All language subtitles for Indonesio (generados automáticamente)_id_0_Alur Cerita Film Gereja Setan Penuh Teror_ Misteri Gelap Terungkap_ Bikin Merinding Sepanjang Malam_(720P_HD)

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Musik]

Sebenarnya ini gereja apa?

Ini bukan gereja RIP, komunitas

[Musik]

dengan orang-orang terdekat kamu.

Kamu sedang kepahitan kan? Tapi tenang

aja, di komunitas kami ini

kami menerima semua orang.

Semua yang aku alamin itu benar-benar

kenyataan dan bukan hausinasi.

Aku enggak sedang mengkhayal, Kak.

Semua yang kamu alami itu memang

kenyataan. Tapi Kak Hendrik punya solusi

buat kamu

untuk kamu bisa mengatasi gangguan

makuhan, kamu harus rajin beribadah

bersama kami.

Biar kamu kenal satu sosok namanya

Lucifer.

Kamu enggak perlu takut.

Kamu cuma perlu bersiap-siap.

K kuasai dirimu.

Roh yang ada dalam dirimu lebih besar

daripada roh yang ada di dunia ini.

[Musik]

Asalamualaikum sahabat dunia wisata. Di

sini setiap kisah adalah cermin

kehidupan. Kami ajak kamu untuk

merenung, merasa, dan memahami arti dari

setiap ujian yang datang dalam hidup.

Selamat datang di channel Dunia Wisata.

Di sini kami tidak hanya menyajikan

kisah-kisah perjalanan atau pemandangan

menakjubkan dari penjuru negeri, tapi

juga membawamu menyelami kisah-kisah

luar biasa yang bersembunyi di balik

tirai kehidupan yang terkadang tak

pernah kita bayangkan akan benar-benar

terjadi. Pernahkah kamu membayangkan

bahwa seseorang yang kini menghibur

banyak orang di atas panggung komedi

dulunya pernah menjadi bagian dari

sesuatu yang kelam? Sangat kelam. bahkan

melawan kodrat keimanan itu sendiri.

Bayangkan jika seorang remaja yang tak

tahu arah hidup tiba-tiba masuk dalam

sebuah sekte penyembah setan, menjadi

pemimpin ritual gelap dan hampir

kehilangan seluruh masa depannya hingga

akhirnya. Sebuah kalimat sederhana

mengguncang hidupnya dan membuatnya

kembali ke jalan terang. Inilah kisah

nyata yang menjadi inspirasi film horor

terbaru berjudul Gereja Setan.

Bukan sekadar cerita fiksi atau urban

legend, tetapi diangkat dari pengalaman

nyata seorang komika ternama Indonesia,

Mongol Stres. Sebuah perjalanan batin

dari gelap menuju terang dibalut dengan

horor mencekam yang akan membuatmu

bertanya, apakah sekte pemuja setan

benar-benar ada di sekitar kita? Cerita

ini dimulai dari seorang remaja

laki-laki bernama Roni. Nama aslinya

Mongol yang tumbuh dalam lingkungan yang

penuh tekanan.

Ia berasal dari keluarga sederhana di

Manado. Sejak kecil hidupnya tak banyak

memiliki bimbingan spiritual.

Pendidikan agamanya sangat minim dan

keadaan keluarganya membuat ia merasa

tidak dianggap. Di usia 14 tahun, ia

mulai merasakan kehampaan yang dalam.

Perasaan hampa yang tidak bisa diisi

oleh canda tawa maupun pertemanan biasa.

Suatu hari saat sedang menyendiri di

salah satu sudut kota Manado, ia bertemu

dengan seorang pria asing. Boleh

berambut pirang, tinggi besar. dan

wajahnya sangat ramah.

Pria itu mengajaknya berbicara,

menanyakan kabar dan kehidupan.

Lama-kelamaan, pria itu mulai membuka

percakapan tentang komunitas eksklusif

yang katanya bisa membuat hidup lebih

bermakna. Roni yang haus akan pengakuan

merasa tertarik. Tanpa disadari, ia

sedang masuk ke dalam jerat sekte pemuja

setan. Mereka menyebut komunitas itu

sebagai gereja, tapi bukan gereja pada

umumnya.

Ini adalah gereja setan, organisasi yang

tersembunyi, eksklusif, dan hanya bisa

dimasuki oleh orang-orang terpilih. Hari

pertama Roni diajak masuk ke dalam

sebuah bangunan tua yang terletak di

pinggiran kota. Bangunannya seperti

rumah biasa, namun saat masuk ke dalam,

atmosfernya langsung berubah. Bau dupa

bercampur dengan aroma menyengat darah

segar memenuhi ruangan.

Lampu-lampu merah remang menyala dan di

tengah ruangan ada sebuah simbol besar

berbentuk pentagram terukir di lantai.

Orang-orang berpakaian hitam berkumpul

sambil melantunkan nyanyian dalam bahasa

asing.

Roni dipersilakan duduk dan ritual pun

dimulai.

Ritual pertamanya terasa aneh tapi

memikat. Ia diminta membacakan sebuah

kalimat dari satanic bible dan dalam

hatinya meski ada sedikit ketakutan

ia merasa diterima.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia

merasa penting. Dalam hitungan minggu,

Roni mulai rutin datang ke pertemuan. Ia

semakin larut dalam ajaran yang

diajarkan.

Para pemimpin sekte mengajarinya bahwa

dunia ini penuh kebohongan dan hanya

dengan menolak Tuhan, seseorang bisa

mencapai kebebasan sejati. Doa-doa biasa

tidak lagi dia ucapkan. Ia menggantinya

dengan mantera-mantera gelap.

Bahkan saat ulang tahunnya ke-15, ia

dibaptis menjadi bagian dari leadership

Committee. Tanggung jawabnya bertambah.

Ia mulai memimpin ritual-ritual kecil.

Setiap minggunya, tiga kali dalam

seminggu, ada ritual umum yang disebut

sebagai perjamuan hitam. Dalam ritual

ini, mereka melakukan penghujatan kepada

Tuhan, meragukan para nabi, dan membaca

ulang teks suci versi mereka yang di

dalamnya hanya ada cemohan terhadap

agama-agama.

Namun puncaknya adalah santap kasih

bersama. Ritual yang dilakukan dengan

sangat tertutup hanya untuk kalangan

pimpinan.

Ritual ini penuh dengan pesta seks,

narkoba, dan pembebasan moral

sepenuhnya.

Di sini para lelaki diberi hak memilih

pasangan sesama anggota untuk berbagi

kasih, baik sesama jenis maupun lawan

jenis.

Ronik ini menjadi bagian penting dalam

organisasi itu. Ia dikenal sebagai salah

satu jenderal muda yang dipersiapkan

untuk memperluas pengaruh gereja setan

ke luar Manado. Targetnya Jakarta.

Namun hidupnya mulai berubah saat ia

membaca sebuah tulisan di ruang rapat

pusat komunitas mereka. Di tembok

belakang dengan tinta hitam pekat ada

kalimat tertulis, "If you will not go to

heaven but to hell." Kalimat itu menusuk

hatinya.

Untuk pertama kalinya sejak ia

bergabung, Roni merasa takut. Ia mulai

mempertanyakan semua yang ia pelajari.

Di saat yang sama, dua pemimpin lain

juga mulai goyah. Kegelisahan merayap

pelan di hatinya, menghantui setiap

ritual yang ia lakukan. Malam-malamnya

tak lagi tenang. Ia mulai bermimpi

buruk. Melihat sosok-sosok hitam yang

menertawakannya.

Melihat ibunya menangis, berdoa di sudut

kamar.

Ia melihat dirinya sendiri terbakar di

dalam api. Puncaknya terjadi saat ia

sedang memimpin ritual. Di tengah bacaan

mantera, ia tiba-tiba pingsan. Dalam

kondisi tidak sadar, ia bermimpi bertemu

dengan sosok bercahaya yang memeluknya

dan berkata, "Pulanglah.

Kamu masih bisa kembali."

Setelah terbangun, Roni langsung kabur

dari lokasi ritual. Ia lari

sejauh-jauhnya, naik bus ke luar kota

dan akhirnya tinggal di Jakarta.

Di sana ia bersembunyi, hidup

berpindah-pindah hingga akhirnya

menemukan panggung stand up komedi. Tawa

menjadi pelariannya, tapi di balik tawa

itu ada luka yang belum sembuh. Film

Gereja Setan membawa kita menyelami

semua fase ini. Dari perkenalan Roni

dengan sekte, kehidupannya di dalam

organisasi, ritual-ritual mengerikan

yang dijalani sampai ke pertobatan dan

kembalinya dia ke jalan Tuhan.

Diperankan oleh Mongol sendiri sebagai

panglima Gereja Setan, film ini bukan

hanya horor biasa.

Ia adalah refleksi mendalam tentang

gelapnya kehidupan jika seseorang

kehilangan arah spiritual.

Penonton akan disuguhkan atmosfer

ritual, pembacaan teks satanik,

perjamuan kelam, hingga kekuatan doa

yang akhirnya membebaskan Roni dari

belenggu setan. Film ini juga

memperlihatkan karakter seorang

perempuan muda, Lisa, yang sedang

berusaha keluar dari jeratan Gereja

setan. Cerita Lisa menjadi paralel

dengan kisah Mongol, di mana keduanya

berjuang menyelamatkan diri dari

jaringan sesat yang tidak mudah

ditinggalkan.

Dalam banyak adegan, Lisa digambarkan

dihantui sosok-sosok gaib yang muncul

saat ia mulai ragu dengan ajaran sekte.

Dalam perjuangannya keluar, Lisa bahkan

dikejar oleh anak buah sekte yang takut

ia akan membocorkan rahasia komunitas.

Tapi Takdir mempertemukan Lisa dengan

Mongol yang telah lebih dulu keluar dan

kini menjadi mentor spiritualnya.

Sepanjang film, penonton akan dibawa

menyelami banyak sisi gelap kehidupan.

Mulai dari kehilangan iman, pencarian

makna hidup, hingga kebangkitan kembali

dari titik terendah. Film Gereja Setan

juga menyampaikan pesan kuat bahwa

ajaran sesat bukan hanya ada dalam

cerita fiksi. Ia benar-benar nyata dan

siap menjebak siapapun yang sedang

berada di titik terlemahnya.

Roni mulai menjalani kehidupan barunya

di Jakarta dengan penuh kehati-hatian.

Setiap malam ia masih dibayang-bayangi

oleh rasa bersalah, trauma, dan

ketakutan bahwa sekte itu akan

menemukannya.

Ia tahu keluar dari gereja setan

bukanlah hal yang mudah. Tidak ada

mantan anggota. Begitu istilah yang

sering digunakan oleh para pemimpin

mereka. Mereka yang mencoba keluar akan

dianggap pengkhianat dan menjadi target

penghakiman internal. Ron telah

mengambil risiko besar, tapi hidup terus

berjalan

bertahan hidup. Roni melakukan berbagai

pekerjaan serabutan. Menjadi tukang

parkir, membantu di warung makan hingga

jadi pelawak jalanan. Dari sinilah

perlahan ia menemukan dunia komedi.

Awalnya hanya untuk menghibur diri

sendiri dari kesedihan dan ketakutan.

Tapi ternyata tawa yang ia tebarkan

menyembuhkan lebih dari yang ia

bayangkan.

Di balik panggung kecil di peran stasiun

dan acara hajatan kampung, Roni

menemukan caranya untuk menyampaikan

keresahan tentang hidup, tentang masa

lalu, dan tentang betapa gelapnya dunia

yang pernah ia tinggali. Tanpa menyebut

detail sekte, ia menyindir dengan humor

kelam. Dan dari sana namanya mulai

dikenal Mongol, si pelawak dengan gaya

bicara belak-belakan dan kejujuran

brutal. Namun justru ketika ia mulai

tenar dan tampil di TV nasional, teror

itu datang kembali.

Suatu malam setelah tampil dalam acara

televisi, Roni menerima sebuah surat

tanpa nama. Isinya hanya satu kalimat

dalam huruf kapital berwarna merah. Kami

masih melihatmu.

Diikuti dengan sebuah simbol pentagram

di sudut bawah kertas.

Jantungnya seketika berdegup lebih

cepat. Ia tahu itu bukan kebetulan,

bukan gurauan,

itu peringatan.

Beberapa hari kemudian, seseorang

misterius mulai mengikuti setiap

penampilannya.

Pria tinggi, berpakaian serba hitam,

berdiri di ujung penonton tanpa pernah

bertepuk tangan atau tersenyum.

Ia hanya menatap tajam. Roni mencoba

mengabaikan. Namun, teror itu makin

nyata ketika suatu malam ia pulang ke

kontrakannya dan menemukan bangkai

burung gagak di depan pintu dengan leher

dipatahkan dan darah yang masih mengalir

segar.

Pada malam-malam berikutnya, Roni mulai

mengalami mimpi buruk yang lebih intens.

Sosok iblis bersayap hitam muncul dalam

tidurnya, mengajaknya kembali. Dalam

mimpi itu terdengar bisikan yang sama

berulang kali. Tanpa kami, kamu bukan

siapa-siapa.

Suara itu bergema dalam kepalanya

membuat ia hampir kehilangan akal. Dalam

kondisi seperti itu, Roni bertemu

kembali dengan Lisa. Lisa adalah seorang

perempuan muda yang juga pernah menjadi

anggota gereja setan. Namun statusnya

lebih rumit. Lisa dibesarkan dalam

keluarga yang sudah menjadi bagian dari

sekte itu selama tiga generasi.

