All language subtitles for [CoffeePrison] Tukar Takdir 2026 INDONESIAN NF WEB ID

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

…JA79 tujuan Jakarta, dipersilakan untuk…

Maaf ya, Pak.

Terima kasih.

Ya, Mer.

Sudah, lagi boarding. Masih di bus.

Ada apa, Mer?

Tidak apa-apa.

Tapi nanti kalau aku dimarahi diminta matikan tiba-tiba,

maklum saja ya.

Di Sublime ya? Apa masih mengotot di Atom?

Coba kirim ke aku.

KURSI NOMOR 1-15 LEWAT TANGGA DEPAN

Silakan, Mas.

KURSI NOMOR 16-30 LEWAT TANGGA BELAKANG

Kayaknya kau harus ulang lima kali.

Sudah aku highlight ya.

Maaf.

Para penumpang yang terhormat,

selamat datang dalam penerbangan Jakarta Airways 79.

Maaf ya.

Dari Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, menuju Bandara Soekarno-Hatta, Banten.

Dengan Kapten Dirga yang akan memandu penerbangan hari ini.

Didampingi dengan Kopilot Hermantono.

Penerbangan akan memakan waktu dua jam 30 menit.

- Silakan. - Terima kasih.

Sama-sama.

Mbak!

Mbak! Sini!

Pemirsa kami baru saja mendapatkan informasi

Penerbangan Jakarta Airways dengan nomor penerbangan JA79

hilang kontak

dalam penerbangan dari Bandara Mutiara SIS Al-Jufri Palu

menuju ke Bandara Soekarno-Hatta, Banten.

Dan saat ini KNKT tengah menggelar konferensi pers

di Bandara Soekarno-Hatta.

Mari kita simak bersama.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Telah hilang kontak Jakarta Airways dengan nomor penerbangan JA79.

Penerbangan membawa 127 penumpang dan enam awak pesawat.

35 menit setelah pesawat tinggal landas,

ATC menerima panggilan darurat dari Kopilot JA79.

Permisi, Ibu Damianti.

Aku menjemput Ibu untuk bertemu Kapten Susilo.

Mari Bu.

…ATC terus berkomunikasi

sampai hilang kontak pada pukul 19.13.

Dari hasil rekaman komunikasi tersebut, bisa dipercaya

pada saat ini kalau pesawat jatuh di gunung Halau-Halau, Kalimantan Selatan.

- Untuk upaya penyelamatan, kupersilakan… - Mas!

- …untuk menjelaskan - Mas, tunggu!

Mas, Mbak.

- Maaf Bu, ada yang bisa dibantu? - Ayo, Zah.

Suamiku, Raldi Putra Suwarso.

Dia penumpang juga, bagaimana caranya aku dapat informasi lebih lanjut?

Sulit sekali, aku putari bandara untuk dapat status dia saat ini.

Masa aku harus lihat dari televisi?

Maaf, Bu Raldi, silakan kembali ke ruang tunggu, kami akan…

- Dita. Namaku Dita. - Maaf, aku permisi dulu.

Silakan kembali ke ruang tunggu. Terima kasih.

Ibu. Tidak, Bu. Tidak usah ke sini dulu.

Belum dapat kabar, Bu.

Dita baru sebatas tahu dari konferensi pers itu.

Ibu.

Ya, Dita akan telepon secepatnya.

Tidak, tidak usah ke Jakarta dulu.

Sabar ya, Bu.

Ya, Dita juga terus berdoa.

Permisi, Mbak.

Ya?

Makanlah.

Ya.

Aku juga malas makan.

Tapi ya harus, Mbak.

Ini kami dari keluarga penumpang

ingin inisiatif membentuk sebuah grup keluarga di WhatsApp.

Supaya bisa saling tukar informasi.

Tidak semuanya kok.

Ada yang mau, ada juga yang tidak mau.

Takut, Mbak.

Informasinya masih simpang siur.

Ya.

Katanya sudah ditemukan pesawatnya.

- Sudah? - Ya.

Ini ada yang upload di TikTok, Mbak.

Kami warga di Pegunungan Halau-Halau.

Selepas magrib, kami mendengar suara yang teramat kuat.

Dan saat ini helikopter pun lewat-lewat.

Ketika aku melihat berita di televisi,

ada sebuah pesawat yang jatuh.

Bang, tapi kata kakakku masih ada yang selamat.

Alhamdulillah.

Ada yang selamat?

Aku sudah tanya terus, Mbak.

Belum bisa di verifikasi.

Aku pantau terus akunnya.

Suami Mbak?

Ya.

Maaf, sudah berapa lama menikah?

Lima belas tahun.

Semoga selamat ya, Mbak.

Keluarga Bapak?

Istriku dengan tiga anakku.

Istri dari anakku yang paling tua,

juga…

Cucuku yang masih bayi.

Sudah lama menabung

mau liburan keluarga.

Aku kemarin tiba-tiba sakit.

Tensi tinggi sekali.

Tidak jadi ikut.

Asalamualaikum.

Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, terima kasih sudah sabar menunggu.

- Alaikum salam. - Sudah ditemukan?

Kami hanya butuh lokasinya, bisa ke sana sendiri.

Mohon maaf, tolong jaga ketertiban!

Maaf, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu,

saat ini sudah ada konfirmasi lokasi jatuhnya pesawat.

Namun, tim kami masih menempuh medan yang berat.

Ini aku lihat di internet

katanya ada yang selamat, apa betul? Berapa orang?

Maaf, Ibu, kami akan verifikasi lebih dahulu,

jadi, kami mohon tetap di sini.

Dan kami tidak menganjurkan untuk berangkat ke gunung

karena medannya cukup berbahaya.

Kami juga mohon doa untuk Basarnas

yang menempuh cuaca buruk…

Kapan kita dapat beritanya?

…dan penyelamatan korban.

Saat kami mendapat kabar, kami akan memberikan info.

Untuk sekarang, Bapak dan Ibu bisa pulang ke rumah.

Untuk yang berkediaman di luar kota,

bisa menghubungi petugas kami

untuk penginapan dan transportasi.

Terima kasih atas kerja sama Bapak dan Ibu.

Semoga keluarga diberi keselamatan

dan selamat beristirahat.

Kembali ke pangkalan.

Kita harus tunggu cuacanya membaik.

Cuaca tidak mungkin, Kap?

Visual di jam lima.

500 meter arah selatan dari sayap pertama, kokpit ditemukan.

Dapur pesawat 50 meter dari kokpit ke arah barat.

Tim C, fokus mencari kotak hitam.

A dan B, periksa korban.

Satu masih hidup.

Diulang, satu masih hidup.

Segera kerahkan penjemputan helikopter.

