Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
BIE PANGGILAN MASUK
Duluan, ya.
Hai, Bie. Kamu sudah di bawah?
Maaf, Hon.
Pak Anton minta aku selesaikan proyeknya malam ini juga.
Itu harusnya besok.
Kamu sudah siap, ya?
Kamu enggak ngabarin dari tadi?
Aku sudah siap mau turun ke bawah.
Aku tahu. Maaf.
- Selamat sore, Mbak Niken. - Aku enggak sempat ngabarin.
- Dari tadi meeting maraton. - Mas.
- Tumbler jangan lupa dicuci. - Hon? Halo?
Oke.
- Hon? - Kenapa, Bie?
Tadi aku bilang enggak sempat kabarin kamu.
Dari tadi meeting maraton soalnya.
Terus, aku sudah minta Anggi menjemput kamu.
Dia tadi meeting di kantorku.
Kamu enggak marah, kan?
Enggak, enggak apa-apa. Kamu lanjutin saja kerjanya.
Hon, ini barusan Anggi bilang sudah mau sampai.
Nanti malam kutelepon lagi, ya? Kamu hati-hati.
- Sayang kamu. Dah. - Sayang kamu. Dah.
Duileh, yang mau dinner. Buru-buru banget, Cantik.
Enggak jadi. Batal.
Kok?
Dia sibuk banget. Gue enggak ada waktu buat ketemu dia.
Lo mau tahu enggak gimana caranya laki lo pengen ketemu lo setiap hari?
- Gimana? - Nikah, married, kimpoy. Sudah pernah?
Terus lo pulang naik apa, Nik?
Bukannya lo enggak bawa mobil antik lo?
Kualat lo ngatain mobil bokap gue mulu.
Tuh, sama Anggi. Sudah datang.
Gi!
Makin cantik!
Ya ampun! Beda banget sama Niken!
Apa ini?
Supervisor?
Karier lo makin meroket, ya. Enggak kayak dia.
- Mau tukar ID dulu, ya. Mau ke toilet. - Oke.
Teman macam apa, ya, Bu Prita?
Teman yang senantiasa memotivasi Anda!
Mima!
Anak Mima!
- Capek ya seharian sama Papa. - Hai, Biru.
- Salam sama Tante Niken. - Tos saja.
Tos. Sekali lagi. Dua-duanya.
Aduh, pintar.
- Hai, Mas. - Hai, Niken.
- Cabut, ya. Buru-buru. - Ya.
- Dah! - Dah!
- Ayo! - Dah!
Kak. Nikah kayaknya enak, ya?
Enakan pipis.
- Sudahlah. - Ikut.
Nanti setirin. Aku capek.
Gi, lo mau disuruh Arya jemput gue
pasti karena malas menyetir, macet.
Enggak, kan searah.
Kalau besok gue enggak bisa, soalnya mau antar Danny ke bandara.
- Ke bandara? - Ya.
Besok dia ke London, mau lanjut S2.
Halo?
Ya, Ay?
Sekarang?
Di mana?
Tapi, Ay, aku…
- Malah dimatiin. - Kenapa, Gi?
Danny tiba-tiba ngajak dinner.
- Terus? - Ya sudah, ikut saja.
Enggak apa-apa?
♪ Dapatkah kau baca? Mataku bicara ♪
♪ Semua yang kau punya, benar istimewa ♪
♪ Sayangnya semesta ♪
♪ Tak restukan kisah kita ♪
♪ Meskipun kau yang kusuka ♪
♪ Apa daya, ku tak bisa Ku ada yang punya ♪
♪ Celakanya diriku tak pandai Sembunyikan rasa ♪
♪ Meski berlagak tak mau, kau tahu ♪
♪ Kumerasakan yang sama ♪
♪ Caramu tersenyum, tertawa Merangkai canda ♪
♪ Buatku terpesona ♪
♪ Dapatkah kau baca? Mataku bicara ♪
♪ Semua yang kau punya, benar istimewa ♪
♪ Sayangnya semesta ♪
♪ Tak restukan kisah kita ♪
- Hai. - Hei.
Sayang.
Hai, Dan.
Loh? Kak Niken?
Aku lagi bareng sama Anggi. Enggak apa-apa, kan?
Ya, enggak apa-apa.
Yuk, ke atas.
Kamu duduk di sini, ya.
Ya. Kak Niken di sini.
Ay.
Aku besok berangkat ke London.
Ya?
Dan, kita pacaran sudah lama.
Kamu tahu aku sayang banget sama kamu?
Aku tahu, Ay.
Aku rasa ini momen yang pas.
Sebelum aku berangkat ke London, aku mau melamarmu, Gi.
Aku mau setelah aku lulus tahun depan, kita menikah.
Jadi?
Maukah kamu menikah denganku?
Ya.
Kak?
Ada yang buat lo, nih.
Mana?
Ini. Buat lo.
Nak Niken!
Bude.
Ini, titip bawa ke dalam.
Biasa. Bude memasak lebih.
Kok enggak masuk saja?
Enggak, ini mesti kasih ke yang lain.
Itu Anggi mobilnya baru lagi?
Terus kamu kapan?
Ayolah. Masa kalah sama adik sendiri?
- Doain saja, Bude. - Ya. Doain terus.
- Terima kasih, Bude. - Ya.
Gi, Bude duluan, ya!
Ya, Bude. Terima kasih!
- Keseret loh ini. - Ya, Bude.
- Yuk. - Hati-hati, Bude.
- Begitu? - Ya, begitu.
- Ibu delay. - Ibu, Ayah.
Ini makanan dari Bude Tia.
Loh, Adek mana, Kak?
Ada. Takut banget anak kesayangannya hilang.
Kak, masa Ibu bikin ginian saja dari tadi kaku benar.
- Lihat, tuh. - Repot, Kak.
- Dek! - Gerakannya delay.
Ibu sudah tamatin drakor yang kamu bilang.
Tapi, Ibu sebal. Kenapa Dal-mi jadinya sama Nam Do-san?
Ibu lebih suka Han Ji-pyeong.
Soalnya Han Ji-pyeong nikahnya sama aku.
- Aku dilamar Danny. - Hah?
Serius?
Yang benar?
Wah!
Tahun depan, kalau Danny lulus kuliah S2,
mau langsung nikah sama aku.
Kakak…
Kak, kamu tahu, kan?
- Kamu ingat Bude Ratih, kan? - Bu.
Kakak istirahat dulu ya, Ibu, Ayah.
Ini tradisi, Yah.
Nanti kalau Kakak dilangkahi, terus kena sial, gimana?
Ya, tapi ngomong sama Kakak harus pelan-pelan, Bu.
JEPANG
Hai.
Masih ngelamunin Jepang?
Sana berangkat.
Anggi
dilamar sama pacarnya tadi malam.
Bohong!
Gue tuh kadang suka males dibanding-banding sama Anggi.
Tapi faktanya, gue memang selalu kalah darinya.
Bahkan sekarang, mau menikah saja, gue dilangkahi sama Anggi.
Tapi lo sebenarnya kenapa enggak pengen nikah?
Apa karena lo pernah gagal, terus trauma?
Lo sudah tiga tahun jalan sama Arya.
Sudah cukup waktu kenalannya.
Memangnya lo enggak pernah membahas rencana nikah?
Ya, lo kan tahu. Arya sibuk banget.
Kayaknya dia lebih bernafsu melihat PowerPoint daripada lihat gue.
Gila!
Lagian, gue masih dalam proses menilai
apakah Arya mirip bokap gue.
Karena, gue mau kalau gue punya suami,
itu kayak bokap gue.
Tua, maksud Anda?
Bokap gue itu family man banget.
Dia ada wibawanya,
tapi dia enggak kaku.
Jadi menurut gue, bokap gue itu sempurna.
Enak juga punya suami kayak bokap lo.
Gila lo, sudah kawin.
Ayah sekarang paham kenapa aku khawatir?
Lihat sendiri, kan, gimana tadi Mbak Ratih ke aku?
Sampai sekarang, aku masih dijutekin.
Gara-gara dulu, dia disuruh mengalah sama Mami Papi.
Dipaksa mau dilangkahi.
Terus kalau sampai sekarang dia enggak nikah, dianggapnya aku bawa sial.
