Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
FILM INI DIFILMKAN DI TEMPAT SEBENARNYA
DIMANA KEHIDUPAN EREN B?LB?L
DAN GENDARMERIE STAFNYA SERSAN FERHAT GED?K
JALAN BERSILANG SATU DENGAN LAINNYA
JEPANG, TOKYO 2017
Semoga harimu menyenangkan.
Ibu Yoko yang terhormat...
Terima kasih banyak.
Aku mengirimkan surat ini melalui Kedutaan Besar Jepang di Ankara.
Kau mengunjungi negara kami tujuh tahun lalu.
Saat kau menjelajahi dataran tinggi yang hijau
dan pegunungan Karadeniz yang berawan
kau bertemu dengan seorang anak kecil.
Dia berumur sembilan tahun
seorang anak laki-laki yang masih sangat kecil.
Rambutnya pirang keemasan dan ikal.
Dan matanya berwarna biru laut, penuh kedamaian.
Beban hidup yang berat ada di pundaknya
dan dia mengenakan seragam tim favoritnya.
Dia melihat kameramu dengan bangga.
Dan kau
mengambil fotonya.
"Apa yang kau cari akan mencarimu." Rumi
15 TAHUN YANG LALU
TRABZON, MA?KA 1 JANUARI 2002
Ayahmu tidak bisa menemukan kendaraan.
Dorong, Ay?e, ayo, ayo, biar kulihat.
Dorong, ya, dorong.
Di mana Hasan? Tidak bisakah dia menemukan sesuatu?
Bang Hasan menemukan mobil tapi tidak bisa datang karena salju.
Hasan di sini dengan mobilnya.
Jangan sampai terpeleset.
Jangan sampai terpeleset.
Ay?e!
Hasan ada di sini. Tenang, tidak apa-apa.
Jangan sampai terpeleset, nona-nona. Ayo.
Lihat langkahmu.
Ayolah, Ay?e sayangku, ayolah.
Tidak apa-apa.
WILAAH TIMUR PADA WAKTU YANG SAMA
A L I H B A H A S A K U D A L U M P I N G
LAYANAN DARURAT
Kau bisa membantu kami?
Ayolah, Ay?e-ku, ayolah.
- Ayolah sayang. - Kau bisa menunggu di luar.
Hati-hati! Apa yang kau lakukan?
Baiklah, anak-anakku, kami punya kabar baik.
Kalian bersebelas sekarang, jadi tim sepak bola yang lengkap.
- Hah? - Bu, kau menutupinya.
- Aku tidak bisa melihat wajahnya. - Di luar dingin.
Kau mau dia masuk angin?
- Oh, lihat betapa tampannya dia. - Siapa namanya?
Eren.
Eren.
- ?a?lar? - Dia seharusnya mengetahui timnya.
Saudaramu memberikan itu.
Ayo, ayo, Nak.
2 TAHUN KEMUDIAN ANKARA
Aku akan datang juga, Ferhat.
- Ke mana? - Ke ?ukurca.
Tuliskan. Kepada Hakkari. Cemile Gedik. Kau mau ID-ku?
- Maksudmu berkunjung? Apa maksudmu? - Tidak sayang.
Aku akan mengemas semua barang kita, pindah ke sana. Kenapa kau terkejut?
Aku tidak bisa tinggal di sini, di Ankara, saat kau ada di sana.
Apa yang akan kulakukan jika sesuatu terjadi padamu?
Sayang, itu tempat di mana kau tidak membawa keluargamu.
Aku tidak bisa membawamu.
Kenapa? Kau tidak punya perumahan militer?
Tidak. Aku akan tinggal di asrama di kantor pusat.
Baiklah kalau begitu. Kita bisa menyewa flat dengan satu kamar tidur atau semacamnya.
Kita bisa tinggal di sana. Itu hanya untuk dua tahun, kan?
Sersan Gendarmerie Yusuf Atay dari Zile.
Selamat datang, Pak.
Terima kasih Yusuf. Terima kasih banyak.
Ayo, ayo sayang. Lihat, ayah ada di sana.
Ayo, kita turun ke bawah. Ayo sekarang.
GENDARMERIE 156
- Tidak muat, Pak. - Apa yang tidak muat?
Silakan lihat, jika kau mau.
- Ayo. - Ya ampun... Kok bisa?
Dengar, kuberitahu, yang ini harus lewat.
- Bagaimana kita akan mengatasinya? - Jadi apa yang kita lakukan sekarang?
Jika lebarnya hanya dua sentimeter, bisa lewat, aku akan menyelesaikannya.
Jadi kita robohkan tembok itu, maksudmu?
Berikan saja benda itu, aku akan menanganinya. Ini akan cocok.
Sebentar.
Tidak, ini bukan pintunya.
Pintu masuknya sempit. Itu sebabnya kita tidak bisa mengambil barang-barang itu.
Ya.
Jika itu masalahnya, aku akan melepas pintunya, kenapa mengganggumu?
Setengah dari barang-barang kita ada di luar.
Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita akan mencari rumah baru, kurasa.
Baiklah, aku akan datang besok. Kami akan menyelesaikan akunnya.
Seperti yang kau katakan, kita akan mencari tempat lain, apa lagi?
Kita hampir tidak menemukan tempat ini, Cemile, di mana kita lagi bisa menemukan rumah sekarang?
Ya, tidak apa-apa.
Kita bisa menyimpannya atau apalah, oke?
Lalu kita bisa menemukan tempat baru yang bagus dan bersih, jangan khawatir.
Kau tahu tempat penyimpanan yang aman di ?ukurca?
Ferhat, ayolah, hentikan, demi Tuhan.
Bunker batu bara atau semacamnya, aku bisa tanya pada tetangga besok.
Tidak. Itu tidak cocok. Aku tidak bisa menaruh barang-barang kita
di bunker orang.
Aku bisa tanya ke kantor polisi.
Kita bisa membawa ke sana siapa tahu mereka punya bunker.
Ya, maksudku begitu. Berikan piringnya.
Terkadang kau sangat keras kepala.
Kau mau memakan lahmacun ini?
Jadi kita tunawisma, ya?
Ayolah, anak-anak. Ke dataran tinggi. Saatnya bergerak.
?a?lar, ambil kualinya.
Zeynep, buka pintunya, sayang.
Akhirnya kita pergi, teman-teman.
- Ayo sekarang. - Emrah, kau membersihkan tanganmu?
Ayo.
Ayo teman-teman, cepatlah.
Ayolah, Eren.
Kami sudah menemukan 5 sejauh ini, Pak.
- Aku mau koordinat ini. - Ya, Pak.
- Dan yang ini juga. - Ya, Pak.
- Berapa banyak yang diambil? - 23.
Tadi malam?
Kebanyakan remaja berusia sekitar 15-18 tahun.
Jadi mereka semua anak-anak.
Dan sulit untuk menentukan jumlah pastinya.
R?za Kocaba?er.
Laki-laki ini dikabarkan melakukan kontak erat
dengan organisasi teroris di desa itu.
Dia mengatur kepergian ke pegunungan.
Anak sulungnya ada di gunung. Dan sekarang sudah terkonfirmasi
anak bungsunya juga termasuk dalam kelompok yang diambil tadi malam.
Dia mengirim anak-anaknya sendiri ke sana?
- Kalian semua tetap di sini? - Pak?
Baiklah nak, tidak apa-apa.
- Assalammualaikum. - Waalaikumsalam.
Boleh aku duduk?
