Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Bobby?
Ini nasi gorengnya.
Bobby?
Bob?
Kenapa kau?
Min?
Malam ini kau tidur di sini, ya?
Kenapa, Bob?
Takut?
Bob.
Ini kos lebih nyaman dari kos lama.
Murah lagi.
Ya, Min.
Tapi hawanya beda, Min.
Seperti ada yang mengawasi.
Malam ini saja, ya?
Ya, Min?
Min.
Dengar tidak?
Min.
Aduh.
Bob?
Nah!
Bobby?
Bob?
Bob?
Kau sedang apa?
Sini, Min!
Bantu aku menggali!
Cepat!
Ya.
Kita gali tanah buat apa?
Ini aku, Min.
Bob?
Kau kenapa?
Aku mimpi, Min.
Mimpi aneh.
Kos ini tidak benar.
Ini pertanda.
Aku bakal mati, Min.
Halo, Ma?
Halo?
Sebentar, Ma, tidak kedengaran.
Rena, sudah sampai?
Sudah, Ma, baru saja turun.
Kau sudah bertemu kakakmu?
Belum, Pa.
Apa susahnya anak itu angkat telepon?
Papa mau bicara apa sama Kak Ben?
Nanti aku sampaikan.
Bilang sama dia,
jangan jadi mahasiswa abadi.
Buang-buang waktu, buang-buang uang.
Malasnya jangan dipelihara.
Kebutuhan kita itu banyak.
Kau harus lebih serius dari dia.
Lulus tepat waktu.
Kau juga jaga diri baik-baik.
Awasi kakakmu itu.
Bantu skripsinya.
Ya, Pa.
Kak Ben.
Sudah menunggu lama?
Tidak.
Sudah?
Ya sudah, yuk, langsung ke kos.
Kak.
Aku senang bisa kuliah di sini.
Akhirnya bisa bersama lagi sama Kakak.
Dan aku juga belikan oleh-oleh buat ibu dan bapak kos.
Ya, yang penting jangan merepotkan.
Taksi!
- Ben. - Bu.
- Bagaimana kabarnya? - Baik.
- Baik, ya? - Baik.
Ini Lena, ya?
Halo, Bu.
- Akhirnya ketemu juga. - Pak.
- Apa kabar? - Baik.
Ayo, Ben, hati-hati.
- Terima kasih, Pak. - Ya, sama-sama.
Ben.
Kok kau tidak pernah cerita, punya adik cantik kayak begini?
- Ya. - Kalau cerita,
nanti Ibu minta dijodohkan sama Rian.
- Bukan begitu. - Tidak lah.
Ya sudah, bawakan barang adikmu.
Ya, Bu. Sudah, Pak.
- Biar aku saja. - Gayamu.
Awas, Bapak sudah umur.
Nanti encok!
Tapi catur menang aku, 'kan?
Tapi kopi enakan buatanku, 'kan?
Ya sudah, terserah kau saja. Ayo!
- Kopi satu. - Ya.
Ayo.
Len?
Bagus banget ya, Bu, kosannya.
Kayanya aku bakal betah tinggal di sini.
Kau pasti akan lebih betah lagi
kalau kau sudah lihat kamarmu.
Yuk, Ibu tunjukkan.
Yuk.
Nah, ini juga kamar.
Tapi kamarmu di atas.
Penghuni kos di sini semuanya ada 10 orang.
Ada mahasiswa,
ada pekerja,
dan mereka semuanya sudah seperti keluarga.
Rian, sudah beres, 'kan?
Sudah, Bu. Sudah diperiksa semuanya.
Ya sudah.
Ini Rian, anaknya Ibu.
Jadi, kalau kau perlu apa-apa,
kau cari Ibu,
Pak Wiryo, atau Rian.
Dan kami tinggalnya di belakang.
Ya, Bu, terima kasih.
Ya. Ya sudah kalau begitu, Ibu tinggal dulu ya?
Karena si Slamet, kucing Ibu, belum makan.
Nanti dia mengejar tikus.
Ya sudah, Rian. Sebentar ya.
Hai.
Ini pasti Lena, adiknya Benhur?
Aku Rina.
Kos di sini juga.
