All language subtitles for Exhuma.2024.2160p.4K.BluRay.x265.10bit.AAC5.1-[YTS.MssssX]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Permisi.

Kita akan segera tiba.

Apa kau mau anggur lagi?

Tidak, terima kasih.

Lagi pula, aku orang Korea.

Begitu, ya.

Maafkan kesalahpahamanku.

Nikmati perjalananmu.

CEO kami berfokus pada bisnis perumahan.

Dia punya banyak lahan di Korea dan banyak investasi di AS.

Ya, ada orang seperti itu.

Orang yang terlahir kaya.

Tanpa awal dan ujung, hanya kaya.

Bagaimana bisa kupercayai mereka?

Kau seharusnya tanya pendapatku dulu.

Ini sudah di luar pemahamanku.

Aku tak mengerti.

Lakukan saja apa pun maumu.

Sekarang dia tenang karena diberi obat,

tapi, dia terus menangis sejak lahir.

Sudah diperiksa oleh tim medis besar,

tapi, katanya dia tak memiliki penyakit.

Kami sudah dengar itu.

Maaf, bisakah kalian keluar?

Apa?

Ada orang lain yang seperti ini di keluargamu.

Ayahnya...

dan kakeknya.

Maksud dia Ji-yong dan Ayah mertua, 'kan?

Ekspresi itu.

Ya.

Ekspresi yang berubah dari curiga

menjadi terkejut.

Mereka yang selalu hidup dan hanya melihat cahaya.

Harus ada cahaya di dunia agar kita bisa melihat.

Orang hanya mempercayai apa yang bisa dilihat dan disentuh.

Dunia yang memiliki cahaya...

dan bayangannya.

Sejak dulu, orang sudah tahu eksistensi kegelapan,

dan menyebutnya dengan berbagai nama.

Hantu, iblis, goblin dan monster.

Mereka selalu iri dan cemburu dengan tempat terang.

Hingga terkadang mereka menampakkan diri.

Setelah itu, orang-orang akan memanggilku.

Yin dan Yang.

Kenyataan dan takhayul.

Aku orang ada diantara itu.

Aku adalah dukun Lee Hwa-rim.

Aku sudah dihubungi istriku.

Aku Park Ji-yong.

Kakakku bunuh diri di rumah sakit jiwa.

Setelah itu, aku.

Lalu...

Itu juga terjadi kepada bayiku.

Setiap menutup mata, aku dengar suara teriakan.

Leherku terasa tercekik.

Diwariskan melalui darah cucu tertua.

Biasanya dianggap penyakit turunan,

lalu, menyalahkan rumah hingga pindahan.

Bayangan.

Saat tiba di rumah ini, aku melihat bayangan.

Bayangan yang menekan garis keturunan keluarga ini.

Itu mungkin bayangan kakekmu.

Kakekku?

Singkatnya, "Angin Makam".

Biasanya disebut bencana makam leluhur.

Artinya leluhurmu berulah sebab merasa tak nyaman.

- Kau yakin? - Ya.

Sangat yakin.

Lalu, apa yang harus kulakukan?

Tentu, menyewa orang.

Aku tak bisa sendirian. Aku butuh ahli.

Astaga.

Kenapa aku memikirkan wajah-wajah itu?

- Makam terbuka! - Makam terbuka!

Beraninya kau menatap tetuamu.

Maafkan aku.

Ayo pergi.

Satu, dua, tiga.

Tak ada air masuk.

Maaf aku membangunkanmu.

Ini bersih.

Sangat wangi.

Kenapa barangmu banyak sekali?

Astaga.

Sudah kubilang jangan masukkan perhiasan.

Membuat dia tak nyaman.

Presdir Kim.

Aku yang memilih lahan makam tetua keluargamu, 'kan?

Ya, benar.

Jadi, semuanya sehat, bahagia, dan bisnis sukses.

Ya, berkat dirimu.

Bagaimanapun kulihat tempat ini,

ini tempat myungdang terbaik dalam 40 tahun karirku.

Lihat, lima elemen bertepatan.

Benar, 'kan?

Akan kuberikan murah untukmu.

Ya.

Jadi, jangan khawatir.

Kurasa lebih baik menguburnya lagi.

Jika kau bilang begitu, maka itu benar.

Tapi, kenapa dia selalu muncul di mimpi anakku?

Belakangan ini, istriku juga memimpikannya.

Pak Ko!

Masih belum selesai?

Aku lapar.

Aku juga lapar.

Yang ini juga lapar.

Seseorang mengambil isinya tanpa memeriksa.

- Jumlahnya benar? - Ya.

Baiklah.

Seseorang mengambil gigi palsu nenek ini.

Kubilang, ada yang ambil gigi palsu nenek ini.

Kau ambil gigi palsu nenek?

Sang-hyun.

Benda di lemarimu, apa itu gigi palsu nenek?

Kenapa kau...

Semua barang-barang nenek dikubur.

Nenek sudah tiada.

Ayah.

Aku harus menyimpan sesuatu.

Nak.

Nenekmu lapar, segera berikan kepadanya.

Bagaimana denganku?

Bagaimana caraku mengingat nenek?

Tak ada apa-apa.

Namamu Sang-hyun, 'kan?

Sang-hyun, nenekmu selalu ada di sisimu.

Garis darah.

Tak bisa kau singkirkan meski mati.

Sekelompok tubuh dan pikiran yang berbagi gen sama.

Ketika manusia mati, tubuhnya akan menyatu dengan tanah.

Lalu, kita menyesap dan menginjak tanah.

Menjalani siklus hidup dan mati berulang-ulang kali.

Singkatnya, tanah ini menghubungkan dan memutar segalanya.

Takhayul dan penipuan. Persetan semua itu.

Untuk satu persen di Korea,

feng shui adalah agama dan ilmu.

Aku adalah jigwan.

Menggali tanah demi yang hidup dan mati.

Ahli feng shui, Kim Sang-deok.

RUMAH DUKA NOBLE

Banyak perusahaan lokal melihat situasi ekonomi terkini

sebagai penurunan jangka panjang.

Menurut penelitian...

Makan saat matang.

Buat apa menunggu matang? Sekali panggang cukup.

