan.

Aku majikanmu, kau muridku, apa kau paham?

Kambing hitamnya sudah terbantai.

Tindakannya tinggalkan pertanyaan tanpa jawaban.

Kami mau bangun rumah sakit di sini

dan sekolah di sebelah sana.

Pura di sebelah sini.

Kami bakal namain tempat ini Kompleks Naya Daur Samriddhi.

Bagus.

Kau punya dokumen-dokumennya?

Ada masalah kecil soal tembok pembatas.

Bukan masalah besar kok. Kami bakal selesaikan segera.

Oke. Nanti aku balik sama istriku.

Kau terjebak dalam jerat ini dan gak ada jalan keluar.

Ada yang mencurigakan dan misterius untuk dilihat.

- Ada apa? - Coba lihat ini, Pak.

Pankaj dan Shalini.

Kegelapan merata di mana-mana.

Kau terjebak dalam jerat ini dan gak ada jalan keluar.

Halo, Pak.

Kasus Geeta Colony itu udah mentok.

Iya, Pak.

Aku gak punya petunjuk.

Iya, Pak.

Sebaiknya Bapak kasih tahu ke markas, Pak.

Aku antar Bapak ke atas.

Halo.

Jadi, udah ketemu sesuatu?

Kami lagi mengusahakannya.

Kami masih selidiki.

Apa waktu itu ada pesta di rumahmu?

Iya. Dan Smita berhasil selamat. Syukurlah.

Iya, betul.

Semoga Tuhan bantu jiwa Pankaj dan Shalini tenang.

Apa kau punya foto atau video dari malam pesta itu?

Iya, orang dari Jhatphat Photos bakal kirim segera.

Oke.

Bisa kau WhatsApp ke aku segera setelah dapet dari orang Jhatphat itu.

Siap.

Gimana kondisimu?

Kasusnya ditugaskan ke aku.

Ini kan pembunuhan ganda, tau kan.

Bu Smita.

Aku tahu ini bukan waktu yang tepat,

tapi ada masalah kecil.

Dari yang aku tahu,

suamimu punya utang 2,755,000 ke seseorang.

Mungkin juga masih punya utang ke orang lain.

Itu berat buat kau tangani sendirian.

Ada urusan dokumen, kunjungan pengadilan dan sebagainya.

Jadi aku mikir...

Ayahmu punya properti di Moradabad kan?

Sebaiknya kau jual aja.

Mau diapain semua uang itu sekarang kau sendirian?

Bukan, maksudku bukan kayak gitu.

Maaf, tadi salah ngomong.

Bu Smita, aku cuma khawatir sama satu hal.

Kau sendirian sekarang.

Begitu orang-orang kayak yang di Grup Daur tahu soal ini,

mereka bakal coba rebut properti

itu kayak burung nasar.

Terus, dengan properti,

harganya lebih bagus kalau udah ada pembeli yang siap.

Kalau tiba-tiba butuh jual,

mereka bakal kasih harga murah.

Waktu Pak Daur minta aku cari seseorang

yang bisa jadi perantara untuk properti ini,

aku bilang bakal bicara langsung sama kau.

Aku gak mau jual.

Gak apa-apa. Tentu saja.

Itu keputusanmu dan aku hormati itu.

Tapi kalau suatu saat kau mau jual,

kami bisa urus semuanya dari rumah.

Aku bakal datang sendiri.

Kau cuma perlu bulatkan tekadmu.

Nanti kau bisa fokus ke perkebunanmu dengan tenang.

Tehmu udah mulai dingin.

Tentu.

Pokoknya, aku cuma mau bilang

lebih aman simpan uangnya di bank.

Lupakan apa yang terjadi di belakangmu,

orang-orang gak sadar sama apa yang terjadi tepat di depan mata mereka.

Kau gak tahu suamimu dan sepupumu

sedang berselingkuh.

Oke kalau gitu.

Oke, telepon aku kalau butuh apa-apa.

Nomorku. Kasih ke aku.

Aku tulisin buat kau.

Aku tulis di belakangnya.

Kapanpun kau butuh apa-apa.

Selamat tinggal.

Begonia punya akar yang sangat kuat.

Kau bisa benar-benar cabut dia dari mana aja

dan tanam lagi di tanah.

