Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik lembut mengalun]
UNTUK ORANG TUA KAMI TERSAYANG, SRI HIROO DAN SMT. VINITA BHARWANI
[musik lembut terus mengalun]
[musik menegangkan mengalun]
[musik menegangkan terus mengalun]
[musik suram mengalun]
[pria] Kita tidak akan pernah bisa lepas dari masa lalu.
Jejak di belakang menghasilkan apa yang terjadi sekarang.
Dan menentukan langkah manusia ke depan.
[musik latar menegangkan mengalun]
Sekalipun sekarang teknologi digital memudahkan semua orang
untuk menekuni fotografi,
tapi metode manual, mulai dari menangkap gambar, memproses,
dan kemudian mencetaknya sendiri,
adalah pengetahuan yang autentik
dan genuine yang harus kita kuasai.
[musik latar menegangkan terus mengalun]
[gemerisik kertas film]
[gemericik air]
[pria] Lalu kita keringkan. Kita jemur.
Dan inilah hasilnya.
Paham semua, ya?
Urutannya nggak boleh salah, ya?
Nah, kemampuan itu akan membuat kita menjadi seorang fotografer
yang punya nilai lebih.
Jadi, fotografi itu bukan hanya sekadar
menangkap momen, menangkap objek, gambar, landscape,
terus di-upload di media sosial. Bukan cuma itu.
Foto itu harus punya...
Harus ada nyawanya. Harus ada rasanya.
Foto harus menjadi sebuah karya seni yang bernilai.
- Paham, ya? - [bersamaan] Paham.
Seperti itu.
Jadi, kita semua, saya, kalian,
itu adalah senimannya.
[musik suram mengalun]
[wanita] Satu, dua, tiga!
- Ye! - [pria tertawa kecil]
- [wanita] Gitu, dong. Bagus nih. - [pria] Awas ya kalau jelek ye.
- [Martha] Martha ini, Mas. [bergumam] - [pria] Thank you, Semua. Makasih banyak.
[musik ceria mengalun]
- [riuh sorak bersama] - [gelas berdenting, tertawa bersama]
Gua tiap kali udah minum gini ya, bawaannya tuh pengen...
- [mengerang] - [bersamaan] Sange?
- Taik! - [lainnya tertawa]
- Goblok ye. - [tertawa]
Makanya, lu nikah kayak gua.
Caileh! Gua aja sampe detik ini belum percaya lu nikah.
- Bro! Makanya jangan buang dalem. - [semua tertawa]
- Kayak Darwin, dong! - Kok gua?
- Kayak Darwin? Apa maksudnya? - Sudah, nggak usah didengerin.
- Ini pada mabuk semua. - Ya, enggak. Tapi aku kepo.
- [semua tertawa] - [pria] Ale!
Eh, Pi. Tenang, Pi. Darwin yang sekarang ini udah green flag.
Oh, bentar, bentar, bentar, bentar, bentar.
Berarti, kalau sekarang green flag, dulunya red flag.
Kamu orang udah pada mabuk dipancing terus.
- [pria 2] Pia! - [pria 3] Gua kasih tahu.
- Woy. - [Pia] Apa?
Dulu kan Darwin nih kumbang kampus, nih...
[semua tertawa]
Ini cewek-cewek nih dari yang gila sampai normal nih nempel sama dia.
Lu mau gua gampar? [tertawa]
Untung ada kita-kita dulu ya, kalau enggak, stres beneran dia.
- Stres? Siapa sih? Kamu ngapain, sih? - Siapa sih yang stres?
[Darwin] Nih yang stres berdua nih. Udah pada mabuk nih.
- [pria tertawa] - [pria 3] Stres?
- Congrats. - Tio, ya? Gara-gara nikah sama gue?
- [tertawa] - [Tio] Enggak.
Justru kita bangga sama Tio.
Tio itu dari dulu selalu pembuka jalan.
[tertawa keras]
- Buka jalan! - Cheers.
- [pria] Buat Tio dan baby- nya! - [bersorak, denting gelas]
[musik ceria mengalun]
- Aduh. - [Pia tertawa kecil]
Aku pengen banget tahu tentang si cewek yang katanya stres.
- Siapa? [tertawa] - Yang tadi.
Katanya akhirnya stres, kan?
Ngapain sih dibahas?
Tapi kan aku cuma mau tahu kayak bedanya apa sama aku.
Nggak, nggak. Aku tahu [tertawa] Ujung-ujungnya pasti ke sini. Nggak.
[mendengus] Oke. Berarti aku sama dia beda.
- Aku kurang ya? - Kurang apa sih?
- Aku kurang. - Aduh!
- Aku kurang tergila-gila ya sama kamu? - [terbata-bata] Apa sih?
- Aku kurang? - Sakit nih. Aduh.
- Sayang, sayang... - Aku... Aku kurang stres?
- Sayang! - [menjerit]
- [berdebum, rem berdecit] - [berdesah]
- [berdecit] - [berderak, mengerang]
[berdecit, berdebum, bergeretak]
[mengerang, terengah-engah]
[Pia] Gimana nih? Dia mati nggak sih, Win? [terengah-engah]
Dia mati apa nggak sih, Win?
Itu udah jelas lah, Pi.
- Udah, kita harus pergi sekarang. - Nggak.
- Mumpung nggak ada yang lihat. - Aku harus turun!
- Tinggalin aja! - Tapi aku harus bawa dia ke RS.
Nanti panjang urusannya. Udah, jalan.
- Aku yang nyetir, harus tanggung jawab. - Udah jalan. Percaya sama aku.
[terengah-engah]
- Aku harus tanggung jawab. - Udah, buruan.
- Terserah. Gua yang bawa deh. - Nggak. Aku aja.
- Mundur! Cepet! - [mesin menderu]
[musik tegang mengalun]
- [Darwin] Buruan jalan! - [ban berdecit]
[musik tegang terus mengalun]
Saya memilih Mas Darwin
untuk mengabadikan bangunan aula yang penuh sejarah ini
sebelum direnovasi jadi aula baru.
Bukan karena almarhum ayahnya, Bapak Ismet Aksara,
yang dulu memang pernah berjasa ikut membangun aula ini.
Tapi karena Mas Darwin adalah salah satu alumni
kampus Ekanusa yang membanggakan.
Dikenal di mana-mana, berseni, berkelas,
dan tentu saja mahal.
[tepukan tangan]
- [Darwin] Pak. - Darwin.
- Silakan. - Ya.
- [mik berdenging] - Terima kasih, Pak Yunus.
Ya. Hmm...
Jadi, kalau kita berbicara tentang kampus Ekanusa,
kampus ini bukan hanya sekadar tempat
bagi saya untuk menimba ilmu komunikasi.
Tapi lebih jauh dari itu.
Di sini saya belajar
untuk menjadi makhluk sosial yang fungsional.
Yang bermanfaat buat orang banyak.
Di almamater tercinta kita ini,
saya juga belajar mencintai banyak hal.
Mulai dari fotografi,
kehidupan seni,
persahabatan,
[klik kamera]
dan juga percintaan.
[musik suram mengalun]
KELUAR
[Darwin] Senyum, ya. Semuanya, ya.
Eh, ibu yang paling pinggir boleh lebih ke dalam lagi?
