Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Siapa yang mau dibacakan dongeng?
Don! Don mau!
Don mau?
Sini.
Ayah, dongengnya apa malam ini?
Malam ini, dongengnya spesial.
Wah.
Don mau dengar! Ayo mulai!
Ya, ya. Kita mulai, ya.
Ya. Sabar.
"Pada suatu masa,
hidup seorang kesatria kecil bersama kedua orang tuanya.
Mereka tinggal di sebuah pulau yang sangat besar."
Wah, besar, ya?
Ya.
Pulaunya ada di atas awan,
dilindungi sebuah gelembung raksasa.
Wah, ada gelembungnya.
Di pulau itu, banyak sekali makhluk gelembung yang lucu-lucu.
Kesatrianya temanan, ya, sama gelembung-gelembungnya?
Ya, Nak.
Setiap hari, si kesatria kecil bersuka ria
dan bermain bersama orang tuanya.
Setiap hari?
Ya. Seru, 'kan?
Seru banget.
Tapi, suatu hari,
terlihat awan-awan hitam di kejauhan.
Apa? Kenapa awannya?
Awan itu menyambarkan kilat-kilat.
Takut!
Terus?
"Ibu dan Ayah harus pergi, Sayang.
Kami harus menenangkan sang kilat di atas awan-awan."
"Tapi, jangan takut. Kau tidak sendirian.
Ada teman-teman yang menjagamu."
"Ya."
Sang Ibu bahkan meminta bantuan dari ombak
untuk terus melindungi kesatria kecil itu.
"Ombak,
temani anak kami, ya."
Tapi, Don tidak takut, 'kan, sama petir?
Don?
Cepat banget tidurnya.
Ya.
Pelan-pelan.
Ya, Bu.
Ya, Bu.
Sudah ceritanya?
Belum, Sayang.
Ayah dan ibunya pulang lagi, 'kan?
Ayah dan Ibu kesatria itu percaya
kesatria kecil bisa melewati hari-hari di Pulau Gelembung.
Karena dia anak hebat.
Ibu sayang Don.
Don sayang Ibu.
Hei! Tangkap bolanya!
Dan!
Tidak ada yang tahu
kapan Ayah dan Ibu kesatria itu akan pulang.
Don, sudah! Kau ceritanya ini terus.
Kesatria lagi, itu lagi.
- Bosan! - Hei, tunggu!
Ayo, lari!
Kita lagi main kasti!
Kita dari tadi kalah, tahu!
- Dongeng terus! - Hei, tunggu!
Ini bagian paling serunya!
Aduh!
Kangkung?
Mbek!
Sedang apa?
Masa sama embek saja kaget?
Nurman...
Kau dari tadi aku cari di markas,
tahunya di sini.
Ayo.
Ayo, Embek! Dorong!
Jadi cadangan lagi, ya?
Aduh!
- Wah, jatuh! - Aduh...
Kau tidak apa-apa?
Cadangan!
Siapa yang ganti!
Eh! Halo!
Aku saja!
Aduh, jangan kau, Jumbo!
Nurman!
Jaga, ya.
- Ingat! Jangan sampai jatuh. - Jangan sampai jatuh.
- Jangan sobek. - Jangan sampai sobek.
- Jangan sampai rusak. Ya? - Jangan sampai rusak.
Ya. Sudah tahu.
- Terima kasih, Nurman. - Ya sudah. Sana.
Hei! Aku main, ya!
Aduh. Kenapa si Jumbo?
Mana yang memukul...
...si Atta.
Kalian ajak Jumbo?
Tidak takut kalah?
Lempar, sini.
- Hore! - Kita menang!
- Tangkap bolanya! - Aduh, bolanya jauh banget.
Biar aku yang kejar!
Aip aja!
Tidak apa-apa! Aku saja!
Permisi, Meng.
Hei! Tunggu!
Ayo, Semua!
Jangan lupa kita ramaikan Festival Kampung Seruni.
Nah, bagus ini!
Pak Kades pasti suka.
Warnanya itu kayak merah, tapi kuning,
tapi kayak merah, tapi kuning.
Oren.
Oh! Oren! Benar, warnanya oren.
Eh! Aduh, itu masih basah catnya!
- Bagaimana ini? - Maaf! Maaf ya, Kak!
Masa ada tapak kakinya gitu? Jelek, tahu!
Bagus juga tapi.
- Lebih berseni. - Masa?
Kemarin jalan ke kuburan orang tuaku, kau tutup buat proyek jalan layang ini.
Sekarang kau mau gusur tokoku?
Lama-lama bukan jalanan saja yang melayang.
Kau juga aku bikin melayang!
- Mau kau? - Ya, benar!
Aku hanya menyampaikan niat baik atasanku
untuk menawarkan pemindahan lokasi.
Sini, mana bosnya?
- Suruh bicara langsung sama kami! - Kita beri pelajaran!
- Suruh sini! - Hei.
Ini ada apa, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?
Ayolah. Sedikit lagi.
Ayo!
Yah... Bang! Bolanya, Bang!
- Bang! - Mohon maaf, Pak Kades.
- Maksudku... - Begini, Pak.
- Aku potong, ya. - Ya, Pak.
- Toko ini milik warga. - Ya.
Dan sudah turun-temurun ada di sini.
Kalau digusur, warga-warga di sini mau cari nafkah dari mana?
Benar. Benar, Pak Kades.
Begini saja, Mas.
Nanti, biar aku yang bicara sama atasanmu.
Bang! Lelah ini, Bang!
Bang! Ada sesuatu, Bang!
Aduh!
Apa?
Dapat!
Sang Kesatria berhasil menangkap bintang jatuh.
Ini! Kita menang, 'kan?
Jumbo, Jumbo.
- Kastinya sudah selesai, Jumbo! - Kastinya sudah selesai.
- Melawanmu itu gampang. - Tidak mungkin menang lawan kita.
- Aduh... - Sudah. Kau pulang aja sana!
Cuci kaki, cuci tangan, dan mendongeng lagi.
- Gendut! - Ayo main sana, yuk!
Main kasti lagi, yuk.
Kayaknya tidak, Don.
Kita mau main sepak bola saja.
Aku ikut, ya!
Kita sudah lima lawan lima, Don.
Satu lagi siapa?
Kalian cuma berem...
Kau nanti saja ikutannya.
- Dah! - Teman-Teman...
Aip.
Aip kenapa?
Bagaimana, ya...
Kau itu lelet, Don.
Kalau sama kau, kalah terus.
Aip! Ayo!
Ya!
Aku jadi gawangnya, ya!