Apa kabar?
Baik, atuh.
Yuk, aku kenalkan sama yang lain.
Jadi, kau ambil psikologi?
Sama.
Aku sudah semester lima.
Nanti aku bilang ke teman-teman,
jangan ada yang ospek mengerjai Lena.
Adikku.
Di sini kosannya nyaman banget ya?
Aku masih tidak percaya.
Lima ratus ribu sebulan sebagus ini?
Ya.
Ibu dan Bapak memang niatnya membantu.
Jauh dari orang tua,
duit pas-pasan.
- Sebentar ya. - Ya.
Sudahlah, Bob.
Kau cuma mimpi.
Tapi itu bukan mimpi biasa, Min.
Kau tahu aku ini sensitif.
Terserah kau kalau kau tidak percaya.
Pokoknya, aku tidak mau mati.
Aku mau pindah, kau harus ikut.
Atau lebih baik pulang saja ke Jakarta.
Pindah?
Aku tidak punya uang, Bob.
Bagaimana ini?
Sudah ketemu Yamin sama Bobby?
Bobby?
Bob?
Kenapa?
Tidak tahu.
Lena, kenalkan.
Ini Hani sama Eka.
Kita satu kampus.
Hani dari Medan, dan Eka dari Makassar.
- Hai. - Hei…
Eka Malamounru.
Panggil saja Eka.
Atau "sayang".
Kalau ada yang bisa aku bantu, bilang saja.
Jangan malu-malu, aman saja. Ya?
Kau jangan genit-genit kayak gitu kenapa?
Kenapa?
Hei, Lena, maaf ya. Memang kayak begitu dia orangnya.
Kau tenang saja.
Nanti masih ada Mas Ario, Kak Dela, dan ada Kak Nadia juga.
Tapi mereka sedang kerja.
Ya, nanti ketemu saat makan malam bersama.
Aman.
Makan malam bersama?
- Ya. - Ya.
Jadi, di sini setiap seminggu sekali,
dengan keluarganya Bu Astri, pasti kita makan malam bersama.
Kau tahu, makanannya enak-enak kali.
Kita harus makan bersama nanti ya?
Nah, ini, Len.
Rumahnya Bapak dan Ibu.
Dan kayaknya
mereka emang sengaja bikin rumahnya persis di belakang gedung kos kita.
Supaya gampang dipantau.
Lo, kenapa kalian masih di sini?
- Ayo masuk. - Memang ini yang ditunggu, Pak.
Makan dulu, sana.
Ya, Pak.
Ayo masuk.
Aku mau berkemas!
Kita harus cepat pindah dari sini!
Jangan.
Ayo, aku sudah lapar.
Yuk, makan dulu.
Kalian kenapa? Ayo!
Itu, ayo.
- Ayo, ini. - Ya.
Ini punyamu.
Ya, Enduk.
Pakai sambalnya ya, biar tambah mantap.
Kalian suka pedas, 'kan?
Ya, Bu.
- Silakan, Pak. - Ya, terima kasih, Bu.
Ibu dan Bapak tidak makan rawon?
Sekeluarga vegetarian.
Ibu dan Bapak ingin mengucapkan
selamat datang untuk Lena,
Bobby, dan Yamin.
Semoga kalian betah ya di sini.
Terima kasih, Bu.
Sekarang kita mulai berdoa
menurut kepercayaan kalian masing-masing, ya?
Berdoa mulai.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
- Tetap sepuluh… - Doanya Ibu…
Supaya kita semua sehat dan rukun.
…selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Berdoa selesai.
- Ayo, silakan. - Ayo, makan.
- Ayo. - Ya, Pak.
Makannya banyak tidak?
Enak sekali.
Bob?
Kenapa kau?
Bob?
Kenapa kau?
- Bob? - Bob?
Bobby?
Kayaknya asam lambung.
Soalnya dari pagi Bobby tidak makan.
Pak, Bu, permisi.
- Ya. - Ya.
Ya sudah, makan lagi. Makan.
Lanjut.
- Sudah, istirahat. - Terima kasih banyak ya, Pak.
- Ya. - Ibu?
- Ya? - Biar aku bantu cuci piringnya.
