All language subtitles for Naari Naari Naduma Murari 2026 Dual Audio Hindi (ORG 5.1) Webrip 1080p

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Alih bahasa: @Nell.aja https://sociabuzz.com/nell_aja/donate

Berharap ada yang donate sampai 50 juta buat ganti device aku dan sisanya donasi ke anak yatim.

Mau ke mana, Bang?

- Ayo jalan. - Gimana aku bisa jalan tanpa tahu tujuannya?

Cepetan.

Aku mau menjemput pengantin.

Semuanya baik-baik saja?

Baik.

- Ini soal cinta? - Iya.

Waktu baiknya jam 6:30 pagi.

Temanku bilang akan bawa mobil, tapi ternyata tidak.

Jangan panik, kawan.

Aku akan lebih cepat dari mobil.

Boleh aku bantu?

Kenapa ambil risiko? Teruskan saja.

Aku kan gagal dalam cinta, Bro.

Kupikir akan kubantu mereka yang sedang kasmaran.

- Siapa namamu? - Namaku Lovekusa.

Aku akan tempuh sejauh apapun, demi cinta.

Kau tidak perlu jauh-jauh. Kita sudah sampai.

Berhenti di sini.

- Kau punya tangga? - Tidak, tangganya tidak ada.

Ini waktunya cari tangga, Bro?

- Terus naiknya gimana? - Naik lewat aku.

Sepatuku penuh lumpur.

Cinta itu seperti lumpur. Aku sudah lewat dari itu.

Jangan banyak pikir.

- Naik ke atas aku. - Baiklah kalau begitu.

Tunggu di sana.

Ini semua demi cinta, tidak apa-apa.

Tunggu, kami datang.

- Ada yang lihat kau? - Tidak ada.

Ngomong-ngomong, Karthik di mana?

- Mereka lagi apa? - Lagi bersiap. Kau baik-baik saja?

Bro, urusan bicara bisa dilanjutkan setelah turun.

Demi nama cinta, tidak bisakah kau lakukan ini?

Ayo, pegang aku.

Wanitanya mau kabur. Sadar dan pergi.

- Mereka juga mulai, Bro. - Ayo! Cepat!

Ayo pergi.

Cepat!

Cepetan, kawan!

Aku lihat ada ternak di sana.

Aku tidak lihat apa-apa!

- Hati-hati, kawan. - Hati-hati!

Hati-hati! Lihat!

- Hati-hati. - Kok bisa begini?

Hati-hati, kawan!

- Turunkan, kawan! - Aku tidak bisa, Bro.

Lakukan.

Aku belok kanan pakai sein kiri.

Akan kulihat bagaimana mereka menangkap kita.

Ayo. Mulai! Bersiap!

Selamat menempuh hidup baru, Sayang.

- Terima kasih. - Tuhan memberkatimu.

Maaf, Bro. Bajajmu rusak karena aku.

Tidak apa-apa, Pak.

Lovekusa ini lahir demi cinta.

Kau pria baik. Silakan masuk.

- Tolong doakan pengantin baru. - Tidak apa-apa, Bro.

- Kau lanjutkan saja. - Ayo, Bro.

Kok jadi malu-malu.

- Semuanya sudah siap? - Semua siap, Kawan.

Jaga tamunya.

Lagi ngapain melongo, Bro?

- Maksudnya tamu? - Itu aku.

- Ayo. - Siapa namamu, Bro?

- Namaku Jackie. - Aku tidak tanya namamu.

- Namanya pandita Harichandra. - Buat apa aku butuh nama pandita?

- Aku mau nama mempelai pria. - Karthik!

- Siapa nama mempelai wanita? - Pallavi!

Karthik menikahi Pallavi!

Nama mereka cocok. Ayo kita lihat.

Maksudku pernikahannya.

- Di mana mempelai pria? - Mempelai pria...

Itu dia mempelai pria datang.

Aku jadi malu, Nak.

Apa? Mempelai prianya bapak-bapak?!

Kita kejar-kejaran tadi ternyata untuk pernikahan anak?

Bro, kalau Gurajada Apparao masih hidup hari ini,

dia pasti marah lihat ketidakadilan ini dan akan melepas sandalnya.

Nak, ini siapa?

Dia yang bantu kejar-kejaran tadi. Dia ayah tamu kita.

- Bro! Terima kasih. - Jangan panggil aku Bro.

Kau bantu pernikahan ini padahal tahu usianya sebaya Ayah?

Memangnya salah apa?

Mereka saling cinta dan sudah bertukar hati.

Di usia yang butuh cangkok jantung,

buat apa lagi bertukar hati, Bro?

- Hidup ini terlalu singkat! - Dia juga masih sangat muda.

Jalani hidup dengan caramu, bukan cara orang lain.

Begitulah hidup.

- Jadi... - Benar kan, Pak?

Jadi, kau akan nikahkan gadis kecil ini dengan bapak itu?

Dosa ini tidak akan diampuni.

Kau tidak akan pernah menikah di hidup ini.

- Ini kutukan dari Lovekusa. - Bro!

- Bawa dia pergi! - Bapak Pandita, kutukan ini untukmu juga!

- Kau akan bisu saat mengucapkan mantra. - Jangan khawatir, Pak.

Orang-orang selalu saja punya omongan.

- Abaikan saja mereka. Duduk! - Hentikan!

Jangan lakukan, kawan.

Jangan hancurkan hidupnya.

Aku pernah dengar pernikahan beda kasta dan beda agama.

Tapi pernikahan tengah- tengah seperti apa ini?

- Tunggu, kawan. - Lepaskan aku, kawan-kawan.

Orang-orang sedang menonton.

Tolong jangan hancurkan hidup gadis kecil itu.

Chinnu, kau yang lempar atau aku?

- Aku akan melemparnya. - Kau yang lakukan? Baik, lakukan.

Lima menit, Bro. Ini akan selesai.

Akhirnya, selesai juga.

- Pak, tunjukkan bintang Arundhathi untuk mempelai. - Baik.

Dia sedang mencari sekarang. Kapan dia akan menemukannya?

Dengar, dia tidak akan menemukannya. Kau cari dan tunjukkan padanya.

Karthik, itu dia.

- Di mana, Chinnu? - Di sana! Itu terlihat jelas di sana.

Ini, Pak. Ambil.

Aku sayang kau, Sayang.

Kata orang, saat waktunya tepat,

seorang putra akan lahir.

Itu dia.

Dengar, akhir-akhir ini orang bercerai

karena hal-hal sepele.

Ambil contoh kasus kalian,

alasannya tidak boleh sepele.

Alasannya tidak sepele, Pak.

Lalu, apa sebenarnya masalahnya?

Dia mendengkur, aku tidak bisa tidur.

Dia tidak bisa masak dan selalu pesan

dari Swiggy atau Zomato.

Separuh gajiku habis ke sana.

Dia akan buka WhatsApp sampai tengah malam.

Kalau aku tanya dia,

katanya cuma lihat status.

Kalau dia lihat aku sedang online,

dia juga akan online, benar kan, Pak?

Katakan. Sedang ngobrol dengan siapa?

Pak, tanya dia. Dia lagi ngobrol dengan siapa?

Kamu lagi ngobrol dengan siapa?

Aku cuma lihat status, Pak.

Pak!

- Pak! - Apa?

Pak, temanmu Venkatakrishna

datang untuk menemuimu.

- Kenapa dia datang? - Aku tidak tahu, Pak.

Dia tidak tahan melihat orang lain bahagia.

- Panggil dia. - Baik, Pak.

Apa, Ramalingam?

Kurasa kau menghasilkan banyak uang

dengan memisahkan pasangan.

Benz yang diparkir di luar punyamu, benar kan?

Kau mulai cemburu lagi?

Kenapa kau ke sini?

Untuk bicara soal perceraian putriku.

Belum setahun mereka menikah.

Kenapa mau cerai?

Itu kan pernikahan cinta.

Jadi itu terjadi tanpa persetujuanku.

Bagaimanapun, akhir-akhir ini,

apakah gadis-gadis mendengarkan ayah mereka?

Mereka sudah menelepon

dengan pacar mereka berjam-jam.

Saat ditanya, mereka sebutkan nama teman cewek.

Kami benar-benar percaya itu.

Mereka pergi belanja.

Saat ditanya, mereka sebutkan nama teman cewek.

Gadis-gadis sudah jadi ahli

dalam membohongi ayah mereka.

- Kau punya anak perempuan, kan? Hati-hati. - Sudah!

Jangan bicara apa-apa lagi.

Tidak semua orang seperti putrimu.

Nithyaku tidak akan melakukan apapun

tanpa sepengetahuanku.

Aku juga mengucapkan kalimat yang sama persis

sampai beberapa hari yang lalu.

Jangan buat aku kesal.

Aku membesarkan putriku berbeda dengan caramu.

Bawa putrimu ke sini dalam dua hari.

- Kita akan bahas kasusnya. - Baik.

Didikanmu atau didikanku, soal kabur bersama,

didikan semua orang sama saja.

Katakan.

Sangat bagus.

Aku tahu persis apa yang kau katakan.

- Nithya. - Iya.

Tidak apa-apa.

Mereka sudah menelepon

dengan pacar mereka berjam-jam.

Saat ditanya, mereka sebutkan nama teman cewek.

Pak, tanda tangan Bapak.

Poin-poin ini tidak apa. Ini juga tidak apa.

- Nithya! - Ada apa, Ayah?

- Sedang bicara dengan siapa, Sayang? - Ini Gautham, Ayah.

- Gautham? Baik. - Baik.

Kau dengar?

Putriku tidak akan berbohong padaku.

- Dia tulus. - Itu karena cara Bapak membesarkannya, Pak.

- Sayang, Nithya! - Iya, Ayah.

Kau datang ke pesta ulang tahun Paman Rajesh

nanti sore, kan?

Maaf, Yah. Aku mau jalan sama teman.

Bilangnya mau pergi belanja.

Kalau ditanya, kasih nama-nama cewek.

Sama siapa? Sama Pooja?

Bukan, Yah. Sama Gautham.

Ooh, baiklah.

- Iya, Yah. - Hati-hati. Jaga diri.

- Dadah! - Dadah!

Kau perhatikan tidak tulusnya Putriku?

- Benar, Pak. - Dia memang manis.

- Halo, Nithya. - Iya, Yah.

Urusan Ayah di bank sudah selesai.

Kita nonton film yuk, Nak.

Maaf, Yah. Rencananya berubah.

Aku mau jalan sama Gautham.

Sama Gautham? Oke, Nak! Hati-hati.

- Jaga diri, oke? Dadah. - Oke, Yah. Dadah.

Kau perhatikan tidak tulusnya Putriku?

Iya, dia memang sangat tulus, Pak.

- Ayo, Nithya! - Ayah, sini!

Waktunya habis.

Cepetan.

Mau duduk sini?

Sebenarnya, Yah...

Aku mau pergi ke pesta sama teman.

- Sama Gautham? - Iya.

- Oke. Selamat bersenang-senang. - Dadah, Yah!

- Makasih! - Semoga lancar. Dadah.

Srinu, liat tidak tulusnya dia?

Dia bilang jujur terus pergi.

Tulus apa-apaan itu, Pak?

Biar dia kabur sama cowok asal jujur, Ayah setuju?

Terus gimana, Pak?

Dia jalan terus sama cowok itu. Sering di telepon.

Sering di telepon, nurutin apa kata dia.

Nonton, pesta, semuanya sama dia.

Coba Ayah telfon dan tanya,

Gautham ini teman atau pacarmu?

- Hai, Yah! - Hai!

- Selamat pagi! Halo! - Selamat pagi!

- Selamat pagi. - Hai, Bu!

Ayo. Joggingmu lancar?

- Lancar. - Bagus dong!

- Kopi? - Iya, boleh.

Siapa sih Gautham ini, Nak?

Kau sering telponan sama dia,

terus pergi belanja sama dia.

Dia temanmu atau pacarmu?

Yah, itu...

Jangan malu-malu ngomongnya.

Boleh Ayah kasih saran?

Kalau dia cuma teman,

taruh dua kotak gula di kopimu.

Kalau dia pacarmu, taruh empat.

- Dia cuma teman. - Iya, Pak.

Yah, kotak gulanya habis.

Tunggu sebentar, Ayah ambilkan.

Kenapa? Tidak bisa ambil sendiri?

Yah, aku dan Gautham saling mencintai.

Aku memang mau cerita ke Ayah soal ini.

Tapi sementara ini...

Oke, suruh Gautham

datang ke rumah besok.

- Oke, Yah. - Selesai makan siang?

- Oke? - Makasih.

Hai, Nithya!

Gautham, kenapa lama banget?

Ayah udah nungguin kau dari tadi.

Kenapa tegang banget sih? Kan aku disini.

- Dia dimana? - Di taman.

- Ayo, kita kesana. - Gautham.

Tolong bicara yang hati-hati ya.

Santai aja, kan aku disini.

Halo, Pak. Aku Gautham.

Bagus ya konstruksi rumahnya.

Memang bagus.

- Aku suruh kau datang habis makan siang. - Iya.

Kenapa jam 4 baru datang?

Aku biasanya makan siang jam tiga,

jadi kesini setelah itu, Pak.

Apa pekerjaanmu?

Aku lulusan teknik, sekarang kerja sebagai arsitek, Pak.

Terus ngapain kuliah teknik?

Bukan cuma aku, tidak ada cowok lulusan B.Tech

yang bisa jawab pertanyaan itu.

- Penghasilanmu per bulan berapa? - 60.000

Kau tahu penghasilan Putriku?

Tahu, Pak. 3 lakh.

Di perusahaan itu, mereka merekrut orang

yang tidak punya kemampuan dengan gaji lakh-lakhan, Pak.

Sebenarnya, aku rencana mau join perusahaan itu bulan depan.

- Halo! Permisi! - Aku ini yang tidak punya bakat, Pak.

Apa yang kau suka dari Putriku?

- Matanya cantik, Pak. - Apa lagi?

Pinggangnya, Pak.

Pak, kalau aku bilang lebih, Ayah jadi kesel sebagai orang tua.

Jangan! Lanjut pertanyaan berikutnya, Pak.

Bilang apa yang tidak kau suka dari dia.

Lewati saja ini, Pak.

- Tidak apa, bilang saja. - Tidak, Pak. Nanti Ayah tersinggung.

- Aku tidak akan tersinggung. Katakan. - Dia terus memuji Ayah, Pak.

Dia bilang, "Ayahku itu pahlawan."

Itu bikin aku kesal banget, Pak.

Karena Ayah minta jujur, aku kasih tahu dengan terus terang.

Sebelum aku setuju menikahkan Putriku denganmu,

aku mau mengenalmu,

dan kisah cintamu secara detail.

Jadi ceritakan seluruh kisah cintamu.

Nanti aku yang putuskan.

Dia belum cerita ke Ayah?

Aku akan cerita, Pak.

Aku ke sini untuk itu.

Dimulai dari Kerala,

saat itu musim hujan, Pak.

Tapi anehnya,

hari itu tidak hujan.

Hari itu Purnama, Pak. Hari bulan purnama.

Anehnya, tidak ada cahaya bulan.

Biarkan imajinasinya untukku,

kau cerita saja kisahnya.

Langsung ke intinya saja kalau begitu.

Waktu itu, aku sedang bekerja di Kerala.

Kerala itu tempat yang sangat indah.

Tempat itu disebut Miliki Negeri Tuhan.

- Negeri Milik Tuhan. - Iya, betul.

Backwater, pemandangan hijau, perahu,

semuanya indah di sana, Pak.

Tapi aku punya satu masalah kecil, Pak.

Mereka masak semuanya pake minyak kelapa.

Mereka pake minyak kelapa untuk segala hal, Pak.

Biryani, kari, Maggi.

Kenapa kau cerita kesulitanmu di Kerala?

Pak, Putri Ayah yang mengakhiri kesulitanku.

Bagiku, dia benar-benar seorang Dewi.

Aku sedih waktu dengar warung Andhra

yang dikelola koki Kerala itu sudah tutup.

Di saat itu,

aku tiba-tiba mencium aroma pedas

pulihora di kamarku.

Aku ikuti baunya dan sadar

itu berasal dari rumah tetangga.

Pak, itu pertama kalinya

aku melihat Putri Ayah mencampur pulihora.

Luar biasa, Pak!

Waktu aku lihat dia bikin pulihora yang sempurna,

aku rasa ibunya pasti seorang juru masak yang hebat.

Paman, itu alasan Paman jatuh cinta sama Bibi, kan?

Ceritakan kisahmu, bukan kisahku.

Halo, kau bisa bahasa Telugu?

Aku bisa mencium bau pulihoranya.

Saat itulah aku sadar Putrimu punya kebanggaan yang besar.

- Apa? - Maksudku dia itu tegas.

Ceritakan kisahnya.

Kartu penutup untuk hari-hari burukku

telah tiba, Pak.

- Hai, Bu. - Hai!

Tidak peduli kau bilang apa dalam bahasa Malayalam,

dia tidak akan mengerti.

Jadi kita bisa bicara apa saja dan tidak akan jadi masalah.

Aku mau bayar seratus ribu,

dan tidur satu malam.

Aku mau bisa tidur

kapanpun aku mau setidaknya untuk satu malam.

Suji, kemarin dulu, 4 sendok hilang.

Kemarin, dua piring dan hari ini cangkir teh.

Orang Telugu, awas mulutmu

kalau bicara sama aku, ngerti?