Duduklah di sana.
Aku tahu kau mengenalku dengan baik.
Itu sebabnya aku akan langsung saja.
Aku mau tahu tentang sesuatu.
Itu sebabnya aku di sini.
Jika kau bisa meyakinkanku...
Aku bersumpah, aku akan melepaskanmu.
Kau tidak akan pernah melihatku lagi.
Aku juga seorang ayah, Pak R?za.
Bagaimana bisa
seorang ayah
mengirimkan anaknya sendiri
darahnya sendiri sampai mati?
Apa yang kau bicarakan, komandan? Aku tidak mengerti.
Aku tidak
yakin.
Sampai jumpa semuanya.
Sepotong untuk semua orang. Jangan ambil lebih banyak.
Jangan rebutan!
Aku tidak dapat.
- Siapa yang makan lebih banyak? - Abang.
Bukan aku.
Eren, kemari.
Kau tidak dapat juga, Zeynep?
Duduk.
Buka telapak tanganmu, buka telapak tanganmu.
Hah.
Sekarang ke mulutmu, ke mulutmu, ya.
Jangan langsung ditelan, dikunyah hingga halus, dikunyah ya.
Seperti itu.
Sekarang tempelkan jarimu ke remah-remah itu.
Sama seperti anak ayam ya.
Ayolah, anak-anakku.
Bagus sekali, Nak.
Tetap di kendaraan.
- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Kawan, tolong teh untuk semuanya.
- Tentu saja, jika kau mengizinkanku. - Tentu. Tentu saja.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Beberapa dari kalian mungkin belum melihatku kemarin.
Aku Sersan Staf Gendarmerie Ferhat Gedik.
- Selamat datang. - Terima kasih, saudara.
Siapa namamu? -Soner.
- Soner. Senang berkenalan denganmu. - Aku juga.
- Bagaimana denganmu, kawan? - Nadir Solmaz.
Sempurna. Senang berkenalan denganmu.
- Terima kasih saudara. - Sama-sama, kawan.
Aku...
minum teh yang sama denganmu
makan makanan yang sama denganmu
dan melewati jalan ini setiap hari. Aku Ferhat Gedik.
Aku dari Antakya.
Aku seorang anak desa.
Aku tahu banyak tentang pertanian.
Aku dibesarkan di pegunungan.
Itulah sebabnya
tolong, dengarkan saudaramu ini.
Mari kita tinggalkan kebencian ini.
Tidak ada cara lain untuk menghilangkan teror ini.
Kita tidak bisa menghilangkannya, itu tidak akan berakhir.
Baiklah, Soner, saudaraku.
Menurutmu kita akan menang
saat anakmu meninggal?
Aku menang?
Dan kau menang saat anakku meninggal?
Hah?
Kau menang?
Apa itu "kita" dan "kau"? Siapa yang mengemukakan itu?
Biar aku memberitahumu siapa yang mencetuskannya.
Siapa yang dapat uang
saat anak-anak kita meninggal, pikirkanlah itu.
Kumohon.
Jangan main-main dengan mereka lagi.
Aku tidak mengatakan sesuatu yang salah.
Aku mengatakan kita harus menjadi saudara, dan kita harus menjadi satu.
Jangan tertawa, itulah yang kukatakan.
Jangan membuat dan mengadakan pemakaman lagi, itulah yang kukatakan.
Biarkan bayi tersenyum
daripada orang tua menangis, itu yang kukatakan kawan.
Sayangku, kemari.
Ayo kita bermain di sisi lain sebentar. Hah. Ambil itu juga.
Ambillah itu, sayang. Ayo sekarang. Ayo. Cepat, cepat.
Ayo sayang. Ayo kita mainkan ini sebentar, oke?
Kau tetap di sini.
- Siapa itu? - Buka pintunya.
Ini aku, Havin.
- Havin? - Tinggallah bersama kami malam ini.
Kenapa?
Mereka ada di kota.
Tunggu, sebentar. Tunggu.
Duduklah, sayang.
Tadi malam saat kami sedang melakukan operasi
mereka berada di kota.
Istriku harus tinggal di rumah tetangga.
Kuharap tidak ada masalah ya Pak?
Tidak. Keluargaku baik-baik saja tapi...
Mereka membawa beberapa anak lagi.
Kau tahu bagaimana rasanya merindukan anakmu, Komandan?
Aku tidak melihatnya selama tiga tahun.
Angkat, angkat.
Ca?vin, kenapa kau tidak kembali?
Kembalilah, anakku, kembalilah.
Komandan berjanji padaku.
Kau tidak mengenalnya tapi jangan khawatir.
Dia laki-laki yang jujur dan baik.
Kembalilah, anakku, percayalah pada mereka.
Jangan khawatir. Dia akan melakukannya.
Komandan!
Casvin?
Casvin?
Teman-teman, berhati-hatilah.
Lanjutkan dengan langkah-langkah keamanan.
Saat kau pertama kali melakukan kontak dengan penyerahan
melakukan tindakan pengamanan untuk penyerahan diri.
Berhenti!
Ca?vin.
Anakku.
Ca?vin, anakku!
Tangan ke atas.
Berlututlah.
Ca?vin, kau ada di bawah perlindungan
Negara Republik T?rkiye dan hukumnya.
- Selamat datang kembali di negara kita. - Ca?vin!
- Tenang, tenang. - Ca?vin.
Pak Berzan, santai saja. Biarkan mereka menyelesaikan prosedurnya.
Pak Berzan. Tenang, tenang.
Sedikit sabar.
- Boleh aku pergi sekarang? - Tunggu. Baiklah, pergilah sekarang.
Oke teman-teman. Biarkan dia.
Amerika, membantu organisasi teror
berkedok perang melawan ISIS
mengirimkan senjata ke PKK cabang Suriah dengan truk.
Pemirsa yang terhormat, seorang anggota organisasi teror menyerah
dengan senjatanya ke pos perbatasan Ba?l?k di ?ukurca, Hakkari.
Jumlah orang yang mengundurkan diri dari organisasi teror
dengan metode penalaran 124.
Dengan bantuan pengakuan penyerahan, empat orang
sudah ditahan.
Berkasku sudah dikirim ke pengadilan sekarang.
Kenapa kau masih mengikutiku, Sersan Ferhat?
Aku punya kabar baik.
Anakmu.
Dia menyerah pagi ini.
Jelas sekali dia tidak sanggup melakukan ini. Aku tidak terkejut sama sekali.
Jika aku memberitahumu aku menangkap anakmu mati
kau akan merasa lebih baik?
Kau tahu apa yang membuatku sangat senang?
Kau tidak akan bisa melakukan ini pada empat anak lain yang kau miliki.
Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar.
Komandan Ferhat
kau berada di sini selama dua tahun, Sersan Ferhat.
Kau tidak mungkin menyebabkan kerugian sebanyak ini
jika kau menggunakan senjata setiap hari daripada bicara dengan orang lain.
Urus urusanmu sendiri. Jangan main-main denganku.
4 TAHUN KEMUDIAN TRABZON, MA?KA.
Berikan aku pensilnya sekarang. Aku juga punya PR.
Aku tidak bisa. Aku punya lebih banyak PR. Aku harus menyelesaikannya.
Berikan!
Aku tidak bisa. Kenapa kau tidak ambil punya adikku?
- Punyanya terlalu kecil. - Apa yang bisa kulakukan? Tunggu giliranmu.
