All language subtitles for Ayneh 1997

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

The Mirror

Sebuah tembakan yang luar biasa yang dilayangkan oleh pemain Korea Selatan ini.

Haruskah aku meminta ibuku untuk meneleponmu?

Entahlah. Mungkin saja diiyakan.

Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa!

Aku akan tetap bertanya padanya juga.

Ny. Sadeghi!

Ny. Sadeghi!

Kau masih di sini?

Ibuku belum datang.

Kenapa?

Apa dia biasa datang untuk menjemputmu?

Ya.

Kau sudah kelas berapa? Kelas 1.

Di kelas Bu Malehi? Bukan, di kelas Bu Hashemi.

Di ruangan kelas 2 di lantai 2, lihat?

Tunggu saja di sini.

Ibumu akan tiba datang lagi.

Lalu bagaimana jika ibuku tidak datang?

Ibumu akan datang.

Aku pergi berbelanja dulu. Sampai jumpa.

Jam berapa sekarang, Pak?

Jam tanganku tidak berfungsi.

Terima kasih.

Pemain Korea Selatan itu menembak

dari sudut kanan dan sekali lagi...

Wasit memberikan kartu kuning kepada pemain Korea Selatan itu

atas pelanggarannya terhadap Ali Dai, pemain Iran.

Pastikan kau menggunakan kupon makanan itu sebelum kedaluwarsa.

Cepatkan saja, Nak. Aku sedang terburu-buru.

Korea Selatan telah bermain ketat

sejak awal pertandingan.

Bawa bit panasmu kesini!

Bit langsung dari oven!

Bawa bit panasmu kesini!

Bawa bit panasmu kesini!

Bawa bit panasmu kesini!

Kau berjanji untuk membawanya datang pada saat itu?

Oke. Kau bisa mengandalkannya.

Terima kasih banyak.

Ny. Sadeghi!

Kau belum pulang?

Kau lihat ibuku?

Ada masalah apa?

Ibunya terlambat.

Aku punya jaket untuk putraku.

Apa maksudmu?

Kami tidak pernah datang dengan pakaian pinjaman.

Pinjaman! Semuanya pinjaman.

Bahkan gelarku sendiri pinjaman.

Lagipula, aku bukan Jenderal sungguhan.

Lihat jaket ini. Potongannya bagus.

Aku membeli bahannya di toko pusat dan menjahitnya lagi.

Dia tidak akan pernah paham akan hal ini.

Tapi kau satu-satunya kerabat kami di sini.

Dia putriku satu-satunya.

Jadi aku ingin kau hadir di pernikahannya...

Dengan pakaian yang tepat.

Kau mau kita berpakaian dengan tepat, kan?

Kita sudah.

Pakaian kita sendiri lebih cocok untuk kita sendiri.

Lagipula, anakku yang akan memutuskannnya juga.

Apa yang harus aku lakukan, Ny. Sadeghi?

Kau tinggal di mana?

Lewa jalan sana.

Tunggu disini untuk sementara waktu.

Ny. Sadeghi yang terhormat!

Jangan khawatir tentang gadis kecil ini.

Aku akan menjaganya.

Apa yang bisa kulakukan?

Dia tidak bisa terus-terusan di jalanan.

Aku yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya.

Pikirkan apa yang kukatakan.

Dan silakan datang.

Aku dipanggil Jenderal bukan tanpa alasan!

Aku bilang aku akan membawa gadis ini pulang.

Anggap saja sudah selesai!

Ke mana arahmu pulang, gadis kecil?

Bagaimana kau pulang?

Kita ke sana, lalu sampai di halte bus

dan kita naik salah satu dari bus besar itu.

Bus yang besar, kau tahu?

Aku akan mengantarmu

dan aku akan meninggalkanmu di halte bus.

Bisa begitu?

Dia gadis besar.

Bagaimana jika ibuku nanti datang?

Ny. Sadeghi akan memberitahunya

bahwa aku mengantarmu ke halte bus.

Jangan khawatirkan dia, Ny. Sadeghi.

Aku akan menjaganya.

Aku akan meninggalkannya di halte bus.

Tapi tolong berbaik hatilah dan datang ke pernikahannya.

Apa yang harus aku lakukan?

Pergilah dengan pria itu.

Kau bisa menaruh percaya padanya.

Dia akan meninggalkanmu di halte bus.

Kalau begitu, maukah kau memberi tahu ibuku nanti?

Ya! Pergi sana.

Jangan lupa.

Oke. Sampai jumpa.

Kau tidak bawa tasmu?

Dia gadis yang baik.

Ngomong-ngomong, istriku mengirimkan salam

dan mengundangmu ke pesta pernikahan.

Hanya saja dia bertanya-tanya

apakah kamu bisa mengenakan gaun yang cocok.

Dulu anakku, sekarang aku?

Tak ada gunanya bersikeras.

Begitulah kita.

Lakukan apa yang menurutmu terbaik.

Aku harus pergi.

Sampai jumpa.

Sampai jumpa.

Apakah kau baik-baik saja di sana?

Kenapa kau tidak naik bus sekolah saja,

karena kau tinggalnya jauh?

Tidakkah kau ingin memberitahuku?

Ayahku bilang, ongkosnya terlalu mahal.

Lagipula, ibuku bekerja di dekat sini.

Kalau begitu, dia mungkin masih bekerja.

Tidak, dia sudah libur selama seminggu terakhir.

Kau yang pakai gips, dan ibumu sedang libur kerja?

Bukan, bukan karena lenganku.

Itu karena dia akan memberiku seorang bayi kecil.

Jadi ibumu akan memberimu seorang adik perempuan?

Sama sekali tidak!

Aku akan punya adik laki-laki.

Mereka mengambil foto dan bilang itu anak laki-laki.

Cerdas juga!

Kau bisa tahu kalau itu laki-laki, hanya dengan melihat fotonya.

Kalau begitu, kau akan punya adik laki-laki yang periang.