- Dasar orang Malayali bodoh! Pergi sana. - Pergi sana, orang Telugu!

- Dasar! Pemakan dal-piring! - Berani meninggikan suara sama aku?

Cukup. Jangan melampaui batas.

- Sikapmu semakin menjadi-jadi. - Permisi!

Siapa ini?

Pulihora!

Berkelahi tentang apa?

Aku menyewanya untuk masak,

tapi dia malah mencuri sendok dan piring.

Dia itu tukang sulap dan pencuri yang ulung.

Sepertinya kau pintar bahasa Malayalam.

Kalau kau hidup di jalanan cari makan,

bukan belajar Malayalam, tapi cepat tangkap bahasa apa saja.

- Mau bantu aku? - Iya, katakan.

Beberapa orang di tempat kerjaku

berkomentar tentang aku dalam bahasa Malayalam.

Aku coba pakai Google Translate juga.

Tapi tidak membantu.

Pasti itu kata-kata kasar

karena Google tidak bisa jawab.

Kau tahu kata-kata kasar?

Kau kira aku ini siapa?

Aksharabhyasam-ku dimulai dengan kata-kata kasar.

Aku mau bayar seratus ribu

dan tidur satu malam.

Aku mau bisa tidur kapanpun aku mau

setidaknya untuk satu malam.

- Lupakan! - Tidak masalah, katakan padaku.

Aku panggil kau supaya kau terjemahkan untukku.

Mereka bilang punggungmu kelihatan bagus.

Kalau kita gali lebih dalam,

bahasanya jauh lebih kasar

dari kata-kata Munna di Mirzapur.

Aku kasih tahu kalau kau mau.

- Tidak usah. - Oke.

- Oke, dadah. - Tunggu.

- Kau sudah makan siang? - Belum.

Pesan cepat, hampir tutup.

Kita tidak tahu kapan harus pesan?

Kenapa dia kasih saran yang tidak perlu?

Pak, aku tidak merasa aman di sini.

- Aku keluar dari proyek ini. - Tunggu sebentar, Nithya.

Pergi dari sini, kalian Bodoh!

Kemudian, anakmu memecat mereka.

Dia kasih peringatan sebelum pergi.

Kalau kau pergi sekarang, tidak aman akhir-akhir ini.

Aku akan lihat bagaimana kau pulang dengan aman mulai besok.

Kau tidak tahu siapa aku.

Dia tidak bisa paham itu.

Dia butuh aku lagi.

Halo, Pemadam Kebakaran.

Kenapa kau bicara soal mobil pemadam kebakaran?

Aku lagi masak di dalam.

- Itu sizzler? - Bukan.

Tekanannya naik dan prestonya meledak.

Kenapa kau di sini?

Kau mau aku sulih suara?

Tidak, aku perlu belajar bahasa Malayalam secepatnya.

Bisa kau ajari aku?

Aku perlu mengerti percakapan di kantor.

Tolong bantu aku.

Oke, dengan satu syarat.

Hanya kalau aku dapat 50% dari apa pun yang kau masak.

Bilang oke saja.

Oke.

Oke.

- Lalu? - Ada apa lagi?

Dia mulai masak pulihora.

Aku mulai terpesona dengan auranya.

Ya itu saja. Sederhana.

Orang-orang yang sering berinteraksi denganmu pakai kata-kata kasar.

Jadi kita harus belajar itu dulu.

Putrimu akhirnya menguasai bahasa Malayalam, Pak.

Aku naik 2 kilo karena masakannya.

Tepat saat semuanya tampak berjalan baik...

para pekerja Kerala itu mengomentari Putrimu.

Mau makan?

- Tidak. - Tidak?

Kau selalu merekam, kan?

Lakukan sekarang.

Rekam semua yang kami lakukan.

Lakukan!

Ada yang tahu,

atau tidak tahu?

Dia bisa bahasa Malayalam.

Baik! Panggil siapa saja.

Kau ngapain di sini?

Aku nungguin kau bikin Gongura Mutton.

Kita bahas ini baru-baru ini, kan?

Siapa mereka?

Mereka yang ngomongin aku.

Kalian yang ngomongin begitu?

Semoga baik-baik saja. Kita ketemu lagi nanti.

Naik.

Aku tantang mereka.

Tantang apa?

Bahwa kau akan menghajar mereka.

Hari ini hari apa?

Ini hari Sabtu.

Kau tidak tahu aku tidak memukul siapa pun hari ini?

Kembalikan taruhan mereka. Ayo. Naik!

Kau melahap makanan setiap hari, kan?

Tidak bisa berkelahi?

Jangan bicara soal makanan.

Makanan itu perasaan, kan?

Ayo pulang dan masak sesuatu.

Sepertinya dia takut.

Tenang sekarang. Ayo.

Kenapa kau pukul dia seperti itu?

Aku bisa tetap tenang saat mereka mengomentari aku.

Tapi tidak saat itu tentang dirimu.

Hei, serang mereka.

Hajar mereka!

Jangan bilang anakku jatuh cinta padamu

setelah melihat perkelahian itu.

Pertarungan itu yang bikin dia jatuh cinta padaku, Pak.

Dasar nasibku!

Tenang! Anak baik.

- Begitulah kami bersatu, Pak. - Tapi dimana cintanya dalam hal ini?

- Maksud Ayah apa, Pak? - Di mana cintanya di sini?

Kau tahu judul apa yang cocok untuk kisah cintamu?

Negeri Cinta, Dunia Cinta.

Negeri Lapar.

Negeri Lapar?

Yang kau butuhkan cuma perempuan yang bisa masak.

Dan Putriku butuh guru bahasa Malayalam.

Kau datang ke aku mengira ini cinta.

- Ini menyedihkan. - Itu kejam...

Ayah tidak lihat cinta dalam kisah kami?

Cintanya sih oke.

Apa kalian pernah bertengkar?

- Apa kalian pernah saling membentak? - Tidak mungkin.

Apa kalian pernah berhenti bicara satu sama lain?

Pernah memblokir nomor satu sama lain?

- Hapus foto profil? - Tidak, Pak.

- Ada konflik ego? - Kenapa konflik ego terjadi, Pak?

Nah itu dia.

Artinya cinta tidak pernah benar- benar dimulai antara kalian.

Maksud Ayah apa, Pak?

Antara kalian, cuma cinta anak-anak.

Cinta itu bertengkar,

lalu rujuk kembali.

Kalian harus saling membentak lalu saling minta maaf.

Cinta tidak ada di tempat yang tanpa masalah.

Kalau dalam cinta tidak pernah bertengkar,

pertengkaran pertama setelah menikah

akan berakhir dengan perceraian.

Pernikahan ini tidak akan bertahan setahun.

Aku tidak mau anakku menikah denganmu.

Kau boleh pergi.

Pak!

- Sebenarnya kami punya masalah. - Apa itu?

Itu adalah Ayah.

Stop! Kembali.

Ayahmu sudah gila?

Dia bilang tidak ada cinta tanpa drama.

Dia jadi sadis yang memisahkan keluarga untuk cari nafkah.

Maaf. Psikopat.

Dia pikir kami anak remaja bodoh dan tidak ada cinta sejati antara kami.

Aku anak yang hebat sampai menikahi pria 60 tahun

hanya karena dia sedang jatuh cinta.

Tapi kalau perempuan 25 tahun mencintai seorang pria,

ayahmu tiba-tiba jadi sadis,

egois yang tidak bisa meluangkan 10 menit untuk bertemu pria itu.

Kau putuskan mau bersama siapa.

Gautham.

Kita sudah sampai di rumah sakit. Turun, Bu.

Hati-hati, Bu.

Silakan duduk.

- Aku permisi dulu, Bu. - Ambil uang ini.

Tidak usah, Bu.

Aku baru saja berbuat dosa.

Aku sedang dalam proses menebusnya.

Aku tidak terima uang dari wanita hamil.

Aku tidak hamil.

Tunggu. Itu perut?!

Dasar donat berjalan! Bisa keguguran kalau jalan.

Ngapain naik Bajaj? Kasih uangnya.

- Masyarakat ini tidak membiarkan aku berbuat baik. - Gautham!

- Kau ngapain di sini? - Kalau kau?

Kau ke sini cek jantung? Kardiologi di mana?

- Bicara apa kau? - Sepertinya ke arah sana.

Halo, Pak Karthik. Selamat! Istrimu hamil tiga bulan.

Kabar manis! Aku yang traktir makanan manis!

Terima kasih!

Tapi pernikahanmu baru tiga bulan.

- Kenapa cepat banget? - Bukannya sudah tiga bulan?

- Apa kabar, Bang? - Tolong jangan panggil aku begitu.

Kalau si bodoh ini panggil aku abang ipar,

jantungku yang lemah tidak akan kuat.

- Mertuaku ada di sini. - Aku pergi dulu.

Siapa yang kasih tahu mereka?

- Aku telepon mereka untuk kejutan. - Manis sekali! Terima kasih.

Silakan masuk, Ibu Mertua dan Ayah Mertua.

Berapa kali aku bilang jangan panggil kami begitu?

Maaf, Paman, Bibi. Apa kabar?

Kasih tahu mereka.

Bu, Ibu akan jadi nenek dan Ayah akan jadi kakek.

Aku jadi bodoh.

Bu, dia panggil Ibu ke sini

supaya kami bisa minta restu.

Iya, Bibi. Kami butuh restu Ibu.

Kalian dapat restu kami hanya kalau tinggalkan dia.

Terima kasih atas aksi bodohmu.

Kami sangat terhina dan tidak bisa angkat kepala.

Maksudku, Bibi...

Kepalamu itu tas tangan supaya ditaruh di mana saja?

Kami tidak bisa tidur nyenyak karena kau.

Paman, tunggu sebentar.

Aku ambilkan pil tidur dari apotek.

- Hati-hati. Dia bisa kasih racun. - Ngomong-ngomong...

Ini Lovekusa, Paman.

Dia yang antar Putri Paman

pakai Bajaj dan nikahkan kami.

Kalau bukan karena dia,

cinta kami tidak akan berhasil.

Chinnu, ayo kita ambil obat.

Bagaimana kau bisa menikahkannya dengan pria tua?

Aku sumpah tidak tahu badut ini yang jadi pengantin pria.

Kalau tahu, aku sudah putar balik dan antar Putri Paman pulang.

Apa tidak ada penebusan untuk dosa ini?

- Ada penebusannya! - Ada penebusannya!

- Bibi, satu dosa. - Sebentar.

Chinnu!

Nak!

Ayah punya kabar baik untukmu.

Apa itu?

- Aku akan jadi ayah. - Bukannya kau sudah jadi ayah?

Ayahmu akan jadi ayah lagi.

Ayahmu lebih cepat dari Mohanlal di Bro Daddy.

Selamat, Paman!

Ayah!

- Selamat. - Sayang kau, Nak.

- Selamat, Bibi. - Terima kasih.

- Aku senang untukmu. - Gautham.

- Ayah punya permintaan kecil. - Bilang, Yah.

Ayah mau lihat anakku dan adikmu bermain bersama.

Ayah sudah melakukan bagianku.

Bagaimana denganmu?

Apa ayah mertuamu suka sama dirimu?

Kenapa bahas itu saat perayaan?

Memangnya kenapa dia harus suka sama aku?

Nak.

Ini normal bagi orang yang sedang jatuh cinta seperti kami.

Kalau kau sampai segini kesalnya,

bayangkan perasaan pacarmu.

Pergilah. Temani dia.

Paman, urusan pribadi.

- Minta saran? Ayo. - Iya.

Paman, aku sudah jatuh cinta dengan perempuan beberapa waktu.

Masalahnya, dia 5 tahun lebih muda.

Kau bisa bikin perempuan 25 tahun lebih muda jatuh cinta padamu,

dan mencintaimu.

- Ada tips? - Perempuan itu kuliah di mana?

Vignan College, Ameerpet.

Lakukan ini.

Buka tempat fotokopi di depan kampusnya.

Kau kan juga pengangguran.

Kariermu akan stabil dan cinta akan tumbuh.

Bagaimana?

Aku sujud padamu, Paman.

Anakku. Bukannya kau minta aku bawa dia?

- Namaste, Paman. - Namaste, Nak.

Apa pekerjaan pria yang kau nikahi?

Dia jualan pani puri dekat Taman Lumbini.

Dia mulai ajak ngobrol sambil bikin chaat.

- Lalu kenapa kau setuju dengan pernikahan itu? - Kapan aku setuju?

Aku jelas bilang mereka dapat persetujuanku hanya lewat mayatku.

Besoknya, dia bilang mau pergi ke kuil.

Aku izinkan. Itu kan cuma kuil.

Ya itu saja.

30 menit kemudian, mereka sudah menikah.

- Mau ke mana, Nithya? - Aku mau ke kuil, Yah.

- Kuil? - Pergi saja, Nak.

Kau perlu izin dia untuk pergi ke kuil?

Dia pergi dengan cara yang sama.

Berapa lama proses perceraiannya?

- Ayo kita pergi sekarang. - Apa dia mau ke kuil?

Kau pikir Putrimu juga menikah di kuil?

Ayo pergi.

- Starter motornya. - Kita punya mobil, Pak.

Kita akan macet kalau naik mobil.

- Starter motornya. - Oke, Pak.

- Starter. - Tidak bisa starter.

Ini masalah starter. Kita harus dorong.

- Ayo. Sekarang! Pelan-pelan. - Iya.

Kuil mana di sekitar sini yang paling sering ada pernikahan?

- Aku tahu satu, Pak. - Ayo.

Kau bilang Putrimu tulus. Lihat apa yang terjadi sekarang.

Kita terlambat, Pak. Lihat di sana.

Sudah berakhir, Pak.

- Ayo, Pak. - Nithya!

Sudah berakhir.

Apa kau memikirkan Ayahnya?

- Yah, kami... - Diam!

Kau mengecewakan Ayah sebagai Putri.

Orang seperti kami tidak mengharapkan banyak dari hidup.

Kami hanya ingin menikahkan Putri dengan tangan kami sendiri,

dan di tengah restu semua orang.

Tapi kau menikah tanpa semua itu.

Pernikahan?

Pernikahan? Bicara apa kau?

- Pak, pakai ini. - Apa ini?

Semua orang dapat kalung bunga di sini. Mungkin cuma tradisi kuil.

- Ayah berlebihan, Pak. - Nithya.

Kau bilang Ayahmu sangat menghargaimu.

- Dia bicara buruk tentangmu. - Nak.

Demi Tuhan!

Ayah sedang dalam perjalanan ke kantor dan mampir ke kuil.

Kantor, katanya.

Siapa yang pergi kerja pakai celana training?

Dia bohong. Dia mengikutimu.

- Bukan begitu, Nak. - Paman!

Aku tidak pernah kira kau akan serendah ini.

Kau selalu buktikan aku salah.

- Tolong dengar. - Kau buktikan aku salah.

- Nithya, dengar aku. - Tidak, tidak, Nithya.

Inikah Ayah yang restunya kau tunggu?

Kau lulus sebagai Putri.

Dia gagal sebagai Ayah.

- Dia gagal. Kau pergi, Nithya. - Katakan sesuatu, Bung.

Nithya, Nithya! Nak.

Aku juga pergi.

Apa?

Kau mau aku dan Putriku bertengkar?

Paman, pertengkaran itu cinta.

Cinta selalu datang dengan pertengkaran.

Cinta antara kalian berdua baru saja dimulai.

Kalau kau tidak setuju dengan pernikahan,

cintanya justru akan semakin kuat.

Itu kebenarannya.

Nithya, Nithya!

Kau meragukan Putrimu sendiri, Pak.

Ayah itu apa? Ayah itu kepercayaan.

Dan kepercayaan itu cuma kata lain untuk Ayah.

- Starter motornya. - Kata lain, Pak.

Pergi starter motornya!

Nithya!

Nithya, dengar Ayah.

Nithya!

Nithya, dengar Ayah dan buka pintunya.

Nithya.

Setidaknya minum jus.

Nithya!

Ayah setuju pernikahanmu dengan Gautham.

Keluarlah.

Yang benar aja.

Iya, sumpah.

Terima kasih, Yah.

Halo, Paman.

- Apa kabar, Jackie? Siapa mereka? - Salam, Pak.

Mereka adalah bujangan paling layak di daerah kami.

Mereka mau menetap dengan cara jatuh cinta.

Mereka ke sini minta tips.

Aku ini apa? Tipu Sultan yang bisa kasih tips?

Jangan begitu dong, Paman.

Kau keliatannya seperti Paman buat aku.

Beraninya kau panggil aku begitu!

- Siapa mereka? - Mereka datang ke ayahmu untuk konsultasi.

Nithya telfon bilang dia bawa ayahnya.

Suruh mereka pergi.

Pertemuan dibatalkan. Pergi, pergi.

Ayah, bersikaplah seperti orang dewasa yang matang di depan ayahnya.

Dia bicara apa? Ayah sudah matang selama 45 tahun.

- Kenapa Ayah harus matang lagi? - Dia tidak tahu arti kedewasaan.

- Halo, Paman. - Halo.

- Ayahku. - Salam, Pak.

Bagaimana perjalanannya?

Kau sebut Jubilee Hills ke Banjara Hills itu perjalanan?

Apa semua di rumah sehat?

Asisten rumah tangga? Iya, mereka baik-baik saja.

Mereka cuma orang di rumah. Jawab saja pertanyaan mereka.

Ini Nithya.

- Salam, Nak. - Salam, Paman.

Semoga diberi kesehatan, kekayaan, kemakmuran, keamanan,

- dan HITEC City dengan kedewasaan. - Tunggu.

