All language subtitles for Dia Bukan Ibu 2025 1080p NF WEB-DL.x264.6CH-Pahe.in

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

DIA ADALAH MONSTER, TAPI DIA ADALAH MONSTERKU

Ibu…

Ibu…

Ibu…

Ibu…

Ibu, kenapa kucing itu makan anaknya sendiri?

And… Action…

Dino, action.

Iya, iya.

Aduh, gimana, sih? nggak ada elegannya sama sekali.

Mataku minus banyak, kayak Kakak.

Makanya pakai kaca mata, narsis.

Jalan lurus aja nggak bisa, ngakunya bisa lihat hantu.

Itu beda, kalau itu 'kan, pakai…

Mata batin.

Oke.

Belum dapat, retake.

Vira! Dino! ayo.

Yah…

Yuk.

Sepertinya ada yang nggak sabar untuk pindah.

Iya, nggak sabar banget.

- Apaan, sih? - Apaan, sih?

- Apaan, sih? - Apaan, sih?

Idih, mukul.

Bu, aku nggak mau sekamar sama Kak Vira.

Kayak Kakak mau aja sekamar sama kamu.

Ya, boleh, nanti kalau kamu udah mimpi basah.

Kering!

Di rumah lama aku punya kamar sendiri.

Kangen banget,

kamu udah tinggi banget, gila.

Vira sayang. Aduh, sini.

Berisik.

- Bagaimana sekolah? - Aman.

Om Mal ada sesuatu buat kamu.

Apa?

Lukisan Dorian Gray. Tentang apa ini, Om?

Nggak tau! Temen Om Mal ada yang mau buang, Om Mal minta aja.

- Thanks, Om. - Gimana?

Tadaa!

Dino, siap?

Pegangin dulu…

- Siap? - Oke, yuk!

- Kamera roll. - Mbak.

Siap… dan action!

Hai, Guys!

Kembali lagi bersama aku Dino…

- Kita ada dirumah. Yang jelek ini. - Cut!

Bisa lebih negatif lagi?

Ini udah bagus. Bahasanya terlalu baku, nggak?

Semua film Indo bahasanya baku.

Ini 'kan, bukan film.

Guys…

Aku yakin ditempat ini ada kejadian buruk.

Aku takut kalau hal buruk itu akan terjadi lagi.

Halo…

Kalian ngapain dari tadi?

Ini adalah Om Jamal,

entah kenapa dia tidak beruntung dalam hal perjodohan.

- Maupun dalam hal keuangan. - Kalian bikin film apa, sih?

Nih si centil, mau bikin konten horor.

- Yoi… - Emang kamu bisa lihat hantu?

Aku punya indra yang tajam, Om.

Udah, yuk keatas yuk.

- Kayaknya kalian bikin itu asyik banget. - Iya, dong!

Om ikutan, dong, jadi apaan gitu.

Om kayaknya belum keren.

Gimana caranya?

Om Mal pokoknya harus, bisa jelas secara ngomong.

Biar penontonnya…

Kak!

Ayo mau lanjut, nggak?

Jadi, itu kamar ibu kalian.

Ada kamar mandi di dalam.

Ini kamar kalian. Nah itu, kamar mandi kalian.

Aku sekamar sama Vira?

Aku udah besar. Harusnya punya kamar sendiri.

Makanya, cepetan mimpi basahnya.

Telat, ya, pubernya?

Vira…

Ibu belakangan ini gimana?

Ibu belakangan aneh, Om.

Maksudnya?

Banyak banget minum susunya. Sepotong ayam hidup-hidup.

- Terus biasanya… - Tapi udah nggak begitu lagi, 'kan?

Ya udah, kalo ada apa-apa cerita sama Om Mal, ya!

Emang kenapa, Om?

Kenapa?

Salon Ibu.

Akhirnya kesampean juga, ya?

Itu main apa, sih, Om?

Nggak kapok judi online mulu?

Kapoknya, sih, sering.

Tapi Dinosaurus, Sayang, Om Mal cuma perlu beruntung sekali aja.

Ya, sini, tangan aku hoki, beneran.

- Beneran, ya? - Beneran!

Sebelum kita mulai makan.

Ada yang mau Ibu sampaikan.