Ya, tunggu!
Man.
Aku bosan diledek terus.
Memang benar, ya, kalau main sama aku kalah terus?
Ya. Perhatian!
Adik-adik yang mau daftar pentas,
hari ini terakhir, ya, daftarnya.
Hei, Don.
- Apa? - Itu.
Itu.
Paling telat pukul 17.00!
Itu! Tunjukkan kepada mereka kau bisa menang.
- Bagaimana? - Apa?
- Daftar apa? - Ya, itu!
- Apa lagi? - Ini?
Mendongeng di depan anak-anak saja, aku diledek.
Aku tidak yakin.
Coba dulu.
Don! Nurman!
- Mae? - Mae?
Sudah jam berapa ini?
Oma pasti sudah menunggu!
Hampir saja lupa!
Biskuitnya sudah, 'kan?
Ini sudah! Sudah, ayo, cepat!
Hei... Bagaimana radioku?
Sudah bisa rock n roll lagi belum?
Sudah, Bang.
Ini sehari saja dikerjakan juga beres.
- Aduh. - Kenapa, Cil?
Ada yang kurang kenceng saja.
Sebentar ya, Bang.
- Dik, pas banget kau baru pulang. - Ya, Bang.
Obeng yang kuning tolong ambilkan.
Oh... Yang ini, Bang?
Nah, ya. Yang itu.
Terima kasih, Dik.
Minta tolong pegangi yang itu.
Cil, itu kakimu, apa tidak mau dibawa ke dokter saja?
Aduh.
Takut mahal, Bang.
Entar disuruh operasi atau apa.
Ya, tapi masa tidak diobati, Cil?
Dibantu kok, Bang, sama Pak Kades.
Aku dikasih uang buat beli obat-obatan sama perban.
Tongkat ini juga dari Pak Kades.
Sedap.
Pak Kades memang baik banget, ya.
- Ya. - Gokil! Eh.
Sori.
Ini apaan, Cil?
Oh.
Sana.
Nah, begini, Bang.
Bikinan adikku itu, Bang.
Ada lampu-lampu sisa sama pengeras suara bekas.
Diutak-atik, eh, tahu-tahu jadi begitu.
Radionya mau digituin tidak, Bang?
Memang bisa?
Ya bisa.
Aku gratiskan buat Abang.
Nah. Sedap.
Ini, Dik. Bikinin yang kayak gitu, ya.
Bang, lanjut sama si Atta, ya.
Oke.
- Terima kasih, Bang. - Sama-sama.
Eh, kulihat kau pintar kayak si Acil.
Tidak mau ikut daftar pentas Festival Kampung Seruni?
Pentas apaan, Bang?
Ya, itu. Ada pentas-pentas buat unjuk bakat.
Aku lihat sudah dibuka pendaftarannya.
Anak lain di kampung ini, tidak ada yang bisa bikin beginian.
Ikut lomba saja!
Hadiahnya duit!
Jadi, kau bisa membantu abangmu mengobati kakinya.
Sedap, 'kan?
Don.
Kenapa Don tidak mau tampil mendongeng?
Ya. 'Kan sudah hafal.
Ya!
Kalau tidak mau baca dongeng, akrobat saja sama kambing-kambingku.
Eh?
Apa ini?
Oma.
Ya, Nak?
Ini apa?
Ini tulisan ibumu.
Apa?
Ibu bikinin aku lagu?
Wah!
Ini! Ini dia!
Aku bisa pentaskan dongeng ini pakai lagu ibuku!
Nurman! Mae! Bantu, ya!
Nanti, kita latihannya di markas!
Mae bikin kostumnya dan main musiknya.
Nurman, kau dekor panggungnya!
Kebayang tidak kalau lagu ini dipentaskan?
Pasti banyak yang nonton.
Kalau kita menang, aku tidak bakal diledeki Jumbo lagi.
Temanku jadi banyak!
Kumohon, ya. Kumohon.
Oke! Kita buktikan ke Atta sama anak-anak lain.
Mae?
Ya sudah. Ayo.
Yes, yes, yes!
"Yes, yes, yes, yes" saja.
Itu, lihat jam! Harus ke lapangan!
- Dah, Oma. - Dadah, Oma.
- Hati-hati. Sukses, ya! - Don, tunggu!
Anakmu itu, lo.
Maaf, ya, Dik.
Tapi tadi sudah pas sepuluh peserta yang daftar.
Jadi, pendaftarannya sudah ditutup.
Yah, Kak...
Satu lagi bisa, tidak?
Ini susah, lo, bikinnya.
Maaf, ya, Dik.
Lampu-lampunya disimpan saja buat pentas tahun depan, ya.
Yah...
Permisi, Kak.
Aku sama teman-temanku mau daftar pentas.
- Ya. - Masih bisa, 'kan, Kak?
Aduh...
Pendaftarannya sudah tutup.
- Yah, bagaimana? - Aduh. Hei, tahu tidak?
Ada grup Lenong Nyelonong dari Gang Cimande, tahu, 'kan?
Barusan mereka mengabari, katanya mereka tidak jadi tampil!
Ada undangan hajatan pas 17-an! Aduh, bagaimana?
Jadi, mundur?
Tentu saja, mundur! Harus dicoret dulu ini.
- Berarti... - Wah!
Mau daftar, ya? Daftar, 'kan?
- Daftar, ya! - Ya sudah.
Mau daftar apa?
Ini, Kak!
Kisah kesatria pemberani
di Pulau Gelembung ajaib.
Oh. Ya sudah.
- Hore! Pentas! - Asyik!
Kita pentas! Latihan di markas!
Nurman!
Kita pentas! Latihan di markas!
- Apa? Jumbo! - Kita pentas!
Kok kau bisa daftar?
Pendaftarannya sudah tutup, 'kan?
Tentu saja bisa.
Siapa dulu. Lihat ini. Don!
Curang! Kau pasti curang!
Orang pendaftarannya sudah ditutup!
Siapa yang curang?
Latihan, yuk. Yuk.
Aku keterima karena aku mau bikin pentas yang keren!
Ini...
Dari buku dongeng orang tuaku!
Oh, dari buku.
Tapi...
- Kalau bukunya tidak ada, bagaimana? - Atta!
Masih keren itu pentasmu?
- Atta! - Balikin, tidak? Itu dari ayah dan ibuku!
Atta! Jangan begitu!
- Don! - Aduh...
Mana? Mana yang tadi katanya keren?
Ambil ini aja tidak bisa.
Sini, ayo ambil! Ayo ambil!
Atta!
Kau tidak akan bisa menang. Mengerti?