Apa yang kau bilang tadi tentang pekerjaan ayahmu?

Coba kulihat... itu dekat sini.

Itu dia.

Tunggu aku di sini. Aku hanya akan sebentar.

Tidak akan lama.

Aku akan segera kembali.

Jangan lupa penyedot debunya.

Tidak, aku tidak akan lupa.

Jadi, apa pekerjaan ayahmu?

Dia bekerja di bidang medis.

Maksudmu di apotek?

Entahlah.

Lalu dengan apa dia menyebutnya.

Kita dalam bisnis yang sama.

Tunggu! Berhenti!

Kau mau ke mana? Kita belum sampai.

Ibuku mungkin ada di bus itu.

Pemain Iran, Bagheri mengambil tendangan penalti

dari sudut kanan.

Halo Nasser! Hari yang sibuk?

Apa yang terjadi?

Lagipula itu salahnya.

Kecelakaan itu?

Apa lagi?

Pertandingan!

Ada apa?

Kita kalah.

Benarkah? Korea unggul 2 poin.

Kamu tidak mendengar radio?

Rusak.

Kasihan.

Sampai jumpa.

Bagian wanita ada di belakang.

Buka pintunya.

Kau mengalami beberapa masalah dalam hidupmu

selama beberapa bulan terakhir.

Kau bertengkar dengan suamimu.

Dia sudah berubah.

Dia tidak sebaik dulu.

Aku melihat di tanganmu bahwa dia punya wanita lain.

Jadi, kau harus mengawasinya.

Kurasa dia punya rencana lain di kepalanya,

bahwa dia sedang membuat beberapa rencana.

Aku pikir dia menginginkan istri kedua.

Apakah dia menghasilkan lebih banyak uang akhir-akhir ini?

Belanjakan sebanyak yang kau mampu.

Jangan biarkan dia menjadi kaya, atau dia akan melakukannya.

Garis-garis tanganmu membingungkan.

Aku bisa melihat kau kehilangan seseorang

yang sedekat dirimu seperti saudara perempuan.

Kau tak tidak di mana dia.

Kau sungguh ingin bertemu dengannya lagi,

tapi dia jauh dan kau tak bisa menggapainya.

Dia juga sangat ingin bertemu denganmu.

Tapi kau akan segera mendengar kabar darinya,

Kau mungkin akan bertemu dengannya lagi.

Itu akan menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagimu.

Berhenti! Itu ibuku.

Tolong berhenti!

Hentikan busnya. Gadis kecil ini ingin turun.

Dia tertinggal.

Hentikan busnya.

Tolong tiketnya!

Tunggu giliranmu.

Aku tadi di dalam bus.

Tunggu sebentar.

Aku mencari istriku.

Di mana dia?

Siapa namanya? Aazam.

Kita harus turun di sini.

Kau tertidur atau bagaimana?

Kau mau ke mana?

Aku yang memberikannya padamu.

Kenapa kau turun? Silakan saja.

Naik ke bus.

Busnya penuh. Tutup pintunya!

Mau kubaca tangan putrimu?

Keberuntungannya bagus.

Dia akan sangat beruntung.

Aku bisa melihat dari tangannya bahwa dia akan sukses.

Dia akan mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Kamu bisa mengandalkannya nanti.

Dia akan membantumu di masa tuamu.

Dia akan lebih baik dari seorang anak laki-laki.

Kau bisa yakin akan hal itu.

Dia akan punya dua saudara perempuan lagi.

Dia akan pergi dan menetap di tempat yang jauh.

Dia akan sukses.

Berdiri, gadis muda. Biarkan wanita itu duduk.

Kau dengar aku? Wanita itu punya bayi.

Ayo. Berdiri.

Luar biasa! Anak muda zaman sekarang!

Aku harus menyuruhnya berdirinya dua kali.

Sayangnya dia tidak melakukannya dengan sukarela.

Buatlah dirimu nyaman.

Terima kasih.

Aku bisa menjaga tasmu.

Terima kasih, aku baik-baik saja.

Sungguh hidup yang luar biasa akhir-akhir ini!

Aku melewati neraka setiap harinya.

Aku bersama suamiku menjual semua yang kami miliki,

untuk datang dan tinggal di dekat putra kami.

Seharusnya aku juga ikut mati,

ketika suamiku mati beberapa tahun yang lalu.

Kau seharusnya tidak mengatakan itu.

Aku sudah melupakan rasa dukanya, tapi itu bukan hidup!

Itu pernikahan jarak jauh.

Ya, kau sudah mengatakannya kepadaku.

Mereka menghabiskan banyak uang untuk resepsi

dan memajang foto mempelai pria di sana.

Prianya pernah kuliah teknik

dan memimpin sebuah perusahaan di Amerika Serikat.

Jadi gadisnya akan ikut bergabung dengannya di sana

seminggu setelah pernikahan.

Tapi apa yang terjadi padanya di sana masih membuatku menitikkan air mata.

Dia telah dibohongi banyak orang.

Tidak ada yang seperti yang dia harapkan.

Prianya jauh lebih tua daripada yang dia kira.

Dia sudah punya 2 anak.

Mengerikan sekali!

Jadi, sang pengantin wanita benar-benar terkejut.

Pernikahan jarak jauh ini merupakan bencana baginya.

Dan lagi, ia memiliki nama pria itu di paspornya

Seharusnya, kedua anakku yang merawatku.

Tapi mereka bilang akan mengirimku ke panti jompo.

Lihat aku.

Apa aku terlihat seperti perlu pergi ke sana?

Aku berasal dari keluarga terhormat.

Bisakah kau bayangkan aku berada di salah satu tempat seperti itu?

Kenyataannya tidak seperti itu.

Ya, memang begitu.

Mereka tidak berperilaku seperti ini sebelumnya.

Mereka sudah berubah.

Jangan biarkan mereka memperlakukanmu seperti itu.

Mereka tidak pernah setuju dengan kita!