Mari masuk, Paman.

- Silakan masuk. Ayo. - Dia berlebihan.

Ibuku, dia meninggal saat aku masih kecil.

Dia adalah segalanya bagiku sejak itu.

Hanya karena Tuhan tidak baik padanya,

aku tidak bisa melakukan hal yang sama, Pak.

Aku lakukan semua yang aku bisa sebagai seorang ayah.

Silakan duduk, Nak.

- Pallavi, bawa kopi. - Iya, sebentar.

Kelihatannya keluarga yang baik, Pak.

Maaf.

Putrimu?

Putri? Bicara apa kau?

- Dia ibu tiriku. - Ibu tiri?

Pernikahan kedua?

Tidak, Pak, pernikahan lagi.

- Silakan, Bang. - Terima kasih. Taruh saja di sana, Nak.

- Silakan. - Pak.

Tidak bikin merasa muda lagi saat dia panggil kau abang?

Maaf, Pak.

Mereka juga nikah karena cinta, Yah.

Gautham yang bantu mereka.

- Iya. - Apa orang tua setuju dengan pernikahan kalian?

Untungnya, tidak ada orang yang lebih tua dari aku di rumahku untuk menolak.

Lalu bagaimana dengan orang tuanya?

Orang tuanya sebenarnya lebih muda dari ayahku.

Makanya kami tidak punya masalah.

Bagaimanapun, dalam 6 bulan,

mertuaku akan menerimaku sebagai menantu.

Apa yang akan terjadi dalam 6 bulan?

Temanku akan punya adik laki-laki atau perempuan.

Kecuali kita punya anak,

orang tua tidak setuju dengan pernikahan cinta, Pak.

Kau kelihatan cukup bugar.

Kenapa tidak jatuh cinta dan menikah lagi?

Bagaimana, Paman?

Haruskah aku cari Bibi cantik untuk Ayah?

Aku tidak butuh saran kalian.

Oke.

Aku ke sini untuk bahas lamaran pernikahan Putriku.

Apa yang perlu dibahas?

Ayahku pikir yang kau butuhkan cuma tanggal baik,

gedung pernikahan, dan ide yang bagus.

- Betul, Yah? - Tentu.

Jujur, aku tidak suka dengan keluargamu.

Paman.

Kebiasaanmu dan kesalahan ayahmu.

Aku tidak setuju dengan keduanya.

- Yah! - Tunggu sebentar.

Aku setuju dengan pernikahan ini supaya Putriku tidak menderita.

Aku yang memilih untuk menderita.

Tapi, aku punya syarat untuk pernikahan ini.

Katakan saja. Persetujuan Ayah yang penting.

Aku selalu menasihati orang bahwa pernikahan cinta itu salah.

Kalau aku terima sendiri,

orang akan memandang rendah padaku.

Jadi aku putuskan pernikahan ini

akan dilaksanakan di kantor catatan sipil.

Nithya juga setuju.

- Bagaimana mungkin? - Akan terjadi.

Pernikahan adalah pengalaman satu kali untuk siapa pun.

Kau tidak boleh bilang begitu.

Tentu, aku menikah lebih dari sekali.

- Tapi itu tidak berlaku untuk semua orang. - Tepat.

- Nikah catatan sipil? - Kami tidak mau nikah catatan sipil.

- Kenapa tidak? - Itu tidak benar.

- Itu tidak ada dalam budaya kami. - Nithya.

- Bagaimana bisa tanpa tali kasta? - Nithya.

Bilang padamu akan setuju hanya kalau itu pernikahan catatan sipil.

Kami mau pesta pernikahan.

Siapa peduli di mana kita melakukannya?

Bagaimana bisa kita punya pernikahan catatan sipil?

Bagaimana bisa tanda tangan disebut pernikahan?

- Itu bukan pesta pernikahan. - Aku tidak peduli dengan semua itu.

Dengar, Ayah setuju saja sudah hal yang besar.

Setidaknya biarkan ini terjadi sesuai keinginan ayahku.

- Itu tidak. - Tolong!

Dengarkan aku jelas sekali.

- Ayo pergi. - Kau tahu keluarganya sangat disiplin.

Yah, Gautham setuju.

Bagus.

Ayo selesaikan saja ini.

Selain keluargamu dan keluargaku,

tidak boleh ada orang lain yang menghadiri pernikahan, oke?

- Oke, kakak ipar. - Bagus.

Ngomong-ngomong, namamu siapa lagi?

Karthik.

Kau dengar benar, itu Karthik.

- Dan kau? - Ramalingaiah.

Ayahmu seharusnya berpikir lebih modern.

- Apa? - Bukan apa-apa, kakak ipar.

Rishi, Roshan.

Aku kasihan padanya.

Ini tim kami dan ini Gautham.

- Hai. - Hai.

- Iya, senang bertemu. - Gautham, ini mejamu.

Mereka tulis Gautham di sini.

Mana ketua timnya?

Sebenarnya, ketua timnya mengundurkan diri.

Tapi, kurasa kita akan punya ketua tim baru minggu depan.

Oke, bagus.

- Kau lanjutkan. Semoga sukses. - Oke.

- Dadah. - Nakal.

Aku penasaran siapa rekan kerjaku.

Pak.

Ngomong-ngomong, karyawan baru?

Kau kelihatan bagus, Bro.

Ngomong-ngomong, aku Raj, Appalraj.

Terserah. Hapus foto itu.

Kenapa, Bro?

Dia gebetanku, Bro.

Dia tunanganku, Bro.

Belum jadi istrimu.

Akan jadi, dalam satu bulan, Bro.

Masih ada satu bulan, kan? Aku akan terus berusaha.

Iya.

Kau pikir kau Victory Venkatesh?

Mau membatalkan pernikahan sebulan sebelumnya?

Tidak, Bro.

Allu Arjun dari film Arya.

Nakal.

Kalau tidak hapus, aku potong-potong kau!

Kau mengerti?

Aku hapus, Bro.

- Gautham, kan? - Iya.

Aku akan lihat akhirnya.

Iya, benar, hapus dulu.

Di mana toko tato terdekat? Ketemu.

Selamat siang, Pak. Mau tato?

Bukan yang baru. Aku ke sini untuk hapus yang lama.

Tunggu 5 menit.

Sakit, Pak?

Sakit itu biasa dalam cinta dan perang.

Sudah selesai, Pak.

- Iya. - Sudah selesai?

Sudah selesai.

- Ada pelanggan lain menunggu. - Aku ke sana.

Kau ngapain di sini?

Dan kenapa kau di sini?

Karena hari jadi pernikahan kami semakin dekat,

aku tato namanya di dadaku

untuk kejutkan dia.

Kenapa kau di sini?

Aku juga ke sini untuk tato.

- Bagus! - Hapus tato harganya 5 ribu.

Pergi sana! Waktu yang paling buruk.

- Hapus tato? - Bukan!

- Nama siapa yang kau hapus? - Bukan begitu, Yah.

- Bukan begitu, Yah. - Perlihatkan.

- Yah, bukan apa-apa. - Tunggu. Perlihatkan!

Yah, yah.

Dia?

Kukira kau pemalu

karena kau tidak pernah jalan

di rumah tanpa baju.

Siapa ini Dia? Kasih tahu Ayah saja. Siapa dia?

Dia pacarku waktu kuliah.

Pacar lain?

Kurasa kita harus...

Pak, aku perlu bicara dengan Ayah tentang sesuatu.

Aku sedang dalam pembicaraan penting. Kembali nanti.

Kami juga punya hal penting untuk dibahas.

Sudah berapa lama kami minta yang baru?

Bapak tidak peduli sama sekali.

Bapak pikir ini kampus swasta?

Atau kalian bayar uang lakh-lakhan

untuk minta seperti ini?

Aku akan perbaiki saat dana pemerintah disetujui.

Jadi kami harus ke mana untuk buang air sampai saat itu?

Itu masalah kalian. Atasi sendiri.

Dia benar, Pak.

Ini masalah kami. Kami akan atasi.

- Mau ke mana? - Dia akan kembali.

Tanpa dana apa pun, kamar mandi Pak Kepala Sekolah bagus.

Benarkah?

Kami akan pakai kamar mandi Bapak

sampai yang baru dibangun.

- Beri tahu semua siswa. - Masalah selesai, Bung.

Kami ini siswa, Pak.

Kami lebih banyak coret- coret di dinding kamar mandi

daripada saat ujian.

Ke depannya, kami akan tulis kata-kata kasar.

Bapak tidak akan tahan.

Cepat bangun kamar mandinya.

Begitulah kami jadikan kantor kepala sekolah sebagai kamar mandi kami.

Karena mereka tidak pernah membangunnya,

- kami kumpulkan dana. - Hentikan!

Aku sedang bicara tentang Dia.

Kau malah cerita soal kompleks Sulabh.

Ada hubungannya, Yah.

Dia tidak lain adalah Putri kepala sekolahku.

Apa yang terjadi hari ini, Yah?

Gautham ubah ruangan kantorku

menjadi Kompleks Sulabh, Nak.

Bagaimana bisa mereka pakai kamar mandiku

hanya karena punya mereka tidak bagus?

Apa mereka akan pindah ke sini juga kalau asrama mati lampu?

Siapa ini Gautham? Jurusan apa?

Tunjukkan padaku, Yah.

- Aku akan kasih peringatan keras. - Jangan, Nak.

Kita harus jauh-jauh dari tempat sampah dan tangki septik.

Dia termasuk yang terakhir.

Gautham, pergi.

Ayah akan segera ke sini.

Dasar bodoh!

Dengan kekesalannya,

dia tidak akan kembali setengah jam lagi.

Berhenti tidak menghormatinya.

Berapa kali aku harus bilang padamu?

Jangan cari masalah dengan ayahku.

Kalau dia benar, kenapa aku harus berdebat dengannya?

Bagaimana kalau dia menentang pernikahan kita

karena semua masalah ini?

Aku akan tinggalkan kau dan putus.

Kau akan tinggalkan aku?

- Kau akan tinggalkan aku? - Iya.

Kau akan tinggalkan aku?

Aku sudah lama mau bilang ini.

Apa ini?

Aku baru-baru ini nonton film Tamil.

Untuk mengesankan sang heroine...

sang hero tato namanya.

Jangan terapkan logika film

ke kehidupan nyata tolong.

Bicara soal film...

- Aku nonton film Inggris kemarin. - Dia.

Dia ke sini lagi.

Dia.

- Ayah dengar suara. - Suara?

- Kau lagi telponan? - Aku tidak bicara kok.

- Tidak? - Ada apa, Yah?

Apa?

- Apa yang Gautham lakukan di sini? - Gautham?

Gautham yang mana?

Yah.

Kau tampak sangat terganggu olehnya.

Makanya kau berhalusinasi melihatnya.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

- Ayo. - Tunggu sebentar.

Aku tidak tahu. Mungkin ini semua karena stres.

Istirahatlah, Yah.

Kalau kau sampai segitunya mengganggu ayahnya,

bagaimana dia bisa jatuh cinta padamu?

Memang perlu dibahas?

Kenapa ibu tirimu mencintaimu?

Lupakan. Lanjutkan.

Aku tidak percaya para pengulas

waktu mereka bilang film mempengaruhi kehidupan nyata.

Mereka benar.

Film sangat mempengaruhi hidupku.

Pak Kepala Sekolah! Turun, turun!

Suatu hari, ayahnya melihat kami bersama.

Dia tidak terluka oleh cinta kami.

Dia hancur karena fakta bahwa aku mencintainya.

Dia menahan dia di rumah selama empat hari.

Tidak ada panggilan atau pesan, aku jadi gila.

Dia menelepon aku setelah seminggu.

Gautham.

Ayahku tahu tentang kita.

Jangan khawatir. Aku yang urus semuanya.

Ada apa?

Bukan apa-apa, Bung. Ayahnya tahu tentang kami.

Kita harus cari cara, Bro.

Mani!

- Mani itu... - Si Ratnam.

Apa beberapa tanda tangan

benar-benar bisa jadi pernikahan?

Tunggu, Gautham.

Kau pikir pernikahan semudah itu?

Ini bukan pesta pernikahan, Nak.

Ini perlindungan kalau Ayahmu

coba menikahkanmu besok.

Apa itu pernikahan?

Itu adalah benang suci,

cincin kaki, dan tujuh langkah bersama.

Kita akan lakukan semua itu setelah kami mapan.

Tidak, Gautham, aku takut.

Jangan takut, aku di sini untukmu.

- Ayo. - Gautham.

N. SATYAMURTHY

Nama di sertifikat kastamu,

dan akte kelahiranmu tidak cocok.

Huruf A-nya hilang.

Perbaiki dulu dan kembali lagi.

Pak, saat itu mereka sudah menikahkannya.

Itu yang aku inginkan. Selanjutnya!

- Pak. - Selanjutnya!

Kau menikah tanpa beri tahu orang tua?

Siapa yang ke sini dengan restu keluarga?

- Gautham. - Kau tunggu.

Dengarkan, Nak.

Keputusan tergesa-gesa seperti ini

bisa menghancurkan seluruh hidupmu.

Cukup dengan iklan Rahul Dravid yang menggurui.

Kami bukan anak-anak lagi, tapi kami sudah dewasa.

Lakukan saja pekerjaanmu, Pak.

Tepat sekali, Kawan!

Bicara apa kau?

Kau berlaku seperti pahlawan bawa kalung bunga murahan.

Bagaimana kau akan menghidupinya?

Aku cuma jual gelangnya dan hidup dari itu.

Kenapa kau peduli? Lakukan saja.

Aku kasih tahu.

Berhenti cari kesalahan pengejaan.

Kami ke sini setelah cek latar belakangmu.

Kau tidak punya pilihan lain selain menikahkan kami.

Katakan padaku, Nak.

Apa kau masuk ke pernikahan ini dengan kehendakmu sendiri?

Bilang padanya.

Iya, aku mau, Pak.

Jangan salah paham dengan pertanyaanku, Nak.

Setiap orang jatuh cinta.

Boleh aku tanya kenapa sampai ke pernikahan?

Kami sudah jatuh cinta selama 4 tahun.

Tapi kami tidak pernah sekali pun bertengkar.

Bukannya itu alasan cukup untuk percaya bahwa hidup

bersamanya akan benar-benar bahagia?

Boleh aku tanya satu hal lagi, Nak?

Mau nomor ayahnya? Kami tidak akan kasih.

Pertama, kasih tahu kami di mana harus tanda tangan.

- Tanda tangan di sini di register. - Di sini?

Harusnya kau bilang dari tadi! Kau mau tanda tangan dulu?

Boleh aku?

- Selanjutnya! - Pak Register!

Ingat kata-kataku.

Potlakayila Gautham.

Mungkin ada sayuran dalam nama keluargaku,

tapi kami akan perlakukan dia seperti ratu.

Aku tidak ingin bertemu kalian lagi.

Kalau jalan kami bersilangan lagi,

aku akan pastikan kalian panggil kami

pasangan terbaik dalam satu dekade sendiri.

Selamat tinggal!

Kau bilang dia pacarmu. Apa kau menikahinya juga?

Itu terjadi begitu saja, Yah.

Lalu apa yang terjadi?

Kami putus dan melanjutkan hidup.

Aku tidak tahu dia di mana sekarang.

Dia menjalani hidupnya dan hidupku.

Kalau Nithya tahu tentang ini,

dia akan seret kalian berdua ke acara Batuku Jataka Bandi itu.

Ayah membesarkanmu seperti Raja.

Tidak pernah kira akan melihatmu berhadapan dengan Roja di TV.

Yah, berhenti memberiku tekanan yang tidak perlu.

Kalau aku hapus tato ini, akan hilang, kan?

Bagaimana mereka bisa tahu?

- Hapus itu. - Singkirkan.

Pak, ini tato permanen. Tidak bisa dihapus.

Dengar.

Curahkan saja sedikit fenol, minyak tanah dan gosok, Bung.

Pak, ini bukan cuci kering, ini toko tato.

Cari saja solusinya.

Cobalah.

Iya, Sruthi. Aku segera ke sana, Sayang.

Dia punya pacar.

- Iya, Nithya. - Di mana kau, Gautham?

Tato.

Iya, aku lagi makan siang

di restoran Tato Teetee Chinese.

Kami pikir mau ke kantor catatan sipil.

Kirim lokasimu dan aku jemput.

Tidak, aku ke kantor saja.

- Oke. - Dadah, Yah.

Ada apa? Kau kelihatan aneh.

- Apa semuanya baik-baik saja? - Iya, baik-baik saja.

Kau kelihatan seperti sedang dalam tekanan.

Apa? Tekanan?

Tidak mungkin, aku senang.

Bagaimanapun...

kantor catatan sipil mana yang akan kita tuju?

- Madhapur. - Madhapur?!

Maksudku Vanasthalipuram itu perjalanan yang bagus.

Kita bisa menikmati perjalanannya.

Kau gila?

Ngapain jauh-jauh?

Kalau kita menikah di Vanasthalipuram,

semua orang akan senang.

Makanya.

Di mana pun kita menikah,

kita akan bahagia, oke?

Tolong tanda tangan di sini dan suruh dia tanda tangan di sini.

- Dan ambil ini juga. - Permisi.

Beri aku formulir permohonan pernikahan.

Sudah selesai, ayo.

Bagaimana bisa kau isi secepat itu?

Aku ke sini untuk pernikahan temanku.

Itu pengalaman. Aku akan bantu kau, ayo.

