Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
GAZA, 29 JANUARI 2024.
TENTARA ISRAEL MEMERINTAHKAN EVAKUASI KAWASAN TEL AL-HAWA.
DRAMATITASI INI DIDASARKAN PADA PERISTIWA NYATA
DAN REKAMAN DARURAT PADA HARI ITU.
SUARA HIND RAJAB
Pusat panggilan darurat Bulan Sabit Merah Palestina
Ramallah, Tepi Barat
52 mil dari Gaza
Kau harus menghentikan pendarahannya.
Bulan Sabit Merah Palestina
Ini Bulan Sabit Merah Palestina. Ada yang bisa kami bantu?
Ambulans sedang menuju ke sana.
Ambulans terdekat sedang menuju ke sana.
Aku tidak bisa mendengarmu.
Baik.
Di ujung Jalan Nazareth, ada bundaran.
Lalu terus lurus.
Terus lurus.
Jangan khawatir, aku bisa melihatmu.
Terus lurus. Posisimu merah di petaku.
Sudah kau selesaikan untukku?
Laporannya.
Sempurna, terima kasih.
Kau tidak apa-apa?
Semua baik-baik saja?
Rana./ Nisreen.
Kau masih di sini? Bukankah kau pulang pagi tadi?
Masih ada satu hal lagi. Aku kelelahan.
Tidak sabar ingin pulang.
Batu, gunting, kertas.
6-3, aku menang telak.
Tunggu sebentar, ada panggilan darurat.
Ruang darurat Bulan Sabit Merah, Ramallah. Saya Omar, ada yang bisa saya bantu?
Panggilan darurat dari Gaza dialihkan ke sini sejak pengeboman.
Tunggu... Di mana?
Gaza?
Tapi kau menelepon dari Jerman?
Baik.
Kirimkan nomor ponsel saudaramu dan lokasi mobilnya.
Baik, terima kasih.
Mahdi?
Ya, Omar.
Aku mungkin butuh ambulans di Gaza utara.
Di utara?
Di SPBU. Biar kucek, tetap denganku.
Di SPBU Fares.
Ada apa ini?
Bashar Hamada, istrinya, dan anak-anaknya sedang mengungsi dari Tel Al-Hawa dengan mobil.
Mereka diserang 400 meter dari rumah mereka,
dekat SPBU Fares pukul 13.00.
Pukul 13.00./ Ya.
Sekarang pukul 14.35. Itu satu setengah jam lalu.
Ya, benar.
Apakah ada yang selamat?
Aku bicara dengan saudaranya di Jerman.
Dia tidak tahu apakah mereka masih bersembunyi di mobil,
atau berhasil melarikan diri dengan berjalan kaki.
Dia panik. Tidak jelas.
Itu zona terlarang.
Tentara menutupnya sejak pagi.
Telepon nomor ini, dia akan menjawab.
Aku punya nomor mereka./ Telepon mereka.
Aku akan menelepon. Tetap denganku.
Berdering.
SUARA-SUARA DI TELEPON INI ASLI.
Halo?
Halo.
Mereka menembaki kami!
Halo.
Mereka menembaki kami!
Tanknya ada di sampingku!
Apakah kau bersembunyi?
Ya, di dalam mobil. Tanknya ada di dekat kami.
Kau di dalam mobil?
Omar?
Apakah dia masih terhubung?
Omar?
Omar, kau perlu bicara dengan Rana. Dia atasanmu.
Omar sedang berbicara dengan seorang gadis di Gaza. Ada penembakan.
Omar?
Kau tidak apa-apa?
Kau perlu konseling? Perlu kuhubungi Nisreen?
Tidak.
Mereka membunuhnya.
Siapa namanya?
Dia tidak sempat mengatakannya.
Omar.
Halo, Omar.
Bagaimana perasaanmu?
Lihat ini?
Kami menempelkannya di meja,
saat kami tidak punya nama atau foto
dari mereka yang meninggal saat panggilan.
Saat kami menerima fotonya,
kami gantung di sana.
Sebagai penghormatan dan bentuk rasa hormat.
Dan itu membantumu...
untuk melangkah maju dan tetap bisa menolong yang lain.
Terima kasih.
Omar.
Jika kau perlu bicara, aku di sini.
Pintuku selalu terbuka untukmu.
Kau bisa meluapkan semuanya.
Baik? Jangan sungkan.
Aku harus kembali bekerja.
Aku pulang. Kau butuh sesuatu?
Tidak apa-apa, pulanglah dan istirahat.
Seorang anak perempuan 6 tahun masih hidup di mobil. Telepon dia.
Rana, kemari!
Ada apa, Omar?
Pamannya bilang seorang anak perempuan 6 tahun masih bersembunyi di dalam mobil.
Baik, telepon dia.
Omar?
Silakan, kau sudah terlatih untuk ini.
Telepon dia.
Aku pulang.
Halo, Paman?
Halo.
Tetap denganku!
Dengar, sayang, fokus.
Ceritakan apa yang terjadi.
Halo?
Tidak ada waktu!
Apa? Kau bersembunyi?
Cepat!
Siapa namamu?
Tidak ada siapa pun bersamaku./ Siapa namamu?
Tidak ada siapa pun bersamaku.
Aku tidak mendengar namamu. Aku Omar, siapa namamu?
Namaku Hanood.
Siapa namamu?
Hanood.
Hanood?
Siapa nama kakakmu?/ Jemput aku.
Di mana kakakmu?/ Jemput aku!
Akan kulakukan, tapi di mana kakakmu?/ Aku tidak punya.
Mahdi?/ Ya, Omar.
Seorang anak perempuan 6 tahun masih bersembunyi di mobil.
Anak 6 tahun di mobil? Lalu yang lain?
Yang lain, aku tidak tahu.
Katanya dia sendirian. Dia masih tersambung denganku.