Aku tidak suka cara mereka menangani berbagai hal.

Kau percaya itu.

Mereka menyuruh kami berbelanja dengan naik bus.

Terlalu berlebihan. Bahkan untuk seseorang yang tidak terlalu kaya.

Ini bukan cara yang tepat untuk berbelanja untuk pernikahan.

Tolong berikan ini kepada para musisi.

Semoga hidup kalian penuh sukacita dan kebahagiaan.

Sampai jumpa semuanya!

Berapa usia bayimu?

Usianya satu tahun.

Cucuku berumur 6 tahun.

Tapi orang tuanya tidak mengizinkan aku bertemu dengannya.

Katanya aksenku akan memengaruhinya!

Apa maksudmu?

Aku mempermalukan mereka.

Dari mana asalmu?

Kermanshah.

Aku juga bukan orang asli.

Tapi siapa juga yang sebenarnya orang asli?

1 dari 1000?

Kau sadar tidak apa artinya bagiku kalau aku tidak bisa bertemu dengan cucuku?

Agar aksennya tidak berubah!

Mereka juga ingin aku mengubah cara berpakaianku, tapi aku tidak mau.

Aku tidak bisa berubah di usia begini.

Aku berkorban begitu banyak untuk mereka.

Aku menyekolahkan mereka di universitas.

Dan beginilah cara mereka berterima kasih kepadaku.

Mereka tidak mengizinkanku berbicara dengan tetangga.

Aku merasa seperti burung di dalam sangkar.

Mereka tidak mengenalkanku ketika teman-teman mereka datang

atau mereka berpura-pura bahwa aku salah satu tetangga mereka.

Jadi setiap pagi, aku mengemasi barang-barangku

dan pergi ke Alun-alun Parlemen untuk naik bus

yang menuju ke kota putriku tinggal.

Tapi kemudian aku teringat suaminya.

Siapa yang akan bertanya-tanya kenapa aku datang.

Jadi aku menghabiskan hari di bangku

dan pergi ke rumah putraku ketika hari mulai gelap.

Sabar.

Sabar? Aku sudah tidak tahan lagi.

Aku tidak bisa melanjutkannya.

Mereka masih muda.

Haruskah aku mati agar mereka mengerti?

Aku hanya punya beberapa tahun lagi.

Aku sudah muak kali ini.

Aku akan pergi ke stasiun bus

dan aku akan naik bus ke kota putriku.

Melubangi kartu ini dan membersihkannya.

Aku akan segera kembali.

Kenapa kau tidak turun?

Nader! Yang bersama gadis kecil ini?

Nader! Kemarilah.

Apa yang kau lakukan?

Ini bukan perhentianku.

Lalu di mana?

Di Terminal.

Tapi ini terminalnya. Tidakkah kau lihat?

Tapi terminalku tidak seperti ini.

Lalu bagaimana?

Ada batang logam berbentuk seperti hati

dengan air mancur di tengahnya.

Ada banyak pohon dan tidak ada patung.

Yakin kau naik bus yang benar?

Aku duduk di kursi yang sama dengan ibuku, pagi ini.

Kau hampir mengalami kecelakaan.

Kay tiba-tiba pingsan dan semua orang jatuh.

Lalu kau marah pada pengemudi yang satunya.

Kau tidak mendengar apa yang dikatakan orang itu padaku?

Makanya aku marah!

Jangan menangis sekarang.

Kenapa kau naik bus sendirian?

Ibuku selalu datang menjemputku,

tapi dia tidak muncul hari ini.

Ini jalur yang benar, tapi arahnya salah.

Ada dua alun-alun di jalur ini.

Alun-alun Republik adalah tempat yang ingin kau kunjungi.

Aku akan segera menemuimu.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Bisakah kau menemukan jalanmu dari sana?

Ya, aku bisa.

Aku akan menitipkanmu ke rekanku yang akan mengantarmu ke sana.

Dan kau bisa pulang dari sana.

Tidak bisakah aku ikut denganmu?

Itu tidak mungkin, aku khawatir.

Shift-ku sudah selesai.

Rekan kerjaku akan mengambil alih sekarang.

Ayo!

Cepat.

Naik bus.

Aku akan pergi dan memanggil rekanku.

Kau yakin tahu jalannya?

Aku ingin tinggal bersamamu.

Jangan menangis!

Sudah kubilang shift-ku sudah selesai.

Aku akan menelepon Tn. Morteza. Sampai jumpa.

Lihat gadis di busmu itu?

Turunkan dia di Alun-alun Republik. Oke?

Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?

Ini bukan pintu masuk wanita.

Turun!

Kau sedang apa?

Tn. Morteza sedang menunggumu.

Jangan menatapku seperti itu. Ayo!

Naik bus, cepat!

Kau di mana, Nak?

Ke mana kau pergi?

Katakan sesuatu.

Bukankah rekanku sudah menyuruhmu menunggu?

Lalu kenapa kau turun?

Bagaimana jika kau tersesat?

Aku tidak tahu bahwa Tn. Nasser yang mengirimnya.

Aku pikir dia datang atas kehendak sendirinya.

Di mana kau menemukannya?

Sedang berjalan di sepanjang jalan raya.

Ada apa dengan lenganmu?

Jangan lihat kamera, Mina.

Aku tidak mau akting lagi!

Cut.

Mina...

Aku mau turun!

Ada apa?

Aku tidak mau akting lagi!

Ada yang menganggumu?

Buka pintunya! Turunkan aku!

Apa yang harus kulakukan?

Hentikan busnya.

Buka!

Katakan ada apa.

Mina, maukah kau mengatakannya?

Tidak, aku tidak mau.

Biarkan dia turun.

Kau mau ke mana?

Untuk melihat kenapa dia cemberut.

Aku akan bicara dengannya.

Kalau begitu, lanjutkan saja.

Tunggu!

Katakan padanya ini shot terakhir untuk hari ini.

Apa kau bilang sesuatu padanya, Ali-Reza?