Atta!
Hei! Atta!
Atta!
Kembalikan!
Jangan sedih terus, Don.
Lagu ibuku ada di buku itu, Mae.
'Kan kita bisa main kereta-keretaan.
Sap, sap, sap!
Apa? Kok bisa?
Tentu saja bisa.
Ini namanya "sap, sap, sap".
"Sap, sap, sap"?
- Ya. - Bagaimana caranya?
Gampang.
"Sap" pertama.
Kagetkan.
"Sap" kedua.
- Apa itu? - Apa?
Alihkan perhatiannya.
"Sap" yang terakhir,
waktu orangnya meleng, ambil.
Oh.
Kalau kau sudah bisa "sap, sap, sap",
kau bisa merebut apa saja.
Termasuk...
Oh... Bukuku dari Atta!
Itu dia.
Ya sudah, ayo kita rebut.
Sebentar, Don. Kau yakin mau rebut?
Kita perlu lagu itu buat pentas, Mae.
Man. Man!
Itu...
Hai!
Itu... Itu terbang.
Itu apaan?
Kau siapa?
Aku Meri.
Kita tidak bermimpi, 'kan, ya?
Wah.
Ini apa?
Nurman!
- Sedang apa? - Aduh!
Habisnya dia bersinar, Mae.
Izin dulu!
Main pegang-pegang aja.
Tidak apa-apa.
Sini. Mana tanganmu?
Kau itu apa?
Aku anak-anak juga. Kayak kalian.
Kau... Kau sedang apa di sini?
Don.
Nurman.
Mae.
Kok tahu nama kita?
Aku...
sebenarnya mau minta tolong sama kalian.
Jadi, aku sama mami dan papiku
sudah lama beristirahat dengan tenang.
Ayo, Yasmin. Cepat!
Papi!
Lihat Mami.
Mami!
Kau harus cari bantuan.
Bebaskan Papi dan Mami
sebelum kalung ini layu.
Mengerti?
Papi sama Mami mau ke mana? Jangan tinggalkan Meri!
Mami! Papi kesakitan!
Meri, tolong...
Papi!
Sentuh nisanmu dan lari! Jangan takut! Kau bisa, Meri!
Mami menyayangimu.
Mami!
Ada seseorang yang merusak makam keluargaku.
Dia siapa?
Tidak tahu.
Tapi orang itu bawa radio yang sinarnya sangat terang.
Aku harus cari radio itu.
Bebaskan mami dan papiku.
Dan aku yakin cuma kalian yang bisa bantu aku.
Kalian mau, 'kan?
Tidak.
Maaf, ya, Meri. Kita tidak bisa bantu.
Don, tidak boleh gitu. Dengarkan dulu.
Kita harus ambil buku aku!
Don! Dengarkan dulu!
Don.
Kau tahu rasanya terpisah dari Ayah dan Ibu.
Tolong, Don, bantu aku bebaskan papi dan mamiku.
Kumohon.
Bagaimana jika aku juga membantumu?
Kau bilang, kau mau ambil buku, 'kan?
Memangnya kau bisa apa?
Lihat, ya.
Wah.
Wah.
Aku bisa memilih siapa yang bisa lihat aku!
Wah! Lebih keren dari "sap, sap, sap".
Sini!
Meri.
Kalau tidak semua orang bisa lihat kau,
berarti kau bisa ambil bukuku tanpa ketahuan?
Ya.
Oke!
Kita bantu cari papi dan mamimu.
Serius?
Terima kasih, Don!
Tapi, janji, ya, bantu aku.
Kalau kau berhasil ambil buku itu, aku bantu kau.
Ya. Aku janji.
Ya sudah. Salaman.
Eh.
Begini saja.
Maksudnya apa nisannya tidak bisa dibongkar?
Yang sebelumnya tidak pernah ada masalah seperti ini.
Ingat. Kau sudah menjanjikan kami tanah-tanah itu.
Habis main dari mana?
Kau tidak berantem lagi, 'kan?
Adik tadi iseng daftar pentas 17-an.
Terus? Bagaimana?
Keterima?
Telat daftarnya.
Jadi, Adik tidak bisa ikutan.
Ya sudah, tidak apa-apa.
Hadiahnya uang.
Bisa buat bantu mengobati kaki Abang.
Bang, kenapa kita begini?
Kenapa?
Dik.
Kalau Adik capek,
Adik kesel,
Adik marahnya jangan sama orang lain, ya.
Jangan menjahati teman-teman Adik.
Cerita saja sama Abang.
Cerita semuanya.
Abang pasti dengarkan.
Mungkin kita dikasih hidup begini...
karena kita kuat.
Yah? Adik?
Sudah. Habiskan telurnya, ya?
Enak itu pakai kecap.
Dik!
Besok kau ke rumahnya Bu Titin, tidak apa-apa, ya?
Tadi telepon, minta tolong tanamannya dipotong.
- Ya? - Ya, Bang.
Terima kasih ya, Dik!
JEMBATAN JALAN RAYA
Jadi, dia yang ambil bukumu?
Itu.
Bukunya ada di tas itu.
- Yuk, kita ikuti. - Apa? Don!
Tunggu dulu!
Bang! Adik jalan, ya!
Oh, ya! Hati-hati, Dik!
Aduh!
Meri!
Sembunyi!
Dia tidak bisa lihat aku.
Oh, ya
Hai!
Oh. Kau.
Lapar, ya?
Sini.
Ini.
Makan, ya.
Dikasih makan?
Minta tolong yang bersih ya, Ta.
- Ya, Bu. - Ini.
- Ini nanti Atta potong semua. - Ya.
Terus sampah-sampah daunnya nanti Atta bersihkan.
- Terima kasih, ya. - Ya, Bu.
Atta suka menolong orang, ya?
Tidak.
Pasti mau dijaili.
Itu tasnya!
Ayo!
Hei, jangan buru-buru.
Ikuti aku.
- Ini cukup! - Pelan-pelan.
Aduh.
Eh. Bunga cantik siapa namanya?
Man, kau mencatat bunga-bunga?
Ya. Ini, lengkap. Ada gambarnya, ada namanya.
Yang ini, si kuning cerah tengahnya cokelat.
Itu 'kan bunga Matahari.
Ih! Bunga mah bunga, Matahari mah Matahari.
Don, Nurman, itu Atta!
Ya.
Malah mengobrol.
Ini, Mae, si Don!
Memang bunga matahari.
Don!
"Bunga matahari".
Man! Kita 'kan mau mengambil...
Apa?
Bukuku!
Siapa itu?