Sejak bapak kalian ninggalin kita dua tahun yang lalu.

Ibu sempat…

Jatuh.

Dan itu nggak gampang buat kalian.

Ibu minta maaf.

Udah nyusahin kalian.

Tapi Ibu juga terima kasih.

Karena kalian nggak pernah nyerah buat bikin Ibu bangkit lagi.

Makanya Ibu bertekat.

Buat mulai hidup yang baru.

Ibu janji.

Nggak akan bergantung lagi, sama siapa pun.

Kita semua masih di sini, Bu.

Pokoknya kalau Ibu perlu apa-apa, kita pasti bantu.

Carmuk banget, sih, Kak.

Ibu udah bukan Ibu yang dulu lagi.

Ibu udah berubah.

Buat Ibu!

Buat Ibu!

Kalian itu pas banget, ya.

Pindahnya pas liburan panjang.

Padahal aku bolos juga nggak apa-apa.

Om Mal juga sering bolos.

Pantesan nggak ada cewek yang mau deketin Om Mal.

Udah pernah disiram air panas belum?

Makanya,

kalo mau punya cewek tuh jangan minder.

Minder?

Iya, kayak Om Mal.

Nggak rumah lama, rumah baru, mati lampu melulu.

- Din. - Iya.

Aneh nggak, sih, Ibu pilih pindah ke sini?

Orang lain ingin ninggalin tempat ini, kita malah pindah ke sini.

Jelek, ya, komplek kita?

Banyak rumah yang…

Terbengkalai.

Si Ibu mau buka salon di sini lagi.

Siapa yang mau datang coba?

Lihat. Rumah yang ini, dalamnya udah kayak hutan.

Kamu dengerin Kakak, nggak, sih?

Kenapa, sih, Kak?

Dari awal aku nggak mau pindah ke sini.

Tapi Kakak yang sok carmuk, dukung Ibu pindah.

Sekarang udah pindah mau apa?

- Tapi Ibu jadi aneh sekarang. - Iya.

Ibu jadi happy sekarang.

Di situ, yuk!

Ngapain? Sekarang?

Ngonten, lah!

- Takut. - Dino!

- Ayo… - Ya udah, aku ambil ponsel dulu.

Pelan-pelan aja.

Guys!

Aku merasa ada anak kecil yang dulu tinggal dirumah ini.

Kalau kamu dengar aku.

Tolong… kasih suara.

Aku berasa kalau ini tempat peninggalan orang Belanda.

Dulu rumahnya digusur.

Dan aku dengar dari warga setempat kalau tempat ini…

Kaya beneran, belum?

'Kan aku yang bilang cut, kok kamu cut sendiri?

- Ya udah, sekali lagi. - Ayo.

Udah, Kakak mau turun.

- Satu rekaman lagi. - Diam Saja.

Turun aja.

Sumpah, ya, Dino, kamu ngapain salto? Orang ini konten horor.

Dino! kalau kamu jatuh, Kakak nggak mau tau, ya!

Benar 'kan, yang aku bilang. Semua rumah di sini mati.

- Aku turunnya gimana? - Aku pulang dulan.

Kak! Kak!

- Becanda, deh. Ya, takut, ya… - Bantuin aku turun dulu, dong!

Guys! Ini adalah sutradara kita.

- Kakak gamau, ah. - Walau dia tidak punya jiwa seni…

Jadi kameraman aja, Kakak nggak berbakat.

Soalnya tuh, Kakak nggak punya…

Mata batin.

Kakak tau banget kamu akan bilang itu.

Guys!

Aku merasa ada sesuatu.

Yang sembunyi dibalik pohon ini.

Sesuatu yang…

Jahat!

Cut! Lanjut.

Nggak, belum. Tunggu. Kurang…

- Apa, sih? Udah bagus, kok! - Kurang!

- Udah dapat. - Kakak niat nggak?

Jelas perasaan misteriusnya belum dapet.

Kita harus buat penonton merinding.

Gaya kamu udah buat Kakak merinding.

- Udah, ayo lanjut. - Kalo Bapak yang megang kamera…

Berapa kali take juga diladenin.

Siap.

Oke, tunggu-tunggu.

Siap.

