Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Menelan kegelisahan♪
♪Akarmu mencengkeram kuat tanah ini♪
♪Mengejar ombak♪
♪Helaian daunku melintasi perbatasan nun jauh♪
♪Menanti di kejauhan♪
♪Kekekalan adalah tujuan akhir♪
♪Berpisah kembali setelah bertemu♪
♪Kembali terpisahkan setelah bersandar♪
♪Aku tidak pernah lupa♪
♪Kilatan pedang membelah langit berwarna♪
♪Mimpi yang ditinggalkan hancur berserakan♪
♪Menerobos tanpa gentar♪
♪Menatap kibaran layar yang berlabuh, dunia pun telah berubah♪
♪Zirah dan riasan berhamburan di udara♪
♪Pernah takut, darah tidak mengering, dan memimpikan senja♪
♪Hanya berharap kau di sisiku♪
♪Masa muda tidak terbuang sia-sia♪
♪Berdiri kokoh, saling menyatu, dan mengacungkan pedang bersamamu♪
♪Melihat percikan api berjatuhan di bahu kita♪
♪Tidak ada penyesalan di dunia fana ini♪
=Kelana Cinta=
=Episode 2=
(Istana Changjing Barat)
Panglima Militer memasukkan satu bola lagi.
(Sun Jing, Panglima Militer Pertahanan)
Tampaknya kau akan kalah hari ini.
(Xiao, Putri Mahkota Terdahulu)
Belum tentu.
Selir Xiao memasukkan bola lagi!
Kau hebat juga.
- Ayo, satu babak lagi. - Baik.
Panglima Militer.
Kehilangan pasokan pangan, begitu pula dengan kota.
Tidak kusangka Guo Zhi sepayah itu.
Cucu Kaisar ke-17, Li Ni,
sungguh membuat orang lain kagum dengan keturunan Keluarga Li.
Saya pantas mati karena sudah mengotori bola Panglima Militer.
Panggil Raja Liang kemari.
Baik.
Panggil Raja Liang!
Sa... salam hormat kepada Panglima Militer.
Bantu Raja Liang untuk berdiri.
(Raja Liang)
Kau adalah seorang raja dan aku hanya Panglima Militer.
Kenapa kau selalu memberi hormat secara berlebihan setiap kita bertemu?
Put... Putri Mahkota.
Salam hormat kepada Putri Mahkota.
Putri Mahkota Terdahulu yang kejam dan tidak etis
sudah bunuh diri untuk mengungkapkan penyesalan.
Aku bukan Putri Mahkota lagi.
Harap Raja Liang tidak menyapaku dengan sebutan itu lagi.
Baik, Selir Xiao.
Coba ceritakan tentang putramu.
Terima kasih atas pertanyaan Panglima Militer.
Saya memiliki tiga orang putra. Putra sulung saya, Li...
Siapa ingin mendengar omong kosong itu?
Ceritakan tentang Li Ni.
Hanya saja...
Putra ke-17, Li Ni, dia...
Ada apa dengannya?
Raja Liang, apakah kau tahu kesalahanmu?
Dua bulan yang lalu,
Pei Xian dan yang lainnya mengangkat Li Ni
(Xin Fu, Penasihat Sun Jing) sebagai Panglima Perdamaian.
Seorang Li Ni yang masih kekanak-kanakan
diangkat oleh Pei Xian si Jenderal Pemberontak itu
sebagai seorang panglima.
Raja Liang, apakah kau diam-diam mendambakan kekuasaan tinggi?
Ini...
Maafkan saya.
Saya sungguh tidak tahu bahwa Li Ni akan melakukan itu.
Saya benar-benar tidak tahu.
Mohon Panglima Militer dengarkan penjelasan saya dulu.
Sudahlah.
Itu pasti taktik Pei Xian untuk menghasut orang lain.
Kau berterus terang saja.
Apa yang disukai dan tidak disukai oleh putramu itu sejak kecil?
Bagaimana dengan sifat dan temperamennya?
Putra saya itu
sungguh pembawa sial!
Saat terlahir, Putra ke-17, Li Ni, sudah membunuh ibunya.
(Kediaman Raja Liang)
Dia adalah anak yang nakal dan malas belajar sejak kecil.
