Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Dulu saya percaya
bahwa bisikan yang saya dengar itu datang dari langit.
Tapi ternyata...
Kenapa, Mama Sari?
Lihat apa?
Itu hanyalah kabar curian dari neraka.
Setan-setan itu, mereka naik ke langit.
Bertumpuk satu di atas yang lain.
Mencuri berita dari para malaikat.
Mereka dengar satu kalimat, lalu dilemparkan ke yang di bawahnya.
Hingga sampai ke telinga tukang sihir, peramal, dan para dukun.
Mereka seakan menyampaikan satu pesan kebenaran,
tapi sesungguhnya diikuti seribu kebohongan.
Kematian itu bukan untuk dirinya.
Tapi untuk kamu.
Berkali-kali aku mencoba membaca kartu, hasilnya tetap sama.
Kartu Kematian yang keluar.
Bahkan ketika aku membaca kartu untuk klien-klienku,
hasilnya begitu juga.
Penglihatanmu tidak salah.
Kita hidup bergantung pada bisikan mereka, para penghuni neraka.
Kematian itu satu-satunya takdir manusia yang sifatnya kepastian, Sari.
Saya tidak bisa menolong kamu.
Tidak ada yang bisa.
Ciyo. Mau makan bareng? Ya? Sini makan, Nak.
Kesayangan aku.
Enak?
Berita duka malam ini.
Baru saja seorang perempuan meninggal dunia,
korban diidentifikasi bernama Sari Arumningtyas.
Atau yang biasa kita kenal dengan Mama Sari.
Dan siapa di antara manusia yang percaya pada kabar mereka,
yang menjadikan sihir dan perdukunan sebagai jalan,
maka manusia itu akan ditempatkan bersama mereka di dalam Jahanam.
Berkumpul bersama pesan-pesan yang mereka dengar.
Pesan dari Neraka.
DIADAPTASIKAN DARI CERPEN VIRAL "MAMA" KARYA NESSIE JUDGE
Menurutmu Mama Sari masa nggak tahu sih dia mau mati?
Dia kan peramal.
Bu Marni.
- Putri mana? - Ada di dalam.
Non Putri, ada Tante Marni.
Turut berduka cita ya, Put.
Semua sudah siap, Non.
Lo kalau butuh apa-apa, main ke rumah gue aja ya.
- Makasih ya, Donny. - Ya. Gue balik.
Tante.
Tante kalau mau pulang, nggak apa-apa kok.
Nggak apa-apa. Tante di sini aja temenin kamu.
Bi!
Nggak... Tante aja. Nggak apa-apa.
- Bisa, Bi? - Ya, bisa.
Bentar ya.
Udah ngerti belum caranya bagaimana?
Belum. Cara tahu artinya gimana, Ma?
Putri lihat dulu ya.
Perhatikan baik-baik gerakan tangan Mama.
Kemudian, Putri taruh tarotnya di meja, terus dibuka seperti ini.
Bisa nggak?
Sekarang Putri kan mau tahu artinya apa.
Tutup matanya Putri sekarang.
Tangannya mana?
Nah.
Sekarang, Putri bayangin kira-kira jawabannya mau apa ya.
Ah, Mama!
- Bisa nggak? - Bisa.
Ya, nanti kita belajar tarot lagi ya, Nak.
Sayang...
MENARA
Pokoknya kamu nggak boleh pergi hari ini! Di sini aja, tungguin Mama pulang!
Terserah Mama aja deh kalau gitu!
Mama juga cuma peduli sama ramalan-ramalan Mama, 'kan?
Ini semua tuh nggak penting, Ma. Ini semua nggak penting!
Nggak ada yang lebih penting daripada anak Mama sendiri!
Putri! Putri! Putri, dengerin Mama dulu! Putri!
Mama kenapa nggak kasih Putri waktu, Ma?
Putri masih pengen banggain Mama.
Putri.
Ada apa?
Putri...
Putri...
Tan?
Tante Marni?
Tolong Mama, Put.
Tante abis dari mana?