- Action! - Guys!

Aku ngerasa ada sesuatu…

Yang sembunyi dibalik pohon ini.

Sesuatu yang…

Jahat!

Apa cengengesan?

Sok nggak mau tidur sekamar sama cewek, tapi takut sama…

Pu… pu… putih…

Ada apa?

Kak Vira lagi bersihin luka aku, Bu. Tadi habis kecakar kucing di taman depan.

Bu, aku nggak mau sekamar sama Kak Vira.

Ngapain kalian keluar malam-malam gini?

Ini salah kamu.

Harusnya kamu jagain adik kamu.

Nggak Bu, ini bukan salah Kak Vira.

Maaf, Bu.

Naik semua ke atas. Mandi.

Mas maaf ganggu waktunya, saya mau bagi-bagi ini.

Salon baru…

- Ibu saya yang buka di sini. - Permisi, Mas.

- Silakan dilihat baru buka salon baru. - Permisi, maaf.

- Bisa potong rambut. - Pak, maaf.

- Silakan. - Dek, kita lagi ngobrol, ya.

Habis praktek?

Selamat pagi.

Pagi, ada apa, Mbak?

- Saya lagi buka salon. - Salon?

Coba dilihat-lihat dulu, ya. Ini perawatannya.

Wah, lengkap!

- Laki-laki bisa? - Bisa, dong.

- Bisa? - Mas mau di creambath?

Bisa, creambath?

Pijitan saya enak banget, nanti saya kasih bonus sekalian disemir rambutnya?

Yah, kok udah diberesin, Bu, 'kan Vira mau bantu!

Nanti aja kamu bantu bersih-bersih.

Waktu Ibu udah urus pelanggan.

Iya, Vira 'kan nggak bisa motong.

Bu, ini 'kan baru hari pertama.

Kita baru aja bagiin brosur, 'kan?

Selamat datang.

- Saya mau potong. - Silakan duduk di sini.

Mau potong model apa?

- Pagi! - Pagi!

SALON RAMBUT DAN KECANTIKAN

Kok bisa, ya, hari pertama delapan orang?

Kok bingung?

Bagus, dong!

Ini namanya…

Berkah hari pertama.

Udah Vira aja, Bu. Ibu pasti capek, 'kan?

Ya udah, Ibu mandi dulu, ya.

Nanti kalau Vira udah sekolah, mana bisa Ibu ngurus ini sendiri.

Tenang aja, Ibu bisa.

Ke mana aja kamu?

Main keluar komplek.

Kenalan sama anak sekitar.

Cepat juga, kamu.

Iya, dong!

Terus.

Kak.

Kata mereka tempat ini kosong karena ada pembunuhan.

Korbannya anak kecil.

Kakak beradik.

Masa?

Terus…

Dino!

Dino!

Bu…

Kak, mati lampu.

Bu…

Iya, Vir…

Kenapa?

Ada pembalut ketinggalan dibawah, punya Ibu?

Taruh diranjang aja.

Ibu mulai menstruasi lagi, bukannya udah berhenti?

Makasih, ya!

Kak.

Goblok!

Gelisah banget? Mati lampu lagi.

Iya, Kakak tau. Kamu ngapain keluar basah-basah?

'Kan lagi mandi!

Layer-nya udah nggak beraturan, udah lama, ya, potongnya?

Iya udah lama banget, Mbak.

Halo! silakan duduk dulu, ya!

Vira.

Malah bengong.

Ayo, buatkan teh. Tamunya sudah pada datang.

Iya, Bu.

Tunggu sebentar, ya. Silakan duduk.

Halo.

Mau pendek atau panjang?

Kamu kalo capek istirahat aja.

Nggak, Vira masih bisa.

Maaf, ya, udah nunggu lama?

Mulai, ya.

- Terima kasih. - Ya.

Terima kasih, ya.

Oke.

Vira.

Dari tadi tuh kamu hela nafas.

Lama-lama ganggu Ibu.

Ibu nggak butuh kamu.

Jangan digaruk terus kali, lukanya.

Nanti infeksi loh.

Teman-teman kamu mana?

Udah pulang.

Lagian nggak ada yang tinggal di sini. Mainnya di luar komplek.