Ayo.

Dia belum pensiun juga?

- Siapa namamu, Nak? - Nithya, Pak.

- Nama keluarga? - Vedula.

- Namamu siapa? - Gautham.

- Nama keluarga? - Potlakayila.

Kau pernah ke sini sebelumnya, kan?

- Tidak, ini pertama kalinya aku ke sini. - Dia pernah ke sini, Pak.

Itu yang aku bilang.

Dia cuma ke sini jadi saksi

di pernikahan teman.

Saksi di pernikahan teman.

Aku lupa, Pak.

Pak, kapan kami tahu tanggalnya?

Kau sudah kasih nomormu, kan? Kami akan telepon.

- Kalian bisa pergi sekarang. - Oke, Pak.

Ayo, sudah sore.

Dia ke sini untuk pernikahan temannya?

Ambil uang ini untuk toko fotokopimu.

Menetaplah dalam hidup.

Terima kasih, Paman.

- Paman, aku punya pertanyaan. - Apa itu?

Sampai sekarang, aku sebenarnya belum pernah melihatmu bekerja.

Bagaimana kau dapat semua uang dan properti ini, Paman?

Apa ayahku ninggalin properti atau apa?

Selain abu ayahku, aku tidak punya apa-apa.

Apa kau investasi saham atau apa?

Aku ini singa. Ngapain aku butuh saham?

Oke, apa kau beli Bitcoin?

Aku cuma pernah berurusan dengan bit-bit.

Aku tidak ada urusan dengan Bitcoin.

Bagaimana kau dapat semua kekayaan dan properti ini?

Ayo.

Dia alasan di balik semua ini.

Siapa, Paman? Salah satu leluhurmu?

Bukan, dia Raja Bhutan!

Dia yang perkenalkan lotere Bhutan.

Sejak aku kecil,

aku punya kebiasaan beli tiket lotere.

Tapi tidak pernah menang.

Suatu kali, aku berdoa ke fotonya

dan beli tiket.

Begitu saja, aku menang tiga puluh crore.

Tapi pemerintah potong tiga puluh persen.

Sangat tidak adil.

Kau kerja nol tapi masih dapat tujuh puluh persen.

Itu tidak tepat disebut tidak adil.

Ironisnya, tanah yang memberimu kekayaan ini

tetap miskin. Bhutan yang malang.

Aku melakukan bagianku untuk negara.

Sumbangan tahunan 1.116 rupee

ke PM Relief Fund.

Kau dapat jackpot dan hanya menyumbang recehan.

- Begitulah caranya. - Ayah!

- Kabar baik. - Apa itu?

Petugas catatan sipil tidak mengenali kami.

Keluarga kami aman.

- Hebat, Bro! - Hebat!

- Halo. - Dia anakku.

Pak, sepertinya fotokopi kartu Aadhaarmu hilang.

Dia mau ketemu kau.

Ambil dan langsung ke kantor Catatan Sipil.

Hilang lagi? Ini benar-benar kacau.

Kau minta fotokopi Aadhaar? Ini.

Kapan kira-kira pernikahan kita?

Kau dapat panggilan. Pergi.

Oke, terima kasih.

Jadi apa kau putus dengan perempuan itu?

Pasangan terbaik dalam satu dekade!

- Dia ingat aku. - Kau kira aku akan lupa?

Pak Potlakayila Gautham?

Kalau kau tanda tangan diam-diam, pergi,

dan aku akan biarkan kau pergi.

Kau bilang supaya aku ingat kau sebelum pergi.

Pak.

Aku masih muda dan sembrono waktu itu.

Aku buat kesalahan tanpa tahu lebih baik.

Kalau Ayah bisa berbaik hati untuk bekerja sama,

aku akan perbaiki kesalahanku. Aku akan benahi hidupku.

- Bukankah kau sudah dewasa? - Sudahlah, Pak. Dewasa apa?

Apa aku pergi perang atau bertempur?

Aku salah, Pak. Maafkan aku.

Sekarang, egoku puas.

Apa kau kasih tahu perempuan ini tentang perempuan itu?

Apa itu benar-benar sesuatu yang perlu disebutkan?

Jadi, kau menikahi perempuan ini

- tanpa kasih tahu dia yang sebenarnya? - Iya, Pak.

Aku juga tidak akan kasih tahu dia.

Terima kasih, Pak.

Pergi ambil surat cerai.

Perceraian?! Bicara apa kau, Pak?

- Kalian berdua berpisah, kan? - Kami putus dan melanjutkan hidup, Pak.

Untuk putus dan berpisah,

kalian berdua bukan cuma pacaran.

Suami dan istri.

Untuk lanjutkan pernikahan ini,

bawa Aadhaarmu,

Sertifikat Kasta,

dan surat ceraimu.

Aku tidak tahu di mana dia tinggal, Pak.

Kalau dia muncul besok,

tanya kenapa aku menikahkan pria yang sudah beristri,

dan ajukan kasus,

mereka akan buang kita berdua ke penjara.

Mau kita pergi?

Pergi ambil suratnya.

Pak.

Tidak bisakah kau terima uang saja

dan berpaling?

Bawa surat cerainya.

Pernikahan akan terjadi.

Pergi!

Jadi, siapa nama perempuan ini?

Nithya.

Jadi, kau pengantin harian.

Pergi.

- Pastikan berkasnya siap besok pagi. - Oke, Pak.

Nak, apa kalian sudah daftar di kantor Catatan Sipil?

Sudah, Yah.

Mereka akan beri tahu tanggal pernikahan dalam seminggu.

Bagus sekali. Jadi kau senang?

- Sangat senang. Terima kasih banyak. - Oke, Nak.

- Sayang kau. - Sayang kau! Masuk ke dalam.

Pak, kau benar-benar Ayah yang hebat.

Kau terima cinta Putrimu

dan kasih lampu hijau untuk pernikahan mereka.

Bagaimana bisa Bapak pikir aku akan izinkan Putriku

jadi anggota keluarga itu?

Pak, maksud Bapak apa?

Sebelum Putriku tanda tangan

di kantor Catatan Sipil...

Kalau dia buat satu kesalahan saja dan ketahuan,

aku akan hentikan pernikahan mereka segera.

Pak, bagaimana kalau dia tidak buat kesalahan itu?

Apa dia Tuhan sampai tidak pernah salah?

Dia anaknya Karthik yang menikah dua kali tanpa malu.

Bung, ada 3 profil Facebook

dengan nama Dia Kakarla.

Tapi satu punya foto Kajal, satu punya Samantha,

dan yang ketiga punya foto Sai Pallavi.

Yang mana ya?

Aku rasa bukan salah satu dari mereka, Bung.

Yang tidak percaya diri dengan penampilan mereka yang sembunyikan diri di balik foto selebriti.

Bagaimana kau tahu?

Aku taruh foto Mahesh Babu sebagai DP-ku.

Untuk amannya, pesan dulu profil Sai Pallavi itu.

Dia penggemar berat Sai Pallavi.

500 rupee untuk foto. 10.000 rupee untuk video.

Bung, dia minta 10.000 rupee untuk panggilan video.

Telepon dia!

- Tunjukkan padaku. - Ini.

Ini urusan lain.

Aku tidak kira itu baik.

Pernikahan baru saja terjadi dan dia sudah bilang.

- Dia hamil, kan? Jadi... - Apa kau tidak akan pernah berubah?

Cek.

- Yah, apa Ayah cari? - Iya, yang ini.

Tulisannya 'Putri kecil Ayah'.

Pasti dia.

Hai, Dia. Kau di mana?

Apa kabar? Ini aku, Gautham.

Dia bilang apa?

Bung, dia masih anak sekolah.

Sri Chaitanya biotek!

Akun anak-anak!

Aku salah baca bio-nya, Bung.

- Karthik! - Chinnu?

Hari ini Vaikunta Ekadashi.

Kita harus pergi ke kuil. Ayo siap-siap.

Ini Ekadashi.

Tapi mereka jalan-jalan bergandengan tangan.

Pergi sana.

Aku benar-benar sekarat di sini sendirian.

Pergilah, Yah.

Bung, aku temukan profil Rashmi Mundaka.

Lihat apa yang ada di sini.

Gautham, kau juga.

Ayo, kau bodoh!

Vaikunta Ekadashi ini sangat penting.

Paman, Putrimu memanggilmu.

Itu istriku.

Dia kelihatan seperti Putrimu bagi orang lain, kecuali kau.

Petugas Catatan Sipil menolak menikahkan kami

sampai dia lihat surat cerai.

Apa ini satu-satunya kantor catatan sipil di kota?

Mari menikah di kantor catatan sipil yang berbeda.

Haruskah kita lakukan sesuatu seperti itu?

Dia bilang akan bocorkan semuanya

ke mertuanya.

Kenapa dia anggap itu masalah pribadi?

Tentu saja dia akan.

Apa yang anakmu lakukan di pernikahan Dia

bukan hal kecil.

Dia bicara seperti anggota DPRD yang baru terpilih

di konferensi pers.

Di atas itu, dia pergi dan panggil mereka

pasangan terbaik dalam satu dekade.

Kenaplokan!

Pemarah!

Baiklah, aku memang mulut besar.

Ketahuan, pertama kalinya.

Kuil ini sangat kuat.

Lakukan tiga putaran dan semua hambatan pernikahanmu akan hilang.

Baiklah, akan aku lihat.

Dia, kenapa kau di sini?

- Aku cuma sedang berdoa. - Siapa kau?

Aku?

Tidak apa marah padaku.

Tapi aku perlu bicara denganmu.

Apa kau tidak akan tanya apa itu?

Meski mungkin tampak tidak perlu,

aku perlu memberitahumu.

Kita menikah terlalu muda.

Pernikahan ini menghambatku.

Hidupku ada di tanganmu sekarang, Dia.

Kalau kau setujui perceraian,

tidak ada dari kita yang akan bermasalah.

Paman, ambil prasadam.

Paman, itu Dia.

- Dia kelihatan cantik. - Terus?

- Haruskah aku nikahi mereka berdua? - Hentikan omong kosong.

- Tidak semua orang seperti kau. - Bukan begitu, Nak.

- Apa dia pasang cincin kaki pada perempuan itu? - Tidak, Paman.

- Apa dia ikat tali pernikahan? - Tidak, Paman.

Kenapa kau ganggu aku? Aku sudah stres.

Kalau dia tidak ikat tali...

Kalau kau setujui perceraian,

tidak ada dari kita

yang akan bermasalah.

- Tunggu, Yah! Aku lagi bicara sama dia, kan? - Lihat ke bawah.

Apa masalahmu, Yah?

- Ada cincin kaki di kakinya. - Terus?

- Kau lanjutkan, Dia. - Dia sudah menikah, Nak.

Nak!

Selesai ber-darshan.

Aku bagi prasadam untuk para pengemis.

Pengemis?

Dia baru saja panggil kita pengemis, Nak.

Bagaimana dengan perceraianku?

Gautham! Kau di mana?

Sepertinya ada dokumen yang kurang di catatan sipil.

Mereka tidak akan kasih tanggal

tanpa dokumen-dokumen itu.

Serahkan segera.

Aku sedang mengurusnya.

Bagaimana bisa dia menikah, Bung?

Apa dia tidak memikirkan aku?

Kau juga akan menikah.

Apa kau memikirkan dia?

Maksudku, akan lebih membantu

kalau kau dapat nomornya.

Dia sudah menikah dan bahagia sekarang, Bung.

Kenapa ganggu dia untuk perceraian lagi?

Tapi petugas catatan sipil tidak mengizinkan.

Dia bilang surat cerai wajib.

Iya, benar, Bung.

Bagaimana kalau aku tidak menikah secara catatan sipil?

Bagaimana kalau aku menikah di luar seperti dia?

Tidak perlu surat cerai kalau begitu, Bung.

- Ayah! - Hebat, Bung.

- Halo! - Halo, kakak ipar. Karthik di sini.

- Kau? Ada apa? - Tidak ada, kakak ipar!

Ada acara kecil di rumah kami, kakak ipar.

Tolong datang bersama menantu.

Sudah aku bilang bahwa tunangan,

dan acara mehendi tidak perlu.

Tidak, ini acaraku.

Acaramu?

Kami merayakan baby shower istriku.

Kau tidak malu?

Orang akan menertawakanmu

karena punya seemantham sekarang.

Halo, Kakak Ipar.

Paman Chanti, apa kabar?

Aku sudah menunggumu

untuk melakukan sesuatu dengan hidupmu.

Tapi kau tidak melakukan apa-apa.

Di usia ini, ini yang kau capai.

Kau di tahap akhir hidup,

dan kau tidak mencapai apa-apa.

Kau ke sini untuk makan, kan? Ayo, makanlah.

Pergi sana! Dasar saudara-saudara ini!

Mereka menangis kalau tidak diundang. Saat diundang, mereka bikin kita menangis.

Hai, Om!

- Dia legenda yang aku bicarakan. - Namaskaram!

Dia mau aku ucapkan terima kasih

karena bikin hidupnya lebih mudah dengan tipsmu.

Tuhan memberkatimu! Apa masalah mereka?

Dia sudah menikah 30 tahun,

tapi belum punya anak, Om.

Tapi lihat kau, Pam... Kau masih memukul sixer di usia 60-an.

Makanya aku bawa mereka ke sini untuk tipsmu.

Mereka semua anggota klub Rotary.

Kalau mereka jadi Ayah berkat kau,

mereka akan beri gelar 'Bapak Banjara Hills.'

- Janji? - Janji, Pak.

Sederhana, Nak.

Kalau kalian mau jadi Ayah dalam sebulan...

- Saat kalian bangun pagi-pagi... - Paman.

Jangan bingung.

Maksudku, saat kita bangun pagi.

Ambil segenggam kecambah kacang hijau.

Kami harus apa dengannya, Paman?

Lempar ke halaman. Tanaman akan tumbuh.

- Kau pergi. Kita ketemu sore. - Kakak Ipar!

Terima kasih atas kehadiran dan restunya.

Kau pikir kau ngapain?

Aku cuma melakukan bagianku dalam melayani negara.

Cuma Bapak Banjara Hills,

atau kau juga mengejar gelar Bapak Bangsa?

Terima kasih, Nak.

- Pak, biarkan saja. - Anugerah Tuhan, kakak ipar.

Nak, ibu mertuamu menunggu.

Pergi minta restunya.

Pergi, pergilah!

Aku malu mengucapkan selamat padamu.

Bilang "semoga sukses" rasanya menjijikkan.

Tidak ada kesempatan untuk membiarkanmu.

Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Kenapa semua kesopanan ini antara kita, kakak ipar?

Ayo, ayo! Ayo!

Taruh di sana.

- Hai, Ibu Mertua! - Nithya!

- Sareemu bagus. - Terima kasih.

Di mana Gautham?

- Gautham di lantai atas. - Oke, kau lanjutkan.

Oke!

Gautham!

Siapa ini?

- Kenapa kau di sini? - Chinnu!

Chinnu, kau sudah siap?

Siap, Sayang!

- Di mana Nithya? - Dia pergi ketemu Gautham.

- Gautham pergi mandi, Paman. - Dia akan kembali, Nak.

Mandi? tato?

Ayo pergi.

Apa ini?

- Bukan apa-apa! - Itu tato?

Bukan apa-apa.

Kau tato namaku,

dan tidak bilang padaku.

- Perlihatkan. - Tidak! Tidak!

- Perlihatkan. - Tidak.

Siapa Dia?

- Dia selesai. Dia benar-benar selesai. - Kasih tahu! Siapa Dia?

Jadi, kau meragukan aku?

Ayah!

Dia meragukan aku

sebelum pernikahan.

- Aku tidak tahan. - Siapa Dia?

Aku harus tunjukkan?

Sepertinya aku tidak punya pilihan. Kau tidak percaya padaku.

Baik! Lihatlah.

INDIA?

- India? - INDIA!

Kau tahu betapa aku mencintai negara ini?

- Mera Bharat Mahan! - Iya, Nak!

- Dia mencintai India sejak kecil. - Dia mulai lagi.

Dia minta jersey timnas India

untuk ulang tahunnya sekali.

Aku kesulitan waktu itu tidak punya uang.

Akhirnya, aku main Ranji Trophy,

- dan belikan dia jersey timnas India, Nak. - Iya, Kak.

Dia sangat mencintai India.

Makanya dia suka nonton Indiana Jones terus.

Kau meragukan aku.

Maaf. Cepat siap-siap dan datang.

Dia bersikap seperti ini

saat ada yang mempertanyakan patriotisme-nya.

Nithya.

- Nak. - Aku lolos. Terima kasih, Tuhan.

Dari mana datangnya India itu, Nak?

Aku tahu ini akan terjadi.

Dia bilang tidak bisa menghapusnya.

Jadi, aku pakai otakku,

ubah Dia jadi India dan buat tato.

Kau buktikan bahwa kau anakku.

Chinnu!

Ada apa, Chinnu?

Aku coba telepon Ibu.

Dia tidak jawab.

Hentikan!

- Kau sudah selesai, kan? - Iya, sudah.

Antriannya panjang. Minggir.

Semua lanjutkan setelah dia selesai.

Ayo beri dia restu.

Tolong jaga kesehatanmu.

Ibu Mertua, Ayah Mertua, apa kabar?

- Apa kabar? - Kakak Ipar! Apa kabar?

- Hai, Keponakan! - Kau pergi. Pergi.

- Siapa mereka? - Nenek dan kakekku.

Tapi mereka tidak suka.