Iya, terima kasih.
Sebentar...
[musik tegang mengalun]
[musik seram mengalun]
[musik mendebarkan mengalun]
Mas Darwin, udah belum?
Keburu kering ini gigi kita semua
- [tertawa] - [Darwin] Oke, Pak Yunus.
[tuas bergeretak]
[tuas berdesir]
[musik tegang mengalun]
[berdesir, berdebam, berdesing]
[geretak]
[musik tegang mengalun]
[Pia] Win.
[berdesah] Iya, iya, iya. Sebentar, sebentar.
[geretak pintu]
[Darwin] Kaget aku. Kamu? Kirain siapa.
Kok kamu bisa sih normal-normal aja gitu?
Normal gimana maksud kamu?
Ya, kayak gini.
Kayak, "Udah, balik kerja aja." Kayak nggak ada apa-apa.
[berdesah]
Aku aja beneran ampe susah banget buat tidur.
Mau kuliah aja aku nggak konsen.
Ya gara-gara aku masih kepikiran sama orang yang aku tabrak kemarin.
Pi...
Aku udah ngecek semuanya. Nggak ada satu pun berita
tentang kecelakaan kemarin di tempat itu.
Udah, kamu tenang aja deh.
[berdecak]
Kamu tuh nggak ngerti sih apa yang kurasain.
Masalahnya kemarin yang nabrak itu aku, Win.
- Bukan kamu. Aku yang nabrak! - [musik tegang mengalun]
[Pia berdesah]
[musik tegang makin intens mengalun]
[pria] Kamera lu bagus!
Lensanya tergores kali. Coba lu cek, Mas.
- [geretak] - Jadi, kalau gua motret ya...
kayak ada...
bayangan gitu. Kayak kabutnya gitu.
- [alat berdesit] - Aman, lensa lu kok.
- Yakin lu? - Iya. Aman.
- [geretak] - Kenapa gini hasilnya?
Kayak ada bayangannya gitu.
[musik tegang mengalun]
Lu motret setan ini.
Hah? Serius lu, Mas?
[musik tegang makin intens]
- [tertawa] - [berkeletak]
Sok tahu.
- Orang-orang takhayul - [berkeletak]
bilangnya gitu.
Kalau gua bilang ini distorsi.
Ada cahaya waktu lu motret.
Lagian, kalau foto komersil tuh pake digital.
Nggak ada risiko.
Jangan pake yang analog, pake film gini.
Boro-boro komersil, Mas.
Ini tuh buat proyek amal.
Penggalangan dana renovasi kampus kita.
- Aula. Lu lihat dong itu. - Aduh!
- Jejak-jejak dosa gua ilang dong? - [tertawa]
Ini tempat paling aman buat ngisep ganja!
Tempat maksiat juga ini, Win!
[tertawa] Maksiat gimana maksud lu?
Yah. Nggak tahu lu?
Anak-anak tuh pada ngewe di situ.
- Anjir. - Daripada di hotel?
- Lebih irit di sini, pakai tikar doang. - Udah deh.
[Darwin] Gua cabut ye? Rusak gua kalau lama-lama di sini!
Thank you, Mas!
- [derak pintu] - Haduh!
Ati-ati ketemu setan lo! [tertawa]
["Senin Wage" oleh Nyonya Ayu diputar]
♪ Angin berhembus ♪
[berdesah]
♪ Membawa harum bunga ♪
[berdesah]
♪ Di halaman hatimu yang gundah ♪
♪ Kau tawarkan mati ♪
♪ Lalu kau ♪
[teriakan] Tiada!
♪ Tiadakan benih ♪
♪ Yang kau tanamkan di tidurku ♪
[musik tegang mengalun]
[isak tangis]
[musik tegang terus mengalun]
[isak tangis]
[musik tegang terus mengalun]
[musik tegang makin intens]
[musik mendebarkan mengalun]
[berdebum]
[kucuran air]
[bergelegak]
[bergemericik]
[berdesah]
[bergemericik]
[musik mendebarkan makin intens]
[berteriak] Darwin!
[geretak pintu]
- [terengah-engah] - [geretak pintu]
[musik mendebarkan makin intens]
[berteriak] Win! Bukain dong, Win!
[menjerit]
[berteriak] Darwin!
Darwin! Darwin!
[Pia menjerit]
[Darwin mendengus]
- Mimpi kamu? - [Pia bergumam]
Ini air kamu, ya? Minum biar tenang dulu.
[Pia berdesah]
Makanya jangan tidur siang-siang dong. [tertawa kecil]
Kamu tuh emang dari mana aja sih?
Aku dari tempatnya Mas Roy.
Malah dia bilang... Tahu, nggak?
- [Pia bergumam] - Emang berengsek si Roy satu itu.
Aku motret setan katanya.
[mendengus] Ada-ada aja.
[geretak tas]
[berdesah] Win, kayaknya kita harus balik lagi deh ke tempat itu.
Beneran. Aku nggak bisa banget sih kayak gini.
Pi, udah dong. Ini... Kan... Kan semua udah tenang nih ya.
Udah, kita nggak usah bahas soal itu lagi. Udah.
[mendengus] Ya, tapi, at least, kita ke sana sekali aja.
Buat make sure kalau emang nggak ada korban.
- Aku beneran nggak tenang banget! - [musik tegang]
Please?
Tapi janji ya, kalau misalnya di sana udah nggak ada apa-apa...
Nggak boleh mikir soal ini lagi ya? Nggak usah bahas soal ini lagi.
[deru mesin]
- [wanita] Makasih, Mas. - [penjual] Sama-sama.
Iya, Za. [bergumam]
- [berdebum] - Lo cek aja dulu semuanya.
Iya, iya. Oke, oke. Thank you.
Hati-hati, Sayang.
Minumannya berapa, Mas?
Dua puluh lima ribu satu, Mas.
Saya mau yang matca satu, sama yang...
Apa nih? Hazelnut deh satu.
- [penjual] Boleh. - [Pia] Mas.
- Ya, Mbak? - Ini billboard-nya kenapa ya?
[penjual] Ketabrak kayaknya, Mbak.
Kok bisa?
[penjual] Kayaknya supirnya mabuk, Mbak.
Ada korban?
Nggak ada sih, Mas. Cuma billboard ini doang.
Saya juga untung jualannya siang.
Coba kalau saya malem, bisa saya yang jadi korbannya.
Ya jangan lah. Ada-ada aja. [tertawa kecil]
- Dua jadi berapa? - Lima puluh ribu, Mas.
- Thank you. - Sama-sama, Mas.
- [dering ponsel] - Pegangin.
Gimana, Za?
Lu cek dulu deh semuanya deh.
Oh.
Syukur deh kalo gitu deh.
Siap, siap.
Oke, Za. Thank you, Za. Yo.
Gimana katanya?
Si Reza baru ngabarin.
Koneksinya dia banyak banget di kepolisian.
Dia bilang gak ada satu pun berita di kepolisian
tentang kecelakaan di daerah sini.
Dia udah ngecek ke polisi deket sini, katanya aman.
Ya, nggak, Win. Masalahnya, aku tuh bener-bener inget banget.
Kita nabrak perempuan itu.