Oke, Kak Vira mulai menghela nafas…

- Kenapa kak? - Emang sering, ya?

Ibu juga nyinggung kayak gitu.

Aneh nggak, sih?

Kita tinggal di tempat sepi begini, tapi salon Ibu ramai terus.

Kemarin takut salon Ibu sepi.

Sekarang pas rame malah nggak terima.

- Mau ngambil apa lagi? - Pakai nanya, ayo!

Kamu belum trauma sama kucing?

Ayo, pas ini, udah mau gelap.

Kita ambil videonya yang serem, pasti viral. ayo!

Ayo, lari!

Guys, sekarang aku sama Kak Vira lagi di Hutan Amazon.

Bagus nggak?

Nggak!

Hantu Kiropraktor.

Kenapa hantu di indonesia sekarang…

- Kayang. - Gak tau.

Malah lebih susah ngejarnya.

Aduh.

- Aduh. - Awas licin.

Gila, konten ini. keren!

- Dino. - Keren nih keren…

Lama banget jalannya, sih.

Dino, udahan yuk!

Satu adegan lagi.

Udah pulang aja, udah malem udah gelap.

Satu adegan lagi, please!

Nggak lihat apa tempatnya.

Gila!

Ini tempat orang sembunyiin mayat kali, ya?

Ya udah, lu siapin aja dulu.

Dino…

Sebentar.

Kenapa, sih?

Apaan, sih?

- Kakak lari! - Apaan, sih? Nggak lucu.

Lucu!

Kita pulang, makan malam.

Sampai rumah mandi, ya. Kotor semua itu.

Kak.

Aku pipis dikit.

Bu hari ini makanannya sop ayam lagi?

Emang nggak ada makanan yang lain?

Aku, sih, nggak apa-apa yang penting kenyang.

Kamu apa aja dilahap.

Kamu nggak punya selera yang oke.

Kayak Kakak ngerti makan enak aja.

Aku 'kan kangen masakan Ibu yang lain,

Kita dari kemarin makanannya.

Ganteng banget, anak Ibu

Ngomong.

Sekarang aku sama Kak Vira lagi di Hutan Amazon.

Ada daun.

Dino?

Dino?

Ibu…

Bangun ibu.

Dino minta air! Telepon Om Mal… Telepon Om Mal… Ibu…

Kamu ngapain, sih? Telepon Om Mal…

Ibu mau ke pasar, bagiin selebaran salon.

Vira ikut, ya!

Nggak usah!

- Tapi… - Nanti Ibu belikan bahan makanan lain.

Selain sop ayam.

Ibu?

Vira.

Kamu kenapa?

Ini enak, Mas?

- Silakan duduk. - Kalo enak nanti mampir lagi ke sini, ya.

Boleh?

Bolehlah.

Mbaknya pintar, ya.

Pintar apa, ya, Mas?

Merawat muka.

Cantik banget gitu.

Terima kasih, ya, Mas.

Ini enak, nggak?

Enak.

Dari tadi, dong, datangnya.

Dari dulu.

Gimana bukunya?

- Gimana ceritanya? - Makanya baca.

Nggak seru ah!

SALON RAMBUT DAN KECANTIKAN

Seratus delapan.

Om Mal mau ketemu Ibu?

Mau ketemu kalian.

Gimana kalian seminggu di sini? Betah nggak?

Mati lampu mulu.

Mati lampu mulu.

Lampu apa?

Mati lampu!

Salon Ibu rame terus, ya, Om.

Bagus dong.

Tapi daerahnya sepi gini.

Di rumah ini pernah ada kejadian yang…

Jelek nggak, Om?

Vira.

Cerita sama Om Mal. Ada apa?

Vira ngerasa sejak pindah ke sini, Ibu…

Jadi banyak berubahnya.

Tapi Ibu nggak…

Nggak…

Ya udah.

Yang penting Ibu udah baik, 'kan?

Om Mal terakhir nemenin Ibu ke psikiater kapan?

Udah lama nggak, sih.

Kata dokter Mbak Yanti udah baikan.

Jadi nggak perlu resep dokter lagi.

Kak.

Listriknya mati lagi nih.

Ya, nanti Vira nyusul, Bu.