Maksudku, mereka orang tua bibiku.

Itu masalahnya.

Jadi, mereka yang tidak beruntung?

Ngapain pusingkan itu sekarang, Pak. Ayo kita makan. Ayo.

Jaga kesehatanmu. Ayo kita pergi, Nak.

Makan siang dulu sebelum pergi, Ibu Mertua.

Kau kelihatan seperti ayah mertua bagiku.

Kenapa kau panggil aku ibu mertua?

Aku tidak akan menerimamu sebagai menantu dalam hidup ini.

Itu final.

- Ayo, Nak. - Ayo pergi.

- Orang-orang menjijikkan! - Bu!

Kami selalu berpesta besar, Paman.

Dia tidak suka cara lain.

Bagaimana menurutmu, Yah?

Iya, kakak ipar.

Kakekku selalu bilang untuk buat semuanya megah.

Tapi menikahkan anakku

hanya di kantor catatan sipil.

Aku tidak bisa terima itu.

Bung, sepertinya kari terongnya habis.

Sajikan sesuatu. Atasi saja dengan kentang.

Tapi, Paman, bukannya kita rencana menikah di catatan sipil?

Nak!

Pernikahan bukan cuma dua tanda tangan.

Itu dua kehidupan.

Bukan cuma dua sertifikat,

tapi kenangan yang tak terhitung.

Kau katakan sesuatu juga, Nak.

Pernikahan itu seperti kalungan bunga plastik yang tidak pernah layu.

Itu thalambralu dari sterofoam yang tidak pernah kering.

Menari di Sangeeth, main Holi tapi bilangnya Haldi.

Obrolan wanita yang tak henti-hentinya disamarkan sebagai Mehandi.

Irama DJ, menari ala Teenmar,

dan prosesi yang menghalangi lalu lintas.

Pendeta yang tidak terpelajar membaca dari WhatsApp.

Grup musik yang mentok di Thaman

karena tidak bisa main Nadaswaram.

Akrobatik yang dibuat fotografer buat kita lakukan di sesi pre-wedding.

Saudara yang datang cuma untuk makan.

Pria yang pamer ke para wanita.

Para Bibi yang pamer semua emas yang dikumpulkan di rumah.

Para Paman yang tanya "Sekarang ngapain?"

ke setiap pria yang mereka temui.

Pernikahan bukan cuma acara, Paman.

Itu seluruh festival.

- Hebat, Nak! - Tidak apa.

Bagaimana menurutmu, Nithya?

Tidak, Yah. Ayah sudah melakukan cukup banyak.

Gautham, kita tidak menikah

untuk membuat semua orang senang.

Kita menikah untuk kebahagiaan kita sendiri.

Ayah akan senang

kalau kita menikah di catatan sipil.

Jangan bahas ini lagi.

Kita akan menikah di kantor catatan sipil.

Ayo, Yah.

- Aku permisi dulu. - Aku minta maaf, Nak.

Bung, kari kentangnya habis. Mereka bikin keributan.

Makan aku saja, Bung. Pergi sana!

Ngomong-ngomong, berapa banyak Ayah undang?

Ayah cuma undang 50, Nak.

Tapi mereka saudara jadi 150 yang datang.

Kalau dipikir-pikir,

nikah catatan sipil lebih baik, Nak.

Kita tidak bisa memberi makan sebanyak ini.

Ayah tidak melalui semua ini

untuk pernikahan kedua Ayah.

Kenapa aku harus hadapi semua ini untuk pernikahanku?

Jujur, itu masalah saat kau menikahi perempuan lain

sementara yang pertama masih ada.

Jalanku jelas.

Yah.

- Kau luar biasa! - Kau paham karena kau anakku.

Kau langsung ke rumahku?

Pak, batalkan pernikahanku.

Pak, aku tidak mau menikah.

- Ada apa? - Pak, aku tidak bisa mengatakannya sendiri.

Setidaknya kasih tahu apa masalahnya.

Pak, aku tidak bisa mengatakannya sendiri.

Hanya kalian berdua di sini.

Kalau kalian berdua tidak kasih tahu aku, dari siapa lagi aku akan tahu?

Tidak perlu tahu, Pak. Tolong batalkan pernikahanku segera.

Kenapa kau menangis? Apa kertas di tanganmu?

Tidak, Pak, Bapak tidak boleh lihat. Aku tidak bisa kasih pada Bapak.

Pak, jangan lihat.

- Apa Dia meninggal? - Iya, Pak. Dia sudah meninggal.

- Bagaimana sebenarnya dia meninggal? - Itu kecelakaan skuter, Pak.

Bapak tahu bagaimana perempuan menyetir skuter.

Dia coba pakai kakinya untuk berhenti alih-alih rem, Pak.

Apa skuternya berhenti?

Bukan skuternya yang berhenti, tapi hatiku, Pak.

Dia telah pergi ke dunia yang tidak diketahui dari mana dia tidak pernah bisa kembali.

Kenapa dia melakukan itu?

Dia mandiri dan ingin berdiri di atas kakinya sendiri, Pak.

Sampai segitunya?

Pak, apa Bapak tahu di mana dunia-dunia dari mana kita tidak bisa kembali?

Tolong kasih tahu alamatnya, Pak. Aku juga akan mati.

Apa kau akan mati?

Kau masih punya banyak hidup di depanmu.

Pak, apa arti hidup tanpa istri?

Hanya dengan dua tanda tangan, apa itu membuatnya menjadi istrimu?

Itu kesalahan yang kau buat saat kau tidak tahu lebih baik.

Jangan anggap terlalu serius.

- Kau harus menikahi Nithya. - Tidak, Pak.

Aku seorang duda.

Aku akan hidup dengan kenangan akan Dia.

Untuk duda seperti kami

untuk melupakan masa lalu...

Alkohol adalah satu-satunya yang kami punya.

Kapan pun Dia terlintas di pikiranmu, datanglah ke tempatku.

Minum dan menangislah sebanyak mungkin, perlahan lupakan Dia.

Aku akan tentukan tanggal pernikahanmu dengan Nithya.

Terima kasih, Pak.

Ayah hebat.

Aku akan pulang dan coba redakan kesedihanku dengan ini, Pak.

Aku akan coba redakan kesedihanku dengan ini.

Dia tidak bisa minum tanpa makanan, Pak.

Ini namanya Guru Purnima.

- Apa hari ini Guru Purnima? - Iya, Pak.

- Iya, Pak. - Jam berapa?

Jam 9:30 pagi, Pak.

Dia mungkin sedang dalam perjalanan.

Siapa, Pak?

Dia memperlakukan orang dengan martabat dan hormat.

Dia muridku, Gunashekhar.

Kalau dia muncul, bilang aku tidak di rumah. Aku akan sembunyi.

Pak.

- Apa Pak tidak ada? - Pak sudah keluar.

Tidak apa-apa. Aku akan ambil sandal dan lakukan ritualnya.

Aku akan lakukan ritualnya.

- Pak. - Sandal itu harganya 30.000 rupee.

Aku ada di sini, kan?

Kasih kakimu, Pak.

Pak, apa Bapak tahu berkah

dari mencuci kaki Guru di Guru Purnima

sambil menyanyikan lagu dari film Guru?

Mikroplastik berbahaya untuk lingkungan.

Tolong hentikan!

- Sudah habis. - Hentikan, Nak.

Tidak terlihat seperti ritual persembahan susu, tapi seperti kau sedang Pedikur.

Ambil.

Aku beruntung!

Kenapa ambil susu ini? Apa kau mau bikin teh di rumah?

Pak, susu ini sesuci air Sungai Gangga bagiku.

Beberapa tetes susu ini di kepalaku setiap malam

sampai Guru Purnima membawa mimpi indah.

Dulu aku cuma pengacara jalanan.

Saat pohon ditebang untuk pelebaran jalan, dia berubah jadi pohon beringin dan menaungiku.

Sekarang aku mulai praktik hukum, semua karena Bapak, Pak.

Pujian untuk Guru!

Pak, susunya jadi lebih putih setelah cuci kaki Bapak.

Hai, Guna.

- Apa persembahan susunya sudah selesai? - Baru selesai, Bu.

Sebuah momen adegan yang luar biasa.

- Aku bisa tunjukkan lagi kalau mau. - Tidak perlu.

Keranjang hadiah apa itu?

Tidak tidur selama tiga malam.

Aku pikir hadiah apa yang bisa menghormati Guru seperti itu dan memutuskan.

Ini dia. Tolong terima ini, Pak.

Kau buka di depan aku?

Aku jadi malu.

Hadiah apa ini?

Tidak mengerti?

6 bunga dan 3 buah ini melambangkan

bagaimana hidupku telah mekar dan tumbuh karena Bapak.

Pekerjaanmu sudah selesai, kan?

Aku tidak akan ada di Hari Guru. Jadi jangan cari aku.

- Mau ke mana? - Aku tidak akan bilang.

Tidak masalah, pelacak di ponselmu akan pastikan aku tahu ke mana kau pergi.

Aku cuma bercanda, Pak.

Pak!

Garam? Ada di dalam.

Kenapa dia butuh garam, Pak?

Dia ambil garam dariku setiap bulan. Bukan hanya itu,

dia sampai di tahap ini karena makan garamku.

Orang gila!

- Gautham? - Iya.

Kau sudah serahkan sertifikat yang diminta petugas catatan sipil?

Sudah.

Mereka akan tentukan tanggal pernikahan kita dalam satu dua hari.

Sekarang, Tuhan pun tidak bisa hentikan pernikahan kita.

- Bung, ketua tim baru itu cantik banget. - Ayolah!

Kita sudah punya kecantikan yang memukau di sini.

- Lihat. - Sama sekali tidak ada kesempatan.

- Kenapa dia datang ke sini? - Selamat datang, Bu.

- Hai! - Hai!

- Hai! - Selamat datang, Bu!

Terima kasih banyak!

- Baik sekali! - Halo!

- Bro. - Tunggu!

Bu, itu Gautham.

- Dia di tim kita. - Permisi, Gautham!

Hai!

- Yuk pergi. - Iya.

Ketua timku?

Kemarilah. Ada sesuatu di sini.

Tidak, aku yang bersihkan.

Biar aku saja.

- Hai! - Hai, Bu!

Kalian berdua kelihatan dekat ya?!

Biar aku tebak.

Apa kalian berdua pacaran?

Kami akan menikah, Bu.

- Selamat, Gautham! - Terima kasih, Bu.

- Ini cinta atau dijodohkan? - Pernikahan cinta, Bu.

Kau bilang tidak akan mencintai siapa pun selain aku.

Tidak apa kalau kau menikah.

Jadi apa salahnya kalau aku jatuh cinta?

Gautham bawa hubunganmu ke pernikahan.

Jadi cintanya pasti tulus.

Kurasa dia suka hal-hal seperti tato

di dada dalam cinta.

- Maksudmu apa? - Jangan ungkapkan, tolong.

Dia melakukannya, Bu.

Melihat itu membuatku semakin mencintainya.

Kau sudah melihatnya?

Sudah, Bu.

Apa dia tato namamu?

- Sebenarnya itu India. - India sangat berarti bagiku.

Aku lebih suka tonton IPL

daripada Piala Dunia.

Kau ubah Dia jadi India.

Kau coba jebak aku, tapi tidak akan berhasil.

Tunggu saja, aku akan dapatkan kau.

- Sampai jumpa! - Iya.

Bro, aku perlu fotokopi ini.

Bung, ini kelihatan seperti surat cinta.

Iya, Bro, surat yang sama berhasil untuk temanku.

Jadi aku putuskan kasih dia surat yang sama.

Terus kenapa tidak tulis surat yang sama?

Aku bisa tulis, tapi tulisanku jelek.

Apa dia tidak merasa buruk dengan fotokopinya?

Aku kasih surat supaya dia rasakan apa yang aku rasakan.

Bro, berhenti kasih saran padaku.

Kasih saja fotokopinya. Aku harus pergi.

Jaga dirimu jauh dari anak-anak tahun pertama.

Terima kasih, Bro!

Ada apa denganmu, Bung?

Kupikir Dia tidak akan pernah kembali ke hidupku.

Kenapa dia kembali setelah kita usir dia?

Dia muncul sebagai ketua timku.

Bung, kau benar-benar sial.

Mantan pacarmu sekarang di bawah satu atap.

Apa dia kasih tahu Nithya tentang itu?

Itu satu-satunya yang tersisa.

Aku harus menikah sebelum dia bocorkan ini.

Kenapa dia telepon aku sekarang?

- Silakan lanjutkan. - Aku sudah tetapkan tanggal pernikahanmu.

- Pak?! - Ubah pemikiranmu untuk mengakhiri dirimu.

Kau akan menikah tanggal 22 bulan ini.

Terima kasih, Pak.

Terima kasih!

Apa kau masih memikirkan Dia?

Iya, Pak.

Satu-satunya cara untuk redakan sakitmu

adalah melalui alkohol.

- Datang ke toko anggur Mahaprasadam. - Pasti, Pak.

Kenapa kau periksa semuanya dan taruh kembali?

Semuanya di sini berumur 12 tahun 18 tahun.

Sepertinya mereka kehabisan stok segar.

Dia tidak tahu dasar-dasar tentang minuman keras.

Pak, semakin tua minumannya,

semakin baik mabuknya.

- Mau minum apa? - Signature.

Dia butuh tanda tangan di sini juga.

- Mau minum apa? - Kami akan.

Hentikan dia. Dia bisa buka di sini sendiri.

Ini, Pak.

- 40 ribu?! - Iya.

- Ini punyaku. - Oke.

Dia.

Bayangannya terus berkedip di pikiranku.

Kami ambil ini.

Mari kita jaga dalam batas kita.

- Merek itu selalu seperti ini. - Dia.

- Pak! - Kasih kuncinya,

aku akan ambil mobil.

Tidak, menyerahkan mobil

membuatku kehilangan istri.

- Ayo. - Pak, tenang. Aku yang urus.

Apa kau lihat siapa pun di sana?

Tidak, tidak ada siapa-siapa di sana.

Terkadang, aku merasa Dia terlihat dengan baju Merah.

Itu dia.

- Kau ambil mobilnya, tolong. - Baiklah.

- Halo. - Apa hantu pakai ponsel?

Aku tunggu di gudang.

- Pak. - Pak!

Bukannya kau mati dalam kecelakaan itu?

Apa keinginanmu belum terpenuhi makanya kau gentayangan jadi hantu?

Kau bicara omong kosong.

Aku minta surat cerai.

Kenapa kau bawa surat kematiannya?

Aku akan lihat akhirnya.

Pak.

Aku yang buat surat kematiannya.

Maaf tentang itu.

Kau tahu cara minta maaf?

Sulit bagimu bilang maaf, kan?

Gautham, ayah setuju pernikahan kita.

Sungguh? Dia setuju?

- Tapi... - Tapi?

Ucapkan maaf di acara pensiun besok.

- Maaf! - Apa sudah oke?

- Oke? - Aku akan ucapkan.

- Aku akan ucapkan. - Oke.

Kini, ketua OSIS kita Gautham akan ucapkan

beberapa kata tentang kepala sekolah.

Salam hormat untuk kepala sekolah kita

yang terhormat dan tercinta, Krishna Prasad.

Tepuk tangan meriah.

Selama dua puluh lima tahun,

dia telah memberikan pelayanan

tidak ternilai untuk kampus ini.

Tepuk tangan meriah.

Mereka bilang aku memberinya banyak masalah.

Mereka bilang aku akhirnya melukai perasaannya.

Ini berasal dari putrinya

karena kami sedang jatuh cinta.

Ayah!

Dia pikir ini platform yang tepat

untuk minta maaf padanya.

Maafkan aku, Pak. Aku minta maaf.

Pada akhirnya, kau mencapai tujuanmu

dengan menjadikan putrimu sebagai pion.

Selamat! Aku permisi.

Kalau tidak ada niat minta maaf,

seharusnya kau beri tahu aku dari awal.

Siapa yang beri hakmu untuk menghina

di depan semua orang?

Pensiun adalah momen spesial

dalam hidup siapa pun.

Di hari seperti ini,

kau hina ayahku di depan semua orang.

Ayahmu tidak punya reputasi yang bagus.

Beraninya kau bicara tentang ayahku seperti itu!

Kau sudah buat kesalahan.

Kau akan datang dan minta maaf pada ayahku.

Minta maaf ke ayahmu?

Tidak mungkin.

Itu untukku ayahku kasih kau kesempatan itu.

Kau tidak bisa minta maaf demi aku?

Aku merasa lebih aman dengan ayahku

daripada denganmu.

Kalau kau merasa begitu,

kenapa kau datang ke kantor catatan sipil? Ngapain menikah sama sekali?

Itu bukan pernikahan, itu cuma dua tanda tangan.

Begitu kertasnya disobek, semuanya berakhir.

Karena aku hanya memikirkanmu,

aku jadi terlihat murahan.

Pikiran akan masa depan

bersamamu membuatku takut.

Kalau kau sampai segitu takutnya, jangan hidup denganku.

Aku benci kau.

Kalau kau tidak menyebutnya pernikahan,

sobek sertifikat itu.

Aku akan sobek juga.

Tidak, Pak, tolong.

Ada apa, Pak? Bapak minta aku datang segera.

Aku sudah tetapkan tanggal pernikahanmu.

Tanggal 20 bulan ini.

Terima kasih!

Terima kasih, Pak.

- Aku akan beri tahu ayahku. - Silakan. Aku akan ikut.

Ayah benar-benar hebat, Pak.