- Lakukan bergiliran, anak-anak. - Kami menunggu tapi Eren tidak mau.
Dia tidak akan mau.
Ayah, pensilnya. Mereka tidak mengizinkanku mengerjakan PR-ku.
- Apa yang terjadi? - Aku akan memberikannya. Aku sudah bilang.
Kami sedang mengerjakan PR kami, tapi Eren tidak sabar.
- Aku akan memberikannya nanti. - Kami melakukan PR kami setelah dia menyelesaikan PR-nya.
- Apa yang bisa dia lakukan jika aku tidak memberikannya? - Kami juga punya PR yang harus diselesaikan, ayah.
- Aku harus menyelesaikan hari ini. - Eren terus meminta pensil.
Dan kami tidak bisa mengerjakan PR kami.
Lalu guru marah pada kami karena kami tidak menyelesaikannya.
Aku selalu mendapat nilai minus untuk PR-ku.
Aku benar-benar tidak tahu.
- Kau lihat apa yang kau lakukan? - Ayah marah karena kau.
- Assalamualaikum, Recep. - Waalaikumsalam.
Tolong beri aku lima pensil.
- Anakmu mampir kemarin. - Dan?
Dia beli dua buku catatan.
Gurunya pasti menyuruhnya.
Dia bilang kau akan membayarnya nanti.
- Berapa harganya? - Biar kuperiksa.
Barang-barang yang dibeli anakmu berharga 12 lira.
Tapi kau juga berhutang 64 lira dari pembelian sebelumnya.
Totalnya?
76 lira.
Ambil 5 lira ini sekarang, nanti kubayar sisanya.
Baiklah, sampai jumpa lagi.
Kau sudah menyelesaikan ujung pensil, aku tidak bisa menulis.
Apa yang bisa kulakukan? Pertajamlah.
Ada apa, teman-teman?
- Kami dibelikan. - Ya, baiklah.
Eren.
- Kita punya pensil baru. - Ayah!
- Bagus sekali. - Ini dia.
Tapi ini bukan hanya pensilmu, itu milik kalian semua, kan?
Berikan aku segelas teh juga.
- Ini, ambil ini juga. - Kita membutuhkan lebih banyak roti.
- Tunggu sebentar. - Sebentar, sebentar.
Ayo, cepat.
Ayo, cepat.
- Kau bersikeras menyimpannya. - Aku juga punya PR.
Aku akan mengembalikannya setelah aku menyelesaikan PR-ku.
- Aku akan melakukan itu. - Dia tidak mau gantian.
- Sialan. - Ayah akan marah.
- Pergi, temukan di mana kau menjatuhkannya. - Dasar ceroboh.
- Mustafa, berikan restumu. - Aku memberimu restuku.
Baiklah, permisi.
- Semoga baik-baik saja. Semoga perjalananmu menyenangkan. - Terima kasih.
Di mana kau ditugaskan, Komandan?
Ankara, Insya Allah.
- Terima kasih atas semuanya, Komandan. - Terima kasih juga, ?mer.
- Kami akan merindukanmu, Komandan. - Aku juga akan merindukanmu. Terima kasih.
- Kau yang terbaik. - Selamat tinggal.
- Saudara. - Semoga Allah menyelamatkanmu.
- Selamat tinggal. -Terima kasih.
Keju dan mentega.
- Kenapa kau repot-repot? - Allah memberkatimu, Ibrahim.
Sesungguhnya Allah memberkati Mulis.
Ayolah, Ibrahim. Tolong jangan sebutkan itu.
- Ayo sekarang. Bang? - Ya?
- Ayo lakukan sebelum mereka makin tua. - Ya.
Dan mohon terimalah keju, mentega, dan susu ini untuk...
- Eren, ayo, turun. - Aku tidak mau.
Apa maksudmu, "Aku tidak mau"?
Mereka datang ke sini secara sukarela untuk menyunatmu.
- Apa maksudmu, "Aku tidak mau?" - Aku tidak peduli.
- Biar aku naik dan mengambilnya. - Tidak, tidak, tidak, dia akan jatuh.
Anakku sayang.
Emrah akan memotongnya, kenapa tidak?
Aku akan memotongnya jika kau membelikanku seragam tentara.
Kita hampir tidak bisa makan, apa yang kau bicarakan?
Seragam prajurit!
Kau seperti ayam. Emrah sering melakukannya.
Aku tidak takut. Aku hanya mau seragam tentara.
Baiklah, Eren, sayang. Ayo turun sekarang, ya?
Karena kita di sini, sebaiknya kita selesaikan semuanya.
Aku tidak akan sunat kecuali kau membelikanku seragam tentara.
- Ay?e, ada apa? - Dia tidak mau turun dari pohon.
Dia tidak mau disunat, dia mau seragam tentara.
Pergi dan belilah kalau begitu.
M?rvet, kau tahu kita tidak mampu membelinya?
Pergi tanyakan langsung pada gendarmerie.
- Pak. - Komandan.
Baiklah, ayolah sekarang. Ayo kita selesaikan.
- Ya, ayolah sekarang. - Ayo.
- Kirve, ayo. - Baiklah kalau begitu.
Aku pergi, Eren. Ikuti aku setelah kau selesai.
Tolong satu lagi.
Terima kasih.
Kemari. Kau perlu bicara dengan seseorang.
Apa itu?
Tunggu sebentar. Di sini.
- Siapa kau? - Halo. Siapa kau sayang?
Eren Bulbul.
Eren, kau bisa memberitahuku di mana kau?
- Kami di sekitar Dataran Tinggi ?aml?d?z. - Eren. Tamu kita tersesat.
Kami bisa menemukan dataran tinggi tapi bagaimana kami bisa menemukanmu?
Aku bisa membawanya keluar.
Eren, anakku sayang, bawa dia ke ?ak?rtepe, oke?
Silakan ikuti anak itu.
Baiklah, mengerti. Terima kasih.
Ayo sekarang.
Tunggu sebentar. Aku akan membawanya.
Wah, berat sekali.
Ini untukku?
- Apa yang dia katakan? - Dia menulis alamatnya untukmu.
Jika kau pergi ke Jepang, dia mau kau mengunjunginya.
Kenapa aku harus pergi ke Jepang?
Bagus sekali, Nak.
MA?KA TOUR
KHUNJERAB PERBATASAN AFGHANISTAN
- Sersan Ferhat ada di sini, Pak. - Biarkan dia masuk.
SEKOLAH BEYTEPE GENDARMERIE
- Staf Gendarmerie Sersan Ferhat Gedik. - Masuk, duduk, Sersan Staf.
Silakan.
Kolonel Necmi. Komandan Gendarmerie G?m??hane.
Ya, Pak.
Prestasimu di ?ukurca tidak luput dari perhatian, Sersan Utama.
Hubungan masyarakatmu, kemampuanmu untuk memahami tanah.
Kemampuanmu menyadari hubungan antar peristiwa
semuanya sangat dihargai.
Kolonel Necmi mau kau bergabung dengan mereka
melawan organisasi Karadeniz dari PKK.
Ya, tentu saja, Pak.
Intelijen.
Ya, Pak.
AFGHANISTAN BARAT 2016
TURNAMEN SEPAKBOLA MA?KA HIGHLANDS 2017
Teman-teman, tim pemenang akan mendapatkan semangka sebesar ini.
Semoga sukses untuk kalian.
Ayo sekarang, ayo.
Ayo sekarang, ayo.
Ayo, lanjutkan.
Kemari.