Tunggu di bawah.

Ibu?

Ibu?

- Kamu kenapa? - Ibu?

Ibu tadi…

Tadi aku lihat Ibu di taman.

Mata kamu tuh, ya, bermasalah.

Mandi malam-malam begini, Bu?

Kamu sendiri ngapain, malam-malam gini mondar-mandir?

Tadi listriknya mati.

Terus aku kepanasan, jadi mau tidur di bawah.

Ya udah, aku balik ke kamar, Bu.

Kamu nggak mau tidur sama Ibu aja?

Nggak usah, Bu.

- Terima kasih, ya, Pak… - Sama-sama, Bu.

Kak!

Ayo!

Siang, Om.

Permisi.

Halo.

Hai.

Selamat siang.

Selamat siang.

Mau cari model kacamata bagaimana?

Frame yang tipis.

Atau frame yang besar.

Saya bawa anak saya, matanya minus.

Iya.

Jadi, ini anaknya?

Kalo adiknya, mungkin saya masih bisa percaya.

Om kali yang matanya minus.

Apaan, sih, tuh tukang optik.

Emang Ibu nggak geli, ya, digoda-godain kayak gitu?

Vira kalau jadi Ibu geli, nggak tahan.

Kenapa, sih? Orang dia baik, kok.

Malah tadi kita dikasih diskon gede.

Itu mah udah ketahuan banget maunya apa bu.

Yang penting dia bukan Bapak kamu.

Sayang, maaf. Maaf, maaf…

Maafin aku, maafin.

Kamu mau apa? Kasih tau aku!

Ini…

Kamu nggak beneran, kamu nggak beneran!

Kamu maunya apa? Sayang.

Nggak!

Aku ambil pisau, ya!

Lihat! Aku mau bunuh diri.

Kamu nggak lihat, ini kita lakuin sama-sama, Sayang.

Nggak!

Lepas.

Ibu…

Ibu cantik nggak?

Cantik.

Mas Heru katanya suka sama cewek pake baju merah.

Emang si Heru itu tipenya Ibu, ya?

Kenapa, Bu?

Ibu udah lama nggak kayak gini.

Loh, Ibu kok punya tato?

Kamu ngaco!

Sejak kapan Ibu punya tato.

Ibu udah dijemput.

Ibu pergi dulu, ya.

Sore, Yanti.

Sore, Mas Heru.

Ya.

Saya mau mengantarkan.

Ini.

Kacamatanya udah jadi.

Cepat juga, ya.

Sekaligus saya mau ngasih…

Ini.

Cantik bunganya, Mas.

- Mas Heru deg-degan, ya? - Iya.

Kok jantungnya di kanan, Mas?

Kalo sebelah kiri tuh deg-degan yang biasa.

Tapi ini deg-degan yang luar biasa.

Ayo!

SALON RAMBUT DAN KECANTIKAN

Ibu ngapain aja, sampe baru pulang sekarang?

- Ini suaminya. - Ya.

Tuh, udah mulai gondrong. Potong di saya, ya.

Maaf, ya.

Matanya minus, ya?

Halo.

Akhir-akhir ini, rumah mati lampu mulu, sih, Kak?

Ibu mana?

Ada cowok yang datang semalam, kayaknya nggak pulang dia.

Itu mereka berhubungan intim, ya, kak?

Jijik banget, sih, siapa yang ngajarin kamu ngomong gitu?

Ngomong apa?

Cowok yang datang semalam mana, Bu?

Udah putus.

Ibu nggak pusing kebanyakan cowok?

Kenapa?

Kalian nggak bisa lihat Ibu senang dikit.

Dino.

Kakak udah beberapa kali lihat hal aneh dirumah ini.

Dan semua ini berhubungan sama Ibu.

Terus Kakak lihat sosok.

Masa kakak halu, sih?

Vira.

Kamu pura-pura tidur?

Kamu tadi keluar kamar?

Nggak, Bu.

Kamu sayang Ibu, 'kan?

Kacamata kamu kenapa?

Tadi habis main bola sama teman.

Terus kacamatanya nggak sengaja jatuh dan keinjak.

Makan, yuk.

Jadi kamu mau pake kacamata kamu yang rusak itu selamanya?

