Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mas.
Ya, bisa dipasang dulu.
- Di sini tidak apa-apa, Mas? - Tidak apa-apa.
Oke, jadi…
Ceritanya mungkin bisa dimulai?
Silakan.
Kejadiannya itu tahun 2016, Mas.
Kebetulan aku masih menjabat sebagai Ketua Dewan Ambalan
dan memang acara kemah ini diadakan satu tahun sekali.
- Oke. - Ya, semacam…
Ya, acara rutin sekolah, Mas.
- Mas Wahyu… - Ya?
Tahu dari mana ya, Mas, soal…
kesurupan massal di acara kemah kami?
Kalau itu, aku tahu dari temanku.
Dan kalau kata temanku, setiap setahun sekali kalau tidak salah,
Mas Miko selalu bawa temannya ke tempat kemah itu dulu.
Nah, itu ada rumor yang beredar kalau Mas Miko itu belajar ilmu.
Pesugihan segala macam, itu…
Jadi, ini wawancara buat apa, Mas?
Buat meluruskan yang tadi temannya Mas bilang?
Tidak, Mas.
Sebenarnya aku sedang menulis buku dan…
cerita Mas Miko cukup menarik, jadi, ya, ini riset saja.
- Buat buku, Mas? - Buat buku, ya, benar.
Ini.
Nah, ini.
Kita memang mencari tempat yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Tempat yang jarang dikunjungi.
- Nah, ini. - Oh, ya.
Ini.
Ini awalnya masih semangat sekali menyiapkan acaranya.
Kami sama sekali tidak menyangka…
bahwa kejadian di sana akan mengubah hidup kami semua.
Ini.
Ini Rini, Mas.
Kalau saja aku tahu akan sampai seperti ini, Mas,
aku tidak akan biarkan dia ikut.
Ini.
Kenapa memaksa? Sudah tahu asma.
Memaksa bagaimana?
Memaksa latihan lari terus.
Sudah tahu hari ini ambil nilai lari sama Pak Karso.
- Kemarin masih latihan sendiri. - Ersa.
- Memang aku tidak tahu? - Ya, bagus.
Ya, justru biar nilainya bagus, 'kan?
Alah, ingin nilainya bagus atau biar tidak pingsan di kemah?
Kenapa, Rin?
Kau mau membuktikan kepada siapa?
Ya, aku cuma ingin regu kita tidak kalah, Nay.
Gara-gara aku lagi.
Yang seperti itu tidak usah dipikirkan, Rin.
Tidak menang juga tidak apa-apa.
Tapi sekali-sekali aku ingin dianggap sama seperti yang lain.
Bukan menjadi beban.
Rin.
Kalau aku ya,
yang penting nanti waktu kemah, tidak ada dedemit di tempatnya.
Coba kau bayangkan.
Kesurupan di tengah hutan, siapa yang menolong? Ya, 'kan?
Ya, aku lebih baik pingsan daripada kesurupan.
Aku lebih baik tidak dua-duanya.
Oh ya, kau enak.
Kalau pingsan, ada Mas Miko-mu itu.
Yang nanti bantu gendong.
Ditolong sama Mas Miko.
Makanya kapan jadiannya?
- Bisa diam tidak? - Rini.
Bercanda terus sama Nayla itu untuk apa? Sudah sembuh berarti ya?
Ayo, ambil nilai lagi. Ayo.
Ayo.
Ya, Pak.
- Bagus ini. - Ya, Mas.
- Hei! - Ya?
Bilang ke teman-teman kalau tahun ini berkemah ke selatan.
Siap, aman.
Bagaimana?
Anu…
- Kenapa? - Bagaimana ya?
Mbah Sonto sudah mau bertemu.
Sial. Sebentar.
Mas?
Ayo.
- Sudah? - Ya.
Ayo.
Mas, nanti tolong dibantu bicara ya.
Soalnya kita sudah tidak ada pilihan lain, Mas.
Di Bantul tidak apa-apa 'kan, Mas?
Soalnya di utara sudah penuh.
Di daerah barat juga hujan terus, Mas.
Tenang saja, aku bantu.
- Ayo. - Ya, Mas.
Tidak boleh.
Sekali tidak boleh, ya tetap tidak boleh!
Sudah tidak ada lagi yang berkemah di sana.
Seharusnya malah sudah ditutup.
Sesepuh desa yang dulu
sudah memerintahkan.
Malah bermasalah dengan pihak Perhutani.
Maaf, Mbah.
Acara ini sudah menjadi acara tahunannya sekolah.
Yang ikut juga tidak banyak.
Aku penanggung jawabnya.
Aku jamin tidak akan terjadi apa-apa.
Mbah tidak usah khawatir.
Hanya tiga hari saja.
Mbah.
Aku mohon, Mbah.
Tapi kami ini sudah tidak ada pilihan lain, Mbah.
Kami juga sudah tidak mungkin memundurkan jadwal yang sudah dibuat, Mbah.
Ini kita semua ini sudah siap berangkat minggu depan, Mbah.
Mbah.
Aku paham.
- Mbah khawatir. - Ya, pasti aku khawatir.
Aku ini orang yang paling dituakan di desa ini.
Apa ada saran dari Mbah?
Aku akan bantu jaga
sampai selesai.
Ya, 'kan, Mik? Chan?
Ya, Mbah.
Jadi, kita kemahnya di Wana Alus.
Kalau siang tidak terlalu panas,
kalau malam juga tidak terlalu dingin.
Karena memang banyak pohon-pohon rindang di sana.
Ini kamar mandi untuk perempuan.
Yang laki-laki…
- Mandi di sungai saja, ya. - Wah… Tidak boleh begitu.
Tapi sesekali bergantian tidak apa-apa, 'kan, Kak?
Bersama Chandra saja bagaimana?
Sembarangan kau.
Ayo, serius.
Nah, ini masuk area sendang, area terlarang.
Jadi, tidak boleh sembarangan orang masuk ke sini.
Memang ini peraturan dari warga setempat.
Apalagi pasang tenda di sini, tidak boleh.
- Ya? - Nah, dengar itu.
Nanti kita akan melewati permukiman warga.
Ini katanya tempatnya seram lo.
Setelah itu kita akan menyeberangi…
- Tempat orang cari wangsit. - …jembatan ini.
Nanti jangan…
Sejak ada kesurupan massal tahun 2004,
tempatnya diminta tutup sama warga sekitar.
Tapi beritanya menghilang begitu saja.
- Terus lagi, ada… - Sudah. Sut.
Tidak usah dicari-cari, nanti malah kepikiran sendiri.
Tenda putra dan tenda putri dipisah.
Nanti semua peralatan kalian kita kumpulkan besok, sekalian dicek, ya?
Sekarang kita bahas selama di sana akan melakukan kegiatan apa saja. Ya?