Siapa yang tersambung denganmu?/ Anak itu.
Apakah dia keluarga Hamada?
Tanyakan padanya.
Hanood?
Siapa nama lengkapmu?
Hind Rajab Hamada.
Hind Rajab Hamada?
Baik.
Rana.
Bersembunyilah di bawah kursi. Jangan biarkan siapa pun melihatmu.
Tetap dengannya.
Baik?
Ya.
Di mana orang tuamu?
Mereka tidak di sini.
Tunggu, ya? Aku akan meneleponmu lagi sekarang.
Tidak. Jemput aku.
Mereka menembak.
Apakah ada perkembangan?
Aku menunggu kabar tim penyelamat mana yang tersedia.
Dia tidak punya waktu. Tolong cepat hubungi mereka lagi.
Tidak ada gunanya menelepon lagi.
Mereka perlu mengumpulkan data dan menghubungiku kembali.
Hanood?
Jangan tutup telepon, aku segera kembali.
Baik.
Kami hanya punya satu tim tersisa di utara.
Hubungi mereka langsung.
Kembali bicara dengan anak itu dan biarkan aku mengurus pekerjaanku.
Hubungi Zaïno langsung.
Ibrahim yang bertanggung jawab atas tim penyelamat di Gaza.
Dia yang memutuskan apakah kami menelepon mereka atau tidak.
Mereka menembaki dia.
Mereka akan membunuhnya, seperti gadis yang lain.
Minta Rana menjemput Omar.
Mahdi.
Mereka menembaki dia.
Ini dia.
Halo, Ibrahim?
Silakan.
Sebentar.
Aku catat dulu. Tunggu sebentar.
Tim penyelamat, Youssef Zaïno.
Youssef Zaïno, temanku.
Pengemudi.
Madhoun, siapa lagi?
Ahmed Madhoun.
Jenis ambulans.
Savana.
1-0-7...
Baik./ Hubungi Zaïno.
Baik, terima kasih. Aku mulai koordinasi.
Koordinasi?
Dia tidak punya waktu!
Aku akan menelepon Zaïno untuk melihat apakah ada solusi lain.
Tidak ada.
Kenapa kau menelepon Zaïno?
Kenapa kau bicara dengannya? Apa kau atasannya?
Tidak, tapi aku ingin menyelamatkan gadis itu!
Bukan tugasmu menyelamatkan gadis itu. Itu tugasku.
Tugasmu adalah menjaga komunikasi dengannya
sementara kami berkoordinasi untuk menyelamatkannya.
Dan mulai sekarang, kenakan jaket Bulan Sabit Merahmu!
Ada apa ini?
Aku mencoba memulai koordinasi
tapi Omar tidak bisa tenang.
Koordinasi?
Semoga kali ini tidak memakan waktu sembilan jam.
Ayo, Omar.
Semoga begitu.
Hind?
Siapa ini?
Namaku Rana. Dan kau Hanood, ya?
Ya.
Zaïno tidak menjawab.
Omar, sudah kukatakan, itu tugasku menelepon Zaïno.
Aku hanya bilang sinyalnya tidak ada.
Tentara mengacaukan semua jaringan telepon di Gaza.
Halo? Palang Merah?
Vanessa?
Kami butuh jalur aman untuk ambulans,
dari gereja Santo Porfirio ke SPBU Fares,
di Tel Al-Hawa, Gaza utara.
Baik, terima kasih.
Itu Zaïno.
Halo, Zaïno?
Ada apa, kawan?
Kau di mana? Di Rumah Sakit Baptis?
Berikan padaku, Omar.
Kau di Rumah Sakit Baptis?
Akan kusambungkan dengan kepala koordinasi,
negosiator utama, sang syahid, sang pahlawan,
Mahdi Aljamal. Silakan.
Halo, Zaïno. Semuanya baik?
Kau bersama Madhoun di Rumah Sakit Baptis?
Bukan di Gereja Santo Porphyrius?
Baik.
Kau berjarak delapan menit dari lokasi.
Tolong, Zaïno, ikuti instruksiku saja.
Baik?
Ya, kawanku.
Kami punya misi yang mustahil untukmu.
Halo, Ibrahim,
aku sudah memulai koordinasi.
Tenang, aku tidak akan mengorbankan tim terakhir kami di utara.
Aku akan menjamin jalur yang aman bagi mereka
sebelum mengirim mereka ke misi.
Halo, Hind.
Kami sudah bicara dengan Hind selama delapan menit.
Ambulans seharusnya sudah menjemputnya sekarang.
Hind?
Sayangku, Hanood.
Ibu?
Sayang, aku akan tetap bersamamu sampai seseorang datang menjemputmu.
Baik?/ Baik.
Sekarang kau bersembunyi di mana? Sudah menemukan tempat aman?
Aku di dalam mobil.
Kau di dalam mobil, bukan di luar, ya?
Ya.
Ada orang di dekatmu? Yang bisa melihat atau bicara denganmu?
Tidak.
Baiklah, sayang.
Kau tadi bersama siapa?
Seluruh keluargaku.
Siapa saja? Ada berapa orang?
Kau tahu nama mereka? Bisa kau sebutkan?
Tidak.
Ibu dan Ayah bersamamu?
Tidak.
Tentara menembaki kalian, ya, sayang?
Hanood, sayang?
Jemput aku!
Baik, sayang, tenanglah. Dengarkan aku.
Aku ingin...
Aku ingin menanyakan beberapa hal. Baik?
Hanood?/ Ya.
Baik, dengarkan aku.
Saat kalian ditembaki,
siapa yang bersamamu?
Ayahmu.../ Seluruh keluargaku.
Ibu dan Ayah bersamamu di dalam mobil?
Atau di luar mobil?
Tidak.
Ibuku tidak meninggal.