Oh, tidak usah.
Sudah, kalian ke kamar saja, ya?
Tidak apa-apa.
Ibu memang sukanya apa-apa sendiri.
- Ya, 'kan, Bu? - Ya. Sudah, tak apa-apa.
Sana.
Yuk.
Terima kasih.
Ponselku ketinggalan.
Ya sudah, ambil dulu.
Sebentar ya.
Ketinggalan di mana?
- Di ruang makan. - Oh…
Len?
Lena?
Parah ini, Bob!
Bobby kenapa?
Tidak tahu.
Tiba-tiba demam.
Jangan pakai air dingin.
Nanti tambah demam.
Ganti pakai air hangat.
Masa?
Sini.
Sebentar ya.
Tolong.
Jangan keluar.
Kita semua dicari.
Mereka cari kita.
- Bob? - Awas!
- Jangan sampai ketemu! - Bob, sadar kau!
- Tolong! - Bob! Bobby!
Ada yang ketuk jendela, Min?
Tidak ada, Bob, kau cuma mimpi.
Mereka ada banyak.
Di kebun pisang.
Ada banyak pocong gantung.
Tidak menapak tanah.
Percaya sama aku, Min.
Kita semua bisa mati.
Bobby.
Tunggu dulu, Bob.
Bob. Bobby!
Kau mau ke mana?
Min.
Ayo.
Ikut aku.
Bereskan barangmu. Ayo!
Tidak bisa, Bob.
Kita baru pindah.
Sudah bayar kos di depan, 'kan?
Bob, tunggu dulu. Bobby.
Lo, Bob?
Mau ke mana?
Mohon maaf, Pak, Bu.
Aku tidak betah.
Aku pulang dulu.
Bob, mau ke mana? Sudah malam ini.
Kalau tidak betah, bicara saja sama Bapak ya?
Tempat ini angker, Pak.
Bob.
Di sini tidak ada apa-apa, Bob.
Ya, 'kan, Bu?
Ya.
Kalau kau mau pergi, besok saja.
- Ini sudah malam. - Ya.
Atau tunggu saja
kalau ada yang mengisi kamarmu.
- Ya? - Bob?
- Bob. - Mau ke mana, Bob?
Sudah, Bu.
Awas.
- Bob? - Bob!
Lampunya mati, Bu.
Pak.
- Rian, Pak. Ayo. - Ya, ayo.
- Rian? - Yan?
Rian!
Aduh, ini kenapa, Pak?
- Rian! - Bu, tangannya!
Kenapa ini, Pak?
Tidak tahu, Bu.
Hei, Yan! Rian!
- Rian! - Rian!
Rian, Bu.
- Rian… - Rian?
- Kenapa Rian? - Rian!
- Rian! - Rian…
Aduh…
Rin?
Hei.
Kau sakit?
Ya.
Saat bangun, tiba-tiba demam.
Semalam tidak apa-apa.
Padahal aku jarang sakit.
Ada apa?
Punya obat nyeri buat datang bulan tidak?
Aku biasanya tidak sakit, tapi ini, aduh, sakit banget.
Sama…
Obat buat pusing?
Ada.
Tapi obat pusingnya di laci ruang tengah.
Yang di depan jendela.
- Ya? - Oke.
Kak.
Obat sakit kepala di sini, 'kan?
Ya.
- Kenapa, Kak? - Tidak tahu.
Sakit banget giginya.
Sudah habis.
Sudah diminum sama yang lain.
Tapi…
Kok aneh banget ya?
Bangun-bangun pada sakit semua.
Coba…
Minta sama Bu Astri saja.
Bu Astri?
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Len?
Ada apa?
Mau minta obat sakit kepala, Pak.
Oh, sebentar ya.
Rian kenapa, Pak?
Tidak apa-apa.
Lain kali jangan menyelonong masuk ya.
Ya. Maaf ya, Pak.
- Ya. - Permisi.
Silakan.
Kak, ini ada bubur buat Kakak.
Sama-sama, Kak.
Slamet?
Kau di mana?
Slamet?
Kau kenapa?
Lena mana?
Kau juga dengar, 'kan?
Suaranya kayak dari kebun.