Siap, ganti.

Helikopter menuju titik dalam sepuluh menit.

Satu, dua, tiga, siap!

Kondisi Pak Rawa cukup stabil.

Ada beberapa luka ringan, maupun berat.

Tulang patah di beberapa bagian.

Di pergelangan kaki sebelah kiri, patah bersih.

Retak di sebelah kanan, juga bahu di sebelah kiri.

Ini mungkin karena benturan keras.

Atau ada yang terjatuh menimpanya.

Tulang rusuk, luka di kepala.

Gegar otak, juga luka di perut.

Di sini ada pecahan.

Induksi koma ini dibutuhkan agar tubuhnya pulih dari trauma.

Silakan.

Permisi.

Ibu Shinta?

Ibu dari Bapak Rawa Budiarso?

Perkenalkan aku Bambang, Bu.

Aku boleh izin duduk?

Aku bekerja untuk Bapak Adam.

Bapak Adam ingin sekali bisa bertemu dengan Ibu, jika berkenan.

Ibu Shinta, aku Adam. Silakan.

Atas nama Jakarta Airways,

sebelumnya aku memohon maaf atas ketidaknyamanan

dalam musibah yang dialami putra Ibu dalam penerbangan kami.

Boleh aku bertanya bagaimana keadaan putra Ibu saat ini?

Masih belum sadar.

Tentunya ibu sudah diinfokan oleh pihak kami

kalau semua biaya rumah sakit akan ditanggung oleh Jakarta Airways.

Ibu tidak perlu berpikir apa itu ditanggung asuransi atau tidak.

Anak Ibu dan Ibu bisa tenang beristirahat.

Bisa pulih dengan pelayanan yang terbaik.

Apa pun yang bisa aku bantu,

apa pun yang Ibu butuhkan,

aku dan Jakarta Airways,

akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya.

Aku juga ingin sekali mendengar kabar baik tentang kesehatan putra Ibu

dan bisa berbincang dengannya.

Bila berkenan.

Terima kasih.

Sama-sama, Ibu.

Aku duluan.

- Terima kasih, Ibu. - Terima kasih, Bu Shinta.

Yang ini untuk persetujuan obat baru, Bu.

Kami juga ingin memberi tahu

biasanya petugas KNKT nanti akan mendapatkan kabar.

Secara berkala.

Berkala?

Setiap hari, Ibu.

Jika tidak ada perkembangan yang berarti.

Untuk?

Ini 'kan privasi, Suster.

Aku saja setiap keluar dan masuk harus sembunyi dari wartawan.

Mereka belum beritakan identitas, 'kan?

Aku juga kurang tahu, Ibu.

Ini sudah biasa jika berhubungan dengan investigasi kecelakaan.

Begitu pasien siuman,

mereka mau langsung wawancara.

Supaya memorinya masih segar.

Memang sudah wewenang mereka berdasarkan undang-undang.

Sudah beberapa hari belum juga siuman.

Mari, Bu.

JAKARTA AIRWAYS MENDOAKANMU, PAK RAWA. LEKAS SEMBUH DAN BEPERGIAN BERSAMA LAGI.

Norak.

Halo?

Mas…

Pak Rawa?

Namaku Dita.

Aku ingin bicara dengan Bapak tentang suamiku.

Mas Rawa ingat dia?

Dia satu pesawat dengan Mas Rawa.

Aku cari-cari informasi, Mas.

Seperti seorang istri yang dikhianati, diselingkuhi.

Menyogok sana dan sini.

Banyak gosip maupun data, beritanya simpang siur.

Satu-satunya cara untuk tahu di negara ini ya pakai uang.

Nomor kursi Mas Rawa…

38D.

Sebelum boarding, Raldi kirim ini ke aku.

Suamiku ditemukan di kursi 38C.

Mas Rawa di kursi 38D.

Kenapa, Mas?

Kenapa yang di kursi itu Mas Rawa, bukan suami aku?

Kenapa yang ada di sini Mas Rawa dan bukan suamiku?

132 orang mati, yang tidak hanya Mas Rawa.

Mati?

Mati semua.

Yang selamat hanya Mas Rawa karena duduk di kursi suamiku.

Kalau sudah bisa bicara,

aku tunggu pertanggungjawabannya.

Permisi.

Maaf, Mas.

Santai, Mas. Sama saja.

Maaf ya.

Terima kasih, Mas.

Jadi, hari ini aku coba bawa

Pak Purwanto dan Mas Dimas dari KNKT ke sini karena memang penting

untuk pihak investigasi melakukan komunikasi awal dengan Mas Rawa.

Tapi, Mas Rawa,

tujuan utama kita tetap kepulihan Mas Rawa.

Aku terutama.

Maaf ya, Mas.

Seingat Mas Rawa,

aku ingin Mas Rawa cerita saja.

Tentang kejadian dari Mas Rawa di bandara

sampai Mas Rawa hilang kesadaran.

Permisi.

Aku sering bolak-balik

Jakarta-Palu.

Kebetulan juga memang pekerjaan sedang ada proyek di sana.

Di pelosok Indonesia.

Pesawat kecil,

pesawat besar.

Tapi aku tidak pernah

merasakan turbulensi sekencang itu.

Seperti…

Kalau tarik tambang kita kalah,

kita tertarik ke arah lawan

kencang sekali sampai hilang kesadaran.

Tiba-tiba aku sudah di daratan.

Sudah malam.

Masih ada yang hidup.

Ada suara tangisan.

Ada suara tangisan bayi.

Ada yang berdoa.

Ada yang berteriak, "Allahu Akbar, Allahu Akbar."

Allahu Akbar!

Tapi lama sekali pertolongan

tidak datang-datang.

Sudah, Mas, santai.

Sama saja.

Sebelum krisis terjadi, ada yang Mas Rawa ingat?

Ada yang Mas Rawa dengar?

Sebelum lepas landas,

itu aku ketiduran.

Aku lelah sekali, aku mengantuk.

Jadi, aku tidak memerhatikan saat sebelum lepas landas itu.

Bapak mau minum apa?

- Jus jeruk. - Baik.

Pramugari membangunkan, menawarkan aku camilan.

Minum…

Seperti ada…

Iedakan.

Ledakan?

Mas Rawa, aku sungguh berterima kasih untuk hari ini.

Informasi dari Mas Rawa sangat bernilai buat kami.

Aku belum selesai.

Sesi berikutnya mereka akan datang lagi.

Mas.

Jadi, apa yang terjadi?

Kami masih dalam proses investigasi.

Kenapa aku selamat?

Alhamdulillah, Mas Rawa.

Rakitanmu dan semua baju dari rumahmu sudah lengkap

di kamar tamu.