Berapa jumlah saudaramu?
Aku hanya punya satu adik.
Berapa usianya?
Tiga tahun.
Adikku di rumah bersama ibuku.
Siapa nama adikmu?/ Iyad.
Zyad?/ Ya.
Kalau nama kakakmu?
Aku tidak punya kakak.
Siapa yang ada di mobil bersamamu?
Tidak ada.
Kau sendirian?/ Ya.
Tidak ada siapa pun bersamamu? Kau sendirian di mobil sekarang?
Ya.
Aku di sini tanpa keluarga, tanpa ibu,
tanpa ayah,
tanpa adik.
Hanya aku dan Sarah.
Sarah? Di mana Sarah?
Sarah ada di sampingku.
Sarah bersamamu sekarang?
Sarah...
Ya.
Hanood, sayang,
Sarah itu yang tadi bicara dengan Paman, ya?
Yang sebelumnya bicara denganmu?/ Tidak.
Apakah Sarah bisa bicara?
Ya.
Sarah terluka? Ada darah di tubuhnya?
Ada darah di tubuhnya, ya.
Sarah di sampingmu atau di kursi depan?
Apa?
Sarah di sampingmu?
Ya.
Sarah bisa bicara? Coba ajak bicara.
Tapi Sarah sedang tidur.
Sarah sedang tidur?
Ya.
Seseorang meneleponku.
Hanood?
Pamannya meneleponku.
Mahdi.
Jangan tanya soal perkembangan.
Aku akan kabari begitu ada jawaban.
Halo.
Kembali ke kantor.
Aku belum pulang atau bertemu anak-anakku dua bulan.
Dan kau tak sanggup bertahan 24 jam?
Kami mengirim ambulans.
Ya, kami kirim ambulans.
Aku ingin bertanya: Siapa Sarah?
Kau punya fotonya?
Baik.
Aku akan tetap menghubungimu.
Terima kasih.
Apa katanya?
Ada anggota keluarga yang bicara dengan Layan dan Hind sebelumnya.
Hanya Layan dan Hind yang hidup./ Siapa Layan?
Gadis yang pertama berbicara denganku. Dia sepupu Hind.
Di dalam mobil ada bibi, paman, dan empat sepupu mereka.
Aku sendirian.
Aku sendiri.
Kau...
Jadi kau satu-satunya yang sadar? Tak ada yang bergerak, berlumuran darah?
Ya, mereka berlumuran darah.
Tolong, jangan tinggalkan aku.
Kalau tidak salah, di dalam mobil ada pamanmu, bibimu,
dan empat anak mereka, dan mereka tidur.
Jadi mereka bersamamu?
Ya.
Biarkan mereka tidur.
Di rumah, saat yang lain tidur, kita tak boleh berisik, 'kan?
Biarkan mereka beristirahat.
Perjalanan pasti melelahkan.
Gadis itu bersama enam jenazah. Hubungi Palang Merah.
Mahdi, dia mengira mereka tidur.
Memang mereka terkena tembakan, memang mereka berdarah.
Tapi sekarang, mereka perlu tidur.
Kau bisa bilang mereka tidur, 'kan?
Aku bilang mereka mati!
Mereka semua mati.
Apa, sayang?
Mereka mati.
Mereka mati?
Ya.
Mereka mati.
Yang ada hanya jenazah.
Seluruh keluargaku.
Mereka semua mati!
Kirim penyelamat! Apa masalahmu?
Mereka cuma butuh 8 menit untuk menyelamatkan gadis itu!
Tanpa koordinasi, 8 menit itu bisa merenggut nyawa mereka, Omar.
Mahdi, mereka berpengalaman, dan telah menyelamatkan banyak nyawa.
Tolong hubungi mereka, ini bukan penyelamatan pertama.
Omar, kau akan membunuhku hari ini.
Lihat semua orang ini?
Perhatikan baik-baik.
Dia punya dua anak.
Dia punya empat.
Tiga perempuan dan satu laki-laki.
Dia baru saja bertunangan.
Aku mengenal mereka.
Mereka punya keluarga, anak-anak, kisah, mimpi, dan harapan.
Seperti kau dan aku.
Dibom. Kami kehilangan semuanya.
Mereka penyelamat terbaik kami.
Aku berjanji akan berhenti,
jika satu foto lagi ditambahkan ke dinding ini.
Kita harus menjamin jalur aman,
yang disetujui tentara, agar penyelamatan bisa dilakukan.
Bagaimana kau bisa berkoordinasi dengan tentara yang membunuh mereka?
Kau bercanda?
Kau bercanda?
Jangan pernah berkoordinasi langsung dengan tentara.
Lewat Palang Merah atau Kementerian Kesehatan Tepi Barat.
Bagaimana mereka menyerangmu?
Mereka menembaki kami.
Dari rumah? Atau mereka berjalan kaki?
Atau dari pesawat?
Tidak, dari tank.
Mereka menembak dari tank?
Ya.
Apa yang kau sukai?
Bagaimana dirimu di sekolah?
Seorang murid.
Ada air di mobil?/ Tidak.
Ada makanan?/ Tidak.
Tak ada apa-apa.
Bicaralah dengannya soal yang lain.
Kau kelas berapa?
Aku di kelas Kupu-kupu.
Apa?/ Kelas Kupu-kupu.
Kau masih prasekolah?
Aku tak bisa mendengarmu.
Aku bilang, kau prasekolah?/ Ya.
Apa nama sekolahmu?
Masa Kecil Bahagia.
Masa Kecil Bahagia?/ Ya.
Kau pintar di sekolah?
Warna apa yang kau sukai?
Aku tak suka apa pun.
Warna apa?
Aku tak suka apa pun!
Bajumu warna apa?/ Aku tak bisa mendengar.
Aku bisa dengar. Bicara padaku.