Sejujurnya, tempat itu...

Apa itu sungguh myungdang?

Dasar...

Apa maksudmu? Kita biasa ke sana.

Kulihat makam itu...

Hyeonmu-nya agak ambigu.

Bentuk macan putihnya agak... Aku tak yakin.

Astaga, kau sudah jadi ahli feng shui.

Jika kau begitu cerdas, lakukanlah sendirian.

Setelah kupikirkan.

Sekitar 250 ribu orang mati tiap tahun di Korea,

30% dari mereka dikubur.

Jadi, sejak masa Joseon, di lahan sekecil ini,

banyak orang yang dikubur di sana.

Tapi, kita masih mencari myungdang.

- Menurutku... - Tempat itu...

dapat dinilai 65 poin.

Jadi, tidak 100 poin?

Sudah punah. Tak ada lagi.

Orang-orang sepertimu, semuanya bekerja di rumah duka.

Kami, jigwan yang menggali tanah, berkumpul di lokasi konstruksi.

Semua habis.

Berdiri terakhir.

Minumlah.

Tunggu, mereka sudah datang.

Kalian datang terlalu awal.

Lama tak jumpa.

- Halo. - Ya.

Astaga, aroma jamurnya sampai Seoul.

- Aku tak tahan. - Dia memakan semuanya.

Apa maksudmu?

- Apa kabar? - Selamat datang.

Aku seharusnya sering menelepon.

Kau sibuk, tak apa-apa. Tapi...

Bong-gil jadi makin cantik.

Serius?

Astaga, jangan disebut.

Para wanita bersaing untuk memperebutkan dia.

Sudah berapa lama ini? Sudah 3 tahun?

Ya. Waktu berjalan cepat.

Bagaimana bisnis belakangan ini?

Lumayan, ini juga musim sepi.

Jadi, aku menemui kalian lagi.

Tunggu, aroma apa ini?

Kau menciumnya?

Aroma apa?

Aroma uang.

Ya, aromanya seperti uang.

Astaga.

Sudah kucoba menyembunyikannya.

Aku ketahuan.

- Katakan saja. Ada apa? - Astaga.

Kau juga sangat cerdas.

Dikenalkan oleh dokter kenalanku,

kami mendatangi sebuah keluarga aneh di Amerika.

Namanya Park Ji-yong.

Ayahnya adalah orang Korea.

Tapi, keturunannya adalah Amerika.

Tanpa awal dan ujung...

Mereka sangat kaya.

Awal yang bagus.

Cucu tertuanya kena penyakit hantu, bahkan bayinya.

Itu bertahan cukup lama.

Itu bukan kerasukan?

Masih belum sejauh itu...

tapi, sekilas, itu seperti Angin Makam.

Kau sungguh mau menggali kubur kakekmu?

Itu hampir 100 tahun.

Aku tak butuh persetujuanmu.

Aku sudah memutuskan.

Kau mempercayai hal macam itu?

Kau pikir bibimu di Korea akan setuju?

Aku kepala keluarga.

Jadi, aku yang memutuskan.

Nak, aku tak mempercayai mereka.

Jika ada yang salah, hal ini akan membesar.

Bayimu akan segera membaik.

Mari berdoa bersama.

Lalu, melanjutkan pengobatan.

Kita hanya harus hidup tenang dari kejauhan.

Apa salahnya hamil ketika menikah?

Itu mahar yang bagus.

Meski begitu, kenapa maharnya cucu?

Nanti rambutnya kuning.

Matanya akan biru.

Kau sangat kolot.

Apa Yeon-hee akan tinggal di Jerman usai menikah?

Apa maksudmu? Tentu, dia akan kembali ke Korea.

Omong-omong, karena Yeon-hee akan menikah...

aku mengkhawatirkan uangnya.

- Tapi, ini pekerjaan besar. - Benar.

Tuhan mengirimi kita uang pensiun di saat yang tepat.

Amin.

Tapi, dia seberapa kaya?

Memberi kita 500 juta untuk memindahkan makam.

Pikirmu hanya itu? Ada lagi.

Apa? Ada lagi?

Kau tahu seperti apa Hwa-rim?

Pikirmu dia puas dengan itu?

Benar.

Gadis itu sungguh licik.

Pertama, beritahu nama kakekmu dan kampung halamannya.

Aku biasanya mencari tahu reputasi dan karir anggota keluarga...

sebelum mulai pekerjaan,

tapi, karena kau buru-buru...

Bukankah orang yang membayar

akan lebih butuh kepercayaan?

Kepercayaan?

Baiklah.

Jika kau tidak mau, batalkan saja.

Bisa kau janjikan 2 hal ini?

Tolong rahasiakan semua ini.

Dan tolong segera kremasikan.

Bersama petinya.

Bersama petinya?

Tanpa membuka petinya?

Apa ada masalah?

Lagi pula, itu akan dipindahkan atau dikremasi.

Begini...

Biasanya harus lapor ke pemerintahan distrik,

lalu membuka peti dan mengambil sisa isinya,

kemudian, itu dikubur atau dikremasi.

Paham?

Mari lihat makamnya dulu.

Ibu dan kerabatku tidak setuju dengan ini,

- jadi, aku ingin segera... - Lihat makam dulu.

Provinsi Gangwon Utara.

Firasatku tak enak.

Aku merasa aneh kita tak boleh membuka petinya.

Bukankah kita harus periksa sisanya?

Berarti aku tak melakukan yeomdo.

Apa ada sesuatu dalam peti?

KUIL BOGUKSA

DILARANG MASUK LAHAN MILIK PRIBADI

Kau pernah lihat makam di puncak gunung?

Sangat jarang.

Kau tahu gunung ini?

Ini kali pertamaku datang.

Bagi orang yang sering mengelilingi negeri,

ada yang tak kau tahu?

Aku hanya mencari myungdang.

Pemandangannya sangat indah.

Bagus.

Korea Utara juga terlihat dari sini. Kalian lihat?

Makamnya sederhana, berbeda dengan areanya.

Apa ada sesuatu?

Tak ada namanya.

Siapa yang mencarikan tempat untuk makam ini?