Sebagai ayahnya, saya juga lalai dalam mendisiplinkannya.
- Kembalikan kepadaku! - Anak budak.
Ibumu adalah budak paling rendahan.
- Kembalikan kepadaku! - Suatu hari nanti,
- Kembalikan kepadaku! - kau pasti mencelakai kami.
Kembalikan kepadaku!
Seiring tumbuh dewasa, dia makin suka berkeliaran,
berkelahi, dan membuat masalah.
Hari ini, kau harus memberiku penjelasan tentang masalah ini.
Jika tidak...
Apa yang kalian lakukan?
Anak durhaka!
Bangun!
Putra saya itu benar-benar nakal dan berengsek.
Sungguh berengsek!
Justru karena dia seperti itu, Ayahanda...
Bukan. Maksudku, Kaisar Terdahulu murka
dan mengirimnya ke Markas Pasukan Perbatasan Barat.
Namun, saya sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan seberani itu.
Be... beraninya dia menyebut dirinya sebagai panglima
dan melawan Panglima Militer.
Ini salah saya yang sudah melahirkan anak durhaka itu.
Li Ni masih begitu muda,
tapi sudah bisa memikirkan siasat licik untuk menduduki Kota Wangzhou.
Dia memang durhaka, sangat durhaka!
Bagaimana bisa orang sepertimu melahirkan putra berbakat seperti Li Ni?
- Bawa dia pergi. - Baik.
(Kediaman Guo)
Kita mendapat keuntungan dengan menduduki Kota Wangzhou kali ini.
Namun, pasukan Guo Zhi tidak berkurang sama sekali.
Selain itu, Kota Bingzhou dan Jianzhou juga masih berada di tangan Han Li.
Takutnya Sun Jing akan mengutus Han Li untuk mengirim pasukan
dan mengepung kita bersama dengan Guo Zhi.
Kalau begitu, kita akan merebut Kota Wangzhou dulu,
lalu menargetkan Kota Bingzhou.
Coba kau tebak,
apa yang sedang dilakukan oleh anggota Keluarga Cui saat ini?
Keluarga Cui?
Kita memperoleh keuntungan besar
berupa Kota Wangzhou di bawah pengawasan mereka.
Putra tunggal Cui Yi yang memimpin pasukan secara langsung,
serta memobilisasi banyak pasukan, tapi malah kembali dengan sia-sia.
Dia pasti akan murka.
Maksudmu...
Pasukan Guo Zhi bertahan sendirian di luar kota.
Tidak ada kota untuk ditempati dan tidak ada makanan untuk dimakan.
Jika aku adalah anggota Keluarga Cui, aku pasti akan mengutus seseorang
untuk menegosiasikan perdamaian ke markas pasukan Guo Zhi,
lalu bergabung dengannya untuk mengepung dan merebut Kota Wangzhou,
kemudian mengeluarkanku dari sini.
(Cui Lin) Aku tidak mengizinkanmu pergi.
(Panglima Muda Pasukan Keluarga Cui) Aku tidak mengizinkanmu pergi.
Tuan Muda,
saat kedua pasukan berperang, utusannya tidak boleh dibunuh.
Aku akan pergi sebagai Utusan Pemimpin Pasukan Keluarga Cui.
Guo Zhi tidak akan melakukan apa pun terhadapku.
Ying, aku tidak ingin kau terlibat dalam bahaya lagi.
Tuan Muda, coba kau tebak,
apa yang sedang dilakukan oleh Pasukan Perbatasan Barat saat ini?
Jika aku adalah Pasukan Perbatasan Barat,
setelah tahu bahwa Pasukan Keluarga Cui yang merebut pasokan pangan,
sekarang juga mengetahui bahwa Guo Zhi bertahan sendirian di luar kota
tanpa makanan yang bisa dimakan dan kota untuk ditempati,
aku pasti akan pergi ke markas pasukan Guo Zhi
untuk menegosiasikan perdamaian dan memberikan keuntungan kepadanya.
Setelah itu, aku akan mengajaknya
mengepung Pasukan Keluarga Cui dan merebut kembali pasokan pangan.
Kalau begitu, kita akan mendahului mereka.
Tidak.
Mereka pasti akan mengelabui kita dan mengambil tindakan lain.
Aku akan keluar kota untuk bernegosiasi dengan Guo Zhi.