Biar aku yang bicara dengannya. Dia lebih nyaman denganku.
Tunggu, Hanood.
Aku sendirian.
Aku tahu kau sendirian.
Tapi Tuhan bersama kita.
Tetaplah bersamaku.
Aku bersamamu.
Aku bersamamu, sayang.
Sampai seseorang datang menjemputmu. Aku tak akan meninggalkanmu.
Apa?
Saat mereka datang, apa kau akan menutup telepon?
Tidak, aku tetap bersamamu.
Aku bersamamu.
Jika ada tentara datang, jangan tutup telepon, tetap di saluran.
Aku bersamamu.
Hanood, sayang?
Mari kita bicara,
tapi aku ingin kau melihat ke luar jendela.
Kalau kau bisa, tentu saja.
Tapi kalau kau lebih memilih tak melihat apa-apa dan bersembunyi, lakukan itu.
Dari jendela, bisakah kau melihat apa yang terjadi di luar?
Apa, sayang?
Mereka menembaki aku!
Mereka menembaki dia.
Katakan, apa yang kau sukai?
Tolong, jemput aku!
Aku takut.
Ulangi: Ya Allah...
Lindungi kami...
Mau kami bacakan Al-Qur'an?
Baik.
Mari kita berdoa, ya?
Ya.
Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Pemilik hari pembalasan.
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.
Bukan jalan mereka yang dimurkai,
dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Amin.
Allah Maha Benar dengan firman-Nya.
Bagus sekali, bacaanmu indah.
Tolong jemput aku.
Jangan menangis, mau doa lagi?
Tank itu ada di dekatku.
Di mana tank-nya?/ Di dekatku.
Tank itu di dekatmu?
Apakah bergerak atau berhenti? Ada yang turun?
Tidak, bergerak maju.
Bergerak?/ Ya.
Datangnya dari samping, dari belakang, atau dari depan?
Dari depan.
Dari depan mobil?
Ya.
Dekat?/ Sangat, sangat dekat.
Mengarah ke arahmu?/ Tank-tank itu sudah di sini!
Tolong, datanglah.
Tank-tank itu datang!
Sinyalnya buruk, aku akan meneleponnya lagi.
Tidak, tolong, lakukan sesuatu. Kau harus mendesak mereka.
Aku tahu...
Tolong
Tank-tank itu datang!
Sangat, sangat dekat.
Mengarah ke arahmu?/ Tank-tank itu sudah di sini!
Tolong, datanglah.
Tank-tank itu datang!
Mengarah ke arahmu?/ Tank-tank itu sudah di sini!
Tolong, datanglah.
Tank-tank itu datang!
Apa yang terjadi?
Aku mencoba meneleponnya kembali.
Kami berbicara dengannya selama satu jam.
Kami hanya butuh 8 menit untuk menyelamatkannya.
Permisi.
Seorang pria bernama Mohamed Hamada terus menelepon.
Dia ingin bicara dengan kepala koordinasi. Di saluran dua.
Itu pamannya. Bicara dengannya.
Kau tak boleh merokok di sini.
Aku tahu ini lama.
Karena ambulans kami
berjarak 8 menit dari gadis itu.
Namun untuk mengirimkannya, kami harus menghubungi Palang Merah.
Bukan di Jenewa. Mereka punya kantor di Yerusalem.
Lalu mereka menghubungi COGAT.
COGAT?
Itu unit di Kementerian Pertahanan Israel,
yang mengoordinasikan aktivitas di wilayah pendudukan.
Bukan tentara di lapangan.
Ini perantara lain.
Tentara di lapangan mengirimkan rute aman,
agar ambulans kami bisa bergerak tanpa dijadikan sasaran.
Tapi mereka tidak mengirimkannya langsung kepada kami.
Itu lewat COGAT, lalu ke Palang Merah.
Palang Merah yang mengirimkan rutenya kepada kami.
Namun menerima rute bukan berarti kami sudah mendapat izin.
Izin untuk mengerahkan ambulans adalah langkah lain dari awal sampai akhir.
Aku harus mengikuti prosedur ini secara ketat,
karena jika tidak, mereka bisa menembaki ambulans kami,
lalu menyalahkan kami.
Aku tahu.
Aku tahu, di tempat lain, ambulans akan langsung dikirim.
Satu-satunya cara adalah melompat dari gedung ke gedung.
Menempel di dinding.
Ya, seperti Spiderman.
Jaraknya 40 menit, paling lama satu jam. Kau bisa, Madhoun.
Madhoun, kau tidak pergi ke mana-mana sebelum aku bilang!
Apa yang kau lakukan?/ Lalu kau?
Apa yang kau lakukan?
Mereka bisa menyelamatkan banyak nyawa. Kenapa kau bersikap seperti ini?
Ini hal yang benar.
Apa maksudmu?
Mereka akan menyelamatkannya. Mereka pahlawan sejati, tidak seperti kau,
pengecut yang bersembunyi di balik meja!
Aku pengecut?
Persetan izinmu! Persetan koordinasimu!
Orang-orang mati setiap detik!
Setiap detik!/ Kau ingin mereka mati juga?
Karena orang-orang sepertimulah kami dijajah!
Tidak, tidak.
Dia belum meninggal.
Nisreen, tolong kemari.
Tarik napas dalam-dalam.
Aku tidak bisa menyelamatkannya.
Aku mengerti.
Minum air sedikit.
Minum.
Tarik napas dalam-dalam.
Lihat aku.
Kau sudah melakukan yang terbaik.
Tarik napas dalam-dalam.
Kau sudah melakukan yang terbaik.
Mari keluar sebentar, ambil udara segar.
Ayo, sayang.
Rokok?/ Kau tidak boleh merokok di sini.
Halo.
Belum?
Terima kasih sudah menelepon...
tapi ini tidak perlukan lagi.