Ayah dan ibunya adalah pemimpin regional

dan Lisa sejak kecil telah

diindoktrinasi dengan ajaran sesat.

Namun jauh di dalam hatinya ia tidak

pernah sepenuhnya percaya. Pertemuan

mereka terjadi saat Roni mengisi acara

komunitas spiritual di salah satu rumah

singgah. Lisa datang sebagai peserta

yang mencari pertolongan.

Mata mereka saling bertemu dan dalam

beberapa detik mereka seperti saling

mengenali dua jiwa yang pernah hidup

dalam kegelapan yang sama. Lisa

menceritakan bahwa ia sedang berusaha

melarikan diri dari pengawasan

keluarganya. Ia telah menolak perjodohan

ritual yang akan menjadikannya pengantin

iblis. sebuah ritual tertinggi di sekte

itu yang mengharuskan perempuan berusia

21 tahun untuk menyerahkan dirinya

secara spiritual dan jasmani kepada

entitas yang disebut sebagai sang

terpilih. Ritual itu hanya dilakukan

satu kali setiap dekade. Karena menolak,

Lisa kini menjadi buronan.

Ayahnya sendiri mengirimkan tiga orang

untuk menculik dan membawanya kembali.

Ia lari dari satu kota ke kota lain

hingga akhirnya tiba di Jakarta dan

menemukan komunitas tempat Roni

berbicara.

Kisah mereka bersatu.

Mereka memutuskan untuk saling

melindungi. Roni membawa Lisa ke tempat

persembunyian lamanya, sebuah rumah

kontrakan di pinggiran kota yang dulu ia

pakai saat masa-masa terburuknya.

Di sana mereka mulai merancang rencana

bukan hanya untuk melindungi diri, tapi

juga membongkar jaringan gereja setan

yang kini makin berkembang dan tersebar

secara nasional. Mereka tahu gereja

setan telah menyusup ke berbagai lapisan

masyarakat dari kalangan ekonomi rendah

hingga elit, dari kampung hingga istana.

Beberapa anggota sekte kini menyamar

sebagai tokoh agama, politisi, bahkan

artis ternama. Ini bukan hanya sekte

kecil, ini organisasi besar dengan

struktur hierarki, sistem rekrutmen, dan

operasi yang nyaris tak terdeteksi.

Mereka pun mulai merekam

pengakuan-pengakuan, mengumpulkan

dokumen-dokumen ritual lama yang masih

disimpan Lisa, dan merekam video

kesaksian sebagai bukti. Namun hal itu

membawa mereka dalam risiko yang lebih

besar.

Dalam salah satu malam, tempat

persembunyian mereka diserang.

Jendela pecah, api dilemparkan ke dalam

rumah. Mereka berhasil kabur lewat pintu

belakang, tapi Lisa terluka parah.

Punggungnya terbakar sebagian.

Dalam pelariannya, mereka dikejar oleh

sekelompok orang berbaju jubah hitam dan

bertopeng tanduk. Di tengah kekacauan

itu, mereka diselamatkan oleh sosok tak

terduga, Pak Samuel, seorang mantan

pendeta yang kini menjadi pemburu ajaran

sesat.

Pak Samuel telah lama menyelidiki

keberadaan Gereja Setan dan kehilangan

anaknya yang diculik oleh sekte itu. Ia

membawa Roni dan Lisa ke tempat

persembunyian rahasia yang hanya

diketahui oleh segelintir orang. Di sana

Roni dan Lisa mulai mempelajari lebih

dalam struktur organisasi Gereja Setan.

Mereka menemukan bahwa ada tujuh

Jenderal Asia masing-masing bertanggung

jawab atas satu wilayah besar. Salah

satunya adalah Mongol sendiri sebelum ia

keluar.

Informasi ini membuat mereka sadar bahwa

satu-satunya cara menghentikan

organisasi itu adalah dengan

menumbangkan salah satu jenderalnya.

Lisa pun mengungkapkan bahwa salah satu

jenderal itu adalah ibunya sendiri yang

kini tinggal di luar negeri tapi sedang

mempersiapkan ritual besar di Indonesia.

Malam pengorbanan besar. Ritual ini

dirancang untuk merekrut 1000 jiwa baru

ke dalam organisasi melalui sebuah acara

spiritual yang dikamuflase sebagai

konser musik rohani.

Target mereka generasi muda. Tempatnya

Palabuhan Ratu. Waktunya dalam 3 minggu.

Roni, Lisa, dan Pak Samuel pun bersiap.

Mereka tidak hanya harus menghentikan

acara itu, tapi juga menyelamatkan

ribuan jiwa dari jebakan. Namun mereka

tahu kali ini mereka tidak hanya

berhadapan dengan manusia.

Mereka akan menghadapi kekuatan gelap

yang tidak bisa dijelaskan dengan akal.

Dan saat malam itu tiba, langit

palabuhan ratu gelap gulita.

Hanya diterangi oleh cahaya merah yang

menembus awan menandakan bahwa

pertempuran spiritual terbesar akan

segera dimulai. Guntur mulai menjelajahi

tempat itu lebih dalam. Ia menyusuri

lorong-lorong sempit yang remang,

melewati lukisan-lukisan besar bertema

penderitaan dan iblis, hingga akhirnya

sampai di sebuah ruangan berisi

kursi-kursi kayu yang menghadap ke

mimbar yang tertutup tirai merah.

Di depan mimbar itu ada salib terbalik

dengan simbol pentagram membara di

dinding. Ia tahu dirinya sedang

menyaksikan jejak gereja setan yang

selama ini hanya dianggap mitos urban.

Tapi ini nyata. Bangunan ini bukan

sekadar tempat ibadah biasa yang

ditinggalkan. Ini adalah markas dari

sesuatu yang lebih gelap. Suara langkah

kaki terdengar dari atas. Guntur

cepat-cepat bersembunyi di balik salah

satu bangku. Ia menahan napas. Suara itu

semakin mendekat.

Sesosok pria berpakaian hitam panjang

mengenakan kalung pentagram perak turun

dari lantai atas sambil membawa lilin.

Ia berjalan ke mimbar dan mulai berdoa

dalam bahasa yang tidak bisa dipahami

Guntur. Guntur diam di tempat

menyaksikan ritual itu dari kejauhan.

Tiba-tiba pria itu berhenti berdoa

memalingkan wajahnya ke arah tempat

guntur bersembunyi.

Matanya menatap tajam seolah tahu ada

yang mengintip.

Tapi setelah beberapa saat, ia kembali

meneruskan doanya. Guntur mengambil

kesempatan itu untuk mundur perlahan dan

akhirnya keluar dari gedung tanpa

menimbulkan suara. Kembali ke

penginapan, Guntur mencoba mencerna

semuanya. Ia membuka laptop dan mulai

mengetik semua yang dilihatnya.

Tapi layar laptop tiba-tiba berkedip dan

sebuah notifikasi muncul. Kau telah

melihat terlalu banyak. Ia terlonjak dan

langsung mematikan laptop.

Saat ia menoleh ke jendela, ada bayangan

berdiri di luar. Pagi harinya, ia pergi

ke rumah neneknya untuk mencari

petunjuk. Neneknya, Buinten adalah salah

satu orang tertua di desa itu dan

dipercaya memiliki pengetahuan spiritual

yang

saat Guntur menceritakan tentang gereja

itu, Buint terdiam lama lalu berkata,

"Kau membuka pintu yang seharusnya tak

dibuka.

Gereja itu ditinggalkan bukan karena

gempa, tapi karena sesuatu yang

dibangkitkan di dalamnya.

Guntur semakin penasaran.

Ia mendesak Bujuminten untuk bercerita

lebih jauh. Sang nenek pun akhirnya

mengungkapkan legenda lama. Katanya dulu

ada sekelompok pendatang dari luar

negeri yang membangun gereja di tengah

desa dengan tujuan menyebarkan agama.

Tapi di balik itu, mereka melakukan

ritual-ritual aneh. Banyak anak-anak

desa yang hilang secara misterius.

Warga akhirnya menyerbu gereja itu dan

membakarnya.

Tapi satu pendeta berhasil lolos dan

bersumpah akan membalas dendam. Sejak

saat itu, desa itu terus dihantui oleh

peristiwa ganjil. Guntur merasa ada

keterkaitan antara gereja itu dan para

warga yang meninggal misterius. Ia

memutuskan kembali ke sana malam

harinya. Kali ini dengan membawa kamera

dan alat perekam suara. Ia ingin

mendokumentasikan segalanya.

Saat ia kembali ke gereja itu,

suasananya jauh lebih dingin. Kabut

turun dari perbukitan, menyelimuti jalan

setapak.

Lampu senter yang ia bawa seperti tak

bisa menembus kegelapan. Ia membuka

pintu gereja dan masuk perlahan.

Di dalam, udara terasa berat. Kamera

mulai merekam. Ia mendekati mimbar

tempat pria berdoa semalam. Saat ia

berdiri di sana, suara-suara mulai

muncul dari speaker kamera.

Suara tangisan

jeritan.

Tawa anak kecil yang menusup telinga.

Tiba-tiba kamera mati. Layar menunjukkan

error device not found. Guntur panik. Ia

berbalik tapi semua pintu sudah

terkunci.

Dari atas mimbar. Suara berat terdengar

seperti suara manusia tapi berlapis

dengan suara binatang.

Kenapa kau kembali?

Guntur memutar tubuhnya dengan gemetar.

Di sana berdiri pria berpakaian hitam

itu lagi. Kini wajahnya berubah menjadi

sesuatu yang menyerupai iblis dengan

mata merah menyala dan tanduk kecil di

dahi. "Kau tidak bisa pergi begitu

saja?" ucapnya sambil berjalan mendekat.

Guntur mencoba melarikan diri, tapi

kakinya seperti tertahan.

Lantai gereja itu berubah menjadi lumpur

yang menarik tubuhnya ke bawah.

Ia berteriak, berjuang sekuat tenaga.

Tiba-tiba doa-doa kuno dalam bahasa Jawa

kuno terdengar menggema. Sebuah cahaya

terang meledak dari langit-langit

gereja. Bujuminten berdiri di pintu

masuk gereja dengan membawa kitab tua di

tangannya. Ia membaca mantra-mantra

pelindung dan seketika makhluk itu

melolong kesakitan.

Guntur berhasil membebaskan dirinya dan

merangka keluar bersama sang nenek.

Mereka berdua berlari keluar dari gereja

sebelum bangunan itu berguncang dan

runtuh.

Di luar, Guntur bertanya dengan napas

tengah, "Apa yang sebenarnya terjadi di

sana?" Bu Juminten menatapnya, "Gereja

itu adalah gerbang. Gerbang menuju alam

lain dan kau telah membuatnya terbuka

kembali."

Tapi kisah ini belum berakhir. Seminggu

kemudian, beberapa anak desa kembali

hilang. Guntur merasa bersalah dan

memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh.

Ia pun mempelajari kitab kuno milik

neneknya.

Semakin ia membacanya, semakin ia sadar

bahwa ada sekte tersembunyi di balik

semua ini yang masih aktif dan berusaha

membangkitkan sesuatu yang lebih besar.

Dalam sebuah halaman kitab, Guntur

menemukan peta lama. Tertulis

simbol-simbol aneh yang menunjukkan

lokasi-lokasi di desa itu, bekas sumur

tua, pohon keramat, dan reruntuhan candi

yang selama ini dianggap tempat wisata

biasa. Ia sadar semua tempat itu adalah

titik-titik ritual yang saling

terhubung.

Tujuannya membangkitkan kekuatan

tertinggi dari dalam bumi. Guntur

kembali mengaktifkan kameranya kali ini

dengan niat bukan sekedar

mendokumentasikan, tapi membongkar dan

menghentikan seluruh rangkaian pemujaan

itu. Namun ia tak tahu bahwa setiap kali

ia membaca kitab itu, entitas di balik

gereja juga semakin kuat. Kini bukan

hanya Guntur yang mencari kebenaran,

tapi kegelapan juga mulai mencarinya

kembali.

Beberapa hari setelah kejadian di rumah

Tika, suasana di desa itu mulai berubah.

Orang-orang yang dulunya tanpa ramah

kini menjadi dingin dan curiga. Mereka

bicara dengan bisik-bisik jika melihat

ada orang asing lewat. Sebagian warga

bahkan mulai meninggalkan desa secara

diam-diam takut akan sesuatu yang tak

bisa mereka jelaskan. Tika sendiri belum

sepenuhnya pulih dari trauma malam itu.

Setiap malam ia bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia melihat sosok

berjubah hitam dengan wajah ditutupi

topeng tanduk berdiri di ambang pintu

kamarnya mengucapkan mantra-mantra dalam

bahasa yang tidak ia pahami. Ia bangun

dengan tubuh penuh keringat dan jantung

berdegup kencang. Rani, sahabatnya,

mencoba menenangkan, tapi Rani sendiri

tidak bisa membohongi dirinya. Mereka

telah membuka pintu ke dunia yang

seharusnya tidak mereka ganggu. Suatu

pagi, Tika dan Rani pergi ke rumah Pak

Burhan, seorang tetua desa yang dikenal

sangat bijaksana.

Mereka berharap bisa mendapatkan

penjelasan atau petunjuk. Saat mereka

tiba, Pak Burhan sudah menunggu di

beranda.

