Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Diterjemahkan Oleh: Zain Selamat menonton
Film ini didasarkan pada kisah nyata yang terjadi antara tahun 1997 dan 2000.
Hai, aku Mark Kerr dan aku mewakili
gulat gaya bebas Amerika,
dan aku di sini di World Vale Tudo 3
untuk buktikan ini gaya bertarung terbaik.
Itulah pegulat, Mark Kerr.
185 cm, 118 kg dari Toledo, Ohio,
dan keahliannya adalah gulat gaya bebas
dan ini adalah pertarungan profesional pertamanya.
Kita sangat mengharapkannya,
karena manajernya, Richard Hamilton,
yang membawa tiga petarung Amerika terkuat
yang pernah masuk ke ring ini,
yaitu Dan Severn, Don Frye, dan Mark Coleman.
Dia bilang tadi kalau orang ini yang terbaik
yang pernah dia lihat.
Saat dia masuk ring untuk pertama kalinya
di karier profesionalnya, kita lihat bagaimana dia bertahan
melawan kompetisi terberat ini.
Dan sekarang masuk yang terbesar di sini.
Paul Varelans, 203 cm, 150 kg.
Dari San Jose, California.
Dia juga punya pengalaman gulat delapan tahun,
tapi dia jelas lebih ahli pertarungan atas.
Itu Sergio Batarelli menyiapkan para petarung
selagi kita menunggu bel pembuka.
Pertarungan dimulai!
Kerr langsung menyerangnya.
Dia coba membantingnya. Apa dia bisa?
Oh! Bantingan telak pada Varelans.
Bantingan dua kaki oleh Kerr.
Lihat dia mencari posisi.
Kemampuan gulatnya terlihat dan...
Oh! Lutut ke wajah!
Wow! Lutut telak ke wajah
dan satu lutut lagi ke wajah.
Sungguh. Varelans sangat tangguh,
tapi dia menerima pukulan brutal
di wajahnya.
Wajahnya hancur sekarang.
Batarelli mengamati.
Dia... Ya, dia hentikan pertarungannya.
Sudah selesai.
Kerr menang di debutnya.
Benar. Varelans tak bisa menghentikan pertarungan.
Batarelli harus turun tangan.
Whoa. Lihat itu. Ada luka serius di sana.
Dia baik-baik saja?
Oke. Tenang saja. Tenang saja.
Ayo. Aku bantu. Ayo. Aku bantu.
Ayo duduk.
TKO. Wasit hentikan.
Nah, begitu.
Kau tahu siapa dirimu? Kau tahu siapa dirimu?
Dalam pertarungan.
Ya, kau habis bertarung. Bagaimana tadi?
-Tahu apa yang terjadi? -Aku... kalah.
Boleh aku tanya apa dia akan baik-baik saja?
Aku hanya ingin tahu.
Dia baik-baik saja, Mark. Dia tak apa.
Kembali ke sudutmu.
-Semua, kita siap? -Tunggu lima detik.
Apa yang kau pikirkan
saat pertarungan dimulai?
Kau tahu, detik saat bel berbunyi,
kau bisa lihat beberapa orang
dan kau bisa tahu
kalau... mereka takut setengah mati.
Maksudku, kau bisa lihat di mata mereka.
Kau bahkan bisa menciumnya di keringat mereka.
-Wow. -Tapi kau tahu,
sampai saat pertama kali aku menyentuh mereka,
dan benar-benar memaksakan diri pada orang itu
saat itulah kau bisa merasakan, hampir seketika,
apa orang itu akan menyerah atau tidak.
Lalu, apa selanjutnya?
Sederhana.
Apa aku akan menyakitinya sebelum dia menyakitiku?
Dan jika dia menyakitiku,
aku akan menyakitinya dua kali lebih parah.
Sebab, akan kuberitahu,
saat wajahmu dipukul,
kau bisa punya dua reaksi.
Kau bisa menghindar ketakutan,
atau kau ingin menghukum orang yang memukulmu.
Tapi aku menemukan cara ketiga.
Jika aku ditendang atau dipukul,
Aku akan lakukan sesuatu yang berbeda
dari menghukummu.
Aku akan memaksakan kehendakku padamu secara fisik.
Dan kau... sangat merasakannya saat itu terjadi,
saat orang itu pasrah,
dan dia benar-benar luruh di pelukanmu.
Dan itu...
Itu hal yang sangat kuat.
Memang gila karena awalnya,
aku hanya bersenang-senang.
Aku bertindak pakai insting hewan yang
mengambil alih.
Aku akan coba menjelaskannya,
mungkin dengan cara ini,
tapi ini... agak aneh.
Semuanya terasa sangat evolusioner.
Maksudku, aku bergulat di kampus,
tapi... ini sesuatu yang sangat berbeda.
Maksudmu bagaimana?
Saat aku merasakan sensasi itu, pukulan pertama,
aku sadar aku hampir mencapai
sesuatu yang...
Hampir ajaib.
Wow.
Kau sampai di titik
di mana kau harus bertanya pada dirimu,
apa kau akan masukkan jarimu
ke luka lawanmu?
Membukanya sedikit lagi?
Hanya... untuk menang?
Untuk membuatnya kesakitan? Apa kau mau?
Maksudku, kurasa aku mau.
Tentu saja kau mau.
Tahu kenapa?
Karena menang adalah perasaan terbaik.
-Ya. -Dan ingat,
ini turnamen di Brazil.
Jadi kalau kau menang, kau tidak pulang.
Tidak. Kau lanjut dan melawan orang berikutnya,
lalu orang berikutnya setelah itu,
lalu orang berikutnya, dan berikutnya.
Jadi, pada akhirnya, kau merasa seperti dewa.
Luar biasa.
Menakjubkan.
Jujur, saat kau menang,
tak ada hal lain di dunia ini yang penting.
Dan mungkin itu perasaan terbaik
-di dunia. -Ya.
Itu perasaan yang bahkan tak kukira
ada.
Sial, bung, aku merinding sekarang
hanya... menceritakan ini padamu.
Uh, jadi, Moti... Uh, Si Palu.
Ya.
Dia berpengalaman di Octagon.
Uh, kau tidak. Dia tangguh. Sangat tangguh.
Menurutmu apa
yang akan kau bawa ke pertarungan ini?
Aku rasa aku sangat yakin
dengan level kardiovaskularku.
Aku yakin dengan kekuatanku, yang sudah kutingkatkan.
Tapi tahu tidak, ini seperti perbedaan
antara senter dan sinar laser.
Wow.
Itu keren. Apa maksudmu?
Aku harus pastikan aku 100% konsentrasi
pada yang harus kulakukan.
Karena jika tidak, emosiku
akan berlarian ke mana-mana,
seperti senter.
Ya, masuk akal.
Ya. Maksudku, pikirkan saja.
Ini berlaku untukmu dan semua orang
-di ruangan ini. -Tentu.
Jika kita tidak mengendalikan emosi,
rasa takut dan cemas akan menguasai kita.
Dan tahu apa yang terjadi?
Kita dipermainkan oleh emosi kita...
-...dan kita tak mau itu. -Benar.
-Benar? -Hei, Kerr.
Ayo bangun. Mereka semua menunggu, kawan.
Hei, terima kasih banyak
-atas waktumu. -Ya. Terima kasih banyak.
-Aku menghargainya. -Aku menghargaimu.
-Siap? Senang bertemu denganmu. -Kawanku.
-Hei, satu-satunya perbedaan... -Ya.
...adalah bentuk ringnya, oke?
-Kandang. -Itu kandang.
Aku tahu. Aku tahu.
Pertama kali di Octagon.
Aku tadi bilang hal yang sama padanya.
-Benar. -Hei, ayo.
Baru ada 14 pertarungan sialan ini.
-Dia pembunuh. -Permisi.
-Coleman? -Ya, ya.
Vidmark Entertainment.
Boleh tanya rencanamu melawan Bobish?
-Oh, Bobish. Um... Kerr? -Ya?
-Banting dia cepat. -Siap.
-Aku akan pemanasan. -Baiklah.
Maaf. Tadi sampai mana?
Uh, kau tadi bicara soal Bobish.
Dan sekarang kita beralih ke kelas berat.
Mark Kerr melakukan debutnya
melawan Moti Horenstein,
yang tampil untuk kedua kalinya
di Octagon dan hanya kalah dari Mark Coleman.
Inilah dia Mark Kerr seberat 115 kg,
mantan juara Divisi 1 NCAA
di Universitas Syracuse.
Hadirin sekalian,
kini tiba saatnya kelas berat,
selagi kita memulai turnamen kelas berat kita.
Di sebelah kiri aku, dia adalah pemenang
Piala Dunia Gulat 1994,
pemenang
Kejuaraan Nasional Gaya Bebas Pria,
juara Divisi 1 NCAA,
tingginya 185 cm,
dan berat 115 kg.
Dia bertarung dari Phoenix, Arizona,
sambutlah di debut Octagon-nya,
Mark Kerr!
Hai.
Pasti lihat mataku ya.
Kok bisa begini?
Kau pernah dengar
Ultimate Fighting Championship?
UFC?
Mereka yang pertama di olahraga tarung.
Itu tinju?
Ya, ada sedikit tinju di dalamnya.
Lebih seperti seni bela diri
yang sudah ada ribuan tahun
dan kami satukan semua untuk lihat mana yang terbaik.
Aku sendiri latar belakangnya gulat,
tapi aku bisa lawan orang
yang latar belakangnya karate
atau orang dari latar belakang tinju
-juga. -Ya, aku pernah dengar.
Itu 'kan yang berdarah-darah yang mau dilarang.
Ya, benar. Memang benar.
Tapi harus kukatakan, popularitas olahraga ini
datang dari stereotip kau akan lihat
olahraga paling berdarah dan sadis
-yang pernah kau lihat. -Ya, aku tak bisa.
Itu... menggangguku.
Dan harusnya mengganggu banyak orang.
Kalian saling benci saat bertarung?
Tentu saja tidak.
-Oh. -Tentu saja tidak.
Uh, maaf mengganggu.
Uh, Dr. Cortez bisa temui Anda sekarang.
Baik. Terima kasih.
Senang bicara denganmu.
Terima kasih. Senang bicara denganmu juga.
Ini.
Apa kabar, jagoan?
-Maaf. Dia agak pemalu. -Tidak apa-apa.
Tapi kurasa dia mau tanda tanganmu.
Tentu, boleh.