Tanpa berpegang pada masa lalu,

Bapak tetapkan tanggal pernikahan.

- Terima kasih banyak, Pak. - Siapa bilang aku lupakan masa lalu?

Kau akan menikah hanya setelah serahkan surat cerai sebelum tanggal 20.

Bagaimana aku bisa dapat surat cerai dalam 20 hari, Pak?

Kau bisa urus surat kematian dalam dua hari.

Ini tidak seharusnya sulit bagimu.

Kalau tidak keberatan, tolong tunda hanya sekali lagi.

Tidak!

Tunda? Kenapa?

Ulang tahun ayahku jatuh pada tanggal 20

dan kami biasa rayakan dengan meriah.

Apa ada kemungkinan

untuk mundurkan beberapa hari?

Bagaimana kalau majukan dua hari?

Tidak, Pak, mari tetapkan tanggal 20.

Pergi.

- Aku akan. - Tolong, Pak. Hanya sekali ini.

Oke, Pak. Terima kasih, Pak.

Tolong! Tolong!

Kenapa dia begitu tegang?

Ada apa denganmu?

Petugas Catatan Sipil Satyamurthy sudah tetapkan tanggal pernikahan.

Oke!

Dia ancam akan kasih tahu Nithya segalanya kalau aku gagal dapat surat cerai.

Pernikahannya dalam 15 hari.

Bagaimana aku bisa dapat surat cerai segera?

Panik tidak akan dapatkan solusi.

Mari konsultasi ke pengacara dan jelaskan situasi kita padanya.

Dia akan cari solusi untuk kita.

Di mana aku bisa temukan pengacara

yang benar-benar bagus?

Pengacara bagus duduk di pengadilan, bukan di pasar.

Dicatat.

Pengadilan.

- Kasus apa ini? - Ini kasus perceraian, Pak.

Kenapa kau pilih bercerai?

Karena aku mau menikah lagi.

Apa pendapat istrimu tentang ini?

- Istriku sudah menikah lagi. - Iya.

- Apa kau ayahnya? - Iya, Pak.

Apa kau tidak kasih tahu dia bahwa menikah lagi itu salah?

Aku tidak bisa bilang begitu karena aku sendiri baru menikah lagi.

Jadi, ayah dan anak punya gen yang sama.

Kami berdua pakai celana jeans Mufti, Pak. Kami suka tukar-tukaran.

- Aku tidak bicara soal jeans. - Kau diam!

Tolong selesaikan proses perceraian

sebelum tanggal 20, Pak.

Apa yang mendesak?

- Karena... - Dia akan menikah tanggal 20, Pak.

Kau tetapkan tanggal pernikahan sebelum perceraian selesai?

Iya.

- Kenapa kau menikah pertama kali? - Itu terjadi begitu saja, Pak.

- Dan sekarang? - Sekarang aku putuskan dengan serius.

Haruskah aku tangani kasus ini dengan santai atau serius?

Serius dengan kasusnya dan buat perceraiannya sederhana.

Ya Tuhan!

Cap!

- Istrimu sudah menikah lagi, kan? - Iya.

- Lalu kenapa kau tidak? - Aku tidak punya pilihan itu, Pak.

Mertuaku bersikeras itu harus terjadi hanya di kantor catatan sipil.

Petugas catatan sipil menolak melanjutkan tanpa surat cerai.

Kenapa petugas catatan sipil menolak?

Sebenarnya, pernikahan pertamaku terjadi di kantor yang sama.

Dari yang aku lihat, kau terlalu gelisah.

Benar, Pak!

- Maaf. - Maksudku...

Mudah untuk menikah,

tapi perceraian itu rumit.

Ada beberapa langkah hukum yang harus kau ikuti.

Langkah pertama adalah

kau butuh tanda tangannya di surat cerai.

Maksudmu tanda tangan mantan istriku atau yang akan datang?

- Bisa kau minta dia tunggu di luar? - Yah, tolong tunggu di luar.

Itulah sebabnya aku tidak merekomendasikan pengacara amatir.

Apa langkah kedua?

Langkah kedua adalah kalian berdua harus ikut konseling.

Tahap ketiga adalah persidangan

yang melibatkan kedua pihak dan keluarganya.

Pak, apa semua ini tidak terlalu lama? Ada opsi ekspres?

- Bisa kau minta dia tetap di luar? - Pergi.

Pak, aku bisa atur dokumen palsu.

Tapi dia tidak akan datang ke pengadilan.

Bisa aku ganti dia dengan perempuan lain dan atur?

Aku punya banyak pilihan untuk itu.

Aku punya banyak pilihan, Pak.

Aku punya pilihan, Pak. Hanya waktunya kurang.

Baiklah, aku akan tinggalkan ruangan.

Kami ketahuan!

Apa yang bawa kau ke sini?

Masalahnya...

Untuk ajukan kasus perceraian.

Perceraian? Siapa yang mengajukan?

- Aku belum menikah. - Ini untuk ayahku.

Sungguh? Apa alasannya?

Ayahku berasal dari era '60-an

dan ibuku murni Gen Z.

Dia bagikan foto online, dan ada yang komen,

"Kau terlihat cantik."

Ibuku hanya balas, "Terima kasih"

dengan emoji hati, Pak.

Dia mulai membentaknya seperti pertengkaran promoter YouTube.

- Itu cuma emoji hati, kan? - Bagimu, itu cuma emoji.

Baginya, itu hati polos. Baginya, itu simbol cinta.

Meragukannya, dia seret situasi ke pengadilan.

Semua karena kesenjangan generasi.

Kau baru merayakan baby shower, kan?

Iya, Pak.

Apa rencanamu setelah perceraian selesai?

Mungkin untuk menikah lagi, Pak.

Sikap yang buruk di usia ini!

Pesan apa yang kau kirim ke masyarakat dengan ini?

- Apa yang Ayah coba katakan? - Mungkin tidak ada yang seharusnya seperti dia.

Benar!

Sudah selesai. Aku sudah toleransi kau cukup lama.

Membangun hubungan dengan

orang sepertimu adalah dosa.

Aku akan telepon Nithya sekarang.

Paman, mari selesaikan ini lewat diskusi.

Kau di mana, Nithya?

Aku tidak merasa tepat memanggilmu Ayah Mertua.

Apa kau mengerti apa yang kau lakukan?

Begitulah seharusnya kau tanya, Nithya.

Kenapa kau tidak bicara apa-apa?

Saat pengaruh Saturnus pada kita,

yang benar terasa salah, Nak.

Memanggil seseorang 'sayang' diperlakukan seperti dosa.

Aku tidak tahan dengan keluarga ini.

Melihat apa yang dia lakukan,

aku merasa ingin hentikan pernikahan segera.

Bicara apa kau, Pak? Kau pengacara yang hebat.

Bayangkan seorang biadab berusia 60 tahun

yang bunuh seseorang dan juga merampok di jalan.

Terus?

Apa kau akan menghukum pria

yang melakukan kejahatan atau anaknya?

Kenapa menghukum anaknya?

- Aku akan hukum prianya. - Tepat.

Kalau ayahku yang melakukan kejahatan,

kenapa aku yang dihukum?

- Iya, Yah. Dia benar. - Iya.

Dengar, Nak. Mengetahui segalanya...

- Aku tidak bisa kirim kau ke rumah mereka. - Jangan kirim, Pak.

Aku akan datang ke rumahmu sendiri.

Aku mungkin benci, tapi dia tetap ayahku.

Tahan saja dia sampai pernikahan terjadi.

Biarkan dia jawab untuk tindakannya sendiri.

Lakukan apa yang kalian mau.

Ayah!

Apa-apaan ini, Gautham?

Ayah!

Nithya.

Putra terburuk dalam sejarah adalah Aurangzeb.

Dia memenjarakan ayahnya sendiri untuk takhta.

Kau hancurkan kehidupan pernikahanku

hanya untuk selamatkan punyamu.

- Ayah! - Diam, Aurangzeb.

Bagaimana Chinnu menerima ini? Dia hamil.

Aurangzeb!

Kau simpan foto Bu sebagai wallpaper.

Apa salahnya?

Dia sudah menikah. Itu salah. Hapus.

Aku juga sudah menikah.

Salah bagi pria menikah untuk melihat wanita lajang.

Tapi tidak salah bagi pria menikah

untuk melihat wanita menikah.

Aku tidak akan hapus.

Hapus dulu.

Kawan, kau minta aku hapus foto pacarmu.

Sudah aku hapus.

Tapi aku tidak akan hapus fotonya.

- Hapus. Kalau tidak... - Aku tidak akan, Bro.

Diskusi apa ini?

Dia simpan fotomu sebagai wallpaper.

Dia tidak mau hapus.

Kenapa kau simpan?

Untuk inspirasi, Bu.

Aku ingin jadi arsitek hebat sepertimu.

Motivasi dan Manifestasi juga.

Dia bilang kau arsitek hebat. Jangan percaya.

Aku minta kau selesaikan desain hotel Oberoi, kan?

- Sudah kau lakukan? - Sudah.

Kalau begitu, presentasikan.

Pergi.

Hapus foto itu dulu.

Aku beri kalian semua jaminan.

Apa yang akan kalian saksikan...

kalian belum pernah lihat sebelumnya.

Tapi, akan terasa anehnya familiar.

Bahkan...

Ini adalah desain terbaik di dunia, kreatif,

fantastis, luar biasa,

visioner yang dibuat oleh seorang arsitek.

Di sini, orang yang sudah menikah bisa datang.

Orang yang belum menikah bisa datang.

Orang yang nikah catatan sipil terburu-buru

saat mereka muda bisa datang.

Orang yang sedang mencoba bercerai

setelah menikah bisa datang.

Orang yang menikah kedua kali

tanpa bercerai juga bisa datang.

Cukup.

Manajemen hotel yang akan putuskan.

Benar.

- Desain yang cukup menarik. - Terima kasih.

Tapi...

Cara kau menyampaikannya...

terasa anehnya familiar.

Sudah aku sebutkan sebelumnya.

Itu cuma perasaan.

- Mari kita lihat. - Oke.

Mengejutkan!

Sepertinya arsitek ini menyalin idemu.

Dia tidak menyalinmu.

Kau yang menyalinnya, bodoh.

Lihat, Bu!

Tidak ada salahnya kalau dua orang sampai pada ide yang sama.

Itu namanya pemikiran paralel.

Plagiarisme adalah kejahatan, Pak Gautham.

Apa itu plagiarisme?

Diam dan keluar.

- Semuanya, tolong bubar. - Oke, keluar.

- Semuanya bubar. Pergi! - Kau juga.

Bu, aku perlu bicara denganmu secara pribadi.

Maksudmu pribadi apa?

Ini urusan profesional.

Tapi aku lebih suka bahas secara pribadi.

Pergi.

Aku akan minta maaf dan kembali. Kau pergi.

Pergi.

Dia!

Kalau kau tanda tangan surat cerai ini,

kita berdua bisa bersihkan diri dari dosa kita.

- Berdua? - Iya.

Aku tidak melakukan dosa apa pun.

Bukan kau, cuma aku.

- Benar! - Akulah pendosa.

Hidupku dan istriku ada di belas kasihanmu.

Hanya satu tanda tangan saja.

Akui semua yang kau lakukan pada Nithya.

Aku akan tanda tangan.

Apa kau sudah mengakui segalanya pada suamimu?

- Iya, aku sudah mengaku. - Apa kau beri tahu?

Siapa pria malang itu?

- Apa orang itu kelaparan atau apa? - Pergi dari sini.

- Mau kau pergi atau aku telepon Nithya? - Baik, aku pergi.

- Nithya. - Oke.

- Apa itu, Sreenu? - Pak!

Apa Ibu sudah tanda tangan?

Iya, Pak. Sudah.

- Apa kabar semua di rumah? - Semua baik-baik saja, Pak.

- Anakmu sekolah apa? - Dia kelas empat.

Oke, pergi.

Kenapa ada banyak lengkungan di tanda tangan?

Ada lengkungan seperti tiang dan ular.

Ada dua ular kecil.

Bawang.

Ekor di bawah itu.

Itu saja. Aku benar-benar hebat.

Kau lupa tambahkan dua titik di bawah sana.

Benar!

Iya. Benar!

Apa kau sudah mulai memalsukan dokumen juga?

Apa ini?

Menyalin tanda tangan orang berpengaruh dianggap pemalsuan.

- Kalau punyamu sendiri, tidak dihitung. - Lalu, itu disebut apa?

- Kau tidak meninggalkan aku pilihan. - Bicara apa kau?

Besok ulang tahunmu, kan?

Aku minta dia datang pasti.

- Bu, tolong datang ya pasti. - Tentu, iya.

- Silakan lanjutkan! - Iya.

Halo! Salam! Silakan masuk.

- Salam! - Apa kabar? Masuk ke dalam.

- Salam, Bang! - Salam!

Permisi. Kenapa menangis?

Pak!

- Ada apa denganmu? - Aku bawa ini.

Kenapa bawa bungkus susu ke acara ini?

Hari ini ulang tahun Guru Nanak, kan?

Aku bawa susu Country Delight ini untuk cuci kakimu, Pak.

Apa hubungannya antara guru dan Guru Nanak?

Aku tidak tahu.

Kalau ada kata guru di sebuah perayaan, aku langsung merasa terhubung.

Tolong lepas sepatumu.

Aku akan tendang kau kalau terus berkeliaran

seperti distributor susu.

- Aku bukan gurumu. - Salam, Pak!

Kau bukan muridku di sini.

- Kau teman keluarga kami. - Iya, Pak. Maaf, Pak.

Aku minta kau datang dengan keluargamu. Di mana istrimu?

Dia bersama pacarnya.

- Teman? - Dengan mantan pacarnya, Pak.

- Mantan pacar? - Iya, Pak.

Sejak mereka berpisah,

dia berkeliaran seperti orang gila.

Jadi kalau dia tinggal 10 hari di rumahku...

dia akan pergi setelah sadar bagaimana kehidupan pernikahan kita.

Kau baru datang ke sini dan tinggalkan mereka berdua di tempatmu?

Kenapa kaget dengan hal kecil seperti itu, Pak?

Pacarnya waktu kelas sepuluh dulu

tinggal bersama kami 30 hari.

Dia pergi setelah sadar hanya aku yang cocok untuknya.

Sebenarnya, apa rumahmu itu rumah

atau pusat rehabilitasi?

Apa kau sediakan akomodasi untuk semua orang?

Jangan kasih pujian di depan aku, Pak. Aku tidak tahan.

- Malu? - Iya.

Kau!

- Tampar aku, itu berkah untukku. - Pergi!

Pergi!

- Pak, kau juga ada di sini? - Ambil bungkus susunya darinya.

- Selamat ulang tahun, Nithya! - Selamat ulang tahun, Nithya!

Sudah bilang tidak, tapi kau tetap datang.

Apa kau benar-benar perlu hadir di pesta ini?

Kalau kami tidak datang, Nithya,

dan kakak yang jahat, tidak akan mereka?

Kenapa kau begitu kesal?

Semua karena kau.

Kau jebak aku dengan bilang bahwa aku sedang bercerai.

Aku takut memikirkan

bagaimana reaksi Chinnu kalau tahu ini.

- Halo! - Kakak Ipar.

- Selamat malam, Paman. - Selamat datang, selamat datang.

- Selamat datang. - Salam, Pak.

Kau merayakannya dengan sangat meriah.

Meriah berarti...

Kentang goreng, Kari terong,

- Pisang goreng. - Bukan begitu.

Per piring harganya 1000 rupee.

Kau tahu itu?

Apa? Maksudmu piring ini?

Itu cuma piring pinggan, kakak ipar.

Cuma 100 rupee.

- Ada yang menipumu parah. - Gautham!

Bawa ayahmu dari sini.

Maksudnya isi piringnya harganya Rp 1000, bukan cuma piringnya.

- Harusnya kau kasih tahu aku, kan? - Kau tidak kasih kesempatan.

- Ayo pergi. - Terima kasih.

- Hai! - Selamat ulang tahun, Nithya.

- Terima kasih! - Selamat ulang tahun, Nithya.

- Chinnu, hati-hati. - Dia memberi cerai padanya, kan?

Lalu kenapa mereka masih bersama?

Manis sekali!

Aku minta janji bahwa mereka akan tetap bersama sampai pernikahan.

- Sebenarnya... - Pak! Pak!

Semua hidangan sudah siap. Tapi tidak ada garam di semuanya, Pak.

Kantung garamnya hilang, Pak.

Aku tahu siapa yang pasti melakukan ini.

Guna!

Tunggu!

- Apa itu? - Bukan apa-apa, Pak.

Itu garam?

Sangat sulit mengumpulkan setiap bulan dari rumahmu.

Saat ditanya, mereka bilang "ini garam dari rumahmu."

Jadi aku pikir akan disimpan sebagai stok.

Kalau datang ke acara, tolong bersikap seperti anggota keluarga.

Aku bersikap, Pak. Tapi Ayah tidak bersikap.

- Apa?! - Kau panggil aku keluarga,

tapi kau tidak perkenalkan aku pada calon menantumu.

- Lalu aku anggota keluarga macam apa? - Cuma itu?

Tunggu!

Lihat, dia di sana.

Gautham!

Kasus apa ini?

Ini kasus perceraian, Pak.

Kenapa kau pilih bercerai?

Karena aku mau menikah lagi.

Gautham!

Dia Gunasekhar, asistenku.

Ini Gautham.

- Kau terus saja bicara. - Pak.