Ia menatap mereka dengan mata yang

tampak menyimpan rahasia besar. Kalian

sudah melihatnya, bukan? Gereja itu dan

ritual di dalamnya, kata Pak Burhan

tanpa basa-basi.

Tika dan Rani terkejut.

Bagaimana, Pak bisa tahu?

Tanya Rani. Pak Burhan menghela napas

panjang.

Karena aku pernah menjadi bagian dari

mereka. Dulu sekali ketika aku masih

muda dan bodoh, Tika dan Rani saling

pandang. Gereja itu tidak muncul begitu

saja. Ia dibangun di atas dasar kutukan.

Konon dulunya tanah itu adalah tempat

pemujaan leluhur yang dikubur

hidup-hidup karena menentang perjanjian

darah dengan iblis. Sejak saat itu,

roh-roh mereka merasuki siapun yang

berani mendekatkan diri dengan niat

jahat. Pak Burhan lalu mengeluarkan

sebuah buku tua dari dalam lemari.

Sampulnya berdebu dan berwarna merah

kehitaman seperti darah yang mengering.

Ia menyerahkannya pada Tika. Buku ini

adalah satu-satunya peninggalan yang

tersisa dari masa itu. Di dalamnya ada

catatan ritual, mantra, bahkan

peringatan tentang apa yang terjadi jika

seseorang menyentuh rahasia gereja

setan. Tapi tidak semua bisa membacanya.

Hanya mereka yang sudah terikat dengan

kegelapan yang bisa memahami isinya.

Rani membuka buku itu, tapi huruf-huruf

di dalamnya tampak berlari-lari seperti

kabur dari tatapannya.

Tika pun mencobanya dan anehnya ia bisa

membaca dengan jelas. "Itu artinya kau

sudah diincar," ucap Pak Burhan dengan

nada khawatir. Seketika angin dingin

berembus dari jendela terbuka. Buku itu

bergetar. Lalu sebuah halaman terbuka

sendiri. Di sana tertulis mantra

pemanggilan leluhur terkutuk. Tika mulai

membaca perlahan.

Berhenti," seru Pak Burhan. Tapi sudah

terlambat.

Seketika ruangan menjadi gelap. Dinding

bergetar dan suara teriakan ribuan arwah

menggema dari dalam rumah. Buku itu

menyala merah menyilaukan.

Tika terlempar ke belakang dan pingsan.

Saat ia sadar, hari sudah malam. Di

sekelilingnya, Pak Burhan dan Rani duduk

sambil membaca doa-doa perlindungan.

Tapi ada yang berubah.

Mata Tika kini berwarna merah tua dan di

bawah kulitnya tanpa urat-urat hitam

yang berdenyut seperti hidup. Kita harus

menghentikannya

sebelum gereja itu mengklaim jiwanya,

kata Pak Burhan dengan suara rendah.

Namun sejak kejadian itu, Tika mulai

mengalami hal-hal aneh. Ia bisa

mendengar bisikan dari dinding, dari

tanah, bahkan dari tubuh orang lain. Ia

tahu apa yang akan dikatakan orang

sebelum mereka berbicara.

Ia bisa melihat peristiwa masa lalu

hanya dengan menyentuh benda mati. Tapi

bersamaan dengan itu, keinginannya untuk

datang kembali ke gereja setan juga

semakin kuat. Sementara itu, di sisi

lain desa, para penganut gereja setan

mulai berkumpul kembali. Mereka

menyambut kemunculan Tika sebagai

pertanda kebangkitan.

Pemimpin mereka, seorang wanita tua

bernama Nyai Dirah, menyambut malam

bulan purnama dengan ritual besar.

Ia menyalakan lilin dari darah dan

memercikkan api hitam ke udara.

Memanggil makhluk dari dimensi yang

lebih gelap dari neraka. Gadis itu

adalah pintu. Melalui dirinya kita akan

membuka gerbang kegelapan abadi." ujar

Nyai Dirah.

Rani yang mulai curiga dengan perubahan

Tika mulai mencari informasi lain. Ia

kembali menemui Pak Burhan dan memaksa

pria tua itu untuk jujur sepenuhnya.

"Apa maksud dari semua ini? Kenapa Tika

yang terpilih?" tanya Rani dengan nada

panik. Pak Burhan akhirnya mengaku bahwa

Tika bukan gadis biasa. Ia adalah

keturunan terakhir dari leluhur yang

dikubur hidup-hidup. Leluhur yang dulu

menolak ritual darah dan dikutuk oleh

para pemuja kegelapan.

Jiwa mereka kini bersemayam dalam Tika

menjadikannya kunci antara dua dunia.

Jika mereka berhasil membuat Tika

melakukan ritus penyatuan, maka segel

pemisah dunia akan hancur," ucap Pak

Burhan. Waktu semakin menipis.

Rani harus memilih menyelamatkan

sahabatnya atau menghancurkan gereja

setan meski itu berarti harus

mengorbankan nyawa tika. Malam penentuan

pun tiba. Purnama merah menggantung di

langit. Gereja setan menyala dalam api

hitam yang membakar langit. Di tengah

altar, Tika berdiri dengan gaun putih

berdarah dikelilingi para pemuja. Di

hadapannya, Nyai Dirah mengangkat belati

yang berkilau. Tiba-tiba suara teriakan

menggema dari luar gereja.

Rani menerobos masuk membawa salib dan

air suci meneriakkan doa-doa suci yang

membuat para pemuja jatuh kesakitan.

Tapi Nyai Dra tetap berdiri. Matanya

menatap rani penuh kebencian.

"Kau tidak bisa menghentikan ini, gadis

bodoh," teriaknya.

Namun Rani menatap Tika dan dengan

tangis penuh harapan ia berteriak,

"Tika, ini bukan dirimu. Lawan mereka!

Tubuh tika bergetar.

Matanya berubah-ubah antara merah dan

hitam. Belati di tangannya terangkat,

tapi kemudian ia menjerit dan melempar

belati itu ke lantai. Api hitam mendad

padam. Langit runtuh. Gereja setan mulai

runtuh satu demi satu, menyedot semua

makhluk kegelapan ke dalam tanah. Nyaira

berteriak dalam kepanikan saat tubuhnya

terbakar oleh cahaya suci yang terpancar

dari Tika. Dan dalam sekejap semuanya

gelap. Ketika terbangun di tengah

reruntuhan gereja, dipeluk oleh Rani.

Pak Burhan berdiri tak jauh dari mereka,

tersenyum penuh lega. Namun dari

kejauhan, di balik kabut malam,

sepasang mata merah masih mengintai

menandakan bahwa kisah ini belum

sepenuhnya usai. Keesokan paginya,

suasana desa sudah kembali sunyi, tetapi

bukan dalam ketenangan, melainkan dalam

kegelisahan yang menyelinap ke setiap

jengkal tanah. Warga mulai saling

bertanya. Namun tak ada yang benar-benar

ingin tahu jawaban yang sebenarnya.

Kabar kematian Rangga menyebar cepat dan

banyak yang percaya bahwa itu bukan

kematian biasa. Eka yang semalaman tidak

tidur karena memikirkan suara-suara aneh

dari arah hutan akhirnya memutuskan

untuk mendatangi Pak Surya. Penjaga

arsip tua di desa yang dikenal menyimpan

banyak kisah kelam masa lalu. Pak Surya

tinggal di sebuah rumah kayu di pinggir

sawah dikelilingi buku-buku berdebu dan

lukisan-lukisan tua yang tak pernah

disentuh siapapun. Kau datang karena

Rangga?" tanya Pak Surya sebelum Eka

sempat membuka mulut. Eka terkejut.

"Dari mana Bapak tahu?"

Pak Surya hanya tersenyum samar dan

menunjuk ke paling pojok tempat sebuah

buku kulit berwarna hitam berada.

"Segala hal tentang tempat ini dan

rahasianya ada di situ.

Tapi jika kau membacanya, tak akan ada

jalan kembali."

Eka ragu, namun rasa ingin tahunya lebih

besar dari rasa takut. Ia mengambil buku

itu, membukanya perlahan dan membaca

satu demi satu halaman yang mengungkap

masa lalu desa mereka. Dulu pada abad

ke-18, desa ini pernah menjadi markas

rahasia sebuah kelompok pemuja setan

yang menamakan dirinya The Profundis.

Mereka membangun sebuah gereja di tengah

hutan yang kemudian menjadi tempat

ritual gelap untuk mempersembahkan

tumbal demi kekuatan dan kekayaan.

Gereja itu dibakar habis oleh seorang

pendeta muda yang berhasil melarikan

diri. Namun tak ada yang pernah

benar-benar tahu di mana letak pastinya

gereja itu. Tapi jika gerejanya sudah

dibakar habis, kenapa masih ada korban?

Tanya Eka gemetar. Pak Surya menatapnya

dalam-dalam.

Karena gereja itu mungkin tidak pernah

benar-benar hancur. Mereka bilang tempat

yang dibangun dari darah tak bisa musnah

hanya dengan api. Malam itu, Eka tak

bisa tidur.

Ia membayangkan kembali semua hal yang

pernah ia dengar tentang suara-suara di

tengah malam, bayangan-bayangan di

hutan, dan tatapan kosong dari para

pendatang yang menghilang satu persatu.

Ia merasa seperti berada di pusaran

sebuah misteri besar yang tak bisa

diabaikan begitu saja.

Keesokan harinya, Eka mengajak Arini,

sahabat masa kecilnya yang kini menjadi

dosen antropologi di kota untuk datang

dan meneliti sejarah desa itu lebih

dalam. Arini, meski skeptis, tertarik

karena banyak legenda lokal yang belum

pernah didokumentasikan secara akademis.

Mereka kembali ke rumah Pak Surya yang

dengan berat hati mengizinkan mereka

menyalin sebagian isi buku tersebut.

Tapi Pak Surya memperingatkan satu hal.

Jika kalian mencari, pastikan kalian

siap untuk menemukan.

Jangan pernah menyentuh apapun yang

tidak seharusnya disentuh.

Selama 3 hari mereka menyusuri hutan

berdasarkan petunjuk dalam buku itu.

Hingga pada hari keempat mereka

menemukan sisa-sisa pondasi bangunan

batu tua yang tertutup akar dan lumut di

tengah hutan yang jauh dari jalur warga

desa. Ini dia. Gumamarini sambil menyapu

dedaunan dari sebuah prasasti batu

dengan ukiran salib terbalik. Tiba-tiba

angin bertiup kencang.

Suara aneh seperti bisikan terdengar

dari balik pepohonan.

Mereka berdua saling menatap lalu

perlahan-lahan turun ke dalam lubang

yang dulunya mungkin adalah ruang bawah

tanah gereja.

Di sana mereka menemukan sebuah altar

batu dengan bekas lilin hitam yang sudah

lama mencair. Di dinding terdapat

lukisan-lukisan aneh yang menggambarkan

manusia berwajah iblis dan di sudut

ruangan sebuah peti kayu tua yang

terkunci dengan rantai besi. Eka dengan

penasaran yang semakin membuncah mencoba

membuka peti itu. Tapi sebelum sempat

menyentuh rantainya terdengar jeritan

nyaring dari luar.

Mereka berlari keluar dan menemukan

seorang anak laki-laki desa yang

terjatuh dengan wajah pucak dan mulut

berbusa.

"Jangan buka, jangan buka. Mereka masih

di sana." Bisik anak itu sebelum

akhirnya pingsan.

Malam itu, Eka dan Arini kembali ke

rumah. Mereka tahu apa yang mereka

temukan bukan hanya runtuhan, tapi makam

rahasia dari kejahatan masa lalu yang

masih hidup sampai sekarang. Namun, rasa

penasaran Eka belum juga padam.

Ia merasa harus membuka peti itu, entah

demi kebenaran atau demi menghentikan

kutukan yang selama ini menyelimuti desa

mereka. Arini menentangnya, tapi Eka

telah memutuskan.

Ia kembali ke lokasi itu sendirian,

membawa lampu, linggis, dan keberanian

yang sudah tipis. Saat rantai itu

akhirnya terbuka dan peti berhasil ia

buka. Yang ia temukan bukan benda, tapi

jasad utu seorang pria dengan pakaian

pendeta hitam dan simbol aneh di

dahinya. Tiba-tiba lampunya padam dan

dari kegelapan terdengar suara yang

sangat dekat. Akhirnya kau datang

pewaris darah. Eka tak bisa bergerak.

Dunia seolah berhenti dan dari balik

kegelapan, dua mata merah menyala

menatapnya dengan penuh dendam.

Hari-hari berikutnya menjadi kabur.

Eka ditemukan oleh warga desa dalam

keadaan linglung tanpa bisa berbicara

sedikit pun.

Arini yang datang menemuinya hanya

mendapat satu kalimat dari bibir Eka.

Gereja itu masih hidup.

Dan malam itu untuk pertama kalinya

dalam puluhan tahun lonceng dari tengah

hutan berdentang kembali. Suasana

berubah mencekam ketika tiba-tiba salah

satu jendela gereja terbuka dengan

sendirinya disertai suara desir angin

yang tak seharusnya ada. Damar segera

berdiri dan meraih senter dari dalam

tasnya.

Bayangan hitam melintas cepat di antara

bangku-bangku kayu yang mulai berjamur.

Tak seorang pun berani bersuara.

Hanya terdengar deru napas mereka yang

mulai tak teratur. Laras menggenggam

tangan Damar gemetar.

Kita harus keluar dari sini, bisiknya.