Aku dijudesin, dimarahim, disalah-salahin.
Ayah, sini. Aku lagi ngomong!
Aduh…
Aku benaran, deh.
Aku sampai sekarang menyesal ngelangkahi Mbak Ratih.
Tapi itu bukan salah kamu, Bu.
Tapi aku takut ini berulang.
Nanti kalau Niken sama Anggi jadi renggang, gimana?
Enggak mungkin.
Niken anak baik. Dia pasti senang kalau melihat adiknya senang. Ya?
Percaya sama aku.
Dek?
Setelah Ibu pikir, kayaknya kamu harus menunda pernikahanmu.
Tunggu Kakak dulu.
Ibu tahu kamu sudah siap.
Tapi ini tradisi, Dek.
Pamali.
Ibu enggak mau kakakmu jadi kayak Bude Ratih.
Aku enggak enak sama Danny.
Dia pasti sudah ngomong ke Papa Mama-nya.
Kak?
Kamu enggak kepikiran menikah sama Arya?
Tuh, kan, Bu?
Kakak kayak gitu. Cuek.
Siapa yang cuek?
Lagian, diam saja.
Kakak lagi nuang air.
Sudah, dong. Masa di meja makan berantem?
Tapi benar, kan?
Ya, sudah. Kakak mau pengumuman.
Anggi enggak usah menunda pernikahannya sama Danny.
Karena Kakak dan Arya juga ada rencana buat menikah
akhir tahun ini.
Kan? Serius, Kak?
Kok enggak bilang sama Ibu?
Ya, Bu. Soalnya
Kakak sama Arya belum ketemu lagi buat bahas ini secara matang.
Jadi, baru bisa cerita sekarang.
Bukannya rencana lo akhir tahun itu pergi ke Jepang sama Kak Arya?
Ya, jadi.
Tapi nanti abis nikah, jadinya buat honey moon.
Gimana?
- Senang? - Senang, dong.
Kok masih kayak ngegas?
Abis aneh. Kok enggak pernah cerita?
Sudahlah. Jangan pada tubir.
Apa, Yah, "tubir"?
Ribut, Bu.
Dibalik-balik, ya?
Tumben kamu ngajak aku olahraga.
Mumpung kamu bisa.
Kenapa? Kerjaan, ya?
Ini Amel.
Kamu ingat Amel?
- Teman SMA-ku. - Ya.
Lihat. Dia sudah dilamar sama pacarnya.
Lucu, ya? Kalau berjodoh, mukanya makin lama makin mirip.
Mereka sudah lama berpacaran. Wajarlah mereka mirip.
Lima atau enam tahun lagi, kita mirip juga.
Bie, lihat itu.
Lucu banget. Kakaknya ngajak main adiknya.
Pasti orang tuanya senang punya anak lucu-lucu banget.
Ya, enggak tahu juga.
Kamu lihat, deh. Mereka malah main hape.
Anaknya saja enggak diperhatiin.
Soal senang atau enggak, itu tergantung orangnya.
Honey?
Kok lari duluan?
Aku mau lari sepuluh putaran
biar kalau pakai wedding dress, badanku bagus.
Honey?
Di situ ada soto mi Bogor yang enak. Baru mau ajak.
Turut berduka cita, ya, Pak.
Ken, gue ke depan.
Gue ikut.
Niken enggak berubah, ya.
Ger, sudah lama enggak ketemu sama lo.
Ke mana saja lo?
Kenapa, Nik?
Gue pesan taksi online, tapi belum dapat juga.
Oh. Memang mau ke mana? Mau pulang?
Mau ke kantor.
Terima kasih, Pak.
- Kayaknya lagi jam macet. - Loh?
Niken? Gerry?
Dit? Baru sampai?
- Aku turut berduka, ya. - Terima kasih.
Omong-omong, kalian berdua sudah menikah?
Enggak. Kita berdua belum menikah.
Oh? Gue kelamaan di Medan, jadi, enggak up to date.
Tapi gue doain kalian cepat menikah, ya.
Gawe di mana, Niken?
Kerja di menara BCL.
Itu di sebelah kantor Gerry, kan? Sweet banget kalian berdua.
Sampai-sampai, kantor saja bersebelahan kayak gitu.
Gue masuk, ya.
Aku juga mau ke kantor.
Bareng saja, yuk?
Enggak usah, nanti ngerepotin.
Enggak ngerepotin. Ayo, nanti telat.
Terima kasih, ya.
Kapan-kapan, jalan yuk, Nik.
Oke.
Aku belum jawab.
"Aku" atau "gue"?
Hayo. Ngapain lo, Beb?
Terus lo ngapain minta izin buat datang siang?
Ini outfit apa maksudnya?
Tumben hitam-hitam. Kayak pengen melayat.
Kan emang gue habis melayat.
Prit.
Gerry.
- Gerry meninggal? - Sut.
Sembarangan. Bukan.
Tadi gue ketemu sama Gerry.
Terus dia ngajak gue jalan.
Gerry? Ngajak lo jalan?
Pokoknya, lo sudah punya pacar, Niken.
Ya, tahu. Gue cuma cerita.
Ya, tapi habis itu stalking dan habis itu baper.
Gue enggak stalking.
Percaya banget gue. Tapi boleh itu…
Facebook-nya ditutup dulu.
Pantasan ini kantor internetnya lemot.
Ternyata keberatan rindu.
Aduh.
Padahal aku sudah sengaja enggak bawa mobil Ayah
karena tahu kamu bakal antar.
Aku tahu, Hon.
Sori, ya.
Tapi besok kita jadi nonton, kan?
Astaga. Iya.
Aku lupa ngabarin kamu, ya?
Aku ada meeting back-to-back. Aku minta maaf.
Terus aku harus pergi sama tim ke Semarang sampai hari Minggu.
Jadi, hari Minggu ke nontonnya?
Minggu depan kali, ya.
Sori, ya. Aku lagi padat banget kerjaannya.
Ya sudah, kamu kabari aja kalau free.
Sayang, terima kasih kamu sudah mengerti aku.
Aku mencintaimu.
Sehat-sehat, ya, Fik.
Ya, Bu.
- Salam buat Nenek. - Ya, nanti kukasih tahu.
Permisi, Mbak Niken.
- Siapa, Bu? - Taufik, cucunya Nek Asih.
- Ayah habis kasih giveaway. - Serius?
Serius.
Si Taufik tiap bulan Ayah suruh ke sini. Ayah kasih sembako sama THR.
Kok enggak pernah bilang? Kan bisa kutambahkan.
Kalau Ayah bilang-bilang, nanti dibilang ria.
Enggaklah…
- Ria siapa? - Ria Jenaka.
- Ibu mau masuk. - Mau menonton drakor.
Kenapa?
Mau cerita, ya?
Ayo.
Tadi Kakak ketemu sama Gerry.
Bukankah kalian sudah lost contact?
Kakak ketemu dia pas melayat Bu Ana.
Terus kantor kita searah.
Jadi, Kakak diantar ke kantor sama dia.
Arya kamu kasih tahu?
Kakak harus kasih tahu?
Wajar enggak sih, Yah?
Kalau aku bete sama Arya karena dia sibuk banget bekerja?
Ya, wajar, sih.
Tapi kamu harus tahu
Arya sibuk buat siapa?
Buat kamu, bukan?
Dulu, waktu Ayah rajin banget bekerja,
itu buat siapa?
Buat Ibu dan anak-anak Ayah.
- Kak? - Kenapa, Gi?
Gue ada referensi gedung buat wedding.
- Kirim ke gue, ya. - Oke.
GERRY PANGGILAN MASUK
Balas bisa kali?
Ya, Ger. Sori belum sempat balas.
Besok, ya?
Apa? Aku enggak dengar suara kamu.
Sori, belum sempat balas tadi.
Besok gue ke kantor.
Hari Sabtu? Kerja?
Ya. Ada meeting pagi.
Oh.
Ya, sudah, kalau gitu, makan siang aku ke foodcourt kamu.
Bosan.
Kalau mau yang lebih jauh, bisa. Berarti besok aku jemput, ya.
Dah.
Mau ke mana kita?
Ada, deh. Ayo, masuk.
- Mas Gerry. - Pak Toyo.
- Pak. - Saya suka sama mobil Mas Gerry.