Aku bisa balik pake yang lama, selamanya.

Buat apa, dong, punya kacamata baru?

Itu tinggal ke optik, ribet banget, sih, Bu.

Bisa benerin sendiri?

Ya, tinggal ke optik, telepon siapa namanya, Kak?

Salah satu dari berapa banyak teman tidur Ibu yang udah dateng ke sini.

Kamu tau nggak, kamu itu ganteng banget?

Waktu kamu masih bayi.

Ibu tuh suka mikir.

Dino nanti kalo lahir, mukanya lebih mirip siapa, ya?

Mirip Ibu atau Bapak?

Untungnya lebih mirip Ibu.

Tapi semirip-miripnya kamu sama Ibu.

Muka kamu itu ingetin Ibu sama bapak kamu.

Ibu sering berdoa supaya kamu nggak kayak bapak kamu.

Nggak tau terima kasih.

Nggak tau bersyukur.

Nggak usah belain dia.

Udah lupa, ya, caranya bilang terima kasih?

Kamu tau harga kacamata kamu berapa?

Maaf, Bu.

Ibu sudah muak, ya, sama kalian.

Kalian cuma bisa meminta, minta, minta, minta, minta!

Mana terima kasihnya?

Kalian mau perah Ibu sampe Ibu mati?

Diam!

Sejak kalian lahir.

Ibu selalu sial.

Iya. Sebentar.

Siapa, sih?

- Om Mal. - Vira?

- Ngapain kamu? - Ibu…

Udah, Ibu udah berubah. Vira nggak gila!

Iya, Vira tenang!

Ibu udah…

- Dino udah… - Vira.

Vira?

Vira maafin Ibu, ya.

Ibu stress sejak pindah rumah.

Kamu sama Dino jadi kena dampaknya.

Ibu nyesel.

Maafin omongan Ibu.

Ibu janji.

Ibu mau ke psikiater lagi.

Demi kamu sama Dino.

Iya, Vir. Ibu udah cerita.

Nanti Om Mal bantuin anterin Ibu ke psikiater.

Ya?

Kamu sayang Ibu, 'kan?

Kakak nggak yakin psikiater bisa nyelesain masalah ini.

Maksudnya?

Din, Kakak ngeliat.

Setan.

Mungkin Kakak yang perlu ke psikiater.

Dino Kakak serius.

Kok kamu bisa, sih, secuek ini?

Padahal kamu sendiri yang ngerasain Ibu kerasukan kayak gitu.

Terus mau aku ngapain?

Mau aku gimana? Ngejar setan yang merasuki Ibu?

Kamu menyepelekan semuanya.

- Kenapa cuma Kakak yang peduli semuanya? - Kakak cuma peduli sama Ibu.

Siapa lagi yang peduli dengan Ibu?

Kamu asyik sendiri di dunia kamu.

Baca terus. Minta ngonten terus.

Aku nggak peduli sama konten tolol itu, Kak!

Aku minta buat konten agar bisa bareng sama Kakak.

Orang kamu main bola terus sama teman kamu.

Kakak pernah lihat aku main bola… Bajunya kotor?

Atau aku capek?

Kalo lebih tepatnya sejak kapan aku suka main bola, Kak?

Nggak ada anak-anak di sekitar komplek mati ini, Kak.

Aku nggak punya teman.

Aku pergi cuma biar bisa sendiri.

Kakak 'kan, selalu bareng kamu.

Dulu.

Dulu tuh kita selalu bareng terus kak.

Sekarang Kakak nggak pernah bareng aku lagi

SALON RAMBUT DAN KECANTIKAN

Ibu udah dikasih obat sama dokter.

Mata kamu merah.

Maafin Ibu, ya.

Naik, yuk.

Ibu mau masak.

Om Mal?

Dokternya ada bilang apa lagi?

Aman.

- Dino bangun! - Apaan, sih?

Lihat Ibu di kamar mandi!

- Kakak udah gila, ya. - Kamu harus lihat.

Nggak!

Besok kamu ikut Kakak.

Kalo Kakak salah soal ini, Kakak nggak akan nyinggung lagi soal Ibu.

Ya udah.

Tempatnya jauh.

Nunggunya lama.