Tapi waktu tanaman udah terlalu besar buat pot lamanya,

seringnya perlu pecahin potnya

demi kesehatan tanamannya.

Tapi di mana pun kau berakhir,

kau selalu menuai

apa yang kau tanam, kan?

Kau gak perlu khawatir kalau akarmu kuat.

Jangan lupa

tanaman selalu jagain kita,

dan lindungin kita dalam naungannya.

Vatsanabha!

Dia cuma kasih aku sesuap gulai nangka buat dicobain.

Sekitar jam 2 atau 3,

dia bilang gak enak badan dan mau pulang.

Kami lembur hari Kamis karena ada audit.

Dia keliatannya gak sehat.

Ada apa kedatangan Bapak hari ini?

Aku cari beberapa catatan panggilan.

Tapi aku belum terima email apapun dari kantor polisi Bapak.

Akhirnya aku sukses juga nih.

Ada apa sih?

Kau bakal kaget banget denger jumlahnya.

Deepu!

Mau nelpon seharian aja?

- Cepetan. - Ini Ratan. Aku datang, Dik.

Denger ya.

Jangan lakuin hal nekat.

Tunggu aku balik dulu dan cari tahu apa yang terjadi.

Itu masalahnya. Kau gak percaya sama aku aja.

Percayalah, aku udah mikirin ini matang-matang.

Tapi apa yang sebenernya mau kau lakuin?

Kau tahu sendiri lah. Aku gak mau bikin sial.

Aku kasih tahu kalau udah semuanya siap.

Oke deh.

Jadi kapan kau sampai sini? Kau ketinggalan semua keseruannya.

Perayaannya lagi meriah-meriahnya.

Aku berangkat segera setelah selesai di sini.

Ada cewek-cewek cantik

di pernikahannya gak?

Cepetan.

Deepu!

Udahan sana.

- Cepetan sini. - Aku datang.

Cepetan sampai sini. Nanti kita sambung lagi.

Sini, Pak.

- Dia dulu dosen di Universitas Delhi. - Halo.

Halo.

Dia dulu ngajar Botani.

Dia lagi cari rumah baru di sekitar sini.

Dia juga suka tanaman.

- Beneran? - Iya.

Ayo, aku antar kau keliling.

- Ayo, Pak. - Oke.

Setelah bertahun-tahun kerja jadi polisi,

aku kira udah lihat segalanya.

Tapi ini pertama kalinya

aku nemu penipu kayak kau.

Biar aku ceritain satu kisah.

Hari itu, agar rencanamu berhasil,

kau harus pastikan Pankaj dan Shalu

gak bisa komunikasi sama sekali.

Makanya kau blokir nomor mereka

di ponsel masing-masing.

Shalu.

Ponselku hang.

Boleh pinjam ponselmu?

Buka dulu.

Password-nya 1234.

Ini laporan postmortem Shalini Saxena.

Coba lihat.

Kau masukin apa di gulai nangka itu?

Pokoknya, apapun yang kau masukin,

kau udah rencanain sedemikian rupa supaya

Shalu pulang lebih awal.

Aku bikin gulai nangka buat kau.

Makasih. Sayang kau, Dik.

Dadah.

- Pastikan dimakan ya? - Iya, pasti.

Kenapa nih?

Hari ini, aku punya solusi sempurna buat kalian.

Krim vitamin C baru ini gak cuma cerahin kulit.

Tapi juga kasih nutrisi.

Bisa kalian bayangkan?

Ambil sedikit di jari kalian kayak gini.

Olesin dengan sangat-sangat lembut di kulit kalian.

Kalian bisa pake sebagai krim atau serum.

Buat yang kulitnya sensitif,

produk ini mungkin bikin

sedikit perih di awal.

Tapi, ayolah... Kecantikan butuh pengorbanan.

Tolong like, share, dan subscribe.

Suamimu tercinta,

si penjudi besar Pankaj Tiwari

kena serangan jantung sebelum

dia meninggal.

Menurut laporan forensik,

ada jarak sekitar sejam

antara kematian adikmu

dan suamimu.

Artinya suamimu masuk ke TKP

setelah beberapa waktu.

Bittu, bukannya besok ada sekolah?

Kepala sekolahnya meninggal.

Kita libur tiga hari.

Bagus!

Kok pintunya terbuka?