Si Reza udah ngecek semuanya. Aman, nggak ada apa-apa.
Percaya sama aku.
Kita jalan, ya?
Entar orangnya malah curiga lagi. Ayo.
[pria] Perhatikan foto satu dan dua.
Yang mana yang asli, yang mana yang editan?
Foto satu? Oke.
Foto dua.
[tertawa kecil] Kalian semua salah.
Dua-duanya asli.
Foto ini...
diambil dengan kamera termal.
Kamera yang bisa menangkap energi makhluk astral.
Cahaya putih di sekitar ini, ini jadi penanda
akan kemunculan makhluk astral.
Lalu, foto yang kedua.
Kenapa saya bilang bahwa ini juga asli?
Karena foto ini
diambil dengan kamera polaroid.
Masukkan filmnya...
[keletak dan desing mekanik]
Tekan tombolnya, langsung jadi hasilnya.
Jadi, tidak mungkin ada proses pengeditan.
[berkeletak]
[gemeresik kertas foto di cairan]
[gemeresik kertas foto]
- [dentum mengagetkan] - [terengah-engah]
[musik menegangkan mengalun]
[gemeretak pintu dibuka]
[gemeretak pintu ditutup]
Hei, Pi.
Cepet kamu dari kampus.
[dering ponsel]
Handphone aku bunyi lagi. Kuangkat dulu deh.
[dering ponsel berlanjut]
[dering ponsel terus berlanjut]
[dentum musik mendebarkan]
- Halo? - [Pia] Win.
Kayaknya kita bisa nanyain soal foto itu ke Pak Sentot deh.
Ini jadi aku baru aja selesai ikut mata kuliahnya dia.
Kayaknya dia bisa ngasih kita beberapa sudut pandang baru.
[terbata-bata] Pi, sebentar, Pi. Nanti aku telepon lagi.
[musik menegangkan mengalun]
[musik menegangkan terus mengalun]
[menghela]
[mengembus]
Tapi ada satu teori yang diyakini
oleh para pemburu foto-foto supranatural semacam ini.
Bahwa makhluk-makhluk ini sengaja ditangkap kamera.
Sengaja?
Ada pesan yang ingin disampaikan makhluk-makhluk astral ini
pada orang-orang yang motret.
Semuanya berawal dari...
Ini foto istri saya dan ini anak saya delapan tahun yang lalu.
Saya sendiri yang potret.
Ini pakai kamera SLR biasa.
Dan ini lokasinya di rumah almarhum ibu saya.
Saya nggak maksa kalian untuk percaya cerita saya.
Tapi ini adalah foto penampakan almarhumah ibu saya.
[Sentot berdesah]
Dan saya coba untuk mencari jawaban
kenapa beliau muncul, menampakkan diri di sini.
Hampir semua paranormal bilang kalau ibu saya pengin menyampaikan pesan.
Apa pesannya?
Kangen sama saya.
[tertawa kecil] Saya anak satu-satunya, Mas.
Sejak itu, saya mulai jadi tertarik
untuk meneliti jenis foto-foto seperti ini.
Ya, ada seorang ayah,
ada ibu, ada yang teman,
ada yang orang yang disayang,
ada orang yang disakiti.
Tapi dari mana Bapak tahu kalau...
mereka nggak nipu Bapak atau bohong, gitu?
Ngarang-ngarang cerita.
- Foto ini? - Ya.
Enggak, dong. Ini kan, ini fotonya foto-foto polaroid.
Nggak bisa dipalsuin. Nggak bisa diedit.
Oh, iya, Pak. Terus, dari mana kita tahu
apa yang diinginkan sama arwah-arwah itu, yang ada di dalam foto?
Pesannya justru ada di dalam
- foto itu sendiri. - [musik menegangkan mengalun]
- [ceklek kamera] - [Darwin] Nice.
- [ceklek kamera] - Perfect.
- Terima kasih ya, Mas Darwin. - Sama-sama, Ibu Erlita.
Nanti saya kirim hasilnya. Saya pilihin yang bagus dulu.
- Makasih. - Terima kasih.
Mari, Bu. Lewat sini. Silakan.
- Jo. - Ya, Mas?
Lu tinggal aja. Lu beresin studio sebelah.
- Gua mau motret bebas dulu. - Baik. Siap.
- Background-nya lu ganti ya. - Ya, Mas.
- [keletak laptop] - Oke.
[berdesah]
- [dentuman] - Ya elah, pake mati lagi.
Jo!
- Jo! Martha! Martha! - [flash bergeretak]
- [berdebum] - Siapa tuh?
Ni lampu pada mati nih! Sekringnya turun atau gimana sih?
[flash bergeretak]
Jangan macem-macem! Gua lagi kerja nih!
[flash bergeretak berulang-ulang]
- [tumbukan] - Anjir! Apa yang kena?
- [dentum musik mendebarkan] - [Darwin terengah-engah]
[flash bergeretak]
[Darwin] Siapa tuh?
- [flash terus bergeretak] - Lampu, lampu!
[flash berdesing]
[musik tegang mengalun]
[flash terus bergeretak]
[Darwin] Pada pergi ke mana sih? [mendengus]
[berdesah]
- [berkeletak] - [berdesah]
Silakan, Bapak.
[berdesah]
Boleh turun dulu?
Silakan naik lagi.
[berdesah, mendengus]
[wanita] Ini untuk hasil X-ray-nya bagus, Pak. Normal.
Bapak Darwin tidak perlu khawatir.
Atau mungkin yang Bapak ceritakan waktu itu tentang kecelakaan,
hanya tentang otot yang keseleo?
Tapi kadang rasanya tuh sakit sekali, Dok.
Bisa sampai menjalar ke leher, sampai pundak.
Oh. Kita coba minum obat dulu ya, Pak, ya.
Saya buatkan resepnya, nanti diminum ya obatnya, ya.
Sekalian saya rekomendasikan untuk fisio aja, Pak.
Oke. Makasih, Dok.
[narator di TV] Saat memasuki musim kawin,
belalang jantan dapat mencium sang betina
dari jarak hingga 100 meter.
Kemudian sang jantan dengan hati-hati menghampiri sang betina,
mendekatkan dirinya ke perut sang betina.
Dan proses pembuahan dimulai.
Respons dari sang betina sangat mengejutkan.
Sang jantan menjadi mangsanya.
Perlahan-lahan, sang betina memakan kepala sang jantan
selama proses pembuahan.
Akhirnya, sang jantan mati.
[musik menegangkan mulai mengalun]
Tio?
[musik menegangkan makin intens]
Lu kenapa, Yo?
Mati gua, Win.
Lu ngomong apa sih?
[terisak, sesenggukan] Foto-foto ada, Win?
Kasih ke gua foto-fotonya, Win!
- Foto apa? Mabuk lu, hei? - Lu tahu yang gua maksud.
Lu sembunyiin di mana fotonya?
Sembunyiin apa sih? Gua nggak ngerti lu ngomong apa.
Si perempuan bangsat itu, Win!
Hah? Lu selingkuh?
- [terengah-engah] - Masa lu seling...
[tergagap] Udah deh.
Udah deh. Gua nggak ngerti. Gua nggak ngerti lu ngomong apa. Udah.