Kakak yakin ini psikiaternya Ibu?

Kamu tau nggak,

kucing itu salah satu binatang yang bisa bunuh anaknya sendiri?

Kalo anaknya lagi nggak mau dekat-dekat.

Kalo lagi laper, kalo lagi sakit.

Kakak benci kucing dari dulu.

Nggak mungkin, Dok.

Saya nggak ada alasan untuk bohong, Dik.

Atau mungkin karena privasi pasien atau gimana, Dok?

Bukan, ini nggak ada hubungannya.

Saya udah setahun lebih nggak bertemu Ibu kalian.

- Bangsat. - Om Mal bohong!

- Ada apa Vira? - Om Mal bohong!

- Kenapa? Ada apa? - Bohong!

Om Mal bawa Ibu ke mana selama ini?

Susuk?

Kalian 'kan lihat sendiri.

Kondisi Ibu gimana ketika ditinggal sama bapak kalian?

Om Mal cuma mau bantu Mbak Yanti.

Terus kenapa dibawa ke dukun?

Kenapa nggak dibawa ke psikiater aja kayak orang normal.

Sebenarnya, Om Mal udah bawa ke psikiater.

Cuma nggak ngebantu.

Mereka cuma maksa jual obat aja.

Waktu Om Mal bawa ke dukun.

Kondisi Mbak Yanti tuh makin membaik.

Membaik kayak dulu lagi.

Kayaknya sebelum pas dia nikah.

Sebelum kalian lahir.

Kalian berdua harusnya bersyukur, dong!

Kalian masih punya Ibu!

Lihat Om Mal, nggak punya siapa-siapa!

Ya.

Tolong Om, kasihan Ibu.

Om, Om lihat Dino.

Ya.

Tolong!

Tolong!

Bu.

Kamu ceritain semuanya ke mereka, Mal?

Maaf, Mbak.

Ibu putus asa waktu itu, Vir.

Ibu sama sekali nggak bisa berfungsi.

Ibu takut.

Takut kalo ngebahayain kalian.

Ibu pergi ke dukun itu.

Akhirnya Ibu bisa dapatkan kembali semangat Ibu.

Tapi ada syaratnya.

Ibu harus lakuin ritual yang disuruh sama dukun.

Dan saat Ibu nggak patuh.

Ibu jadi lemah.

Mbak, udah Mbak.

Waktu aku lemah, aku nggak ngerasa jadi diri aku, Mal.

Jadi yang kalian lihat selama ini.

Itu bukan Ibu.

Itu jin.

- Yang nguasain tubuh Ibu. - Jin?

Itu yang Kakak lihat?

Terus kita harus gimana bu?

Vira harus tolong Ibu, ya.

Vira.

Vira mau 'kan, tolong Ibu?

Tolong keluarkan… Tolong, Nak, mau kan?

Tolong keluarin jin dari dalam tubuh Ibu.

Tolong!

Tolong Vira!

Tolong Ibu!

Tolong.

Tolong Vira. Tolong Ibu.

Selamat malam.

Cuma ada teh, tapi ini enak, kok.

Silakan diminum!

Ya, perkenalkan nama saya Medea.

Ada yang bisa saya bantu?

Ibu saya kerasukan jin.

Tolong cabut susuk yang ada di dalam ibu saya.

Pengertian susuk kamu itu,

mungkin dari film horor dan cerita-cerita viral, ya?

Nggak semua susuk seperti itu.

Waktu pertama kali Yanti dibawa ke sini,

dia mengalami konflik keras dalam jiwanya.

Yanti sebagai perempuan.

dan Yanti sebagai Ibu.

Kemudian saya tanamkan susuk ke rahimnya untuk memisahkan kedua sisi itu.

Tapi, ya, namanya juga susuk, ya.

Dia butuh korban

dan hanya boleh darah ayam.

Waktu itu saya nggak sengaja.

Saya mencicipi darah anak saya.

Yanti.

Saya sudah peringatkan, itu satu-satunya yang tidak boleh dilanggar.

Kita harus keluarkan susuk itu.

Ini bahaya.

Bahaya kenapa?

Susuk itu sudah terkontaminasi.

dan tidak akan terpuaskan sampai mendapatkan darah anak-anaknya sendiri.