Si... Siapa namamu?
Namanya Cosmo.
Tapi bisa untuk kakaknya juga, Murray?
Tentu.
Cosmo.
Jangan berkelahi.
-Hei, Mark.
-Hei, Raja. -Apa kabar?
Apa kabarmu?
Baik. Kau pasti agak jet-lag.
Ya. Baru tiba pagi ini.
-Kau dari mana? -Jepang.
Jadi UFC sekarang di Jepang?
Tidak, ini seperti situasi NBA dan ABA.
Dua liga berbeda. Yang ini namanya Pride.
Coba kau buka bajumu.
Biar kulihat.
Oke, jadi seperti biasa?
Kirim resepmu ke Safeway?
Tahu tidak apa yang kupikirkan bulan ini?
Aku mau pindah ke A to Z.
Mereka mengurus asuransiku lebih baik.
Begitu saja. Ya.
Oke. Tentu. Ya. Tidak masalah.
Bisa kupindahkan asuransinya.
-Dan mereka mungkin... -Tahu tidak?
Tak usah urus asuransi.
Kau tahu bagaimana mereka di Safeway.
Mereka merepotkan, jadi...
Lagi pula lebih mudah bagimu. Aku bayar tunai saja.
Kau yakin? Beberapa di antaranya akan mahal.
Ya, tidak masalah. Aku dipukuli
di wajah bukan tanpa bayaran...
Ya, aku bayar tunai. Tidak masalah.
Sayang!
-Hai. Uh, terima kasih. -Ini kubuatkan untukmu.
-Sayang kamu. -Mmm.
Ini mau kubuang
atau mau kau minum?
Kau pakai susu skim, 'kan?
Ya, susu skim seperti minggu lalu.
Aku ganti ke susu murni minggu lalu.
-Kenapa tidak bilang? -Kukira sudah.
Aku tahu, tapi kau harus bilang hal-hal ini.
Aku bisa salah
kalau kau tidak bilang padaku.
Tidak apa-apa. Kubuatkan lagi.
Sneakers.
Hai, sayangku.
Berapa banyak pisang yang kau masukkan?
-Setengah pisang. -Setengah?
Itu juga kau ubah? Sekarang berapa?
Sebenarnya satu setengah.
Kau hebat.
Hebat sekali, gadis pintar.
-Oh, ayolah. -Ayolah, apa?
Sudah kubilang jangan di sofa.
Berapa kali kubilang jangan di sofa?
-Dia hanya mau dielus perutnya. -Dia merusak sofa.
Ini mahal.
Dia 'kan gadis yang baik.
Baiklah. Ayo.
-Oh, Mark. -Ayo, ayo, ayo.
Kau sudah cukup merusak.
-Aku tahu. -Lihat?
Hei, dia coba menggigitku.
-Tidak apa-apa. -Oh, ayolah, Mark.
Oh, dia seperti ibunya.
Ayo, biarkan dia naik lagi.
Dia bisa duduk di pangkuanku dan tak apa-apa.
Sini, sayang.
Sini sama Mama.
Mmm, sayangku.
Ya, sayang. Hai.
Hei, terima kasih ya sudah buatkan smoothie-ku.
-Aku sungguh... -Mmm-hmm.
-Mmm-hmm. -Aku... sungguh.
-Terima kasih. -Diamlah.
Tidak, sungguh. Terima kasih.
Meskipun dibuat dengan susu yang salah,
kau tidak tahu.
Tapi terima kasih.
-Bagaimana rasanya? -Enak sekali.
Kau mau lagi?
Haruskah kau tanya begitu?
Ya, kau boleh regangkan aku lagi. Ya.
-Terlalu kencang? -Tidak.
-Terlalu kencang? -Tidak.
-Terlalu kencang? -Tidak.
-Katakan. -Tidak.
Ayo, sayang.
Satu Mississippi, dua Mississippi,
tiga Mississippi, empat Mississippi,
lima Mississippi...
-Permisi. -Ya.
Maaf. Boleh tolong buka penutupnya?
-Aku ingin lihat matahari terbenam. -Oke. Tentu.
Um...
Di kontrak tertulis...
Kontrak yang lalu tertulis $3.300...
-Oke. -Tertulis tersisa.
Tersisa. Ya. Tersisa. Jadi...
$3.300 masih tersisa untukku.
Jadi, satu bulan tanpa kontrak?
Tidak ada uang? Habis? Ini saja?
Ya, tidak ada kontrak lagi.
Tidak ada uang. Itu saja.
Aku bicara terlalu cepat?
Mungkin bahasa Inggrisku terlalu cepat.
Um, aku akan butuh uang lebih.
Tapi kita harus bicarakan ini.
-Kita harus bicara. Ya. -Bukan, bukan kau.
Aku bicara ke kantor pusatku. Bukan kau.
Kau akan bicara dengan kantor pusatmu.
-Ya. -Oke.
Tidak apa-apa?
Aku... aku mengerti, tapi sebelum aku bertarung lagi,
kita harus... kita harus selesaikan ini.
Kita harus punya pemahaman.
Kita harus buat kesepakatan, ya?
-Sebelum aku bertarung lagi. -Ya.
-Ya. Oke. -Tunggu saja.
-Itu adil. -Tidak apa-apa?
-Arigato. -Arigato.
Ya.
-Kerr. -Coleman.
-Kau buas sekali. -Kau baik?
Ada yang bagus di luar?
Tidak, aku sudah kembali, kawan.
-Bagus? -Ya.
Um, jadi, bagaimana kau kenal Mark Kerr?
Oh, Kerr dan aku sudah lama kenal.
Kami pernah bergulat satu sama lain tahun '88,
tahu, 'kan, dan...
Jadi, sejak dulu aku tahu siapa Mark Kerr.
Kami saling berkompetisi,
-tapi dia temanku. -Oh, jadi...
Siapa yang mulai profesional duluan?
Kurasa aku, karena aku beberapa tahun di atasnya.
Aku masuk ke dunia tarung ini sebelum dia.
Dia masuk, aku dilatih untuk membantunya.
Aku sebenarnya, uh, semacam
pelatih dan manajer pertamanya.
-Oh, oke. -Ya. Masa-masa menyenangkan,
tapi, sekarang kami latihan bersama
dan dia sudah mandiri.
Maksudku, lihat apa yang dia lakukan.
Aku sangat bangga padanya.
Dan, ya, aku bangga sekali.
Anda mau lihat yang mana?
Yang mangkuk. Dengan emas.
Ini dia.
Wow.
Ya. Ini sangat artistik
dan sangat mahal.
Indah sekali.
Maaf, aku tidak mengerti.
Aku tidak bicara bahasa Jepang.
Tadi kau bilang apa?
Um...
Seleramu bagus.
Ah! Terima kasih.
Aku ambil ini.
Arigato.
Tahu tidak? Aku ambil ini juga.
Oh, indah sekali.
Untuk pacarku. Dia suka warna-warni.
Arigato.
Jadi, mari kita bicara
soal pertarunganmu.
Apa pendapatmu
tentang lawanmu, Igor Vovchanchyn?
Dia petarung yang sangat terkenal dengan pukulan keras.
Pukulannya keras.
Um, ini mungkin akan jadi pertarungan terberatku...
karena pengalamannya.
Tapi aku harus bertarung dengan bersih.
Aku harus bertarung dengan sangat teknis
jika ingin menang.
Tapi sebagai manusia, kadang kita kalah.
Menurutmu bagaimana rasanya?
Bisa bayangkan?
Aku berusaha tak membiarkan pikiran seperti itu
masuk ke otakku.
Tapi jika ya...
Aku tidak tahu harus bagaimana,
karena aku... tak tahu rasanya seperti apa.
Aku tak pernah kalah bertarung.
Maaf, tapi itu kenyataannya.
Tapi boleh aku tanya sekali lagi?
Aku harus tanya, sebagai jurnalis.
Berandai-andai saja, jika... jika aku kalah...
Aku tak tahu bagaimana menanggapinya
karena aku tak pernah kalah.
Ya. Terima kasih.
Maksudku, aku coba memikirkannya denganmu,
tapi aku...
Ya, aku tak bisa.
Kami minta maaf jika membuat Anda menunggu.
Kami ingin memulai
dengan perubahan aturan berikut.
Tindakan berikut sekarang dianggap ilegal.
Nomor satu, menggigit.
Nomor dua, mencolok mata.
Nomor tiga, menanduk.
Dan sekarang...
Dalam posisi ini, lutut dan tendangan
ke wajah adalah pelanggaran.
Maaf.
Aku hanya ingin pastikan kami memahaminya dengan benar.
Jika lawan dalam posisi
di mana...
Wajahnya menghadap ke atas,
apa boleh bagi orang yang berdiri
untuk menendang wajahnya?
Ya. Itu boleh.
Terima kasih.
Permisi, Nona.
Permisi, Nona.
Aku harus minta Anda menutup meja lipat
karena pilot sudah mulai mendarat.
-Ya, tentu. -Terima kasih.
Bersabarlah di sana.
Bersenang-senanglah.
Jangan adu kickboxing dengannya.
Sabar. Cari celahmu.
-Banting dia. Lakukan tugasmu. -Ya.
Kau akan bersenang-senang di sana.
Bersenang-senang.
Coba tebak siapa.
-Hei, Dawn. -Hai.
-Oh, maaf. -Biar kuambil ini dari...
Oke.
Oke, kawan. Kuberi lima sampai sepuluh, oke?
Ya.
Oke.
Hai.
Mau duduk sini, sayang?
Kau baik-baik saja?
Kau mabuk?
Lihat aku.
Lihat aku.
Kau...
Kenapa kau aneh sekali? Matamu aneh. Lihat...
Oke.
Sini.
Sini.
Oke.
Kau membuatku merasa sangat bodoh
datang ke sini. Sepertinya kalian
membicarakan omong kosong.
Aku terbang jauh-jauh ke sini.
-Kau yang memintaku datang. -Aku sudah bilang terima kasih.
Oh, ya? Lalu kau bersikap
brengsek di depan temanmu.
Jangan telepon aku lagi.
"Tolong, Dawn, datang. Aku kesepian." Persetan!
Aku sedang coba fokus. Tak ada hubungannya denganmu.
Bisa sapa aku?
Dawn, tak ada hubung_annya denganmu.
Kau tak punya waktu untuk menyapaku?
Aku hanya tak mau bertengkar. Jangan sekarang. Kumohon.