Ya udah. Lu tenang dulu deh. Nggak bisa gua.
- [terisak] - Gua telepon bini lu dulu deh.
Lu berantem pasti sama bini lu. Ya, kan?
[Tio sesenggukan]
- [musik mendebarkan mengalun] - [Tio sesenggukan]
[musik mendebarkan makin intens]
[musik mendebarkan makin intens]
[musik mendebarkan mengalun makin cepat]
[musik mendebarkan berhenti]
[Pak Sentot] Kadang, pesannya justru ada di dalam
foto itu sendiri.
[keletak kamera, berdesing]
[musik menegangkan mulai mengalun]
[isak tangis wanita]
[isak tangis wanita]
- [denyut listrik] - [musik mengagetkan mengalun]
[kamera berkeletak dan berdesing]
[keletak kamera]
[gemeresik kertas film]
[terkesiap]
[musik seram mengalun]
[terengah-engah]
[musik seram makin intens]
[berdesah]
[bernapas pendek]
[terengah-engah]
[berdengus]
[decit dan keletak pintu]
- [musik suram mengalun] - [berdecak]
Angkat, angkat, angkat, angkat.
[ponsel bergetar]
Ah, ke mana sih nih Abi nih ah.
[berdesah]
[ponsel bergetar]
[musik suram mengalun]
[musik suram makin intens]
[berdesah]
[ponsel bergetar]
[musik mendebarkan mengalun keras]
Reza...
- [nada memanggil] - Anjing, pada ke mana sih orang-orang?
[jangkrik mengerik]
[bel berdentang]
Tio?
Siska?
[keletak dan derit pintu]
[musik menegangkan mengalun]
- [keletak pintu] - [Darwin] Tio?
[musik menegangkan terus mengalun]
Sis?
Siska?
[musik berdentum menegangkan]
[gemeresik kertas]
Anjing!
[mendengus] Nakutin gua aja lu, Tio.
Tio!
- [Darwin] Tio! - [Tio menjerit]
[Darwin] Anjing!
[mengerang]
[terengah-engah]
[musik menegangkan mengalun]
[terengah-engah]
[bernapas cepat dan pendek]
[deru mesin]
[ban berdecit]
[sirene meraung]
[dentum musik mendebarkan]
[musik menegangkan mengalun intens]
[deru mesin]
[ban berdecit]
Kenapa sih kita harus ketemu di sini, Win?
- [Darwin terisak] - Babe. Kenapa?
- Apa? - [Darwin terisak]
Win.
[terbata-bata] Mereka udah nggak ada.
Nggak ada? Siapa? Siapa?
[meringis] Kamu lihat aja. [terengah-engah]
[Darwin mendengus] Kamu baca.
Tio, Abi, Reza...
[berdesah]
Mereka semua udah meninggal. [terisak]
[terisak]
Nggak mungkin.
[terisak]
Win.
Apa ini semua ada hubungannya sama perempuan yang aku tabrak ya waktu itu?
Maksudnya?
[Darwin berdesah]
[Pia] Nih.
Ini siapa?
Siapa?
Kamu dapet dari mana?
Ini perempuan yang muncul sebagai bayangan di foto-foto itu, kan?
Kalau didikannya Darwin sih nggak ragu gua, Bro.
Nggak burem, ya? [terkekeh] Kalau lu burem, ya?
- [Darwin tertawa] - Banyak model-model telanjang dia foto.
Kalau gua, cowok belum ada nih.
- [semua tertawa] - Dia mau.
- Gampang. - Dia pikirin!
Heh? Lah Tio ngaco. [tertawa]
Nggak jelas dia.
- Sengaja kan dia? - Sengaja lu ya?
- Sengaja dia, Win. - Nggak!
Lu kalau lihat yang bening aja lu. [meledek]
[Tio] Beneran nggak sengaja! [tertawa]
- Apa kan gua bilang? - [semua tertawa]
- Anjrit. - Ya, kan?
- Inceran lu, yak? Iye. - Nggak!
[gemeresik kertas]
[keletak buku]
[gemeresik kertas]
- [musik lembut mengalun] - Punya kamu.
Ini jatuh waktu itu.
Makasih banyak, Kak.
Ini udah saya cari-cari.
- Darwin aja. - Oh.
Nama gua Darwin.
- Saya... - Lilies?
Iya.
Ada tulisannya. Lilies Suryani.
[musik lembut terus mengalun]
Ini...
Kakak, eh sori, maaf.
Darwin yang foto?
Bagus banget.
[musik megah mulai mengalun]
[ceklek kamera]
Kamu juga bagus banget narinya. Serius.
Udah lama latihan nari?
Udah. Dari kecil.
Pantes.
Kalau saya di klub fotografi.
Kalau mau join boleh.
Sekarang kita lagi pembukaan member baru.
Tapi nggak apa-apa. Udah.
Di nari aja.
[tertawa kecil] Masa pindah-pindah.
- Oke. Sekarang aku ajarin kamera. - Hmm.
- Besok kamu ajarin aku nari. - [tertawa bersama]
Bener, ya? [berdesah]
Nih.
- Jadi, kalau misal yang ini... - [bergumam]
Dia tuh untuk ngatur fokusnya.
- Hmm. - Jadi, kalau misalkan kamu motret,
itu, terus, apa namanya? Dia mulai agak blur, kita muter sini ni.
[ceklek kamera]
- Nih. - Aku pengen coba. Boleh, ya?
Coba, ya?
- [Lilies] Satu, dua, tiga! - [tertawa]
- Eh, ini lupa. - [keduanya tertawa]
Masa mau dilihat di sini? Orang nggak ada.
- [tertawa kecil] Kebiasaan. - Ini kita...
cetak sama-sama.
[ceklek kamera]
[musik lembut mengalun]
Eh. Udah dong. Jangan dong. Ah!
- [cekikikan] - [Lilies] Darwin. Ih!
- Ya, kamu mau nari... - Aduh!
Aku mau nari. Nanti aku telat!
- [Lilies meringis kesal] - [Darwin mendengus]
- Win, aku mau nari. - [Darwin cekikikan]
- Tuh kan, nyangkut beneran. - [cekikikan]
Naik, naik. Naik sini.
Tuh, kan? Aku juga yang naik. Oke.
- Tu, wa, tiga! - Tahan ya?
- Udah? - Ya, ya, aku pegang.
[Darwin mengerang]
- [Lilies] Nah, ini dia. - [Darwin] Dapet, nggak?
- [Darwin] Mungkin atas kamu. - [Lilies] Sabar. Yeay!
["Di Belakangmu" oleh Egha De Latoya mengalun]
♪ Membunuhku ♪
♪ Tersenyum melihatku ♪
[Darwin] Eh, bentar ya. Sebentar. Aku mau lihat ini dulu.
♪ Merenung... ♪
[Darwin] Kangen banget sama kamera ini.
Dulu aku pernah punya, terus ilang.
Ketinggalan di taksi.
Dicolong kali sama sopirnya. [berdesah]
♪ Kau menungguku ♪
Pencet yang sini.
♪ Menungguku ♪
Yah, udah mulai!
♪ Ku terjatuh ♪
♪ Setiap langkah tertuju ♪
♪ Setia dalam renungku ♪
♪ Aku menunggumu, menunggumu, menunggumu ♪
Surprise!