Meri! Don mana?
- Mae! - Apa?
Don! Ayo!
Aku tidak bisa naik!
Aduh.
Nurman! Bantu!
Hei! Siapa itu?
Aku pernah lihat di TV,
ada atlet fantastik membantu temannya lompat kayak gini!
Apa? Fantastik?
Itu namanya gimnastik.
Sudah. Percayalah. Pasti bisa!
Hei!
Aduh.
Ya, fantastik. Ayo.
Aduh...
Apa? Jumbo?
Lari!
Sini kau!
- Aduh. Sini saja. - Hei!
Sini!
Kemarikan bukunya!
Jumbo!
- Lari! - Kabur!
Lari! Semua!
- Jumbo! - Lari!
Sini kau!
- Jangan kabur! - Lari!
Ayo!
Don! Cepat! Ayo!
- Ayo, Mae juga! - Tunggu!
Jumbo!
Aduh.
Kalian besok pada nonton pentas unjuk bakat, tidak?
Teman-Teman!
Jumbo!
Ada apa ini?
Dongengku ini mau aku pentaskan
di Festival Kampung Seruni!
Nonton, ya!
Jumbo, Jumbo. Kau itu tidak kapok-kapok, ya.
Sudah dibilangin tidak akan menang, malah mau ikut pentas.
Lagi pula, kita sudah bosan sama dongengmu.
Kasti saja kalah. Sudah yuk.
Aku lapar.
Ah.
Tidak!
Aku tidak mau ditonton orang-orang.
Meri.
Cuma kau yang bisa bikin pentasku jadi keren.
Ayolah. Aku mohon.
Janjinya kalau kau dapat bukunya,
kau bantu aku cari papi dan mamiku!
Ya, tapi bantu sekali lagi, ya?
Sampai pentasnya selesai saja, kok.
Habis itu, sungguh, aku bantu kau!
Ya?
Kumohon.
Meri.
Benar, ya, Don?
Ini terakhir.
Ya!
- Janji? - Ya, janji!
Ya sudah.
Meri membantu pentas kita!
Sebentar dulu.
Biar orang tidak pada curiga, Meri bajunya harus kayak kita juga.
Nah.
Meri, coba pakai yang ini!
Meri!
Wah...
Wah.
Wah!
Ini baru keren.
Nah, ini. Pas jadi anggota keempat kita.
Ya, tidak? Ya, 'kan?
Bagaimana? Kesabaranku mulai tipis.
Kenapa lama sekali?
Tidak pernah kau bongkar makam selama ini.
Dengar, ya. Aku kasih waktu dua hari.
Kalau belum juga, perjanjiannya batal.
Paham? Dua hari.
- Oma. - Ya?
Ayo ceritakan bagaimana Ayah dan Ibu bikinin buku ini.
Dulu, Ayah, Ibu,
bikin buku ini berhari-hari.
Sampai larut malam.
Ah!
Ya! Aku tahu! Oke.
Bagaimana...
Kesatria kecil.
Kesatria kecil?
Kita bikin dia tinggal...
- Di? - Dunia gelembung.
Dunia gelembung?
Don senang main busa sabun kalau lagi mandi.
Ini. Bagaimana?
Mirip.
Ya.
Besok-besok, kalau kita ke luar kota ketemu penerbit,
Don sedih tidak, ya, ditinggal?
Ya, anggaplah buku ini yang menemani dia.
Ah!
Bagaimana kalau si Kesatria di cerita ini
ditinggal pergi sama orang tuanya?
Wah.
- Menarik. - Ya, 'kan?
- Kalau gitu, kita kasih dia teman, ya. - Ya.
- Biar dia tidak kesepian. - Oke.
Bagaimana?
Cantik ombaknya.
Cantik, 'kan? Kayak kau.
Coba saja bacakan ke dia malam ini.
Dia pasti senang.
Boleh juga.
Ayah dan Ibu
memang sudah tidak bersama kita lagi.
Tapi buku ini
akan selalu menemani Don sampai kapan pun.
Jadi, Don tidak usah khawatir.
Ada Oma, ada buku ini.
Don tidak akan pernah kekurangan teman.
Pentas Don harus bagus.
Don ingin bikin Ayah dan Ibu bangga.
Amin.
Semuanya!
Yang aku tulis di papan ini
harus kita kerjakan kalau pentas kita mau bagus!
Kalian harus disiplin!
Ikutin semua kata Ma-e-sa-roh!
Ngerti kagak?
- Ngerti! - Ya!
Kita mulai dari yang paling penting!
Vokal!
Untuk dekorasi dan kostum,
kita butuh cat, kardus, sama kain.
Dua ribu?
Punya celengan kagak ada yang nabung.
Cari dari mana lagi, ya?
Lah ya!
Ikut lomba kita!
Ambil koin yang ditancap pakai mulut,
Jangan pakai tangan.
Nah, jadi, yang menang...
Nurman. 11.000.
Kita menang!
Don! Nurman!
Ayo, Don! Nurman!
- Ayo! - Semangat!
Ayo!
Ya. Jatuh lagi.
Semangat merosotnya!
Sudah, menyerah saja, Don!
Jatuh terus!
♪ La la la la la la la la ♪
♪ La la la la la la uh uh uh ♪
♪ Pandanglah awan ♪
♪ Di atas bintang-bintang ♪
Kita menang, Don!
Berhasil!
♪ Turut bernyanyi riang ♪
♪ Inginkah kau pergi ke sana? ♪
♪ Terbang bersama kupu-kupu ♪
♪ Bermain pelangi ♪
♪ Bersama dewa-dewi ♪
♪ Petiklah semua bintang ♪
♪ Dan bawalah pulang ♪
♪ Petiklah bintang ♪
♪ Dan bawalah pulang ♪
♪ Berikan kepada ♪
♪ Guru tersayang ♪
♪ Berikan kepada guru tersayang ♪
Seru banget, ya, kau punya sahabat kayak Nurman sama Mae.
Nurman itu tinggal sama engkongnya.
Dari kecil, Nurman tidak pernah ketemu mamanya.
Papanya juga sudah tidak ada.
Sakit.
Sekarang, dia menjaga kambing engkongnya.
Kalau Mae,
sebelum tinggal sama mamanya yang sekarang,
dulu dia di panti asuhan.
Aku suka merasa
yang mengirim mereka berdua itu ayah dan ibuku.
Dari surga.
Aku percaya, kok.
Dari pertama lihat kalian saja, aku merasa aman.
Aku juga bisa mengenal wangimu.
- Wangi? - Ya.