Dari kamar mandi.
Kenapa? Kamu butuh apa?
- Tadi Tante ketok kamar Putri nggak? - Nggak.
Ada apa, Put?
Nggak. Nggak apa-apa.
Non Putri, kenapa belum tidur?
Non.
Kalau masih kepikiran sama Mama, boleh cerita sama Bibi.
Bibi mau dengerin kok.
Kalau Non mau cerita sama Tante, juga bisa.
Ngapain juga cerita sama tante, Bi.
Walaupun dia memang adiknya Mama satu-satunya,
tapi pas Mama masih ada, dia nggak pernah datang.
Sekarang giliran Mama udah nggak ada, tiba-tiba muncul.
Aneh.
Tante Marni katanya mau temenin Non.
Kasian kan kalau Non di sini sendirian.
Dari dulu juga Putri udah terbiasa sendiri, Bi.
Ya, Non.
Kalau Non butuh apa-apa, panggil Bibi aja ya?
Putri nggak percaya ini Mama?
Putri.
Putri.
Putri.
Tante ngapain di kamar Putri?
Ini HP Mama, Put?
Kapan kita mau adain tahlilan buat Mama?
- Nanti Tante bantu urusin. - Nggak usah, Tan.
Tapi harus diadain, Put.
Biar Mama tenang di sana.
Ini juga titipan dari Mama.
Tante tahu apa soal maunya Mama?
Bi, Ciyo nggak bisa taruh di luar aja?
Bi, Ciyo biarin di dalam aja.
Ya, baik.
Ruangan Mama udah Bibi buatin gembok. Ini kuncinya.
Oh ya. Makasih ya, Bi.
- Dah, Ciyo. Jalan dulu ya. - Dadah.
- Ya. - Sayang Ciyo.
Lo beneran ini bukan orang iseng?
Gue nggak tahu ya, Don, ini beneran Mama atau bukan.
Tapi gue ngerasa kayak dia bisa ngelihat apa pun yang gue lakuin.
Gue udah ngerasa gitu dari semalam.
Atau mungkin karena nyokap lo punya kemampuan ya?
Kamu arsirnya udah bagus nih, teruskan aja.
Halo?
Innalillahi.
Semuanya, saya harus segera pergi dulu. Ada urusan mendadak.
Silakan kalian lanjutkan pekerjaan kalian hingga kelas selesai.
Put, gue turut berduka cita ya soal nyokap lo.
Maaf kemarin nggak bisa datang.
- Ya, Put. Turut berduka cita ya. - Gue juga ya, Put.
- Makasih ya. - Ya.
- Nanti malam kan ada pesta. - Ayo, Put. Ikut.
Ayo, Put. Sekali-sekali.
Biar lo nggak kepikiran mulu soal nyokap.
Ya, Put.
- Senang-senang sama kita. - Oke.
Bagus.
Nanti gue kabarin alamatnya di mana. Oke?
Ya?
Percaya pesan mamamu.
Jangan main sama mereka.
Bella?
Ya ampun.
- Astaga. - Bercanda doang, Put.
Kalian tuh ngagetin banget tahu nggak.
Put, gue mau dong diramal.
Gue sama Donny jodoh atau nggak?
Put, bantuin dong. Mereka kan cocok banget.
Ayolah, Putri. Sekali aja. Ya?
Gue nggak bisa.
Put, ini kalau nyokap lo masih hidup, gue maunya diramal sama dia.
Ayo, Put. Bantuin.
Ayolah, Put.
DELAPAN PEDANG
Putri...
Putri...
Ada apa sih?
Loh, Put? Put?
Jangan ganggu aku! Berhenti!
Berhenti! Mama udah nggak ada!
Mama udah nggak ada!
Bi?
Tante ngapain lagi di sini?
Kuliah gimana, Put?
Ambil jurusan apa kamu?
- Desain mode. - Wah, keren.
Put, di hari mama kamu meninggal, kamu tahu nggak dia ketemu sama siapa?
Emang urusannya sama Tante apa?