Jangan bertahan dan kalah, oke? Kau harus menyerang.
Kau harus mencetak banyak gol, ya?
- Kau sudah ke sini sekarang. - Baiklah.
Ayo sekarang. Ayo, patahkan satu kaki.
Assalamualaikum.
Keluarga kami bisa membentuk satu tim utuh dan kami juga punya dua pemain pengganti.
- Bagus sekali. - Ya.
Hei, apa yang terjadi di sini? Hei, Ibu Ay?e.
Timmu punya banyak perempuan dan orang kami tidak bisa menyerang dengan nyaman.
Apa yang kau bicarakan? Urus urusanmu sendiri.
Wow, semuanya tidak berguna.
Nona-nonaku bisa bermain sebaik pemain bintang mana pun sekarang.
Lihatlah mereka. Hadapi kami dengan tim yang lebih kuat di lain waktu.
- Abdu?, ayolah. - Ayo.
Ayo, Eren.
Mukhtar, kami sekeluarga bisa membentuk tim dan kami juga punya dua pemain pengganti.
- Ya benar. - Ya.
Lewati, lewati.
- Emine? - Emine, sayang, kau baik-baik saja?
Apa yang kau lakukan, anakku?
Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa.
Waktunya sudah habis. Sudah berakhir.
Apa ini sekarang?
- Ambil ini, Nak, ayo. - Aku tidak tahu apa yang mereka pakaikan.
Lihat ini. Semuanya rusak, semuanya.
Semuanya hancur berkeping-keping, Cemile.
Baiklah, jangan khawatir, sayang. Dalam dua tahun, kita akan kembali
- ke Ankara untuk selamanya, in?yaallah. - Kuharap tidak ada lagi yang rusak di sini.
Apa yang akan kita lakukan begini, Bu Perizat?
Aku tidak tahu.
Hei, apa yang akan dia lakukan?
Terkadang, orang datang dan bergosip.
- Aku mengerti. - Kaulah orangnya.
- Ayo, telepon dia. - Telpon dia, kawan.
Ada apa, kawan?
- Kau takut? - Kenapa aku harus takut?
Aku akan bicara sendiri.
- Halo? - Emine.
- Siapa kau? - Ini aku, Eren.
Aku memukulmu dengan bola kemarin.
- Ya? - Aku mau minta maaf.
- Kau tahu itu masih sakit, kan? - Oh, maafkan aku.
Apa yang kau bicarakan?
- Yah, sebenarnya baik tapi... - Tapi apa?
Dia tanya padaku apa ini ponselku.
Aku bilang aku tidak punya ponsel.
Itu tidak penting, kawan.
Ya, tapi memang begitu. Lihat, sekarang aku menyerahkan ini padamu.
Sekarang ini jadi ponselmu. Jika dia kebetulan menelepon malam ini.
Kau mau memberitahunya "Eren tidak ada di sini, telepon lagi nanti"?
Dengarkan.
Kami akan bertemu di jembatan warna besok.
- Kau emang hebat, kawan. - Berita super.
Faruk, berapa harga beruang di jendela?
85 lira.
Eren, apa yang terjadi?
Dia mempermainkanmu kawan. Bawa beruang itu untuk kami.
- Jam berapa sekarang? - Jam sebelas lewat seperempat.
Eren.
Kupikir kau sudah pergi tapi aku tetap datang.
Kau menungguku selama ini?
Ya, aku tahu kau akan datang.
Bagus sekali. Kami punya tamu di rumah. Aku menunggu sepanjang malam sampai mereka pergi.
Ini untukmu.
Apa ini?
Aku membelinya untukmu. Ada yang lebih kecil juga
tapi aku membeli yang lebih besar agar kau bisa menggunakannya tahun depan juga.
Tapi aku tidak bisa membawanya pulang.
Ayahku akan melihatnya.
Ayolah. Ini tidak pernah terlintas dalam pikiranku.
Jadi bagaimana jika aku memberimu ini?
Aku menulis beberapa kata untuk kaubaca.
Tidak ada seorang pun yang pernah menulis apa pun padaku sebelumnya.
Aku akan membacanya.
Aku harus pergi sekarang.
Jalanlah bersamaku.
Terima kasih. Selamat malam.
- Hai. - Kau tidak pulang?
Aku mengerti. Kami sedang bertugas.
Baiklah, Cemile.
Aku sudah bertugas selama 15 tahun di Timur.
Aku tahu semua tentang strategi organisasi teror
ke mana mereka melewatinya, bagaimana mereka melarikan diri.
Tapi kawasan Laut Hitam ini berbeda sayang.
Beda lahannya, beda strateginya.
Mereka berkeliaran dalam kelompok yang lebih kecil.
- Ferhat? - Ya?
Kau di pangkalan atau di tanah?
Tidak, sayang, aku di ruang arsip.
Aku sedang membahas kasus-kasus lama, mencatat.
Baiklah, kau tidak bisa pulang. Aku mengerti.
Tidak.
Aku bisa memotong kertas.
Anak-anak sudah tidur?
Dan kau tahu pelatihannya, itu sulit.
Sebuah bor disebut lubang Italia. Begitu kau turun, kau tidak bisa keluar.
Kau tidak bisa, tentu saja, kau tidak banyak melompat-lompat di sini.
Aku bisa atur latihan itu.
Kau sedang dinas militer di kota ?stanbul.
Berhentilah menangis, ayolah sekarang.
Akan tiba saatnya kau juga mengalaminya.
Pemerintah tahu ini tidak ada gunanya mengirimnya ke ?stanbul.
Aku akan pergi ke Tenggara, aku akan jadi tentara sejati.
- Ayah! - Ayah!
- Ayah! - Hasan!
- Ayah, apa yang ter ayah? - Hasan, apa yang terjadi?
- Hasan, Hasan. - Ayah, ayah!
- Ayah, apa yang terjadi? - Hasan, Hasan, ada apa?
Kalian mau memberikan restu pada saudara kita
yang meninggal dunia maukah kalian mendoakannya hari ini?
- Ya, kami akan melakukannya. - Kau bisa mengulanginya lagi?
Ya, kami akan melakukannya.
Halo?
Ya.
Ya, ini teleponnya.
Hasan meninggal.
Terima kasih.
Pemakamannya minggu lalu.
Ya.
Aku punya teleponnya sekarang.
Ya, tentu saja, baiklah.
Kami akan datang.
Ya. Baiklah.
Paman R?za membutuhkan orang untuk membantu memetik kacangnya.
Dia bertanya apa kita mau bekerja di sana.
Bunga 13, kami sudah sampai di shelter.
Kami memastikan tidak ada seorang pun di dalam.
Kami selesai menanam bahan peledak.
Kami siap untuk pemusnahan terkendali.
Baik.
Bagus.
Terima kasih, Sersan Ferhat.
Jadi mereka sudah berada tepat di depan kita selama ini.
Ayo main Slot Gacor Maxwin di EMAS188 Ketik di google �EMAS188� Atau simpan link berikut bit.ly/emas188
Aku masih membutuhkan lebih banyak lagi.
Baiklah, kita bisa patungan beli ponsel. Jangan khawatir.
Kita bisa membelinya. Tenang saja.
Ya, kau bisa, tapi...
Kau seperti memberikan pakaianmu, memberikan sepatumu
Apakah aku punya sesuatu yang layak jadi milikku?
Ini terlalu singkat.
Eren?
- Itu kau? - Ya.