Yang lain tunggu di luar.

Yanti masuk!

Apa pun yang kalian dengar, jangan masuk!

Terima kasih.

Udah, Bu?

Yuk pulang.

Mbak.

Teriakannya tadi kaya lagi lahiran, Mbak.

Ibu mau bilang terima kasih sama kalian.

Sama kamu juga, Mal.

Ibu janji akan berusaha lebih baik lagi.

Ibu nggak perlu jadi lebih baik.

Ibu cuma perlu jadi Ibu lagi.

Om Mal tinggal sini aja, dong.

- Beneran? - Benar.

Tapi Om Mal janji, ya?

Kalo tinggal di sini, nggak judi online.

Ya udah.

Nggak pinjol.

Iya, Om Mal janji.

Iya, Mal.

Kamu tinggal di sini, ya?

Sama kita.

Iya, Mbak.

Ibu naik duluan, ya.

Mau istirahat. Ibu masih capek.

Kalian juga istirahat, ya.

- Om Jamal nangis. - Kok nangis?

Yah…

Yah.

Lupa pamit sama Bu Medea.

SALON RAMBUT DAN KECANTIKAN

- Pagi. - Om Mal mana, Bu?

Udah pulang.

Kok nggak bilang?

Nggak tahu, katanya ada urusan.

Dikejar pinjol lagi.

Orang dikejar hutang, dompetnya ketinggalan.

Ini, sih, yang malak kasihan sama yang dipalak.

Sarapan dulu, yuk.

Ambil, ambil.

Rambut kamu cepat banget panjangnya.

Entar siang Ibu rapiin, ya.

Bu.

Vira mau keluar dulu, ya.

Mau ke mana?

Mau bikin video di sekitaran sini.

- Hati-hati, ya! - Iya.

Kamu udah selesai bacanya.

Udah.

Keren.

Serem, tau!

Ceritanya karakter utamanya tusuk lukisannya sendiri.

Terus dia yang mati.

Kok ditusuk? Emang lukisannya terkutuk?

Nggak, malah kebalikannya.

Lukisannya tuh yang nampung dosa-dosanya. Karakter utamanya yang jahat.

Jangan kependekan, ya, Bu.

Cerewet kamu, ya.

Aku kalau rambutnya diwarnai, bagus nggak, ya?

Pingin warna apa?

Biru.

Merah aja gimana?

Kamu udah mulai tumbuh kumis tuh.

Mau Ibu cukurin sekalian?

Boleh.

Kaya di barber shop gitu, ya?

Jangan gerak, ya!

Ganteng banget anak Ibu.

Sayang matanya bermasalah.

Bu.

Bu.

Ibu!

Om Mal.

Dino.

Dino?

Kak.

Aku nakal.

Nggak tau terima kasih.

Ibu!

Ibu!

Bu.

Din… Dino.

Dino…

Dino…

Jangan berisik, Sayang.

Ibu.

Kamu pikir kamu tahu siapa ibu kamu?

Seumur hidup, dia selalu dituntut.

Dipakai sampai habis.

Lalu dibuang.

Kalo nggak ada aku, ibu kamu udah lama mati, tahu nggak!

- Kamu pikir kamu tahu siapa ibu kamu? - Ibu.

Ibu tuh nggak pernah dibolehin

untuk punya hidup sendiri.

Dan cuma hari ini aku diperbolehin jadi diri sendiri.

Ibu kamu.

Udah rela ngasih seluruh hidupnya buat kamu.

Sekarang kamu rela nggak, balikin hidup Ibu?

Rela nggak?

Dino.

Dino sini!

Sini, Sayang!

Ibu.

Ibu.

Dino.

Buktiin, ya. Kalo kamu sayang sama Ibu.

Dino.

Jangan, Dino.

Maaf, Kak.

Jangan…

Jangan…

Aku bareng Kakak.

Aku selalu bareng Kakak.

Dino…

Vira rela.

Vira rela.

Vira rela, Bu.

Bu?

Ibu?

Ibu, kenapa anak kucing itu makan anaknya sendiri?

Ibu.

Vira…

Dia bukan ibunya.

UNTUK IBU

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.