Aku datang, aku akan kembali.

Kau sudah menikah, kan?

Apa kau coba menikahi anaknya

dengan menipunya?

- Tunggu lihat apa yang akan aku lakukan. - Halo!

Jangan berlebihan.

Baik bosmu maupun Nithya tahu segalanya dan mereka setuju.

Aku tidak percaya.

- Kalau begitu cari tahu sendiri. - Aku akan lakukan.

- Aku muridnya, Bung. - Aku harus atasi ini dengan cara apa pun, Yah.

- Sedikit saja cukup. - Cukup sudah makan. Datang sekali.

- Mau ke mana, Gautham? - Ada masalah apa?

Pak!

Dia pikir Bapak tidak tahu tentang pernikahan kedua.

Aku tahu, Bung.

Artinya Bapak tahu mereka pergi ke pengadilan untuk bercerai?

- Aku juga tahu itu. - Dia juga tahu itu.

Mengetahui segalanya... bagaimana Bapak setuju dengan itu, Pak?

Apa lagi yang bisa dilakukan?

Aku yang ambil kasus perceraian itu, Pak.

Begitu? Bagus sekali. Selesaikan segera.

- Kita akan singkirkan ini. - Selesaikan segera.

Selesaikan dan singkirkan.

Pikir lagi, Pak.

Dengan sengaja mengirim anak perempuan ke rumah mereka.

Anakku tidak akan pergi ke rumah mereka.

Dia akan pergi ke rumah lain.

Ke rumah lain?

Artinya rumah itu milik anak perempuan.

EMI dibayar oleh anak perempuan.

Kalau anak perempuan ini yang bayar EMI rumah,

tidak benar anak perempuan ini tinggal di sini.

Makanya.

Anak perempuan ini ambil rumah terpisah.

Dia akan bayar EMI kedua rumah.

Kalau dia bayar EMI untuk kedua rumah,

apa salahnya dengan ini?

Masalah sebenarnya adalah perceraian.

Jadi apa hubungannya dengan EMI ini?

Masalahnya adalah EMI.

Selamat ulang tahun, Nithya.

- Terima kasih banyak sudah datang. - Hadiah kecil untukmu.

- Semoga harimu menyenangkan. - Terima kasih!

Paman, kau mengatur dengan baik sekali.

Bibi tidak tahu masalah perceraian itu.

- Aku muak mengurus masalah-masalah ini. - Perceraian?

Sopir Bajaj!

Dasar kepala batu, hentikan saja ini.

Kau ini manusia atau mesin seks?

Kau menikahinya di usia yang sangat muda.

Belum lagi, membuatinya hamil dengan kecepatan roket.

Kau siap bercerai sebelum dia melahirkan?

- Dasar kau bodoh. - Jangan bicara sembarangan.

Kalau Pallavi itu petir, aku adalah gunturnya.

Kalau Pallavi itu rangoli Sankranthi, maka aku adalah Gobemma di dalamnya.

Kau bukan Gobemma, tapi kau ini gila.

Kalau dia itu rangoli Sankranthi,

kau itu patok yang diminum semua orang saat Kanuma.

Aku akan nyalakan api Bhogi di antara kalian berdua.

Mana si kecil?

Dia di sana.

- Cobalah mengerti, kumohon. - Sayang!

Lagi makan Manchuria? Bagus sekali, sayang.

Tambahkan saus tomat juga.

Meski sudah menikahimu, dia siap memberimu perceraian.

Bagaimana bisa kau mencintai lelaki seperti dia?

- Perceraian apa ini? - Kau tidak memberitahunya?

- Tidak ada lagi perceraian. - Kau menikahinya di usia sangat muda.

Dan kau juga membuatinya hamil di usia muda.

- Dengarkan aku. - Berhenti bertingkah bodoh dan katakan.

Aku tidak menceraikanmu, Chinnu.

Lalu percakapan tentang perceraian ini apa?

Meski lebih tinggi, kau datang tepat waktu, sayang. Beritahu dia.

- Dia mencoba menceraikanmu. - Tidak.

- -Tidak, Chinnu! Aku dan ayahku menyaksikannya.

Karthik, aku benci kau.

- Chinnu, aku cinta kau. - Aku juga benci kau.

Aku benci kau.

Aku akan mengantarmu pulang. Ayo.

Memisahkan pasangan suami istri itu dosa.

Yang berbuat dosa adalah pendosa,

dan yang melakukan perbuatan baik adalah orang berbudi.

Dia yang menebus dosa-dosanya adalah jiwa yang agung.

Ayo, sayang.

Chinnu!

Kita pasti ketahuan tadi.

- Apa? - Berbalik.

Si anak ulang tahun.

Kenapa kau tidak memberitahuku yang sebenarnya?

- Kebenaran apa yang kau bicarakan? - Guru memberitahuku segalanya.

Dia bilang apa?

- Kenapa kau sembunyikan kebenaran dariku? - Apa itu?

Kau dan Guru adalah

teman sejak masa kuliah.

Memang benar kami berteman.

Kenapa kau tidak bilang padaku?

Itu bukan persahabatan yang layak dibanggakan.

Dia termasuk teman tanpa benefit.

- Tidak layak untuk diceritakan. - Benarkah?

Apa kau cerita tentang itu?

Tentang apa?

- Di kampusmu... - Iya, di kampus kami...

Di kampusmu...

Kisah cintamu.

Cinta? Apa tentang itu?

Siapa cewek itu?

Dia? Dia psikopat sadis!

Dia seperti vampir di The Vampire Diaries.

Dia menulis buku tentang cara menyiksa orang.

Dia sudah menikah, jadi dia bisa bahagia dengan suaminya, kan?

Dia muncul sesekali dan menyiksaku seperti ini.

Saat aku bicara tentang dia, aku dapat aura negatif.

Makanya aku tidak memberitahumu.

- Apa? - Nithya.

Lalu kenapa kau bilang kalau aku cinta pertamamu.

Dia bilang kalau kau cinta pertamanya?

Gautham, kau tidak seharusnya bilang begitu, kan?

Kita tidak boleh bohong pada mereka yang mempercayai kita.

Iya.

- Ini sangat salah. - Sangat salah.

- Jangan memulai hubungan dengan kebohongan. - Jangan memulai.

Kau tidak menyembunyikannya, kan?

- Kau tidak sembunyikan, kan? - Tidak.

- Kau tidak sembunyikan, kan? - Aku urus kau sendiri nanti.

Ya ampun!

Bu guru!

Kenapa Guru tersinggung dan pergi dari tempat ini?

Dia baru tahu soal cinta pertamanya.

Ada yang kesal karena pernikahan pertama atau perceraian pertama.

Dia pergi karena cinta pertama.

Semua wanita memang begitu, bro.

Kita tidak tahu apa yang bikin mereka kesal atau apa yang mereka pertengkarkan.

- Itu benar! - Baru-baru ini, setelah nonton Film Girlfriend...

saat cewek diminta mengatasi ketakutannya, dia malah melepas dupattanya.

Tapi, apa kau tahu kesalahpahaman disebut apa dalam bahasa Inggris?

Namanya "Miss" understanding.

Tidak disebut "Mister" understanding, kan?

Miss dan Mister!

Berhenti nonton pidato SKN.

Kurasa dia tidak memahaminya.

Cinta pertama?

Jangan bersedih, kawan.

Katanya menikah dengan banyak kebohongan itu tidak salah.

Kau hanya berbohong satu hal, kalau kau tidak menikah.

Kenapa semua hal buruk hanya terjadi padaku?

Aku sudah menderita dengan satu istri.

Sekarang aku menderita di antara dua istri.

Mereka membuat hidupku jadi neraka.

Ini mentah dan keras.

Kawan!

Kalau sebuah hubungan gagal, kita sendiri yang tidak tahan menanggungnya.

Apa yang dilakukan Ayahmu sekarang

setelah bibimu meninggalkannya di usia seperti ini?

Iya, kita lihat bagaimana kelanjutannya.

Ayah! Ayah!

Kau senang sekarang?

Tanpa wanita yang menyalakan lampu di rumah,

lihat betapa gelapnya rumah ini sekarang.

Ayah bisa menyalakan lampu saja, kan?

Apa cuma menyalakan lampu sudah cukup?

Seluruh rumah terasa kosong.

Kamar tidur penuh sarang laba-laba.

- Tempat tidur ini... - Kumohon hentikan, Paman.

Aku sudah menghentikannya sejak lama, bukan?

Tapi dengan pesona dan keahlian Paman,

Paman bisa mudah memenangkan hati gadis dalam seminggu, kan?

Diam!

Chinnu artinya hidup bagiku.

Aku tahu, Paman.

Tapi kalau kau menikah lagi tanpa perceraian,

hukum akan memenjarakanmu.

Itu tidak semudah itu.

Apa kata Ayah?

Iya.

Dalam kasus yang sama persis,

Teman Ayah, Venu, masuk penjara selama dua tahun.

Ayah!

Sepertinya dia punya rencana baru.

Siram tanaman itu.

- Di sini juga. - Salam kenal, Bibi.

Kau siapa?

- Apa hubunganmu dengan Diya? - Bibi

Kau juga Bibi bagiku.

Mau buat apa yang lebih enak?

- Kopi atau teh? - Aku tidak buat apa-apa.

- Kau... - Kau...

- Apa kau paman Diya? - Iya, betul.

Berarti kau juga paman bagiku.

Mau buat apa yang lebih enak? Kopi atau teh?

- Kopi pastinya. - Bisa minta kopi?

Paman, kau di sini?

Kebetulan sekali!

- Sedang apa kau di sini? - Siapa orang ini, Abang?

Dia menyapamu dengan sebutan hubungan.

- Beritahu mereka. - Dia saudara kami.

- Dari masa kuliah. - Saudara jauh.

- Dulu kami sering bersenang-senang. - Senang-senang biasa atau serius?

- Itu... - Kakak ipar.

Apa itu penting sekali?

Bisa tolong kasih kami waktu sebentar?

- Dia ingin tahu. Biar aku jelaskan. - Kau ikut ke sini. Ayo!

Biar aku yang bilang.

Putriku sudah menikah dan bahagia.

Kalau kau ganggu hidupnya,

aku akan buat kau dipenjara.

Aku ke sini untuk memasukkan kau dan Putrimu ke penjara.

Lihat!

Apa kau penasaran apa ini?

Ini akta nikah.

Mau panggil Putrimu sekarang?

Diya.

Kenapa kau di sini?

Aku datang untuk mengambil Putrimu.

Dia menolak menceraikanku, Paman.

Menikah tanpa memperoleh perceraian itu pelanggaran hukum.

Menurut pasal ABC,

Putrimu karena menikah,

dan kau karena menikahkannya.

Kalian berdua akan dipenjara.

Anakku tidak akan menginjakkan kaki di pengadilan.

Tidak perlu. Tidak ada tangga yang harus dinaiki.

Apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak datang?

Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku akan meminta pada suamimu.

- Abang! - Tunggu!

Kita sedang membicarakannya, bukan?

Kenapa kau jadi khawatir?

Jadi, kau tidak memberi tahu suamimu soal ini?

Satu hal ini sudah cukup untuk membuat kegaduhan.

Abang!

- Abang! - Tunggu!

Aku akan menghadiri pengadilan.

Aku akan membawanya.

Bagus sekali!

Kami akan bertemu pengacara keluarga, Gunasekhar

jam sepuluh pagi.

Semua orang memanggilnya "Vakeel Saab".

Ayo.

Permisi, Bapak Gunasekhar. Aku sudah membawanya.

Masuklah, sayang.

- Kau datang? - Iya, kami di sini.

- Aku senang Ayahmu tidak datang. - Salam, Pak.

Ngomong-ngomong...

Kalau kalian mau bercerai,

aku perlu tahu alasan kalian berpisah.

- Kau yang bilang padanya. - Kau saja yang bilang.

Tidak ada musik latar saat dua orang saling memandang.

Tidak ada kilas balik yang terbuka untukku.

Kalian harus memberitahuku.

Dia tidak minta maaf pada ayahku, Pak.

Kalian putus karena dia tidak bilang maaf.

Iya, Pak.

Kenapa awalnya kau menuntut permintaan maaf?

Dia memakai kamar mandiku.

Jorok sekali!

Kenapa kau pakai kamar mandinya?

Bapak yang terhormat ini menggelapkan uang

alih-alih membangun toilet untuk siswa.

Apa maksudmu aku mencuri uang?

Jangan bicara omong kosong!

Apa kau beli mobil tanpa mencuri uang itu?

Itu uang jerih payahku.

Apa kau benar-benar kerja keras?

Jangan bicara seolah kau tahu segalanya.

Kalau mereka berdua pakai satu otak alih-alih berbagi satu kamar mandi,

solusinya akan muncul.

Kau tidak bisa punya anak.

Kau sangat menyukai anak-anak.

Oke.

Kau sudah mencoba untuk hamil selama tujuh tahun lamanya.

Tapi kau tidak bisa.

Itu sebabnya mereka bercerai.

Sudah jelas.

- Itu visiku. - Fantastis, Pak.

- Tuliskan persis seperti itu. - Diya.

Ada apa dengannya?

Apa kursinya tidak nyaman?

Sebenarnya, perempuan ini tidak bisa hamil.

Aku sangat menyesal. Aku tidak tahu soal itu.

Maafkan aku karena tidak peka. Aku benar-benar minta maaf.

Pak!

Tolong tetapkan masalah tidak bisa punya anak ini sebagai kesalahanku.

Proseslah permohonannya, Pak.

Simpati itu bagus dalam situasi seperti ini.

Tapi sertifikat medis juga diperlukan untuk membuktikannya.

Kalau kau kirimkan alamatmu lewat WhatsApp,

aku akan mengantarkan sertifikatnya.

- Ayo ajukan ke pengadilan. - Oke!

Kenapa kau menangis?

Aku akan berikan pernyataan tertulis bahwa aku penyebab dia tidak bisa punya anak.

Sekarang ini, banyak teknologi canggih yang muncul.

Tidak punya anak bukan masalah sama sekali.

Lihat aku.

Kau akan segera dipanggil 'Ibu'.

Tuhan sedang butuh waktu sebentar untuk memberimu yang kau inginkan.

Saat itulah nilainya akan terasa.

Dia memberimu suami yang baik dalam hidup.

Dia juga memberi anak-anak yang baik.

Jaga dirimu!

Kurasa dia punya kebiasaan mengakui

itu salahnya padahal bukan.

Dia tidak pergi karena dirinya sendiri

atau egonya.

Egoku terjepit di antara kalian berdua.

Di antara ribuan siswa di kampus,

aku tidak bisa menerimamu sebagai salah satunya.

Bagaimana mungkin aku menerimamu sebagai menantuku dalam keadaan seperti ini?

Tinggalkan anakku sendiri.

Apa kau akan memecatku kalau aku tidak melepaskannya?

Apa kau akan tulis nilai buruk di sertifikat kelakuanku?

Apa kau akan menggagalkanku di ujian praktik?

Lakukan apa yang ingin kau lakukan.

Aku tidak akan melakukan satupun dari itu.

Kalau aku melihatmu bersama anakku lagi...

aku akan bunuh diri.

Kau tahu betul soal egoku, bukan?

Apa kau memerasku?

Silakan dan lakukan.

Gautham, ayahku mengalami kecelakaan.

Aku ingin bicara dengan Gautham sekali saja.

Tolong keluar.

Kau pikir ini kecelakaan?

Tidak.

Aku mencoba bunuh diri.

Tapi gagal.

Aku tidak akan gagal lain kali.

Apa yang kau bicarakan?

Apa kau gila?

Aku tidak akan menyukaimu di hidup ini atau nanti.

Setelah aku mati, kalian berdua bahagialah.

Kau tidak perlu mati.

Aku yang akan pergi. Berbahagialah.

Apa yang dia katakan?

Dia bilang dia akan mati.

Ini mungkin terlihat seperti bunuh diri bagi semua orang.

Tapi menurut pendapatku, kurasa aku yang membunuhnya.

Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah itu seumur hidupku.

Kalau dia tiba-tiba meninggalkanmu suatu hari,

kau tidak akan mempercayainya.

Dia merencanakannya sendiri untuk meminta maaf.

Dia membuat dirinya terlihat buruk di matamu,

dan merusak citranya di matamu.

Aku merasa lebih aman bersama Ayahku daripada bersamamu.

Dulu aku tidak tahu kalau dia orang yang baik seperti itu.

Maafkan aku, sayang.

Sekarang, tanggung jawab untuk menyusun

hidupnya ada padamu dan aku.

Mana Chinnu, Paman?

Dia bilang dia tidak akan bersamamu.

Dia minta barang-barangnya diambil semua.

Pergi ambil semua barang lain yang masih menjadi miliknya.

Tolong pikirkan anak yang belum lahir, Ibu mertua.

Berapa usiamu?

Berapa usiamu?

Baru 59.

Kau 59 dan aku 50.

Nasib macam apa ini

hingga kau datang dan memanggilku tante?

Aku sudah berdoa ke sejuta dewa agar kau dan anakku berpisah jalan.

Maafkan aku, Ibu mertua.

Kata-kata kasarku itu keluar karena cintaku pada Chinnu.

Kumohon maafkan aku.

- Permisi, orang ini juga gila. - Kumohon maafkan aku.

- Dia idiot psikopat. Ayo, kita pergi. - Jangan pisahkan kami.

- Ada apa? - Ibu mertua. Ayah mertua.

- Tolong beritahu mereka. - Nenek.