- Ya sudah, ayo. - Ayo!
- Lena? - Len?
- Lena! - Len!
Len?
- Lena? - Len? Lena!
- Lena? - Len.
Len.
Len, ada apa?
Sedang apa di sini?
Lena?
Ada pocong…
Pocongnya…
Digantung.
Len, ini ya.
Sudahlah, Len.
Kau itu salah lihat.
Kak.
Aku sungguh lihat.
Tapi bukannya Bobby pernah bilang ya
kalau dia sempat…
Melihat yang aneh-aneh?
Ya ampun, Min, Bobby itu penakut.
Dia cuma lagi parno sendiri saja.
Tidak ada apa-apa kok di sini.
Aku sudah tinggal enam tahun di sini.
Aman, tidak ada apa-apa. Sudah deh.
Len?
Kau istirahat saja ya?
Sudah ya?
Kau yang tenang.
Aku di sini kok.
Tidur ya.
Rina?
Rina. Rina!
Rina, kau kenapa?
Pocong.
Sumpah, aku lihat sendiri.
Jadi, Bobby memang benar?
Jadi, sekarang kau juga terpengaruh, Rin?
Sudahlah.
Yang kayak begitu itu tidak ada, sudah deh.
Ben.
Ini sudah dua orang yang lihat.
Tetap tidak percaya?
Kalau kau tidak percaya sama aku,
percaya atuh sama adikmu!
Halo, Nak.
- Ya, Pa. - Kenapa?
Jadi…
Aku kepikiran buat pindah kos.
Kau baru mulai kuliah, Len.
Kau di sana buat belajar.
Bukan memikirkan hal yang tidak-tidak.
- Tapi, Pa, aku takut. - Sudahlah.
Pindah kos itu perlu biaya.
Kita tidak ada uang buat itu.
Kakakmu di sana?
- Papa mau bicara. - Ya sudah.
Kak Ben.
Papa.
- Halo. - Halo, Pa?
Tidak ada pindah-pindah kos.
Kau harus membuat adikmu betah.
- Fokus kuliah yang benar di sana. - Ya.
- Mengerti? - Ya sudah.
Menyusahkan saja.
- Maaf, Kak, tapi aku takut… - Takut apa?
Len, itu semua cuma ada di pikiranmu.
Dari dulu, apa pun itu,
selalu aku yang kena semprot gara-gara kau.
Tidak usah bikin ribet.
Kak!
- Len? - Lena.
Kita coba bicara sama Bu Astri dan Pak Wiryo saja ya?
Siapa tahu mereka tahu sesuatu.
Ya.
Terus mungkin kita bisa minta bantuan sama Pak Ustaz kenalanku.
Ya sudah.
Maaf ya, makanannya rawon lagi.
Tidak apa-apa, Pak.
Kami juga selalu suka kok rawonnya Ibu.
Dan pas pula lagi tidak enak badan pula kita ini, 'kan?
Mas Rian ke mana, Pak?
Kenapa tidak ikut makan?
Oh, lagi tidak enak badan.
Bu?
Ibu tidak apa-apa?
Tolong ya, kalian semua bantu Ibu
supaya…
Penghuni kos ini lengkap sepuluh lagi.
Jadi,
kalau Ibu dan Bapak tidak keberatan,
kami
mau minta ustaz
- untuk datang ke sini. - Tidak usah.
Ibu tidak pernah lihat apa-apa di sini.
Ya, tidak ada apa-apa di sini.
Kau jangan bawa-bawa takhayul. Ya?
Ya.
Dan tidak perlu ustaz ke sini.
Kalian semua masuk saja ke kamar.
Kami masih banyak urusan.
Biar kami bantu cuci piringnya, Bu.
Kasihan Ibu lelah.
Ibu tidak suka piring-piring Ibu disentuh.
Ibu kenapa ya?
Tidak pernah Ibu marah begitu.
Rin.
Ibu kalau mencuci memang harus ke gudang belakang ya?
Maksudnya?
Memangnya
di sana ada tempat buat cuci piring ya?
Tidak tahu.
Setahuku, itu gudang barang-barang tidak terpakai.
Selalu dikunci.
Yuk.