Kami kehilangan anak itu.
Seorang perempuan yang akan melahirkan menelepon.
Dia sendirian dan terkepung,
bersama adik perempuannya yang berusia 10 tahun.
Kami menelepon seorang dokter kandungan yang membantu lewat telepon.
Ia membimbing si adik tentang apa yang harus dilakukan.
Langkah demi langkah.
Aku terus di telepon.
Itu berlangsung lima jam.
Dia melahirkan.
Mendengar tangisan bayi itu sangat ajaib.
Aku merasa sangat berguna.
Aku tidak bisa menggambarkannya.
Aku berdandan. Riasan lengkap!
Aku tidak tahu kenapa.
Bisakah kau kirimkan nomor ibunya?
Halo.
Apakah kau ibu Hind?
Aku menelepon dari Bulan Sabit Merah.
Bolehkah aku bertanya?
Tolong dengarkan, jangan berteriak.
Aku hanya punya satu pertanyaan.
Kapan terakhir kali kau berbicara dengan Hind?
Baru saja, sebelum aku meneleponmu?
Baik!
Anaknya masih hidup! Ikut aku.
Dia masih hidup!
Hanood!
Jangan tutup telepon. Tetap di sana.
Ini, pegang ini.
Hai, Vanessa, apa kabar?
Anak itu masih hidup.
Tidak, tolong, pulihkan kembali koordinasinya.
Apakah dia bilang, "maaf"?
Tapi kenapa?/ Kenapa?
Sebentar lagi gelap.
Apa?
Sebentar lagi gelap. Aku takut.
Bisa bicara sedikit lebih keras?
Aku tahu seluruh Gaza butuh bantuan./ Hubungi pihak tentara lagi!
Serahkan ke aku, Mahdi.
Halo?
Tidak. Dengarkan aku.
Mereka menembaki mobil dengan seorang anak perempuan didalamnya.
Bisakah kau bayangkan itu?
Kau bicara dengan siapa? Jadi, lakukan sesuatu!
Persetan kau!
Dia bilang, "maaf"! Diamlah!
Aku tidak mau menerima ini!
Omar.
Apa yang terjadi?
Palang Merah tidak mau mengoordinasikan lagi.
Lalu kenapa? Bukan masalah besar.
Hubungi Kementerian Kesehatan kita. Kau masih punya pilihan.
Halo, Dokter.
Mahdi berbicara, dari Bulan Sabit Merah.
Mohon izinkan aku meminta,
agar kau berkoordinasi dengan tentara dan mengirim ambulans?
Seorang anak perempuan terjebak di mobil bersama jenazah keluarganya.
Dikepung tank dan pengeboman.
Lokasinya sedang dikepung. Kami butuh koordinasi.
Terima kasih, Dokter.
Aku akan menunggu kabar darimu.
Aku akan mengirimkan detailnya. Tim penyelamat kami siap.
Ada apa?
Kita kembali lagi.
Apa?/ Kembali ke titik awal.
Kau dengar?
Ya, sayang.
Mereka menembakiku.
Aku dengar mereka menembakimu.
Tolong jemput aku.
Tolong, datanglah!/ Sayang...
Aku sendirian!
Sungguh,
andai aku bisa datang.
Suruh suamimu membawamu ke sini.
Suruh suamiku membawaku ke kamu?
Ya.
Suamiku sedang bekerja.
Dia tidak bisa menjemputku.
Hubungi dia.
Kau ingin aku menghubunginya?
Ya.
Baik, aku akan menghubunginya.
Masih belum ada kabar?
Kami sedang bicara dengan Kementerian Kesehatan.
Lalu?/ Kami menunggu.
Suamiku jauh sekali.
Kami tidak bisa datang segera.
Kami tinggal sangat jauh.
Jam berapa sekarang?/ Apa?
Jam berapa sekarang? Aku takut gelap.
Kau bilang mulai gelap, bukan?
Tapi masih ada sedikit cahaya.
Kita masih punya waktu.
Aku sudah menghubungi banyak orang. Aku bahkan menghubungi duta besar.
Aku butuh bantuanmu.
Aku butuh kontak yang berpengaruh.
Aku tahu kantornya sudah tutup. Aku butuh kontak pribadi.
Aku mengerti, Bu, sungguh aku mengerti, tapi...
Aku benar-benar mengerti.
Baik, Bu. Rekanku sedang mencoba menenangkannya.
Itu ibu Hind. Bicaralah dengannya, aku tidak sanggup lagi.
Apakah putramu ada di sampingmu?
Syukurlah!
Kami berharap bisa mengembalikan Hind kepadamu.
Semoga kalian bisa bersama lagi.
Tolong, aku takut. Tolong datang.
Sudah gelap. Datanglah!
Tenanglah.
Kau membuatnya semakin tertekan.
Bawa aku pergi!
Kami akan datang, sayang, tapi bukan aku.
Datanglah!
Andai aku bisa datang... aku tidak punya kuasa itu.
Tapi seperti yang kukatakan,
kami sedang mengatur koordinasi. Semoga berhasil.
Apa?
Apa itu koordinasi?
Jelaskan padanya seolah-olah itu keluarga.
Begini, di Bulan Sabit Merah,
aku, saudara-saudariku, kami punya seorang ayah, ya?
Dan tentara di dalam tank itu
juga punya ayah, ya?
Ayah kami harus berbicara dengan ayah mereka,
agar kami bisa mengirim saudara kami untuk menyelamatkanmu,
dan anak-anaknya tidak menembakinya.
Tapi sekarang mereka menembak.
Ya, aku bisa mendengar mereka sedang menembak.
Hubungi seseorang untuk menjemputku.
Hubungi paman-pamanku dan... hubungi mereka...
dan suruh mereka datang menjemputku.
Siapa?