Kau harum teh melati, seperti yang dulu suka aku minum.
Wanginya enak.
Buku ini kesayanganmu ya, Don?
Ini yang aku ingat terakhir dari ayah dan ibuku.
Habis bacakan ini, besok mereka buru-buru naik mobil ke stasiun.
Hampir ketinggalan kereta.
Kata Oma, pagi itu hujan gede.
Jalanan licin.
Ini.
Kesatria ini sama kayak aku.
Ditinggal orang tuanya di pulau.
Waktu aku kepisah dari papi dan mamiku,
mereka juga kasih aku ini.
Tapi kalau ini layu semua,
aku tidak bisa pulang bersama mereka.
Terus, bagaimana?
Yah... hilang.
Hilang?
Ya.
Meri.
Aku janji,
kau bisa pulang.
Percaya sama aku.
Percaya sama Kesatria Gelembung.
Memang pulau gelembungnya sebesar apa?
Sebesar...
Jumbo.
Wah.
Dan inilah peserta selanjutnya!
Grup Jumbo!
Mulai itu. Jumbo.
Bagus tidak ini?
Pada suatu masa,
hidup seorang kesatria kecil bersama kedua orang tuanya.
Mereka tinggal di sebuah pulau yang sangat besar!
Setiap hari, di pulau itu,
si kesatria kecil bersuka ria dan bermain bersama orang tuanya.
Tapi, suatu hari,
terlihat awan-awan hitam di kejauhan.
Awan itu,
menyambarkan kilat yang dahsyat!
"Ayah dan Ibu harus pergi.
Kami harus menenangkan awan-awan itu."
Dalam kesendiriannya, Kesatria kecil menghibur dirinya
dengan sebuah lagu.
♪ Kala nanti badai 'kan datang ♪
♪ Angin akan buat kau goyah ♪
♪ Maafkan, hidup memang ♪
♪ Ingin kau lebih kuat ♪
♪ Andaikan saat itu datang ♪
♪ Kami tak ada menemani ♪
♪ Aku ingin kau mendengar ♪
♪ Nyanyianku di sini ♪
♪ Sedikit demi sedikit ♪
♪ Engkau akan berteman pahit ♪
♪ Luapkanlah saja ♪
♪ Bila harus menangis ♪
♪ Anakku, ingatlah semua ♪
♪ Lelah tak akan tersia ♪
♪ Usah kau takut pada keras dunia ♪
♪ Akhirnya takkan ada akhir ♪
♪ Doaku agar kau selalu ♪
♪ Arungi hidup berbalut ♪
♪ Senyuman di hati ♪
♪ Doaku agar kau selalu ♪
♪ Kau selalu ♪
♪ Ingat bahagia ♪
♪ Meski kadang hidup tak baik saja ♪
♪ Nyanyian ini bukan sekedar nada ♪
♪ Aku ingin kau mendengarnya ♪
♪ Dengan hatimu, bukan telinga ♪
♪ Ingatlah, ini bukan sekedar ♪
♪ Kata ♪
♪ Maksudnya, kelak ♪
♪ Akan menjadi makna ♪
♪ Ungkapan cintaku dari hati ♪
♪ Ungkapan ♪
♪ Cintaku dari hati ♪
Hebat, Jumbo!
- Ayo, Jumbo! - Jumbo!
Gini, dong!
Jumbo!
Keren!
Nah!
Sekarang, saatnya pengumuman pemenang pentas malam ini!
- Siapa kira-kira pemenangnya? - Jumbo!
Jumbo!
Kita berhasil!
Sukses!
Dengan demikian, sebagai pemenangnya,
grup Jumbo akan pentas lagi besok malam
di puncak Festival Kampung Seruni!
- Tepuk tangan! - Wah, tampil lagi?
Hore! Kita menang!
Terima kasih, Semuanya!
Meri!
Kenapa?
- Jumbo! - Dadah, Semuanya!
- Tidak apa-apa. - Jumbo!
- Kok bisa? - Jumbo!
- Geng Jumbo! - Geng Jumbo!
Meri!
Nyanyinya bagus banget!
- Mantap! Dua jempol. - Oh, ya! Benar itu!
Terima kasih, Teman-Teman.
Ya, sama-sama.
Don, terus kita kapan cari papi dan mamiku?
Besok?
Kau dengar, 'kan, tadi?
Kita mau tampil lagi di malam puncak. Dengar, 'kan?
Ya. Terus?
Kita cari radionya habis pentas malam puncak saja, ya?
Don, bukan begitu janjinya.
Ya.
Tapi pentas Jumbo butuh kau.
Kau lihat, 'kan, tadi? Anak-anak itu suka sama pentas aku.
Aku sudah bilang aku cuma mau muncul sekali saja!
Ya, tapi kalau kau pulang sekarang, terus pentas aku bagaimana?
Kau sudah janji!
Ya, aku tetap janji, cuma ditunda saja, kok.
Don! Waktuku tidak banyak!
Meri!
Meri.
- Turun. - Turun, yuk.
Ya sudah!
Aku cari orang tuaku sendiri kalau kau tidak mau menolong!
Kau, Don...
Meri!
Mau ke mana?
Terima kasih banyak ya, Pak Kades, buat bantuan obat-obatnya.
Bang!
- Aba... - Eh!
- Pak. - Hei, Ta.
Bang! Adik ada cerita, Bang.
Si Jumbo menang pentas!
- Oh, ya? Hebat ya? - Tapi dia...
Tidak, Bang! Tapi dia curang, Bang!
Dia itu dibantu sama...
Sama hantu.
Apa-apaan, Dik?
Sungguh, Bang, suer!
Aku lihat sendiri hantunya!
Hantunya anak kecil, terus badannya bercahaya!
Aku lihat dia sembunyi di gudang tua.
Ya.
Gudang tua?
Benar, Pak! Itu markasnya si Jumbo!
Yang dekat hutan itu?
Ah.
Kau ada-ada saja, Dik.
Ya. Hei, kampung kita itu aman.
Selama ada Pak Kades, tidak ada hantu yang berani ganggu warga. Ya, 'kan?
Maaf, ya, Pak. Adikku memang begitu, Pak.
Suka mengkhayal.
- Yah, namanya juga anak-anak. - Ya.
Oh, ya, Cil.
- Oh, ya, Pak? - Hampir lupa.
Aku itu sebenarnya ke sini mau menawarkanmu pekerjaan.
Oh.
Yah...
Tapi tergantung kau. Kalau kau bisa.
Oh, pasti bisa, Pak! Bisa diatur.
Wah, baguslah, kalau begitu.