Begitu aku tiba di markas pasukan Guo Zhi,
Keluarga Cui pasti akan mempertimbangkan,
apakah menjadi musuhku atau bekerja sama denganku
untuk menyingkirkan Guo Zhi dulu yang lebih menguntungkan.
Bagaimana kau bisa tahu bahwa Keluarga Cui
akan mengutus seseorang untuk bernegosiasi dengan Guo Zhi?
Sejak perang dimulai,
Cui Yi sudah sangat berambisi untuk mengirim pasukannya ke selatan.
Dapat dilihat dia adalah orang cerdik yang tidak akan melewatkan kesempatan.
Jadi, bagaimana mungkin dia akan merelakan keuntungan besar ini?
Aku berencana untuk mengelabui mereka dan mengambil tindakan lain.
Setelah aku tiba di markas pasukan Guo Zhi,
Pasukan Perbatasan Barat mungkin juga akan mengutus sosok penting.
Menurutku, kemungkinan besar Pei Yuan sendiri yang akan ke sana.
Setelah meminjam wilayah kekuasaan Guo Zhi,
aku akan membahasnya langsung dengan utusan Pasukan Perbatasan Barat.
Namun, sesuai yang kau katakan, bukankah sulit untuk menghadapi mereka?
Itu sebabnya, aku perlu meminjam wilayah kekuasaan Guo Zhi.
Untuk menunjukkan ketulusan,
mereka pasti hanya membawa pengawal pribadi.
Pada saat itu, dengan kepungan dari pasukan Guo Zhi,
walaupun dia merencanakan sesuatu, pasti akan sulit untuk melakukannya.
Namun, menurutku ini terlalu bahaya.
Kau saja yang menjaga kota.
Aku akan keluar kota untuk bernegosiasi dengan Guo Zhi.
Tentu saja Jenderal Muda Pei yang akan pergi ke sana.
Sementara itu,
aku akan tinggal di kediaman dan menulis sepucuk surat,
lalu membubuhkannya dengan cap Panglima Perdamaian
untuk menunjukkan ketulusan kita.
Kau berencana untuk mengukirnya lagi dengan lobakmu itu, ya?
Lagi pula, Guo Zhi dan Keluarga Cui tidak pernah melihat
cap panglimaku.
(Markas Pasukan Guo Zhi)
Ternyata Komandan He dari Pasukan Keluarga Cui.
Ini adalah pertemuan pertama kita. Salam kenal.
Ternyata Jenderal Muda Pei dari Pasukan Perbatasan Barat.
Ayahmu, Jenderal Pei, sudah menjaga perbatasan selama bertahun-tahun.
Reputasinya sangat luar biasa. Aku sudah mengaguminya sejak lama.
Kalian adalah anak muda yang berbakat. Aku benar-benar terkejut hari ini.
Jenderal Muda Pei datang secara pribadi untuk menegosiasikan perdamaian,
sementara Tuan Muda Cui juga mengutus Komandan He untuk melakukan itu.
Aku sangat tersanjung sekaligus merasa cemas.
Aku takut akan mengecewakan niat baik dari Jenderal Muda Pei,
juga takut akan menyinggung Tuan Muda Cui.
Ini benar-benar situasi yang sulit bagiku.
Jenderal Guo sudah berpikir terlalu banyak.
Jenderal Guo terlalu sungkan.
Begini saja.
Masing-masing dari pihak kita mengutus seseorang
untuk berpacu kuda.
Jika pihakku yang menang,
harap kalian bisa menyetujui satu syaratku.
Jika salah satu dari kalian yang menang, aku akan bernegosiasi dengannya dulu.
Bagaimana menurut kalian?
Ini sangat adil.
Berhubung Tuan Muda Pei sangat murah hati,
aku tentu tidak punya alasan untuk menolak.
Baiklah. Kalian sama-sama orang yang lugas.
Silakan.
Jenderal.
- Lakukan yang terbaik. - Baik.
Chang'er, berhati-hatilah.
Baik.
Kudamu ini bagus.
Kudamu itu juga bagus.
Jenderal Muda Pei terlalu memujiku.
Kalau begitu, menurut Jenderal Muda Pei, siapa yang akan menjadi pemenangnya?