Kartu tarot mama kamu ada di mana ya, Put?
Apa mungkin ada di ruang kerjanya?
Tante kenapa cari kartu tarot Mama?
Tante belum bisa jelasin ke kamu, Put.
Tapi ini juga permintaan mama kamu.
Gimana ceritanya bisa permintaan Mama sih, Tan?
Tante nggak pernah ke sini dan ngobrol sama Mama.
Selama ini kamu pikir aku sama Mama nggak pernah ngobrol?
Ada banyak yang kamu nggak tahu soal aku dan mama kamu.
Tante mau apa dari Mama?
Nggak ada.
- Tante cuma takut... - Takut apa?
Tante khawatir sama kamu!
Aduh.
Tante nggak usah sok peduli sama kita.
Nggak usah sok khawatir sekarang.
Put...
KEMATIAN
Celaka!
Kamu kalau mau masuk, masuk, Ciyo.
Sini.
Eh, Ciyo!
Bi?
Siapa?
Kamu simpan di mana sih, Mbak?
Hei.
Ciyo.
Ciyo?
- Ciyo? - Kenapa, Non?
Bi. Bibi lihat Ciyo nggak, Bi? Dari tadi malam makanannya belum dimakan.
Dari tadi Bibi nggak lihat Ciyo masuk ke dapur.
Nggak tidur sama Non Putri?
Duh, nggak lagi.
Putri telat, Bi. Boleh minta tolong cariin Ciyo?
- Kalau ketemu, kabarin Putri ya. - Ya.
Non, ban mobil bocor.
Ya udah, Putri naik taksi.
- Putri jalan, Bi. - Hati-hati, Non.
Kucing lo berkeliaran aja kali.
Ntar juga balik lagi.
Nggak mungkin, Don.
Ciyo tuh paling nggak suka keluar rumah.
Dia nggak mungkin keluar kalau nggak dipaksa.
Menurut lo mungkin nggak kalau Tante Marni yang ngusir dia?
Nggak mungkin lah. Gila aja.
Mungkin aja sih. Dari kemarin dia kayak nggak suka gitu sama Ciyo.
- Don, Don... - Apa?
Lihat. Tuh? Bener, 'kan?
Terus ini yang foto siapa?
Udah tahu siapa yang kirim pesan-pesan ini?
Trus lo percaya sekarang itu nyokap lo?
Kalau emang beneran Mama, gimana?
Put, bacain gue tarot dong, Put.
Ayolah, bacain gue tarot dong.
Put.
Permisi.
Put... Mau ke mana, Put?
Kelihatan banget...
Gue minta tolong, hapus videonya.
Kenapa, Put? Justru banyak loh yang suka.
- Ya, gue penggemar loh. - Ya, gue makin suka sama lo, Put.
Lo harusnya berterima kasih, Put.
Jatuh gitu doang?
Putri, lawan mereka.
Aneh lo, Put.
Put... Put?
- Apa-apaan sih? - Putri!
Put, putri! Put, sadar!
- Put, lo ngapain sih? - Sadar, Put!
Eh, Put.
Put, lo mau ngapain, Put?
Put, sadar, Put.
Udah gila ya?
Gila lo, Put.
Putri. Tolong Mama, Put.
Tolong.
Tolong Mama, Nak.
Bantu Mama, Put.
Put. Putri!
Lo tadi kenapa sih, Put?
Jangan bilang nyokap lo yang nyuruh.
Lo nggak ngerasa ini aneh, Put? Gue tadi ngelihat lo beda.
Nggak kayak biasa. Lo nggak pernah begini...
Terus lo mau gue ngapain, Don?
Lo mau gue diam aja diinjak-injak terus sama mereka?
Lo tahu Bella sama teman-temannya gimana.
Lagian lo juga sih, mau aja ikut ajakan mereka.
Jadi, salah gue main sama mereka?
Paling nggak Mama peringatin gue sebelum kejadian.
Ayo.
Ikut gue, kita obrolin di dalam.
Jangan naik, Putri.
Jangan naik.
Jangan naik.