Ajak saja adikmu, Dik Acil.
Biar dia ikut jalan-jalan naik mobil sama aku.
Ya, Pak.
- Ya sudah. Sampai besok, ya. - Siap!
- Hati-hati ya, Pak. - Ya.
- Ida Setiawati. - Ya?
Maukah kau menikah denganku?
- Aku mau. - Sehidup semati.
Sehidup semati.
Selamanya.
Mas, hati-hati!
Aku cubit, ya!
Hei! Jangan banyak gerak!
Ida! Hei, kenapa kau? Da!
Bapak tidak boleh menyerobot.
Itu makam istriku, Pak!
Area ini sudah diamankan.
Pak! Ini makam istriku mau diapakan?
Pak! Ida!
Aku lihat sendiri hantunya!
Hantunya anak kecil, terus badannya bercahaya!
Sudah siap, Don?
Tentu saja sudah!
Oke. Bagus.
Apa lagi yang kurang, ya?
Kurang Meri.
Kalau aku jadi dia, aku juga kesal.
Meri sudah menolong kita, Don.
Masa kita tidak menolong dia?
Tapi kita ada pentas lagi, Mae!
Yang menonton lebih banyak!
Ya, tapi...
kalau Meri masih mengambek, memang kita bisa pentas?
Ya.
Don, kau harus minta maaf.
Ya, Don.
Nah! Aku tahu!
- Ayo, Mae! - Ya.
Maaf, Pak. Aku masih tidak mengerti.
Sebenarnya, kita mau apa, ya?
Sudah, sini!
Ini, pegang.
Keluar kau, Hantu Kecil.
Apa? Hantu kecil?
Suara itu...
Itu...
Meri.
Itu siapa?
- Jangan-jangan... - Itu mami dan papinya!
Papi, Mami.
Meri.
- Sini. - Papi.
Meri!
Jangan didekati!
Mereka bukan orang tuamu!
Aku tidak percaya sama kau!
Meri! Aku minta maaf!
Meri.
Meri!
Lepaskan!
- Ayo kita bantu! - Ya!
Lepaskan!
Cil! Bantu aku, Cil!
- Lepaskan! - Don!
Ya!
- Pergi! - Lepaskan, tidak?
- Adik! - Jumbo!
Jangan!
Don!
Sebentar! Nurman, Mae, tahan!
Atta!
Hei!
Kembalikan!
Tidak mau! Tidak!
Kau tidak akan bisa pentas!
Cuma buku ini yang aku punya!
Don.
Meri!
Bukuku.
Bukuku!
Tidak. Jangan rusak.
Jangan rusak.
Tolong jangan rusak.
Acil, bangun.
Ikut aku ke makam.
Maaf, Pak, aku tidak mau.
Aku mau bawa adikku pulang.
Mau pulang?
Abang!
Kau dengar itu?
- Abang! - Dik!
Pulang!
- Tidak! - Abang... Abang pasti pulang.
- Abang! - Adik pulang duluan, sana!
- Cepat! - Tidak, Bang.
Abangku mau dibawa ke mana!
Abang!
Abang!
Abang...
Abang.
Semua gara-gara kau, Atta!
Meri ditangkap!
Pentas aku nanti bagaimana?
Don!
Kok kau masih memikirkan pentas?
Meri itu dalam bahaya!
Coba dari awal kita bantu Meri cari orang tuanya!
- Pasti tidak bakal begini! - Lo?
Kok kalian menyalahkanku?
Ini salah dia!
Abang mau ke mana?
Bang...
Atta, tadi yang sama Pak Kades itu abangmu?
Abangku tidak tahu apa-apa!
Dia cuma ditawari kerja sama Pak Kades.
Aku tidak mau percaya sama dia. Dia pasti bohong!
Don! Dengarkan dulu! Kita tidak tahu ceritanya Atta!
Cerita apa?
Pasti dia melaporkan Meri ke Pak Kades!
Biar Meri tidak bantu pentas kita! Ya, 'kan?
Abangnya juga ikut menangkap Meri! Abangnya jahat!
Tidak! Abangku tidak salah!
- Abangku baik! - Alah!
- Tunggu! Atta! - Lihat, 'kan?
- Kabur! - Atta!
Don.
- Don... - Kalian tidak ada yang peduli sama aku!
Don!
Nurman!
Aku tidak sengaja.
Untuk apa aku sama Mae kayak gini sampai kotor-kotor
kalau tidak peduli sama kau?
Mae.
Ayo, kita tolong Meri.
Ayo, Man.
Kau ini maunya didengarkan terus,
tapi kau sendiri tidak pernah mau mendengarkan.
Mae.
Tidak apa-apa.
Abang tidak bakal kenapa-kenapa.
Abang pasti pulang.
Ini...?
Oh!
Ada apa, Sayang?
Don bikin sedih banyak orang.
Kau tahu, tidak, Oma melakukan apa kalau sedih?
Tidak tahu.
Mendengarkan ceritamu.
Kayak misalnya,
"Bekalnya enak, Oma!
Don mau pentas, Oma!"
Semuanya bikin Oma senang dengarnya.
Tiap ada peran yang bersedih,
ada peran yang menghibur.
Kau penghibur Oma.
Dan setiap ada peran yang bercerita,
harus ada juga peran yang mendengarkan.
Bagaimana cara memperbaiki cerita Don, Oma?
Kalau Don mau jadi pencerita yang baik,
harus jadi pendengar yang baik.
Cerita tidak akan jadi cerita,
kalau tidak ada yang mendengar.
Ya, 'kan?
Nurman?
Nurman, Mae...
Don.
Aku boleh bicara, tidak, sama kau?
Aduh...
Mau bicara apa?
Aku dengarkan.
Buku itu...
bikinan orang tuamu, ya?
Maaf, ya.
Aku iri sama kau.
Punya teman yang perhatian,
pentas bagus...
Ingin juga punya yang kayak gitu.
Yang aku punya...
abangku aja.
Maaf, ya, Don.
Maaf juga, ya.
Aku sudah bilang kakakmu jahat.
Aku mau abangku pulang.
Mau abangku sembuh.
SAHABAT
Kata Oma,
di tiap cerita, pasti ada banyak peran.
Cerita ini butuh peranmu.
Apa?
Bantu aku menolong Meri dan abangmu. Ya?
Jadi kesatria baru!
Mau?
Ya!
Di mana, ya?
Nurman! Mae!
Aku tahu Meri ada di mana!
Ayo!
Nurman.
Kalau kau sudah tahu Meri di mana, pergi saja sendiri.