Tidak, tidak ada apa-apa.

Tidak ada.

Apa maksudmu?

Tidak ada yang salah.

Tidak ada yang salah?

Lalu, apa yang membuatmu marah?

Tidak ada.

Apa mereka bilang sesuatu?

Apa mereka bilang sesuatu? Ya.

Siapa? Siapa yang melakukannya?

Berhenti!

Aku tidak ingin difilmkan lagi.

Naik bus.

Kau akan masuk angin.

Aku mau barang-barangku.

Tolong ambilkan barang-barang Mina.

Tidak ada gunanya memaksa.

Dia ingin berhenti.

Tapi kenapa?

Entahlah. Dia menolak bicara.

Apa Ali-Reza bicara padanya?

Soal apa?

Apa yang kau katakan padanya?

Apa katanya?

Dia keluar dari film.

Itu pasti dia.

Apa yang kau katakan padanya?

Aku tidak bilang apa-apa padanya.

Sumpah.

Apa yang kau katakan padanya?

Tidak ada yang bisa menyakitinya.

Aku melihatmu berbicara dengannya.

Apa yang kau katakan padanya pagi ini?

Dia masih kecil.

Kau harus sabar dengannya.

Katakan padanya ini shot terakhir untuk dilakukan

dan setelah ini, kita akan berhenti dan lanjut besok.

Dia pasti kelelahan.

Bawa ini padanya atau dia bisa masuk angin.

Dia bilang dia diundang ke pesta ulang tahun.

Ibunya ingin dia menyelesaikannya sedikit lebih awal hari ini.

Jadi dia bisa pergi lebih awal.

Apa ada yang terjadi kemarin?

Tidak. Semuanya tampak baik-baik saja.

Reel yang mana ini?

Apakah ini bus menuju Vanak?

Tidak, kami sedang syuting film.

Dia tidak mau mendengarkanku.

Dia ingin pulang sendiri.

Dia bilang dia tahu jalannya.

Coba kulihat...

Dia tidak mau bicara?

Dia hanya mau pulang.

Apa yang dia tunggu?

Kita untuk melepas mikrofonnya.

Apa dia masih memakainya?

Aku memakaikannya untuk shot terakhir, dan lupa melepasnya.

Bolehkah kita merekamnya? Ya.

Bisakah kau mendengarnya dengan jelas? Ya.

Biarkan dia terus berbicara dengannya.

Kembalilah ke sini, Javadi!

Tinggalkan bersamanya.

Aku tidak yakin dengan hasilnya, tapi...

dekatkan kamera.

Kau mau rekam ini? Ya.

Bagaimana kalau kita tutup trotoar? Tidak.

Dia mungkin akan menyentuh mikrofonnya.

Lupakan saja.

Kita punya suaranya? Ya.

Siap merekam?

Ayo.

Periksa suaranya. Kamera siap?

Siap.

Kamera.

Biar aku atur f-stop-nya.

Haruskah ku cut? Tidak, teruskan saja.

Mulai syuting.

Apa kau marah padaku?

Apa aku melakukan kesalahan?

Apa aku mengatakan sesuatu yang jahat?

Aku hanya bawa tasmu, agar kau bisa jalan lebih cepat.

Kau tidak lihat bagaimana mereka menatapku?

Seolah-olah akulah yang menyuruhmu untuk tidak bertindak.

Maaf kalau aku salah bicara.

Mereka menyuruhku datang dari pusat kota,

membayar jasa potong rambut dan beberapa pakaian

agar aku bisa berakting dalam berkas itu.

Tapi mereka akan menghentikan berkasnya kalau kau tidak berakting.

Katakan saja pada mereka kamu tidak berhenti karena aku.

Jika kau tidak menginginkanku untuk dipecat.

Jadi?

Tidak ada.

Dia tidak bicara sepatah kata pun.

Cut.

Bibi Bita!

Dia memanggilku.

Tunggu.

Aku punya ide.

Kita ikuti dia.

Kau mau ke mana?

Aku sedang menyelesaikannya.

Tunggu. Pergi dan bicaralah padanya.

Bilang padanya dia boleh pulang sendiri, tapi jangan lepas mikrofonnya.

Tundukkan kepalamu.

Kalau dia mencari sound engineer,

bilang saja dia sudah pulang.

Suruh dia pergi sendiri, dan kita akan mengikutinya.

Butuh minibus?

Kau kalah taruhan?

Ali Dai baru saja mencetak gol ketiga.

Cepat semuanya. Mana mobilnya?

Pindahkan, atau kita akan kehilangan dia.

Permisi, Pak?

Di mana alun-alunnya?

Alun-alun yang mana?

Yang ada air mancur di tengahnya.

Kau tersesat?

Tidak. Katakan saja arahnya.

Apa sebenarnya yang kau cari?

Alun-alun dengan air mancur.

Tapi alun-alun yang mana yang kamu maksud?

Yang ada air mancurnya.

Yang ada air mancurnya?

Kau tahu yang seperti itu?

Alun-alun dengan air mancur.

Dengan apa?

Dengan air mancur dan patung.

Maksudmu Alun-alun Parlemen?

Ya. Ke arah mana itu?

Jadi, Alun-alun Parlemen itulah tujuanmu?

Jalan kaki? Ke sana.

Terima kasih.

Semakin sering kau menekan, semakin baik hasil cetakannya.

Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan.

Dan jangan berpikir aku menggunakan sesuatu yang istimewa.

Botolnya sama semua.

Aku akan membuka satu untuk pria ini.

Harganya 100 toman per buah.

Kau harus menuliskannya di kertas,

tuliskan tulisan aslimu di atasnya...

Lalu tekan dengan kuat dengan botol.

Dan itu akan mereproduksi gambarnya.

Bisakah kami memilih botolnya?

Putramu bisa mencobanya kalau kau tidak percaya.

Sekarang ini, seseorang bisa melakukan apa saja.

Punyaku tidak berhasil terakhir kali.