[tertawa]
Dijagain ya? Jangan sampe ilang lagi.
♪ Mati di depanku, di depanku ♪
Seperti aku juga. Dijagain terus, ya? Jangan sampe ilang.
♪ Di depanku oh ♪
♪ Kau peluk aku ♪
♪ Sebelum membunuhku ♪
♪ Tersenyum melihatku ♪
♪ Merenung melihatmu ♪
♪ Aku menunggumu ♪
♪ Menunggumu, menunggumu ♪
[Lilies] Tunggu! Sebentar.
Kamu jangan pake baju itu dong. Nggak bagus.
- Mending pake ini. - Aduh, nggak ini acaranya biasa aja.
Nggak. Ini jelek banget. Buka.
[mendengus] Ini kamu coba ya?
- Aneh dong kalo aku pake blazer gitu. - Nggak. Coba dulu.
- Nah. Satu lagi. - Ini bukan acara yang resmi banget, Lies.
Tapi kan tetep aja kamu harus kelihatan bagus.
Tuh! Rapih!
- Kamu yakin nggak... - Yakin bagus! Udah sana berangkat.
♪ Di hadapanku ♪
- Aku jalan, ya? - Ya.
♪ Apa yang kau lakukan ♪
♪ Di belakangku ♪
[berdesah]
♪ Di belakangku ♪
Tapi aku nggak pengen temen-temenku tahu soal hubunganku sama Lilies.
Lilies cinta banget sama aku.
Kamu cinta nggak sama dia?
[berdesah]
♪ Di belakangku oh ♪
♪ Di belakangku ♪
[tertawa]
♪ Aku menunggumu ♪
♪ Menunggumu, menunggumu ♪
♪ Mati di depanku ♪
♪ Di depanku, di depanku oh ♪
Nah, ini bisa kamu jadiin referensi nih buat project kamu nih.
- Oke. - Cuma ini udah expert banget,
- paling angle-nya aja kamu tiru. - Oke.
Lies, aku lagi ngomong sama...
[berdesah] Bentar, ya? Entar sore.
Sini, sini.
Sini ikut aku dulu.
- [Darwin] Aku briefing... - Lepasin!
- Aku briefing kerja... - Kamu ngomong sama siapa?
- Itu murid aku. Gimana... - Bohong!
Jangan bohong kamu!
[musik menegangkan mengalun]
[musik suram mengalun]
- [Lilies] Win. Win, tunggu dong. - [Darwin] Udah, udah. Cukup.
- [Lilies] Win! - [Darwin] Apa lagi sih?
- Itu jelas. Udah cukup. - [Lilies] Jangan...
[Darwin] Dengerin dulu.
Aku udah bilang sama kamu,
aku udah nggak bisa lagi nerusin hubungan kita. Ya?
Kita putus.
[musik mencekam mengalun]
Lies. Lilies. Lilies!
Kamu ngapain sih?
[mengerang]
[kelontang logam]
[terengah-engah]
Taruh. Lilies, lepas, nggak?
- [terengah-engah] Aku... - Jangan macam-macam.
cinta banget sama kamu.
Jangan tinggalin aku, Darwin.
Lepas. Lepas!
[merintih, menjerit]
[membentak] Gila lu!
[berteriak] Darwin! Darwin!
[menangis] Darwin!
[sesenggukan]
[sesenggukan]
[musik mencekam mengalun]
[merintih]
[merintih]
[sesenggukan, menjerit]
Beberapa lama setelah dia pindah ke Bandung,
kata dokter dia sakit keras.
Dan nggak lama dari itu dia meninggal.
[berdesah]
Apa mungkin yang aku tabrak waktu itu tuh arwahnya Lilies?
Terus dia dateng ke kita karena dia mau ngasih kita pesan.
Kan bukan cuma pesan,
tapi peringatan.
Setelah Abi, Reza...
Tio.
Dan selanjutnya aku yang bakal mati.
Apa sih Win, kamu nggak boleh dong ngomong kayak gitu.
Kalau aku bisa puter balik waktu,
aku akan kuperbaikin semua kesalahanku sama Lilies.
Tapi kalau menurut aku,
lebih baik kalau misalnya kamu bisa minta maaf
secara langsung.
[musik mencekam mengalun]
[berdesah]
Caranya gimana?
Besok aku ke kampus,
terus aku cari alamat rumahnya Lilies,
abis dari situ, kita cari tahu kejadian yang sebenarnya kayak gimana.
Ya udah, kamu sekarang istirahat dulu aja.
[berdesah]
Makasih ya, Sayang.
[berdesah]
[mendengus]
[musik mencekam mengalun]
[bip kamera]
Pak! Pak Yunus.
Ah, sori. Tadi saya dikasih tahu sama staf admin,
katanya Bapak lagi ada di Gedung F.
Makanya saya nyamperin Bapak ke sini.
Saya Pia.
- Pacarnya Darwin, kan? - Iya.
Apa yang bisa saya bantu?
Nah, jadi gini, Pak. Saya mau minta data-data
dari mahasiswa yang pernah dapet beasiswa,
tapi katanya harus minta izin Bapak dulu. Kira-kira bisa, Pak?
Iya, iya. Bisa, bisa. Data siapa yang kamu cari?
Ah, ini, Pak.
[musik mencekam mulai mengalun]
Dari mana kamu dapatkan foto ini?
Dari aula, Pak. Kenapa?
Dia sudah dikeluarkan dari kampus ini.
Beasiswanya pun kami batalkan.
Kenapa, Pak?
Saya harus ke dalam. Ada rapat.
- Dosen sudah menunggu. - Pak. Sebentar.
Saya masih bisa minta alamatnya, kan, Pak?
Datanya sudah tidak ada.
[musik mencekam terus mengalun]
[berbisik] Asrama Bumi Sangkuriang.
[keletak kibor]
[deru mesin mobil]
[derak rem tangan]
[derak pintu mobil]
[musik mencekam terus mengalun]
Win!
Aku udah dapetin alamatnya Lilies.
Kita langsung jalan, ya? Siap-siap sekarang.
- Oke. - Oke? Ya.
[musik mencekam mengalun]
[deru mesin melambat]
[musik mencekam makin intens]
[dentum musik mendebarkan]
[deru mesin mengebut, ban berdecit]
Win, kenapa sih nyetirnya ngebut banget?
[mesin menderu kencang]
[dentum mengejutkan]
Win.
Win.
[mesin menderu makin kencang]
[terengah-engah]
Kamu kenapa sih?
- [dentum mengejutkan] - [mengerang]
Win.
[berdesah]
Udah, nggak bisa deh kayak gini. Aku aja yang nyetir, ya?
Gantian, oke?
Oke, oke.
[guntur menggelegar]
[gemerecik hujan]
[deru mesin mobil]
[jangkrik mengerik]
[desing ritsleting, berkeletak]
- Win. Kenapa ya? - [bergumam]
Pak Yunus tuh kayaknya takut banget ngasih data-datanya Lilies ke aku.
Nggak ngerti deh.
[keletak barang]
[berdesah]
Tapi ternyata Lilies tuh dikeluarin dari kampus
setelah beasiswanya dicabut.