Apa lebih mudah jika kupukul wajahmu?
Ya, pukul saja wajahku.
Ya? Apa kita bisa bicara setelah itu?
Pukul wajahku. Pukul wajahku.
Malam terbesar hidupku. Pukul wajahku.
Masuk.
Maaf sekali.
Kami sudah siap untuk Anda di bawah.
Tolong, ikut denganku.
Ya. Terima kasih.
Kau tak bisa dikendalikan.
Maafkan aku.
Ini adalah bentrokan dua raksasa
di olahraga ini, Bas.
Aku benar-benar tak tahu
apa yang akan terjadi. Tentu kita harap
Igor akan menghujani pukulan
dan Mark akan coba membanting.
Ada Kerr,
pegulat sejati, ahli bantingan,
melawan mungkin pemukul terhebat
di olahraga ini, Igor Vovchanchyn.
Dan ada Mark Coleman,
mantan juara UFC tiga kali,
uh, mendampingi Mark Kerr.
Jadi, dia akan...
Aku akan cari tempat dudukku.
Mark Kerr!
Di atas kertas, menurutku Mark Kerr
akan menang.
Aku juga berpikir begitu,
tapi Vovchanchyn mungkin pernah
melawan lawan yang lebih tangguh daripada Kerr.
Ya, itu yang dikatakan kebanyakan orang, tapi...
Tapi akan kuberitahu satu hal.
Vovchanchyn tak pernah melawan orang seperti Mark Kerr,
tapi jujur saja.
Di sisi lain,
Kerr tak pernah melawan petarung atas,
yang sama berbahayanya dengan Igor Vovchanchyn.
Ini pertarungan yang monumental.
Ayo, Kerr.
Bergerak! Bergerak!
Kaki! Kaki!
Tekan.
Kunci tangannya, Kerr.
Ayo, Mark! Ayo, sayang!
Bermain cerdas!
Nah, begitu.
Banting dia!
Ayo!
Ayo!
Pakai tanganmu. Pakai tanganmu.
Nah, begitu! Tarik! Tarik!
-Tahan dia. -Ayo, Mark!
Ayo.
Nah, begitu.
-Bangun! -Bangun, Mark! Bangun!
Bangun! Angkat tangan!
Ayo! Terus! Terus!
Bagus! Bagus!
Hajar dia! Hajar dia!
Kepalamu dipegang, Mark.
Lepaskan dirimu! Bangun sekarang!
Kau harus bangun sekarang!
Bangun, Mark! Ayo!
Bergerak! Kau harus bergerak!
Lindungi dirimu! Bangun! Bergerak sekarang!
Kerr, bergerak!
Ayo.
Bangun, Kerr!
Kau harus bergerak! Kau harus bangun!
Kerr tumbang!
Ya Tuhan!
Kerr telah KO
oleh Igor Vovchanchyn!
Di lututnya, tapi... tapi tunggu.
Vovchanchyn berselebrasi dengan liar.
Dia telah membunuh si monster.
Kenapa itu tidak ilegal?
Kenapa itu tidak ilegal?
Kenapa itu tidak ilegal di atas kepalaku?
Itu ilegal.
Tidak, tidak, tidak.
Oh, tahu tidak?
Kurasa itu pelanggaran.
Lutut tidak boleh di bawah.
Dia tak berdaya.
Benar.
Benar. Tidak boleh menyerang kepala dengan lutut
saat lawan sedang...
Tidak apa-apa, sayang.
Wasit telah mengangkat
tangan Igor Vovchanchyn sebagai tanda kemenangan.
-Tuan Sakakibara? -Ya?
Maaf. Maaf. Apa kabar?
Aku baik-baik saja. Kau?
Aku tidak baik. Tidak baik.
Wasitnya buruk.
Buruk... Vovchanchyn memukul tepat di atas kepala.
Itu salah. Pelanggaran.
Wasit tidak bilang pelanggaran.
Lalu dua kali, dua kali lagi,
memukul di atas kepalaku.
Dan aku terbaring di lantai menunggu
wasit bilang pelanggaran.
Dia tidak bilang pelanggaran.
Itu salah. Ilegal di atas kepala. Bam.
-Oke. Oke. Aku bicara dengannya. -Dua kali.
-Tolong. Tolong. -Oke? Ya, oke.
Arigato.
-Aku tidak kalah. -Ya.
Kau ada benjol dan memar.
Kau tidak cedera.
Kau akan sembuh satu atau dua minggu, paling lama.
Oke?
Ya. Ya.
Ya, benar.
Aku akan sembuh satu atau dua minggu, paling lama.
Maksudku, tanganku tidak patah.
-Ka... kakiku baik-baik saja. -Mmm-hmm.
Kepalaku agak terbentur.
Igor itu bajingan yang tangguh, ya?
-Bajingan tangguh. -K akui itu.
Ya.
Terima kasih.
Oke, kawan, aku keluar sebentar.
-Aku kembali lagi, oke? -Ya, ya.
Hei, Coleman, um, bisa bicara denganmu?
-Ya. -Maaf. Aku hanya ingin tahu
apa... apa dia akan baik-baik saja.
Aku tak pernah lihat dia seperti ini sebelumnya, jadi...
-Harusnya dia baik-baik saja. -Oke.
Dan dia tampak baik-baik saja, 'kan?
Ya, maksudku, aku hanya...
Aku tidak tahu. Aku, seperti, tahu
sebelum dia masuk ring dan dia...
Maksudmu?
Yah, dia tidak serius, kurasa, dan...
Soal pertarungannya.
Seperti dua minggu terakhir kami pergi minum-minum
dan berpesta dan...
-Kau tak pernah bilang itu? -Padamu?
-Padaku, ya. -Kenapa?
Dia tak seharusnya minum-minum dua minggu sebelum bertarung.
Aku bukan pelatihnya, dan aku bukan petarung.
Dan... Dan dia tampak santai saja.
Dia tampak baik-baik saja.
Dan aku tidak tahu apa dia pernah berpikir
ini mungkin terjadi, kalau dia akan kalah.
Dan aku tak berpikir itu mungkin.
Hmm. Oke. Aku mengerti.
-Temani saja dia. Oke? -Ya.
Kami telah memutuskan untuk menganggap pertarungan ini
dengan Igor seri.
Seri.
Kami akan sangat senang kau kembali
ke Pride lagi.
-Terima kasih. -Arigato.
Terima kasih.
Apa kata mereka?
Mereka memutuskan hasilnya seri.
Itu bagus.
Itu bagus. Kenapa kau masih sedih?
Bukan Dawn... Aku tidak sedih.
Hanya saja aku tak melakukannya untuk hasil seri.
-Mmm-hmm. -Aku mau keputusan.
-Mmm-hmm. -Tahu?
Maksudku, aku di luar sana.
Aku korbankan segalanya, sungguh.
-Mmm-hmm. Aku lihat. -Aku korbankan segalanya
-di luar sana... -Ya, itu berat sekali.
-...untuk hadiah di akhir. -Benar.
Itu... sensasi dari hal yang kulakukan.
Hal yang baru saja kulakukan di sana.
Itu sensasi yang...
Tak ada sensasi lain seperti itu di dunia.
Aku hanya bisa bayangkan. Ya, aku bisa lihat.
Aku bisa lihat itu padamu saat kau melakukannya,
-tahu? -Ada 40.000 orang...
-Ya. -...di sana mendukungmu.
Itu seperti orgasme.
Ya, aku tahu...
Dawn, aku tidak bercanda.
Aku tidak bercanda. Itu...
Aku bicara soal sensasi tertinggi.
-Mmm-hmm. -Dan dua pria di luar sana
bersaing satu sama lain.
Dan hanya kami berdua dan itu sangat mentah.
-Tapi kau... -Kompetisi itu gila.
...harus ada kompetisi...
Dan kau rasakan itu, kau bertarung.
Kau rasakan itu
tapi kau tidak tampak... kau tidak tampak senang.
Tidak. Aku coba menjelaskannya padamu,
-tapi kau terus bicara. -Ya.
Kau terus memotongku.
Bukan, aku coba mengerti apa yang kau katakan
dan aku coba mendukungmu.
Aku tahu, tapi hanya karena aku coba
memberitahumu apa yang terjadi.
Whoa, whoa, whoa!
-Hei, kawan! -Apa kabar?
-Apa kabar? Oh. -Ow!
Oh, kau tak apa? Astaga, maaf.
-Itu karenaku? -Ya.
Coba lihat. Boleh kulihat?
Bagus. Berapa jahitan?
Empat.
-Empat jahitan. -Empat. Empat.
Badanmu tak apa?
Sedikit di lutut.
-Sedikit di lutut. -Ya.
Tahu kenapa? Sering di kepalaku.
-Maafkan aku. -Tidak, tidak, tidak apa-apa.
Ah! Sungguh tak apa-apa.
Bilang padanya itu alami. Reaksi alami.
Kepalaku di bawah sana. Wajahku di bawah sana.
Ayo kita foto bersama. Ya?
Ya, ya, ya. Ayo kita foto bersama.
-Ayo. Ya. Ya. -Tentu.
-Bisa foto? -Ayo!
Ayo semua masuk. Ayo semua...
Semua masuk.
Hei, Dawn, bisa ambilkan foto kami?
-Ya. -Terima kasih.
Ya, ayo.
Lihat kalian berdua.
Yang terbaik.
-Dua yang terbaik. -Benar.
Benar.
-Terima kasih. -Terima kasih.
-Terima kasih. -Pertarungan hebat.
-Bukan, ini dingin. -Dingin?
-Dingin. -Dingin dan panas?
-Ini panas. -Panas. Oke.
Terima kasih. Um, tiga?
-Tiga, uh... -Ya.
Tidak, tidak. Hanya satu.
-Sungguh? Hanya satu? -Ya.
-Hanya satu. -Hanya satu.
Oke.
Apa kau punya, um, obat pereda nyeri lebih kuat?
-Obat pereda nyeri? -Ya.
Sayang, kurasa mereka... Kurasa mereka tak punya.
Tidak, mereka punya. Mereka punya segalanya di belakang sana.
Seperti narkotika, opiat.
Tidak, tidak, tidak.
Kenapa tidak?
Um, kau harus...
Sertifikasi.
-Sertifikasi? Ya. Ya. -Ya. Ya.
-Izin. -Izin.
-Ya. -Mark, ayo pergi.
-Tak apa, dia punya. -Tak apa. Ambil saja...
ambil yang mereka punya dan kita pergi.