Jangan naik.
Kita harus turun, Don.
Put, lo ngapain sih?
Jangan naik, Don. Kata Mama jangan naik.
Lo masih percaya?
Udahlah. Ayo.
Ini gara-gara Bella nih, semua orang pengen lo jadi kayak nyokap lo.
Kecelakaan bus terjadi pukul 18.00 WIB.
Laporan sementara menyatakan ada delapan korban meninggal dunia
dan 11 lainnya luka-luka.
Mbak, kita cari jalan lain aja ya. Kayaknya di depan ada kecelakaan deh.
Put.
Put! Putri!
Putri! Eh, tunggu bentar, Put.
Put.
Gimana kalau Mama nyelametin kita, Don?
Gimana caranya? Dia udah gak ada.
Nggak. Lo nggak paham?
Ini pasti Mama.
Aku awalnya juga nggak percaya, Don, tapi sekarang...
Ini pertama kalinya Mama peduli sama gue, Don.
Selama ini Mama nggak anggap gue lebih penting daripada kerjaannya dia.
Mungkin emang ini caranya Mama untuk minta maaf sama gue.
Caranya Mama untuk kasih gue kesempatan, Don.
Put, gue ngerti lo lagi sedih. Cuma nggak gini caranya.
Gimana kalau pesan ini ada hubungannya sama kecelakaan?
Gimana kalau ternyata sumbernya sama?
Nggak mungkin. Mama nggak mungkin celakain orang.
Kalau gitu, sadar dong, Put.
Lo pikir pesan ini dari nyokap lo,
gimana kalau ternyata bukan?
Lo nggak ngerti apa-apa, Don.
Kamu dari mana aja sih, Put?
Tante denger bus kampus kamu yang kecelakaan.
Tante khawatir.
Mana kamu lagi nggak bawa mobil.
Put?
Putri!
Ciyo?
Ciyo?
Bibi!
Put?
Ngaku aja.
Tante kan yang udah bunuh Ciyo?
Lah kok Tante?
Nggak, Put. Tante cuma bawa Ciyo keluar.
Bahaya di sini. Tante lihat...
Lihat apa?
Lihat apa?
Dari kemarin, Tante nunjukin kalau nggak suka sama Ciyo,
tapi nggak dibunuh juga, Tante!
- Udah, Put. Percaya deh sama Tante. - Tante nggak usah bohong.
Aku punya buktinya.
Lihat!
Tante kok tega sih, Tante?
Kamu dapat foto itu dari mana, Put?
- Ada yang nggak beres di rumah ini. - Tante nggak usah alasan lagi!
Mendingan sekarang Tante keluar dari rumah ini dan jangan balik lagi.
- Putri! - Non! Non sabar, Non!
Non Putri.
Bibi bukannya mau ikut campur.
Tadi itu Non Putri nggak seperti biasanya.
Bi, Bibi kenal sama klien-kliennya Mama?
Banyak klien Mama yang kirim pesan ke Putri.
Karena teman Putri ada yang merekam Putri ngeramal kayak Mama.
Putri mau coba ketemu, Bi.
Non Putri memangnya bisa juga kayak Bu Sari?
Semenjak Mama meninggal, Putri terus-terusan dapat pesan, Bi.
Dan semua pesan-pesannya itu beneran kedengeran kayak Mama, Bi.
Dan selalu buat ngebantuin Putri.
Putri rasa...
Mama beneran pengen Putri ngelanjutin Mama, Bi.
Lanjutkan apa yang Mama lakukan, Putri.
Mereka mau kamu yang menyampaikan pesan-pesan itu, Nak.
Cuma dengan cara itu
kamu bisa menyelamatkan Mama dari neraka.
Mbak Putri, saya turut berbelasungkawa atas kepergian mamamu.
Ramalan Bu Sari terkenal akurat hasilnya.
Sebagai penerusnya,
kamu pasti bisa meramalkan calon anak saya untuk masa depan.
Berarti Putri terus menerima pesan dari Mbak Sari?
Ya.