Antik.
Mas Gerry pasti orangnya setia.
Waduh.
Saya memang suka yang antik-antik.
Bisa saja Mas Gerry.
- Jalan, Pak. - Mari. Hati-hati.
- Ya. - Mari, Pak.
Saya nasi goreng spesial, minumnya es teh manis.
Kalau Mbak mau pesan apa?
- Nasi… - Nasi goreng seafood,
enggak usah pakai cumi, ekstra acar, minumnya mineral water enggak dingin.
Oh…
Eh. Maaf. Ini pesanannya atas nama siapa?
- Cinta. - Oh…
Eh. Maaf. Ya sudah, pesanannya saya siapin dulu.
Terima kasih, Mas.
Enggak kalah sama nasi goreng Mang Edi?
Enak.
Nik…
Aku mau minta maaf sama kamu.
Soal kita yang dulu.
Ya, sudah.
Sudah lama juga, kan?
Dua minggu
sebelum kita…
Iamaran…
Ibu dan bapakku…
Berantem hebat.
Bapak kelewat batas
sampai akhirnya aku harus bawa Ibu ke rumah sakit.
Dan detik itu juga
Ibu meminta cerai sama bapak.
Pada saat itu, aku bingung, Nik.
Aku malu sama kamu.
Sama keluarga kamu.
Makanya aku mutusin buat kabur…
Nanjak.
Dulu, kalau kamu ada masalah,
kamu selalu kabur ke gunung.
Aku enggak apa-apa. Aku mengerti.
Kali ini beda, Nik.
Aku takut kalau selama ini
aku sama kayak Bapak.
Aku takut kalau aku bahaya buat kamu.
Makanya kuputusin untuk…
Berpisah sama kamu.
Kamu mutusin aku gitu saja setelah enam tahun.
Aku cari kamu waktu itu.
Tapi kamu enggak ada.
Karena memang situasinya sulit, Nik.
Ibuku hancur.
Dan dia butuh sosok aku ada di sampingnya.
Jadi, aku minta maaf sama kamu
atas semua yang sudah kulakukan ke kamu.
Mungkin jalannya memang harus kayak gini, Ger.
Terima kasih, Nik.
Aku lega.
Seenggaknya kamu sudah tahu.
Numpang pacaran di dalam, ya.
Ini, buat ngopi.
- Terima kasih, Mas. - Ya.
Aku terakhir ke sini pas lulus.
- Masuk. Kita makan di kantin. - Memang ada yang buka?
Kemarin aku WhatsApp Mang Edi buat masakin ini buat kita.
Oh, gitu.
Nasi goreng spesial.
- Ngerepotin, ya? - Enggak.
Tapi enggak apa-apa, soalnya aku kangen sama nasi goreng Mang Edi.
Mamang juga kangen sama angkatan Eneng.
Kangen diutangin sama Gerry?
Tahu sendiri anak ini.
Makannya hari Senin, bayarnya Selasa.
Selasa bulan depan!
Ada yang belum lunas?
Alhamdulillah, sejahtera dia sekarang.
Kemarin juga, setiap Lebaran, ngasih Mamang THR.
Tapi, Mamang mau pergi dulu, belanja.
Kalian kalau mau pulang, pulang saja, tinggalin saja piringnya di sini. Ya?
- Ayo, Ger. Ya. - Terima kasih.
Sejak kapan sering ke sini
sama ngasih Mang Edi THR?
Sudah lama. Dari awal aku dapat kerja.
Kok dulu enggak pernah cerita?
Ngapain? Nanti jatuhnya ria.
Nik.
Lanjutin rencana nikah kita, yuk.
Loh? Bie?
Kamu sudah selesai bekerja?
Kok di sini?
Kejutan.
Hei. Kita makan, yuk.
Anggap saja kita ganti rencana nonton kemarin.
Sori.
Ayo.
Kamu tumben banget ngajak dinner di tempat kayak ini.
Sekali-kali enggak apa-apa.
Lagian, di sini makanannya enak.
Hon…
Hon…
Kita nikah, yuk.
Waktu kita olahraga kemarin, kamu kasih kode soal pernikahan.
Tapi aku enggak peka.
Waktu aku ke Semarang, bosku bilang itu adalah kode.
Dia kasih tahu supaya aku lebih peka lagi.
Aku sudah pikirin semuanya.
Jadi, gimana?
Bie?
Aku enggak menjawab sekarang, enggak apa-apa?
Aku mikir dulu.
Maaf, tapi…
Aku mencintaimu.
Aku juga mencintaimu.
Kenapa, Kak?
Cerita, dong.
Ayah tahu saja.
Ayah tahu muka anak-anak Ayah.
Anaknya lagi senang, lagi marah…
Iagi kesal.
- Apalagi kalau mau minta duit. - Wah…
- Sate ayam! - Temani Ayah makan sate.
Ayo.
Berarti ada dua cowok yang ngajak kamu menikah?
Terus Arya gimana?
Katanya mau nikah sama dia.
Belakangan ini, Kakak jadi ragu sama Arya.
Dia enggak bisa ngasih waktunya buat Kakak.
Kakak takut kalau Kakak nikah sama dia,
Kakak enggak bisa sabar mengalah terus.
Nikah bukan perkara mengalah…
Tapi gimana kita mencari jalan tengah.
Kalau bisa, menikah itu cuma sekali.
Makanya memilihnya harus benar-benar.
Kakak juga maunya kayak gitu.
Cari yang terbaik, yang sempurna.
Kayaknya enggak ada yang sempurna.
Ada.
Ayah.
Itu di mata kamu.
Yah?
- Ya? - Remot TV di mana?
Ada di situ pasti. Di selipan sofa coba lihat.
Enggak ada.
- Di bawah bantal. - Ayah suka lupa, menaruh sembarangan.
Ketemu.
Menurut Ibu, pasti Ayah banyak kurangnya.
Begitu juga sebaliknya.
Kamu lihat deh, Kak,
setumpuk sate bakar ini.
Berapa yang matang sempurna?
Yang kurang matang?
Yang gosong? Yang terkena arang?
Tapi apakah sate yang kurang matang sempurna,
yang gosong,
yang terkena arang, ini bakal dibuang?
Enggak, kan?
Pasangan itu kayak memakan seporsi sate.
Enggak ada yang sempurna.
Asal kamu yakin
kalau sate ini enak.
"Guys, ini sate enak banget!
"Guys, mau meninggal!"
Tapi walaupun ada kurangnya,
kamu harus yakin bahwa pilihan kamu itu
yang akan membuat kamu bahagia.
Mau Arya, mau Gerry,
cuma kamu yang tahu.
Lo pakai susuk apa?
Diajak menikah dua cowok sekaligus?
Enak banget hidup Anda.
Enak dari mana?
Yang ada gue malah makin pusing sekarang.
Prit…
Lo pernah ngerasa menyesal menikah?
Sedih pasti ada, Beb.
Tapi di gue banyakan bahagianya.
Apalagi kalau di kantor ruwet banget
terus gue pulang, ngelihat mukanya Biru. Lucu banget itu anak.
Terus gue lihat mukanya Rama.
Kayak, ya sudah plong hidupnya.
Terus, lo mau pilih siapa akhirnya?
Enggak tahu.
Kayaknya gue butuh lebih lama ngabisin waktu sama mereka,
jadi gue bisa yakin.
Kalau enggak yakin-yakin?
Gue suruh suit saja.
Ini perempuan ingin main gundu, ya?
Ini yang bikin enggak bisa lupa sama kamu.
Kamu asyik diajak jalan ke mana saja.
Diajak nongkrong, makan di tempat mahal, di tempat murah,
kamu enggak ribet.
Memang biasanya yang didekati ngajaknya ke mana?
Aku enggak pernah dekati cewek lain selain kamu.
Kamu enggak pernah ke rumah lagi?
Aku pengen ke rumah sebenarnya,
cuma belum diajak lagi sama adiknya.
Dia sibuk.
Iya, Arya.
Kalau liburan bukannya bawa pacar, malah bawa kerjaan.
Enggak apa-apa. Biar cepat jadi bos.
- Ya? - Amin.
- Om Arya jadi bos. Ayo makan. - Ayo. Ambil piringnya.
Ika ingat sama Tante Niken?