Ini sleeping bag, ini baju-baju.
Sleeping bag, tenda, sudah, ya.
Ya sudah, aman.
Ini sleeping bag, ini…
Barang-barang yang tidak penting tidak usah dibawa.
Ya, Kak.
Tapi, Kak, ini…
Ini isinya obat-obatanku semua, Kak. Ini penting sekali untukku.
Kau mau kemah atau mau buka apotek?
Kalau selemah ini, lebih baik di rumah saja.
Yakin kuat?
Sudah, tidak usah. Ada di UKS.
Ini lo.
Yang sudah dicek bawaannya, siap-siap latihan, ya.
Kita ada geladi resik dulu sebelum pulang, ya?
- Ya, Kak. - Ya, Kak.
Nyatanya sang pangeran Raden Mas Agung belum siap
menanggung dosa besar pada ayahnya,
Prabu Amangkara.
Dia juga tergoda akan pesona kekuasaan yang dijanjikan.
Lepas! Jangan!
Maka Roro Putri harus berhadapan dengan sang pangeran
Raden Mas Agung, untuk yang terakhir kalinya.
Dan pada akhirnya, Roro Putri pun menangis tanpa henti
mengetahui laki-laki yang selama ini amat dicintainya
tega menghunuskan keris pada tubuh lemahnya.
Jangan!
Kiki? Ini…
- Minta tisu. - Ki?
- Ada apa, Ki? - Hei, minta tisu.
- Ki? - Mik… Miko.
- Apa? - Bawa ke UKS.
Ayo.
- Hei, titip ya! - Ya.
Mas, ini masih mau dilanjutkan latihannya?
Untuk karakter Roro Putrinya bagaimana, Mas?
Sudah, hari ini selesai dulu.
Nanti biar kupikirkan masalah Roro Putri.
Ya, Mas.
Teman-Teman. Hari ini latihannya kita selesaikan dulu.
Lanjut besok lagi.
Jangan lupa jaga kesehatan, ya.
Siap, Mas.
Pulang duluan ya, Rin.
- Oh ya, hati-hati. - Dah.
Ayo, Nay.
- Dah, Nay. - Dah.
Nay.
Bagaimana tadi Kiki?
Sampai UKS, dia langsung segar.
Bilangnya mau ikutan latihan lagi, tapi tidak diizinkan.
- Sudah pulang kok. - Dah, Nay.
Dah.
Selasa Kliwon.
Sepertinya dia takut. Takut digantikan oleh orang lain.
- Benarkah? - Rin? Rini?
Kau sudah mau pulang?
Ya, Mas. Sudah boleh pulang, 'kan?
Boleh.
Suka ceritanya?
Suka.
Siapa karakter yang kau paling suka?
Kalau aku,
aku paling suka sama Roro Putri.
Karena walaupun dia kelihatannya lemah,
tapi sebenarnya dia yang paling kuat, Mas.
Buktinya setelah Roro Putri meninggal,
satu kerajaan ikut runtuh.
Kau benar.
Memang karakter Roro Putri ini penting.
Dan tidak semua orang bisa mainkan.
Tidak boleh sembarangan.
Nah, di sini Mas lihat,
yang wetonnya pas selain Kiki, itu kau.
Kau mau ya, gantikan Kiki?
Aku…
Aku takutnya aku tidak kuat, Mas.
Lagi pula, bahasa Jawa halusku tidak sebagus Kiki.
Kalau itu, kau tidak usah takut.
Mas pasti bantu.
Begini…
Kau menjadi cadangannya Kiki saja.
Kita tidak tahu kapan Kiki bisa latihan lagi, 'kan?
Mas, kalau Rini sudah pasti bisa, ya?
Naskahnya dibaca bolak-balik sampai keriting sama dia.
Nanti aku bantu juga tidak apa-apa.
Ya, Rin?
Roro Putri!
Mik! Apa-apaan kau ini? Berisik.
Ada apa denganmu? Sejak tadi kau murung.
Sedang memikirkan apa, Rin?
Sudah, tidak usah memikirkan aku. Aku ada di sini kok.
Ada apa, Rin?
Persiapan pementasan dan kemah bagaimana?
Aman?
Kau tidak usah khawatir, Rin.
Ada aku.
Ada apa denganmu, Mik?
Sama saja seperti teman-temanku yang lain.
- Maksudnya? - Ya, begitu.
Selalu anggap aku lemah.
Selalu perlu dibantu, seperti anak bawang.
Siapa bilang begitu, Rin?
Aku tidak pernah bilang begitu kok.
Malah ya, Rin.
Menurutku, kau itu hebat.
Kalau ada yang kau mau, pasti kau kejar.
Seperti kemarin.
Kau sampai hampir pingsan, 'kan?
Gara-gara ikut lomba lari?
- Kok tahu? - Kau bukan anak bawang, Rin.
Kalau bau bawang, ya.
Mik, apa-apaan kau? Menyebalkan sekali.
Miko, sini!
Aku besok berangkat duluan, ya! Nanti lusa lagi!
Run putih, run jiro, bangunlah, ada sesuatu yang harus dikerjakan.
Kalian berdua, kalian ikuti apa yang jadi keinginanku.
Supaya semua diberikan keselamatan dan kebaikan,
diberikan keamanan dan ketenteraman
di dalam batin dan rasa, merasuk dengan kuat.
Keselamatan serta kekuatan sepenuhnya atas izin Tuhan.
Itu…
buat apa ya, Mbah?
Untuk orang Jawa, minta izin itu penting.
Minta izin. Permisi.
Ibaratnya kita ini datang ke tempat orang lain.
Nah, belum tentu yang punya tempat itu senang.
Ingatkan teman-temanmu, ya.
Tempat yang ini jangan dibuat kegiatan.
Ini bukan tempat kalian.
Ya, Mbah. Nanti aku sampaikan.
Jangan sampai tindakan kita melukai makhluk ciptaan Tuhan
yang lebih dulu tinggal di sini.
Apalagi yang hidup dan matinya ada di sini.
Satu lagi yang paling penting.
Sesajen yang sudah dipendam,
jangan sampai dibongkar.
- Ya, Mbah. - Ya sudah.
- Mbah Sonto titip pesan. - Ya?
Kalau di sini, kita tidak boleh sembarangan.
Ya, karena mereka memang hidup dan matinya duluan daripada kita.
Ya, memang.
Hei, Mbah.
Jangan jauh-jauh.
Yang di sana itu belum menerima sesajen.
Ya, Mbah.
Sudah, ayo.
Mbah.
Kita sudah diterima.
Jadi, kau dan teman-teman baik-baik di sini, ya?
Ya, Mbah.
Semoga acaranya sukses, lancar.
Ya.
- Terima kasih, ya, Mbah. - Ya. Mbah pamit.