Tapi saat mereka hendak bergerak, suara

dentingan lonceng gereja terdengar

nyaring. Padahal waktu menunjukkan pukul

2 dini hari. Siapa yang membunyikannya?

Mereka berempat saling pandang.

Aldi mencoba membuka pintu utama, tapi

terkunci dari luar. Ia menghantamnya

dengan tubuhnya, namun tetap tak bisa

terbuka. Damar segera menyadari ada yang

tidak beres. Gereja ini bukan sekadar

bangunan kosong, melainkan tempat dengan

energi yang begitu kuat dan jahat. Dari

arah altar terlihat sosok bayangan

perlahan berjalan ke arah mereka. Tak

memiliki wajah, hanya tubuh tinggi besar

berselimut kabut gelap.

Setiap langkahnya mengeluarkan bunyi

retakan seperti kayu patah. Cahaya dari

senter damar berkedip-kedip seolah tak

sanggup menembus kabut di sekitarnya.

Bayangan itu menunjuk ke arah mereka dan

tiba-tiba suara jeritan perempuan

terdengar menggema di seluruh ruangan

membuat darah mereka membeku. Erika

jatuh terduduk menangis histeris.

Itu suara ibu. Itu suara ibu aku.

Laras berusaha menarik Erika menjauh.

Namun Erika seperti kesurupan. Ia

menjerit-jerit. berbicara dalam bahasa

yang tak dimengerti dengan suara yang

bukan suaranya.

Damar mendekat, mencoba menyadarkannya.

Namun, sosok bayangan itu semakin dekat

dan tiba-tiba lenyap begitu saja.

Ruangan menjadi hening kembali.

Lampu senter menyala normal. Tapi Erika

sudah tak sadarkan diri. Mereka segera

membopongnya ke sudut gereja. Damar

merogoh tas dan mengambil air mineral,

menyiramkannya ke wajah Erika. Ia

perlahan siuman. Tapi matanya tak fokus.

"Kita harus keluar dari sini sekarang

juga," ucap Aldi tegas. Ia mencoba

membuka jendela dan berhasil.

Mereka satu persatu keluar melewati

jendela sempit itu membawa Erika yang

masih lemas. Begitu mereka keluar,

Lonceng kembali berdentang tiga kali dan

pintu gereja terbuka dengan sendirinya.

Tak ada yang menoleh ke belakang.

Mereka langsung menuju mobil,

menghidupkannya, dan melaju kencang

meninggalkan tempat terkutuk itu. Namun

sesampainya di penginapan, mereka

menyadari sesuatu yang janggal. Kamera

dan semua alat perekam yang mereka bawa

rusak total. File video yang sudah

mereka rekam sebelumnya kosong.

Seolah-olah tak ada satuun yang berhasil

merekam apapun yang terjadi di dalam

gereja itu.

Erika yang masih pucat tiba-tiba berkata

dengan suara pelan, "Kita sudah dibawa

masuk ke wilayah mereka.

Apapun yang kita alami tadi bukan cuma

peringatan.

Mereka tahu kita datang dan mereka belum

selesai.

Malam itu mereka tak bisa tidur. Suara

ketukan samar di jendela kamar

penginapan terus terdengar hingga Fajar

menyingsing ketika Damar mencoba

mengintip, tak ada siapa-siapa di luar

sana. Hanya kabut tipis yang menyelimuti

jalanan kecil desa. Keesokan harinya,

Laras menemukan simbol aneh tergambar di

belakang mobil mereka.

Simbol yang sama dengan yang ada di

altar gereja semalam. Terukir dengan

arang membentuk lingkaran dengan mata

satu di tengahnya. Damar memotret simbol

itu lalu mengirimkannya ke temannya yang

seorang dosen antropologi dan pakar

kebudayaan kuno. Tak lama kemudian ia

mendapat balasan.

Simbol itu dikenal sebagai lambang

pemanggil roh penuntun kegelapan.

biasanya digunakan dalam pemujaan

rahasia dan hanya bisa ditemukan di

tempat pemujaan kuno.

Tapi kamu dari mana bisa menemukannya di

Indonesia?

Jawaban itu membuat Damar terpaku.

Apa yang sebenarnya sedang mereka

hadapi?

Sebuah ritual pemanggilan kuno atau

sebuah sekte lama yang masih aktif

hingga kini menyamar di balik reruntuhan

gereja tua?

Dan yang lebih mengerikan, simbol itu

kini mulai muncul di tempat-tempat lain.

Di cermin kamar mandi penginapan.

Di bawah alas sepatu laras, bahkan di

kulit leher Erika saat ia bercermin.

Bayangan itu belum pergi. Justru mereka

yang kini sedang diburu. Angin malam

semakin mencekam. Pepohonan di sekitar

gereja bergoyang seperti menari dalam

bisikan roh-roh terkutuk. Di dalam ruang

bawah tanah gereja, Marcel kini

sendirian.

Di hadapannya terbentang koridor gelap

yang dipenuhi simbol-simbol kuno.

Dindingnya berlumuran darah yang tampak

masih segar. Tidak ada suara kecuali

detak jantungnya yang menggema di

kepala. Marcel melangkah perlahan.

Senter di tangannya bergetar.

Di ujung lorong, dia menemukan ruangan

kecil dengan altar dari batu hitam

pekat. Di atas altar itu terbaring jasad

seorang wanita

dengan kedua tangan terikat dan mata

terbuka menatap langit-langit.

Ada cahaya aneh berwarna merah dari

lilin-lilin yang mengelilinginya seolah

napas setan berada di dekatnya.

Tiba-tiba suara desahan lirih terdengar.

Wanita itu hidup. Ia bukan mayat, tapi

manusia yang sedang dikorbankan.

Marcel bergegas memotong tali pengikat

dengan pisau kecil yang ia bawa. Tapi

saat talinya putus, mata wanita itu

berubah.

Hitam legam seperti bola mata iblis.

Kau telah membuka segel," katanya dengan

suara yang bukan suara manusia.

Tiba-tiba seluruh ruangan berguncang.

Dinding-dinding retak dan suara teriakan

dari dunia lain menyeruak dari balik

tanah. Marcel terlempar ke belakang

terjebak di antara batu-batu yang

berjatuhan.

Wanita tadi melayan di udara. Tubuhnya

menyala merah seperti bara. Dari bawah

altar muncul sosok besar dengan tanduk

melengkung dan tubuh bersisik. Sosok itu

mengangkat tangan. dan semua cahaya

padam. Ketika Marcel membuka mata, ia

berada di hutan jauh dari gereja.

Tapi di tanah ada jejak api berbentuk

lingkaran dan bau belerang yang

menyengat. Wanita tadi tidak ada, gereja

pun tidak tampak. Seolah semuanya hanya

mimpi buruk. Namun, di telapak tangan

Marcel ada simbol terbakar lambang

gereja setan yang kini tertanam dalam

kulitnya.

Marcel pulang ke rumah. Namun setiap

malam kini dihantui mimpi-mimpi tentang

iblis dan pengorbanan.

Ia mencoba berkonsultasi pada pendeta.

Tapi setiap ia menyebut tentang gereja

itu, pendeta mendadak muntah darah dan

pingsan.

Seolah nama itu sendiri membawa kutuk.

Tak lama, Marcel menyadari bahwa ia kini

bisa mendengar suara-suara dari dunia

lain. Ia mendengar tangisan anak-anak,

bisikan dari kegelapan, dan terkadang

suara dirinya sendiri tertawa dalam

kegelapan.

Mimpi dan kenyataan mulai kabur. Ia

tidak tahu apakah ia masih manusia atau

mulai berubah menjadi sesuatu yang lain.

Orang-orang di sekitarnya mulai

menghilang.

Tetangganya ditemukan tergantung di

rumahnya sendiri dengan tulisan dia

telah datang terpahat di dinding dengan

darah. Teman kerjanya ditemukan di danau

dengan mata melotot dan lidah terpotong.

Semua kejadian itu mengarah pada satu

titik simbol di tangan Marcel.

Marcel mencoba membakar simbol itu,

menyayatnya, bahkan mengamput jari. Tapi

simbol itu selalu kembali, bahkan lebih

dalam dan lebih bercahaya dari

sebelumnya. Ia mulai mencari kitab-kitab

tua, manuskrip terlarang yang membahas

tentang segel iblis dan cara

menghapusnya.

Namun, semua yang ia temui hanya

memperkuat satu hal. Segel itu adalah

panggilan. Ia akhirnya tahu bahwa gereja

itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah

portal.

Siapapun yang masuk dan menyentuh esensi

di dalamnya akan terikat. Dan Marcel

tanpa sadar telah dipilih menjadi wadah.

Pada malam terakhir bulan purnama,

Marcel merasakan tubuhnya tidak lagi

dalam kendalinya.

Ia berjalan tanpa sadar ke tengah hutan.

Di sana puluhan orang berpakaian jubah

hitam telah menunggunya.

Mereka menyambutnya, menyebut namanya,

dan membungkuk hormat.

Sambut sang pendeta baru," kata mereka

serempak. Dan di hadapan mereka, altar

batu itu muncul kembali dari tanah.

Wanita yang dulu di altar kini berdiri

di samping Marcel, tersenyum manis

dengan gigi tajam. Marcel berteriak

dalam hati, tapi tubuhnya kini bukan

miliknya. Ia telah menjadi bagian dari

gereja setan. bukan sebagai korban, tapi

sebagai pemimpin baru. Dan dunia baru

saja kehilangan satu cahaya lagi. Jeri

tangis murni menggema ke seluruh

ruangan. Cahaya lilin mulai padam satu

persatu seperti ditelan kegelapan yang

hidup. Aji tersentak,

nafasnya memburu, tapi tak ada yang bisa

dia lakukan. Tubuhnya seolah terpaku,

beku, hanya bisa menyaksikan murni

menggeliat di lantai berlumur darah.

Wajah Pastor Rafael berubah pucat pasi.

Dia berlutut membaca doa dalam bahasa

Latin yang sulit dimengerti.

Tapi suara dari kegelapan malah semakin

keras seperti menggema dari balik

dinding gereja. Suara tawa, suara

tangis, dan suara geraman tak berwujud.

Ini

ini bukan sekadar pemanggilan, ini

adalah peralihan. Ucap Rafael gemetar.

Aji akhirnya bisa bergerak. Dia meraih

tangan Rafael.

Kita harus pergi dari sini. Sudah

terlambat, bisik Rafael.

Mereka sudah masuk. Gereja ini bukan

tempat suci lagi. Tiba-tiba pintu gereja

terbuka sendiri dengan keras. Angin

malam menerobos masuk membawa bau anyir

yang menyengat. Dari ambang pintu, sosok

tinggi dengan jubah hitam perlahan

berjalan masuk. Wajahnya tertutup topeng

kayu dengan ukiran aneh. Mirip simbol

yang pernah Aji lihat di buku tua di

perpustakaan rahasia.

Selamat datang, putra kepercayaan. Suara

dalam topeng itu menggelegar.

Kau sudah membangunkan kami. Rafael

mundur beberapa langkah menjatuhkan

kitab sucinya.

Tuhan lindungi kami. Namun cahaya lilin

terakhir padam. Gelap. Hanya napas,

tangis, dan suara langkah perlahan yang

terdengar.

Beberapa saat kemudian, Aji tersadar.

Dia sudah berada di luar gereja, berdiri

sendirian di tanah kosong. Tak ada

bangunan,

tak ada Rafael,

tak ada murni.

Gereja itu hilang. Dia menoleh ke

sekeliling.

Hutan sunyi, tapi tubuhnya penuh luka.

Tangannya menggenggam salib besi yang

sebelumnya dipakai Rafael.

Apa yang terjadi barusan?

Dalam kebingungan itu terdengar suara

pelan dari balik pepohonan. Suara anak

kecil menyanyikan lagu gereja versi

terbalik. Aji berlari, tapi suara itu

mengikuti.

Dalam setiap langkah dia sadar bahwa

dirinya tidak lagi berada di dunia yang

sama. Beberapa minggu kemudian, Aji

kembali ke kota. Dia mencoba bercerita

ke media, ke polisi, ke siapapun yang

mau mendengar. Tapi semua

menertawakannya.

Gereja tua yang dia ceritakan tidak

tercatat di arsip manapun. Tidak ada

catatan tentang Pastor Rafael.

Bahkan Murni pacarnya dianggap sudah

meninggal bertahun-tahun lalu dalam

kecelakaan.

Aji kembali ke rumah membuka laptopnya.

Dia mulai menulis semua yang dia alami.

Tapi setiap malam file yang dia tulis

selalu berubah sendiri.

Nama-nama dalam ceritanya terganti.

Lokasi berubah

dan setiap kali dia tidur, dia bermimpi

duduk di barisan depan gereja

menyaksikan ritual dengan dirinya

sendiri sebagai korban. Dan malam itu

untuk pertama kalinya dia terbangun

dengan tubuh menghadap altar. Salib

Rafael kini menggantung di dinding

rumahnya meneteskan darah segar. Tanpa

dia sadari Aji sudah menjadi bagian dari

gereja setan itu. Ritual telah selesai.

Tapi itu baru permulaan.

Karena satu persatu mereka yang pernah

mendengar cerita Aji mulai menghilang.

Tanpa jejak kengerian itu belum

berakhir, justru semakin menggila.

Malam-malam yang sebelumnya hanya

dihantui oleh suara lonceng kini berubah

menjadi parade teror nyata. Penduduk

desa yang dulu tertutup kini mulai

terbuka.