Ingat, dong, Tante.
Dulu Ika mau digendong sama Tante.
Coba, masih mau digendong sama aku?
Masih mau. Pintar, Sayang.
Biasanya dia kalau baru kenal sama orang, dia nangis, loh.
- Oh, iya? - Kamu suka dia, Riska?
- Suka, dong. - Ya.
Enggak cuma Riska yang suka.
Arya juga.
Mama juga suka.
Papa juga, kan?
Kenapa?
Bingung. Arya atau Gerry.
Sekarang dua-duanya jadi baik sama Kakak.
Bantuin dong, Yah.
Ayah sudah bilang.
Kamu saja.
Ini buat masa depan kamu.
Tapi Ibu juga selalu bilang,
nikah itu bukan cuma soal dua orang,
tapi ada dua keluarga yang jadi satu.
Ya.
Terus kamu maunya gimana?
Menurut aku
pendapat Ayah sama Ibu juga penting.
Ayah, ini panci favorit Ayah patah.
Besok kita beli, ya.
Bu.
Kakak mau ngomong.
Gerry?
Gerry yang itu?
Ya, namanya juga…
Niken lagi mencoba untuk mendapatkan yang terbaik.
Tapi Gerry sudah bikin malu.
Seenaknya saja waktu itu main menghilang, batalin lamaran.
Ternyata Gerry punya alasan.
Kalau Kakak ada di posisinya, mungkin akan melakukan hal yang sama.
Gerry sudah meminta maaf ke Kakak.
Ya sudah, terserah kamu, deh.
Yang penting, jangan sampai masalahmu mengganggu rencana nikahnya Anggi.
Ya?
Tapi akhir tahun tetap jadi, kan?
Ya, sudah. Ibu bisa apa?
Ini bagus.
Mana?
Oh, iya.
Lihat yang lain dulu.
Ini disiapkan.
Mita? Novi?
Ya ampun!
- Kamu ngapain di sini? - Lagi cari panci.
- Sama siapa? - Sebentar. Arya, sini.
Kenalin, ini teman Tante.
- Ini Tante Novi. - Halo.
Arya.
- Ini Tante Mita. - Halo.
- Aduh. Maaf. - Ya, enggak apa-apa.
- Tenang. - Maaf banget.
- Ya ampun. - Ada.
Arya, ya…
- Terima kasih, Arya. - Ya, sama-sama.
- Sudah lama kita enggak lari bareng. - Ya, benar.
- Terakhir di GBK. Waktu dikejar anjing. - Iya lagi.
Aduh!
Kenapa, Om?
Kram.
- Aduh. Ya. - Kita duduk dulu.
- Pelan. Kalau sakit, bilang. - Ya.
Aduh.
Kayaknya karena faktor U, Om.
Terima kasih.
Halo.
Tante.
Mau ke toilet.
- Sebentar, ya. - Oke.
Om aku juga punya kaus kayak ini.
- Ya? - Namanya Ponco Rahardjo. Kenal?
Ponco yang di dompetnya suka pakai rantai?
Ya, betul.
- Itu teman Om kuliah. - Oh, begitu.
- Salamin, ya. - Ya.
Ger?
Bagus.
- Lanjut? - Ayo.
Aduh!
Kenapa, Om?
- Kram. - Kram?
Oke. Ayo, Om. Ikut.
Mas, minta tolong, Mas!
Kalau Ibu, lebih ke Arya.
Dia baik, ramah.
Sama Arya, masa depan kamu lebih terjamin.
Kalau Ayah, tim Gerry.
Dia lebih bisa memperlakukan orang.
Itu yang Ayah rasa.
Kakak jadi makin bingung kalau kayak gini.
Kalau pilihan Ibu sama Ayah beda, terus Kakak pilih siapa?
Tugas kita cuma membantu.
Keputusan tetap di tangan kamu.
- Ibu? - Ya, Dek?
- Bantuin pilihin, dong. - Apa ini?
- Baju? - Ya. Bagus yang mana?
- Ini. - Bagus.
Gi, persiapan lo sudah sampai mana?
Ini? Baru lihat-lihat saja.
Gaun, katering, fotografer.
Oh, masalah gedung, lo harus buru-buru.
Soalnya tahun ini lagi banyak event.
Jadi, kalau weekend suka full.
Ah, kalau weekend penuh, gimana kalau kawinannya di hari Senin?
Jadi, sebelum kawinan, kita upacara dulu.
Kurang, ya?
Coba lihat, Bu.
Ini. Bagus, Kak.
Dicuekin lagi.
Gerry, cutting-an trailer kemarin sudah lo isi soundtrack?
Aduh. Lupa. Sori, Bu.
Soundtrack ada di Hin-Hin.
Lupa minta ke Riris.
Adanya guide OS dari Joko, Bu.
Sudah cek drive?
Kata Hin-Hin sudah dimasukin.
Hah? Masa, Bu?
Riris enggak ngabarin.
Biar saya cek dulu.
Terserah, pokoknya Senin besok sudah lo kirim ke Mas Sulung.
Siap, Bu.
Bu, ini posternya yang sudah jadi.
Itu!
Sebentar.
Kalau ngomongin berantem,
Lo tau enggak, Ken? Dulu kalau lo berantem sama Gerry,
Gerry galaunya mentok banget.
Kayak nangis,
terus dia suka ke aula atas, terus ngomong sama dirinya sendiri,
"Enggak apa-apa enggak naik gunung, yang penting berasanya nanjak."
Lo fitnah!
Enggak apa-apa. Ngaku saja, Ger.
Enggak masalah. Di sini aman.
Atau dia ke Mang Edi, makan nasi goreng,
curhat sambil nangis.
Terus…
Kok jadi gue melulu?
Makan deh lo semua. Cepu.
Ya. Betul.
Si klien itu minta sekalian di sini.
- Oke? - Ya.
Pasti klien akan lebih apresiasi kalau misalnya nanti terlihat lebih bagus.
Kalau lo bisa…
- Mel. Ndut. - Ril.
Sibuk banget.
Enggak. Aku enggak sibuk.
Enggak, ini…
Aku lagi sibuk banget soalnya
aku lupa
Ayah sama Ibu anniversary dua hari lagi, terus aku belum beli kado.
Oh, begitu.
Ya sudah, kamu mau cari kado di mana? Nanti aku temani.
Gampang.
Kak, lo sudah membeli kado buat Ayah sama Ibu?
Belum.
Terus, kita ada acara, enggak?
Oke. Kalau begitu, besok gue arrange, kita makan di mal.
Oke.
MEMANGGIL…
Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan.
Untuk meninggalkan pesan suara…
BIE PANGGILAN MASUK
- Halo? - Hon?
Kok kamu enggak kasih tahu Ayah dan Ibu lagi anniversary?
Sori banget. Kukira kamu lagi sibuk.
Aku takut ganggu.
Aku sudah enggak sibuk.
Acaranya apa?
Anggi ngajak makan
di restoran di mal.
Kamu mau ikut?
Besok kutelepon, ya.
Sudah, sana tidur.
- Selamat malam. - Selamat malam.
Halo? Ya, kenapa, Bie?
Kamu sudah jalan?
Ini sedang siap-siap. Kamu jadi ikut?
Pas banget.
Kamu, Ayah, Ibu dan Anggi ke Oase ya.
Aku sudah booking tempat di sana.
Serius?
Ya sudah, aku bilang ke Anggi, ya.
Kamu pakai baju yang kemarin kubeliin, ya.
Aku suka banget lihat kamu pakai itu. Cantik.
Bu, Gi. Kita enggak jadi ke mal, ya.
- Enggak jadi makan? - Jadi, tapi enggak di mal.
Di mana?
- Ayo, Bu! - Ayo, buruan.
Ya, sebentar!
SELAMAT HARI JADI
Kejutan!
- Selamat hari jadi, Om dan Tante! - Terima kasih.
Ya.
- Terima kasih, Arya. - Sama-sama, Tante.
- Om. Selamat, ya. - Terima kasih.
- Sama-sama. - Aduh, terima kasih banyak.
- Selamat, ya. - Terima kasih.
Ya ampun. Sampai repot-repot segala.
Kayak siapa saja. Sebentar lagi kita mau menjadi besan.
Terima kasih, ya.