Pertandingan belum dimulai,
jadi belum tahu siapa yang akan menang.
Apakah Jenderal Muda Pei pernah bertemu dengan Komandan He sebelumnya?
Belum pernah.
Kala itu, ayahmu pernah terluka parah di Perbatasan Huya.
Setelah itu, luka lamanya akan kambuh setiap kali turun hujan.
Rasa sakitnya sulit ditahan.
Apakah keadaannya sudah membaik dalam beberapa tahun terakhir?
Terima kasih atas perhatian Jenderal.
Ada banyak luka lama yang diderita oleh ayahku.
Luka panah di bawah tulang rusuknya adalah yang paling parah.
Walaupun ayahku selalu berada di markas militer selama ini,
keadaannya sudah jauh membaik setelah dirawat dengan cermat.
Baguslah kalau begitu.
Tidak ada batasan senjata.
Cukup bertindak sewajarnya dan jangan sampai merenggut nyawa.
Setelah merebut bendera,
orang yang memasukkan bendera ke dalam lubang ini terlebih dahulu
adalah pemenangnya.
Mulai!
Pengawal pribadi Komandan He memang hebat.
Tampaknya Komandan He yang akan menang di babak ini.
Bukan, dia adalah pengawal pribadi Tuan Muda Cui.
Tuan Muda mengutusku untuk menangani masalah ini
dan sengaja menyuruhnya untuk membantuku.
Lagi pula, babak terakhir belum dimulai. Menang atau kalah masih belum pasti.
Saudaraku.
Sadarlah, Saudaraku.
- Sadarlah. - Sadarlah.
- Saudaraku. - Saudaraku.
- Saudaraku. - Kawanku.
- Saudaraku. - Saudaraku.
- Saudaraku. - Kawanku.
Saudaraku.
Aku yang membuat kesalahan.
Prajurit hebat itu pasti mampu menghindari panah tadi.
Hasrat menangnya terlalu besar sehingga dia tidak pernah menghindar.
Kesetiaan dan keberanian orang itu membuat kami kagum.
Jenderal sudah menang sekarang.
Berdasarkan kesepakatan sebelumnya, aku dan utusan Pasukan Keluarga Cui
akan menyetujui satu syarat dari Jenderal.
Mohon Jenderal menyampaikan syaratnya.
Ini sudah larut. Kami juga perlu mengebumikan kawan kami.
Aku merasa sangat sedih sekarang.
Aku harap kalian bisa tinggal di markas dulu malam ini.
Besok, kita akan membahasnya lagi.
Baiklah, Jenderal.
Turut berduka cita, Jenderal.
Jenderal,
kita memang kehilangan seorang prajurit hari ini,
tapi pada akhirnya kita menang.
Menurut Jenderal,
apa syarat yang harus kita ajukan kepada mereka besok?
Pei Yuan menolong Komandan He dalam situasi genting.
Terlihat jelas bahwa mereka tidak memiliki dendam sebesar itu.
Jika mereka memiliki rencana lain,
takutnya syarat yang mereka setujui hanya akan menjadi jebakan.
Hari ini, aku harus membunuh mereka.
Di hadapan Panglima Militer, karena sudah membunuh kedua orang itu,
sekalipun kehilangan kota dan pangan, kita masih bisa memberikan penjelasan.
Maksud Jenderal adalah...
Bukankah Tabib Militer Fan membuat banyak kue spesial sebelumnya?
Siapkan dua porsi, lalu carilah dua orang cerdik
untuk memberikan masing-masing seporsi untuk mereka.
Orang itu benar-benar prajurit setia dan pemberani yang langka.
Pantas saja Jenderal Guo sangat menghargainya,
bahkan mengadakan pemakaman untuknya secara pribadi.
Saat ini, Pasukan Keluarga Cui pasti sangat menyesalinya.
Gara-gara kesalahan mereka,
Jenderal Guo kehilangan seorang rekannya.
Saat menegosiasikan perdamaian besok,
mereka akan kehilangan situasi yang menguntungkan.
Tentu saja tidak.
Mereka memang bukan datang untuk bernegosiasi dengan Guo Zhi.
Komandan He itu selalu licik.
Dia pasti tidak akan menerima kerugian.
Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Tentu saja pergi menemui Komandan He.
Gawat.