Ruang kerja Mami bisa kau gunakan untuk sementara.

Maaf ya jadi merepotkan.

Kalau ada hikmah dari tragedi ini,

Mami jadi bisa mengurusimu lagi.

Terakhir kali menginap sejak pindah rumah kapan?

Waktu Papi meninggal, 'kan?

Terima kasih ya, Mi.

Terima kasih, Suster.

Itu paket buatmu.

Barang-barangmu di kabin diganti semua oleh maskapai.

Nomornya juga masih nomormu yang dulu.

Rawa.

Ada surat dari maskapai dengan lampiran undangan dari KNKT.

Dari Kapten Purwanto, ya, yang kemarin mewawancaraimu?

Tanggal 17 nanti ada konferensi pers.

Pak Adam berharap kau bisa datang.

Ada juga sejumlah uang.

Kau tidak bisa bekerja selama masa pemulihan.

Semacam ganti rugi.

Ganti rugi habis bikin Rawa nyaris mati?

Berapa, Mi?

Dua miliar.

Kalau Rawa mati seperti yang lain, Mami dapat berapa?

Mami tidak tahu dan Mami tidak peduli.

Sebanyaknya uang juga tidak akan mungkin bisa

mengobati rasa duka kehilangan seorang anak.

Kau tidak punya anak,

makanya kau tidak tahu bagaimana

Mami merasa sangat bersyukur kau selamat.

Terus Mami terima uang itu? Dua miliar.

Itu uangmu.

Kalau tidak mau, kau bisa kembalikan.

Yah, terus,

kenapa diberikan ke Mami, bukan ke Rawa langsung?

Jadi, ini uang apa? Buat biaya rumah sakit?

Di luar biaya rumah sakit dan segala pemulihan.

Jadi, ini uang suap?

Biar Rawa sebagai penyintas bisa berikan citra yang positif

ke kecelakaan yang tragis?

Yang kita juga tidak tahu, bisa jadi ini kesalahan mereka.

Mami tidak tahu.

Pak Adam kasih uang itu bahkan kau belum sadar.

Mana mampu Mami berpikir dengan jernih?

Mami tidak mau bertengkar.

Tanggung jawab Mami adalah mengurusmu

dan membantumu pulih.

Terima uang dari pemilik maskapai bukan tanggung jawab Mami.

Maaf, Mi.

- Aku kenal baik Kapten Dirga. - La ilaha illallah.

Dia pilot yang sangat cakap.

Tapi aku tidak habis pikir bagaimana dia tidak bisa

membawa pesawat untuk mendarat darurat ke landasan terdekat.

Bom teroris sekalipun, rasanya kemungkinan kecil.

Jakarta Airways adalah armada LCC, atau bertarif rendah.

Seberapakah hal tersebut memengaruhi faktor keselamatan, Pak?

Tarif rendah berhubungan dengan kenyamanan, Mbak.

Dengan pelayanan pelanggan, bagasi.

Dan untuk faktor keselamatannya,

kami sudah mengikuti standar dari FAA.

Bagaimana waktu istirahat awak pesawat?

Gajinya 'kan berbeda?

Oke, kalau kalian pernah mengetahui kasusnya Starlight Air,

bisa jadi ini kejadian serupa.

Di mana pilot melakukan aksi bunuh diri ramai-ramai.

Kalau aku boleh berteori,

aku bukan pilot, aku juga bukan ahli penerbangan.

Tapi aku banyak menonton investigasi kecelakaan udara.

Kalau ini bom teroris,

pasti si teroris tahu betul

bagaimana agar dirinya punya kemungkinan paling besar untuk selamat.

Dia pasti duduk di sisi belakang pesawat

yang notabene adalah tempat yang paling aman

bila terjadi kecelakaan dalam pesawat.

Jadi, bisa aku simpulkan,

bahwa penyintas tunggal dari kecelakaan ini adalah

pelaku yang membawa bom ke dalam pesawat.

Penumpang yang katanya duduk di 38D.

Kita sebut saja dia si 38D ya.

Barang bagasi dan kabin

korban kecelakaan tragis Jakarta Airways 79 sudah tiba.

Seperti kita saksikan, hari ini para keluarga datang

untuk mengambil barang keluarga tercinta.

Perlu diketahui,

jenazah sudah sampai di rumah masing-masing dua minggu yang lalu.

Pemirsa, Ibu Mirna adalah ibu dari salah satu korban

kecelakaan Jakarta Airways 79.

Ibu Mirna, turut berduka atas kehilangan Ibu.

Bisa diceritakan sedikit

siapa anak Ibu dan bagaimana perasaan Ibu saat ini?

Anakku Tomi.

Dia ke Palu untuk melamar pacarnya

dan ketemu keluarganya

melakukan pernikahan tahun depan.

Aku tidak menemukan barang-barangnya hari ini.

Tapi minggu lalu, jasadnya ada.

Kondisinya mengenaskan.

Alhamdulillah masih bisa dikenali.

Sekali lagi turut berduka, Bu.

Sudah ada pertanggungjawaban dari pihak maskapai?

Kami masih dalam tahap pembicaraan.

Menurut hukum, ada jumlah yang tetap.

1,25 miliar tiap jiwa.

Aku hanya ingin anakku kembali.

Asalamualaikum, Pak Dimas.

Alaikum salam, Bu Shinta.

Kami sudah di parkiran.

Baik, Bu, harap tunggu sebentar.

Ya, baik.

Sudah hafal?

Coba.

Hadirin sekalian yang terhormat.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan, namaku Rawa Budiarso. Umurku 35 tahun.

Tapi mungkin para hadirin akan lebih mengenalku

sebagai si penumpang JA79 di tempat duduk 38D,

bisa disingkat Si 38D.

Jangan disingkat-singkat.

Para hadirin yang terhormat.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan, namaku Rawa Budiarso.

Umurku 35 tahun.

Tapi mungkin para hadirin lebih mengenalku

sebagai si penumpang pesawat JA79,

tempat duduk 38D.

Bisa disingkat Si 38D.

Aku mengucap…

Aku mengucapkan…

Halo?

Aku mengucap ini dengan…

Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Nama panggilan ini aku dapatkan karena aku…

Selamat

dari kecelakaan tragis

pesawat JA79 yang aku tumpangi dari Palu ke Jakarta.

Aku berterima kasih,

dan bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa

karena aku telah dipertemukan kembali dengan ibundaku tercinta.

Bersama-sama…

Kita doakan para korban

husnulkhatimah.

Semoga diterima dengan tenang

di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Teman-teman seperjuanganku.

Untuk mereka aku akan membantu proses…

Investigasi.

Dari KNKT.

Supaya kecelakaan tragis seperti ini tidak terulang lagi.