Ayahku bilang tempat ini dicarikan oleh seorang biksu terkenal

sebab kakekku berkontribusi besar untuk negeri.

Biksu?

Ya, kudengar namanya Gisune.

Gisune?

Itu nama yang unik.

Bisa dibilang makamnya cukup sederhana.

Katanya dulu banyak penjarah makam,

jadi makamnya dibuat sederhana.

Bagaimana?

Mau kupilihkan tanggalnya?

Ada apa? Apa yang aneh?

Pak Park.

Aku tak bisa melakukan pekerjaan ini.

Dia mulai lagi.

Sang-deok!

- Ada apa dengannya? - Apa itu?

Apa sangat buruk?

Apa tak ada cara lain?

Kenapa kau diam saja?

Gunung di sini juga bagus. Apa yang salah?

Kau tahu berapa bayarannya?

Pak Kim, apa alasanmu menolaknya?

Kalian semua sudah tahu.

Apa yang terjadi jika salah menganggu makam?

Aku menekuni ini selama 40 tahun,

tapi, belum pernah dengar tempat ini.

Tempat ini sangat jahat.

Ini bukan tempat untuk memakamkan orang.

Jika kau menganggu tempat macam itu

mulai dari jigwan hingga pekerja akan celaka.

Kalian tak tahu apa-apa.

Hwa-rim, kau lihat rubah-rubah itu?

Rubah di area makam adalah pertanda buruk.

Ini tempat yang paling jahat.

Itu terakhir kali kulihat putraku tersenyum.

Sebenarnya aku punya dua anak,

tapi, semua keguguran tanpa alasan.

Dia anak yang kudapat diusia tua.

Pak Kim, kau punya anak?

Ya, aku punya.

Aku punya putri yang segera menikah.

Selamat.

Tidak perlu.

Apa putrimu juga menekuni pekerjaan ini?

Dia jurusan Teknik Dirgantara dan bekerja di penerbangan Jerman.

Dia segera menikah dan sangat sibuk.

Menarik.

Ayahnya ahli feng shui,

putrinya jurusan Teknik Dirgantara.

Jika memperhatikan dua bidang itu,

keduanya punya banyak kesamaan.

Lima Elemen itu...

diantaranya tanah, air, api, besi dan kayu.

Mempelajari elemen ini yang membentuk alam.

- Lalu Teknik Dirgantara... - Tolong.

Selamatkan putraku.

Pak Park, kau menyembunyikan sesuatu, 'kan?

- Apa maksudmu? - 38.3417,

128.3189.

Lintang dan bujur.

Angka yang tertulis di belakang nisan.

Meski aku tak kenal bisku Gisune itu,

tapi, itu sangat jelas bahwa dia punya suatu niatan.

Tidak.

Aku tak tahu.

Aku tak menyembunyikan apa pun.

Kuberitahu lagi.

Memindahkan makam tanpa nama dari tempat jahat...

itu sangat berbahaya.

Seperti menambang dengan tangan kosong.

Mari coba Daesalgut.

Sudah kuduga.

Kita melakukan itu sambil memindahkan makam.

Ada apa? Kau sudah tahu jawabannya.

Aku tak percaya hal yang belum kucoba.

Meski belum pernah mencobanya,

bukan berarti itu mustahil, 'kan?

Tunggu.

Kenapa kita meminta izin Pak Kim?

Dia bukan satu-satunya jigwan di Korea.

Makanya, sulit bekerja dengan pria kolot.

- Hei. - Anaknya sakit.

Lokasi hotel ini bagus.

Ini ritual pengusiran setan bernama Akdogiri.

Hubungkan 5 orang yang lahir di Tahun Babi

dengan lima ekor babi.

Lalu, suruh mereka menggali makam.

Energi jahat dari tanah akan dipindahkan ke para babi

yang akan kubawa pergi.

Bibimu datang.

Sepertinya ibumu memberitahunya.

Ayo!

Ayo!

Ini dia!

Ayo!

Bagus!

Ayo!

- Sangsan! - Sangsan!

Gali makam.

Gali makam.

Sangsan!

Sangsan!

Itu dia.

Gaegwan!

- Gaegwan! - Gaegwan!

Hawanya dingin.

Terlalu usang hingga tak kukenali.

Apa ini?

Petinya dari kayu cemara.

Ini dulu hanya untuk keluarga kerajaan.

Di sini ada juga?

- Bugwan! - Bugwan!

Bagus, lakukan perlahan.

- Rendahkan kepalanya! - Perlahan.

Hati-hati.

Masukkan peti ke dalam mobilnya.

Kita langsung ke krematorium,

jadi, kubur batu nisannya lalu selesaikan.

Ganti talinya.

- Jangan makan daging hari ini. - Baik.

Terima kasih sudah meminjami.

Ya?

Ada orang mati berbaring di dalam.

Mengemudilah pelan.

Astaga.

Aku Ko Yong-geun yang mengurus mendiang presiden.

Kini sudah selesai. Jangan cemas.

Mari lihat.

Tak ada apa-apa.

Ayo pergi.

Apa ini?

Sialan.

Apa yang terjadi?

Pak Park.

Karena tiba-tiba hujan turun

kremasinya harus ditunda.

Kenapa?

Kremasinya juga tidak di luar.

Jika dikremasi ketika hujan,

arwahnya tak bisa menuju tempat bagus.

Meski, menurutmu ini takhayul

kuberitahu sebab ini etika kerja.

Hal macam ini kadang terjadi.

Di saat seperti ini,

jasad akan disimpan di rumah sakit terdekat,

lalu, dikremasi ketika hari cerah.

Bukankah harus melapor jika ke rumah sakit?

Sang-deok!

Sudah kuhubungi.

Langsung datang saja.

Jangan cemaskan itu.

Kami punya kenalan.

Apa maksudmu memindahkan makam tanpa buka petinya?

Pihak keluarga melarang untuk membukanya.

Ini.

Astaga, tidak perlu.

Astaga.

Ada apa? Cepat ambil.

Ya ampun.

Kebetulan hari ini tim terakhir keluar.

Baguslah.

Astaga, turun hujan di hari kremasi.

Ingin pergi saja sulit.

Harus memilih tanggal lagi?

Benar.