Ya, Mbah.
Ayo, cepat.
Buat dua baris.
Chan?
Rini!
Malah turun.
Sebentar.
Ini.
Tidak apa-apa.
Aku tidak apa-apa, Nay.
- Apa kau pusing? - Ayo, cepat!
Ayo.
Jangan melamun.
Sisanya pada baris di sini, ya!
- Ayo, baris. - Ayo, Semua.
Terus jalan cepat, terus!
Ini ya yang kemarin Mbah Sonto bilang?
Permisi, Mbah.
Ya, Enduk, Le.
- Hati-hati, ya! - Ya, Mbah.
Ya.
Jangan lupa permisi, ya.
Ya.
Le, ayo.
Biarkan teman-teman lain yang membantu acaranya.
Ayo.
- Hati-hati. - Ya.
Beni.
Satu, dua, tiga.
- Ayo. - Hati-hati.
Ya.
Hati-hati.
Hati-hati, ya.
Rini!
Sedang apa kau?
Macet lo, ini!
Cepat!
Ayo, sudah.
Hati-hati.
Hai, Semua!
Halo!
- Di sini, ya! Ayo, semangat! - Ayo, semangat!
- Kelompok satu, dua, tiga… - Aduh, Nay, sebentar.
Yang di belakang jangan ketinggalan.
Toiletnya agak jauh, agak ke sana.
Tapi kalau mau ke toilet, harus beramai-ramai ya.
Jangan ada yang sendirian.
Kalau sudah masalah bersih tidak bersih…
Aduh!
Rin, tasmu, gila, berat sekali.
- Ini kelompok empat ya, Kak? - Oke.
- Ini lagi sibuk apa? - Hei.
- Jadi, kalau perlu obat, bisa cari aku. - Rin!
Kelompok empat, ya?
Ayo, sesuai regu masing-masing. Ayo, Rin, masuk!
Akhirnya hari yang dinantikan tiba juga, ya, Teman-Teman?
Dan selamat datang di acara perkemahan 2016!
Sebelum kita mulai acaranya, ada baiknya kita berdoa dulu.
Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Berdoa dimulai.
Amin.
Rin?
- Kenapa, Rin? - Tidak apa-apa, bangun.
Sudah.
Rin?
Kau kenapa?
- Kenapa itu? - Kenapa, Rin?
Rin?
Rin.
Kau sudah tidak apa-apa?
Kau tadi lihat apa?
Kau tidak mau cerita sama aku?
Tidak ada apa-apa kok, Nay.
Sudah pasti ini ada apa-apa.
Dari waktu di jembatan, perasaanku sudah tidak enak.
Benar, 'kan, tempat ini wingit.
Jadi, kau lihat apa?
Roro Putri?
Lo?
Lagi apa di dalam?
Dandan, ya?
Kata Mas Heru,
kau yang akan menjadi cadanganku buat Roro Putri, 'kan?
Dijaga baik-baik, ya.
Ya, walaupun tidak akan dipakai juga.
Apa-apaan kau ini, Ki?
Kita semua mau acaranya lancar.
Tapi tidak ada salahnya punya rencana cadangan.
Terserah kau.
Ini.
Tinggal memberi saja kok susah?
Sudah.
Mik, ini Lidya.
Copy.
Ada apa, Lid?
Ini kok ada peserta yang pasang tenda, ya?
- Di sendang. - Apa?
- Siapa? - Sebentar, kulihat dulu.
Miko? Mik!
Chandra! Miko, copy!
Ada apa?
Kau cari siapa?
Mik!
Miko!
Mik, HT-nya bocor, Mik!
Ada yang masuk ke channel kita, Mik!
Bukan aku yang masuk ke tempat kalian, tapi kalian yang masuk ke tempat kami.
Kalian semua pulanglah!
Pulanglah!
Halo, Mbak.
Kau mau minum, tidak?
Sebentar, aku mau antar ini dulu.
- Kiki? - Ayo, disuruh kumpul makan siang.
Ayo.
- Ya. - Ayo makan!
Itu, sudah pada kumpul.
Lidya, masuk?
- Hei, Lid! - Mik!
- Hei, ada apa? - Mik!
Ada yang aneh di sebelah sendang!
- Di sendang? - Ya.
HT-ku ini lo, ada suara…
Menyuruh kita pulang, Mik.
Hei, sudah.
Tenangkan dirimu, ya.
Kau balik saja.
Biar aku yang cek.
Ya sudah.
Hei, Lid.
Apa?
Tidak usah bilang siapa-siapa, ya?
Ya.
Ini…
Permisi.
Aduh…
Ayo!
- Ayo! - Diikat!
Talinya.
Tinggal lima menit lagi!
- Begini saja! - Ayo!
Kak!
- Saka pejuang putri, siap! - Cek dulu.
- Ini aman, 'kan? - Aman.
Juara satu!
Ayo!
Ayo!
Terus! Tarik!
Lihat belakang, tidak usah panik!
Regu empat!
- Kau tidak apa-apa? - Hore!
Satu, dua, tiga!
Kencangkan dulu!
- Ayo! - Cepat!
Tiga!
- Rin! - Rini?
- Tidak apa-apa? - Ya.
Regu Satu dan Regu Tiga!
Aman, 'kan? Tidak sakit?
Sekarang kita isoma dulu, lalu bersiap untuk lomba estafet, ya?
- Sudah disiapkan? - Sudah, di sana.
Sama Ambalan sudah?
Ayo.
Sudahlah, Rin, tidak apa-apa.
Kemahnya tiga hari. Besok kita lawan saja mereka.
Sudah, tidak apa-apa.
Kalah atau menang itu tidak penting.
Yang penting kau baik-baik aja, ya?
Kita menang terus!
Keren, ya, keren.
Lihat Rini?
Apa kalian lihat saat dia jatuh?
Seperti itu!
Ki, kau lemas sekali.
Apa kau sakit?
Kau sakit?
Aku sedang mens.
Seharusnya kuat kalau tidak menstruasi.
Kau terlihat lemas seperti Rini saja!
Jangan sembarangan!
Aku dan anak pindahan itu tidak selevel!
Sok-sokan mau menggantikanku menjadi Roro Putri. Mimpi!
- Tidak akan terjadi! - Tentu saja!
Aku mau ganti pembalut dulu.
Kenapa, ya?
Kenapa Rini yang menjadi Roro Putri?
Seperti tidak ada orang lain saja!
Jelas karena Miko!
Pasti dia bilang ke Mas Heru.
Apa benar mereka ini pacaran?
Apa kau tidak pernah memperhatikan?
Tidak.
Gosip saja dipercaya.
Tidak mungkin Miko mau sama orang yang kena angin sedikit langsung jatuh!
Ada-ada saja.
- Jorok sekali! - Memangnya kenapa?