Namun keterbukaan itu tidak datang dari

keinginan untuk membantu, melainkan dari

kepanikan yang tidak lagi bisa mereka

sembunyikan.

Satu persatu rahasia yang selama ini

mereka pendam mulai pecah di permukaan

seperti luka busuk yang tak bisa lagi

ditutup perban.

Arifin yang selama ini hanya dianggap

tokoh pemuda biasa ternyata menyimpan

catatan kuno yang diwariskan oleh

ayahnya sebelum meninggal. Catatan itu

bukan kitab biasa, melainkan jurnal

kutukan.

Di dalamnya tertulis sejarah kelam

gereja itu. Gereja setan itu konon

dulunya adalah tempat ibadah yang sah

hingga seorang pastur bernama Alber

menyelewengkan ajarannya. Ia

menggabungkan doa-doa suci dengan ritual

darah. Puncaknya adalah pengorbanan

terhadap anak-anak yang ia yakini

sebagai titisan malaikat dengan maksud

mengirim mereka langsung ke surga

sebagai persembahan suci. Gila.

Rakyat yang dulu buta dan takut mulai

menyadari kekejaman itu setelah satu

desa kehilangan seluruh anak-anaknya

dalam satu malam. Mereka memberontak

membakar gereja itu hidup-hidup bersama

sang pastur. Tapi arwahnya tidak mati.

Ia justru tertawa dan mengutup desa itu

untuk menjadi tanah tak bertuan di mana

kegelapan akan selalu menuntut darah

sebagai kompensasi.

Saat Fara dan kelompoknya mendengar

kisah itu dari mulut Arifin, mereka

merasa terlambat.

Mereka sudah membuka gerbang itu. Segel

yang melindungi pintu bawah tanah gereja

telah dibuka ketika mereka pertama kali

masuk tanpa sadar. Dan kini Roh Albridge

berkeliaran bukan hanya di gereja, tapi

sudah menebar pengaruh ke penjuru desa.

Arifin kemudian menunjukkan peta ritual

kuno. Ada tanda-tanda sihir di beberapa

titik desa, sumur tua, pohon keramat,

rumah kepala desa yang dulu, dan tentu

saja altar utama di gereja.

Mereka menyusun rencana untuk menyegel

kembali semuanya dengan syarat mereka

harus menumbalkan satu jiwa murni. Jiwa

murni itu harus seseorang yang belum

terikat dosa berat. Seseorang yang rela

mengorbankan dirinya sendiri tanpa

paksaan.

Semua mata kemudian tertuju pada Nisah.

Gadis SMA yang sejak awal terlihat

paling polos, paling takut, tapi paling

kuat bertahan dalam tekanan. Wajahnya

pucat tapi ia tidak menangis. Kalau

memang itu bisa menyelamatkan semuanya.

Aku rela," katanya pelan. Fara menolak,

tapi Nisa sudah bulat.

Ia tahu jika tidak ada yang dikorbankan

maka teror ini akan terus berlanjut.

Maka malam itu dengan bantuan Arifin

mereka menyiapkan upacara penyegelan.

Nisa harus berdiri di tengah altar

sambil membaca ayat-ayat yang telah

dibalikkan.

Ritual itu membuat tanah bergetar, udara

membeku, dan suara-suara aneh berbisik

dari segala arah. Namun di detik-detik

terakhir sesuatu yang tak terduga

terjadi. Imam Desa Pak Lebai Hamdan

muncul dengan mata merah dan tubuh

bergetar.

"Berhenti," teriaknya.

Ia membuka jubahnya dan memperlihatkan

simbol segitiga mata satu di dadanya.

"Akulah pewaris Albre dan jiwa murni itu

adalah milikku."

Kekacauan pun meledak. Nisa jatuh

pingsan. Pak Lebai berubah menjadi sosok

mengerikan, tinggi, kurus, dengan wajah

penuh luka seperti daging terbakar. Ia

menculik Nisa ke dalam altar dan

menghilang dalam kabut hitam. Semua

terdiam, tapi satu suara masih

terdengar. Tawa pelan yang makin lama

makin keras. Persembahan dimulai. Bisik

suara itu.

Dan malam kembali gelap, lebih gelap

dari sebelumnya.

Langit malam semakin pekat dan suara

hujan mulai mereda menyisakan

tetes-tetes air dari atap gereja yang

menggema di tengah keheningan.

Di dalam ruangan bawah tanah, Dimas dan

Clara berdiri di hadapan sebuah pintu

batu yang menghalangi lorong rahasia. Di

balik pintu itu, mereka yakin tersimpan

sesuatu yang bisa menjelaskan seluruh

kengerian yang terjadi. Dimas menemukan

sebuah ukiran aneh di dinding, simbol

yang tak ia kenali.

Namun Clara yang sempat belajar

antropologi budaya di masa kuliahnya

menyadari bahwa simbol itu berasal dari

aliran pemujaan kuno yang memadukan

ajaran luciverianisme dan kepercayaan

lokal. Ia menyebutnya ritus penciptaan

ulang, sebuah ritual yang bertujuan

membangkitkan kekuatan iblis melalui

pengorbanan manusia yang disucikan.

Mereka berdua menyadari bahwa para

korban yang selama ini hilang, termasuk

anak-anak dari panti asuhan dan penduduk

sekitar mungkin digunakan dalam ritual

itu.

Clara menahan napas saat menyadari

ibunya yang hilang 5 tahun lalu mungkin

juga menjadi salah satu korbannya.

Dengan bantuan tuas tua yang mereka

temukan di balik peti kayu, mereka

akhirnya berhasil membuka pintu batu

tersebut. Sebuah lorong kecil menyambut

mereka dengan dinding-dinding batu basah

yang dipenuhi lilin hitam yang masih

menyala.

Bau dupa dan darah mengeluar tajam,

menyengat hingga menusuk ke kepala. Di

ujung lorong, mereka tiba di sebuah

ruangan bulat dengan altar batu di

tengahnya. Di sekeliling altar, ada

beberapa tengkorak manusia yang tertata

rapi seperti disusun sebagai simbol

kekuatan. Di atas altar terdapat sebuah

kitab kuno berjilit kulit manusia dengan

tulisan yang seolah bergerak dan

berdarah. Kitab itu bertuliskan Chodes

Daemonum.

Saat Dimas membuka halaman pertamanya,

matanya terbelalak.

Di sana tertulis nama-nama yang tak

asing, termasuk nama Clara, dirinya,

bahkan pastor Yosef.

Tertulis dalam bahasa Latin kuno,

maknanya adalah mereka semua telah

dipilih.

Sebagai bagian dari nubuatan akhir,

Clara gemetar. Ia teringat akan

mimpi-mimpi buruk yang sering ia alami

sejak kecil. Sosok iblis yang

menawarinya cahaya dalam kegelapan.

Ia dulu mengira itu hanya bunga tidur,

tetapi kini ia sadar mimpinya adalah

bagian dari warisan darah yang mengalir

dalam tubuhnya. Ibunya ternyata

keturunan langsung dari pendiri sekte

Gereja Setan Pertama di kota itu.

Tiba-tiba api dari lilin di sekeliling

altar berkobar tinggi dan terdengar

suara jeritan dari balik dinding.

Dimas Klara menoleh. Salah satu sisi

dinding mulai terbuka sendiri

memperlihatkan sebuah ruangan lain di

mana puluhan orang berkerudung hitam

berdiri dalam diam.

Mereka semua menunduk pada sosok di

tengah pastor Yosef. Tapi kali ini wajah

Yosef sudah tak sama. Matanya merah

menyala dan kulitnya tampak menegang

seperti menahan sesuatu dari dalam

tubuhnya. Dengan suara yang bukan

miliknya, Yosef berbicara dalam bahasa

roh dan ruangan mulai bergetar.

"Kalian telah masuk terlalu jauh,"

katanya dengan suara berat dan berlapis.

Namun kalian juga bagian dari kami.

Daging kalian, darah kalian akan

menyempurnakan perjanjian.

Klara melangkah mundur menahan tangis.

Namun Dimas dalam kepanikan dan

keberaniannya mengambil kitab Codes

Daemonum dan melemparkannya ke dalam

api. Seketika para pengikut sekte

berteriak histeris.

Api menjalar ke seluruh altar dan

dinding-dinding batu mulai runtuh.

Dimas menggenggam tangan Klara,

menariknya keluar melewati lorong batu

yang kini mulai retak. Mereka berlari

sekencang mungkin menuju pintu keluar

bawah tanah, sementara jeritan dan

raungan iblis terdengar menggema dari

balik lorong yang runtuh. Saat akhirnya

mereka berhasil keluar dari ruang bawah

tanah, matahari mulai terbit. Cahaya

pertama pagi menyinari wajah mereka yang

pucak dan penuh debu. Gereja itu

terbakar di belakang mereka, menelan

seluruh rahasia kegelapan yang ada di

dalamnya.

Namun Clara tahu ini belum benar-benar

berakhir.

Dalam mimpinya malam itu, ia melihat

ibunya dengan mata hitam pekat dan

senyuman menyimpang berbisik satu

kalimat yang membuat bulu kuduknya

merinding.

Api mungkin memusnahkan bangunan, tapi

iman pada kegelapan tak pernah

benar-benar mati. Dan di sudut kota yang

lain, seorang anak kecil berdiri

memandangi api dari kejauhan.

Di tangannya tergenggam lembaran robek

dari codes Daemonum yang selamat dari

kobaran.

Petir menggelegar di langit yang semakin

gelap. Seolah alam pun ikut menjerit

atas kebenaran yang sebentar lagi akan

terungkap. Di dalam ruang bawah tanah

gereja, Des dan Pak Tua masih berdiri

mematung. Sosok di depan mereka kini

menampakkan wujud sejatinya. Bukan hanya

bayangan, melainkan sesosok makhluk

dengan wajah manusia yang rusak. Matanya

menyala merah darah dan mulutnya

menyeringai penuh gigi tajam seperti

serigala.

Makhluk itu melangkah mendekat. Tubuhnya

seakan melayang. Sementara udara di

sekelilingnya bergetar. dipenuhi aroma

darah dan belerang.

Des berpegangan erat pada tasbih kecil

di tangannya.

Satu-satunya benda yang ia miliki sejak

kecil yang diberikan oleh ibunya.

Tangannya gemetar bukan hanya karena

takut, tapi juga karena ia merasa iblis

itu mengenalnya.

Desah, kau sudah dipilih sejak lahir.

Darahmu bukan darah biasa. Suara makhluk

itu bergema, berat, dan nyaring seperti

datang dari balik gua neraka. Pak Tua

mencoba melindungi Des berdiri di

hadapannya.

Kau bukan lagi bagian dari dunia ini,

makhluk terkutuk. Pulanglah ke tempatmu.

Namun, makhluk itu hanya tertawa.

Suaranya memekakan telinga. Ia

mengangkat tangan dan dinding-dinding

batu di sekitar mereka mulai retak.

Salib-salib terbalik yang tertanam di

lantai terbakar, api menjilat-jilat

menuju langit-langit.

Des mendad merasakan ada yang berdenyut

dalam dirinya. Sebuah cahaya putih

muncul dari balik leher bajunya. Tasbih

milik ibunya tiba-tiba menyala terang

dan panas. Makhluk itu mundur selangkah

terkejut.

Apa itu? Geramnya. Pak Tua tanpa

terkejut juga. Ia mengenali cahaya itu.

Itu

cahaya warisan dari rahim suci. Kau kau

keturunan salah satu dari para pelindung

lama ucapnya.

Desam

tidak mengerti sepenuhnya.

Namun ketika makhluk itu menyerang, Desa

mengangkat tasbih tersebut dan kilatan

cahaya memancar membakar udara membuat

makhluk itu menjerit kesakitan.

Dinding runtuh, langit-langit roboh.

Namun suara dalam hati Desia

membimbingnya. Ia mengikuti cahaya yang

membentuk jalur menuju pintu rahasia.

Pak Tua menariknya cepat-cepat keluar,

sementara makhluk itu menghilang dalam

kobaran api. Begitu keluar dari ruang

bawah tanah, mereka disambut hujan

deras.

Gereja di belakang mereka runtuh

pelan-pelan.

Tak ada lagi nyanyian iblis, hanya suara

air hujan dan petir yang terus

menggelegar.

Pak Tua terduduk lemas di tanah. Kau

menyelamatkan tempat ini, Nak. Tapi ini

belum akhir. Mereka para pemuja itu

masih ada di luar sana. Des menggenggam

tasbih yang kini tak lagi menyala. Ia

memandang ke langit.

Di balik ketakutannya tumbuh sebuah

tekad baru. Ia tahu bahwa hidupnya tak

akan pernah sama lagi. Dan kini ia

menjadi satu-satunya harapan untuk

memutus rantai kegelapan yang telah

membelenggu kampung itu selama puluhan

tahun. Jauh di tempat lain, dalam

ruangan rahasia sebuah gereja tua

lainnya, sekelompok orang berselubung

hita menyaksikan kehancuran melalui

layar ritual.

Mereka tidak marah, justru tersenyum

puas.

Perang telah dimulai," bisik salah

satunya.

Dan sang penjaga telah bangkit. Perasaan

mencekam tidak berhenti di sana. Saat

malam menjelang dan angin mala menggigit

tubuh seperti bisikan dari dunia lain,

langit mendung menggantung tanpa suara,

menyisakan keheningan yang menekan dada.

Di dalam ruang bawah tanah gereja tua

itu, suara-suara asing mulai terdengar.