Sebentar, ya. Leila perlu mengambil rekamannya.
Kami akan mengunggahnya ke media sosial,
dan mengirimkannya ke pers.
Ya, tentu.
Kemarilah, tarik napas sebentar.
Leila, cepat, aku harus meneleponnya lagi.
Boleh aku minta headset lain?
Headset ini berfungsi dengan baik./ Tidak, tidak berfungsi.
Karena dia jauh dari telepon.
Aku ingin bicara dengannya. Nisreen, biarkan aku bicara dengannya.
Biarkan aku bicara dengannya!/ Kau akan merusaknya!
Berikan padaku!/ Rana, tenanglah.
Tinggalkan aku, Nisreen. Tolong!
Kau akan membuat anak itu tertekan.
Yang penting dia selamat./ Kau harus tenang.
Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku! Aku bisa mati!
Rana, kau harus menenangkan diri.
Kenapa kau berteriak? Ada apa denganmu?
Matamu?
Hanood, sayang.
Sayangku.
Bicaralah denganku, cintaku, tapi tenang.
Karena aku tidak bisa mendengarmu.
Dan jangan tutup telepon. Tetap di sana.
Baik.
Sayang./ Ya?
Aku hanya ingin bertanya.
Apakah matamu sakit?
Apa yang terjadi? Suaramu tidak selalu jelas.
Bicara perlahan, agar aku bisa mendengarmu.
Aku tidak dengar namamu. Namaku Omar.
Bisakah kau tulis dalam bahasa Inggris juga?
Namaku Hanood.
Mereka menembak.
Baik, bersembunyilah di bawah kursi.
Tidak. Jemput aku.
Mereka menembak ke arahku.
Aku takut!
Dia bilang dia takut.
Aku terluka!
Siapa yang terluka?
Jemput aku.
Dia bilang dia terluka?
Terluka?
Dia berdarah! Dia terluka, lakukan sesuatu!
Sebarkan bahwa dia terluka dan berdarah.
Itu ide bagus.
Dan jangan lupa tulis dalam bahasa Inggris.
"Dia terluka."
Serius? Lihat media sosial.
Lihat mereka.
Perhatikan baik-baik.
Tubuh anak-anak tercabik di pinggir jalan.
Kau benar-benar pikir suara seorang gadis kecil yang ketakutan
akan membangkitkan empati mereka?
Dia butuh ambulans.
Tim penyelamat!
Omar, aku mohon. Kami semua tegang.
Hind, sayang?
Apakah kau terluka?
Aktifkan pengeras suara.
Seorang dokter?
Kau ingin bertemu dokter?
Dokternya harus datang.
Sayang, aku sudah bicara dengan dokter. Dia akan datang menjemputmu.
Tetap di tempatmu, ya?
Dia terluka./ Dia tidak terdengar terluka.
Mungkin ada darah di tubuhnya, dari mayat di sekelilingnya.
Kau tahu jalan pulang?
Ya, aku tahu rumahku di mana.
Apa?
Tapi jemput aku.
Jangan bergerak, sayang. Tetap di mobil.
Sulit bernapas./ Apa, sayang?
Aku terjepit, tidak bisa keluar. Jemput aku.
Mereka mengelilingimu. Jika kau keluar, kami tidak tahu apa yang akan terjadi.
Terputus. Bangun, Omar.
Dokter. Ada kabar?
Ini Kementerian Kesehatan?
Ya, aku yang menelepon duta besar.
Ya, aku tahu prosedurnya. Satu perantara saja.
Itu hanya panggilan informal.
Gadis kecil itu berdarah dan kami...
Kami benar-benar tidak tahu harus apa.
Apakah kami mendapat lampu hijau?
Berikan padaku.
Dokter.
Dokter, koordinasi jelas akan berlangsung semalaman.
Aku punya ide yang lebih baik.
Bisakah kau menelepon tentara
dan bilang ada seorang gadis kecil yang meminta pertolongan?
Mereka hanya perlu mengeluarkannya dari sana,
lalu mengambil beberapa foto untuk propaganda mereka.
Katakan agar mereka membiarkannya hidup. Dia tahu jalan pulang.
Jika aku tentara Israel, aku akan melakukannya.
Menurutmu kita tinggal di mana?
Kau sungguh pikir mereka belum melihatnya?
Tank mereka dilengkapi sensor inframerah.
Cahaya merah yang mendeteksi panas. Mayat tidak terdeteksi.
Dia akan terlihat merah di alat pendeteksi mereka.
Mereka mungkin juga mendengarnya.
Suaranya hilang.
Aku tidak mendengarnya.
Dia bernapas, dia bisa mendengarmu.
Baik.
Kau tahu, aku sudah mencoba meneleponmu.
Dengan telepon, memastikan kau baik-baik saja,
tapi Paman Omar mendahuluiku.
Paman Omar selalu selangkah di depanku.
Dia selalu sigap.
Apakah kita kehilangannya?
Bukankah itu akan memudahkanmu.
Diam.
Kau tahu, jika aku punya anak perempuan, aku akan menamainya Hanood.
Bisakah kau mendengarku?
Dia mendengarmu.
Hanood, apakah kau mematikan mikrofon?
Apa yang kau mau?/ Apa yang kau sembunyikan?
Buka laptopnya./ Tidak.
Kalau begitu, geser./ Aku tidak mau.
Ini bukan urusanmu.
Selamat malam, Dokter.
Baru saja aku menerimanya.
Terima kasih banyak.
Buka laptopnya. Geser.
Omar, cukup.
Geser!/ Tidak.
Kau akan geser./ Tidak mungkin.
Buka laptopnya./ Tidak.
Apa yang kau sembunyikan?
Buka laptopnya, tolong.
Akhirnya!
Hubungi tim penyelamat./ Tidak. Gadis itu tidak bicara.