Hidup kalian bakal berubah total

kalau ikutin rutinitas ini.

- Aku jamin. Coba sekarang juga. - Shalu.

Shalu!

- Shalu! - Jadi, kalau kalian suka video kami,

jangan lupa like, share, dan subscribe.

Luar biasa.

Maksudku, gak ada yang nyadar...

waktu kau ninggalin pesta

dan balik lagi.

Untuk yang itu aku kasih poin.

Tapi...

Aku punya fotonya.

Mau lihat?

Ini, lihat.

Foto sari yang ditukar, lihat?

Kau liat perbedaan di pinggirannya?

Oke, aku paham.

Mungkin ada yang bilang, "Yang Mulia.

Foto-foto ini bukan bukti yang jelas,

gimana kita bisa terima?"

Tapi ponselmu,

yang kau bawa,

sinyalnya ada

Di menara air dekat

rumah Poonam Gupta.

Terus, waktu kau balik ke rumah,

dia nge-ping menara

dekat perlintasan kereta.

Apa ponselmu jalan sendiri pulang ke rumah?

Kau bakal ditahan berdasarkan pasal 302.

Kau bakal punya banyak waktu

buat berkebun di penjara.

Kau suka kan itu?

Biar aku kasih tahu satu hal lagi.

Wanita yang bunuh suaminya dan adiknya,

dapet perlakuan khusus di penjara.

Luar biasa.

Denger.

Bu Smita, jujur aja...

Aku pribadi tipe orang yang gak suka menghakimi.

Aku gak begitu peduli soal segitiga cinta

yang terjadi antara kau,

suamimu, dan Shalu.

Aku langsung aja ke intinya.

Rumahmu di Moradabad itu,

alihkan kepemilikannya ke aku.

Kau tahu namaku kan?

Ratan Pandit.

Nama Bapak, bukti alamat,

Aadhaar, kartu PAN.

Detail lainnya.

Aku bakal WhatsApp ke kau.

Satu hal lagi.

Kalau kau coba-coba pinter,

kau bakal langsung masuk penjara.

Kau punya waktu empat hari.

Ratan itu orang yang pintar.

Smita juga gak bodoh.

Jadi, apa dia serahin rumah itu ke dia?

Seharusnya dia lapor ke atasan Ratan.

Tapi dia gak bisa.

Mungkin dia ketakutan setengah mati.

Tapi kalau dia kasih dokumen itu ke Ratan,

dia juga bakal bunuh dia.

Dia benar-benar terjepit.

Smita mulai siapin semua dokumen propertinya.

Dia gak punya pilihan lain.

Dia terjebak di antara

batu dan tempat yang keras.

Jagain ibumu ya?

Kau kan udah lewat ke arah sana.

Sekalian aja ketemu bibimu juga.

Bu, Chandan udah nelpon aku sepuluh kali.

Ini kan pernikahan adiknya.

Dadah, Pak Pandit.

Gimana kalau kau bikin sesuatu yang beda buat selingan?

Kenapa selalu kentang melulu sama kau?

Lupakan itu. Denger.

Kau mau ke pernikahan kan?

Jadi cariin istri artis film di sana.

Aku yang bakal dapetin Artis Filmnya.

Mau tinggal di mana dia?

Di sini. Sama dia?

Dadah. Sampai ketemu lagi.

Dia gak punya uang.

Tapi gaya masih banyak.

Salut sama kau, Ratan.

Aku gak bisa menilai nilaimu.

Nilai itu sesuatu yang labil.

Kau gak bisa hargai aku dulu,

tapi sekarang bisa.

Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali.

Oke. Sebut harganya.

Aku udah kasih kau tiga juta satu rupiah, jadi...

Bilang mau mobil apa, aku kasih.

Aku kasih yang mana aja yang kau mau.

Aku udah ke Moradabad.

Aku mau 40 juta.

Kau mau jual bangunannya ke orang lain bukan ke Grup Daur?

Mana bisa aku jual apapun?

Malah orang-orang Lucknow dan Moradabad ini

yang ngerendahin kita.

Menurut kalkulasiku,

Grup Daur bayar kau 60-80 juta

untuk kesepakatan ini.

Kau harus minta lebih.

Denger, izin properti itu

tergantung dari rumah ini.

Denger, Ratan.

Ayam-ayam yang bertelur emas ini.