Di mana kau? Aku tidak melihatmu sepanjang hari ini.
- Aku sedang bekerja. Aku menemukan pekerjaan. - Bagus sekali, Nak.
Kami membutuhkan beberapa barang. Kalau begitu, kau bisa membelinya besok.
Kami kehabisan tepung. Beli 50 kg.
Dan juga beras.
Kita juga kehabisan beras, Nak.
Ayo, nak, tidurlah. Aku akan memintamu menulisnya besok.
Oke, nak? Ayo tidur.
Ya.
Lima kilo gula?
Berapa harga gulanya?
42 lira. Empat kilo 160 lira.
Beri aku satu kilo saja.
Baiklah.
Tapi di sini juga tertulis enam bungkus pasta.
Berapa banyak yang harus kuberi?
Dua saja.
- Kenapa tidak beli semuanya? - Aku akan membeli lainnya juga.
Jangan marah, Nak. Hanya itu yang dia punya.
Jangan membodohiku. Dia bekerja. Aku tahu berapa banyak uangnya.
- Bagaimana kau tahu? - Hentikan, teman-teman.
Berapa biaya taksi dari Ma?ka ke sini?
- 100 lira. - Kau punya uang sebanyak itu?
- Kau punya kan? - Aku juga punya penghasilan. Sama saja.
- Ayolah berhenti. - Selalu ada yang belum selesai, Eren.
Eren, kenapa kau tidak membeli semuanya sayangku?
Dia saudaramu.
Kau membeli barang ini, kan?
Tapi kau harus menyewa taksi lagi untuk membeli sisanya sekarang.
Jadi biayanya dua kali lipat untuk ongkos jalan.
Itu sebabnya dia marah.
Itu berarti aku harus bekerja lebih keras.
Aku akan membeli lainnya juga.
Oke.
Ayo kita sewa, jika kau mau.
Ada apa?
Aku tidak nyaman dengan ini, Cemile.
Kenapa tidak?
Baiklah, mungkin kita ditugaskan di sini
tapi mereka mau aku kembali ke G?m??hane.
Itu berarti aku belum selesai.
- Itu tidak akan selesai, Ferhat. - Sedikit lagi.
Kau tidak akan pernah selesai.
Bertahun-tahun, kau sudah memberikan semua yang kau punya, aku mengenalmu?
Kau memberikan semua yang kau miliki.
Ya kan?
Kau belum tidur di tempat tidur yang layak selama bertahun-tahun.
Kau pulang ke rumah hanya untuk berganti pakaian, kau tahu itu, kan?
Kita tidak merasa bersama meskipun kita tinggal di rumah yang sama.
Kita tidak bisa.
Kau selalu pulang saat anak-anakmu tidur
dan kau pergi sebelum mereka bangun.
Anak-anakmu selalu merindukanmu.
Aku bahkan tidak akan mengatakan Bayram, hari libur, hari-hari istimewa.
Mereka mencium tanganmu di pagi hari Bayram dan lalu kau pergi.
Kau pergi.
Dengar, kita ada di Ankara. Seberapa baik? Kita akan menyewa flat.
Aku tidak menginginkan apa pun untukku.
Tapi aku mau anak-anak kita menghabiskan waktu bersamamu.
Aku mau mendengar mereka berkata, Ayah, demi Allah, Ayah.
Tolong, aku tidak menginginkan apa pun untukku.
PERINTAH GENDARMERIE G?M??HANE
Dua tahun berlalu dengan sekejap mata, Sersan Ferhat.
Sudah waktunya untuk ditugaskan kembali.
Tapi kami punya satu permintaan terakhir.
Kami sedang mengumpulkan tim khusus.
Kami mau menugaskanmu sebagai pemimpinnya.
Tempat tugasnya Pak?
Ma?ka.
Kami punya intelligen.
Kelompok yang kitahancurkan tempat perlindungannya
sepertinya sudah pindah ke Ma?ka.
Kami mau kau tinggal tiga bulan lagi.
Selesaikan ini lalu pergi.
Ya, baik, Pak.
Kau sudah menyewa flat di Ankara, kan?
Ya, Pak.
Beri aku waktu seminggu. Biar aku memindahkan keluargaku dan kembali.
Yusuf Yaz?c? berhasil melewati semuanya.
Dia mengoper bola. Rodellega! Memantul dari tiang gawang.
- Yusuf! Sebuah gol yang sempurna! - Gol!
- Trabzonspor satu... - Siapa yang mencetak golnya, paman?
- Yusuf Yaz?c? mencetaknya, sayang. - Ya.
- Berapa hamsinya? - Hamsi 15 lira sayang, 15.
Wasit menunjukkan kartu kuning.
Eren.
Ini sayang. Kuharap kau menikmati bersama keluargamu.
- Tapi uangnya? - Uang apa?
Trabzonspor mencetak gol. Ini hadiahku. Selamat menikmati, sayang.
Terima kasih, paman.
Terima kasih juga.
- Ambil ini, Eren. - Tidak.
Ayo, ambillah. Uang bukanlah masalah. Ambillah.
- Tapi. - Kita kan berteman. Tidak masalah.
Ayolah. Ayo, beli ponsel itu.
- Ayo. - Ya, ayolah.
Bang Faruk, boleh aku membeli ponsel biru itu di etalase toko?
Yang mana?
- Yang ini? - Ya.
Pegang seperti itu sayang, dari bahu.
Biar kubantu ya sayang, supaya ibu bisa melihatnya dengan baik.
Ini bagus. Ini sempurna.
- Benarkah? - Ya. Tidak apa-apa.
Ayah mau membeli ukuran yang lebih kecil tapi kubilang tidak muat.
Aku tidak bisa menerima anakku sudah tumbuh dewasa.
Aku tumbuh dewasa.
Ayo.
Ambillah.
Kuharap kau akan memakainya di hari-hari yang indah.
Kapan kau tumbuh dewasa?
Aku libur sekarang.
Semoga para malaikat menjagamu, ayah.
Tentu saja dia masih terjaga. Kenapa kau tidak tidur, Nak?
- Sampai jumpa, ayah. - Sampai jumpa, Nak.
Orang-orang harus bertemu jika mereka berkencan.
Kau benar.
Aku mengatakan ini karena aku tidak akan pernah bisa melihatmu.
Kau benar. Apa yang harus dikatakan?
Orang-orang jalan-jalan bersama kekasihnya. Mereka pergi ke sungai, ke sana kemari.
Mereka merayakan ulang tahun Hande beberapa hari yang lalu.
Aku pergi ke sana sendirian dan merasa agak aneh.
Setidaknya aku mau bicara melalui telepon tapi kau tidak bisa dihubungi saat aku menelepon.
Ponsel tidak selalu berada dalam jangkauan saat aku ada di gunung atau dataran tinggi.
Kita tidak bisa bicara.
Dan aku juga tidak selalu bisa melakukan isi ulang.
Kuharap kau bahagia.
Kau juga.
Kenapa kau membeli 10 kilo?
Jadikan 50 agar dapat 10 kilo gratis.
Bagaimana aku harus membayar mobilnya. Aku tidak bisa membawa 50 kilogram di punggungku.
Ada pesanan dari lingkunganmu.
Aku akan membawanya dengan van besok.
Aku bisa meneleponmu dan kau bisa menjemputnya.
- Benarkah? - Ya.
Baiklah kalau begitu.
- Kau sudah pulang? - Ya.
- Di mana tepungnya? - Akan datang besok.
Apa maksudmu?