Semua dibuang di sana.
Tapi itu bekasmu. Diikuti dedemit baru tahu rasa.
Kaget lo.
Dedemitnya yang aku ikuti!
Benar, ya?
Awas saja kalau sampai kau takut!
Siapa?
Mari kita ke lapangan bersama.
Istirahatnya sudah selesai.
Ayo!
- Lari! - Pelan-pelan!
Lari terus!
- Cepat! - Jangan mau ketinggalan!
Jangan mau ditinggalkan temannya, ayo!
Ayo!
Terus!
Ayo!
Ayo! Rini!
Rini!
Menang!
- Menang! - Rini!
Cepat sekali!
Hampir kita kalah.
Sedang melihat apa?
Tidak. Aku tidak lihat apa-apa. Bagaimana?
Chandra, tadi di dekat sendang, aku lihat perempuan.
Perempuan siapa?
Apa kalian mengerti?
Sudah tahu tempat ini banyak cerita seramnya,
tapi kalian malah cerita seperti itu?
Aku mengerti, Fen.
Makanya aku harus cerita masalah ini.
Kalau tidak, bisa gila sendiri aku.
Tadi di dekat sendang, aku lihat ada perempuan pakai kemban.
Masuk ke tenda dekat sana.
Pas aku cek di dalamnya, tidak ada siapa-siapa.
Yang lebih aneh lagi, pas aku keluar, masa tiba-tiba jadi malam?
Sudahlah, aku tidak mau dengar.
Kita masih punya banyak acara yang harus dikerjakan.
Sudah telat untuk lomba Semaphore.
Hei.
Teman-teman KKO dan Mas Heru sudah tiba, ya.
Fen, tolong diarahkan ya.
Mik. Mik!
Kenapa?
Sendangnya sudah dicek?
Sudah.
Ada yang aneh tidak?
Mungkin kau kelelahan, Lid.
Kurang tidur. Karena harus mempersiapkan acara ini.
Ini, sebentar.
Ini lo.
Vitamin.
Aku temui Mas Heru dulu, ya.
- Duluan, Chan. - Ya, Mik.
Mas?
- Hei, Mik. - Hai, Mas.
- Bagaimana, Mik? Lancar semua? - Aman. Lancar, Mas.
Di sini, Mas, ularnya.
Gigit aku.
Setelah kutebas, ularnya langsung hilang, Mas.
Kau sudah melakukan apa yang Mas minta?
Sudah, Mas.
Kok perasaanku tidak enak ya, Mas?
Ini… Beras kuning ini benar-benar bisa menjaga kita, 'kan, Mas?
Mik. Miko?
Ya, Chan?
Kau di mana?
Acaranya sudah mau mulai ini, ayo.
Sana. Nanti Mas susul.
Ya sudah, Chan.
Hati-hati, Mas.
Copy?
Ya.
- Mada. - Ya.
Ini.
Oke.
- Sudah hafal? - Ya.
Oke.
Catat, ya?
Dendam, darah, tangis.
D.
E.
- N. - Mada?
D.
A.
M.
M?
Lagi.
- D. - D?
Mada.
A.
R.
- A. - A?
H.
T.
A. N.
G. I.
S.
Nay, ini benar?
Yakin kau tidak salah baca?
Gerakan Mada begitu.
Dia akan bangkit lagi…
untuk membalaskan dendamnya.
Darah dan tangis
akan kembali tumpah di tanah ini!
Mada?
Mada!
Mada, astaghfirullahaladzim.
Turun, Mada!
Mada. Turun, Mada. Turun!
Mada!
Mada!
Mada!
Mada!
Mad. Mada?
- Mada! - Mada…
- Mad? - Mada!
- Sudah, Mad. - Mada…
Mad!
- Sudah, Mad. - Sudah!
Sudah, Mad!
- Ayo bantu. - Mada!
Pegangi, ayo.
Bantu!
Mada!
- Awas. - Tunggu.
- Pelan-pelan. - Angkat.
Satu, dua, tiga.
Mada.
- Mada. - Bagaimana ini, Kak?
Mas Heru!
Mas Heru! Tolong, Mas Heru!
Aku tidak tahu bagaimana awalnya.
Dia tiba-tiba lompat ke sungai, Mas. Bantu Mada.
Tolong, Mas.
Aku tidak mengerti.
- Tenang, Mas bantu. - Mas, ini…
Kalian tahan!
Hei!
Kau pikir kau ini siapa?
Kau yang seharusnya tunduk kepadaku!
Mada!
Mada!
Cari siapa, Nak?
Mada!
Rin? Kenapa, Rin?
Aku ke tenda dulu, aku pusing sekali.
Lepaskan aku! Lepaskan!
Kalian semua seharusnya dihukum!
Mada!
Aku tidak akan menuruti perintahmu!
Kau yang seharusnya tunduk kepadaku!
- Mas, ini bagaimana? - Lid…
Panggil Miko!
Mada.
Mada!
Ikutilah aku.
Permisi, Mbah? Mbah?
Ya, sebentar.
Mbah… Ada anak kesurupan, Mbah.
Ya, sebentar.
Mada.
Mada…
Astagfirullahaladzim.
Mada.
- Ki? - Kiki?
Kiki.
Ki?
- Kiki! - Ki?
Kiki.
Kenapa?
Kenapa kau menangis?
Maafkan kami, Tuan Putri.
Jangan biarkan kami mati.
Ampun, Tuan Putri.
Ampun, Tuan Putri.
Pulanglah, pulanglah pada jasad halus.
Semuanya, ayo bantu bawa ke UKS sekarang! Bawa ke tenda UKS!
- Satu, dua, ayo. Ayo. - Angkat ya.
- San? - Ayo!
- Tenang. - Ayo, bawa!
Bantu. Ayo, cepat!
Sembah cipta, sembah raga.
Semua atas kehendak roh.
Roh empat saudara kembarku datang.
Semua kejahatan yang datang, semua akan binasa.
Jin setan yang mengganggu, semua akan binasa.
Semua keinginan jahat akan kembali kepada yang berniat jahat.
Kembalilah ke alammu.
Kembalilah ke alammu.
Pergi.
Pergi.
Beraninya kau datang lagi ke tempat ini!
Ini bukan tempatmu!
Pergi!
Pergi kau!
Pergi kau!
Kau tidak pantas ada di sini. Pergi!
Kau tidak pantas ada di sini.
Kalian semua hanya sebatas tamu.
Tunggu…
pembalasanku.
Pergi!
Pergi!
- Kau yang… - Sudah…
- Kau yang seharusnya pergi! - Ampun, Tuan Putri.
Pergi kau!
Ampun, Tuan Putri.
Sembah cipta, sembah raga.
- Semua atas kehendak roh. - Ampun, Tuan Putri.