Rin!
Rin, mau apa?
Itu apa?
Rin…
Len, yuk.
Yuk.
Barusan itu suara apa?
Kok aneh banget ya suaranya?
Tidak tahu.
Kita cek lagi saja.
Rin.
Besok kita tanya saja sama Ibu.
Malam ini,
kau tidur lagi saja ya di sini?
Oke.
Rin?
Aku tidak masuk kelas pagi.
Kau jalan sendiri ya?
Badanku pegal-pegal banget.
Rina?
Rina?
Rina?
Rin? Rina!
Tolong!
- Rin! - Rina!
Rin. Rina.
- Rina. - Ben?
Bagaimana, Ben?
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Rina…
Rina…
Hasil pemeriksaan menunjukkan
serangan jantung sebagai penyebab kematian.
Tapi selama ini, Rina tidak ada riwayat sakit jantung.
Ya, Rina juga masih muda.
Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,
tapi Tuhan berkehendak lain.
Ikhlaskan Rina, Pak.
Rina.
Yamin.
Kenapa, Len?
Temani aku.
Ada apa?
Aku dan Rina pernah dengar suara aneh dari gudang belakang.
Mungkin itu tikus. Biasa, 'kan, di sini?
Tapi suaranya kayak bukan suara tikus.
Aku cuma ingin tahu
di sana ada apa?
Kenapa Ibu selalu bawa alat makan Ibu ke sana?
Aku cuma kepikiran sama Rina.
Takutnya dia ke gudang itu sendirian,
melihat sesuatu kaget atau gimana, makanya bisa kena serangan jantung.
Di sana cuma gudang biasa.
Untuk menyimpan peralatan makanan yang besoknya Ibu cuci.
- Pak, Rian. - Ya, Bu.
Sudah, kalian keluar saja.
- Pak! - Ya, Bu.
Len.
Ayo balik ke kos.
Hei, Len!
Makin aneh lo.
Mana ada orang yang mau menempati kamar bekas orang mati.
Bikin kamar yang baru, Pak.
Bu, sudahlah.
Ini harus berhenti.
Tidak bisa, Pak.
Tidak bisa.
Len.
Rian sebenarnya sakit apa ya?
Kenapa tidak coba dibawa ke rumah sakit?
Tidak tahu.
Yuk.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Mau ke mana, Pak?
Mau ke tempat ibadah.
Sudah saatnya.
DI SINI SITUASINYA TIDAK JELAS.
RIAN SAKITNYA ANEH. BAPAK DAN IBU JUGA ANEH.
KITA SEMUA SAKIT-SAKITAN DI SINI.
Kak?
Kak Benhur?
Kenapa kau?
Apa lagi?
Kak.
Bu Astri.
Dia cincang tikus di dapur.
Buat apa cincang tikus? Kau salah lihat.
Kak, sumpah.
Ada yang tidak benar.
Bu Astri sama keluarganya.
Ada yang janggal.
Sudahlah. Tidak usah halu kau.
Kak.
Kalau Kakak tidak percaya, ayo kita lihat bersama.
- Ayo! - Apa?
Kenapa, Kak?
Tidak pernah percaya sama aku.
Aku suka di sini, Len.
Bu Astri, Pak Wiryo.
Mereka lebih peduli sama aku daripada Papa.
Sekarang aku tanya sama kau, Len.
Papa cuma bisa apa ke aku?
Menyuruh cepat lulus. Biar apa?
Biar aku dapat kerjaan, lalu dapat uang, dan bisa membiayai kuliahmu, begitu?
Daripada aku menanggung yang bukan bebanku,
mending aku di sini saja, tidak lulus-lulus. Enak.
Dan kau.
DI sini malah ganggu kenyamananku.
Maaf, Kak.
Aku tidak pernah tahu.
Aku juga…
Sebenarnya bingung di rumah itu.
Mama dan Papa
sering ribut masalah keuangan.
Ya ampun, Len. Dari dulu juga kayak gitu, 'kan?
Makanya selalu aku, aku, dan aku yang dibebani.
Tapi sekarang beda, Kak.
Mama sakit kanker.
Sudah tiga bulan.