Tapi, Tante, aku masih ada surprise.
Kejutan!
- Teman kamu! - Teman-teman aku!
Novi! Kenapa bisa ada di sini?
Kami dikasih tahu kalau kalian anniversary.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Tapi aku juga punya surprise buat Om.
Apa lagi?
- Masih ada rantainya? - Masih ada.
- Wah. Malu banget. - Ini rantai kapal.
Kamu sudah janji mau menemani aku cari kado.
Maaf, ya.
Kemarin aku benar-benar suntuk sama urusan kantor.
Makanya aku pergi ke Pulau Seribu.
Di sana, aku apes, handphone-ku kecebur ke dalam air.
Ini handphone baru.
Memangnya aku bocah, disogok pakai makanan?
Hari ini kamu enggak membawa mobil, kan?
Nanti pulang, aku yang antar, ya.
Ya sudah. Aku masuk dulu, ya.
Ketemu di lobi.
Hai.
Maaf ya, aku telat.
Tadi ada kerjaan yang enggak bisa kutinggal.
Donat KSP-nya kuganti Roti Romy saja, ya?
Biar searah jalan pulang.
Kita langsung pulang saja, Ger.
Kamu marah?
Aku sudah enggak pengen. Yuk.
Kayaknya aku enggak bisa melanjutkan rencana kita nikah.
Maksudnya?
Aku masih lihat Gerry yang dulu.
Kamu belum berubah.
Masih terlalu santai.
Selalu menyepelekan hal-hal penting.
Dan yang paling aku enggak suka…
Kamu selalu hilang tanpa kabar.
Maafin aku. Aku janji akan berubah demi kamu.
- Aku enggak mau kamu berubah untuk… - Enggak, Nik.
Ger…
Aku enggak mau kamu berubah untuk aku.
Kamu harus berubah untuk dirimu sendiri.
Kamu itu selalu punya cara buat bikin aku senang.
Kalau saja seandainya
di dunia ini kita cuma mementingkan kesenangan kita berdua,
aku pasti jadi perempuan yang paling bahagia sama kamu.
Tapi hidup enggak kayak itu.
Tapi aku senang ketemu kamu lagi.
Bisa ngobrol…
Temanan…
Dan jalan bareng lagi sama kamu.
Terima kasih, ya.
Kamu hati-hati.
Bergadang kamu?
Kakak pilih Arya.
Yakin?
Ya sudah.
Kalau kamu yakin, Ayah pasti dukung.
Eh, jangan lupa bilang ke Ibu.
Dia pasti suka.
- Yah. - Hm?
Hei.
Tumben kamu ke sini.
Bie.
Kayaknya jari-jari aku ini kosong banget, ya.
Kayaknya akan bagus kalau diisi sama apa gitu.
Hah?
Aku terima lamaran kamu.
Jadi…
Tunggu di sini, ya.
Tapi ini serius atau kode?
Serius, kan?
Tunggu, ya.
♪ Membuat seakan aku melayang ♪
♪ Terbuai asmara ♪
Hon.
Mau menikah denganku?
Ya.
♪ Membuat suasana menjadi nyata ♪
♪ Begitu indahnya ♪
♪ Dia Seperti apa yang… ♪
Aku bahagia banget.
Beruntung banget punya orang yang bisa ngertiin aku.
Oke.
Kakak?
Salam.
Wah, cantik banget.
Boleh sekali, ya.
- Ini. - Terima kasih.
- Ada lagi. - Ada lagi, ya?
- Tante. Ini. - Terima kasih.
Kapan nikah?
Nanti gue ceritain.
Ya sudah. Lunch break, ya.
♪ Aku inginkan ♪
♪ Dia ♪
♪ Melihatku apa adanya ♪
- Lihat, tuh. - Pas.
Tolong kecilin saja.
Mau ketemu WO juga?
- Ya, Mas. - Oke.
Tanggal berapa nikahnya?
Tanggal 27 Desember.
Desember?
- Sama kayak kita ya, Sayang. - Ya.
Tapi tahun depan, kan?
Bia, Jay, aku ke dalam dulu, ya.
- Terima kasih. - Ya.
Terima kasih, Mas.
Tahun depan agak lama, dong?
Biar persiapannya perfect dan enggak terburu-buru.
Dan yang terpenting,
buat menuruti semua keinginannya.
Sayangku, cintaku, manjaku.
- Sayang. - Sayang.
Sori.
Kebiasaan kayak gini.
Jadi, gimana konsep pernikahannya? Sudah ada atau belum?
Belum ada.
Mungkin antara garden party atau di gedung, kita juga…
Tapi fiksnya sepertinya di gedung.
Kan Desember musim hujan.
Jadi, itu pilihan teraman.
Nikah di gedung? Biasa banget!
Iya, ya?
Soalnya kita berbeda.
Kita maunya garden party,
terus ada live music-nya,
sama… Siapa? Mau undang
- Dewa 19? - Ya. Siapa itu?
Kibordisnya? Ahmad…
- Ahmad siapa? - Ahmad…
Achmad Albar, ya?
- Mereka mau menikah atau pensi? - Sut.
Ini ada beberapa contoh konsep pernikahan di gedung.
Tapi tidak harus persis seperti ini kalau sudah punya konsep sendiri.
Kalau ini contoh kue yang pernah kita buat.
Jadi, ada satu tingkat, tiga tingkat.
Bahkan kita pernah membuat yang tujuh tingkat.
Kalau enggak salah, tingginya sekitar tiga meter.
Itu dipotong, Mas?
Dipanjat.
Dipotong dong, Mbak. Namanya juga kue.
Oke. Berarti kita bisa gabung konsep.
- Bisa digabung. - Tentu saja.
Misalnya kita mau ambil…
Nah, berarti bisa mungkin digabung, ya.
Ya.
Arya.
Ke ruangan saya sebentar.
Saya kepikiran kasih kesempatan kamu sama tanggung jawab yang lebih besar.
Maksud Bapak?
Kamu tahu Pak Tony, kan?
- Ya. - Dia mau resign.
Saya kepikiran kamu yang gantiin dia.
Jangan senang dulu.
Ini baru ide.
Keputusan ada sama Bu Sherly.
Yang penting kamu tetap fokus.
Ya.
Hei, Hon.
Hei. Sori telat.
Tapi ada kabar baik.
Pak Anto rekomen aku untuk promosi.
- Serius? - Ya.
- Selamat, Bie. - Terima kasih.
Gimana preparasi wedding-nya?
Mas Bemby terakhir ngabarin masih cari opsi buat gedung.
Nanti dia bakal kabarin.
Kabarin aku, ya. Biar aku bisa tentuin.
Kamu doang?
Halo. Ya?
Sori, Hon. Ini kerjaan.
Bisa pesanin aku caesar salad?
Jangan ayam, tapi salmon. Tambahkan keju parmesan.
Ya.
Atas nama Gerry?
- Sudah semua, ya? - Sudah.
Hai.
Dibungkus?
Ya, buat teman. Nunggu di atas.
- Makasih. - Ya.
Ganteng ya, Mbak?
Saya pesan caesar salad.
Enggak pakai chicken, pakai salmon saja. Sama parmesan cheese.
Baik, Mbak.
Ya.
Oke, Pak.
Aman. Ya, terima kasih.
Jadi?
Gimana harimu?
All good. Hari ini aku enggak terlalu hectic.
Hon.
Ini sempurna.
Kamu suka?
Ya.
By the way, Mbak Niken.
- Buat prewed, setelannya… - Enggak ada prewed.
Kenapa?
Buang-buang waktu, Hon.
Berkali-kali aku pergi ke pernikahan,
enggak ada yang perhatiin prewed.
Yang paling penting itu adalah makanan.
- Ya? - Aku sudah bilang sama…
Sori. Sebentar.
Tak masalah.
Ya?
Mi?
Ya, Pak?
Laporan kalian kok belum lengkap?
Analisa dampak lingkungan juga enggak ada. Kenapa bisa begitu?
Enggak tahu, Pak. Si Arya. Semua dia yang kerjain sendiri.
Kita enggak dilibatin.
Saya sudah bilang sama kamu.
Fokus. Ini penting soalnya.
Halo, Bie. Kamu di mana?
Aku masih meeting, Hon.