Untuk aku sama Mae ikut?
Nurman, Mae,
aku minta maaf.
Aku belum jadi teman yang baik.
Kemarin-kemarin, aku hanya memikirkan pentas terus.
Aku lupa
ada teman-teman yang dari dulu sudah baik banget sama aku.
Nurman. Mae.
Kita harus menolong Meri.
Tapi dari dulu aku tidak bisa sendirian.
Aku cuma bisa
kalau dibantu oleh Nurman sama Mae.
Maaf, ya, Man.
Maaf, ya, Mae.
Jangan dorong aku ke tanah lagi, ya.
Nurman.
Susah, tahu, cucinya.
Jadi, sekarang kita semua berteman?
Tentu saja.
Kayaknya aku tahu ke mana Abang sama Meri dibawa.
Nah, ini petanya Pak Kades.
Lihat ini. Kalau dilihat titik-titiknya, jaraknya semuanya sama.
Oh! Kaki jalan layang!
Abangku kayaknya dibawa ke sini.
Kita harus cepat ke sana.
Makam keluarga Meri pasti di sana.
Yang malam itu merusak makamnya adalah Pak Kades!
Dia bawa radio.
Kita kalahkan dia
dengan pentas.
Kita ini berempat. Bawaannya banyak.
Bagaimana caranya bisa cepat sampai sana?
Ini dia!
- Wah. - Apa ini, Man?
Sepeda?
Keren!
Tapi ini aman tidak?
Pelan-pelan!
Ini sudah pelan!
Mae! Atta! Ini seru, lo!
Meri!
Kami datang!
- Ini anak-anak grup Jumbo belum datang? - Belum.
Aduh, bagaimana ini? Sudah mau mulai!
Ini tempatnya.
Kalau di peta, ya, di sini.
Hei! Itu lihat.
Kita menyebar. Semua tunggu kode dari Atta sama Mae.
- Oke. - Oke.
Itu kodenya. Ayo, Man.
Ya.
Ya!
Hei!
Tidak ada kapok-kapoknya merecoki aku, ya!
Aku kasih tahu kalian.
- Meri! - Meri!
Kalau masih mengeyel, hantu ini aku bikin hilang selamanya.
Mau?
- Hei, Don. Mau apa? - Aduh...
Mau apa kau?
Apa itu?
"Sap, sap, sap"!
- Lari, Don! - Bocah bandel!
Hebat kau, Don!
Wah...
- Lari! - Itu 'kan...
Yang mana ini pencetnya?
- Don! - Pak!
Pencet yang mana ini?
Sini!
Aduh. Tidak jadi, Pak!
JEMBATAN JALAN RAYA
Abang!
Atta!
- Kau tidak apa-apa? - Tidak apa-apa, Bang.
Sedang apa kau di sini?
Abang sudah suruh pulang.
Adik dan teman-teman sudah bikin rencana,
tapi butuh bantuan Abang.
Bantuan Abang? Bantuan apa?
Cukup, ya.
Sekarang kita bicara baik-baik.
Ya? Oke?
- Jadi, aku bisa tahu... - Bagaimana ini?
...mau kau apa.
Don!
Hei!
Radioku!
Kembalikan!
Capek.
Aduh.
Meri!
Berhasil!
Meri.
- Terima kasih, ya. - Ya.
'Kan aku sudah janji.
Don, radionya!
Radioku kembali!
Selesai, kau!
- Aduh... - Sekarang, kau akan jadi...
Kangkung?
Wah!
Mbek, Mbek!
Mbek!
Keren!
Ayo, cepat!
- Cepat! Ayo! - Nurman!
- Ayo! - Ayo.
- Ayo, Don! - Ayo!
Ayo!
- Cepat, Don! - Ya!
Sini kalian!
Cepat, Don!
Ayo, bisa! Bisa!
Papi?
Mami!
Don, lihat!
Lihat apa?
Don!
Aduh!
- Aduh! - Aduh.
- Aduh... - Don! Lihat tidak, tadi?
Ayah dan ibunya Meri.
Pakai kalung melati juga.
Sini!
Jangan lari-lari lagi.
Ayo, bangun!
Sedikit lagi!
Sudah tidak jauh!
Teman-Teman!
- Kenapa, Don? - Ada apa?
- Kita bagi tugas. - Apa?
Aku dan Nurman urus papi dan maminya Meri.
- Mae! Bawa bukuku, 'kan? - Bawa.
Ta! Ini.
Apa? Kok dikasih ke aku?
Jadi, begini...
Kejar!
Geng Jumbo!
Maju!
Eh?
Berpencar!
Ayo!
Lempar, Ta!
Meri!
Berhasil!
Kok begini? Hei!
Wah!
Don!
Dari semua makam yang pernah kuhancurkan,
arwah yang pernah kutangkap,
cuma kau yang bikin repot!
Karena nisanmu, rencanaku berantakan!
Sekarang, kau masuk radio ini
dan buka nisanmu untukku!
Don!
Don!
Don!
Ini!
Buku ini akan selalu menemani Don sampai kapan pun.
Nurman!
Ayo!
Fantastik.
Papi?
- Mami! - Meri.
- Meri! - Sayangku.
- Papi, Mami... - Sayangku.
Don.
Bukumu...
Tidak apa-apa.
Cuma buku, Ta.
Isinya ada di sini.
Kalian!
Kalian pikir...
kalian bocah-bocah berhasil gagalkan aku?
Hah!
Kenapa Bapak bongkar makam keluarganya Meri?
Tanahnya mau Bapak jual, ya?
Itu jahat!
Itu tidak adil, Pak!
Adil?
Kau masih kecil bicara soal adil. Kayak mengerti saja kau.
Dulu makam istriku juga dibongkar.
Tidak ada yang bantu aku
atau dengarkan aku!
Tidak ada yang adil sama aku!
Sejak itu aku paham,
satu-satunya bentuk adil yang paling adil
adalah kalau semua merasakan penderitaan yang sama!
Kalau arwah istriku tidak bisa tenang,
tidak ada makam dan arwah yang boleh tenang di kampung ini!
Mau aku apakan tanahnya?
Itu urusan aku!
Kalau tanah yang ini tidak bisa aku jual,
tidak masalah!
Masih banyak makam-makam dan toko lain yang bisa aku gusur!
Satu per satu akan aku jual!
Tidak jadi jalan layang, ya, tidak apa-apa.
Bisa jadi yang lain!
Apa?
Aduh.
Ya!
Terima kasih, Bapak dan Ibu sekalian
sudah mau gelap-gelapan sebentar.