Pukul 17.30

Pesawat JA79 tinggal landas dari Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu,

menuju Soekarno-Hatta, Banten.

Kapten Dirga sebagai pilot

dengan 22.500 jam terbang.

Kopilot Hermantono dengan pengalaman terbang 678 jam.

Kopilot Hermantono menghubungi Pemandu Lalu Lintas Penerbangan

lapor keadaan darurat.

Petugas ATC saat itu adalah Nona Sita Wijaya.

Yang sesuai prosedur menawarkan segala bantuan dan support

dalam upaya melakukan pendaratan darurat di bandara atau landasan terdekat.

Tapi di titik ini,

pesawat JA79 terus keluar dari rute yang sudah ditentukan.

Hilang kontak pada pukul 19.13.

Tim SAR sampai ke TKP pada keesokan harinya pukul 07.48.

126 dari 127 penumpang…

…dan enam awak pesawat dinyatakan meninggal sore itu.

Silakan duduk kembali. Sesi tanya jawab akan dimulai.

Pak, kira-kira kapan kita bisa mendapat data dari kotak hitam?

Bagaimana prosedurnya?

Ya, terima kasih.

Nanti dikonfirmasi lagi jadwalnya.

Biasanya ada tim sendiri, Mas.

Dan dari pihak pabrik juga akan ikut investigasi

karena menyangkut pesawat buatan mereka.

[]

Terima kasih.

Pak, apakah ini ada hubungannya dengan kelalaian pilot?

Indonesia,

dalam beberapa dekade terakhir, sering mengalami tragedi semacam ini.

Penyebab utamanya adalah kelalaian pilot.

Aku tekankan, penyebab kecelakaan masih dalam investigasi.

Di tengah penerbangan terdengar suara ledakan.

Tapi kami tidak menemukan bekas-bekas bom di dalam badan pesawat.

Kami juga masih mencari bukti fisik dari pesawat yang kami teliti.

Dan apakah pilot dan kopilot sudah bereaksi dengan tepat,

masih menunggu kotak hitam.

Izin, Pak.

Kalau boleh berbagi teori lain, Pak Purwanto,

kira-kira kenapa Mas Rawa selamat sedangkan penumpang lain tidak?

Yah, tentu saja selain ini adalah kuasa Allah ya, Pak.

Aku tidak punya jawaban lain.

Apakah ada hubungannya Mas Rawa duduk di belakang?

Di kursi lorong?

Sehingga terlindung oleh struktur buntut pesawat?

Kalau memang sesederhana itu,

seharusnya semua penumpang yang duduk di situ juga selamat.

Dalam manifes yang dikeluarkan pihak maskapai,

di lampiran tertulis Mas Rawa duduk di 38C.

Sedangkan penumpang lain, bernama Raldi Putra Suwarso,

duduk di 38D.

Apakah ada kesalahan?

Kesalahan biasa.

Baik, terima kasih, cukup.

Aku kecewa mendengar penjelasan Pak Purwanto

di konferensi pers.

Yang ada di manifes itu data yang benar, bukan kesalahan.

Kenapa Pak Purwanto tidak menjelaskan itu?

Maaf sekali, Bu…

Dita, namaku Dita.

Istri dari Raldi Putra Suwarso…

- Maaf. - Maaf.

Zahra, tolong tisu.

Aku hanya berharap ada dijelaskan.

Kapten Dirga akan memarahiku jika mencelakaimu lagi.

Ini anakku dengan Kapten Dirga, Zahra.

Sebetulnya aku ingin mengobrol banyak sama kau.

Berkenan kalau aku undang ke rumah?

- Aku Shinta, ibunya. - Damianti.

Ibu dan Mas Rawa berkenan aku undang ke rumah?

Ya.

Permisi ya, Mbak.

Mbak Dita!

Aku bicara sebentar boleh, Mbak?

Apakah jam terbang 678 jam itu cukup?

Yah, itu…

Kembali lagi itu tergantung…

Boleh matikan suara TV-nya?

…seberapa cakap pilot dan kopilot

dalam menerbangkan pesawat.

Dan hal yang paling penting,

tergantung bagaimana pemeliharaan maskapai tersebut.

Jadi, gimana?

Maaf.

Maaf?

Aku bertukar tempat duduk sama dia.

Harusnya aku di 38C.

Aku waktu itu lagi bantu temanku di telepon,

jadi, aku tidak sadar kalau aku salah barisan.

Tapi waktu dia datang,

aku lihat boarding pass, baru aku sadar.

Kenapa kau tidak balik ke kursi yang benar?

Tidak apa-apa katanya. Sama saja.

Jelas tidak sama aja.

Ya, tidak sama.

Kalau sama, Raldi juga akan ada di sini, bukan cuma kau.

Jadi, kau mau bicara itu saja sama aku?

Ya.

Kalian tidak mengobrol?

Andaikan kami sempat mengobrol.

Tapi sebenarnya,

selama penerbangan

kita cuma duduk berseberangan.

Yah, kalau…

Ketemu mata, saling mengangguk.

Senyum, sedikit.

Tolong.

Lalu?

Sebenarnya saat itu masih sama saja antara 38D dan 38C.

Kanan atau kiri itu sama saja.

Tapi sulit untuk bertahan semalaman.

Andaikan dia yang hidup, bukan aku.

Mbak, aku ingin menolong. Apa pun itu.

Sudah, Mas, santai.

Sama saja kok.

Rawa?

Rawa?

Kau tidak apa-apa?

Rawa!

Suamiku itu hobinya kuliner.

Jadi tidak mau makanan hanya satu, dua macam di meja makan.

Tapi, yah, sejak Mas Dirga tidak ada…

Hanya aku dan Zahra.

Tidak pernah kita masak sebanyak ini lagi.

Mubazir.

Ya, Rawa juga suka kuliner.

Dan kebetulan cocok dengan pekerjaannya.

Yang buat dia suka jalan-jalan.

Ya, makan terus aku.

Aku kebetulan kerja di perpajakan bagian pemrograman.

Itu lo, Rawa ini yang instalasi sistem-sistem terbaru

di seluruh Indonesia, Bu.

Oh…

Zahra, juga kuliahnya teknologi informatika.

Zah, mungkin kau bisa minta bantuan Mas Rawa untuk tugasmu.

Oh, kau di TI juga?

Sama.

Boleh, aku juga lagi tidak banyak kegiatan.

Ya.

Ya, terima kasih.

Cocok kau kalau sempat kenal sama suamiku.

Dia juga suka segala yang berhubungan dengan mesin, komputer.

Makanya jadi pilot.

Kau sempat jumpa dia?

Aku sempat lihat dari jauh sebelum boarding.

Maaf.