Kamu hari ini janji nemanin aku.
Katanya mau sekalian bayar DP.
Kamu handle sendiri dulu, ya. Soal DP, kamu duluin aja.
Nanti kita hitung bareng-bareng. Bye, Hon.
- Mas Arya enggak ikut? - Enggak.
Oke.
Hai, Pak.
- Bagus ya? - Bagus.
MEMANGGIL…
Ini lo yakin, kan? Tanggal 27 Desember?
Yakin.
Enggak, soalnya gue juga harus nentuin tanggal buat tahun depan.
Ini semua yang akan kita test food hari ini.
Silakan dicoba.
Enak, kan?
Agak kurang.
Sepertinya kita harus mengganti vendor. Ya?
Kamu kenapa, Bie?
Sayang, wajar aku komplain.
Aku mau yang terbaik buat tamu.
Tapi tadi enggak ada yang salah sama rasanya menurut aku.
Kamu jangan putusin semuanya sendiri.
Sayang, aku sudah relain waktu aku untuk ke sini.
- Aku… - Diskusi saja. Diskusi.
Dan cara kamu komplain harusnya enggak kayak gitu.
Kalau caranya salah, aku minta maaf, tapi…
Plis ganti vendornya.
Dan aku harus langsung pergi ke kantor, jadi…
Kamu enggak apa-apa kan, pulang sendiri?
Aku duluan, ya. Ganti vendor, ya?
Sebentar, ya, Mas.
Bie.
Aku kemarin nemu desain buat undangan.
Lihat, deh.
Dia enggak terlalu formal, tapi juga simpel.
Kamu suka, enggak?
Ada desain lain?
Oke.
Kalau yang ini gimana?
WhatsApp saja. Nanti aku pilih.
Enggak, aku enggak mau kayak gitu.
Aku mau kita diskusi. Ini demi kebaikan kita juga.
Bie?
- Bie! - Hon!
Aku enggak sengaja. Sori.
Kamu ngerti enggak, aku lagi ribet di kantor?
Aku selalu ngertiin kamu.
Kamu sibuk, aku enggak pernah komplain.
Bie, aku urus semuanya sendirian, dan aku enggak apa-apa.
Aku cuma pengen pendapat aku didengar.
Hon, yang penting semua beres. Ya?
Jadi, menurut kamu…
Pendapat aku enggak penting?
Kalau kamu perlakuin aku terus kayak gini,
aku ragu sama pernikahan kita.
Aku juga ragu nikah sama orang yang belum bisa move on.
Aku lihat kamu sama Gerry.
Berapa kali kamu jalan bareng dia?
Apa perlu aku tanya Pak Toyo lagi?
Aku sudah nunggu kamu untuk cerita.
Tapi kamu enggak pernah cerita.
Jadi, ya…
Kita memang seharusnya enggak menikah.
Aku sibuk? Ya.
Aku banyak pekerjaan? Ya.
Tapi aku enggak pernah
jadiin kamu pelarian.
Enggak bisa diobrolin baik-baik dulu, Kak?
Niken sudah coba, Bu.
Tapi orangnya memang begitu dan Kakak sudah enggak tahan.
- Ibu yang bantu ngomong, ya? - Enggak guna, Bu.
Dia sudah mutusin enggak jadi nikah.
Kakak juga enggak yakin bisa kuat nikah sama orang kayak gitu.
Kenapa baru enggak yakin sekarang?
Ibu sudah ngomong ke keluarga besar.
Ke om tante kamu, ke teman-teman Ibu.
Semua mau bantu nikahan kamu.
Kalau gini, Ibu yang malu, Kak.
- Kak… - Bu.
Sabar, Bu.
Ini karena Niken juga yang cari gara-gara.
Ngapain dia ngeladenin Gerry?
Kita hormati keputusan Niken. Dia yang jalanin.
Kak?
Ayah masuk, ya.
♪ Awal menggebu-gebu ♪
♪ Ujungnya semua rancu ♪
♪ Tahukah sakit yang tak terobati ♪
♪ Belum sempat sembuh… ♪
Biarin dia tidur. Ayo.
♪ Muak… ♪
♪ Aku muak ♪
♪ Katanya cinta sedalam samudra ♪
♪ Bohong nyata kita berakhir juga ♪
♪ Muak… ♪
♪ Aku muak ♪
♪ Lautan diseberangi ♪
♪ Alang-alang berduri dilewati ♪
♪ Kiasan penuh makna tentang cinta ♪
♪ Sudah tak mempan lagi ♪
♪ Awal menggebu-gebu ♪
♪ Ujungnya semua… ♪
Izin cuti sudah gue urusin, ya.
Tugas lo sekarang fokus istirahat saja.
♪ Belum sempat sembuh tertikam lagi ♪
♪ Muak… ♪
♪ Aku muak ♪
♪ Katanya cinta sedalam samudra ♪
♪ Bohong nyata kita berakhir juga ♪
♪ Muak… ♪
Kamu baik-baik saja?
♪ Aku muak ♪
♪ Tahukah sakit yang tak terobati? ♪
♪ Belum sempat sembuh tertikam lagi ♪
Gue mau bantu lo, Gi.
Mau bikin lo bahagia.
Gue sudah berusaha.
Maaf, ya.
Ternyata usaha gue belum berhasil.
♪ Aku muak ♪
♪ Bila ujungnya berakhir juga ♪
♪ Aku muak ♪
- Ay? - Hai, Ay.
Ay, kayaknya kita harus mundurin rencana pernikahan kita.
Loh, kok tiba-tiba begitu?
Memang ada apa?
Aku baru saja dapat promosi dari bos aku.
Sayang banget, kan? Karierku lagi bagus-bagusnya.
Gitu, ya?
Omong-omong, aku lagi terburu-buru.
Nanti kutelepon lagi.
Aku mencintaimu. Dah.
Permisi, Mbak Niken.
Silakan.
- Terima kasih, Mas Narno. - Ya, sama-sama.
Mbak Niken?
CINTA SEJATI TERUS KEMBALI
Mari.
Hai, Nik.
Boleh duduk di sini?
Penuh.
Pasti tadi dressing-nya dipisah, ya?
Masih hafal?
Niken,
nanti pulang kerja, lo free, enggak?
Ini ada film horor baru keluar.
Mau enggak, nemenin gue nonton?
Jadi, "aku" atau "gue"?
Kayak pernah dengar.
Terima kasih, Niken.
Kalau diajak lagi, mau enggak?
Aku mau ngajakin kamu ke SMA Pelita lagi.
Kapan?
Hari Sabtu.
Sabtu?
Oke bisa.
Oke.
Cepat banget jawabnya.
Rese banget.
Akhirnya nyamperin juga ke sekolah.
- Hai. - Halo, Niken.
Kenapa pakai batik?
Ini gimana ceritanya bisa jadi guru?
Gimana nasib murid-murid di sini?
Aman. Happy-happy saja sama gue.
Ngeremehin banget dia.
Memangnya lo guru apa? Gue enggak pernah tahu.
Bahasa Mandarin.
Memangnya lo ada Cina-nya?
Ken, guru seni musik di sini juga bukan Erwin Gutawa.
Gini-gini, gue laoshi.
- Iya juga. - Anak-anak lagi main bola.
- Mau lihat? - Mau.
Bu.
- Gerry? Aduh. - Ya, Bu.
Nik.
Tebak, aku punya apa?
Apa?
Ta-ra!
Aku mau sekarang kita foto pakai ini.
Buat lucu-lucuan saja.
Lo fotoin kita, ya?
Siap. Dengan senang hati.
Ayo, sekarang ganti baju.
Ayo, cepat.
Enggak usah saja kali, ya? Aku malu.
Enggak apa-apa. Buat lucu-lucuan saja. Coba lihat.
Tuh, kan?
- Kamu enggak berubah. - Jangan kayak gitu.
Coba putar.
- Ngapain, sih? - Enggak berubah sama sekali.
- Enggak mungkin. - Ayo.
- Bagus. - Dapat?
- Aman. - Oke.
- Pindah ke sana. Oke. - Siap.
Kok senyum, ya?
- Hadap kamera. Satu, dua, tiga. - Oke.
Tiga!
Loh? Ada Mang Edi.
- Dapat? - Dapat!