Mama tidak mau Kakak tahu.
Takut Kakak kepikiran.
Aku juga sebenarnya tidak mau menambah beban Kakak.
Tapi aku…
Butuh tempat buat cerita.
Cuma Kakak saudara yang aku punya.
Kumohon.
Percaya sama aku, Kak.
Ya. Ya, Pak Ustaz.
Air doa dari Pak Ustaz, malam ini akan aku siramkan.
Ya. Terima kasih, Pak Ustaz.
Aku tidak akan membiarkanmu
mengambil nyawa orang-orang di sini.
Ayo, kau di mana?
Aku tidak takut!
Asyhadu…
Asyhadu inna illa…
Kak?
Itu suara si Slamet, 'kan?
Ya, kayaknya.
Kenapa?
Tidak tahu.
Cek dulu deh. Dari kebun kayaknya.
Kak.
Met?
Slamet?
Met?
Bapak. Bapak…
Bapak!
Kenapa itu?
Cepat!
- Kak Benhur! - Ben?
Ibu.
Ada apa ini? Ada apa?
- Ada apa… - Bu…
Bapak!
Bapak!
- Bu… - Bu.
Bapak!
Bapak!
Bapak…
Bapak…
Bapak…
Bapak.
Kenapa mati duluan, Pak?
Kenapa, Pak?
Bapak…
Masih belum mau ketemu.
Tadi pas kita mau kubur Bapak,
Ibu kayak keberatan.
Kenapa ya?
Itu tadi cara memakaminya benar tidak?
Bapak dan Ibu Islam, 'kan?
Aku tidak pernah liat mereka salat.
Ibu juga tadi tidak ikut sembahyang, 'kan?
Maksudnya salat jenazah?
Oh ya, aku baru ingat.
Kalau bulan puasa,
tidak pernah kutengok mereka puasa.
Sudah.
Tadi aku bantu mengurus dokumen.
Aku lihat di KTP-nya. Islam kok.
Tapi yang bikin aku heran,
kenapa Bapak sampai bunuh diri?
Ada yang tidak wajar di sini.
Aku…
Belum cerita sama kalian.
Aku…
- Kenapa mati ya? - Ada apa ini?
Aku cek dulu deh ke garasi.
Bu.
Ya.
Ibu cek dulu, ya.
Bapak.
Kenapa, Pak?
Len?
Kau kenapa?
Kau takut?
Atau begini saja.
Kita ke kamarku sekarang, ya?
Ada lampu darurat di sana.
Ayo.
Yo, Ben?
Bu.
Tolong ya, dicek MCB-nya.
- Ya, Bu. - Ya, Bu.
Nah, ini lo.
Lihat.
Coba lagi.
Coba.
Kenapa, ya?
Pocong!
Pocong!
Ayo keluar dari sini!
Sudah, ayo!
Ayo bantu!
Ayo!
Satu, dua, tiga!
Tutup!
Tutup sekarang!
Bu.
Itu apa, Bu?
Kok lampunya tidak menyala juga?
Aduh.
Aku cek dulu saja ya. Sebentar kok.
Tapi Kakak ikut. Temanilah aku.
Ya sudah, aku temani.
Yuk.
Ada apa, Han?
Han?
Ada apa?
Ayo.
Kalian kenapa?
Kak! Jangan, Kak!
Mendingan sekarang keluar!
Ayo! Ayo keluar, cepat!
Bu.
Tenang ya, Bu.
Kak Benhur!
Kak.
Ada apa?
Tadi…
Tadi kita lihat…
Pocong.
Yo, tunggu.
Izin dulu sama Ibu, Yo. Izin dulu sama Ibu.
Ibu tidak mau diajak bicara.
Kita harus bikin keputusan biar selamat.
Tidakkah kau lihat Rina dan Pak Wiryo?
Kalian mau mati, lama-lama di sini?
Sudah, Mi.
Ikut kami saja.
Yamin, Lena. Ayo.
Aku harus bilang sama orang tuaku dulu.
Ya sudah.
Berkabar ya, Ben.
Coba lihat.
Bu, percaya sama aku.
Aku mau pulang ke Jakarta.
Kau sudah semester terakhir. Skripsi.