Dengan segala hormat,

aku gak pernah suka ceramah ilmu moral kayak gini.

Ayam, telur, semuanya itu.

Aku ada kesempatan bikin duit hari ini.

Jadi biarin aja aku.

Kalau gak, gak bakal ada telur

dan ayamnya juga bakal pergi.

Kau gak kasih tahu siapa yang bunuh Pankaj.

Pankaj lagi selingkuh

sama adik iparnya, Shalu.

Istrinya liat kesempatan dan langsung ambil.

Pankaj suka bilang dia itu tipe ibu rumah tangga.

Memang dia lakuin itu di rumah

Feminisme memang lagi naik daun akhir-akhir ini.

Di sini.

Silakan minum teh.

Beneran nih?

Kau anggap aku bodoh ya?

Kayak si bodoh Shalu itu?

Kau kira bisa racunin teh

dan bunuh aku semudah itu?

Kasih aja dokumennya.

Ada di sebelah sana.

Denger, biar aku tanya satu hal.

Sebenernya dua hal.

Suamimu Pankaj

itu tinggi dan berbadan besar.

Gimana caranya kau bunuh dia?

Gimana kau bisa mengalahkan orang kayak dia?

Kedua,

gimana kau bisa tahu kalo Pankaj sama Gajju

rencananya mau bunuh kau?

Kasih tahu aku.

Dua hal ini dan aku bakal paham kasus ini

di kepalaku.

6.4 juta tunai.

Profesornya suka banget sama rumahnya.

Aku udah hitung, tapi kau sebaiknya hitung juga.

Halo, Smita.

Hai.

Sebenernya aku udah lama mau nanya sesuatu ke kau.

Tanaman kembang kolku selalu aja diserang hama.

Aku harus gimana ya?

Kau harus tumbuk dan sebar siung bawang putih di tanahnya.

Itu bakal mempan.

Oke, ngerti.

Aku harus bilang kau emang jagonya soal tanaman.

Sampai ketemu lagi, dadah.

Dadah.

Kalau cuaca berubah jadi buruk, angin bakal nemuin kita lagi.

Kita pasti bakal ketemu lagi.

Dadah.

Dia gak cantik, jadi dia cuma membaur aja di kerumunan.

Tapi gimana caranya Smita bunuh Pankaj?

Tapi bukannya kejadian ini semua terjadi di Chhapraula?

Kenapa kau terus manggil itu Fursatgadh?

Tapi di mana sih tempat Fursatgadh ini?

Aku harus cek soal itu.

Itu gak mungkin.

Dia bunuh seorang polisi terus hilang begitu aja?

Betul banget!

Mereka pasti bakal lacak dia.

Ayo, Kavita.

Tunggu sebentar.

Kakak iparku sebentar lagi dateng nih.

Kalian ketemu dulu sama dia sebelum pergi.

- Mungkin lain kali aja. - Kapan-kapan aja lah.

- Dadah. - Dadah.

Tapi gimana dengan properti Ayahnya Smita?

- Aku gak tahu. - Iya. Deepu?

- Sampai jumpa. - Lagi di mana?

Dadah. Dadah.

- Oke. - Dadah, makasih.

- Dadah. - Jadi, minggu depan?

- Selesai? - Selesai.

Baiklah. Oke, dadah.

Dia.

Kalian mau pergi?

Iya, kami mau pergi.

- Aku ambil mobil dulu. - Bawa kotakmu sebelum pergi.

Dadah! Chhotu, kotak itu.

Mas, tadi hujan deres banget. Jalannya gak keliatan.

Terus, macetnya juga parah.

Lalu lintasnya jalan kayak siput.

Aku hampir sampai.

Ayolah sekarang.

Gak, aku udah di sini.

Gak apa-apa.

Makasih ya. Bagiin resep Kachori-nya ke aku dong.

- Oke. - Oke.

- Dadah. - Dadah.

Yang 6.4 juta itu.

Tehmu udah mulai dingin.

Ada yang cari kau di pintu.

Arah angin lagi berubah

aku pikir baiknya aku dateng menjenguk.

Pak Pandit!

Jangan khawatir. Kau bakal sampai juga pada akhirnya.

Mas! Tunggu sebentar, aku telepon balik ya.

Aku harus pergi.

Hati-hati.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.