Kita tidak punya tepung untuk membuat roti?
Aku melakukan hal yang benar, aku dapat diskon.
Kau dapat diskon tapi siapa yang akan membuat roti besok?
- Kita ke sini lagi besok? - Bagaimana aku bisa datang ke sini
ke Ma?ka besok? Kenapa kau membuat aturanmu sendiri?
- Kenapa kau tidak membawa tepung? - Kenapa kau melakukan hal seperti itu?
Bagaimana aku bisa datang ke Ma?ka besok?
Menurutmu mudah sampai sejauh itu?
- Aku punya tiga anak. Kau tahu itu? - Ya, tapi dia ada diskon.
- Ya, tapi siapa yang akan membuat rotinya? - Aku mencoba mengatakan sesuatu
- Dengarkan aku. - Bagaimana dengan pekerjaanku di rumah?
- Kami sudah menunggumu. - Kenapa kau memutuskan sendiri?
Tidak ada seorang pun yang berkata "Eren, berkah hatimu."
TIDAK ADA YANG BERKATA; "EREN, BERKAHLAH HATIMU."
Selamat malam. Sampai besok.
Komandan?
Kau dapat surat.
Ini, Pak.
Dari Markas Besar G?m??hane Gendarmerie.
Kuharap ini kabar baik.
Komandan Ferhat yang terhormat...
Aku Berzan. Ayah Ca?vin.
Anakku sudah keluar dari penjara selama satu tahun.
Syukurlah, pemerintah memaafkannya sejak dia tidak terlibat
dalam kejahatan atau aksi teror apa pun.
Anak Ca?vin lahir hari ini.
Maksudku, aku sudah jadi kakek hari ini.
Hari ini aku memeluknya untuk pertama kalinya
dan membisikkan namamu di telinganya.
Kami mau dia bisa dipercaya dan berani sepertimu.
Komandanku, kau membuatku dan keluargaku bahagia.
Semoga Allah juga membahagiakanmu.
Tapi, aku melihatmu dalam mimpiku selama dua malam.
Aku merasa sangat tidak nyaman.
Jaga dirimu baik-baik untuk Allah.
Dan semoga Allah melindungimu.
- Terima kasih. - Ya, Pak.
SELASA 8 AGUSTUS 2017
Ya, tapi datanglah sampai tengah hari.
Di sini sampai tengah hari, jangan terlambat.
Ya. Ya, ya, baiklah.
Ya, baiklah. Salam juga. Baiklah. Sampai jumpa.
Dia tidak bisa berhenti bicara.
Paman M?kerrem tidak bisa menutup telepon. Kau mengucapkan satu kata
dia akan membalas dengan sepuluh sampai dia menutup telepon.
Jangan bicara seperti itu. Dia anak dari paman tiriku.
Anak dari paman tirimu tidak dihitung sebagai kerabat dekat.
Aku tidak mengatakan hal lain.
- Dia akan datang? - Ya, dia akan datang besok.
Kau melemparkan semuanya padaku.
Cukup dengan obrolannya. Ayo.
Kita akan membawa ini ke rumah musim dingin.
Kau sudah membangun rumah ini di atas bukit
mobilnya tidak bisa naik, tidak bisa bermanuver.
Ini sangat menantang. Dan mobil ini tidak bisa digunakan dengan air.
Bagaimana kau menemukan tempat ini? Kau bahkan tidak punya jalan.
Eren, jangan kemana-mana.
M?kerrem, M?kerrem.
- Apa itu? - Kemari.
Tunggu sebentar.
Ayo, lihat.
Awalnya kukira itu beruang, tapi kelihatannya tidak seperti itu.
Pernah ada beruang masuk ke rumah lain tapi malah bikin berantakan
dan meninggalkan semuanya. Tapi kotak kami hilang .
Yah, aku benar-benar tidak mengerti.
156, Saluran Bantuan Gendarmerie. Apa keadaan daruratmu?
Ada pencuri yang memasuki rumah Ibuku.
Kau bisa datang dan melihatnya?
- Siapa namamu? - Aku Arif B?lb?l.
Rumah ibuku di Ma?ka. Dia tidak bisa menelepon, jadi aku menelepon.
Semih.
Ada maling yang masuk ke rumah kita.
Ayolah. Apa yang akan dia curi darimu?
Aku mengatakan yang sebenarnya. Dia mengambil semua perbekalan kami.
Mereka juga mengambil paket kami.
Aku sedang menunggu Gendarmerie.
Oh, ini dia. Gendarmerie datang. Aku akan meneleponmu nanti.
Ibu, gendarmerie datang.
Mereka mengambil semuanya.
Kami punya paket yang diberikan Imam pada kami.
Kami punya sisa minyak.
Aku punya sedikit beras. Aku berencana memasaknya saat kami kembali.
Aku punya beberapa kentang busuk, mereka bahkan mengambilnya.
Ya, Pak?
Ferhat, ada perampokan mencurigakan di Ma?ka.
Aku mengirimimu alamatnya. Pergi dan periksa.
Ya, Pak. Kami akan tiba di sana secepatnya.
Ayo lakukan ini.
Komandan Gendarmerie menginterogasiku.
- Kau juga bersaksi? - Ya.
- Dan apa yang kau lihat? - Aku memberi tahu mereka apa yang kulihat.
- Anak-anak, jangan masuk tanpa izin. - Aku anak salah satu keluarga.
Oke, kalau begitu kau boleh lewat.
- Aku akan menceritakan semuanya nanti. - Kami di sini.
- Halo. - Selamat datang, Sersan Ferhat.
- Halo, Komandan. - Ini TKP-nya.
Kita akan masuk lewat sini.
Kau bisa melanjutkan. Aku akan ada di sana bersamamu.
- Baiklah. Ayo kita periksa. - Oke.
Pemilik rumah; Ay?e B?lb?l.
Mereka mengetahui rumah itu dirampok saat mereka menuruni dataran tinggi.
Dia bersama anaknya, Eren.
Hai.
Hampir di dalam hutan.
Jalan menuju S?nd?ran harus lewat sini.
Harus sejajar dengan jalan turun. Kalian periksa ke dalam.
Kau Eren Bulbul?
- Ya, Pak. - Aku bukan Pimpinan, aku seorang prajurit.
- Ferhat Gedik. - Tapi kau mengenakan pakaian sipil.
Aku sedang dalam misi rahasia, Eren.
Itu sebabnya aku harus berpakaian seperti ini. Tenanglah.
Maka aku bisa memanggilmu, "saudara" bukan "komandan".
Baiklah, kau bisa memanggilku, saudara.
Ya, komandan.
- Bagaimana dengan "saudara"? - Aku tidak bisa Komandan.
Dengar, aku akan menanyakan beberapa pertanyaan, oke?
Dengar, setiap orang yang kau lihat di sini punya tugas berbeda.
Setiap orang memeriksa hal yang berbeda.
Misalnya, orang-orang di atas yang memeriksa perampokan itu.
Tapi aku akan menanyakan pertanyaan yang lebih menyeluruh.
Tentang teroris?
Tepat sekali, Nak.
Kau pasti mengenal daerah ini dengan baik.
Tentu saja, Komandan. Seluruh area ini rumahku.
Kalau begitu beritahu aku.
Kau memperhatikan ada tempat galian atau gundukan baru-baru ini?
Tidak, aku tidak melihatnya.
Mereka menggali tempat berlindung, kan?
Kau menyadari semuanya.