Pada tengah malam seperti ini, apakah Jenderal Muda Pei
merasa terlalu nyaman saat mandi di dalam sumur sebelumnya,
jadi sengaja datang untuk menemuiku?
Kebaikanmu itu tidak akan kulupakan selamanya.
Aku akan selalu mengingat kebaikan Nona.
Jangan kira aku tidak tahu.
Kau selalu ingin menendangku ke dalam sumur itu
untuk membalas dendam, 'kan?
Tidak masalah, aku akan menunggunya.
Ini kuambil karena memang milikku. Terima kasih, ya.
Kau ini, kenapa begitu tidak sopan?
Kau juga merebut mutiaraku. Kenapa kau juga tidak mengembalikannya?
Kau merebut barangku,
tapi aku mendapatkannya kembali dengan kemampuanku.
Aku memang mengambil barangmu,
tapi kau juga boleh mengambilnya kembali dengan kemampuanmu.
Komandan He.
Ada apa malam-malam begini?
Komandan He, Jenderal Guo berkata,
seharusnya diadakan perjamuan untuk menjamu kalian malam ini,
tapi malah tertunda karena satu dan lain hal.
Markas kami sangat sederhana,
jadi tidak dapat menjamu kalian dengan baik.
Jenderal secara khusus memintaku mengantar kue ini untuk Komandan He.
Terima kasih atas jamuan Jenderal Guo Zhi.
Gawat.
Gadis kecil sepertimu
bukannya menyulam di kamar, tapi malah ikut campur dalam militer.
Bukan hanya itu, kau bahkan terus menargetkanku.
Menurutmu,
sebaiknya aku menggendongmu sekarang dan melemparmu ke dalam sumur
atau membuatmu merasakan kehebatan dari busur ini?
Kau ingin berbicara?
Kalau begitu, katakan saja.
Kau tidak bisa bicara karena ada kenari di mulutmu, 'kan?
Aku bisa saja membiarkanmu bicara, tapi kita harus sepakat dulu.
Jika kau berteriak saat aku mengeluarkan kenari dari mulutmu,
aku akan membuatmu
merasakan kehebatan dari busur Keluarga Cui milikmu.
Bisa-bisanya ada senjata dalam mulutmu.
Di permukaan jarum ini ada racun, 'kan?
Jika kau berbohong lagi, aku akan menusukmu dengan jarum.
Jarumnya banyak sekali.
Barang sebagus ini untukku, ya?
Apa yang kau lihat? Kau merasa kesal, ya?
Jangan sampai kutusuk.
Tunggu saja pembalasanku.
Masing-masing dari kalian pimpin satu pasukan kecil.
Utus seseorang dulu untuk mencari tahu keadaan mereka yang sebenarnya.
Akan lebih baik jika mereka sudah memakan kuenya
dan tidak sadarkan diri sekarang.
Jika mereka belum keracunan, langsung serang saja.
- Baik! - Baik!
Ada 18 kelok di Sungai Laolan.
Tampaknya Jenderal Muda Pei datang ke markas pasukan Guo Zhi
bukan secara tulus ingin bernegosiasi dengan Guo Zhi,
melainkan ada maksud terselubung.
Kalau begitu, kenapa kau tidak berkata sejujurnya saja?
Komandan He memang orang yang cerdas.
Namun, kau ini siapanya Keluarga Cui? Apakah omonganmu dapat dipercaya?
Apa pun yang bisa diputuskan oleh Jenderal Muda Pei,
bisa diputuskan juga olehku.
Kau cukup percaya diri.
Apakah kau bisa menggantikan Tuan Muda Cui
untuk mengambil keputusan dalam urusan Keluarga Cui?
Tentu.
Kebakaran!
Kebakaran!
Gawat, kebakaran!
- Kebakaran! - Cepat!
Lepaskan aku dulu.
- Apa rencanamu sejak awal? - Bagaimana denganmu?
- Kau benar-benar licik, ya. - Kau juga sama saja.
- Apa yang kau lakukan? - Tendang!
Gawat!
Pasukan Perbatasan Barat menyerang markas!
Cepat!
- Cepat, gawat! - Gawat!
Markas diserang!
Pasukan Perbatasan Barat menyerang markas!
Markas diserang!