Bisakah kita mempercayai mereka?

Mereka kubayar untuk melakukan perintahku.

Jangan khawatir.

Selagi ada waktu,

pikirkan cara menguburnya di Pemakaman Yeoju.

Aku masih menentang kremasi.

Dia ayahku, jadi aku yang memutuskan.

Istirahatlah dulu.

Karena petinya tak boleh dibuka,

letakkan saja petinya di sini.

Akan kuatur suhu ruangnya.

Terima kasih.

Petinya...

Sepertinya dia orang penting.

- Lama tak jumpa. - Ya.

Semua keluarganya sudah pergi ke Seoul.

Hwa-rim bilang dia akan kemari.

Cuaca hari ini dingin.

Pergi dan makanlah gukbap.

Aku akan pergi dulu.

Baiklah.

KUIL BOGUKSA

Aku belum pernah melihatmu.

Ada keperluan apa?

Permisi.

Aku lewat sini dan melihat papan tandanya.

Begitu, ya.

Aku melihat simbol feng shui di Kuil Boguksa,

jadi, aku ingin menanyakannya.

Apa kau jigwan?

Aku belajar di bawah bimbingan Guru Choi Eui-jung.

Sekarang, aku mencari nafkah dengan menggali tanah.

Meski tempat ini sederhana,

tapi, tempat ini telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Kepala Biksu yang membangun Kuil Boguksa

sangat ahli dalam feng shui.

Namanya sangat terkenal.

Begitu, ya.

Aku bisa tahu dengan melihat tempat ini.

Kalau boleh bertanya,

apa nama kepala biksu di sini Gisune?

Gisune?

Bukan, namanya Wonbong.

Tapi, kenapa bertanya?

Di puncak gunung di sana,

ada makam tanpa nama.

Apa kau tahu?

Tentu saja.

Sekarang aku tak tahu apa masih ada,

dulu banyak rumor soal makam itu.

Rumor apa?

Jangan sendirian di sini,

makanlah semangkuk sup daging sapi.

Baiklah. Jangan khawatir.

- Aku pergi. - Hati-hati.

Kenapa dia yang pilih menunya?

Rumornya ada harta terkubur di makam itu.

Harta?

Kata orang-orang itu makam orang terkaya di Joseon

atau makam seorang raja tak dikenal.

Jadi, dulu banyak penjarah makam yang datang.

Penjarah makam?

Ada beberapa tertangkap,

dan lainnya kabur ke Korea Utara.

Jadi, mereka tak bisa menjarah?

Mereka bahkan belum memulai.

Mungkin sebab itu makam petinggi, keamanannya ketat.

Mendekati pun sulit.

Ini adalah barang yang ditinggal para penjarah.

Tapi, kenapa menanyakan makam itu?

Hari ini...

aku menggali makam itu.

Bagaimana?

Apa ada harta emas terkubur?

Hei! Apa yang kau lakukan?

Hei!

Hwa-rim.

Hei!

Hwa-rim, kau baik-baik saja?

Apa?

Apa maksudmu? Petinya terbuka.

Sungguh merepotkan.

Jika sudah dibayar, seharusnya jangan dibuka.

Pantas saja tatapannya aneh.

Hei, apa yang terjadi?

Sesuatu melewati Hwa-rim.

Apa maksudmu?

Sesuatu keluar dari sana.

Sesuatu yang jahat.

Ayah...

Ayahku.

Jong-soon.

Putraku.

Buka jendelanya.

Ayah...

Masuklah.

Ayah?

Putraku yang baik dan pintar.

Di sini banyak susu dan madu.

Ayah kedinginan dan lapar.

Maafkan aku.

Arwahnya pasti sedang berkeliaran menggila.

Keluarganya dalam bahaya.

Pak Kim, pergilah ke Seoul.

Kami akan memanggil arwahnya kemari.

Kau mau memanggil arwah di sini?

Dia terkurung di bawah tanah selama ratusan tahun.

Tak ada yang menolong?

Arwahnya memiliki dendam.

Dia akan mendatangi keluarga sedarahnya.

Suasananya menakutkan.

Di luar hujan, petinya terbuka dan arwah berkeliaran.

Aku tak suka melakukan ini.

Apa-apaan ini?

Apa kalian tak apa-apa melakukan dua ritual dalam sehari?

Tak masalah.

Pak Ko, kau harus selaraskan waktunya.

- Setelah masuk, segera tarik. - Baik.

Datanglah.

Dia datang.

Datanglah.

Dia sampai.

Bong-gil!

Lanjutkan!

Kakek.

Siapa dirimu?

Bong-gil, jangan lepaskan!

Apa yang membuatmu begitu marah?

Katakan saja.

Lepaskan bebanmu dan pergilah.

Jangan pergi ke tempat lain.

Aku akan membawa...

anak-anakku.

Itu tak boleh.

Dia lepas.

Bagaimana ini?

Halo?

Ini aku, Kim Sang-deok. Kau baik-baik saja?

Ya. Ada apa?

Syukurlah.

Sekarang ada masalah,

aku sedang menuju ke sana.

- Meski sudah larut, bisa kita bicara? - Ya.

Ada apa?

Kau di hotel yang sama, 'kan?

Aku hampir sampai. Aku akan naik.

Sebentar.

Siapa itu?

Aku Kim Sang-deok.

Halo? Apa yang terjadi?

Pak Kim, apa kau di luar?

Hei, Pak Park.

Tidak!

Itu bukan aku.

Ini karena peti kakekmu terbuka.

- Apa? - Tolong buka pintunya!

Peti kakekku?

Ya. Maaf, itu telah terjadi.

Apa terjadi sesuatu?

Jadi, jangan buka pintunya.

- Aku hampir tiba. - Pak Park!

Mulai kini, dengar ucapanku dan bertindak dengan tenang.

Pak Park, dengar.

Menjauhlah dari pintu dan menuju ke jendela.

Buka pintunya dulu.

Situasinya gawat, aku harus menjelaskannya!

Jangan dijawab atau didengar.

Pergi dan buka jendelanya.

Kakek akan melindungimu. Sambut kakekmu.

Pak Park!

Percayalah aku.

Kubilang, buka jendelanya.