Lucu banget.
Satu, dua…
Nikah, yuk.
Yuk.
Bagus!
Jadi?
Ya? Astaga, Bro! Selamat!
Tetap jadi nikah, tapi sama Gerry?
Kak.
Ibu memang berharap kamu nikah sebelum Anggi.
Tapi kok kesannya kayak main-main?
Kakak serius.
Kakak yakin
dan Kakak enggak main-main, Bu.
Kalau Kakak sudah yakin, Ayah dukung.
Tapi…
Kakak mau minta tolong.
Apa lagi?
Jangan ada yang ngomong sama keluarga Gerry
atau ke Gerry
tentang hubungan Kakak sama Arya kemarin.
Semoga berkenan.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Ayo. Silakan duduk.
Jadi, saya sudah ngobrol sama Gerry.
Niken pilih tanggal 27 Desember?
Jadi, kami dari keluarga besar Gerry
sudah menghitung tanggal baiknya.
Tetap Desember, namun tanggalnya tanggal 20.
Ah…
Sebenarnya kenapa kami memilih tanggal 27,
itu karena bertepatan
dengan libur akhir tahun.
Jadi, kami pengen sekali keluarga kami yang di ada kampung
bisa ikut hadir.
Begini…
Enggak bisa. Ini tanggal baik buat Gerry.
Ini hari yang netral buat dia. Enggak bisa hari lain.
Atau begini…
Bagaimana kalau tanggal 20…
Kita buat sebagai akad nikah,
nanti resepsinya tetap di tanggal 27.
Gimana Gerry? Mau begitu? Niken?
Aman, Bu.
Ya, saya sepakat saja kalau Gerry dan Niken sudah setuju.
Alhamdulillah. Berarti dua keluarga sudah sepakat, ya.
- Mas Bemby. - Ih!
Mbak Niken!
Ya ampun! Aku senang banget
waktu kamu WA terus kamu bilang jadi nikah.
Gimana baikannya?
Ya, aku baikan,
tapi bukan sama yang kemarin.
Apa?
Calonnya ganti?
Sori…
- Obrol di dalam. Yuk. - Yuk.
Ayo. Sini.
Aduh.
Duduk. Cepat.
Ini gimana, sih?
Terus gimana?
- Kapan-kapan aku ceritain, ya. - Oke.
Mas, aku mau minta tolong.
Apa?
Kalau calon aku yang baru datang ke sini,
tolong yang kemarin dirahasiakan saja, ya.
Begitu?
Aduh. Aku bingung, deh.
Orang di mana-mana ganti katering, kamu ganti suami!
Astaga, pusing banget!
Aduh…
Sayang,
gedung buat pernikahan kita yang tadi malam kutunjukin saja, ya.
Ya, boleh.
Tapi kamu masih ada opsi lain, kan?
Enggak ada. Kukira kita sudah sepakat, jadi sudah aku DP.
Kok enggak ngabarin aku?
Soalnya kita nikah itu di akhir tahun,
itu pasti ramai.
Aku takut keduluan orang, jadi buru-buru aku amanin.
Iya, sih.
Ya sudah, enggak apa-apa.
Terus apa lagi yang harus kita siapin?
Kalau perintilan kecil, aku saja yang urus.
Kita tetap bulan Juni saja, Ay. Enggak usah ditunda.
Kamu itu serius atau enggak mau nikah sama aku?
Aku serius, Ay.
- Cuma… - Kemarin kamu minta diundur.
Kamu bilang mau fokus dulu sama karier kamu.
Aku sudah coba ngertiin kamu.
Kenapa tiba-tiba enggak usah diundur karena kakakmu jadi nikah di akhir tahun?
Kenapa pernikahan kita jadi tergantung sama kakak kamu?
Kemarin aku ngobrol sama Kak Niken.
Aku kasihan.
Kamu enggak kasihan sama aku?
Sudahlah, Ay.
Aku mau istirahat dulu.
Kak.
Anggi jadi berantem sama Danny.
Kamu ngomong apa lagi, sih?
Kakak enggak ngomong apa-apa, Bu.
Benar?
Pokoknya, kalau kamu punya masalah,
jangan bikin orang lain jadi punya masalah juga.
Ini 82 cm.
- Mas Jefri! - Mas Jefri!
Halo. Bia, Jay.
- Apa kabar? - Baik.
Mau ketemu Bemby?
- Ya. - Ya.
Lagi ada tamu, ya?
- Ya. Aku panggilin Bemby dulu, ya. - Oke.
Tunggu di sini saja kali, ya.
Silakan.
Saya suka sekali desain yang kemarin.
Senang banget!
- Sempurna. - Terima kasih.
Itu biasa saja.
Kamu sudah, kan?
- Enggak tahu. Kayaknya sudah. - Jalan saja.
Loh?
Eh?
Mbak yang kemarin, ya?
Ini kakaknya?
Bukan. Saya calon suaminya. Halo, Gerry.
Jay.
Bia.
Ayo.
Kok beda, ya?
Yang kemarin agak mature.
Ya, tapi… Sudahlah, bukan urusan kita.
Maksud mereka tadi bilang "beda" apa, ya?
Kamu enggak pernah datang sama laki-laki lain, kan?
Ya, enggaklah.
Aku jadi mikir, sih.
Banyak yang sudah siap tanpa aku tahu.
Gedung, gaun, katering.
Semuanya sudah rapi.
Kamu enggak sembunyiin apa-apa dariku, kan?
Enggak, Sayang.
Jujur?
Hai.
- Selamat pagi, Mas Bemby. - Pagi.
- Saya boleh duduk? - Silakan.
Gimana?
Maaf, mendadak.
Saya boleh lihat dokumen saya dan Niken?
Oh…
Boleh.
- Sebentar, ya. - Ya.
Jadi, selama ini kamu bohongin aku?
Jangan-jangan, waktu kita ketemu di rumah Bu Ana,
sebenarnya kamu sudah punya pacar?
Aku tahu selama kita pacaran, aku pacar yang banyak kurangnya.
Tapi asal kamu tahu, aku enggak pernah sekalipun duain kamu.
Aku enggak pernah bermaksud ngeduain kamu.
Aku minta maaf karena aku enggak jujur.
Tapi kondisinya waktu itu memang aku belum yakin mau menikah sama siapa.
Sekarang kamu yakin sama aku
karena sudah telanjur sewa gedung, baju, dan katering? Gitu, kan?
Karena kamu tahu aku sayang banget sama kamu,
bukan berarti kamu bisa mainin perasaan aku!
- Enggak begini caranya! - Aku juga sayang banget sama kamu.
Kamu enggak mengerti kondisi aku kayak gimana, Ger.
Aku salah, aku minta maaf. Aku akui itu.
Kamu sering buat salah kepadaku dan aku maafin kamu.
Oh…
Kamu mau balas dendam?
Tega kamu.
♪ Lautan diseberangi ♪
♪ Alang-alang berduri dilewati ♪
♪ Kiasan penuh makna tentang cinta ♪
♪ Sudah tak mempan lagi ♪
♪ Awal menggebu-gebu ♪
♪ Ujungnya semua rancu ♪
♪ Tahukah sakit yang tak terobati ♪
♪ Belum sempat sembuh tertikam lagi ♪
♪ Muak… ♪
♪ Aku muak ♪
♪ Katanya cinta sedalam samudra ♪
♪ Bohong nyata kita berakhir juga ♪
♪ Muak… ♪
♪ Aku muak ♪
Mempersiapkan pernikahan memang enggak gampang.
Enggak boleh diburu-buru.
Enggak bisa dipaksakan.
Kamu yang kuat, ya.
Ibu pasti marah banget sama Kakak.
Ibu marah wajar, Kak.
Orang tiap hari kerja juga marah-marah.
Kalau Ibu diam, baru kita panik.
Sudahlah.
♪ Tahukah sakit yang tak terobati ♪
♪ Belum sempat sembuh tertikam lagi ♪
♪ Muak… ♪
♪ Aku muak ♪
♪ Katanya cinta sedalam samudra ♪
♪ Bohong nyata kita berakhir juga ♪
Bu, mau makan rotinya?
♪ Muak… ♪
Aku taruh di sini, ya.