Komandan, tidak ada seorang pun di kota kami yang mendukung mereka.
Saat mereka memakan persediaan kami, aku sangat membencinya.
Kami akan mengatasinya.
Ayo kita lakukan seperti ini.
Ayo saling memberi nomor telepon.
Jika kau melihat atau mendengar sesuatu, kau bisa menghubungiku 24/7.
Jangan segan-segan meneleponku, oke?
Ya, Pak.
Ini.
Eren?
Aku mendengar beberapa suara dari dalam hutan.
Pohon-pohon yang membungkuk karena angin. Tidak ada yang lain.
Ayo tidur.
Kau belum tidur?
Kita tidur sebelum mengucapkan selamat malam?
Tidak, aku tahu, tapi kau tahu, ini sudah larut.
Kau terdengar lelah.
Anak-anak tidur?
Kau pasti sangat lelah. Sekarang jam 4, Ferhat.
Yah, aku tahu, Cemile.
Minggu terakhir dari tiga bulan.
Hampir berakhir, sayang.
Ya.
Hampir berakhir.
RABU 9 AGUSTUS 2017
Kita akan kembali ke dataran tinggi, M?kerrem.
- Selamat pagi. - Selamat pagi, Pak.
Atasanku titip salam, Komandan Ferhat.
Dia memerintahkan agar kami melanjutkan kasus ini di bawah komandomu.
Terima kasih. Silakan.
Apa? M?kerrem, menepi.
Aku tidak bisa menerima sinyal apa pun di sini.
Ya. Katakan sekarang.
Ya, baiklah. Aku akan bicara dengan Eren dan meneleponmu kembali.
Baiklah. Sampai jumpa.
Pamanmu. Dia mau kau pergi beli kacang.
Persediaan kita sudah dicuri. Aku harus pergi dan cari uang.
Jangan khawatir tentang persediaan kita. Kita punya hewan di dataran tinggi.
Kita bisa membuat keju dan mentega.
Dan kita punya 20 kilo tepung.
Kita bisa makan roti apa pun yang kita punya dengan keju.
Ayo ke dataran tinggi. Lupakan itu.
Tapi kita harus mengganti perbekalan yang dicuri ini.
Oke. M?kerrem, kembali. Kita akan bawa Eren ke pamannya.
Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?
Kita akan melakukan misi pengintaian dan pengawasan.
Kita akan melacak rambu dan tanda.
Tangki air ini akan jadi perbatasan kita.
Mulai sekarang, aku mau kalian berhati-hati dan siap seolah-olah
kalian bertemu dan bentrok dengan teroris kapan saja.
Kita akan menjaga jarak lima meter satu sama lain.
Matikan teleponmu.
Banyak teroris ditangkap saat tidur.
Semoga Allah menjaga kita.
- Di mana pamanmu? - Dia pasti ada di belakang rumah.
Kukira aku akan selesai dengan kacangnya besok.
Kalau sudah selesai, mampir juga ke rumah kami. Coba lihat.
Oke. Baik.
- Kau di sini, Eren? - Ya.
Bawalah kayu ke dalam ke halaman belakang.
Setelah selesai, makanlah makananmu.
- Tapi bagaimana dengan kacangnya? - Itu besok, lakukan ini dulu.
Terima kasih.
Kita berada di area yang aman. Pengintaian selesai untuk hari ini.
Kau bisa menghidupkan teleponmu.
Kabut semakin tebal saat kita mendaki.
Hutan itu hampir seperti hutan belantara.
Mereka bisa saja menyembunyikan barang curiannya di mana saja.
Dan jalurnya sedang digunakan tapi tidak ada jejaknya.
Kita akan mencari.
Mereka memulainya.
Kita pasti akan menemukan jejaknya.
- Arah yang sama lagi besok? - Tidak.
Sebaiknya kita selesaikan lingkungan sekitar rumah terlebih dulu.
Kita tidak menemukan apa pun.
Kita mungkin sudah mencari di sisi yang berlawanan.
KAMIS 10 AGUSTUS 2017
Ayo.
Kita akan menjaga jarak lima meter.
Kita semua harus diam.
Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi saat ini.
Silakan coba lagi nanti.
- Halo, Eren? - Ya, ibu?
Kau menelepon sekitar 20 kali tadi malam. Apa itu?
Rumah kami dibobol. Ada teroris di mana-mana.
Aku meninggalkanmu sendirian. Bagaimana aku tidak menelepon?
Allah Allah. Ada apa? Kenapa kau tidak meneleponku?
Baiklah, aku sampai di tempat paman dan bawa kayu terlebih dulu.
- Aku sangat lelah. - Kau memanen teh pagi ini.
Dia menyuruhmu memuatnya sekarang? Kau makan sesuatu?
- Ya, tidak. Aku kelelahan. - Aku mempercayakan anakku padanya.
Baiklah. Jangan marah.
Baiklah kalau begitu, Nak.
Aku punya 45 pesan.
Istrimu akan sangat marah padamu.
Komandan, ponselmu juga penuh dengan pesan.
Urus urusanmu sendiri, lanjutkan.
- Komandan? - Eren, aku melihatmu menelepon. Ada apa?
Tidak ada apa-apa, Pak. Tidak masalah tapi...
Aku ingin tahu apa kau menemukan sesuatu tentang perampokan itu.
Itu sebabnya aku menelepon. Aku minta maaf jika aku mengganggumu.
Tidak, nak, tidak. Kau bisa menelepon kapan saja. Tidak apa-apa.
Kami sudah berada di sini selama dua hari.
Kami sudah memeriksa area ini.
- Kami hanya tidak bertemu satu sama lain. - Kau ada di sekitar rumah kami?
- Ya. -Di sekitar rumah kami?
Ya. Kami melalui hutan.
Bagaimana aku bisa melewatkannya?
Aku memetik kacang di sini sementara kekacauan terjadi di depan rumahku.
Aku akan menutup telepon jika semuanya baik-baik saja. Kami akan menghubungimu.
Bolehkah aku datang ke sana?
Tidak. Kami sudah selesai untuk hari ini.
Kami akan menuju kendaraan dan pergi.
Lanjutkan tugasmu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu.
- Baiklah, Komandan. Sampai jumpa. - Baiklah, Nak.
Paman Ali R?za, ada tentara di sekitar rumah kami?
Mereka sudah keluar masuk hutan sejak pagi
tapi mereka sudah pergi sekarang.
Kita tidak bisa mengabaikan jalan masuk itu.
Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi saat ini.
Silakan coba lagi nanti.
KOMANDAN FERHAT
Komandan! Komandan! Terorisnya ada di sini!
- Mereka ada di sekitar rumah. - Berhenti.
- Tunggu sebentar. Tenang. - Aku melihatnya.
- Dua di antaranya ada di bawah. - Tenang dan dengarkan aku.
- Aku tenang, Komandan. - Kau dekat dengan rumah?
- Tidak, Komandan. Aku lari. - Seberapa jauh yang kau capai?
Sangat jauh. Aku berlari ke rumah pamanku.
Bagus. Kau berada di tempat yang terlihat?
- Ya, Pak. - Sekarang ceritakan apa yang kau lihat secara detail.
Aku pergi ke rumah. Ibuku menyuruhku memeriksanya sebelum aku kembali.
Dua di antaranya keluar dari belakang gudang.
Saat aku melihat senjatanya, awalnya aku mengira itu kau.
- Ya? - Dan lalu dua lagi
keluar di sekitar tangki air.