Saya nggak tahu harus bilang apa, Bu.
Tapi perasaan saya nggak enak.
Saya nggak tahu banyak soal ilmunya Bu Sari.
Apa mungkin yang ngomong sama Non Putri itu benar-benar mamanya?
Nggak mungkin, Bi.
Itu nggak mungkin Mbak Sari.
Yang paling Mbak Sari takutkan dan nggak pernah mau terjadi
justru kalau Putri jadi peramal tarot juga.
Yang saya tahu, Bi, ramalan Mbak Sari itu akurat bukan karena hitung-hitungan.
Dia cuma membawa petaka.
Bagaimana, Mbak Putri?
Hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Anak petaka.
Katakan kebenarannya.
Beri tahu dia!
Mbak Putri?
Mbak Putri!
Mbak Putri!
Siapa?
- Halo, Pak. - Ya, ada yang bisa dibantu?
Saya adiknya Mbak Sari, Pak.
Kita butuh bantuan, Pak.
Tolong datang ke sini, Pak. Anaknya Mbak Sari...
Saya sudah bilang.
Jangan sentuh barang saya.
Put!
Put!
Put!
Non Putri!
Non Putri nggak apa-apa?
Putri masih nggak ngerti, Bi.
Sebenarnya selama ini Tante Marni ngapain di sini?
Kemarin Tante Marni cerita, dia ke sini karena ditelepon sama Bu Sari, Non.
Dia dititipin untuk jagain Non Putri.
Jagain, Bi?
Jagain dari apa?
Katanya Bu Sari yang nggak bolehin dia cerita semua ini.
Dia bohong, Putri.
Non?
Tolong dengerin Bibi, Non.
Non! Non Putri!
Non!
Lihat Donny nggak?
Put!
Don, selama ini lo bener.
Gue salah, emang ada yang nggak beres.
Pesan-pesan Mama terus masuk, Tante Marni celaka.
Sekarang gue nggak tahu harus percaya siapa, Don.
Gue takut, tolongin gue.
Ya terus harus gimana?
Gue juga nggak tahu! Gue udah buang HP gue, Don!
Don?
Non Putri.
Tolong...
Tolong.
Bibi?
Putri, pulang.
Putri, pulang...
Putri...
Pulang...
Putri...
- Berhenti! Berhenti! - Putri, pulang.
Berhenti!
Berhenti...
Berhenti!
Bi?
Bi Septi?
Non Putri?
Bi?
Non Putri?
Putri...
Kenapa, Sayang?
Putri mau bantuin Mama?
Ini Mama, Sayang.
Putri nggak mau bantuin Mama?
Kamu mau apa dari saya?
Mama nggak mungkin ngelakuin ini!
Sayang...
Dengerin Mama dulu dong.
Putri, putri, putri...
Bi.
Non Putri?
Bi.
Bi Septi?
Non Putri? Non?
Bi.
Sadar, Non.
Non... jangan, Non.
Sadar!
Putri, lawan!
Bukan tempatmu di sini!
Anak ini bukan milikmu.
Lawan, Putri. Jangan dengarkan.
Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh
dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan
dan kejahatan malam apabila telah gelap gulita.
Put?
Hei, sini-sini.
Di mana kartu tarot ibumu?
Kenapa, Put?
Kartunya nggak ada.
Kita harus segera cari kartunya. Kita berpencar.
Ya.
Pak. Ini.
Rumah ini sering dipakai meramal oleh Sari.
Iblis yang membisikinya terpusat di sini.
Setelah Sari meninggal,
tidak ada lagi manusia yang mendengarkan mereka.
Mereka pun marah.
Semua salahmu, Putri.
Semua salahmu.
Semua salahmu.
Semua salahmu.
Semua salahmu.
Semua salahmu.
Semua salahmu.
Putri.
Put?
Putri?
Hei, Put? Hei, hei!
Kenapa, Put?
Eh, Putri!
Lo kenapa, Put?
Tadi kalian...
Mereka itu licik.