- Kakek. - Nak!

Bisa bicara tanpa menyebut-nyebut hubungan?

Oke.

Yang tidak kau tahu adalah...

- ...memang benar kami pergi ke pengadilan. - Iya.

Memang benar kami sudah mengajukan perceraian.

Yang tidak diketahui adalah...

...bahwa surat-surat perceraian itu

- dan ayahku... - Dan ayahmu...

Katakan apa yang terjadi.

Ayahku...

Ayahku yang berpikir untuk mengajukan perceraian.

Apa salahnya itu?

Ayahmu bukan yang memberi perceraian pada anakku.

Anakku yang menceraikan ayahmu.

- Kita bertemu lagi di pengadilan. - Oke! Pergi!

Pasti akan bertemu.

Sepertinya mereka membawa semua barang-barangnya.

- Hanya untuk bercanda. - Bagus!

Terkadang, butuh seumur hidup untuk menyadari

seseorang telah melakukan kesalahan.

- Kenapa kau datang di saat seperti ini? - Ayah!

Apa yang membuatmu datang ke sini, Nithya?

Aku memikirkan perkataanmu, Gautham.

Pernikahan bukan cuma soal dua tanda tangan.

Banyak kenangan.

Kau harus mengikatkan benang suci

dan memakaikan gelang kaki padaku.

Kita berdua harus menikah dengan pakaian sutra.

Apa kau pindahkan pernikahannya

- ke gedung pernikahan sekarang? - Pernikahan...

...akan tetap di kantor catatan sipil.

Ayah sudah bicara dengan pegawai catatan sipil.

Kita bisa lakukan sesuai rencana di sana.

Kau senang sekarang?

- Iya, aku senang. - Besok, kita pergi belanja.

Kawan, laporannya sudah datang.

Apa itu?

Apa itu?

- Itu sertifikat korona, Paman. - Korona?

Mana ada korona sekarang?

Kenapa semua orang begitu tegang?

Apa itu?

Kesuburan.

Entah mereka bisa punya anak sama sekali.

Apa isinya?

Paman, tertulis mereka tidak akan terlahir.

Laporan siapa itu?

Aku sudah membuktikannya.

Kau lihat? Seratus persen.

Laporannya bilang dia tidak akan bisa punya anak.

- Itu laporannya. - Kenapa kau lakukan tes itu?

Apa perlunya melakukan tes itu?

Aku lihat di reel, begitu umur lewat 30,

ini yang terjadi saat aku lakukan untuk berjaga-jaga.

Sekarang kau tahu mereka tidak akan terlahir, apa yang akan kau lakukan?

Gautham, jangan bersedih.

Sertifikat seperti ini tidak bisa memisahkan kita.

Aku mencintaimu.

Bukan untuk anak-anak yang mungkin lahir dari kita suatu hari nanti.

Bukan itu poinnya, sayang.

Bagaimana kalau kau tidak punya anak di masa depan?

Kami akan adopsi, Ayah. Itu bukan masalah besar.

Tapi berapa banyak orang yang dites

seperti ini sebelum menikah?

Berapa banyak orang yang sejujur Gautham?

Kalau kita menyukai seseorang,

itu bukan cuma soal kesukaan dan seleranya.

Kita juga harus mencintai kekurangannya.

Tidak apa-apa.

Kawan.

Dia mau menikahimu

setelah kau bilang tidak bisa punya anak.

Dia perempuan yang sangat baik.

Lakukan apa pun yang perlu, tapi jangan kehilangan dia.

Kalau kau bisa mengatur dua hari ini

tanpa membuka rahasia cinta dan perceraianmu di masa lalu...

hidupmu akan bahagia.

Siapa yang datang di jam seperti ini?

- Iya, bicaralah. - Gautam.

Hari pernikahanmu tinggal dua hari lagi!

Pernikahannya jam 11 pagi.

Aku butuh surat cerai sebelum itu.

Oke, aku terjebak dengan orang ini.

Iya, bicaralah.

Sidang perceraian dijadwalkan jam 10 pagi besok lusa.

Oke.

- Halo. - Ini pengacara Pallavi.

Sidang perceraianmu jam 9:30 pagi

besok lusa.

Jadi hadir di pengadilan.

Aku pernah lihat ayah dan anak laki-laki ujian bersama.

Aku pernah lihat mereka minum-minum bersama di bar.

Pertama kali melihat mereka berdua

pergi ke pengadilan bersama untuk bercerai.

Biarkan semua orang hidup bahagia,

kecuali mereka berdua.

Sialan!

Ayah, kita sudah terlambat. Ayah sudah siap?

Ayah siap. Cepat ke sini.

Pak, aku sudah temukan alasan yang lebih kuat

untuk menghentikan pernikahan ini.

- Apa itu? - Aku sudah selidiki soal si cinta.

Aku temukan kalau dia sudah menikah, Pak.

Dia sudah punya pernikahan tercatat, Pak.

Ceweknya tidak lain adalah bu guru Diya.

Itu sebabnya dia panik

soal Kantor Catatan Sipil.

Iya, Pak.

Halo?

Pak, sesuai instruksi Bapak,

aku sedang mengatur perceraian untuk menantu Bapak.

- Dengan Diya, kan? - Iya, Pak.

- Oke, lakukan. - Aku tidak terima bayaran, Pak. Janji.

Oke.

Nitya.

Sudah kubilang dia tidak cocok untukmu,

tapi kau tidak dengarkan aku.

Dia menyembunyikan hal yang sangat penting.

Dia menariknya sampai ke pernikahan.

Nithya, apa yang harus kita lakukan padanya?

Katakan padaku.

- Ayo pergi ke kantor catatan sipil, Ayah. - Apa?

Aku ingin lihat betapa buruknya dia menipuku.

Benar!

Anak yang baik!

Dengarkan aku untuk terakhir kalinya. Kumohon, Chinnu.

Kumohon.

Ibu mertua, setidaknya coba jelaskan padanya.

Seorang ibu seharusnya menyatukan keluarga, bukan memecahnya.

Coba kau berdiri setengah jam.

Lalu kita bicara soal pernikahanmu.

Ibu mertua, kalau mau,

uji seberapa cintaku padanya.

- Tapi apa ini tes kebugaran... - Kasus 420 Karthik!

- Pallavi. - Bangun.

- Chinnu, hati-hati. - Lepaskan aku.

- Mana suamimu? - Ini aku, Pak.

Lepaskan tanganmu dariku.

- Perceraian Disetujui. - Pak.

Tanpa tahu alasannya, bagaimana bisa ada perceraian, Pak?

Aku mengerti.

Dia sudah menyadari kesalahannya.

Untuk apa cari alasan lagi?

Konfirmasi! cerai!

- Selanjutnya! - Terima kasih, Pak.

- Sebentar, Pak. - Kenapa?

- Pallavi. - Ada apa?

Kau tahu kenapa dalam bahasa Inggris disebut marriage?

Tidak ada batas usia untuk menikah. Pernikahan tidak terbatas pada satu usia.

Kami tidak menyadari hal ini.

- Terima kasih, Pak. - Sebentar.

Aku bukan yang memberimu pemberitahuan itu.

Gautam yang memberikannya pada wanita pertama yang dinikahinya.

Dia pakai namaku agar ayah mertuanya tidak tahu.

Kebohongan ini sudah melampaui batas.

Apa yang kau tunggu? Bicaralah!

Iya, kami tidak tahu cara mengaturnya

hari itu jadi semua ini terjadi.

Oke.

Kalau kau masih tidak percaya padaku,

- aku akan buktikan padamu. - Apa ini?

- Ini pengadilan. - 30 detik, Pak.

Namumu tertato di hatiku.

Kaulah segalanya yang ada di hatiku.

Lihat ini, Pak.

Iya, aku lihat. Kancing bajumu.

Aku cinta kau, Karthik.

Aku cinta kau, Chinnu.

Sebagai hakim...

aku gagal memahami gadis-gadis masa kini.

Orang tua!

Ibu mertua, aku bukan orang tua.

Aku adalah menantumu!

Dia sedang mengandung bayiku.

Ayo, Chinnu.

Terima kasih, Pak.

- Aku sangat senang. Kau bisa pergi. - Terima kasih, Pak.

Kancing bajumu.

- Halo? - Iya!

Waktunya habis. Di mana kalian?

Menantu kita kembali dari Delhi,

dan Diya menceritakan segalanya padanya.

Dia cerita? Cuma butuh satu hari lagi,

dan semuanya akan baik-baik saja.

Dia ada di mana tepatnya?

Dia bawa pergi ceweknya dengan serius sekali. Aku sangat khawatir.

Kawan, sidang berikutnya adalah milik kita.

Diya tidak akan datang.

Lihat sana, itu Diya!

Sepertinya dia datang dengan suaminya.

Mana dia?

Kurus sekali dia.

- Siapa namamu, Bang? - Gautham, Bang.

Dia terlihat baik. Pilihanmu selalu bagus.

Tapi aku tidak membuat pilihan yang baik.

Aku percaya semua orang bisa berbuat salah,

dan hidup selalu memberi kesempatan kedua.

Aku di sini bukan untuk memberi ceramah.

Istriku sudah menikah. Kalau saudaraku tahu dia ke sini untuk bercerai,

Apalagi saat musim festival, mereka pasti membanjiri kita.

Itu sebabnya aku buru-buru membawanya ke sini.

Orang tidak bergabung dengan tentara hanya karena menonton film Border.

Medali emas tidak dimenangkan hanya dengan menonton film Dangal.

Bagaimana mungkin kau menikah

hanya karena menonton film Sakhi?

Apapun itu, kau terlihat seperti tengkorak bodoh, Bang.

Gautham! Diya!

Bang.

Sudah terlambat. Mereka memanggil.

Bisa kirimkan istrimu sebentar?

Aku akan selesaikan dengan perceraian.

Hatiku begitu keras!

Boleh aku pergi, Sayang?

Lihat siapa yang bertanya!

Pergi!

Tutup mukamu! Bang.

Masalahnya...

Biasanya ada seseorang yang mendukung

semua tindakan bodoh kita.

Apa kau tidak punya orang seperti itu dalam hidupmu?

Dialah orangnya!

Kalian lanjutkan. Kami akan segera kembali.

- Siapa namamu? - Jacky, Bang.

Tapi kau pakai celana dalam VIP.

- Itu namaku. - Iya, itu cocok sekali denganmu.

Jocky!

Kau hebat sekali, Bang.

Tahu dia sudah menikah,

kau masih membawanya ke sini?

Kau lebih dermawan daripada Pengadilan Tinggi, Bang.

- Siapa namamu, Bang? - Arya!

Namanya cocok sekali dengan karakternya.

Generasi ini butuh orang sepertimu, Bang.

- Apa semua ini? - Ini untuk minum-minum.

- Merek apa? - Khajuraho.

Tetap diberkati!

Kasus 421, Gautham dan Diya.

Yang Mulia, anak-anak adalah emosi murni.

Ibu adalah segalanya tentang promosi.

Ayah adalah solusi.

Tapi saat berada di pengadilan, aku jadi kesal.

Pertama, langsung ke intinya.

Menurut laporan dokter,

klienku tidak punya peluang untuk memiliki anak.

Sudah aku sertakan dalam berkas, Pak.

Sudah jelas bagi pengadilan, kan?

Mereka berdua di sini untuk perceraian bersama.

Jadi tolong.

Perceraian segera

harus diputuskan oleh pengadilan.

Itu harus diminta, bukan diperintahkan.

Kau pikir ini rumahmu?

Maaf, Yang Mulia.

Kenapa kau pikir tidak bisa punya anak?

Karena ponselku, Pak. Aku taruh di saku depan.

Menurut dokter,

radiasinya merusak saraf.

Benarkah?

Ponselmu masih di sakumu.

Bagaimanapun juga, kerusakannya sudah terjadi.

Apa kau setuju dengan perceraian ini, Nyonya?

Iya, Pak.

Perceraian disetujui!

- Terima kasih, Yang Mulia. - Terima kasih.

Pak!

Tidak ada kesalahan. Periksa dengan teliti.

Apa itu?

Itu akta kelahirannya. Aku dapat dari rumah sakit tempat dia lahir.

Kau terlihat begitu muram di hari pernikahanmu.

Senyumlah. Bersulang.

- Mundur. - Jangan berlebihan.

Mereka sudah tahu kebenarannya.

Halo, Kakak ipar.

- Kau belum juga bercerai sampai sekarang? - Belum.

Ada masalah komunikasi kecil yang sekarang sudah beres.

- Di mana dia? - Dia sedang dalam perjalanan. 5 menit lagi.

Aku marah waktu Diya bicara soal urusanmu.

Tapi Diya sendiri yang memberitahuku yang sebenarnya.

Jadi aku maafkan dia.

Kalau orang lain yang bilang ini, tidak akan dimaafkan.

Sebenarnya, dia tidak perlu mengaku,

tapi dia melakukannya.

Yang dibutuhkan sebuah hubungan adalah kejujuran.

Rasa bersalah menumpuk

karena tidak jujur

Beban itu sekarang hilang.

Kau tidak boleh memulai sebuah hubungan

dengan kebohongan, Gautam.

Itu seperti bangunan yang dibangun

tanpa fondasi.

Bisa runtuh kapan saja.

Aku ingin mengaku satu hal.

Aku sudah menikah.

Kami menikah di sini.

Di depan orang yang sama ini.

Harusnya aku memberitahumu ini lebih awal.

Tapi aku tidak karena takut

kita akan menjauh.

Dia tidak menyerahkan akta kelahiran.

Ini sertifikat perceraian.

Sebuah hubungan tidak boleh dimulai dengan kebohongan.

Aku melakukan kesalahan saat terlalu muda untuk mengerti.

Menyembunyikan kesalahan itu darimu

sekarang akan lebih buruk.

Kau menerimaku meski tahu kita tidak bisa punya anak.

Mengetahui aku pernah menikah sebelumnya, kau juga akan menerimaku.

Aku tidak pantas untuk gadis hebat sepertimu.

Kau akan menemukan lelaki yang lebih baik.

Kau benar, Pak.

Cinta artinya memiliki perbedaan pendapat. Kita harus bertemu lagi.

Tapi setelah bertemu lagi kita tidak boleh bertengkar, Pak.

Pasangan harus bertengkar lalu saling meminta maaf.

Kita tidak boleh memulai hubungan dengan permintaan maaf.

Kau tahu dari awal kalau aku tidak pantas untuknya.

Berhenti bicara.

Siapa itu, Sayang?

- Gautham, Ayah. - Dia masih menelponmu?

Aku tidak sedang bicara dengannya.

Aku sedang memarahinya.

Kau pikir bilang maaf

lalu pergi sudah cukup?

Aku masih marah.

Ini membuatku kesal.

Aku menelponnya dan memarahinya.

Maki dia dengan benar.

Dia main-main dengan hidup kita.

Maki dia dengan benar! Maki dia!

Mau ke mana?

Mau ketemu Gautham, Ayah.

Kau belum memblokirnya?

Kalau aku memblokirnya,

dia kirim pesan lewat phone pay.

Aku tidak akan tenang

kalau tidak ke sana dan memukulnya.

Bagus sekali! Pukul dia!

Pergi. pukul dia.

Siap, Ayah.

Pukul dia dengan keras dan pulang.

Pak!

Kau bilang bertengkar artinya cinta.

Sekarang mereka bertengkar.

- Apa kau menyebut ini cinta? - Ini baru pertengkaran.

- Lihat ini, Pak. - Ayah, berikan ponselmu.

- Kenapa, Sayang? - Gautham memblokirku.

Harusnya aku yang memblokir dia?

Kenapa dia yang memblokir?

Aku akan bunuh dia.

Pak!

Diblokir tapi masih menelpon, bukan cinta, Pak. Ini pertengkaran besar.

Mau ke mana?

Mau bertengkar dengan Gautham?

Iya, Ayah, aku harus membunuhnya.

Diam.

Aku melihat hal yang sama selama 2 tahun terakhir.

Aku sudah mencari-cari jodoh. Kau menolak semuanya.

Tapi...

Kau bilang ini bertengkar dan terus bicara di telepon.

Kau bilang sedang memarahinya dan terus mengobrol dengannya.

Kau bilang akan memukulnya,

tapi kau malah pergi menemuinya.

Lihat!

Kalian berdua sedang jatuh cinta.

- Kami tidak jatuh cinta, Ayah. - Kau sedang jatuh cinta.

Aku mungkin bilang tidak,

tapi ini adalah cinta.

Ayo kita bicarakan soal pernikahan.

Diam dan ikut.

- Advait, anakku! - Karthik.

- Kakak ipar! - Mana anakmu?

- Kau bicara tentang dia? - Bukan tentang dia.

Aku bicara soal anaconda-mu dan anak sulungmu.

Dia bikin reel lagu cinta-cintaan

karena cintanya gagal.

Ayo, Sayang!

Kawan, ayo bikin reel yang bagus.

Putar lagu Raja.

Lagu Raja lebih baik dihindari. Banyak yang lapor polisi.

Kita harus keliling pengadilan lagi.

- Aku akan putar lagu @Kreem. - Oke.

Apa yang dilihat anak kami

pada anakmu sampai dia mencintainya?

Lupakan saja! Pallavi.

Apa yang dia lihat padamu sampai dia mencintaimu?

Cinta itu buta, Kakak ipar.

Lelaki lajang sepertimu tidak akan mengerti.

Nomor yang dihubungi

sedang tidak dapat dihubungi.

Silakan coba lagi nanti.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.