Mungkin kamu menggunakan sesuatu yang lain.

Kau tidak membayar untuk mesin Xerox!

Pegang kertasnya seperti ini.

Sudah kubilang, ini bukan kit pengembangan foto!

Kau tidak bisa mendapatkan kit pengembangan seharga 100 toman!

Tapi barang ini sangat berguna.

Beberapa orang bahkan membelinya sebagai hadiah.

Kau mau ke mana?

Tempat di sana itu di mana kau berbelok,

dan kau melewati jalan besar.

Bisakah kau mengantarku ke sana?

Aku tidak mau ke sana. Kau bisa tersesat.

Kau bersama seseorang?

Tidak, aku sendiri.

Aku tidak akan ke sana.

Berdiri lebih tinggi.

Mau kuantar kau ke persimpangan jalan?

Aku ke sana.

Aku akan naik, lalu...

Aku akan mengantarmu.

Katakan saja padaku namanya. Aku mungkin mengingatnya.

Kau tersesat?

Tidak, sungguh.

Mau ke sana?

Di belakang Gedung Parlemen?

Tidak, maksudku ke arah itu, lalu belok dan naik ke arah itu.

Aku tidak tahu jalan mana yang kau maksud.

Apakah itu Jalan Sirouss ?

Jalan Parlemen atau Jalan Mostafa Khomeini?

Tetaplah di sini dan kau akan menemukan taksi.

Sampai jumpa!

Kau tidak mau menyeberang jalan?

Tidak, terima kasih.

Kau mau ke mana?

Aku mau naik taksi.

Ke mana?

Untuk ke sana,

lalu belok dan naik ke jalan itu.

Kamu tidak tahu mau ke mana?

Ya.

Kalau begitu, masuklah.

Bisakah kamu memberitahuku nama jalan itu?

Kau bilang tahu ke mana kau pergi.

Apa dia tersesat?

Bawa dia dan aku akan bayar ongkosnya.

Tetaplah di sini.

Di mana ibumu?

Dia ingin menyeberang sendirian.

Jangan naik taksi sembarangan.

Atau kamu akan diculik.

Kau baru pulanh sekolah?

Aku mau pulang.

Dan di mana rumahmu?

Tetaplah di sini.

Aku akan cari polisi.

Jangan khawatir, kami akan menemukan rumahmu.

Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja.

Gadis kecil ini tersesat.

Dia tidak tahu alamatnya.

Kau mau ke mana?

Kau pergi ke arah itu, lalu kau sampai di jalan besar.

Jalan besar yang mana, Nak?

Aku tidak tahu namanya.

Tunggu sebentar...

Ya, HO. Aku di Alun-alun Parlemen.

Maksudmu jalan besar itu?

Yang panjang sekali itu?

Ada jalan besar setelah persimpangan jalan.

Jalan Victory. Itu saja?

Terima kasih.

Jadi, jalan itu yang kau maksud?

Ya.

Kau tahu cara ke sana?

Ya.

Baiklah kalau begitu. Semoga berhasil.

Bye Bye!

Mau aku ikut?

Tidak.

Halo!

Halo, ini kamu?

Apa yang kau lakukan di sini?

Aku tidak mau lagi main di film itu.

Mereka selalu menyuruhku menangis.

Kalau teman-temanku nonton film itu, mereka bakal pikir aku cerewet!

Dan mereka memasang gips palsu ini padaku.

Seolah-olah aku ceroboh atau apa pun itu dan telah mematahkan lenganku.

Dan aku benci syal ini.

Membuatku terlihat seperti bayi!

Aku bukan anak kelas satu lagi.

Apa mereka juga memberimu semua dialogmu?

Dialog yang mana?

Yang kamu katakan di lokasi syuting.

Jika mereka mendukung film tersebut!

Tapi itulah kehidupan nyataku.

Aku tidak mengerti.

Jadi, kamu tidak akting di film itu?

Ingat tidak, cowok beralis tebal itu?

Dia datang menemuiku pagi ini,

dan memintaiu untuk duduk di bus itu,

dan membawaku kembali ke sini setelahnya.

Dia memberiku sedikit uang, tapi dia juga agak kasar.

Apa yang akan kamu lakukan sekarang?

Entahlah. Mau ke rumahku?

Bagaimana aku bisa pergi ke rumah orang asing

sementara aku tidak bisa pergi ke rumah anak-anakku sendiri?

Kumohon! Datanglah ke rumah kami.

Tidak, sayang. Orang tuamu pasti khawatir.

Sebaiknya kau pergi sekarang.

Sampai jumpa! Sampai jumpa!

Mau menyebrang jalan? Tunggu...

Ke arah mana Jalan Victory?

Ke sana.

Jalan Victory?

Ya, masuk. Jalan Victory, masuk.

60 toman!

Hanya 20 toman waktu aku datang bersama ibuku.

20 toman? Pasti itu di Zaman Batu!

60 toman.

Mau ke mana?

Ke Jalan Victory.

Kemana katamu? Victory?

Ya.

Dan untuk 20 toman!

Kau pasti pergi ke Sarchenshmeh, kau bersama siapa?

Ibuku.

Baiklah, tunggu saja dia.

Apa kau tersesat?

Tidak, aku tidak tersesat.

Coba lihat jalannya dulu, nanti aku antar.

Halo! Beri ke ibu.

Dia tidak di rumah?

Bisakah kau datang dan menjemputku?

Aku tidak lagi bersama kru film.

Kami bertengkar.

Di alun-alun Parlemen.

Di mana ada banyak pohon dan bilik telepon.

Aku tidak punya cukup uang.

Tidak bisa kau naik motor?

Sumpah, Aku tidak akan cerita ke Ibu soal itu!

Halo!

Kau suruh aku ke mana? Halo!

Jalan Sarcheshmeh?

Jalan Victory?

Jalan Sarcheshmeh?

Mereka sudah... berhenti, Mina.

Mereka bilang itu... salahku, kau tahu.