Tidak apa-apa.

Untung ada kau di sini.

Jadi, Dirga terasa dekat.

- Ke kanan. Naik. - Naik.

- Lagi. - Kendali bermasalah. Naik.

- Lagi. - Naik.

- Daya maksimal. - Naik.

- Naikkan badan. - Naik.

- Naikkan. - Naik.

Tambah daya.

- Tambah daya! - Kendali bermasalah.

Allahu Akbar!

- Halo? - Adrian.

- Maaf, dengan siapa? - Ini Dita.

Anindita, Hukum '98?

- Sibuk tidak? - Hei, Dit, kenapa? Reuni kita?

Aku perlu bantuanmu.

Tidak mungkin lupa aku sama kau.

Kalau kau tidak ada,

tidak bisa aku lulus hukum adat dan sosiologi.

Kau salin risetku tentang perkawinan adat Sumatra Selatan.

Tidak sebanding dengan menuntut sebuah maskapai.

Tapi tiga tahun lalu, kau menang lawan Pertamina.

Aku bangga kau mengikuti karierku.

Kau lumayan hebat.

Tapi ini tergantung ya, Dit.

Ya, tergantung apa yang kau tuntut.

Kalau belum ada hasil investigasi resmi,

yah, kita tidak bisa berbuat banyak.

Uang 1,25 miliar dianggap bisa obati rasa sakit kehilangan suamiku?

Dalam 100 meter, belok kiri.

Suamiku bertukar tempat duduk dengan si penyintas.

Si 38D?

Raldi yang harusnya Si 38D. Dia 38C.

Jadi, yang kau mau tuntut itu siapa, Dit?

Kau mau tuntut maskapainya, Si 38C, atau takdir?

Aku sempat mengobrol sama salah satu keluarga korban.

Dia kehilangan istri, menantu, tiga anaknya, dan cucunya yang masih bayi.

7,5 M buat hilang satu keluarga.

Uang bisa habis,

tapi apa dukanya bisa habis?

Maaf, Dit.

Jadi, kau mau uang lebih?

Ya.

Aku mau harga yang lebih pantas buat aku dan Pak Mukhsin.

7,5 M bahkan tidak cukup buat bayar rumah Adam Saputra di Menteng.

Semua juga uang asuransi.

Lelah.

Kau ingat Kukuh?

Kukuh anak Hukum? Ya.

Dia sekarang di kepolisian.

Kemarin aku bantu dia urusan tanah sengketa.

Jadi, dia sekarang bantu aku untuk cari informasi.

Informasi apa itu?

Macam-macam.

Kamar rumah sakit Si 38C, latar belakang dia,

kerja di departemen perpajakan setelah lulus ujian PNS.

Apa tidak ada yang lebih menarik dari pekerjaan itu?

Juga latar belakang Adam Saputra.

Sedang apa dia di malam JA79 hilang kontak?

Sedang apa?

Narkoba.

Sama selingkuhannya namanya Mona.

Kita dapat semua rekaman CCTV-nya.

Dia terima telepon, info kalau JA79 hilang kontak,

tapi dia selesaikan dulu narkobanya,

baru pukul 04.00 keluar dari klub malam.

Lusanya,

dia main golf.

Baru habis itu ke Rumah Sakit BSH untuk jenguk Si 38C.

Masih ada yang hidup katanya.

Si 38C dengar…

Iihat…

Termasuk Mas Raldi.

Dia masih hidup ketika pesawat sudah jatuh.

Tapi bantuan datang lambat sekali.

Gimana? Apa aku punya kasus?

Terima kasih, Dik.

- Asalamualaikum, Pak Mukhsin. - Alaikum salam.

Silakan masuk.

Mbak Dita sudah bicara di telepon kemarin.

Ini memang kehendak Allah, Mas.

Aku pasrah.

Uang yang dikasih Pak Adam…

Sudah banyak sekali.

Aku sudah Alhamdulillah.

Mau dikasih lebih banyak, keluargaku sudah di bawah tanah.

Aku tinggal menyusul saja.

Rencanaku cuma pergi ke tanah suci, naik haji.

Pak, yang terjadi kepada kita itu tragedi.

Bisa saja karena kelalaian.

Kalau dibiarkan, Pak, bisa terjadi lagi.

Kalau memang Allah berkehendak demikian, ya akan terjadi lagi.

Aku tidak bisa sendirian, Pak.

Kalau tidak dengan Bapak

dan keluarga yang lain, aku tidak punya kasus.

Kalau aku minta uang 12,5 M, itu tidak ada artinya buat Pak Adam.

Setidaknya kalau dengan Bapak, masih ada uang 75 M yang harus dituntut.

Pak Adam jadi bisa merasakan sedikit saja dukanya!

Aku mau 75 miliar buat apa?

Aku bisa bantu Pak.

Bapak bisa buka usaha.

Bapak bisa mendirikan sekolah, yayasan atas nama keluarga Bapak.

Nanti kalau hasil investigasi sudah keluar,

apa pun hasilnya, kita bisa menuntut lagi.

Nasi sudah menjadi bubur, Pak.

Tidak ada yang bisa mengembalikan istri Bapak,

anak Bapak, cucu Bapak.

Tidak ada yang bisa mengembalikan suamiku.

Jadi, harus ada yang bisa membayar jika ada kelalaian.

Kalau itu memang bisa bantu dukanya Mbak Dita,

baiklah, aku menurut saja.

Aku hubungi keluarga yang lain dulu. Kalian ajak bicara.

Terima kasih ya, Pak.

Adam Saputra memberi uang ke ibuku dua miliar.

Di luar biaya pengobatan.

Rencananya aku mau kembalikan.

Tapi kalau perlu,

Mbak Dita bisa pakai, kalau berkenan.

Suamiku mati dapat 1,25 M.

Dan dia kasih kau yang hidup dua miliar?

Yang hidup 'kan bisa banyak bicara.

Aku juga bisa banyak bicara.

Kita buat konten saja sekarang.

Rekam pembicaraan ini, terus viral.

Memang gampang jadi viral?

Mbak pengikutnya berapa?

Aku tidak punya media sosial.

Kau?

Sebelum kecelakaan sekitar 200-an.

Teman SMA, kuliah, keluarga, mantan pacar.

Sekarang lima ribu. Cukup, Mbak?

- Setidaknya 50.000 gitu. - Mengecewakan ya.

Aku tidak melakukan ini hanya untuk uang.

Jadi, terserah kau mau kau apakan uang itu.

Mau kau simpan,

mau kau kembalikan…

Kecuali kau mau tukar hidupmu buat suamiku, baru aku mau.

Kalau bisa, Mbak, aku kembalikan.

Gampang banget kau bicara begitu.