Pak Park!

Pak Park?

Kau baik-baik saja?

Para pemuda di semenanjung.

Apa kalian dengar suara ratusan pesawat dan meriam?

Majulah, putra kekaisaran.

Angkat pistol dan pedang perakmu di bawah matahari merah.

Demi persatuan Asia Timur Raya.

Berikan jiwa kalian untuk kekaisaran agung.

Ambulans...

Panggil ambulans.

Panggil ambulans.

Panggilkan ambulans!

Aku lihat dengan mataku sendiri.

Jika dibiarkan, semua akan mati.

- Aku akan ke krematorium. - Baiklah.

Kau harus minta izin untuk kremasi. Aku akan bersiaga.

Sekarang, peti...

Rubah memotong perut macan.

Apa?

Rubah memotong perut macan.

Kubilang, rubah memotong perut macan.

Ibu Mertua, apa kau sakit?

Sepertinya dia lelah dari perjalanan jauh.

Aku akan istirahat.

Kondisi Joseph membaik hari ini.

Benar?

Aku tak bisa hubungi keluargaku.

Aku akan memeriksanya.

Baik, aku akan di sini.

Ini adalah keadaan darurat!

Memang aku pernah begini?

Tapi, sekarang tak bisa.

Kami hampir tiba. Bergegaslah.

Kenapa melakukan kremasi ketika hujan?

Apa kata keluarganya?

Ada sesuatu yang keluar!

Kau paham maksudnya?

Itu harus segera dikremasi.

Segera hubungi keluarga di AS.

Apa? Apa maksudmu?

Kau lihat sendiri.

Bayinya sedang dalam bahaya.

Keluarga di AS tidak menjawab.

Kalau begitu...

Apa ini?

Kau belum membukanya?

Kau mau membakar petinya?

Jika pemerintahan distrik tahu, ini akan jadi masalah.

Peti ayahku?

Ya. Aku juga tak tahu alasannya.

Intinya, itu harus segera dikremasi.

Apa maksudmu?

Ya. Kita harus bergegas, Bu.

Kini, arwahnya sedang mendatangi bayi di Amerika.

- Aku akan bakar. - Sebentar.

Keluarganya belum menjawab. Tunggu.

Keluarga di Amerika tak bisa dihubungi.

Jadi, kau harus memberi izin untuk kremasinya.

Apa tak ada cara lain?

Baiklah.

Lakukan kremasinya.

Baik.

Bakar.

Astaga, malangnya.

Dia tak bisa menuju tempat bagus.

Keluar jalur, mencari rute baru.

Sang-deok, kau tahu Chang-min, 'kan?

Dia mendadak sakit usai memindahkan makam.

Jika kau ada waktu, kunjungi dia.

Belok kiri di depan.

Rumah sakit pun tak tahu.

Hanya membuang uang saja.

Aku selalu mimpi buruk.

Juga melihat sesuatu.

Sang-deok...

Sepertinya aku berbuat salah.

Di hari ketika membersihkan makam aku melihat sesuatu.

Bentuknya aneh.

Seekor ular.

Ular?

Sial, seharusnya kubiarkan saja.

Sang-deok, aku minta bantuanmu.

Temukan ular yang terpotong itu dan sembuhkan aku.

Aku sungguh tak ingin pergi hari itu.

Aku tak ingin pergi.

Memang. Tempat itu aneh sejak awal, 'kan?

Kenapa ada makam di tempat itu?

Makam bertumpuk.

Ya, aku sibuk.

Aku sedang bersama orang-orang dari gereja.

Ini 50,000 won untukmu.

Ikut.

Apa?

Makam bertumpuk?

Benar, ada satu di bawahnya.

Tapi, Pak Ko.

Kau pernah lihat peti terkubur tegak?

Ya?

Hwa-rim?

Peti bisa menjadi tegak sebab pergeseran tanah,

tapi, ini terlalu besar.

Apa ini?

Apa lagi itu?

Ini.

Sepertinya ini agar tak dibuka dari luar.

- Atau... - Apa?

Atau sebaliknya.

Pertama, mari kita gali dulu.

Buat apa?

Lebih baik beritahu keluarganya dulu.

- Kita juga harus membahas uang. - Kita...

jangan menganggu ini.

Kita gali dulu.

Ini pasti dari keluarga yang sama.

Kita tak bisa meninggalkannya di sini.

Menggali ini?

Lebih baik menariknya. Bawakan tali.

Sudah sore.

Tarik bersama dalam hitungan ketiga.

Satu, dua, tiga!

Apa ini peti manusia?

Mau kemana ini?

KUIL BOGUKSA

Ada apa?

Seperti kataku di telepon, kami memindahkan makam dadakan.

Izinkan kami menginap malam ini.

Keluarganya bilang akan kemari.

Ada tempat untuk menyimpan petinya?

Apa...

Apa-apaan ini?

Permisi, Pak.

Apa kau punya beras ketan?

Bong-gil, ambil darah kuda di mobil.

Kau tahu ini bukan ide bagus.

Makam bertumpuk?

Apa itu?

Katakan semua yang kau tahu.

Aku tak tahu.

Aku sungguh tak tahu.

Kenapa itu terkubur di sana?

Lalu, kenapa makam ayahku ada di tempat jahat?

Itu tertulis di myeongjong.

Wakil Dewan Sentral, Park Geun-hyun.

Ternyata dia adalah orang terkenal.

Karena pengkhianatan.

- Jadi, biksu itu menghukum dia... - Aku tahu.

Makanya, aku tidak mengerti.

Biksu Gisune itu...

bukan dari Korea,

tapi, dari Jepang.

- Apa? - Orang Jepang?

Nama aslinya adalah Murayama Junji.

Kudengar dia sangat paham semua daerah Joseon.

Tapi, kenapa ayahku yang setia dikubur di tempat jahat?

Aku tak mengerti.

Aku dapat kabar bahwa bayi di Amerika baik-baik saja.

Akan kusiapkan uang yang dijanjikan Ji-yong.

Peti itu...

tolong kalian urus sendiri.

Mari bakar petinya.

Baik.

Mari kita bakar besok pagi.