Jalan Sarcheshmeh?

Jalan Victory?

Mereka sudah... berhenti, Mina.

Mereka bilang itu... salahku, kau tahu.

Kau mau pergi ke mana?

Jalan Victory.

Tapi aku sudah bilang padamu, Sarcheshmeh.

Aku sudah mengatakan arah ku 10 kali.

Dan sudah kubilang, Sarcheshmeh. Turunkan aku di sini.

Itu dia.

Bagaimana dengan ongkosnya?

Apa? Kau mau aku bayar tambahannya!

Tapi kalian berdua!

Aku tidak mau bayar. Dia tidak bersamaku.

Lalu siapa yang bersamanya?

Aku tidak sendirian.

Hei, Bu! Bagaimana dengan uangku?

Kau salah arah mengantarku.

Aku tidak mau bayar.

Sayang sekali suamimu tidak ada di sini!

Kalau saja suamiku yang tak berguna ada di sini!

Kua mau ke mana?

Aku akan bayar kalau sudah sampai.

Kakakku punya uangnya.

Kalau begitu, panggil dia!

Jalan Victory.

Jalan Victory.

Maukah kau mengantarku ke Jalan Victory?

Di mana tepatnya?

Di dekat kantor pos.

Kakakku menyuruhku menunggu di sana.

Yang mana? Yang di sudut Jalan Iran?

Aku tidak tahu, tapi aku akan mengenalinya kalau kau membawaku ke sana.

Maukah kau membawaku ke sana?

Kalau aku membayarmu 24 dan setengah toman?

Baiklah. Ayo.

Hari-hari ketika perempuan menghabiskan hidup mereka untuk memasak sudah berakhir.

Kau benar,

tetapi seorang pengurus rumah tangga yang baik harus tahu cara mengelola rumah.

Kau bicara soal pembantu!

Wanita bukan budak!

Bukan itu intinya.

Hari ketika seorang wanita menerima untuk menikah...

Dia menjadi budak suaminya?

Itu masalah kesepakatan.

Kesepakatan untuk menjadi pembantu?

Tidak, tapi kalau wanita itu tidak mengurus rumah...

Aku belum pernah menandatangani perjanjian seperti itu!

Siapa yang menjalankannya?

Jangan khawatir, dewan kota yang akan melakukannya!

Tidak mungkin!

Mereka membuatmu membayar bahkan untuk menyapu jalan,

apalagi mengurus rumah tanggamu!

Perempuan bukan budak, tapi merekalah yang seharusnya mengurus rumah tangga.

Kalau tidak, laki-laki akan menjadi budak.

Tak perlu dipertanyakan lagi.

Ini hanya masalah solidaritas.

Jadi maksudmu laki-laki harus bekerja

di luar rumah dan juga di dalam rumah?

Bukan pekerjaan rumah. Hanya membantu istri mereka.

Membantu juga pekerjaan! Intinya sama saja.

Kurasa kita tidak sepakat soal itu.

Tentu, tapi aku hanya memberikan pendapatku padamu.

Kau meminta pendapatku dan aku memberikannya padamu.

Menjelaskan semuanya dengan jelas kepada istriku sejak awal

dan aku tidak pernah melakukan apa pun di rumah.

Kau agak benar.

Laki-laki diciptakan untuk bekerja di luar rumah.

Tentu saja!

Laki-laki yang menghasilkan uang, dan perempuan yang mengurus sisanya.

Akhirnya seseorang mengerti maksudku!

Bagaimana dengan perempuan yang juga bekerja di luar rumah?

Sama halnya dengan laki-laki yang melakukan keduanya.

Namun, dalam kasus ini, wanita tersebut melakukannya dengan sukarela.

Pria yang terhormat tidak akan pernah menyuruh istrinya bekerja.

Dia melakukannya dengan persetujuan suaminya.

Dan berapa banyak uang yang bisa dihasilkan seorang wanita?

Ayo, beri tahu aku, berapa maksimalnya?

Seorang wanita juga harus bekerja 8 jam sehari.

Pekerjaan penuh waktu dibayar dengan sama.

Berapa gajinya?

Antara 20.000 sampai 40.000 per bulan, kan?

Dia harus membayar setengahnya kepada pengasuh anak

dan setengahnya lagi akan dibelikan pakaian.

Jadi, laki-lakinya rugi.

Daripada bunuh diri di rumah setelah seharian bekerja keras,

seorang pria yang cerdas akan memberi tahu istrinya untuk tidak bekerja.

Dia mau kerja lembur satu jam sehari untuk gaji yang sama!

Dia benar. Itulah yang akan dilakukan laki-laki sejati.

Permisi sebentar.

Ke mana dia pergi? Aneh...

Begitulah cara mereka berbicara di luar,

tapi perempuanlah yang memegang keputusan akhir di rumah.

Maaf atas keterlambatannya.

Kukira kau...

Bukan karena aku percaya perempuan

harus mengurus rumah tangga sehingga aku menjadi monster!

Terlalu berat untuknya.

Dan akulah yang membayar tagihannya

jika punggungnya sakit.

Aku akan mengambil jalan lain.

Lalu lintas di sini sedang sepi.

Ada yang mau turun?

Biarkan aku turun dari sini.

Aku akan membawamu sedikit lebih jauh.

Aku akan ke rumah sakit untuk menjenguk istriku.

Sesuai keinginanmu.

Aku juga akan turun dari sini.

Bukankah kamu ingin pergi ke kantor pos?

Tidak, aku turun dari sini.

Aku hanya tahu jalan pulang dari sini.

Ini ongkosnya.

Tidak apa-apa. Simpan saja uangmu.

Silakan ambil.

Tidak, terima kasih. Selamat tinggal.

Jangan pindah jalur!

Sekarang Dai mengopernya ke Bagheri

yang kemudian mengopernya ke Azizi.

Azizi mengopernya ke Dai di kotak penalti... Gol!

Katakan padaku, sayang...