Semua keinginan jahat akan kembali kepada yang berniat jahat.
Roh sejati menjadi satu dengan kekuatan Tuhan.
Maaf, Tuan Putri.
Mas…
Mereka ini harus cepat dibawa pergi dari sini.
Maaf, Tuan Putri.
Awas turunan lagi, pelan-pelan.
Hati-hati ya, licin ini. Licin.
Kau ambil kanan, biar aku turun duluan, tidak apa-apa.
Aduh!
Ya ampun…
Mbah…
Ini kita harus bagaimana ya, Mbah?
Simbah balik duluan,
untuk beri tahu warga desa
supaya membuat jembatan darurat di sekitar sini.
Tapi Simbah harus jalan memutar, jadi, agak lama.
Kalian semua tunggu dulu di sini, ya!
Dan satu lagi, aku sangat minta tolong agar kegiatannya berhenti dulu,
sampai Simbah balik ke sini lagi.
- Ya? - Ya, Mbah.
Mbah.
Mbah tidak usah khawatir.
Aku yang akan jaga anak-anak.
Semoga tidak terjadi apa-apa.
Ayo, Mik, kita balik.
Semuanya. Ayo, Chan!
Balik ke kemah, balik sekarang!
Balik sekarang ayo pelan-pelan!
Balik. Ayo, sekarang balik!
Ini sebenarnya kenapa bisa sampai seperti ini ya, Mbah?
Simbah sendiri tidak tahu persisnya bagaimana.
Begini, kau tolong lihat sesajen yang kemarin.
Simbah khawatir ada yang membongkar itu, ya?
Lalu, temanmu yang perempuan dan disembah itu siapa namanya?
Rini.
- Hati-hati. - Awas licin ya, pelan-pelan!
Dijaga saja, ya.
Kau jaga yang namanya Rini itu!
Ya sudah, Simbah pamit dulu ya?
Ya, Mbah.
- Hati-hati, Mbah! - Ya.
Rin!
Kok tidak pakai ini?
Kenapa? Nanti kau masuk angin.
Ayo.
Ayo, pelan-pelan angkat!
- Mas Heru. - Mas.
Ayo istirahat dulu biar Mas yang jaga.
- Ya. - Oke, siap.
- Terima kasih ya, Mas. - Terima kasih.
Yang aku kagumi, Yang Maha Menerangi.
Engkaulah pemimpin, penguasa alam semesta.
Semoga bermanfaat, semoga menjadi satu harmoni dengan segalanya.
Salam hormat aku.
Maaf sudah meminta kau datang.
- Aku… - Apa…
yang ingin kau ketahui, Anakku?
Aku ingin sekali mendapatkan Wahyu Makutoromo.
Wahyu Makutoromo sudah dipegang
oleh salah satu anak yang ada di sini.
Bagaimana aku bisa tahu orangnya, Tuan?
Di hutan ini, ada tempat pemandian, sendang.
Bawalah anak itu ke sana.
Nanti Wahyu Makutoromo
akan muncul.
Kembali.
Dihabiskan makanannya.
Jangan ada yang tersisa.
Sedang apa kau?
Kok malah melihat orang? Dimakan.
Tadi kau tidak melihat waktu Mada kesurupan.
Dia loncat, Mik.
Aku cuma takut kalau menular, terus ada lagi yang lebih bahaya.
Mik, kataku lebih baik disudahi saja.
- Kau juga tadi lihat, 'kan, Chan? - Ya.
Begini saja…
Biar anak-anak peserta ini istirahat,
jurit malamnya tidak usah dulu malam ini.
Apa yang kau takutkan, Mik?
Lihat anak-anak.
Sudah pada lupa.
Ya, Mas, tapi tadi kata Mbah Sonto,
lebih baik kegiatannya dihentikan dulu, Mas.
- Ya, Mas. - Ya.
Apalagi Mada dan Kiki keadaannya masih seperti itu, Mas.
Kalian tidak percaya kepada Mas?
Untuk apa menunggu?
Apa Mada dan Kiki sadar?
Tidak, 'kan?
Lagi pula, Mas sudah kasih tahu Miko bagaimana caranya supaya aman.
Ya, 'kan, Mik?
Hei.
Kenapa? Sakit?
Obat sebanyak itu tidak ada yang diminum?
Biasanya aku
kalau makan, harus ada hiburannya.
Kau pikir kau siapa?
Tak punya salah apa-apa
Berujung mati
Ingin hidup bahagia, Tapi malah sengsara
Sudah tiba saatnya
Sungguh menyedihkannya hidupmu
Dosa apa yang telah kau lakukan, Kini dan dulu
Oh, Putriku
Sungguh malang hidupmu
Semoga ini akhir yang tepat, Meskipun penuh luka sayat
Maafkan aku, Tuan Putri.
Ampun, Tuan Putri.
Tuan Putri.
Ampun, sakit, Tuan Putri.
Ampun, Tuan Putri.
Lid.
Lid?
Tidak apa-apa, Lid?
Kenapa pada melihatku?
Ayo, bantu bawa ke UKS.
Lid? Kau tidak apa-apa, Lid?
- Ayo, sekarang, bawa. - Ya.
Ayo.
Buat yang lain, setelah ini, langsung istirahat di tenda.
Nanti pukul 00.00,
dibangunkan untuk jurit malam.
Mik, kok acaranya dilanjutkan?
Rin?
Kok belum tidur?
Temani aku ke kamar mandi ya, aku kebelet.
Untung tidak bocor aku tadi di jalan.
Ini kamar mandi jauh sekali. Mana seperti ini lagi.
Tapi tadi di jalan, aku jadi kepikiran sama artikel yang aku baca itu, Rin.
Benar, tempat ini seram.
Apa ada hubungannya ya sama kesurupannya Mada?
Dia kesurupan sampai luka-luka seperti itu,
tapi dia berperan seperti raja di pentas, ya?
Apa dia akting ya?
Masa akting?
Atau mimpi? Atau dia mimpi ya, Rin?
Akting sampai terbawa mimpi.
Aku tidak mengerti.
Rin. Rini?
Rin, ada ular!
Rini! Ada ular!
Rin, kau ini kok diam saja?
Ular itu besar sekali lo.
Aku tidak pernah lihat ular besar seperti tadi.
Enduk…
Sesungguhnya, kau tahu tidak
apa arti sawer itu?
Sawer atau ular
itu memberi tanda…
kalau tempat ini
sebenarnya dijaga oleh penguasa tujuh lapisan bumi.
Tempat yang seharusnya tidak dihuni manusia.
Kok kau jadi bisa Krama Inggil?
Rini?
Kenapa, Rin?
Ada ular lagi, ya?
Ada yang berniat jahat di antara kalian.
Ini kita benar-benar mau melanjutkan acara jurit malamnya, Mas?