Ya, mari lakukan. Menurutku itu lebih baik.

Permisi.

Aku sudah memasak mie untuk kalian.

Terima kasih.

- Mari? - Lewat sini.

Firasatku buruk sejak awal soal makam itu.

- Gunungnya juga curam. - Aku belum makan apa-apa.

Mari minum ini bersama.

Terima kasih.

Terima kasih atas jamuannya.

Semoga sehat selalu.

Aromanya...

Ini barang bagus.

Silakan minum.

Hangatnya.

Apa masih ada...

Ya, Murayama Junji.

Kau tak ingat? Dulu Guru sering menyebutnya.

Iblis Rubah Jepang Onmyoji.

Benar, Onmyoji Murayama.

Dulu, Guru pernah menemuinya.

Energinya terlalu kuat dan tak manusiawi.

Pasti anak Rubah.

Kenapa bertanya? Di mana kau?

Tak apa-apa.

Baiklah.

Terima kasih, Gwang-sim.

Kuhubungi nanti.

Nenek.

Nenek...

Firasatku aneh.

Leverku telah diambil, leverku.

Leverku.

Leverku telah diambil.

Seseorang mengambil leverku.

Ada yang mengambil leverku.

Leverku telah diambil.

Di mana pakaianku?

Pakaianku.

Sialan.

Seseorang mengambil leverku.

Pakaianku, leverku...

Dia mengambil leverku.

Hwa-rim.

Sialan.

Sial, bau sekali.

Karena segel dia kabur ke atas.

Sekarang...

Ada apa? Katakan.

Makhluk ini...

berada di peternakan di bawah.

Bangunkan semuanya.

Pintunya terbuka.

Apa ada manusia?

Aku ingin mengambil helm milikku.

Apa ada manusia?

Tidak.

Tidak ada.

Tak ada manusia.

Aku pelayanmu.

Benarkah?

Apa kau menyiapkan ikan putih dan semangka?

Apa kau tak dengar ucapanku?

Aku memenggal kepala jenderal musuh.

Tidak.

Aku akan menyiapkannya.

Kau manusia.

Lari.

Bong-gil.

Bong-gil.

Pagoda.

Bong-gil.

Bong-gil!

Bong-gil, sadarlah.

Bong-gil.

Kedai teh Kim Yong-ja 700,000 won.

- Bong-gil, bangun! - Mereka utang aku 200,000 won...

Pak Kim, bantu aku!

Bantu aku.

Bantu aku!

Bantu aku...

Bong-gil, sadarlah!

Suhu kalian tinggi, jadi kuberi penurun demam.

Di peternakan desa yang rusak,

terdapat puluhan babi yang terkoyak.

Juga ditemukan dua mayat di tempat yang sama.

Korban adalah biksu dari kuil setempat,

dan seorang pekerja migran di peternakan.

Warga dan kepolisian bekerja sama mengejar beruang liar.

Maafkan aku.

Gara-gara aku menyuruh menggalinya.

Bong-gil juga.

Kepala Biksu juga.

Bong-gil pernah bermain bisbol,

tapi, berhenti sebab sakit mental.

Ketika dia diusir keluarganya dan menemuimu,

aku mencegahnya agar tak menjadi dukun.

Katanya, dia baik-baik saja asal bersamaku.

Tak ada yang ditakutkan.

Dia bilang begitu.

Aku diam saja karena ketakutan.

Dia punya jejak kaki,

juga bayangan.

Dalam perdukunan ada pepatah.

Arwah tak stabil dan hantu tak bertubuh.

Jadi, itu mustahil mengalahkan jiwa dan raga manusia.

Tapi, itu sangat berbeda.

Itu bukan arwah, tapi roh penunggu.

Roh penunggu?

Jiwa manusia atau hewan yang berevolusi bersama suatu benda.

Itu tak boleh ada di negara ini.

Aku tak merasakan apa pun.

Siapa dirinya? Dari mana asalnya?

Kenapa dia ada di makam keluarga Park?

Organ perutnya terluka parah.

Dia juga kehilangan banyak darah.

Masalahnya, tulang punggungnya agak retak.

Segera pindahkan ke rumah sakit besar.

Apa dia diserang binatang buas?

TULANG PUNGGUNG SEMENANJUNG

PEGUNUNGAN BAEKDU-DAEGAN

Rubah memotong perut macan.

Katanya dulu banyak penjarah makam,

jadi makamnya dibuat sederhana.

Barang-barang para penjarah masih ada di gudang.

"Tanah kita, kawanku."

Orde Darah Besi.

Kami sudah mencegah kerusakan organ.

Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut,

tapi, kesadarannya harus pulih.

Ini aneh.

Apa yang terjadi?

Dia sudah melewati masa kritis.

Tapi, tulang punggungnya terluka.

Bisakah dia berjalan?

Dia akan mengatasinya. Lagi pula, dia masih sehat.

Apa yang kau lakukan belakangan ini?

Ada apa?

- Gwang-sim. - Ya?

Paman baunya amis.

Aku tahu, makanya kupanggil kalian.

Mari kita bermain Permainan Hantu.

Park Ja-hye, kau sedang apa?

Kunci pintunya.

Bae Ji-dang, Lee Chung-gu,

Park Gil-ho, Shin Pal-gyun,

Kim Jung-bok, Song Jong-ik,

Min Geun-ho,

Jeon Tae-hwan, Im Chung-sin.

Benar.

Ini sangat tragis bagi para penjarah makam.

Halo, semuanya. Lama tak berjumpa.

Semua sudah tiba?

Aku baru tiba.

Panen telah usai dan cuaca semakin dingin.

Apa kabar kalian?

Kalian sudah berkumpul, aku harus segera buat pankuk.

Jangan khawatir.

Aku sudah membuat kue beras dan sup daging.

Pantas saja aromanya tercium sampai sini.

Kau membawa banyak, 'kan?

Ya, aku bawa banyak.

Kita takkan bisa habisakan semuanya.

Kalau begitu, mari kita undang Pak Jang dan Pak Daek.

Kenapa mengundang orang sibuk?

Kita bisa habiskan sendiri.

Benar, kita makan saja.

Apa kau bawa ikan juga?

Apa?