Bukan lagi langkah kaki atau gesekan

ranting, tapi nyanyian.

Nyanyian dalam bahasa Latin yang tak

dimengerti bersenandung pelan seperti

mantera.

Indra yang kini mulai mengurai bagian

demi bagian rahasia gereja itu

menyelinap kembali ke dalam. Melewati

pintu belakang dengan penuh

kehati-hatian.

Ia membawa kamera kecil berharap bisa

merekam sesuatu yang nyata. Namun apa

yang ia temukan justru jauh dari yang

dibayangkan.

Di balik altar utama ada pintu batu yang

dulunya tampak seperti tembok biasa.

Tapi saat disentuh terdengar bunyi klik

pelan dan tembok itu membuka perlahan

mengarah pada lorong kecil yang gelap

dan berbau tanah basah. Lorong itu

sempit hanya cukup untuk satu orang

berjalan membungkuk. Dindingnya dipenuhi

ukiran-ukiran simbol aneh. Beberapa

menyerupai salib terbalik. Yang lain

seperti wajah-wajah manusia yang

terdistorsi.

Indra menelan ludah, tapi rasa penasaran

lebih besar daripada rasa takutnya.

Di ujung lorong itu dia menemukan ruang

rahasia.

Ruangan bundar dipenuhi lili merah dan

dinding penuh simbol aneh. Di tengah

ruangan, sebuah patung makhluk bertanduk

berdiri dengan tangan terbuka. Tapi yang

membuat jantung indraris berhenti adalah

sesosok tubuh manusia terbaring di depan

patung itu.

Tubuh perempuan.

Nafasnya masih ada. Hidup. Indra mundur

perlahan, tapi sebuah tangan

mencengkeram bahunya dari belakang.

Tangan itu milik pria tua berjubah merah

yang sebelumnya ia lihat di mimpi. Namun

kali ini nyata dan tatapannya tajam

menusuk ke dalam jiwa. "Kau sudah

terlalu jauh, anak muda," katanya pelan.

"Sekarang kau tahu tidak semua rahasia

pantas diungkap." Indra berusaha

melawan, tapi tubuhnya melemas. Sesuatu

menyusup ke dalam pikirannya seperti

kabut hitam yang menghapus semua logika.

Ia hanya ingat dirinya dibawa masuk ke

dalam lingkaran lilin, lalu semuanya

gelap. Beberapa jam kemudian, Clara dan

Miko datang mencarinya.

Mereka menemukan pintu belakang gereja

terbuka dan jejak kaki di tanah basah.

Saat mereka mengikuti jejak itu, mereka

menemukan kamera Indra tergeletak masih

menyala merekam sesuatu.

Video terakhir yang terekam menunjukkan

wajah Indra yang pucat. Matanya terbuka

lebar dan di belakangnya bayangan besar

dengan dua tanduk muncul perlahan.

Clara menjerit, "Kita harus keluar dari

sini. Sekarang serunya menarik Miko

kembali keluar. Tapi saat mereka

berbalik, pintu belakang itu sudah tak

ada. Yang tersisa hanya dinding batu,

tak ada jalan keluar." Dan dari dalam

terdengar nyanyian latin itu kembali.

Kali ini lebih keras. Suara-suara yang

tak berasal dari dunia ini mulai menyatu

dengan udara.

Gereja setan telah memilih korban

barunya. Jeritan itu menggema kembali.

Kali ini lebih panjang, lebih menusuk,

dan seolah berasal dari lorong waktu

yang menyimpan segala kutukan masa lalu.

Indra yang kini berdiri di tengah

ruangan ritual itu dengan jantung

berdebar tak karuan, tak lagi bisa

membedakan apakah suara itu nyata atau

hanya gema dari ketakutannya sendiri.

Tetapi saat ia memutar tubuhnya, ia

melihat satu hal yang membuat darahnya

seperti membeku di pembuluhnya.

Dari dalam altar batu yang selama ini

terlihat seperti benda mati tak

bernyawa, muncul retakan-retakan kecil.

Cahaya merah darah mulai merembes keluar

dan sesosok tubuh terangkat perlahan

dari balik batu tersebut. Tubuh itu

terbungkus kain kafan berwarna hitam

legam dengan simbol-simbol setan terukir

jelas di sekujur permukaannya.

Kepalanya tertutup tudung tebal. Namun

dari celakainnya, Indra bisa melihat

sorot mata merah menyala menatapnya

tajam.

Tubuh itu seperti melayang, tidak

menyentuh tanah. Setiap gerakannya

diiringi suara lirih yang terdengar

seperti ratapan dan doa terbalik. Angin

mendadak berputar cepat di dalam

ruangan. Seolah ada pusaran gaib yang

tercipta dari kehadiran makhluk

tersebut. Indra mundur satu langkah,

namun tiba-tiba tubuhnya tertahan.

Seolah udara di belakangnya menjadi

padat, menahannya seperti tembok tak

kasat mata.

Ia mencoba membaca ayat-ayat suci, namun

lidahnya keluh seperti ada yang menahan

di tenggorokan.

Setiap kata yang hendak ia ucapkan

kembali tertelan sebelum sempat keluar.

Makhluk berkafan hitam itu mendekat.

Saat jaraknya hanya tinggal 1 met dari

indra, kafan itu terurai perlahan

memperlihatkan wajah yang tak seharusnya

ada di dunia ini. Wajah itu tidak

memiliki kulit, hanya otot yang

bergerak-gerak dan mata melotot penuh

darah.

Namun anehnya wajah itu adalah wajah

ayah Indra. Anak durhaka bisik makhluk

itu dalam suara dua nada yang tumpang

tindih, rendah dan tinggi seperti dua

sosok berbicara dari dimensi berbeda.

Kau menantang warisan yang telah

dijanjikan.

Kau menolak takdirmu.

Indra ingin berteriak, ingin lari, ingin

bangun dari mimpi buruk ini. Tapi kaki

dan tangannya seolah ditanam dalam

tanah. Ia hanya bisa melihat saat

makhluk itu mengangkat tangan kanannya.

tangan yang juga tak memiliki kulit dan

menunjuk langsung ke dadanya. Seketika

itu juga ruangan ritual berubah menjadi

hutan. Indra kini berdiri di tengah

pohon-pohon mati, ranting tajam, dan

kabut tebal yang menyelimuti segalanya.

Suara lolongan serigala menggema dari

kejauhan. Disusul bisikan-bisikan

seperti nyanyian pemujaan yang semakin

dekat. Indra menyadari ia tidak sendiri

di hutan itu. Sosok-sosok berjubah hitam

mulai bermunculan dari balik kabut.

Mereka membentuk lingkaran

mengelilinginya, menyanyikan mantra

dalam bahasa kuno yang bahkan tak pernah

ia dengar sebelumnya. Di tengah-tengah

lingkaran itu, seorang wanita berjubah

merah darah muncul. Ia mengenakan

mahkota bertanduk dan di tangannya

tergenggam kitab tua yang tampak seperti

dijahit dari kulit manusia. Wanita itu

tersenyum melihat Indra, lalu membuka

kitab tersebut dan mulai membaca satu

persatu nama-nama yang entah bagaimana

terasa sangat familiar bagi Indra.

Ibumu,

kakekmu,

pamanmu,

ka

setiap nama yang disebut tubuh Indra

terasa seperti dicambuk energi listrik

yang tak terlihat. Ia mulai melihat

bayangan masa lalu.

Ibunya menangis dalam gelap. Pamannya

yang menghilang secara misterius,

kakeknya yang konon meninggal karena

serangan jantung mendadak. Semua mereka

adalah bagian dari pengorbanan.

Dan kini giliranmu.

Wanita itu mengangkat tangannya ke

langit

dan petir menyambar tepat di belakang

Indra, membelah tanah dan memperlihatkan

lubang mengangai yang menyala merah

seperti lahar. Dua tangan besar keluar

dari dalam lubang tersebut, mencoba

meraih kakinya. Tapi sebelum semuanya

mengakhiri kesadarannya, Indra melihat

satu sosok kecil berlari ke arahnya.

Itu Arum, bocah perempuan yang pernah ia

tolong di desa. Tapi kali ini mata Arum

hitam legam tanpa bola mata. Pak Indra,

jangan biarkan mereka. Mereka akan

menguasai tubuhmu.

Itu pintu ke dalam dirimu sendiri.

Jangan. Jangan buka pintunya.

Indra menatap lubang itu. Dan untuk

sesaat ia menyadari lubang itu bukanlah

ke dasar bumi melainkan ke dalam jiwanya

sendiri.

Dan kini ia harus memilih, menutupnya

dan hidup selamanya dalam ketidaktahuan

atau membukanya dan mengungkap semua

kebenaran meskipun jiwanya menjadi harga

yang harus dibayar. Pintu ruangan bawah

tanah itu kini benar-benar terbuka

lebar. Bau anyir bercampur lembab

menyeruak seperti napas dari lorong

neraka.

Di dalamnya hanya ada tangga batu yang

menurun tajam ke kedalaman tak terlihat.

Indra melirik sebentar ke arah Clarisa

yang tampak gemetar. Namun gadis itu

menganggup pelan sebagai tanda bahwa

mereka harus terus maju. Mereka

menyalakan senter dan mulai melangkah ke

dalam. Setiap langkah mereka di tangga

batu menggemalirih seolah menyusup ke

dinding-dinding tua yang menyimpan

ribuan tahun bisikan dosa. Suara tetesan

air yang ritmis seperti detak jantung

yang menunggu ajal. Saat mereka sampai

di dasar tangga, ruangan besar yang

penuh dengan simbol-simbol aneh

menyambut mereka. Ada altar batu di

tengah ruangan dengan lilin-lilin merah

menyala mengelilinginya.

Di dinding-dinding melingkar tergantung

potret-potret tua. Wajah-wajah pucat

dengan mata kosong yang menatap tajam ke

arah altar seakan sedang mengawasi

siapapun yang masuk. Clarisa menahan

napas. Tubuhnya sedikit bergetar saat

mengenali simbol di tengah altar. Simbol

yang selama ini ia lihat dalam

mimpi-mimpi buruknya.

Ini

ini tempat pemujaan inti mereka. Gumam

Clarisa pelan. Indra berjalan mendekati

altar dan menemukan sebuah buku tua.

Kulitnya terbuat dari semacam bahan yang

terasa aneh saat disentuh seperti kulit

manusia. Ia membukanya perlahan dan

mendapati halaman-halaman penuh dengan

tulisan tangan dalam bahasa Latin kuno

diselingi gambar-gambar ritual yang

mengerikan. Clarisa memeriksa sisi lain

ruangan dan menemukan lubang persegi

kecil di lantai dengan jeruji besi. Saat

ia menyorotkan cahaya senter ke

dalamnya, suara rintihan pelan terdengar

dari dalam.

Mereka segera membuka jeruji dan

menemukan seorang wanita tua kurus yang

lemah dan ketakutan.

Wajahnya penuh luka, matanya cekung.

Tapi begitu melihat Clarisa, ia

memekrih. Kau kau anaknya Marni. Clarisa

membeku.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Wanita tua itu adalah suster Helena,

mantan Biarawati yang dilaporkan hilang

bertahun-tahun lalu. Salah satu saksi

penting yang menghilang saat mulai

menyelidiki gereja setan.

Dan petir menyambar tepat di belakang

Indra, membelah tanah dan memperlihatkan

lubang mengangai yang menyala merah

seperti lahar. Dua tangan besar keluar

dari dalam lubang tersebut, mencoba

meraih kakinya. Tapi sebelum semuanya

mengakhiri kesadarannya, Indra melihat

satu sosok kecil berlari ke arahnya.

Itu Arum, bocah perempuan yang pernah ia

tolong di desa. Tapi kali ini mata Arum

hitam legam tanpa bola mata. Pak Indra,

jangan biarkan mereka. Mereka akan

menguasai tubuhmu.

Itu pintu ke dalam dirimu sendiri.

Jangan. Jangan buka pintunya.

Indra menatap lubang itu dan untuk

sesaat ia menyadari lubang itu bukanlah

ke dasar bumi, melainkan ke dalam

jiwanya sendiri. Dan kini ia harus

memilih menutupnya dan hidup selamanya

dalam ketidaktahuan atau membukanya dan

mengungkap semua kebenaran meskipun

jiwanya menjadi harga yang harus

dibayar. Pintu ruangan bawah tanah itu

kini benar-benar terbuka lebar. Bau

anyir bercampur lembab menyeruak seperti

napas dari lorong neraka.

Di dalamnya hanya ada tangga batu yang

menurun tajam ke kedalaman tak terlihat.

Indra melirik sebentar ke arah Clarisa

yang tampak gemetar. Namun gadis itu

menganggup pelan sebagai tanda bahwa

mereka harus terus maju. Mereka

menyalakan senter dan mulai melangkah ke

dalam. Setiap langkah mereka di tangga

batu menggemaliri. seolah menyusup ke

dinding-dinding tua yang menyimpan

ribuan tahun bisikan dosa. Suara tetesan

air yang ritmis seperti detak jantung

yang menunggu ajal. Saat mereka sampai

di dasar tangga, ruangan besar yang

penuh dengan simbol-simbol aneh

menyambut mereka. Ada altar batu di

tengah ruangan dengan lilin-lilin merah

menyala mengelilinginya.