Semudah kau mau beri aku uang yang kau dapat.

Terus apa? Selesai? Beres?

Rasa bersalahmu terobati?

Ya, aku mau kau kembalikan suamiku.

Tapi 'kan tidak bisa.

Kecuali…

Aku minta keadilan dalam bentuk…

Uang.

♪ Oh ♪

♪ Bagiku kau bintang ♪

♪ Selayak puisi ♪

♪ Tetaplah di sini peri kecilku ♪

♪ Bagiku kau bintang ♪

♪ Selayak puisi ♪

♪ Temani aku selamanya ♪

♪ Selamanya… ♪

Salah Mbak dong!

Di depan Mbak ada apa, mana aku tahu?

Bapak lihat tidak ada motor menyalip?

- Aku tidak mau tahu! - Tolong dipinggirkan!

Ada motor tadi!

- Apa kabar? - Ya, baik.

Mari aku bantu.

- Halo. - Halo.

Aku pikir Bapak akan datang pada acara konferensi pers.

Aku terkejut Bapak tidak jadi datang.

Ke mana aku waktu itu?

Waktu itu Bapak sedang ke Seattle.

Oh, ya, Seattle.

Sangat disayangkan.

Aku sangat ingin bertemu.

Kalau keluarga korban yang lain, Bapak sudah sempat ketemu juga?

Belum.

Sayang sekali belum.

Aku juga sangat ingin bertemu mereka semua.

Kami sebenarnya datang ke sini

- ingin mengemba… - Mami.

Bapak sudah begitu dermawan.

Aku ingin memberikan

uang yang Bapak berikan ke salah satu keluarga korban, Pak.

Aku mendapatkan lebih banyak dari dia.

Aku merasa ini tidak benar.

Urusan kami dengan keluarga korban yang lain

memang masih dalam proses mediasi, Mas Rawa.

Ya, aku mengerti.

Aku memberi tahu ini ke Bapak supaya Pak Adam bisa tahu,

dan tidak kaget, itu saja.

Terima kasih.

Kenapa kau tidak bilang sama Mami

kalau kau tidak jadi kembalikan uangnya?

Mami tidak bermasalah. Itu uangmu.

Tapi Mami merasa seperti orang bodoh tadi.

Tolong ambil sabun, Mi.

Bekas lukamu sudah mulai memudar.

Tapi?

Kau masih belum kembali.

Mami masih menunggumu.

Ini handuknya.

Mami tunggu di luar ya.

Panggil kalau sudah selesai.

Itu aku salah ya?

Memang dosenmu tidak jelas mengajarnya?

Aku kebanyakan bolos, Mas.

Aku malas.

Banyak banget yang sok baik.

"Turut berduka cita ya, Zah."

Tapi di belakang dibicarakan,

"Itu kecelakaan salah bokapnya katanya."

"Kata siapa?"

"Kata TikTok."

Kalau sudah dipos di TikTok, itu artinya berita akurat, ya?

Yah, berita resmi, Mas.

Untung Mama tua, gaptek.

Kalau tidak, bisa lebih stres dia.

Dilihat tetangga saja stres.

Terus kehadiran gimana?

Mantan pacarku yang isi.

Mantan?

Minggu lalu baru aku putusin.

Kasihan dia, ikut dibicarakan.

Tapi masih berteman sampai sekarang.

Dia kasih tahu kalau ada tugas ini, tugas itu.

Tapi kalau belajar tetap sendiri, makanya susah.

Ya, tidak apa-apa, aku bantu.

Pacarmu gimana? Mau diputusin?

Yah, tidak.

Tapi ya sudah lah.

Kenapa jadi tanya-tanya pacar, Mas?

Kalau aku 'kan santai, Mas.

Risiko anak pilot.

Kalau dia anak pedagang.

Aku tidak tahu banyak ya.

Tapi setahuku, papamu sudah melakukan yang terbaik.

Buktinya masih banyak penumpang yang hidup saat pesawat jatuh.

Itu artinya dia sudah berusaha sebaik mungkin.

Membuat kami jadi punya peluang hidup.

Membuat aku jadi punya peluang hidup.

Papa itu…

Pasti sudah meninggal begitu pesawat jatuh, Mas.

Papa pernah bilang begitu.

Ketika pesawat jatuh, pilot hampir tidak pernah selamat.

"Tenang aja, Zahra,

pesawat adalah moda transportasi paling aman."

Bla, bla, bla.

Maaf ya.

Maaf kenapa, Mas?

Yang hidup aku, bukan papamu.

Mas Rawa bicara begini kesannya kayak yang hidup yang paling enak ya?

Papa, kalau selamat,

bisa lebih depresi dari Mama sekarang.

Dengan sebegitu banyak orang meninggal,

padahal tanggung jawab keselamatannya ada di Papa.

Aku bersyukur Mas Rawa yang selamat dan bukan Papa.

Kau pikir mati itu gampang?

Tidak takut kau?

Semalaman itu, kanan, kiri, depan, belakang, itu mati satu per satu.

Sampai aku pikir aku bakal mati juga.

Yah, sampai sekarang pikiran aku masih di situ.

Di mana?

Di ambang kematian.

Sampai bosan aku menunggu

mati tidak datang-datang.

Malah aku sembuh.

Badan yang sembuh, tapi pikiranku masih di situ.

Maksudnya…

Mas Rawa masih kepikiran bakalan mati?

Rasanya seperti sudah mati, tapi hidup lagi.

Aku tidak mengerti, Mas.

Ya, aku juga susah jelaskannya.

Tidak apa-apa, Mas, coba aja.

Aku akan dengar dan coba mengerti.

Tidak perlu ada yang kau dengar, tidak perlu ada yang kau mengerti.

Aku cuma…

Mas Rawa?

Mas?

Mas!

Mas Rawa.

Apa-apaan tarik-tarik?

Tidak mau!

Maksa deh.

Ayo, Mas, kita pulang.

Nanti aku jelaskan di mobil.

Sungguh, Mas. Aku ajak Mas Rawa bukan untuk bikin Kevin cemburu.

Dia tidak percaya, terus malah ajak balikan.

Aku tidak mau balikan, jadi, dia tidak terima.

Bilang masih sayang lah, tidak bisa lupa, kepikiran.

Sedangkan aku? Aku baik-baik saja.

Aku tidak apa-apa tidak ada dia.

Terus untuk apa kau ajak aku malam ini?

Ajak om-om pincang?

Om-om pincang yang ganteng?

Sudah lama tidak ada yang bilang aku ganteng!

Aku rasa Mas Rawa setiap berkaca pasti bilang kalau Mas Rawa ganteng.

Dulu sering berkaca, sekarang tidak pernah.