Kamu tahu nggak kalau soal itu?
Nggak.
Aku tahunya malah...
Lilies pindah ke Bandung karena dia memang mau pindah...
Pindah kampus. Pindah kuliah.
Ya udah deh. Aku mandi dulu ya?
[guntur menggelegar]
[wanita] Win.
- Darwin. - [mendengus, mengerang]
- [musik mengejutkan mengalun] - [mengerang, terengah-engah]
[menjerit tertahan, terengah-engah]
[terengah-engah]
[mendengus, terengah-engah]
[berdesah lega]
- [musik mengejutkan] - [menjerit]
[menjerit tertahan]
- [Pia] Win? - [mengerang kesakitan]
- Win! - [Darwin meracau] Pulang!
- Darwin. Darwin! - [mengerang, terengah-engah]
[merintih, mengerang, terengah-engah]
- [ceklek dan desing kamera] - [Darwin terus mengerang]
- [gemeresik kertas film] - [Darwin mengerang, merintih]
[mengerang, merintih, terengah-engah]
- [ceklek dan desing kamera] - [Darwin terus mengerang, merintih]
[mengerang, menjerit]
[ceklek dan desing kamera]
- [kamera berdesing] - [Darwin mengerang, menjerit]
[musik mengejutkan]
- [ketukan pintu] - [Darwin] Pi?
Aku cari rokok dulu ya ke depan ya?
- Rokokku abis. - [Pia] Iya, iya, iya. Oke, oke.
Bu, bu. Bu?
Maaf. Misi, Bu.
- Bu. Misi, Ibu. Mau nanya. - [debam pintu ditutup]
Kalau rumahnya Lilies di mana, ya?
- Eh, Lilies? - [Pia] Lilies...
- Suryani. - Suryani.
Oh! Lurus aja naik ke atas,
pertigaan belok kanan.
Oh, lurus, naek ke atas, pertigaan belok kanan.
Iya.
- Itu mobil bisa lewat, Bu? - Iya, bisa.
- Oke, ya udah. Makasih ya, Bu. - Iya.
- [Darwin] Makasih, Bu. - [bahasa Sunda] Mari.
[wanita berbisik] Ngapain dilihatin terus?
- Jauh juga rumahnya. - [debum pintu mobil]
[deru mesin mobil]
[deru mesin melambat]
[Darwin] Itu kali rumahnya, ya?
- [Pia] Mau coba turun? - [Darwin] Belum tentu juga jalanannya.
- [Darwin] Bisa? Ati-ati. - [Pia] Bisa.
- Permisi, Ibu. - Misi, Ibu.
[wanita berbahasa Sunda, berdesah] Ada apa?
Siapa ya?
[musik menegangkan mengalun]
[Pia berbahasa Indonesia] Bener ini rumahnya Lilies?
[wanita berbahasa Sunda] Ini siapa?
[bahasa Indonesia] Oh, kita temen kuliahnya Lilies dari Jakarta.
- Temannya Lilies? - Iya.
Si Eneng nggak pernah cerita kalau temennya mau dateng.
Si enengnya lagi di kamar.
Dari kemaren nggak enak badan.
Tapi nggak apa-apa.
Masuk aja dulu, yuk.
Ibu bikinkan kalian minum, ya?
[bahasa Sunda] Yuk, duduk dulu. Di dalam, ayo.
[bahasa Indonesia] Win.
Itu apa ya? Kok banyak banget?
[Darwin] Kapur barus.
Heh! Win! Mau ke mana sih?
[Pia] Eh, kamu jangan asal masuk gitu dong ah.
[musik menegangkan mulai mengalun]
[musik menegangkan terus mengalun]
[keletak daun pintu]
[derit daun pintu]
Lilies?
Win!
[berbisik] Lilies.
Lilies.
- [dentum musik mengagetkan] - [Pia menjerit]
[Pia] Sekali lagi kita minta maaf, Bu.
Kita bener-bener nggak ada maksud buat nyampurin urusan Ibu.
Kita cuma...
Kenapa jenazahnya nggak langsung dimakamin aja sih, Bu?
[terisak]
[terisak] Berat.
Ditinggal anak satu-satunya itu berat.
[berdesah, terisak]
Ibu hanya ingin Lilies tetap di samping Ibu.
Seperti dulu.
Ya, tapi kasihan Lilies, Bu.
Jiwanya jadi nggak tenang.
[Pia] Sebenernya...
Kita dateng ke sini
karena kita ngerasa kalau arwahnya Lilies itu dateng ke kita.
[terisak]
[Pia] Mungkin,
sosok-sosok arwahnya Lilies yang ada di situ
ada dan ngedatengin kita karena dia pengen menyampein pesan.
Dan...
Ya ini pesannya dari Lilies.
[terisak]
Mungkin Lilies mengarahkan kita ke Ibu...
[sesenggukan]
...biar dia bisa dimakamin dengan layak,
- [sesenggukan] - biar arwahnya tenang di sana.
[terisak, berdesah]
[merintih] Lies... [terisak]
Neng...
Kalau Ibu mengizinkan,
kita bisa bantuin untuk makamin Lilies dengan layak.
Ya?
[terisak]
Lima tahun yang lalu,
setelah Lilies jadi sarjana di Jakarta...
Lilies sarjana?
Iya.
Lalu Lilies pulang kampung ke sini.
Tapi setelah itu,
Lilies banyak mengurung diri di kamar.
[menjerit]
- [menangis, menjerit keras] - [musik sedih mengalun]
[menjerit makin keras]
[terengah-engah]
[terisak]
[musik sedih terus mengalun]
[senandung seriosa mengalun]
[berdebum]
Jangan sentuh anak saya.
[terisak] Anak saya belum mati.
[merintih] Anak saya masih hidup.
Pak Harun, kalau Pak Harun sampai... [sesenggukan]
- sentuh anak saya, mending saya mati! - Jangan!
- Mending saya yang mati! - Jangan. Jangan.
Saya mohon izin...
- [terisak] - kalau tidak dikuburkan,
jenazah dipindah ke kamar belakang, Bu.
- [ibu Lilies terisak] - Saya sama warga siap membantu.
[berdesah, sesenggukan]
[membaca surat Yasin bersama]
[desiran angin]
[surat Yasin terus dibaca]
[musik lembut mengalun]
[musik mencekam mengalun]
- [kepak burung] - [pria mengaji]
[sesenggukan]
[terisak, sesenggukan]
[tersedu-sedu]
- [ibu Lilies sesenggukan] - [pria] Amin.
- [ibu Lilies berdesah] - [musik sendu mengalun]
[terisak]
[sesenggukan, tersedu-sedu]
[musik sendu terus mengalun]
[sesenggukan]
Lilies.
Saya minta maaf atas semua kesalahan saya sama kamu.
Semoga kamu sekarang udah tenang ya, Lies.
Urusan kita udah selesai. Ya.
Lilies sudah tenang sekarang di sana.
[musik sendu terus mengalun]
[deru mesin melambat]
[keletak dan derit kursi]
[bip dan ceklek kamera]
[berkeletak]
[musik mencekam mengalun]
[musik mendebarkan mengalun]
Mas Darwin. Mari, Mas. Semua sudah ready.
[berdesah] Bentar, bentar.