Mencuri dengar dari langit, lalu membisikkan satu kebenaran,
tapi selalu diikuti oleh seribu kebohongan.
Saya kenal mamamu cukup lama.
Sebelum saya memutuskan untuk berhenti meramal,
kita pernah belajar bersama.
Melakukan persekutuan yang sama.
Banyak orang yang bisa meramal dengan hebat.
Tapi jarang yang bisa sehebat mamamu.
Karena mamamu mendapatkannya dari bisikan iblis.
Tapi itu ada harganya.
Sekarang mereka sedang berusaha membisikimu.
Membohongimu.
Agar bisa membuat persekutuan denganmu.
Jadi, itu semua beneran bukan Mama?
Mamamu pernah datang kepada saya untuk menghilangkan ilmunya.
Justru karena ingin memutus persekutuan, iblis marah.
Dan mereka mencelakai mamamu.
Kartu-kartu itu adalah medium
agar Sari bisa berkomunikasi dengan mereka.
Kartu-kartu itu, kita harus menguburnya di balik jenazah Sari.
Non Putri, sudah sampai. Ayo.
Bibi. Ini, Bi.
- Kita harus segera. - Ya.
- Ayo. - Ya, Pak.
Put. Ayo, Put.
Putri.
Non Putri!
Non, jangan, Non!
Jangan dengarkan mereka! Sadar!
Sadar, Putri.
Putri, sadar.
Don, gue minta maaf.
Ini semua salah gue.
Nggak apa-apa, Put.
Gue cuma pengen lo balik lagi kayak dulu.
- Kalian berdua tunggu di sini. - Ya, Pak.
Ayo, Putri. Ayo.
- Ini, Non. - Ya, Bi.
Saya ambil kartu tarotnya.
Temenin Mama di sini ya, Put?
Mama baru pulang?
Maafin Mama ya. Mama pulangnya telat lagi.
PENGHARGAAN KOMPETISI DESAINER BUSANA MUDA
Maafin Mama ya.
- Mama nggak datang lagi. - Nggak apa-apa, Ma.
Nggak apa-apa.
Yang penting sekarang Mama ada di sini.
Putri, sadar.
Putri masih pengen banggain Mama.
Selalu, Sayang.
Mama selalu bangga sama Putri.
Ingat itu ya.
Putri, sadar.
Putri, tidur lagi, Nak.
Sadar, Putri.
Putri, sadar.
Jangan dengarkan mereka.
Putri, sadar. Sadar, Putri!
Sadar. Sadar, Putri!
Putri... Putri, sadar!
Agar Mama tidak tersiksa di neraka,
lanjutkan ramalanmu, Putri.
- Agar mamamu terampuni. - Kamu bukan Mama.
Dan kamu akan menerima kemampuan melebihi mamamu.
Semua manusia akan meminta pertolonganmu.
Kamu bukan Mama!
Bangun, bangun.
Ma...
Putri percaya Mama udah tenang sekarang ya, Ma.
Iblis itu bukan Mama.
Mama yang tenang ya, Ma.
Putri, anak Mama tersayang.
Maaf ya, Nak.
Selama ini Mama nggak bisa jadi orang tua yang selalu ada buat kamu, Put.
Mama sibuk meramal masa depan.
Sampai lupa
bahwa masa terbaik Mama adalah saat Mama bersama Putri.
Putri, maaf.
Mama bukan manusia yang sempurna.
Mama terjebak dalam pesan-pesan yang tak seharusnya Mama ikuti.
Kalau nanti Mama meninggal,
tolong doain Mama ya, Nak.
Biar Mama bisa diampuni semua dosa-dosanya.
Dan Mama harap Putri tidak terjebak seperti Mama.
Hidup dengan cara yang lebih baik ya, anakku.
Jangan dengarkan bisikan apa pun yang datang mengganggu hidup kamu.
Ini bukan salah Putri,
ini semua karena dosa yang Mama lakukan.
Maafkan Mama ya, Nak.
Semoga kelak kita akan kembali bertemu di Surga.
Salam sayang Mama untuk kamu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.