Aku punya sesuatu lo buat Mas Rawa.

Hadiah.

Itu punya Papa, Mas.

Papa pakai pas kecelakaan.

Di aku dan Mama tidak cocok.

Papa juga tidak punya saudara laki-laki yang lain.

Jadi, anggaplah ini kenang-kenangan dari Papa.

Ini sungguhan?

Ibumu tidak apa-apa?

Aku sudah bilang kok ke Mama.

Mama itu tidak sanggup lihat barang-barang Papa lagi, Mas.

Masuk kamar aja tidak mau.

Aku tahu, Mas…

Tidak bego.

Mas Rawa melihat aku itu anak kecil.

Tapi aku bukan anak kecil lagi, Mas.

Gimana?

Zahra, bukannya aku tidak suka sama kau.

Aku cuma minta semalam saja, Mas.

Aku tidak ada harapan berlanjut juga.

Aku cuma bukan gadis kecil Papa lagi.

Zah.

Zah, Zahra.

Maaf, aku…

Tidak bisa.

Mas Rawa tidak suka ya?

Bukan, bukan aku tidak suka sama kau.

Tapi tidak mau.

Zahra…

Aku cuma tidak mau kau menyesal.

Kasih waktu sedikit lagi buat ibumu ya?

Mama kangen.

Sama, Zahra juga kangen.

Kasih waktu sedikit lagi buat dukamu.

Sebagai representatif para keluarga korban

dari kecelakaan tragis Jakarta Airways 79

tanggal 14 Desember 2024.

Aku Adrian Wirakusuma, Sarjana Hukum,

ingin mengajak saudara sekalian bila sekiranya kita membuka mata.

Sejumlah uang, berapa pun banyaknya,

tidak akan bisa menggantikan

rasa kehilangan keluarga, orang terdekat dan tercinta.

Tapi apakah Pak Adam Saputra bisa terketuk hatinya

di tengah kesibukan, di tengah kebisingan,

dan mungkin juga skandal?

Proses investigasi masih berjalan dan masih belum ada kesimpulan.

Namun, hari ini aku mengajukan permohonan

jumlah yang tertera di dokumen ini

untuk bisa sedikit memudahkan jalan keikhlasan para keluarga

atas tragedi yang menimpa dan segala kelalaian yang mungkin terjadi,

sengaja ataupun tidak sengaja.

"Patricia Turner menyatakan keraguannya"

atas metode investigasi KNKT

yang belum memenuhi standar internasional.

Sebuah kenyataan yang sudah berkali-kali Patricia coba utarakan ke publik.

Tetapi administrasi KNKT memiliki prosedur ketat

yang tidak memungkinkan Patricia untuk memberikan arahan.

Patricia pun menjalankan investigasi mandiri.

"KNKT diharapkan untuk bisa bekerja sama."

Purwanto.

Purwanto.

Di fase ini, pesawat sudah tidak dalam kendali.

Disorientasi ruang tidak bisa diabaikan.

"Patricia berusaha membuktikan"

bagaimana pilot-pilot dengan benar

bereaksi di simulasi kecelakaan.

Berbagai pilot dibawa ke simulator.

Tetapi hasilnya tetap tidak bisa disimpulkan.

Meskipun semua pilot yang mengikuti simulasi

"tak ada yang bisa menyelamatkan pesawat."

- Halo, Mas Rawa? - Aku tidak mengerti.

Semua pilot yang ikut simulasi tidak ada yang bisa menyelamatkan pesawat.

Kenapa tidak disimpulkan ini bukan kelalaian pilot?

Ya, oke, Mas Rawa.

Sebentar aku sambungkan ke Pak Purwanto ya.

Pak, Pak Purwanto?

Pak?

- Mas Rawa telepon. - Oh ya.

Ya, halo, Mas Rawa.

Aku tidak mengerti, Mas. Mas yang buat simulasi.

Kenapa tidak disimpulkan ini bukan kelalaian pilot?

Ya, memang sepertinya bukan.

Kami belum bisa bicara banyak.

Patricia itu ya memang punya aturan sendiri.

Nah, apa yang dia katakan itu bikin pembaca

tidak yakin sama hasil investigasi.

Jadi, apa pun hasil investigasinya,

orang akan berpikir kalau Kapten Dirga itu tidak cakap.

Ya, memang demikian.

Aku sering dihubungi sama pers yang ingin wawancara Rawa.

Kami bisa bantu meluruskan?

Mami.

Tidak perlu, Bu.

Media zaman sekarang sudah sulit dikendalikan.

Di Internet, teori konspirasi yang beredar sudah aneh-aneh.

Mas Rawa jangan Google nama sendiri.

Kau memang tidak bisa dinasihati ya?

Oh ya.

Aku sudah pernah lihat ada yang bilang aku bawa bom ke pesawat.

Kacau.

Gimana kabarmu?

Yah, tanganku sudah oke.

Kakiku…

Mental?

Yah…

Kadang aku tidak tahu lagi mana hari baik mana hari buruk.

Tanggal berapa kita bisa bertemu?

Aku butuh konfirmasi darimu tentang satu hal.

Kami ingin menggali lagi soal ledakan yang pernah kau dengar.

Aku sudah dengar banyak suara ledakan, tapi tidak ada yang yakin.

Kami ada teori baru.

Mungkin saja yang kau dengar kemarin itu semuanya salah.

Kami mau mengadakan simulasi saat terjadi kecelakaan.

Terima kasih.

Terima kasih atas waktunya.

Yang ditandai merah

sesuai dengan lukanya masing-masing.

Terima kasih, Semua.

Kita akan mulai simulasi sebentar lagi.

Kita mulai dari persiapan terbang

dan komunikasi dengan ATC pada pukul 16.53.

Simulasi dimulai dari timecode 16.53.

- Pompa bahan bakar. - Cek.

- Sayap. - Cek.

Ceklis lepas landas lengkap.

JA79 landasan 3-2 kanan,

kau diizinkan lepas landas.

Maaf, Mas. Maaf!

- Masnya 38C? - Ya.

Sudah, santai, tidak apa-apa. Sama saja.

Coba yang satu lagi.

Ada satu lagi.

Bukan, pasti bukan yang ini.

Kita perlu pastikan.

Oke, yang pertama dan kedua diulang.

Yang kedua?

Yang ini.

Kau yakin?

Coba sekali lagi.

Coba lagi!

Yakin.

Terima kasih banyak.

Terima kasih, Semua.

Dapat jawabannya.

- Ibu. - Ya.

Dok, permisi.

- Mari, Bu, aku duluan. - Mari.

Ayo.

Mas Rawa.

Banyak yang hidup waktu pesawat jatuh.

Ibu yang di sini juga.