♪ Aku muak ♪
♪ Bila ujungnya berakhir juga ♪
♪ Aku muak ♪
♪ Aku muak ♪
Halo, Dan?
Ya, Kak?
Tumben menelepon malam-malam.
Ya, sori gue menelepon tengah malam.
Gue mau nanya, lo lagi berantem sama Anggi gara-gara gue?
Dan, gue minta maaf, ya.
Hubungan kalian berdua jangan sampai keganggu sama orang lain.
Termasuk gue.
Karena gue sayang banget sama Anggi.
Jadi, kebahagiaan Anggi dan lo itu penting buat gue.
Kalian baikan, ya.
Klien jadi datang?
Ya, sebentar lagi dia turun dari menara BCL.
Membahas itu, ya?
Ya, Sebelumnya kita coba pesankan konsep kita dulu.
- Artinya… - Tapi kayaknya enggak sesuai sama…
- Ya, enggak, Arya? Coba lihat. - Bukan.
- Ini… Ya. - Yang sesuai brief kita,
tetapi enggak sama dengan ini.
Ini sudah menjadi pengulangan…
Menurut kamu gimana?
- Coba… - Revisinya sudah benar, Pak.
♪ Tak sadar kutemukan ♪
♪ Temukan wanita rupawan yang sadarkan ♪
♪ Dia seorang, tiada lain, tiada bukan ♪
♪ Hanya dia ♪
♪ Dia buatku nyaman ♪
♪ Dalam hangat pelukan ♪
♪ Dia perasa yang mengerti, yang kurasa ♪
♪ Hanya dia ♪
♪ 'Kan kuarungi tujuh laut samudra ♪
♪ 'Kan kudaki pegunungan Himalaya ♪
♪ Apa pun kan kulakukan Tuk dirimu, Sayang ♪
♪ Oh, penjaga hati… ♪
Permisi, Mbak Niken.
Ya, Mas?
Saya mau kasih ini ke Mbak.
Maaf, tapi saya enggak bisa nerima ini.
Enggak, ini bukan dari saya.
Tadi ada orang titip buat dikasihkan ke Mbak.
Oh…
♪ Karena bersamamu semua terasa indah ♪
♪ Gundah gulana hatiku pun hancur sirna ♪
♪ Janjiku takkan kulepas ♪
♪ Wahai kau bidadariku dari surga ♪
♪ Tuk selamanya ♪
♪ Tuk selamanya ♪
♪ Tuk selamanya ♪
Kak?
Ibu sudah dengar semuanya dari Ayah.
Kamu sudah kontak Gerry?
Handphone-nya enggak aktif.
Ibu rasa Gerry juga belum bilang ke ibunya.
Belum ada yang kontak Ibu atau Ayah.
Bu…
Kakak minta maaf, ya.
Maafin Ibu juga, ya.
Arya…
Coba hubungi Kakak lagi buat ajak ketemu.
Ibu serahkan semuanya ke kamu.
Ibu yakin kamu tahu apa yang terbaik.
Ibu enggak mau nekan Kakak.
Ibu enggak mau menjadi beban buat Kakak.
Ikutin kata hati Kakak.
Terima kasih, Bu.
Maaf, ya.
Aku dadakan ngajakin ketemuan.
Aku baru pulang nanjak.
Kamu kenapa?
Aku sudah enggak di SCT lagi sekarang.
Ger…
Aku minta maaf karena sudah enggak jujur sama kamu.
Bahkan, aku sudah nyakitin perasaan kamu.
Aku mau, keluar dari sini,
kita sudah enggak ada rasa marah kepada satu sama lain.
Aku juga sudah maafin dan lupain kejadian waktu itu.
Kamu benar.
Aku juga sering ngelakuin kesalahan besar waktu itu.
Sekarang gantian.
Aku yang lakuin kesalahan besar.
Menurut kamu…
Kita bisa mulai dari awal lagi, enggak?
Hei.
Terima kasih sudah datang.
Aku minta maaf.
Aku enggak memperlakukan kamu dengan baik.
Aku sadar aku…
Terlalu egois.
Terlalu ngatur.
Terlalu sibuk.
Aku juga minta maaf…
Karena aku kurang ngertiin kamu.
Kasih aku kesempatan.
Aku akan luangin waktu aku buat kamu.
Dan aku akan belajar untuk dengar kamu.
Aku selalu mikirin kamu.
Aku masih sayang sama kamu.
Kamu masih mau kan nikah sama aku?
Jadi, Kakak sudah bikin keputusan?
Jadi, kamu pilih yang mana?
Kakak sudah ambil keputusan.
Kakak mau pilih…
Enggak nikah dulu.
Kita bisa mulai dari awal lagi, enggak?
Kamu masih mau kan nikah sama aku?
Aku minta maaf, ya.
Karena ego dan gengsi…
Kamu jadi harus terlibat di masalah ini.
Semua masalah di hubungan kita, itu juga karena aku.
Aku berharap
kita bisa jadi teman baik nantinya.
Kita temanan saja, ya.
Terima kasih
buat semuanya.
Aku pamit.
Kakak belum yakin buat menikah.
Kakak pengen menikah cuma karena Kakak iri sama Anggi
dan itu justru malah bikin ego dan gengsi Kakak…
Mikir bahwa
kalau aku nikah
Kayaknya aku bisa lebih baik daripada Anggi.
Aduh, sempit, Dek.
Kak, maaf ya, aku ngasih kamu beban.
Enggak.
Enggak apa-apa.
Nih, ya.
Salah satu kebahagiaan orang tua itu adalah melihat anaknya menikah.
Tapi bukan berarti kalau itu belum terjadi,
malah merusak kebahagiaan yang ada.
Ayah ingat
waktu kalian lahir, waktu kalian belajar jalan,
kalian sekolah, potong poni,
lulus kuliah…
Ayah ingat dengan indah.
Enggak ada yang rusak.
Ibu.
Ibu jangan nangis.
Bu.
Apa?
Boleh, ya, Bu?
Anggi nikah duluan.
Enggak apa-apa, ya?
- Selamat pagi, Semua. - Pagi.
Ini meja kamu, ya.
Perkenalkan diri kamu dulu,
nama kamu siapa. Prita, tolong, ya.
Saya tinggal dulu.
Halo, Semua. Salam kenal.
- Gue Jerry. - Hai.
Prita. Kepala Penulis Iklan.
Ini tim gue.
Ini Vio, itu Nadya.
Ini Chika.
Terus, yang itu namanya…
Niken.
Jerry.
♪ Ku tak pandai berdusta Jujur saja, kau boleh juga ♪
♪ Tak bisa kupungkiri Hati nyaman tiap kau ada ♪
♪ Caramu tersenyum, tertawa Dan merangkai canda ♪
♪ Buatku terpesona ♪
♪ Dapatkah kau baca? Mataku bicara ♪
♪ Semua yang kau punya Benar istimewa ♪
♪ Sayangnya semesta Tak restukan kisah kita ♪
♪ Meskipun kau yang kusuka ♪
♪ Apa daya Ku tak bisa, ku ada yang punya ♪
♪ Celakanya diriku Tak pandai sembunyikan rasa ♪
♪ Meski berlagak tak mau Kau tahu ♪
♪ Ku merasakan yang sama ♪
♪ Caramu tersenyum, tertawa Merangkai canda ♪
♪ Buatku terpesona ♪
♪ Dapatkah kau baca? Mataku bicara ♪
♪ Semua yang kau punya Benar istimewa ♪
♪ Sayangnya semesta Tak restukan kisah kita ♪
♪ Meskipun kau yang kusuka ♪
♪ Apa daya Ku tak bisa, ku ada yang punya ♪
♪ Oh, jalan kisah kita ♪
♪ Aku yakin kita pasti bersama ♪
♪ Bersama ♪
♪ Hei ♪
♪ Semua yang kau punya Benar istimewa ♪
♪ Dapatkah kau baca? Mataku bicara ♪
♪ Semua yang kau punya Benar istimewa ♪
♪ Sayangnya semesta Tak restukan kisah kita ♪
♪ Meskipun kau yang kusuka ♪
♪ Tapi maaf Ku tak bisa, ku ada yang punya ♪
♪ Jujur, boleh juga Kau buatku terpesona ♪
♪ Oh, maaf, ya ♪
♪ Maaf ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.