[kelontang tong sampah]
- [berdesah] Yuk. - Ya.
[gemeresik kertas]
- [ceklek kamera] - [Darwin] Oke. Good. Next.
Oke. Setelah Kalimantan, kita punya Sumatra. Ya.
Oke. Di mark, ya?
- Ya. Oke. - [musik mencekam mengalun]
- [bip dan ceklek kamera] - [Darwin] Bagus.
- [bip dan ceklek kamera] - Nice! Next.
[musik mencekam terus mengalun]
- [wanita] NTT. - [Darwin] Oke.
- [bip, ceklek kamera] - Oke. Good.
- [bip, ceklek kamera] - Oke. Perfect.
[musik mencekam masih mengalun]
- [wanita] Bali. - Ya.
- [bip dan ceklek kamera] - [Darwin] Oke. Ganti pose lagi.
[bip dan ceklek kamera]
[musik mencekam masih mengalun]
- Yang terakhir ya, Mas? - Oke.
[Darwin] Oke.
[gemeresik foto]
[gemeresik foto]
Mas?
Kenapa, Mas?
Ini bajunya udah bener? Kok...
Hah? Udah, Mas.
Kalimantan, Sumatra, NTT, Bali, Sunda.
Ya, nggak apa-apa sih, Mas, kalau mau diganti.
Tapi kan kita nanti harus ngulang semuanya. Gimana?
- Ya udah. Oke, oke. - Nggak apa-apa?
Oke. Nggak apa-apa.
Oke.
[dentum musik mendebarkan mengalun]
[musik mencekam mengalun]
[gemeresik kertas foto]
[musik mendebarkan mengalun]
[musik mencekam mengalun]
[gemeresik kertas]
[gemeresik plastik]
[dentum tabuhan mengejutkan]
- [menjerit] - [ceklek kamera]
[musik mendebarkan mengalun]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[lift berdenting, berdesing]
[wanita] Darwin.
- [dentum mengejutkan] - [menjerit]
- [musik mencekam mengalun] - [mengerang]
[musik mendebarkan mengalun]
- [musik mendebarkan makin intens] - [mengerang]
[mendengus]
[terengah-engah]
[wanita] Darwin.
Pi! Pia! Pi! [mendengus]
Untung ada kamu, Sayang. [terengah-engah]
[Darwin mendengus, berdesah]
- [wanita] Aku cinta banget sama kamu. - [mendengus]
[terengah-engah]
[dentum musik mengejutkan]
[menjerit]
[musik mendebarkan mengalun]
[mendengus, terengah-engah]
[mengerang]
["Di Belakangmu" oleh Egha De Latoya mengalun]
[mendengus]
♪ Kau peluk aku ♪
♪ Sebelum membunuhku ♪
♪ Tersenyum melihatku ♪
♪ Merenung melihatmu ♪
♪ Kau menungguku ♪
♪ Menunggu ku terjatuh ♪
♪ Setiap langkah tertuju ♪
♪ Setia dalam renungku ♪
♪ Aku menunggumu ♪
♪ Menunggumu, menunggumu ♪
[Darwin] Jangan, Lilies!
Lilies! Aku udah minta maaf sama kamu!
Jangan, Lilies! Jangan!
[menjerit]
♪ Di depanku oh ♪
[berdebum]
["Di belakangmu" terus mengalun]
♪ Kau peluk aku ♪
♪ Sebelum membunuhku ♪
♪ Tersenyum melihatku ♪
♪ Merenung melihatmu ♪
♪ Aku menunggumu ♪
♪ Menunggumu, menunggumu ♪
♪ Mati di depanku ♪
♪ Di depanku, di depanku oh ♪
♪ Apa yang kau lakukan ♪
♪ Di belakangku ♪
- [Darwin] Bener, deh. - [semua tertawa]
- Tuh cewek ngapain ngeliatin gua? - Ngeliatin lu?
Nggak kali. Nggak ngeliatin lu!
- Nih, ngeliatin dia kali nih. - Hah?
- [Reza] Gua. - [Abi] Anjing.
- Ngeliatin lu! - [Reza] Ngerti kan?
Lah? Serius gini mukanya.
- Apaan sih? - [Reza] Apa?
Ntar gua ceritain.
- Anjing. Kok jadi serius gini? - Anjing.
- [Abi] Kacau nih. Kacau lu. - [Tio] Wah, kacau nih.
[Reza] Apa sih? Cerita dong.
- Anjing, Darwin. Udah, Man. - [Tio cekikikan]
- [tertawa] - Wah, seleranya, Man. Itu?
- [Tio mendengus] - Ini yang dulu lu tabrak, kan?
- Kayaknya udah disikat. - Lu tabrak, kan? Iya.
- [Tio] Iya, iya. - [Abi] Wah, kacau sih ini.
[Reza] Seleranya. Itu yang lu gangguin, kan?
[Tio] Iya.
- Eh, tunggu, tunggu. - Wah, dia dateng.
- [Tio] Dateng. - [Abi] Tunggu.
- Beda, Bro. Ngeri, Bro. - [Tio] Kacau.
- Win, kacau lu. - Eh, udah cabut.
- [Tio] Babi lu. - [Reza] Dari mana?
- Udah cabut? - Hah?
- Nggak. Itu masih di situ. - Apaan? Itu masih di situ.
- [Abi] Udah nyantol, Bro. - [tertawa bersama]
[Tio] Agak bengkok. Nyantol, ya? Lu apain sih?
- [Tio, Abi] Hah? - Sakit itu. Neror gua mulu.
Iya, iya, Win.
- Lu udah beres. [tertawa] - Apaan sih? Udah, sana. Cabut!
- Ngapain sih? - [Tio tertawa keras]
[Abi] Apaan sih? Orang gila ya?
[ketukan ponsel]
[nada terkirim]
HARI KEMERDEKAAN INDONESIA KE-75
- Nunggu siapa, Sayang? - [mendengus]
- Eh. Loh? Sini. - Apa sih!
- [Tio] Hih! - Hu!
[keduanya tertawa]
Denger-denger ada yang tegang nih mau tampil.
Mau kita bikin tenang, nggak?
Apa sih? [mendengus]
- Sini. - [mendengus]
- Sini. - Hei, hei, hei
- Lies, kita jago loh bikin rileks. - [mendengus]
- Hei, hei! - Ngobrol dulu sama kita.
- Biar tenang. Nggak mau dibikin tenang? - Jadi, begini...
- Hei. - Hei!
[tertawa mengejek]
- [Abi] Hei! Lilies! - [Tio] Lilies.
- [Reza] Hei. - [Tio] Lies.
- [berdengus] - Nyari ini ya?
[mendengus]
- [Tio] Ba! - [tertawa]
- Mau ke mana sih, Lies? [bergumam] - [tertawa]
- Heh. - [cekikikan]
[musik mencekam mengalun]
[suara ribut-ribut]
- Heh! - Lies...
- [tertawa bersama] - Jangan takut, Lies.
Hmm. Ya?
Kita di sini cuma pengen ngomong...
[geretak botol]
...untuk lu berhenti neror Darwin!
- [gemerincing kaca] - [Tio mengerang]
- Wei! Anjing! - [menjerit]
- [berteriak] - Pegangin!