Semua sudah dengar, 'kan,
- Pak Kades tadi bilang apa? - Tidak.
- Yang tadi... - Sudah dengar semua, 'kan, ya?
Cuma akting!
Ya, 'kan, Don?
Ayo, dialogmu, yang kita latihan itu, Don.
Don! Ayo, Don!
Sudah, Pak, bawa saja.
- Pak! Eh, Pak! - Sudah tidak benar itu!
Hei!
Pak, aku itu Kades. Tolong, Pak.
Don.
- Keren pentasnya. - Hebat, Jumbo! Keren!
Keren, Don!
Mantap!
- Bagus, Don! - Hebat, Jumbo!
Bagus!
Don.
Janjinya belum selesai.
Ya.
Don.
Kau tahu, 'kan, frekuensinya?
Ya.
Wah.
Terima kasih, ya, Teman-Teman,
sudah menemaniku waktu aku sendirian.
Terima kasih, Meri.
Karena kau, kita jadi bisa melihat yang tidak kelihatan.
Sama belajar buat mendengarkan.
Meri.
Selamat jalan.
Pulang dengan tenang, ya.
Ayo, Meri.
Kita pulang, ya.
Kemarilah, Sayang.
- Dah, Meri! - Dah, Meri!
- Sampai ketemu lagi! - Dah!
Aku akan ingat kau terus, Meri.
Selamanya.
Kau tidak akan bisa lari lagi, Penyihir!
Penyihir dan Tiga Kambing Ajaib.
Kambing Ajaib?
Namanya juga cerita buatan Nurman.
Lalu, Don jadi apa?
Don tidak ikutan main.
Don cuma bantu-bantu saja.
Oma senang kali ini
Don mengambil peran membantu teman-teman.
Waktu Oma kecil,
Oma dan teman Oma juga suka saling bantu.
Dulu, waktu Oma kecil, Oma punya teman baik.
Ini, lihat.
Namanya Maria.
Oma biasa panggil dia...
Meri.
Meri.
Oke.
♪ Maksudnya kelak ♪
♪ Akan menjadi makna ♪
♪ Ungkapan ♪
♪ Cintaku dari hati ♪
Don?
Ibu?
Ya, Sayang.
Kesatria Ayah sudah besar.
Ayah!
Apa kabar?
Ayah dan Ibu baik-baik saja, Don.
Ini semua berkat doamu, Nak.
Don janji
akan lebih rajin doakan Ayah dan Ibu.
Janji.
Maafkan Don.
Kalau waktu itu Don dengarkan teman-teman...
Radio ini mungkin tidak rusak.
Ayah dan Ibu sekarang bisa kelihatan.
Maaf.
Tidak apa-apa, Nak.
Tidak apa-apa.
Kami selalu ada kok, Sayang.
Ayah dan Ibu bangga
Don sudah jadi anak yang hebat.
Dongeng buatan Ayah dan Ibu, kau bikin jadi jauh lebih bagus.
Don baik-baik, ya, sama Oma.
- Ya. - Ya. Baik-baik, ya.
Sama teman-teman juga ya, Don.
Don sayang Ayah.
Dan Ibu.
Kami pamit ya, Nak.
Ya.
Jangan jauh-jauh dari Don, ya.
Tidak pernah, Sayang.
Tidak akan pernah, Sayang.
Dah, Ayah.
Dah, Ibu.
♪ Kala nanti badai kan datang ♪
♪ Angin akan buat kau goyah ♪
♪ Maafkan ♪
Teman-Teman!
Kasti lagi, yuk!
Kasti yuk!
Mau ikutan tidak?
Ayo!
♪ Kami tak ada menemani ♪
♪ Aku ingin kau mendengar ♪
♪ Nyanyianku di sini ♪
♪ Sedikit demi sedikit... ♪
Hei! Tunggu!
Jumbo mau ikut!
♪ Luapkanlah saja bila ♪
♪ Harus menangis ♪
♪ Anakku ♪
♪ Ingatlah semua lelah ♪
♪ Tak akan tersia ♪
♪ Maksudnya kelak ♪
♪ Akan menjadi makna ♪
♪ Ungkapan ♪
♪ Cintaku dari hati ♪
♪ Lihat sekelilingmu ♪
♪ Sadari semua Yang kau butuhkan ada di sini ♪
♪ Berhenti sejenak untuk menyadarinya ♪
♪ Peduli besar arti cinta ini ♪
♪ Terkadang yang kau perlukan ♪
♪ Hanya luas hati 'Tuk belajar mendengarkan ♪
♪ Dengar suara ♪
♪ Jauh dalam lubuk hatimu ♪
♪ Kau kan mengerti ♪
♪ Dengar suara jauh dalam sanubarimu ♪
♪ Kau akan baik saja ♪
♪ Kapankah terakhir kali kamu bersyukur? ♪
♪ Kaki kecil berlari ke sana kemari ♪
♪ Sambil tertawa riang ♪
♪ Kedua tangannya diayun kiri kanan ♪
♪ Hari ini bahagia ♪
♪ Terbias di wajahnya ♪
♪ Kita buat hari ini penuh riang ♪
♪ Berkumpul bersama teman ♪
♪ Dan bersenang-senang ♪
♪ La la la la la la la la la ♪
♪ La la la la la la uh uh uh ♪
♪ Pandanglah awan ♪
♪ Di atas bintang-bintang ♪
♪ Di sana ♪
♪ Semua bidadari ♪
♪ Turut bernyanyi riang ♪
♪ Inginkah kau pergi ke sana? ♪
♪ Terbang bersama kupu-kupu ♪
♪ Bermain pelangi ♪
♪ Bersama dewa-dewi ♪
♪ Petiklah ♪
♪ Sebuah bintang ♪
♪ Dan bawalah pulang ♪
♪ La la la la la la la la la ♪
♪ La la la la la la uh uh uh ♪
♪ Pandanglah awan ♪
♪ Di atas bintang-bintang ♪
♪ Di sana ♪
♪ Semua bidadari ♪
♪ Turut bernyanyi riang ♪
♪ Inginkah kau pergi ke sana? ♪
♪ Terbang bersama kupu-kupu ♪
♪ Bermain pelangi ♪
♪ Bersama dewa-dewi ♪
♪ Petiklah ♪
♪ Sebuah bintang ♪
♪ Dan bawalah pulang. ♪
♪ Petiklah bintang ♪
♪ Dan bawalah pulang ♪
♪ Berikan kepada ♪
♪ Guru tersayang ♪
♪ Beri kepada guru tersayang ♪
♪ Berikan kepada guru tersayang ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.