Baiklah. Dengarkan aku sekarang.
Sangat berbahaya mengirim tentara ke dalam hutan karena gelap.
Dan jangan pergi ke sana juga.
Tidak, tidak akan, Pak. Rumah kami sudah dibobol.
Kerusakan sudah terjadi. Aku mau mereka tertangkap.
Kau sudah melakukan tugasmu, Nak.
Masuklah ke dalam rumah pamanmu dan jangan sampai kau keluar.
- Tunggu teleponku, Eren, oke? - Pak, ya, Pak.
Anak pemberani.
Besok aku akan pergi ke hutan bersama para prajurit.
Apa mereka membawamu juga?
Yah, mereka sudah berencana datang.
Setelah shalat Jumat, mereka akan membawaku juga
dan kita akan naik ke atas rumah bersama-sama.
Kenapa mereka menunggu sampai tengah hari?
Kita tidak bisa masuk ke hutan pada malam hari, kata Komandan Ferhat.
Dan pada pagi hari, para teroris pasti ada di sarangnya, katanya.
Hah, itu benar.
Eren, wajib militermu sudah dimulai, ya?
- Tangan kanan Komandan? - Ayolah kawan, jangan bilang seperti itu.
Bagaimana kalau kita pergi berlibur bersama? Kita berdua.
Apa maksudmu hanya kita berdua?
Baiklah sayang, kau mengenalku. Hanya aku dan kau.
Aku terkejut.
Kau bahkan membawa anak kita yang berumur 2 tahun ke Jerman, Ferhat.
Aku merasa sangat lelah, Cemile.
Kau benar, sayangku.
Kau lelah.
Beban 20 tahun terakhir.
Kau tahu apa?
Aku sangat merindukanmu.
JUMAT 11 AGUSTUS 2017
- Ayo pergi bersama. - Tidak, aku akan pergi dengan teman-temanku.
- Ini sangat tua, menurutku. - Sangat tua.
Saat Eren memberitahuku dia melihat teroris
Aku mengerti ini serius dan merasa sangat tertekan.
Jangan khawatir. Daerah ini akan diperiksa secara ketat.
Ayo.
Halo, komandan.
Bukan komandan. Kami polisi.
Kami bekerja sama dengan Komandan Ferhat.
Aku Fethi. Fethi Sekin.
Senang berkenalan denganmu. Dan aku Eren Bulb?l.
Selamat datang, Eren Bulbul. Selamat datang.
Komandan, aku melihat mereka di sini. Ayo naik.
Tunggu saja sampai mereka bersiap-siap. Jangan terburu-buru.
Ayo, Tuan-Tuan.
Saat aku melihat ke bawah, aku melihat satu di dekat gudang.
Aku tidak tahu kapan dan bagaimana mereka mendobrak masuk ke dalam rumah, tapi aku melihat mereka.
- Berapa banyak yang ada di dekat gudang? - Dua, Komandan.
Salah satu dari mereka ada di dalam dan dia memanggil yang lainnya juga.
Mereka mencari ke dalam bersama-sama.
Kau tidak punya makanan di dalam sekarang, kan?
Tidak, Pak. Mereka mencuri semuanya. Ayo, biar kutunjukkan padamu.
- Ini gudangnya. - Ada pintu belakang, Eren?
Tidak, Pak.
- Salih, tunggu di dekat mobil hari ini. - Ya, Pak.
- Ayo. - Dia sedang melihat ke sini.
Lewat sini.
Dan di mana yang lainnya?
Lewat sini, Komandan. Ayo, biar kutunjukkan padamu.
Pelan-pelan, Nak, pelan-pelan. Pelan-pelan.
Pak, mereka pasti melewati jalan ini. Tidak ada jalan lain.
Baiklah, nak. Berhenti di situ sekarang. Oke, Eren.
Terima kasih nak.
Katakan satu hal terakhir. Kami pergi ke Merit hari pertama.
Melalui jalan itu menuju S?nd?ran. Ada jalan lain di sana?
Ya, ada tapi mengarah ke sisi atas hutan.
Oke, ada.
Ya, ada jalur yang tidak digunakan.
Itu sudah tua, tidak berarti pada awalnya.
Baiklah. Terima kasih, nak.
Sekarang pergilah ke tempat pamanmu.
Tapi aku tidak ada kerja hari ini.
Jadi apa lagi, Nak? Ibumu ada di dataran tinggi.
Jangan kau tinggal di sini sendirian. Turun, ayo.
Jalan terbelah di dekat bebatuan tajam. Jangan ambil jalan yang benar.
Itu tidak mengarah ke mana pun.
Oke, kita ambil yang kiri.
Ayo main Slot Gacor Maxwin di EMAS188 Ketik di google �EMAS188� Atau simpan link berikut bit.ly/emas188
Apa yang harus dilakukan? Aku diam saja.
Para prajurit pergi ke hutan dan aku di dalam rumah.
Perlengkapannya lengkap. Mereka punya senjata dan semuanya.
Ada tim di lapangan, menunggu.
Koordinat mereka tidak jelas.
Kita harus mundur. Ini bisa berbahaya.
Kau menemukan jalan yang kukatakan, Komandan?
Ya. Kami ke ?atalkaya.
- Kau menemukan sesuatu? - Tidak ada apa-apa.
Komandan!
Alih Bahasa: Kuda Lumping Medan, 24 September 2024
SEORANG ANAK LELAKI 15 TAHUN EREN B?LB?L DARI MA?KA
DAN STAF GENDARMERIE SERSAN FERHAT GED?K
JADI KORBAN DI DEPAN RUMAH EREN
PADA 11 AGUSTUS 2017.
TURKI TIDAK AKAN PERNAH LUPA GENDARMERIE SERSAN FERHAT GEDIK
DAN EREN YANG HANYA INGIN DIINGAT DENGAN BERKAH
BERKAH HATIMU, EREN
KAMI MENULIS NAMA MEREKA DI GUNUNG, DI BATU
DAN BURUNG TERBANG TINGGI
BERKAHLAH HATIMU, EREN
BERKAHLAH HATIMU, EREN
BERKAHLAH HATIMU, EREN
EREN B?LB?L DAN FERHAT GED?K BERKAHLAH JIWAMU.
UPAYA POLISI DAN EREN
DAN SERSAN GENDARMERIE FERHAT GED?K
TIGA TERORIS TEWAS DAN SATUNYA DITANGKAP HIDUP HIDUP
SEJAK INSIDEN TERSEBUT, KEMENTERIAN DALAM NEGERI
MELAKUKAN 21 OPERASI EREN.
TENTARA DAN POLISI YANG MELAKUKAN OPERASI BERKATA
Untuk saudara kita, Eren B?lb?l! Berkahlah hatimu...
Eren!
Berkahlah hatimu, Eren!
Komando!
- Ya Pak! - Untuk saudara kita, Eren B?lb?l.
Eren! Berkahlah hatimu, Eren!
?ZM?R BERTERIMA KASIH PADAMU, KAMI TIDAK LUPA, KAMI TIDAK AKAN LUPA.
Perhatian!
Untuk saudara kita, Eren B?lb?l!
Berkahlah hatimu, Eren!
BERKAHLAH HATIMU, EREN
FOTO TERAKHIR DIAMBIL DUA MENIT SEBELUM INSIDEN
Ayo main Slot Gacor Maxwin di EMAS188 Ketik di google �EMAS188� Atau simpan link berikut bit.ly/emas188
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.