Kami punya. Izin.
Kau dapatkan izin untukku.
Terima kasih.
-Tidak, tidak, sudah terlambat. -Ya.
Tidak, tidak.
Apa yang kau punya untukku yang kuat?
Aku punya Advil. Advil.
-Advil? -Advil. Ya, ya.
Oke. Terima kasih.
Terima kasih.
-Dawn, kau mau? -Tidak, tidak.
Mereka membagikannya seperti permen.
Terima kasih.
Kau mau pegang tanganku?
Oke.
Hei, Joan. Hei, ini Mark.
Ya, aku baik. Apa kabar?
Bagus. Aku telepon karena Dr. Rob
akan menuliskan resep itu
untuk, um, Voltaren untukku.
Ya, tapi Voltaren dalam bentuk pil,
agak keras di perutku.
Ya, dan aku tahu kalian bisa memberiku suntikan,
tapi kalian tak mau lihatku di sana setiap hari.
Jadi, aku harap Dr. Rob bisa menuliskan
resep, yang sedikit lebih baik
dari Voltaren,
um, yang sedikit lebih kuat juga.
Ya. Oh, bagus. Ya.
Itu bagus sekali.
Jadi, kapan pun dia kembali ke kantor,
minta dia telepon aku.
Aku akan ada di sini.
Aku... merasa sangat baik. Aku menghargainya.
Yah, kau tahu, sehari tanpa rasa sakit itu
seperti sehari tanpa mentari.
Tidur lagi saja, oke?
Jam tunggal ini memutar
enam melodi berbeda setiap jam.
Saat pemukul lonceng mengenai...
Anda penawar pertama...
Kau harus tetap makan, Mark.
Ya.
-Kau tidak akan... -Aku akan.
...sembuh kalau tidak makan.
Ya.
-Aku tahu. -Aku tak bisa terus datang
dan menemukanmu begini, Mark. Ini...
Maksudmu?
Kau terus bilang kau akan berhenti
lalu aku datang dan...
Sayang, aku hanya perlu...
Aku hanya harus lewati... momen ini.
-Tak apa. -Kau mau apa dariku?
Kau mau aku pura-pura semuanya baik?
Tidak. Maksudmu?
Kalau kau tidak terlihat begini?
Aku tidak... Aku hanya mau kau jadi pacarku.
-Itu saja. Maksudmu? -Terlihat seperti apa?
Kau terus bilang kita akan mendaki.
Kita akan mendaki. Kita pergi hari ini.
Kau bahkan tak sembunyi dariku lagi.
Aku terus masuk ke kamar mandi,
lihat barangmu di mana-mana.
-Tak apa. -Tidak apa-apa.
-Tak apa. -Ini semakin parah, Mark.
-Tidak, ini untuk rasa sakit. -Ini gila.
-Itu untuk rasa sakit. -Tidak. Tidak, ini gila.
Dan kau harus serius sekarang, oke?
Aku serius. Maksudmu?
Karena aku tak kenal orang ini sekarang.
Aku... Aku sedang lalui ini.
Apa... Keliling rumah
mencari-cari barang
-hanya untuk cari masalah? -Tidak.
Bagaimana kalau kau berhenti perlakukan aku seperti anak kecil?
-Bagaimana? -Bagaimana kalau kau berhenti
bertingkah seperti itu.
Kau... Kau kalah bertarung.
Masalah besar. Lupakan saja.
Aku hanya ingin kau perlakukan aku sebagai pria.
Aku cinta kamu.
Kau pria kuatku. Aku cinta kamu.
Oke?
Kau mau bertarung?
Kuterima. Ayo.
Siap? Oke, ayo lihat kemampuanmu.
Sepertinya aku menang.
Oke, oke, oke.
Pemenangnya adalah Ayah!
Melawan musuh tangguh. Terberatku.
Senang bisa menang lagi.
Dan setelah bayaran ini,
Akan kubelikan putriku
rumah mainan baru, dan sepeda.
Dan... Tunggu.
Halo.
Dia terbaring di lantai dan tak mau bangun
dan aku tak bisa memindahkannya...
-Aku mengguncangnya... -Ini Dawn.
-...dan dia... -Dia panik.
...pakai terlalu banyak.
Ceritakan semuanya dari awal.
Kurasa dia pakai terlalu banyak
lalu aku tak bisa membangunkannya.
Kutemukan dia di lantai
lalu aku mengguncangnya.
Dia masih hidup?
Masih, tapi awalnya aku tak tahu.
Ya Tuhan. Oke. Um...
Aku tahu. Tenang, tenang.
Oke. Aku mau kau datang bantu aku, oke?
Aku akan naik penerbangan pertama ke sana.
Oke? Aku akan membantumu.
Aku akan ke sana sesegera mungkin.
Kau harus bicara padanya.
Siap. Siap.
Sampai jumpa. Penerbangan pertama.
-Oke. -Baik. Dah, Dawn.
Maaf. Di mana kamar Mark Kerr?
Oh. Di ujung lorong, Pak.
Terima kasih.
-Coleman. -Hei.
Aku tahu.
Aku tahu, aku tahu.
-Bagaimana keadaannya? -Dia baru bangun.
Dia sadar-tidak-sadar dan dia tak baik.
-Tapi dia sadar? -Ya.
-Boleh aku masuk? -Ya.
Ada apa, kawan?
-Hei. -Apa kabar?
Apa kabar, Coleman?
Senang sekali melihatmu. Astaga!
Kau terlihat agak kacau. Jujur saja.
Oh, bung. Kau harus lihat sabun di tempat ini.
-Buruk? -Seperti lem.
-Ya. -Agak terlihat.
Aku tahu, bung.
Ini merusak rambutku.
Ya, ya.
-Bung, kau terlihat hebat. -Terima kasih.
Jadi, uh, apa yang terjadi?
-Oh, bung. -Kau sakit atau apa?
Ya. Aku, um, sakit.
Aku sakit dan itu... sungguh luar biasa.
Parah sekali.
Itu kata yang tepat. "Itu" parah.
-Mmm-hmm. -Ya.
Um...
-Ya. -Jadi apa yang terjadi?
Bisa ceritakan selengkapnya?
Um, aku...
Aku di lantai dan... dan aku tak bisa bangun.
Lalu aku, um...
Lalu Dawn masuk dan dia coba
membangunkanku dan... dia tak bisa...
Dia tak bisa membangunkanku juga dan, um...
Um...
Kau tak apa.
Aneh sekali.
Tak apa.
-Lanjutkan. -Ya, ya. Kau tahu aku.
-Aku tak punya jeda verbal. -Aku tahu. Aku tahu.
Um...
Jadi, Dawn telepon...
Dia telepon 911.
Lalu ambulans datang,
paramedis masuk dan mereka tak bisa
membangunkanku juga.
Lalu mereka masukkan aku ke ambulans
lalu mereka...
Aku seperti di keadaan aneh.
Aku sadar di mana aku,
dan aku bisa lihat sedikit buram,
tapi aku bisa dengar semuanya.
Jadi ketajamanku... cukup bagus.
Mereka menanyaiku,
dan... aku salah menjawab beberapa pertanyaan
sedikit.
Seperti siapa presidennya.
Mereka tanya, "Siapa presidennya?"
Kau bilang apa?
Ronald Reagan.
Kau percaya itu?
Maksudku, sial, kau 'kan akan bilang itu.
Aku akan bilang itu di hari biasa,
Kubilang, "Kalian tak boleh tanya itu."
Saat itu aku sadar, itu tak adil,
tahu, cara mereka...
-Hei. -Ya.
Dengar.
Hentikan saja, oke? Kumohon?
Hei, kau tak apa.
Dengar. Aku ke sini bukan karena aku suka Phoenix.
Oke?
Aku ke sini karena aku ingin lihat kau
sembuh.
Kau tak bisa terus begini.
Aku tahu.
-Maafkan aku. -Ini aku.
Kau tak perlu minta maaf, oke?
Aku salah satu teman baikmu di dunia, 'kan?
Ya.
Dan aku di sini karena aku sayang padamu.
-Aku juga sayang padamu. -Oke, sini.
Sini. Sini.
-Ya. -Aku sayang padamu, bung.
Maafkan aku.
Aku tak mau mati.
Hei, lihat aku. Kau tak akan mati.
Oke? Lihat aku.
Aku tak bisa. Tak bisa.
Kita hadapi ini bersama, oke?
Ada banyak orang yang sayang padamu.
Tapi harus dimulai darimu, oke?
Dan kau pasti bisa.
Oke?
-Oke. Aku tahu. -Aku tahu.
Aku tahu.
Terima kasih.
-Itu saja? -Terima kasih banyak.
Terima kasih sudah mengundangku hari ini.
Tak masalah.
Aku punya pertanyaan agak aneh untukmu.
Oke.
Um, apa kau tak apa bertarung tanpa temanmu?
-Mark Kerr? -Ya, Mark Kerr.
Ya, aku mengkhawatirkannya
cukup lama.
Tahu, 'kan, sebagai teman.
Ya, aku tahu perasaanmu.
Kurasa kekalahan dari Igor itu,
atau apalah itu, seri.
Kurasa itu hal terbaik yang
bisa terjadi padanya.
Kurasa dia akan kembali jadi versi
dirinya yang lebih baik.
Dan aku tahu dia ingin ada di sini.
Dia menyukai kalian.
Dia sedih sekali tidak bisa datang.
Jadi, apa yang membuatmu tetap termotivasi?
Banyak orang menyuruhku pensiun.
Tahu, 'kan, dan menyerah.
Tapi aku punya keluarga.
Dan ada banyak cara yang lebih buruk
untuk cari nafkah, jadi...
Aku menantikan hari Minggu.
Kurasa akan berlangsung seru.
Jadi, Mark Coleman di sini
tanpa dukungan temannya, Mark Kerr,
yang harus mundur dari pertarungannya
karena alasan kesehatan...
...tapi dia juga menghadapi pertarungan berat
melawan waktu.
Setelah kekalahan terakhirnya, kau pasti bertanya,
"Apa ini akhir dari Mark Coleman?
"Atau dia akan memperpanjang kariernya sekali lagi?"
Putar dia. Tapi jangan adu pukul.
Nah!
-Bagus. -Jangan adu pukul.
Sekarang! Serang, serang, serang!
Serang! Banting dia!
Ya! Ini yang kumaksud!
-Kau dapat. -Hancurkan dia!
Robohkan dia!