Kau bilang saudara laki-lakimu lebih tua darimu...

Ya, memang.

Jadi dia pasti tahu bahwa ini bukan tempat untuk gadis kecil.

Dia tidak bilang di depan kafe.

Katanya di depan kantor pos.

Ada kantor pos di sini,

dan satu lagi di Alun-alun.

Katanya yang pertama.

Jadi di sana.

Kalian mungkin bertanya-tanya apa yang kulakukan di sini?

Yah, aku harus ada di sini.

Karena orang-orang yang menginginkan musisi

untuk memeriahkan pernikahan mereka datang ke sini

untuk mencari mereka.

Sekarang beri tahu aku, apakah kamu kenal bintang film?

Abdoli, Hoshiar, dan Bidar...

Lanjut.

Ada satu lagi, tapi...

Kau tidak mengenaliku?

Tidak.

Apa kau tak pernah mendengar suaraku?

Ayahmu mengenalku dengan baik.

Karena dia tahu siapa John Wayne.

Jadi, kamu orang asing?

Tidak, sayang. Aku bukan orang asing.

Tapi dulu aku yang mengisi suara John Wayne.

Dulu aku lebih terkenal daripada mereka yang kau sebutkan.

Memang benar, aku tidak lagi melakukan sulih suara.

Tapi setidaknya aku bisa bermusik.

Aku melihatmu dua minggu lalu

ketika kamu melakukan adegan itu di depan sekolah.

Lumayan bagus.

Tapi yang terbaik adalah di depan apotek

ketika kamu menyuruh wanita itu untuk mengambil barang-barangmu.

Aku menontonmu.

Kau sempurna.

Tidak apa-apa. Aku akan menemukan jalanku.

Baiklah, kalau begitu, mari kita berjalan di trotoar.

Kau lihat kotak surat itu?

Di mana wanita tua itu berdiri...

Tetaplah di sana sampai saudaramu datang.

Dan jangan pergi lagi.

Oke.

Bilang ke ayahmu kalau dia ada pesta,

dia selalu bisa menemukanku di depan kafe

di mana kita berada sebelumnya.

Siapa namamu agar aku bisa memberitahunya?

Katakan padanya John Wayne dan dia akan mengingatku.

Sampai jumpa.

Sampai jumpa, gadis kecil.

Permisi!

Sudah lama menunggu di sini?

Sekitar setengah jam.

Kamu tidak melihat saudaraku dan sepedanya?

Dia agak lebih tinggi dariku.

Aku sudah di sini cukup lama, tapi aku belum melihat seorang bocah.

Halo, Bu. Apakah kau menunggu?

Aku punya surat untukmu.

Ada kotak surat.

Itu untuk luar negeri.

Tidak apa-apa, surat-suratnya akan disortir nanti.

Halo, Pak!

Tahukah kau ke arah mana rumahku?

Rumahmu? Bagaimana aku bisa tahu?

Kamu menyuruh ayahku pergi ke bengkel.

Ayahku yang punya Renault.

Yang putih, yang banyak asapnya.

Makanya aku suruh dia memperbaikinya!

Hati-hati akan mobilnya.

Lalu ayahku bilang dia akan memperbaikinya

pada akhir bulan.

Kami kirim semua mobil yang berasap untuk diperbaiki!

Tahukah kau, kau bahkan mendenda ayahku.

Aku memberinya banyak! Mobilnya pernah kecelakaan.

Penyok dan ada cat merah di atasnya.

Aku sudah menunggu berjam-jam.

Itu bukan masalahku.

Motor ini bukan milikku, jadi tolong kembalikan surat-suratnya.

Sudah kubilang.

Kau tidak ingat?

Orang yang pernah kau denda.

Namanya Mohamad-Khani.

Aku tidak mungkin mengingat nama ayahmu?

Pak!

Pak!

Pak! Pak!

Ibumu sakit, lho.

dan ayahku memberinya beberapa pil merah.

Aku tidak ingat itu.

Apa kau tidak ingat?

Ingat apa?

Di mana mobilnya?

Di mana apanya?

Kau sering memberinya denda.

Kalau begitu, dia mungkin melanggar hukum!

Itu karena mobilnya berasap.

Seharusnya dia memperbaikinya.

Yah, itu yang kau katakan padanya.

Jadi kenapa dia tidak melakukannya?

Lalu suatu hari ayahku datang dan bertanya kepadamu

apakah ibumu sudah pulih.

Dan kau bilang padanya kalau dia sudah sehat.

Ya, dia sudah sehat, lalu kenapa?

Kau memanggil ayahku Dokter, dan dia memanggilmu Petugas.

Itu tidak memberi kami alamatmu.

Semuanya tampak baik-baik saja, hanya saja aku tidak bisa mengingatnya!

Waktu dia di sana, kamu menyuruhnya pergi ke bengkel.

Dan apakah dia pergi?

Ya, dia pergi.

Kalau begitu, silakan tanya saja mereka.

Bisakah kamu mengantarku ke sana?

Tunggu sebentar.

Kalau Azizi datang, bilang padanya aku harus

menemani seorang gadis ke bengkel.

Kalau kau... Sudah kubilang jangan memaksa.

Kumohon, Pak. Kukira kau lebih baik dari itu!

Halo, Pak! Coba bantu gadis kecil ini.

Sepertinya kau sudah memperbaiki mobil ayahnya.

Dia tersesat.

Coba lihat apa yang bisa kau lakukan untuknya.

Kau datang dan memperbaiki mobil ayahku.

Itu Renault.

Kau minta segelas air

dan aku membawakanmu limun.

Siapa? Apakah dia?

Entahlah. Seorang pria berpakaian biru.

Kau tidak bisa memperbaikinya di rumah kami, dan kau membawanya ke sini.

Petugas bahkan mendorong mobilnya.

Apa warnanya merah?

Bukan, warnanya putih.

Kau sekolah di mana?

Sekolah Assyeh.