Tidak ada pulang.
Tapi, Bu, aku mohon. Bu?
Halo?
Halo, Ibu?
Memang kalau kita pergi, mau ke mana?
Mau mencari kos baru? Aku tidak ada biaya lagi.
Kalian juga, 'kan?
Tunggu.
Kata Hani, di kosannya yang baru masih ada yang kosong.
Apa?
Mas Aryo mau bantu bayar dulu buat kita.
Ya sudah. Ayo kalau begitu.
Ben…
Bu. Ibu.
Bu.
Sebenarnya di sini ada apa, Bu?
Ibu juga tidak tahu.
Tapi Ibu mohon,
kau jangan pergi dari sini.
Ibu cuma sendirian.
Dan Rian sedang sakit.
Kami baru ditinggal Bapak.
Ibu mohon, Ben.
Ibu mohon.
Tapi ini tidak bisa dibiarkan, Bu.
Kita harus minta tolong sama orang yang mengerti.
Cari tahu dan minta diusir.
Ya.
Bu, kebetulan ada ustaz yang aku tahu dari teman.
- Bagaimana? - Tidak.
Tidak usah.
Ibu juga punya kenalan ustaz.
Dan Ibu bisa bawa ustaz itu ke sini.
Halo?
Benhur? Aku Bobby.
Bobby!
Aku dapat nomormu dari teman kampus.
Soalnya aku tak bisa menelepon Yamin.
Bob, ponselku rusak.
Kau sudah baca surelku?
Min, ya, sudah kubaca.
Kau masih di kos, Min?
Ya, Bob, di sini parah.
Cepat pergi.
Keluar.
Ada yang pakai ilmu hitam di sana.
Aku pulang kampung, diruwat.
Dibersihkan dari energi negatif dari sana.
Yang meruwatku bilang,
ada yang pakai ilmu hitam di sana!
Bahaya buat semua, Min!
Tapi Ibu lagi panggil ustaz.
Pergi sekarang juga kalau tidak mau ada yang mati.
Sekarang aku di jalan, jemput kalian.
Sebentar lagi aku sampai.
Min. Yamin?
Min. Yamin?
Ibu?
Kau mau ke mana?
Maaf, Bu.
Kita tidak bisa tinggal di kosan ini lagi.
Lalu, kau mau pergi sekarang?
Ya, Bu.
Kak?
Sudah pada bangun, ya?
Ayo, makan dulu.
Nak.
Ibu suapkan kau ya.
Kenapa?
Ibu main ilmu hitam.
Ibu cuma menjalani kepercayaan Ibu saja.
Sama seperti kalian semua.
Punya agama.
Sekarang, kalian makan ya.
Makanan ini
yang biasa Ibu masak
setiap malam minggu.
Makanan ini Ibu bikin
dengan sepenuh hati.
Dengan ramuan dan bumbu spesial,
Ibu bisa bikin kalian selalu kangen masakan Ibu.
Setiap suapan sendok di mulut
bersentuhan dengan piring dan mangkuk
supaya iblis bisa makan sukma kalian.
Bu…
Ibu.
Aku bukan ibumu.
Ibumu sedang sakit
dan kau tinggalkan dia di Jakarta.
Kau lari dari tanggung jawabmu sebagai anak.
Kau tidak peduli sama mereka.
Sama kayak tuhanmu.
Yang tidak peduli sama aku.
Dulu, aku percaya.
Tapi sekarang, tidak.
Desaku dihancurkan.
Keluargaku dirampok.
Katanya melindungi.
Apa itu "melindungi"?
Omong kosong.
Tuhan mengambil semuanya.
Tapi iblis memberiku kehidupan baru
dan keluarga baru.
Aku berikan segalanya untukmu,
hidup dan matiku untukmu.
Iblis begitu baik.
Baik sekali.
Bahkan dia memberikan Rian
sebagai tanda kasih kepada kami.
Dan kami harus memastikan
tersedianya sukma yang cukup
Sepuluh.
Sepuluh.
Dan seterusnya.
Kalau kurang dari itu,
Rian akan sakit-sakitan.
Dari awal berdirinya kos-kosan ini,
tidak kurang dari sepuluh.