Dia masih hidup.
Tadi dia berdarah, sekarang dia diam.
Dia bisa mendengar kita.
Kita terus berjanji akan datang. Dia tidak percaya lagi.
Gadis itu masih bernapas dan masih hidup.
Tolong, bicara dengan mereka!
Meski dia hidup, kita tetap butuh lampu hijau.
Lampu hijau.
Berikan itu./ Ponselku!
Mahdi, kembalikan ponselku!
Jangan sentuh!
Kembalikan ponselku!
Apa sudah kukatakan saudara-saudariku di Bulan Sabit Merah
sedang berkoordinasi?
Sumpah, kami melakukan semampu kami.
Kami perlu koordinasi untuk ke sana.
Rana.
Rana, sayang, biarkan aku bicara dengannya.
Biarkan aku bicara dengannya.
Biar aku coba. Semua akan baik-baik saja.
Beristirahatlah.
Berikan padaku.
Aku tahu jiwamu kuat.
Jiwa seorang pejuang
yang mencintai hidup.
Sekarang aku ingin kau menarik napas.
Tarikan napas yang dalam.
Bayangkan...
Bayangkan
kau sedang mencium bunga.
Cium bunganya,
tahan udara yang kau hirup.
Tahan sebentar.
Tahan sebentar.
Lalu bayangkan
meniup lilin.
Dan kita akan bisa...
Tarik napas, lalu hembuskan.
Tarik napas,
hembuskan.
Hembusan yang panjang.
Tarik napas dalam, seperti yang kita katakan.
Kita mencium bunga.
Lalu meniup lilin.
Pejamkan matamu.
Dan ingatlah laut.
Matahari yang menyinari laut.
Ingat,
bagaimana kau berenang di laut.
Bagaimana kau bermain di air dan pasir.
Semua pemandangan itu.
Ingatlah itu. Bayangkan semuanya di depanmu.
Bayangkan laut Gaza.
Pasir Gaza.
Pantainya, lembut dan menenangkan.
Betapa menenangkannya
saat kau berjalan tanpa alas kaki di pasir.
Rana?
Ya, sayang.
Itu dia!
Hanood, sayangku. Aku mendengarmu.
Ya, Hanood?
Siapa kau?/ Aku Nisreen, sayang.
Aku saudari Rana. Aku Nisreen.
Apa, Hanood?
Tolong selamatkan aku.
Aku akan tetap di sambungan ini denganmu
sampai kau melihat seseorang dari Bulan Sabit Merah di sisimu.
Kami akan menyelamatkanmu, sayang.
Baik, sayang?
Halo, Dokter.
Gadis itu masih di sambungan, dia memohon pada kami.
Ada kabar soal lampu hijau?
Aku sangat senang akhirnya mendengar suaramu.
Jadi?
Masih belum ada lampu hijau.
Mereka menunggu apa?
Apa yang bisa kukatakan? Aku tidak membuat aturannya.
Sudah kukatakan berkali-kali. Tanpa lampu hijau, tidak ada ambulans.
Mahdi, ibu Hind berteriak di telepon.
Maukah kau bicara dengannya?
Kita harus menyelamatkannya. Aku mohon.
Kita hanya butuh 8 menit untuk menyelamatkannya. Kita sudah membahas ini berjam-jam!
Mahdi, kembalikan ponselku.
Tinggalkan aku sendiri./ Aku akan bicara dengan mereka.
Mahdi, kembalikan ponselku.
Aku tidak akan keluar sampai kita mendapat lampu hijau.
Tolong kembalikan ponselku.
Ayo, Mahdi.
Ayo, mainkan.
Ayo, Mahdi.
Cepat jemput aku.
Kami akan segera ke sana.
Selamatkan aku.
Tentu, hartaku.
Ya, sayang.
Seperti yang kujanjikan.
Aku sekarat.
Sayangku, kau baik-baik saja.
Kau hidup, kau bernapas, dan kau sedang berbicara denganku.
Aku sekarat!
Kami dapat lampu hijau.
Kami dapat lampu hijau!
Mahdi, kita dapat lampu hijau!
Hind? Hanood?/ Ya.
Kami akan menjemputmu.
Ya, Zaïno, aku dengar.
Baik.
Jalan tempatku berada adalah...
Jalan Jamal Abdel Nasser. Tepat sekali. Lalu belok kiri.
Mereka berangkat.
Kalian akan segera sampai. Kau dan Madhoun pasti bisa.
Ya, Bu. Ambulans sedang menuju ke sana.
Aku aktifkan pengeras suara. Putrimu bisa mendengarmu.
Kau bisa bicara dengannya. Dia bisa mendengar.
Hanood?/ Ya.
Ibu mencintaimu. Kami semua mencintaimu, sayang.
Kau baik-baik saja?/ Ya.
Hati-hati.
Ya.
Jangan takut, beranilah seperti singa betina.
Baik, sayang?/ Ya.
Mereka sedang menuju ke sana. Jangan takut.
Kami dalam perjalanan, sudah sangat dekat.
Mereka hampir sampai, sayang.
Ya?/ Ya.
Sambungan terputus.
Apa yang terjadi?
Mahdi, kenapa mereka berhenti?
Mereka tidak bergerak sekarang.
Tidak ada jaringan, sambungan terputus.
Hubungi lagi. Coba Madhoun jika Zaïno tidak menjawab.
Madhoun tidak menjawab. Tidak ada jaringan.
Mungkin dia.../ Tidak.
Zaïno, kenapa kau tidak bergerak?
Jangan bergerak. Tunggu panggilanku, ya?
Baik, tunggu panggilanku.
Ada apa?/ Jalannya terhalang.
Bangunan yang dibom runtuh. Mereka pasti mengubah rute.
Mereka sudah sangat dekat./ Sekarang tidak terlihat begitu.