Hajar dia! Hajar dia! Ayo.
Lewati kunciannya!
-Ayo, lewati kunciannya. -Terus tekan.
-Pukul dia! Ya! -Nah! Ayo!
Ayo! Pukul lagi.
Lewati kunciannya!
Begitu, begitu, begitu.
Ayo! Jangan berhenti!
Jangan berhenti!
Begitu! Ya!
Coleman berhasil!
Dia menang di sini di kejuaraan Pride 8
atas Ricardo Morais,
memberi napas baru di kariernya.
Dia jelas bekerja keras
untuk kembali ke sini dan pola pikir ini.
Tak pernah terlihat lebih cantik.
Kau cantik sekali, sayang.
Aku rindu sekali padamu, sayang.
Ayo!
Mmm. Gravitron! Lihat!
Aku suka Gravitron. Keren.
-Tidak? -Yah...
Ayo. Ayo. Ini yang terbaik.
Aku tak mungkin naik itu.
Kenapa? Kenapa?
Kenapa? Karena perutku.
Kau tahu akibatnya pada perutku.
Aku bisa muntah di mana-mana.
-Aku tak bisa. -Tidak, tidak.
Bukan, ini soal perspektif, oke?
Di dalam, kau tak merasakannya.
Seperti kau tidak bergerak.
Kau, seperti, tertahan di dinding dan...
Kau akan suka. Kau akan suka.
Di dalamnya bergerak?
Bergerak, tapi sangat cepat
jadi kau tak merasakannya.
Hei, aku ingin sekali naik wahana itu dengannya,
tapi perutku sensitif.
Apa ada... Apa ada...
Bagian tengah di sana,
itu yang diam, 'kan?
Boleh aku berdiri di sana? Di bagian tengah?
-Di bagian tengah? -Ya.
Tidak, bung, itu bisa jadi masalah besar.
Jadi, kau sarankan aku berdiri di mana?
Aku tak mau muntah di wahana,
tapi aku mau naik bersamanya.
Kau tak mau muntah di wahana?
Saranku jangan naik wahana itu
kalau kau tak tahan.
Bukan aku tak tahan,
aku hanya memilih untuk tidak naik.
Oke, aku akan naik wahana itu.
Kau pegang kuenya.
-Kau pegang tasku. -Oke.
-Oke? Doakan aku. -Oke.
-Oke. Terima kasih. -Selamat bersenang-senang.
-Aku datang! -Kau keren sekali!
Kau keren sekali!
Aku merasa keren.
-Ini kecepatanku, sayang. -Oke.
Ini kecepatanku.
Ayo, Rambo!
Para pengemudi berkumpul.
Ayo, 45!
Andy Garcia masih bertahan.
-Oh! -Andy Garcia!
Itu dia...
Oh!
-Oh! -Tabrakan hebat!
Masih belum menyerah.
Oh, kurasa roda belakangnya hancur.
Ya!
Dia baik-baik saja. Dia harus
cari jalan keluar, karena mereka terus
menabraknya di titik yang sama.
-Whoo-hoo! -Oh, ini dia!
Oh, dihancurkan sekarang!
Maju terus! Maju terus!
Oh!
Madden menabrak keras lagi.
Memeriksa 50.
Kenney bersaudara masih bertahan
dan masih bergerak.
Dia tak apa!
-Whoo! -Dia tak apa!
Mobil Rick paling parah ditabrak...
Dawn, apa yang terjadi di sini?
-Maksudmu? -Kusuruh kau
pangkas bawahnya agar atasnya membesar.
Aku ingin ini terlihat seperti kartun Road Runner.
Ini hanya tonjolan kecil. Potong saja.
Bukan begitu caranya.
Sekarang, dia mencuri air,
lalu merusak integritas
dari lengan yang lebih besar.
Maaf. Aku tak sadar
ini masalah besar.
Ini 'kan... Ini 'kan hanya tanaman.
Bukan hanya tanaman. Itu kaktus saguaro.
Sulit menumbuhkannya seperti itu.
Boleh minta pisaunya?
Kau akan jadi ayah yang hebat,
tahu?
Kau baik sekali bilang begitu dan aku bersungguh-sungguh, tapi...
Itu benar.
Terima kasih, tapi aku belum siap,
dan aku tak tahu kenapa kau ungkit itu terus,
sungguh. Sepertinya kau terus memaksa.
Aku tidak memaksa. Aku hanya bilang,
kau punya sifat baik dan akan jadi ayah hebat,
itu saja.
-Kenapa kau ungkit? -Hanya ingin baik.
Yah, itu tidak baik,
karena kau terus membuatku bilang tidak.
Kau sudah tahu perasaanku soal itu.
Dengar, aku suka anak-anak...
...tapi aku selalu pergi,
pikiranku sibuk
dengan hal lain yang terjadi,
dan kau terus mengungkit soal punya anak.
Aku tak tahu apa maumu.
Kulihat sekeliling.
Aku sudah lakukan semuanya.
-Itu tidak benar, Mark. -Itu benar.
Aku sudah lakukan semuanya di sini.
Kau tidak mengerti.
Aku tak punya ruang mental
untuk punya anak. Dan... Maaf.
Aku tak suka bilang tidak padamu.
Aku hanya coba bersikap baik.
-Aku tahu, aku tahu. -Oke.
Dan itu baik sekali.
Dan... aku menghargainya. Hanya waktunya tak tepat.
Oke.
Sungguh, Dawn? Lihat daun di kolam.
Kau bercanda, Mark? Itu... Itu tadi pagi.
Aku tahu, tapi...
Biar kulakukan.
Jadi, bagaimana?
Sangat menyebalkan,
jujur saja. Hanya saja...
Dia jadi sok benar
dan kukira aku bisa tahan,
dan aku tak tahu apa aku bisa, karena seperti bersama
orang yang benar-benar berbeda sekarang.
Kau tahu 'kan orang yang baru sadar,
itu saja yang dibicarakan, jadi...
Saat dia masih pakai, dia lembut dan manis
dan dia bergantung padaku,
dan sekarang dia jadi jaga jarak.
Sulit, sulit dimengerti,
dan dia menyebalkan, dan menggangguku, dan...
Yah...
Kurasa aku rindu merawatnya.
-Ya. -Ya Tuhan. Ya Tuhan.
Apa? Oh, otak beku?
Tempelkan lidahmu ke langit-langit mulut.
-Mmm-mmm. -Bisa. Ya. Berhasil.
-Harus dihangatkan. -Tak pernah berhasil.
-Aku tak tahu harus apa. -Oke. Ini, teguk ini.
Ya Tuhan.
Oke.
โช Selamat ulang tahun โช
โช Selamat ulang tahun โช
โช Selamat ulang tahun, Jacquelineโช
โช Selamat ulang tahun โช
Terima kasih. Aku benci kalian.
Akan kubunuh kau.
-Nikmati. -Terima kasih!
Ingatkan aku
jangan pernah kembali ke tempat itu. Tempat terburuk.
Sepertinya aku butuh piza itu.
Maaf.
-Empat. Wow. -Ya.
Ini jaminan aku tak akan sakit kepala,
dan aku bisa merasakannya.
Ya. Masuk akal.
Ya, kukira begitu. Makanya kubilang.
Kau tahu, aku baru keluar dari rehab, Dawn.
-Oh, ayolah. Sungguh? -Ayolah.
Aku tak melakukannya di depanmu.
Aku tahu, tapi kau tak baik padaku sekarang.
Kau tak bersikap baik padaku.
Maksudnya apa? Aku tak lakukan apa-apa.
-Tidak, kau hanya... -Aku tak lakukan apa-apa.
...menghakimi, dan, seolah, kau baru
sembuh selama 21 hari, seolah...
Itu tak membuatmu lebih baik dariku.
Maaf. Maksudku bukan begitu.
Mark. Ini...
Hanya karena kau punya masalah,
bukan berarti semua orang di dunia
punya masalah yang sama denganmu. Oke?
-Jadi mengertilah. -Kau tak akan mengerti.
Kau telepon siapa?
-Halo. -Hei, Jeff, ini aku.
Oh, sponsormu. Oke.
Tahu tidak? Kau tak asyik lagi.
Kau tak asyik lagi.
Dan kau hanya bajingan pengadu.
-Tunggu. Tunggu sebentar. -Kau mengadukanku?
-Aku tidak mengadukanmu. -Apa yang kau lakukan?
Ini saat tersulit hidupku, Dawn.
Tolong, tolong. Aku mau kau mengerti.
-Aku mengerti. -Tolong.
Tidak, aku mengerti.
Tapi lalu kau telepon Jeff, dan mengabaikanku.
Dan itu menyakiti perasaanku,
dan aku di sini untuk bicara padamu, oke?
Tapi kau harus biarkan aku masuk. Kau tak butuh Jeff.
Tutup. Tutup.
Ini yang kubicarakan.
Maksudku, naik turun ini.
Aku tak tahu bicara dengan siapa.
Beraninya kau bilang begitu?
Perilakumu tak sehat untukku sekarang.
Tolong, Dawn.
Tahu tidak? Persetan, Mark.
Persetan denganmu.
Jeff, kau dengar apa yang kuhadapi sekarang?
Sangat tak nyaman di rumahku sendiri.
Aku tak tahu apa kau sempat dengar
apa yang dikatakannya saat berteriak.
Aku dengar...
Ya.
Tahu tidak?
Kau itu cemburu
karena aku masih bisa pergi
dan minum-minum dengan temanku,
dan tak apa-apa.
Dan kau berharap bisa begitu.
Berhenti pura-pura
seolah aku yang punya masalah.
-Kau dengar itu? -Ya.
Ya, itu dia.
Kuharap kau dan Jeff...
bahagia bersama.
Dan dia... Aku...
Nanti kutelepon lagi.
-Oke, terima kasih, Jeff. -Ya, oke.
Hei, Dawn?
Dawn?
Hari ini, kami senang bisa menghadirkan
para petarung terhebat kita
di satu ruangan untuk konferensi pers ini.
Beri tepuk tangan untuk mereka.
Kami akan adakan turnamen dalam dua acara,
yang mengarah ke pertarungan kejuaraan
yang akan hasilkan petarung nomor satu
di seluruh dunia.
Dan juga, kami menyesal telah mengecewakan penggemar
terakhir kali dengan pembatalan pertarungan utama
Enson Inoue melawan Mark Kerr.
Kami sudah dapatkan janji Mark
bahwa ini tak akan terjadi lagi.