Kamu naik bus sekolah?

Tidak, aku pergi sendiri.

Ibuku menjemputku.

Seharusnya kamu menunggunya di sekolah.

Gadis kecil ini benar-benar sesuatu!

Tahukah kau di mana sekolahmu?

Aku bisa ke sana sendirian, kalau saja kau mau menunjukkan jalannya.

Sekolah mana?

Sekolah Assyeh.

Assyeh?

Itu sekolah dasar? Ya.

Kau kelas berapa?

Kelas dua, dan aku tahu

jalan pulang dari sekolahku.

Hubungi Kementerian Pendidikan dan dapatkan alamat sekolahnya.

Di lingkungan mana sekolahnya?

Aku tidak tahu.

Tapi ada toko mainan di sebelahnya.

Apakah kau yang pergi memperbaiki mobilnya?

Apa mobil ayahmu?

Renault.

Kalau saja kau berbaik hati mengembalikan surat-suratku...

Katakan saja arahnya, dan aku akan pergi sendiri.

Tapi di mana sekolah ini?

Dia mungkin punya alamatnya di tasnya.

Aku tidak bisa pergi tanpa surat-suratku, Pak.

Aku bilang tidak!

Lihat tasmu, gadis kecil.

Aku akan menjaganya.

Dia bilang dia di Sekolah Assyeh.

Kau dari mana? Langsung dari sekolah?

Ya, maksudku, tidak! Aku ada di tempat lain.

Jadi kau tersesat? Kau bersama ibumu?

Tidak. Tahun lalu aku pergi dengan ibuku,

tapi tahun ini, aku pergi...dengan diriku sendiri.

Sekolah mana?

Sekolah Assyeh.

Kalau kau memgantarku ke sekolah, aku akan menemukan jalan pulang.

Biarkan aku pergi dan aku akan mengantarnya ke sana.

Ayo, nona kecil, kita pergi.

Tidak, aku akan tinggal di sini.

Apakah ada papan biru di luar?

Ya.

Bawa dia, kalau kau tahu di mana.

Itu di persimpangan jalan, dan ada papan biru

yang bertuliskan Asseh dengan huruf besar.

Itu saja.

Aku akan mengantarmu menggunakan motor.

Apakah kau akan mengembalikan surat-suraku?

Tapi ada satu sekolah perempuan di sini dan satu lagi di sana.

Aku akan mengantarnya.

Ayo pergi. Aku akan menjaganya.

Katakan di mana dan aku akan pergi sendiri.

Tepat di persimpangan berikutnya.

Terima kasih banyak. Selamat tinggal.

Halo, Tn. Habibi.

Halo, Nn. Mina.

Aku tidak mau ada di film itu.

Kenapa?

Aku tidak mau berakting.

Tapi, beri tahu aku alasannya.

Aku tidak mau!

Tapi aku yang merekomendasikanmu.

Kau jual pita merah muda?

Coba kulihat.

Dan ini mikrofonnya. Aku tidak bisa menyimpannya.

Ambil saja. Tapi aku mau tutup.

Aku sedang terburu-buru. Sampai jumpa.

Tunggu, Mina!

Aku akan segera menemuimu.

Sampai jumpa!

Lalu apa yang harus kukatakan pada mereka?

Bahwa aku memberimu mikrofon.

Kenapa kamu tidak berakting?

Karena aku tidak mau.

Kamu pasti akan dapat uang.

Aku tidak mau.

Aku akan pergi dan bicara dengan ayahmu.

Bagaimana dengan pita merah mudaku?

Aku akan mengambilkannya untukmu.

Aku sedang terburu-buru.

Tunggu sebentar.

Aku akan menikah.

Selamat.

Aku hanya punya pita hitam.

Hitam? Untuk pernikahan?

Kunjungi Alun-alun Martyrs untuk warna lain.

Terima kasih. Silakan datang ke pesta pernikahan kami.

Aku akan datang dan memberimu restuku.

Selamat sekali lagi.

Terima kasih.

Skor yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola Iran.

Tim kita telah mengalahkan Korea Selatan dengan skor akhir 6 -2.

Izinkan aku mengucapkan selamat kepada para pendengar kami,

dan seluruh penggemar sepak bola, atas kemenangan gemilang ini.

Apa kabar? Baik-baik saja, bagaimana denganmu?

Bisakah kamu mengembalikan mikrofon ini kepada Mina

dan bilang padanya bahwa dia harus menyimpannya?

Apa yang telah kau lakukan hingga membuatnya begitu kesal?

Tidak ada.

Dia tidak mau mendengarkanku.

Tidak terjadi apa-apa. Berikan dia mikrofon ini.

Aku akan memberikannya.

Terima kasih.

Sama-sama. Sampai jumpa.

Bagaimana cara kerjanya?

Satu, dua, tiga.

Tes. Satu, dua, tiga.

Arab Saudi mengalahkan Cina dengan skor akhir 4-3.

Dan pada hari Rabu, Iran vs. Kuwait...

Kau mematikannya.

Aku tidak mematikannya.

Jangan sentuh tombol ini. Kau bisa mendengarku, Najafi?

Biarkan aku pergi dulu lalu bunyikan belnya.

Kau harus datang dan menyelesaikan filmnya.

Aku tidak mau.

Pokoknya, karenamu, aku jadi terlibat semua ini.

Sudah kubilang jangan sentuh.

Aku tidak sengaja melakukannya.

Maaf kalau terjadi lagi.

Sekarang sudah mati, lihat?

Akan kucoba. Tapi ini bukan kiamat!

Apa katanya?

Aku tidak tahu apa yang kau lakukan padanya, tapi dia benar-benar marah padamu.

Apa maksudmu?

Aku bisa mengenalkanmu pada gadis lain seusianya

yang berbakat.

Tidak, terima kasih.

Kalau begitu aku harus pergi. Sampai jumpa.

Sampai jumpa.

Terima kasih sudah menonton.

Terjemahan: Midden.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.