Pasukan Perbatasan Barat menyerang markas!
Pasukan Perbatasan Barat menyerang markas?
Siapa yang memfitnah kami dalam hal ini?
Ambil air lagi!
Cepat padamkan apinya!
Terima kasih.
Bagaimana kau tahu aku bisa membunuh mereka?
Kau adalah orang yang sangat licik.
Bagaimana mungkin di tubuhmu tidak terdapat
banyak senjata pembunuh?
Ada 18 kelok di Sungai Laolan.
Tampaknya kau sangat bahagia saat menyulut api.
Kau juga sangat bahagia saat melepaskan anak panah.
Kalau begitu, aku tidak mengganggumu.
Silakan lanjutkan urusanmu.
Silakan lanjutkan.
Sebenarnya apa rencanamu?
Aku tidak memiliki rencana. Aku akan mengikutimu.
Jangan-jangan kau bahkan tidak mempersiapkan kuda?
Kukira kau sudah menyiapkannya.
Kenapa kau begitu tidak tahu malu?
Kau baru tahu hari ini, ya? Sudah terlambat.
Ayo, pergi!
Hati-hati, panah api datang lagi!
Hati-hati.
Cepat!
Dia saudaraku.
Segera kembali sekarang dan beri tahu Pei Yuan
bahwa terjadi perubahan.
Pastikan dia menghindari Guo Zhi dan Pasukan Keluarga Cui.
Kita akan diam-diam menyerang Kota Wangzhou di tengah kekacauan.
Jika kita gagal menyerang Kota Wangzhou,
lalu Kota Bingzhou mengerahkan pasukannya untuk menyerang lagi,
kita tidak akan bisa berkutik.
Shiqi, bagaimana denganmu?
Pangannya ada di tangan mereka. Aku akan pergi mencarinya.
Cepat.
Sudah kuduga kau akan terjebak.
(Pasti menang)
Tadi, kau bilang kau kembali untuk menyampaikan perintah Komandan?
Benar.
Aku sudah lalai.
Aku terus bersembunyi dari pengejaran pasukan pencari.
Setelah membebaskan diri, aku baru bergegas kembali ke markas.
Komandan bilang akan langsung kembali setelah lolos dari pengejaran.
Mohon Tuan Muda pimpin pasukan
untuk menyerang Kota Wangzhou sesuai rencana awal.
Sampaikan perintahku, berkemaslah
dan kerahkan seluruh tenaga pasukan untuk mencari Komandan He.
Tuan Muda, Komandan sudah berkata
bahwa kondisi Kota Wangzhou saat ini tidak stabil.
Mereka sedang tidak memiliki pemimpin, jadi ini adalah kesempatan bagus.
Bagaimana kalau Tuan Muda memimpin pasukan
untuk menyerang Kota Wangzhou sesuai rencana awal?
Jika kesempatan menjadi tertunda karena menyerang Kota Wangzhou
dan terjadi sesuatu dengan Komandan, aku hanya bisa menyesalinya.
Tuan Muda,
Komandan pasti memiliki keyakinan dengan mengaturnya seperti ini.
Dia pasti baik-baik saja.
Shu, kau tidak perlu membujukku lagi.
(Perintah) Sampaikan perintahku, segera berkemas!
Baik.
Jangan terburu-buru, makanlah pelan-pelan saja.
Tidak apa-apa, Jenderal Muda Pei. Aku sudah kenyang.
Shiqi berkali-kali menekankan
agar kau berhati-hati dengan Pasukan Keluarga Cui dan Guo Zhi,
lalu menyerang Kota Wangzhou di tengah kekacauan.
Kalau begitu, aku pergi keluar kota dulu untuk membantu Shiqi.
Baik. Saat kau bertemu dengan Shiqi, suruh dia jangan khawatir.
Aku pasti akan mencari cara untuk mempertahankan Kota Wangzhou.
Baik.
Bukankah kau mengejar ke arah sana?
Aku ini selalu memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukanku.
Berengsek!
Saat terakhir kali kau menendangku ke dalam sumur, aku tidak memakimu.
Tolong!
Cukup, Penipu Kecil.
Apakah kau lupa saat pertama kali kita bertemu adalah di dalam air?
Aku mengingat jelas bahwa kemampuan renangmu sangat bagus.