Dan dia meminta sedikit waktu
untuk bicara pada penggemarnya di Jepang
terkait keikutsertaannya di turnamen khusus ini.
Halo.
Dan terima kasih kepada semua
karena mengizinkanku di sini hari ini.
Aku ingin minta maaf, pertama-tama,
kepada organisasi dan staf Pride.
Kalian sangat memahamiku
selama aku hadapi masalah pribadiku,
dan akhirnya kepada orang Jepang,
para penggemar Jepang.
Aku tahu kalian mempertanyakan
apa aku petarung yang kalian kira.
Dan salah satu penyesalan terbesarku
adalah jawaban atas pertanyaan itu.
Bukan.
Dan aku malu akan hal itu.
Tapi aku janji,
aku akan bekerja lebih keras lagi
untuk menebusnya pada kalian.
Terima kasih. Arigato.
Lihat siapa yang datang.
-Marquito! -Basito.
-Apa kabar, kawan? -Kawan.
-Bung, senang bertemu denganmu. -Mwah.
Ooh! Kurasa kita harus berlatih.
-Sedikit. -Bercanda, bung.
-Ya, lihat ini. -Apa itu?
-Peraturannya. -Uf!
Bung, mereka ambil semua senjatamu.
Ya. Ambil semuanya. Maksudku, Coleman berlatih
pukulan dan tendangannya.
Promotor bilang padanya mereka tak mau lihat
lagi kuncian dan gulat.
Ya, mereka mau lihat KO.
Mereka mau lihat orang KO.
Lihat bagaimana dia kalahkan Ricardo.
KO, 'kan? Maksudku...
Dan Enson tahun depan akan lakukan hal
-yang sama padamu. -Ya.
Dia akan mengejarmu, dan ingin buatmu KO.
Kau hanya perlu mundur,
tunggu saat yang tepat,
serang, banting dia,
lalu kau pukul saja wajahnya.
-Jadi, jangan adu pukul? -Jangan.
Yah, kau harus tahu adu pukul
agar dia lelah lalu kau banting.
Tapi, ayolah, bung,
kau tahu rencananya, 'kan?
Lima menang KO, lima menang kuncian.
Lalu, tahun lalu, di ulang tahunku,
siapa yang menangkan Abu Dhabi
Combat Club world championship?
Kau.
Dia tak akan membantingmu.
Dia lihat kau kalahkan empat pegulat hebat.
Tak ada yang bisa menguncimu.
Percayalah, orang ini tak akan
membantingmu.
-Terima kasih. -Kau siap?
-Kurasa ya. -Kurasa?
Ayo, Mark, jawab ya atau tidak.
"Kurasa."
Benar. Ayo. Kau siap?
-Ya. -Oh! Lihat.
Lihat pemandangan ini.
Marquito... telah kembali.
Uh, sebenarnya, kita harus tunggu sepuluh detik...
...sampai bel berbunyi.
Jadi, tarik napas dalam.
Oke, ayo. Dua.
Bagus. Lagi.
Empat.
Bagus. Uppercut lurus.
Bagus.
Bagus sekali.
Bagus. Sekarang ganti. Boom!
Nah. Kau lihat. Berhenti main-main.
Bagaimana rasanya?
Bagus. Harusnya begitu.
Oke. Oke. Mark, Mark, Mark, lihat.
Kau lihat ke mana kau akan memukul, 'kan?
Aku mau pukul kepalamu, kau akan menahannya.
Sekarang, yang kulakukan,
aku pukul badan dan aku pukul keras
karena dia harus menahannya.
Dia harus menghormatinya.
Boom ke badan, boom ke badan.
Moto sama. Boom ke kepala.
Tapi kau lihat, jangan lihat kepalanya.
Oke?
Jadi kau pukul sini, boom! Dan kau...
Bas?
Bas, kau tak apa?
-Dia serangan jantung. -Bukan, bukan, bukan.
Panggil 911 sekarang.
Bukan, bukan, bukan. Ini tendonku, bung.
-Apa robek? -Tendonku... Bukan!
Ini merusak karierku.
Kau tak apa?
Bukan, ini... Ini akan sakit
selama satu setengah jam. Aku tahu.
Aku sudah sering begini.
Sial!
Oke. Kita butuh sesuatu, kawan.
Kurasa... Ada yang datang.
Aku harus ke rumah sakit atau semacamnya.
Napas, napas. Napas, napas.
Oh, dan ini akan satu setengah jam.
Aku tahu ini akan satu setengah jam.
-Napas. -Whoa, whoa, whoa, whoa.
Ada apa dengan yang ini?
Oh, bung.
-Ow! -Oke. Oke. Yang mana?
Yang mana? Yang mana?
-Lengan ini. -Yang ini?
-Ya. -Oke.
Aku tidak pakai. Sumpah, aku bersih.
-Ini sudah lama. -Aku tak peduli.
Lakukan saja. Aku tak peduli.
Oke.
Lima detik, rasa sakitmu akan hilang.
Oh, oh, oh.
Oh, oh, oh. Oh, oh, oh.
Oh.
-Bernapas saja. -Ya, enak.
Oh, bung...
Oh, bung, aku merasa seperti tanaman.
Nah.
Bagaimana kau bisa bertarung pakai itu?
Kau terbiasa saja.
Wow.
Wow, bung, panas sekali.
Bernapas saja.
Sekarang aku tahu kenapa kau selalu berkeringat.
Kau selalu berkeringat.
-Ooh. Aneh sekali. -Bernapas saja. Bernapas.
Oh.
Oh, bung.
Dunia yang berbeda.
Ya!
Ya!
Oke. Berputar.
Ya!
Ya!
Ayo.
Silang ganda.
Bagus! Istirahat.
Hai, semua, dan selamat datang
di babak pembukaan Pride Grand Prix 2000.
Malam ini ada 16 petarung bersaing
di delapan pertarungan.
Satu pertarungan yang kunantikan
adalah pertarungan Mark Kerr
dan Enson Inoue.
Gulat lawan jiu-jitsu.
Itu akan seru, Bas.
Akan jadi pertarungan sangat seru
dan akan kuberitahu kenapa. Karena terakhir kali,
Mark Kerr tidak dalam kondisi terbaik.
Tapi kali ini, dia kembali padaku.
Dan kau tahu,
begitu kau kuasai keahlian bela diri campuran,
kurasa daya tahan
adalah aspek terpenting bela diri campuran.
Jadi dia bisa bertarung penuh.
Semoga saja.
Satu hal yang dibicarakan semua orang adalah
potensi pertemuan dua petarung Amerika
di turnamen ini.
Bas, apa kau bicara dengan Kerr atau Coleman
soal melawan teman baik
demi uang yang mengubah hidup?
Itu pertanyaan yang sangat berat,
Stephen, dan, tidak.
Tapi aku hanya bisa bayangkan mereka
saling memikirkan sekarang.
-Coleman, kau lihat ini? -Ya?
Halaman berapa?
Tujuh.
Kena saat kau sedang napas.
Ya, aku terlihat kelelahan.
Tapi kau terlihat bagus, bung.
Ya.
Oke, buka halaman lima.
Lihat itu.
Itu bagus sekali, saat menendang.
Coleman, mau bersenang-senang?
Maksudmu?
Ayo.
-Ya? -Ya.
Wow.
-Keren sekali, bung. -Oh, ya.
Banyak orang.
Mereka menyukaimu, bung.
Mereka bukan...
Ayo, sapa mereka.
Ayo, kawan, ayo.
Itu tadi Tomoyasu Hotei
dengan penampilan luar biasa
lagu kebangsaan Jepang
untuk menyambut kita semua di ronde pertama
turnamen Pride 2000 Grand Prix.
Ini ronde pertama dari Grand Prix dua ronde
untuk menobatkan petarung terhebat di dunia.
Aku harus bilang, senang sekali lihat Mark Kerr
kembali ke sana tersenyum di antara
kelompok petarung elit ini.
Silakan berdiri untuk The Star-Spangled Banner.
Mark Coleman!
Mark Coleman sangat senang
bisa kembali ke sini,
katanya dia berlatih sekeras mungkin
dengan harapan bisa lanjutkan perjalanannya
di puncak olahraga ini.
Jika dia menang,
dia akan amankan tempat di ronde final
Grand Prix ini,
dan jaga harapannya untuk hadiah utama $200.000.
Kau dapat! Kau dapat!
Itu dia! Itu dia!
Terus. Terus.
Itu kuncian leher.
Dan Satake menyerah.
Kemenangan besar untuk Mark Coleman
saat dia amankan tempat di final
Pride 2000 Grand Prix.
Lihat luapan emosi
saat dia memanjat tali.
Berikutnya adalah "Ice Cold" Igor Vovchanchyn,
saat dia bersiap maju ke final
Pride 2000 Grand Prix.
Itu dia,
kemenangan telak lagi dari Igor Vovchanchyn
saat dia maju ke ronde final.
Satu lagi
petarung Jepang menjanjikan berhasil
lewati ronde pertama turnamen ini
dan masuk final.
Enson Inoue!
Enson Inoue mengukir
di belakang kepalanya
karakter Jepang untuk "Kematian."
Sepertinya dia tak senang dengan Kerr
karena mundur dari pertarungan mereka di Pride 8
November tahun lalu.
Mark Kerr!
Aku harus katakan, melihat Mark kembali
setelah semua yang dia lalui
sungguh luar biasa,
dan kita harus puji dia atas perubahan itu.
Tapi ini ujian pertamanya
melawan petarung baru berbahaya,
Enson Inoue.
Dan aku bertanya-tanya,
apa Mark Kerr masih memilikinya?
Apa dia masih bisa bertarung setelah semua
yang dia lalui?
Kurasa kita akan temukan jawabannya
sebentar lagi.
Mark, aku akan bawa kau ke tengah ring
untuk instruksi akhir.
Itu dia. Kau siap? Mark, kau siap?
Ayo bertarung.
Oke, pelan-pelan. Waktu masih cukup.
Ya! Ya!
Oke, Mark, mulai tendang kakinya.
Ayo. Ayo. Ya! Bagus.
Perlambat. Santai.
Terus tendang kakinya.
Oh, nah! Ayo.
Ayo. Ayo. Tendang saja.
Bawah, bawah, bawah.
Berdiri. Kau keluar, kau keluar.
Bertarung!
Bagus!
Kerja bagus, kawan.
Ya, ayo.