- [menjerit] - [Abi] Tahan. Anjing!
Anjing!
- [Tio menggeram] - [Lilies menjerit]
- [Abi] Lu diem, nggak? - [Tio] Emang cewek gila ya?
Nyet, buka, buka, buka.
- [Lilies] Jangan. - [Tio mengerang]
[suara keributan]
- [merintih] - [Tio] Pegangin. Anjing lu!
- [Abi] Tio. - [mengerang] Anjing. Mampus!
[menangis]
Win! Heh! Darwin!
- Win. Win! - Win! Mau ke mana lu?
Lu gila lu semua lu!
[Tio] Eh, kita ngelakuin ini buat lu ya.
[menjerit] Darwin! Darwin, tolong! Darwin!
Win. Foto, Win!
- Foto apa? - Buat bukti, Win.
Supaya dia nggak ngadu ke mana-mana.
Kalau kita ancur, lu ancur, bokap lu ancur!
Lu mau kita ancur? Hah!
- Win. Udah foto! - [Abi] Foto!
- Lu yang foto! - [Tio mengerang]
- Foto, Win. - Tio.
[ceklek kamera]
[musik sedih mengalun]
["Di Batas Malam" oleh Danilla mengalun]
♪ Di batas malam ♪
♪ Membisu ruang ♪
♪ Derai kenangan ♪
♪ Sedalam hasrat ♪
♪ Jiwaku tenggelam ♪
♪ Di tengah riuh ♪
♪ Menimbang ragu ♪
♪ Berikrar janji ♪
♪ Yang kau semat ♪
♪ Di atas sana ♪
♪ Di antara bintang ♪
♪ Dan kini kau datang ♪
♪ Bak pelita ♪
♪ Membiasi kalbu ♪
♪ Sanubari ♪
♪ Yakinkan ini ♪
♪ Takkan pergi ♪
♪ Berlalu ♪
♪ Di ujung senja ♪
♪ Nyanyian musim ♪
♪ Kelam menjelang ♪
♪ Berkeping mimpi telah kau hancurkan ♪
♪ Tiada yang tersisa ♪
♪ Akankah kau datang ♪
♪ Bak pelita ♪
♪ Menghiasi kalbu ♪
♪ Sanubari ♪
♪ Yakinkan ini ♪
♪ Takkan pergi ♪
♪ Takkan berlalu ♪
♪ Dan bila kau hadir ♪
♪ Bak permata ♪
♪ Di hampar semesta ♪
♪ Ku menari ♪
♪ Yakinlah kita kan ♪
♪ Bersemi ♪
♪ Abadi ♪
[berteriak]
[menjerit]
[berteriak]
♪ Oh ♪
[menjerit]
♪ Oh ♪
[musik menegangkan mengalun]
[berdesah]
[terengah-engah]
[instrumental mengalun]
Tuh, lihat sendiri.
[berteriak] Anjing!
[sesenggukan]
[musik instrumental berhenti]
Aku tahu kau masih ada di sini.
Berkali-kali aku bilang sama kamu aku minta maaf.
Berkali-kali aku bilang aku nyesel sama perbuatan aku.
Sekarang kamu keluar.
Keluar.
[berteriak] Lilies!
Keluar kamu, Lies!
[berteriak] Lilies!
[ceklek dan desing kamera]
[keletak kertas foto]
Di mana kamu, Lilies?
[berteriak] Di mana kamu, Lilies! Keluar!
[ceklek dan desing kamera]
[berteriak] Bangsat!
[musik mencekam mengalun]
[keletak pintu]
[ceklek dan desing kamera]
[keletak kertas foto]
[ceklek dan desing kamera]
[keletak kertas foto]
[ceklek dan desing kamera]
[meraung]
[berteriak] Di mana kamu, Lilies?
[ceklek dan desing kamera]
[terengah-engah]
[mengerang]
[berteriak] Kalau kamu mau aku mati seperti temen-temen aku, keluar!
Bunuh aku sekarang!
Bangsat!
[mendengus]
- [musik menegangkan] - [ceklek dan desing kamera]
- [dentum musik menegangkan] - [ceklek dan desing kamera]
[dentum musik mencekam]
[mendengus, terengah-engah]
[menjerit]
[mengerang berulang-ulang]
[merintih, terengah-engah]
[mendengus, terengah-engah]
[mengerang, terengah-engah]
[gemerincing kaca]
[mengerang, terengah-engah]
[mendengus, terengah-engah]
[musik mencekam makin intens]
[mendengus, terengah-engah]
[berdesah, terengah-engah]
[mengerang, terengah-engah]
[berdesah, terengah-engah]
[mengerang, terengah-engah]
[mengerang]
[mendengus]
[bergelembung]
EKSHIBISI FOTO UNIVERSITAS EKANUSA
[narator wanita] "17 Agustus 2020,
Lilies Suryani, mahasiswi penerima beasiswa,
penari Jaipong yang seharusnya tampil hari itu di panggung perayaan kemerdekaan,
dianiaya dan diperkosa oleh tiga orang mahasiswa Ekanusa.
Reza, Abi, dan Tio.
Semua kejadian itu diabadikan oleh fotografer.
Darwin Aksara.
Kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi
sepanjang tahun 2021 sampai 2024
terdapat 82 kasus, yang dilaporkan ke Komnas Perempuan.
Ini hanyalah fenomena gunung es,
karena sebagian besar kasus tersebut melibatkan tenaga pendidik
dan rekan kampus yang berada dalam relasi kuasa lebih tinggi,
sehingga banyak korban yang memilih untuk diam.
Siaran Pers Komnas Perempuan Jakarta, 24 April 2025."
#RUANGAMANUNTUKSEMUA
[instrumental "Di Batas Malam" mengalun]
[instrumental "Di Batas Malam" berakhir]
[dentum mencekam mengalun]
BERDASARKAN FILM "SHUTTER"
["Di Batas Malam" oleh Danilla mengalun]
♪ Di batas malam ♪
♪ Membisu ruang ♪
♪ Derai kenangan ♪
♪ Sedalam hasrat ♪
♪ Jiwaku tenggelam ♪
♪ Di tengah riuh ♪
♪ Menimbang ragu ♪
♪ Berikrar janji ♪
♪ Yang kau semat ♪
♪ Di atas sana ♪
♪ Di antara bintang ♪
♪ Dan kini kau datang ♪
♪ Bak pelita ♪
♪ Membiasi kalbu ♪
♪ Sanubari ♪
♪ Yakinkan ini takkan pergi ♪
♪ Berlalu ♪
♪ Di ujung senja ♪
♪ Nyanyian musim ♪
♪ Kelam menjelma ♪
♪ Berkeping mimpi Telah kau hancurkan ♪
♪ Tiada yang tersisa ♪
♪ Akankah kau datang ♪
♪ Bak pelita ♪
♪ Membiasi kalbu ♪
♪ Sanubari ♪
♪ Yakinkan ini takkan pergi ♪
♪ Takkan berlalu ♪
♪ Dan bila kau hadir ♪
♪ Bak permata ♪
♪ Di hampar semesta ♪
♪ Ku menari ♪
♪ Yakinlah kita kan ♪
TERIMA KASIH
♪ Bersemi abadi ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.