Di dinding-dinding melingkar tergantung

potret-potret tua. Wajah-wajah pucat

dengan mata kosong yang menatap tajam ke

arah altar seakan sedang mengawasi

siapapun yang masuk. Clarisa menahan

napas. Tubuhnya sedikit bergetar saat

mengenali simbol di tengah altar. Simbol

yang selama ini ia lihat dalam

mimpi-mimpi buruknya.

"Ini!

Ini tempat pemujaan inti mereka." gumam

Clarisa pelan. Indra berjalan mendekati

altar dan menemukan sebuah buku tua.

Kulitnya terbuat dari semacam bahan yang

terasa aneh saat disentuh seperti kulit

manusia.

Ia membukanya perlahan dan mendapati

halaman-halaman penuh dengan tulisan

tangan dalam bahasa Latin kuno diselingi

gambar-gambar ritual yang mengerikan.

Clarisa memeriksa sisi lain ruangan dan

menemukan lubang persegi kecil di lantai

dengan jeruji besi. Saat ia menyorotkan

cahaya senter ke dalamnya, suara

rintihan pelan terdengar dari dalam.

Mereka segera membuka jeruji dan

menemukan seorang wanita tua kurus yang

lemah dan ketakutan.

Wajahnya penuh luka, matanya cekung.

Tapi begitu melihat Clarisa, ia

lirih. Kau kau anaknya Marni. Clarisa

membeku.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Wanita tua itu adalah suster Helena,

mantan diarawati yang dilaporkan hilang

bertahun-tahun lalu. Salah satu saksi

penting yang menghilang saat mulai

menyelidiki gereja setan.

Banyak dari kami yang dibungkam, mereka

bawa kami ke sini satu persatu untuk

dijadikan persembahan. Bisik suster

Helena Lemah.

Gereja ini dibangun di atas kuburan

perjanjian tempat para leluhur mereka

menyegel iblis demi kekuatan duniawi.

Indra dan Clarisa saling berpandangan.

Semua mulai masuk akal. Rahasia ini

terlalu dalam, terlalu kelam. Namun,

belum sempat mereka berpikir lebih jauh,

suara langkah kaki terdengar dari atas.

Suara berat dan teratur. Mereka saling

menatap panik, tahu bahwa waktu mereka

habis.

Indra menutup kembali Jeruji dan

menyembunyikan buku tua ke dalam tas

ranselnya.

Mereka membantu suster Helena berdiri

dan bersiap untuk melarikan diri melalui

terowongan lain di balik ruangan. Namun

yang datang bukan hanya satu atau dua

orang. Langkah kaki itu diiringi dengan

nyanyian nyaring dalam bahasa Latin

kuno. Dari bayangan lorong muncul

sekelompok anggota sekte dengan jubah

merah menyala. Wajah mereka tertutup

topeng kayu.

Di antara mereka tanpa sosok yang

membuat Clarisa mundur setengah langkah.

Ayahnya sendiri, Pastor Markus yang

selama ini ia kira tewas dalam

kebakaran.

Ayah suaranya bergetar.

Pastor Markus menanggalkan tudung

jubahnya.

Wajahnya penuh bekas luka bakar, namun

matanya menyala dengan fanatisme gila.

Anakku, akhirnya kau datang juga.

Darahmu akan menyempurnakan ritus

terakhir.

Indra menarik Larisa mundur. Ia tahu

tidak ada lagi waktu untuk bertanya.

Mereka harus lari. Tapi para anggota

sekte mulai mengepung mereka perlahan.

Lilin-lilin di altar mulai menyala lebih

terang dan suara gemuruh dari tanah

mulai terdengar tanda bahwa sesuatu

sedang dipanggil.

Lewat sini. Suster Helena menunjuk

sebuah celah kecil di balik patung batu

di dinding. Tanpa pikir panjang, mereka

bertiga melesat ke celah tersebut. Di

balik patung, lorong sempit mengarah ke

saluran air tua yang gelap dan berlumut.

Mereka menyusuri lorong itu sambil

berlari. Sesekali tergelincir dan nyaris

jatuh.

Di belakang. Suara langkah para pengikut

sekte semakin mendekat. Bercampur

teriakan pujian kepada kekuatan

kegelapan. Lorong itu akhirnya terbuka

ke sebuah gua kecil di bawah tanah dan

dari sana mereka bisa melihat cahaya

dari luar. Namun saat mereka akan

keluar, tanah di bawah tiba-tiba runtuh.

Menyeretnya jatuh ke ruang di bawah gua.

Indra berteriak panik dan langsung

terjun mengejarnya. disusul suster

Helena. Mereka mendapati Clarisa

tergeletak di sebuah ruangan kecil di

tengah-tengah lingkaran simbol tua. Di

dinding tertulis dengan darah. Darah

yang suci, darah yang mengikat. Penerus

harus memilih terang atau kekal dalam

kegelapan.

Clarisa bangkit perlahan.

Tiba-tiba dari balik bayangan ruangan

muncul sesosok wanita berpakaian putih

lusuh. Ibunya Marni yang seharusnya

telah meninggal.

Clarisa, waktumu telah tiba. Dari

manapun arah angin bertiup malam itu,

semuanya tetap mengarah ke satu tempat.

Kapal tua yang terkunci rapat selama

puluhan tahun.

Indra menatap bangunan tersebut dari

balik semak-semak. Napasnya tertahan,

tubuhnya bergetar bukan karena dingin,

melainkan oleh firasat buruk yang

mencengkeram jantungnya seperti cakar.

Di balik reruntuhan altar, suara-suara

samar terdengar seperti nyanyian latin

kuno mengaluh lembut tapi menyimpan aura

mengancam.

Ia menunduk, mengambil sebongkah batu

kecil sebagai pertahanan seadanya, lalu

melangkah perlahan menyusuri sisi

bangunan, mencari celah masuk. Di dalam

cahaya lilin redup menari-nari di

dinding bata tua yang dipenuhi simbol

okultisme dan darah kering. Satu persatu

wajah-wajah berkerudung hitam muncul

dari kegelapan melantunkan mantra yang

menggemas seperti dentang lonceng

kematian. Di tengah-tengah ruangan itu,

sebuah patung iblis bersayap setengah

hancur berdiri tegak dikelilingi oleh

tubuh-tubuh kaku dalam posisi sujud.

Tiba-tiba seolah diseret oleh kekuatan

tak terlihat, Indra terdorong masuk ke

dalam lingkaran mereka.

Pintu kapel tertutup sendiri dengan

suara menggelegar dan kesunyian yang

menyeramkan menyelimuti ruangan.

Seseorang membuka kerudungnya. Tirta.

Mata Tirta kosong penuh dengan kehampaan

yang seakan menembus jiwa. Kau akhirnya

datang juga katanya datar.

Waktunya telah tiba. Indra mundur

selangkah, namun lantai di bawahnya

seperti melekatkan kakinya ke tanah.

Tirta mendekat memperlihatkan sebuah

buku besar yang terbuat dari kulit

manusia dengan ukiran simbol kuno

berwarna darah. Namamu telah tertulis

sejak kau lahir, bisik Tirta. Kau adalah

persembahan terakhir.

Cahaya lilin tiba-tiba padam dan gelap

total menguasai ruangan.

Tapi mata Indra justru mulai bisa

melihat segalanya dengan cara yang

berbeda. Ia melihat kilasan masa lalu,

anak-anak dibakar hidup-hidup di ruang

bawah tanah gereja, biarawan yang

mengiris tubuhnya sendiri, dan pendeta

kepala yang menyerahkan jiwanya demi

keabadian.

Semua pengorbanan itu berujung pada satu

tujuan.

Membangkitkan entitas kuno yang selama

ini disegel di bawah tanah gereja. Dia

sudah bangkit. Suara itu bukan dari

Tirta, tapi dari dalam kepala Indra

sendiri.

Tiba-tiba lantai kapal retak dan dari

celahnya muncul semburan asap pekat

disertai bau belerang menyengat. Patung

iblis itu bergerak. Sayapnya terbuka

perlahan dan mata batu itu menyala merah

menyala. Tubuh-tubuh yang tadinya kaku

mulai berdiri bergerak seperti boneka

tali tanpa jiwa. Indra berusaha

berteriak, namun suaranya lenyap di

udara. Di saat itu, seseorang menariknya

ke belakang. Pak Widodo,

ikut saya.

Cepat," katanya.

Dengan sisa tenaga mereka berdua

menyusuri lorong sempit di balik altar,

menuruni anak tangga batu yang menuju ke

ruang bawah tanah rahasia. "Kita harus

menghancurkan naskah itu," kata Pak

Widodo sambil menunjuk ke arah peti tua

tempat buku ritual disimpan.

Selama itu masih utuh, entitas itu akan

terus menguat. Tapi ketika mereka

membuka peti tersebut, isinya kosong.

Buku itu telah menghilang.

Dari kejauhan, Tawa menyeramkan bergema

di dalam lorong. Tawa itu bukan suara

manusia.

Dan Indra sadar semua ini belum

berakhir, justru baru dimulai.

Suara dentingan logam terdengar samar

dari dalam tanah. Indra menempelkan

telinganya ke permukaan batu di ruang

bawah tanah gereja tua itu.

Getaran-getaran kecil terasa seperti

bisikan dari dunia lain. Ia dan Pak Arif

berdiri membatu. Napas mereka menahan

kecemasan.

Kita harus gali bagian ini," kata Indra

dengan suara lirih. Dengan alat

seadanya, mereka menggali perlahan. Tak

butuh waktu lama, mereka menemukan

semacam tutup besi berkarat yang

menutupi lorong kecil ke bawah tanah.

Lorong itu terlihat sempit, gelap, dan

berbau lembab menyengat. Bau tanah yang

bercampur dengan aroma busuk tak dikenal

membuat keduanya refleks menutup hidung.

Pak Arif menyalakan lampu senter dan

menyorot ke dalam lorong.

Di ujung lorong tanpa ukiran salib

terbalik dan simbol-simbol kuno yang

mereka temukan juga di Alkitab setan.

Dengan langkah perlahan dan hati-hati

mereka masuk ke dalam lorong tersebut.

Semakin dalam mereka menyusuri lorong,

udara makin dingin. Lorong itu membawa

mereka ke sebuah ruangan bundar.

Dindingnya dipenuhi lukisan mengerikan

tentang ritual pemanggilan makhluk hitam

bersayap besar. Di tengah ruangan itu

terdapat altar berbentuk tengkorak besar

dan di atasnya ada sosok yang duduk

bersila.

Sosok itu bukan patung, itu adalah

manusia.

Matanya terbuka, penuh darah, namun ia

tidak bergerak. Pak Arif terhuyung ke

belakang.

Itu, itu Daniel.

Indra mendekat. Sosok itu mengenakan

jubah ritual dan memegang belatih hitam.

Di sekeliling altar terdapat lingkaran

darah kering yang membentuk simbol aneh.

Daniel membuka mulutnya perlahan.

Suaranya parau seperti suara yang keluar

dari rongga dada bukan dari tenggorokan.

Kalian terlambat?

Aku sudah menjadi wadah. Tiba-tiba

tubuhnya kejang dan dari belakang altar

muncul makhluk hitam pekat setinggi 2 m

bersayap dan bermata merah membara.

Indra dan Pak Arif mundur perlahan.

Pak Arif mengangkat salib di tangannya.

Namun makhluk itu hanya tertawa.

Suaranya menggetarkan dinding. Tuhan

kalian tak bisa masuk ke sini. Ini

rumahku sekarang.

Makhluk itu mengangkat tangannya.

Tanah bergetar hebat. Dari

dinding-dinding muncul tangan-tangan

manusia yang mencoba mencengkeram

mereka. Pak Arif menjatuhkan Alkitab

Setan dan seketika api biru menyambar

dari buku itu. Indra melihat sekeliling.

Di atas altar terdapat tulisan Latin

Hostia Infinitum. Korban tak

berkesudahan.

Dia ingin lebih dari satu tubuh, bisik

Indra. Pak Arif berteriak, "Hancurkan

altar itu." Dengan sekuat tenaga, Indra

mengangkat besi tajam dari dinding dan

menghantam altar. Makhluk itu meraung

keras dan tubuh Daniel terangkat ke

udara sebelum hancur menjadi abu hitam.

Ritual terganggu.

Makhluk itu menghilang bersama pusaran

api. Ruangan runtuh.

Indra dan Pak Arif berhasil keluar dari

lorong sebelum semuanya runtuh.

Mereka terengah, berlumuran darah dan

lumpur, namun selamat.

Namun malam itu langit di atas desa

tetap memerah

dan dari kejauhan terdengar suara

lonceng berdentang bukan dari gereja

yang telah hancur, melainkan dari arah

barat. Tempat gereja tua lainnya telah

lama terkunci dan dilupakan.

Jeritan mengerikan menggema dari ruang

bawah tanah.

Indra dengan tangan berlumur darah dan

dada berdebar tak terkendali perlahan

menuruni tangga batu yang basah dan

licin. Di belakangnya Bayu menyusul

membawa lentera minyak yang berkedip

lemah seperti nyawa yang sekarat. Mereka

telah melewati batas logika. Tak ada

lagi yang rasional di tempat ini.

Dinding dipenuhi ukiran simbol kuno.

Sebagian besar dalam bahasa Latin dan

sisanya seperti aksara Jawa kuno yang

menyimpang.

Aura mencekam membungkus mereka. Di

ujung lorong, mereka menemukan ruang

persembunyian yang tertutup batu besar.

Entah bagaimana, seperti ada kekuatan

Takasat mata yang menarik batu itu

mundur saat mereka mendekat. Di dalamnya

mereka melihat altar batu besar dan

sosok manusia terikat di atasnya, Tasya.