Oke, habisi dia. Ya!
Yang terakhir. Lakukan! Ya, Mark!
Ya, Mark, terus!
-Ya! -Hei, bung, hentikan.
Kerr berhasil.
Dia kembali dari keterpurukan
untuk raih tempat di final Pride Grand Prix 2000.
Yeah!
Dia tak hanya menjaga peluangnya
untuk hadiah utama $200.000,
tapi dia juga buktikan dia masih memilikinya,
dan dia seseorang yang bisa
memenangkan turnamen ini.
Itu penampilan balas dendam
dari Kerr, dan dia dan Bas patut bangga
atas itu.
Itu dia, Mark Kerr.
Semua petarung di ring itu
akan masuk final tanggal 1 Mei 2000.
Pemenang turnamen akan bawa pulang
$200.000.
Uang yang mengubah hidup.
Itu bukan uang receh.
Kau tahu ini akan jadi kau dan aku, 'kan?
Akan terjadi, bung, aku dan kau.
Kita selalu bilang kita tak bisa menolaknya.
Demi 200 ribu dolar, akan kuhajar kau.
Aku tak mau menghajarmu.
Ayo. Aku siap.
-Ayo bersenang-senang. -Oke.
Aku sayang padamu.
Aku sayang padamu, bung.
Manfaatkan sebaik-baiknya, oke?
Memang begini sampai tidak lagi.
Ya.
-Gila, 'kan? -Gila.
-Bung. -Bagus.
Ayo.
Oke, aku mau bawakan sesuatu, oke.
-Apa itu? -Hadiah.
Buka, bodoh.
Kau ingat orang ini?
Jadi aku membaca tentang Jepang,
dan ada, um, teori Jepang,
namanya seperti kint... kintsugi...
-Ya, aku pernah dengar. -Kintsugi, atau...
Terserahlah. Katanya saat kau perbaiki sesuatu,
itu membuatnya lebih, um, indah dan lebih bermakna
karena sejarahnya dan...
Ini punya sejarah, jadi aku mau perbaiki.
Dan, entahlah, seperti kau harusnya
pakai emas untuk...
Tapi aku punya Lem Super jadi aku pakai itu saja.
-Kau pakai Lem Super? -Ya.
-Satu per satu. -Ya Tuhan!
Intinya 'kan memang harus terlihat
-agak jelek. -Tidak, tidak, tidak.
-Tidak jelek. -Agak jelek.
-Tidak jelek. -Mmm-hmm.
-Ini indah. -Ya?
Ini hal paling bermakna yang pernah dilakukan orang.
Aku cinta kamu.
Kau senang, sayang?
Kau berkeringat sekali. Ya Tuhan.
-Ayo, kawan. -Tidak, tidak, tidak.
Ayo. Ronde berikutnya.
-Cepat, cepat. Ding, ding, ding. -Ya.
-Ayo, Mark. -Ya.
Jadi besok, apa rencananya?
Besok kurasa aku akan latihan
sekitar satu jam di hotel,
lalu kita berangkat, kembali ke Phoenix.
Jadi, apa rencanamu minggu depan?
Dengan siapa? Siapa yang akan melakukannya?
Nanti kupikirkan.
Dengar, kau yakin ini ide bagus?
Ya, aku tahu apa yang kulakukan, oke?
Oke.
Siap, sayang?
-Ya. Waktunya pergi? -Ya.
Ya. Aku siapkan mobil, oke?
Oke.
Siap, sayang?
Aku siap, sayang.
-Hei, Dawn? -Ya.
Bagaimana menurutmu?
Ke mana sayangku pergi?
Dia di sini.
Kerja bagus, kawan. Kerja bagus.
Sayang, kenapa Coleman meneleponmu?
-Kau meneleponnya? -Mmm-mmm.
Dia mungkin hanya menelepon untuk memeriksaku.
Bas juga meneleponmu,
dan menurutku itu agak aneh.
Tidak aneh. Mereka temanku.
Hanya aneh saja mereka berdua meneleponmu.
Yah, tidak... Mereka temanku.
Wajar saja mereka meneleponku,
hanya untuk memeriksaku.
Mereka meneleponmu tiba-tiba?
Dawn, aku ada pertarungan besar beberapa minggu lagi.
Mereka mungkin menelepon untuk tahu perasaanku.
Masuk akal.
Jadi mereka menelepon bukan untuk pastikan kau tak goyah
dan membawaku ke Jepang denganmu?
Kau dengar mesin penjawabku?
Ya. Karena aku tak dengar
apa-apa darimu. Jadi, kau setuju dengan mereka?
Kau bicara apa, Dawn?
Katakan. Bahwa kau tak mau aku pergi denganmu ke Jepang.
-Aku tak akan bilang itu. -Kenapa? Katakan saja.
Aku hanya... perlu, seperti, beberapa hari. Itu saja.
Aku hanya perlu dua hari. Itu saja.
Hanya untuk fokus.
Kau bilang aku tak bisa bantu kau fokus?
Bukan, aku tak bilang begitu.
Aku hanya bilang, Dawn,
aku mau kau mengerti, ini penting bagiku.
Ini pertarungan terbesar.
Aku hanya perlu beberapa hari. Itu saja.
Hanya beberapa hari untuk fokus.
Bas bilang aku perlu itu
-tanpa gangguan apa pun. -Aku mengerti.
Tahu tidak? Aku tak mengerti.
-Apanya yang tak kau mengerti? -Aku tak mengerti
karena aku lakukan segalanya untukmu, oke?
Aku atur janjimu, aku masak untukmu,
aku cuci pakaian dalammu.
-Aku tahu. -Dan aku
-pengganggu terbesarmu? -Bukan, bukan.
Aku sudah berterima kasih,
dan aku hargai semua yang kau lakukan.
Ini turnamen gila.
Ini pertarungan terbesar hidupku.
Bilang saja kau tak mau aku pergi.
Aku tak akan bilang itu padamu. Itu memperkeruh situasi.
Ya, aku mau kau bilang padaku. Tak ada
-yang keruh. -Aku tak akan bilang itu.
Tatap mataku dan bilang kau benci aku,
-dan tak mau aku pergi. -Apa-apaan kau...
Aku tak akan bilang itu. Aku tak akan bilang itu.
Dan berapa kali aku harus jelaskan
-batasanku padamu? -Aku tak mau kau
-jelaskan... -Ini sangat
-melelahkan. Tolong, Dawn. -Maaf, aku hanya...
Mark, aku hanya mau kau biarkan aku masuk.
Aku merasa tersisih dari segalanya.
Aku ingin tahu soal pertarunganmu.
Dan aku ingin tahu soal latihanmu,
apa yang kau rasakan,
tapi kau tak mau bilang.
-Astaga! -Dawn, jangan begitu.
Jangan begitu. Jangan pura-pura tiba-tiba
kau peduli tubuhku dan latihanku,
padahal yang kau pedulikan hanya dirimu sendiri.
Sungguh?
Menyusup ke segalanya.
Ya, itu dia.
Selalu tentangmu. Hanya tentangmu.
Karena semuanya tentang...
-Kau! -Kau!
Dan yang kau berikan
hanyalah sisa-sisamu,
dan kau terus bilang ini waktunya makan malam.
Bagus. Kau baca itu di salah satu
buku sialanmu?
Persetan, brengsek.
Ya, benar, dan itu yang kurasakan.
Itu yang kau rasakan. Kau mau tahu yang kurasakan?
Kau tahu apa yang payah dan tak baik
adalah aku kerja keras
berusaha tetap sadar di sini.
Tentu, oke.
Ya, mungkin aku akan telepon sponsormu.
Jangan lakukan itu. Hentikan!
Jangan pakai programku seperti itu.
-Jangan pakai... -Jangan...
-...programku seperti itu. -...mendekat.
Kau mau memukulku?
Ayo. Ayo.
Ayo.
Tuan... Tuan Sok Terkendali.
Aku tak tahu harus apa.
Aku tak tahu harus apa. Aku kerja keras
untuk dapatkan uang yang mengubah hidup.
Dan apa yang kau lakukan? Aku baru keluar rehab
dan kau keluar sampai jam empat
pagi dengan temanmu.
Kau minum-minum. Kau makan Advil
jam 2:30 siang.
Kau pikir itu baik bagiku?
Kau pikir itu mendukung?
Tidak, itu tak sopan dan egois dan kacau,
dan itulah kenapa kau tak ikut ke Jepang.
Kutahu itu kau.
Kutahu itu idemu.
Kau tahu? Ya, tentu saja.
Tentu saja. Karena ini semua tentangmu.
-Semua tentangmu. -Tapi kau tak peduli padaku.
Kau tak peduli perasaanku.
Kau hanya peduli dirimu dan teman-temanmu
dan pertarungan bodohmu.
Pertarungan bodohku
yang bayar rumah ini.
Pertarungan bodohku yang bayar mobil.
Bayar pakaianmu.
Tapi itu maumu, Mark.
-Ya, dan omong-omong... -Kau hanya mau...
-...itu salahmu. -...mengendalikan segalanya.
Itu salahmu. Semua rasa tak aman ini, Dawn,
salahmu.
Jadi apa pun yang terjadi di kepala kacau
milikmu itu, itu urusanmu.
Kurasa kau tak tahu apa-apa tentangku.
Kau tak tahu apa-apa tentangku.
Kau tahu itu, Mark?
Kurasa lebih baik kau pergi.
Kita adakan pesta.
-Batalkan pestanya. -Tidak.
Karena semua orang akan datang
dan semua bersemangat.
Dan aku sangat bersemangat.
Kurasa kita bisa bicarakan ini besok.
Aku tak harus ikut ke Jepang atau apa pun.
Tak apa.
Dawn, masuk kamar, kemasi tasmu,
dan pergi.
Dawn.
Dawn. Dawn.
Dawn, tidak. Dawn, tidak! Tidak!
Lepaskan aku!
Dawn. Dawn, buka pintunya.
Sayang, kita bicarakan ini.
Aku mau kau tatap mataku
agar kau lihat yang kurasakan.
Dawn.
Hentikan! Lepaskan tanganmu dariku!
Lepaskan tanganmu dariku, Mark!
Aku tak akan lakukan apa-apa!
Aku hanya pura-pura, Mark, aku janji.
Kau menyakitiku, Mark, kumohon.
Tak akan kulepaskan.
Aku...
Aku benci kau!
Aku benci kau, Mark!
Kusia-siakan seluruh hidupku untukmu.