Kakiku kram! Tolong!
Orang sepertimu memang seharusnya menerima sedikit pelajaran.
Tolong!
Penipu Kecil.
Jika kau tidak keluar, aku akan membawa kudamu pergi.
Aku benar-benar pergi, ya!
Sadarlah.
Kau menyebutku "Penipu Kecil" dan menendangku ke dalam sungai.
Kalau hari ini aku tidak membuatmu berendam di air sungai yang dingin itu,
sia-sia kau sudah menyebutku "Penipu Kecil".
Sudahlah.
Berhubung kau sudah terjun ke sungai untuk menolongku,
aku akan menolongmu sekali lagi
agar para pasukan pencari tidak membunuhmu saat datang kemari.
Bai, cepat lari!
Bai, cepat pergi!
Pulanglah dan cari seseorang untuk menolongku.
Lapar sekali.
Aku juga tidak membawa makanan kering. Rencanaku sungguh gagal total.
Apakah kau ingin makan daging kelinci?
- Ternyata kau. - Iya, ini aku.
Obat bius di jarummu sangat hebat, membuatku tertidur sampai malam.
Ketika bangun, aku mendapati kudamu tidak ada
dan kau juga sudah menghilang.
Aku berjuang keras menempuh perjalanan
selama empat jam lebih untuk bisa sampai di sini.
Tidak disangka, takdir malah mempertemukan kita di sini.
Sudah kuduga, hanya orang jahat seperti dirimu
yang bisa membuat perangkap seperti ini.
Jahat sekali kau menuduhku.
Jelas-jelas ini adalah lubang perangkap yang digunakan oleh pemburu beruang.
Lihatlah, lubang ini sangat dalam, pasti dibuat dalam waktu yang lama.
Tadi, kau juga melihat lebah, 'kan?
Memangnya kenapa kalau aku melihatnya?
Itu baru benar, ada banyak beruang di gunung ini.
Kulit, empedu, dan telapak kaki beruang adalah barang langka.
Itu bisa dijual dengan harga tinggi, tapi beruang sangat sulit diburu.
Beruang suka makan madu gunung,
jadi pemburu biasanya akan memilih lokasi yang memiliki sarang lebah
untuk membuat perangkap seperti ini.
Hanya saja, pemburu pasti tidak akan menyangka,
bukannya beruang yang terperangkap,
tapi malah Penipu Kecil yang jatuh ke dalam lubang.
Enak sekali.
Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?
Aku akan mentraktirmu daging kelinci,
tapi kau harus mengembalikan bahan pangan prajurit kepadaku.
Apa maksud dari mengembalikan bahan pangan prajurit kepadamu?
Jelas-jelas itu adalah bahan pangan prajurit
yang kudapatkan dengan strategiku.
Enak sekali.
Sangat enak.
Apa kau tidak tertarik dengan kesepakatan ini?
Jumlah paha kelinci ada empat.
Kau tidak mungkin membiarkanku memakan keempatnya, 'kan?
Komandan He, kau belum makan seharian.
Apakah kau tahu betapa nikmatnya minyak daging
ketika aku memanggang kelinci ini tadi?
Biar kuberi tahu,
jika kau segera mengembalikan bahan pangan prajurit kepadaku,
aku akan mentraktirmu daging kelinci.
Baiklah.
Berhubung ingin bersepakat, kau harus menunjukkan ketulusanmu.
Kau bantu aku naik dulu.
Setelah itu, aku akan membagikan separuh bahan pangan prajurit kepadamu.
Namun, separuh bahan pangan prajurit itu baru bisa kuberikan kepadamu
setelah kau mengawalku kembali ke Markas Besar Pasukan Keluarga Cui.
Dasar Penipu Kecil.
Apakah kau menganggapku orang bodoh?
Katakan, masih ada berapa peluru bambu dan jarum beracun di tubuhmu?
Kenapa? Kau takut?
Kalau begitu, kau tidak perlu menolongku.
Pergilah. Biarkan aku mati sendirian di sini.
Jangan harap bisa mendapat bahan pangan prajurit.
Nantinya, setelah Tuan Muda Cui mengetahui berita kematianku,
dia pasti akan murka.
Dia pasti akan membalas dendamku.
Baiklah.