- Sepertinya ada Pak Yoon. - Apa maksudmu?

Kau belum dengar kabar Pak Yoon?

Ya, Pak Yoon tak mungkin datang.

Apa maksud kalian? Segera katakan.

Jangan disebut.

Kudengar dia menjumpai sesuatu yang jahat.

Memang sejahat apa...

hingga membuatnya terbaring seperti itu?

Kau tak tahu?

Kudengar dia didatangi tamu tengah malam.

Apa maksudmu?

Astaga, Pak Yoon.

Apa yang kau lihat? Hingga membuatmu terbaring begitu.

Dia tampak normal.

Siapa...

tamu yang kau temui?

Cepat katakan.

Tuan...

Tuan?

Tuan apa?

Cepat katakan.

Bajingan.

Tuanku yang membunuh 10,000 musuh.

Tuanmu itu...

sekarang ada di mana?

38.3417, 128.3189.

Itu hantu Jepang.

Dia jenderal yang melindungi tempat itu.

Apa-apaan itu?

Tuan, lihatlah aku!

Aku di sini.

Aku ingin mempersembahkan tubuh ini.

Akan kukeluarkan daging itu.

Ja-hye.

Kemari.

Selamatkan aku, Ja-hye.

Dasar jalang.

Kalian akan mati.

Hwa-rim, jangan lakukan ini.

Itu hantu Jepang.

Aku tahu.

Meski tak ada hubungannya, kau akan dibunuh.

Semua yang mendekat akan dibunuh.

Bukankah kau pernah melihatnya?

Jangan pernah mendekatinya.

Meski nenekmu ada di sampingmu.

Ini tak boleh.

Ayo, Ja-hye.

Bagaimana dengan Bong-gil?

Kuhubungi nanti. Ayo.

Itu terkubur di bawahnya?

Berarti, dia kembali ke tempat awal.

Sang-deok, kenapa kau ke sana lagi?

Park Ji-yong berkata sesuatu sebelum mati,

"rubah memotong perut macan."

Apa maksudnya?

Menurut feng shui, tanah Joseon dinamai macan.

Macan penguasa semenanjung.

Lalu?

Angka yang tertulis di nisan, lintang dan bujur.

Di mana itu?

Benar, itu di sana.

Tepat di perut macan.

Iblis Rubah Onmyoji yang Hwa-rim sebutkan.

Rubah itu...

ada di sana!

Dia memasang pasak di sana.

Lalu, apa makam keluarga Park?

Karena orang-orang ini terus mencarinya,

jadi, di atasnya diberi makam petinggi.

Supaya tak dijarah.

Lalu, kenapa ada hantunya?

Dia jenderal yang melindungi tempat itu.

38.3417, 128.3189.

Sepertinya...

dia melindungi pasak besinya.

Hwa-rim.

Meski hubungan kita sebatas bisnis,

aku minta tolong padamu.

Jika kau beromong kosong, hentikan saja.

Pasak besi yang memecah negara manjadi dua.

Kau masih mempercayainya?

Pasak itu dipakai untuk mengukur lahan.

Kau tahu itu.

Dulu di konferensi, 99% itu dikatakan palsu.

Lalu, satu persennya?

- Pak Ko. - Ada apa?

Ini berbeda dari makam biasa.

Ini diperhitungkan dengan cermat.

Kau sudah lihat orang mati karena makam itu.

Kau mau ada korban lagi?

Sang-deok.

Entah ada pasak atau tidak.

Kita hidup baik-baik saja hingga sekarang.

Kenapa kau mau melakukan itu?

Benar.

Kau dan aku,

kita hidup enak dengan menjual tanah pada orang kaya.

Tapi, karena itu...

Pak Ko, ini tanah.

Itu tanah untuk ditinggali oleh cucu kita.

Kau dan aku. Kita semua.

Lalu, siapa pun setelah kita.

Hwa-rim, dia roh penunggu?

Jika hantu itu menempel pada pasaknya,

kita hanya perlu mencabut pasaknya.

Setelah pasaknya dicabut, Bong-gil mungkin akan membaik.

Katamu jenderal itu melindungi tempatnya.

Bagaimana cara mencabutnya?

Kau melihatnya di kuil itu.

Memanggil seperti binatang buas.

Bicara seperti roh penunggu.

Menurutmu ini bisa?

Ada yang bisa kita lakukan dan ada yang tidak.

Maaf, hantu itu...

tak bisa dihilangkan.

Meski tak ada dendam,

siapa pun yang mendekat akan dibunuh.

Itu hantu Jepang.

Tapi, meski tak bisa dihilangkan...

aku bisa membuatnya keluar sebentar.

Aku bisa mengulur waktu.

Bong-gil.

Ambilkan iodofor lagi.

Bersihkan dengan air garam dan beri perban.

Ya.

Sebentar.

Dia menghindari tatonya.

Tato apa itu?

Itu adalah doa.

Maaf.

Di sekitar sini terdapat binatang buas.

Begini...

Boleh kutanya ke mana kalian pergi?

Kami menuju gunung untuk mengunjungi makam.

Begitu, ya?

Beberapa hari lalu mulai dari gunung itu,

sedang diperiksa militer.

Kami akan naik sebentar,

- setelah selesai, kami akan turun. - Baik.

Buka jalannya.

Petugas, semua mundur.

Karena kuberi apa maunya,

dia mungkin akan bergerak ketika tengah malam.

Arahkan dia ke pohon ritual,

aku akan mengulur waktu sebisaku.

Kami akan segera mencabutnya,

bertahanlah sekitar 30 menit.

Setelah kalian mencabut pasaknya,

basuh dengan darah kuda ini.

Pak Kim.

Pasak itu...

sungguh ada, 'kan?

Pasti ada.

Gwang-sim, awasi Bong-gil hari ini.

Jika ada masalah, dia dalam bahaya.

Berhenti menatapnya.

Katanya dia akan keluar tengah malam.

Pak Ko.

Terima kasih sudah ikut datang.

"Satu orang akan kalah, dua orang akan seimbang."

"Tali tiga lapis tak mudah putus."

Pengkhotbah 4:12.

Amin.

Gwang-sim.

Kuharap dia tak mati.