Lidya sudah sampai seperti ini, Mas.
Memangnya aku kenapa?
Pingsan?
Aku sudah tidak apa-apa.
Atau begini saja, Mas.
Aku susul Mbah Sonto.
Jadi, setidaknya kalau kita memang mau melanjutkan acara,
kita ada persetujuan dulu dari Mbah Sonto, Mas.
Mbah Sonto bilang jalannya jauh.
Sampai sekarang saja belum balik.
Yang ada kau malah tersasar.
Jadi, masih mau dilanjutkan acaranya, Mas?
Kalian tidak kasihan sama panitia yang lain?
Sudah susah payah menyiapkan semuanya.
Mau kalah sama acara tahun lalu?
Ini kalau gagal, malu, 'kan?
Tapi kalau sampai ada kejadian lagi, bagaimana, Mas?
Yang penting, kau sudah melakukan apa yang Mas minta.
Lid? Kau mau istirahat atau lanjut?
Lanjut, Mas.
Bagus kalau Lidya bisa lanjut.
Yang lain bagaimana?
Kalian kalau masih mau lanjut, silakan.
Tapi aku masih trauma sama kejadian tadi.
Aku di sini saja, menjaga mereka.
Kalau ada apa-apa lagi, kau yang tanggung jawab ya, Mik.
Tolong.
- Tolong. - Rin?
Rin? Rin!
Rini!
Rin.
Rini?
Rin?
Rin?
Sekarang ini kita mau memasuki kawasan hutan.
Jadi, buat teman-teman, pesan,
jangan sampai ada yang bengong.
Pegang terus teman kalian.
Satu regu ini jangan sampai terpisah.
Kita saling jaga.
Siap.
Regu merah ini boleh jalan. Ayo, Fauzi.
Ayo, Regu Biru.
Chan.
- Apa? - Aku titip Rini, ya.
Ya.
Kalau ada apa-apa, kabari.
Ya, aku kabari.
Hati-hati.
Hati-hati.
- Hei, menunduk, ada daun. - Menunduk!
Sudah.
- Aduh. - Hei, hati-hati.
- Aduh! - Kok berhenti, Kak?
Hati-hati.
- Tidak tahu. - Regu siapa itu?
Jangan ada yang bergerak, ya.
Jangan gerak.
Ayo.
Ayo, kita jalan cepat!
Ayo, cepat!
Ayo!
Nay?
Nayla!
Nay? Chandra!
Nay! Tolong!
- Hati-hati, Kak! - Ayo!
- Pelan-pelan, Kak! - Ya, ayo.
Aduh.
Kak, sudah boleh dibuka belum?
Ya, sudah.
Sekalian diabsen, ya. Fauzi tolong dibantu.
Alisa.
- Diah. - Vio.
Alia.
Nayla.
Kurang satu, Chan!
Bagaimana?
Kurang satu!
Kak, Rini tidak ada.
Kau di mana, Chan?
Rini hilang, Mik!
Aku ulangi, Rini hilang di hutan, Mik.
Kok bisa?
Aku tidak tahu, Mik.
Ya sudah, aku menuju pos tiga, ya.
Rini!
Sekarang kita berpencar, ya.
Nayla, kau ke sana. Vio ke sana. Aku biar ke sini.
Rin?
Rini!
Kok mati?
Chan?
Sudah ketemu Rini?
Belum.
Lalu?
Aku lihat Mas Heru di sendang, Mik.
Badannya dililit ular besar.
Maksudnya?
Ayo, kau lihat sendiri.
- Itu apa? - Pos tiga.
- Pos tiga? - Anak-anak di pos tiga!
Di mana?
Kafanku mana?
- Ini kenapa? - Kafanku mana?
Kafanku mana?
Nayla, Kak!
Tolong!
- Kita bawa balik saja! - Ayo.
- Rini bagaimana, Kak? - Kafanku mana?
Balik saja, kita bantu Nayla dulu.
- Soal Rini nanti biar yang lebih paham. - Nayla!
Tenang, Nay.
Tenang, Nay!
Kafanku!
Ayo lebih cepat!
Aku punya firasat tidak enak.
- Minggir! - Kafanku!
Kafanku mana?
Kafanku mana?
Sini.
- Mas Heru dan Mbah Sonto mana? - Belum datang, Mik.
Ini jadinya bagaimana?
Siapa yang bisa membantu kita?
Kafanku!
Kafanku!
Kafanku mana?
Mati kalian semua!
Mungkin ini bisa buat dia lebih tenang.
- Ayo! - Untuk apa?
Mungkin bisa buat dia lebih tenang.
Kafanku!
- Kafanku! - Pegang!
Ayo tarik!
Astagfirullahaladzim.
Kafanku mana?
Kafanku mana?
- Ditutup kepalanya. - Ya.
Ikat!
Tahan!
Ikat.
Kafanku!
Pegang!
Chan, tolong!
Istigfar!
Miko!
Sadar!
Pergi kau!
Untuk apa kau ke sini?
Pergi!
Ada yang mau mengambil pusaka dari tempat ini.
Mada?
Jangan, Mada! Mad!
Kafanku mana!
Kenapa acaranya masih diteruskan?
Simbah sudah bilang!
Ya, Mbah.
Sekarang kalau sudah begini bagaimana?
Heru! Di mana Heru?
Hei.
Tidak tahu, Mbah.
Mbah, tolong.
Kafanku…
Kafanku mana?
Ikutlah denganku.
Kembalilah ke alammu.
Roh sejati menjadi satu dengan kekuatan Tuhan.
Kembalilah, kembali ke alammu.
Roh sejati menjadi satu dengan kekuatan Tuhan.
Kembalilah, kembali ke alammu.
Roh sejati menjadi satu dengan kekuatan Tuhan.
Kembalilah.
Kembalilah, kembali ke alammu.
Roh sejati menjadi satu dengan kekuatan Tuhan.
Jangan dibuka. Jangan dibuka!
- Teman-Teman, tolong dibantu! - Jangan dibuka!
Jangan dibuka!
Jangan dibuka!
Jangan dibuka!
Tutup lagi!
Jangan dibuka!
Jangan dibuka!
Rin?
Rin?
Kau di mana?
Rin!
Rini!
Rini!
- Rini! - Rin!
Rini!
- Rini! - Rin!
Rin!
Rini! Rin!
Rini?
Rini!
- Rin! - Chan!
- Tolong! - Chan!
Zik!
Ziko!
Ziko!
Ziko!
Dasar anjing!
Fauzi!
Sini, tahan.
Mik, ini bagaimana?
Kau balik saja ke kemah sama yang lain. Aku lanjut cari Rini, ya?
Hei!
- Pegang kepalanya. - Sudah.
- Sudah, sana. - Ya.
Akhirnya dirimu yang selama ini kutunggu-tunggu.