Peta belum diperbarui. Semuanya hancur.
Hanood, sayang?
Mobilnya akan tiba sebentar lagi, sepuluh menit. Jalannya agak...
Halo, Dokter.
Sulit./ Sangat sulit, jadi...
Ambulans terjebak
di persimpangan Jalan Dahchane dan Jalan Al-Seena.
Atau sisa-sisanya.
Petugas kami... Kami perlu memperbaiki rute.
Semoga Tuhan melembutkan hati-hati yang keras terhadapmu.
Ya, Dokter.
Hanood?
Mereka tidak akan bergerak tanpa izin tentara.
Jangan tutup telepon.
Aku di sini.
Kau cintaku, sayang.
Zaïno?
Aku punya perubahan rute.
Ya, ini dari tentara.
Belok kiri dan maju lima meter, tidak lebih.
Berhenti setelah lima meter saja.
Lalu belok kiri, kau kembali ke rute semula.
Syukurlah.
Ayo...
Hanood, sayang.
Satu menit lagi. Mobil bergerak pelan.
Kabar baik dari Paman Omar!
Aku di...
Aku tidak yakin. Aku belok kanan dari...
Itu Jalan Liga Arab, 'kan?/ Tepat.
Belok kanan. Jaraknya 400 atau 500 meter, paling jauh.
Bu, mereka sudah dekat dengannya. Sekitar seperempat mil.
Hanya 400 meter. Mereka tepat di belakangnya.
Aku bersamamu, sayang. Mereka sedang menuju ke sana.
Mereka mengarahkan laser hijau ke arahmu?
Baik, itu berarti mereka sudah mengenalimu.
Kalian sudah berkoordinasi?
Aku di...
Sudah ada koordinasi, Bu.
Apa?/ Aku sedang bicara dengan keluarga.
Kami sudah berkoordinasi. Kami mengerjakannya selama tiga jam.
Jangan khawatir.
Stasiun Fares?/ Ya. Kau sudah dekat?
Aku hampir sampai. Apakah gadis kecil itu ada di sana?
Gadis kecil itu ada di dalam mobil dengan lubang peluru.
Ada lampu merah di kejauhan.
Bisakah kau mendengar sirene ambulans?
Haruskah aku mendekati gadis kecil itu?
Bisakah kau melihat mobilnya?
Tidak, aku tidak melihat apa pun.
Apakah kau menyalakan sirene dan lampu?
Bukan sirenenya.
Tapi aku menyalakan lampunya.
Itu dia!
Orang yang Anda hubungi sedang tidak tersedia saat ini.
Kami kehilangan mereka./ Tidak.
Tidak.
Sambungan terputus. Tolong hubungi mereka lagi.
Tanyakan padanya apakah ada tembakan.
Apakah ada tembakan, Hind?
Hanood, apakah ada tembakan?
Ya.
Apakah ada tembakan atau tidak?/ Dia bilang ya.
Kurasa dia menjawab otomatis.
Tolong pastikan lagi. Informasi ini sangat penting.
Sayangku.
Ya.
Apakah ada tembakan?/ Ya.
Hanood, sayang, ini Paman Omar yang bicara.
Hanood, sayang?/ Ya.
Bisakah kau berkonsentrasi sedikit, seperti tadi siang?
Ya./ Baik, ayo.
Apakah kau mendengar tembakan seperti sebelumnya?
Ya./ Kau yakin?
Ya.
Jadi dia mendengar tembakan?
Ya, dia mendengarnya.
Apakah ada yang datang menemuinya?
Bolehkah aku bertanya sesuatu?
Bisakah kau menanyakan...
Bisakah kau menanyakan pada Hanood apakah ada yang datang menemuinya?
Apakah para penyelamat kita datang?
Hanood, apakah ada yang datang?/ Tidak.
Apakah ada yang mencarimu?/ Tidak.
Apakah ambulansnya sudah di sana?
Tidak.
Apakah kau tidak punya informasi?
Yang kami tahu.../ Mereka sangat dekat.
Ambulans sangat dekat dengannya, tapi sepertinya...
Kami kehilangan kontak.
Mungkin mereka menunggu izin untuk lewat, mereka sangat dekat.
Kami bisa melihat mereka di komputer.
Kami mencoba menghubungi mereka, tapi sambungannya...
Mari berharap bahwa... Dia akan melihat mereka sebentar lagi.
Ada kabar, Dokter?
Gadis kecil itu menunggu mereka. Mereka sudah dekat.
Mereka sudah masuk ke Jalan Liga Arab.
Semoga Tuhan melindungimu, sayangku.
Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.
Tapi dia harus bersembunyi, seperti yang dikatakan Paman Omar.
Bersembunyi di antara kursi dan lindungi kepalamu.
Dia cerdas, dia tahu apa yang harus dilakukan.
Ibu akan menunggumu, sayang.
Cintaku, sayangku. Cinta Ibu.
Suara Hind menghilang pada pukul 19:30.
Setelah itu, kontak dengan Hind terputus.
Setiap hari, aku pergi ke Rumah Sakit Baptist
untuk menunggu putriku.
Aku yakin bahwa putriku masih hidup.
Mungkin dia bersama para penyelamat, mungkin tentara membawanya.
Ada begitu banyak kemungkinan.
Aku terus berkata bahwa putriku masih hidup dan baik-baik saja.
Nasib Hind, Zaino, dan Madhoun tidak diketahui selama 12 hari di bawah pengepungan,
hingga tentara Israel mundur.
355 peluru menghantam mobil keluarga Hamada.
Keluarga Hamada
Hind mencintai laut.
Laut seperti sahabat baginya.
Dia sering berkata: "Aku hanya ingin perang ini berakhir,
agar aku bisa pergi ke laut dan bermain di pasir."
Terjemahan oleh Dust
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.