Itu akan mati menggantikan paman.

Lagi pula, kau juga suka ayam goreng.

Apa kau kenyang?

Di sini.

Ada siapa di sana?

Gunungku sangat berisik.

Apa gunung ini milikmu?

Ya, ini adalah gunungku.

Ternyata ada penunggu pohon tua.

Kenapa aku tak dengar suara pedang dan tembakan?

Itu tak ada.

Perang sudah berakhir.

Tidak.

Perang kita belum berakhir.

Kenapa kau ada di sini?

Rubah itu menguburku di Kuil Daitoku.

Dia membawaku kemari, alih-alih ke Kuil Namsan.

Itu pasti perbuatan keturunan Katahito.

Ataukah ini ulah Makoto?

Sekarang, tempat ini damai.

Ini bukan lagi tempat untukmu.

Tidak.

Kita harus terus menuju Utara.

Dengan pistol dan pedang perakmu.

Menuju Utara.

Jiwa pemberani takkan mundur.

Apa ini? Tak ada apa-apa.

Sebagai penunggu tempat ini, kutanya lagi.

Sejak kapan kau ada di sini?

Tunjukkan rasa hormatmu!

Aku hanya takut pada diriku.

Ini adalah wilayahku.

Kutanya lagi, siapa kau sebenarnya?

Tak ada.

Tak ada!

Tak ada di sini.

Katamu pasti ada!

Ingatlah.

Meski kepalaku dipenggal di Sekigahara,

tapi, aku sudah melampaui wujud fana.

Aku adalah dewa perang.

Tuanku yang abadi, kau adalah pedang membara!

38.3417, 128.3189.

Rubah itu telah mengutukku.

Aku harus melindungi tempat ini.

Apa kau sedang mengendalikan seseorang?

Lepaskan manusia yang kau kendalikan.

Segera!

Kumohon!

Kau manusia.

Majulah.

Maju.

Maju.

Maju.

Dasar nenek tua.

- Sudah ketemu? - Tak ada apa-apa.

Apa maksudmu?

Itu tak ada. Ayo pergi.

Sang-deok.

Ini mustahil.

Di mana?

38.3417, 128.3189.

Tuanku, tolong kembalilah.

38.3417, 128.3189!

Kim Sang-deok!

Sang-deok, cepat keluar!

Lalu, kenapa ada hantunya?

Dia jenderal yang melindungi tempat itu.

Berarti, dia kembali ke tempat awal.

Kau pernah lihat peti terkubur tegak?

Api.

Api itu masuk ke tanah.

Keluar!

Apa kau mau menjadi bawahanku?

Atau...

Apa kau mau memberikan leverku?

Sudah lebih dari 500 tahun sejak aku menghafal...

doa di tubuhmu itu.

Besi yang menancap di tanah.

Api yang menjaganya.

Silakan...

menikmatinya.

Lever segar itu.

Pakai darah kuda!

Darah kuda putih.

Panas.

Segera masuk.

Kau tak boleh terlihat lagi.

Itu roh penunggu.

Jiwa manusia atau hewan

yang berevolusi bersama suatu benda.

Benar.

Besi.

Kau adalah besi terbakar.

Sang-deok.

Pak Kim.

Kita harus segera pergi.

Tanah...

juga kayu.

Berdasarkan energi bumi,

api, air, kayu, dan besi membuat empat musim.

Air dan api berlawanan.

Besi dan kayu berlawanan juga.

Berhasil.

Besi yang terbakar.

Tidak cocok dengan...

kayu yang basah.

Air mengalahkan api.

Kayu yang basah...

lebih kuat dari besi.

Gwang-sim, tunggu.

Darahnya hitam.

Baiklah. Yang terakhir...

Bong-gil, kau baik-baik saja?

Sang-deok.

Bagaimana ini?

- Pak Kim. - Bagaimana ini?

Bagaimana ini?

Sekarat.

Untungnya, tak terlalu sakit.

Hei, Kim Sang-deok!

Sadarlah!

Aku selalu hidup di dekat kematian.

Benar.

Kali ini, hanyalah giliranku.

Kematian berarti kembali menjadi debu.

Dengan tenang.

Tunggu, pernikahan putriku...

Berikan dia keberanian selama operasi.

Tolong berikan dia berkahmu.

Beberapa orang terluka dan mati belakangan ini.

Setelah pencarian panjang,

militer berhasil menangkap seekor beruang liar.

Banyak opini publik tentang bagaimana nasib beruang tak bersalah itu.

Dia siuman.

Sang-deok.

Kau sudah sadar?

Untungnya, Pak Kim segera pulih tak seperti usianya.

Lalu, Bong-gil...

dia...

Astaga, dia seperti hantu.

Astaga.

Ini makanan kami.

Kalian tak mengundangku?

- Makanlah. - Minta satu.

Terima kasih.

Apa di sini restoran?

Kenapa kalian selalu makan?

Pikirmu kami makan karena mau? Kami memaksanya.

Sebab lezat.

Lezat.

Kau diminta untuk puasa.

Kita harus bertahan hidup.

Sekalian kau turunkan berat badan.

Musim dingin berlalu dan kami kembali hidup normal.

Seolah tak terjadi apa-apa.

Aku sudah bilang ini menghadap matahari.

Menghadap selatan tak selalu bagus.

Bagaimana ini?

Selanjutnya, kedua mempelai memberi salam.

Salam dari kedua mempelai.

Selanjutnya, pemotretan bersama para kerabat.

Hei, Pak Ko.

Kemarilah.

Itu adalah foto untuk kerabat? Tidak usah.

Sekali saja.

Ayo, sekali saja.

- Kita sudah seperti keluarga. - Itu foto keluarga.

Pria tinggi di tengah, tolong mundur.

Pria berkacamata di kiri, mendekat ke tengah.

Kenapa perut ayah dan anak sama-sama besar?

Astaga.

Baiklah, akan kupotret.

Ayah mempelai, tolong lihat depan.

Baiklah, kerja bagus semuanya.

Mari senyum bersama.

Satu, dua, tiga.

Terjemahan oleh Dedi Firmansyah

EXHUMA Terjemahan oleh Dedi Firmansyah

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.