Sekarang sudah di sini ya, Nak.
Kau siapa?
Aku Roro Putri.
Sampai saat ini,
aku hanya bersembunyi dari para prajurit itu tadi.
Kenapa…
mereka ingin menangkapmu?
Karena mereka takut pembalasanku membunuh rajanya.
Kenapa kau membawa orang yang menginginkan sesuatu dariku?
Mbah!
Mbah Sonto!
Tolong, Mbah!
- Teman-Teman, itu! - Ya, Mbah. Ayo!
Mbah!
- Mas, tolong. - Ya.
Gotong!
- Awas, jalannya. - Sini.
Tangannya.
Ada apa?
Aku seharusnya bisa membuat teman-temanku jauh lebih aman, Mbah.
Pembinamu itu, Mas Heru.
Apa tidak ada yang tahu di mana dia sekarang?
Anu, Mbah…
Semalam aku lihat Mas Heru di sendang, Mbah.
Bertapa.
Tapi bertapa dengan posisi ular melilit badannya, Mbah.
- Pardi, Tukimin. - Ya, Mbah?
- Kalian di sini jaga anak-anak itu, ya. - Ya.
Terus, Lesmono.
Kabarkan ke warga
kalau jembatannya sudah jadi, semua jangan menyeberang dulu!
- Tunggu aba-aba dariku, ya? - Ya.
Ayo.
Mbah, semalam aku lihat Mas Heru duduk di sana.
Wah.
Ada yang membongkar sesajen ini.
- Ini beras kuningnya buat apa, Mbah? - Ini…
Beras kuning ini menjadi tanda
untuk makhluk halus yang ada di sini.
Mengundang mereka datang karena akan ada persembahan.
Akan ada sesaji.
Rini…
Tolong!
Tolong!
Aromamu wangi sekali, Nak.
Aku memang tidak pernah salah memilih.
Aku tahu kalau ada yang kau inginkan.
Cincin ini bisa membuatmu mengendalikan semua makhluk
dan mengabulkan semua permintaanmu.
Barang ini kuberikan kepadamu ya, Nak.
Jika kau mau membantuku untuk balas dendam!
Dendam apa?
Lo…
Kukira kau sudah tahu.
Yang ingin kau pentaskan
sebenarnya adalah kisah hidupku.
Aku adalah putri yang tidak beruntung
karena dikhianati dan dibunuh oleh pangeran yang kucintai.
Semua terjadi karena perintah ayahnya yang menjadi raja.
Dan inilah waktuku balas dendam!
Apa sebenarnya
bukan dirimu yang ingin memiliki mustika ini?
Engkau pemimpin, Engkau penguasa jagat raya.
Aku ingin meminta wahyu yang telah nampak.
Mudah-mudahan bermanfaat, semoga selaras dengan semuanya.
Tenang, damai, sadar, tenteram.
Dipegang teguh, tertutup, kepastian, ketetapan.
Terimalah sembah sujudku, Roro Putri.
Sang penguasa hutan ini.
Maaf, Roro Putri.
Ini persembahanku untuk mendapatkan apa yang kumau.
Apa yang akan kau berikan sebagai gantinya?
Mik, bangun. Bangun Mik!
- Ayo. - Mas?
Bangun, ayo bangun.
Hei…
Mik, kau tidak apa-apa?
- Hei, Miko, bangun. - Mas…
Mas.
- Rini hilang, Mas. - Mik.
- Tadi sudah dicari sama teman-teman. - Mik.
- Aku tidak ketemu… - Miko, hei!
Rin?
Rin.
Rin.
Rin.
Ini bagaimana?
Apa tujuanmu?
Apa yang kau cari?
Ilmu?
Sekarang, terus teranglah.
Kau yang membongkar sesajen dan menyebar beras kuning di mana-mana, 'kan?
Yang penting Rini kubawa pulang!
- Lo? - Selamat, Mbah.
- Mbah, sama-sama tahu ilmu, 'kan? - Ya.
Harus ada persembahan agar anak-anak ini selamat!
Tunggu. Kau sudah membuat perjanjian apa?
Aku sudah berjanji akan pentas tentang kisah hidupnya.
Tapi sekarang aku balik.
Tuan Putri yang selamat.
Itu berat sekali!
Sangat membahayakan.
Simbah pun belum berani untuk yang seperti itu!
Apa ada cara lain, Mbah?
Menjelang malam itu, semua orang seperti…
terhipnotis.
Mempersiapkan acara pentas.
Aku masih tidak paham
kenapa Mas Heru sangat ingin menggelar pentas itu.
Apa benar untuk keselamatan kita semua
atau hanya untuk kepentingannya sendiri?
Dan yang masih mengganjal di kepalaku,
kenapa Mbah Sonto tidak berusaha mengusir arwah Roro Putri itu dari Rini?
Apa dia tidak cukup kuat untuk mengeluarkan arwah Roro Putri?
Dilema untuk pulang atau melanjutkan acara
sampai sekarang masih sering mengganggu pikiranku.
Tapi sepertinya saat itu tidak ada jalan lain.
Kisah ini
bermula tatkala sang putri yang belum genap dewasa.
Gadis yang lemah lembut diboyong
dengan bayangan kemewahan dan kasih sayang sang raja.
Namun, selayaknya takdir
yang tak bisa dihindari.
Sang putri yang hendak dijadikan selir
justru mendapatkan cinta terlarang putra mahkota.
Selama waktu terus berjalan,
napas terus berembus.
Sang pangeran pun hanya mampu memendam semua perasaan cinta terlarangnya.
Akibat perasaan yang terlampau lama dipendam dan sesak,
akhirnya pangeran tak kuasa mendapatkan tulah.
Sakit berkepanjangan
yang tak diketahui arah datangnya.
Tidak tega dengan apa yang menimpa keponakan tersayangnya…
Sang paman pun meminta pangeran dan sang putri
untuk meninggalkan istana.
Betapa menyedihkannya
Hidupmu, Putri
Tak punya salah apa-apa
Berujung mati
Namun, selayaknya takdir,
yang tak bisa dihindari,
berita pernikahan mereka pada akhirnya
terdengar sampai telinga sang raja.
Kau hanya ingin bahagia
Murka! Meluap!
Kemarahan sang raja!
Raja pun bertitah kepada sang putra mahkota.
Sang pangeran diberi pilihan yang begitu berat.
Kejar!
Jangan!
Jangan!
Jangan!
Memilih cintanya
atau melimpahan kekuasaan dari ayahnya.
Namun, selayaknya takdir
yang tak bisa dihindari,
Pangeran harus tetap memilih satu
di antara kedua pilihan tadi.
Sungguh menyedihkannya hidupmu
Dosa apa yang telah kau lakukan Kini dan dulu
Tapi kisah ini bukan cerita cinta.