Tubuhnya pucat, matanya tertutup, dan

darah segar menetes dari bekas luka di

lengan kirinya.

Sekeliling altar, sekelompok orang

berjubah merah marum berdiri membentuk

lingkaran. Mereka bergumam dalam bahasa

asing. Nyanyian iblis yang membuat

telinga berdengung dan kepala terasa mau

pecah. "Kita terlambat,"

bisik Bayu. Namun, Indra maju. Dia

berteriak, suara penuh kemarahan dan

ketakutan. Lepaskan dia. Seketika para

penyembah berhenti, menoleh dengan wajah

kosong, namun mata menyala merah. Salah

satu dari mereka melangkah maju.

Wajahnya adalah wajah ayah Indra. Tapi

tak mungkin ayahnya sudah mati. Kau

telah datang pada waktunya, anakku.

Indra terguncang.

Bukan kau, bukan dia. Kau bukan ayahku.

Aku adalah dia yang telah mewariskan

darah dan kini kau harus melanjutkan

takdir itu. Katanya mendekat sambil

membuka jubahnya. Di balik jubah itu

tubuhnya bukan tubuh manusia biasa.

Kulitnya bersisik, matanya penuh larva,

dan bau busuk menyengat hidung.

Bayu hendak menarik indra, tapi altar

mulai bergetar. Dari balik altar muncul

portal pusaran gelap seperti sumur tak

berdasar. Tasya terbangun dan berteriak.

Tubuhnya ditarik perlahan ke pusaran

itu. Indra melompat ke altar, berusaha

menarik Tasya sambil melawan kekuatan

hisap.

Aku tidak akan kehilanganmu lagi. Para

penyembah mulai mendekat, menyanyikan

mantra semakin keras. Bayu menarik pisau

kecil dari balik jaketnya lalu menerjang

ke arah pemimpin ritual. Makhluk

menyerupai ayah Indra itu. Mereka

bergulat dan pisau tertancap di mata

sang pemimpin.

Makhluk itu menjerit, tubuhnya meledak

menjadi asap hitam. Lingkaran ritual

runtuh. Pusaran berhenti.

Indra berhasil menarik Tasya keluar.

Tapi bangunan itu mulai runtuh. Tanah

berguncang hebat. Indra, Bayu, dan Tasya

lari keluar dari ruang bawah tanah, naik

ke permukaan. Dan hanya beberapa detik

setelah mereka keluar, tanah di belakang

mereka amblas menelan seluruh bangunan

gereja. Di luar malam telah menjelang.

Langit bersih,

angin tenang, tak ada suara, hanya

keheningan setelah badai.

Tasya menangis dalam pelukan indra.

Bayu berdiri diam menata peruntuhan.

"Apa semuanya sudah berakhir?" tanya

Tasya. Indra menganggup pelan. Tapi jauh

di dalam dirinya, dia tahu sesuatu belum

benar-benar selesai. Karena di balik

kegelapan masih ada suara, masih ada

bisikan dan darah masih tertinggal di

tanah suci yang telah ternoda. Salah

satu suara gemuru keras dari dalam tanah

membuat lantai gereja bergetar hebat.

Dinding yang rapuh mulai runtuh sedikit

demi sedikit dan dari balik retakan

altar utama muncul asap hitam pekat yang

menggulung seperti naga yang baru saja

dibangunkan dari tidur panjang. Indra

yang kini berdiri sendirian di tengah

altar menatap ke dalam pusaran asap itu.

Dalam bayangannya suara tangisan dan

jeritan mengelilingi kepalanya.

Satu demi satu wajah korban yang telah

dijadikan tumbal muncul di hadapannya.

Ia melihat Clara, melati, bahkan

wajah-wajah dari masa lalu yang sudah

lama ia lupakan.

Semuanya memohon agar penderitaan mereka

dihentikan.

Sementara itu, Teo dan Mbah Reso yang

berada di ruang rahasia di bawah gereja

berusaha mencari sumber kekuatan utama

dari kutukan ini. Di ruangan bawah tanah

yang dipenuhi tulang belulang dan

kitab-kitab tua berbahasa Latin, mereka

menemukan sebuah peti batu yang dipenuhi

dengan darah yang belum mengering. Di

atas peti itu terdapat simbol segel

setan berlapis tujuh lingkaran.

Ini dia sumber kekuatan mereka. Darah

dari tujuh pengorbanan suci, ucap Mbah

Resolirih.

Selama peti ini tidak dihancurkan,

kekuatan mereka tidak akan mati. Teo

merogoran selnya dan mengeluarkan botol

air yang telah didoakan selama

perjalanan.

Tanpa pikir panjang, ia menyiramkan air

tersebut ke atas peti. Seketika darah

dalam peti itu mendesis dan mengepul

seperti cairan logam yang terkena es.

Namun sesuatu yang mengerikan justru

terjadi.

Dari balik peti itu muncul tangan-tangan

kurus yang membara.

Mereka bukan sekadar roh, melainkan

wujud nyata dari ketujuh pengorbanan

yang kini telah dijadikan pelayan iblis.

Makhluk-makhluk itu mengerang, merangka

keluar dari pusaran darah dan mulai

menyerang Theo dan Mbah Reso. "Jangan

takut, ini hanya ujian terakhir," teriak

Mbah Reso sambil menancapkan keris ke

dalam tanah. Cahaya dari ujung keris itu

menyebar. membentuk lingkaran pelindung

yang memblokir makhluk-makhluk itu. Di

atas, Indra terduduk lemas. Suara tawa

pemimpin sekte terdengar menggema dari

dalam pusaran asap. "Kau pikir kau bisa

menghapus dosa dengan pengorbanan diri,

Indra? Kau bagian dari kami. Kau adalah

pewaris darah yang terikat oleh sumpah

leluhur."

Tiba-tiba tubuh Indra melayang di udara.

Simbol darah muncul di dahinya.

Ia menggigil, mencoba melawan pengaruh

kekuatan itu, namun tubuhnya seolah tak

lagi miliknya. Klara yang masih dalam

keadaan setengah sadar melihatnya dan

menangis berteriak histeris.

Tapi suara Klara justru menembus lapisan

kegelapan dalam diri Indra. Ia teringat

kenangan kecil saat ibunya memeluknya

dalam doa saat ayahnya mengajari doa-doa

penolak bala.

Dengan kekuatan terakhir, Indra

berteriak, "Aku bukan milik kalian.

Aku milik Tuhan Yang Maha Esa. Seketika

tubuhnya memancar cahaya putih. Simbol

darah di dahinya meleleh dan pusaran

asap menghilang seperti kabut pagi yang

tertiup angin. Gereja itu runtuh

perlahan. Batu-batu mulai mengelupas

dari langit-langit dan menimpa

patung-patung setan yang ada di dalam.

Di ruang bawah tanah, makhluk-makhluk

tadi berubah menjadi debu. Peti darah

pecah menjadi serpihan dan terbakar.

Teo dan Mbah Reso terdorong keluar oleh

angin spiritual yang meluap dari bawah

tanah. Ketika semua selesai, hanya ada

reruntuhan.

Klara berlari memeluk Indra yang

tergeletak tak sadarkan diri di altar.

Langit yang semula hitam kelam mulai

menampakkan cahaya mentari pagi yang

hangat. Namun, dari jauh di sebuah desa

terpencil, seorang bocah kecil tiba-tiba

terbangun dari tidurnya. Ia menatap

lurus ke arah utara ke tempat gereja itu

berada dengan suara kecil. Namun penuh

keanehan, ia berkata,

"Pemimpin berikutnya telah lahir. Indra

terbangun di sebuah ruangan putih yang

asing. Cahaya terang menyilaukan

membuatnya harus memicingkan mata. Tidak

ada suara, tidak ada aroma, hanya

kesunyian yang mencekam. Di

sekelilingnya hanya dinding putih tak

berujung. Ia mencoba melangkah, tapi

kakinya terasa berat seperti tertanam di

lantai. Lalu muncul sosok wanita

berpakaian putih. Wajahnya bersinar

tenang. "Kau telah menyentuh batas

dunia," katanya lembut. Ini bukan lagi

tempat manusia biasa.

Indra mencoba bicara, tapi tidak ada

suara keluar dari mulutnya. Jiwamu telah

terluka terlalu dalam. Lanjut sosok itu.

Kau harus memilih, tetap di sini, atau

kembali dengan luka yang tak akan pernah

sembuh. Tiba-tiba bayangan-bayangan masa

lalu berkelebatan di sekelilingnya.

Momen-momen di gereja, kematian Frans,

tangisan Rani, dan wajah sang ibu yang

menangis diam-diam di malam hari. Semua

itu menyayat kesadarannya.

Indra berteriak dalam hati. Ia tidak

ingin semuanya berakhir di sini.

Lalu seperti tersedot ke dalam pusaran

cahaya, ia terbangun kembali di ruang

bawah tanah gereja. Tubuhnya terkapar di

atas lantai dingin. Rani memeluknya

sambil menangis. Kau kembali, kau

kembali.

Bisik Rani dengan suara para. Di

sekeliling mereka, para jemaat gereja

setan sudah tiada. Tubuh-tubuh mereka

hangus terbakar oleh api hitam yang

keluar dari simbol ritual yang gagal.

Suara-suara iblis yang tadinya menggemak

kini telah lenyap. Indra bangkit dengan

tertatih. Ia menatap altar hitam itu

yang kini telah retak dan meledak dari

dalam. Tak ada lagi kekuatan jahat yang

tersisa. Rani memegang tangannya. Kita

harus pergi. Sebelum tempat ini runtuh,

mereka berlari menembus lorong-lorong

gelap yang dipenuhi reruntuhan.

Asap dan api membakar sisa-sisa bangunan

tua yang dahulu menjadi pusat segala

ibadah terlarang. Saat mencapai pintu

keluar, mereka berdua nyaris tertimpa

puing. Tapi tepat sebelum semuanya

ambruk, sinar matahari pagi menyentuh

wajah mereka. Mereka berhasil keluar.

Dari kejauhan, gereja itu runtuh total

dan terbakar hebat.

Api membubung tinggi. Tidak ada yang

bisa menyelamatkannya lagi. Itu adalah

akhir dari sebuah era kelam yang sudah

berjalan ratusan tahun. Indra dan Rani

terduduk di rerumputan.

Nafas mereka terengah. Tubuh kotor oleh

debu dan luka. Tapi ada kedamaian di

mata mereka. Ini sudah berakhir tanya

Rani Lirih. Indra menatap langit yang

perlahan biru. Belum.

Tapi setidaknya kita menghentikannya

hari ini. Lalu suara ambulans dan

polisi mulai terdengar dari kejauhan.

Penduduk sekitar yang melihat ledakan

besar itu telah melapor. Rani memeluk

Indra lebih erat. Di balik trauma dan

luka yang mereka alami, ada secerca

harapan bahwa hidup mereka bisa dimulai

kembali jauh dari bayang-bayang hitam

gereja setan.

Tapi di sudut lain kota, di sebuah ruang

rahasia yang tersembunyi di bawah museum

tua, seseorang sedang membuka kitab yang

sama. Mata merahnya menyala dalam

kegelapan.

Gereja setan mungkin telah tumbang,

tapi warisannya belum benar-benar

lenyap.

Tamat. Dari perjalanan panjang yang

penuh teror, misteri, dan perjuangan

jiwa yang telah kita saksikan bersama,

ada satu hal yang dapat kita tarik

sebagai hikmah kehidupan. Kadang

kejahatan terbesar bukan datang dari

luar, melainkan tumbuh dari dalam hati

manusia yang gelap oleh ambisi, dendam,

dan keserakahan.

Ketika manusia mulai bermain-main dengan

kekuatan gaib demi kuasa dan keabadian,

maka bukan hanya hidupnya yang hancur,

tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Cerita ini mengingatkan kita untuk tidak

pernah meremehkan kekuatan spiritual.

Entah itu yang datang dari langit maupun

dari kegelapan.

Kepercayaan yang salah bisa

menjerumuskan dan rahasia yang

disembunyikan terlalu lama bisa meledak

menjadi bencana. Yang bisa menyelamatkan

hanyalah kejujuran hati, keberanian

menghadapi masa lalu, dan ketulusan

dalam meminta pengampunan.

Untuk kamu yang penasaran dengan versi

lengkap dan cinematik dari kisah ini,

jangan lupa untuk menonton langsung

filmnya hanya di bioskop atau platform

resmi yang legal. Dukung terus karya

anak bangsa dan industri perfilman kita

dengan cara yang benar dan bertanggung

jawab.

Dan kalau kamu suka dengan narasi

panjang penuh misteri seperti ini, klik

like, tinggalkan komentar menarikmu, dan

jangan lupa subscribe channel ini agar

kamu tidak ketinggalan cerita-cerita

horor berikutnya yang pastinya lebih

menyeramkan dan menggugah hati. Sampai

jumpa di cerita selanjutnya dan ingat,

kadang yang tak terlihat bukan berarti

tak ada.

Semoga kisah ini membawa kebaikan dan

pelajaran bagi kita semua. Jangan lupa

untuk terus mendukung dunia wisata

dengan subscribe dan bagikan video ini,

terutama ke mereka yang kamu sayangi.

Karena kadang satu cerita bisa jadi obat

bagi hati yang terluka.

[Musik]

[Tepuk tangan]

[Musik]

[Tepuk tangan]

[Musik]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.