Lihat ulahmu padaku!
Mark...
Lepaskan tanganmu dariku, Mark!
Tak akan kulepas. Tak akan...
Tak akan kulepas.
Kami tak akan menahan,
tapi kami bawa Anda ke dokter.
Oke? Dokter akan memeriksanya di UGD.
Apa aku bisa menemuinya?
Anda bisa menemuinya,
tapi setelah dokter memeriksanya
lebih dulu.
Petarung mana yang Anda harap menang ronde berikutnya?
Fujita atau Mark Kerr?
Pertanyaan yang sangat sulit.
Kurasa aku tak bisa menjawabnya.
Aku mengerti.
Katakanlah Mark Kerr menang.
Apa akan sulit bagimu melawan
teman baikmu?
Ya, tentu. Tapi,
jika terjadi, terjadilah.
Aku akan berjuang. Dia juga sama.
Kita lihat saja nanti.
-Oke. -Oke.
Terima kasih banyak.
-Ya, Pak. Terima kasih. -Semoga berhasil.
Terima kasih.
Mark Coleman!
Mark Coleman masuk
ke final
setelah kemenangan telak atas Satake
di ronde pertama.
Mengingat kekalahannya sebelumnya,
ini bisa jadi kesempatan terakhir Coleman
di kejuaraan ini.
Dia dapat ronde berat...
Oke, Mark, Coleman akan bangun.
Ayo, lihat.
Petarung menjanjikan yang
ingin cari nama.
Kemenangan malam ini akan melawankannya
dengan pemenang Kerr lawan Fujita
malam ini.
Pelatih Coleman bilang dia melatih
pukulannya
dan kita harus, "Waspadai KO."
Ayo, Coleman. Angkat tangan.
Awas, awas. Ya.
Banting dia! Banting dia!
Kunci badannya. Kunci badannya, ya!
Ayo! Ayo!
Mark! Bukan, bukan, bukan!
Bangun! Bangun! Bangun!
Itu dia. Itu dia. Jab.
Ya!
Ya! Ya!
Mark, ayo.
Awas kakinya.
Banting dia. Hajar. Habisi dia.
Banting dia! Banting dia!
Ya! Ya!
Sial, pukulan Coleman keras.
Itu dia. Lagi! Lagi!
-Lagi! -Ya!
-Ya! Ya! -Ya!
-Kau dapat! -Ya!
Dia goyah.
Selesai!
Mark Coleman menghabisi Akira Shoji
dan juri pasti melihatnya.
Ya!
Itu dia, pemirsa.
Kemenangan mutlak
untuk Mark "The Hammer" Coleman.
Kemenangan sepihak yang dominan
yang membawanya selangkah lebih dekat
ke hadiah utama.
Coleman akan menunggu pemenang pertarungan
antara Kazuyuki Fujita
dan teman baiknya, Mark Kerr.
Oke. Ayo.
Kazuyuki Fujita adalah
tantangan berat untuk Kerr
karena dia salah satu kelas berat terbaik.
Kemenangan di sini akan mengukir sejarah Fujita.
Dari wajah dan sikapnya,
Fujita tampak serius,
dan sepertinya
akan sulit menghentikannya.
Kerr baru saja menang ajaib
atas Enson Inoue di ronde pertama,
dan dia ingin lanjutkan keberuntungannya
dengan menang lawan salah satu petarung terkuat
di divisi ini.
Apa Kerr akan bungkam pengkritik dengan kemenangan?
Atau harapannya akan hancur?
Jika Kerr masih seperti
yang kukenal,
dia akan ingin menangkan ini
melebihi apa pun.
Oke. Siap? Bertarung.
Tutup jarak. Bagus.
Jab bagus padanya.
Bagus! Kerja bagus!
Ya! Bagus!
Jangan berhenti. Terus maju.
Oh, sial!
Ya! Balas dia.
Ya! Kau membalasnya.
Ayo, ayo.
Itu ilegal.
Mark, keluar dari situasi ini.
Bangun saja.
Ya, pelan-pelan. Pelan-pelan.
Bergerak. Tarik napas.
Ayo, Mark.
Bagus.
Ya! Uh-oh.
Bagus!
Bagus! Oy!
Bagus, bagus. Pelan-pelan. Santai.
Tarik napas.
Banting dia.
Ayo, Mark.
Bangun.
Mark!
Perbaiki posisimu, Mark.
Ayo!
Merunduk agar kau bisa lihat dia.
Bangun, Mark. Awas lututnya.
Perbaiki posisimu. Perbaiki posisimu.
Ayo, Mark! Ayo.
Ya Tuhan! Kerr kalah.
Dia keluar dari turnamen.
Ini kejutan besar pertama malam ini.
Aku tak tahu apa yang terjadi pada Mark.
Dia tak bisa bergerak.
Ini mengejutkan.
Oke. Bangun, Mark.
Satu hal yang harus kusoroti
adalah hati Mark,
karena kita lihat banyak yang menyerah
di turnamen ini.
Tapi Mark bertarung
di depan ribuan penonton ini.
Demi mereka, dia lebih baik dikalahkan
daripada berhenti.
Kuberitahu dari pengalaman
-itu butuh juara sejati. -Jangan khawatir.
Aku tetap sayang padamu.
Fujita maju melawan Mark Coleman
untuk tempat di pertarungan final
selagi kita tunggu pemenang
pertarungan Vovchanchyn lawan Sakuraba
dan semakin dekat ke hadiah $200.000.
Bisa matikan lampunya, Bas?
Ya, biar kuurus.
Akan kuambilkan es juga. Oke?
Ya.
Hei, Mark.
Sini, jagoan.
Raja, di mana aku bisa cari es?
Di sana.
Apa kabar, Mark?
Oke, tetap tutup matamu
dan kompres dengan ini.
Coba santai, oke?
-Mark, kau dengar aku? -Ya.
Kau tahu apa yang terjadi padamu?
-Ya, aku kalah. -Ya, benar.
Kau tahu di mana kau sekarang?
-Jepang. -Bagus.
Aku perlu dijahit?
Ya, perlu beberapa jahitan.
-Apa parah? -Tidak, tak parah.
Aku akan ke sana siapkan semuanya.
Oke? Beberapa menit saja.
Kau tunggu di sini.
-Ya, oke. -Baik.
Aku tak bisa gerakkan tubuhku.
Rasanya aku... seperti mati.
Ya, aku pernah merasakannya.
Aku tak bisa bergerak.
Dengar, Mark, aku tak suka lakukan ini,
tapi aku harus kembali ke meja komentator, oke?
Aku harus kerja.
- Oke. - Baiklah, bung.
Bas, terima kasih. Terima kasih atas segalanya.
- Sama-sama, kawan. - Ya.
- Maafkan aku. - Tidak, tidak, tidak.
Jangan bilang begitu.
Jangan bilang begitu.
- Kau urus dia? - Ya.
Oke. Bagus.
Hei, Dok.
Dok, maaf.
- Hei, Mark. - Bagaimana Kerr?
Dia tak apa. Dia baik-baik saja.
Ada luka di sini. Harus kita jahit.
Bagaimana kepalanya?
- Mulai membaik. - Boleh aku masuk?
- Ya, ya, masuk saja. - Coleman.
Terima kasih. Ada apa, kawan?
Hei, bung.
- Bagaimana perasaanmu? - Begitulah.
Kau tak apa?
Ya, aku agak babak belur.
Tapi tak perlu dikhawatirkan.
Sudahlah. Lupakan saja. Itu biasa terjadi.
Hanya satu malam.
Kita semua pernah merasakannya.
Kau dengar soal Fujita, 'kan?
Dia keluar. Dia tak akan kembali.
Dia cedera.
Ya, aku tahu, aku tahu.
Sekarang giliranmu untuk menang, Cole.
- Sungguh? - Sungguh.
Ya, kawan, ini giliranmu. Menangkanlah.
Akan kumenangkan.
- Ini giliranmu. - Terima kasih.
- Aku sayang padamu, kawan. - Aku sayang padamu.
- Bawa pulang kemenangannya. - Akan kulakukan.
Jadi Mark Coleman datang
ke final ini terlihat sangat bugar
setelah teman baiknya, Mark Kerr,
tanpa sengaja membantunya
setelah Fujita mencederai lututnya di pertarungan mereka.
Pertanyaannya, apa Coleman bisa
membalaskan dendam Kerr pada musuh bebuyutannya,
Igor Vovchanchyn?
Atau Igor akan lanjutkan kekuasaannya
sebagai kelas berat teratas di divisi ini?
Oke, Mark, akan kuberitahu
apa yang akan kulakukan di setiap langkah.
Oke?
Beritahu saja jika ada yang mengganggumu.
Perlu kuingat juga
ini pertama kalinya acara Pride
disiarkan di Amerika Utara.
Dan kurasa mereka akan sangat terhibur.
Baiklah.
Kau akan merasa sedikit dicubit,
lalu sangat panas.
Cubit.
Sangat panas.
Pelan-pelan! Nah! Ya!
Ayo! Ayo! Kalahkan dia!
Ya, ya, ya! Putar dia! Putar!
Dua lagi.
Terus! Terus!
Ya! Ya!
Dia menyerah.
Wow! Igor menyerah.
Mark Coleman menangkan Pride 2000 Grand Prix.
Oh! Lihat kegembiraan pria itu.
Dia sangat gembira, dan berlari ke penggemar.
- Dia berlari ke penggemar. - Ya!
Dia baru menang $200.000.
Oke. Sudah selesai.
- Hai, apa kabar? - Hai.
- Apa kabar? - Baik.
- Terima kasih. - Bagus.
- Bagaimana harimu? - Sejauh ini baik.
- Kau? - Baik.
- Bagus. - Akan sangat sibuk.
Ya.
MARK dan DAWN bersatu kembali setelah kekalahannya dan menikah di Las Vegas sepuluh hari kemudian.
Mereka menikah selama enam tahun, dan memiliki seorang putra.
Uh...
Luar biasa.
MARK pensiun dari pertarungan pada tahun 2009
Uh... Astaga.
KERR dan COLEMAN adalah beberapa pelopor awal olahraga tersebut.
Petarung bintang masa kini bisa raih jutaan dan semua orang tahu nama mereka.
Namanya MARK KERR.
Menakjubkan.
Sampai jumpa.
Diterjemahkan Oleh: Zain Jakarta, 05 November 2025 Support di : https://trakteer.id/ZainSubs
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.