Oh, Putriku
Sungguh malang hidupmu
Melainkan cerita balas dendam.
Semoga ini
Akhir yang tepat
Meskipun penuh luka sayat
Sekarang…
kutulis ulang
cerita ini!
Mik!
Mik…
Mik…
Mik, aku harus apa?
Ini usahaku.
Sekarang di mana…
mustika itu?
Mbah. Mbah…
Temanku, Mbah. Temanku!
Mbah, temanku bagaimana itu?
Rini.
Cincinnya.
Kasih ke aku cincinnya.
Rini.
Lari, Rin.
Rini!
Rini!
- Lari! - Rini!
Rini!
Rini!
Jangan!
Rini!
Goblok!
Aku sudah bilang
kalau aku tidak pernah salah memilih orang.
Aromamu wangi dan hatimu pun baik.
Bagaimana dengan…
Mas Heru?
Dia akan mendapatkan apa yang menjadi kemauannya.
Di dalam pikirannya.
Dan untukmu, Nak,
aku akan menjagamu
seperti dirimu menjagaku.
- Rin! - Rin?
Rini.
Rin?
Rini?
Nay!
Kukira aku tak akan bisa melihatmu lagi.
- Ini kenapa, kau tidak apa-apa? - Rin!
Kalian bagaimana?
- Mik! - Rin?
Sini! Rini bangun!
Aku minta maaf ya buat yang sebelumnya.
Maafkan aku, Rin.
Sini, Nay.
Sini, gabung.
Andai saja aku tahu
kalau dari awal Mas Heru ternyata memang punya niat lain untuk bawa kami ke sana.
Aku berniat mengarungi keselamatan
serta jauh dari segala musibah atas izin kuasa Tuhan.
Hujan deras di barat
dan beberapa tempat lain yang sebelumnya kami pilih,
itu ternyata juga caranya Mas Heru untuk mengarahkan kami
sampai ke Wana Alus.
Selamat dan keselamatan.
Aku berniat mengarungi keselamatan
serta jauh dari segala musibah atas izin kuasa Tuhan.
Sejak saat itu, kami tidak pernah lihat Mas Heru lagi.
Beliau juga tidak pernah menjadi pembina
acara kemah angkatan-angkatan setelah kami.
Kalau aku bilang tadi semua selamat,
keluar dari sana, ya selamat, Mas.
Tapi Rini tidak pernah kembali menjadi Rini yang dulu lagi.
Mas, di sini saja ya?
Seperti yang Mas sudah tahu,
setiap tahun selama tujuh tahun belakangan ini,
kami selalu kembali ke Wana Alus, Mas.
Itu bukan untuk nostalgia, Mas.
Tuan Putri…
Ini Mbak Rini sudah kembali dibawa ke sini.
Selanjutnya aku mohon
Mbak Rini diperbolehkan pulang.
Jangan diganggu lagi.
Pertama datang bersama teman-teman waktu itu, 'kan, siang.
Siang mau sore.
Itu sampai sana tidak ada apa-apa,
tapi waktu sampai menjelang mau mendirikan tenda itu,
perasaannya sudah mulai panas, lalu tidak nyaman.
Saat kepanasan, aku merasa…
Kalau di dekat kamar mandi itu…
tidak panas.
Kalau setiap aku di kamar mandi,
itu tidak panas, tidak merasakan apa-apa.
Jadi, seperti berteman dengan tempat itu.
Itu sebabnya aku sering ke sana.
Sore, sekitar pukul 17.00 atau lebih…
itu mulai mendung.
Lalu, gerimis, hujan, masuk magrib.
Ada teriakan perempuan.
Aku langsung teriak.
Itu sepertinya sore.
Sore, ya.
Aku teriak, aku kerasukan di depan gerbang.
Aku di depan gerbang dan dipegangi.
Ada bebatuan.
Di depan gerbangnya ada kerikil.
Itu banyak sekali.
Aku dipegangi.
Meronta-ronta sampai sakit semua badanku.
Pertama kali.
Yang aku awalnya tidak percaya apa pun,
aku pertama kali lihat sosok itu.
Gede, tinggi, hitam.
Sosok yang pertama kali aku lihat saat mendirikan tenda itu,
saat di kamar mandi, ia ada di belakangku.
Lalu, bahuku panas sekali.
Panas dan makin panas.
Setelah itu, aku sudah tidak tahu.
Ternyata aku sudah kesurupan.
Di luar itu, kalau bisa disebut…
keadaannya kaos.
Kelompok sini kerasukan. Kelompok sana kerasukan.
Aku sudah tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata karena…
Rini itu sudah benar-benar paling parah di antara yang lainnya.
Tidak tahu kenapa.
Kemudian aku teringat sekali dia mengucapkan,
"Aku ingin dikafani,"
dengan nada yang keras dan mukanya yang…
sangat menyeramkan pada saat itu.
Dengan matanya yang sedikit melotot atau keluar.
Waktu itu juga ada ini, Mas.
Temanku yang tidak bisa menari,
tiba-tiba menari.
Dia atlet, Mas.
Pasti anak perempuan kalau atlet jadi ketomboi-tomboian.
Itu menari, Mas.
Bagus sekali menarinya.
Gemulai.
Itu yang kesurupan sudah bukan manusia lagi.
Ada yang menjadi penari, manusia bertanduk, pocong,
macam-macam bentuknya.
Lalu, sangat mengerikan.
Saat sadar, di sampingku ada teman-temanku banyak sekali di balai desa itu.
Jadi, aku tanya, "Kenapa ada banyak teman di sini?"
Ini yang kerasukan semua, dibawa ke balai desa.
Ada yang dibawa ke rumah warga.
Kemah selesai, hari pertama sekolah, aku mendapatkan kabar…
bahwa Rini tidak mampu untuk ke sekolah.
Pada akhirnya, aku dan temanku datang ke rumahnya.
Setelah magrib, datang ke rumahnya.
Ketika sampai di rumah,
Rini baru saja memberikan senyuman,
tapi tatapannya itu sudah berbeda.
Mereka kaget. Setelah itu, aku tidur. Aku tidur di kamar.
Di kamarku ada kursi,
dan saat aku bangun, sosok yang merasukiku di kemah itu duduk di sana.
Duduk di kursi kamarku itu.
Karena kejadian itu, sekarang sudah seperti teman, Mas.
Sudah mengobrol biasa.
Katanya, auraku adalah aura yang disukai oleh makhluk seperti itu.
Lalu, sekarang, jika menceritakan hal itu, sudah tidak apa-apa?
Tidak apa-apa soalnya sebelumnya aku sudah izin dulu.
Ya. Sudah minta izin sama sosoknya itu untuk diceritakan, tidak apa-apa.
- Kita cut dulu saja, ya? - Ya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.