Kalau begitu, aku akan turun menemanimu saja.
Apakah kau sudah gila?
Jika hanya aku di dalam sini, kau masih bisa menolongku.
Sekarang, kau juga malah turun, lalu bagaimana kita berdua bisa naik?
Berkat kau, aku pernah masuk ke sumur dan sungai.
Kita berdua sungguh berjodoh.
Kau bahkan sudah jatuh ke lubang perangkap.
Mana mungkin aku tidak turun untuk sehidup semati bersamamu?
Dasar genit.
Hari ini, kau sudah memakiku dua kali. Aku adalah orang yang sangat pendendam.
Sebenarnya aku ingin memberimu dua paha kelinci.
Namun, aku akan mengurangi satu potong setiap kali kau memakiku.
Hari ini, kau sudah memakiku dua kali.
Jadi, kau tidak akan mendapat satu pun paha kelinci.
Kau hanya bisa melihatku makan.
Enak sekali.
Aku ini orang yang tahu berbalas budi. Meski kau menusukku dengan jarum bius,
sebelum pergi, kau berbaik hati menumpuk rumput di atas tubuhku.
Ini dua hal yang berbeda.
Cepatlah.
Bagaimana hasil pangganganku?
Kau memanggangnya dengan lumayan baik.
Bisakah kau memberitahuku dengan jujur bagaimana cara kita berdua bisa naik?
Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku punya cara untuk naik?
Meski aku belum lama mengenalmu,
mana mungkin orang jahat sepertimu melakukan hal yang tidak ada solusinya?
Berhubung bisa turun, kau pasti mempunyai cara untuk naik.
Penilaianmu terhadapku ternyata cukup tinggi.
Berhubung kau sudah mengatakannya, aku akan memberitahumu dengan jujur.
Malam ini, aku tidak berencana untuk naik.
Apa?
Langit sudah gelap sekali.
Di hutan gunung belantara ini,
siapa yang tahu ada binatang buas apa lagi selain beruang?
Jika harimau, macan tutul, atau lainnya tiba-tiba muncul,
kita pasti akan mati.
Aku tahu di tubuhmu ada bubuk obat sehingga semut api tidak akan mendekat,
tapi binatang-binatang buas itu tidak takut dengan bubuk obatmu.
Jadi, dengarkan perkataanku, kita tidur dulu semalam di sini.
Besok pagi, aku akan mengantarmu ke Markas Besar Pasukan Keluarga Cui
untuk mendapatkan bahan pangan prajurit sebagai gantinya.
Sungguh trik yang memalukan,
tapi kau malah mengatakannya dengan begitu percaya diri.
Bukannya kita berdua sama saja?
Ada orang datang.
Kau sendiri yang mengatakan
binatang buas berkeliaran di hutan gunung belantara.
Mana mungkin ada orang?
- Cepat! - Ada.
Cepat, pasti ada barang berharga.
- Tentu saja. - Ayo, cepat!
Pasti ada barang berharga.
Dengarkan aku. Terangi lubangnya, biar kulihat.
- Ada apa? - Mari kulihat.
- Tidak jelas. - Tidak mungkin.
Ini... Kenapa ada manusia?
- Ada dua orang. - Dua orang.
♪Jika melupakan api cinta yang pernah ada♪
♪Ingatan akan hancur dan tenggelam♪
♪Hatimu yang penuh warna♪
♪Membuatku sulit melupakan hubungan kita♪
♪Jika kerinduan tidak pernah ditinggalkan♪
♪Berharap kembali ke saat pertama berjumpa♪
♪Kehangatan yang ditakdirkan ingin aku tinggalkan untukmu♪
♪Jika cinta dapat mengingat kita pernah berjanji♪
♪Meskipun cinta ini menyakitiku, aku tetap akan hidup untukmu♪
♪Mengulur batas ingatan, penantian adalah kekerasan hatiku♪
♪Jika cinta dapat mengingat janji kita♪
♪Membalikkan karma, tidak menyesal pernah mencintaimu♪
♪Aku rela memberikan hatiku dan menunggu jawabanmu♪
♪Jika cinta dapat mengingat janji kita♪
♪Membalikkan karma, tidak menyesal pernah mencintaimu♪
♪Aku rela memberikan hatiku dan menunggu jawabanmu♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.