Kalau kurang dari itu,
aku harus mencari empat jiwa untuk aku persembahkan kepada iblis.
Tapi karena Bobby pergi,
Rina menjadi korbannya.
Dan lain-lainnya ikut-ikutan.
Ini karena kau
suka ikut campur yang bukan urusanmu.
Makanya badan kalian jadi sakit-sakitan semua.
Karena energi kalian
diserap oleh iblis.
Dan iblis marah sama kalian.
Dan Bobby sudah siap untuk dihidangkan.
Sekarang,
giliran kalian.
Min. Yamin?
Yamin…
Len.
Kak.
Kita bakal mati.
Maaf.
Aku tidak pernah tahu apa yang kau hadapi di rumah.
Aku cuma memikirkan diri sendiri, Len.
Kau tidak sendirian.
Aku akan selalu ada.
Kayak waktu kita kecil.
Menjagamu.
Kita keluar dari sini.
Kita ketemu ya.
Sama Mama.
Sama Papa.
Oke?
Len.
Benhur?
Ben.
Di kamar sebelah.
Di atas meja rias.
Ada gunting.
Sebentar.
Len, kita selamatkan Yamin.
Kita pergi dari sini, oke?
Kunci kamar di dalam laci!
Ayo.
Mas.
Ibu bawa Yamin ke mana, Mas?
Mungkin di gudang.
Ayo, Len.
Len.
Sebentar.
Len, coba kau cari sana.
Ya, Kak.
- Len, ayo. - Ya.
Satu santapan sudah siap dimakan.
Kalau masih kurang, masih ada satu lagi.
Kalau mau dua-duanya,
semua juga siap dimakan.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu sehat.
Tetap sepuluh, semoga selalu…
Yamin, Len!
Yamin!
Yamin, bangun!
Yamin!
Kak, bantu talinya Kak.
Yamin.
- Awas, Yamin! - Min…
Ayo.
Ayo, Len.
Balik, buruan!
Ayo.
Min!
- Di sana, ke sana! - Ayo!
Kak!
Di mana ini?
- Len, ayo. - Sebentar, Min.
Bisa?
- Min. - Ayo, Min.
Kak, ini di mana?
Kayaknya kita jauh di belakang.
Lalu, bagaimana?
Kayaknya ke sana deh.
Ya sudah, ayo.
- Ayo. - Ayo, Min.
Kak.
Ini kita ke mana?
- Ben. - Kak!
Ayo, Min.
Tempat apa ini?
Bobby?
Aku minta maaf, Bob.
Yang kau bicarakan semuanya benar.
Bu.
Bu.
Jangan, Bu.
Yamin!
Pas.
Kalian lari ke tempat ritualku.
Di sini,
mayat kalian akan aku persembahkan.
Di sini,
kalian akan mati.
Aliran Ibu sesat.
Ibu kejam.
Harus ada yang menghentikan Ibu.
Siapa?
Kau?
Len.
Sudah.
Jin setan Banaspati, kemarilah.
Ini ada buat kau.
Wujud jiwa manusia.
Sajian yang satu sudah siap.
Stop, Bu!
Jangan diteruskan, Bu!
Aku tidak mau
orang mati gara-gara aku, Bu!
Ini semua untukmu!
Aku tidak mau, Bu!
Kau harus mau!
Bu.
Terima kasih, ya.
Untuk semuanya.
Sekarang sudah selesai.
Rian!
Rian!
Rian!
Kak!
Seorang ibu
akan melakukan apa saja untuk anaknya.
Karena anaknya itu adalah dunianya.
Sekarang,
Ibu sudah tidak punya dunia itu lagi.
Ibu ikut kau, Nak.
Ibu ikut kau!
Maafkan Ibu dan Bapak ya, Nak.
Ibu tidak percaya sama kau.
- Ya, Pak? - Ya.
Benhur, Lena.
Bagaimana keadaanmu?
Kata dokter apa?
Sudah teratasi, Pa.
Aman.
Pa…
Maafkan aku ya.
Ma.
Kau…
Kau tidak salah.
Papa yang salah.
Maafkan Papa.
Maaf.
Maafkan Papa.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.