Kalian lupa bayinya.

Untung kau selamat.

Untung aku selamat.

Dari yang kami dengar di perekam suara kokpit,

disesuaikan dengan reaksi di perekam data penerbangan,

dan juga kesaksian saksi mata hidup,

semua ini konsisten dengan temuan-temuan di TKP

kalau pesawat JA79 mengalami kelelahan material

pada bagian rudder, atau bagian buntut pesawat

yang kami temukan 200 kilometer dari pesisir dekat Surabaya.

Setelah kami telusuri, semua ini berawal dari pemeliharaan pesawat

yang tidak sesuai dengan prosedur lima tahun lalu.

Ini dilakukan oleh maskapai

sehingga menyebabkan kelelahan material atau metal fatigue.

Beban berkali-kali diaplikasikan terhadap bahan metal tersebut

sehingga terjadi kerusakan struktural progresif.

Ini kemudian merobek buntut pesawat

dan segala kontrol kedua pilot terhadap pesawat.

Kami juga sudah menelaah segala tindakan dari kedua pilot

dan keduanya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan pesawat.

Ada kemungkinan bahwa ada momen

di mana pilot dan kopilot mengalami disorientasi ruang

karena tidak mengenakan masker oksigen.

Tapi ketika mereka sudah terbang cukup rendah,

diduga mereka kembali berkesadaran penuh

dan sudah melakukan yang terbaik dari pilihan yang ada.

Di momen buntut terlepas dari badan pesawat,

segala harapan untuk mendarat dengan selamat sudah tidak ada.

Menurut kesaksian Bapak Rawa dan juga hasil autopsi,

ada sekiranya sepuluh penumpang lain yang masih bertahan hidup

dan tidak langsung meninggal dunia ketika pesawat jatuh.

Tapi sayangnya karena…

Akses yang terbatas

dan juga respons pertolongan pertama terhambat cuaca buruk,

cuma satu orang yang bisa diselamatkan.

Investigasi selanjutnya sedang dilaksanakan

meliputi respons dari maskapai dalam upaya penyelamatan dan kooperasi

dalam proses investigasi selama ini.

Hasilnya akan kami umumkan di konferensi pers berikutnya.

Ya, Mas.

Mami, mau kopi?

Kau apa kabar?

Membaik.

Ibumu?

Bisa lebih baik.

Butuh waktu, Mas.

Kita tidak canggung 'kan Mas?

Tidak.

Kau?

Lumayan sebenarnya.

Tapi aku butuh bantuan Mas Rawa.

Apa? Tugas?

Ganti komputer.

Instalasi Linux-nya sudah bermasalah.

Sudah mulai panik.

Ya, ke rumah saja.

Serius, Mas?

Tidak canggung?

Agak sebenarnya, tapi ya sudah.

Mbak Dita sehat?

Alhamdulillah.

Aku Dita.

Istri salah satu penumpang, Pak Raldi Putra Suwarso.

Aku Zahra, anak Pilot Kapten Dirga.

Turut berduka cita ya.

Turut berduka juga, Mbak.

Bisa bicara sebentar?

Boleh, mau di sini?

Di kantin barangkali? Seperti kemarin?

Silakan, Mas.

Nanti kabari saja, telepon kalau mau ke rumah ya.

- Sore mungkin? - Oke, aku tunggu.

Aku dengar Mbak Dita memenangkan kasus dengan Jakarta Airways.

Ya.

Cukup menghibur, Mbak.

Mbak Dita bisa dapat kompensasi,

yah, mungkin tidak akan pernah sesuai.

Tidak ada.

Aku sudah dapat lebih dari cukup.

Aku…

Aku berada di tempat yang cukup sulit, Mbak.

Tapi apa arti rasa bersalah yang sifatnya sementara,

apabila dibandingkan dengan

duka keluarga yang selamanya.

Ini milik Mas Raldi, Mbak.

Hidupku selama ini juga milik Mas Raldi.

Karena untuk selanjutnya,

aku ingin melanjutkan hidupku.

Tentu kalau Mbak Dita berkenan.

Aku memang ingin mendirikan yayasan.

Semacam yayasan bantuan hukum untuk keluarga korban seperti aku,

Pak Mukhsin.

Terdengar sangat baik.

Aku minta maaf.

Minta maaf untuk semua yang pernah kukatakan kepadamu.

Ini…

Suamiku meninggal bukan kesalahanmu.

Tidak apa-apa, Mbak.

Aku salah.

Aku marah.

Sangat marah.

Mbak Dita sedang berduka.

Tidak berarti aku bisa melakukan apa saja.

Aku juga minta maaf.

Karena sudah duduk di kursi suamiku?

Karena sudah bertukar takdir dengan suamiku?

Kalaupun dia duduk di kursinya sendiri…

Belum tentu selamat.

Memang kau yang beruntung.

Atau Mas Raldi yang beruntung.

Rawa pikir Mami sudah duluan.

Mami kangen.

Belum terbiasa kau tidak di rumah lagi.

Akhir minggu ini Rawa ke rumah.

Menginap?

Menginap.

MISTERI KURSI 11A.

MENGAPA SATU ORANG SELAMAT,

DAN 241 LAINNYA TIDAK?

BENCANA AIR INDIA MENEWASKAN 260 ORANG,

SATU WARGA INGGRIS SELAMAT.

PENERBANGAN CUBANA DE AVIACION 0972.

SATU-SATUNYA PENYINTAS KECELAKAAN MAUT

YANG MENEWASKAN 112 ORANG

MENCERITAKAN KENANGAN TERAKHIRNYA

SEBELUM MENJADI JANDA DAN LUMPUH.

103 ORANG TEWAS,

SATU ANAK AJAIB YANG SELAMAT.

SATU-SATUNYA PENYINTAS,

SEORANG ANAK DITARIK DARI BANGKAI PESAWAT

AFRIQIYAH AIRWAYS DI TRIPOLI.

SAAT ITU BERUSIA 12 TAHUN,

DIA MENJADI SATU-SATUNYA PENYINTAS

PENERBANGAN YEMENIA 626.

♪ Selayak puisi ♪

♪ Tetaplah di sini ♪

♪ Peri kecilku ♪

♪ Bagiku kau bintang ♪

♪ Selayak puisi ♪

♪ Temani aku ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Layaknya sang penyair ♪

♪ Yang elok karena puisi ♪

♪ Oh ♪

♪ Oh ♪

♪ Bagiku kau bintang ♪

♪ Selayak puisi ♪

♪ Tetaplah di sini ♪

♪ Peri kecilku ♪

♪ Bagiku kau bintang ♪

♪ Selayak puisi ♪

♪ Temani aku ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Selamanya ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.